Wednesday, January 30, 2019

Belajar dari Para Burung : Kongress Peneliti dan Pemerhati Burung

tim Uma malinggai yang ikut dalam acara kongress burung 

Acara Kongress Peneliti dan Pemerhati Burung Indonesia yang ke-5 menjadi kesempatan SwaraOwa mengajak tim dari Uma Malinggai Tradisional  Mentawai belajar tentang burung-burung di Indonesia, permasalahan dan potensinya pemanfaatannya. Acara yang di selenggarakan di Padang tanggal 26-29 Januari 2019 ini di laksanakan di Universitas Negeri Padang dan juga di Universitas Andalas.
Kesempatan untuk mempromosikan keanekaragaman jenis burung di Kep.Mentawai juga menjadi pengalaman tersendiri untuk tim kali ini. Acara  di mulai di hari minggu, di UNP dan kita ikut dalam 2 workhsop yaitu  ada yang masuk di kelas “ekowisata burung” dan ada yang masuk di kelas “Pengawasan dan Perdagangan Burung”.

Ridwan Tulus, dari SumatraandBeyond berbagi pengalaman bagaimana beliau membangun usaha ekowisata di wilayah Sumatra, dengan konsep  “Protect The Culture, Protect The Nature, Empower & Bring Benefit for Local People, and Support Conservation”.  Sesi ini menjadi diskusi menarik dengan teman-teman dari Mentawai, karena tim yang kita ajak ini juga merupakan bagian dari pelaku wisata yang ada di Kep.Mentawai.

Giyanto dari WCS Indonesia Program, menyampaikan cerita bagaimana beliau mendorong para penegak hukum di Indonesia terkait dengan perdangangan satwaliar, dengan metode “undercover” yang terbentuk dari naluri sepertinya ini menjadi metode pengumpulan data di level grassroots yang sangat penuh resiko. Namun dari kegiatan mas Giyanto ini memberikan banyak kemajuan untuk penegakan hukum khususnya terkait kejahatan satwaliar di Indonesia. Apalagi burung, yang kini berjumlah 1771 jenis ini hampir 15% di antaranya adalah terancam punah. Modus jual beli burung ini sudah sedemikian canggih seperti dalam sindikat narkoba, perdagangan illegal yang di lakukan secara sistematis, terorganisir, canggih, dalam skala nasional dan internasional, Indonesia sebagai sumber keanekargaman hayati tinggi sekaligus sebagai pasarnya. Menurut mas Giyanto, jenis-jenis burung yang di perdaganggankan di Indonesia  80% merupakan tangkapan dari alam liar, di tahun 2016-2018 dari 3 lokasi pasar burung saja tercatat 412 jenis dan 712866 individu yang di jual belikan.

Hari kedua  menjadi kesempatan kita untuk menampilkan hasil pengamatan tentang burung-burung Pantai di Kep.Mentawai, hasil pengamatan ini juga menjadi hasil karya ilmiah pertama untuk tim Mentawai ini tentang burung-burung pantai, dan dapat di download disini untuk 2 publikasi penelitian dari kegiatan di Kep.mentawai. Meskipun tujuan utama di kepulauan Mentawai adalah untuk pelestarian Bilou, namun pengalaman tentang burung ini menjadi hal baru dan juga kemungkinan yang dapat di kembangkan sebagai bagian upaya pelestarian keanekargaman hayati kep.mentawai yang berkelanjutan. 

Bagi tim Uma Malinggai acara ini menjadi penting untuk melatih kemampuan, meningkatkan kapasitas dan juga menambah jejaring pegiat konservasi alam, dan motivasi juga untuk tampil di acara tahun depan dengan membawakan sendiri hasil pengamatannya, sampai jumpa di KPPBI VI, di Jawa Timur.

Thursday, January 24, 2019

Seri Diskusi Konservasi #2 : Orangutan dan Bekantan

Bulan Februari 2019 acara seri diskusi konservasi yang ke dua kalinya di gelar, kali ini bertepatan dengan kunjungan lapangan dari kawan-kawan pegiat konservasi primata di Kalimantan Timur. Bekatan dan Orangtuan kalimatan keduanya merupakan primata endemik Kalimantan. untuk profil kedua pembicara ini dapat di baca di link berikut ini dan

Acara ini gratis, namun silahkan menghubungi Contact Person yang tercantum untuk mendaftar. Terimakasih.

