Sunday, July 15, 2018

SwaraOwa di Kongress Asosiasi untuk Biologi Tropis dan Konservasi 2018


Bertemu dengan komunitas global, merupakan salah satu sumber pengetahuan yang selama ini  sangat berguna untuk membangun jaringan di tingkat internasional untuk pelestarian Owa di Indonesia. Hal itu sangat terasa sekali ketika swaraowa menghadiri acara kongres tahunan Associatio for Tropical Biodiversity and Conservation  (ATBC) tanggal1-5 Juli 2018 di Kuching, Sarawak, Malaysia.
Acara ini adalah pertemuan para peneliti, akademisi, pegiat konservasi, pemerintah, NGO, untuk mempresentasikan, ide, hasil penelitian, kisah sukses dan juga  tantangan kegiatan konservasi untuk keanekaragaman hayati di berbagai tipe habitat, di banyak negara-negara tropis asia pasifik. Kurang lebih ada 800 peserta terdaftar di acara ini,mewakili  60 negara.
Poster presentasi, di kongress ATBC Kuching, Sarawak, Malaysia 2018

Acara ini swaraowa membawa poster presentasi tentang kegiatan pengembangan komunitas disekitar habitat asli primata terancam punah di Jawa Tengah (Owa jawa) dan Kepulauan Mentawai (Bilou). Baca disini presentasi poster kami berjudul “ Grassroot initiative for conservation of Endangered Gibbon in Mentawai and Java” .  Kesempatan bertemu dengan para ahli, belajar metode-metode penelitian, aplikasi teknologi untuk konservasi dan lebih khusus lagi berjumpa dengan pemerhati primata dari berbagai negara menjadi ajang saling bertukar informasi dan membangun jaringan untuk pelestarian keanekargaman hayati. Saling menguatkan bahwa kita mempunyai keanekaragaman hayati yang menjadi identitas kita di komunitas global.

Meskipun kami terlambat 2 hari di acara ini, baru datang dan mempresentasikan kegiatan kami di hari ke-tiga, masih banyak presentasi-presentasi yang menarik untuk di ikuti. Beberapa presentasi yang sempat  kami ikuti mulai hari ke 3, di antaranya : presentasi dari salah satu keynote speaker berjudul “ Supermarkets – Superhigways : The wildlife trade in Southeast Asia, oleh Kanitha Krishnasamy (TRAFFIC), dan sungguh kalau melihat langsung presentasi ini betapa satwaliar bisa dibilang adalah komoditas yang nilai ekonominya sangat tinggi, dan ini melalui pasar illegal global. Perdagangan satwaliar inilah, yang menghilangkan populasi di alam, melalui jaringan kriminal global, asia tenggara, sebagai pusat keanekargaman hayati tropis, ternyata juga menjadi jalur perdangangan utama, tempat transit, transaksi dan konsumen dari perdagangan satwaliar di asia sendiri, bahkan dunia.Beruntung sekali menemukan rekaman presentasi ini di youtube, simak disini :



Ada presentasi lain, tentang prediksi kepunahan beberapa species mamalia di sunda land, terkait dengan teori island biogeography dan pengaruh manusia, di presentasi ini menyebutkan Owa dari Mentawai (Hylobates klossii) yang di prediksi mengalami kepunahan di massa mendatang. Presentasi-presentasi tentang community development dan pembangunan berkelanjutan juga menjadi topik khusus juga dan sepertinya juga di beberapa tahun kedepan akan mejadi tema besar dan terus berkembang, melihat banyaknya presentasi di bidang ini, 3 hari terakhir symposium.

