![]() |
| Interaksi lebah dan bunga kopi meningkatkan peluang terjadinya penyerbukan |
Oleh: Sidiq Harjanto
Pada kotak-kotak kayu kecil di sudut kebun petani,
lebah-lebah klanceng bekerja dengan tekun. Tidak seperti lebah sengat yang
membangun sarang berbentuk segi enam simetris dari lilin murni, lebah nirsengat
ini membangun wadah-wadah yang unik. Mereka mengumpulkan resin dari berbagai
pepohonan hutan, lalu membentuk cawan-cawan cokelat kehitaman untuk menyimpan
cadangan madu maupun polen yang mereka kumpulkan.
Dari cawan-cawan kecil itulah lahir sebuah cerita
besar tentang keterhubungan. Setiap tetes madu yang kita minum terkoneksi
langsung dengan keanekaragaman flora dan kelestarian hutan. Ketika petani
merawat habitat klanceng dan menjaga tutupan pohon, mereka tak cuma mengisi
cawan-cawan madu, tetapi sedang mempertahankan jalinan kehidupan.
Berangkat dari pemahaman itu, SwaraOwa memaknai pengembangan
ekonomi berbasis hutan bukan sekadar memberikan keterampilan atau mengenalkan
teknologi terapan kepada petani melainkan juga menumbuhkan 'ekosistem' yang
regeneratif. Di dalamnya perlu ada koherensi antarpihak, kolaborasi, dan
inovasi. Pembelajaran ini kami dapatkan dari pengalaman lebih dari delapan
tahun introduksi pembudidayaan lebah klanceng di desa habitat Owa Jawa.
| Darso dan Suroyo sedang memanen madu menggunakan pompa sedot |
Lebah sebagai agen konservasi
Nektar adalah cairan manis yang dihasilkan berbagai
jenis tumbuhan. Dengan kekayaan spesies penyusun vegetasi hutan, nektar dihasilkan
dalam jumlah besar. Kita susah mengestimasinya karena sifatnya yang tersebar.
Meskipun tersedia dalam jumlah melimpah, nektar tidak bernilai ekonomi. Namun,
keajaiban terjadi ketika lebah telah mengubahnya menjadi madu, ia menjelma
komoditas bernilai tinggi dan telah diperdagangkan selama ribuan tahun.
Lebah mengambil nektar dan serbuk sari dari tumbuhan
sebagai sumber energi dan protein. Bagi mereka, itu adalah mekanisme
mempertahankan eksistensi spesies. Akan tetapi, dilihat dari sudut pandang
berbeda, kerja lebah juga meningkatkan kemungkinan keberlanjutan berbagai
spesies lain. Interaksi antara lebah dengan bunga dapat berkontribusi meningkatkan
keberhasilan penyerbukan, yang kemudian memicu pembuahan dan menghasilkan biji sebagai
bakal generasi baru spesies tumbuhan yang didatanginya.
Regenerasi tumbuh-tumbuhan penyusun hutan adalah salah
satu fondasi regenerasi hutan itu sendiri. Dengan hutan yang terus tumbuh,
aneka spesies yang bergantung kepadanya otomatis juga lestari.
Logika ini yang kami pakai saat pertama kali belajar
bersama mengenai pembudidayaan lebah bersama masyarakat di desa-desa sekitar
habitat Owa Jawa. Konservasi spesies primata endemik dan terancam punah ini
tidak hanya ditempuh dengan jalan linear seperti perlindungan dari perburuan,
tetapi juga melalui jaring-jaring kompleksitas hutan itu sendiri.
Jika regenerasi hutan sebagai habitat Owa Jawa adalah
isu jangka panjang, ketersediaan pakan baginya bisa diamati dalam skala waktu
yang lebih singkat. Kelompok kera kecil ini merupakan satwa pemakan buah. Di
sisi lain, lebah merupakan kelompok serangga penyerbuk dominan di hutan-hutan
tropis. Di titik inilah kita menemukan korelasi beberapa aspek yang bertautan. Jejak
jasa lebah mungkin terekam pada sebagian pakan yang menopang kehidupan Owa.
