Wednesday, June 24, 2026

Owa Coffee: Agen Konservasi di Lanskap Non-linear Owa Jawa

 

Burung cekakak -batu di kebun Pak Baiduri

Oleh : Sidiq Harjanto & Muhammad Kuswoto

Perjalanan kali ini terasa lengkap bagi kami: melintasi puluhan kilo jalan berliku nan terjal, mencicipi kopi, mengamati burung, mendengar cerita tentang luwak, hingga berbagi keresahan dengan petani. Ini cerita kami keliling ke desa-desa penyangga habitat Owa Jawa di Lanskap Petungkriyono. Kami bertemu para petani mitra yang tergabung dalam program “Owa Coffee: the guardian of the gibbon” untuk memantau perkembangan mereka.

Program yang dikelola SwaraOwa dan didukung AirAsia Foundation ini berupaya meningkatkan ekonomi para petani kopi dengan tetap menjamin kelestarian habitat bagi aneka hidupan liar. Selama empat hari berkeliling, kami mengunjungi sepuluh lokasi dan bertemu dua puluh lima petani—memanen tak terhitung banyaknya pengalaman baru. Namun, tetap membawa pertanyaan yang sama: bisakah kopi menjadi penyelamat Owa Jawa?

Ruang hidup non-linear

Suara burung yang cukup keras menyambut kami di kebun Baiduri (44) di Desa Jalatiga, Kecamatan Talun. Suaranya terdengar khas, meskipun kami belum bisa memastikan spesies burung sumber suara itu. Ternyata, ia tepat di atas kami. Saya arahkan kamera untuk mengambil beberapa gambar. Di ranting sebuah pohon, bertengger seekor burung yang teridentifikasi sebagai burung cekakak batu (Lacedo pulchella). Burung ini termasuk kelompok kingfisher, dari suku Halcyonidae.

Menurut laporan Imam Taufiqurrahman dan Kurnia Ahmadin dalam buku “Burung-burung Petungkriyono & Lebakbarang: Keragaman, Ancaman, dan Upaya Konservasinya” yang diterbitkan SwaraOwa tahun lalu, spesies ini menghuni habitat dengan vegetasi rapat dan ternaung. Meskipun sebarannya cukup umum di lanskap kajian, burung cekakak batu membutuhkan habitat yang spesifik.

Tak lebih seratus meter dari kampung, lahan milik Baiduri yang luasnya kurang dari 1.000 meter persegi terasa teduh oleh naungan pohon-pohon besar seperti mahoni. Model kelola seperti ini bisa disebut sebagai agroforestri kompleks–tersusun atas belasan jenis tanaman komoditas mulai rempah-rempah, buah-buahan, hingga tanaman pangan. Kopi, kakao (cokelat), alpukat, petai, pisang, kapulaga, hingga singkong dan talas berjejal saling mengisi ruang. Bagi petani paruh baya ini, aneka komoditas menjanjikan sumbangan ekonomi secara bergantian, memberikan resiliensi ekonomi di tengah ketidakpastian seperti sekarang ini.

pengecekan kebun agroforestry-kopi

Serupa dengan kebun Baiduri, di kebun Rait (41)—petani lain di Jalatiga—kami melihat sistem serupa. Agroforestri mengombinasikan berbagai tanaman, meliputi kayu keras, komoditas komersial (seperti kopi dan kakao), pangan, dan obat-obatan.  Kebun agroforestri tak terpisahkan dari kehidupan multidimensi masyarakat. Fungsi kebun terkadang sulit dianalisis secara linear. Sering kali kita perlu berpikir secara lateral untuk melihat realitas praktiknya agar bisa memahami lebih objektif.

Motivasi menanam tidak melulu urusan ekonomi dalam arti sempit. Sebatang pohon tidak hanya dinilai dari berapa harga kayunya, tetapi juga apa manfaat praktis dari daun, ranting, atau akarnya. Hal ini dipraktikkan oleh para petani di Jalatiga. Misalnya, mereka sengaja menanam pohon tutup di kebun dekat rumah karena daunnya bisa dipakai sebagai bungkus nasi. Jika daun-daun itu sudah terlalu rimbun, mereka memangkasnya untuk pakan ternak.

Memperkaya spesies tumbuhan di kebun memberi manfaat ekonomi maupun kegunaan praktis bagi petani dan tanpa disadari memberi ruang hidup bagi kehidupan lain. Strata vegetasi yang kompleks memberikan ruang hidup bagi aneka satwa. Keberadaan satwa liar di kebun-kebun masyarakat menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu berlawanan dengan lanskap produksi. Justru dari ruang hidup yang beririsan inilah berbagai peluang ekonomi masyarakat tumbuh.

Dua setengah jam dari Jalatiga, di Dusun Sawangan Ronggo, Kecamatan Petungkriyono, kopi lebih banyak ditanam di kawasan hutan. Di lahan kopi yang dikelola Bambang (36), Owa Jawa masih sering berkunjung. Tanaman-tanaman kopi terselip di antara pohon-pohon raksasa. Kopi benar-benar menjadi bagian dari hutan itu sendiri. Inilah bentuk ideal yang kami impikan—saat kebun kopi masih menyediakan ruang bagi satwa liar. 

Menurut cerita para petani di dusun ini, para lansia (kebanyakan perempuan) lazim memungut kopi-kopi yang berjatuhan di tanah sebagai sisa pemanenan, dan termasuk kopi dari kotoran musang luwak. Satwa yang di banyak tempat dipandang sebagai hama, ternyata justru membawa berkah bagi kelompok masyarakat yang rentan. Alam menyediakan berbagai peluang bagi penghidupan masyarakat yang mau menjaga kelestariannya. 

Di Sawangan, petani tidak mengandalkan kopi sebagai satu-satunya komoditas. Aren yang banyak tumbuh di hutan memberikan kontribusi ekonomi signifikan bagi petani. Mayoritas warga berprofesi sebagai petani gula aren. Uniknya, keterbatasan akses jalan ke dusun justru memunculkan adaptasi unik: gula disimpan dalam bentuk cair dan bisa disimpan berbulan-bulan. Stok gula cair baru dicetak untuk dijual saat ada kebutuhan mendesak, atau saat mendapatkan momentum harga yang tinggi.

Ada benang merah menarik dari beberapa komponen tadi: kopi, aren, dan luwak. Ketiganya membentuk umpan balik sistemik yang patut dicermati. Keberadaan kopi luwak membawa peluang pengembangan produk premium. Di sisi lain, ada ketergantungan ekonomi aren terhadap kelestarian luwak: hewan inilah agen pemencaran biji bagi tanaman tropis yang berabad-abad telah menjadi sumber bahan pemanis alami bagi masyarakat Nusantara. Melindungi luwak bukan sekadar sentimen emosional terhadap satwa berpenampilan menggemaskan ini, tetapi juga cara kita memastikan agar sistem umpan balik yang turut dibangunnya tidak runtuh.

Pola-pola non-linear seperti di Jalatiga dan Sawangan Ronggo umum dijumpai di desa-desa lain, menunjukkan bahwa petani agroforestri menyumbang kontribusi ekologis yang lebih luas, termasuk dalam penyediaan habitat. Karena itu, sudah selayaknya praktik-praktik semacam ini memperoleh insentif yang memadai, baik melalui apresiasi harga bagi produk yang dihasilkan, akses pasar premium, maupun bentuk penghargaan lainnya yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan demikian, menjaga keanekaragaman hayati dan kelestarian lanskap tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai investasi yang memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.

pertemuan di desa Gumelem

Ironi yang membuka peluang

Jika lanskap agroforestri menyediakan fondasi ekologis, maka tantangan berikutnya adalah memastikan manfaat ekonominya dapat dinikmati masyarakat secara inklusif. Di Karanggondang, Tutur (52) menyampaikan kegelisahannya. Sebagai petani sekaligus kepala dusun—tokoh yang dituakan di komunitasnya, ia menyimpan harapan agar kopi bisa menggerakkan ekonomi kreatif bagi pemuda di desanya. 

Ia melihat peluang itu ada, tetapi belum menemukan peta jalannya. Selama ini, warga dusun cenderung menjual semua kopi hasil panennya, sedangkan untuk konsumsi sehari-hari mereka terpaksa membeli kopi pabrikan. Padahal, dahulu para warga menyangrai kopi mereka sendiri menggunakan wajan. Keahlian tradisional yang kini sudah nyaris punah. 

Situasi ini sebenarnya bisa berubah menjadi peluang: memunculkan bentuk kewirausahaan berupa produksi kopi bubuk siap seduh. Pemuda menjadi kelompok yang paling potensial untuk mengambilnya. Munculnya bisnis di bagian hilir bahkan bisa membawa dampak sistemik yang signifikan, membuka lapangan pekerjaan sekaligus memutar ekonomi di tingkat lokal.

Pemuda biasanya lebih terbuka terhadap akses informasi sebagai bahan bakar kreativitas. Pada gilirannya, inovasi sederhana bisa mengubah banyak hal. Hal ini dibuktikan oleh Muhammad Ridholah (33), seorang penyangrai kopi di Desa Mendolo, Lebakbarang. Kegigihannya untuk berkreasi membuahkan sebuah alat roasting sederhana, lalu membuatnya memberanikan diri membuka jasa sangrai. Gayung bersambut, para tetangga mengapresiasi dengan menjadi pelanggan tetap.

Berkat usaha itu, Ridho tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga membantu menghidupkan kembali budaya mengonsumsi kopi lokal di desanya. Kini ia telah memiliki unit penyangraian yang melayani pelanggan dari berbagai wilayah sekitar desanya. Cerita keberhasilan Ridho bisa menjadi inspirasi bagi para pemuda di Karanggondang maupun desa-desa lainnya bahwa keterbatasan justru bisa melahirkan inovasi dengan manfaat ganda.

penjemuran kopi terkontrol, dome pengering matahari

Nilai tambah tanpa membuka lahan

Rame (30) tampak takjub saat mencicip kopi yang kami bawa, arabika hasil proses carbonic maceration dari Gayo. Di wajahnya tampak gurat keheranan bahwa pemrosesan tertentu bisa menghasilkan cita rasa yang ajaib. Kopi ini mengeluarkan cita rasa berry yang kuat, acidity yang seimbang, dan body yang tebal. Ini pengalaman pertama baginya ketika menemukan rasa dan aroma yang unik dari kopi experimental process.

Berbekal pelatihan yang digelar bulan kemarin, Rame bersama petani di dusun Garung telah memulai langkah awal peningkatan kualitas pemrosesan kopi di lingkungannya. Ia memilih proses natural dan tak sabar untuk segera mencicipi hasilnya. Sekira sebulan lagi keinginannya itu mungkin baru terwujud. Pemrosesan kopi tidak sederhana: pemetikan merah, pengeringan yang terkontrol, hingga grading dan sortasi ketat. Apalagi, proses natural memakan waktu lama dalam pengeringannya.

