Friday, February 17, 2017

Cinta Lebah Indonesia

ditulis Oleh:
Sidiq Harjanto
email : sidiqharjanto@gmail.com

Berternak lebah menghasilkan madu juga membatu produksi tanaman pangan
Selain menghasilkan produk madu yang bernilai ekonomi, lebah memiliki peran yang sangat penting dalam membantu penyerbukan berbagai jenis tanaman tropis, dalam hal ini hutan pada umumnya. Lebah penghasil madu di Indonesia didominasi oleh 3 jenis yaitu Apis dorsata, A mellifera, dan A cerana. Lebah madu A. mellifera sendiri bukan merupakan jenis asli Indonesia, dan sengaja didatangkan ke dalam negeri sebagai lebah penghasil madu. Sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia memiliki banyak jenis lebah asli (native bee) yang menghasilkan madu.  Dari marga Apis tercatat ada A. andreniformis, A. cerana, Apis dorsata, A. koschevnikovi, dan A. nigrocincta.
 Lebah hutan (Apis dorsata) hidup di habitat hutan yang relatif masih baik, membangun sarang terutama pada dahan-dahan pohon. Menghasilkan madu lebih dari 5 liter perkoloni, lebah ini masih menjadi salah satu pemasok kebutuhan madu nasional. Jenis lebah lokal asli Indonesia lainnya, Apis cerana, cukup banyak dipelihara oleh para peternak skala kecil di pedesaan. Produksi madu dari jenis ini tidak terlalu melimpah namun banyak diburu karena kualitasnya dianggap lebih bagus dibandingkan madu dari lebah impor.
Apis cerana, salah satu lebah asli Indonesia
Barangkali sedikit dari kita yang mengetahui bahwa selain lebah-lebah dari marga Apis, kita memiliki kelompok lebah lain yang potensial untuk menghasilkan produk-produk lebah (madu, polen, propolis). Lebah-lebah tersebut menghuni hutan-hutan yang kita miliki, beberapa jenis bahkan telah beradaptasi hidup di sekitar pemukiman. Uniknya, mereka tidak mempunyai sengat. Lebah tanpa sengat dikenal dengan berbagai nama lokal. Sebutan-sebutan tersebut antara lain kelulut (Melayu), klanceng (Jawa), teuweul (Sunda), gala-gala (Sulawesi), dll. Jenis lebah tanpa bersengat di Indonesia berdasarkan catalog Indomalayan Stingless Bee (Rasmussen, 2008) setidaknya ada 35 jenis. Lebah tanpa sengat dalam satu suku dengan Apis, termasuk dalam suku Apidae, tribus Meliponini.
Taksonomi
Kindom
Filum
Kelas
Bangsa
Suku
Tribus
Marga
: Animalia
: Arthropoda
: Insecta
: Hymenoptera
: Apidae
: Meliponini
: Geniotrigona, Heterotrigona, Lepidotrigona, Sundatrigona, Tetrigona, Tetragonula, dll.
 
lebah tanpa sengat Heterotrigona itama (yang besar) dan Tetragonula cf laeviceps

Lebah tanpa sengat hidup dalam koloni dengan pembagian tugas yang jelas (eusosial). Dalam satu koloni terdiri dari satu atau lebih ratu, ratusan lebah jantan, dan ribuan lebah betina steril. Tugas ratu adalah bertelur untuk menghasilkan keturunan baru. Tugas lebah jantan hanya kawin. Sedangkan lebah betina steril memiliki berbagai tugas seperti mengumpulkan pakan; menjaga sarang; dan merawat ratu, lebah jantan, dan lebah-lebah muda.
Semua jenis lebah tanpa sengat diketahui bersarang pada lubang, dengan satu pintu masuk yang dilengkapi dengan sistem keamanan. Karena tidak dilengkapi dengan organ penyengat sebagai pertahanan diri, mereka membangun sarangnya dengan suatu sistem keamanan yang unik guna menjaga sarang dari ancaman penyusup maupun penyakit. Pemilihan sarang pada lebah tak bersengat cenderung menunjukkan adanya variasi. Misalnya jenis Heterotrigona itama cenderung memilih lubang-lubang pohon sebagai tempat membangun sarang. Heterotrigona thoracica cenderung memilih lubang-lubang batuan atau pohon dengan diameter batang yang besar. Sedangkan jenis Tetragonula laeviceps, sebagai jenis yang cukup umum, cenderung lebih pragmatis dalam memilih media sarang. Mereka bisa menghuni ruas bambu, lubang pada cacat bangunan, pipa, dll.
sarang lebah tanpa sengat

