Wednesday, May 20, 2026

Survey Populasi Bilou ( Hylobates klossii) di Taman Nasional Siberut

Bilou sedang makan buah pohon tumu (Buchanania arborescens

oleh : Aloysius Yoyok

Melanjutkan program konservasi Bilou swaraowa , yang telah melakuan survey populasi di 9 hutan adat di Siberut Selatan di tahun 2025, kali ini survey dilaksanakan di Bekemen yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Siberut, tepatnya di wilayah SPTN 2 Siberut Utara. Bekemen sebenarnya adalah nama salah satu anak sungai hulu DAS sungai Sikabaluan. Di kawasan ini paket kegiatan kali ini diselenggarakan, selain untuk mendapatkan data populasi bilou dan primata sekaligus juga untuk pelaksanaan training ( untuk peningkatan kapasitas staff TN dan masyarakat sekitar kawasan)  pengambilan data populasi bilou dengan metode vokalisasi point count. Training ini terutama ditujukan untuk beberapa anggota tim survei yang baru, mereka adalah 5 orang anggota masyarakat setempat; 2 orang dari wilayah Siberut Utara, 1 orang dari wilayah Siberut Selatan, 1 orang dari wilayah Sipora, 1 orang dari wilayah Pagai Utara-Selatan serta 2 orang staf BTNS dari STPN 2 Sikabaluan.

diskusi dengan staff TN Siberut dan
pengenalan metode vocal count untuk survey populasi Bilou

Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, tentu saja koordinasi dilaksanakan terlebih dahulu dengan membangun komunikasi ke pihak BTNS (Balai Taman Nasional Siberut) melalui Kepala SPTN wilayah 2 Siberut Utara. Sesuai prosedur standar, karena kegiatan ini akan dilaksanakan di dalam kawasan TN Siberut maka diperlukan Simaksi (surat ijin masuk kawasan konservasi). Pemilihan lokasi di dalam kawasan ini adalah sekaligus untuk pengambilan data populasi di kawasan yang diperkirakan memiliki potensi kepadatan dan kelimpahan populasi bilou tinggi. Kondisi ini diharapkan akan mendukung untuk tempat praktik pengamatan dan pengambilan data bagi peserta yang baru.

Jam 15.00 WIB pada Selasa 5/4/2026 tim yang akan melaksanakan kegiatan sudah lengkap terkumpul di kompleks perkantoran BTNS STPN 2 Sikabaluan. Atas ijin dari pihak BTNS melalui Kepala STPN 2, tempat ini menjadi piihan untuk penyelenggaraan pertemuan tim. Sore itu kegiatan pendahuluan training sekaligus pengambilan data populasi dimulai dengan penyampaian metode. Tidak terlalu rinci, hanya pada prinsip-prinsip utama saja untuk selanjutnyna peserta baru akan langsung belajar bersama sekaligus melakukan praktik pengambilan data di kawasan yang dipandang memiliki kelimpahan populasi tinggi di dalam kawasan TN Siberut.

Diskusi sore itu termasuk penentuan lokasi pengambilan titik pengamatan suara sekaligus pembagian peserta menjadi menjadi 3 tim. 3 titik lokasi pengamatan berhasil ditentukan berdasarkan pertimbangan jarak dari garis batas kawasan BTNS, jarak antar titik pengamatan dan juga berdasarkan peta kesesuaian untuk habitat bilou. Tim 1 adalah Yoyok, Kusmiadi (staf BTNS), Aolia dan Lily (staf BTNS), tim 2 adalah Erkanus, Iman, Adek dan Ilarius sementara tim 3 adalah Vincen, Matheus, Adin dan Ari. Tim 1 akan melakukan praktik pengambilan data populasi bilou dan primata melalui metode vokalisasi di Bekemen, Tim 2 di Balingken Bojakan sementara tim 3 akan di Tinaba, Bojakan.

tim survey di bersiap menuju lokasi

menyusuri sungai menuju Bojakan

Rabu menjelang siang 3 unit pompong sudah berderet di salah satu sudut epian muara Sungai Sikabaluan. P. Kusmiadi, seorang staf senior BTNS STPN 2 sejak kemarin sore sudah sibuk menghubungi pemilik pompong sekaligus merangkap operator yang akan mengangkut kami menuju sasaran tujuan masing-masing. Alih-alih dikemudikan oleh warga masyarakat lokal seperti 2 pompong yang lain, pompong tim 1 rupanya langsung dikemudikan oleh P. Kusmiadi, salah seorang staf BTNS yang rupanya sekaligus adalah penduduk desa Monganpoula.

Secara beriringan pompong yang telah sarat penumpang dan logistik untuk pelaksanaan survei bergerak menuju bagian hulu sungai Sikabaluan. Tujuan ke 3 tim ini adalah tim 2 dan 3 mengarah ke hulu bagian kiri yaitu melewati desa terakhir yang berbatas dengan kawasan TNS yaitu desa Bojakan. Sementara tim 1 bergerak menuju hulu sungai Sikabaluan di arah kanan yaitu kawasan Bekemen.

Pada awalnya kegiatan ini direncanakan akan terbagi ke 6 titik pengamatan yang berbeda. 3 titik pengamatan berada di sekitar hulu desa Bojakan dan 3 titik pengamatan berada di kawasan sekitar Bekemen. Namun sesudah tim terkumpul dan dilakukan diskusi berdasar metodologi yang mempertimbangkan jarak antar titik pengamatan, jarak terhadap garis batas kawasan TNS dan resiko ketersediaan akses maka titik pengamatan yang paling memungkinkan hanyalah 3 titik pengamatan saja, 1 titik pengamatan di Bekemen dan 2 pengamatan di Bojakan.

Survey lokasi ke 1. di Bekemen

pondok menginap di Bekemen

Saat tengah hari iringan ke 3 pompong sudah hampir mencapai persimpangan sungai yang terbelah menuju Bojakan dan Bekemen. Tim yang sudah membekali diri dengan menu makan siang kemudian beristirahat di tepian sungai itu untuk menikmati makan siang. Ke 3 pompong kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Sekitar 10 menit sesudah melewati muara sungai Bekemen, tim 1 secara mengejutkan bertemu dengan kelompok bokkoi yang sedang berkeliaran di sekitar pondok perladangan baru milik penduduk. Kelompok bokkoi itu kemungkinan sedang mengincar tanaman pisang ataupun potongan-potongan sagu persediaan untuk ternak babi yang ada di tepian sungai itu. Saya yang duduk di posisi terdepan di atas pompong itu sibuk, fokus memperhatikan jalur sungai untuk menghindari kayu-kayu yang sering membahayakan jalur perjalanan tidak menduga sama sekali jika akan bertemu dengan rombongan bokkoi itu, sekitar 6 ekor. Bergegas saya membuka tas tempat menyimpan kamera, sialnya karena saya belum menyiapkan kamera, kesempatan emas untuk mengambil foto-foto yang bagus itu tidak termanfaatkan dengan baik. Pemandangan kelompok bokkoi yang berada di tepian sungai semacam itu sangat sulit didapatkan di kawasan lain di pulau ini.

Perjalanan kali ini cukup beruntung karena tidak terlalu banyak kayu melintang. Kayu-kayu dari pepohonan yang tumbang dari lereng-lereng di tepian sungai seringkali masih ditemukan melintang mengahalangi jalur perjalanan pompong karena dihanyutkan oleh banjir besar sejak 2 bulan lalu. Sesudah sempat mendorong pompong selama 3 kali saja saat jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, akhirnya kami tiba di bangunan yang dibangun oleh BTNS untuk semacam posko saat petugas BTNS berkunjung ke kawasan ini.

Sore itu kami bisa beristirahat dengan nyaman di bangunan milik BTNS itu. Titik pengamatan yang akan dituju sudah ditentukan yaitu di pertengahan jalur pengamatan 1, jalur terpanjang yang sering ditempuh oleh para petugas BTNS saat melakukan kunjungan ke kawasan ini.

Hari ke `1

Pagi-pagi benar saat jam masih menunjukkan pukul 04.30 WIB kami sudah terjaga dari tidur. Tidak ada yang perlu dibangunkan, kami segera bersiap untuk memulai kegiatan hari ini. Jam sudah menunjukkan pukul 05.15 WIB saat kami bergerak beriringan menembus pagi yang gelap lembab, berkabut dan gelap. Suara morning call dari bilou jantan sudah mengisi suasana pagi itu saat kami bahkan belum melangkah keluar dari dalam bangunan itu. Perjalanan melalui jalur pengamatan 1 BTNS di wilayah STPN 2 ini adalah dengan menyusuri punggungan bukit. Kami bergerak mendaki lereng bukit yang sudah tersedia, jalan setapak yang biasa ditempuh oleh para petugas BTNS saat melakukan kegiatan survei. Sesudah setengah jam perjalanan, sesudah kami melewati lereng bukit yang cukup terjal, kami akhirnya memutuskan tempat untuk kami akan melakukan pengamatan suara bilou di kawasan itu.

bilou yang terlihat di lokasi Bekemen
Saat perlahan sinar matahari mulai menerobos ranting-ranting dan dedaunan di hutan Bekemen itu, kami mulai menyadari jika di sekitar kami merupakan pohon tidur dari beberapa kelompok primata. Ada sekelompok keluarga bilou kira-kira 50 meter saja di lereng arah barat kami, lalu ada kelompok bilou lain di sekitar 70 meter di arah Utara, dan ada sekelompok simakobu di sekitar 50 meter di arah barat laut. Pagi itu kami mendapatkan suguhan alam khas Siberut yang memukau. Kami berhasil mencatatkan 9 great call suara bilou dan 2 alarm call dari kelompok bilou yang berada di dekat kami, dengan indera mereka yang tajam, mereka segera menyadari keberadaan kami di dekatnya.

