Wednesday, June 17, 2026

Laporan Perjalanan Survei Bilou di Jantung Siberut, Matotonan

Oleh : Aloysius Yoyok

pondok menginap tim siripokbilou 

Kamis 21 Mei 2026 tim Siripokbilou berangkat dari kediaman kami di pesisir timur Siberut bagian selatan menuju ke arah pedalaman Siberut. Di tahun 80 an, Norman Edwin, petualang legendaris yang pernah mengunjungi kawasan ini menyebutnya sebagai jantung Siberut. Tidak salah karena memang kawasan ini terletak di bagian paling tengah di Siberut bagian selatan. Kawasan ini juga menjadi kawasan perbatasan lembah Rereiket di tengah pulau Siberut dan Sagulubek di bagian barat Siberut.  Kawasan ini memiliki banyak kisah interaksi antar uma di masa lalu, kisah yang di masa kini masih dikenang dan diwariskan oleh generasi-generasi tua di Siberut. Di kawasan itu kita juga masih bisa menemukan kelompok-kelompok penduduk yang mempraktikkan kehidupan sehari-hari dengan warisan masa lalu mereka; sikerei, tato tradisional,uma, pusainakat (peternakan babi tradisional) dan cara interaksi penduduk di kawasan itu yang masih memperlihatkan warisan neolitik. Di sebalik perbukitan Teitei Bake ini juga terletak sungai Kuddei, tempat uma Sakudddei bermukim. Kelompok penduduk Siberut yang dikenal sebagai pewaris budaya Siberut.

Kawasan perbatasan 3 lembah itu adalah perbukitan Teitei Bake. Jika dari arah barat, kawasan ini adalah hulu dari beberapa anak sungai yang mengalir ke arah barat pulau Siberut dan terkumpul menjadi sungai Sagulubek. Di masa kini, penduduk dari Sagulubek yang terjebak cuaca laut yang terkadang memburuk di pertengahan tahun saat anak-anak mereka yang bersekolah di pesisir timur Siberut mendapatkan liburan kenaikan kelas dan mereka tidak bisa menempuh perjalanan laut, atau penduduk yang ingin berhemat karena ongkos perjalanan laut yang mahal bisa mereka pergunakan untuk membeli bahan makanan, maka jalur jalan setapak yang melintasi bentang alam perbukitan ini kemudian akan lebih sering dilintasi oleh para penyintas itu.

Perjalanan

Perjalanan dimulai dari lembah Sabirut, pesisir timur Siberut tempat tinggal kami. Dimulai dengan memanfaatkan jalur jalan darat yang sejak 2016 dibuka oleh pemerintah daerah yang disebut sebagai jalur Trans Siberut ruas Puro-Rereiket. Jalur jalan darat itu kini berupa jalanan berlumpur tetapi masih bisa dilalui oleh beberapa mobil milik beberapa penduduk pendatang yang selalu mengeluhkan beratnya menempuh perjalanan darat dan mahalnya ongkos perbaikan mobil mereka itu. Perjalanan di ruas pertama ini hanya sampai di pemukiman di Rokdog, tepatnya di tepian jembatan sungai Rokdog. Sudah beberapa bulan jembatan kayu penghubung itu gelagar kayunya patah akibat lapuk dimakan usia. Beberapa ruas papan kayu di jembatan itu juga masih terlihat hitam menjadi arang, hasil vandalisme kelompok-kelompok kecil masyarakat yang kecewa terhadap proses pembangunan dengan membakar jembatan itu, beberapa minggu lalu. Setiba di jembatan itu, tidak lama kemudian di seberang sana muncul mobil lain milik Aman Tegui penduduk lokal Rokdog yang sudah kami hubungi sehari lalu untuk mengantar kami sampai di Ugai, sebuah dusun bagian dari desa Madobag. Perjalanan yang bisa ditempuh dengan memanfaatkan jalur jalan darat dengan kendaraan beroda 4 hanya sampai di situ saja. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 2,5 jam itu hampir membuat seorang penumpang yang tidak terbiasa menumpang mobil bisa mabuk.

Tiba di Ugai kami segera bergegas untuk mengangkut barang-barang kami menuju sosoroat, bagian tepian sungai yang biasa dipergunakan oleh penduduk untuk menambatkan pompong, perahu bermesin modifikasi  Aman Maryati Samoan Muntei, seorang penduduk Matotonan yang juga sudah kami hubungi 2 hari lalu sudah menunggu kami. Langit terlihat gelap membuat kami bergegas menyusun tas dan perbekalan untuk kegiatan survei yang diperkirakan akan memakan waktu sekitar 5- 6 hari itu di dalam perahu. Barang-barang itu segera ditutup dengan plastik. Hujan segera turun dengan lebat, sementara kami kemudian berteduh di pondok milik penduduk Ugai yang terletak tidak jauh dari sosoroat itu untuk menumpang berteduh. 

perjalanan menuju LPS (listening post) 1

Pondok itu adalah garasi perahu. Selewat tengah hari hujan masih turun, maka sambil menunggu hujan reda kami menikmati makan siang dengan bekal yang sudah kami siapkan dari rumah kami. Sore itu sekitar pukul 17.00 WIB kami sudah berada di rumah Aman Maryati. Anak Aman Maryati yaitu Jasmardi yang kebetulan adalah seorang Kepala Dusun sudah beberapa waktu lalu mengatakan kesediaannya untuk terlibat dalam kegiatan survei populasi owa bilou di kawasan desa Matotonan kali ini. Sore itu kami kemudian berdiskusi tentang ke 3 titik pengamatan yang berada di 3 kawasan yang berbeda. Diskusi kami adalah tentang strategi untuk menempuh perjalanan mencapai ke 3 titik itu, mencari pemandu yang tepat; memiliki pemahaman kawasan, bagian dari pemilik kawasan secara tradisional, memiliki fisik yang memungkinkan untuk menempuh perjalanan dan hal-hal lain yang bersifat teknis. Malam itu juga atas bantuan dari Jasmardi ke 3 tim kecil yang akan berangkat untuk melakukan survei sudah terbentuk. Bagian dari tim kecil ini adalah juga seorang petugas dari BTNS (Balai Taman Nasional Siberut) yaitu Afdal, seorang penduduk setempat yang memang direkomendasikan oleh petugas senior dari BTNS saat kami melakukan koordinasi perjalanan dan pengurusan Simaksi (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi)

Sebelumnya kami juga sudah menyempatkan diri untuk melakukan koordinasi kepada pemerintahan setempat yaitu Kepala Desa Matotonan. Karena hari sudah di luar jam kerja, malam itu kami menjumpai Kepala Desa Matotonan di kediamannya. Karena kami sudah saling mengenal, obrolan saat kunjungan ke rumahnya malam itu menjadi lebih cair dan banyak diisi dengan beberapa perencanaan Pemdes Matotonan yang berkaitan dengan pemanfaatan kawasan hutan konservasi di wilayah desa Matotonan untuk mendukung rencana pengembangan destinasi wisata alam.

Hari 1 perjalanan menuju lokasi survei

Pagi hari, Jumat 22 Mei 2026 kami disambut dengan cuaca yang cerah. Pagi itu kami dijamu oleh istri Jasmardi dengan hidangan sarapan berupa lopis ketan, sebuah kuliner ala Minangkabau. Istri Jasmardi adalah seorang Matotonan yang pernah mengenyam pendidikan di bangku kuliah di Padang. Pagi itu kami segera mengemasi barang dan perbekalan masing-masing sesuai tim. Semalam kami sudah membentuk 3 tim dengan 3 tujuan titik pengamatan yang berbeda. Tim LPS 1 adalah saya, Jasmardi dan Oruk Manai Satoutou lokasi tujuan perjalanan kami adalah di Tirik Marepet yaitu punggung perbukitan yang bersebelahan dengan Teitei Bake. Tim LPS 2 adalah Vincen, Aman Maryati dan Jaidin dengan titik tujuan perjalanan mereka adalah menuju ke kawasan Teitei Kuddei di hulusungai Rereiket, dan yangterakhir adalah Tim LPS 3 yaitu Lauren, Tekoi dan Afdal, mereka akan menuju titik terjauh yaitu Teitei SImakeru yang merupakan kawasan perbatasan Matotonan dan Silaoinan dan Saibi Hulu. Jam menunjukkan pukul 09.00 WIB saat kami bersama-sama berangkat. Tim LPS 2 menggunakan pompong menyusuri sungai Rereiket ke arah hulu untuk kemudian akan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Tim LPS 2 juga dengan pola yang sama tetapi mereka kemudian berpisah. Tim LPS 3 terus melanjutkan arah perahu pompong mereka ke arah hulu sungai Rereiket untuk selanjutnya perjalanan akan ditempuh dengan berjalan kaki.

perjalanan menuju LPS 3

Sementara itu kami di Tim LPS 1 tidak ada perjalanan yang ditempuh dengan perjalanan menggunakan moda transportasi tetapi langsung menempuh perjalanan darat melalui jalur jalan kampung dan jalan setapak dengan berjalan kaki. Beban perjalanan berupa peralatan pribadi, peralatan survei dan perbekalan untuk 5 hari kami bagi. Saya dan Jasmardi memuat barang-barang itu tas carrier di punggung kami, sementara Oruk Manai dengan keranjangnya dia memuat barang-barang itu sesudah sebelumnya membungkusnya dengan kantong plastik untuk mengantisipasi kemungkinan turun hujan saat menempuh perjalanan. 

Selepas rumah terakhir di ujung pemukiman Matotonan, kami kemudian segera diharuskan untuk menyusuri anak sungai yang mengarah ke perbukitan Teitei Paleku Teiteiket, salah satu perbukitan yang harus kami lintasi. Anak sungai itu memiliki kedalaman air setinggi sekitar 10-20 cm saja dengan dasar anak sungai berupa bebatuan sejenis batu napal, mirip dengan batu padas yang rata-rata licin karena berlumut. Jalur anak sungai yang membelah perladangan penduduk itu mengalir berkelok-kelok sampai kami menemukan tangga kecil dari kayu yang terbuat dari kayu bulat untuk membantu mendaki lereng yang terlihat cukup curam untuk didaki. Itu adalah titik awal pendakian lereng bukit Paleku Teteiket.

viper coklat beralis (Trimeresurus brongersmai)

Tetapi pagi itu kami mendapatkan sebuah kejutan. Saat kami berhenti sejenak untuk merapikan beberapa peralatan kecil sebelum pendakian kami mulai, kami menemukan seekor ular kumok (Trimeresurus brongersmai) atau ular viper coklat beralis. Ular itu nampaknya ular betina yang berusia dewasa, melingkar tenang di tangga kayu itu tanpa terlihat oleh Jasmardi yang beberapa menit sudah berdiri sangat dekat dengan ular itu. Sebuah kamuflase yang sempurna. Jenis reptil itu cukup sulit ditemukan, biasanya dia bersembunyi di serasah dedaunan di tempat yang agak lembab. 