Sunday, December 9, 2018

SwaraOwa (Voice of the Gibbon): A Coffee Adventure

by Adeline Chang

The Coffee and Primate Conservation Project was started in 2012, by the SwaraOwa team, building upon an earlier project by Arif Setiawan in 2008. The main object is to conserve the endangered Javanese Gibbon and its natural habitat. The spends its time swinging through the rainforests on the Indonesian island of Java. Villages are scattered throughout the rainforest, and community investment is essential! To increase interest in conserving the rainforest, SwaraOwa supports the villagers to (sustainably) scale up production of the coffee that already grows naturally in the forest, learn about proper cultivation and sorting techniques, and obtain better access to the coffee markets.
It was sweltering the day I met Arif Setiawan (he prefers Wawan) at the Singapore Botanic Gardens. We were cocooned in an air-conditioned room, where three different speakers shared their primate conservation projects in Indonesia. When it was Wawan’s turn, he stood up with a big smile and a relaxed nature that bespoke a deep inner peace. Speaking animatedly, he told us about his team’s work with village communities to conserve gibbons and their rainforest habitats. Out in the lush isolation, they had formed connections that were improving the financial security of villagers, and slowly transforming the way villagers saw the rainforest. A truly beautiful long-term project.
What most piqued my interest that day, however, was their leveraging of shade-grown coffee. With the project’s support, the coffee plant already growing naturally under the steady shade and protection of the rainforest canopy became a source of income for the villagers – a clever, economic and biodynamic way of encouraging them to value and live in harmony with the rainforest and its other animal inhabitants.
Coffee! The ex-barista in me was wide awake and at attention.  
After the talk, I made a beeline for Wawan, where I asked him curiously about how much income the coffee planting brought villagers (a supplementary amount, as it turns out), and about the sales avenues for the coffee. I was flying to Indonesia the following month for a meditation stay and short holiday, and when I said I’d be in Yogyakarta and would love to visit the forest, this beast of a gentleman immediately invited me to visit their office and roasting facility.
Fast forward a month, and after my first visit to the office, Wawan messaged me to say they were visiting the field site, 7 hours from Yogyakarta. There was a seat for me in the jeep – did I want to come along?
Of course, I said yes!
The Journey
I arrive late at the building, heart racing. My usually unkempt short hair lies flat, plastered to my head with sweat, as I nudge the helmet off my head and hand it to the ojek driver. “Makasih, pak.” It’s 40 minutes past when I was meant to arrive.
But I’ve forgotten about Indonesia’s jam karet – what they call rubber time, a pointer to that incredible flexibility with which people treat the hours of the day.
As I walk into the office-warehouse-discussion centre rolled in one, apologising profusely, everyone tells me to relax. Wawan is hard at work on his computer, Yoshi immediately starts brewing me a coffee, and our bee expert Sidiq has yet to arrive. The aroma of roasting coffee wafts over from the next room as I sit contentedly.
It’s nearly 12 when we begin our drive in the muggy heat. The windows of the Jeep are rolled down, but only when it begins pouring does the cooling air bring blessed respite. We pass out of the jam-packed city and through smaller towns and streaks of empty surrounded by hulking trees, stopping every couple of hours so Yoshi can take a break. By the time we enter the Sokokembang forest, night has fallen – it’s eerie winding along the road in the dark, car lights at full beam, our eyes peeled for snakes, civets, even Javan leopards. But no luck tonight.
In the village, we are hosted by the Sokokembang village chief and his wife, Pak E and Mak E. Beside the chief’s front porch sits a little Swara Owa office – about 5 by 3 metres, lit up by hydro-powered lights, just like everything else in the village, which doesn’t have access to the electric grid. My room, in contrast, is constantly lit by a light with no off-switch, and permanently damp and cool. 
Exhausted by the journey, I quickly fall asleep.
The Field
The next day, the jungle swallows us into its wild arms. We walk for an hour, eyes fixed on the green canopies. Wawan is an expert at spotting the groups of primates, scanning the tree canopies and pointing them out to me.
The first time I catch sight of a leaf monkey is magical. In the gentle morning light, the heart-shaped silver of its face gleams, while its body shines black and glossy. Through my binoculars its eyes seem to gaze straight into mine.

