Friday, October 16, 2026

Solusi berkelanjutan, infrastruktur jaringan listrik ramah satwa, di Petungkriyono, Pekalongan

 UPDATE _15 April 2022; 16 Oct 2026

Oleh : Arif Setiawan

Rekrekan (Presbytis fredericae) dari hutan Petungkriyono

Pembangunan ekonomi dan infrastruktur yang cepat dalam tiga tahun terakhir membawa korban  tewasnya satwa-satwa asli Petungkriyono, termasuk primata-primata yang memang sudah teracam punah, tersengat listrik dari kabel listrik yang tidak berinsulasi ,yang masuk kedesa-desa di tengah hutan.

Petungkriyono adalah   kecamatan bagian dari Kabupaten Pekalongan sudah terkenal karena keberadaan hutan  dan satwaliarnya. Kawasan hutan dengan tipe hutan dataran rendah hingga penggunungan, merupakan yang tersisa saat ini di bagian tengah Pulau Jawa. Sudah seharusnya daerah ini menjadikan ini asset yang lestari , tidak semua daerah memiliki potensi seperti kecamatan Petungkriyono.

Dari 5 jenis primata Jawa dapat di temukan di Kawasan hutan di dua kecamatan ini, yaitu  Lutung jawa ( Trachypithecus auratus), Rekrekan ( Presbytis fredericae), Owa Jawa ( Hylobates moloch), Monyet ekor panjang ( Macaca fascicularis) dan Kukang jawa ( Nyctecebus javanicus). Kawasan hutan yang membentang dari ketinggian 200 meter di atas permukaan laut hingga hutan pegungungan dengan ketinggian 1900 meter, saat ini merupakan kantung hidupan liar endemik, tidak dijumpai di daerah  lain.

Jaringan listrik di antara kanopi hutan Petungkriyono

Pembangunan infrastruktur  terumata jaringan listrik sudah tentu di tunggu-tunggu oleh warga di sekitar hutan yang sudah sejak dahulu memang dalam posisi geografis yang kurang menguntungkan untuk mendapatakan aliran listrik dari pemerintah. Dua dusun yang paling merasakan dampak dari masuknya jaringan listrik ini adalah dusun Sokokembang dan Tinalum, yang sejak dahulu menggunakan listrik mandiri,  sejak tahun 2006 sudah ada tenaga surya yang digunakan masing-masing rumah, namun karena kondisi cuaca dan topografi khas pegunungan, panel-panel surya ini tidak dapat mengumpulkan energi matahari yang cukup, ditambah kemampuan aki untuk menyimpan juga semakin lama semakin singkat, sepertinya sudah tidak ada lagi yang menggunakan tenaga surya.

PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro), tahun 2009 pemerintah provinsi jawa tengah memberikan bantuan pembangkit listrik tenaga air untuk dua dusun tersebut, hingga tahun 2016, listrik tenaga air ini menggunakan turbin pembangkit yang ada di Sungai Welo, di dekat dusun Tinalum. Listrik ini juga melewati Kawasan hutan sepanjang dusun Tinalum dan Sokokembang, kabel yang di gunakan jaringan ini berinsulasi, kabel kawat yang di bungkus lapisan karet yang tidak membahayakan, meskipun melewati rimbunnya tajuk pohon tidak mebahayakan primata yang lewat disekitarnya. PLTMH ini berhenti total beroperasi  tidak menghasilkan listrik tahun 2017 akhir, karena kendala teknis dan lainsebagainya. Kemudian tahun 2019, bersamaan dengan masuknya jaringan listrik negara kedua dusun ini, Dusun Sokokembang mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk PLTMH, yang digunakan untuk di Dusun Sokokembang saja. Menjadi bermanfaat juga untuk warga 2 dusun ini, keberadaan jaringan listrik ini, dapat menggerakan kegiatan ekonomi khususnya konveksi dan usaha kopi yang menggunakan aliran listrik. Baca laporan disini tentang manfaat pembankit listrik tenaga air yang ada di Sokokembang : https://jateng.idntimes.com/news/jateng/dhana-kencana-1/peduli-konservasi-dari-pemanfaatan-energi-di-hutan-petungkriyono

Lutung Jawa  mati tersengat listrik di hutan Petungkriyono

Lintasan satwa primata, dilalui jaringan listrik terbuka bertegangan tinggi
 

Mulai masukknya jaringan listrik negara inilah, bencana untuk primata-primata ini mulai terjadi, mati tersengat, menggelantung di kabel listrik jaringan terbuka. Kami mencatat kematian-kematian primata karena tersengat listrik ini di tabel berikut , sejak jaringan listrik  masuk,  sejak tahun 2019 sudah ada 6 primata mati tersengat listrik, dari kabel yang tanpa isolasi tersebut. Laporan-laporan tentang matinya primata karena jaringan listrik ini dapat di baca di berita ini : https://radarpekalongan.co.id/119342/gegara-kesetrum-primata-langka-ini-mati/ hingga yang terbaru minggu ini ( 2 Agustus 2021) satu lagi primata mati, Rekrekan (Presbytis comata) yang juga dilindungi dan terancam punah statusnya. Dan catatan kami berdasarkan pengamatan di lapangan dan laporan warga ada di tabel berikut ini :

Tabel (data kematian primata di Petungkriyono karena tersengat listrik )

no

Bulan/Tahun

Jenis Primata

1

Juni/ 2019

Rekrekan  (Presbytis comata)

2

Desember/2019

Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)

3

Januari/2020

Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)

4.

July/2020

Rekrekan (Presbytis comata)

5.

Oktober/2020

Owa jawa ( Hylobates moloch)

6.

Agustus/2021

Rekrekan ( Presbytis comata)

 

update
7.            21 September 2022                      Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
8.            19 November 2022                        Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
9.            6 Februari 2022                            Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
10.          13 April 2022                                Rekrekan  ( Presbytis comata)

Berdasar laporan sebelumnya, PLN pada taggal 4 Februari 2022, kabel listrik sudah di ganti dengan kabel yang berisolasi, di segmen kalibedug-sokokembang, dan welo asri. Kejadian terakhir tanggal 14 April 2022, terjadi di segmen yang belum di ganti kabel berisolasi.


Rekrekan yang mati tanggal 13 April 2022

update 
15 October 2026, 1 Owajawa  (lokasi) Sawanganronggo

Laporan di terima oleh tim swaraowa, tanggal 15 October 2025, jam 13.28, 1 individu jantan dewasa ditemukan mati, di ds. Sawanganronggo, Desa Tlagapakis, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan,  kemudian tim menelurusi kronologi, dan mengkonfirmasi informasi tersebut. Owa telah mati dan di kuburkan pada tanggal 12 October 2025, setelah ditemukan dengan kondisi tangan terbakar. Laporan ini kemudian teruskan kepada pihak terkait anggota forum kolaborasi pengelolaan hutan petungkriyono dan laporan ke PLN secara personal telah disampaikan ke petugas, namun belum mendapat respon.

Owa jawa mati tersengat listrik
di Sawanganronggo ( foto; Bambang)



Solusi Pembangunan Infrastruktur Jaringan Listrik ramah hutan dan satwa.

Kasus-kasus seperti ini sudah banyak terjadi di negara-negara berkembang, di berbagai negara, dan merupakan bentuk fragmentasi habitat, yang menimbulkan ancaman serius untuk kepunahan satwa-satwa arboreal, seperti jenis-jenis primata.Jaringan listrik murah dipilih untuk  dapat menjakau jauh kedalam pelosok-pelosok wilayah dengan topografi yang sulit di jangkau. Konsekwensinya harus mengorbankan satwaliar, dan pertimbangan ekologis sepertinya juga belum menjadi hal yang penting untuk pembangunan.

1.       Menggunakan kabel berinsulasi

Tentu hal ini setidaknya menjadi pilihan yang ramah bagi hutan dan hidupan liar, karena salah satu bentuk fragmentasi habitat melalui jaringan listrik dan jalan ini menjadi penyebab dan mempercepat kepunahan. Tentu butuh investasi lebih untuk infrastruktur ini, namun harus di pertimbangkan di lokasi-lokasi yang mempunyai keanekargaman tinggi seperti di Petungkriyono.