Melalui budidaya lebah, konservasi Owa Jawa tidak
hanya berlangsung di dalam hutan, tetapi juga diperluas ke lanskap
sosial-ekologis yang mengelilinginya. Cawan madu menjadi titik masuk untuk
memulainya, dengan argumen dasar: nilai ekonomi diperoleh bukan dengan
menghabiskan sumber daya, tetapi dengan mempertahankan kemampuan lanskap untuk
terus menghasilkan manfaat.
![]() |
| Dengan hati-hati, Yukni mengangkat brood cells - tempat untuk menetaskan telur dan larva lebah untuk dibagi menjadi dua bagian |
Posisi lebah dalam kompleksitas sistem sosial-ekologi
Menggunakan paradigma sistemik, kita menyadari bahwa hutan
bukanlah entitas yang terisolir. Ekosistem hutan tropis secara tidak langsung
dipengaruhi oleh bagaimana dinamika global berjalan. Dalam skala yang lebih
kecil, dinamika ekosistem hutan berhubungan dengan bagaimana masyarakat di
sekitarnya mendapatkan manfaat langsung. Cerita para petani hutan di Dusun
Sawahan, Desa Mendolo, bisa memberikan gambaran yang mempermudah kita memahaminya.
Sebagai petani, Rohim (41) menggantungkan ekonomi dari
tiga komoditas utama, meliputi durian, kopi, dan madu. Di luar itu, ada
sumbangan dalam porsi yang lebih kecil dari kapulaga, jengkol, dan biji
kepayang. Berangkat sebagai pemanen madu hutan (Apis dorsata), lima tahun terakhir ia membudidaya klanceng dari
jenis Heterotrigona itama. Kini,
mayoritas madu yang dijualnya berasal dari kotak-kotak budidaya di kebun,
sementara sebagian kecil lainnya dari panen alam. Madu telah menyumbang sekitar
20% pemasukannya.
Bagi para pembudidaya klanceng di Sawahan, madu
menjadi bantalan yang cukup kuat dalam hal ekonomi. Jika dihitung dari hasil
panenan maupun potensi nilai ekonomi, madu relatif lebih stabil ketimbang
komoditas lain. Bandingkan dengan kopi yang disparitas hasil panennya
menunjukkan kontras yang lebar, angka tertinggi pada musim raya mencapai sekira
tiga kali lipat dibandingkan angka terendah pada musim paceklik seperti
sekarang ini.
Pada durian, kontras itu bisa jauh lebih besar lagi.
Meskipun tertolong dengan harga pasar, namun tampaknya durian memiliki ambang
optimal tertentu. Ketika panen raya, pasar bisa mencapai titik jenuh sehingga
pengepul lokal kesulitan memasarkan lebih banyak durian yang disetor petani.
Akibatnya, harga langsung jatuh.
Kombinasi beberapa sumber pendapatan seperti yang
dimiliki Rohim dan banyak petani di desanya merupakan strategi untuk menjaga
daya tahan menghadapi ketidakpastian pasar. Melalui agroforestri, petani bisa
memperoleh pendapatan dari sumber yang beragam. Agroforestri adalah
mengombinasi berbagai spesies tanaman pada satu lahan. Dalam satu kebun, kita
bisa menemukan durian, kopi, kapulaga, pisang, dan berbagai tanaman pangan. Tak
hanya tanaman budidaya, spesies liar masih diberi ruang untuk tumbuh.
![]() |
| praktik pemecahan koloni dengan warga Sawahan ( 8 agustus 2026) |
Praktik ini tidak hanya menjaga resiliensi ekonomi bagi petani, tetapi juga memberi berbagai keuntungan lain.