Simposium khusus tentang penelitian dan konservasi jenis-jenis Owa di hari terakhir, kami melakukan live tweet di acara ini, baca thread nya disini :


informasi lebih lanjut baca di http://atbc2018.org/

Monday, July 9, 2018

Pelatihan Jurnalistik : Melatih kemampuan menyampaikan berita konservasi


Ketika mendapat email berisi undangan tentang pelatihan Jurnalistik dari Borneo Nature Foundation (BNF) merasa sangat beruntung sekali, karena inilah dari beberapa skill khusus yang di saat ini sangat di butuhkan di dalam sebuah tim konservasi, dan sudah lama menantikan pelatihan semacam ini terkait dengan konservasi atau pelestarian alam. Jurnalism, kalau di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia Jurnalistik berarti kewartawanan, berasal dari suku kata warta, atau berita. Wartawan atau journalist  orang yang menyampaikan berita, berdasarkan KKBI online wartawan/ juru warta : orang yang pekerjaanya mencari dan menyusun berita untuk dibuat dalam surat kabar, majalah radio televesi,  atau media massa lainya video documenter, juga melalui internet, dan media sosial .
Mas Een dari Infis, peran video dokumenter penting bagi konservasi

Tanggal 23-26 Juni, bertempat di kota habitat  7 jenis primata Kalimantan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menjadi motivasi tersendiri untuk memenuhi undangan pelatihan ini, melihat langsung primata di habitat aslinya. Orangutan, owa, lutung merah, adalah beberapa primata Kalimantan yang masuk dalam daftar harus dilihat kalau ke Kalimantan. Selain itu motivasi untuk ikut bergabung dengan acara ini adalah untuk mengasah ketrampilan menyuarakan mereka yang “tidak bisa bersuara”, menyuarakan pelestarian hidupan liar dan keberlanjutan lingkungan sekitar kita.
Tira dan Sue memandu acara pelatihan 

Ada 2 jurnalist internasional yang di undang memandu acara ini yaitu,  Tira Subbart dan Sue Phillips, keduanya adalah journalist pemenang berbagai penghargaan internasional yang kini selain bekerja sebagai jurnalist, kedua sahabat ini juga  beraktifitas untuk konservasi Badak di Afrika. Tira Subbart bisa di baca profilnya disini http://www.tirashubart.com/index.html, dan Sue Philiphs adalah Network Director Aljazeera baca disini : https://www.independent.co.uk/news/media/my-life-in-media-sue-phillips-837999.html.

Hari pertama pelatihan Tira dan Sue , menekankan bahwa informasi tentang konservasi ini harus dengan mudah di sampaikan kepada audience, oleh karena itu target audience juga perlu pertimbangan, pemilihan bahasa untuk komunikasi. Misalnya bahasa untuk warga sekitar hutan, tentu sangat berbeda dengan menulis berita untuk para pembuat kebijakan, untuk publik, juga untuk target donor atau pihak-pihak yang telah mendukung program konservasi yang sedang kita jalankan.
Sue philiphs, menekankan pentingnya International audience, karena biasanya public  international lebih tertarik dengan berita-berita tentang hidupan liar dan konservasi. Contohnya tentang berita kematian Badak putih beberapa waktu lalu, menjadi headline hampir semua media mainstream. Sue juga menekankan kita sebagai feeder  untuk para jurnalist, karena kita punya keterbatasan menulis dan bahasa yang kadang terlalu akademis. Cotohnya kita memberikan informasi kepada jurnalist dan jurnalist akan menulis dan menyebarkan ke seluruh dunia melalui jaringan penyiarannya.

Budaya jurnalisme di Indonesia mungkin juga ada bedanya dengan jurnalisme di beberapa negara maju, hal ini juga menjadi topik diskusi bersama bahwa kondisi di daerah, dimana merupakan habitat asli keanekaragaman hayati belum mempunyai porsi yang cukup, di koran misalnya berita lingkungan ini sangat sedikit sekali di tampilkan. Dan juga seringkali untuk di banyak daerah di Indonesia untuk menampilkan berita juga harus mengeluarkan biaya tidak sedikit, untuk sebuah event yang dimuat di harian surat kabar. Kadang meskipun sudah ada biaya untuk mengundang jurnalist datang beritanya juga tidak dimuat. Membangun budya jurnalisme yang sehat masih menjadi tantangan tersendiri untuk berita-berita konservasi dan keanekaraman hayati.