Jalur pendakian pertama ini melalui jalan setapak yang cukup terjal, sinar matahari pagi yang cukup menyengat membuat peluh segera bercucuran. Tiba di puncak bukit, tas diturunkan dari bahu, sejenak menenangkan nafas yang memburu, sambil melihat-lihat pemandangan di sekitar situ. Lereng bukit ini sudah diisi oleh variasi beberapa tanaman tradisional terutama jenis durian yang bercampur dengan tumbuhan-tumbuhan kayu alam. Tetapi di jalur pendakian ini karena letaknya yang relatif dekat dengan pemukiman, pepohonan yang berukuran besar tidak lagi terlihat di sekitar situ. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menuruni lereng bukit itu, namun kali ini kanopi pepohonan yang bercampur tanaman tua milik penduduk setempat itu cukup membuat jalur jalan setapak yang kami lewati itu rindang dan sejuk. 

Jalur perjalanan kemudian menjadi relatif landai, kemudian sedikit menanjak ketika bertemu dengan ujung kaki perbukitan Teitei Bake, menurun kembali dan kemudian akhirnya jalur jalan setapak itu habis ketika kami bertemu dengan anak sungai kecil yang mereka sebut sebagai sungai Pakaleuruat. Di situ kami beruntung, kami menemukan 3 buah durian yang jatuh, durian sisa tupai yang masih mengkal. Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri anak sungai Pakaleuruat yang berliku-liku itu. Sesekali kali memotong jalur perjalanan susur sungai itu saat bertemu dengan ujung daratan yang agak landai. Jalur jalan yang berupa anak sungai itu juga merupakan habitat pacet, sejenis binatang penghisap darah yangs seolah sudah menanti kedatangan kami melintas. Kami cukup disibukanoleh binatang itu, sesekali kami harus berhenti untuk mengambilnya dari lengan atau baju kami, atau di kaki Jasmardi dan Oruk Manai yang hanya mengenakan celana pendek saja.

Sungai Pakaleuruat itu kemudian bertemu dengan sungai Marepet, jalur aliran sungai itu kemudian menjadi semakin lebar dan dalam. Perjalanan tetap ditempuh dengan menyusuri aliran sungai Merepet itu ke arah hilir. Jalur aliran sungai yang berliku-liku, sesekali kami harus ekstra berhati-hati saat melintasi bebatuan besar yang berlumut dan licin, pacet juga banyak kami dtemukan di pakaian saat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di salah satu titik di tepian sungai Marepet itu. Sepanjang jalur aliran sungai ini banyak ditemukan pepohonan besar dengan vegetasi yang cukup rapat di dasar hutan membuat sepanjang aliran sungai ini teduh dan dingin. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB saat kami menemukan pondok kecil di dekat tepian sungai. Pondok milik penduduk Matotonan yang segera mereka kenali. Sekitar 30 menit kami beristirahat menikmati makan bekal makan siang yang kami bawa dari Matotonan. Di belakang pondok itu terlihat bantaran sungai yang agak datar seluas sekitar 3 lapangan volley yang ditumbuhi nilam, singkong, keladi dan beberapa tanaman lain. Kebun kecil ini terletak lokasi bagian dari kaki perbukitan Teitei Bake, tetapi kami belum berhenti di sini karena dari pondok ini tidak terdapat jalur pendakian menuju ke arah punggung perbukitan, belakang pondok itu merupakan lerengan perbukitan yang curam. 

Kami kemudan melanjutkan perjalanan kembali dengan menyusuri aliran sungai Marepet yang semakin dalam dengan variasi dinding bebatuan yang cukup padat di beberapa spot. Setelah diakhiri dengan menyeberangi bagian aliran sungai yang sedalam dada, kami akhirnya mengakhiri perjalanan siang itu di bantaran sungai yang ditumbuhi beberapa rumpung bambu. Daratan datar sempit di bantaran sungai berpasir yang di kanan dan kiri terdapat dua rumpun bambu jenis obbuk yang biasa dipergunakan oleh penduduk di Siberut untuk memasak. Kami tiba di tempat itu sekitar pukul 15.00 WIB. Kami segera bekerja membersihkan lokasi yang masih terlihat reruntuhan bekas pondok sederhana berukuran kecil yang terdiri dari 4 tiang bambu. Pondok itu bekas bangunan sederhana tempat menginap penduduk Matotonan yang berkunjung kesitu untuk mencari ikan di sungai Marepet. Sekitar 1 jam saja kami sudah berhasil membangun pondok sederhana yang akan kami tempati sampai 4 malam ke depan.

Lokasi pondok itu tepat di tepian bagian tikungan sungai yang dalam. Air telihat mengalir pelan dan berwarna hijau bening. Mengisi waktu di sore itu Jasmardi langsung mengeluarkan tali pancing yang sudah dia siapkan dari rumah. Saat senja tiba beberapa ekor ikan mutuk utek dan udang sungai berukuran besar menjadi menu makan malam kami.

Survei hari 1

Jam 04.00 WIB kami sudah terbangun dari tidur. Sejak 1 jam lalu kami sudah mendengar suara morning call bilou tidak jauh dari pondok tempat kami bermalam. Suara-suara dari frogmouth owl turut menghiasi pagi yang masih gelap gulita itu. Kami keluar melihat cuaca, bintang yang bertaburan di langit menandakan cuaca yang cerah saat itu. Lingkungan sekitar pondok kami itu ditumbuhi belukar dan pepohonan yang rapat. Oruk Manai memimpin di depan dengan parang tajam di tangan, menebas onak berduri dengan hati-hati. Dari lokasi pondok ini tidak terdapat jalur jalan setapak untuk mencapai punggungan perbukitan Teitei Bake. Kami harus mencari dan membuka jalur jalan kami sendiri. Tiba-tiba, belum terlalu jauh dari pondok, di kegelapan pagi itu kami sudah disuguhi pemandangan yang mengesankan, lereng terjal dengan ujung-ujung akar yang bertonjolan dengan ketinggian sekitar 10 meter akibat longsor sudah menghadang kami. Dengan sigap Oruk Manai memanjat lereng terjal itu, memanfaatkan akar-akar pepohonan yang menyembul dari balik tanah lereng itu dia bergelantungan sampai kakinya menapak mendorong tubuhnya naik ke atas. Saya menyusul kemudian. Jalur yang kami tempuh ini adalah punggung kaki perbukitan Teitei Bake yang menjorok ke arah sungai Marepet di apit 2 anak sungai, sungai Simapelekak dan sungai Simapelekak Boirok Baga. Pergerakan kami cukup lambat karena gelap dan belukar rapat yang di beberapa bagian berupa rotan-rotan yang berduri, beberapa kali kami harus membalik arah karena jalur yang kami pilih kemudian berakhir di jurang curam, membuat perjalanan menuju punggung perbukitan ini bertambah lama. 

kesulitan untuk menuju titik pengamatan

Sesudah 1 jam perjalanan akhirnya kami menelukan jalur jalan setapak yang biasa dilalui penduduk setempat saat mereka hendak melintas memotong kontur pulau ini dari arah Sagulubek ke Matotonan atau sebaliknya. Bergegas kami melanjutkan langkah, tetapi jalur itu adalah lereng perbukitan yang menanjak dengan drastis di beberapa titik membuat nafastersengal-sengal dan keringat menetes-netes dari wajah kami bertiga. Akhirnya kami di bagian tertinggi dari jalur itu. Jamsudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Kami memutuskan tempat itu sebagai lokasi pengamatan suara bilou. 

Tiba di lokasi itu suara morning call bilou sudah lama hilang dari pendengaran kami. Tiba-tiba saat Oruk Manai menoleh ke belakang dia melihat 1 individu bilou yang sedang memperhatikan kami. Dengan gugup saya segera membuka tas untuk mengambil kamera. Karena rute perjalanan yang cukup ekstrem, kamera saya masukkan ke dalam tas punggung. Beberapa kali saya mencoba membidik bilou jantan itu, tidak cukup menghasilkan foto yang bagus tetapi pemandangan itu cukup mengesankan. Saat pertama kali kami melihatnya bilou itu sedang bertengger di dahan pohon yang hanya sekitar 20 meter saja dari tempat kami duduk untuk melakukan pengamatan suara bilou. Bilou jantan itu bergerak tidak terlalu cepat, tidak bersuara dan sesekali berhenti di kerimbunan dedaunan mengamati kami, dia bergerak meninggalkan kelompok kecilnya, kemungkinan adalah pasangan dan anaknya yang masih kecil. Keduanya bergerak ke arah yang berlawanan menuju lereng perbukitan, sementara si bilou jantan bergerak ke arah lereng di sisi bukit sebaliknya. Mereka tidak seperti kelompok bilou lainnya yang akan segera mengeluarkan suara alarm, kelompok kecil ini bahkan tidak mengeluarkan suara apapun dan bergerak dengan cara yang seolah-olah tidak terburu-buru.

Bilou teramati langsung di LPS1

Pagi itu kami membagi tugas, Jasmardi melakukan pencatatan data, Oruk Manai membantu mengamati arah suara, perkiraan jarak dan penghitungan suara great call. Saya sendiri bertugas mengamati jam bersuara dan kompas. Sebelum kami pulang saat menjelang pukul 09.00 WIB kami berhasil mendengar suara great call dari 3 kelompok bilou.

Sore harinya saya memutuskan untuk beristirahat di pondok saja. Perjalanan hari kemarin menuju lokasi ini cukup membuat otot-otot kaki saya terasa kaku dan agak pegal. Kondisi vegetasi hutan di lingkungan sekitar pondok yang berupa pepohonan dengan belukar lebat tanpa jalur jalan setapak membuat saya cukup enggan untuk meng-eksplorasi sekitar lokasi itu. Apalagi bantaran tepian sungai ini banyak sekali terdapat pacet yang sudah siap menyambut kedatangan kami. Begitu pula jika kami ingin mencapai daratan seberang sungai yang juga masih berupa hutan lebat, kami harus merelakan badan kami basah karena sungai di sekitar kami membangun pondok sederhana ini yang paling dangkal adalah sedalam pinggang orang dewasa. 

