Monday, June 11, 2018

Diskusi Komunitas : Menyebarkan pesan Konservasi


Menyebarluaskan pesan konservasi dan pengalaman lapangan sering kali kita coba di kalangan yang sudah mengenal atau mempunyai latar belakang primata dan konservasi alam. Berbagai komunitas atau forum diskusi sangat beragam dan sepertinya beberapa tahun terakhir ini juga mulai marak kembali, meskipun banyak di antaranya bersifat fun , namun melalui komunitas-komunitas seperti ini pesan-pesan konservasi dapat menembus batas-batas pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan konservasi.
Seluruh peserta diskusi  (Foto :GPYID)


Kesempatan berharga bulan Ramadhan 2018, tim swaraowa bertemu dengan salah satu komunitas anak muda di Yogyakarta, yang tergabung dalam Greepeace Youth Indonesia Yogyakarta (GPYID). Awal mula pertemuan ini adalah, salah satu anggota GPYID ini pernah ikut dalam acara pelatihan metode survey primata tahun 2017 lalu. Dan inilah yang menjadi tujuan kegiatan pelatihan itu, yaitu membangun jaringan untuk pelestarian Owa jawa.
diskusi berjalan santai namun berkualitas (Foto : GPYID)

Sangat sederhana acara sore itu tanggal 3 Juni 2018, bertempat di AOA resto and  creative space,  di wilayah Seturan Yogyakarta, kurang lebih 25 peserta anak-anak muda GPYI dengan beragam latar belakang pendidikan dan pekerjaan berkumpul. Waktu 2 jam sepertinya sangat singkat, dan diskusi berkualitas, hangat berjalan dengan cerita –cerita lapangan kegiatan swaraowa yang awalnya hanya penelitian primata di jawa tengah, berkembang kearah pembangunan ekonomi berkelanjutan di tingkat site, habitat asli Owa Jawa.
Owa coffee sebagai media pembawa pesan konservasi (Foto : GPYID)

Pertanyaan kritis dan tajam juga di sampaikan peserta, mulai dari owa jawa itu sendiri, apakah beda antara monyet dan kera? Dampak wisata yang sedang berkembang di habitat Owa khusunya di Petungkriyono, hingga kebijakan pembangunan yang ramah hutan dan Owa. Produk-produk lokal berasal dari hutan dan sekitarnya merupakan potensi lokal yang tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, namun juga secara ekologi sangat penting untuk dipertahankan, sementara keberlanjutan dan kelestarian menjadi tantangan yang harus di hadapi. Tentunya hal ini menjadi penyemangat tim swaraowa bahwa hal kecil yang bisa kita lakukan saat ini masih terus berkembang dan banyak tantang kedepan untuk menyelamatkan salah satu identitas di Pulau Jawa ini.
Ucapan terimakasih kepada GPYID atas terselenggaranya acara ini dan foto-foto berikut adalah dokumentasi dari panitia diskusi sore itu.

Salam hijau.

Saturday, April 28, 2018

Seri Diskusi Konservasi #1 : “Penelitian Owa dan Lutung Merah di Kalimantan”

Lutung merah (Foto BNF)
Belajar  dari pengalaman dan keberhasilan kegiatan penelitian dan konservasi di tempat lain, tentu menjadi hal yang sangat istimewa. Permasalahan dan strategi pelestarian di tingkat site sudah pasti akan berbeda dari lokasi yang satu ke lokasi yang lain. Diskusi konservasi, pemaparan kegiatan lapangan, dan interaksi komunikasi secara langsung dengan pelaku pegiat konservasi menjadi motivasi tersendiri untuk terus melakukan kegiatan pelestarian alam.

Hal inilah salah beberapa hal yang mendasari swaraowa mengadakan seri diskusi konservasi, kebetulan sekali bulan April ini SwaraOwa bekerjasama dengan lembaga konservasi internasional yang berada di Kalimantan Tengah –Borneo Nature Foundation (BNF), ada kegiatan pertukaran staff untuk field visit. Seri dikusi konservasi yang pertama, telah sukses dilaksanakan tanggal 27 April 2018.

Owa Kalimantan (Foto BNF)

Acara di laksanakan di Welo asri, sebuah lokasi wisata edukasi yang sedang dibangun di habitat owa jawa oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono.Tim BNF di wakili oleh Eka Cahyaningrum (primate scientist), supian (koordinator peneliti lutung merah) dan Azis ( koordinator peneliti owa) dengan senang hati berbagi cerita lapangan untuk peserta yang mewakili beberapa lembaga dan organisasi yang tertarik dengan kegiatan ini.

