Thursday, July 16, 2026

Rahasia di Balik Racun Gadung dan Pucung: Tanaman Hutan yang Menghidupi Warga Sekitar Hutan dan Menjaga Habitat Owa Jawa

 

Owa Jawa ( Hylobates moloch) menggunakan cabang pohon pucung sebagai perlintasan (Dok Alex Rifa'i)

Oleh : Sidiq Harjanto

Dua spesies tumbuhan hutan ini turut menjaga kelestarian Owa Jawa. Mereka tidak melakukan pemantauan populasi atau patroli pengamanan hutan seperti yang biasa kita lakukan. Namun, keduanya membentuk rangkaian hubungan antara manusia, pengetahuan, hutan, air, dan ekonomi yang membuat konservasi bisa berjalan dengan sendirinya. Dalam ilmu konservasi, hubungan seperti ini dikenal sebagai social-ecological system (SES). Ini adalah kisah umbi gadung dan biji pucung. 

Umbi gadung sekepalan tangan atau beberapa biji pucung bisa membawa akibat fatal jika dikonsumsi tanpa pengolahan. Keduanya sama-sama mengandung racun dosis tinggi. Namun, di tangan masyarakat Sawahan, racun bisa dijinakkan dan diubah menjadi pangan yang lezat dan terus mewarnai dinamika desa dari masa ke masa. 

Sawahan adalah dusun kecil di tepian habitat lima jenis primata Jawa, berada dalam wilayah administratif Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang. Di dusun ini, pangan lokal dan pengetahuan mengolahnya masih terus dirawat hingga sekarang, menjadi bagian integral dari relasi manusia dengan hutan. Ada lebih dari 80 jenis tumbuhan dan jamur liar yang bisa dikonsumsi. Empat tahun terakhir, agenda Pekan Pangan Mendolo rutin digelar, menjadi medium perayaan kedaulatan pangan dan bentuk upaya merawat kepedulian masyarakat terhadap isu pangan dan konservasi alam secara lebih luas.

Produk olahan gadung dan pucung produksi KWT di Sawahan
Pangan lokal dalam pusaran sejarah desa

Gadung adalah jenis umbi khas tropis dengan nama latin Dioscorea hispida. Umbi ini mengandung dioscorin dan sianida yang sangat beracun sehingga berbahaya jika dikonsumsi tanpa melalui proses pengolahan. Pucung atau kepayang adalah jenis pohon hutan yang biasanya tumbuh subur di area sempadan sungai. Memiliki nama latin Pangium edule, kadar racun tertinggi ada pada bijinya. Mengonsumsi biji yang tidak diolah dengan benar bisa menimbulkan efek memabukkan. Dari sanalah istilah “mabuk kepayang” lahir.

Kecerdasan para leluhur kita telah menemukan metode pengolahan yang membuat kedua tumbuhan beracun bisa diubah menjadi bahan pangan yang lezat. Gadung menjadi alternatif sumber karbohidrat ataupun sebagai bahan pangan tambahan seperti keripik. Sedangkan biji pucung diolah menjadi aneka bahan pangan, salah satunya kluwek, bumbu penyedap utama pada makanan legendaris seperti brongkos dan rawon. Di Pekalongan sendiri, ada sup tradisional khas yang menggunakan kluwek sebagai bahan utama kuahnya, dikenal sebagai pindang tetel.

Mengapa masyarakat Sawahan mengolah tumbuhan beracun menjadi bahan pangan? Jawabannya tidak berhenti pada kecerdasan dan keterampilan para leluhur–justru di sinilah terletak keunikannya. Situasi ini membutuhkan interaksi banyak aspek yang saling berkelindan: pengetahuan tradisional turun-temurun, daya dukung lingkungan, hingga insentif yang diberikan oleh sistem ekonomi.

Tidak ada dokumentasi komprehensif bagaimana masyarakat Sawahan memperoleh pengetahuan pengolahan bahan-bahan pangan beracun tersebut. Pengolahan gadung paling jauh bisa ditarik sekitar lima puluh tahun lalu, saat warga dusun ini meniru metode pengolahan gadung menjadi keripik dari warga desa lain. Namun, pengolahan yang lebih sederhana seperti peretan–sejenis nasi dari umbi yang dicacah–telah umum dilakukan sebelumnya. Untuk pengolahan pucung, informasinya malah lebih terbatas. Meskipun demikian, bisa dipastikan tradisinya tidak kalah tua.

Uji coba ekstraksi minyak kepayang

Pengetahuan dan keterampilan saja tidak cukup untuk membuat tradisi ini lestari. Ada faktor daya dukung lingkungan. Alam di Sawahan menyediakan habitat ideal bagi kedua spesies tumbuhan liar itu. Gadung tumbuh subur pada area hutan dengan tanah gembur dan kaya material organik. Pohon-pohon tinggi menyediakan media tumbuh. Dengan batang berdurinya, ia merambat melingkari pohon-pohon raksasa hingga bagian atas untuk mendapatkan paparan cahaya matahari. Putarannya selalu searah jarum jam. 

Wilayah di sekitar kampung dilalui sungai-sungai dengan area sempadan yang lembab, ideal sebagai tempat tumbuh pohon-pohon pucung. Spesies ini paling sering dijumpai pada habitat dataran rendah yang relatif basah, dan pohonnya dipercaya sebagai penjaga mata air. Di Sawahan, pohon pucung raksasa hampir selalu dijumpai di sekitar mata air. Monitoring satwa liar yang dilakukan Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo memberikan informasi empiris yang menarik mengenai peran pohon pucung bagi satwa liar, antara lain daun muda yang dimakan monyet rek-rekan, dan cabang-cabangnya yang memberi fungsi perlintasan bagi owa jawa (Alex Rifa’i, kom.pri.)

Kondisi lingkungan tidak hanya mendukung pertumbuhan spesies, tetapi juga menyediakan “fasilitas produksi” gratis bagi petani. Sungai mengalir sepanjang tahun, menyediakan air sebagai elemen penting dalam penetralan racun, baik pada gadung ataupun pucung. Proses ini membutuhkan perendaman dan pencucian menggunakan air mengalir selama beberapa hari. Tanpa sumber daya air yang melimpah, pemrosesan menjadi tidak efisien. Namun, di sisi lain tanpa merawat hutan–termasuk pohon-pohon pucung–air bisa surut hingga titik kritis. Inilah contoh nyata umpan balik sistemik menggunakan cara pandang SES.

Akses pangan lokal mewakili kepentingan kaum perempuan terhadap hutan

Faktor lain yang penting dalam lestarinya pengolahan pangan lokal adalah adanya insentif ekonomi. Meskipun pemanfaatan secara subsisten juga terus dilakukan, pertimbangan ekonomi kemungkinan besar memiliki porsi tersendiri terutama ketika ketersediaan bahan melimpah. Gadung telah lama diperdagangkan dalam bentuk keripik. Pembelinya sebagian besar adalah tetangga sendiri, membentuk ekonomi mikro yang stabil dan berkelanjutan di lingkup dusun sendiri. 

Menurut cerita sesepuh, dahulu pucung lebih banyak diperdagangkan dalam bentuk blibar–daging biji (endosperma) yang telah dihilangkan racunnya, tetapi tidak difermentasi seperti pada kluwek. Blibar adalah bahan sayur yang bisa ditumis, digulai, atau dibikin rendang. Produk olahan ini konon dijajakan keliling dari desa ke desa. Hari ini, pucung lebih banyak dijual mentah ke pengepul. Blibar sendiri masih bertahan, tetapi lebih banyak dimanfaatkan secara subsisten.

Rek-rekan ( Presbytis fredericae) terpantau memakan daun muda pohon pucung (Dok Alex R)

Sistem pangan sebagai leverage konservasi 

Hubungan kompleks antara pangan – hutan – dan konservasi menjadi titik masuk bagi SwaraOwa. Kami berupaya tidak ada satu program yang berdiri sendiri. Setiap isu terjalin dengan isu-isu lain karena konservasi pada dasarnya menyentuh sesuatu yang bersifat sistemik. Karenanya, program koridor habitat Owa Jawa di Desa Mendolo yang dirintis bersama PPM Mendolo sejak 2023 tidak berhenti pada menanam pohon, tetapi juga membuka aneka peluang lain, termasuk penguatan sistem pangan lokal bagi masyarakat. 

Berawal dari penanaman pohon, berlanjut ke pengembangan produk berbasis pangan lokal oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip. Sistem pangan lokal bisa menjadi medium partisipasi bagi kaum perempuan dalam diskursus tata kelola pemanfaatan hutan. Di Sawahan, ruang partisipasi itu diwujudkan dalam upaya inovatif: mendongkrak gadung dan pucung naik kelas menjadi komoditas ekonomi sekaligus penjaga resiliensi pangan.

Kedua komoditas ini dipilih karena nilai historis yang panjang, tersedia melimpah, dan memiliki narasi yang kuat untuk menjelaskan SES. Interaksi panjang masyarakat dengan komoditas-komoditas pangan hutan membangun perpustakaan pengetahuan yang sangat berharga yang sayang jika hilang begitu saja. Kumpulan pengetahuan itu justru menjadi bahan utama untuk meningkatkan nilai tambah pada produk-produk yang selama ini termarginalkan. 

Tiga tahun terakhir, kelompok yang dipimpin Sri Windriyah (Diyah) ini telah melakukan riset pengembangan produk untuk kedua komoditas. Hasilnya adalah tepung gadung dan aneka sambal berbasis kluwek. Harus diakui, memang upaya ini belum mengejawantahkan produk yang dihasilkan secara massal. Namun, capaian tidak selalu tentang berapa banyak produk yang telah dihasilkan. Ia bisa berupa pengetahuan baru–ini tentang data-data teknis, formulasi produk, hingga desain rantai pasok yang akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan ke depannya.