Seperti lebah Apis, lebah tanpa sengat juga mengumpulkan nektar dan polen sebagai makanan. Nektar diproses menjadi madu, sedangkan serbuk sari digunakan untuk makanan ratu lebah dan larva lebah. Baik madu maupun serbuk sari (roti lebah) disimpan dalam kantong-kantong yang terbuat dari campuran resin tanaman dan lilin lebah, sebagai cadangan makanan.
Di sisi lain, lebah berukuran kecil –tidak lebih besar dari lalat- ini juga menghadapi ancaman serius oleh semakin terdesaknya habitat mereka. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia merupakan salah satu negara dengan laju kehilangan hutan yang tinggi di dunia. Hilangnya hutan sebagai habitat utama lebah tanpa sengat menyebabkan hilangnya banyak populasi lebah dari kelompok ini di berbagai tempat. Beberapa jenis tertentu masih mampu bertahan di habitat yang kurang bersahabat, namun mereka juga menghadapi masalah dalam menemukan tempat untuk bersarang. Tak heran jika lebah-lebah mungil tersebut terkadang dijumpai bersarang di tempat yang kurang layak.
Besarnya keanekaragaman jenis lebah tanpa bersengat; dengan variasi dalam ukuran tubuh, perilaku, dan relung habitatnya; menjadikan mereka memiliki peran dominan dalam penyerbukan. Penyerbukan bunga pada beberapa jenis tanaman diduga sangat tergantung dengan keberadaan lebah. Dengan manfaat yang sedemikian besar, kiranya diperlukan upaya serius guna menjaga kelestarian lebah tak bersengat di Indonesia

 Save our native bees!


Rasmussen, C. 2008. Catalog of Indomalayan / Australasian stingless bee (Hymenoptera: Apidae: Meliponini. Zootaxa, 1935, 3-80.

Tuesday, January 31, 2017

"Owa Jawa, si Pemanjat Cadas Kramat "

oleh
Salmah Widyastuti
salmah.widyastuti@gmail.com


Catatan baru mengenai keberadaan owa jawa di Jawa Tengah, membawa kami untuk menginisiasi kegiatan konservasi primata di kawasan ini. Beberapa bagian hutan di gugusan perbukitan yang melintang di utara Kabupaten Purbalingga menjadi salah satu habitat alami yang tersisa bagi kera kecil endemik Jawa. Lokasi ini kami sebut "Cadas Kramat", terletak di desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga, Jawa Tengah. Karena kondisi geografis yang sulit, terdapat potongan hutan alami yang dibentengi jurang sungai yang dalam dan terhampar di lereng gunung kapur yang terjal.  Mungkin satu-satunya tipe habitat Owa, di Jawa yang berada di tebing batu kapur.

Selain perburuan yang berpotensi mengancam kelangsungan populasi owa jawa, di seluruh wilayah sebaran Owa, kebutuhan manusia yang sifatnya ekstraktif juga meningkatkan deforestasi sehingga mendesak habitat alami owa jawa.
Cadas Keramat "Siregol", lingkaran kuning dimana Owa teramati

Kunjungan kedua tim swaraOwa di Desa Kramat disambut hangat dengan pemuda karangtaruna Desa Kramat yang ramah, dan langsung menemani kami menyusuri tebing kapur cadas Kramat, tebing Siregol. Dalam pengamatan kali ini dari jarak sekitar 100 meter kami menjumpai satu kelompok owa jawa yang sedang melakukan pergerakan di pepohonan di bawah tebing. Sesaat setelah itu, kami melihat 2 individu owa dari kelompok tersebut melakukan pergerakan berpinah, cara mereka bergerak sungguh mengejutkan kami yang sedang serius mengamatinya.