Acara ini di hadiri oleh kurang lebih 40 peserta, dari mahasiswa, kelompok pecinta alam, BKSDA dan Petugas Penyuluh Kehutanan, dan beberapa pegiat media sosial  di Kab.Pekalongan. Acara dibuka oleh ketua pokdarwis Welo Asri (M.Kuswoto) dengan memperkenalkan wilayah petungkriyono secara umum dan kemudian di sambut oleh pemaparan singkat jenis-jenis primata oleh Salmah widyastuti (swaraowa).


Mendengarkan cerita lapangan tim BNF yang sangat berbeda kondisi alamnya dengan habitat Owa di Petungkriyono, memberikan gambaran langsung bagaimana kegiatan penelitian di hutan rawa gambut dataran rendah di Sebangau.  Azis dan Supian menceritakan suka duka ketika dilapangan yang membatu peneliti-peneliti dari dalam dan luar negeri, kondisi hutan rawa yang terendam air dan ketika musim kemarau mengalami kebakaran hebat, adalah hal luar biasa yang di lakukan, untuk mengumpulkan informasi ilmiah sebagai dasar ilmu pengetahuan dan masukan untuk pengelolaan keanekargaman hayati.

Eka, Supian dan Azis dari BNF menyampaikan presentasi

Secara umum Eka memparkan bahwa kegiatan kegiatan penelitian inilah yang membentuk sebuah organisasi yang solid, program penelitian, program pelaksana, dan tim pendukung, menjadi sebuah kesatuan organisasi yang saling melengkapi untuk melestarikan keanekaragaman hayati di Sebangau.
Sesi Tanya jawab, memunculkan pertanyaan yang cukup menarik karena dari penelitian di Sebangau terdapat kelompok owa yang di anggota kelompoknya yang betinanya lebih dari satu, dan hal ini sangat jelas di ceritakan oleh tim, bagaimana mereka mengikuti perubahan yang terjadi dalam kelompok ini, owa yang di kenal sebagai binatang yang setia pasangan, ternyata kondisi di alam kadang berbeda dengan teori yang selama ini berlaku. Perilaku owa Kalimantan juga sangat jelas di ceritakan tentang perilaku bersuara yang berbeda dengan perilaku bersuara owa di petungkriyono, dimana owa jantan dan betina melakukan panggilan bersama-sama (duet call).
Suasana diskusi

Lutung merah yang di kenal dengan Bahasa Dayak dengan nama Kelasi (Presbytis rubicunda) sangat menarik di ceritakan bagaimana anggota  dalam kelompok ini menjalankan fungsi sosialnya, individu lain yang dewasa akan menjanga dan menggendong bayi lutung yang di tinggal induknya, bayi lutung merah teramati lebih berani, dan mandiri, meskipun terpisah dari induknya, berbeda dengan bayi Owa yang selalu dalam gendongan selama hampir 3 tahun.

Foto bersama dengan peserta (Foto Suprio Y)

Seri diskusi konservasi ini, di tutup oleh tim swaraowa dengan harapan kedepan dapat membangun komunikasi antar pegiat konservasi di wilayah habitat primata terancam punah, saling tukar pengalaman dan informasi juga menjadi hal yang sangat mungkin untuk membangun kolaborasi yang lebih nyata untuk konservasi primata Indonesia.

Sampai jumpa seri diskusi konservasi selanjutnya. (Salam Hijau)

Monday, April 9, 2018

Nyanyian Owa Bukit Santuai



Ditengah perkebunan sawit, Kalimantan Tengah , di antaranya masih terdapat sisa-sisa tegakan hutan alami yang masih bertahan dan kalau kita perhatikan ada nyanyian Owa di antaranya . Perjalanan tim swaraowa bulan Maret 2018 ini menuju salah satu kawasan hutan alami yang tersisa di antara bentang alam monoculture, Kelapa Sawit.