Sepulang dari pengamatan suara, kami sedikit dikejutkan oleh kedatangan tamu, operator pompong dari Mongan Poula yang kemarin berangkat mengantarkan 2 tim yang lain ke arah Bojakan. 2 orang operator pompong itu pun bercerita. Menjelang sore mereka sudah tiba di Bojakan. Mereka kemudian langsung menuju ke rumah Ilarius, seorang penduduk Bojakan yang juga adalah petugas lapangan BTNS. Sesuai arahan dari rekan-rekan staf BTNS mereka kemudian melakukan koordinasi ke pemerintahan setempat yaitu Kepala Dusun dan Kepala Desa. Dari pembicaraan itu diputuskan jika ke dua operator pompong dari Monganpoula disuruh untuk pulang dan tanggung jawab untuk menyediakan sarana transportasi maupun tenaga pemandu akan di sediakan oleh warga Bojakan. Ke dua operator pompong dari Monganpoula itu tidak berangka pulang kembali ke Mongan Poula tetapi kemudian malah memutuskan untuk bergabung dengan tim 1 yang melakukan survei di Bekemen. Tim 1 survei populasi bilou yang di Bekemen akhirnya kemudian berjumlah total menjadi 6 orang.

Namun kejutan lain di sore itu adalah tamu lain yang mengunjungi kami, 1 individu bilou jantan  jantan dewasa sedang mencari pohon tidurnya. Saat kami sedang berada di teras bangunan pos itu, tiba-tiba saya melihat bayangan primata yang melompat di pepohonan yang berada di seberang anak sungai di sebelah rumah pos BTNS Bekemen. Kami segera bergerak, mengambil posisi untuk menikmati pemandangan langka itu. Namun karena bilou itu menyadari keberadaan kami di bangunan pos itu, bilou itu kemudian bergerak menjauh ke arah lereng perbukitan, mencari pepohonan lain yang lebih nyaman untuk menghabiskan malam.

Hari ke 2

Pagi itu cuaca cukup cerah, terlihat bintang-bintang bertaburan di langit muncul dari sela-sela dedunan di halaman posko saat saya melangkah ke halaman bangunan tempat kami bermalam itu. Seperti biasa, saat jam menunjuk pukul 05.00 WIB, kami sudah bersiap untuk berangkat menuju lokasi pengamatan, tetapi kali ini bahkan saat menjelang kami tiba di lokasi pengamatan, kami sudah kehilangan suara morning call dari beberapa bilou di kawasan itu. Kami tetap melakukan pengamatan dengan sabar, sampai jam 10.00 WIB saat kami kemudian bergerak kembali menuju pos BTNS STPN wilayah 2, kami tetap tidak mendengar suara great call dari kelompok-kelompok bilou di kawasan itu. Namun saat dalam perjalanan kembali, kami bisa melihat kelompok-kelompok kecil simakobu di 2 titik di jalur perjalanan, mereka segera bergerak menjauh karena mendengar kedatangan kami yang kali ini berjumlah 6 orang akibat 2 orang operator pompong yang mengantarkan tim ke Bojakan datang bergabung dengan kami.

Simakobu ( Simias concolor) teramati di hari ke-2 di Bekemen

Hari ke 3

Pengamatan hari ke 3 berlangsung cukup seru. Di lokasi pengamatan kami bisa bertemu dengan kelompok simakobu yang berada di begitu dekat. Bagian dari kelompok itu ada 4 individu simakobu yang berwarna keemasan atau yang biasa disebut oleh penduduk setempat sebagai sulabei. 2 individu dewasa, 1 individu juvenile dan 1 individu anak. Saat matahari mulai bersinar mereka berloncatan mencari, mencari tempat yang nyaman untuk mencari makan, nampaknya kehadiran kami cukup mengganggu mereka. Di 10 meter arah barat laut, kami juga disuguhi pemandangan 1 individu simakobu jantan yang sedang bertengger di dahan kayu shorea, sementara di jarak sekitar 50 meter di arah barat, kelompok bilou berjumlah 4 individu terlihat sedang sibuk menikmati makanan mereka berupa buah tumu (Buchanania arborescens) yang saat itu terlihat di beberapa tempat sedang menghasilkan buah. Kami sibuk mengamati tingkah laku kelompok bilou itu sampai kemudian kelompok itu kemudian pergi dari pohon tumu itu, cukup lama, sekitar hampir 1 jam kami disuguhi tontonan langka itu.

Menjelang siang saat kami kemudian menyelesaikan proses pengamatan suara bilou hari itu, kami kemudian bergerak kembali meninggalkan lokasi pengamatan menuju pos. Namun kali ini saya ditemani pemandu mengambil jalur lain. Kami berdua bergerak menyusuri sambungan jalur pengamatan 1 BTNS Bekemen, belum sampai ke ujung jalur pengamatan, kami memotong jalur dan kami kemudian menemukan jalur pengamatan 2.

Jalur jalan setapak itu semakin menanjak, sambil mengamati sekeliling mencari kesempatan untuk medapatkan foto satwa atau primata. Kami lalu berjalan menuruni lereng bukit itu, menyeberangi anak sungai yang dari atas bukit terdengar bergemuruh akibat aliran air sungai itu terjun memalui bebatuan Sesudah kembali mendaki lereng yang cukup terjal kami kemudian beristirahat, peluh membasahi pakaian kami. Tiba-tiba kami mendengar benda yang terlihat berjatuhan dari atas kanopi pepohonan yang berada di dekat kami duduk. Ternyata seekor Mentawai civet atau musang Mentawai (Paradoxurus lignicolor)  yang berwarna coklat terlihat bergerak mencari tempat untuk bersembunyi. Mungkin dia terganggu akibat keberadaan kami di bawah pohon tempatnya beristirahat sirang itu. Tidak jauh dia bergerak, hanya berpindah pohon ke pohon sebelah, lalu mendekam di dahan kecil di ketinggian sekitar 7 meter saja.

Musang mentawai 

Puas mengamati satwa endemik dan mengambil bebeapa foto satawa itu kami kemudian melanjutkan perjalanan. Sayangnya baterai kamera kami sudah tidak ada lagi daya. Sepanjang perjalanan di jalur 2 itu kami kemudian bertemu dengan seekor simakobu jantan besar yang bahkan suara lompatan-lompatannya di atas pohon yang berdiri miring itu bahkan sampai terdengar berderap. Lalu kami juga bertemu dengan serombongan besar bokkoi yang sedang sibuk mencari makanan, ada yang bertenggar di pelepah bunga nibung, ada yang sedang mengais-ngais tanah, ada yang sedang berkejaran berebut makanan. Menjelang tiba di pos kami masih sempat melihat 2 individu simakobu yang sedang bertengger di dahan pohon di dekat jalan setapak yang kami lewati. Keduanya segera melompat, bergerak menjauh dari kami.

Tiba di rumah kami kemudian mendengar cerita dari teman-teman satu tim yang lain, dalam perjalanan pulang menuju pos, mereka bertemu sekelompok bilou. Namun mereka juga tidak bisa mengambil foto ataupun video karena teman yang membawa kamera masih tertinggal di belakang. Mereka bercerita jika kelompok bilou itu cukup lama bergelantungan memperhatikan mereka sebelum kemudia bergerak menjauh dari tim survei itu.

Hari menjelang sore saat hujan turun sangat deras selama sekitar 2 jam. Kami kemudian memutuskan untuk istirahat, namun salah seorang pemandu kemudian mengetahui jika air sungai sudah meninggi secara tiba-tiba, akibat hujan deras itu. Perahu-perahu dan mesin pompong hampir saja dihantam banjir jika kami tidak segera memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi. Sore itu banjir di sungai Bekemen sudah hampir mencapai halaman rumah pos BTNS itu.

Hari ke 4

Hari ke 4 survei kami hanya berhasil mencatat 2 greatcall yang berasal dari jarak yang cukup jauh. Pagi itu cuaca berawan, hari semakin siang tetapi sinar matahari tidak bisa menembus pekatnya mendung dan kabut yang bergerak menyelimuti lingkungan perbukitan tempat kami melakukan pengamatan. Udara menjadi terasa lembab dan dingin, suara-suara bilou jantan yang mengisi pagi itu sudah terdiam, kami tidak mendengar suara great call lagi.

Namun pagi itu kami kembali disuguhi pemandangan sekelompok bilou yang berjumlah 4 individu itu kembali. Mereka terlihat asyik menikmati menu makan pagi mereka berupa buah tumu di tempat yang kemarin itu lagi. Kami kembali disibukkan dengan pemandangan yang hanya berjarak sekitar 30 meter di lereng bukit di sebelah kami berkumpul. Di sela-sela gerumbul dedaunan perdu, kami mengintip aktifitas primata ikon Siberut itu.