  Baru kali ini kami melihat owa jawa memanjat tebing. Tebing vertikal dengan ketinggian sekitar 5-10 meter dipanjat dengan lengannya yang panjang meraih sulur-sulur tanaman dan kakinya menapaki tebing. Melompat dan meraih batang kayu kecil untuk bergerak, dengan teknik yang sempurna. Sungguh fenomena perilaku yang amat jarang teramati dilakukan oleh jenis kera kecil ini. Secara normal owa jawa melakukan pergerakan secara brakhiasi (berayun) antar dahan pohon dengan efisiensi energi. Kelompok ini harus mencapai bagian bawah tebing untuk menuju pohon pakannya, melewati tebing batu yang licin dan sangat extrem. Masih banyak hal yang bisa diteliti untuk tujuan konservasi terkait Owa dan habitat Cadas Keramat.
habitat Owa di bagian bawah tebing cadas keramat 
Tak jauh dari posisi owa jawa terlihat, kami juga melihat sekelompok lutung jawa  (Trachypithecus auratus) yang sedang memakan pucuk-pucuk daun, sekitar 4 individu yang terlihat. Selain itu menurut warga juga terdapat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).
Minimal 2 dari 5 jenis primata Jawa dipastikan berhabitat di kawasan hutan ini. Masih ada kemungkinan juga terdapat rek-rekan (Presbytis comata) dan kukang jawa (Nycticebus javanicus). Hal ini menjadi tantang kedepan untuk berkolaborasi bersama pihak terkait, dan warga sekitar habitat Owa dalam upaya pelestarian primata dilindungi dan habitat uniknya ini.

Thursday, January 26, 2017

Let it Bee : when the pollinators become mainstream

Stingless bee visiting flower of crop

Buzzzz…zzzzz  no we can’t hear the bee flying, this is tiny bee, size as flies, no sting, role as pollinators and producing honey too, Stingless bee!!. We have done shared our knowledge and gain new experience on meliponiculture in the habitat of critically endangered primates. Located in Kemuning village, Temanggung regency, Central Java, this site is recognized as habitat of Javan slow loris, first time we discover in this area in 2013 (read here for the report). After we found the javan slow loris existed, students continue to do research in this area. And now a conservation organization (Javan Wildlife Institute) initiated by Wildlife Lab of  Forestry Faculty, Gadjah Mada University continue the fieldwork, not only academic research but also assist people of Kemuning to protect and generate alternative income.

Shadegrown coffee habitat of Javan slow loris
Javan Slow loris

As we know wildlife hunting is the main threats for the biodiversity in Kemuning forest, we try to develop solution to increase their knowledge and capacity to maintain sustainable forest product. We have been working since last year to manage stingless bee honey from the Javan gibbon habitat, and now we try to introduce this scheme in the kukang habitat. Mainstreaming conservation of pollinators and introducing management of the stingless bee honey production.
Stingless bee honey 
On Saturday and Sunday (21/22 January 2017) organized by JAWI we conduct training for villagers in Kemuning, and there are 10 participants from the Kemuning village to join in the two days training. Our team give an introduction and share experience on stingless bee, honeys and their relationship with crops and forest habitat. Introductory about native bees and it’s role in our environment were emphasized in the discussion with the participants. Moreover, this bee is producing honey that very healthy and economically viable.
knowledge sharing about stingless bee
This training is intended to bring some long-term solution to conserve forest as habitat of endangered animals but also give real example for sustainable forest product who provide sustainable income. Next activities is we will active to encourage participants to manage bees colonies and give direct assistant on marketing strategy for the  stingless bee honey.
field practice, how to manage stingless bee colony