(Photo by Arif) A lutung and her young, pausing on a branch.

The silvery gibbon (owa, in Indonesian) – the namesake of this conservation project – is, in contrast, far less delicate in appearance. Warm grey, it fills out its curves and swings with easy agility from branch to branch.

(Photo by Arif) A Javan gibbon, its strong, endlessly long arm stretched high for support.

Visiting Gondang Village
It takes us half an hour to curve northwards, hugging the cliff, as the paddy fields fall away into sparse forest. The last stretch of our journey can barely be called a road, and I feel myself slip-sliding as our black four-wheeler bumps its way, snail-like, along the rocky track.

As we move inwards from the cliff edges, the view is stunning – grey puffs caressing the lush, verdant fields. 

On this last stretch of road, the drive becomes extremely slow going.

I feel a sense of relief when we arrive; my bum is beginning to hurt.
Inside the Gondang village chief’s house, darkness reigns. Sparse daylight filters into a space that’s both living room and kitchen. For chairs, we arrange tiny wooden blocks around the low table: I imitate Yoshi, who stacks two together to make a more comfortable seat.
Pak Untung, the chief, is dressed neatly in a blue polo, with a kind, handsome face and crow lines that crease every time he smiles or laughs. Everyone shakes hands with him before bringing them, gently, towards their chests. He grins when Wawan gives him a box of bak pia, a pastry filled with crumbly green bean, and passes it to his wife.
After we settle down, they begin a long chat. Their words are interspersed with easy silences, funny stories, and dramatic jokes which leave everyone roaring with laughter. Pak Untung tells them about the most recent harvest (“bad”, he says, but the men needle him and everyone laughs). Another man enters the house, an unplanned and unannounced visit – he joins us at the table. The men smile and tell me that in the village, you can talk to anyone you bump into. Everyone knows everyone else, and everyone is welcome, always. Already feeling the fatigue of so much interaction, I remain nevertheless charmed by the tightness of their social circles, and the warmth with which they treat each other. 
I am the only woman at the table. On the floortop fireplace two metres away, his wife cooks for us, spicy onion leaves, slices of omelette, fried fish, and souped up vegetables with corn rice. Soon the table is heaped with dishes, and we pile in. “No corn rice here means no rice at all,” Wawan remarks matter-of-factedly.

Pak Untung eating a banana from the huge stalk that Wawan has brought, earlier, Wawan received the banana fruits from the swaraOwa nursery plot in Sokokembang.

How Appropriate is Direct Trade?
Interpersonal ties are absolutely key in these sequestered mountain villages. Here, direct trade (which involves farmers trading directly with roasters, in small quantities and for higher  buying prices) seems like it should have potential. But as we sit on the bamboo gazebo out front (Pak E built it on his own from the bamboo trees that are abundant all around us), Wawan explains how some farmers, buoyed up by the high prices fetched by their first mini batch of beans sold via direct trade, shift their land to farm far more coffee, not realizing that the amount the direct trader can purchase from them is limited. And what about fellow villagers, drawn by monetary promise into an enterprise that then blasts away at ecological stability and biodiversity in the area?
Everything is interlinked in a web of cause and effect, and the best overall outcome from direct trade may be effected only if we recognize that its ripple effects extend beyond just the two parties who engage in the sale, and far beyond the money – with implications for both community ties as well as environmental sustainability.
Robusta coffee in the shaded canopies of Hutan Sokokembang
Coffee naturally grows under shaded tree canopies, and traditionally this has allowed coffee cultivation to be a key part of sustainable agro-foresty systems combining tree species, coffee, and other agricultural commodities[5]. Due to the forces of capital supply and demand, however, monoculture and sun-grown coffee are now de rigour.
Should this transition from shade- to sun-grown take place here, in the villages of the Sokokembang Rainforest, the future of the primates who dwell in the canopies will be hit, hard. This is part of a trajectory that SwaraOwa hopes to prevent.

The vibrant rainforest is key to preserving the endangered Javanese gibbons and leaf monkeys in the region.