Di Desa Lemahabang, Sawal (54) merasakan kendala lain. Kopi robusta yang diolahnya banyak yang pecah karena ketiadaan alat pengupas biji (huller) yang standar. Di titik ini, baik di kasus Rame ataupun Sawal, introduksi teknologi bisa menjadi solusi yang bermakna. Infrastruktur seperti dome pengering dan alat-alat produksi seperti pengupas dan grader bisa meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan kualitas. 

Teknologi saja tidak cukup untuk meningkatkan efisiensi. Yang terjadi biasanya baik petani maupun pemroses menanggung beban ganda: mengurus kebun sekaligus mengolah hasil panen. Untuk itu, perlu pembagian peran yang cukup tegas antara keduanya. Petani didorong untuk fokus pada pengelolaan kebun dengan menerapkan praktik terbaiknya hingga menghasilkan buah kopi terbaik. Hasil akhirnya adalah buah kopi atau coffee cherry yang matang sempurna.

Setelahnya, pemroses mengambil alih: mengolah cherry menjadi biji kopi terbaik. Tanpa beban pemrosesan, petani bisa punya lebih banyak waktu meningkatkan produktivitas kebun. Tanpa tuntutan waktu di kebun, pemroses bisa melakukan berbagai eksperimen pengolahan agar menghasilkan cita rasa unik seperti kopi Gayo yang dicicipi Rame–kopi yang bisa dijual dengan harga premium sekaligus mendongkrak popularitas daerah penghasilnya. 

Pada titik tertentu, pembagian peran ini membutuhkan kelembagaan lokal (seperti kelompok tani atau koperasi) agar nilai tambah ekonomi dari pengelolaan pasca-panen juga mengalir kembali secara adil kepada petani. Tanpa itu, skema pembagian peran justru berpotensi menyebabkan ketimpangan insentif. Pada akhirnya, memperbaiki pasca-panen secara sistematis menjadi strategi penting agar petani memperoleh nilai tambah tanpa harus memperluas lahan yang semakin menekan kawasan hutan.

Setelah empat hari bertualang dari desa ke desa, kami menyadari bahwa kopi jelas tidak bisa menjadi penyelamat tunggal bagi Owa Jawa. Konservasi terjadi ketika kepentingan manusia dan kebutuhan ekologis bertemu dalam satu lanskap yang interaksi di dalamnya bersifat non-linear. Kopi hanyalah medium yang membuat pertemuan itu mungkin. Selebihnya adalah peran kita semua sebagai bagian dari rantai pasok: petani, pemroses, penyangrai, pemilik kedai, penyeduh, dan tentu para penikmatnya. Seteguk kopi tidak lagi tentang meningkatkan kesadaran tubuh (consciousness), tetapi juga memikul tanggung jawab (conscientiousness).


Tuesday, June 23, 2026

Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati, Harmony with Nature: Pesona Keanekaragaman Hayati di Sekitar Kita

 

Owajawa dan bayi teramati di acara naturevest

Oleh : Kurnia Ahmaddin

Bertepatan dengan Hari Keanekaragaman Hayati sedunia yang jatuh pada 22 Mei lalu, tahun ini kami menyelenggarakan rangkaian acara pemasangan plang informasi bijak berwisata dan lomba konten video kreatif (reels & tiktok). Bekerjasama dengan siswa SMK Ma’arif Doro yang tergabung dalam ekstrakurikuler Pramuka Ambalan Joko Tingkir dan Nyi Ageng Serang kami mengemas rangkaian acara ini dalam kegiatan “Naturevest”. Mengambil akronim dari “Nature Video Festival” kami sengaja menggunakan huruf “v” dalam nama kegiatan yang kami maksutkan untuk investasi pengetahuan alam liar kepada generasi muda. Kegiatan ini kami selaraskan dengan tema global hari keanekaragaman hayati tahun ini yaitu “Acting locally for global impact”. Dengan membawa semangat memperkenalkan satwa liar di hutan Pekalongan yang kami sebar lewat video sehingga dapat diakses secara global.

acara kelas untuk materi pembekalan

Hari Minggu tanggal 24 Mei 2026 kami telah melaksanakan kegiatan pemasangan plang informasi dan bersih hutan. Kegiatan ini kami mulai sejak pagi pada pukul 08.00 WIB. Acara diawali dengan koordinasi di sekolah dan dilepas oleh bapak Suherman, S. Pd, kepala sekolah SMK Ma’arif Doro. Acara kami lanjutkan dengan berjalan kaki sepanjang jalan masuk hutan dari dusun Kroyakan menuju Sokokembang untuk membersihkan hutan dari sampah plastik dan pemasangan papan informasi.  Papan informasi yang kami pasang berisi anjuran untuk tidak membuang sampah sembarangan terutama di kawasan hutan dan anjuran untuk tidak memberikan makan kepada satwa liar. 

pungut sampah bersama peserta di jalan hutan Kroyakan-Kayupuring
peserta di ajak kehutan dan melakukan pengamatan satwa 

Diikuti oleh 25 siswa dan guru SMK Ma’arif Doro, selama 3,5 jam melakukan pengumpulan sampah plastik kami mendapatkan + 100 Kilogram sampah plastik yang kemudian kami angkut untuk di pindahkan ke TPS yang ada di Doro. Kami menyadari bahwa belum semua sampah plastik dapat kami angkut dan kami kelola dengan baik. Namun kegiatan kecil ini adalah usaha kami agar masyarakat dapat bertanggung jawab dengan sampah yang dibawa. Di waktu yang sama kami juga telah menempatkan 4 papan informasi mengenai anjuran membawa kembali sampah plastik dan larangan memberi makan Monyet ekor-panjang. 

Puncak rangkaian kegiatan ini adalah lomba konten video pada platform sosial media Instagram dan Tiktok. Acara lomba kami laksanakan pada 31 Mei 2026 dengan tema utama “Harmony with Nature: Pesona Keanekaragaman Hayati di Sekitar Kita”. Tepat pada pukul 07.30 peserta lomba yang merupakan siswa SMA/K atau se-derajat dari 9 sekolah di Kabupaten dan sekitarnya memulai lomba dengan berkumpul di SMK Ma’arif Doro. Kami memulai acara dengan pembacaan berita acara kegiatan, sambutan dari bapak Kurnia Ahmadin yang mewakili Swaraowa, ibu Khusnul khotimah, S. Pd mewakili bapak kepala sekolah SMK Ma’arif Doro sekaligus melepas peserta lomba. 

pengamatan satwa-wildlife watching di welo asri

Peserta melakukan perjalanan wildlife whatching tour sepanjang jalur hutan mulai dari Kroyakan menuju Welo Asri untuk mengambil footage video mereka dan melihat keragaman satwa liar yang ada di hutan Petungkriyono. Peserta yang merupakan pejalar dari SMA N 1 Doro, SMA N 1 Batang, SMA N 1 Pekalongan, SMA N 1 Petungkriyono, SMA N 1 Lebakbarang, MA KH Syafi’i, MA Al Mubarok, SMK Ma’arif Kesesi, dan MAN 1 Pekalongan yang berjumlah 18 Siswa dan Siswi melakukan penulurusan hutan dengan doplak dan berjalan kaki. Kami membatasi peserta hanya menggunakan Handphone untuk konten video mereka untuk mengurangi kesenjangan gawai yang digunakan selama lomba. Akan tetapi kami juga memberikan akses video satwa liar milik Swaraowa untuk digunakan sebagai konten peserta.

Lutung Jawa (Tracyphitecus auratus)

Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan Owa jawa (Hylobates moloch), Lutung jawa (Tracyphitecus auratus), Monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis) hingga Elang jawa (Nisaetus bartelsi). Pada pertengahan kegiatan Tour ini, kami juga menambahkan pemasangan 2 papan informasi sehingga kami telah memasang 6 papan informasi mengenai konten bijak berwisata. Kami menutup perjalanan Tour pada siang hari di Welo Asri ditemani 1 keluarga Owa jawa di sisi Barat bukit Welo Asri dan berfoto bersama peserta.

foto bersama di welo asri

Penjurian lomba dilakukan tanggal 15 Juni 2026 oleh Dewan juri yaitu bapak Vika Bayu selaku perwakilan Yayasan SwaraOwa yang telah berpengalaman di dunia konservasi satwa liar, ibu Khusnul khotimah, S. pd selaku Guru Bahasa Indonesia SMK Ma’arif Doro dan bapak Wendra Aditya yang merupakan senior multimedia dari Kompas Jawa Tengah. 

Hasil penjurian memutuskan 4 pemenang lomba yaitu :

1. Aqeela Kynatha A.T dan Alexa Aurellia Yuki dari SMA 1 Pekalongan sebagai Pemenang pertama, (https://www.instagram.com/reel/DZVFPZ7hL2A/?igsh=d2NsMWQ5eWsyYjlz

2. Nura makhroja dan Rita Astika Sari dari MA Al Mubarok Pekalongan sebagai pemenang ke-dua, ( https://www.instagram.com/reel/DZKehOxCUyC/?igsh=NjBjbDEzOWRnbnQ2

3. M. Septian Ramadhan dan Ayu Rahma Safitri dari MAN Pekalongan sebagai Juara 3. (https://www.instagram.com/reel/DZcaSvwTZTd/?igsh=MTRldnR6N3J6c3ZjMg==)

4. Adapun Idam Prayudha dan Miftahul Ferdi Saputra dari SMA 1 Petungkriyono diputuskan sebagai Juara Favorit. (https://www.instagram.com/reel/DZHkfUbyXqu/?igsh=MXE2YnFjb28wdnRvdA==)  

Dengan rangkaian kegiatan ini harapkan generasi muda agar lebih peduli dalam mempromosikan kekayaan alam Indonesia melalui konten digital yang edukatif sesuai jaman. Seluruh kegiatan ini didukung oleh Yayasan Astra Honda Motor, PT Suryaraya Rubberindo Industries, PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Yutaka Manufacturing Indonesia, PT Musashi, sebagai sponsor utama. Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur selaku pemangku wilayah hutan, serta UMKM lokal yang turut berpartisipasi yaitu Toserba Sinar Ilmu, Toko sembako Dutamart, dan Toko bangunan Karomah Jaya.