Teknik-teknik penyampaian informasi juga menjadi kunci dari sebuah berita, profiling sebuah isu, berita positif seperti temuan keanekargaman hayati, atau keberhasilan sebuah upaya konservasi bisa menarik perhatian publik, selain berita negatif yang menyajikan kerusakan-kerusakan dan kehilangan keanekargaman hayati. Dan pemilihan kata-kata yang sesuai mudah di pahami oleh masyarakat luas akan mempermudah menyampaian pesan-pesan konservasi. Contohnya orang dengan mudah memahami bahwa laju kerusakan hutan di Indonesia ini seluas lapangan sepak bola per bulan, daripada ukuran 1 hektar per bulan.

Sosial media juga sangat penting saat ini digunakan, oleh karena itu juga harus di gunakan secara serius, untuk menyampaikan pesan-pesan konservasi. Tira menceritakan kenapa dia lebih memilih twitter untuk bersosial media, karena twitter ada faktor human intelligent disbanding facebook atau yang lainnya yang menggunakan  algoritma.
Peserta pelatihan, sedang mendengarkan pemaparan peneliti BNF

Rahmadi Rahmad dari Mongabay Indonesia juga turut berbagi pengalaman di acara ini, menceritakan kisah-kisah peliputan sebuah kasus konservasi yang terjadi di Indonesia. Yang terbaru adalah tentang gajah Bunta yang di racun dan di ambil gadingnya, foto-foto ketika Bunta masih hidup ketika bekerja digunakan untuk mengusir serangan gajah-gajah liar di tampilkan dan sangat sadis ketika gajah ini mati di racun dengan rahang mengaga lebar di potong gadingnya  (baca disini : https://www.mongabay.co.id/2018/06/10/tangkap-pembunuh-gajah-patroli-di-cru-aceh-timur/ ) Mas Rahmadi Rahamad, menjelaskan bahwa untuk berita-berita itu tidak perlu menunggu moment, tapi harus bisa menciptakan moment.

Een Erawan Putra, dari INFIS (Indonesian Nature Film Society) memberikan cerita di acara ini dengan pengalaman-pengalama memvisualisasikan informasi lingkungan dan dampaknyat terhadap pengambil kebijakan. Salah satunya adalah tentang tambang batu sinabar sebagai penghasil merkuri atau air raksa di Banten dan Maluku, dari liputan ini data-data penelitian pendukung sangat penting, dan ternyata saat ini Indonesia adalah penghasil merkuri terbesar di dunia, melebihi jumlah produksi merkuri yang pernah membuat penduduk di teluk Minamata, Jepang yang menderita cacat syaraf seumur hidup( baca :Minamata desease) . Visualisasi berita yang berdasarkan data-data ilmiah dan disajikan dalam grafis yang menarik akan membantu mengkomunikasikan isu penting di tingkat pengambil kebijakan. lihat di sini tentang liputan-liputan INFIS .

Fieldtrip dalam rangkaian pelatihan ini berkunjung  ke lokasi penelitian BNF di areal  rehabilitasi lahan gambut yang sejak tahun 90 an di Kelola melelaui proyek CIMTROP Universitas Palangkaraya. Melihat hutan gambut secara langsung , manfaat dan permasalahnnya sangat menarik di jelaskan oleh para peneliti dan staff BNF yang merupakan warga sekitar Sebagau, merekalah ujung tombak penelitian-penelitian yang dilakukan saat ini.
rel lori, yang digunakan menuju lokasi camp penelitian BNF