Thursday, January 19, 2017

Tabungan Ekologi : Mengelola Lebah dan Kopi


Selamat Tahun Baru 2017 !! tulisan pertama untuk mengawali semangat baru pelestarian Owa di Indonesia. Alam menyediakan hal baru bagi yang berpikir untuk di pelajari dan dikembangkan untuk kemajuan kehidupan sosioekologis kita. Hal baru  yang coba kita pelajari saat ini adalah tentang serangga-serangga yang yang membantu penyerbukan kopi hutan di habitat Owa. Salah satu focus taxa kita kali ini adalah jenis lebah tanpa sengat. Warga sekitar habitat menyebut klanceng, sejenis tawon seukuran lalat yang sering bersarang di dalam batang pohon menghasilkan madu. Madu lebah ini mempunyai nilai ekonomi tinggi, namun karena masih memanen secara alami dari hutan produksi madu ini juga sangat terbatas, pada musim musim tertentu saja dan juga dengan jumlah yang sedikit.
lebah tanpa sengat di bunga kopi robusta
Sudah kita ketahui, adanya buah kopi, adalah karena adanya proses penyerbukan (bertemunya serbuk sari dengan putik), silahkan baca artikel di bawah. Proses penyerbukan ini ada yang terjadi dengan sendirinya juga ada yang dibantu  faktor dari luar, misal angin, serangga dan juga buatan (manusia). Serangga penyerbukan telah membuktikan peningkatan produksi kopi di beberapa daerah penghasil kopi. Jasa penyerbukan ini ada yang menghitung nilai nya hingga 350 miliar $US.  Namun kita pada umumnya tidak begitu menaruh perhatian kepada lebah atau serangga-serangga yang membantu pembuahan bunga kopi, jenis apa saja, kapan waktunya, dan bagaimana keberhasilannya dan tentunya masih banyak pertanyaan lain yang bisa kita pikirkan selanjutnya.

Untuk saat ini, hampir semua wilayah di Indonesia lebah ini yang dimanfaatkan adalah madunya, itupun juga masih banyak yang sifatnya exploitasi dari alam, madu hutan yang diambil dengan tanpa mempertimbangkan kelestarian lebah itu sendiri. Madu di ambil dengan mengambil habis sarang dan anak-anaknya. Bahkan dengan batuan api yang beberapa kasus di lapangan juga menimbulkan kebakaran hutan. Karena api yang di tinggalkan oleh pemburu madu hutan hidup membesar dan menyebar luas membakar hutan. Banyak cerita juga di hutan-hutan penghasil lebah para pemetik madu liar ini meninggal karena mengabaikan keselamatan ketika memetik madu.

Pemetik madu hutan, mengambil resiko tinggi tapi tidak lestari

Peran lebah sebagai pollinator, inilah yang menjadi hal baru yang sedang kita arusutamakan untuk pelestarian hutan dan juga meningkatkan produksi kopi juga tanaman pertanian perkebunan lainnya . Bagaimana kaitannya dengan Owa?? Owa  jawa adalah primata pemakan buah, buah-buah hutan ini juga terbentuk dari proses penyerbukan alami, dan salah satu faktornya adalah oleh pollinator. Lebah tanpa sengat tentu lebih ramah dari pada lebah-lebah lainnya karena setidaknya mereka tidak menyengat. Berdasar pengamatan lapangan juga nampak selalu hinggap di pohon-pohon pakan Owa.
Menjamin keberadaan lebah berarti menyediakan buah pakan Owa dan regenerasi hutan terus terjadi.

hutan sebagai tabungan ekologi
Selain itu untuk mengurangi tekanan terhadap habitat primata terancam punah, madu mempunyai nilai ekonomi yang tinggi,  budidaya lebah yang di kembangkan di sekitar hutan bisa menjadi tambungan ekologis jangka panjang yang tidak hanya sumber pangan yang sehat namun juga berperan penting untuk melestarikan lingkungan sekitar kita secara berkelanjutan.