Seperti hari pertama kemarin, sore ini Jasmardi kembali ke pondok dengan kantong yang sudah terisi dengan jenis-jenis ikan dan udang. Hasil pancingannya itu kembali menjadi menu makan malam kami.

Hari ke 2 survei

Hari ke 2 survei, cuaca cukup cerah tetapi mendung agak menyelimuti langit di pagi itu. Pagi ini angin juga berhembus cukup kencang. Suara morning call dari beberapa arah menghiasi perjalanan pagi menuju titik pengamatan kami. Namun begitu kami mencapai titik pengamatan itu, suara-suara morning call dari bilou-bilou jantan itu tidak lama kemudian menghilang dan suasana terasa cukup sunyi, sesekali saja suara simakobu terdengar tidak jauh dari lokasi kami itu. Tetapi saat menjelang jam 08.30 WIB kami mulai disibukkan oleh suara greatcall dari beberapa arah mata angin. Tercatat 5 great call dari 5 arah dan jarak yang berbeda menunjukkan 5 kelompok bilou yang berbeda berhasil kami catat pagi itu. Jasmardi yang kami tugaskan untuk mencatat pengambilan sejak hari pertama terlihat sibuk dengan menghapus beberapa pencatatan yang salah. Tetapi pencatatan data memang dilakukan dengan menggunakan pensil membuat kesalahan-kesalahan pencatatan kecil itu bisa diperbaiki.  Total jumlah suara morning call dan great call pagi itu adalah 5 morning call titik dari arah dan jarak yang berbeda dan 5 great call.

jenis ikan hasil tangkapan 

Saat sore menjelang, saat Jasmardi yang begitu bersemangat memancing ikan sudah meninggalkan pondok untuk memenuhi hasrat memancing ikan, menjelang jam tidur saya sering berbincang dengan Oruk Manai, seorang pemuda anggota uma Satoutou tentang cerita-cerita masa lalu kakek moyangnya, tentang perjalanan migrasi kelompok uma itu dari Simatalu, kisah-kisah penemuan kawasan-kawasan hutan yang kemudian mereka kuasai secara turun-temurun, kisah konflik masa lalu yang melibatkan kakek moyang mereka. Oruk Manai adalah tipikal seorang Siberut yang memiliki karakter khas penduduk dari pedalaman Siberut, berbeda dengan pemuda Siberut yang tinggal di kawasan pesisir yang sudah banyak terpengaruh oleh kebiasaan baru yang dibawa oleh pendatang. Oruk Manai memiliki pengetahuan yang kuat tentang sejarah tutur kakek moyang dan umanya. Dia memahami dengan baik kawasan hutan di sekitar Teitei Bake yang menjadi milik dari uma-nya itu, begitu juga dengan beberapa kawasan hutan di daerah lain yang juga menjadi milik dari uma Satoutou. Oruk Manai juga memiliki keterampilan survival di hutan Siberut dengan sangat baik. 

Malam hari sekitar pukul 21.00 WIB saat kami sudah beranjak tidur, tiba-tiba kami dikejutkan oleh sinar senter yang berasal dari arah hilir sungai. Kami kemudian mematikan lampu penerangan pondok kami yang bersinar temaram itu. Awalnya Jasmardi menduga cahaya dari lampu senter itu berasal dari pemburu yang mencari buruan malam, tetapi samar-samar suara percakapan wanita terdengar. Lama-lama terdengar dengan jelas memecah keheningan malam itu. Rupanya mereka adalah 3 orang ibu-ibu yang sedang pangisou, kegiatan mencari ikan dan udang di sungai. Mereka adalah penduduk dari Matotonan. Mereka kemudian singgah di pondok tempat kami bermalam, badan mereka basah kuyup. Mereka kemudian beristirahat di pondok kami itu. Sesudah menikmati teh manis panas untuk penghangat badan, mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Sesuatu yang menakjubkan, ibu-ibu yang sangat tangguh, berani menempuh perjalanan malam melintasi perbukitan dan sungai-sungai yang terletak jauh di tengah hutan untuk mencari ikan. 

Hari ke 3 survei

Hari itu sejak dini hari sudah terdengar guruh beberapa kali, kami sudah mencemaskan hujan yang akan turun. Jam 05.15WIB kami berangkat lagi menuju titik pengamatan di punggungan perbukitan itu kami berangkat dengan tergesa-gesa. Kehujanan saat dalam perjalanan adalah hal yang tidak menyenangkan, beberapa peralatan untuk pengambilan dan pencatatan data harus tetap kering, penggunaan mantel saat perjalanan dalam hutan yang melintasi semak, perdu dan jenis-jenis rotan yang berduri juga membuat mantel kemudian robek. Badan terbungkus plastik mantel saat berada di jalur pendakian juga terasa merepotkan, pengap dan panas. Tetapi hujan turun tepat saat kami sesaat kami tiba di titik pengamatan suara bilou. Hujan segera bertambah deras. Kami segera mengeluarkan mantel dan payung dari dalam tas kami. Sesudah sekitar satu jam, Oruk Manai kemudian pergi mencari daun soggunei (pisang hutan) ke arah lereng bukit. Di sekitar tempat kami melakukan juga tidak terdapat daun rotan jenis labi yang daunnya biasa dipergunakan oleh penduduk untuk membuat naungan. Akhirnya naungan dari daun pisang hutan yang lebar itu selesai dibuat. Kami bertiga berteduh di situ. Hari itu sampai jam 10.00 WIB saat jam pengamatan suara bilou berakhir, kami tidak mendengar suara bilou satu kali pun.

Selesai berintirahat di pondok tempat kami menginap, sore itu saya memutuskan untuk pergi meng-eksplorasi lingkungan sekitar pondok. Melewati tepian sungai Marepet ke arah hulu yang dipenuhi rumpun bambu dan semak belukar saya tiba di muara sungai Simapelekak. Sungai ini mengalir dari lereng perbukitan Teitei Bake. Tidak terlihat jejak kaki para ibu yang kemarin malam singgah ke rumah, nampaknya mereka tidak melintasi anak sungai ini. Sampai sekitar 40 menit saya berjalan di sepanjang anak sungai itu tetapi suasana sore itu terasa lengang, saya kemudian kembali ke pondok tempat kami menginap, di lereng bukit dekat pondok tiba-tiba terdengar suara simakobu, Oruk kemudian pergi memeriksa, katanya dia melihat 4 ekor simakobu yang sedang bergerak mencari pohon tidurnya. 

Hari ke 4

Malam itu diskusi kami adalah perencanaan untuk hari terakhir pengamatan. Menurut Oruk Manai kami bisa kembali ke Matotonan sesudah melakukan pengamatan tanpa harus kembali ke pondok tempat kami bermalam ini dengan melewati jalur jalan setapak yang biasa ditempuh oleh penduduk yang melintas. Berangkat kembali ke Matotonan jika sesudah selesai melakukan pengamatan di hari terakhir mengharuskan kami menempuh perjalanan dengan pakaian basah sebab kami harus menyeberangi sungai yang memiliki kedalaman sekitar dada orang dewasa. 

Jam 03.00 WIB kami sudah terbangun dari tidur, Oruk Manai lalu memasak nasi, memanaskan air. Semalam kami sudah memutuskan jika saya akan berangkat duluan bersama Jasmardi ke titik pengamatan dengan membawa peralatan kami, sementara Oruk Manai akan membongkar pondok, mengemasi barang dan membawa menu makan siang kami sesudah sekitar jam 09.00 WIB. 

Simakobu ( Simias concolor)

Di tengah perjalanan saat kondisi masih gelap gulita saya yang berjalan paling depan sempat dikejutkan oleh suara khas joja (Presbytis siberu) jantan dewasa yang nampaknya terkejut oleh kehadiran kami yang melintasi pohon tidurnya. Pohon tidur joja itu dekat sekali di jalur lintasan kami. Namun keseruan selanjutnya adalah saat saya mendengar suara simakobu di arah jalur jalan menuju titik pengamatan itu. Saya yang berjalan di posisi depan sudah memberikan kode kepada Jasmardi untuk meminimalkan suara dan pergerakan karena perkiraan saya simakobu (Simias concolor) itu ada dibeberapa meter saja di depan jalur lintasan kami. Sebegitu saya melihat kelompok simakobu yang berjumlah 6 ekor itu saya segera menyelinap di balik batang pohon, bersembunyi. Jasmardi segera saya tarik untuk juga bersembunyi. Tetapi demi memenuhi tuntutan rasa penasarannya dia malah menyembulkan badannya dari balik kayu itu. Kelompok simakobu itu kemudian bubar, melarikan diri ke arah lereng bukit itu. Pejantan utama dari kelompok simakobu itu yang berukuran paling besar terlihat bergerak paling belakang. Dia malah berhenti di dahan kayu sambil memamerkan gigi-giginya yang berwarna kecoklatan ke arah kami, menyeringai. Namun posisi simakobu jantan dewasa itu cukup jauh dari jangkauan kamera di tangan saya dan posisi kami yang terhalang oleh belukar. Malah saya sempat terbentur oleh binokuler yang berada di tangan Jasmardi akibat keinginan kami untuk sama-sama melihat simakobu itu dari sudut yang sama. Pemandangan yang begitu menarik hati Jasmardi untuk mengamati simakobu itu dan minat saya untuk mengambil foto membuat kami seolah berebut sudut pengamatan.

Kami kemudian kembali bergerak menuju titik pengamatan untuk melakukan pengamatan suara bilou hari terakhir. Tiba di lokasi pengamatan kami kembali mendengar suara joja yang terdengar begitu dekat, hanya beberapa puluh meter saja di balik rimbunnya dedaunan vegetasi hutan itu. Jasmardi kemudian memutuskan untuk mencoba kamera untuk mengambil fotonya. Sekitar 20 menit dia pergi meninggalkan saya sendirian, saat kembali rupanya dia tidak berhasil. Pagi itu kami hanya mendengar 2 suara morning call dan 1 great call dari arah Sagulubek yang terdengar samar-samar. 2 suara morning call yang saat terdengar cukup dekat dari titik pengamatan justru kembali tidak bersuara great call, malah saat kami tiba di titik pengamatan saat jam menunjukkan pukul 06.10 WIB, suara morning call itu sudah terdiam.


tim LPS 2
Perjalanan kembali ke Matotonan.