Kelasi (Presbytis rubicunda) teramati sedang istirahat

Di akhir acara, yang saya cari-cari akhirnya ketemu juga, Lutung Merah (Presbytis rubicunda) salah satu penghuni hutan rawa gambut Sebagau, Kelasi  nama lokal jenis monyet pemakan daun ini,  yang tersebar hampir di seluruh Kalimantan. Warna bulu yang coklat kemerahan dan wajahnya sangat khas berwana agak kebiruan  ada bantalan pipinya. Salah satu primata identitas Kalimantan, yang saat ini juga semakin susah di jumpai karena hutan sebagai habitat aslinya semakin hilang. Kami menjumpai kelasi ini sedang duduk tertidur di cabang di atas pohon yang tingginya kurang lebih 20 Meter. Jenis-jenis monyet pemakan daun ini mempunyai sistem pencernaan yang istimewa dengan ruang-ruang di lambung dan juga bakter fermentasi untuk mencerna daun-daun yang dicerna. Seringkali terlihat diam istirahat, namun sebenarnya monyet ini sedang bekerja untuk mencerna daun-daunan, hampir seperti sapi yang mempunyai kebiasaan diam, namun sebenarnya sedang mencerna makanannya. Hal yang menarik tentang sebagau ternyata Kelasi ini lebih dari 70 % makanannya adalah biji-bijian, dan konsumsi daun-danan ternyata di bawah dari yang di perkirakan untuk jenis-jenis monyet pemakan daun. Nah…kenapa seperti itu ya? Masih banyak yang menarik untuk dipelajari lagi…dan lagi…

Daftar pustaka :

EHLERS SMITH, D.A., Husson, S.J., EHLERS SMITH, Y.C. and Harrison, M.E., 2013. Feeding Ecology of Red Langurs in Sabangau Tropical PeatS wamp Forest, Indonesian Borneo: Extreme Granivory in a NonM asting Forest. American Journal of Primatology75(8), pp.848-859

Monday, June 25, 2018

Pengamatan primata : Kelas imajinasi untuk pemula


Menginspirasi generasi selanjutnya untuk mengenal alam dan lingkungan sekitarnya adalah penting untuk sebagai bagian upaya untuk melestarikan alam. Apa yang kita rasakan di sekitar kita 10-30 tahun yang lalu tentu sangat berbeda dengan apa yang anak-anak sekarang rasakan, terutama terkait dengan interaksi dengan lingkungannya. Gadget dan Internet lebih dekat dengan generasi sekarang, dan bermain di sungai, di sawah, mencari serangga tanah, tidak lebih menarik daripada main game atau di aktif di sosial media melihat, tokoh idola atau permainan yang sedang trending.
pengamat primata cilik dari Sokokembang


Sepertinya hal ini juga terjadi dimanapun, di kota, di kampong-kampung, desa, pinggiran kota, bahkan di desa-desa tengah hutan, meskipun dengan intensitas yang berbeda tentunya. Sebagi contoh di Sokokembang sebagai dusun di Tengah hutan hingga sejak beberapa tahun silam warga disini sangat intense berinteraksi dengan pendatang dari luar terutama yang terkait dengan hutan dan primata.  Interaksi secara fisik anak-anak dengan hutan sepertinya juga sudah mengalami perubahan, karena beberapa orangutan mereka juga berubah mata pencaharian dan apalagi orangtua baru yang mempunyai mata pencaharian yang tidak terkait langsung dengan hutan. Sepertinya juga butuh analisis yang lebih dalam tentang perubahan pola-pola interaksi ini.
 anak-anak sedang mengamati Lutung

Suatu hari anak-anak yang awal awal tahun kita berada di Sokokembang masih dalam gendongan atau baru lahir, kini anak-anak ini sudah berumur 5-8 tahun, mereka sering berkumpul di pedopo kopi Owa, sekedar main-main, dan sering juga mereka penasaran dengan apa yang kita lakukan. Mencoba camera, mencoba binokuler, dan bertanya apapun tentang apa yang mereka ingin tahu.
Kemudian kita singkatnya bersepakat dengan anak-anak ini, untuk mengajak mereka pengamatan primata, terlebih dahulu kita minta anak-anak ini untuk minta ijin orangtuanya. Hari yang di tentukan mereka datang lengkap, pakai sepatu, celana panjang, topi, bekal minum dan makanan kecil, dan tidak lupa alat tulis.