Monday, December 19, 2016

Peran penting Jlarang si Bajing

Ketika anda di hutan atau di suatu tempat apa yang ada pikirkan kalau adan melihat mamalia kecil? Ya mamalia yang bobotnya relative ringan kurang dari 5 kg. Lucu, ingin membawa pulang, atau mengambil gambarnya saja, atau teringat cerita waktu masih kecil tentang tupai dan kelinci? Bajing, tupai, jlarang, landak, trenggiling itu beberapa di antaranya dalam bahasa jawa yang sering juga di temukan di habitat hutan yang masih alami.
Bajing jlarang

Karena ukurannya kecil, pemalu, sebagian besar aktif malam hari, kamuflase yang sempurna, tidak banyak juga yang concern dan peduli dengan peran mereka di alam. Menurut sejarah alam, jenis-jenis mamalia kecil ini sudah ada sejak 30-40 juta tahun yang lalu, jadi mereka sudah berasosiasi dengan hutan jauh sebelum manusia ada. Proses evolusi morphologinya juga tidak jauh berbeda hingga sekarang meskipun sudah puluhan juta tahun. Tentu ada hubungan yang erat antara mamalia kecil ini dengan hutan sebagai habitatnya.

Beberapa mamalia kecil ini di hutan berperan sebagai pollinator (penyerbuk bunga), pemakan buah dan pemencar biji-bijian di hutan. Artinya salah satu peran ekologisnya adalah membantu regenerasi hutan secara alami. Beberapa mamalia kecil juga menjadi mangsa dari jenis-jenis predator hutan, seperti burung elang. Dan sebagai fungsi estetis, ada kesenangan tersendiri bagi kita (manusia) untuk melihatnya di alam (namun hal ini juga belum banyak yang melakukan).

Jenis-jenis mamalia kecil ini adalah pemakan jamur pohon, tidak semua jamur itu jahat,banyak mikroorganisme yang tak kasat mata namun penting dalam alam ini. Apa kaitannya jamur-mamalia kecil dan pohon hutan??

Kalau anda sering melihat kayu yang ada bercak-bercak putih itu adalah beberapa jenis jamur yang berasosiasi dengan pohon hutan, jamur ini membatu pohon menangkap nutrisi yang tidak dapat di perolehnya dari yang sudah ada,sementara pohon menyediakan karbon dioksida dari fotosintesis untuk jamur. Ada korelasi positif hubungan pohon dan jenis-jenis jamur pohon ini.
jamur pohon (bercak putih) di habitat Owa jawa


Video berikut ini adalah yang kami dapatkan dari hutan Sokokembang, habitat Owa jawa di Petungkriyono, kabupaten Pekalongan. Terlihat seekor bajing Jlarang (Ratufa bicolor) yang memakan kulit batang pohon. Mycopaghy  adalah istilah untuk mamalia pemakan jamur, dan ini sedikit menjelaskan peran di atas bahwa, simbiosis antara jamur dan tumbuhan tinggkat tinggi inilah yang disebut micoriza, dan micoriza inilah di atarnya yang membatu pertumbuhan dan kesehatan pohon-pohon di hutan. 
video


Dengan di makannya jamur oleh bajing, makan spora jamur juga akan terbawa dan tersebar melalui kotoran Bajing. Hubungan yang cukup kompleks namun bisa kita pahami bahwa setiap binatang di hutan mempunyai peran yang tidak bisa di gantikan oleh yang lain, bahkan oleh manusia sekalipun. Oleh karena itu membiarkan binatang tetap di habitat aslinya, tidak memburunya,tidak mengambilnya sudah menjadi kewajiban  kita bahwa kita juga berperan dalam system ekologis ini.

Bajing jlarang/ Giant Squirrel



Friday, December 2, 2016

Catatan baru sebaran Owa Jawa


Gunung Kapur Siregol, Ds.Kramat Karang Moncol Purbalingga

Berawal dari informasi yang kami terima, survey dan monitoring sebaran primata Jawa di wilayah jawa tengah membawa kami mengunjungi lokasi baru, yang belum tercatat dalam survey-survey sebelumnya. Silahkan baca-baca tentang kegiatan ini yang dimulai sejak awal tahun 2016.  Sebelumnya data mengenai sebaran Owajawa juga telah di publikasi di jurnal ini.

rangkaian pegunungan di Kec.Karang moncol dan Rembang Purbalingga (survey 2013)