Contoh yang di terapkan untuk melindungi Sloth di Amerika Selatan. https://slothconservation.org/what-we-do/power-line-insulation/

 2.       Mengoptimalka PLTMH, salah satu sumber listrik yang terbarukan dan layak disebut “clean energy” sudah terbukti sangat membantu warga dan ramah satwaliar, tidak ada korban satwaliar sejak masukknya di Sokokembang dan Tinalum, hanya saja butuh perawatan dan dukungan kapasitas kelembagaan pengelolaanya, 2 pembangkit yang ada sekarang tidak berjalan lagi karena masalah tersebut. Sebenarnya nilai penting sungai, hutan dan aliran airnya dapat dioptimalkan dari penggunaan yang berkelanjutan ini. Baca laporan tentang PLTMH ini akhir tahun lalu masih berfungsi optimal di Sokokembang ( https://jateng.idntimes.com/news/jateng/dhana-kencana-1/peduli-konservasi-dari-pemanfaatan-energi-di-hutan-petungkriyono

 3.       Membuat Jembatan Kanopi

Membuat jalur penyeberangan satawaliar yang melintas kabel-kabel listrik terbuka tanpa insulasi. Metode ini sudah terbukti berhasil diterapkan di habitat primata satwaliar terancam punah lainnya.  Beberapa lokasi  dengan kanopi yang masih rapat dapat dibuatkan jembatan artifisial untuk menghubungkan kanopi-kanopi pohon supaya satwa-satwa penhuni pohon ini dapat berjalan melitas. Cotoh yang sudah berhasil di amerika selatan  https://www.ballenatales.com/new-bridge-monkey-capuchin-community/

4.       Menggunakan kabel berselubung pelindung kontak satwaliar

 Kabel-kabel bertegangan listrik tinggi, yang berada di wilayah pergerakan satwliar di beri pelindung berbahan silicon, sehingga listrik tidak dapat merambatkan energinya. Contohnya ada si marketplace ini : https://indonesian.alibaba.com/product-detail/22kv-spiral-silicone-tubing-to-protect-energized-system-from-wildlife-contact-60820300752.html

 Kasus-kasus ini kemungkinan akan dapat terus terjadi lagi apabila tidak ada perhatian dari pihak-pihak terkait, wilayah-wilayah dengan keanekargaman tinggi sudah seharusnya mendapatkan prioritas pengelolaan untuk dapat mempertahankan dan menjaga nilai hidupan liar yang juga menjadi asset daerah. Pembangunan berwawasan konservasi dan berkelanjutan diharapkan dapat di terapkan sekaligus memperkuat nilai tambah untuk produk-produk yang dihasilkan dari daerah-daerah dengan keanekaragaman tinggi.

5. Membuat jaringan listrik dalam tanah

Membuat jaringan ini tentu sangat mahal dan perencanaan yang matang, sudah ada kajian tentang hal ini. Secara estetika tentu tidak mengganggu keindahan bentang lahan dan tidak menyebabkan satwa arboreal kesetrum. 

 

Daftar Pustaka :

Al-Razi, H., Maria, M. and Muzaffar, S.B., 2019. Mortality of primates due to roads and power lines in two forest patches in Bangladesh. Zoologia (Curitiba), 36.

Katsis, L., Cunneyworth, P.M., Turner, K.M. and Presotto, A., 2018. Spatial patterns of primate electrocutions in Diani, Kenya. International journal of primatology, 39(4), pp.493-510.

Pereira, A.A., Dias, B., Castro, S.I., Landi, M.F., Melo, C.B., Wilson, T.M., Costa, G.R., Passos, P.H., Romano, A.P., Szabó, M.P. and Castro, M.B., 2020. Electrocutions in free-living black-tufted marmosets (Callithrix penicillata) in anthropogenic environments in the Federal District and surrounding areas, Brazil. Primates, 61(2), pp.321-329.

Dittus, W.P., 2020. Shields on Electric Posts Prevent Primate Deaths: A Case Study at Polonnaruwa, Sri Lanka. Folia Primatologica, 91(6), pp.643-653





Tuesday, October 13, 2026

Dari Isu Iklim Hingga Praktik Kebun Kopi Naungan: Guardian of The Gibbon

 oleh : Sidiq Harjanto, Vika Bayu Iriyanto Putro & Muhammad Kuswoto

para petani mitra Kopi Owa - guardian of the gibbon

Program Owa Coffee: Guardian of the Gibbon yang didukung oleh AirAsia Foundation telah memasuki kuartal ketiga. Program ini merupakan kelanjutan dari inisiatif skema kopi naungan (shade-grown coffee) sebagai bentuk praktik budidaya kopi ramah satwa liar. Dalam perjalanannya, sebagian petani mitra telah berhasil memproduksi kopi sesuai standar kualitas yang ditentukan. Meski demikian, upaya membangun tata kelola kopi naungan yang lestari, berkeadilan, sekaligus mendukung kelestarian habitat Owa Jawa di Petungkriyono masih memerlukan komitmen panjang.

Tantangan iklim dan dampaknya pada kopi

Pada 3 Oktober 2026, kami melakukan monitoring kedua dengan target utama mengevaluasi periode panen tahun ini. Semua petani mitra kami mengeluhkan kekeringan yang berdampak besar pada panenan kopi. Kondisi iklim tahun ini yang dipengaruhi El Nino membuat produksi kopi di berbagai wilayah di Indonesia mengalami penurunan signifikan, termasuk di Petungkriyono. Pengalaman empiris beberapa petani mitra kami bahkan menunjukkan penurunan sampai lebih dari 60% jika dibandingkan dengan musim panen tahun sebelumnya yang terbilang bagus. 

kerusakan tanaman kopi tanpa naungan musim kemarau 2026

Penurunan drastis ini berdampak langsung pada total perolehan green bean Owa Coffee. Beruntung, program ekspansi yang menjaring petani dan pemroses (coffee processor) baru di tahun ini memberi bantalan pengaman yang krusial. Dari 25 petani baru yang bergabung, memang baru sekitar 40% yang telah menyetor hasil panen, sementara sebagian besar lainnya masih fokus pada pembenahan kebun. Namun, kontribusi kelompok baru ini sangat berarti: mereka menyumbang 25% dari total perolehan biji kopi pada tahun yang berat ini. Bahkan, untuk jenis robusta kontribusinya lebih dari 40%. Hasil evaluasi internal menunjukkan bahwa kualitas produk—yang notabene dihasilkan lewat pengalaman pertama para pemroses—sudah memuaskan.

kondisi kopi dibawah naungan hutan di musim kemarau 2026

Dampak kekeringan bukan hanya dirasakan pada hasil panen, melainkan juga pada kesehatan tanaman. Pada lahan-lahan monokultur terbuka, dampak ini tampak sangat jelas: banyak tanaman kopi layu atau bahkan kering, dan akhirnya tidak tertolong. Tanda-tanda awal biasanya dimulai dari daun-daunnya yang menguning. Sementara itu, tanaman-tanaman kopi yang tumbuh di bawah lindungan kanopi lebat, jauh lebih aman dari kekeringan. Kopi naungan tidak hanya ramah satwa, tetapi juga lebih tahan cuaca ekstrem. Komposisi tanaman penyusun vegetasi dan tutupan tajuk mengunci kelembaban tanah, memungkinkan tanaman kopi mampu bertahan.

bertempat di swaraowa education center, pertemuan petani tidak hanya soal teknis
tapi juga menjaga kekeluargaan
Agenda strategis selanjutnya

Musim panen kopi di tahun ini telah berlalu. Namun, masih ada beberapa pekerjaan rumah untuk peningkatan produksi pada masa yang akan datang. Dalam waktu dekat, kami berencana mendistribusikan bibit kopi arabika untuk petani di ketinggian di atas 1.000 mdpl. Kawasan Petungkriyono atas sangat cocok untuk pengembangan kopi arabika. Namun, sebagai zona penting tangkapan air, penanaman kopi idealnya dilakukan melalui skema kopi naungan. Melalui skema ini, kita tidak hanya mengoptimalkan fungsi ekonomi, tetapi juga menjaga fungsi ekologi kawasan.

Dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas biji kopi, introduksi teknologi tepat guna menjadi keniscayaan. Melihat kebutuhan paling mendasar di lapangan, kami akan mendistribusikan beberapa unit alat pengupas kering (coffee huller) kepada kelompok-kelompok petani mitra. Mesin pengupas menjadi solusi strategis atas permasalahan yang banyak dialami petani/pemroses yaitu tingginya persentase biji pecah akibat penggunaan alat pengupas yang belum standar.

Berakhirnya musim panen menjadi titik balik bagi para petani untuk kembali fokus pada perawatan tanaman—mempersiapkan musim kopi tahun depan. Petani perlu menjalankan praktik terbaiknya agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Untuk itu, pada pertemuan ini, kami mengajak mereka untuk membedah buku panduan yang telah disusun sebagai acuan praktik lapangan yang lebih sistematis. 

Riset partisipatif untuk kebun kopi naungan

Buku panduan praktik Kopi Naungan Holistik telah disusun. Panduan ini dihadirkan sebagai acuan bagi semua pihak yang membentuk rantai pasok Owa Coffee, termasuk petani. Praktik kopi naungan membawa implikasi yang berbeda semenjak di lahan budidaya, termasuk dalam hal perawatan tanaman. Upaya perawatan dilakukan guna mengoptimalkan produktivitas. Jika budidaya kopi monokultur dengan paparan cahaya matahari intens dan pemupukan intensif umumnya menggunakan teknik sambung, maka kopi naungan—terutama pada praktik kopi umbaran (rustic shade) dan agroforest kompleks—membutuhkan pendekatan berbeda. 

Kami memberikan rekomendasi beberapa metode perawatan tanaman untuk sistem yang memberikan porsi naungan yang lebih lebat, antara lain: punggelan, sogolan selektif, dan lancuran. Sebagian metode tersebut belum lazim dipraktikan oleh para petani lokal. Melalui pertemuan ini, kami mempertemukan para petani dengan penyusun buku dengan maksud untuk mencapai kesamaan pemahaman mengenai istilah-istilah teknis yang digunakan. Selain itu, kami mencoba menggali masukan dari para petani berdasarkan pengalaman mereka di kebun. 