Friday, June 19, 2026

Swaraowa di kongres konservasi Asia 2026, Nepal

Swayambunath, Kathmandu

Oleh : Arif Setiawan

Namaste !!. Bulan juni ini atas nama swaraowa saya berpartisipasi dalam pertemuan global, Society Conservation Biodiversity Asia yang ke 6 ( CAC2026) , di Kathmandu Nepal. Motivatsi utama saya untuk datanga adalah karena 10 tahun yang silam saya juga menghadiri acara ini di Singapura, waktu itu saya menyampaikan presentasi tentang inisiasi awal proyek kopi dan konservasi primata, dan kali ini saya akan membawakan presentasi dengan topik yang sama dengan update keberlanjutan dari apa yang saya presentasikan di tahun 2016. 

pasar di kota Kathmandu

Kathmandu

Ketika baru tiba di Kathmandu, dan mengurus visa on arrival dan membayar 31 usd, agak kaget juga karena uang 100 USD yang saya bawa tidak diterima, karena katanya uang ini kotor. Kemudian saya coba kartu atm visa debit bni, ternyata juga tidak bisa dipakai di mesin atm di area kedatangan, setelah petugas tahu bahwa kartu saya tidak bisa di pake, akhirnya uang 100 usd yang berjamur itu diterima juga, dan saya dapat stamp 15 hari di Nepal.

Saya book hotel di jantung kota kathmandu, district Thamel, mempertimbangkan jarak ke venue, dan beberapa pusat sejarah, hindu budha ada disektiar Thamel. Dahulu kawasan ini adalah pemukiman orang asli Kathmandu, Newari, menjadi lokasi transit pedagang-pedagang Tibet-Kathamndu.  Perkembangan Kathmandu dan Nepal secara umum, adalah adanya jalur perdagangan kuno dari pegunungan Tibet ke Lembah Kathmandu, dan  juga dimulai dari kedatangan para pelancong, ada yang menyebut kaum Hippie ( para penentang kapitalisme) , yang melakukan overland perjalanan darat yang murah di tahun 60an, dari eropa atau amerika ke asia, mereka melihat Nepal seperti Nirwana dari timur, menawarkan kebebasan mutlak, pengalaman spiritual, dan kedamaian.( http://www.ponty.dk/hippietr.htm

District Thamel berkembang setelah era hippies di tahun 70an, terjadi pergerseran wisata budaya pop ke petualangan mendaki. Darisinilah perubahan banyak terjadi, orang-orang dari seluruh dunia melihat Nepal untuk trekking dan mountaineering, untuk ke Everest ataupun trekking di Anapurna, kemudian,  ekonomi Kathmandhu sampai sekarang terbentuk, kombinasi praktik budaya hindu budha klasik, penginggalan kerajaann Nepal (seperti dhurbar square, dan ribuan kuil hindu dan stupa budha), dan wisata trekking. Sebenarnya ada satu lagi wisata satwaliar,yang membentuk tourism industri seperti sekarang ini. Melihat mamalia besar !!sebelum wisata ini ramai ke Afrika, Nepal adalah tujuan utama melihat mamalia besar, seperti Gajah, Badak, dan Harimau.

Pre-conference workshop

Tanggal 1 Juni 2026, rangkaian congress ,di mulai, ada beberapa pre-congress workshop yang disediakan oleh panitia untuk peserta ikuti, dan saya mendaftar untuk workshop mengenai, Experiencing the Most Significant Change (MSC) Technique to Capture Social Impact in Conservation. 

Ada workshop ke dua, yang saya ikuti adalah, ethical community engagement in conservation, workshop ini di pimpin oleh Cloe Lucas dari snow leopard conservation trust yang tergabung dalam aliansi konservasi etis ( ethical conservation Alliance). Dalam workshop ini ada setidaknya 15 peserta dari india,uk, Indonesia, Nepal. Beberapa prinsip  yang harus di bangun adalah :Presence, Aptness, Respect, Transparancy, Negotiation, Empathy, Responsiveness, dan Strategic support. Semua tentang ini dapat di baca selengkapnya di website Etchical conservation Alliance).

Opening Ceremony

Tanggal 3 Juni 2025, di Yak and Yeti Hotel, salah satu hotel tertua di Kathmandu, dan juga tempat bersejarah untuk komunitas global ini, karena  yang sama SCB conference pertamakali di lakukan juga di tempat ini. dengan tema “Harmonizing biodiversity and human wellbeing in Asia” . Kegiatan pembukaan oleh pantia, di sampaikan bahwa ada kurang lebih dari 500 orang peserta dari 42 negara hadir di acara ini dan  160 peserta mendapat support travel grant, ini saya salah satunya.

Pertemuan ini, juga mempertemukan saya pribadi dengan peserta-peserta yang lebih dari 10 tahun yang lalu berjumpa di SCB Asia Singapore. Meskipun banyak peserta-peserta yang lebih muda dan baru bertemu kali ini di Nepal. Menunjukkan optimism  masa depan konservasi akan terus berkembang di asia. Peserta dari Indonesia ada kuranglebih  ada 18 orang, mewakili universitas, NGO,Indegenius community  dan proyek-proyek konservasi. Meskipun sama-sama dari Indonesia, diantaranya juga baru bertemu di Nepal ini.

Tarian tradisional Nepal yang di mainkan oleh penari dari berbagai usia, disajikan dengan iringan perkusi khas Newari, suku asli Lembah Kathmandu, symbol kegembiraan menyabut tamu-tamu yang datang.Menandai pembukaan acara CAC Nepal 2026.

presentasi swaraowa di CAC2026 Nepal
Presentasi SwaraOwa

Hari pertama ( Rabu 3 Juni, 2026 Jam 3.35 pm) sesuai jadwal, saya mendapat sesi presentasi di symposium bertema “ Human-Wildlife Conflict and Coexistence, and Local Communities. Di hall utama, ruangan dengan screen lebar dan panggung tinggi, menyampaikan presentasi dari proyek swaraOwa berjudul “ Bridging Biodiversity and Livelihood : the Javan gibbon conservation Model”. Presentasi ini dapat di unduh di link ini. Presentasi ini merupakan ringkasan kegiatan konservasi owa di Pekalongan, Petungkriyono melalui proyek Kopi dan Konservasi Primata, dari tahun 2012 hingga sekarang. 

Belajar dari Presentasi-presentasi lainnya

Saya sempat menandai di confrence apps untuk presentasi-presentasi yang menarik, salah satu di antaranya adalah ada salah satu symposium tentang Pangolin, dua jenis trenggiling ,menurut salah satu presenter di India saja ada 370 ton sisik tringgiling di sita dari jual beli illegal, lebih dari 100.000 sampai 1 juta ekor trenggiling. Sangat mengerikan. Metode forensic genetik digunakan untuk melacak sisik-sisik ini, dan ditemukan ternyata trenggiling inidia telah terpisah dari soudaranya di cina sejak 3-4 juta tahun yang lalu. Salah satu presenter yang mempresentasikan 60 tahun penelitian trenggiling menyebutkan saat ini penelitian-penelitian masih terbatas pada temuan-temuan habitat trenggiling. Untuk solusi illegal wildlife trade saat ini belum dapat di jelaskan dengan keberhasilan, tapi upaya-upaya di tingkat site, seperti di penelitian ekologi, dan inisiasi komunty based conservation trenggiling mejadi contoh contoh di site specifik untuk trenggiling.

Satu presentasi yang saya ikuti di hari kedua di symposium “Community engagement and women in Conservation” berjudul Conservatio Nature via Tourism : Exploring pathways to protected area Ambashadorship, dari presentasinya sangat cocok denga apa yang sedang swaraOwa kembangkan saat ini untuk wisata minat khusus gibbon watching, mendesign pengalaman untuk pengunjung yang mempertimbangkan untuk transformasi wisata yang dari passive apresiasi ke aktif ambassadorship yang menjadi duta wisata konservasi. Presenter mengatakan, wisatawan,  adalah asset untuk konservasi, kurang lebih ini juga menekakan bagaimana kita sebagai penyedia jasa wisata, sudah seharusnya menyediakan pengalaman dan pengetahuan kepada pengunjung sekaligus merawat keberlanjutan kunjungan untuk konservasi.

Selain melalui presentasi, berinteraksi dengan peserta lain dan saling mengenalkan apa yang sedang kita lakukan menjadi hal yang membuka kesempatan untuk berjejaring. Acara makan siang dan coffee break menjadi medium untul lebih berinteraksi dengan peserta lainnya.

Birdwatching at Ranibari Community Forest

pintu masuk Ranibari community forest
Informasi tentang Ranibari community forest ini saya temukan awalnya di website conference, dan melihat di peta masih di area Kathmandu kota, saya memutuskan untuk melihat lokasi ini di hari kedua sebelum konfrence. Saya pikir ini semacan model community based conservation di kawasan urban, di tengah padatnya kota Kathmandu, masih ada area hijau yang menjadi habitat dari berbagai jenis burung dan di kelola oleh warga sekitar, semacam hutan desa kalau di Indonesia. 

Luas kawasan ini kurang lebih 7 hektar, untuk pengunjung di buka jam 8 pagi hingga jam 5 sore, tiket masuknya 20 NPR, murah sekali, sekitar Rp 2300, waktu bebas dan tanpa guide. Di pintu masuk, sudah terpampang infografis jenis-jenis burung yang ada taman ini, atau bisa saya bilang hutan kota. Saya sendirian menyusuri jalur-jalur yang sudah di sediakan, jenis burung paruh bengkok-Alexandrine parakeet dan gagak rumah adalah burung yang pertama terlihat disini. Mulai masuk ke bagian dalam jenis barbet dan robin. Di batang kayu yang lapuk nampak lubang-lubang, ternyat untuk bersarang burung barbet itu. 

Alexandrine parakeet

Ketika hampir 3 jam menyusuri jalur trekking di Ranibari, saya kemudian singgah di warung kopi masih di dalam kawasan hutan ini, dan ternyata yang punya adalah sekaligus penjaga hutan ini, dan yang menyenangkan lagi, namanya Arun Sakya, beliau adalah guide pengamat burung. Berkenalan dengan beliau dengan keterbatasan fisiknya, hanya satu tangan yang bisa digunakan dapat mendokumentasikan burung-burung yang ada di Ranibari, silahkan liat ke instagram dan fb nya, foto-fotor burung itu adalah hasil jepretannya dengan satu tangan.

Blue throated barbet

Kami akhirnya saling bercerita, dan Arun menceritakan sejarah Ranibari ini, yang awalnya merupakan sebuah taman tempat keluarga kerajaan menyepi, karena ada kuil di dalam taman, dan Rani berarti ratu, dan bari berarti taman, taman ratu. Dan karena di dalam hutan ini ada kuil Ranidevi, secara adat dilarang menebang pohon atau merusak hutan ini, dan pada saat itu memang ini taman milik kerajaan. Karena perubahan politik di Nepal dan meningkatnya urbanisasi, Sejak tahun 2000, kawasan ini kemudian di rubah status menjadi komunity forest, ada sekitar 39 rumahtangga di yang ada di sekitar hutan inilah yang mengelola kawasan seluas 7 ha ini. Dan kini hutan Ranibari ini berperan sebagai pusat pembelajaran keanekaragaman hayati, bekerjasama dengan Bird Conservation Nepal, telah mendokumentasikan 67 jenis ada disini, termasuk burung-burung migran. Selain itu hutan ini juga menjadi tempat jogging trek untuk warga Kathmandu.