Survei lokasi ke 2 di Lakomonga

Perjalanan survei yang ke dua ini kami mengambil tempat di kawasan yang berjarak sekitar 5 km dari batas kawasan hutan BTN Siberut. Hutan Lakomonga ini memiliki hamparan hutan yang masih bagus dan bersambung dengan hutan di dalam kawasan BTN Siberut di Bekemen. Kali ini kami menumpang di pondok milik penduduk yang berasal dari Mongan Poula, Siberut Utara. Pondok itu adalah tempat beraktifitas keluarga Tou Laiteng Siribatek untuk beternak babi tradisional (pusainakat) dan juga tempat untuk bertani secara tradisional. Petak-petak tanaman keladi terlihat di sekitar bantaran sungai terlihat subur akibat tanah gembur yang sering terbawa banjir di sepanjang bantaran sungai itu. Petak-petak tanaman keladi itu dipagar dengan sejenis batang perdu yang diikat membanjar membentuk pagar untuk membatasi aktifitas ternak babi yang akan merusakkan tanaman. Selain itu keluarga ini juga biasa bertanam padi yang mereka budidayakan di tidak jauh dari lokasi pondok itu, tetapi saat kami berkunjung di pondok itu pertanian padi mereka sudah selesai mereka panen. 

Di sekitar pondok itu kami juga melihat tegakan pohon-pohon pinang yang sudah produktif, jumlah yang cukup untuk menambah penghasilan rumah tangga keluarga ini. Tidak jauh dari sekitar rumah mereka itu mereka juga memiliki beberapa rumpun kebun sagu di beberapa ceruk yang terdapat aliran anak sungai. Rumpun-rumpun batang sagu yang tidak terlalu banyak itu selain menjadi sumber pakan ternak babi dan ayam juga mereka olah menjadi tepung sagu basah untuk sumber pangan mereka sendiri. Menurut Tou Laiteng, hutan di kawasan Lakomonga sampai Bekemen secara tradisional adalah milik dari uma Siribatek. Di beberapa tempat di kawasan ini beberapa anggota penduduk dari Mongan Poula dan Bojakan memanfaatkannya untuk beternak babi maupun membuka lahan pertanian di sepanjang bantaran sungai.

Kamis 23/04/2026 perjalanan di mulai dari Muara Sikabaluan tempat kami menginap di penginapan milik BTNS SPTN 2 dengan perjalanan darat menuju Mongan Poula dengan sepeda motor. Perjalanan ini memungkinkan untuk ditempuh karena anggota tim yang kali ini berangkat hanya 3 orang saja.  Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB, matahari bersinar terik menyengat saat kami berangkat menuju Lakomonga dengan mempergunakan pompong. Namun karena kami berangkat dari Mongan Poula, perjalanan menyusuri sungai dengan pompong sudah terpangkas hampir sepertiga perjalanan. Jam masih menunjukkan pukul 17.00 WIB saat kami sudah tiba di tujuan kami, pondok milik Tou Laiteng Siribatek. Bangunan kecil beratapkan anyaman daun sagu yang terletak di bantaran sungai Bekemen. Pemilik pondok itu ramah menyambut kami.

Sore itu kami berbincang-bincang membahas rencana perjalanan untuk pengamatan suara bilou di kawasan itu. Tou Laiteng menunjukkan jika titik tertinggi perbukitan yang akan kami tuju adalah di seberang sungai Bekemen, tepatnya di bukit Lakomonga dimana sungai Lakomonga mengalir dari lereng perbukitan itu dan bermuara di sungai Bekemen. Malam itu kami tidur di atas tikar yang dipinjamkan oleh tuan rumah, tikar dari anyaman semacam perdu yang diproduksi oleh penduduk Cimpungan, Siberut Utara. Alas tidur yang bagi saya sangat nyaman. Karena pondok itu hanya memiliki 1 kamar saja, kami mengambil tempat di ruangan terbuka.

Bokkoi ( Macaca siberu)

Dini hari, hujan turun cukup deras. Namun kami beruntung karena saat jam menunjukkan pukul 05.30 WIB, hujan sudah reda. Kami berangkat menuju lokasi survei dengan menyeberangi sungai Bekemen menggunakan perahu yang biasanya dipasangi mesin pompong, namun kali ini tidak perlu mempergunakan mesin karena kami cukup menggunakan galah saja. Begitu tiba di seberang sungai, jalur menanjak di lereng bukit yang cukup terjal itu sudah menunggu kami. Posisi tepian sungai itu adalah titik dimana saat kami lewat seminggu lalu ketika menempuh perjalanan menuju hulu sungai ini, kami melihat serombongan bokkoi yang sedang berada tepian sungai itu.

Sekitar setengah jam kami berjalan beriring seperti merayap, menyusuri jalur jalan setapak terjal yang jarang diewati ini. Peluh bercucuran dari muka kami, pakaian kami juga segera menjadi basah meski pagi itu masih dingin dan gelap. Kami harus menerangi jalur jalan kami dengan senter. Di posisi paling depan Ondy, anak lelaki Tou Laiteng yang menjadi pemandu perjalanan kali ini. Sesekali dia sibuk membuka jalur jalan dengan menebas semak-berduri yang sering menghalangi jalur jalan. Tetapi kawasan ini sudah dikenalnya denan baik sehingga meski jalur bersemak dan masih gelap gulita, kami terus melangkah ke depan tanpa keraguan. Sampai di titik yang agak landai terlihat Ilarius sibuk, bagian kakinya terlihat berdarah, 3 ekor pacet terlihat menempel, menghisap darah di bagian kakinya. Pagi itu dia kehabisan persediaan celana panjang sehingga terpaksa harus memakai celana pendek saja, tanpa penangkal serangga, pacet sangat menyukai itu.

Joja ( Presbytis siberu)

Pagi itu di suasana yang cukup sepi, kicauan burung-burung hutan juga hanya sesekali terdengar. Hujan gerimis kembali turun, tidak lama tetapi mendung tetap menggantung di semua penjuru langit. Suara morning call bilou jantan belum terdengar sampai kami sudah mencapai titik tertinggi di perbukitan itu. Sampai jam sudah menunjukkan pukul 08.12 WIB  saat gerimis sudah mereda, kami kemudian mendengar 2 morning call, suara dari bilou jantan. Keduanya tidak jauh dari tempat kami melakukan pengamatan.

Hari pertama pengamatan itu, kami tidak berhasil mendengar suara great call bilou. Namun sepanjang pagi itu kami bisa mendengar beberapa suara primata lain di sekitar tempat kami melakukan pengamatan dari jarak yang relatif dekat. Saya meyakini jika meski pagi itu tidak terdengar suara great call bilou, hanya karena bilou-bilou itu memang sedang tidak bersuara saja. Melihat kondisi vegetasi hutan ini seharusnya kawasan ini merupakan habitat yang bagus untuk menjadi rumah bagi primata-primata itu. Begitupun cerita dari Tou Laiteng, biasanya bilou-bilou itu terdengar bersuara di kawasan hutan ini.

Dalam perjalanan pulang kami juga bisa melihat beberapa kelompok primata yang lain, joja dan simakobu, bokkoi meskipun belum kami lihat bentuk fisiknya, tetapi beberapa kali kami berhasil mendengar pekikan-pekikan khasnya. Hal itu menambah keyakinan jika kawasan ini memang masih menjadi menjadi habitat bilou.

Setibanya kami di pondok, Tou Laiteng juga cukup heran dengan cerita kami. Siang itu, dia juga bercerita jika di perbukitan yang terletak di belakang pondok itu terkadang suara bilou dan ke 3 jenis primata endemik Siberut lainnya sering dia lihat di pokok-pokok pepohonan di situ. Namun hujan rintik-rintik dan cuaca sore itu yang tidak mendukung, membuat kami mengurungkan niat untuk menjelajahi perbukitan di belakang pondok sore itu, meng-eksplor potensi keragamanhayati di situ.

Hari ke 2

Seperti biasa, pagi-pagi benar sebelum matahari terbit, saat hari masih gelap gulita kami kembali bergerak menuju titik pengamatan kami di puncak perbukitan itu. Pagi itu dari pondok saat kami maasih bersiap memulai perjalanan, kami sudah mendengar 2 sumber suara morning call dari jantan dewasa. Semakin kami mendekat ke arah titik tempat kami sudah menentukannya sebagai tempat pengamatan kami satu hari sebelumnya, kami menduga jika salah satu sumber suara berada di sekitar tempat itu. Benar saja. Di dekat tempat kami kemarin berkumpul untuk melakukan pengamatan, di kanopi pohon kruing yang tinggi menjulang, kami mendengar suara khas morning call bilou. 

Kami bergerak dengan sangat hati-hati. Guguran dedaunan kruing yang menumpuk di sekitar tempat itu menyulitkan kami untuk tidak berjalan tanpa suara. Di bawan pohon kruing itu, dengan perekam dari gawai saya berhasil merekam suara morning call bilou itu dengan cukup jelas. Kami kemudian duduk dengan berdiam diri tanpa bersuara, meski nyamuk semakin bertambah banyak yang berdengung-dengung berusaha menggigit kami. Namun bilou di kanopi kruing itu kemudian diam, tidak bersuara lagi saat matahari mulai terbit. Kami berusaha mengintip ke atas dari sela-sela rimbunnya dedaunan dari pepohonan lain yang lebih rendah. Namun nampaknya bilou itu hanya 1 individu dewasa jantan saja, dia tidak pernah kami lihat, nampaknya dia hanya bersembunyi di kerimbunan dedaunan pepohonan itu sampai kami meninggalkan tempat itu saat jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB.

Di pengamatan hari ke 2 itu, kami cukup disibukkan dengan suara-suara bilou dari beberapa arah. Ada, 4 great call dan 3 morning call. Selain itu, sekitar 50 meter dari tempat kami melakukan pengamatan itu kami juga melihat kelompok simakobu yang menghabiskan malam di dekat situ. Dalam perjalanan pulang kembali kami juga melihat 1 kelompok simakobu yang berbeda dan 1 kelompok bokkoi.

