![]() |
| foto bersama persta workshop |
Sidiq Harjanto, Vika Bayu Iriyanto, & Muhammad Kuswoto
Di Petungkriyono,
kopi bukan sekadar komoditi. Ia tumbuh di bawah naungan pohon-pohon
hutan–berbagi ruang dengan satwa liar, termasuk Owa Jawa. Di rumah-rumah warga
Petung, kopi dihidangkan, dibicarakan, dan diposisikan sebagai pengikat
kebersamaan lintas generasi. Berangkat dari realitas ini, konservasi Owa
Jawa di Petungkriyono berupaya memadukan pengelolaan habitat, penguatan
ekonomi, dan revitalisasi sosial budaya. Kopi menjadi titik masuk strategis
sekaligus daya ungkit (leverage)
untuk visi besar itu.
Pada
Selasa, 21 April 2026, telah diadakan Workshop
dan Pelatihan “Kopi Naungan” bagi para petani kopi terpilih dari sepuluh
lokasi yang tersebar di desa-desa habitat inti maupun penyangga habitat owa
jawa. Bertempat di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring; kami mengundang 25 orang
petani di lingkup Kecamatan Petungkriyono, Talun, dan Doro. Melalui dukungan
dan pembiayaan dari Air Asia Foundation,
workshop dan pelatihan ini merupakan bagian dari program social enterprise “Owa
Coffee: Guardian of the Gibbon” selama satu tahun.
Sebanyak 24
orang peserta mengikuti seluruh rangkaian acara hari itu (satu orang peserta berhalangan
hadir). Para peserta berlatar belakang petani dari berbagai rentang usia. Mereka
memiliki interaksi yang intens dengan satwa liar, yang dalam praktik
sehari-hari mencakup pemanfaatan sumber daya hutan sekaligus menghadapi
tantangan konflik dengan satwa pada lahan pertanian. Workshop ini
bertujuan memperkuat peran mereka sebagai aktor kunci yang mengelola zona
kontak antara aktivitas manusia dan kehidupan liar melalui praktik budidaya
yang harmonis.
Dalam
seremoni pembukaan, hadir Kepala Desa Kayupuring, Kapolsek Petungkriyono, dan
perwakilan dari Perum Perhutani BKPH Doro. Semua pihak, sebagai stakeholder
pengelolaan kawasan hutan Petungkriyono, menyambut baik program ini. Arif
Setiawan (Direktur SwaraOwa) dalam sambutannya menyampaikan latar belakang
program ini yang merupakan kelanjutan dari skema pengembangan ekonomi
masyarakat melalui program Kopi dan Konservasi primata yang telah dirintis
sejak 2013.
![]() |
| ilustrasi kopi naungan dari salah satu peserta |
Kopi naungan dalam paradigma multidimensional
Implementasi
kegiatan ini adalah memfasilitasi para petani kopi dalam memperoleh penguasaan
teoretis maupun pengalaman empiris mengenai potensi kopi sebagai komoditas
perkebunan tahunan yang strategis untuk dikembangkan. Konsep agroforestri kopi
berbasis naungan (shade-grown coffee)
yang diinisiasi menekankan pada aspek simbiosis antara budidaya kopi dengan
pelestarian habitat satwa liar, khususnya Owa Jawa (Hylobates moloch).
Secara
ekologis, tanaman kopi memerlukan tutupan vegetasi sebagai pelindung optimal
bagi pertumbuhannya. Di sisi lain, Owa Jawa sebagai spesies primata arboreal membutuhkan kontinuitas tajuk untuk
mendukung mobilitas dan aktivitas hariannya. Selain Owa Jawa, keberadaan
struktur vegetasi yang kompleks ini juga menjadi mikrohabitat esensial bagi
keanekaragaman hayati lainnya, termasuk Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Rekrekan (Presbytis fredericae), dan berbagai spesies avifauna (burung).
Pada sesi
pertama, diberikan materi dan kesempatan tanya-jawab mengenai konsep kopi
naungan melalui agroforestri, lanskap dan potensi pasar kopi, pengelolaan kopi
ramah satwa, dan potensi sumber daya pangan dalam kebun kopi naungan. Tim SwaraOwa
memaparkan konsep Kopi Naungan untuk konservasi Owa Jawa di Petungkriyono.