Slow Change
Kula boten mangertos – I don’t understand. This is the extent of my Javanese, so in the villages, where most people speak only Javanese, what I gather from the conversations comes from my fragments of Bahasa, and Wawan, Yoshi and Sidiq translating interesting bits into English for me.
In Sokokembang village, where we spend three nights, the camaraderie between Pak E, Mak E and the Swara Owa team is palpable. We spend the afternoons on the front porch, chatting, sipping tea and coffee while sitting on lesehan (floor mats prevalent throughout Central Java). The coffee is thick and heavy with grounds, and on the second day I opt for tea. Once, the sole village midwife – an elderly lady who’s at least 70 years old, and hobbles swiftly on bare feet – stops by, sits down for a chat, and asks me if I’m a man or woman, a question I’ve become used to by then; my short hair perturbs people. And sometimes, we simply sit in silence, listening to the birds calling from the trees. 
During our trip to Gondang village, we spend two hours in the chief’s house. For most of that time, the conversation covers everything except coffee and the forest. We eat lunch, laugh uproariously, and smoke countless cigarettes, tossing the finished butts into the low wood fire. Once, Sidiq heads out and when he comes back, tells us: “There was a minor earthquake!”
The biggest element in this conservation project is trust-building. It is the iffiest element, impossible to copy and paste wholesale, and the fruits that I witness are thanks to years of trial and error by Wawan and his team. “Each village is different. For example, in Gondang Pak Untung is very well-loved by all the people, so we began circulating our posters through him. When he needs help at the house, everyone shows up, even when he doesn’t ask. But Sokokembang is totally different; most of the houses here are families [blood-related in some way], and so everything we do is a little trickier, more complicated. People are more difficult to convince. But over the years we build trust with the people.”
All this requires endless patience and commitment, and in this environment one begins to appreciate that one of the ingredients for success is the passage of time.

What’s a coffee drinker to do?
1.       Ethics and Sustainability: This is a toughie. Fair Trade coffee beans are not equal – their sale doesn’t benefit all member farmers equally; this depends on the cooperative the farmers belong to. Rainforest Alliance certification is far more holistic in its concern for both financial and environmental sustainability, but only requires that 30% of the beans in certified bags satisfy these conditions. There’s also another certification that’s a radical breakaway from these – called the Small Producers’ Symbol, it’s owned and run by producers in the South (instead of the North), and is meant to ensure that administrative fees are far lower (one-fourth) and that more of these (a third) go back into the cooperatives[6]. Still, for now it remains carried by just a handful of roasters in the USA, Canada, and France[7]. Ultimately, your choices will depend on what’s available around you and on the kind of information you can get about the specific farms or beans you’re purchasing. 
2.       Taste: What about us coffee snobs? Those who look out for acidity, body and sweetness in their cuppa? Those sneaky ones who know the difference between an Ethiopia Yirgacheffe Kochere and a Panama Geisha? Despite its limitations, buying direct trade coffee can offer a good balance between coffee quality, monetary fairness for the farmer, and sustained biodiversity in the coffee-growing region. Generations will feel the impact of our choices today - it's a small world that we share with wildlife and nature!
3.       Everything: We can start by genuinely caring about our neighbours near and far, and acknowledging the implications of the coffee we buy without allowing uncomfortable knowledge to paralyze us. Instead, turn that into a positive emotion! The most impactful people I know are always fighting for change whilst staying grateful for what they have access to.
Ultimately, that hardest bit might be recognizing the issue for how complicated it is, and reigning in the temptation to simplify things and magic up silver bullets to make ourselves feel better. Using that knowledge to move in small ways closer towards fairer trade is perhaps the best that any of us as consumers can do.

About Adeline Chang

Adeline is a restless ex-barista who's fallen in love with growing food sustainably, breathing in the splendour of wilderness, and dancing through the thick and thin of life.

Friday, December 7, 2018

Legenda Owa Jawa : Onomatopoeia

Owa Jawa (Hylobates moloch)

Cerita asal usul tetang kera kecil ini berasal dari Pegunungan Dieng Bagian barat, masuk dalam wilayah Kabupaten Pekalongan. Rangkaian pegunungan yang saat ini menjadi benteng pertahanan terakhir untuk Owa, di Pulau Jawa. Catatan penelitian tahun 70 an  hingga 80an, mencatat sebaran owa ini mulai ketinggian hutan pantai  hingga hutan pegunungan 1500 meter di atas permukaan laut.

Melihat sejara sebaran owa, yang dari hutan dataran rendah hingga ke pegunungan, sangat mungkin bahwa Owa ini juga mempunyai hubungan cukup erat dengan manusia-manusia disekitar tempat hidupnya.

