Saturday, June 3, 2017

SwaraOwa #Rainforestlive 2017


Tanggal 8 Juni 2017, selama 24 jam gunakan sosial media dengan taggar #rainforestlive untuk melihat hidupan liar dari hutan hujan di seluruh dunia. 

Apa itu Rainforest:Live?
Hutan Hujan habitat Owajawa
Hutan Hujan (Rain forest) mempunyai kanekaragama hayati yang sangat tinggi. Kita mengenal Gajah, Orangutan, Gorila, Harimau,dan Badak dengan sangat baik  karena mereka sangat berkarisma, dan mudah dikenali juga rentan dengan kepunahan. Namun masih ada ribuan lagi hidupan liar di hutan hujan, Owa ,monyet, kucing liar,  serangga, burung, kumbang, capung, kodok, laba laba, dan masih banyak lagi yang sangat jarang menjadi berita, padahal mereka juga saling terkait dan mendukung sama pentingnya dalam sebuah system ekologis.
Kantung semar dari hutan Siberut
#Rainforestlive akan menggunakan kekuatan sosial media untuk memperlihatkan keunikan dan keindahan hutan hujan yang mungkin banyak di antara kita tidak pernah melihat atau merasakannya. Selama 24 jam foto, video, rekaman suara, dan mungkin juga siaran langsung dari hutan akan dilakukan oleh peserta yang berada di berbagai penjuru hutan di bumi, sudah ada 20 organisasi konservasi   dan proyek penelitian hutan disebaran hutan hujan di Asia, Afrika dan Amerika Selatan akan berpartisipasi, mengabarkan temuan temuan atau pengamatan selama di hutan, menggunakan sosial media mainstream saat ini twitter, facebook, Instagram, flikr,  youtube, soundcloud dan sosial platform sosial media yang lainnya menggunakan taggar #rainforestlive.

Acara ini ditujukan untuk memberikan gambaran kepada publik, mengenalkan dan merasakan hutan hujan melalui hidupan liar yang ada di dalamnya. Rainforest:live di harapkan menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kita berbagi ruang dengan hidupan liar dan kita juga banyak tergantung pada hutan,  dan hutan adalah harta yang tak ternilai dan layak kita perjuangkan kelestariannya. Acara ini juga akan  di kumpulkan jadi satu menggunakan Storify, dimana keseluruhan posting di sosial media peserta di jadikan satu berdasarkan taggar #rainforestlive dan waktu.
Disini link Storify ,  dan tahun 2016 dengan taggar #rainforestlive ternyata mencapai lebih dari 1.5 juta orang.


#Rainforestlive tahun ini di kelola oleh Borneo Nature Foundation, yang berada di Kalimantan.
SwaraOwa, akan bergabung dengan komunitas global ini untuk mengenalkan hidupan liar yang ada di habitat Owa jawa (Hylobates moloch),hutan Sokokembang, Petungkriyono, kabupaten Pekalongan,  dan juga yang terbaru juga dari kegiatan kita di pulau Siberut untuk pelestarian Bilou (Hylobates klossii). Acara ini selain menunjukkan bahwa kita warga di sekitar hutan juga menaruh perhatian dan mengajak publik untuk melestarikan hutan , acara ini sekaligus juga menjadi promosi konservasi yang mendunia yang di inisiasi di habitat asli hutan hujan.
 Kami akan mencoba live dari habitat apabila memungkinkan, dan juga akan memposting  foto, video, rekaman suara dari hutan  yang mana foto-foto ini diperoleh ketika pengamatan dan penelitian di hutan.
Jenis lebah tanpa sengat
Bagi anda yang ingin mendukung  atau berdonasi di acara ini silahkan hubungi kami, di akun sosial media @swaraOwa, twitter, ig, soundcloud dan facebook, atau youtube, atau email kami di sokokembang.channel at gmail dot com.

Tuesday, May 30, 2017

Burung-Burung Siberut : warisan unik yang hampir larut

ditulis oleh : Imam Taufiqurrahman, email : orny_man@yahoo.com; Foto : Ismael Saumanuk

Peta kuno kep.Mentawai, dari Pinterest.com
Gulungan ombak dan kekhasan adat budaya telah lama membuat Siberut menjadi perhatian dunia. Namun keunikan pulau terbesar di gugus kepulauan Mentawai ini tak hanya itu. Nyaris separuh dari 37 jenis mamalia, termasuk lima primatanya, berstatus endemik. Ada sekitar 6o jenis herpetofauna dan lebih dari 150 jenis burung telah tercatat.