Informasi yang kami terima beberapa waktu lalu menyebutkan, bahwa ada kelompok owa yang teramati di wilayah kabupaten Purbalingga. Sebagaimana yang kita tahu wilayah ini telah kita survey tahun 2010-2013, dan lokasi nya berada di pegunungan antara G.slamet dan pegunungan Dieng. Survey tahun 2013 kami mengunjungi gunung Ardi lawet, dan mencatat perjumpaan tidak langsung keberadaan Owajawa. Kami mendengar suara morning call dari arah sebelah barat gunung lawet, dengan radius kurang lebih 800 meter-1400 meter.  Lokasi yang di informasikan kepada kami apabila di lihat di peta, tepatnya berada di sebelah barat dari gunung lawet, dan nampak disana memang topografi yang sangat curam dan sepertinya tidak mungkin di akses.

habitat Owa di gunung Siregol, Karangmoncol

Tanggal 21 November 2016 , bersama tim swaraowa, meluncur ke lokasi yang di informasikan tersebut, dan kami di pertemukan dengan mas Sa’ad seorang guru SD yang aktif dengan kegiatan pelestarian di Desa kramat, Karang moncol. Setelah meperkenalkan diri, kami langsung menuju ke lokasi yang dituju, ada jalan yang sudah bagus menyusuri tebing sungai yang dalam, di sebelah kiri gunung batu kapur (limestone) yang sangat tinggi dan di bagian bawah vegetasi kanan-kiri sungai yang lumayan rapat.
Owa jawa yang teramati di Siregol, Karangmoncol

Belum berhenti dari kendaraan, kami sudah melihat adanya pergerakan di pohon-pohon di bawah tebing jurang ini, dan yang terlihat pada saat itu adalah Owa Jawa, setelah di amati lebih teliti, ternyata ada juga Binturong yang sedang mencari makan di pohon yang sama dengan kelompok Owa ini. Beberapa saat kami mengamati pergerakan owa ini, dan binturong. Catatan kami juga melihat ada julang emas melintas di atas gunung batu kapur ini. Elang jawa juga terdengar bersuara, namun tidak terlihat karena rapatnya tajuk.
Arctictis binturong


Limestone forest, istilah untuk hutan yang di pegunungan kapur, tidak banyak catatan yang menjelaskan tetang sebaran owa di tipe hutan ini, dengan karakter yang unik,  tebing berbentuk kerucut, tanah yang tipis,namun memiliki vegetasi yang rapat di dasarnya. Habitat unik yang perlu dilestarikan tidak hanya untuk keanekaragaman hayati namun sudah tentu menjadi landscape yang menarik dan indah untuk sekedar di kunjungi.

Beberapa daerah gunung kapur, juga mengalami ancaman serius karena kegiatan penambangan, sudah tentu manfaat secara fungsi ekologis juga hilang, semua kakayaan hayatinya hilang sebelum sempat di telilti lebih jelas manfaatnya. Perburuan juga mengakibatkan hutan-hutan menjadi "kosong" dan sepi, menghilangkan peran satwaliar dalam sistem ekologi.

Berbicara mengenai upaya pelestarian, akan menjadi pekerjaan bersama untuk kedepan bagi siapa saja yang peduli , beberapa potongan hutan di jawa tengah, juga masih menyimpan keanekaragaman yang tinggi, yang juga menjadi asset bagi daerah setempat. Upaya pelestarian dengan dasar ilmiah bisa menjadi inisiasi awal untuk Owa jawa di habitat limestone ini. Mengarus utamakan kegiatan wisata minat khusus juga bisa menjadi sarana untuk membangun ekonomi di tingkat site dari adanya primata endemik.