Tiba di pondok tempat kami bermalam, pasangan tuan rumah rupanya sedang dalam perjalanan menuju ke Bojakan untuk menggiling gabah hasil panen mereka untuk persediaan makanan. Karena cuaca yang terlihat mendung kami juga Kembali memutuskan untuk tidak melakukan perjalanan menjelajah hutan di perbukitan belakang pondok di sore itu. Tetapi teman kami memutuskan untuk berangkat mengisi waktu di sore itu untuk menumbang sagu sekaligus mengangkut potongan-potongan batang sagu itu untuk persediaan pakan ternak mereka. Tempat itu adalah tempat peternakan babi yang berada di tempat lain yang berada tidak jauh dari tempat itu.

burung Tiong emas

Di tengah hujan yang kemudian turun dengan deras sore itu anak Tou Laiteng yang lain, yang masih berada di pondok tiba-tiba memberi tahu saya jika dia melihat seekor babi hutan jantan dewasa yang ikut datang ke tempat pemberian pakan babi ternak mereka itu. Babi hutan jantan yang ditunjukkannya itu rupanya bukan berwarna hitam seperti yang saya bayangkan, melainkan berwarna putih dengan variasi belang kecoklatan. Dia mengikuti babi ternak betina dewasa yang sedang birahi. Anak itu juga bercerita jika kemarin sore sebenarnya dia mau memberitahu kami jika tidak jauh di belakang pondok di melihat 1 individu simakobu yang sedang bertengger di pohon dekat kaki perbukitan itu, tetapi niat itu dia urungkan karena bapaknya, Tou Laiteng sedang mengamati babi hutan yang sedang datang mendekat ke pondok. Babi hutan adalah salah satu binatang hutan sasarn perburuan yang menjadi favorit penduduk di Siberut pada umumnya.

Hari ke 3

Di hari yang ke 3 kami menumpang di pondok itu karena hujan deras yang mengguyur dari sore kemarin, kami sudah berangkat tidur sejak hari masih belum terlalu malam, akibatnya saat jam masih menunjukkan pukul 03.30 WIB kami sudah terjaga dari tidur. Namun pagi itu kemungkinan akibat kondisi fisik yang kurang fit akibat didera hujan sepanjang sore, salah satu teman kami terpaksa tidak bisa ikut untuk melakukan pengamatan suara primata akibat sakit gigi.

Di sepanjang perjalanan menuju titik pengamatan kali itu, kami mendengar 2 suara morning call bilou dari 2 arah yang berbeda. Salah satu suara morning call itu semakin jelas saat kami semakin mendekat ke titik pengamatan. Namun tiba-tiba di lereng bukit tidak jauh dari tempat kami berdiri kami mendengar suara kayu tumbang yang berderak dan berdebum keras. Suara bilou terdiam tiba-tiba, sementara suara dari ke 3 primata yang lain terdengar sahut-menyahut. Kemungkinan karena terkejut. Sebentar kemudian kami melihat pergerakan dari 2 individu bilou yang melompat dari pohon, berpindah tempat.

Hari ke 3 pengamatan itu cukup sepi, hanya 2 suara morning call pagi tadi saja saat kami masih dalam perjalanan menuju titik pengamatan.

Saat perjalanan pulang pun kami hanya bertemu dengan serombongan simakobu yang bahkan kami tidak menyadari jika kelompok itu berada tempat itu sampai suara dahan dan ranting yang khas berbunyi, mengejutkan kami saat mereka berlompatan menjauh dari kami.

Hari ke 4

Sesuai dengan prediksi awal tentang potensi kelimpahan populasi bilou di kawasan ini, pada hari terakhir pengamatan akhirnya tim survei terpuaskan oleh suara-suara great call dari kelompok-kelompok bilou yang berada di kawasan itu. Suara great  call dari 8 arah yang berbeda dan 5 morning call. Kondisi ini sesuai juga dengan cerita dari pemilik pondok yang menghabiskan sebagian waktu mereka dengan aktifitas harian mereka di kawasan itu.

Potensi kawasan di jalur sungai Bekemen.

Dua kawasan hutan yang menjadi tempat kami melakukan pengamatan suara bilou adalah kawasan hutan yang memiliki ciri-ciri hutan yang masih sangat baik dengan kelimpahan karagamanhayati tinggi. Kedua tempat ini berjarak sekitar 5-6 km saja dan memiliki hamparan hutan yang bersambung. Jika titik pengamayan yang pertama adalah kawasan hulu sungai Bekemen yang masuk dalam kawasan BTN Siberut, maka lokasi survei yang ke dua yaitu di Lakomonga terletak tidak jauh dari sungai Bekemen yang bertemu dengan aliran sungai dari arah desa Bojakan yang membentuk sungai Sikabaluan. Ke dua tempat ini menyediakan bentang alam perbukitan dengan vegetasi hutan alam yang kaya akan keragamanhayati khas Siberut yang sangat tinggi.

Situasi di kedua kawasan ini menyediakan hal yang berbeda jika dibandingkan dengan kawasan Siberut di wilayah selatan yang memiliki tingkat perburuan tinggi. Di kawasan hutan sepanjang aliran sungai Bekemen ini kelimpahan satwa dan primata cukup mudah untuk ditemukan dan tidak se-waspada primata yang berada di Siberut bagian selatan.

 

Monday, May 18, 2026

Pelatihan Pasca-panen Kopi Owa: belajar untuk menembus pasar global

 

peserta pelatihan

Oleh : Sidiq Harjanto, Vika Bayu Iriyanto Putro, dan Muhammad Kuswoto

Narasi konservasi pada produk Owa Coffee/Kopi Owa tidak cukup untuk menjadi satu-satunya kekuatan menembus pasar global. Kopi yang dihasilkan dari lanskap habitat Owa Jawa tetap harus memenuhi tuntutan utama pasar: kualitas dan cita rasa. Kesadaran ini perlu diinternalisasi oleh semua elemen penyusun rantai pasok–termasuk di tingkat lokal.

Seringkali–kalau bukan hampir selalu–petani maupun masyarakat di area penghasil kopi belum memiliki perspektif yang memadai mengenai selera pasar, terutama yang berbasis konsensus global seperti Specialty Coffee Association (SCA). Padahal, standar yang dikembangkan SCA menjadi salah satu rujukan global untuk menilai kualitas kopi, mulai dari rasa, aroma, hingga konsistensi hasil seduhan. Untuk bertarung di belantara pasar global yang kompetitif, kopi yang dihasilkan wajib memperhatikan standar ini sebagai “bahasa universal” di pasar kopi global. 

Meskipun Kopi Owa juga telah mempunyai pengalaman produksi kopi sejak tahun 2012, namun dinamika sosial petani kopi di lokasi-lokasi produksi kopi Owa juga mengalami perubahan. Kami juga bertujuan memperluas area produksi sekaligus perlindungan habitat owa,  dengan melibatkan petani-petani yang baru, yang belum mengenal proses kopi. Pada 14 Mei 2026, kami kembali menggelar workshop dan pelatihan sebagai kelanjutan kegiatan serupa pada bulan sebelumnya. Kali ini dengan fokus pasca-panen. Pertemuan kedua ini merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas petani dan pemroses kopi di desa-desa habitat Owa Jawa di lanskap Petungkriyono yang didukung dan dibiayai Air Asia Foundation melalui program “Owa Coffee: Guardian of the gibbon”. Sebanyak 21 orang petani mengikuti agenda ini dengan antusiasme tinggi. 

Menerjemahkan standar kualitas kopi.

Cita rasa pada secangkir kopi dibentuk dari kompleksitas: di mana tanaman ditumbuhkan, bagaimana biji diproses, hingga seperti apa ia disajikan. Proses pasca-panen–bagaimana biji kopi diproses sampai menjadi green bean siap disangrai–sering diremehkan, padahal aspek ini menentukan kualitas akhir. Workshop dan pelatihan ini ingin meningkatkan pemahaman tersebut pada tingkat petani dan pemroses. Edi Dwi Atmaja dari Katamata Coffee mengisi sesi pertama dengan pengenalan dasar uji cita rasa kopi.

mengenalkan cita rasa melalui cupping test kepada peserta

“Processing pasca-panen bisa menyumbang 60% cita rasa kopi,” kata Edi membuka sesi. Ini adalah angka yang sangat signifikan, sehingga ketika terjadi error dalam proses, kualitas biji maupun cita rasa bisa turun secara drastis. Pasca-panen membentuk cita rasa melalui fermentasi biji, perlindungan paparan zat asing, dan pengeringan yang terkontrol. Pasca-panen juga menjamin konsistensi biji kopi yang dihasilkan. Dengan adanya pemrosesan yang terkontrol, biji-biji kopi yang dihasilkan setiap musim panen kualitasnya stabil dan tidak mengalami perubahan berarti. 

Sesi kedua menghadirkan Bambang Riyanto, seorang petani sekaligus pemroses kopi dari Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang. Ketekunannya mengulik proses pasca-panen telah mengantarkannya menjuarai beberapa kompetisi kopi. Menurutnya, pasca-panen membutuhkan ketelitian dan konsistensi. Sementara petani biasanya memiliki kesibukan yang padat pada saat musim panen sehingga mengalami kesulitan mengontrol kualitas. Hal ini bisa menjadi kendala, tetapi juga membuka peluang: memunculkan pemroses kopi sebagai profesi spesialis, atau lebih jauh lagi membangun sistem terorganisir di tingkat petani. Generasi muda bisa banyak mengambil peran di sini.