Mendampingi anak-anak pengamatan tentu sangat berbeda dengan mendampingi orang dewasa, seakan kelebihan energy, selalu muncul pertanyaan pertanyaan yang kadang tidak kita duga sama sekali. Mengamati pohon, owa, lutung, serangga secara langsung dan mendiskusikan secara sederhana dengan mereka tidak semudah menjelaskan kepada orang dewasa.


Membawa anak-anak ke alam, menjadi fenomena baru di beberapa kota besar, dan apakah ini hanya ikut-ikutan saja atau memang menjadi keresahan para penyelenggara pendidikan? 15-20 tahun mendatang anak-anak ini akan menjadi pelaku penting dalam pelestarian alam, organisasi dan pegiat konservasi di berbagai negara haibitat primata  juga melakukan strategi ini untuk anak-anak, meskipun juga banyak keterbatasan, namun pendidikan konservasi adalah pekerjaan bersama. Mendekatkan mereka kepada alam harusnya menjadi bagian dari strategi untuk melestarikan bumi dan isinya. Bisa kita mulai dari halaman depan rumah kita, hal kecil kehidupan yang sering kita lihat, dengar dan rasakan.


Bacaan :
Uhl, C., 1998. Conservation biology in your own front yard. Conservation Biology12(6), pp.1175-1177.

Monday, June 11, 2018

Diskusi Komunitas : Menyebarkan pesan Konservasi


Menyebarluaskan pesan konservasi dan pengalaman lapangan sering kali kita coba di kalangan yang sudah mengenal atau mempunyai latar belakang primata dan konservasi alam. Berbagai komunitas atau forum diskusi sangat beragam dan sepertinya beberapa tahun terakhir ini juga mulai marak kembali, meskipun banyak di antaranya bersifat fun , namun melalui komunitas-komunitas seperti ini pesan-pesan konservasi dapat menembus batas-batas pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan konservasi.
Seluruh peserta diskusi  (Foto :GPYID)


Kesempatan berharga bulan Ramadhan 2018, tim swaraowa bertemu dengan salah satu komunitas anak muda di Yogyakarta, yang tergabung dalam Greepeace Youth Indonesia Yogyakarta (GPYID). Awal mula pertemuan ini adalah, salah satu anggota GPYID ini pernah ikut dalam acara pelatihan metode survey primata tahun 2017 lalu. Dan inilah yang menjadi tujuan kegiatan pelatihan itu, yaitu membangun jaringan untuk pelestarian Owa jawa.
diskusi berjalan santai namun berkualitas (Foto : GPYID)

Sangat sederhana acara sore itu tanggal 3 Juni 2018, bertempat di AOA resto and  creative space,  di wilayah Seturan Yogyakarta, kurang lebih 25 peserta anak-anak muda GPYI dengan beragam latar belakang pendidikan dan pekerjaan berkumpul. Waktu 2 jam sepertinya sangat singkat, dan diskusi berkualitas, hangat berjalan dengan cerita –cerita lapangan kegiatan swaraowa yang awalnya hanya penelitian primata di jawa tengah, berkembang kearah pembangunan ekonomi berkelanjutan di tingkat site, habitat asli Owa Jawa.
Owa coffee sebagai media pembawa pesan konservasi (Foto : GPYID)