Kota tujuan yang kami tuju adalah Sampit, Kabupaten Kota Waringin Timur. Keluar dari Bandara  Sampit nampak sekali atmosfer perkebunan dan industri minyak sawit, terasa. Ratusan mungkin bisa mencapai ribuan truk pengangkut minyak hilir mudik di jalan-jalan Sampit ini. Perjalan kami kurang lebih 6 jam, dari kota sampit, Bukit Santuai adalah nama kota kecamatan, yang di wakili oleh bukit yang memang tersisa vegetasi alamnya yang terletak di antara perkebunan Sawit.

Bornean-white bearded Gibbon (Hylobates albibarbis)

Pengalaman berbeda dan menambah pengalaman lapangan terkait dengan pelestarian primata di kalimatan tengah. Yang menjadi perhatian kami adalah jenis owa, di Kalimantan, mengupdate pengetahuan dan permasalahan konservasi yang sama sekali berbedan dengan di Jawa atau di Mentawai yang telah kami kunjungi.

Menurut Cheyne, et al 2016, saat ini taxonomy jenis Owa di Kalimantan dan umumnya Borneo yang memasukkan Malaysia dan Brunai, terdapat 4 jenis Owa, yaitu Hylobates funereusHylobates MuelleriHylobates albibarbis, dan Hylobates abboti. Sebaran geografis nya di batasi sungai-sungai besar dan pegunungan di bagian tengah-utara Kalimantan.

Pengamatan singkat kami di kawasan bernilai konservasi tinggi perkebunan sawit, Agro Wana Lestari masih menjumpai kelompok Owa, bahkan beberapa di antaranya juga terdapat di kawasan riparian yang terisolasi oleh habitat Sawit.  Simak video berikut Owa dan nyanyiannya  yang kami jumpai di hutan bukit Hawuk dan Bukit Santuai.


Kunjungan singkat ke beberapa desa sekitar habitat Owa kalimantan ini, terlihat masih ada kegiatan adat yang sangat terkait dengan alam sekitar. Penganut  kaharingan , membuat tempat-tempat khusus untuk orang yang telah meninggal melalui upacara adat. Ada tiang-tiang (sapundu) bernila sakral untuk menghormati orang yang telah meninggal, berukir binatang, seperti burung, monyet, bajing,  di makam-makam orang , menunjukkan pengetahuan mereka tentang alam di sekitar mereka.
tiang-tiang bernilai sakral berukir monyet


Refferensi :

Cheyne, S.M., Gilhooly, L.J., Hamard, M.C., Höing, A., Houlihan, P.R., Loken, B., Phillips, A., Rayadin, Y., Capilla, B.R., Rowland, D. and Sastramidjaja, W.J., 2016. Population mapping of gibbons in Kalimantan, Indonesia: correlates of gibbon density and vegetation across the species’ range. Endangered Species Research30, pp.133-143.



Wednesday, March 28, 2018

Owa Jawa Hutan Sokokembang

Infografis Owa jawa hutan Sokokembang, Petungkriyono

Info grafis primata hutan Sokokembang ini dibuat berdasarkan penelitian Setiawan et. al 2012, penelitian-penelitian dasar terkait data populasi dan ancaman merupakan informasi awal yang sangat penting untuk menentukan langkah konservasi yang lebih lanjut.  dari penelitian-penelitian seperti inilah kegiatan konservasi yang sekarang dilakukan berdasarkan prioritas permasalahan dan kemungkinan keberhasilannya di pilih untuk di lakukan.

Menyampaikan hasil penelitian agar mudah di pahami masyarakat luas sepertinya masih menjadi tantantang tersendiri bagi akademisi, apalagi di gunakan sebaga rujukan pengambil kebijakan masih sangat perlu untuk di arus utamakan. sebagai contoh ,di tingkat lapangan dinamika sosial ekonomi dan perubahan penggunaan lahan tentu terus terjadi dari waktu ke waktu, dan tentu sedikit banyak mempengaruhi kondisi Owa Jawa di Sokokembang hingga saat ini.

Owa Jawa

Yang sering di tanyakan  orang mengenai Owa jawa biasanya  ada berapa populasinya? apakah banyak atau tidak? dan  ini adalah pertanyaan logis, juga  penting tapi  populasi saja sebenarnya tidak cukup untuk yang menjadi kriteria untuk sebuah kelestarian. banyak faktor lain yang mempengaruhi, apalagi dalam jangka waktu tertentu. dan sebenarnya owa jawa hanya bagian kecil dari keseluruhan pengelolaan habitat yang melampaui bentang alam dan administratif. Terlebih lagi jenis-jenis primata seperti Owa jawa telah menjadi perhatian komunitas global.