Dalam konsep ini, pengelolaan kebun kopi tidak lagi hanya mengandalkan logika
linear seperti intensifikasi untuk peningkatan hasil, melainkan pendekatan
multidimensional. Kopi naungan mensyaratkan praktik perlindungan tutupan
vegetasi (coverage), keragaman
spesies pohon asli, organik, komitmen perlindungan satwa liar, dan jaminan
ruang partisipasi bagi kaum perempuan.
Edi Dwi
Atmaja dari Katamata Coffee memaparkan gambaran situasi pasar kopi di Indonesia
yang memang masih didominasi oleh kopi konvensional. Namun, dalam beberapa
tahun belakangan, ceruk pasar yang mengapresiasi kopi dengan skema khusus–termasuk
kopi naungan untuk konservasi–terus tumbuh. Berbasis sepuluh tahun pengalaman
di bisnis roastery dan kedai kopi, ia
melihat peluang pasar semakin terbuka. Kopi naungan membangun segmentasi khusus,
memiliki potensi tambahan nilai ekonomi dari apresiasi konsumen terhadap
praktik baik yang dijalankan. Dalam pengembangannya, selain memastikan praktik
terbaik di kebun dan rantai pasok yang bertanggungjawab sebagai syarat mutlak,
membangun narasi yang menarik untuk menggugah pasar menjadi strategi yang perlu
terus dikembangkan ke depannya.
Di Desa
Kemuning, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, skema kopi konservasi
dijalankan oleh Javan Wildlife Institute (JAWI). Denis Albihad selaku direktur
JAWI memaparkan skema yang dijalankan di Kemuning bersama kelompok masyarakat
yang didampingi. Pembudidayaan kopi telah dijalankan secara organik, melindungi
pepohonan hutan, dan terintegrasi dengan skema konservasi Kukang Jawa (Nycticebus javanicus). Tidak hanya dari panenan
kopi, para petani yang tergabung dalam kelompok juga menerima manfaat ekonomi
dari tumbuhnya aktivitas ekowisata.
Kopi
naungan memungkinkan nilai tambah dari potensi pangan–aneka spesies liar:
herba, perdu, dan aneka jamur hutan yang mengisi lapisan bawah (understory). Dalam presentasinya, Amelia
Nugrahaningrum menampilkan segenap potensi pangan lokal di Petungkriyono. Sebagian
masih lazim dimanfaatkan hingga sekarang, sementara sebagian lainnya mulai
jarang diketahui. Melalui lembaga Genau Indonesia, Amel dan suaminya mencoba
berkontribusi melestarikan potensi pangan itu melalui skema wisata pengalaman (experience-based tourism) di Desa
Tlogopakis.
Mempertajam implementasi praktik kopi naungan
peserta menjelaskan praktik terkini tentang kopi di desanya
Pada sesi kedua, melalui focus group discussion (FGD), semakin terang bahwa kopi–dan pembudidayaannya–merupakan titik simpul dari berbagai aspek kehidupan masyarakat. Ada irisan banyak kepentingan di sana sehingga perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam menyikapinya. Setidaknya kami membedahnya dari perspektif ekologi, ekonomi, dan sosial budaya.
Kopi
merupakan salah satu komoditi utama selain berbagai tanaman agroforestri
seperti rempah-rempah, durian, petai, aren, dan umbi-umbian. Hanya saja, para
petani cenderung menganggap kopi sebagai tumpuan harapan utama sehingga belum
mengoptimalkan komoditas lain. Padahal, berbagai tanaman komoditas yang tumbuh
bersama spesies asli dalam satu lahan kelola tidak saja memberi manfaat ekonomi,
tetapi juga menciptakan mikroekosistem yang menjaga resiliensi agroforestri
sendiri. Kebun dengan vegetasi kompleks secara otomatis memungkinkan terjadinya
feedback loop dalam jasa pengendalian
hama, penyerbukan, dan perlindungan dari kekeringan ekstrem.