Misteri avifauna yang ada pernah mencipta daya tarik tersendiri bagi para naturalis. Uniknya, ini belumlah berlangsung lama. Dibanding Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan sebagai pulau-pulau utama Bumi Sikerei, eksplorasi burung di Siberut menjadi yang terakhir dilakukan.
Cecil Boden Kloss yang berkebangsaan Inggris, bersama rombongan dari Museum Raffles Singapura, adalah yang mengungkapnya pada 1924. Terpaut 22 tahun ketika Kloss pertama datang ke Pagai Utara dan Pagai Selatan, berselang 32 tahun setelah Dr. E. Modigliani asal Italia datang ke Sipora.

Jauhnya rentang waktu terjadi bukan tanpa sebab. Mengawali pemaparan hasil eksplorasinya, Kloss mengungkap alasan di balik itu. “Telah beberapa kali saya mengajukan ijin pada pemerintah Hindia Belanda untuk kunjungan ke Siberut,” jelasnya, “ Ketika akhirnya ijin turun, naturalis yang namanya tersemat pada salah satu primata endemik Mentawai ini mengeksplorasi avifauna Siberut selama satu bulan. Ia lalu mengunjungi kembali Sipora dan Pagai setelahnya. Kedatangan Kloss dan rombongannya ini tak hanya untuk burung, namun juga flora fauna lainnya serta etnografi. Hasil-hasil eksplorasi itu terpublikasi secara terpisah, dengan mengusung satu tajuk judul, Spolia Mentawiensis (atau dalam beberapa makalah tertulis Spolia Mentawiensia).
Srigunting kelabu
Kloss menyusun laporan hasil eksplorasi burung bersama Frederick Nutter Chasen. Tercatat 87 jenis di seluruh Kepulauan Mentawai. Khusus Siberut, ia mengumpulkan 314 spesimen dari 58 jenis. Enam di antaranya (dari total sebelas untuk seluruh kepulauan) dikukuhkan sebagai taksa baru, termasuk celepuk mentawai Otus mentawi yang di kemudian hari menjadi jenis tersendiri. 
Mengacu daftar jenis dari IOC, kini Kepulauan Mentawai memiliki dua jenis endemik. Selain celepuk mentawai, terdapat uncal pulau Macropygia modiglianii yang baru-baru ini dipisahkan dari uncal buau Macropygia emiliana. Adapun anak jenis dari kadalan birah Phaenicophaeus curvirostris  oeneicaudus, elang-ular bido Spilornis cheela sipora atau srigunting sumatera Dicrurus sumatranus viridinitens, terdapat beberapa ahli memisahkannya menjadi jenis tersendiri. Namun demikian peneguhan ini belum diamini seluruh kalangan.
Elang ular bido yang teramati di Siberut
Di hasil yang terbilang gemilang itu, Kloss sampai berani sesumbar, “Saya kira tak akan banyak lagi temuan tersisa bagi yang berikutnya berkunjung untuk kepentingan ornitologi, kecuali mungkin jenis-jenis migran dan burung pantai.”
Pernyataan Kloss seakan mampu menghentikan kajian ornitologi di pulau yang hampir seukuran Nias itu. Saat ini, di hampir satu abad setelahnya, hanya terbit sepuluh makalah mengenai burung-burung Siberut. Dua di antaranya yang mengungkap keberadaan sejenis paruh kodok sempat ramai diperbincangkan. Beberapa ahli menduga itu sebagai anak jenis dari paruh-kodok tanduk Batrachostomus cornutus yang belum terdeskripsi. Namun hanya sampai sebatas itu. Tak ada lagi kejelasan, tak terdengar lagi ada upaya pengkajian lebih dalam.
Mengingat keunikan sejarah alam Siberut, sebenarnya banyak tema lain yang menarik untuk dikuak. Berjarak hampir 150 km dari daratan Sumatera tidak serta-merta menjadikan avifauna Siberut serupa. Ketiadaan beberapa famili penghuni lantai hutan, seperti ayam hutan dan sempidan (Phasianidae) atau burung-burung semak, seperti pelanduk dan tepus (Timaliidae) demikian kontras dengan kondisi hutan Sumatera atau bahkan Sunda Besar. Tak ada satupun perwakilan dari burung pelatuk (Picidae), takur (Megalaimidae), atau kacamata (Zosteropidae), untuk menyebut beberapa.
Trinil Kaki Merah
‘Kekosongan’ yang diketahui semenjak lama itu menciptakan kekhasan relung ekologi yang menarik untuk dipelajari. Beragam jenis bajing tanah, tikus, dan mamalia kecil lainnya dianggap mengisi ketiadaan anggota burung semak. Banyaknya anggota keluarga merpati (Columbidae) seakan menggantikan ketiadaan jenis-jenis takur atau rangkong (Bucerotidae) yang hanya diwakili satu jenis. Pernah dilaporkan perilaku srigunting yang mencari makan dengan gaya pelatuk.
Beo Siberut
Kajian etno-ornitologi tak kalah menariknya. Lebih dari 50 jenis burung memiliki nama lokalnya sendiri. Cukup menjadi indikasi betapa dekat kehidupan masyarakat suku Mentawai yang dikenal sebagai salah satu suku tertua di Nusantara dengan burung. Belum lagi keberadaan lagu, tarian, motif dalam uma dan titi atau kisah-kisah legenda terkait hubungan manusia Mentawai dan burung.
dinding sebuah uma di Siberut
Minimnya eksplorasi ornitologi di Siberut membuat kesempatan melakukan penelitian terbuka lebar. Tak hanya taksonomi, ekologi, dan etno-ornitologi, studi jenis-jenis tunggal, juga upaya konservasinya, penting untuk dilakukan. Apalagi dengan kian berkurangnya tutupan hutan, proyek pengembangan sarana dan prasarana berupa jalan maupun bangunan atau jumlah penduduk yang kian bertambah. Belum lagi ancaman dari perburuan burung untuk diperdagangkan. Tantangan nyata ada di hadapan.