Black kite-juvenile

indian white eye

Jenis-jenis yang saya berhasil foto diantaranya  Blue throated barbet, Asian Koel (Eudynamys scolopaceus), Black kite (Milvus migrans) , Blue-throated Barbet (Psilopogon asiaticus), Alexandrine Parakeet (Psittacula eupatria), Black Drongo (Dicrurus macrocercus), House Crow (Corvus splendens), Gray-headed Canary-Flycatcher (Culicicapa ceylonensis), Indian White-eye (Zosterops palpebrosus), Oriental Magpie-Robin (Copsychus saularis), Spotted Dove (Spilopelia chinensis). 

spotted owlet

Dengan bantuan Arun Sakya menunjukkan Spotted owlet (Athene brama) , salah satu burung malam yang bisa teramati di Ranibari di sianghari , dan benar saja, dua individu sedang bersembunyi di balik rindangnya pohon. Saya di ajak ke bukit di tengah untuk mencari golden asiatic Jackal, namun tidakberuntung menjumpainya. Seekor elang hitam muda, menjadi penutup perjalanan saya di Ranibari. 

Kuil Monyet-Swayambunath

Ketika berada di taxi,saya sering bertanya kepada driver, karena Kathmandu adalah kota spiritual tua,  kuil mana yang rekomended untuk dikunjungi, dan hampir smua driver menunjuk, Swayambunath, atau mokey temple. Karena katanya itu kuil paling besar dan suci, dan  banyak monyetnya. Kelakar saya karena saya bekerja untuk pelestarian monyet-monyet di Indonesia, maka saya harus ke kuil ini untuk menemui dewa monyet. Dan benar saja, di hari ke 3 sore hari, setelah konfrence, saya sempatkan berkunjung ke kuil ini, terletak diatas bukit,di bangun pada abad ke 5 Masehi oleh raja Virsadeva, penganut Budha Newari. Untuk masuk ke sini, membayar 200 NPR, Kemegahan kuil ini kalau saya amati, hampir mirip seperti di Borobudur, dibangun di atas bukit, yang dulunya di kelilingi danau, Lembah Kathmandu. Kreasi logam tembaga dan kuningan,  batu pahat dan ukiran kayu  yang menghiasi stupa menunjukkan seni Tingkat tinggi penduduk asli Kathmandu, Newar. Tidak hanya umat budha yang berdoa disini, tapi ada juga umat hindhu, dan kuilnya nampak berbeda dengan sudut-sudut atap yang bertumpuk, terletak di bagian atas bersebelahan dengan stupa.

Rhesus macaque di kuil swayanambunath


Rhesus Macaque monyet penting untuk ilmu kedokteran modern

Dari bagian bawah tangga menuju puncak, monyet-monyet berkeliaran, ada yang di antaranya terlihat minum atau makan sesajen yang ada di stupa-stupa kecil. Inilah Resus macaque, Macaca mulata. Tahun 1937 jenis protein rhesus,  yang penting bagi ilmu kedokteran modern di temukan dalam monyet ini. Dampak paling penting dari monyet rhesus adalah penemuan faktor Rh (positif/negatif) pada sel darah, yang membuat proses transfusi menjadi jauh lebih aman dan mencegah kematian akibat penolakan imun. Berkat penelitian pada monyet rhesus, dokter kini selalu mencocokkan tanda plus atau minus (+/-) pada golongan darah sebelum transfusi, sehingga menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia dari risiko salah terima darah. Ketika di puncak stupa, yang menarik juga puluhan raptor terbang diatas komplex kuil ini. 

Field trip Ke Chitwan National Park

Hari terakhir konfrensi, tgl 5 Juni 2026, saya putuskan untuk berangkat ke Taman Nasional Chitwan, bersama 2 peserta dari Vietnam. Tiket dan guide untuk di Chitwan, sudah saya pesan, melalui peserta lain yang sudah berkunjung ke Chitwan sebelum conference. Taman Nasional ini menjadi tujuan karena akan memberikan pengalaman langsung, terkait banyak hal yang kita dapatkan selam beberapa hari sebelumnya melalui konfrensi, presentasi-presentasi peserta dari Nepal menceritakan alam, potensi keanekaragaman hayati wisata alam, dan tentunya kebijakan pengelolaan. Kathmandu yang terletak di pegunungan, di atas 1400 m dpl, dan perjalanan ke Chitwan yang berada di dataran rendah sekitar 150 mdpl, memberikan pengalaman melihat landscape Nepal secara umum, sekaligus mengenal industry wisata pengamatan satwaliar di Nepal.

Pegunungan Himalaya sekitar Kathmandu, nampak jelas terlihat ketika meninggalkan pusat kota, jalan lebar di tepi sungai Trisuli, menjadikan pemandangan sangat eksotis, khas pengunungan, konon jalan ini adalah jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Kathmandu dan Tibet. Sungai Trisuli yang di ambil dari nama sejata dewa Siwa, Trisula, adalah 3 sungai utama yang menjadi satu, dan salah satunya adalah sungai gletser dari salju yang mencair di pegunungan Himalaya. Bus istirahat 2 kali selama perjalanan, dan kami turun di kota Malpot Chowk, di jemput oleh Krisna, dari penyedia tour Chitwan “ King jungle safari “di desa Meghauli desa di sekitar Taman Nasional yang kami pesan sehari sebelumnya. Memilih tour-tour yang disediakan oleh komunitas lokal adalah pilihan yang rasional untuk biaya dan hasil yang diharapkan dari tour ini, total perjalanan dari Kathmandu sekitar 5 jam.

Sampai di Meghauli, Manoj yang lead tour ini sudah menunggu kami, di penginapan di belakan rumahnya, sudah ada tamu lainnya dan sore ini kita akan ikut safari tour, berkeliling hutan penyangga taman nasional naik mobil. Kita akan di gabung dengan tamu lainnya, ada 5 orang yang akan ikut, smuanya anak-anak muda dari Prancis. Mobil pickup yang sudah di setting sedemikian rupa tempat duduknya untuk pengamatan satwa, sangat nyaman. Introduksi Manoj sebagai guide, menekankan bahwa selama safari tidak boleh turun dari mobil, karena ini kawasan harimau dan badak, harap mengikuti instruksi guide. Manoj mengenalkan sejarah taman nasional yang di bentuk pengelolaannya tahun 1973 dan tahun 1984 kawasan seluas 952.63 km2  ditetetapkan sebagai world heritage site oleh UNESCO sebagai perlindungan dan habitat untuk Badak bercula satu ( Rhinocerso unicornis) dan harimau benggala ( Panthera tigris).

diatas mobil safari

Kesan pertama di penginapan tengah sawah milik Manoj , kicau burung-burung masih banyak terdengar, dan jenis-jenis pemakan nectar sangat mudah di jumpai di depan rumah. Kita kemudian di ajak menuju lokasi safari, target kita adalah melihat Badak besar bercula satu, kata Manoj ini kita akan masuk kawasan penyangga taman nasional atau community forest area, hingga ke batas taman nasional yang di kelilingi sungai Rapti. Burung-burung menjelang sore ini di antaranya yang kita jumpai adalah kirik-kirik, merak biru, dan di sekitar sungai kita menjumpai open bill, bulbul, dan tripee

Badak ( Rhinocerus unicornis) di habitat padang rumput Chitwan

Badak yang pertama kali terlihat sedang makan di padang rumput ada 2 ekor, agak jauh, tapi melihat pertama kali mamalia seberat hampir 1 ton itu, sangat luar biasa. Manoon mengingatkan untuk tidak brisik, tetap tenang, karena di tengah padang rumput setinggi 2 meter ini, kadang ada juga badak atau rusa yang tiba-tiba berlari. Tetap harus waspada.Vegetasi yang dominan di kawasan ini adalah pohon kapok, bombac, sepertinya juga regenerasi alami, karena kawasan ini merupakann hutan tepi sungai dengan tanah aluvialnya. 

Kami ketemu badak, dalam jarak yang cukup dekat, kira-kiran 15 meter, dan itu tidak terlihat badak merasa takut, dalam waktu beberapa menit, badak itu masih menikmati kubangan lumpurnya, kita diminta tetap tenang mengamati memfoto, dan mesin mobil juga di matikan. Badak terlihat sangat terhabituasi dengan kehadiran manusia. Kami sempat berpapasan dengan rombongan safari lainnya. Kata Manoj, community forest ini mendapatkan langsung pemasukan dari kunjungan-kunjungan  yang tujuannya ke dalam taman nasional, komunity forest berperan sebagai benteng perlindungan satwa ada anti poaching unit yang berpatroli setiap waktu, community forest juga menyediak koridor bagi pergerakan satwa mempeluas pergerakan satwa tidak hanya di zona inti di dalam taman nasional.

patroli gajah Taman Nasional Chitwan

Indian Roller (Coracias benghalensis)
Yellow napped woodpecker

lesser adjutant (Leptoptilos javanicus)

Hari kedua, kami di beritahu malam sebelumnya bawhwa kita akan melakukan perjalanan ke dalam kawasan Taman Nasional Chitwan, lebih mudah untuk melihat satwa satwa,terutama jenis-jenis burung. Setelah sarapan kami semua di jemput menggunakan mobil safari, dan langsung menuju ke sungai rapti, menggunakan kano dari hulu ke hilir untuk masuk ke dalam kawasan taman nasional. Manoj bilang kita akan lihat 2 jenis buaya disungai ini, Gharial (Gavialis gangeticus)  dan buaya rawa (Crocodylus palustris). Sungai rapti meskipun di beberapa bagian cukup dalam, tapi jernih, teknik kanoing yang turun mengikuti arus, dan design kano sangat sesuai dengan arus yang tidakkuat dan sungai yang lebar sangat pas, untuk pengamatan dan sekaligus menggunakan kamera berlensa panjang seperti yang saya bawa.



Gharial (Gavialis gangeticus)


Masuk ke kawasan Taman Nasiona kita harus lapor ke pos jaga tantara, ini yang menarik di Chitwan berbeda dengan taman nasional lainya, menggunakan konsep segitiga kolaborasi untuk mengamankan kawasan, yaitu tentara, taman nasional dan warga -local community,  Negara mengerahkan tentara untuk melindungi kawasan, operasi keamanan, penangkapan pemburu, dan patroli bersenjata ke area berbahaya, Petungas taman nasional  pada penelitian dan management satwa dan masyarakat lokal juga bertugas menginformasikan kejahatan ekologis atau satwaliar kepada petugas, selain juga mangelola trip-trip ke dalam kawasan. Capaian keberhasilan kolaborasi ini katanya sempat meraih kategori “zero poaching years” di tahun 2011 sampai 2015, dan keberhasilan menaikan populasi badak adalah kisah sukses konservasi satwaliar yang di akui secara global dari Chitwan. Di tahun 1960an populasi sangat kritis, dibawah 100 individu, dan sekarang hampir 700 individu.