Meskipun secara konseptual telah dielaborasi lengkap, tetapi aplikasi berbagai metode ini memerlukan monitoring dan evaluasi keberhasilan secara berkala. Kondisi ini justru memunculkan peluang untuk membuat riset perbandingan untuk menemukan praktik atau metode terbaik dalam kopi naungan. Kami menyepakati untuk membuat beberapa percobaan terukur guna menilai tingkat keberhasilan masing-masing metode. Melalui riset partisipatif, para petani tidak sekadar menjalankan instruksi satu arah, tetapi juga mendapat ruang belajar aktif dalam bentuk praktik langsung.

Pada akhirnya, skema Kopi Naungan Holistik mencoba melakukan pendekatan praktik budidaya kopi yang menggabungkan aspek keseimbangan agroekologi, perlindungan spesies, dan keberlanjutan sosial-budaya masyarakat lokal. Pendekatan ini diharapkan menghasilkan lanskap produktif yang menyejahterakan petani sekaligus mempertahankan daya dukung habitat bagi satwa liar, terutama Owa Jawa.




Sunday, October 4, 2026

Kopi Naungan habitat Owa , bertahan di masa El-Nino

 Oleh Arif Setiawan

kopi naungan hutan alam habitat Owa jawa-Sokokembang

El-Nino adalah fenomena iklim global, secara sederhana adalah fenomena menghangatnya permukaan laut di Samudera pasifik bagian tengah dan timur, Pada kondisi normal, meningkatnya suhu permukaan laut ini menyebabkan, tekanan udara yang menyebabkan udara hangat yang membawa awan panas dan uap air mengalir dari belaha bumi barat ( benua amerika menuju Indonesia, yang menyebabkan hujan. Saat El- Nino terjadi angin tersebut melemah, yang disebabkan oleh meningkatnya suhu permukaan laut ( udara)  yang semakin tinggi, dengan menybebabkan melemahnya tekanan udara , menyebabkan angin yang membawa awan ini idak sampai di Indonesia. Karena hal tersebut wilayah di Indonesia sebagian besar mengalami musim kemarau dan kering, yang lebih panjang dari biasanya.

Yang terjadi ketika El-Nino di Indonesia, seperti yang kita lihat saat ini kekeringan dimana-mana, sungai dan sumber mata air mengering, dan yang tahun 2026 ini terjadi kebakaran hutan dan lahan. Fenomena iklim global ini berkelindan dengan faktor-faktor lain, terutama sektor komoditas produksi yang terkait dengan tata kelola  lahan.  Kopi adalah salah satunya, Kegiatan kopi dan konservasi primata yang dilakukan untuk pelestarian Owa jawa, mencoba melihat fenomena El-Nino ini dalam skala kecil di sekitar habitat Owa di Pekalongan. Kopi robusta ( Coffea canephora) yang mendominasi habitat Owa di sekitar dusun-dusun, dan lahan Garapan warga di hutan, meskipun belum ada penelitian lebih lanjut terkait paparan el nino, tentu ada dampaknya. 

sungai sokokembang yang menyusut debit airnya di musim kemarau 2026

Saat ini, hutan habitat owa dimana sebagian besar kopi robusta di budidayakan, sedang mengalami paparan panas kemarau dari El-Nino. Dari pengamatan kami, beberapa tanaman kopi yang di tanam tanpa naungan, terlihat sangat layu, kering dan fase berbunga yang biasanya berwarna putih, bunga-bunga kopi ini warannya berubah menjadi merah muda, bahkan banyak di antaranya yang sudah kuncup namun langsung kering. Sungai-sungai yang pada musim kemarau normal, masih mengalirkan air, nampak kering, dan vegetasi di sekitarnya juga kering dan layu. Dari alat monitoring suhu yang di pasang di sokokembang di dalam ruangan menujukkan rata-rata 35 derajat, di luar bisa mencapai 37 derajat di puncak siang hari. Kelemban udara yang biasanya mencapai 80-90 % saat ini tercatat 35 %. 

tanaman kopi tanpa naungan di Sokokembang

Pengamatan visual dari udara menggunakan drone, nampak sekali kopi yang di tanam dan terpapar matahari langsung nampak menguning daunnya. Kondisi berbeda sangat terlihat dari visual drone, kopi-kopi di bawah naungan tegakan hutan alam, terlihat sangat hijau, dan masih segar. Kopi naungan hutan alam secara microclimate, menyediakan kanopi pelindung untuk paparan sinar matahari, struktur vegetasi yang berlapis dan komposisi jenis tanaman yang beranekargam, memberikan variasi perlindungan dari waktu kewaktu mulai matahari terbit hingga terbenam. Suhu udara juga tentunya lebih dingin dibanding di lahan yang tidak ada naungan. 

Meskipun penelitian tentang paparan El-nino secara langsung di habitat Owa dan kopi robusta ini belum dilakukan secara komprehensif, ada penelitian yang dapat digunakan sebagai referensi pembelajaran,  lebih lengkap melihat fenomena El-Nino terhadap Pertumbuhan dan Produktifitas kopi di Jawa Timur,  Penelitian ini bertjujuan, menguji dampak El Nino tahun 2015 terhadap iklim mikro, pertumbuhan dan produktifitas kopi robusta (klon Tugusari 6)di berbagai system agro-forestri di kawasan Gunung Gumitir, Banyuwangi Jawa Timur.. 

Pengaruh terhadap Iklim Mikro,  Fenomena El Niño menyebabkan penurunan curah hujan tahunan yang signifikan dari rata-rata 3.975 mm} menjadi 1.801 mm, serta memperpanjang musim kemarau. Kebun tanpa naungan mengalami kondisi ekstrem dengan suhu rata-rata tertinggi 32,05  derajat dan kelembapan terendah 57,66%. Kopi di bawah hutan alam memiliki suhu paling terjaga 26,33 derajat dan kelembapan tertinggi 85%.

Pengaruh terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas, Intensitas cahaya yang lebih rendah pada sistem naungan menghasilkan karakter daun yang lebih lebar, ruas yang lebih panjang, dan kandungan klorofil yang lebih tinggi. Kopi yang ditanam di bawah hutan alam menghasilkan jumlah dompolan, jumlah buah per dompol, dan total buah per pohon paling banyak. Produktivitas kopi Robusta tertinggi selama El Niño dicapai pada sistem hutan alam (1.497kg/ha) dan sistem naungan Leucaena 1.355 kg/ha karena kemampuannya menjaga kelembapan tanah dan lingkungan.

Sumber :

Yuliasmara, F., 2017. El Nino effect on coffee growth and productivity on several agroforestry systems in Gumitir Mountain Coffee Farms, East Java, Indonesia. Pelita Perkebunan, 33(3), pp.168-179.


Tuesday, September 22, 2026

Merancang Strategi Konservasi Bilou Mentawai

 


Oleh :  Fatimah Zahratul Jannah

Pada 10 September 2026, Padang menjadi tempat bertemunya para peneliti, akademisi, pengelola kawasan, dan pegiat konservasi untuk membicarakan masa depan salah satu primata endemik Kepulauan Mentawai, owa bilou (Hylobates klossii). Melalui Workshop Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Owa Bilou Mentawai, berbagai data dan pengetahuan tentang bilou mulai dipertemukan untuk melihat bagaimana populasi dan habitatnya dapat bertahan dalam jangka panjang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Owa Bilou Mentawai. Workshop didukung oleh Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan, dan dilaksanakan oleh SwaraOwa berkolaborasi dengan Balai Taman Nasional Siberut.

Bilou (Hylobates klosii)

Pembukaan workshop dihadiri oleh perwakilan Balai Taman Nasional Siberut dan BKSDA Sumatera Barat, Ketua SRAK Owa Bilou Erlinda C. Kartika, Ph.D., serta Direktur SwaraOwa Arif Setiawan. Forum juga mempertemukan akademisi, peneliti, lembaga swadaya masyarakat, pengelola kawasan, dan berbagai pihak yang selama ini memiliki data maupun pengalaman terkait bilou.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. Suci Atmoko dari Universitas Nasional, mengenai pengantar PVA untuk Bilou Mentawai yang menekankan tujuan dilakukannya PVA ini adalah untuk : adalah sebagai fondasi ilmiah untuk memetakan peluang bertahan hidup populasi Bilou di habitat aslinya serta memprediksi risiko kepunahan.

Selanjutnya, Nur Aoliya dari SwaraOwa memaparkan Populasi Bilou (Hylobates klossii) di Kepulauan Mentawai berdasarkan survey yang telah dilakukan di tahun 2025 dan tahun 2026. Dari survey yang dilakukan oleh tim swaraowa, dengan menggunakan metode fixed point- vocal count, metode titik ini digunakan untuk mendengarkan suara kelompok bilou bersuara, di seluruh lokasi-lokasi yang sebelumnya telah di pelajari berdasarkan informasi tutupan hutan dan informasi dari warga lokal mengenai keberadaan bilou.