Kami kemudian meninggalkan titik pengamatan itu saat jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Kami bertiga beriring, saya dan Jasmardi menggendong tas carrier sementara Oruk Manai menggendong keranjang rotannya. Kami bergerak menyusuri jalan setapak yang terjal menuju ke arah kaki bukit. Jam menunjukkan pukul 11.30 WIB saat kami tiba di sungai Simapelekak bagian hulu. Kami beristirahat menikmati makan siang yang sudah disiapkan dari pagi oleh Oruk Manai. Perjalanan kami lanjutkan lagi dengan menyusuri sungai Simapelekak ke arah hilir. Tiba di pertengahan jalur kemudian dilanjutkan dengan mendaki kaki perbukitan itu menanjak, lalu menurun lagi dengan menyusuri anak sungai kecil yang berkelok-kelok. Anak sungai kecil ini memiliki dasar sungai berupa batuan padat yang berwarna coklat kehijauan tetapi tidak terlalu keras, mirip batu napal. Ujung anak sungai itu adalah sungai Marepet. Kami sudah sampai kembali di jalur yang kami tempuh saat kami berangkat. Menurut kedua teman tadi salah satu hal yang membuat mereka memilih jalur keberangkatan yang berbeda adalah jalur kami kembali ini jika ditempuh dari kaki bukit akan sangat menguras tenaga karena lerengnya yang terjal. 

tim survei LPS 3

Kami kemudian bergerak lagi menyusuri jalur jalan menyusuri aliran sungai Marepet ke arah hulu, mendaki kaki bukit Pelekuk Teteiket, menuruni lembahdi sebaliknya dan kembali menuruni sungai, sungai Pakaleuruat yang mengarah menuju ke bukit Paleku Teteiket.

Tiba di kaki perbukitan Paleku Teteiket itu kami kemudian beristirahat sejenak, sambil mempersiapkan diri menempuh perjalanan di bawah hujan. Langit terlihat gelap pekat dan angin dingin berhembus kencang. Semua barang segera kami kemas kedalam plastik dan kami masukkan ke dalam taas carrier. Perjalanan mendaki dan menuruni bukit Paleku Teteiket itu kami tempuh di bawah guyuran hujan yang turun dengan deras sore itu. Saat tinggal beberapa meter saja di penghabisan kaki bukit itu, tiba-tiba saya terpeleset dan badan pun tergelincir dengan posisi punggung di atas tanah lerengan perbukitan yang miring itu.  Besok paginya saat mengemasi barang-barang baru ketahuan kalau kaca lensa kamera yang ada dalam tas carrier itu telah retak. 

Sekitar pukul 17.00 WIB kami tiba kembali di rumah Jasmardi di Matotonan di tengah hujan yang mengguyur dengan deras. Terlihat kawan-kawan dari tim yang lain sudah duduk-duduk di beranda rumah itu, mereka bisa tiba di rumah lebih cepat karena sebagian perjalanan mereka tempuh dengan mempergunakan pompong.



Monday, May 25, 2026

Menyebar pengetahuan : Buku Primata dan Burung di Siberut Utara

 oleh : Arif Setiawan dan Aloysius Yoyok

penyerahan buku di SMA 1 Siberut Utara

Pada bulan April dan Mei 2026 lalu, berkaitan dengan survey populasi bilou di Siberut Utara, tim siripokbilou juga berkesempatan membagikan buku-buku yang telah kita susun dari kegiatan sebelumnya di Mentawai tentang Primata Mentawai dan Burung-Burung kepulauan Mentawai.

Buku keanekaragaman hayati yang menyoroti primata dan burung Mentawai memiliki peran strategis sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan, masyarakat, dan kebijakan konservasi. Ia bukan sekadar katalog spesies, melainkan sebuah narasi yang menghidupkan kekayaan alam Mentawai. Melalui dokumentasi ilmiah yang sistematis, buku ini menyediakan informasi dasar tentang distribusi, perilaku, dan status ancaman satwa endemik, sehingga menjadi rujukan penting bagi siapapun yang tertarik tentang keanekargaman hayati Mentawai, siswa, peneliti, dan sudah seharusnya  pengambil kebijakan. Di sisi lain, bagi masyarakat lokal, buku ini menumbuhkan kesadaran akan identitas ekologis mereka, memperlihatkan bahwa primata dan burung bukan hanya bagian dari hutan, tetapi juga bagian dari budaya dan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, buku ini memperkuat advokasi konservasi, membuka peluang ekowisata berbasis satwa endemik, serta membangun citra positif Mentawai di mata dunia sebagai pulau keanekaragaman hayati. 

cover buku primata Mentawai

cover buku burung Mentawai

Singkatnya, buku tersebut adalah alat yang menyatukan ilmu, budaya, dan ekonomi lokal dalam satu visi pelestarian.Pembagian buku -buku ini  merupakan upaya penyebar luasan informasi khususnya untuk anak-anak sekolah dan pengajar di Kepulauan Mentawai. 

Buku primata dan Burung Mentawai ini, disusun oleh tim swaraOwa dan tim Siripokbilou, yang telah mengumpulkan foto-foto jenis-jenis yang dijumpai selama berkegiatan di Mentawai. Buku primata Mentawai telah mengalami tiga kali revisi cetak, untuk memperbaharui informasi yang disampaikan. 

Pembagian buku, dilakukan dengan mengunjungi langsung sekolah-sekolah di wilayah kecamatan Siberut utara dari Tingkat Sekolah Dasar, SMP dan SMA baik negeri maupun swasata dan juga perpustakaan Desa. Pada periode kunjungan siberut utara ini ada 12 Sekolah dan 1 desa yang mendapatkan buku. 

Dalam arus digital yang serba cepat saat ini, urgensi buku keanekaragaman hayati di Mentawai justru harusnya semakin kuat, terutama karena kondisi pedalaman yang masih terbatas akses internet dan teknologi. Buku fisik menjadi media pengetahuan yang paling dapat diandalkan bagi masyarakat lokal, sekolah, dan komunitas adat yang belum sepenuhnya terhubung dengan dunia digital. Ia berfungsi sebagai arsip permanen yang tidak tergantung pada jaringan, sekaligus sebagai sumber belajar langsung yang bisa dibawa ke hutan, ke rumah, atau ke balai desa. Namun juga masih ada tantangan lain di Mentawai pada umumnya yaitu minat baca terhadap buku yang rendah. Penyebaran pengetahuan tentang  Mentawai dalam bentuk buku primata dan burung ini akan dilakukan terus di seluruh sekolahan di Kepulauan Mentawai. Harapannya setiap sekolah mempunyai 2 buku ini, tersedia di perpustakaan sekolah dan dapat dibaca oleh para siswa. 



Saturday, May 23, 2026

Dari Pekalongan ke Siberut: Petualangan Konservasi dan Budaya mentawai

 

bersama tim menggunakan pompong

oleh : Iman sofiana

Petualangan baru hidup saya kali ini dimulai dari Stasiun Pekalongan,  untuk pertama kali menapakkan kaki menuju tanah Sumatera dan langsung ke bagian terjauhnya yaitu pulau Mentawai. Tujuan utama kami ke pulau Mentawai adalah untuk survei populasi Owa bilou dan primata endemik, Mentawai di Kawasan Taman Nasional Siberut. Bersama dengan staff Swaraowa kami menggunakan kereta api menuju Jakarta. Sampai di Jakarta pada pagi hari, kami langsung bergegas menuju bandara Soekarno-hatta untuk terbang ke Padang. Penerbangan kali ini adalah penerbangan yang pertama pertama bagi saya. Saya merasa campur aduk diantara tegang dan grogi namun juga penasaran bagaimana rasanya terbang. Bingung, mungkin adalah kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan saya yang masih antusias dengan perjalanan ini.

Rasa tegang seketika sirna ketika datang rasa takjub dan seru ketika saya melihat pemandangan awan dan langit biru beriring dengan getar pesawat saat mengudara. Pengalaman terbang kali pertama ini, tak akan terlupakan untuk saya. Saya cukup terkejut ketika tiba-tiba terdengar suara pramugari yang khas dan memberitahukan bahwa pesawat segera landing di bandara Internasinonal Minangkabau. Tidak terasa ternyata perjalanan secepat itu, hanya dalam 1 jam 50 menit kami sudah tiba di Padang. Sore hari kali ini saya mengantar tim Swaraowa untuk presentasi di Balai Taman Nasional Siberut yang kami lanjut dengan menginap semalam di Padang karena esok pagi kami harus menyeberang ke pulau Mentawai.

burung tepekong 

Selasa 21 April 2026, kegiatan kami mulai pukul 05.00 pagi untuk bergegas dari hotel menuju ke pelabuhan untuk naik kapal cepat mentawai fast menuju pulau Siberut. Di sini saya juga baru tahu bahwa Mentawai adalah nama gugus kepulauan dan tujuan kami adalah pulau terbesar di gugus tersebut. Ternyata memang berbeda rasanya naik kapal ferry dan kapal cepat. Laju 30 knot dengan angin sepoi di galangan atas terasa sangat cepat laju kapal kami ini. Kebetulan kami menyebrang pada cuaca buruk, sehingga saya pun merasakan guncangan ombak Samudra Hindia yang cukup membuat pusing. Karena mulai gerimis saya turun untuk duduk di kursi peunumpang dan segera tidur agar tidak semakin mual. Selama 5 jam perjalanan kami lalui dan akhirnya tiba juga waktunya saya menapakkan kaki di pulau Siberut.