Kontur yang rata sangat memudahkan trekking, meskipun rombongan besar, sbenarnya tidak pas untuk birding, tapi karena ikut tour jadi saya bisa menyesuaikan. Tidak terlalu mengejar burung untuk foto, tapi bisa menambah daftar life list dari Nepal :  Indian roller, Rofouse bee eater, greater racket tail drongo, ibis, plum-headed parakeet, lesser adjutant, yellow napped woodpecker, 

kemewahan di Chitwan, makan siang sambil menunggu harimau 

Pioneer ekowisata mewah, lahir di Chitwan

Ketika trekking, kita melewati salah satu lokasi dimana tahun 60an tempat ini adalah lokasi pengamatan harimau dan badak untuk wisatawan-wisatawan kelas atas dari eropa dan amerika. Saya menanyakan ini ke guide, kenapa bangunan-banguan ini di tinggalkan? Manoj menjawab ya ini adalah  Tiger top, salah satu contoh kegagalan management di Chitwan, mereka awalnya membuat ini untuk wisatawan-wisatawan kelas atas yang mau membayar mahal, melihat harimau dan badak, bangun tidur langsung terlihat badak menyeberang sugai, atau melihat harimau mengejar rusa dari dalam kamar saja.Namun kemudian banyak. Kemewahan dan uang hanya di dinikmati sebagian orang, kemudian banyak protes dari orang-orang yang tidak bisa ikut menikmati kuwe wisata ini, akhirnya wisata ini tutup. Manoj setelah wisata mewah ini tutup, wisatawan kelas atas ini memilih afrika untuk melihat badak, gajah dan singa, meninggalkan Chitwan.

bangunan resort sisa kejayaan Tiger top, yang ditiggalkan

Tahun 1800an sejarah Chitwan taman nasional ini, merupakan lokasi berburu keluarga kerajaan, mengundang tamu-tamu Istimewa dari Kerajaan Inggris untuk menembak badak dan harimau benggala. Tercatat raja inggris Jorge V, pernah berburu disini, dan ratu elisabeth II pada tahun 1961.  Tiger top di Chitwan adalah pioneer ekowisata mewah di Chitwan,  diawali oleh seorang milyarder dari Texas , kemudian karena kurang berkembang menjualnya ke petualang dari Inggris  Jim Edrwards yang berkolaborasi dengan ahli ekologi dari Inggris, mulai menggantikan senjata untuk berburu dengan camera dan teropong, mendirikan pondok di tengah hutan, pelayanan premium dan safari naik gajah. ( https://www.tigertops.com/about/history/)  Kedekatan pemilik tiger top dan raja Nepal akhirnya juga mendeklarasikan Chitwan sebagai taman nasional di tahun 1973. Kemudian pemerintah memberikan hak istimewa ke beberapa orang kaya ini, untuk membangun resort mewah di tengah zona inti Chitwan National park, bahkan bandara pun dibuatkan di Meghauli , desa dekat Chitwan, untuk wisata ini. 

Hingga tahun 2009 terjadi konflik hukum dan lingkungn di Nepal, pemerintah tidak memperpanjang lagi ijin resort di tengah hutan tersebut, karena desakan para aktifis lingkungan dan pemerhati satwa, dan di tahun 2012 di tutup total dengan alasan hotel komersial di tengah zona inti berdampak buruk pada satwaliar dan keselamatan satwaliar,karena semakin ramai, aktifitas kendaraan semakin tinggi , limbah, dan polusi. Meskipun seperti yang Manoj katakan, mungkin juga karena kecemburuan sosial dan persaingan bisnis juga. Saat ini pemerintah memberikan regulasi tidak ada aktifitas komersil di dalam kawasan, smua hotel resort harus diluar kawasan dan mendorong community forest, warga sekitar untuk mengelola tour-tour melihat satwa, seperti yang Manoj lakukan, saat ini. Awalnya dia adalah anggota patroli hutan dari masyarkat sekitar, dan bekerja untuk perusahan besar yang menyediakan tour. Namun keahlihan dan passionnya untuk satwaliar, mendorongnya utnuk membentuk tour sendiri, menyediakan pilihan tour yang lebih terjangkau untuk wisatawan ke Chitwan.dimulai dari guiding hingga saat ini mengelola homestay, sendiri untuk tamu dan bekerjasama dengan anggota keluarganya yang lain untuk menyediakan jasa transport dan makan untuk tamu-tamunya. 


Tarai Grey Langur

Sejak hari pertama saya datang ke Chitwan ini, saya sudah menyampaikan ke Manoj bahwa target saya adalah melihat hanoman langur. Manoj langsung menjawab "99 % kamu akan ketemu hanoman langur !!. Dan benar saja setelah makan siang di tepi sungai Rapti, sambil menunggu harimau lewat, namun sampai waktu 2 jam kita istiraht tidak nampak harimau, kami melanjutkan perjalanan menyusuri, jalur-jalut trekking yang di sediakan. Burung suara keras muarai batu yang sudah tidak ada di hutan di Sokokembang,2 individu terlihat ketika kami berjalan, namun tidak sempat terfoto. 

Tarrai grey langur 

Ketika sedang mengamati jejak badak di semak-semak rumput sekitar sungai, guide pembantu Manoj yang membawakan makan siang kita, mengetung punggung saya, dan bilang langur-langur. Saya langsung mengarahkan kamera ke dahan yang bergoyang keras, dan ya inilah pandangan pertama, lifer untuk langur hanoman dari Chitwan. Warna hitam di muka, dan rambutputih  abu-abu di sekitar wajah sangat khas,ditambah siluet Cahaya, helaian putih rambut itu nampak jelas kontras dengan wajah yang hitam gelap . Kelompok besar lebih dari 10 individu teramati di hutan di tepi sungai ini. Lutun ini adalah salah satu dari 7 jenis lutung hanuman dari Asia Selatan. Semnopithecus entellus, dan karena lutung ini hanya ada di Chitwan terutama dataran rendah Tarrai, maka disebut Tarai gray langur,  dan sudah di pisahkan menjadi Semopithecus hector. Yang membedakan dengan lutung di Indonesia, bayi nya berwarna  coklat gelap, dan rambut juga hampir sama dengan induknya.Ekor yang panjang lebih dari panjang tubuhnya, dan warna hitam pekat di wajah sangat susah mendapatkan fotonya yang jelas,dengan gelapnya hutan Chitwan. Meskipun dalam subfamily Colobinae jenis pemakan daun yang mempunyai ruang-ruang di system pencernaannya, ukuran hanuman langur lebih besar 2-5 kg dibanding Lutung di Indonesia. Sayangya ketika saya tanya ke Manooj tentang penelitian hanuman langur ini, dia bilang tidak ada. Tidak ada angka pasti populasi di Chitwan tetang langur ini, karena fokus monitoringnya kepada mammalia besar, badak, harimau dan gajah.

Hingga sore hari jam 5 sore, trekking di Chitwan hampir selesai, beberapa foto-foto ketika trekking ini dapat dilihat di sini. Di tepi sungai Rapti yang jerni itu kami menunggu perahu untuk menyebrang, dan pas sekali kitak kita sudah sampai di Seberang dan mobil penjemput datang hujan tiba. Perjalanan kurang lebih 17 km, dengan jalan kaki, dengan menggendong camera besar, saya pikir terbayar sudah dengan pengalaman melihat satwa-satwa asli Chitwan.

Kembali ke Kathmandu

suasana upacara pembakaran jenazah di sungai Baghmati-Pasuphatinath

Ketika kembali ke katmandhu, karena perjalanan saya kembali ke Indonesia malam,siangnya saya masih ada waktu untuk jalan-jalan. Dan kali ini saya dapat teman baru sangat baik, Tapendra, di mengajak saya melihat Pasuphatinath, salah satu kuil dengan ritual kremasi, bakar jenazah. Ini pengalaman yang sangat istimewa menurut saya karena tidak setiap orang bisa masuk ke lokasi kremasi tersebut. Melihat jenazah di antar keluarga di tepi sungai Baghmati,  kedukaan keluarga dan api yang membakar, secara langsung menimbulkan suasana yang merinding sekaligus penasaran. Umat hindu Nepal meyakini, bahwa kematian bukanlah akhir kehidupan, merupakan awal dari perjalanan spiritual menuju pembebasan jiwa ( moksa). Dan melihat ini, sekan menjadi pentup perjalanan saya di Nepal, dengan nuansa spiritual klasik, dari Kathmandu. Tapendra sangat baik,  ketika saya pulang di antar sampai bandara dan memberikan bendera Nepal untuk saya sebagai symbol persahabatan.

Dhanyabad !!









Wednesday, June 17, 2026

Laporan Perjalanan Survei Bilou di Jantung Siberut, Matotonan

Oleh : Aloysius Yoyok

pondok menginap tim siripokbilou 

Kamis 21 Mei 2026 tim Siripokbilou berangkat dari kediaman kami di pesisir timur Siberut bagian selatan menuju ke arah pedalaman Siberut. Di tahun 80 an, Norman Edwin, petualang legendaris yang pernah mengunjungi kawasan ini menyebutnya sebagai jantung Siberut. Tidak salah karena memang kawasan ini terletak di bagian paling tengah di Siberut bagian selatan. Kawasan ini juga menjadi kawasan perbatasan lembah Rereiket di tengah pulau Siberut dan Sagulubek di bagian barat Siberut.  Kawasan ini memiliki banyak kisah interaksi antar uma di masa lalu, kisah yang di masa kini masih dikenang dan diwariskan oleh generasi-generasi tua di Siberut. Di kawasan itu kita juga masih bisa menemukan kelompok-kelompok penduduk yang mempraktikkan kehidupan sehari-hari dengan warisan masa lalu mereka; sikerei, tato tradisional,uma, pusainakat (peternakan babi tradisional) dan cara interaksi penduduk di kawasan itu yang masih memperlihatkan warisan neolitik. Di sebalik perbukitan Teitei Bake ini juga terletak sungai Kuddei, tempat uma Sakudddei bermukim. Kelompok penduduk Siberut yang dikenal sebagai pewaris budaya Siberut.