Sebelum pengambilan data, tim survey telah mendapatkan pelatihan terlebih dahulu, 2 kali pelatihan dalam waktu total 2 minggu dilaksanakan di awal tahun 2025 dan di bulan ..wilayah di Taman Nasional Siberut, siberut utara. Tujuannya adalah untuk pengenalan metode dan prinsip dasar metode survey Bilou berdasarkan suara. Pengambilan data, dilakukan dengan rincian 23 titik LPS di Siberut ( 9 titik di dalam kawasan TNS dan 14 titik diluar kawasan ), di sipora 2 titik lps, di Pagai Utara dan Pagai Selatan 3 titik LPS. setiap titik di lakukan pengamatan selama 4 hari berturut-turut.

Menurut hasil tersebut , saat ini pulasi Bilou adalah  11,903.13 individu di seluruh Kepulauan Mentawai. Pulau Siberut ada kuranglebih 7,808 individu ( di dalam kawasan Taman Nasional), di Siberut luar Taman Nasional ada setidaknya 2,922 individu, di Pulau sipora, terdapat 229 individu, dan Pagai utara, Pagai Selatan ada setidaknya 943 individu.di seluruh Kepulauan Mentawai. Aoliya menjelaskan bahwa telah terjadi penurunan populasi di Mentawai keseluruhan selama 21 tahun (2005-2026) adalah 42% atau 2.3% per tahun, dg jumlah penurunan tidak seragam di tiap pulau. Estimasi ini dari nilai tengah (midpoint) populasi dari area suitable. Penurunan populasi didapat apabila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, dengan tanpa mempertimbangkan lokasi LPS dan jumlah sampel lokasi, meskipun survey dilakukan oleh tim swaraOwa lebih banyak dibandingkan survey sebelumnya, di tahun 2025.

Luasan kesesuaian habitat Bilou di Kep Mentawai 

Selanjutnya, Kurnia Latifiana dari SwaraOwa yang menyampaikan Pemetaan Kesesuaian Habitat Bilou (Hylobates klossii) di Kepulauan Mentawai, Indonesia. Kurnia menekankan bahwa pemetaan kesesuaian habitat bilou adalah sangat penting karena sebagai peta dasar untuk konservasi species dalam skala landskap, memahami lokasi prioritas dan rencana konservasi. Kurnia menggunakan pendekatan pemodelan Maximum entropi dan Random forest berdasar lebih dari 300 titik perjumpaan bilou. Luasan habitat yang sesuai berada di siberut, hasil analisis mengenai luasan tutupan hutan dan habitat yang sesuai untuk Bilou, disajijan di bawah ini, dan analisis ini juga menjadi dasar untuk estimasi populasi yang dilakukan oleh tim swaraOwa.

Workshop ini juga menghadirkan, studi kasus dari Orangutan, dan sebagai pembelajaran dari pengalaman sebelumnya, Fajar Saputra dari FORINA berbagi mengenai pembelajaran PVA orangutan. Berbagai materi tersebut kemudian menjadi dasar untuk masuk ke bagian utama workshop, yaitu diskusi mengenai parameter yang perlu dimasukkan dalam PHVA bilou.

Setiap parameter dibahas bersama. Data populasi, reproduksi, mortalitas, habitat, serta berbagai informasi dari penelitian terdahulu ditinjau kembali untuk melihat data apa yang tersedia dan bagaimana data tersebut dapat digunakan dalam pemodelan. Diskusi dilakukan untuk mendapatkan kesepahaman di antara para pihak sebelum parameter dimasukkan ke dalam model. Dari proses tersebut, VORTEX dipilih sebagai perangkat pemodelan PHVA Owa Bilou. Model kemudian mulai dijalankan berdasarkan parameter yang telah dibahas dan disepakati dalam forum. Namun, proses ini masih akan berlanjut. Hasil pemodelan awal akan kembali didiskusikan bersama panelis PHVA untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan.

Bagi SwaraOwa, PHVA bukan hanya tentang menjalankan sebuah model. Lebih dari itu, proses ini menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pengetahuan yang selama ini tersebar di antara peneliti, akademisi, pengelola kawasan, dan lembaga konservasi. Data lapangan dan pengalaman para pihak menjadi bagian penting untuk memahami kondisi bilou secara lebih utuh. Daftar peserta menunjukkan keterlibatan Universitas Andalas, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, FORINA, SINTAS, Yayasan Hutan Harimau, GJI, PRCF Indonesia, Balai TN Siberut, BKSDA Sumatera Barat, dan SwaraOwa.

Hasil dari proses PHVA selanjutnya akan dibawa ke dalam rangkaian workshop SRAK  dan menjadi salah satu bahan dalam penyusunan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Owa Bilou Mentawai. Dari Padang, langkah untuk memahami dan menjaga bilou terus berlanjut. Karena menjaga bilou bukan hanya tentang mempertahankan satu jenis owa, tetapi juga memastikan hutan Mentawai tetap menjadi rumah bagi mereka, sekarang dan di masa yang akan datang.



Monday, September 14, 2026

Memanen Pembelajaran dari Kunjungan Belajar KWT Brayan Urip

 

masak bersama, dengan bahan pangan dari hutan Mendolo di Pasar Sehat Kepayang Yogyakarta

oleh : Sri Windriyah (Ketua KWT Brayan Urip Desa Mendolo)

Kegiatan Kunjungan Belajar KWT Brayan Urip dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 29 – 30 Agustus 2026. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menambah wawasan, pengetahuan, keterampilan, serta memperoleh inspirasi dalam pengembangan potensi desa, produk olahan, pengelolaan wisata, dan tata kelola kelembagaan.

Destinasi yang dikunjungi pertama pada hari Sabtu (29/8) adalah Pasar Sehat Kepayang. Lokasinya di Animalika Social Space, Jalan Kaliurang km 9, Sardonoharjo, Ngangklik, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan diawali dengan perkenalan kedua komunitas. Selanjutnya kami berbagi pengalaman, khususnya bagaimana memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar untuk dikembangkan menjadi produk maupun kegiatan yang memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi.

Di pasar sehat, kami mendapatkan berbagai pembelajaran yang bersifat teknis, antara lain: cara memanfaatkan potensi yang tersedia di desa dan lingkungan sekitar sebagai ciri khas desa, dan bagaimana mengenalkan produk yang dikembangkan oleh masing-masing komunitas.

penyambutan di pasar sehat kepayang

Produk yang ada di Pasar Sehat Kepayang sangat beragam, antara lain: kombucha, tepache, es krim sehat, jus aneka sayur, es dawet, dan aneka sayur organik. Sementara itu, kami dari KWT Brayan Urip membawa aneka produk hasil bumi Mendolo, seperti: nasi gadung, tepung gadung, kerupuk gadung rasa udang, brownis gadung, sambel kluwek, dan aneka sayur hutan.

Kami juga mendapatkan ilmu baru lewat pengenalan bahan pengganti bumbu penyedap kimia buatan, alternatif bumbu sehat, obat herbal, dan olahan keripik dari tumbuhan alam sekitar. Kami diperkenalkan dengan beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun obat herbal, antara lain: tumbuhan walang sangit dan wedusan sebagai alternatif pengganti micin, bunga bakso sebagai pengganti bawang putih, kemadu dan kenikir/cokra-cakri sebagai sayuran dan obat herbal, serta klateng yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan keripik dan obat herbal.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pengetahuan baru mengenai cara penyimpanan sayuran, khususnya sayur rebung. Agar tahan lama, rebung bisa disimpan dengan cara difermentasi. Hal ini bisa meningkatkan kualitas dan daya simpan produk.

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan memasak bersama dan dilanjutkan makan bersama. Kami saling bertukar sajian: peserta dari Mendolo menikmati sajian makanan yang disajikan Komunitas Pasar Sehat Kepayang, di antaranya: nasi sayur brongkos, es dawet, es krim manggga-kweni, tepache, kombucha, dan jus sayur.  Sebaliknya, KWT Brayan Urip Mendolo menghidangkan nasi gadung, sambel cepokak campur klanting, tumis blibar pucung, urap kecombrang campur kremo, botok keji, sambel kluwek, kerupuk gadung udang, dan brownis gadung. 

Setelah kegiatan di hari itu selesai, dilanjutkan dengan penutupan dan foto bersama. Selanjutnya, kami menuju penginapan. Kali ini kami mendapatkan pengalaman menginap di Hotel Java Village Resort. Lokasinya tidak jauh dari Animalika, tepatnya di Jalan Griya Taman Asri, Sleman.

mencicip sajian berbagai jamu produk Kebon Pasinaon,Magelang

Kunjungan hari ke dua (30/8) di Kebon Pasinaon Living Museum yang lokasinya ada di Jl. Wirodigdo Km. 3, Sirahan, Salam, Magelang. Kegiatan diawali dengan perkenalan dan penjelasan mengenai latar belakang serta konsep pembelajaran yang diterapkan di Kebon Pasinaon Living Museum. Kami mendapatkan berbagai pengalaman dan pengetahuan tentang kehidupan masyarakat, pertanian, budaya, dan tradisi masyarakat desa yang bertahan sejak zaman dahulu.