Penelitian-penelitian yang terus di perbaharui juga tentunya akan sangat membantu mendorong upaya konservasi yang menyesuaikan dengan situasi terbaru juga. Populasi Owa jawa khususnya di hutan Sokokembang, umumnya di Jawa Tengah ini memang perlu di update lagi, mudah-mudahan ini menjadi prioritas pekerjaan bersama pihak terkait untuk memperbaharui informasi ini sebagai masukan untuk pengelolaan yang berkelanjutan.

Referensi :

Setiawan, A., Nugroho, T.S., Wibisono, Y., Ikawati, V. and SUGARDJITO, J., 2012. Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity13(1).

Saturday, March 17, 2018

Uliat Bilou : Tarian Bagi Roh

Bilou , Owa endemik Mentawai

Sebuah kehormatan berada di antara warga asli Pulau Siberut yang merayakan upacara adat. Tentu saja ini pengalaman yang sangat berharga. Suku-suku Mentawai adalah yang salah satu komunitas tertua di Indonesia tercatat sejak 2000-500 tahun sebelum masehi sudah ada catatan mengenai keberadaan manusia di kepulauan yang terpisah dari daratan Sumatera itu. Banyak hal yang menarik tentang interaksi manusia-alam khususnya di Mentawai, hingga sekarang meskipun arus budaya modern tiada henti menggerus budaya asli Mentawai, namun adat istiadat masyarakat Mentawai sejak ribuan tahun silam masih dapat kita jumpai.

sikerei sedang melakukan ritual

Salah satu acara adat yang minggu ini kita ikuti adalah Punen Panunggru, upacara untuk “mendamaikan” roh-roh orang yang telah meninggal dunia. Kepercayaan terhadap roh atau jiwa dalam setiap benda masih melekat erat di masyarakat Mentawai khususnya di Siberut. Kepercayaan akan tentang roh dapat di katakan bahwa nyaris setiap tempat, setiap hewan, setiap tumbuhan, dan setiap fenomena alam memiliki kesadaran dan perasaan, dan dapat berkomunikasi dengan manusia secara langsung. Sebenarnya hubungan yang relatif kompleks, namun dapat di mengerti dan ada yang dapat membantu komunikasi antar entitas-entitas non material ini yaitu para “Sikerei”. Mereka semua dapat berkomunikasi melalui perantara tarian, nyanyian, binatang yang di kurbankan, atau upacara.
Karena berangkat dari ketertarikan terhadap primata, dalam upacara adat punen panunggru, yang telah di selenggarakan selama beberapa hari ada kalanya para sikerei ini berkomunikasi dengan para roh ini dengan tarian.

Teulaka, salah satu Sikeri yang memimpin acara punen panunggru

Salah satu tarian yang di lakukan oleh para sikerei ini adalah  tarian Bilou,  Owa Mentawai (Hylobates klossii),  ‘turuk uliat bilou’ yang menceritakan 3 individu yang sedang bergembira di hari yang cerah. Dengan iringan tetabuhan hentakan kaki sikerei juga menambah harmonisasi antara penabuh, penari dan pesan yang disampaikan. Simak video berikut ini :


Tentu saja hal seperti ini banyak mengundang ketertarikan banyak orang, dan tentunya sudah ratusan orang menulis tentang adat, budaya dan alam mentawa ini. Upaya melestarikan pengetahuan alam, memperkaya budaya dan isinya khususnya di Mentawai, menjadi tantangan tersendiri, identitas ini bisa jadi ini sebuah romantisme belaka, keunikan alam dan budaya ini hanya indah dalam laporan dan tulisan sementara itu kepunahan-kepunahan akan akan terus terjadi dalam sekala micro. Pesan-pesan yang tersirat dalam  upacara ini harusnya menjadi renungan untuk terus di sampaikan kepada generasi sekarang,bahwa sejarah alam sangatlah tergantung kepada manusia, kita bisa membuat sakit, rusak, punah alam budaya kita, namun kita juga di bekali akal, tenaga, dan kemampuan berkomunikasi yang sempurna untuk mengelola alam dengan bijaksana.

Referensi:

Reeves, G., 1999. History and ‘Mentawai’: Colonialism, Scholarship and Identity in the Rereiket, West Indonesia. The Australian journal of anthropology10(1), pp.34-55.