Kawasan perbatasan 3 lembah itu adalah perbukitan Teitei Bake. Jika dari arah barat, kawasan ini adalah hulu dari beberapa anak sungai yang mengalir ke arah barat pulau Siberut dan terkumpul menjadi sungai Sagulubek. Di masa kini, penduduk dari Sagulubek yang terjebak cuaca laut yang terkadang memburuk di pertengahan tahun saat anak-anak mereka yang bersekolah di pesisir timur Siberut mendapatkan liburan kenaikan kelas dan mereka tidak bisa menempuh perjalanan laut, atau penduduk yang ingin berhemat karena ongkos perjalanan laut yang mahal bisa mereka pergunakan untuk membeli bahan makanan, maka jalur jalan setapak yang melintasi bentang alam perbukitan ini kemudian akan lebih sering dilintasi oleh para penyintas itu.

Perjalanan

Perjalanan dimulai dari lembah Sabirut, pesisir timur Siberut tempat tinggal kami. Dimulai dengan memanfaatkan jalur jalan darat yang sejak 2016 dibuka oleh pemerintah daerah yang disebut sebagai jalur Trans Siberut ruas Puro-Rereiket. Jalur jalan darat itu kini berupa jalanan berlumpur tetapi masih bisa dilalui oleh beberapa mobil milik beberapa penduduk pendatang yang selalu mengeluhkan beratnya menempuh perjalanan darat dan mahalnya ongkos perbaikan mobil mereka itu. Perjalanan di ruas pertama ini hanya sampai di pemukiman di Rokdog, tepatnya di tepian jembatan sungai Rokdog. Sudah beberapa bulan jembatan kayu penghubung itu gelagar kayunya patah akibat lapuk dimakan usia. Beberapa ruas papan kayu di jembatan itu juga masih terlihat hitam menjadi arang, hasil vandalisme kelompok-kelompok kecil masyarakat yang kecewa terhadap proses pembangunan dengan membakar jembatan itu, beberapa minggu lalu. Setiba di jembatan itu, tidak lama kemudian di seberang sana muncul mobil lain milik Aman Tegui penduduk lokal Rokdog yang sudah kami hubungi sehari lalu untuk mengantar kami sampai di Ugai, sebuah dusun bagian dari desa Madobag. Perjalanan yang bisa ditempuh dengan memanfaatkan jalur jalan darat dengan kendaraan beroda 4 hanya sampai di situ saja. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 2,5 jam itu hampir membuat seorang penumpang yang tidak terbiasa menumpang mobil bisa mabuk.

Tiba di Ugai kami segera bergegas untuk mengangkut barang-barang kami menuju sosoroat, bagian tepian sungai yang biasa dipergunakan oleh penduduk untuk menambatkan pompong, perahu bermesin modifikasi  Aman Maryati Samoan Muntei, seorang penduduk Matotonan yang juga sudah kami hubungi 2 hari lalu sudah menunggu kami. Langit terlihat gelap membuat kami bergegas menyusun tas dan perbekalan untuk kegiatan survei yang diperkirakan akan memakan waktu sekitar 5- 6 hari itu di dalam perahu. Barang-barang itu segera ditutup dengan plastik. Hujan segera turun dengan lebat, sementara kami kemudian berteduh di pondok milik penduduk Ugai yang terletak tidak jauh dari sosoroat itu untuk menumpang berteduh. 

perjalanan menuju LPS (listening post) 1

Pondok itu adalah garasi perahu. Selewat tengah hari hujan masih turun, maka sambil menunggu hujan reda kami menikmati makan siang dengan bekal yang sudah kami siapkan dari rumah kami. Sore itu sekitar pukul 17.00 WIB kami sudah berada di rumah Aman Maryati. Anak Aman Maryati yaitu Jasmardi yang kebetulan adalah seorang Kepala Dusun sudah beberapa waktu lalu mengatakan kesediaannya untuk terlibat dalam kegiatan survei populasi owa bilou di kawasan desa Matotonan kali ini. Sore itu kami kemudian berdiskusi tentang ke 3 titik pengamatan yang berada di 3 kawasan yang berbeda. Diskusi kami adalah tentang strategi untuk menempuh perjalanan mencapai ke 3 titik itu, mencari pemandu yang tepat; memiliki pemahaman kawasan, bagian dari pemilik kawasan secara tradisional, memiliki fisik yang memungkinkan untuk menempuh perjalanan dan hal-hal lain yang bersifat teknis. Malam itu juga atas bantuan dari Jasmardi ke 3 tim kecil yang akan berangkat untuk melakukan survei sudah terbentuk. Bagian dari tim kecil ini adalah juga seorang petugas dari BTNS (Balai Taman Nasional Siberut) yaitu Afdal, seorang penduduk setempat yang memang direkomendasikan oleh petugas senior dari BTNS saat kami melakukan koordinasi perjalanan dan pengurusan Simaksi (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi)

Sebelumnya kami juga sudah menyempatkan diri untuk melakukan koordinasi kepada pemerintahan setempat yaitu Kepala Desa Matotonan. Karena hari sudah di luar jam kerja, malam itu kami menjumpai Kepala Desa Matotonan di kediamannya. Karena kami sudah saling mengenal, obrolan saat kunjungan ke rumahnya malam itu menjadi lebih cair dan banyak diisi dengan beberapa perencanaan Pemdes Matotonan yang berkaitan dengan pemanfaatan kawasan hutan konservasi di wilayah desa Matotonan untuk mendukung rencana pengembangan destinasi wisata alam.

Hari 1 perjalanan menuju lokasi survei

Pagi hari, Jumat 22 Mei 2026 kami disambut dengan cuaca yang cerah. Pagi itu kami dijamu oleh istri Jasmardi dengan hidangan sarapan berupa lopis ketan, sebuah kuliner ala Minangkabau. Istri Jasmardi adalah seorang Matotonan yang pernah mengenyam pendidikan di bangku kuliah di Padang. Pagi itu kami segera mengemasi barang dan perbekalan masing-masing sesuai tim. Semalam kami sudah membentuk 3 tim dengan 3 tujuan titik pengamatan yang berbeda. Tim LPS 1 adalah saya, Jasmardi dan Oruk Manai Satoutou lokasi tujuan perjalanan kami adalah di Tirik Marepet yaitu punggung perbukitan yang bersebelahan dengan Teitei Bake. Tim LPS 2 adalah Vincen, Aman Maryati dan Jaidin dengan titik tujuan perjalanan mereka adalah menuju ke kawasan Teitei Kuddei di hulusungai Rereiket, dan yangterakhir adalah Tim LPS 3 yaitu Lauren, Tekoi dan Afdal, mereka akan menuju titik terjauh yaitu Teitei SImakeru yang merupakan kawasan perbatasan Matotonan dan Silaoinan dan Saibi Hulu. Jam menunjukkan pukul 09.00 WIB saat kami bersama-sama berangkat. Tim LPS 2 menggunakan pompong menyusuri sungai Rereiket ke arah hulu untuk kemudian akan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Tim LPS 2 juga dengan pola yang sama tetapi mereka kemudian berpisah. Tim LPS 3 terus melanjutkan arah perahu pompong mereka ke arah hulu sungai Rereiket untuk selanjutnya perjalanan akan ditempuh dengan berjalan kaki.

perjalanan menuju LPS 3

Sementara itu kami di Tim LPS 1 tidak ada perjalanan yang ditempuh dengan perjalanan menggunakan moda transportasi tetapi langsung menempuh perjalanan darat melalui jalur jalan kampung dan jalan setapak dengan berjalan kaki. Beban perjalanan berupa peralatan pribadi, peralatan survei dan perbekalan untuk 5 hari kami bagi. Saya dan Jasmardi memuat barang-barang itu tas carrier di punggung kami, sementara Oruk Manai dengan keranjangnya dia memuat barang-barang itu sesudah sebelumnya membungkusnya dengan kantong plastik untuk mengantisipasi kemungkinan turun hujan saat menempuh perjalanan. 

Selepas rumah terakhir di ujung pemukiman Matotonan, kami kemudian segera diharuskan untuk menyusuri anak sungai yang mengarah ke perbukitan Teitei Paleku Teiteiket, salah satu perbukitan yang harus kami lintasi. Anak sungai itu memiliki kedalaman air setinggi sekitar 10-20 cm saja dengan dasar anak sungai berupa bebatuan sejenis batu napal, mirip dengan batu padas yang rata-rata licin karena berlumut. Jalur anak sungai yang membelah perladangan penduduk itu mengalir berkelok-kelok sampai kami menemukan tangga kecil dari kayu yang terbuat dari kayu bulat untuk membantu mendaki lereng yang terlihat cukup curam untuk didaki. Itu adalah titik awal pendakian lereng bukit Paleku Teteiket.

viper coklat beralis (Trimeresurus brongersmai)

Tetapi pagi itu kami mendapatkan sebuah kejutan. Saat kami berhenti sejenak untuk merapikan beberapa peralatan kecil sebelum pendakian kami mulai, kami menemukan seekor ular kumok (Trimeresurus brongersmai) atau ular viper coklat beralis. Ular itu nampaknya ular betina yang berusia dewasa, melingkar tenang di tangga kayu itu tanpa terlihat oleh Jasmardi yang beberapa menit sudah berdiri sangat dekat dengan ular itu. Sebuah kamuflase yang sempurna. Jenis reptil itu cukup sulit ditemukan, biasanya dia bersembunyi di serasah dedaunan di tempat yang agak lembab. 

Jalur pendakian pertama ini melalui jalan setapak yang cukup terjal, sinar matahari pagi yang cukup menyengat membuat peluh segera bercucuran. Tiba di puncak bukit, tas diturunkan dari bahu, sejenak menenangkan nafas yang memburu, sambil melihat-lihat pemandangan di sekitar situ. Lereng bukit ini sudah diisi oleh variasi beberapa tanaman tradisional terutama jenis durian yang bercampur dengan tumbuhan-tumbuhan kayu alam. Tetapi di jalur pendakian ini karena letaknya yang relatif dekat dengan pemukiman, pepohonan yang berukuran besar tidak lagi terlihat di sekitar situ. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menuruni lereng bukit itu, namun kali ini kanopi pepohonan yang bercampur tanaman tua milik penduduk setempat itu cukup membuat jalur jalan setapak yang kami lewati itu rindang dan sejuk. 

Jalur perjalanan kemudian menjadi relatif landai, kemudian sedikit menanjak ketika bertemu dengan ujung kaki perbukitan Teitei Bake, menurun kembali dan kemudian akhirnya jalur jalan setapak itu habis ketika kami bertemu dengan anak sungai kecil yang mereka sebut sebagai sungai Pakaleuruat. Di situ kami beruntung, kami menemukan 3 buah durian yang jatuh, durian sisa tupai yang masih mengkal. Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri anak sungai Pakaleuruat yang berliku-liku itu. Sesekali kali memotong jalur perjalanan susur sungai itu saat bertemu dengan ujung daratan yang agak landai. Jalur jalan yang berupa anak sungai itu juga merupakan habitat pacet, sejenis binatang penghisap darah yangs seolah sudah menanti kedatangan kami melintas. Kami cukup disibukanoleh binatang itu, sesekali kami harus berhenti untuk mengambilnya dari lengan atau baju kami, atau di kaki Jasmardi dan Oruk Manai yang hanya mengenakan celana pendek saja.