Di titik inilah kami sekarang. Datangnya musim kemarau menjadi penanda musim gadung yang akan berlangsung sampai kira-kira bulan September. Tidak lama setelah itu, musim buah pucung menyusul di belakangnya. Bulan-bulan ke depan terus menuntut produktivitas. Seiring dengan selesainya musim panen kopi pada bulan Juli ini, KWT Brayanurip bersiap memulai produksinya. 

Mengapa bentuk tepung dipilih pada gadung dan bentuk olahan kluwek pada pucung? Keduanya memiliki alasan yang mirip: memperpanjang umur simpan, lebih mudah dipasarkan, lebih fleksibel (misalnya tepung menjadi kue atau kerupuk), serta berpeluang membuka pasar baru. Pada aspek pasar, Diyah dan kawan-kawannya menemukan bahwa generasi muda tidak lagi antusias dengan keripik gadung atau blibar pucung. Karenanya, formulasi olahan baru menjadi keniscayaan. 

Gadung dan pucung tidak dipersiapkan untuk sumber ekonomi utama bagi masyarakat. Keduanya menambah nilai ekonomi hutan, melengkapi komoditas-komoditas yang lebih dulu eksis seperti kopi, durian, kapulaga, dan madu. Skema ini membentuk bantalan ekonomi yang lebih kuat sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati pada lahan-lahan produktif yang dikelola.

Pada konteks resiliensi pangan terhadap perubahan iklim, kiranya gadung bisa menjadi studi kasus menarik. Ia memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan komoditas pangan lain, baik yang berbasis umbi maupun serealia. Salah satu keunggulan yang patut dicatat adalah kemudahan tumbuh dan ketahanan. Gadung cenderung tumbuh liar di hutan dan dipelihara oleh sistem alam itu sendiri. 

Karena mengandalkan alam, waktu yang perlu diinvestasikan dalam produksi tepung gadung hanya terbatas pada pemanenan dan pengolahan pasca-panen, yang kira-kira membutuhkan satu minggu. Angka ini sebenarnya sangat jauh dibandingkan dengan komoditas lain seperti singkong dan talas yang membutuhkan upaya penyiapan lahan, penanaman, perawatan berkala, bahkan pengamanan dari konflik satwa liar. 

Berdasarkan riset yang dilakukan KWT, untuk mendapatkan satu kilogram tepung, diperlukan kurang lebih 9 sampai 10 kilogram umbi segar. Dari tanaman yang sehat, angka itu bisa diperoleh dari satu rumpun saja. Berbeda dengan pangan lain seperti padi, singkong, atau talas yang sering diakses satwa liar, nyaris tidak ada satwa yang mendekati umbi gadung. Tantangan ke depan menjadi lebih bisa dikerucutkan: mengembangkan metode budidaya sederhana untuk produksi yang lebih terkontrol, dan memastikan akses pasar yang mengapresiasi produk akhir. 

Krisis iklim yang semakin nyata mengancam penyediaan pangan kita di masa depan. Gadung dan pucung berpotensi menjadi barier proteksi ketahanan pangan masyarakat desa. Hanya saja, ini bukan semata tentang melestarikan tanaman-tanaman itu, namun juga pengetahuan mengolahnya. Yang diwariskan bukan sekadar tanaman, melainkan kemampuan mengubah racun menjadi pangan. Kepunahan data dan informasi yang terkandung dalam pengetahuan tradisional sama mengerikannya dengan kepunahan spesies itu sendiri.

Konservasi tidak cukup dengan menjaga hutan agar pohon tetap berdiri. Konservasi juga menjaga hubungan antara manusia, pengetahuan, dan lanskap yang membuat hutan tetap bernilai. Gadung dan pucung menjadi bukti bahwa ketika masyarakat memperoleh manfaat dari hutan, mereka memiliki alasan untuk ikut menjaganya. Pangan adalah daya ungkit konservasi yang patut kita perhitungkan, karena ia menyentuh titik nadi kehidupan.

Kami ucapkan terima kasih kepada Yayasan Astra Honda Motor, PT Musashi Auto Parts Indonesia, PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Yutaka Manufacturing Indonesia, dan PT Suryaraya Rubberindo Industries atas dukungan terhadap program penguatan kelompok KWT Brayanurip pada tahun ini. Apresiasi juga disampaikan kepada narasumber yang membuat artikel pendek ini terwujud: Biyung Mirah, Pak Casbari, Pak Kaliri, Sri Windriyah, Rohim, Alex Rifa’i, para ibu di KWT Brayanurip dan kawan-kawan PPM Mendolo. 


Wednesday, July 1, 2026

Upaya Swaraowa Naikkan Kelas Kopi Pekalongan lewat Pasca-Panen Modern

 

foto bersama di Sentra Specialty Coffee Arabica-mas Iyan Bondowoso

Oleh : Vika Bayu Iriyanto Putro

Sejak dimulainya proyek kopi dan konservasi tahun 2012, di Petungkriyono, kopi hingga saat ini telah menjadi salah satu komoditas unggulan dari habitat Owa , memberikan warna perekonomian di Petungkriyono. Keterlibatan petani-petani sebagai komponen utama rantai pasok kopi ini, membuat Kopi Owa yang saat ini menjadi branding sekaligus gerakan pelestarian Owa, juga terus  berkembang, mengikuti pola pasar dan menambah pengetahuan tentang ceruk-ceruk peluang yang bisa di perbaiki dalam proses produksi sekaligus nilau jual kopi.

Pengolahan tradisional

Pengolahan pasca-panen telah menjadi titik tolak untuk mengangkat nilai kopi di Petungkriyono,  secara umum didominasi oleh dua metode konvensional, yaitu proses alami (natural/dry process) dan proses basah (washed process) . Di pasar global, ada satu lagi metode yang populer yaitu wet hulled/giling basah,  namun sangat jarang dilakukan di prosesor-prosesor di Petungkriyono, ketiga metode ini telah lama menjadi acuan utama bagi sebagian besar petani dalam menjaga standar mutu produk, dengan pertimbangan ketersediaan prasarana, cuaca dan kecepatan perputaran cash di tingkat petani.

Namun, kondisi berbeda ditemukan pada komunitas petani kopi di wilayah Kecamatan Petungkriyono, Lebakbarang, dan Talun, Kabupaten Pekalongan. Di kawasan tersebut, aktivitas pasca-panen masih sangat bergantung pada metode tradisional proses alami/dry process ( petik  kemudian langsung di jemur sampai kering) , dan kami menyebut proses ini giling-alami (kopi di panen kemudian di giling kulitnya kemudian di jemur sampai kering) yang diwariskan secara turun-temurun, dengan tingkat adopsi pengetahuan teknologi pasca-panen yang relatif masih minim.

Seiring dengan melonjaknya perkembangan industri kopi di Indonesia sejak kita mulai proyek kopi dan konservasi di tahun 2012, dinamika pasar mengalami pergeseran yang signifikan. Sejak awal melalui skema Kopi Owa, prosesor atau pengolah kopi dibentuk untuk menampung atau membeli kopi-kopi dari Petani, kemudian di prosesor inilah kopi kemudian di proses sesuai standart baku dan mutu. Kami mengenalkan proses rendam (washed), natural dan honey.  Dalam hal ini kopi owa, mengikuti pasar specialty coffee dan nilai tambah konservasi owa sebagai storry telling narasi konservas Owa Jawa. Dan saat ini dari sisi proses produksi kopi ini ( di level prosessor) pasar ini telah berkembang pesat, menciptakan trend baru yang kadang tidak realistis untuk  dilaksanakan di level petani ataupun prosessor di level petani. 

Para prosessor kopi kini dituntut untuk terus beradaptasi dengan tren pengolahan pasca-panen modern demi memenuhi spesifikasi dan standar kualitas yang diminta oleh pasar nasional maupun internasional. Oleh karena itu, terdapat kesenjangan (gap) yang nyata antara praktik tradisional di Kabupaten Pekalongan dengan tuntutan pasar modern yang berbasis pada standardisasi mutu dan cita rasa.

Pengolahan kopi modern

Dalam industri kopi modern, pasca-panen tidak lagi sekadar proses mengeringkan buah kopi agar tidak busuk. Hari ini, pasca-panen telah bertransformasi menjadi *proses manipulasi rasa (flavor pembuatan) melalui kontrol biokimiawi yang presisi.

Para prosesor kopi modern kini bertindak atau esperimen terkait pasca panen modern , dengan tidak hanya mengandalkan proses alami dari fermentasi,namun juga telah menambahakan mikroba spesifik, pengendalian suhu, keasaman ( ph) dan oksigen, hingga muncul teknik inovatif dalam pasca panen kopi terutama dari petik hingga biji siap roasting,  seperti Anaerobic Fermentation, Carbonic Maceration dan infused fermentation.

Mengapa Tren Ini Penting untuk Prosessor kopi 

Melonjaknya tren ini didorong oleh pasar Specialty Coffee yang berani membayar harga berkali-kali lipat lebih mahal untuk kopi yang memiliki profil rasa unik dan skor uji cita rasa (cupping score) di atas 85 poin. 

Permintaan pasar dunia

Permintaan pasar internasional terhadap kopi yang diproses secara modern (experimental processing) kini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah industri kopi specialty. Negara-negara importir besar seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, negara- negara timur tengah serta negara-negara di Eropa Barat tidak lagi sekadar mencari pasokan kopi dalam jumlah besar, melainkan mencari keunikan rasa dan konsistensi mutu yang tinggi.