Mencoba melihat sisi lain untuk mengarusutamakan upaya pelestarian primata endemik Jawa, setiap bekunjung ke dusun-dusun tepi hutan, cerita-cerita asal usul Owa ini di pastikan ada, meskipun terbatas pada orang-orang tua, yang rata-rata berusia di atas 60 tahun.
Seorang anak yang diajak ke hutan kemudian ditinggal di hutan, dan kemudian memanggil, manggil pamannya “uwa..wa..uwa’’..dengarkan cerita versi pertama disini :

Owa adalah binatang arboreal, kera kecil tak berekor yang selalu hidup di pohon, dan biasanya warga sekitar mengenal dari suaranya, meskipun tidak melihat langsung seperti apa wujudnya. Berada di pohon,di hutan yang rapat, namun suaranya bisa terdengar keras hingga 2 km. Sebuah Onomatopoeia, menamakan binatang berdasar suaranya. Dinamakan Owa karena suaranya Uwa...wa..wau..wau...wa., kadang sering juga bertemu warga sekitar hutan mengenal owa memang dari suaranya, ketika mendiskripsikan secara ciri-ciri morphologi kurang begitu jelas kalau itu adalah owa yang dimaksud.

Simak rekaman video wawancara dengan Bapak Riyanto  (Korep) 70 tahun, warga dusun Glidigan, Tlogohendro, Pekalongan.

Memasukkan perspektif budaya sekiranya juga harusnya menjadi bagian dari pembangunan konservasi berkelanjutan, dan mungkin hal ini juga bisa menjadi masukan untuk pengambil kebijakan. cerita-cerita lama,seperti legenda menjadi metode tersendiri untuk membangkitkan semangat pelestarian owa dan hutan segala isinya, membangkitkan rasa bangga bahwa kita memiliki primata yang tidak ada belahan bumi manapun selain di Jawa.

Daftar Pustaka

Kappeler M. 1984. The gibbon in Java. In; Preuschoft H, Chivers DJ, Brockelmann WY, Creel N, eds. The lesser apes. Evolutionary and behavioural biology. Edinburgh: Edinburgh University Press, 19-31

Assaneo MF, Nichols JI, Trevisan MA. The anatomy of onomatopoeia. PLoS One. 2011;6(12):e28317.

Thursday, November 22, 2018

Camera trap : mengungkap hidupan liar hutan Sokokembang

camera trap dan alat perekam suara 

Baru baru ini kegiatan konservasi di hutan Sokokembang, sedang menguji coba peralatan  untuk  monitoring keanekaragaman hayati, dan hal ini merupakan bagian dari program pengenalan hidupan liar dan hutan pada umumnya, bahwa hutan adalah tempat hidup hidupan liar sebagai bagian dari kampanye penyadar tahuan untuk mengajak mengenal hutan dan melestarikan habitat asli yang tersisa di Jawa bagian Tengah.
Pemasangan camera trap

Camera trap, adalah alat untuk menangkap gambar foto atau video dari hidupan liar, alat ini berfungsi secara otomatis dengan sensor gerak atau inframerah. Keuntungan camera trap ini dapat bekerja mengumpulkan foto-foto di tempat-tempat yang susah di jangkau, dalam periode waktu tertentu dan dapat digunakan untuk mengenali perilaku hidupan liar, yang sangat sensitif dengan kehadiran manusia. Penelitian-peneltian menggunakan alat ini dapat mengetahui perilaku, populasi,mangsa- predator dan juga ancaman hidupan liar, misalnya untuk investigasi perburuan dan ancaman lainnya.

musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus)

Lutung ( Trachypithecu auratus)
Rekrekan (Presbytis comata)

Salah satu hasil camera trap yang di pasang selama kurang lebih 2 bulan, mendapatkan foto jenis-jenis primata pemakan daun yang ada di Sokokembang di dapati sedang mencari makan di atas tanah. Ada pengalaman juga ketika memasang camera trap ini lupa menyeting waktu dan tanggal, ketika sesudah mengganti battery, seperti terlihat pada foto di bawah ini, yang bertahun 2008.
Foto camera trap ini juga mencatat keberadaan satwa dilindungi seperti Kijang, Rekrekan, Lutung dan  Binturong.

belum teridentifikasi ekor siapa ini?