Tuesday, May 23, 2017

Suara Alam Mentawai

Mulai bulan maret 2017, swaraOwa juga ada kegiatan di Kepulauan Mentawai, khususnya Siberut, tentunya untuk menambah pengalaman lapangan,membangun jaringan untuk memberikan kontribusi dalam upaya pelestarian jenis Owa endemik Kep.Mentawai. Owa di kep.Mentawai berwarna hitam gelap, dikenal dengan nama, Bilou nama ilimiahnya  (Hylobates klossii), silahkan cek di  daftar merah IUCN  untuk informasi tentang species ini.  
Bilou dan anaknya

Awal kegiatan ini bermula tahun 2010-2012, cerita lapangan waktu itu bisa di baca di blog http://monyetdaun.blogspot.co.id/ , dengan kata kunci " bilou ". Kemudian di akhir tahun 2016, bersama tim lapangan dari Siberut Selatan yang di motori oleh Damianus Tateburuk dan Ismael Saumanuk (Aman Andei) melalui Uma Malinggai Tradisional Mentawai, kami mencoba berkolaborasi lagi melakukan hal kecil untuk kontribusi menyebarkan pesan positif  pelestarian primata asli Mentawai khususnya di Pulau Siberut.
Menyusuri sungai Siberut

Bulan Maret 2017,  kami mulai dengan menggunakan peralatan  fotografi dan audio untuk dokumentasi keanekaragaman hayati di Pulau Siberut. dengan foto inilah kita dapat bercerita tanpa banyak kata-kata, Aman Andei dengan "panah" barunya untuk berburu yaitu sebuah camera  NIKON P900 dan Dami juga telah menggunakan kamera untuk dokumentasi. Tujuannya adalah untuk merekam keanekaragaman hayati, budaya dan peristiwa yang sehari hari terjadi di sekitar mereka.
Berburu foto

Kami langsung menuju lokasi berburu, di sekitar Siberut selatan, target kami adalah burung-burung di sekitar muara siberut. Sangat beruntung karena bulan-bulan ini adalah bulan dimana musim migrasi, jadi ada tamu-tamu istimewa dari belahan bumi utara yang singgah di Siberut. Beberapa foto yang kami dapatkan di antaranya ini. Selama beberapa hari berturut-turut kami menyambangi muara sungai siberut (dibelakang pasar siberut selatan), Kesempatan yang langka dan juga beruntung kami dapat menyaksikan langsung tamu-tamu jauh burung-burung migran yang singgah di Pulau Siberut.
Menyusuri sungai Siberut
Trinil kaki merah  ( 2 individu kiri) dan Cerek kernyut ( kanan)