Berangkat dari pemaparan materi dua narasumber, sesi diskusi mengungkap beberapa praktik yang perlu diperbaiki: buah kopi dipanen saat belum matang sempurna, buah kopi dibusukkan untuk mempermudah pengupasan, penjemuran di jalan–terkadang tanpa alas, dan tidak adanya sortasi biji. Efeknya “terekam” jelas pada kopi yang dihasilkan. Buah yang belum matang sempurna menghasilkan quaker atau biji yang pucat saat disangrai. Pembusukan buah memunculkan aroma mengganggu, sedangkan penjemuran di jalan meningkatkan kemungkinan masuknya benda asing seperti kerikil.

Tidak berhenti di teori, para petani diajak praktik langsung. Hampir semua peserta untuk pertama kalinya mendapat pengalaman coffee cupping. Mereka menemukan pemahaman baru bahwa metode pasca-panen yang berbeda menghasilkan karakter dan cita rasa yang bisa sangat berbeda. Di sisi lain, pasca-panen yang asal-asalan menyebabkan cacat (defect) pada kopi yang membuat produk yang dihasilkan gagal bersaing.

pengenalan proses pasca panen

Ada enam variabel penilaian cita rasa kopi: aroma, body, flavour, acidity, sweetness, dan aftertaste. Setiap variabel memberi pengalaman baru bagi para peserta. Ada yang menemukan rasa mirip buah-buahan, kacang-kacangan, atau cokelat. Dalam keseharian, petani umumnya mengonsumsi kopi bersama gula, sehingga merasa takjub ketika menemukan rasa manis (sweetness) alami pada seduhan kopi tanpa gula.

Cacat rasa (defect) menjadi isu penting untuk dipahami oleh para petani maupun pemroses. Melalui uji cita rasa atau coffee cupping, mereka mendapatkan pengalaman langsung bagaimana buah kopi yang dipanen sebelum matang menghasilkan cita rasa yang flat. Adanya bau aspal pada kopi yang dijemur di jalan, atau rasa earthy pada kopi yang berjamur. Di sinilah kita bisa mengibaratkan cita rasa itu sebagai bahasa yang jujur antar elemen yang menyusun rantai pasok kopi: dari petani, pemroses, penyangrai, hingga konsumen.

Setelah memahami pentingnya cita rasa dan konsekuensi munculnya defect akibat pemrosesan yang keliru, peserta kemudian mempraktikkan beberapa metode pasca-panen yang umum digunakan dalam pengolahan kopi specialty. Tiga metode dikenalkan, meliputi: full washed, natural, dan honey. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

pengenalan beberapa teknik fermentasi kopi

Metode natural dilakukan dengan menjemur buah kopi secara utuh setelah panen. Cara ini relatif sederhana dan cocok diterapkan di wilayah dengan akses air terbatas. Metode honey dilakukan dengan mempertahankan sebagian lendir atau daging buah pada biji kopi saat pengeringan untuk menghasilkan sensasi rasa yang lebih manis dan kompleks. Kelemahan kedua metode ini adalah proses pengeringan lebih lama, dan memiliki risiko kegagalan yang tinggi apabila tidak terkontrol dengan baik.

Sementara itu, metode full washed dilakukan dengan mencuci bersih lendir atau daging buah. Sebagai konsekuensinya: proses ini membutuhkan air yang lebih banyak, tetapi mampu menghasilkan profil rasa yang lebih bersih dan cenderung konsisten. Di samping itu, pengeringannya lebih cepat sehingga kapasitas produksi bisa lebih besar. 

Dari pemahaman ke praktik.

Kami menggunakan instrumen penilaian untuk mengukur pemahaman peserta selama dua kali workshop dan pelatihan yang telah dilangsungkan–melalui pre-test dan post-test. Skor rata-rata peserta meningkat dari 51 menjadi 83. Angka ini memberikan indikator positif bahwa ada peningkatan pemahaman secara signifikan, mulai dari prinsip kopi naungan hingga arti penting pasca-panen. Namun, capaian ini tentu tidak akan menjadi apa-apa tanpa diikuti dengan perubahan pada tataran praktik. Untuk itu, proses pendampingan akan terus dilakukan.

acara pelatihan sekaligus menjadi forum pertemuan petani kopi

Merespon kebutuhan sarana-prasarana penunjang untuk pemrosesan pasca-panen, satu unit dome pengering telah dibangun di satu desa pada awal musim panen ini. Dome pengering menjadi infrastruktur stategis dalam menjawab tantangan perbaikan metode pengeringan: menjamin bebas paparan material asing, adaptasi cuaca yang tidak menentu, dan prinsip kepraktisan. Hingga saat ini kami telah membantu lima unit pengering kopi desa-desa habitat Owa Jawa, dan akan menyusul satu unit lagi dalam waktu dekat.

Program ini juga akan memfasilitasi kebutuhan peralatan penunjang seperti pulper (alat pengupas buah), huller (alat pemecah cangkang biji), dan grader (penyortir) bagi pemroses guna meningkatkan kapasitas produksinya. Meskipun ada introduksi alat-alat mekanis, skema kopi naungan yang dibangun SwaraOwa bersama para petani dan pemroses berkomitmen untuk mempertahankan peran-peran padat karya yang selama ini telah menjadi tradisi, seperti peran perempuan dalam sortasi buah ataupun biji.

Pemahaman dan keterampilan pasca-panen bukan lagi sekadar urusan teknis, melainkan bentuk penghormatan terhadap setiap biji kopi yang dihasilkan dari kebun naungan. Kualitas yang konsisten adalah janji kepada konsumen, sekaligus jaminan keberlanjutan ekonomi bagi para petani penjaga hutan. Pemahaman mengenai standar pemrosesan menjadi penting agar kopi Petungkriyono tidak hanya dikenal sebagai “kopi penyelamat owa”, tetapi juga produk yang mampu berbicara dengan bahasa kualitas di pasar global.



Wednesday, April 29, 2026

Pelatihan Kopi Naungan: menuju keselarasan ekonomi dan konservasi

 

foto bersama persta workshop

Sidiq Harjanto, Vika Bayu Iriyanto, & Muhammad Kuswoto

Di Petungkriyono, kopi bukan sekadar komoditi. Ia tumbuh di bawah naungan pohon-pohon hutan–berbagi ruang dengan satwa liar, termasuk Owa Jawa. Di rumah-rumah warga Petung, kopi dihidangkan, dibicarakan, dan diposisikan sebagai pengikat kebersamaan lintas generasi. Berangkat dari realitas ini, konservasi Owa Jawa di Petungkriyono berupaya memadukan pengelolaan habitat, penguatan ekonomi, dan revitalisasi sosial budaya. Kopi menjadi titik masuk strategis sekaligus daya ungkit (leverage) untuk visi besar itu.

Pada Selasa, 21 April 2026, telah diadakan Workshop dan Pelatihan “Kopi Naungan” bagi para petani kopi terpilih dari sepuluh lokasi yang tersebar di desa-desa habitat inti maupun penyangga habitat owa jawa. Bertempat di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring; kami mengundang 25 orang petani di lingkup Kecamatan Petungkriyono, Talun, dan Doro. Melalui dukungan dan pembiayaan dari Air Asia Foundation, workshop dan pelatihan ini merupakan bagian dari program social enterpriseOwa Coffee: Guardian of the Gibbon” selama satu tahun.

Sebanyak 24 orang peserta mengikuti seluruh rangkaian acara hari itu (satu orang peserta berhalangan hadir). Para peserta berlatar belakang petani dari berbagai rentang usia. Mereka memiliki interaksi yang intens dengan satwa liar, yang dalam praktik sehari-hari mencakup pemanfaatan sumber daya hutan sekaligus menghadapi tantangan konflik dengan satwa pada lahan pertanian. Workshop ini bertujuan memperkuat peran mereka sebagai aktor kunci yang mengelola zona kontak antara aktivitas manusia dan kehidupan liar melalui praktik budidaya yang harmonis.

Dalam seremoni pembukaan, hadir Kepala Desa Kayupuring, Kapolsek Petungkriyono, dan perwakilan dari Perum Perhutani BKPH Doro. Semua pihak, sebagai stakeholder pengelolaan kawasan hutan Petungkriyono, menyambut baik program ini. Arif Setiawan (Direktur SwaraOwa) dalam sambutannya menyampaikan latar belakang program ini yang merupakan kelanjutan dari skema pengembangan ekonomi masyarakat melalui program Kopi dan Konservasi primata yang telah dirintis sejak 2013.

ilustrasi kopi naungan dari salah satu peserta

Kopi naungan dalam paradigma multidimensional

Implementasi kegiatan ini adalah memfasilitasi para petani kopi dalam memperoleh penguasaan teoretis maupun pengalaman empiris mengenai potensi kopi sebagai komoditas perkebunan tahunan yang strategis untuk dikembangkan. Konsep agroforestri kopi berbasis naungan (shade-grown coffee) yang diinisiasi menekankan pada aspek simbiosis antara budidaya kopi dengan pelestarian habitat satwa liar, khususnya Owa Jawa (Hylobates moloch).

Secara ekologis, tanaman kopi memerlukan tutupan vegetasi sebagai pelindung optimal bagi pertumbuhannya. Di sisi lain, Owa Jawa sebagai spesies primata arboreal membutuhkan kontinuitas tajuk untuk mendukung mobilitas dan aktivitas hariannya. Selain Owa Jawa, keberadaan struktur vegetasi yang kompleks ini juga menjadi mikrohabitat esensial bagi keanekaragaman hayati lainnya, termasuk Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Rekrekan (Presbytis fredericae), dan berbagai spesies avifauna (burung).