Babi hutan

Meskipun masih bersifat ujicoba, teknik pemasangan dan target hidupan liar, dari hasil camera trap ini diantaranya menghasilkan foto-foto dan video yang sangat jarang di temui ketika pengamatan secara langsung. Dalam uji coba ini pemasangan camera trap juga ada yang di letakkan di atas permukaan tanah dan di atas pohon. Analisis terhadap foto-foto hasil camera trap sangat penting, karena merupakan informasi penting terkait waktu,sebaran,  pola pergerakan  perilaku dan banyak kemungkinan lainnya. Tergantung tujuan pemasangan camera trap,dan sepertinya akan terus kita membuka  komunikasikan dan kemungkinan kerjasama dengan pihak terkait ataupun peneliti-peneliti yang tetarik untuk mendalami kegiatan camera traping ini. 

Rekrekan (Presbytis comata) terangkap sedang memakan buah Nangka

Thursday, November 15, 2018

Tabungan ekologi : Serangga pollinasi

Akhir tahun 2017, kita pertamakali mencoba mengenalkan teknik budidaya lebah kepada warga sekitar hutan habitat Owa di Pekalongan (baca disini liputannya). Berawal dari pengamatan sehari-hari ketika musim kemarau memang banyak sekali pemburu lebah madu, ada beberapa warga yang sudah mencoba membudidayakan dengan metode tradisional.  Artinya pengetahuan dan praktik budidaya sudah ada hanya perlu di tingkatkan pengetahuan dan prakteknya.

Melihat tempat lain sebagai referensi juga sangat membantu pengetahuan budidaya lebah ini, terutama membangun sesama pegiat lebah saling tukar pengalaman dan pengetahuan. Sisi ekonomi juga sudah mulai muncul, karena madu juga di banyak di jual belikan di dusun-dusun sekitar hutan.
Seperti tulisan terdahulu, lebah klanceng sangat potensial untuk dikembangkan untuk mendukung pelestarian hutan habitat owa, pengelolaan yang berkelanjutan menjadi tantangan ke depan, karena selain ada nilai ekonomi, budidaya lebah juga sangat erat kaitannya dengan sistem budidaya pertanian yang ramah lingkungan. Dan sangat sesuai apabila di terapkan dalam sistem agroforest, sebagai kawasan penyangga hutan habitat Owa.
Sedang memeriksa kotak lebah di Ds.Sokokembang

Di Sokokembang kini ada salah satu alumni pelatihan tahun lalu yang terus mencoba pengembangan budidaya Klanceng ini, pengalaman setahun ini dimulai dari koloni liar yang coba di domestikasi dan di kembangkan di sekitar rumah. Sudah ada sekitar 20 kotak, lebah yang terus di pantau perkembangannya. Ada yang pergi, ada yang mati, ada yang di serang kelompok lebah lain, menyesuaikan ukuran kotak lebah, dan produksi madu dapat di pantau selama setahun ini, dan sepertinya untuk melangkah ke sisi bisnis, juga masih perlu waktu dan ketekunan.
Budah durian di dusun Mendolo, setelah 1 minggu usai berbunga
Di Dusun Mendolo, kita juga mempunya tempat belajar tentang lebah ini, hampir semua warga dusun sudah mengenal lebah klanceng, berburu madu hutan menjadi pekerjaan sampingan yang utama ketika musim kemarau. Bukan hal baru tentang lebah madu, tapi selalu ada yang baru untuk dipelajari dari kegiatan ini. Salah satu warga di dusun ini saat ini juga mempunyai kurang lebih 30 kotak lebah, dan melihat hal ini beberapa tetangga juga sudah mulai ada yang memelihara 1-3 kotak di sekitar rumah. Pengalaman yang berbeda dengan di Sokokembang juga memunculkan hal-hal yang tidak di perkirakan sebelumnya, misalnya, kondisi sekitar tempat budidaya adalah banyak sumber bunga, produksi madu juga sangat melimpah.
kotak-kotak lebah di sela-sela tanaman kebun sekitar rumah
Lebah, T. itama di hutan habitat Owa Jawa