Pertanyaan kritis dan tajam juga di sampaikan peserta, mulai dari owa jawa itu sendiri, apakah beda antara monyet dan kera? Dampak wisata yang sedang berkembang di habitat Owa khusunya di Petungkriyono, hingga kebijakan pembangunan yang ramah hutan dan Owa. Produk-produk lokal berasal dari hutan dan sekitarnya merupakan potensi lokal yang tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, namun juga secara ekologi sangat penting untuk dipertahankan, sementara keberlanjutan dan kelestarian menjadi tantangan yang harus di hadapi. Tentunya hal ini menjadi penyemangat tim swaraowa bahwa hal kecil yang bisa kita lakukan saat ini masih terus berkembang dan banyak tantang kedepan untuk menyelamatkan salah satu identitas di Pulau Jawa ini.
Ucapan terimakasih kepada GPYID atas terselenggaranya acara ini dan foto-foto berikut adalah dokumentasi dari panitia diskusi sore itu.

Salam hijau.

Saturday, April 28, 2018

Seri Diskusi Konservasi #1 : “Penelitian Owa dan Lutung Merah di Kalimantan”

Lutung merah (Foto BNF)
Belajar  dari pengalaman dan keberhasilan kegiatan penelitian dan konservasi di tempat lain, tentu menjadi hal yang sangat istimewa. Permasalahan dan strategi pelestarian di tingkat site sudah pasti akan berbeda dari lokasi yang satu ke lokasi yang lain. Diskusi konservasi, pemaparan kegiatan lapangan, dan interaksi komunikasi secara langsung dengan pelaku pegiat konservasi menjadi motivasi tersendiri untuk terus melakukan kegiatan pelestarian alam.

Hal inilah salah beberapa hal yang mendasari swaraowa mengadakan seri diskusi konservasi, kebetulan sekali bulan April ini SwaraOwa bekerjasama dengan lembaga konservasi internasional yang berada di Kalimantan Tengah –Borneo Nature Foundation (BNF), ada kegiatan pertukaran staff untuk field visit. Seri dikusi konservasi yang pertama, telah sukses dilaksanakan tanggal 27 April 2018.

Owa Kalimantan (Foto BNF)

Acara di laksanakan di Welo asri, sebuah lokasi wisata edukasi yang sedang dibangun di habitat owa jawa oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono.Tim BNF di wakili oleh Eka Cahyaningrum (primate scientist), supian (koordinator peneliti lutung merah) dan Azis ( koordinator peneliti owa) dengan senang hati berbagi cerita lapangan untuk peserta yang mewakili beberapa lembaga dan organisasi yang tertarik dengan kegiatan ini.

Acara ini di hadiri oleh kurang lebih 40 peserta, dari mahasiswa, kelompok pecinta alam, BKSDA dan Petugas Penyuluh Kehutanan, dan beberapa pegiat media sosial  di Kab.Pekalongan. Acara dibuka oleh ketua pokdarwis Welo Asri (M.Kuswoto) dengan memperkenalkan wilayah petungkriyono secara umum dan kemudian di sambut oleh pemaparan singkat jenis-jenis primata oleh Salmah widyastuti (swaraowa).


Mendengarkan cerita lapangan tim BNF yang sangat berbeda kondisi alamnya dengan habitat Owa di Petungkriyono, memberikan gambaran langsung bagaimana kegiatan penelitian di hutan rawa gambut dataran rendah di Sebangau.  Azis dan Supian menceritakan suka duka ketika dilapangan yang membatu peneliti-peneliti dari dalam dan luar negeri, kondisi hutan rawa yang terendam air dan ketika musim kemarau mengalami kebakaran hebat, adalah hal luar biasa yang di lakukan, untuk mengumpulkan informasi ilmiah sebagai dasar ilmu pengetahuan dan masukan untuk pengelolaan keanekargaman hayati.