Pengelola memberikan presentasi singkat mengenai latar belakang pendirian dan gambaran kegiatan pembelajaran di Kebon Pasinaon Living Museum. Selanjutnya, kami mengikuti program trip dengan berbagai tema. Kami mulai dengan mengenal tata cara pemilihan lurah pada zaman dulu. Alat-alat yang digunakan untuk pemilihan yaitu menggunakan biting dan juga simbolis dari hasil bumi seperti padi, jagung, dan kelapa.

Kami kemudian diajak mengenal berbagai alat pertanian tradisional. Ada wluku, ani-ani, kepang, tedo, irig, pacul, lesung, dan alu. Mengenal berbagai tradisi pertanian seperti nggaru (membajak sawah menggunakan sapi), gengsot, napeni, tandur, nginter, ngencek, dan nutu. Di sesi ini, kami juga dikenalkan mengenai cara membuat jamur dari limbah janggel jagung.

Kami lalu berjalan berkeliing menuju pos-pos yang disediakan, mengikuti sepuluh tema Kebon, seperti Kebon Tandur, Kebon Empon, Kebon Dolan, Kebon Tonton, hingga Kebon Ciblon. Di pos berikutnya, kami mengenal berbagai empon-empon dan cara membuat jamu tradisional, khususnya jamu beras kencur. 

mencoba permainan tradisional

Selanjutnya, kami mencoba permainan tradisional seperti egrang, congklak, bekel, lompat tali dari karet, jamuran, dan balap perahu. Pos ini berada di Kebon Dolan. 

Karena kental dengan muatan budaya, Kebon Pasinaon menyajikan pengalaman langsung berupa praktik kesenian tradisional berupa tari dan kami pun mengikuti praktik menari. Kami juga mendapat kesempatan untuk menyimak seni geguritan dan puisi karya salah satu tokoh Kebon Pasinaon Living Museum.

Di pos Kebon Pawon, kami memasuki replika pawon tradisional dan mengenal berbagai alat dapur tradisional seperti luweng, dandang, kendi, kuali, teko, ceret, kenceng, centhong, irus, siwur, cething, kalo, parutan, ntik, tedo, irig, cobek, munthu, layah, cangkir, muk, dan masih banyak lagi.

Selanjutnya, kami berjalan menuju bagian belakang kampung untuk mengunjungi tempat mandi masyarakat zaman dulu yaitu belik dan sungai. Kami juga diperkenalkan mata air bertuah yang sumber airnya berasal langsung dari Gunung Merapi. Masyarakat setempat memiliki kepercayaan bahwa air tersebut dapat dimanfaatkan berbagai keperluan dan penyembuhan berbagai macam penyakit. Cara penggunaan air tersebut bisa diminum atau untuk cuci muka.

Di pos terakhir, kami belajar mengenai sejarah Desa Sirahan dengan mengunjungi bekas bangunan rumah tua yang merupakan peninggalan pemerintahan lurah pertama desa tersebut.

Kegiatan ditutup dengan makan bersama, penyampaian pesan dan kesan serta di lanjut foto bersama. Selesai sudah kunjungan kami, lalu rombongan dari Mendolo bersiap untuk perjalanan pulang.

Memanen banyak pembelajaran

Dari kegiatan kunjungan belajar di Pasar Sehat Kepayang, KWT Brayan Urip Mendolo memperoleh banyak ilmu dan inspirasi, khususnya dalam hal pengembangan produk dengan memanfaatkan tumbuhan dan potensi alam sekitar. Kami para peserta mendapatkan pengetahuan mengenai alternatif pengganti bahan penyedap, bumbu, pembuatan minuman, obat herbal tradisional, bahan pangan dari tumbuhan alam sekitar, serta cara penyimpanan sayuran rebung agar lebih tahan lama. Selain pengembangan produk, kami juga mendapatkan wawasan mengenai pengembangan wisata berbasis potensi lokal serta strategi pemasaran produk dan desa wisata.

Sementara itu, dari kunjungan ke Kebon Pasinaon Living Museum, kami mendapatkan pengetahuan mengenai pelestarian budaya, pertanian tradisional, kesenian, makanan dan jamu tradisional, serta pemanfaatan potensi desa sebagai daya tarik wisata. Yang tidak kalah penting, kegiatan tersebut memberikan motivasi dan kepercayaan diri kelompok untuk terus maju. Penjelasan mengenai potensi desa, berbagai kendala yang dihadapi, struktur kelembagaan, serta tata kelola kegiatan juga memberikan gambaran yang sangat bermanfaat bagi KWT Brayan Urip Mendolo. Berbagai potensi dan kegiatan yang telah dikembangkan di Kebon Pasinaon Living Museum ternyata memiliki banyak kesamaan dengan potensi yang ada di desa kami.

Selain manfaat dari kunjungan pada dua destinasi utama, ada juga pembelajaran bagi kami selama di hotel. Kami mendapatkan pengalaman mengenai bagaimana tata cara check-in dan check-out, menggunakan fasilitas yang disediakan hotel berbintang, serta merasakan standar keramah-tamahan dan pelayanan hotel.

Kegiatan kunjungan belajar selama dua hari memberikan pengalaman dan wawasan yang sangat berharga bagi KWT Brayan Urip Mendolo. Kegiatan ini membuka pemikiran bahwa potensi alam, pertanian, budaya dan sumber daya yang ada di desa dapat dikembangkan menjadi produk unggulan maupun daya tarik wisata apabila dikelola dengan baik, kreatif, dan berkelanjutan.

Melalui kunjungan belajar ini, KWT Brayan Urip Mendolo semakin termotivasi untuk melakukan pembenahan tata kelola kelompok, pengembangan produk, pemanfaatan potensi alam sekitar, pelestarian budaya, pengelolaan wisata, dan strategi pemasaran produk.

Ilmu, pengalaman dan inspirasi yang diperoleh selama kunjungan belajar dapat diterapkan dan dikembangkan di desa sendiri, sehingga KWT Brayan Urip Mendolo menjadi kelompok yang semakin aktif, kreatif, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Pada akhirnya, kami bisa turut serta dalam mendorong kemajuan desa.


Dari Produk dan Jasa Hutan ke Pasar Beretika: Kunjungan Belajar Masyarakat Mendolo ke Sleman dan Magelang

Ds. Sawahan, Mendolo, Lebakbarang

oleh : Sidiq Harjanto

Desa Mendolo merupakan salah satu area kerja prioritas SwaraOwa dalam upaya pelestarian hutan sebagai habitat penting primata Jawa. Lanskap hutan desa ini menjadi rumah bagi lima jenis primata sekaligus, yaitu: Owa Jawa, Lutung Jawa, Rekrekan, Monyet Ekor-Panjang, dan Kukang Jawa. Kehadiran primata-primata ini menandakan ekosistem hutan yang masih terjaga, di mana keberlangsungannya sangat bergantung pada harmoni antara tutupan kanopi hutan dan pola aktivitas masyarakat di sekitarnya.

Bagi masyarakat setempat, hutan merupakan ruang hidup yang menyimpan potensi ekonomi untuk menunjang kesejahteraan di masa depan. Selama ini, kopi dan durian telah menjadi dua komoditas utama yang menjadi tumpuan hidup sebagian besar warga desa. Pengelolaan lahan garapan berbasis agroforestri untuk kedua komoditas tersebut bisa dimaknai secara positif sebagai upaya menjaga keselarasan antara pemenuhan ekonomi masyarakat dengan kelestarian hutan habitat primata.

Mengangkat Nilai Tambah Pangan Lokal Berbasis Hutan

Di luar dua komoditas tersebut, Desa Mendolo menyimpan potensi hasil hutan yang sangat berharga jika dikembangkan melalui peningkatan nilai tambah (added value). Produk-produk seperti madu klanceng, umbi gadung, hingga puluhan jenis pangan lokal lainnya memiliki peluang pasar yang menjanjikan. Dengan sentuhan inovasi olahan dan pengemasan yang tepat, hasil alam yang dulunya dipandang sebelah mata ini dapat bertransformasi menjadi sumber pendapatan baru yang memperkuat resiliensi ekonomi warga.

Menangkap peluang tersebut, Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip telah mengambil langkah konkret melalui inisiatif olahan pangan lokal berbasis sumber daya hutan. Sebagai contoh, para ibu anggota KWT mengolah umbi gadung beracun melalui proses yang presisi hingga menjadi tepung gadung yang aman dan tahan lama. Bentuk tepung juga menjamin fleksibilitas bahan pangan ini untuk dijadikan aneka olahan seperti kue maupun kerupuk.

Selain gadung, mereka juga mengreasikan aneka sambal hutan khas berbasis kluwek (biji kepayang) dan berbagai tumbuhan liar. Inisiatif ini tidak hanya mendongkrak nilai jual produk lokal, tetapi juga menempatkan kaum perempuan sebagai penggerak utama ekonomi kreatif berbasis konservasi.

mengenalkan produk hasil olahan pangan dari hutan Mendolo

Konsep Wisata Imersif: Menjual Pengalaman dan Narasi Hutan

Selain komoditas fisik, potensi ekonomi Desa Mendolo juga terletak pada potensi jasa lingkungan dan pengetahuan lokal yang dapat ditawarkan kepada publik. Jasa ekowisata menjadi peluang besar yang sangat ideal dikembangkan di desa ini, khususnya model wisata minat khusus yang menekankan pada aspek pengalaman (experience). Para pengunjung tidak sekadar menikmati keasrian alam, tetapi juga diajak berinteraksi langsung dengan kehidupan desa, mempelajari cara pengolahan pangan hutan tradisional, hingga mengamati primata di habitat aslinya secara bertanggung jawab.