Setibanya kami di Sikabaluan yang merupakan kota kecamatan di Siberut Utara, pada siang hari kami langsung mengadakan pelatihan dan koordinasi untuk kegiatan survei di esok harinya. Pelatihan singkat ini dilakukan di kantor Seksi Taman Nasional Siberut dan materinya mengenai metode pengumpulan data dengan point count dengan menghitung suara Greatcall Owa bilou betina serta penggunaan aplikasi penunjang kegiatan survei ini. Setelah sesi pelatihan dan perkenalan selesai, kami langsung membagi tim jadi 3 dan saya masuk di tim Bojakan 2 yang akan survei ke arah hutan di sekitar sungai Belingken. Hari ini kami tutup dengan packing peralatan, logistik dan perlengkapan pribadi dan dilanjutkan dengan tidur.

burung kehicap ranting

 Rabu 22 April 2026, pukul 10.00 wib kami berangkat mengarungi sungai Sikabaluan menuju  desa Bojakan ditemani birunya langit tanpa polusi dan hembusan sepoi yang sejuk. Hijaunya pohon-pohon hutan ditepi sungai dengan deru mesin 50 cc mendorong sampan kayu utuh membuat suasana jadi membuat saya terlelap di atas sampan. Kami sempat sandar di tepi sungai yang tanahnya berlumpur untuk makan siang setakah 3 jam perjalanan. Di lokasi ini 1 sampan yang membawa tim Bekemen berpisah dengan kami 2 sampan tim Bojakan. Semakin menuju hulu air sungai semakin dangkal yang membuat mesin pompong bekerja keras yang akhirnya jebol mesinnya. Peristiwa ini menambah pengalaman baru untukku karena mendorong sampan di rintik gerimis syahdu, untungnya perjalanan tinggal 500 Meter lagi. Dibantu supir yang menggunakan sebilah bambu untuk mendorong pompong ketika melewati ‘kedungan’, setelah 5 jam perjalanan tibalah kami di Desa Bojakan. Kami menginap 1 malam di desa untuk istirahat dan koordinasi untuk esoknya kami mulai perjalanan lagi menuju site.

Kamis pagi selepas sarapan dengan pompong baru milik warga lokal dengan kernetnya, saya, Pak Ila, Bang Erkanus dan Mas Ari  kembali mengarungi sungai. Kali ini menyusuri sungai Belingken menujuk titik koordinat survei kami. Dangkalnya arus sungai ini sungguh menantang karena membuat kami harus menguras tenaga ekstra. Pompong dengan logistik 5 hari survei harus kami dorong sepanjang kira-kira 1,5 KM. Sampai dihulu kami memutuskan untuk beristirahat dan makan siang di pondok ternak babi tepi sungai. Setelah survei bukit target ‘LPS’ akhirnya kami putuskan untuk camp di pondok babi ini. Sebenarnya saya agak kurang nyaman dengan bau sagu busuk sisa pakan ternak bercampur bau kotoran babi. Namun demi kelancaran survei saya harus melawan shock culture pertama saya ini, mohon dimaklumi di Mendolo tidak ada orang pelihara babi ‘hehe’. Malam pertama mencoba terbiasa dengan aroma ternak ini saya rebahan dan mendengar cerita lokal tentang kepercayaan pada pohon hutan yang mempunyai roh nenek moyang dan pantangan yang tidak boleh dilakukan selama di hutan.  Saya merasa survei ini saya akan mendapat banyak cerita budaya Mentawai dari yang magis hingga yang logis ‘hehe’.

di atas pompong alat transportasi utama di siberut

Pagi hari Jumat 24 April 2026, sebelum matahari terbit kami harus berjalan menuju titik ‘LPS’ yang berjarak 700 M dari camp karena hari ini adalah hari pertama kami mengambil data. Sesuai cerita survei sebelumnya jam 5.45 morning call terdengar dari beberapa dan kami mulai mencatatnya sesuai prosedur. Namun sayangnya kami tidak ada satupun greatcall yang terdengar dari LPS kami hingga jam 10.00.  Waktu tersebut adalah waktu terakhir pengambilan suara sehingga kami harus kembali ke camp untuk sarapan bagi tim Bilou maupun tim babi di bawahnya hehe. Seperti biasa saya melewati malam dengan cerita-cerita kearifan lokal sambil berjuang menghadapi nyamuk dan agas.

Hari kedua survei mungkin adalah hari keberuntungan kedua saya setelah bertemu Habib Syeikh di bandara pada saat saya berangkat kali ini saya bisa melihat Owa Bilou. Kira-kira arah 16° dari LPS  dengan jarak 400 M, 3 individu terlihat berpindah dari pohon ke pohon dengan cepat sehingga kami tidak sempat mendokumentasikan momen ini. Hari ini saya pulang menuju camp dengan gembira. Sayangnya sampai di pondok, tim kami baru sadar bahwa kami mulai kehabisan logistik. Untuk mengatasi hal itu, memanfaatkan keberuntungan saya, Alhamdulillah saya bisa menambah lauk dengan memancing ikan dan mencari udang untuk semua orang.

Lanjut cerita dihari ke-tiga, ternyata pak Erkanus lupa membawa mie instan yang sudah dibeli untuk tim sehingga saat ini tim kami diliputi kegalauan  bahan pangan yang sudah menipis. Untungnya setelah menunggu 2 hari akhirnya kami bisa mencatatkan suara Greatcall yang membuat kami merasa kerja keras ini tidak sia-sia. Walaupun ketika sampai pondok saya galau lagi karena stok lauk yang menipis dan pas mancing dapatnya ya ikan kecil. Sekembalinya saya dari mancing, di pondok ternyata ternyata teman-teman lokal sudah menyembelih babi ternak kecil untuk merayakan data yang kami dapat katanya, aslinya ya karena lauk sudah habis hehe. Agar semua senang, karena saya muslim saya goreng ikan hasil mancing tadi dan lanjut makan malam bersama.

Senin 27 April 2026 adalah hari terakhir kami survei di titik ini. Gerimis di pagi hari dan cuaca yang agak mendung mungkin membuat Bilou tidak berbunyi di hari ini. Namun mengingat hari ini adalah hari terakhir di hutan Bojakan kami tetap menjaga semangat untuk menyelesaikan survei ini. Sebelum pulang dari pondok kami mengisi tenaga dengan sisa daging babi dan ikan goreng untuk saya. Hal ini karena kami harus berjalan kaki selama 2 jam terlebih dahulu akibat air yang semakin dangkal. Sebelum pulang ke Sikabaluan kami bertemu dengan tim Bojakan 2 di desa untuk menyelesaikan urusan administrasi dan lanjut berangkat ke hilir dengan pompon. Perjalan pulang menuju hilir tidak seberat ketika berangkat dan kamipun kembali tiba di kantor Resort hanya dalam 3 jam perjalanan.

Rencana awal kami akan menyeberang pada hari Selasa namun karena tim Swaraowa dan tim survei lokal masih harus rapat terlebih dahulu kami pun memutuskan untuk menyeberang besok di hari Kamis. Karenanya saya manfaatkan waktu untuk menikmati pantai, ombak, sepoi angin dan tentunya sunrise Siberut Utara. Desir tenang ombak, angin sepoi, gumpalan awan bersirat jingga keemasan, dan redup perahu-perahu nelayan jauh di  tengah Samudra membuat saya bersyukur akan harmonisasi suasana hangat ini yang menjadi penutup cerita saya di Siberut. Esok siang saya harus kembali menuju padang dan menginap semalam sebelum kembali ke Jawa.

Tepat sebelum meninggalkan pulau Sumatera saya, mas Adin dan mbak Aolia sempat memotret Lutung kelabu di rawa-rawa depan bandara Minangkabau. Mentawai bagi saya adalah harmonisasi hutan, laut, dan kearifan lokal yang berusaha menuju keseimbangan dengan segala perjuangannya. Menurut saya hutan bagi Masyarakat lokal Mentawai adalah ruang hidup sakral yang harus dihormati. Untuk menutup cerita, saya buatkan jargon tim Bojakan 2 yaitu “Makan babi boleh, primata jangan” catatan besar kecuali untuk acara adat hehe.


Wednesday, May 20, 2026

Survey Populasi Bilou ( Hylobates klossii) di Taman Nasional Siberut

Bilou sedang makan buah pohon tumu (Buchanania arborescens

oleh : Aloysius Yoyok

Melanjutkan program konservasi Bilou swaraowa , yang telah melakuan survey populasi di 9 hutan adat di Siberut Selatan di tahun 2025, kali ini survey dilaksanakan di Bekemen yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Siberut, tepatnya di wilayah SPTN 2 Siberut Utara. Bekemen sebenarnya adalah nama salah satu anak sungai hulu DAS sungai Sikabaluan. Di kawasan ini paket kegiatan kali ini diselenggarakan, selain untuk mendapatkan data populasi bilou dan primata sekaligus juga untuk pelaksanaan training ( untuk peningkatan kapasitas staff TN dan masyarakat sekitar kawasan)  pengambilan data populasi bilou dengan metode vokalisasi point count. Training ini terutama ditujukan untuk beberapa anggota tim survei yang baru, mereka adalah 5 orang anggota masyarakat setempat; 2 orang dari wilayah Siberut Utara, 1 orang dari wilayah Siberut Selatan, 1 orang dari wilayah Sipora, 1 orang dari wilayah Pagai Utara-Selatan serta 2 orang staf BTNS dari STPN 2 Sikabaluan.

diskusi dengan staff TN Siberut dan
pengenalan metode vocal count untuk survey populasi Bilou

Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, tentu saja koordinasi dilaksanakan terlebih dahulu dengan membangun komunikasi ke pihak BTNS (Balai Taman Nasional Siberut) melalui Kepala SPTN wilayah 2 Siberut Utara. Sesuai prosedur standar, karena kegiatan ini akan dilaksanakan di dalam kawasan TN Siberut maka diperlukan Simaksi (surat ijin masuk kawasan konservasi). Pemilihan lokasi di dalam kawasan ini adalah sekaligus untuk pengambilan data populasi di kawasan yang diperkirakan memiliki potensi kepadatan dan kelimpahan populasi bilou tinggi. Kondisi ini diharapkan akan mendukung untuk tempat praktik pengamatan dan pengambilan data bagi peserta yang baru.

Jam 15.00 WIB pada Selasa 5/4/2026 tim yang akan melaksanakan kegiatan sudah lengkap terkumpul di kompleks perkantoran BTNS STPN 2 Sikabaluan. Atas ijin dari pihak BTNS melalui Kepala STPN 2, tempat ini menjadi piihan untuk penyelenggaraan pertemuan tim. Sore itu kegiatan pendahuluan training sekaligus pengambilan data populasi dimulai dengan penyampaian metode. Tidak terlalu rinci, hanya pada prinsip-prinsip utama saja untuk selanjutnyna peserta baru akan langsung belajar bersama sekaligus melakukan praktik pengambilan data di kawasan yang dipandang memiliki kelimpahan populasi tinggi di dalam kawasan TN Siberut.