Banyak hal terjadi terkait dengan keanekaragaman hayati di tempat-tempat yang sulit di jangkau, kita tidak pernah tahu dan tidak kenal, karena tidak ada dokumentasi apapun tentang hal itu. Oleh karena itu peran warga sekitar  habitat keanekargaman hayati berperan penting dalam mengarus utamakan pentingnya pelestarian alam. Lebih penting lagi foto-foto dan rekaman audio yang kami dapatkan dari alam mentawai juga menjadi semangat tersendiri bagi kami untuk terus berbuat sesuatu menyuarakan keindahan  dan kelestarian alam.
Piligi nama lokal siberut untuk burung elang ular bido

Pantau terus lini masa kami @swaraOwa dan tim dari lapangan dengan harapan suara alam Mentawai terus bergema menebarkan pesan positif  nilai keanekaragaman hayati dari pulau-pulau  di Samudera hindia,  ucapan terimakasih juga untuk  IUCN Gibbon specialist group dan Wildlife reserve Singapore yang telah mendukung kegiatan ini

Friday, May 5, 2017

Asoka : Anak Owa Hutan Sokokembang

halaman depan

Mengabarkan dari habitat Owa jawa, di hutan Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan bahwa telah  dan sedang terbit buku cerita untuk anak berjudul “Dongeng Asoka” Anak Owa Hutan Sokokembang, Buku ini  ditulis oleh Regina Stella dan illustrator Djatmiko Widhi Wicaksono, buku ini di tulis di tujukan untuk khususnya remaja dan orang tua, untuk mengenalkan Owa jawa dan perlunya pelestarian hutan pada umumnya.

Penulisan buku ini, berawal ketika penulis bersama keluarga dan anak-anak dari komunitas home schooling Yogyakarta, berkunjung ke hutan Sokokembang tahun 2013. Mereka menginap di Sokokembang dan melihat langsung primata di habitat aslinya. Dari kegiatan inilah ide membuat buku ini muncul. 
tahun 2013 kunjugan anak-anak ke Sokokembang

Dengan banyak diskusi langsung di lapangan, dan melihat langsung bagaimana perilaku owa, penulis  (Mbak Regina) dengan mudahnya memahami bahasa scientific behavior  Owa, yang tidak sama atau tidak dimiliki jenis satwa lainnya, kemudian dengan mudah merangkainya dalam sebuah tulisan sederhana dan mudah di pahami. Kemudian kami bertemu dengan mas Djatmiko, yang dengan keahlian yang sebagai illustrator, memvisualisasikan cerita Asoka.

Primatewatching, mbak Regina sedang menunjuk Owa untuk anaknya 

Untuk awal penerbitan buku ini kami telah mencetak 100 exemplar buku, dan di distribusikan secara gratis di beberapa wilayah habitat Owa di Jawa Tengah.  kami terus ingin menyebar luaskan buku ini untuk khalayak umum, dan sedikit revisi untuk text, sehingga lebih mudah di baca untuk anak-anak, dengan menampilkan banyak gambar dari pada tulisan. Penerbitan pertama buku ini merupakan bagian dari kegiatan "Kopi dan Konservasi Primata" yang di dukung oleh Wildlife Reserve Singapore, Ostrava Zoo, dan Fortwayne Chidren's Zoo



Bagi anda yang ingin mendapatkan buku “Dongeng Asoka” atau membantu mendanai penerbitan, distribusi dan turut berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian Owa jawa melalui buku ini bisa menghubungi kami di sokokembang.channel@gmail.com atau inbox di akun sosial media kami Instragram, FB dan twitter @swaraOwa.
cuplikan bagian buku
halaman belakang


Thursday, April 27, 2017

Pelatihan Monitoring Owa Jawa di Gunung Papandayan


Tgl 17-20 April atas nama SwaraOwa Proyek Kopi dan Konservasi Primata, mendapat kesempatan untuk melihat langsung habitat Owa di bagian barat pulau Jawa. Berlokasi di Gunung Papandayan Garut. Acara yang di gagas oleh Javan Gibbon Center (JGC) dan Conservation International Indonesia ini bertujuan memperkenalkan metode survey and monitoring untuk Owa Jawa. Peserta yang di undang adalah staff BKSDA, Perhutani Jawa Barat, Lembaga Swadaya Masyarakat sekitar Jawa Barat, Mahasiswa dan Pegiat konservasi alam di sekitar Gunung Papandayan.