Untuk menjembatani potensi melimpah yang dimiliki Desa Mendolo dengan langkah pengelolaan konkret di lapangan, diperlukan penguatan kapasitas bagi para penggerak lokal agar mampu mengelola serta mengemas potensi tersebut secara optimal. Desa Mendolo tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati dan tradisi pangan hutan yang unik, tetapi juga memiliki peluang besar dalam pengembangan produk bernilai tambah serta skema wisata edukasi berbasis pengalaman. Namun, proses transformasi dari potensi menjadi dampak ekonomi dan konservasi yang nyata membutuhkan perspektif baru, wawasan pasar, serta keterampilan teknis dalam menyampaikan narasi produk maupun kawasan di mana produk itu berasal.

Mengenalkan Produk-produk desa Mendolo, Oleh Sri Windriyah, oleh Ketua  KWT Brayan Urip ( https://youtube.com/shorts/79yvEAF2Sys?si=iS2EGliNXCvd8bct) 

Kunjungan Belajar: Membawa Produk dan Narasi Hutan Mendolo ke Pasar Beretika

Merespons kebutuhan tersebut, pada tanggal 29-30 Agustus 2026 kami telah mengadakan kegiatan kunjungan belajar dan penjajagan pasar ke dua destinasi strategis di Sleman dan Magelang. Inisiatif ini secara khusus melibatkan pengurus dan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip sebagai penggerak ekonomi pangan lokal, perwakilan dari Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo sebagai motor penggerak generasi muda, dan perwakilan perangkat desa. Total 20 orang peserta terlibat dalam kunjungan yang berfokus pada tiga agenda utama: pengembangan produk, penjajagan akses pasar ‘beretika’, dan formulasi konsep wisata edukasi berbasis pengalaman.

Kunjungan ke pasar Sehat Kepayang di Yogyakarta
Ada dua destinasi yang dikunjungi, masing-masing telah berhasil memperkaya wawasan bagi peserta: Pasar Sehat Kepayang di Sleman, dan Kebon Pasinaon Living Museum di Magelang. Di Pasar Sehat Kepayang, para peserta mendapatkan kesempatan berdiskusi dan praktik langsung mengenai penyajian produk pangan agar semakin menarik dan memberikan narasi yang lengkap bagi produk-produk yang dihasilkan sebagai nilai tambah. Dengan tambahan wawasan dan keterampilan dalam storytelling dan penyajian, diharapkan produk-produk yang telah diinisiasi oleh masyarakat di Desa Mendolo bisa menemukan pasar yang tepat.

foto bersama di Kebon Pasinaon Living museum
Bagi para peserta, kunjungan ke Kebon Pasinaon Living Museum telah memberikan perspektif baru mengenai bentuk wisata yang berbasis narasi dan pengalaman langsung yang relevan dengan potensi yang dimiliki Mendolo. Kelompok juga mendapatkan gambaran bagaimana pengelolaan dan pemasaran yang melibatkan warga desa sebagai aktor utama. Model wisata seperti ini bisa memberikan kontribusi nyata ke banyak pihak, baik secara ekonomi maupun dalam bentuk lain seperti peningkatan wawasan dan keterampilan.

Konservasi Berbasis Masyarakat melalui Titian Lestari

Melalui kunjungan belajar ini, KWT Brayanurip, para pemuda perwakilan PPM Mendolo, dan perwakilan perangkat desa tidak hanya membawa pulang wawasan dan keterampilan baru, tetapi juga kepercayaan diri untuk mengelola potensi Desa Mendolo secara mandiri. Sinergi antara inovasi produk pangan lokal, narasi etnobotani yang kuat, dan konsep wisata edukasi yang imersif bisa menjadi motor penggerak baru yang memperkuat resiliensi ekonomi warga sekaligus menjaga kelestarian habitat Owa Jawa secara berkelanjutan.

Menjadi bagian dari Program Titian Lestari, upaya penguatan kelembagaan lokal, inovasi produk dan jasa, serta penetrasi pasar beretika selanjutnya bisa dipahami sebagai langkah konkret dalam mengarusutamakan skema konservasi berbasis masyarakat. Dalam skema ini, konservasi tidak lagi berhenti pada perlindungan flora-fauna dan hutan sebagai habitat, melainkan bekerja melalui upaya sistemik untuk menjaga keseimbangan antara ekonomi dan ekologi. Masyarakat secara mandiri menjadi agen konservasi aktif bagi lingkungan mereka sendiri.

(Baca Selengkapnya kunjungan KWT Brayan Urip di Pasar Sehat Kepayang Yogyakarta dan Living Museum, Kebon Pasinaon Magelang)

Wednesday, September 2, 2026

Apakah masih ada Bilou di Sipora? catatan perjalanan survey

Oleh : Aloysius Yoyok


Sipora merupakan pulau di mana ibu kota kabupaten ini terletak. Pulau ini pernah menjadi kawasan konsesi perusahaan logging selama bertahun-tahun sehingga hutan di pulau ini pada umumnya adalah hutan sekunder yang tumbuh sesudah tegakan hutan-hutan asli nyaris dihabiskan oleh perusahaan-perusahaan logging itu. Kali ini tim survei akan melaksanakan kegiatan survei populasi owa bilou di pulau itu.

Dari diskusi dengan tim, 2 (dua) titik koordinat kemudian dipilih berdasarkan tingkat kesesuaian kawasan sebagai habitat owa bilou (Hylobates klossii). Titik yang pertama berada di kawasan hutan di perbukitan yang menjadi hulu dari sungai Saureinuk, sedangkan titik yang ke dua berada di kawasan perbukitan yang menjadi hulu DAS sungai Sagitci.

Kegiatan survei populasi owa bilou kali ini dilakukan serentak di 2 (dua) pulau, selain di Sipora 2 (dua) tim yang lain juga sedang melakukan perjalanan untuk kegiatan yang sama di pulau Pagai Selatan. 

Perjalanan

Saya dan Lauren sebagai bagian dari tim survei yang berdomisili di Maileppet, Siberut Selatan berangkat menuju Sipora dengan kapal Mentawai Fast antar pulau pada hari Kamis 2 Juli 2026. Hari itu adalah jadwal reguler pelayaran kapal Mentawai Fast Sorake dari dermaga Maileppet menuju Tuapejat yang terletak di Sipora. Saya menempuh perjalanan laut hanya sampai di dermaga Tuapejat saja, di pulau itu saya akan bersama-sama dengan Matius seorang penduduk Goiso Oinan, Sipora akan melakukan survei populasi owa bilou di hulu sungai Saureinuk. Sementara itu kawan seperjalanan saya di kapal yaitu Lauren esok harinya akan melanjutkan perjalanan lautnya dengan Kapal Mentawai Fast yang terjadwal akan melakukan pelayaran menuju Sikakap di Pagai Utara-Selatan. 

Kami tiba di dermaga Tuapejat sekitar pukul 16.00 WIB, sesudah menempuh perjalanan laut sekitar 3 jam saja. Malam itu saya dan Lauren bermalam di sebuah penginapan yang terletak di tepian hutan bakau. Malam menjelang saat Matius dan Ismael Saumanuk tiba di penginapan dimana kami bermalam. Malam itu kami berdiskusi untuk merancang persiapan pelaksanaan survei populasi bilou di pulau Sipora. 

Menurut Matius, ke dua wilayah di mana titik koordinat pengamatan suara bilou ditentukan merupakan areal hutan yang sudah biasa dijelajahi oleh Matius. Matius merupakan seorang penduduk yang berasal dari kawasan Rereiket di Siberut Selatan. Dia mewarisi dengan baik skill seorang Rereiket yang dekat dengan kehidupan tradisional Siberut di hutan. Matius memiliki pekerjaan sampingan sebagai pemandu wisata. Saat masih tinggal di Siberut dia adalah seorang pemandu wisata budaya, namun semenjak tinggal di pulau Sipora yang tidak lagi memiliki budaya tradisional seperti di Siberut, dia adalah seorang pemandu pengamatan burung di alam liar di hutan-hutan Sipora. 

Dari diskusi malam itu kami membagi timsurvei di pulau Sipora ini menjadi 2, saya bersama Matius akan melakukan pengambilan data vokalisasi owa bilou di Hulu Saureinuk dan Ismael akan membentuk tim kecil untuk melakukan survei di hulu Sungai Sagitci. 

Matahari belum terbit saat Lauren sudah berkemas untuk kembali melanjutkan perjalannya menuju Sikakap di Pagai Utara-Selatan. Pagi itu kapal antar Pulau Sorake terjadwal akan melakukan pelayaran dari pelabuhan Tuapejat menuju Sikakap pada pukul 07.00 WIB. Lauren mengantisipasi panjangnya antrean pembelian tiket kapal sehingga dia memutuskan untuk berangkat ke dermaga saat jam belum menunjukkan pukul 06.00 WIB.