Whittaker, D. & Geissmann, T. 2008. Hylobates klossii. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T10547A3199263. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T10547A3199263.enDownloaded on 16 March 2018.

Monday, February 26, 2018

Kopi dan Owa : Identitas Global dari Jawa

menikmati seduhan kopi owa di Singapore zoo


Minggu ini tim swaraOwa memenuhi undangan dari organisasi konservasi di Singapura untuk berbagi pengalaman tentang kegiatan pelestarian Owa di Indonesia. Khususnya Owa jawa melalui proyek Kopi dan Konservasi Primata yang telah berjalan hingga tahun ke 8 ini masih terus berjalan dan berkembang dalam upaya melestarikan Owa dan habitatnya di wilayah Jawa Tengah.
Wildlife reserve singapore melalui singapore zoo yang mengundang kami untuk mempresentasikan kegiatan yang telah berjalan. Sejak tahun 2013 WRS telah menjadi bagian utama sebagai donor dari proyek ini.  Tidak hanya sekedar menjadi donor namun 2 tahun terakhir ini wrs melalui singapore zoo dengan tim lapangan swaraowa mencoba membangun sebuah jaringan usaha ekonomi yang berkelanjutan untuk mendorong kegiatan konservasi Owa Jawa. Sekema kopi ramah owa yang telah di inisiasi telah berhasil membawa produk kopi dari habitat Owa ke pasar yang lebih luas di Singapura.
papan informasi tentang Kopi Owa di Singapore zoo

Presentasi juga berjalan lancar, kurang lebih hampir 50 orang staff dari  zoo hadir dalam acara ini. Dan berlanjut ke kunjungan lapangan untuk melihat langsung bagaimana kopi owa di proses di singapura dan di sajikan untuk para pengunjung yang berkunjung.
Salah satu sudut di pintu masuk  zoo kini telah menjual kopi owa dalam bentuk kemasan dan seduhan, dan untuk di ketahui kopi yang di proses disini di buat blend atau campuran antara robusta dan arabica.
Foto bersama dengan panitia dan pembicara

Yang utama dari acara kunjugan swaraowa di Singapura adalah memenuhi undangan Jane Goodall Institute, dalam acara  berjudul "Wonderful Indonesian Primates".  Lembaga yang di dirikan oleh salah satu perempuan pioneer primatologist, Dr. Jane Goodall. Salah satu tokoh dan ahli primata dunia yang hingga saat ini sangat aktif tidak hanyak untuk penelitian dan mendorong upaya pelestarian primata, meskipun awalnya di Afrika namun semangatnya kini telah menyebar menginspirasi ke berbagai penjuru habitat asli primata-primata dunia. Khusus di Asia Jane Goodall  Institute Singapore menjadi tuan rumah untuk menyebarluaskan pesan konservasi primata di wilayah Asia dengan keragaman priamata yang sangat tinggi . Acara semacam kuliah umum ini di adakan setiap 3 bulan sekali untuk mengenalkan kepada publik primata-primata di Asia dan upaya pelestariannya. Untuk acara ini di adakan di Singapore Botanic Garden, salah satu kebun botani yang yang di dirikan sejak tahun 1800an di Asia Tenggara.
Presentasi Dr.Leif tentang Orangutan

Kesempatan ini menjadi sangat istimewa bagi swaraowa, bertemu dengan ahli-ahli primata lain dan juga berinteraksi langsung dengan komunitas global. Tidak hanya mengenalkan owa namun juga nilai konservasi lainnya yang saling melengkapi. Dalam acara ini karena swaraowa juga ada kegiatan di Kepulauan Mentawai, kita juga menceritakan pengalaman lapangan dari habitat Bilou owa endemik Mentawai untuk peserta yang hadir. 2 pembicara yang lain yang hadir adalah dari Proyek Orangutan dan Proyek konservasi Kukang. membuktikan bahwa primata Indonesia sudah menjadi bagian penting dari upaya konservasi global. tidak hanya penelitian namun juga membangun komunitas di habitat asli tentu sebuah upaya yang tidak mudah dan penuh tantangan.
acara di luar ruangan untuk anak-anak

Salah satu hal yang patut kita renungkan selama mengikuti acara ini adalah pelestarian primata dan habitatnya ini sudah menjadi concern masyarakat global,  penelitian yang lebih bersifat terapan di lapangan sangat  membantu mencegah kepunahan dan memperkuat nilai-nilai penting dari primata dan habitat asli. Komunikasi dan kerjasama pihak pihak terkait memberi kesempatan kita untuk saling menguatkan peran kita dalam mengelola alam ini lebih baik. Sementara upaya berkelanjutan dari sisi ekonomi menjadi bagian tidak terpisahkan dari upaya konservasi itu sendiri.