Pada sesi pertama, diberikan materi dan kesempatan tanya-jawab mengenai konsep kopi naungan melalui agroforestri, lanskap dan potensi pasar kopi, pengelolaan kopi ramah satwa, dan potensi sumber daya pangan dalam kebun kopi naungan. Tim SwaraOwa memaparkan konsep Kopi Naungan untuk konservasi Owa Jawa di Petungkriyono. Dalam konsep ini, pengelolaan kebun kopi tidak lagi hanya mengandalkan logika linear seperti intensifikasi untuk peningkatan hasil, melainkan pendekatan multidimensional. Kopi naungan mensyaratkan praktik perlindungan tutupan vegetasi (coverage), keragaman spesies pohon asli, organik, komitmen perlindungan satwa liar, dan jaminan ruang partisipasi bagi kaum perempuan.

Edi Dwi Atmaja dari Katamata Coffee memaparkan gambaran situasi pasar kopi di Indonesia yang memang masih didominasi oleh kopi konvensional. Namun, dalam beberapa tahun belakangan, ceruk pasar yang mengapresiasi kopi dengan skema khusus–termasuk kopi naungan untuk konservasi–terus tumbuh. Berbasis sepuluh tahun pengalaman di bisnis roastery dan kedai kopi, ia melihat peluang pasar semakin terbuka. Kopi naungan membangun segmentasi khusus, memiliki potensi tambahan nilai ekonomi dari apresiasi konsumen terhadap praktik baik yang dijalankan. Dalam pengembangannya, selain memastikan praktik terbaik di kebun dan rantai pasok yang bertanggungjawab sebagai syarat mutlak, membangun narasi yang menarik untuk menggugah pasar menjadi strategi yang perlu terus dikembangkan ke depannya.

Di Desa Kemuning, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, skema kopi konservasi dijalankan oleh Javan Wildlife Institute (JAWI). Denis Albihad selaku direktur JAWI memaparkan skema yang dijalankan di Kemuning bersama kelompok masyarakat yang didampingi. Pembudidayaan kopi telah dijalankan secara organik, melindungi pepohonan hutan, dan terintegrasi dengan skema konservasi Kukang Jawa (Nycticebus javanicus). Tidak hanya dari panenan kopi, para petani yang tergabung dalam kelompok juga menerima manfaat ekonomi dari tumbuhnya aktivitas ekowisata.

Kopi naungan memungkinkan nilai tambah dari potensi pangan–aneka spesies liar: herba, perdu, dan aneka jamur hutan yang mengisi lapisan bawah (understory). Dalam presentasinya, Amelia Nugrahaningrum menampilkan segenap potensi pangan lokal di Petungkriyono. Sebagian masih lazim dimanfaatkan hingga sekarang, sementara sebagian lainnya mulai jarang diketahui. Melalui lembaga Genau Indonesia, Amel dan suaminya mencoba berkontribusi melestarikan potensi pangan itu melalui skema wisata pengalaman (experience-based tourism) di Desa Tlogopakis.

peserta menjelaskan praktik terkini tentang kopi di desanya

Mempertajam implementasi praktik kopi naungan

Pada sesi kedua, melalui focus group discussion (FGD), semakin terang bahwa kopi–dan pembudidayaannya–merupakan titik simpul dari berbagai aspek kehidupan masyarakat. Ada irisan banyak kepentingan di sana sehingga perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam menyikapinya. Setidaknya kami membedahnya dari perspektif ekologi, ekonomi, dan sosial budaya.

Kopi merupakan salah satu komoditi utama selain berbagai tanaman agroforestri seperti rempah-rempah, durian, petai, aren, dan umbi-umbian. Hanya saja, para petani cenderung menganggap kopi sebagai tumpuan harapan utama sehingga belum mengoptimalkan komoditas lain. Padahal, berbagai tanaman komoditas yang tumbuh bersama spesies asli dalam satu lahan kelola tidak saja memberi manfaat ekonomi, tetapi juga menciptakan mikroekosistem yang menjaga resiliensi agroforestri sendiri. Kebun dengan vegetasi kompleks secara otomatis memungkinkan terjadinya feedback loop dalam jasa pengendalian hama, penyerbukan, dan perlindungan dari kekeringan ekstrem.

Mayoritas peserta mengeluhkan interaksi dengan satwa liar yang tak jarang menyebabkan konflik pada lahan pertanian. Misalnya, keberadaan populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang dianggap sebagai hama pertanian oleh para petani. Hal ini juga terjadi di banyak tempat di Indonesia dan hingga saat ini belum ada konsensus dalam mengurai masalah ini. Melalui FGD, justru muncul peluang: sains warga (citizen science) yaitu melibatkan petani dalam pengumpulan data lapangan. Ketersediaan data seperti populasi, perilaku, dan eksistensi musuh alami–predator, bisa menjadi informasi berharga untuk pemecahan masalah ini di masa depan.

Harapan untuk sistem pertanian yang berkelanjutan masih ada. Para peserta saling berbagi pengalaman masing-masing. Cukup banyak cerita positif. Bapak Sawal dari Desa Lemahabang menceritakan kebiasaan menanam cabai dan umbi-umbian di kebun. Beliau menanam untuk memanen dan mengonsumsi sendiri. Manfaat ekonomi tidak datang secara langsung, melainkan dari substitusi: menghemat pengeluaran uang tunai dengan cara menginvestasikan tenaga–menanam sendiri bahan pangan sehari-hari.

Rudi, petani muda dari Sawangan Ronggo menggambarkan langsung dalam kertas plano bagaimana komposisi kebun kopi di dusunnya yang masih memberi ruang bagi berbagai spesies pohon hutan seperti: bendo, kayu babi, gintung, sentul, dan aren. Sawangan Ronggo punya potensi aren yang melimpah, menjadi penopang ekonomi melalui gula aren. Melalui sketsa yang dibuatnya, tampak tanaman kapulaga mengisi lapisan vegetasi bawah. Rempah ini menjadi sumber pendapatan tambahan yang bisa dipanen dua bulan sekali.

Muncul pula usulan untuk mengintegrasikan budidaya lebah ke dalam kebun kopi. Integrasi lebah ke kebun bisa membawa banyak manfaat. Secara ekonomi, budidaya lebah bisa menjadi tambahan pemasukan melalui pemanenan madu. Di sisi lain, lebah merupakan agen penyerbuk yang efisien, baik bagi tanaman kopi maupun spesies pohon liar secara umum. Sebagai konsekuensi, praktik organik menjadi keniscayaan untuk melindungi lebah dari paparan bahan kimia. Piloting budidaya lebah lokal telah dirintis SwaraOwa sejak 2017 di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang.

Workshop dan pelatihan ini menjadi pembuka kolaborasi jangka panjang kami. Pada bulan Mei, berbarengan dengan awal musim panen kopi, kami akan kembali bertemu dalam kegiatan serupa dengan tema yang lebih praktikal: proses pasca-panen kopi. Melalui skema kopi naungan yang holistik–berbasis kedalaman wawasan dan keterampilan mumpuni, kami berupaya mencapai keselarasan antara kepentingan kelestarian alam dan kepentingan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai penutup, sesuai dengan tema workshop ini, "Owa coffee : guardian of the gibbon" bisa di artikan  "Kopi Owa : Penjaga hutan dan Owa", maksudnya adalah bukan sekadar branding, melainkan menekankan bahwa:

1. Produksi kopi ini melibatkan petani sebagai aktor utama.  Mereka bukan hanya produsen kopi, tetapi juga bagian dari gerakan konservasi.

2. Petani berperan ganda: menghasilkan kopi berkualitas sekaligus menjaga hutan sebagai habitat owa. Dengan begitu, setiap cangkir kopi yang dihasilkan membawa pesan bahwa kopi ini lahir dari hutan yang tetap lestari.

3. Makna simbolis: kopi menjadi medium yang menghubungkan konsumen dengan perjuangan petani menjaga owa dan hutan.


Friday, April 3, 2026

Pemetaan Potensi Kopi untuk Inklusivitas Habitat Owa Jawa

 

Owajawa ( Hylobates moloch) di temukan di habitat kopi naungan hutan alam /rustic shade grown coffee

Oleh : Sidiq Harjanto & Muhammad Kuswoto

Kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap habitat Owa Jawa di Hutan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Ada irisan kepentingan yang nyata antara kebutuhan ekonomi masyarakat dengan keutuhan hutan sebagai habitat berbagai satwa liar, termasuk primata endemik yang terancam punah ini. Belum lagi sederet fungsi hutan seperti penjaga siklus air dan pengikat tanah–pencegah longsor. Melanjutkan upaya untuk menemukan titik keseimbangan berbagai kepentingan itu, pada tahun ini kami memulai perluasan skema pengembangan kopi naungan (shade-grown coffee).

Selama satu bulan terakhir, kami telah melaksanakan pendataan terhadap komunitas petani kopi. Survei ini dilakukan ke sepuluh lokasi, meliputi enam desa dekat hutan di tiga kecamatan yang merupakan penyangga habitat Owa Jawa di Hutan Petungkriyono. Pendataan ini melintasi gradien ekologi maupun sosio-ekonomi yang kontras, mulai dari dataran yang relatif rendah–kurang lebih 300 mdpl, hingga dataran tinggi di atas 1.500 mdpl, mulai dari masyarakat petani hutan hingga masyarakat petani sayur–peladang intensif.