Jumat 3 Juli 2026 tengah hari Matius sudah tiba kembali dari rumahnya di Goisok Oinan. Siang itu juga kami kemudian berbelanja untuk memenuhi kebutuhan logistik kegiatan survei di hutan. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB saat kami berangkat. Kami juga ditemani oleh Ruizak, anak laki-laki Matius. Seorang lelaki yang sudah beranjak dewasa. Ruizak banyak menghabiskan masa remajanya dengan bekerja di Padang. Baru sekitar sebulan ini dia pulang kembali ke Sipora. Kini dia sudah menyandang status sebagai seorang suami, Matius kemudian merasa perlu untuk mengajarkan keterampilan untuk menjelajah hutan di pulau ini dengan mengajaknya dalam kegiatan survei kami kali ini.

Kami berangkat agak terburu-buru sore itu karena sebenarnya Matius tiba dari Goiso Oinan agak terlambat, mestinya kami sudah melakukan persiapan keberangkatan kami ke hutan hulu Saureinuk sejak pagi. Kami selesai melakukan persiapan saat hari sudah beranjak sore, tetapi Matius mengatakan jika perjalanan jalan kaki ke loaksi survei itu bisa tertempuh dibawah 2 jam jalan kaki dengan kecepatan normal.  Akhirnya kami memutuskan berangkat di sore itu.

Dengan diantar ojek sepeda motor kami berangkat beriringan menuju pemukiman di SP 3. SP 3 adalah Satuan Pemukiman 3. pemukiman itu dahulu dibangun untuk pemukiman penduduk yang didatangkan dalam program transmigrasi. Kini penduduk di SP 3 sudah beragam, bercampur dengan penduduk setempat. Ojek sepeda motor itu hanya sampai di ujung jalan semen di SP 3. di ujung jalan itu sedang dilakukan pembangunan jembatan yang cukup panjang. Kami kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Jalanan yang kami tempuh adalah bekas jalan yang dibangun dengan alat berat untuk oleh perusahaan logging untuk mengeluarkan kayu-kayu dari pedalaman hutan di pulau itu. Jalanan itu sudah ditumbuhi semak belukar tebal dan tinggi, melebihi tinggi badan kami. Kami menempuh perjalanan darat dengan berjalan kaki ini sesudah hujan yang cukup deras mengguyur kawasan itu. Tanah lempungan berwarna kekuningan itu kemudian menjadi basah dan lengket. Semak belukar juga masih basah sehingga ikut memnasahi pakaian dan badan kami. Jalur jalan itu tinggal menyisakan jalur jalan setapak sangat sempit, Matius yang berjalan paling depan selalu sibuk menyibakkan rerumputan tinggi itu dengan kakinya yang bersepatu boot. Rerumputan itu tidak bisa disibakkan dengan tangan karena cukup tajam dan sangat mungkin melukai kulit tangan. Namun sore itu cuaca masih mendung sehingga udara sejuk lembab sore itu membuat kami bisa menempuh perjalanan dengan nyaman, tidak segera didera kelelahan akibat panas. Sepanjang jalur jalan itu didominasi dengan semak belukar dan rerumputan saja sehingga jika cuaca cerah, tidak ada lagi pepohonan yang menaungi jalur jalan yang kami tempuh itu. 

Sesudah sekitar 1 jam perjalanan, Matius bertanya, “ Sebelah mana titik koordinat itu ?”.. saya kemudian melihat aplikasi Avenza dari ponsel Android inventaris yang saya simpan dalam saku tas, takut basah oleh sisa-sisa air hujan. Titik koordinat di aplikasi androiid itu menunjukkan tujuan kami masih sekitar 2 km ke arah kiri kami. Matius mengatakan jika tujuan kita ke arah itu, di sudah beberapa tahun sering memandu tamu untuk pengamatan jenis burung-burung saja, atau primata jenis Macaqa pagensis, Simias concolor atau Presbytis potenziani  saja, tetapi dia tidak pernah mendengar suara owa bilou, apalagi melihatnya. 

Saya jadi ragu, jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB, hari menjelang gelap tetapi kami masih merasa ragu dengan arah tujuan perjalanan kali ini. Beberapa menit kemudian saat saya merasa arah perjalanan mulai menjauh dari titik sasaran, saya memutuskan untuk beristirahat sebentar sambil mempertimbangkan pemilihan arah tujuan kami. Menurut Matius, titik tujuan kami itu terletak di kontur lahan yang datar, tidak jauh dari situ adalah kawasan perladangan milik penduduk,sementara perbukitan tidak jauh dari titik tujuan itu adalah punggung perbukitan yang sudah beberapa tahun lalu dibangun jalan jalur penghubung antara Tuapejat-Goiso Oinan. 

Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil titik bukit tertinggi yang terletak di sekitar 700 meter dari lokasi kami beristirahat untuk lokasi pengamatan suara owa bilou. Kami kemudian melanjutkan perjalanan lagi, mencari lokasi untuk membangun pondok untuk tempat kami bermalam. Matius memimpin kami berjalan menembus belukar bercampur rerumputan tebal yang tinggi. Kami rupanya menuju ke tempat yang beberapa bulan lalu pernah dia kunjungi saat dia memandu tamunya untuk melakukan pengamatan burung-burung, di tempat itu mereka pernah membangun tenda untuk tempat mereka bermalam. Tempat itu di tepian bukit di sebelah anak sungai. Cukup strategis, namun sedikit berisik oleh suara air yang tertahan oleh kayu melintang dan membentuk semacam air terjun kecil.

Dengan tangkas Matius kemudian mengumpulkan kayu-kayu kecil, urusan itu kami tidak bisa banyak membantu karena parang hanya satu saja. Kami kemudian membangun naungan sederhana dengan atap dari selembar plastik hitam yang biasa dipergunakan untuk alas cor semen jalan. Kami memilih material itu karena lebih ringkas dan ringan. Di kerimbunan kanopi pepohonan sisa-sisa perusahaan logging yang sudah mulai gelap karena hari sudah petang, kami membangun naungan itu dengan tergesa-gesa. Membuat kerangka pondok, memasang naungan plastik, mengumpulkan dedaunan palem butan untuk alas lantai pondok, membuat tungku perapian, akhirnya pondok sederhana tempat kami akan bermalam selama 4 hari ke depan selesai saat hari sudah gelap. Namun pekerjaan yang sangat membutuhkan keterampilan adalah membuat perapian dan menyalakan api. 

Lingkungan ini baru saja diguyur hujan yang cukup lebat. Dedaunan, ranting-ranting pohon dan kayu-kayu di hutan itu semua basah, sementara kami tidak menyiapkan peralatan masak buatan pabrik. Namun Matius sangat bisa diandalkan untuk survival di dalam hutan Mentawai, dengan parang kecilnya di menumbang batang pohon nibung yang memiliki batang berserat keras namun mudah terbakar. Potongan batang nibung tua yang sudah berukuran kecil-kecil itu kemudian dia cincang kecil-kecil sehingga mudah terbakar. Akhirnya perapian itu selesai dibuat dan api kemudian menyala-nyala. Kami kemudian bisa memasak. 

Malam belum begitu larut, namun karena rasa lelah yang mendera, sesudah selesai makan malam, tidak lama kemudian kami sudah mulai terlelap. Namun saat tengah malam saya terjaga karena suara-suara berisik dari arah perapian di mana peralatan makan malam yang belum dicuci kami kumpulkan. Saya segera mengambil senter. Rupanya biang keributan itu adalah seekor tikus yang berukuran cukup besar, lebih besar dibandingkan ukuran rata-rata tikus rumah, mungkin seukuran tikus got kalau di kota-kota besar. Tetapi yang ini berbulu halus berwarna keabu-abuan, bersih dan memiliki ekor yang cukup panjang, melebihi ukuran ekor tikus pada umumnya. Saya memutuskan mengambil kamera dari dalam tas dan mengambil beberapa foto. Peralatan makan yang kotor bekas makan malam kami itu kemudian ku letakkan di atas para-para di atas perapian. Aku beranjak tidur lagi, namun tidak lama kemudian tikus besar jantan itu datang lagi di tengah kegelapan malam itu, kali ini dia berusaha merobek kantong plastik tempat kami menyimpan beberapa bungkus biskuit, kembali saya terpaksa bangun dan menyimpan kantong plastik itu dengan menggantung-nya di atas kayu kerangka tenda. Pagi harinya saat kami sudah di lokasi pengamatan suara owa bilou, Matius menceritakan jika jenis tikus tadi malam itu oleh penduduk setempat disebut sebagai teira, jenis tikus berukuran besar yang biasa dikonsumsi sebagai salah satu sumber protein bagi mereka.

Karena beberapa gangguan itu saat jam 04.00 WIB saya sudah tidak bisa tertidur lagi dan memutuskan untuk melakukan persiapan perjalanan menuju ke atas perbukitan untuk melakukan pengamatan suara owa bilou. Jam masih menunjukkan angka 04.30 WIB, Matius sudah keluar dari tenda dan segera ikut berkemas-kemas, mempersiapkan diri untuk perjalanan.