Para pemangku kepentingan (buyers dan roasters) internasional tidak sekadar membeli produk jadi, mereka membeli cerita di balik prosesnya (storytelling). Petani yang menjual kopi proses modern ke pasar global wajib menyertakan log data yang detail (Suhu tangki saat fermentasi, Nilai keasaman (pH) selama proses pembongkaran gula buah, Durasi penjemuran ) Keterbukaan informasi ini krusial karena para penyangrai (roasters) luar negeri membutuhkan konsistensi rasa yang sama untuk dibeli kembali pada musim panen berikutnya.

kunjungan ke kebun kopi di Puslit Kopi

Perkaya Ilmu Pasca-Panen: Kunjungan ke Jember dan Bondowoso

Oleh karena berdasarkan dinamika kopi Owa, tersebut diatas , Dalam upaya mendongkrak kualitas dan nilai jual kopi lokal, tim Swaraowa menggelar kegiatan studi banding pada 18–21 Juni 2026. Kegiatan ini mengajak para petani dan prosesor kopi dari Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya untuk berkunjung ke pusat-pusat riset serta pengolahan kopi modern di Jawa Timur, yaitu di Kabupaten Jember dan Bondowoso. Kegiatan studi banding ini didukung oleh Mandai Nature melalui Proyek Kopi Owa 2025-2028. 

Sebanyak 10 petani terpilih menjadi perwakilan dalam kegiatan ini, yang berasal dari beberapa wilayah:

Kecamatan Petungkriyono: Desa Yosorejo (2 orang), Desa Tlogohendro (2 orang), Desa Tlogopakis (1 orang), dan Desa Kayupuring (2 orang).

Kecamatan Lebakbarang: Desa Mendolo (1 orang).

Kecamatan Talun: 1 orang perwakilan.

Kecamatan Lemahabang: 1 orang perwakilan.

Kunjugan di lab pembuatan pupuk organik di Puslit Kopi dan Kakao

Hari Pertama: Belajar Budidaya hingga Hilirisasi di Puslitkoka Jember

Pada 19 Juni 2026, perjalanan dimulai dengan mendatangi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) di Kabupaten Jember. Pusat penelelitian ini adalah pusat riset hulu hingga hilir kopi terlengkap di Indonesia. Ini menjadi tempat strategis untuk mempelajari teknik budidaya modern, pengendalian hama, hingga inovasi pengolahan pascapanen berstandar tinggi. Di sini, para peserta dibimbing langsung oleh para narasumber yang kompeten dan spesialis di bidangnya masing-masing.

Materi Kelas & Praktik Kebun: Petani belajar teori perawatan tanaman kopi, mulai dari persiapan tanam, perawatan tahun pertama, hingga tahun-tahun berikutnya. Peserta kemudian diajak langsung ke kebun kopi robusta untuk mempraktikkan pemeliharaan pohon serta teknik pemilihan bibit robusta unggul.

Tur Pasca-Panen & Pengolahan: Selama kurang lebih 2,5 jam, rombongan berkeliling melihat proses penjemuran buah kopi, mengamati alat-alat pasca-panen klasik, hingga mengintip proses penyangraian (roasting) kopi sebelum dikemas untuk didistribusikan ke berbagai jaringan ritel.

melihat proses pasca panen di Farmer Arabica Ijen ,Bondowoso

Pemanfaatan Limbah kopi di Tory Javanese Cafe

Petani kopi juga berkesempatan mengunjungi ketempat Mas Andik Irawan, seorang akademisi sekaligus pemilik Tory Javanese Cafe. Dari Mas Andik, para petani belajar proses pasca-panen modern, salah satunya adalah teknik infusi (infused process) pada kopi robusta. Tidak hanya soal rasa kopi, kunjungan ini membuka wawasan baru tentang konsep zero waste (tanpa limbah). Peserta diajak ke laboratorium untuk melihat pembuatan pupuk organik dari limbah kopi, serta belajar mengolah kulit luar kopi menjadi bubur kertas yang kemudian disulap menjadi produk kerajinan unik bernilai ekonomi seperti tas dan dompet.

Hari Kedua: Mengintip Rahasia Kopi Eksperimental di Bondowoso

Perjalanan berlanjut ke Kabupaten Bondowoso untuk menemui salah satu prosesor kopi ternama di Indonesia, Iyan, pemilik Farmer Arabika Ijen.

Kunjungan ini menjadi pengalaman pertama yang sangat berharga bagi para petani dan prosesor dari Pekalongan. Mereka diperkenalkan secara langsung pada metode pengolahan modern yang sedang menjadi tren global, seperti: Carbonic Maceration (Maserasi Karbonat), Infused Process (Proses Infusi)

 dan Anaerobic Process (Proses Anaerob) Ketiga proses eksperimental tersebut terbukti mampu memanipulasi dan menciptakan profil rasa kopi yang unik, bersih, dan sangat digemari oleh pencinta kopi nasional maupun internasional.

instalasi fermentasi kopi di mas Iyan Arabica coffee farmer-Bondowoso

Pasca-Panen Modern sebagai jalan pilihan untuk menambah nilai Kopi

Studi banding ini membuka mata para peserta mengenai potensi keuntungan ekonomi yang nyata. Pengolahan kopi modern mampu mendongkrak harga jual komoditas secara signifikan dibandingkan dengan proses klasik (tradisional).

Sebagai gambaran perbandingan harga di pasaran:

Proses Klasik/Tradisional: Rp140.000 – Rp150.000 per kg.

Proses Anaerob (Natural/Honey): Mencapai Rp190.000 per kg.

Proses Carbonic Maceration: Bisa menembus harga Rp250.000- Rp450.000 per kg.

Perbedaan harga yang cukup tinggi ini menjadi motivasi dan bahan evaluasi besar bagi para petani dan prosesor kopi  di Pekalongan. Sekembalinya dari Jawa Timur, ilmu-ilmu baru ini diharapkan dapat segera diterapkan secara bertahap demi memajukan industri kopi di desa mereka masing-masing.


Wednesday, June 24, 2026

Owa Coffee: Agen Konservasi di Lanskap Non-linear Owa Jawa

 

Burung cekakak -batu di kebun Pak Baiduri

Oleh : Sidiq Harjanto & Muhammad Kuswoto

Perjalanan kali ini terasa lengkap bagi kami: melintasi puluhan kilo jalan berliku nan terjal, mencicipi kopi, mengamati burung, mendengar cerita tentang luwak, hingga berbagi keresahan dengan petani. Ini cerita kami keliling ke desa-desa penyangga habitat Owa Jawa di Lanskap Petungkriyono. Kami bertemu para petani mitra yang tergabung dalam program “Owa Coffee: the guardian of the gibbon” untuk memantau perkembangan mereka.

Program yang dikelola SwaraOwa dan didukung AirAsia Foundation ini berupaya meningkatkan ekonomi para petani kopi dengan tetap menjamin kelestarian habitat bagi aneka hidupan liar. Selama empat hari berkeliling, kami mengunjungi sepuluh lokasi dan bertemu dua puluh lima petani—memanen tak terhitung banyaknya pengalaman baru. Namun, tetap membawa pertanyaan yang sama: bisakah kopi menjadi penyelamat Owa Jawa?

Ruang hidup non-linear

Suara burung yang cukup keras menyambut kami di kebun Baiduri (44) di Desa Jalatiga, Kecamatan Talun. Suaranya terdengar khas, meskipun kami belum bisa memastikan spesies burung sumber suara itu. Ternyata, ia tepat di atas kami. Saya arahkan kamera untuk mengambil beberapa gambar. Di ranting sebuah pohon, bertengger seekor burung yang teridentifikasi sebagai burung cekakak batu (Lacedo pulchella). Burung ini termasuk kelompok kingfisher, dari suku Halcyonidae.

Menurut laporan Imam Taufiqurrahman dan Kurnia Ahmadin dalam buku “Burung-burung Petungkriyono & Lebakbarang: Keragaman, Ancaman, dan Upaya Konservasinya” yang diterbitkan SwaraOwa tahun lalu, spesies ini menghuni habitat dengan vegetasi rapat dan ternaung. Meskipun sebarannya cukup umum di lanskap kajian, burung cekakak batu membutuhkan habitat yang spesifik.

Tak lebih seratus meter dari kampung, lahan milik Baiduri yang luasnya kurang dari 1.000 meter persegi terasa teduh oleh naungan pohon-pohon besar seperti mahoni. Model kelola seperti ini bisa disebut sebagai agroforestri kompleks–tersusun atas belasan jenis tanaman komoditas mulai rempah-rempah, buah-buahan, hingga tanaman pangan. Kopi, kakao (cokelat), alpukat, petai, pisang, kapulaga, hingga singkong dan talas berjejal saling mengisi ruang. Bagi petani paruh baya ini, aneka komoditas menjanjikan sumbangan ekonomi secara bergantian, memberikan resiliensi ekonomi di tengah ketidakpastian seperti sekarang ini.

pengecekan kebun agroforestry-kopi

Serupa dengan kebun Baiduri, di kebun Rait (41)—petani lain di Jalatiga—kami melihat sistem serupa. Agroforestri mengombinasikan berbagai tanaman, meliputi kayu keras, komoditas komersial (seperti kopi dan kakao), pangan, dan obat-obatan.  Kebun agroforestri tak terpisahkan dari kehidupan multidimensi masyarakat. Fungsi kebun terkadang sulit dianalisis secara linear. Sering kali kita perlu berpikir secara lateral untuk melihat realitas praktiknya agar bisa memahami lebih objektif.