Sungai Pakaleuruat itu kemudian bertemu dengan sungai Marepet, jalur aliran sungai itu kemudian menjadi semakin lebar dan dalam. Perjalanan tetap ditempuh dengan menyusuri aliran sungai Merepet itu ke arah hilir. Jalur aliran sungai yang berliku-liku, sesekali kami harus ekstra berhati-hati saat melintasi bebatuan besar yang berlumut dan licin, pacet juga banyak kami dtemukan di pakaian saat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di salah satu titik di tepian sungai Marepet itu. Sepanjang jalur aliran sungai ini banyak ditemukan pepohonan besar dengan vegetasi yang cukup rapat di dasar hutan membuat sepanjang aliran sungai ini teduh dan dingin. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB saat kami menemukan pondok kecil di dekat tepian sungai. Pondok milik penduduk Matotonan yang segera mereka kenali. Sekitar 30 menit kami beristirahat menikmati makan bekal makan siang yang kami bawa dari Matotonan. Di belakang pondok itu terlihat bantaran sungai yang agak datar seluas sekitar 3 lapangan volley yang ditumbuhi nilam, singkong, keladi dan beberapa tanaman lain. Kebun kecil ini terletak lokasi bagian dari kaki perbukitan Teitei Bake, tetapi kami belum berhenti di sini karena dari pondok ini tidak terdapat jalur pendakian menuju ke arah punggung perbukitan, belakang pondok itu merupakan lerengan perbukitan yang curam. 

Kami kemudan melanjutkan perjalanan kembali dengan menyusuri aliran sungai Marepet yang semakin dalam dengan variasi dinding bebatuan yang cukup padat di beberapa spot. Setelah diakhiri dengan menyeberangi bagian aliran sungai yang sedalam dada, kami akhirnya mengakhiri perjalanan siang itu di bantaran sungai yang ditumbuhi beberapa rumpung bambu. Daratan datar sempit di bantaran sungai berpasir yang di kanan dan kiri terdapat dua rumpun bambu jenis obbuk yang biasa dipergunakan oleh penduduk di Siberut untuk memasak. Kami tiba di tempat itu sekitar pukul 15.00 WIB. Kami segera bekerja membersihkan lokasi yang masih terlihat reruntuhan bekas pondok sederhana berukuran kecil yang terdiri dari 4 tiang bambu. Pondok itu bekas bangunan sederhana tempat menginap penduduk Matotonan yang berkunjung kesitu untuk mencari ikan di sungai Marepet. Sekitar 1 jam saja kami sudah berhasil membangun pondok sederhana yang akan kami tempati sampai 4 malam ke depan.

Lokasi pondok itu tepat di tepian bagian tikungan sungai yang dalam. Air telihat mengalir pelan dan berwarna hijau bening. Mengisi waktu di sore itu Jasmardi langsung mengeluarkan tali pancing yang sudah dia siapkan dari rumah. Saat senja tiba beberapa ekor ikan mutuk utek dan udang sungai berukuran besar menjadi menu makan malam kami.

Survei hari 1

Jam 04.00 WIB kami sudah terbangun dari tidur. Sejak 1 jam lalu kami sudah mendengar suara morning call bilou tidak jauh dari pondok tempat kami bermalam. Suara-suara dari frogmouth owl turut menghiasi pagi yang masih gelap gulita itu. Kami keluar melihat cuaca, bintang yang bertaburan di langit menandakan cuaca yang cerah saat itu. Lingkungan sekitar pondok kami itu ditumbuhi belukar dan pepohonan yang rapat. Oruk Manai memimpin di depan dengan parang tajam di tangan, menebas onak berduri dengan hati-hati. Dari lokasi pondok ini tidak terdapat jalur jalan setapak untuk mencapai punggungan perbukitan Teitei Bake. Kami harus mencari dan membuka jalur jalan kami sendiri. Tiba-tiba, belum terlalu jauh dari pondok, di kegelapan pagi itu kami sudah disuguhi pemandangan yang mengesankan, lereng terjal dengan ujung-ujung akar yang bertonjolan dengan ketinggian sekitar 10 meter akibat longsor sudah menghadang kami. Dengan sigap Oruk Manai memanjat lereng terjal itu, memanfaatkan akar-akar pepohonan yang menyembul dari balik tanah lereng itu dia bergelantungan sampai kakinya menapak mendorong tubuhnya naik ke atas. Saya menyusul kemudian. Jalur yang kami tempuh ini adalah punggung kaki perbukitan Teitei Bake yang menjorok ke arah sungai Marepet di apit 2 anak sungai, sungai Simapelekak dan sungai Simapelekak Boirok Baga. Pergerakan kami cukup lambat karena gelap dan belukar rapat yang di beberapa bagian berupa rotan-rotan yang berduri, beberapa kali kami harus membalik arah karena jalur yang kami pilih kemudian berakhir di jurang curam, membuat perjalanan menuju punggung perbukitan ini bertambah lama. 

kesulitan untuk menuju titik pengamatan

Sesudah 1 jam perjalanan akhirnya kami menelukan jalur jalan setapak yang biasa dilalui penduduk setempat saat mereka hendak melintas memotong kontur pulau ini dari arah Sagulubek ke Matotonan atau sebaliknya. Bergegas kami melanjutkan langkah, tetapi jalur itu adalah lereng perbukitan yang menanjak dengan drastis di beberapa titik membuat nafastersengal-sengal dan keringat menetes-netes dari wajah kami bertiga. Akhirnya kami di bagian tertinggi dari jalur itu. Jamsudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Kami memutuskan tempat itu sebagai lokasi pengamatan suara bilou. 

Tiba di lokasi itu suara morning call bilou sudah lama hilang dari pendengaran kami. Tiba-tiba saat Oruk Manai menoleh ke belakang dia melihat 1 individu bilou yang sedang memperhatikan kami. Dengan gugup saya segera membuka tas untuk mengambil kamera. Karena rute perjalanan yang cukup ekstrem, kamera saya masukkan ke dalam tas punggung. Beberapa kali saya mencoba membidik bilou jantan itu, tidak cukup menghasilkan foto yang bagus tetapi pemandangan itu cukup mengesankan. Saat pertama kali kami melihatnya bilou itu sedang bertengger di dahan pohon yang hanya sekitar 20 meter saja dari tempat kami duduk untuk melakukan pengamatan suara bilou. Bilou jantan itu bergerak tidak terlalu cepat, tidak bersuara dan sesekali berhenti di kerimbunan dedaunan mengamati kami, dia bergerak meninggalkan kelompok kecilnya, kemungkinan adalah pasangan dan anaknya yang masih kecil. Keduanya bergerak ke arah yang berlawanan menuju lereng perbukitan, sementara si bilou jantan bergerak ke arah lereng di sisi bukit sebaliknya. Mereka tidak seperti kelompok bilou lainnya yang akan segera mengeluarkan suara alarm, kelompok kecil ini bahkan tidak mengeluarkan suara apapun dan bergerak dengan cara yang seolah-olah tidak terburu-buru.

Bilou teramati langsung di LPS1

Pagi itu kami membagi tugas, Jasmardi melakukan pencatatan data, Oruk Manai membantu mengamati arah suara, perkiraan jarak dan penghitungan suara great call. Saya sendiri bertugas mengamati jam bersuara dan kompas. Sebelum kami pulang saat menjelang pukul 09.00 WIB kami berhasil mendengar suara great call dari 3 kelompok bilou.

Sore harinya saya memutuskan untuk beristirahat di pondok saja. Perjalanan hari kemarin menuju lokasi ini cukup membuat otot-otot kaki saya terasa kaku dan agak pegal. Kondisi vegetasi hutan di lingkungan sekitar pondok yang berupa pepohonan dengan belukar lebat tanpa jalur jalan setapak membuat saya cukup enggan untuk meng-eksplorasi sekitar lokasi itu. Apalagi bantaran tepian sungai ini banyak sekali terdapat pacet yang sudah siap menyambut kedatangan kami. Begitu pula jika kami ingin mencapai daratan seberang sungai yang juga masih berupa hutan lebat, kami harus merelakan badan kami basah karena sungai di sekitar kami membangun pondok sederhana ini yang paling dangkal adalah sedalam pinggang orang dewasa. 

Seperti hari pertama kemarin, sore ini Jasmardi kembali ke pondok dengan kantong yang sudah terisi dengan jenis-jenis ikan dan udang. Hasil pancingannya itu kembali menjadi menu makan malam kami.

Hari ke 2 survei

Hari ke 2 survei, cuaca cukup cerah tetapi mendung agak menyelimuti langit di pagi itu. Pagi ini angin juga berhembus cukup kencang. Suara morning call dari beberapa arah menghiasi perjalanan pagi menuju titik pengamatan kami. Namun begitu kami mencapai titik pengamatan itu, suara-suara morning call dari bilou-bilou jantan itu tidak lama kemudian menghilang dan suasana terasa cukup sunyi, sesekali saja suara simakobu terdengar tidak jauh dari lokasi kami itu. Tetapi saat menjelang jam 08.30 WIB kami mulai disibukkan oleh suara greatcall dari beberapa arah mata angin. Tercatat 5 great call dari 5 arah dan jarak yang berbeda menunjukkan 5 kelompok bilou yang berbeda berhasil kami catat pagi itu. Jasmardi yang kami tugaskan untuk mencatat pengambilan sejak hari pertama terlihat sibuk dengan menghapus beberapa pencatatan yang salah. Tetapi pencatatan data memang dilakukan dengan menggunakan pensil membuat kesalahan-kesalahan pencatatan kecil itu bisa diperbaiki.  Total jumlah suara morning call dan great call pagi itu adalah 5 morning call titik dari arah dan jarak yang berbeda dan 5 great call.

jenis ikan hasil tangkapan 

Saat sore menjelang, saat Jasmardi yang begitu bersemangat memancing ikan sudah meninggalkan pondok untuk memenuhi hasrat memancing ikan, menjelang jam tidur saya sering berbincang dengan Oruk Manai, seorang pemuda anggota uma Satoutou tentang cerita-cerita masa lalu kakek moyangnya, tentang perjalanan migrasi kelompok uma itu dari Simatalu, kisah-kisah penemuan kawasan-kawasan hutan yang kemudian mereka kuasai secara turun-temurun, kisah konflik masa lalu yang melibatkan kakek moyang mereka. Oruk Manai adalah tipikal seorang Siberut yang memiliki karakter khas penduduk dari pedalaman Siberut, berbeda dengan pemuda Siberut yang tinggal di kawasan pesisir yang sudah banyak terpengaruh oleh kebiasaan baru yang dibawa oleh pendatang. Oruk Manai memiliki pengetahuan yang kuat tentang sejarah tutur kakek moyang dan umanya. Dia memahami dengan baik kawasan hutan di sekitar Teitei Bake yang menjadi milik dari uma-nya itu, begitu juga dengan beberapa kawasan hutan di daerah lain yang juga menjadi milik dari uma Satoutou. Oruk Manai juga memiliki keterampilan survival di hutan Siberut dengan sangat baik. 