Hutan yang kami jelajahi kali ini adalah hutan bekas konsesi logging yang sudah berakhir sejak 2014. Pepohonan yang di kawasan itu rata-rata masih berukuran sedang dan tumbuh di bagian lereng perbukitan dan mengisi ceruk-ceruk lahan datar di sekitar bantaran anak sungai itu. Pepohonan Buchanania arborescens banyak terlihat mendominasi kawasan itu. Jalur jalan yang kami tempuh rupanya adalah jalur jalan yang pernah ditempuh oleh Matius saat memandu para pengamat burung liar di hutan ini. Di beberapa titik di lereng yang terjal terlihat pancang-pancang kayu yang sengaja ditancapkan di lereng itu untuk memudahkan pengguna jalur jalan ini melintasi-nya. Sekitar setengah jam saja kami mencapai punggungan perbukitan itu, semua punggungan perbukitan sudah berupa bekas jalur jalan alat berat untuk jalur pengangkutan kayu-kayu gelondong pada masa itu. Kini bekas jalur jalan itu sudah didominasi dengan semak belukar saja yang tumbuh begitu lebat. 

Di titik tertinggi itu kami duduk, mengamati suara-suara primata dan satwa hutan di sekitar situ. ada suara Presbytis potenziani di dua titik berjarak beberapa ratus meter dari posisi kami. Kemudian suara Macaqa pagensis jantan dewasa yang terdengar cukup dekat. Perlahan matahari mulai terbit dan rupanya kelompok Macaca pagensis yang biasa disebut sebagai siteut oleh penduduk lokal itu terdiri dari beberapa ekor yang didominasi oleh siteut berusia muda. Mereka terlihat lincah bergerak,berlompatan mencari makanan berupa pucuk daun muda dari pohon itu. Beberapa kali saya mencoba mengambil foto, tetapi tidak ada hasil yang cukup memuaskan karena kanopi dedaunan berukuran sedang itu cukup tebal. 

Sampai menjelang siang saat kami kemudian beranjak pulang meninggalkan tempat pengamatan itu kami sama sekali tidak mendengar suara bilou. 

Saat istirahat siang di pondok bermalam kami, kami memutuskan untuk melakukan observasi ke arah yang berlawanan dengan arah dimana kami berangkat menuju titik pengamatan kami di atas bukit. Sore sekitar jam14.30 WIB, saat matahari masih bersinar menyengat kami berangkat menyusuri bekas jalan alat berat milik perusahaan logging itu. Jalur punggungan perbukitan yang sudah terbuka ini membuat paparan sinar matahari terasa begitu menyengat. Di tepian jalur terbuka itu, di tengah perjalanan kami berjumpa dengan kelompok Simias concolor dan siteut. Namun kami kesulitan untuk mengambil foto karena jarak yang cukup jauh akibat lahan yang sudah terbuka di punggungan perbukitan itu. Saat jam menunjukkan pukul 16.00 WIB saya memutuskan untuk beristirahat di bawah gerumbul semak karena kepala terasa sakit, mungkin karena terpapar pancaran sinar matahari yang terasa begitu menyengat. Namun Matius tetap melanjutkan perjalanan, dia mengatakan jika puncak perbukitan itu sekitar setengah jam tempuh lagi. Dia masih penasaran untuk menunjukkan jika di bawah perbukitan itu dia pernah mendengar suara bilou. Sebenarnya Matius menginginkan untuk mengambil titik itu sebagai titik pengamatan kami, tetapi karena titik pengamatan sudah diputuskan kami tidak mengambil titik yang dia maksudkan itu. Sekitar jam 17.00 WIB dia sudah tiba kembali. Kami kemudian pulang kembali ke pondok .

Malam itu kami melakukan pembicaraan. Matius merasa tidak bersemangat untuk melakukan survei di titik yang sudah ditentukan itu karena dia merasa survei di kawasan itu hanya akan sia-sia karena dia selama ini tidak pernah mendengar suara bilou di kawasan hutan ini. 

Survei hari ke 2

Pagi itu karena kami sudah mengetahui jalur jalan dan waktu tempuh yang tidak terlalu lama, kami berangkat menuju titik pengamatan saat jam sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB. Tiba di lokasi pengamatan, kembali kami melihat kelompok siteut itu masih di tempat yang kemarin. Kali ini anggota kelompok siteut itu terlihat lebih banyak. Mereka menyebar saat matahari mulai meninggi, bergerak menyebar mencari makanan berupa tunas-tunas pepohonan dan buah-buahan hutan. 

Kembali di hari yang ke 2 ini kami tidak mendengar suara owa bilou. Seharian kami merasa tidak bersemangat karena suasana yang lengang tanpa suara-suara binatang liar penghuni hutan. Kembali Matius mengusulkan untuk memindahkan lokasi pengamatan suara owa bilou ini ke kawasan di mana kemarin kami pergi melakukan observasi. Akhirnya sore itu kami menyepakati jika pengamatan suara di hari ke 3 besok Matius akan berangkat sendirian untuk melakukan pengamatan suara bilou di titik yang terletak di punggung perbukitan yang menjadi hulu dari sungai Berimanua. Titik itu kira-kira berjarak 2 km dari posisi pondok bermalam kami. 

Survei hari ke 3

Pagi itu  saat jam masih menunjukkan pukul 04.30 WIB kami sudah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan. Suasana cukup lengang, namun ketika kami melihat ke arah atas, terlihat langit yang bertabur bintang, menandakan jika hari itu kemungkinan cuaca akan cukup cerah. Matius dengan berbekal peralatan standar survei dan sebilah parang kemudian berangkat sendirian. Lokasi yang dituju adalah punggung perbukitan hulu sungai Berimanua. Dia mengambil arah yang berlawanan dengan arah perjalanan kami. 

Pagi itu di titik pengamatan kami, suasana kembali benar-benar sepi. Kelompok siteut yang kemarin masih bergerombol di sekitar lokasi pengamatan, pagi itu sudah tidak terlihat lagi. Ketika hari sudah beranjak terang, dari suara jantan dominan, nampaknya kelompok itu sudah berada di sekitar jarak 300 meter dari titik kemarin terlihat. Hari semakin siang dan kembali kami tidak berhasil mendengar suara owa bilou lagi.

Saat kami sudah selesai makan siang, sekitar pukul 13.00 WIB Matius tiba dari lokasi pengamatan dengan wajah yang berseri-seri gembira. Dia segera menceritakan jika dia berhasil mendengar suara owa bilou. Meski dari jarak yang cukup jauh sehingga tidak memungkinkan untuk mengambil dokumentasi foto, hal ini sudah cukup menggembirakan hatinya. Menurutnya tidak sia-sia kami datang jauh-jauh kalau kita bisa mendapatkan catatan tentang keberadaan owa bilou yang sudah tidak banyak lagi itu di pulau ini. Selain berhasil mendengar suara great call dari bilou di kawasan hutan itu, Matius juga berhasil melihat Presbitis potenziani, sayang foto yang diambilnya tidak cukup bagus. Matius juga berhasil melihat Simias concolor yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Simasepsep. Sore itu kami cukup bersemangat mendengar certanya dan melihat-lihat foto di kamera kecilnya itu.

Saya juga segera memeriksa ponsel android yang memuat aplikasi Avenza untuk mendukung pengambilan data itu. Titik koordinat pengamatan suara yang dipilihnya itu memang tidak jauh lagi dari titik saat saya harus beristirahat karena sakit kepala karena sakit kepala kemarin lusa.

Survei hari ke 4

Pda hari ke 4 kami berdua kembali berpisah saat pagi hari untuk melakukan pengamatan suara di dua tempat yang berbeda. Namun kali ini kami tidak berhasil mendengar suara bilou.

Sesudah beristirahat dan makan siang,  kami kemudian melaukan persiapan untuk kembali ke Tuapejat. Pengamatan selama 4 hari di hutan hulu sungai Saureinuk ini sudah selesai. 

Menurut Matius, sebenarnya penduduk setempat di beberapa waktu terkahir ini sangat jarang bepergian ke dalam hutan. Saya sependapat dengan penyampaian Matius ini karena sepanjang jalur perjalanan selama 4 hari itu kami tidak menemukan jejak-jejak aktifitas penduduk ataupun jejak kaki penduduk yang sedang melakukan perjalanan tidak seperti di Siberut dimana penduduk setempat begitu aktif dalam melakukan aktifitas di dalam hutan. Perburuan terhadap satwa dan primata liar yang dilakukan oleh penduduk setempat di pulau ini sebenarnya cukup rendah, tetapi tantangannya berbeda. Di pulau Sipora ini hutan pada umumnya adalah bekas pengusahaan logging yang tidak memiliki tegakan pepohonan alam yang berukuran besar, rusaknya habitat satwa dan primata liar ini nampaknya menjadi penyebab utama hilangnya owa bilou dari banyak kawasan. 

Menurut Matius juga, belakangan ini aktifitas dari penduduk pendatang di hutan meningkat cukup tajam. Penduduk yang datang merantau dari pulau Siberut banyak yang memiliki aktifitas sebagai tukang sinso kayu hutan atau mengumpulkan rotan sekarang ini banyak memiliki senjata untuk berburu berupa senapan angin yang sudah modern, dilengkapi dengan teleskop dan peredam suara. Target buruan mereka selain burung-burung yang berukuran besar, terutama adalah jenis-jenis primata.