Alih-alih menjual semua madu hasil panen, Rohim selalu
menyisihkan setidaknya satu liter madu klanceng untuk mencukupi kebutuhan
keluarga setiap bulannya. Baginya dan banyak keluarga pembudidaya lebah di
dusun Sawahan, madu adalah suplemen kesehatan yang murah meriah, diramu oleh proses
alami di hutan yang melingkupi desa. Pada cawan-cawan kecil di dalam kotak
lebah klanceng itulah, para petani bisa mengaksesnya.
Demikian pula yang dilakukan Darso (34). Pekerjaan di
kebun dan hutan membuatnya butuh stamina prima. Menurutnya, mengonsumsi madu secara
rutin menjaga tubuh tetap bugar. Bagi masyarakat sekitar hutan, kebugaran
adalah salah satu aset ekonomi. Ketika masyarakat merasakan langsung bahwa madu
dari hutan yang terjaga menjadi "suplemen alami" dan benteng imunitas
keluarga, itu memberi peluang terciptanya sistem umpan balik.
Madu sebagai komoditas ekonomi, maupun madu sebagai
suplemen kesehatan bisa dimaknai sebagai bentuk-bentuk insentif yang diberikan
hutan kepada masyarakat. Namun, insentif hanya bisa dipertahankan melalui
resiprositas. Artinya, jika para petani ingin mendapatkan manfaat yang
terus-menerus, mereka perlu secara sadar memelihara keutuhan hutan agar fungsi
itu terus berjalan.
![]() |
| hasil pemecahan koloni |
Merawat
'ekosistem' budidaya lebah
Inisiasi budidaya lebah klanceng yang kami jalankan
berawal dari penyelamatan koloni liar yang dipanen dari alam. Semula, para
pemanen madu sekadar mengambil madu dari sarang di pohon dan meninggalkan
begitu saja koloni lebah dalam keadaan rusak. Pada akhirnya, jarang koloni yang
selamat. Praktik semacam itu dikhawatirkan bisa mengancam populasi lebah liar
di hutan.
Para pemanen madu lalu belajar memindahkan sarang
klanceng ke dalam kotak budidaya untuk dipelihara. Tidak mudah untuk melakukan
itu. Permasalahannya bukan pada hal teknis, melainkan pada aspek psikologis.
Seorang pemanen madu alam biasa pergi ke hutan lalu membawa pulang hasil panen
pada hari itu juga. Sementara itu, seorang pembudidaya perlu menghadapi delayed gratification. Memulai budidaya
hari ini berarti baru bisa memanen beberapa bulan lagi.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, mereka pada
akhirnya berhasil melewati titik kritis itu. Di Sawahan sendiri, sudah lebih
dari sepuluh orang pembudidaya klanceng yang kini memetik manfaat nyata. Mereka
bisa rutin memanen madu setiap bulan, mulai Juni hingga menjelang puncak musim
hujan di bulan Desember.
Perkembangan ini membawa beberapa implikasi menarik,
termasuk dalam hal bagaimana mendapatkan koloni untuk dipelihara. Suroyo (35),
seorang petani lain yang baru dua tahun terakhir menekuni klanceng, menuturkan
bahwa ia mendapatkan koloni dengan cara memasang kotak jebak. Dibandingkan rekan-rekan
sesama pembudidaya, tingkat keberhasilan yang didapatnya jauh lebih tinggi.
Didukung pengalaman panjang dengan lebah madu lokal (Apis cerana), ia memahami bagaimana menentukan lokasi pemasangan
yang ideal.
Banyak warga ingin memulai budidaya, tetapi kesulitan
mendapatkan koloni lebah adalah tantangan tersendiri. Keahlian yang dimiliki
Suroyo sangat berharga untuk menjawabnya. Hanya saja, seringkali keahlian
semacam ini sulit ditularkan karena variabelnya kompleks dan kalkulasi terjadi
secara intuitif. Padahal, teknik jebak merupakan metode yang lestari karena
tidak perlu membongkar sarang koloni liar yang risiko kegagalannya lebih tinggi
sehingga berpotensi mengganggu keberlanjutan populasi di alam.