Diskusi sore itu termasuk penentuan lokasi pengambilan titik pengamatan suara sekaligus pembagian peserta menjadi menjadi 3 tim. 3 titik lokasi pengamatan berhasil ditentukan berdasarkan pertimbangan jarak dari garis batas kawasan BTNS, jarak antar titik pengamatan dan juga berdasarkan peta kesesuaian untuk habitat bilou. Tim 1 adalah Yoyok, Kusmiadi (staf BTNS), Aolia dan Lily (staf BTNS), tim 2 adalah Erkanus, Iman, Adek dan Ilarius sementara tim 3 adalah Vincen, Matheus, Adin dan Ari. Tim 1 akan melakukan praktik pengambilan data populasi bilou dan primata melalui metode vokalisasi di Bekemen, Tim 2 di Balingken Bojakan sementara tim 3 akan di Tinaba, Bojakan.

tim survey di bersiap menuju lokasi

menyusuri sungai menuju Bojakan

Rabu menjelang siang 3 unit pompong sudah berderet di salah satu sudut epian muara Sungai Sikabaluan. P. Kusmiadi, seorang staf senior BTNS STPN 2 sejak kemarin sore sudah sibuk menghubungi pemilik pompong sekaligus merangkap operator yang akan mengangkut kami menuju sasaran tujuan masing-masing. Alih-alih dikemudikan oleh warga masyarakat lokal seperti 2 pompong yang lain, pompong tim 1 rupanya langsung dikemudikan oleh P. Kusmiadi, salah seorang staf BTNS yang rupanya sekaligus adalah penduduk desa Monganpoula.

Secara beriringan pompong yang telah sarat penumpang dan logistik untuk pelaksanaan survei bergerak menuju bagian hulu sungai Sikabaluan. Tujuan ke 3 tim ini adalah tim 2 dan 3 mengarah ke hulu bagian kiri yaitu melewati desa terakhir yang berbatas dengan kawasan TNS yaitu desa Bojakan. Sementara tim 1 bergerak menuju hulu sungai Sikabaluan di arah kanan yaitu kawasan Bekemen.

Pada awalnya kegiatan ini direncanakan akan terbagi ke 6 titik pengamatan yang berbeda. 3 titik pengamatan berada di sekitar hulu desa Bojakan dan 3 titik pengamatan berada di kawasan sekitar Bekemen. Namun sesudah tim terkumpul dan dilakukan diskusi berdasar metodologi yang mempertimbangkan jarak antar titik pengamatan, jarak terhadap garis batas kawasan TNS dan resiko ketersediaan akses maka titik pengamatan yang paling memungkinkan hanyalah 3 titik pengamatan saja, 1 titik pengamatan di Bekemen dan 2 pengamatan di Bojakan.

Survey lokasi ke 1. di Bekemen

pondok menginap di Bekemen

Saat tengah hari iringan ke 3 pompong sudah hampir mencapai persimpangan sungai yang terbelah menuju Bojakan dan Bekemen. Tim yang sudah membekali diri dengan menu makan siang kemudian beristirahat di tepian sungai itu untuk menikmati makan siang. Ke 3 pompong kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Sekitar 10 menit sesudah melewati muara sungai Bekemen, tim 1 secara mengejutkan bertemu dengan kelompok bokkoi yang sedang berkeliaran di sekitar pondok perladangan baru milik penduduk. Kelompok bokkoi itu kemungkinan sedang mengincar tanaman pisang ataupun potongan-potongan sagu persediaan untuk ternak babi yang ada di tepian sungai itu. Saya yang duduk di posisi terdepan di atas pompong itu sibuk, fokus memperhatikan jalur sungai untuk menghindari kayu-kayu yang sering membahayakan jalur perjalanan tidak menduga sama sekali jika akan bertemu dengan rombongan bokkoi itu, sekitar 6 ekor. Bergegas saya membuka tas tempat menyimpan kamera, sialnya karena saya belum menyiapkan kamera, kesempatan emas untuk mengambil foto-foto yang bagus itu tidak termanfaatkan dengan baik. Pemandangan kelompok bokkoi yang berada di tepian sungai semacam itu sangat sulit didapatkan di kawasan lain di pulau ini.

Perjalanan kali ini cukup beruntung karena tidak terlalu banyak kayu melintang. Kayu-kayu dari pepohonan yang tumbang dari lereng-lereng di tepian sungai seringkali masih ditemukan melintang mengahalangi jalur perjalanan pompong karena dihanyutkan oleh banjir besar sejak 2 bulan lalu. Sesudah sempat mendorong pompong selama 3 kali saja saat jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, akhirnya kami tiba di bangunan yang dibangun oleh BTNS untuk semacam posko saat petugas BTNS berkunjung ke kawasan ini.

Sore itu kami bisa beristirahat dengan nyaman di bangunan milik BTNS itu. Titik pengamatan yang akan dituju sudah ditentukan yaitu di pertengahan jalur pengamatan 1, jalur terpanjang yang sering ditempuh oleh para petugas BTNS saat melakukan kunjungan ke kawasan ini.

Hari ke `1

Pagi-pagi benar saat jam masih menunjukkan pukul 04.30 WIB kami sudah terjaga dari tidur. Tidak ada yang perlu dibangunkan, kami segera bersiap untuk memulai kegiatan hari ini. Jam sudah menunjukkan pukul 05.15 WIB saat kami bergerak beriringan menembus pagi yang gelap lembab, berkabut dan gelap. Suara morning call dari bilou jantan sudah mengisi suasana pagi itu saat kami bahkan belum melangkah keluar dari dalam bangunan itu. Perjalanan melalui jalur pengamatan 1 BTNS di wilayah STPN 2 ini adalah dengan menyusuri punggungan bukit. Kami bergerak mendaki lereng bukit yang sudah tersedia, jalan setapak yang biasa ditempuh oleh para petugas BTNS saat melakukan kegiatan survei. Sesudah setengah jam perjalanan, sesudah kami melewati lereng bukit yang cukup terjal, kami akhirnya memutuskan tempat untuk kami akan melakukan pengamatan suara bilou di kawasan itu.

bilou yang terlihat di lokasi Bekemen
Saat perlahan sinar matahari mulai menerobos ranting-ranting dan dedaunan di hutan Bekemen itu, kami mulai menyadari jika di sekitar kami merupakan pohon tidur dari beberapa kelompok primata. Ada sekelompok keluarga bilou kira-kira 50 meter saja di lereng arah barat kami, lalu ada kelompok bilou lain di sekitar 70 meter di arah Utara, dan ada sekelompok simakobu di sekitar 50 meter di arah barat laut. Pagi itu kami mendapatkan suguhan alam khas Siberut yang memukau. Kami berhasil mencatatkan 9 great call suara bilou dan 2 alarm call dari kelompok bilou yang berada di dekat kami, dengan indera mereka yang tajam, mereka segera menyadari keberadaan kami di dekatnya.

Sepulang dari pengamatan suara, kami sedikit dikejutkan oleh kedatangan tamu, operator pompong dari Mongan Poula yang kemarin berangkat mengantarkan 2 tim yang lain ke arah Bojakan. 2 orang operator pompong itu pun bercerita. Menjelang sore mereka sudah tiba di Bojakan. Mereka kemudian langsung menuju ke rumah Ilarius, seorang penduduk Bojakan yang juga adalah petugas lapangan BTNS. Sesuai arahan dari rekan-rekan staf BTNS mereka kemudian melakukan koordinasi ke pemerintahan setempat yaitu Kepala Dusun dan Kepala Desa. Dari pembicaraan itu diputuskan jika ke dua operator pompong dari Monganpoula disuruh untuk pulang dan tanggung jawab untuk menyediakan sarana transportasi maupun tenaga pemandu akan di sediakan oleh warga Bojakan. Ke dua operator pompong dari Monganpoula itu tidak berangka pulang kembali ke Mongan Poula tetapi kemudian malah memutuskan untuk bergabung dengan tim 1 yang melakukan survei di Bekemen. Tim 1 survei populasi bilou yang di Bekemen akhirnya kemudian berjumlah total menjadi 6 orang.

Namun kejutan lain di sore itu adalah tamu lain yang mengunjungi kami, 1 individu bilou jantan  jantan dewasa sedang mencari pohon tidurnya. Saat kami sedang berada di teras bangunan pos itu, tiba-tiba saya melihat bayangan primata yang melompat di pepohonan yang berada di seberang anak sungai di sebelah rumah pos BTNS Bekemen. Kami segera bergerak, mengambil posisi untuk menikmati pemandangan langka itu. Namun karena bilou itu menyadari keberadaan kami di bangunan pos itu, bilou itu kemudian bergerak menjauh ke arah lereng perbukitan, mencari pepohonan lain yang lebih nyaman untuk menghabiskan malam.

Hari ke 2

Pagi itu cuaca cukup cerah, terlihat bintang-bintang bertaburan di langit muncul dari sela-sela dedunan di halaman posko saat saya melangkah ke halaman bangunan tempat kami bermalam itu. Seperti biasa, saat jam menunjuk pukul 05.00 WIB, kami sudah bersiap untuk berangkat menuju lokasi pengamatan, tetapi kali ini bahkan saat menjelang kami tiba di lokasi pengamatan, kami sudah kehilangan suara morning call dari beberapa bilou di kawasan itu. Kami tetap melakukan pengamatan dengan sabar, sampai jam 10.00 WIB saat kami kemudian bergerak kembali menuju pos BTNS STPN wilayah 2, kami tetap tidak mendengar suara great call dari kelompok-kelompok bilou di kawasan itu. Namun saat dalam perjalanan kembali, kami bisa melihat kelompok-kelompok kecil simakobu di 2 titik di jalur perjalanan, mereka segera bergerak menjauh karena mendengar kedatangan kami yang kali ini berjumlah 6 orang akibat 2 orang operator pompong yang mengantarkan tim ke Bojakan datang bergabung dengan kami.