Mayoritas
peserta mengeluhkan interaksi dengan satwa liar yang tak jarang menyebabkan
konflik pada lahan pertanian. Misalnya, keberadaan populasi Monyet Ekor Panjang
(Macaca fascicularis) yang dianggap
sebagai hama pertanian oleh para petani. Hal ini juga terjadi di banyak tempat
di Indonesia dan hingga saat ini belum ada konsensus dalam mengurai masalah
ini. Melalui FGD, justru muncul peluang: sains
warga (citizen science) yaitu melibatkan
petani dalam pengumpulan data lapangan. Ketersediaan data seperti populasi,
perilaku, dan eksistensi musuh alami–predator, bisa menjadi informasi berharga
untuk pemecahan masalah ini di masa depan.
Harapan untuk sistem pertanian yang berkelanjutan masih ada. Para peserta saling berbagi pengalaman masing-masing. Cukup banyak cerita positif. Bapak Sawal dari Desa Lemahabang menceritakan kebiasaan menanam cabai dan umbi-umbian di kebun. Beliau menanam untuk memanen dan mengonsumsi sendiri. Manfaat ekonomi tidak datang secara langsung, melainkan dari substitusi: menghemat pengeluaran uang tunai dengan cara menginvestasikan tenaga–menanam sendiri bahan pangan sehari-hari.
Rudi,
petani muda dari Sawangan Ronggo menggambarkan langsung dalam kertas plano bagaimana
komposisi kebun kopi di dusunnya yang masih memberi ruang bagi berbagai spesies
pohon hutan seperti: bendo, kayu babi, gintung,
sentul, dan aren. Sawangan Ronggo punya potensi aren yang melimpah, menjadi
penopang ekonomi melalui gula aren. Melalui sketsa yang dibuatnya, tampak
tanaman kapulaga mengisi lapisan vegetasi bawah. Rempah ini menjadi sumber
pendapatan tambahan yang bisa dipanen dua bulan sekali.
Muncul pula
usulan untuk mengintegrasikan budidaya lebah ke dalam kebun kopi. Integrasi
lebah ke kebun bisa membawa banyak manfaat. Secara ekonomi, budidaya lebah bisa
menjadi tambahan pemasukan melalui pemanenan madu. Di sisi lain, lebah
merupakan agen penyerbuk yang efisien, baik bagi tanaman kopi maupun spesies
pohon liar secara umum. Sebagai konsekuensi, praktik organik menjadi
keniscayaan untuk melindungi lebah dari paparan bahan kimia. Piloting budidaya lebah lokal telah
dirintis SwaraOwa sejak 2017 di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang.
Workshop dan
pelatihan ini menjadi pembuka kolaborasi jangka panjang kami. Pada bulan Mei,
berbarengan dengan awal musim panen kopi, kami akan kembali bertemu dalam
kegiatan serupa dengan tema yang lebih praktikal: proses pasca-panen kopi. Melalui skema kopi naungan yang
holistik–berbasis kedalaman wawasan dan keterampilan mumpuni, kami berupaya mencapai
keselarasan antara kepentingan kelestarian alam dan kepentingan kesejahteraan
masyarakat.
Sebagai penutup, sesuai dengan tema workshop ini, "Owa coffee : guardian of the gibbon" bisa di artikan "Kopi Owa : Penjaga hutan dan Owa", maksudnya adalah bukan sekadar branding, melainkan menekankan bahwa:
1. Produksi kopi ini melibatkan petani sebagai aktor utama. Mereka bukan hanya produsen kopi, tetapi juga bagian dari gerakan konservasi.
2. Petani berperan ganda: menghasilkan kopi berkualitas sekaligus menjaga hutan sebagai habitat owa. Dengan begitu, setiap cangkir kopi yang dihasilkan membawa pesan bahwa kopi ini lahir dari hutan yang tetap lestari.
3. Makna simbolis: kopi menjadi medium yang menghubungkan konsumen dengan perjuangan petani menjaga owa dan hutan.


No comments:
Post a Comment