Eka, Supian dan Azis dari BNF menyampaikan presentasi

Secara umum Eka memparkan bahwa kegiatan kegiatan penelitian inilah yang membentuk sebuah organisasi yang solid, program penelitian, program pelaksana, dan tim pendukung, menjadi sebuah kesatuan organisasi yang saling melengkapi untuk melestarikan keanekaragaman hayati di Sebangau.
Sesi Tanya jawab, memunculkan pertanyaan yang cukup menarik karena dari penelitian di Sebangau terdapat kelompok owa yang di anggota kelompoknya yang betinanya lebih dari satu, dan hal ini sangat jelas di ceritakan oleh tim, bagaimana mereka mengikuti perubahan yang terjadi dalam kelompok ini, owa yang di kenal sebagai binatang yang setia pasangan, ternyata kondisi di alam kadang berbeda dengan teori yang selama ini berlaku. Perilaku owa Kalimantan juga sangat jelas di ceritakan tentang perilaku bersuara yang berbeda dengan perilaku bersuara owa di petungkriyono, dimana owa jantan dan betina melakukan panggilan bersama-sama (duet call).
Suasana diskusi

Lutung merah yang di kenal dengan Bahasa Dayak dengan nama Kelasi (Presbytis rubicunda) sangat menarik di ceritakan bagaimana anggota  dalam kelompok ini menjalankan fungsi sosialnya, individu lain yang dewasa akan menjanga dan menggendong bayi lutung yang di tinggal induknya, bayi lutung merah teramati lebih berani, dan mandiri, meskipun terpisah dari induknya, berbeda dengan bayi Owa yang selalu dalam gendongan selama hampir 3 tahun.

Foto bersama dengan peserta (Foto Suprio Y)

Seri diskusi konservasi ini, di tutup oleh tim swaraowa dengan harapan kedepan dapat membangun komunikasi antar pegiat konservasi di wilayah habitat primata terancam punah, saling tukar pengalaman dan informasi juga menjadi hal yang sangat mungkin untuk membangun kolaborasi yang lebih nyata untuk konservasi primata Indonesia.

Sampai jumpa seri diskusi konservasi selanjutnya. (Salam Hijau)

Monday, April 9, 2018

Nyanyian Owa Bukit Santuai



Ditengah perkebunan sawit, Kalimantan Tengah , di antaranya masih terdapat sisa-sisa tegakan hutan alami yang masih bertahan dan kalau kita perhatikan ada nyanyian Owa di antaranya . Perjalanan tim swaraowa bulan Maret 2018 ini menuju salah satu kawasan hutan alami yang tersisa di antara bentang alam monoculture, Kelapa Sawit.

Kota tujuan yang kami tuju adalah Sampit, Kabupaten Kota Waringin Timur. Keluar dari Bandara  Sampit nampak sekali atmosfer perkebunan dan industri minyak sawit, terasa. Ratusan mungkin bisa mencapai ribuan truk pengangkut minyak hilir mudik di jalan-jalan Sampit ini. Perjalan kami kurang lebih 6 jam, dari kota sampit, Bukit Santuai adalah nama kota kecamatan, yang di wakili oleh bukit yang memang tersisa vegetasi alamnya yang terletak di antara perkebunan Sawit.

Bornean-white bearded Gibbon (Hylobates albibarbis)

Pengalaman berbeda dan menambah pengalaman lapangan terkait dengan pelestarian primata di kalimatan tengah. Yang menjadi perhatian kami adalah jenis owa, di Kalimantan, mengupdate pengetahuan dan permasalahan konservasi yang sama sekali berbedan dengan di Jawa atau di Mentawai yang telah kami kunjungi.

Menurut Cheyne, et al 2016, saat ini taxonomy jenis Owa di Kalimantan dan umumnya Borneo yang memasukkan Malaysia dan Brunai, terdapat 4 jenis Owa, yaitu Hylobates funereusHylobates MuelleriHylobates albibarbis, dan Hylobates abboti. Sebaran geografis nya di batasi sungai-sungai besar dan pegunungan di bagian tengah-utara Kalimantan.