Catatan publikasi terbaru tentang populasi serangga termasuk di dalamnya lebah dan kumbang, di bebebrapa negara tropis mengalami penurunan yang cukup drastic. Tahun 2014 para ahli serangga dunia telah memperingatkan bahwa telah terjadi penurunan hingga 45%. Dan tahun 2017 publikasi terbaru ini telah mengalami penurunan hingga 75 %. Tentu saja hal ini di peroleh dari data yang informasi tentang serangga ini sudah cukup tersedia dengan baik.  Dari tulisan tersebut sangat sederhana indikatornya, dan mungkin bisa kita coba juga di tempat kita. Kalau berkendara malam hari dalam jarak tertentu berapa banyak serangga yang menabrak kaca mobil kita, atau lampu depan kita? Karena serangga bisanya mencari arah datang sumber cahaya kalau malam hari.  Bisa anda ingat waktu kecil anda kalau sering naik motor atau mobil malam hari sering nggak nabrak serangga terbang malam hari? dan kalau anda ingat, bandingkan dengan sekarang apakah serangga yang menabrak anda ketika jalan malam hari lebih banyak sekarang atau jauh lebih sedikit?

Apa nilai pentingnya serangga? Lebih dari 70% species binatang adalah serangga. Mungkin bisa saja kita katakan sekedar serangga, tapi merekalah yang membuat sistem ekologi di bumi berputar. Serangga menyerbuki tanaman pangan yang kita makan (sayuran, durian, mangga, pisang, pohon buah di hutan), serangga merupakan pengendali alami hama tanaman pangan, ada juga serangga-serangga yang khusus menguraikan sampah-sampah kita. 
Ya mereka sangat penting untuk kehidupan kita. Kehilangan para serangga bisa terjadi bencana ekologis !!
Owa jawa primata pemakan buah
Sentul, atau kecapi  (Sandoricum sp) salah satu buah kesukaan Owa

Kegiatan-kegiatan di sekitar hutan, sebagai pendukung untuk menjaga hutan tetap ada seperti hutan berdasarkan hubungan saling ketergantungan inilah menjadi salah satu yang coba terus di arus utamakan dalam bingkai  konservasi Owa jawa. Prinsip ekologis yang saling terkait,  peran penting hidupan  liar untuk kehidupan , dalah hal yang mudah di baca atau di ucapkan, namun pelaksanaan dari ide atau gagasan itu tidaklah semudah yang ada dalam tulisan, karena madu memang tidak selalu “manis”.

Sumber bacaan :

Wednesday, October 31, 2018

Sorak Sorai Anak-anak Bukit Santuai: Harapan Bagi Konservasi Owa

Liputan Hari Owa Sedunia 2018 di Bukit Santuai
oleh : 
Salmah W ( dan Ika Y Agustin (

SD Tunas Agro 2 
 Siang itu, sungguh takjub kami melihat antusias siswa-siswi SD Tunas Agro menyambut kegiatan esok pagi. Ya, tanggal 24/23 Oktober 2018 lalu kami memperingati Hari Owa Sedunia 2018 bersama siswa-siswi SD untuk mengenalkan owa dan satwa primata lainnya di area HCV PT. Agro Wana Lestari (AWL). Kegiatan ini adalah hasil kolaborasi SwaraOwa dengan Goodhope Asia Holdings melalui PT. AWL, unit perusahaannya yang beroperasi di Kalimantan Tengah. Satu hari sebelum kegiatan, kami berkunjung ke SD Tunas Agro untuk mendapatkan gambaran acara esok hari. Setelah mendapat penjelasan Pak Kepala Sekolah mengenai rencana teknis acara, kami diantar Pak Guru berkeliling sekolah dan bertatap dengan siswa kelas 4 dan 5 yang akan menjadi peserta edukasi konservasi owa. Selama kami berkeliling, kami menjadi pusat perhatian siswa-siswi dari dalam kelas, wajah mereka seperti sudah tak sabar diajak bermain ke hutan esok hari bersama kami. 

Betul ternyata, Ibu Guru bercerita kalau siswa-siswi setiap hari selalu menanyakan tentang acara Hari Owa, nanti apa yang akan mereka lakukan, apakah akan masuk hutan, apakah mereka akan melihat owa dan sebagainya. Bukan hanya itu, mereka menghitung mundur hari sejak beberapa minggu sebelum hari H. “Ibu acara Hari Owa tinggal 6 hari lagi ya”.. “Wah tinggal 5 hari lagi ya Bu”..”Yeay tinggal 3 hari lagi”.. Kami menyaksikan langsung dan merekam (video) rasa penasaran mereka ketika Pak Kepala Sekolah memberi pengumuman di dalam kelas. Wah.. kami semakin semangat.