Motivasi menanam tidak melulu urusan ekonomi dalam arti sempit. Sebatang pohon tidak hanya dinilai dari berapa harga kayunya, tetapi juga apa manfaat praktis dari daun, ranting, atau akarnya. Hal ini dipraktikkan oleh para petani di Jalatiga. Misalnya, mereka sengaja menanam pohon tutup di kebun dekat rumah karena daunnya bisa dipakai sebagai bungkus nasi. Jika daun-daun itu sudah terlalu rimbun, mereka memangkasnya untuk pakan ternak.

Memperkaya spesies tumbuhan di kebun memberi manfaat ekonomi maupun kegunaan praktis bagi petani dan tanpa disadari memberi ruang hidup bagi kehidupan lain. Strata vegetasi yang kompleks memberikan ruang hidup bagi aneka satwa. Keberadaan satwa liar di kebun-kebun masyarakat menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu berlawanan dengan lanskap produksi. Justru dari ruang hidup yang beririsan inilah berbagai peluang ekonomi masyarakat tumbuh.

Dua setengah jam dari Jalatiga, di Dusun Sawangan Ronggo, Kecamatan Petungkriyono, kopi lebih banyak ditanam di kawasan hutan. Di lahan kopi yang dikelola Bambang (36), Owa Jawa masih sering berkunjung. Tanaman-tanaman kopi terselip di antara pohon-pohon raksasa. Kopi benar-benar menjadi bagian dari hutan itu sendiri. Inilah bentuk ideal yang kami impikan—saat kebun kopi masih menyediakan ruang bagi satwa liar. 

Menurut cerita para petani di dusun ini, para lansia (kebanyakan perempuan) lazim memungut kopi-kopi yang berjatuhan di tanah sebagai sisa pemanenan, dan termasuk kopi dari kotoran musang luwak. Satwa yang di banyak tempat dipandang sebagai hama, ternyata justru membawa berkah bagi kelompok masyarakat yang rentan. Alam menyediakan berbagai peluang bagi penghidupan masyarakat yang mau menjaga kelestariannya. 

Di Sawangan, petani tidak mengandalkan kopi sebagai satu-satunya komoditas. Aren yang banyak tumbuh di hutan memberikan kontribusi ekonomi signifikan bagi petani. Mayoritas warga berprofesi sebagai petani gula aren. Uniknya, keterbatasan akses jalan ke dusun justru memunculkan adaptasi unik: gula disimpan dalam bentuk cair dan bisa disimpan berbulan-bulan. Stok gula cair baru dicetak untuk dijual saat ada kebutuhan mendesak, atau saat mendapatkan momentum harga yang tinggi.

Ada benang merah menarik dari beberapa komponen tadi: kopi, aren, dan luwak. Ketiganya membentuk umpan balik sistemik yang patut dicermati. Keberadaan kopi luwak membawa peluang pengembangan produk premium. Di sisi lain, ada ketergantungan ekonomi aren terhadap kelestarian luwak: hewan inilah agen pemencaran biji bagi tanaman tropis yang berabad-abad telah menjadi sumber bahan pemanis alami bagi masyarakat Nusantara. Melindungi luwak bukan sekadar sentimen emosional terhadap satwa berpenampilan menggemaskan ini, tetapi juga cara kita memastikan agar sistem umpan balik yang turut dibangunnya tidak runtuh.

Pola-pola non-linear seperti di Jalatiga dan Sawangan Ronggo umum dijumpai di desa-desa lain, menunjukkan bahwa petani agroforestri menyumbang kontribusi ekologis yang lebih luas, termasuk dalam penyediaan habitat. Karena itu, sudah selayaknya praktik-praktik semacam ini memperoleh insentif yang memadai, baik melalui apresiasi harga bagi produk yang dihasilkan, akses pasar premium, maupun bentuk penghargaan lainnya yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan demikian, menjaga keanekaragaman hayati dan kelestarian lanskap tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai investasi yang memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.

pertemuan di desa Gumelem

Ironi yang membuka peluang

Jika lanskap agroforestri menyediakan fondasi ekologis, maka tantangan berikutnya adalah memastikan manfaat ekonominya dapat dinikmati masyarakat secara inklusif. Di Karanggondang, Tutur (52) menyampaikan kegelisahannya. Sebagai petani sekaligus kepala dusun—tokoh yang dituakan di komunitasnya, ia menyimpan harapan agar kopi bisa menggerakkan ekonomi kreatif bagi pemuda di desanya. 

Ia melihat peluang itu ada, tetapi belum menemukan peta jalannya. Selama ini, warga dusun cenderung menjual semua kopi hasil panennya, sedangkan untuk konsumsi sehari-hari mereka terpaksa membeli kopi pabrikan. Padahal, dahulu para warga menyangrai kopi mereka sendiri menggunakan wajan. Keahlian tradisional yang kini sudah nyaris punah. 

Situasi ini sebenarnya bisa berubah menjadi peluang: memunculkan bentuk kewirausahaan berupa produksi kopi bubuk siap seduh. Pemuda menjadi kelompok yang paling potensial untuk mengambilnya. Munculnya bisnis di bagian hilir bahkan bisa membawa dampak sistemik yang signifikan, membuka lapangan pekerjaan sekaligus memutar ekonomi di tingkat lokal.

Pemuda biasanya lebih terbuka terhadap akses informasi sebagai bahan bakar kreativitas. Pada gilirannya, inovasi sederhana bisa mengubah banyak hal. Hal ini dibuktikan oleh Muhammad Ridholah (33), seorang penyangrai kopi di Desa Mendolo, Lebakbarang. Kegigihannya untuk berkreasi membuahkan sebuah alat roasting sederhana, lalu membuatnya memberanikan diri membuka jasa sangrai. Gayung bersambut, para tetangga mengapresiasi dengan menjadi pelanggan tetap.

Berkat usaha itu, Ridho tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga membantu menghidupkan kembali budaya mengonsumsi kopi lokal di desanya. Kini ia telah memiliki unit penyangraian yang melayani pelanggan dari berbagai wilayah sekitar desanya. Cerita keberhasilan Ridho bisa menjadi inspirasi bagi para pemuda di Karanggondang maupun desa-desa lainnya bahwa keterbatasan justru bisa melahirkan inovasi dengan manfaat ganda.

penjemuran kopi terkontrol, dome pengering matahari

Nilai tambah tanpa membuka lahan

Rame (30) tampak takjub saat mencicip kopi yang kami bawa, arabika hasil proses carbonic maceration dari Gayo. Di wajahnya tampak gurat keheranan bahwa pemrosesan tertentu bisa menghasilkan cita rasa yang ajaib. Kopi ini mengeluarkan cita rasa berry yang kuat, acidity yang seimbang, dan body yang tebal. Ini pengalaman pertama baginya ketika menemukan rasa dan aroma yang unik dari kopi experimental process.

Berbekal pelatihan yang digelar bulan kemarin, Rame bersama petani di dusun Garung telah memulai langkah awal peningkatan kualitas pemrosesan kopi di lingkungannya. Ia memilih proses natural dan tak sabar untuk segera mencicipi hasilnya. Sekira sebulan lagi keinginannya itu mungkin baru terwujud. Pemrosesan kopi tidak sederhana: pemetikan merah, pengeringan yang terkontrol, hingga grading dan sortasi ketat. Apalagi, proses natural memakan waktu lama dalam pengeringannya.

Di Desa Lemahabang, Sawal (54) merasakan kendala lain. Kopi robusta yang diolahnya banyak yang pecah karena ketiadaan alat pengupas biji (huller) yang standar. Di titik ini, baik di kasus Rame ataupun Sawal, introduksi teknologi bisa menjadi solusi yang bermakna. Infrastruktur seperti dome pengering dan alat-alat produksi seperti pengupas dan grader bisa meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan kualitas. 

Teknologi saja tidak cukup untuk meningkatkan efisiensi. Yang terjadi biasanya baik petani maupun pemroses menanggung beban ganda: mengurus kebun sekaligus mengolah hasil panen. Untuk itu, perlu pembagian peran yang cukup tegas antara keduanya. Petani didorong untuk fokus pada pengelolaan kebun dengan menerapkan praktik terbaiknya hingga menghasilkan buah kopi terbaik. Hasil akhirnya adalah buah kopi atau coffee cherry yang matang sempurna.

Setelahnya, pemroses mengambil alih: mengolah cherry menjadi biji kopi terbaik. Tanpa beban pemrosesan, petani bisa punya lebih banyak waktu meningkatkan produktivitas kebun. Tanpa tuntutan waktu di kebun, pemroses bisa melakukan berbagai eksperimen pengolahan agar menghasilkan cita rasa unik seperti kopi Gayo yang dicicipi Rame–kopi yang bisa dijual dengan harga premium sekaligus mendongkrak popularitas daerah penghasilnya. 

Pada titik tertentu, pembagian peran ini membutuhkan kelembagaan lokal (seperti kelompok tani atau koperasi) agar nilai tambah ekonomi dari pengelolaan pasca-panen juga mengalir kembali secara adil kepada petani. Tanpa itu, skema pembagian peran justru berpotensi menyebabkan ketimpangan insentif. Pada akhirnya, memperbaiki pasca-panen secara sistematis menjadi strategi penting agar petani memperoleh nilai tambah tanpa harus memperluas lahan yang semakin menekan kawasan hutan.

Setelah empat hari bertualang dari desa ke desa, kami menyadari bahwa kopi jelas tidak bisa menjadi penyelamat tunggal bagi Owa Jawa. Konservasi terjadi ketika kepentingan manusia dan kebutuhan ekologis bertemu dalam satu lanskap yang interaksi di dalamnya bersifat non-linear. Kopi hanyalah medium yang membuat pertemuan itu mungkin. Selebihnya adalah peran kita semua sebagai bagian dari rantai pasok: petani, pemroses, penyangrai, pemilik kedai, penyeduh, dan tentu para penikmatnya. Seteguk kopi tidak lagi tentang meningkatkan kesadaran tubuh (consciousness), tetapi juga memikul tanggung jawab (conscientiousness).