Acara mencakup teori di kelas tentang teknik dasar survey menggunakan line transek dan metode tidak langsung untuk owa menggunakan Vocal count-triangulasi. Berlokasi di sari papandayan resort untuk materi kelasnya dan untuk praktek kita menuju blok hutan di lereng selatan Papandayan. Meskipun acara lapangan tidak bertemu langsung dengan Owa jawa, acara ini menjadi kegiatan berbagi pengalaman dan  pengetahuan teknis untuk pengambilan data dan analisis data untuk hasil monitoring/survey.


Berikut foto-foto dari lapangan :
mencoba merekam panggilan suara Owa

habitat Owa di blok Tumaritis Papandayan

praktek pengambilan data populasi

Thursday, April 13, 2017

Lebah pembawa berkah

di tulis oleh :
Sidiq Harjanto
sidiqharjanto@gmail.com

Hampir semua orang pernah mencicipi manisnya madu, cairan kental berwarna keemasan atau terkadang warna lain seperti putih atau hitam. Madu diproduksi oleh lebah. Namun tidak semua lebah menghasilkan madu, dan tidak banyak jenis lebah yang menghasilkan madu dalam jumlah yang layak untuk dipanen oleh manusia. Faktanya, madu yang beredar di pasaran dan bisa kita nikmati sehari-hari berasal dari beberapa jenis lebah marga Apis, dan sebagian kecil dihasilkan lebah tak bersengat (meliponin). Di Indonesia, madu umumnya berasal dari lebah hutan (Apis dorsata), dan lebah ternak (Apis mellifera). Lebah hutan (A. dorsata) membangun sarang terbuka, menggantung pada dahan pohon-pohon tinggi atau terkadang di tebing. Jenis ini cenderung membutuhkan habitat berupa hutan yang masih baik. Lebah ini juga dikenal agresif, akan menyerang pengganggu dengan cara memberikan sengatan menyakitkan secara berkelompok. Pada beberapa kasus, dampak serangan dorsata bisa fatal. Karena perilaku hidup seperti itu, maka lupakan untuk membudidayakan jenis ini. Hanya para pemburu yang terlatih yang mampu memanen madunya dari alam. Sebenarnya ada satu lagi jenis lebah yang menghasilkan madu dengan kualitas sangat baik, dan dapat dibudidaya, dialah Apis cerana. Namun cukup sulit menemukan produk madu lebah jenis ini di pasaran.
 
Koloni lebah Apis cerana
 Lebah Apis cerana adalah sepupu dari lebah ternak Apis mellifera. Secara umum kedua jenis memiliki banyak kemiripan; baik dari morfologi tubuh, maupun perilakunya. Yang sangat membedakan kedua jenis ini adalah distribusi alaminya. Lebah A. cerana menghuni kawasan Asia, paling barat lebah ini ditemukan di suatu tempat di Iran, paling timur di kawasan tengah Indonesia, paling utara di Cina, dan paling selatan masih di Indonesia. Karena sebaran alami lebah jenis ini di Asia, maka biasa disebut sebagai lebah madu asia (Asiatic/eastern honey bee). Sedangkan sebaran alami A. mellifera adalah di Eropa dan Afrika, ke timur hanya sampai Asia barat. Lebah jenis ini biasa disebut sebagai lebah madu eropa (European/western honey bee). Uniknya kedua jenis lebah ini hanya terpisahkan oleh sabuk gurun berjarak ratusan kilometer di Iran. Campur tangan manusia menjadikan jenis-jenis lebah dapat dijumpai di luar sebaran alaminya. Jenis A. melifera kini dapat dijumpai di semua benua kecuali Antartika. Jenis ini paling banyak dibudidaya dan merupakan penyuplai utama madu di dunia, karena produktivitasnya yang tinggi.
A.cerana