Menjawab tantangan kebutuhan koloni budidaya, awal
Agustus ini kami mengadakan workshop. Berbeda dari workshop pada umumnya, tidak
ada status narasumber ataupun peserta karena semua mengambil posisi setara—punya
kesempatan yang sama dalam berbagi pengalaman masing-masing. Kegiatan ini
hendak meningkatkan keterampilan para pembudidaya dalam metode pemecahan koloni
(colony splitting). Pemecahan koloni adalah
proses membagi satu koloni lebah klanceng yang sudah kuat menjadi dua atau
lebih koloni baru. Ini merupakan alternatif di saat metode jebak belum efektif.
Yukni Buhan (32) tampak sangat telaten mengamati
sarang yang sudah terbuka. Menurut pengalamannya, tingkat keberhasilan
pemecahan koloni terletak pada pengamanan ratu dan pupa ratu. Pada teknik splitting manual, prinsipnya adalah:
satu koloni dipertahankan dengan ratu aktif, sedangkan koloni pecahan diberikan
pupa ratu sebagai calon ratu baru. Jika pemecahan koloni dilakukan dengan grasa-grusu,
seringkali ratu hilang atau terluka sementara sel calon ratu (queen cell) yang rawan pecah menjadi
rusak.
Sebagai pembudidaya yang paling berpengalaman dalam
teknik pemecahan, Yukni memandu proses ini sembari membagi banyak tips untuk meningkatkan
keberhasilan. Metode ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi agar jangan
sampai melukai lebah-lebah atau merusak kumpulan telur – pupa – larva (brood cell). Ia juga mewanti-wanti untuk
secara rutin memeriksa perkembangan koloni pasca-pemecahan agar terhindar dari
binatang pengganggu seperti semut.
Praktik pemecahan koloni kali ini berjalan lancar,
meskipun keberhasilannya baru bisa dilihat beberapa minggu ke depan. Namun,
pertemuan ini bukan sekadar meningkatkan pengalaman teknis melainkan sebentuk
upaya merawat ‘ekosistem’ budidaya lebah yang telah dibangun para praktisinya. Ekosistem
yang dimaksud adalah interaksi antar-aktor yang membentuk jaring-jaring kerja
sama dalam skema pengembangan budidaya klanceng.
Melalui praktik bersama, keahlian dan keterampilan
tidak lagi bersifat eksklusif. Dalam hal ini, karakter regeneratif itu kembali dimunculkan
pada konteks lain, yaitu ekosistem pengetahuan. Dalam momen yang terbilang
singkat, pembicaraan tidak berhenti pada bagaimana memperbanyak koloni, tetapi
berkembang ke berbagai hal termasuk bagaimana meningkatkan ketersediaan pakan
alami lebah, perkembangan alat penyedot madu, hingga pengalaman-pengalaman
sederhana namun tetap berguna.
Bertambahnya koloni bisa berimplikasi pada kemungkinan
peningkatan hasil panen yang artinya perlu memikirkan akses pasar yang lebih
luas. Hal itu mungkin bisa dipecahkan bersama melalui perjumpaan-perjumpaan
semacam ini. Membangun ekosistem ekonomi-ekologi berkelanjutan membutuhkan
kolaborasi, alih-alih kompetisi.
Cawan madu bukan sekadar tempat di mana para pembudidaya
mengarahkan ujung selang mesin sedotnya—mengumpulkan tetes demi tetes
cairan manis yang membawa manisnya ekonomi lestari. Karena di dalamnya, simpul
keterhubungan itu terlihat: Owa Jawa – hutan – pohon – lebah – manusia. Pendekatan
regeneratif bukan sekadar tentang membiarkan hutan bertahan, melainkan tentang
mendesain interaksi manusia di dalamnya menjadi tindakan memulihkan dan menjaga
resiliensi. Hutan yang regeneratif adalah hutan di mana keberadaan manusia
tidak dianggap sebagai beban ekologis, melainkan sebagai pemelihara.













.jpeg)
.jpeg)