Pengamatan singkat kami di kawasan bernilai konservasi tinggi perkebunan sawit, Agro Wana Lestari masih menjumpai kelompok Owa, bahkan beberapa di antaranya juga terdapat di kawasan riparian yang terisolasi oleh habitat Sawit.  Simak video berikut Owa dan nyanyiannya  yang kami jumpai di hutan bukit Hawuk dan Bukit Santuai.


Kunjungan singkat ke beberapa desa sekitar habitat Owa kalimantan ini, terlihat masih ada kegiatan adat yang sangat terkait dengan alam sekitar. Penganut  kaharingan , membuat tempat-tempat khusus untuk orang yang telah meninggal melalui upacara adat. Ada tiang-tiang (sapundu) bernila sakral untuk menghormati orang yang telah meninggal, berukir binatang, seperti burung, monyet, bajing,  di makam-makam orang , menunjukkan pengetahuan mereka tentang alam di sekitar mereka.
tiang-tiang bernilai sakral berukir monyet


Refferensi :

Cheyne, S.M., Gilhooly, L.J., Hamard, M.C., Höing, A., Houlihan, P.R., Loken, B., Phillips, A., Rayadin, Y., Capilla, B.R., Rowland, D. and Sastramidjaja, W.J., 2016. Population mapping of gibbons in Kalimantan, Indonesia: correlates of gibbon density and vegetation across the species’ range. Endangered Species Research30, pp.133-143.



Wednesday, March 28, 2018

Owa Jawa Hutan Sokokembang

Infografis Owa jawa hutan Sokokembang, Petungkriyono

Info grafis primata hutan Sokokembang ini dibuat berdasarkan penelitian Setiawan et. al 2012, penelitian-penelitian dasar terkait data populasi dan ancaman merupakan informasi awal yang sangat penting untuk menentukan langkah konservasi yang lebih lanjut.  dari penelitian-penelitian seperti inilah kegiatan konservasi yang sekarang dilakukan berdasarkan prioritas permasalahan dan kemungkinan keberhasilannya di pilih untuk di lakukan.

Menyampaikan hasil penelitian agar mudah di pahami masyarakat luas sepertinya masih menjadi tantantang tersendiri bagi akademisi, apalagi di gunakan sebaga rujukan pengambil kebijakan masih sangat perlu untuk di arus utamakan. sebagai contoh ,di tingkat lapangan dinamika sosial ekonomi dan perubahan penggunaan lahan tentu terus terjadi dari waktu ke waktu, dan tentu sedikit banyak mempengaruhi kondisi Owa Jawa di Sokokembang hingga saat ini.

Owa Jawa

Yang sering di tanyakan  orang mengenai Owa jawa biasanya  ada berapa populasinya? apakah banyak atau tidak? dan  ini adalah pertanyaan logis, juga  penting tapi  populasi saja sebenarnya tidak cukup untuk yang menjadi kriteria untuk sebuah kelestarian. banyak faktor lain yang mempengaruhi, apalagi dalam jangka waktu tertentu. dan sebenarnya owa jawa hanya bagian kecil dari keseluruhan pengelolaan habitat yang melampaui bentang alam dan administratif. Terlebih lagi jenis-jenis primata seperti Owa jawa telah menjadi perhatian komunitas global.

Penelitian-penelitian yang terus di perbaharui juga tentunya akan sangat membantu mendorong upaya konservasi yang menyesuaikan dengan situasi terbaru juga. Populasi Owa jawa khususnya di hutan Sokokembang, umumnya di Jawa Tengah ini memang perlu di update lagi, mudah-mudahan ini menjadi prioritas pekerjaan bersama pihak terkait untuk memperbaharui informasi ini sebagai masukan untuk pengelolaan yang berkelanjutan.

Referensi :

Setiawan, A., Nugroho, T.S., Wibisono, Y., Ikawati, V. and SUGARDJITO, J., 2012. Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity13(1).