Lebah madu asia (A. cerana) merupakan jenis lebah asli Indonesia, berdampingan dengan berbagai jenis Apis lainnya meliputi A. andreniformis, A. dorsata, A. koschevnikovi, dan A. nigrocincta. Dapat dikatakan negeri kita memiliki kekayaan jenis Apis terbanyak di dunia. Meskipun demikian, di kalangan peternak lebah Indonesia, lebah lokal kurang dikelola dengan baik karena produksi madunya yang kalah dengan jenis A. mellifera yang dijuluki lebah unggul. Sebagian besar peternakan lebah besar di Indonesia menggunakan jenis lebah introduksi sebagai penghasil madu maupun produk lebah lainnya seperti bee pollen, propolis, dan royal jelly. Jauh sebelum lebah eropa didatangkan, masyarakat Indonesia sudah sangat akrab dengan pemeliharaan lebah lokal secara tradisional. Saat ini, lebah lokal masih dipelihara dalam skala kecil oleh masyarakat di pedesaan terutama yang berdekatan dengan hutan. Berbeda dengan lebah unggul yang dipelihara dalam peti-peti yang didesain khusus untuk produksi, dan dengan sistem penggembalaan mengikuti ketersediaan sumber pakan; lebah lokal umumnya masih dipelihara dalam gelodok (batang kayu yang bagian dalamnya berongga) atau dalam peti sederhana, dan tidak digembala.
Budidaya lebah hutan 
Dewasa ini, dunia perlebahan sedang mengalami berbagai permasalahan global. Salah satu yang mengkhawatirkan adalah hilangnya sebagian koloni lebah secara misterius. Fenomena ini dikenal sebagai colony collapse disorder (CCD). Kehilangan koloni lebah telah menjadi momok serius bagi peternakan lebah di Eropa dan Amerika. Hilangnya ribuan koloni lebah tiap tahun bukan saja mengancam persediaan madu dunia, namun juga mengancam produksi berbagai jenis komoditas pertanian. Hal ini karena lebah terbukti merupakan agen pembantu penyerbukan berbagai jenis tanaman. Dunia bahkan mempercayai bahwa ada peran lebah pada satu di antara tiga jenis makanan yang kita gigit sehari-hari. Selain berupaya untuk mengatasi CCD, dunia kini mencari alternatif jenis-jenis lebah selain mellifera untuk dibudidayakan, baik sebagai penghasil madu maupun agen penyerbuk bunga. Tak heran jika geliat pengembangan peternakan lebah non-mellifera kini mulai terasa. India dengan pengembangan Apis cerana-nya. Negara-negara di kawasan Amerika latin, Afrika, dan negara tetangga kita - Australia juga melaju cepat dalam mengembangkan lebah meliponin (stingless bee).

Bagaimana dengan Indonesia? Dengan adanya ancaman CCD dan berbagai hama musuh lebah eropa seperti Varroa dan Nosema; maka negara kita yang kaya akan jenis lebah perlu berbenah. Kita memiliki Apis cerana dan jenis-jenis lebah potensial lainnya yang kiranya layak untuk dikembangkan sebagai pengasil madu khususnya untuk mendukung kebutuhan nasional yang saat ini masih defisit. Berhadapan dengan parasit seperti Varroa, jenis lebah native yang kita miliki jauh lebih tangguh. Terlebih, jenis lebah lokal tentunya lebih cocok dengan kondisi alam di Indonesia. Diperlukan komitmen untuk pengembangan teknik pemeliharaan jenis lebah lokal, mulai dari desain peti lebah, teknik perbanyakan koloni, teknik pemanenan produk, hingga manajemen hama-penyakit. Perlu disadari pula bahwa pengembangan perlebahan seringkali berhadapan dengan permasalahan umum seperti penggunaan pestisida. Dengan begitu, kegiatan perlebahan sangat perlu didukung dengan konsep pertanian yang ramah lingkungan.
Penyerbukan bunga kopi Robusta oleh lebah

SwaraOwa, melalui kegiatan "Kopi dan Konservasi Primata" berupaya untuk memberikan kontribusi kecil bagi pengembangan perlebahan bersama masyarakat sekitar hutan di Kecamatan Petungkriyono, Kab. Pekalongan.  kegiatan pelestarian Owa jawa yang menjadi awal progam, telah dan sedang berkembang dengan hal baru yang sebenarnya juga sangat terkait dengan kelestarian hutan dan kegiatan ekonomi lokal yang bersumber dari sumbedaya hutan. Ternak lebah merupakan salah satu kegiatan ekonomi terbaik bagi masyarakat di sekitar hutan. Di satu sisi kegiatan ekonomi ini tidak membutuhkan modal yang besar, dan tidak terbatas kepemilikan lahan. Di sisi lain dengan terpeliharanya populasi lebah, maka peran mereka dalam membantu penyerbukan sebagian besar tanaman hutan akan terus terjaga. Hutanpun akan terus lestari. Masyarakat di Petungkriyono sendiri telah memiliki pengalaman cukup panjang dalam pemeliharaan lebah lokal Apis cerana. Mereka membuat gelodok dari batang tanaman paku tiang, atau peti papan dengan desain yang sederhana.