Simakobu ( Simias concolor) teramati di hari ke-2 di Bekemen

Hari ke 3

Pengamatan hari ke 3 berlangsung cukup seru. Di lokasi pengamatan kami bisa bertemu dengan kelompok simakobu yang berada di begitu dekat. Bagian dari kelompok itu ada 4 individu simakobu yang berwarna keemasan atau yang biasa disebut oleh penduduk setempat sebagai sulabei. 2 individu dewasa, 1 individu juvenile dan 1 individu anak. Saat matahari mulai bersinar mereka berloncatan mencari, mencari tempat yang nyaman untuk mencari makan, nampaknya kehadiran kami cukup mengganggu mereka. Di 10 meter arah barat laut, kami juga disuguhi pemandangan 1 individu simakobu jantan yang sedang bertengger di dahan kayu shorea, sementara di jarak sekitar 50 meter di arah barat, kelompok bilou berjumlah 4 individu terlihat sedang sibuk menikmati makanan mereka berupa buah tumu (Buchanania arborescens) yang saat itu terlihat di beberapa tempat sedang menghasilkan buah. Kami sibuk mengamati tingkah laku kelompok bilou itu sampai kemudian kelompok itu kemudian pergi dari pohon tumu itu, cukup lama, sekitar hampir 1 jam kami disuguhi tontonan langka itu.

Menjelang siang saat kami kemudian menyelesaikan proses pengamatan suara bilou hari itu, kami kemudian bergerak kembali meninggalkan lokasi pengamatan menuju pos. Namun kali ini saya ditemani pemandu mengambil jalur lain. Kami berdua bergerak menyusuri sambungan jalur pengamatan 1 BTNS Bekemen, belum sampai ke ujung jalur pengamatan, kami memotong jalur dan kami kemudian menemukan jalur pengamatan 2.

Jalur jalan setapak itu semakin menanjak, sambil mengamati sekeliling mencari kesempatan untuk medapatkan foto satwa atau primata. Kami lalu berjalan menuruni lereng bukit itu, menyeberangi anak sungai yang dari atas bukit terdengar bergemuruh akibat aliran air sungai itu terjun memalui bebatuan Sesudah kembali mendaki lereng yang cukup terjal kami kemudian beristirahat, peluh membasahi pakaian kami. Tiba-tiba kami mendengar benda yang terlihat berjatuhan dari atas kanopi pepohonan yang berada di dekat kami duduk. Ternyata seekor Mentawai civet atau musang Mentawai (Paradoxurus lignicolor)  yang berwarna coklat terlihat bergerak mencari tempat untuk bersembunyi. Mungkin dia terganggu akibat keberadaan kami di bawah pohon tempatnya beristirahat sirang itu. Tidak jauh dia bergerak, hanya berpindah pohon ke pohon sebelah, lalu mendekam di dahan kecil di ketinggian sekitar 7 meter saja.

Musang mentawai 

Puas mengamati satwa endemik dan mengambil bebeapa foto satawa itu kami kemudian melanjutkan perjalanan. Sayangnya baterai kamera kami sudah tidak ada lagi daya. Sepanjang perjalanan di jalur 2 itu kami kemudian bertemu dengan seekor simakobu jantan besar yang bahkan suara lompatan-lompatannya di atas pohon yang berdiri miring itu bahkan sampai terdengar berderap. Lalu kami juga bertemu dengan serombongan besar bokkoi yang sedang sibuk mencari makanan, ada yang bertenggar di pelepah bunga nibung, ada yang sedang mengais-ngais tanah, ada yang sedang berkejaran berebut makanan. Menjelang tiba di pos kami masih sempat melihat 2 individu simakobu yang sedang bertengger di dahan pohon di dekat jalan setapak yang kami lewati. Keduanya segera melompat, bergerak menjauh dari kami.

Tiba di rumah kami kemudian mendengar cerita dari teman-teman satu tim yang lain, dalam perjalanan pulang menuju pos, mereka bertemu sekelompok bilou. Namun mereka juga tidak bisa mengambil foto ataupun video karena teman yang membawa kamera masih tertinggal di belakang. Mereka bercerita jika kelompok bilou itu cukup lama bergelantungan memperhatikan mereka sebelum kemudia bergerak menjauh dari tim survei itu.

Hari menjelang sore saat hujan turun sangat deras selama sekitar 2 jam. Kami kemudian memutuskan untuk istirahat, namun salah seorang pemandu kemudian mengetahui jika air sungai sudah meninggi secara tiba-tiba, akibat hujan deras itu. Perahu-perahu dan mesin pompong hampir saja dihantam banjir jika kami tidak segera memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi. Sore itu banjir di sungai Bekemen sudah hampir mencapai halaman rumah pos BTNS itu.

Hari ke 4

Hari ke 4 survei kami hanya berhasil mencatat 2 greatcall yang berasal dari jarak yang cukup jauh. Pagi itu cuaca berawan, hari semakin siang tetapi sinar matahari tidak bisa menembus pekatnya mendung dan kabut yang bergerak menyelimuti lingkungan perbukitan tempat kami melakukan pengamatan. Udara menjadi terasa lembab dan dingin, suara-suara bilou jantan yang mengisi pagi itu sudah terdiam, kami tidak mendengar suara great call lagi.

Namun pagi itu kami kembali disuguhi pemandangan sekelompok bilou yang berjumlah 4 individu itu kembali. Mereka terlihat asyik menikmati menu makan pagi mereka berupa buah tumu di tempat yang kemarin itu lagi. Kami kembali disibukkan dengan pemandangan yang hanya berjarak sekitar 30 meter di lereng bukit di sebelah kami berkumpul. Di sela-sela gerumbul dedaunan perdu, kami mengintip aktifitas primata ikon Siberut itu.

Survei lokasi ke 2 di Lakomonga

Perjalanan survei yang ke dua ini kami mengambil tempat di kawasan yang berjarak sekitar 5 km dari batas kawasan hutan BTN Siberut. Hutan Lakomonga ini memiliki hamparan hutan yang masih bagus dan bersambung dengan hutan di dalam kawasan BTN Siberut di Bekemen. Kali ini kami menumpang di pondok milik penduduk yang berasal dari Mongan Poula, Siberut Utara. Pondok itu adalah tempat beraktifitas keluarga Tou Laiteng Siribatek untuk beternak babi tradisional (pusainakat) dan juga tempat untuk bertani secara tradisional. Petak-petak tanaman keladi terlihat di sekitar bantaran sungai terlihat subur akibat tanah gembur yang sering terbawa banjir di sepanjang bantaran sungai itu. Petak-petak tanaman keladi itu dipagar dengan sejenis batang perdu yang diikat membanjar membentuk pagar untuk membatasi aktifitas ternak babi yang akan merusakkan tanaman. Selain itu keluarga ini juga biasa bertanam padi yang mereka budidayakan di tidak jauh dari lokasi pondok itu, tetapi saat kami berkunjung di pondok itu pertanian padi mereka sudah selesai mereka panen. 

Di sekitar pondok itu kami juga melihat tegakan pohon-pohon pinang yang sudah produktif, jumlah yang cukup untuk menambah penghasilan rumah tangga keluarga ini. Tidak jauh dari sekitar rumah mereka itu mereka juga memiliki beberapa rumpun kebun sagu di beberapa ceruk yang terdapat aliran anak sungai. Rumpun-rumpun batang sagu yang tidak terlalu banyak itu selain menjadi sumber pakan ternak babi dan ayam juga mereka olah menjadi tepung sagu basah untuk sumber pangan mereka sendiri. Menurut Tou Laiteng, hutan di kawasan Lakomonga sampai Bekemen secara tradisional adalah milik dari uma Siribatek. Di beberapa tempat di kawasan ini beberapa anggota penduduk dari Mongan Poula dan Bojakan memanfaatkannya untuk beternak babi maupun membuka lahan pertanian di sepanjang bantaran sungai.

Kamis 23/04/2026 perjalanan di mulai dari Muara Sikabaluan tempat kami menginap di penginapan milik BTNS SPTN 2 dengan perjalanan darat menuju Mongan Poula dengan sepeda motor. Perjalanan ini memungkinkan untuk ditempuh karena anggota tim yang kali ini berangkat hanya 3 orang saja.  Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB, matahari bersinar terik menyengat saat kami berangkat menuju Lakomonga dengan mempergunakan pompong. Namun karena kami berangkat dari Mongan Poula, perjalanan menyusuri sungai dengan pompong sudah terpangkas hampir sepertiga perjalanan. Jam masih menunjukkan pukul 17.00 WIB saat kami sudah tiba di tujuan kami, pondok milik Tou Laiteng Siribatek. Bangunan kecil beratapkan anyaman daun sagu yang terletak di bantaran sungai Bekemen. Pemilik pondok itu ramah menyambut kami.

Sore itu kami berbincang-bincang membahas rencana perjalanan untuk pengamatan suara bilou di kawasan itu. Tou Laiteng menunjukkan jika titik tertinggi perbukitan yang akan kami tuju adalah di seberang sungai Bekemen, tepatnya di bukit Lakomonga dimana sungai Lakomonga mengalir dari lereng perbukitan itu dan bermuara di sungai Bekemen. Malam itu kami tidur di atas tikar yang dipinjamkan oleh tuan rumah, tikar dari anyaman semacam perdu yang diproduksi oleh penduduk Cimpungan, Siberut Utara. Alas tidur yang bagi saya sangat nyaman. Karena pondok itu hanya memiliki 1 kamar saja, kami mengambil tempat di ruangan terbuka.

Bokkoi ( Macaca siberu)

Dini hari, hujan turun cukup deras. Namun kami beruntung karena saat jam menunjukkan pukul 05.30 WIB, hujan sudah reda. Kami berangkat menuju lokasi survei dengan menyeberangi sungai Bekemen menggunakan perahu yang biasanya dipasangi mesin pompong, namun kali ini tidak perlu mempergunakan mesin karena kami cukup menggunakan galah saja. Begitu tiba di seberang sungai, jalur menanjak di lereng bukit yang cukup terjal itu sudah menunggu kami. Posisi tepian sungai itu adalah titik dimana saat kami lewat seminggu lalu ketika menempuh perjalanan menuju hulu sungai ini, kami melihat serombongan bokkoi yang sedang berada tepian sungai itu.