Tuesday, June 23, 2026

Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati, Harmony with Nature: Pesona Keanekaragaman Hayati di Sekitar Kita

 

Owajawa dan bayi teramati di acara naturevest

Oleh : Kurnia Ahmaddin

Bertepatan dengan Hari Keanekaragaman Hayati sedunia yang jatuh pada 22 Mei lalu, tahun ini kami menyelenggarakan rangkaian acara pemasangan plang informasi bijak berwisata dan lomba konten video kreatif (reels & tiktok). Bekerjasama dengan siswa SMK Ma’arif Doro yang tergabung dalam ekstrakurikuler Pramuka Ambalan Joko Tingkir dan Nyi Ageng Serang kami mengemas rangkaian acara ini dalam kegiatan “Naturevest”. Mengambil akronim dari “Nature Video Festival” kami sengaja menggunakan huruf “v” dalam nama kegiatan yang kami maksutkan untuk investasi pengetahuan alam liar kepada generasi muda. Kegiatan ini kami selaraskan dengan tema global hari keanekaragaman hayati tahun ini yaitu “Acting locally for global impact”. Dengan membawa semangat memperkenalkan satwa liar di hutan Pekalongan yang kami sebar lewat video sehingga dapat diakses secara global.

acara kelas untuk materi pembekalan

Hari Minggu tanggal 24 Mei 2026 kami telah melaksanakan kegiatan pemasangan plang informasi dan bersih hutan. Kegiatan ini kami mulai sejak pagi pada pukul 08.00 WIB. Acara diawali dengan koordinasi di sekolah dan dilepas oleh bapak Suherman, S. Pd, kepala sekolah SMK Ma’arif Doro. Acara kami lanjutkan dengan berjalan kaki sepanjang jalan masuk hutan dari dusun Kroyakan menuju Sokokembang untuk membersihkan hutan dari sampah plastik dan pemasangan papan informasi.  Papan informasi yang kami pasang berisi anjuran untuk tidak membuang sampah sembarangan terutama di kawasan hutan dan anjuran untuk tidak memberikan makan kepada satwa liar. 

pungut sampah bersama peserta di jalan hutan Kroyakan-Kayupuring
peserta di ajak kehutan dan melakukan pengamatan satwa 

Diikuti oleh 25 siswa dan guru SMK Ma’arif Doro, selama 3,5 jam melakukan pengumpulan sampah plastik kami mendapatkan + 100 Kilogram sampah plastik yang kemudian kami angkut untuk di pindahkan ke TPS yang ada di Doro. Kami menyadari bahwa belum semua sampah plastik dapat kami angkut dan kami kelola dengan baik. Namun kegiatan kecil ini adalah usaha kami agar masyarakat dapat bertanggung jawab dengan sampah yang dibawa. Di waktu yang sama kami juga telah menempatkan 4 papan informasi mengenai anjuran membawa kembali sampah plastik dan larangan memberi makan Monyet ekor-panjang. 

Puncak rangkaian kegiatan ini adalah lomba konten video pada platform sosial media Instagram dan Tiktok. Acara lomba kami laksanakan pada 31 Mei 2026 dengan tema utama “Harmony with Nature: Pesona Keanekaragaman Hayati di Sekitar Kita”. Tepat pada pukul 07.30 peserta lomba yang merupakan siswa SMA/K atau se-derajat dari 9 sekolah di Kabupaten dan sekitarnya memulai lomba dengan berkumpul di SMK Ma’arif Doro. Kami memulai acara dengan pembacaan berita acara kegiatan, sambutan dari bapak Kurnia Ahmadin yang mewakili Swaraowa, ibu Khusnul khotimah, S. Pd mewakili bapak kepala sekolah SMK Ma’arif Doro sekaligus melepas peserta lomba. 

pengamatan satwa-wildlife watching di welo asri

Peserta melakukan perjalanan wildlife whatching tour sepanjang jalur hutan mulai dari Kroyakan menuju Welo Asri untuk mengambil footage video mereka dan melihat keragaman satwa liar yang ada di hutan Petungkriyono. Peserta yang merupakan pejalar dari SMA N 1 Doro, SMA N 1 Batang, SMA N 1 Pekalongan, SMA N 1 Petungkriyono, SMA N 1 Lebakbarang, MA KH Syafi’i, MA Al Mubarok, SMK Ma’arif Kesesi, dan MAN 1 Pekalongan yang berjumlah 18 Siswa dan Siswi melakukan penulurusan hutan dengan doplak dan berjalan kaki. Kami membatasi peserta hanya menggunakan Handphone untuk konten video mereka untuk mengurangi kesenjangan gawai yang digunakan selama lomba. Akan tetapi kami juga memberikan akses video satwa liar milik Swaraowa untuk digunakan sebagai konten peserta.

Lutung Jawa (Tracyphitecus auratus)

Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan Owa jawa (Hylobates moloch), Lutung jawa (Tracyphitecus auratus), Monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis) hingga Elang jawa (Nisaetus bartelsi). Pada pertengahan kegiatan Tour ini, kami juga menambahkan pemasangan 2 papan informasi sehingga kami telah memasang 6 papan informasi mengenai konten bijak berwisata. Kami menutup perjalanan Tour pada siang hari di Welo Asri ditemani 1 keluarga Owa jawa di sisi Barat bukit Welo Asri dan berfoto bersama peserta.

foto bersama di welo asri

Penjurian lomba dilakukan tanggal 15 Juni 2026 oleh Dewan juri yaitu bapak Vika Bayu selaku perwakilan Yayasan SwaraOwa yang telah berpengalaman di dunia konservasi satwa liar, ibu Khusnul khotimah, S. pd selaku Guru Bahasa Indonesia SMK Ma’arif Doro dan bapak Wendra Aditya yang merupakan senior multimedia dari Kompas Jawa Tengah. 

Hasil penjurian memutuskan 4 pemenang lomba yaitu :

1. Aqeela Kynatha A.T dan Alexa Aurellia Yuki dari SMA 1 Pekalongan sebagai Pemenang pertama, (https://www.instagram.com/reel/DZVFPZ7hL2A/?igsh=d2NsMWQ5eWsyYjlz

2. Nura makhroja dan Rita Astika Sari dari MA Al Mubarok Pekalongan sebagai pemenang ke-dua, ( https://www.instagram.com/reel/DZKehOxCUyC/?igsh=NjBjbDEzOWRnbnQ2

3. M. Septian Ramadhan dan Ayu Rahma Safitri dari MAN Pekalongan sebagai Juara 3. (https://www.instagram.com/reel/DZcaSvwTZTd/?igsh=MTRldnR6N3J6c3ZjMg==)

4. Adapun Idam Prayudha dan Miftahul Ferdi Saputra dari SMA 1 Petungkriyono diputuskan sebagai Juara Favorit. (https://www.instagram.com/reel/DZHkfUbyXqu/?igsh=MXE2YnFjb28wdnRvdA==)  

Dengan rangkaian kegiatan ini harapkan generasi muda agar lebih peduli dalam mempromosikan kekayaan alam Indonesia melalui konten digital yang edukatif sesuai jaman. Seluruh kegiatan ini didukung oleh Yayasan Astra Honda Motor, PT Suryaraya Rubberindo Industries, PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Yutaka Manufacturing Indonesia, PT Musashi, sebagai sponsor utama. Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur selaku pemangku wilayah hutan, serta UMKM lokal yang turut berpartisipasi yaitu Toserba Sinar Ilmu, Toko sembako Dutamart, dan Toko bangunan Karomah Jaya.


Friday, June 19, 2026

Swaraowa di kongres konservasi Asia 2026, Nepal

Swayambunath, Kathmandu

Oleh : Arif Setiawan

Namaste !!. Bulan juni ini atas nama swaraowa saya berpartisipasi dalam pertemuan global, Society Conservation Biodiversity Asia yang ke 6 ( CAC2026) , di Kathmandu Nepal. Motivatsi utama saya untuk datanga adalah karena 10 tahun yang silam saya juga menghadiri acara ini di Singapura, waktu itu saya menyampaikan presentasi tentang inisiasi awal proyek kopi dan konservasi primata, dan kali ini saya akan membawakan presentasi dengan topik yang sama dengan update keberlanjutan dari apa yang saya presentasikan di tahun 2016. 

pasar di kota Kathmandu

Kathmandu

Ketika baru tiba di Kathmandu, dan mengurus visa on arrival dan membayar 31 usd, agak kaget juga karena uang 100 USD yang saya bawa tidak diterima, karena katanya uang ini kotor. Kemudian saya coba kartu atm visa debit bni, ternyata juga tidak bisa dipakai di mesin atm di area kedatangan, setelah petugas tahu bahwa kartu saya tidak bisa di pake, akhirnya uang 100 usd yang berjamur itu diterima juga, dan saya dapat stamp 15 hari di Nepal.