Malam hari sekitar pukul 21.00 WIB saat kami sudah beranjak tidur, tiba-tiba kami dikejutkan oleh sinar senter yang berasal dari arah hilir sungai. Kami kemudian mematikan lampu penerangan pondok kami yang bersinar temaram itu. Awalnya Jasmardi menduga cahaya dari lampu senter itu berasal dari pemburu yang mencari buruan malam, tetapi samar-samar suara percakapan wanita terdengar. Lama-lama terdengar dengan jelas memecah keheningan malam itu. Rupanya mereka adalah 3 orang ibu-ibu yang sedang pangisou, kegiatan mencari ikan dan udang di sungai. Mereka adalah penduduk dari Matotonan. Mereka kemudian singgah di pondok tempat kami bermalam, badan mereka basah kuyup. Mereka kemudian beristirahat di pondok kami itu. Sesudah menikmati teh manis panas untuk penghangat badan, mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Sesuatu yang menakjubkan, ibu-ibu yang sangat tangguh, berani menempuh perjalanan malam melintasi perbukitan dan sungai-sungai yang terletak jauh di tengah hutan untuk mencari ikan. 

Hari ke 3 survei

Hari itu sejak dini hari sudah terdengar guruh beberapa kali, kami sudah mencemaskan hujan yang akan turun. Jam 05.15WIB kami berangkat lagi menuju titik pengamatan di punggungan perbukitan itu kami berangkat dengan tergesa-gesa. Kehujanan saat dalam perjalanan adalah hal yang tidak menyenangkan, beberapa peralatan untuk pengambilan dan pencatatan data harus tetap kering, penggunaan mantel saat perjalanan dalam hutan yang melintasi semak, perdu dan jenis-jenis rotan yang berduri juga membuat mantel kemudian robek. Badan terbungkus plastik mantel saat berada di jalur pendakian juga terasa merepotkan, pengap dan panas. Tetapi hujan turun tepat saat kami sesaat kami tiba di titik pengamatan suara bilou. Hujan segera bertambah deras. Kami segera mengeluarkan mantel dan payung dari dalam tas kami. Sesudah sekitar satu jam, Oruk Manai kemudian pergi mencari daun soggunei (pisang hutan) ke arah lereng bukit. Di sekitar tempat kami melakukan juga tidak terdapat daun rotan jenis labi yang daunnya biasa dipergunakan oleh penduduk untuk membuat naungan. Akhirnya naungan dari daun pisang hutan yang lebar itu selesai dibuat. Kami bertiga berteduh di situ. Hari itu sampai jam 10.00 WIB saat jam pengamatan suara bilou berakhir, kami tidak mendengar suara bilou satu kali pun.

Selesai berintirahat di pondok tempat kami menginap, sore itu saya memutuskan untuk pergi meng-eksplorasi lingkungan sekitar pondok. Melewati tepian sungai Marepet ke arah hulu yang dipenuhi rumpun bambu dan semak belukar saya tiba di muara sungai Simapelekak. Sungai ini mengalir dari lereng perbukitan Teitei Bake. Tidak terlihat jejak kaki para ibu yang kemarin malam singgah ke rumah, nampaknya mereka tidak melintasi anak sungai ini. Sampai sekitar 40 menit saya berjalan di sepanjang anak sungai itu tetapi suasana sore itu terasa lengang, saya kemudian kembali ke pondok tempat kami menginap, di lereng bukit dekat pondok tiba-tiba terdengar suara simakobu, Oruk kemudian pergi memeriksa, katanya dia melihat 4 ekor simakobu yang sedang bergerak mencari pohon tidurnya. 

Hari ke 4

Malam itu diskusi kami adalah perencanaan untuk hari terakhir pengamatan. Menurut Oruk Manai kami bisa kembali ke Matotonan sesudah melakukan pengamatan tanpa harus kembali ke pondok tempat kami bermalam ini dengan melewati jalur jalan setapak yang biasa ditempuh oleh penduduk yang melintas. Berangkat kembali ke Matotonan jika sesudah selesai melakukan pengamatan di hari terakhir mengharuskan kami menempuh perjalanan dengan pakaian basah sebab kami harus menyeberangi sungai yang memiliki kedalaman sekitar dada orang dewasa. 

Jam 03.00 WIB kami sudah terbangun dari tidur, Oruk Manai lalu memasak nasi, memanaskan air. Semalam kami sudah memutuskan jika saya akan berangkat duluan bersama Jasmardi ke titik pengamatan dengan membawa peralatan kami, sementara Oruk Manai akan membongkar pondok, mengemasi barang dan membawa menu makan siang kami sesudah sekitar jam 09.00 WIB. 

Simakobu ( Simias concolor)

Di tengah perjalanan saat kondisi masih gelap gulita saya yang berjalan paling depan sempat dikejutkan oleh suara khas joja (Presbytis siberu) jantan dewasa yang nampaknya terkejut oleh kehadiran kami yang melintasi pohon tidurnya. Pohon tidur joja itu dekat sekali di jalur lintasan kami. Namun keseruan selanjutnya adalah saat saya mendengar suara simakobu di arah jalur jalan menuju titik pengamatan itu. Saya yang berjalan di posisi depan sudah memberikan kode kepada Jasmardi untuk meminimalkan suara dan pergerakan karena perkiraan saya simakobu (Simias concolor) itu ada dibeberapa meter saja di depan jalur lintasan kami. Sebegitu saya melihat kelompok simakobu yang berjumlah 6 ekor itu saya segera menyelinap di balik batang pohon, bersembunyi. Jasmardi segera saya tarik untuk juga bersembunyi. Tetapi demi memenuhi tuntutan rasa penasarannya dia malah menyembulkan badannya dari balik kayu itu. Kelompok simakobu itu kemudian bubar, melarikan diri ke arah lereng bukit itu. Pejantan utama dari kelompok simakobu itu yang berukuran paling besar terlihat bergerak paling belakang. Dia malah berhenti di dahan kayu sambil memamerkan gigi-giginya yang berwarna kecoklatan ke arah kami, menyeringai. Namun posisi simakobu jantan dewasa itu cukup jauh dari jangkauan kamera di tangan saya dan posisi kami yang terhalang oleh belukar. Malah saya sempat terbentur oleh binokuler yang berada di tangan Jasmardi akibat keinginan kami untuk sama-sama melihat simakobu itu dari sudut yang sama. Pemandangan yang begitu menarik hati Jasmardi untuk mengamati simakobu itu dan minat saya untuk mengambil foto membuat kami seolah berebut sudut pengamatan.

Kami kemudian kembali bergerak menuju titik pengamatan untuk melakukan pengamatan suara bilou hari terakhir. Tiba di lokasi pengamatan kami kembali mendengar suara joja yang terdengar begitu dekat, hanya beberapa puluh meter saja di balik rimbunnya dedaunan vegetasi hutan itu. Jasmardi kemudian memutuskan untuk mencoba kamera untuk mengambil fotonya. Sekitar 20 menit dia pergi meninggalkan saya sendirian, saat kembali rupanya dia tidak berhasil. Pagi itu kami hanya mendengar 2 suara morning call dan 1 great call dari arah Sagulubek yang terdengar samar-samar. 2 suara morning call yang saat terdengar cukup dekat dari titik pengamatan justru kembali tidak bersuara great call, malah saat kami tiba di titik pengamatan saat jam menunjukkan pukul 06.10 WIB, suara morning call itu sudah terdiam.


tim LPS 2
Perjalanan kembali ke Matotonan.

Kami kemudian meninggalkan titik pengamatan itu saat jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Kami bertiga beriring, saya dan Jasmardi menggendong tas carrier sementara Oruk Manai menggendong keranjang rotannya. Kami bergerak menyusuri jalan setapak yang terjal menuju ke arah kaki bukit. Jam menunjukkan pukul 11.30 WIB saat kami tiba di sungai Simapelekak bagian hulu. Kami beristirahat menikmati makan siang yang sudah disiapkan dari pagi oleh Oruk Manai. Perjalanan kami lanjutkan lagi dengan menyusuri sungai Simapelekak ke arah hilir. Tiba di pertengahan jalur kemudian dilanjutkan dengan mendaki kaki perbukitan itu menanjak, lalu menurun lagi dengan menyusuri anak sungai kecil yang berkelok-kelok. Anak sungai kecil ini memiliki dasar sungai berupa batuan padat yang berwarna coklat kehijauan tetapi tidak terlalu keras, mirip batu napal. Ujung anak sungai itu adalah sungai Marepet. Kami sudah sampai kembali di jalur yang kami tempuh saat kami berangkat. Menurut kedua teman tadi salah satu hal yang membuat mereka memilih jalur keberangkatan yang berbeda adalah jalur kami kembali ini jika ditempuh dari kaki bukit akan sangat menguras tenaga karena lerengnya yang terjal. 

tim survei LPS 3

Kami kemudian bergerak lagi menyusuri jalur jalan menyusuri aliran sungai Marepet ke arah hulu, mendaki kaki bukit Pelekuk Teteiket, menuruni lembahdi sebaliknya dan kembali menuruni sungai, sungai Pakaleuruat yang mengarah menuju ke bukit Paleku Teteiket.

Tiba di kaki perbukitan Paleku Teteiket itu kami kemudian beristirahat sejenak, sambil mempersiapkan diri menempuh perjalanan di bawah hujan. Langit terlihat gelap pekat dan angin dingin berhembus kencang. Semua barang segera kami kemas kedalam plastik dan kami masukkan ke dalam taas carrier. Perjalanan mendaki dan menuruni bukit Paleku Teteiket itu kami tempuh di bawah guyuran hujan yang turun dengan deras sore itu. Saat tinggal beberapa meter saja di penghabisan kaki bukit itu, tiba-tiba saya terpeleset dan badan pun tergelincir dengan posisi punggung di atas tanah lerengan perbukitan yang miring itu.  Besok paginya saat mengemasi barang-barang baru ketahuan kalau kaca lensa kamera yang ada dalam tas carrier itu telah retak. 

Sekitar pukul 17.00 WIB kami tiba kembali di rumah Jasmardi di Matotonan di tengah hujan yang mengguyur dengan deras. Terlihat kawan-kawan dari tim yang lain sudah duduk-duduk di beranda rumah itu, mereka bisa tiba di rumah lebih cepat karena sebagian perjalanan mereka tempuh dengan mempergunakan pompong.