Tiba lah pagi hari, ternyata siswa-siswa sudah lebih dulu datang! Baiklah, kami tak meragukan sedikit pun kalau mereka betul-betul menghitung mundur hari menuju Hari Owa Sedunia ini. 13 Siswa-siswi siap, tim pemandu siap, langsung saja kami gandeng siswa-siswi melihat isi hutan Santuai.
Perjalanan ke lokasi Pengamatan Hutan Bukit Santuai
13 Siswa dibagi menjadi 2 kelompok, kemudian dipandu berjalan perlahan mengamati sekitar hutan. Sambil berjalan pemandu mengenalkan tanda-tanda keberadaan Owa dan jenis primata lainnya. Walaupun cuaca mendung, burung-burung cantik berterbangan dan hinggap menggoda di dekat kami. Beruntungnya siswa-siswi ini, sekelompok owa tertangkap mata telanjang kami meski hanya selama hitungan detik dan kelompok lainnya dari kejauhan menyanyikan morning call nya. Tak hanya itu, di akhir perjalanan sekelompok lutung terdeteksi dari warna dan gerakannya. Dengan bantuan perbesaran binocular (teropong) dan kamera, teridentifikasi kelompok lutung merah sedang menikmati sarapan pagi di satu pohon dengan “lutung hitam berdahi putih”. Tak mau ketinggalan, 1 ekor beruk mengecoh kami dari kejauhan yang terlihat seperti  owa.
Anak-Anak melihat langsung owa kalimantan
salah satu spot pengamatan primata Bukit Santuai

Owa Kalimantan ( Hylobates albibarbis)
Kelasi ( Presbytis rubicunda)
Lutung dahi putih (Presbytis frontata)

Sambil melangkah kembali ke titik awal, pertanyaan-pertanyaan unik dan polos mengenai owa menghujam kami “Kak, kenapa owa tinggal di hutan?” “Apakah owa binatang buas atau jinak?”. Mereka juga mengungkapkan kesan mereka untu pengalaman pertama kalinya mengamati satwa di Hutan. “Ternyata masuk ke hutan itu seru ya Kak, kirain capek dan bosen kak.” Serta ada pertanyaan yang menandakan mereka ingin mengamati satwa di hutan secara rutin. “Hari Owa Sedunia adanya setiap berapa tahun sekali Kak?” Jawab kami. “Setahun sekali”. “Berarti tahun depan ada lagi ya Kak? Yeaaay” dengan wajah penuh harap. Hmm.. bahagia rasanya melihat tunas-tunas muda ini antusias mengamati langsung owa dan jenis primata lainnya beraktivitas bebas di hutan Santuai. Berharap pesan dari kami mengajak mereka masuk hutan tersampaikan.
Foto bersama setelah pengamatan
Selepas dari hutan, tim swaraowa mengenalkan jenis-jenis dan ciri-ciri khas primata di Kalimantan Tengah, khususnya owa Kalimantan, ancaman di habitat aslinya, serta menyampaikan bagaimana cara ikut serta melindungi satwa-satwa liar di hutan, terkhusus hutan Santuai dan sekitarnya. Selanjutnya siswa-siswi diajak mengekspresikan imajenasi mereka mengenai Owa, Primata, dan Hutan melalui lomba menggambar. Melalui menggambar mereka memperlihatkan pesan-pesan yang kami sisipkan dalam kegiatan ini.

acara dalam kelas, lomba menggambar

Pemenang lomba menggambar

Setelah membagikan hadiah untuk 3 pemilik gambar terbaik acara ditutup dengan bersama-sama menggunakan topeng owa dan menirukan suara great call owa. Semua terlihat cinta dan bangga terhadap owa, siswa-siswa, Bapak Ibu Guru, maupun tim PT. AWL-Goodhope. Merupakan kesempatan yang luar biasa bisa merayakan Hari Owa Sedunia dengan berbagi pengetahuan pada anak-anak yang luar biasa semangatnya mengenali satwa unik yang tinggal di sekitar mereka, Owa.

Selamat Hari Owa Sedunia! Mari ikut melindungi owa dari perburuan liar dan kehilangan habitatnya.