Saya book hotel di jantung kota kathmandu, district Thamel, mempertimbangkan jarak ke venue, dan beberapa pusat sejarah, hindu budha ada disektiar Thamel. Dahulu kawasan ini adalah pemukiman orang asli Kathmandu, Newari, menjadi lokasi transit pedagang-pedagang Tibet-Kathamndu.  Perkembangan Kathmandu dan Nepal secara umum, adalah adanya jalur perdagangan kuno dari pegunungan Tibet ke Lembah Kathmandu, dan  juga dimulai dari kedatangan para pelancong, ada yang menyebut kaum Hippie ( para penentang kapitalisme) , yang melakukan overland perjalanan darat yang murah di tahun 60an, dari eropa atau amerika ke asia, mereka melihat Nepal seperti Nirwana dari timur, menawarkan kebebasan mutlak, pengalaman spiritual, dan kedamaian.( http://www.ponty.dk/hippietr.htm

District Thamel berkembang setelah era hippies di tahun 70an, terjadi pergerseran wisata budaya pop ke petualangan mendaki. Darisinilah perubahan banyak terjadi, orang-orang dari seluruh dunia melihat Nepal untuk trekking dan mountaineering, untuk ke Everest ataupun trekking di Anapurna, kemudian,  ekonomi Kathmandhu sampai sekarang terbentuk, kombinasi praktik budaya hindu budha klasik, penginggalan kerajaann Nepal (seperti dhurbar square, dan ribuan kuil hindu dan stupa budha), dan wisata trekking. Sebenarnya ada satu lagi wisata satwaliar,yang membentuk tourism industri seperti sekarang ini. Melihat mamalia besar !!sebelum wisata ini ramai ke Afrika, Nepal adalah tujuan utama melihat mamalia besar, seperti Gajah, Badak, dan Harimau.

Pre-conference workshop

Tanggal 1 Juni 2026, rangkaian congress ,di mulai, ada beberapa pre-congress workshop yang disediakan oleh panitia untuk peserta ikuti, dan saya mendaftar untuk workshop mengenai, Experiencing the Most Significant Change (MSC) Technique to Capture Social Impact in Conservation. 

Ada workshop ke dua, yang saya ikuti adalah, ethical community engagement in conservation, workshop ini di pimpin oleh Cloe Lucas dari snow leopard conservation trust yang tergabung dalam aliansi konservasi etis ( ethical conservation Alliance). Dalam workshop ini ada setidaknya 15 peserta dari india,uk, Indonesia, Nepal. Beberapa prinsip  yang harus di bangun adalah :Presence, Aptness, Respect, Transparancy, Negotiation, Empathy, Responsiveness, dan Strategic support. Semua tentang ini dapat di baca selengkapnya di website Etchical conservation Alliance).

Opening Ceremony

Tanggal 3 Juni 2025, di Yak and Yeti Hotel, salah satu hotel tertua di Kathmandu, dan juga tempat bersejarah untuk komunitas global ini, karena  yang sama SCB conference pertamakali di lakukan juga di tempat ini. dengan tema “Harmonizing biodiversity and human wellbeing in Asia” . Kegiatan pembukaan oleh pantia, di sampaikan bahwa ada kurang lebih dari 500 orang peserta dari 42 negara hadir di acara ini dan  160 peserta mendapat support travel grant, ini saya salah satunya.

Pertemuan ini, juga mempertemukan saya pribadi dengan peserta-peserta yang lebih dari 10 tahun yang lalu berjumpa di SCB Asia Singapore. Meskipun banyak peserta-peserta yang lebih muda dan baru bertemu kali ini di Nepal. Menunjukkan optimism  masa depan konservasi akan terus berkembang di asia. Peserta dari Indonesia ada kuranglebih  ada 18 orang, mewakili universitas, NGO,Indegenius community  dan proyek-proyek konservasi. Meskipun sama-sama dari Indonesia, diantaranya juga baru bertemu di Nepal ini.

Tarian tradisional Nepal yang di mainkan oleh penari dari berbagai usia, disajikan dengan iringan perkusi khas Newari, suku asli Lembah Kathmandu, symbol kegembiraan menyabut tamu-tamu yang datang.Menandai pembukaan acara CAC Nepal 2026.

presentasi swaraowa di CAC2026 Nepal
Presentasi SwaraOwa

Hari pertama ( Rabu 3 Juni, 2026 Jam 3.35 pm) sesuai jadwal, saya mendapat sesi presentasi di symposium bertema “ Human-Wildlife Conflict and Coexistence, and Local Communities. Di hall utama, ruangan dengan screen lebar dan panggung tinggi, menyampaikan presentasi dari proyek swaraOwa berjudul “ Bridging Biodiversity and Livelihood : the Javan gibbon conservation Model”. Presentasi ini dapat di unduh di link ini. Presentasi ini merupakan ringkasan kegiatan konservasi owa di Pekalongan, Petungkriyono melalui proyek Kopi dan Konservasi Primata, dari tahun 2012 hingga sekarang. 

Belajar dari Presentasi-presentasi lainnya

Saya sempat menandai di confrence apps untuk presentasi-presentasi yang menarik, salah satu di antaranya adalah ada salah satu symposium tentang Pangolin, dua jenis trenggiling ,menurut salah satu presenter di India saja ada 370 ton sisik tringgiling di sita dari jual beli illegal, lebih dari 100.000 sampai 1 juta ekor trenggiling. Sangat mengerikan. Metode forensic genetik digunakan untuk melacak sisik-sisik ini, dan ditemukan ternyata trenggiling inidia telah terpisah dari soudaranya di cina sejak 3-4 juta tahun yang lalu. Salah satu presenter yang mempresentasikan 60 tahun penelitian trenggiling menyebutkan saat ini penelitian-penelitian masih terbatas pada temuan-temuan habitat trenggiling. Untuk solusi illegal wildlife trade saat ini belum dapat di jelaskan dengan keberhasilan, tapi upaya-upaya di tingkat site, seperti di penelitian ekologi, dan inisiasi komunty based conservation trenggiling mejadi contoh contoh di site specifik untuk trenggiling.

Satu presentasi yang saya ikuti di hari kedua di symposium “Community engagement and women in Conservation” berjudul Conservatio Nature via Tourism : Exploring pathways to protected area Ambashadorship, dari presentasinya sangat cocok denga apa yang sedang swaraOwa kembangkan saat ini untuk wisata minat khusus gibbon watching, mendesign pengalaman untuk pengunjung yang mempertimbangkan untuk transformasi wisata yang dari passive apresiasi ke aktif ambassadorship yang menjadi duta wisata konservasi. Presenter mengatakan, wisatawan,  adalah asset untuk konservasi, kurang lebih ini juga menekakan bagaimana kita sebagai penyedia jasa wisata, sudah seharusnya menyediakan pengalaman dan pengetahuan kepada pengunjung sekaligus merawat keberlanjutan kunjungan untuk konservasi.

Selain melalui presentasi, berinteraksi dengan peserta lain dan saling mengenalkan apa yang sedang kita lakukan menjadi hal yang membuka kesempatan untuk berjejaring. Acara makan siang dan coffee break menjadi medium untul lebih berinteraksi dengan peserta lainnya.

Birdwatching at Ranibari Community Forest

pintu masuk Ranibari community forest
Informasi tentang Ranibari community forest ini saya temukan awalnya di website conference, dan melihat di peta masih di area Kathmandu kota, saya memutuskan untuk melihat lokasi ini di hari kedua sebelum konfrence. Saya pikir ini semacan model community based conservation di kawasan urban, di tengah padatnya kota Kathmandu, masih ada area hijau yang menjadi habitat dari berbagai jenis burung dan di kelola oleh warga sekitar, semacam hutan desa kalau di Indonesia. 

Luas kawasan ini kurang lebih 7 hektar, untuk pengunjung di buka jam 8 pagi hingga jam 5 sore, tiket masuknya 20 NPR, murah sekali, sekitar Rp 2300, waktu bebas dan tanpa guide. Di pintu masuk, sudah terpampang infografis jenis-jenis burung yang ada taman ini, atau bisa saya bilang hutan kota. Saya sendirian menyusuri jalur-jalur yang sudah di sediakan, jenis burung paruh bengkok-Alexandrine parakeet dan gagak rumah adalah burung yang pertama terlihat disini. Mulai masuk ke bagian dalam jenis barbet dan robin. Di batang kayu yang lapuk nampak lubang-lubang, ternyat untuk bersarang burung barbet itu. 

Alexandrine parakeet

Ketika hampir 3 jam menyusuri jalur trekking di Ranibari, saya kemudian singgah di warung kopi masih di dalam kawasan hutan ini, dan ternyata yang punya adalah sekaligus penjaga hutan ini, dan yang menyenangkan lagi, namanya Arun Sakya, beliau adalah guide pengamat burung. Berkenalan dengan beliau dengan keterbatasan fisiknya, hanya satu tangan yang bisa digunakan dapat mendokumentasikan burung-burung yang ada di Ranibari, silahkan liat ke instagram dan fb nya, foto-fotor burung itu adalah hasil jepretannya dengan satu tangan.

Blue throated barbet

Kami akhirnya saling bercerita, dan Arun menceritakan sejarah Ranibari ini, yang awalnya merupakan sebuah taman tempat keluarga kerajaan menyepi, karena ada kuil di dalam taman, dan Rani berarti ratu, dan bari berarti taman, taman ratu. Dan karena di dalam hutan ini ada kuil Ranidevi, secara adat dilarang menebang pohon atau merusak hutan ini, dan pada saat itu memang ini taman milik kerajaan. Karena perubahan politik di Nepal dan meningkatnya urbanisasi, Sejak tahun 2000, kawasan ini kemudian di rubah status menjadi komunity forest, ada sekitar 39 rumahtangga di yang ada di sekitar hutan inilah yang mengelola kawasan seluas 7 ha ini. Dan kini hutan Ranibari ini berperan sebagai pusat pembelajaran keanekaragaman hayati, bekerjasama dengan Bird Conservation Nepal, telah mendokumentasikan 67 jenis ada disini, termasuk burung-burung migran. Selain itu hutan ini juga menjadi tempat jogging trek untuk warga Kathmandu.