Thursday, February 15, 2018

Catatan dari Lapangan : Bagaimana perilaku primata ketika hujan?

Rekrekan - Javan Surili ( Presbytis comata)

Hampir satu minggu lebih di habitat Owa jawa, hutan Sokokembang ini selalu basah, hujan setiap hari mengguyur setiap sudut belantara. Owa yang biasanyanya bersuara sejak dini hari, hari-hari ini tidak tedengar sama sekali. Matahari pun dalam hitungan menit saja bersinar, itupun tertup awan, panggilanp panggilan sinden hutan yang menunjukkan wilayah kelompok owa juga tidak terdengar.
Apa yang di lakukan owa atau primata lain di hutan ketika hari hujan? Bagaimana perilakunya? Seperti apa mereka memanfaatkan pohon ketika hari hujan?

Kemungkinan berjumpa dengan primata memang sangat kecil ketika hari hujan, dan data penelitian tentang hari hujan terkait dengan primata-primata sepertinya tidak banyak yang mengkajinya. Beberapa penelitian tentang pemanfaatan habitat primata, sebenarnya dapat diprediksi dengan sebaran resourcenya, entah itu sumber pakan , tempat berlindung, dan ruang.
Lutung ketika hujan

Kami mencoba menyusuri jalan yang biasa kami gunakan untuk monitoring primata ketika hari-hari biasa tidak hujan.Kami memilih jalur yang paling mudah, dari sisi aksesibilitas dan juga visibilitas, karena hujan dan kabut membatasi pengelihatan kita, peralatan juga di persiapkan untuk dalam kondisi hujan.


Satu kelompok Lutung (Trachyithecus auratus) akhirnya teramati dalam jalur ini, teramati 4 individu sendang berada di pohon, dan melihat mereka dalam hujan, terduduk diam, kami mengamati ada2 invidiu memang berada di cabang pohon yang tidak ada sama sekali peneduhnya, 1 individu terlihat berada di bawah naungan daun-daun , dan 1 individu terlihat berlindung di bawah tebalnya tanaman paku-pakuan (simbar). Dari 4 individu ini ter amati hampir lebih dari 30 menit, tidak melakukan aktifitas apapun, diam dan hanya sesekali berpindah posisi istirahat.  Kami mencoba menggunakan camera video untuk melihat bagaimana lebih dekat, dan sesekali rambut tebal Lutung ini di kibaskan.
Tidak jauh dari kelompok ini, teramati juga 2 individu Rekrekan ( Presbytis comata) yang meskipun hujan cukup deras kelompok ini terlihat bergerak. Namun sepertinya juga tidak melakukan akftifitas makan.

Lutung sedang berlindung ketika hujan

Pergerakan primata seringkali dapat di prediksi dengan sebaran resource nya, aktifitas harian sebenarnya dapat dengan mudah di ikuti ketika hari normal, waktu makan, waktu bergerak, istirahat , bisa di analisis pola nya. Ruang jelajah dan wilayah inti aktfitias tentu juga berubah. Anomali cuaca seperti minggu ini di habitat alam hutan sokokembang seperti minggu ini tentu juga mengubah pola normal yang biasanya primata lakukan. Hutan yang relatif utuh, sepertinya akan memberikan daya dukung yang sempurna untuk mengatasi anomali cuaca. Meskipun belum banyak yang meneliti tentang hal ini, asosiasi pohon dengna tanaman lain, karakteristik pohon dan keragaman jenis sangat mungkin mempengaruhi keberadaan primata.

Referensi :

Reyna-Hurtado, R., Teichroeb, J.A., Bonnell, T.R., Hernández-Sarabia, R.U., Vickers, S.M., Serio-Silva, J.C., Sicotte, P., Chapman, C.A. and Stephens, D., 2017. Primates adjust movement strategies due to changing food availability. Behavioral Ecology.


Mitani, M., 1989. Cercocebus torquatus: adaptive feeding and ranging behaviors related to seasonal fluctuations of food resources in the tropical rain forest of south-western Cameroon. Primates30(3), pp.307-323.