![]() |
| anak-anak di ajak mengenal pawon, dapur tradisional |
oleh : Sidiq Harjanto
Alam dan kehidupan di desa tepi hutan menyediakan segenap pembelajaran dan media pengembangan diri bagi tiap-tiap generasi. Berangkat dari pemahaman itu, kami merintis model pendidikan lingkungan “Generasi Lestari” di Desa Mendolo. Program pendidikan lingkungan ini bertujuan untuk membangun kesadaran akan keterhubungan antara manusia dan alam melalui berbagai aspek kehidupan, seperti: sosial, budaya, ekonomi, hingga proses mental. Membuka program edukasi di 2026, kami melaksanakan dua rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperkuat "akar" anak-anak terhadap desa tempat tinggal, dan membangun "jangkar" emosional di dalam diri mereka sendiri.
Simulasi bertamu, kenal pawon, dan belajar komoditas
Pada tanggal 15 Februari 2026, anak-anak diajak untuk mengenal identitas lokal. Desa bukan sekadar tempat tinggal secara fisik, melainkan sebuah ekosistem sosial dan ekologis yang kompleks dan saling berkaitan. Melalui pemahaman itu, tak ada salahnya memulai pendidikan lingkungan dari pembelajaran etika. Pada sesi pertama, anak-anak diajak melakukan simulasi bertamu dalam rangka belajar unggah-ungguh (tata krama). Anak-anak berlatih bagaimana mengetok pintu rumah orang, menyapa, memosisikan diri, dan menghargai ruang hidup orang lain. Dalam perspektif konservasi, tata krama adalah "perekat sosial" yang menjaga keharmonisan antar-warga. Hal ini menjadi modal penting dalam membangun upaya kolaboratif menjaga hutan dan lingkungan di masa depan.
![]() |
| Belajar tatakrama bertamu |
Selanjutnya, kami mengajak anak-anak memasuki pawon (dapur tradisional). Di sini, mereka belajar bahwa dapur bukan sekadar bangunan fisik yang berfungsi untuk memasak. Sebuah pawon adalah titik temu berbagai aspek. Termasuk antara hutan dan manusia. Di sanalah pusat pemrosesan energi yang mengoneksikan pangan dari alam dengan tubuh kita. Di dalamnya terdapat arsitektur unik yang penuh kearifan budaya, dan memenuhi aspek keberlanjutan dari kacamata ilmu pengetahuan modern. Misalnya, para-para di atas tungku untuk penyimpanan bahan pangan dan kayu bakar merupakan bentuk kaskade energi. Melalui teknologi vernakular, leluhur kita secara intuitif telah memahami prinsip termodinamika canggih melampaui zamannya. Tidak hanya berhenti pada teknologi, dapur tradisional juga sarat akan etika, seperti: pantangan menyisakan makanan.
Sebagai salah satu bentuk pembelajaran kontekstual, anak-anak mengikuti proses pengolahan kluwek (Pangium edule) bersama para ibu dari KWT Brayanurip. Dengan melihat, memegang, dan mempraktikkan pengolahan secara langsung, mereka mengenal kluwek sebagai salah satu komoditas unggulan Desa Mendolo. Mengenal keunikan proses pengolahan dari biji yang mengandung racun asam sianida hingga menjadi bahan pangan yang gurih setelah difermentasi. Anak-anak belajar tentang kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam yang kompleks, menjadi produk bernilai ekonomi.
Permainan Charades untuk pembelajaran emosi
Memasuki bulan Maret yang bertepatan dengan bulan Ramadan, fokus kegiatan bergeser ke arah "ekosistem internal" manusia, yaitu emosi. Momentum puasa menjadi laboratorium untuk mempraktikkan pengenalan emosi. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi sebuah latihan mengelola emosi dan melatih kesabaran. Bertajuk “Detektif Rasa: Menjelajahi Peta Emosi”, pada 10 Maret 2026, anak-anak diajak menjelajahi belantara emosi sebagai sisi penting kepribadian seorang manusia.
![]() |
| Charades emosi |
Melalui permainan “Charades” yang interaktif, anak-anak diajak untuk mengenali spektrum perasaan mereka. Satu orang peserta memperagakan ekspresi emosi dasar, seperti: senang, sedih, marah, takut, dan jijik. Para peserta yang lain menebak jenis emosi yang sedang diperagakan. Secara bergantian, mereka berlatih memahami diri sendiri dengan cara yang asyik. Pada sesi refleksi, anak-anak bebas menceritakan perasaan mereka tanpa dihakimi. Setiap emosi adalah valid, namun respon terhadapnya perlu dikelola.
Menurut Daniel Goleman, kemampuan mengenali perasaan sendiri adalah keterampilan paling dasar dari kecerdasan emosional (emotional intelligence)1. Kita perlu membangun skema konservasi yang tidak hanya bertumpu pada kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional. Anak yang mengenal emosinya akan lebih mampu berempati terhadap sesama, termasuk kepada satwa liar di alam, seperti Owa Jawa yang “bertetangga” dengan mereka.
Dalam konteks program konservasi kolaboratif antara SwaraOwa - PPM Mendolo - KWT Brayanurip, rangkaian kegiatan ini merupakan upaya kami untuk memastikan bahwa inklusivitas habitat dimulai dari inklusivitas pendidikan. Dengan membekali anak-anak keterampilan tata krama, pemahaman tentang komoditas, dan kecerdasan emosional, kita sedang membangun fondasi bagi generasi penjaga hutan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beradab, dan tangguh secara mental. Salam Lestari!
Ref: Goleman, Daniel. Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosional. Cet. 20 Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2020.



%20di%20halaman%20Briliant%20English%20Course,%20Kampung%20Inggris,%20Pare.jpg)