Pendataan ini tidak hanya memotret aspek pembudidayaan kopi, tetapi juga mencoba menyelami karakteristik masyarakat yang beranekaragam, mulai dari pola interaksi sosial hingga relasi mereka terhadap sumber daya hutan secara umum. Metode pendataan dilakukan dengan wawancara untuk melihat beberapa aspek: model pengelolaan kebun kopi yang dijalankan, potensi komoditas selain kopi, hingga aktivitas lain yang dilakukan di hutan. Sedangkan untuk mendapatkan gambaran langsung mengenai praktik budidaya kopi, kami melakukan peninjauan langsung ke kebun-kebun kopi yang dikelola masyarakat.

rustic shade-grown coffee /kopi naungan hutan alam 

Spektrum agroforestri kopi

Ada beberapa catatan menarik yang kami rangkum. Dari sisi produksi kopi, karena variasi ketinggian (altitude) yang cukup ekstrem, lokasi-lokasi penghasil kopi memiliki profil spesifik. Tujuh lokasi merupakan penghasil kopi robusta, sedangkan tiga lokasi lainnya dominan menghasilkan kopi arabika. Jenis kopi excelsa dan liberika juga dijumpai, namun kuantitasnya relatif kecil.

Kami menemukan ada tiga spektrum utama dalam pola pembudidayaan kopi di sekitar habitat Owa Jawa, dan sebagai penyederhanaan kami menyebutnya: kebun campur, agroforest sederhana, dan naungan hutan. Pada dasarnya, semua tipe merupakan bentuk agroforestri, tetapi berbeda dalam struktur penyusun dan kompleksitasnya. Pertama, yang dimaksud kebun campur adalah pembudidayaan kopi yang relatif intensif (dengan penyambungan batang, pemangkasan, dan kadang pemupukan) dikombinasi dengan jenis-jenis tanaman komoditi seperti cengkih, durian, alpukat, hingga pisang. Umumnya, praktik ini dilakukan di kebun milik atau di lahan hutan yang mudah diakses.

Burung paruh kodok, ditemukan di habitat kopi naungan rustic

Kedua, agroforest sederhana adalah saat tanaman kopi dikombinasikan dengan tanaman pangan seperti sayur-mayur atau jagung. Praktik ini jamak dilakukan di dataran tinggi dengan komoditas kopi dari jenis arabika. Kopi ditanam sebagai tanaman pembatas kebun atau tanaman sela pada ladang-ladang sayur ataupun tanaman jagung. Terkadang dijumpai pula pohon-pohon penaung, baik jenis liar maupun komersil sehingga menyerupai kebun campur. Meskipun demikian, perawatan kopi yang intensif jarang dijumpai pada tipe ini.

Ketiga, tipe naungan hutan (rustic shade) merupakan pembudidayaan kopi yang berada dalam kawasan hutan dan tumbuh di bawah naungan pohon-pohon hutan. Dalam praktik ini, perlakuan atau perawatan terhadap tanaman-tanaman kopi sangat minim, tanaman kopi umumnya tumbuh tinggi karena berlomba mendapatkan paparan cahaya matahari dengan pepohonan hutan. Pada tipe ini, kopi adalah bagian dari strata hutan itu sendiri. Tipe inilah yang paling ramah terhadap keberadaan satwa liar, termasuk Owa Jawa. Kami menjumpai beberapa praktik baik dalam pengelolaan kopi naungan hutan, misalnya: konservasi spesies pohon tertentu sebagai penaung, seperti pohon bendo (Artocarpus elasticus).

Aktivitas ekstraktif di desa-desa penghasil kopi


Kopi robusta kebun campur

Selain menggali potensi kopi dari desa-ke desa, kami juga menelusuri informasi mengenai aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan hutan. Kami menjumpai masih adanya ruang aktivitas ekstraktif, termasuk perburuan satwa liar. Masalah perburuan ini melibatkan berbagai faktor yang berkelindan.

Kami mengidentifikasi tiga tipologi utama dalam aktivitas perburuan berdasarkan motivasi. Pertama, motif ekonomi: sebagian warga melakukan perburuan sebagai strategi bertahan hidup untuk menutupi celah pendapatan dari sektor utama terutama pertanian yang belum optimal. Umumnya menarget spesies burung kicauan yang punya nilai ekonomi. Kedua, motif rekreasi: sebagian lainnya melihat aktivitas ini sebagai hobi, pengisi waktu luang, atau pemuasan kegemaran yang telah mengakar dalam keseharian. Ketiga, motif pengendalian hama: sebagian masyarakat menganggap aktivitas perburuan sebagai upaya untuk mengendalikan populasi hewan-hewan yang dianggap hama bagi pertanian, misalnya babi hutan.

Kami mencoba memahami ketiga dimensi ini secara netral agar bisa menawarkan upaya intervensi yang tidak konfrontatif, melainkan substitusi nilai yang lebih berkelanjutan. Pendataan ini merupakan inisiasi untuk program peningkatan kapasitas petani dalam pengolahan kopi sekaligus untuk upaya konservasi, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas sampingan pemburu satwa liar. Skema ini bermaksud memperluas dampak dari Coffee and Primates Project yang telah melahirkan Owa Coffee lebih dari satu dekade lalu.

Titik nol baru kopi penjaga owa

 
Kopi arabica di tanam di tepi lahan kebun sayur

Sebagai tindak lanjut, kami akan berkolaborasi dengan 25 petani yang akan menjadi pionir dalam program peningkatan kapasitas selama kurang lebih satu tahun ke depan. Fokus utama kami adalah membangun komitmen jangka panjang untuk mengalihkan energi dan sumber daya mereka dari aktivitas berburu ke pengelolaan Kopi Naungan (shade-grown coffee). Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan ekonomi keluarga petani melalui kopi berbasis agroforestry, sekaligus mengurangi aktivitas berburu di Hutan Petungkriyono.

Tentu tidak ada resep tunggal untuk mengurai problematika tersebut, tetapi ada beberapa tawaran untuk itu. Strategi Resiliensi Ekonomi: meningkatkan nilai tambah produk melalui perbaikan pasca-panen dan diversifikasi tanaman dalam lahan kopi (multi-komoditi). Targetnya adalah memastikan pendapatan dari kopi naungan lebih stabil dan menguntungkan ketimbang aktivitas ekstraktif di hutan. Petani didorong untuk tidak hanya menggantungkan nasib pada kopi sebagai komoditas tunggal, tetapi mengombinasikan dengan berbagai komoditas lain.

Strategi Prestise dan Keterampilan: mengalihkan aspek "tantangan" dan "kesenangan". Dari aktivitas berburu yang menantang ke iklim kompetitif lain yang produktif, misalnya kualitas kopi (specialty coffee). Kesenangan untuk mengeksplorasi hutan juga membawa peluang untuk melibatkan para petani dalam pendataan dan pemantauan kehati secara partisipatif dalam bingkai citizen science. Kontribusi kawan-kawan petani muda di Desa Mendolo dalam skema ini telah membuktikannya.

Tak bisa dimungkiri bahwa konflik satwa liar seringkali merupakan puncak gunung es dari permasalahan yang lebih besar dan kompleks. Munculnya gangguan pada tanaman budidaya oleh satwa liar bisa jadi disebabkan gangguan pada keseimbangan ekosistem: akibat hilangnya peran predator, misalnya. Strategi Literasi Ekologi (ekoliterasi): diterapkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat petani terhadap pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem demi keberlanjutan pertanian kita.

Bisa dibilang, pendataan ini menjadi titik nol baru bagi perjalanan panjang ke depan, di mana upaya gotong royong kita untuk kesejahteraan petani dan kelestarian habitat Owa Jawa tumbuh secara beriringan dalam satu lanskap produktif yang inklusif. Mengarusutamakan kopi naungan bukan saja menjaga resiliensi ekonomi masyarakat petani, tetapi juga menjaga koneksivitas habitat–prasyarat mutlak bagi kelestarian satwa liar. Artinya, prinsip inklusivitas berlaku tidak saja kepada sesama manusia, namun diperluas: termasuk memberi ruang kepada satwa liar. Kami ucapkan terima kasih kepada Air Asia Foundation atas dukungan terhadap program ini.

Thursday, March 12, 2026

Sadar Akar Kenal Diri: Edukasi Generasi Lestari

anak-anak di ajak mengenal pawon, dapur tradisional

 oleh : Sidiq Harjanto

Alam dan kehidupan di desa tepi hutan menyediakan segenap pembelajaran dan media pengembangan diri bagi tiap-tiap generasi. Berangkat dari pemahaman itu, kami merintis model pendidikan lingkungan “Generasi Lestari” di Desa Mendolo. Program pendidikan lingkungan ini bertujuan untuk membangun kesadaran akan keterhubungan antara manusia dan alam melalui berbagai aspek kehidupan, seperti: sosial, budaya, ekonomi, hingga proses mental. Membuka program edukasi di 2026, kami melaksanakan dua rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperkuat "akar" anak-anak terhadap desa tempat tinggal, dan membangun "jangkar" emosional di dalam diri mereka sendiri.