Apa yang dapat kami lakukan saat ini adalah mendorong masyarakat untuk membangkitkan kembali semangat memelihara lebah lokal, mengembangkan teknik pemeliharaan yang ‘modern’, dan tentu saja membangun pasar yang mau memberikan apresiasi terhadap produk yang dihasilkan lebah lokal. Kami meyakini bahwa dengan pengelolaan yang tepat, maka lebah lokal akan mampu ‘memberikan perlawanan’ terhadap lebah import dalam hal produktivitas madu maupun produk-produk lebah lainnya. Dan yang lebih penting lagi, peran penting lebah lokal bagi kelestarian hutan selama ribuan tahun atau bahkan jauh lebih lama lagi, akan tetap terjaga.


Monday, March 13, 2017

Penunggu rimba Bukit Bulan : Siamang dan Ungko


(perjalanan menuju Bukit Bulan, mengamati Ungko dan Siamang)

Ada 3 jenis Owa di daratan Sumatra, namun juga tidak banyak yang menaruh perhatian khusus kepadanya, yaitu Siamang (Sympalangus syndactilus) dan Ungko (Hylobates agilis), dan owa tangan putih (Hylobates lar)

Kebetulan sekali bulan ini saya mewakili , SwaraOwa di undang oleh Taman Nasional Bukit Dua Belas untuk berbagi pengalaman untuk monitoring jenis-jenis Owa, dan karena di wilayah Taman Nasional Bukit Dua Belas juga menjadi habitat dari Siamang dan Ungko.
staff TN BD sedang mencoba merekam panggilan Ungko
Setelah acara selesai, saya segera mencari tahu dimana bisa melihat Siamang dan Ungko selain di kawasan TNBD, kebetulan sekali  ada kolega  yang tinggal di Sorulangun, dan merekomendasikan untuk ke hulu sungai Batanghari, yaitu Batang Asai, katanya masih ada hutan bagus disana, ada siamang dan ungko.

Untuk mencapai lokasi ini harus menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda (4wd), karena cukup curam topografi dan juga hujan sepanjang hari membuat jalanan berlumpur. Sejak awal sudah beberapa kali saya cek di peta hulu Batang asai, tepatnya masuk di wilayah sungai limun.

Wilayah ini sudah di kenal oleh warga jambi sebagai daerah penghasil emas, dan memang setelah melihat langsung sepanjang jalan di kanan dan kiri terlihat aktifitas penambangan emas. Sawit dan karet menjadi pemandangan di satu setengah jam pertama perjalanan.

Tujuan kami adalah desa Meribung masuk dalam wilayah kecamatan Limun. Desa ini mempunyai hutan yang masih bagus, yang di kelola oleh adat, dan menurut informasi warga masih terapat satwa-satwa asli sumatera, seperti tapir, kambing gunung, beruang, Harimau dan tentunya Ungko dan Siamang.
Pulang dari mendulang emas (caping yang di gunakan adalah dulang, alat untuk mencari emas)

Setelah melewati jalanan yang berlumpur dan naik turun kami sampai di rumah pak Ansor, mantan kepala desa yang pernah mendapatkan penghargaan nominasi penerima kalpataru tahun 2009 sebagai penyelamat lingkungan.

Langsung saja saya ngobrol-ngobrol dengan warga sekitar, dimana masih terdengar suara siamang dan ungko? Apakaha masih sering melihat dan jauh tidak dari dusun kalau untuk melihat atau mendengar Siamang dan ungko. Beberapa warga sangat jelas membedakan apakah itu siamang dan ungko, Siamang lebih besar dan hitam, sementara ungko lebih kecil ukurannya, dan ada putih di alisnya. Beberapa warga juga nampak masih ragu-ragu menjelaskan ciri-ciri ungko dan siamang. Ada juga warga yang menjelaskan kalau ungko biasanya bersuara pagi-pagi hari, sebelum matahari terbit, dan Siamang biasanya siang hari setelah matahari terbit. 
Sempur hujan-sungai