Bacaan lebih lanjut :

Setiawan, A., T. S. Nugroho , Y. Wibisono, V. Ikawati, J. Sugarjito, (2012), Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia, Biodiversitas, Vol.13. No.1,p 23-27

 Whitten, T., Soeriaatmadja, R. E., Afiff, S. A., Widyantoro, A., Kartikasari, S. N., & Utami, T. B. (1999). Ekologi jawa dan bali. Prenhallindo

Monday, October 24, 2016

Suara Owa dalam secangkir Kopi


Kurang lebih 4 tahun sudah kegiatan proyek “Kopi dan Konservasi Primata” berjalan, perjalanan yang tidak singkat dan ternyata banyak hal yang juga telah memberi pengalaman dan pelajaran berharga bagi upaya konservasi primata endemik di wilayah Jawa Tengah. Pelestarian primata yang kita arus utamakan dengan mengkombinasikan penguatan ekonomi  untuk menopang kegiatan konservasi di habitat primata terancam punah, menjadi tantangan yang serius dan sekaligus menyenangkan.

Permasalahan selalu ada dan kegiatan pelestarian primata juga mengalami dinamika yang kadang ada hal hal yang tidak bisa diatasi sendiri. Mengkomunikasikan bahasa konservasi menjadi lebih universal dan mudah diterima kadang terlalu cepat hingga substansi pesan pelestarian ini menjadi ”buzz word”, atau kata-kata marketing hijau yang memeberi dukungan kepada kegiatan yang menurunkan kualitas hutan sebagai habitat primata endemik dan fungsi sosial dan ekonominya.
kegiatan produksi kopi Owa
Namun demikian,semangat dari dalam hati membuat kita terus melalui semua hal dengan senang, menambah jaringan teman, dan memulai hal yang baru menjadi motivasi lain, menaikan hormon dopamine ketika berkaitan dengan kopi dan konservasi primata. Beberapa kunjungan internasional menjadi corong kepada dunia luar bahwa kita juga tidak diam terhadap kepunahan-kepunahan dan kerusakan yang terjadi. 

bahasa bukan kendala lagi kalau membicarakan primata dan kopi
Sejak bulan Agustus hingga Oktober ini, kegiatan kita " kopi dan konservasi" mendapat tamu-tamu istimewa,yang tertarik untuk melihat langsung kegiatan ini. Kunjungan dari  director proyek pelestarian kukang (LFP) menjadi semangat bagi tim bahwa kita tidak sendirian menahan laju kepunahan primata jawa, Profesor Anna Nekaris, dari Oxford Brookes University, secara langsung menuliskan pesan dan kesan nya ketika berkunjung ke Sokokembang dan mengujungi markas SwaraOwa di Yogyakarta.


Ada juga kunjungan dari Secretariat land care Australia,membuat kita semakin percaya diri bahwa kopi dan produk hutan lainnya juga dapat menjadi satu-kesatuan cerita yang saling menguatkan untuk pelestarian primata dan hutan sebagai habitatnya.
Victoria Mack dari Secretariat for International Landcare Inc

Yang lebih sepesial lagi, adalah kunjungan 23 peserta pelatihan primata di Sokokembang, yang menjadi agenda tahunan proyek ini, teman baru yang mungkin di antaranya akan meneruskan upaya-upaya pelestarian serupa di  tempat lain atau di lain waktu.
Teman baru pegiat konservasi primata peserta pelatihan metode survey primata 2016 
produk-produk hasil hutan untuk konservasi
Produk-produk konservasi yang terinspirasi dari kegiatan ini telah dan sedang di kelola dan di pasarkan kepada masyarakat luas, kopi, madu dan gula aren menjadi media kita untuk menyuarakan pelestarian Owajawa dan hutan sebagai habitatnya. Penjualan -penjualan yang kita lakukan menghasilkan dana konservasi yang sustainable meskipun dalam jumlah yang masih relative kecil, namun penting untuk menyokong kegiatan selanjutnya dan juga memperluas target wilayah perlestarian primata dan semua fungsi penting hutan.  Bagi anda yang ingin berkontribusi terhadap produk-produk  dan aktif menyuarakan upaya pelestarian ini bisa langsung berkomunikasi dengan lewat media sosial kami di FB, twitter, IG @swaraOwa dan email : sokokembang.channel@gmail.com, atau melalui Buka Lapak. Terimakasih, Salam Owa!!