Black kite-juvenile

indian white eye

Jenis-jenis yang saya berhasil foto diantaranya  Blue throated barbet, Asian Koel (Eudynamys scolopaceus), Black kite (Milvus migrans) , Blue-throated Barbet (Psilopogon asiaticus), Alexandrine Parakeet (Psittacula eupatria), Black Drongo (Dicrurus macrocercus), House Crow (Corvus splendens), Gray-headed Canary-Flycatcher (Culicicapa ceylonensis), Indian White-eye (Zosterops palpebrosus), Oriental Magpie-Robin (Copsychus saularis), Spotted Dove (Spilopelia chinensis). 

spotted owlet

Dengan bantuan Arun Sakya menunjukkan Spotted owlet (Athene brama) , salah satu burung malam yang bisa teramati di Ranibari di sianghari , dan benar saja, dua individu sedang bersembunyi di balik rindangnya pohon. Saya di ajak ke bukit di tengah untuk mencari golden asiatic Jackal, namun tidakberuntung menjumpainya. Seekor elang hitam muda, menjadi penutup perjalanan saya di Ranibari. 

Kuil Monyet-Swayambunath

Ketika berada di taxi,saya sering bertanya kepada driver, karena Kathmandu adalah kota spiritual tua,  kuil mana yang rekomended untuk dikunjungi, dan hampir smua driver menunjuk, Swayambunath, atau mokey temple. Karena katanya itu kuil paling besar dan suci, dan  banyak monyetnya. Kelakar saya karena saya bekerja untuk pelestarian monyet-monyet di Indonesia, maka saya harus ke kuil ini untuk menemui dewa monyet. Dan benar saja, di hari ke 3 sore hari, setelah konfrence, saya sempatkan berkunjung ke kuil ini, terletak diatas bukit,di bangun pada abad ke 5 Masehi oleh raja Virsadeva, penganut Budha Newari. Untuk masuk ke sini, membayar 200 NPR, Kemegahan kuil ini kalau saya amati, hampir mirip seperti di Borobudur, dibangun di atas bukit, yang dulunya di kelilingi danau, Lembah Kathmandu. Kreasi logam tembaga dan kuningan,  batu pahat dan ukiran kayu  yang menghiasi stupa menunjukkan seni Tingkat tinggi penduduk asli Kathmandu, Newar. Tidak hanya umat budha yang berdoa disini, tapi ada juga umat hindhu, dan kuilnya nampak berbeda dengan sudut-sudut atap yang bertumpuk, terletak di bagian atas bersebelahan dengan stupa.

Rhesus macaque di kuil swayanambunath


Rhesus Macaque monyet penting untuk ilmu kedokteran modern

Dari bagian bawah tangga menuju puncak, monyet-monyet berkeliaran, ada yang di antaranya terlihat minum atau makan sesajen yang ada di stupa-stupa kecil. Inilah Resus macaque, Macaca mulata. Tahun 1937 jenis protein rhesus,  yang penting bagi ilmu kedokteran modern di temukan dalam monyet ini. Dampak paling penting dari monyet rhesus adalah penemuan faktor Rh (positif/negatif) pada sel darah, yang membuat proses transfusi menjadi jauh lebih aman dan mencegah kematian akibat penolakan imun. Berkat penelitian pada monyet rhesus, dokter kini selalu mencocokkan tanda plus atau minus (+/-) pada golongan darah sebelum transfusi, sehingga menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia dari risiko salah terima darah. Ketika di puncak stupa, yang menarik juga puluhan raptor terbang diatas komplex kuil ini. 

Field trip Ke Chitwan National Park

Hari terakhir konfrensi, tgl 5 Juni 2026, saya putuskan untuk berangkat ke Taman Nasional Chitwan, bersama 2 peserta dari Vietnam. Tiket dan guide untuk di Chitwan, sudah saya pesan, melalui peserta lain yang sudah berkunjung ke Chitwan sebelum conference. Taman Nasional ini menjadi tujuan karena akan memberikan pengalaman langsung, terkait banyak hal yang kita dapatkan selam beberapa hari sebelumnya melalui konfrensi, presentasi-presentasi peserta dari Nepal menceritakan alam, potensi keanekaragaman hayati wisata alam, dan tentunya kebijakan pengelolaan. Kathmandu yang terletak di pegunungan, di atas 1400 m dpl, dan perjalanan ke Chitwan yang berada di dataran rendah sekitar 150 mdpl, memberikan pengalaman melihat landscape Nepal secara umum, sekaligus mengenal industry wisata pengamatan satwaliar di Nepal.

Pegunungan Himalaya sekitar Kathmandu, nampak jelas terlihat ketika meninggalkan pusat kota, jalan lebar di tepi sungai Trisuli, menjadikan pemandangan sangat eksotis, khas pengunungan, konon jalan ini adalah jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Kathmandu dan Tibet. Sungai Trisuli yang di ambil dari nama sejata dewa Siwa, Trisula, adalah 3 sungai utama yang menjadi satu, dan salah satunya adalah sungai gletser dari salju yang mencair di pegunungan Himalaya. Bus istirahat 2 kali selama perjalanan, dan kami turun di kota Malpot Chowk, di jemput oleh Krisna, dari penyedia tour Chitwan “ King jungle safari “di desa Meghauli desa di sekitar Taman Nasional yang kami pesan sehari sebelumnya. Memilih tour-tour yang disediakan oleh komunitas lokal adalah pilihan yang rasional untuk biaya dan hasil yang diharapkan dari tour ini, total perjalanan dari Kathmandu sekitar 5 jam.

Sampai di Meghauli, Manoj yang lead tour ini sudah menunggu kami, di penginapan di belakan rumahnya, sudah ada tamu lainnya dan sore ini kita akan ikut safari tour, berkeliling hutan penyangga taman nasional naik mobil. Kita akan di gabung dengan tamu lainnya, ada 5 orang yang akan ikut, smuanya anak-anak muda dari Prancis. Mobil pickup yang sudah di setting sedemikian rupa tempat duduknya untuk pengamatan satwa, sangat nyaman. Introduksi Manoj sebagai guide, menekankan bahwa selama safari tidak boleh turun dari mobil, karena ini kawasan harimau dan badak, harap mengikuti instruksi guide. Manoj mengenalkan sejarah taman nasional yang di bentuk pengelolaannya tahun 1973 dan tahun 1984 kawasan seluas 952.63 km2  ditetetapkan sebagai world heritage site oleh UNESCO sebagai perlindungan dan habitat untuk Badak bercula satu ( Rhinocerso unicornis) dan harimau benggala ( Panthera tigris).

diatas mobil safari

Kesan pertama di penginapan tengah sawah milik Manoj , kicau burung-burung masih banyak terdengar, dan jenis-jenis pemakan nectar sangat mudah di jumpai di depan rumah. Kita kemudian di ajak menuju lokasi safari, target kita adalah melihat Badak besar bercula satu, kata Manoj ini kita akan masuk kawasan penyangga taman nasional atau community forest area, hingga ke batas taman nasional yang di kelilingi sungai Rapti. Burung-burung menjelang sore ini di antaranya yang kita jumpai adalah kirik-kirik, merak biru, dan di sekitar sungai kita menjumpai open bill, bulbul, dan tripee

Badak ( Rhinocerus unicornis) di habitat padang rumput Chitwan

Badak yang pertama kali terlihat sedang makan di padang rumput ada 2 ekor, agak jauh, tapi melihat pertama kali mamalia seberat hampir 1 ton itu, sangat luar biasa. Manoon mengingatkan untuk tidak brisik, tetap tenang, karena di tengah padang rumput setinggi 2 meter ini, kadang ada juga badak atau rusa yang tiba-tiba berlari. Tetap harus waspada.Vegetasi yang dominan di kawasan ini adalah pohon kapok, bombac, sepertinya juga regenerasi alami, karena kawasan ini merupakann hutan tepi sungai dengan tanah aluvialnya. 

Kami ketemu badak, dalam jarak yang cukup dekat, kira-kiran 15 meter, dan itu tidak terlihat badak merasa takut, dalam waktu beberapa menit, badak itu masih menikmati kubangan lumpurnya, kita diminta tetap tenang mengamati memfoto, dan mesin mobil juga di matikan. Badak terlihat sangat terhabituasi dengan kehadiran manusia. Kami sempat berpapasan dengan rombongan safari lainnya. Kata Manoj, community forest ini mendapatkan langsung pemasukan dari kunjungan-kunjungan  yang tujuannya ke dalam taman nasional, komunity forest berperan sebagai benteng perlindungan satwa ada anti poaching unit yang berpatroli setiap waktu, community forest juga menyediak koridor bagi pergerakan satwa mempeluas pergerakan satwa tidak hanya di zona inti di dalam taman nasional.

patroli gajah Taman Nasional Chitwan

Indian Roller (Coracias benghalensis)
Yellow napped woodpecker

lesser adjutant (Leptoptilos javanicus)

Hari kedua, kami di beritahu malam sebelumnya bawhwa kita akan melakukan perjalanan ke dalam kawasan Taman Nasional Chitwan, lebih mudah untuk melihat satwa satwa,terutama jenis-jenis burung. Setelah sarapan kami semua di jemput menggunakan mobil safari, dan langsung menuju ke sungai rapti, menggunakan kano dari hulu ke hilir untuk masuk ke dalam kawasan taman nasional. Manoj bilang kita akan lihat 2 jenis buaya disungai ini, Gharial (Gavialis gangeticus)  dan buaya rawa (Crocodylus palustris). Sungai rapti meskipun di beberapa bagian cukup dalam, tapi jernih, teknik kanoing yang turun mengikuti arus, dan design kano sangat sesuai dengan arus yang tidakkuat dan sungai yang lebar sangat pas, untuk pengamatan dan sekaligus menggunakan kamera berlensa panjang seperti yang saya bawa.