Pelatuk Merah
Mendengar cerita warga tersebut saya semakin penasaran dan ingin melihat langsung atau mendengar siamang dan ungko. Saya kemudian di antar oleh pak ashari ke hutan siang itu, untuk melihat langsung kondisi hutan dan kalaupun beruntung bisa bertemu dengan penunggu rimba bukit bulan, sempur hujan, dan pelatuk merah diantaranya burung-burung yang saya jumpai.
Topografi yang bergunung juga sepertinya menyelamatkan kawasan hutan adat ini sementara waktu.Namun  5 tahun terakhir ini warga di sekitar bukit bulan, telah beralih pekerjaan menjadi penambang emas, ada pohon yang memang bagus untuk membuat alat pendulang emas. Kami menemukan banir pohon besar, yang bekasnya di potong-potong, dan ternyata pohon inilah yang digunakan untuk membuat dulang emas, karena meskipun di buat tipis kayu ini tidak pecah, begitu kata pak Ashari yang menjelaskan. Hampir 3 jam kami menyusuri hutan ini, namu hujan membuat kami terus mengambil arah balik, dan juga sempat menemukan cakaran beruang di batang pohon.

Pohon Bulian ((Eusideroxylon zwageri ) , banirnya di manfaatkan untuk membuat "Dulang" emas
Esok harinya, jam 4.30 saya di bangunkan oleh suara teriakan khas Ungko, tidak jauh dari desa dan saya pun segera keluar rumah mencari arah datangnya suara tersebut. Kurang lebih 500 meter dari rumah pak ansor, adan sebuah bukit kapur yang masih rapat dan disitulah suara itu berasal, hari masih gelap namun suara tersebut sangat jelas, Ungko jantan yang sedang melakukan panggilan territorial dan komunikasi dengan anggota keluarga lainnya. Ketika hari mulai terang nampaklah meskipun tertutup ta\juk pohon, 3 ungko salah satunya masih remaja, bergerak berayun memakan buah dari pohon sejenis Ficus sp. (lihat video di atas)

Hingga jam 8.30 saya masih mengikuti pergerakan ungko ini, dan ternyata tidak jauh dari tempat ini ada Simpai (Presbytis melalophos) yang sedang mencari makan juga, lebih dari 7 individu, dan simpai ini adalah monyet pemakan daun, kadan terlihat di bawah semak semak, dan juga di perkebunan karet yang ada disekitar hutan.
Simpai (Presbytis melalophos)

Melihat lebih luas hutan disekitar dusun ini, ternyata di sebelah timur dusun ini adalah gunung kapur, kawasan pegunungan karst yang cukup unik, karena vegetasi pohon di atas gunung kapur ini juga cukup rapat, dan dari tempat tersebut memang terdengan cukup banyak suara Siamang dan Ungko. Mungkin satu-satunya habitat karst yang di huni oleh 2 species primata yang berbeda (sympatric) yang ada di Sumatra bagian tengah.
pegunungan karst Bukit Bulan yang menjadi habitat Siamang dan Ungko

Untuk mendapat gambar siamang dan ungko sepertinya tidak mudah, karena mereka berada di tajuk atas dan rapat, namun dari suara yang terdengar jelas, kira-kira lebih dari 10 kelompok Siamang yang berada di sekitar dusun. Siamang ini mulai terdengar ramai bersuara antara jam 10.15-11.00,termasuk dari arah bukit-bukit kapur tersebut.

Hingga jam 2 siang, saya kemudian meninggalkan dusun ini, dengan segenap pertanyaan dan harapan akan kelestarian habitat siamang dan ungko. Kilau emas dan rencana pembukaan pabrik semen yang menambang gunung karst bukit bulan,   tentu lebih menjanjikan  dan sudah tentu juga akan menghilangkan cerita dan nyanyian dari Bukit Bulan  yang merupakan kawasan limestone karst sebagai daerah tangkapan air untuk wilayah Suroloangun hingga Jambi.

bacaan lebih lanjut :
Brockelman, W. & Geissmann, T. 2008. Hylobates lar. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T10548A3199623. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T10548A3199623.enDownloaded on 13 March 2017.
Geissmann, T. & Nijman, V. 2008. Hylobates agilis. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T10543A3198943. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T10543A3198943.enDownloaded on 13 March 2017.

Nijman, V. & Geissman, T. 2008. Symphalangus syndactylus. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T39779A10266335. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T39779A10266335.enDownloaded on 13 March 2017.