Sekitar setengah jam kami berjalan beriring seperti merayap, menyusuri jalur jalan setapak terjal yang jarang diewati ini. Peluh bercucuran dari muka kami, pakaian kami juga segera menjadi basah meski pagi itu masih dingin dan gelap. Kami harus menerangi jalur jalan kami dengan senter. Di posisi paling depan Ondy, anak lelaki Tou Laiteng yang menjadi pemandu perjalanan kali ini. Sesekali dia sibuk membuka jalur jalan dengan menebas semak-berduri yang sering menghalangi jalur jalan. Tetapi kawasan ini sudah dikenalnya denan baik sehingga meski jalur bersemak dan masih gelap gulita, kami terus melangkah ke depan tanpa keraguan. Sampai di titik yang agak landai terlihat Ilarius sibuk, bagian kakinya terlihat berdarah, 3 ekor pacet terlihat menempel, menghisap darah di bagian kakinya. Pagi itu dia kehabisan persediaan celana panjang sehingga terpaksa harus memakai celana pendek saja, tanpa penangkal serangga, pacet sangat menyukai itu.

Joja ( Presbytis siberu)

Pagi itu di suasana yang cukup sepi, kicauan burung-burung hutan juga hanya sesekali terdengar. Hujan gerimis kembali turun, tidak lama tetapi mendung tetap menggantung di semua penjuru langit. Suara morning call bilou jantan belum terdengar sampai kami sudah mencapai titik tertinggi di perbukitan itu. Sampai jam sudah menunjukkan pukul 08.12 WIB  saat gerimis sudah mereda, kami kemudian mendengar 2 morning call, suara dari bilou jantan. Keduanya tidak jauh dari tempat kami melakukan pengamatan.

Hari pertama pengamatan itu, kami tidak berhasil mendengar suara great call bilou. Namun sepanjang pagi itu kami bisa mendengar beberapa suara primata lain di sekitar tempat kami melakukan pengamatan dari jarak yang relatif dekat. Saya meyakini jika meski pagi itu tidak terdengar suara great call bilou, hanya karena bilou-bilou itu memang sedang tidak bersuara saja. Melihat kondisi vegetasi hutan ini seharusnya kawasan ini merupakan habitat yang bagus untuk menjadi rumah bagi primata-primata itu. Begitupun cerita dari Tou Laiteng, biasanya bilou-bilou itu terdengar bersuara di kawasan hutan ini.

Dalam perjalanan pulang kami juga bisa melihat beberapa kelompok primata yang lain, joja dan simakobu, bokkoi meskipun belum kami lihat bentuk fisiknya, tetapi beberapa kali kami berhasil mendengar pekikan-pekikan khasnya. Hal itu menambah keyakinan jika kawasan ini memang masih menjadi menjadi habitat bilou.

Setibanya kami di pondok, Tou Laiteng juga cukup heran dengan cerita kami. Siang itu, dia juga bercerita jika di perbukitan yang terletak di belakang pondok itu terkadang suara bilou dan ke 3 jenis primata endemik Siberut lainnya sering dia lihat di pokok-pokok pepohonan di situ. Namun hujan rintik-rintik dan cuaca sore itu yang tidak mendukung, membuat kami mengurungkan niat untuk menjelajahi perbukitan di belakang pondok sore itu, meng-eksplor potensi keragamanhayati di situ.

Hari ke 2

Seperti biasa, pagi-pagi benar sebelum matahari terbit, saat hari masih gelap gulita kami kembali bergerak menuju titik pengamatan kami di puncak perbukitan itu. Pagi itu dari pondok saat kami maasih bersiap memulai perjalanan, kami sudah mendengar 2 sumber suara morning call dari jantan dewasa. Semakin kami mendekat ke arah titik tempat kami sudah menentukannya sebagai tempat pengamatan kami satu hari sebelumnya, kami menduga jika salah satu sumber suara berada di sekitar tempat itu. Benar saja. Di dekat tempat kami kemarin berkumpul untuk melakukan pengamatan, di kanopi pohon kruing yang tinggi menjulang, kami mendengar suara khas morning call bilou. 

Kami bergerak dengan sangat hati-hati. Guguran dedaunan kruing yang menumpuk di sekitar tempat itu menyulitkan kami untuk tidak berjalan tanpa suara. Di bawan pohon kruing itu, dengan perekam dari gawai saya berhasil merekam suara morning call bilou itu dengan cukup jelas. Kami kemudian duduk dengan berdiam diri tanpa bersuara, meski nyamuk semakin bertambah banyak yang berdengung-dengung berusaha menggigit kami. Namun bilou di kanopi kruing itu kemudian diam, tidak bersuara lagi saat matahari mulai terbit. Kami berusaha mengintip ke atas dari sela-sela rimbunnya dedaunan dari pepohonan lain yang lebih rendah. Namun nampaknya bilou itu hanya 1 individu dewasa jantan saja, dia tidak pernah kami lihat, nampaknya dia hanya bersembunyi di kerimbunan dedaunan pepohonan itu sampai kami meninggalkan tempat itu saat jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB.

Di pengamatan hari ke 2 itu, kami cukup disibukkan dengan suara-suara bilou dari beberapa arah. Ada, 4 great call dan 3 morning call. Selain itu, sekitar 50 meter dari tempat kami melakukan pengamatan itu kami juga melihat kelompok simakobu yang menghabiskan malam di dekat situ. Dalam perjalanan pulang kembali kami juga melihat 1 kelompok simakobu yang berbeda dan 1 kelompok bokkoi.

Tiba di pondok tempat kami bermalam, pasangan tuan rumah rupanya sedang dalam perjalanan menuju ke Bojakan untuk menggiling gabah hasil panen mereka untuk persediaan makanan. Karena cuaca yang terlihat mendung kami juga Kembali memutuskan untuk tidak melakukan perjalanan menjelajah hutan di perbukitan belakang pondok di sore itu. Tetapi teman kami memutuskan untuk berangkat mengisi waktu di sore itu untuk menumbang sagu sekaligus mengangkut potongan-potongan batang sagu itu untuk persediaan pakan ternak mereka. Tempat itu adalah tempat peternakan babi yang berada di tempat lain yang berada tidak jauh dari tempat itu.

burung Tiong emas

Di tengah hujan yang kemudian turun dengan deras sore itu anak Tou Laiteng yang lain, yang masih berada di pondok tiba-tiba memberi tahu saya jika dia melihat seekor babi hutan jantan dewasa yang ikut datang ke tempat pemberian pakan babi ternak mereka itu. Babi hutan jantan yang ditunjukkannya itu rupanya bukan berwarna hitam seperti yang saya bayangkan, melainkan berwarna putih dengan variasi belang kecoklatan. Dia mengikuti babi ternak betina dewasa yang sedang birahi. Anak itu juga bercerita jika kemarin sore sebenarnya dia mau memberitahu kami jika tidak jauh di belakang pondok di melihat 1 individu simakobu yang sedang bertengger di pohon dekat kaki perbukitan itu, tetapi niat itu dia urungkan karena bapaknya, Tou Laiteng sedang mengamati babi hutan yang sedang datang mendekat ke pondok. Babi hutan adalah salah satu binatang hutan sasarn perburuan yang menjadi favorit penduduk di Siberut pada umumnya.

Hari ke 3

Di hari yang ke 3 kami menumpang di pondok itu karena hujan deras yang mengguyur dari sore kemarin, kami sudah berangkat tidur sejak hari masih belum terlalu malam, akibatnya saat jam masih menunjukkan pukul 03.30 WIB kami sudah terjaga dari tidur. Namun pagi itu kemungkinan akibat kondisi fisik yang kurang fit akibat didera hujan sepanjang sore, salah satu teman kami terpaksa tidak bisa ikut untuk melakukan pengamatan suara primata akibat sakit gigi.

Di sepanjang perjalanan menuju titik pengamatan kali itu, kami mendengar 2 suara morning call bilou dari 2 arah yang berbeda. Salah satu suara morning call itu semakin jelas saat kami semakin mendekat ke titik pengamatan. Namun tiba-tiba di lereng bukit tidak jauh dari tempat kami berdiri kami mendengar suara kayu tumbang yang berderak dan berdebum keras. Suara bilou terdiam tiba-tiba, sementara suara dari ke 3 primata yang lain terdengar sahut-menyahut. Kemungkinan karena terkejut. Sebentar kemudian kami melihat pergerakan dari 2 individu bilou yang melompat dari pohon, berpindah tempat.

Hari ke 3 pengamatan itu cukup sepi, hanya 2 suara morning call pagi tadi saja saat kami masih dalam perjalanan menuju titik pengamatan.

Saat perjalanan pulang pun kami hanya bertemu dengan serombongan simakobu yang bahkan kami tidak menyadari jika kelompok itu berada tempat itu sampai suara dahan dan ranting yang khas berbunyi, mengejutkan kami saat mereka berlompatan menjauh dari kami.

Hari ke 4

Sesuai dengan prediksi awal tentang potensi kelimpahan populasi bilou di kawasan ini, pada hari terakhir pengamatan akhirnya tim survei terpuaskan oleh suara-suara great call dari kelompok-kelompok bilou yang berada di kawasan itu. Suara great  call dari 8 arah yang berbeda dan 5 morning call. Kondisi ini sesuai juga dengan cerita dari pemilik pondok yang menghabiskan sebagian waktu mereka dengan aktifitas harian mereka di kawasan itu.

Potensi kawasan di jalur sungai Bekemen.

Dua kawasan hutan yang menjadi tempat kami melakukan pengamatan suara bilou adalah kawasan hutan yang memiliki ciri-ciri hutan yang masih sangat baik dengan kelimpahan karagamanhayati tinggi. Kedua tempat ini berjarak sekitar 5-6 km saja dan memiliki hamparan hutan yang bersambung. Jika titik pengamayan yang pertama adalah kawasan hulu sungai Bekemen yang masuk dalam kawasan BTN Siberut, maka lokasi survei yang ke dua yaitu di Lakomonga terletak tidak jauh dari sungai Bekemen yang bertemu dengan aliran sungai dari arah desa Bojakan yang membentuk sungai Sikabaluan. Ke dua tempat ini menyediakan bentang alam perbukitan dengan vegetasi hutan alam yang kaya akan keragamanhayati khas Siberut yang sangat tinggi.

Situasi di kedua kawasan ini menyediakan hal yang berbeda jika dibandingkan dengan kawasan Siberut di wilayah selatan yang memiliki tingkat perburuan tinggi. Di kawasan hutan sepanjang aliran sungai Bekemen ini kelimpahan satwa dan primata cukup mudah untuk ditemukan dan tidak se-waspada primata yang berada di Siberut bagian selatan.