Gharial (Gavialis gangeticus)


Masuk ke kawasan Taman Nasiona kita harus lapor ke pos jaga tantara, ini yang menarik di Chitwan berbeda dengan taman nasional lainya, menggunakan konsep segitiga kolaborasi untuk mengamankan kawasan, yaitu tentara, taman nasional dan warga -local community,  Negara mengerahkan tentara untuk melindungi kawasan, operasi keamanan, penangkapan pemburu, dan patroli bersenjata ke area berbahaya, Petungas taman nasional  pada penelitian dan management satwa dan masyarakat lokal juga bertugas menginformasikan kejahatan ekologis atau satwaliar kepada petugas, selain juga mangelola trip-trip ke dalam kawasan. Capaian keberhasilan kolaborasi ini katanya sempat meraih kategori “zero poaching years” di tahun 2011 sampai 2015, dan keberhasilan menaikan populasi badak adalah kisah sukses konservasi satwaliar yang di akui secara global dari Chitwan. Di tahun 1960an populasi sangat kritis, dibawah 100 individu, dan sekarang hampir 700 individu.

Kontur yang rata sangat memudahkan trekking, meskipun rombongan besar, sbenarnya tidak pas untuk birding, tapi karena ikut tour jadi saya bisa menyesuaikan. Tidak terlalu mengejar burung untuk foto, tapi bisa menambah daftar life list dari Nepal :  Indian roller, Rofouse bee eater, greater racket tail drongo, ibis, plum-headed parakeet, lesser adjutant, yellow napped woodpecker, 

kemewahan di Chitwan, makan siang sambil menunggu harimau 

Pioneer ekowisata mewah, lahir di Chitwan

Ketika trekking, kita melewati salah satu lokasi dimana tahun 60an tempat ini adalah lokasi pengamatan harimau dan badak untuk wisatawan-wisatawan kelas atas dari eropa dan amerika. Saya menanyakan ini ke guide, kenapa bangunan-banguan ini di tinggalkan? Manoj menjawab ya ini adalah  Tiger top, salah satu contoh kegagalan management di Chitwan, mereka awalnya membuat ini untuk wisatawan-wisatawan kelas atas yang mau membayar mahal, melihat harimau dan badak, bangun tidur langsung terlihat badak menyeberang sugai, atau melihat harimau mengejar rusa dari dalam kamar saja.Namun kemudian banyak. Kemewahan dan uang hanya di dinikmati sebagian orang, kemudian banyak protes dari orang-orang yang tidak bisa ikut menikmati kuwe wisata ini, akhirnya wisata ini tutup. Manoj setelah wisata mewah ini tutup, wisatawan kelas atas ini memilih afrika untuk melihat badak, gajah dan singa, meninggalkan Chitwan.

bangunan resort sisa kejayaan Tiger top, yang ditiggalkan

Tahun 1800an sejarah Chitwan taman nasional ini, merupakan lokasi berburu keluarga kerajaan, mengundang tamu-tamu Istimewa dari Kerajaan Inggris untuk menembak badak dan harimau benggala. Tercatat raja inggris Jorge V, pernah berburu disini, dan ratu elisabeth II pada tahun 1961.  Tiger top di Chitwan adalah pioneer ekowisata mewah di Chitwan,  diawali oleh seorang milyarder dari Texas , kemudian karena kurang berkembang menjualnya ke petualang dari Inggris  Jim Edrwards yang berkolaborasi dengan ahli ekologi dari Inggris, mulai menggantikan senjata untuk berburu dengan camera dan teropong, mendirikan pondok di tengah hutan, pelayanan premium dan safari naik gajah. ( https://www.tigertops.com/about/history/)  Kedekatan pemilik tiger top dan raja Nepal akhirnya juga mendeklarasikan Chitwan sebagai taman nasional di tahun 1973. Kemudian pemerintah memberikan hak istimewa ke beberapa orang kaya ini, untuk membangun resort mewah di tengah zona inti Chitwan National park, bahkan bandara pun dibuatkan di Meghauli , desa dekat Chitwan, untuk wisata ini. 

Hingga tahun 2009 terjadi konflik hukum dan lingkungn di Nepal, pemerintah tidak memperpanjang lagi ijin resort di tengah hutan tersebut, karena desakan para aktifis lingkungan dan pemerhati satwa, dan di tahun 2012 di tutup total dengan alasan hotel komersial di tengah zona inti berdampak buruk pada satwaliar dan keselamatan satwaliar,karena semakin ramai, aktifitas kendaraan semakin tinggi , limbah, dan polusi. Meskipun seperti yang Manoj katakan, mungkin juga karena kecemburuan sosial dan persaingan bisnis juga. Saat ini pemerintah memberikan regulasi tidak ada aktifitas komersil di dalam kawasan, smua hotel resort harus diluar kawasan dan mendorong community forest, warga sekitar untuk mengelola tour-tour melihat satwa, seperti yang Manoj lakukan, saat ini. Awalnya dia adalah anggota patroli hutan dari masyarkat sekitar, dan bekerja untuk perusahan besar yang menyediakan tour. Namun keahlihan dan passionnya untuk satwaliar, mendorongnya utnuk membentuk tour sendiri, menyediakan pilihan tour yang lebih terjangkau untuk wisatawan ke Chitwan.dimulai dari guiding hingga saat ini mengelola homestay, sendiri untuk tamu dan bekerjasama dengan anggota keluarganya yang lain untuk menyediakan jasa transport dan makan untuk tamu-tamunya. 


Tarai Grey Langur

Sejak hari pertama saya datang ke Chitwan ini, saya sudah menyampaikan ke Manoj bahwa target saya adalah melihat hanoman langur. Manoj langsung menjawab "99 % kamu akan ketemu hanoman langur !!. Dan benar saja setelah makan siang di tepi sungai Rapti, sambil menunggu harimau lewat, namun sampai waktu 2 jam kita istiraht tidak nampak harimau, kami melanjutkan perjalanan menyusuri, jalur-jalut trekking yang di sediakan. Burung suara keras muarai batu yang sudah tidak ada di hutan di Sokokembang,2 individu terlihat ketika kami berjalan, namun tidak sempat terfoto. 

Tarrai grey langur 

Ketika sedang mengamati jejak badak di semak-semak rumput sekitar sungai, guide pembantu Manoj yang membawakan makan siang kita, mengetung punggung saya, dan bilang langur-langur. Saya langsung mengarahkan kamera ke dahan yang bergoyang keras, dan ya inilah pandangan pertama, lifer untuk langur hanoman dari Chitwan. Warna hitam di muka, dan rambutputih  abu-abu di sekitar wajah sangat khas,ditambah siluet Cahaya, helaian putih rambut itu nampak jelas kontras dengan wajah yang hitam gelap . Kelompok besar lebih dari 10 individu teramati di hutan di tepi sungai ini. Lutun ini adalah salah satu dari 7 jenis lutung hanuman dari Asia Selatan. Semnopithecus entellus, dan karena lutung ini hanya ada di Chitwan terutama dataran rendah Tarrai, maka disebut Tarai gray langur,  dan sudah di pisahkan menjadi Semopithecus hector. Yang membedakan dengan lutung di Indonesia, bayi nya berwarna  coklat gelap, dan rambut juga hampir sama dengan induknya.Ekor yang panjang lebih dari panjang tubuhnya, dan warna hitam pekat di wajah sangat susah mendapatkan fotonya yang jelas,dengan gelapnya hutan Chitwan. Meskipun dalam subfamily Colobinae jenis pemakan daun yang mempunyai ruang-ruang di system pencernaannya, ukuran hanuman langur lebih besar 2-5 kg dibanding Lutung di Indonesia. Sayangya ketika saya tanya ke Manooj tentang penelitian hanuman langur ini, dia bilang tidak ada. Tidak ada angka pasti populasi di Chitwan tetang langur ini, karena fokus monitoringnya kepada mammalia besar, badak, harimau dan gajah.

Hingga sore hari jam 5 sore, trekking di Chitwan hampir selesai, beberapa foto-foto ketika trekking ini dapat dilihat di sini. Di tepi sungai Rapti yang jerni itu kami menunggu perahu untuk menyebrang, dan pas sekali kitak kita sudah sampai di Seberang dan mobil penjemput datang hujan tiba. Perjalanan kurang lebih 17 km, dengan jalan kaki, dengan menggendong camera besar, saya pikir terbayar sudah dengan pengalaman melihat satwa-satwa asli Chitwan.

Kembali ke Kathmandu

suasana upacara pembakaran jenazah di sungai Baghmati-Pasuphatinath

Ketika kembali ke katmandhu, karena perjalanan saya kembali ke Indonesia malam,siangnya saya masih ada waktu untuk jalan-jalan. Dan kali ini saya dapat teman baru sangat baik, Tapendra, di mengajak saya melihat Pasuphatinath, salah satu kuil dengan ritual kremasi, bakar jenazah. Ini pengalaman yang sangat istimewa menurut saya karena tidak setiap orang bisa masuk ke lokasi kremasi tersebut. Melihat jenazah di antar keluarga di tepi sungai Baghmati,  kedukaan keluarga dan api yang membakar, secara langsung menimbulkan suasana yang merinding sekaligus penasaran. Umat hindu Nepal meyakini, bahwa kematian bukanlah akhir kehidupan, merupakan awal dari perjalanan spiritual menuju pembebasan jiwa ( moksa). Dan melihat ini, sekan menjadi pentup perjalanan saya di Nepal, dengan nuansa spiritual klasik, dari Kathmandu. Tapendra sangat baik,  ketika saya pulang di antar sampai bandara dan memberikan bendera Nepal untuk saya sebagai symbol persahabatan.

Dhanyabad !!