Simulasi bertamu, kenal pawon, dan belajar komoditas

Pada tanggal 15 Februari 2026, anak-anak diajak untuk mengenal identitas lokal. Desa bukan sekadar tempat tinggal secara fisik, melainkan sebuah ekosistem sosial dan ekologis yang kompleks dan saling berkaitan. Melalui pemahaman itu, tak ada salahnya memulai pendidikan lingkungan dari pembelajaran etika. Pada sesi pertama, anak-anak diajak melakukan simulasi bertamu dalam rangka belajar unggah-ungguh (tata krama). Anak-anak berlatih bagaimana mengetok pintu rumah orang, menyapa, memosisikan diri, dan menghargai ruang hidup orang lain. Dalam perspektif konservasi, tata krama adalah "perekat sosial" yang menjaga keharmonisan antar-warga. Hal ini menjadi modal penting dalam membangun upaya kolaboratif menjaga hutan dan lingkungan di masa depan.

Belajar tatakrama bertamu

Selanjutnya, kami mengajak anak-anak memasuki pawon (dapur tradisional). Di sini, mereka belajar bahwa dapur bukan sekadar bangunan fisik yang berfungsi untuk memasak. Sebuah pawon adalah titik temu berbagai aspek. Termasuk antara hutan dan manusia. Di sanalah pusat pemrosesan energi yang mengoneksikan pangan dari alam dengan tubuh kita. Di dalamnya terdapat arsitektur unik yang penuh kearifan budaya, dan memenuhi aspek keberlanjutan dari kacamata ilmu pengetahuan modern. Misalnya, para-para di atas tungku untuk penyimpanan bahan pangan dan kayu bakar merupakan bentuk kaskade energi. Melalui teknologi vernakular, leluhur kita secara intuitif telah memahami prinsip termodinamika canggih melampaui zamannya. Tidak hanya berhenti pada teknologi, dapur tradisional juga sarat akan etika, seperti: pantangan menyisakan makanan. 

Sebagai salah satu bentuk pembelajaran kontekstual, anak-anak mengikuti proses pengolahan kluwek (Pangium edule) bersama para ibu dari KWT Brayanurip. Dengan melihat, memegang, dan mempraktikkan pengolahan secara langsung, mereka mengenal kluwek sebagai salah satu komoditas unggulan Desa Mendolo. Mengenal keunikan proses pengolahan dari biji yang mengandung racun asam sianida hingga menjadi bahan pangan yang gurih setelah difermentasi. Anak-anak belajar tentang kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam yang kompleks, menjadi produk bernilai ekonomi. 

Permainan Charades untuk pembelajaran emosi

Memasuki bulan Maret yang bertepatan dengan bulan Ramadan, fokus kegiatan bergeser ke arah "ekosistem internal" manusia, yaitu emosi. Momentum puasa menjadi laboratorium untuk mempraktikkan pengenalan emosi. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi sebuah latihan mengelola emosi dan melatih kesabaran. Bertajuk “Detektif Rasa: Menjelajahi Peta Emosi”, pada 10 Maret 2026, anak-anak diajak menjelajahi belantara emosi sebagai sisi penting kepribadian seorang manusia. 

Charades emosi

Melalui permainan “Charades” yang interaktif, anak-anak diajak untuk mengenali spektrum perasaan mereka. Satu orang peserta memperagakan ekspresi emosi dasar, seperti: senang, sedih, marah, takut, dan jijik. Para peserta yang lain menebak jenis emosi yang sedang diperagakan. Secara bergantian, mereka berlatih memahami diri sendiri dengan cara yang asyik. Pada sesi refleksi, anak-anak bebas menceritakan perasaan mereka tanpa dihakimi. Setiap emosi adalah valid, namun respon terhadapnya perlu dikelola.

Menurut Daniel Goleman, kemampuan mengenali perasaan sendiri adalah keterampilan paling dasar dari kecerdasan emosional (emotional intelligence)1. Kita perlu membangun skema konservasi yang tidak hanya bertumpu pada kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional. Anak yang mengenal emosinya akan lebih mampu berempati terhadap sesama, termasuk kepada satwa liar di alam, seperti Owa Jawa yang “bertetangga” dengan mereka. 

Dalam konteks program konservasi kolaboratif antara SwaraOwa - PPM Mendolo - KWT Brayanurip, rangkaian kegiatan ini merupakan upaya kami untuk memastikan bahwa inklusivitas habitat dimulai dari inklusivitas pendidikan. Dengan membekali anak-anak keterampilan tata krama, pemahaman tentang komoditas, dan kecerdasan emosional, kita sedang membangun fondasi bagi generasi penjaga hutan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beradab, dan tangguh secara mental. Salam Lestari!


Ref: Goleman, Daniel. Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosional. Cet. 20 Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2020.


Wednesday, March 11, 2026

Beasiswa SwaraOwa: Bahasa Inggris sebagai Jembatan Konservasi dan Pariwisata

 oleh : Imam Taufiqurrahman

Dari kiri ke kanan: Alek, Lukni , dan Iyan, di halaman Briliant English Course, 

Kampung Inggris, Pare.

Dewasa ini, bahasa asing—utamanya Inggris—menjadi hal penting untuk dipelajari. Penguasaan bahasa tersebut amat dibutuhkan bagi seseorang dalam interaksinya dengan masyarakat global. Kecakapan berbahasa Inggris menjadi prasyarat di banyak bidang, terlebih di pariwisata. 

Sektor kepariwisataan, dalam bentuk ekowisata satwa liar, yang dikembangkan Swaraowa di Desa Kayupuring dan Mendolo, tak luput dari kebutuhan itu. Sebagai desa yang memiliki potensi satwa liar dan telah banyak mendapat kunjungan wisatawan asing, pengembangan kapasitas masyarakat desa dalam bahasa Inggris menjadi penting dan sangat diperlukan. 

Itulah yang melatarbelakangi Swaraowa untuk memfasilitasi tiga pemuda, Lukni Al Khabib dan Feri Fitriyanto dari Desa Kayupuring, Kec. Petungkriyono dan Alek Ripa’i dari Desa Mendolo, Kec. Lebakbarang, untuk belajar berbahasa Inggris. Ketiganya adalah sudah ikut serta dalam pengembangan wisata minat khusus pengamatan owa "gibbon watching" di Kayupuring dan Mendolo, yang setidaknya 3 tahun terakhir mendapat kunjunga wisatawan mancanegara. Ketiganya juga tim monitoring keanekargaman hayati, yang setiap 2 bulan sekali melakukan kegiatan pengamatan satwaliar khususnya Owajawa secara partisipatif di desa mereka.  

Mereka menjadi yang pertama  ditahun 2026 sebagai penerima beasiswa belajar bahasa Inggris dari Swaraowa. Selama satu bulan, di rentang 12 Januari-8 Februari 2026, ketiganya berkesempatan belajar di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur. Ketiganya mendapat pembelajaran secara intensif, tidak hanya di ruang kelas, namun juga yang berlangsung di keseharian mereka selama tinggal di asrama.

Secara praktis, para pemuda ini mengikuti program kelas percakapan yang bertujuan menyiapkan pesertanya untuk mampu aktif berbahasa Inggris. Program ini menempa kepercayaan diri dalam berkomunikasi agar mampu bercakap-cakap dengan lancar dan penguasaan berbagai macam kosakata, termasuk tata bahasa.

Alek dan teman sekelasnya foto bersama dengan gaya Owajawa

Kegiatan kursus bahasa Inggris di lingkungan seperti di kampung Inggris ini, juga memupuk rasa percaya diri, dari Lukni, Alek dan Iyan, yang sehari-sehari memang di tinggal di hutan, bertemu dengan teman-teman kursus dari berbagai daerah di Indonesia, bertukar pengalaman dan terntu saja ikut mempromosikan owa jawa di antara teman-teman mereka. 

Ketiganya benar-benar memanfaatkan kesempatan belajar di Kampung Pare sebagai sarana pengembangan diri. Selama masa tinggal, mereka berinteraksi dan menggali pengalaman bersama para peserta lain dari berbagai wilayah di Indonesia.

suasana pembelajaran di kampung Inggris

Di tiap akhir pekan, masing-masing mereka ditugasi menulis cerita serta pengalaman mingguan. Isinya berupa kegiatan belajar di kelas maupun aktivitas keseharian mereka di Kampung Inggris Pare. Tentu banyak kisah, suka dan duka, yang mereka rasakan (catatan tersedia pada tautan di ujung tulisan ini). Di penghujung catatan mereka, masing-masing membagikan kesan dan refleksi atas berbagai hal yang telah dilalui. Kami cuplik di sini:

Lukni Al Khabib:

After one month of studying at Brilliant Kampung Inggris, I felt a significant improvement in my English skills, especially in speaking and vocabulary mastery. Daily practice, supportive tutors, and a friendly environment made the learning process effective and enjoyable. This program provided valuable experience and motivation for me to continue improving my English skills in the future. I would like to express my deepest gratitude to SwaraOwa and my colleagues at Swaraowa. Thank you for providing a scholarship to study English in Pare.

Feri Fitriyanto (Iyan):

I say a big thank you to Swaraowa, with this scholarship from Swaraowa I can learn English because this opportunity is not available to everyone. And I have a desire to continue my English lessons in Kampung Inggris for maximum results.

Alek Ripa’i:

It's really fun and exciting to studying here. Thanks to Swaraowa for giving me this opportunity! And last but not least! Thanks to all my tutors, my classmates, campmates, and everyone in Kampung Inggris. Thank you, for all the good memories, and i will see you when i see you!

Mereka, generasi muda dari desa-desa yang menjadi habitat owa jawa, telah menumbuhkan harapan di masa depan. Merekalah yang akan mewakili masyarakatnya memperkenalkan potensi desa mereka masing-masing. Ke depan, menjadi tugas mereka sebagai duta dalam menyambut, berinteraksi, dan berkomunikasi dengan masyarakat global yang datang berkunjung ke desa mereka.