Friday, March 6, 2026

Dari Owa Jawa ke Burung Cendrawasih: Jejak SwaraOwa di Papua


pembukaan symposium FM12-NBCS Confrence

oleh : Arif Setiawan

Konferensi internasional pertama di tahun 2026, ketika mengetahui acara ini di pertengahan tahun 2025, akan di gelar di Papua, saya langsung menyiapkan abstract dan mendaftar. Pertemuan botanist Flora Malesiana ke 12 ini akan di gabung dengan konfrensi nature based climate solution yang pertama, kesempatan ke pulau Impian Tanah Papua. 

Sebagai pengantar , dalam konteks botani, ilmu tumbuhan dan biogeografi, istilah Malesiana merujuk sebuah region floristic yang  memiliki kesamaan ciri khas tumbuhan, tidak merujuk pada nama sebuah negara Malaysia atau Melanistic.

Flora Malesiana, adalah proyek flora internasional yang bertujuan untuk menamai, mendeskripsikan, dan menginventarisasi flora tumbuhan berpembuluh lengkap di Malesia, wilayah yang meliputi Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei Darussalam, Filipina, Timor-Leste, dan Papua Nugini. Kawasan keanekaragaman hayati Malesia ini menyimpan keanekaragaman tumbuhan berpembuluh yang luar biasa dengan lebih dari 41.500 spesies yang saat ini diakui dan dilaporkan dari wilayah tersebut (Plants of the World Online). Singkatnya, "Malesiana" adalah identitas biologi yang menyatukan kepulauan di Asia Tenggara hingga Papua berdasarkan kekayaan alamnya, terlepas dari batas politik negara masing-masing.

Booth Kopi Owa di Manokwari City Mall

Symposium di adakan setiap 3 tahuan sekali, dan untuk yang ke 12 kalinya diselenggarakan di Papua pada tahun ini, tanggal 9- 14 Februari 2026. Pertemuan (Flora Malesiana ke12( FM12), adalah pertemuan para ahli tanaman untuk mengupdate proyek flora dari perwakilan masing-masing wilayah ataupun taxa. dan tahun ini bersamaan dilaksanakan dengan konferensi Solusi iklim berbasis alam ( NCBS), menurut penyelenggara karena didasari keterkaitan antara kekayaan tanaman dan ketahanan iklim. Sinergi Riset dan Kebijakan: FM12 berfokus pada dokumentasi dan pelestarian keanekaragaman tumbuhan, sementara NBCS berfokus pada pemanfaatan alam tersebut untuk mengatasi perubahan iklim. Penggabungan ini bertujuan agar data ilmiah tentang flora dapat langsung menjadi dasar kebijakan solusi iklim

Kenapa swaraOwa bisa hadir di acara ini? Nature Based Climate Solution-Solusi Iklim berbasis alam, dalam tema inilah swaraOwa bisa hadir, karena kegiatan swaraOwa yang dilakukan di Jawa Tengah untuk konservasi Owa Jawa merupakan bentuk kegiatan solusi iklim berbasis alam. Lebih Istimewa lagi oleh panitia, selain terpilih menjadi salah satu keynote speaker dalam konferensi, swaraOwa juga menampilkan booth pameran Kopi Owa dari tanggal 9 hingga tanggal 13 Februari bertempat di Mall City Manokwari.

Pembukaan acara symposium berada di kantor gubernur Papua Barat, menurut laporan ketua panitia Prof Charlie D Heatubun, acara ini di hadiri oleh sekitar 300 orang, dari 15 negara. Dalam sambutannya Gubernur Papua Barat , Dominggus Mandacan, sebagai gubernur dan ketu suku besar Arfak, menyampaikan bahwa Provinsi Papua barat dengan tutupan hutan lebih dari 70 % luas wilayahnya hutan tumbuh di atas lapisan tanah yang tipis, ketika rusak perlu waktu lama untuk pulih, Gubernur yang pernah mendapat penghargaan Pahlawan konservasi global tahun 2019 menyampaikan filosifi bahwa hutan hutan papua adalah mama, Ungkapan ini bermakna hutan adalah sumber kehidupan, kekuatan, perlindungan, dan kasih sayang yang wajib dijaga keberlanjutannya bagi masyarakat Papua.

Hari ke-dua tanggal 10 Februari hingga hari ke 4, acara symposium bertempat di Hotel Swissbell Manokwari, Swaraowa bergabung sebagai salah satu pembicara dalam Solusi Iklim berbasis Alam, dengan presentasi berjudul “ Bridging Biodiversity and Livelihoods: The Javan Gibbon Conservation Model”. 

presentasi swaraowa di FM12-NBCS Manokwari

Di sesi pameran, swaraOwa mempresentasikan produk-produk dari program community development dan livelihood konservasi Owa jawa. Apresiasi peserta dan Masyarakat umum dari kota manokwari singgah di booth swaraOwa, menjadi tempat untuk lebih banyak diskusi, bertukar pengalaman dan membuat jejaring konservasi baru, peserta yang datang juga bisa sekaligus bica mencoba kopi owa yang menjadi duta konservasi owa di tanah papua waktu ini.

Acara hari terakhir, tanggal 13 Februari adalah field trip, kunjungan lapangan, ini yang ditunggu-tunggu, karena panitia menawarkan kunjungan ke pegunungan Arfak, habitat asli burung-burung endemik papua. Jam 6 pagi kami semua ada sekitar 70 orang, menggunakan lebih dari 20 mobil konvoi bergerak bersama menuju tujuan pertama yaitu desa Kwau, desa Wisata pengamatan burung. Perjalanan ke lokasi, sudah sangat bagus jalan,meskipun jalan naik turun begitu curam, namun semua bisa di lalui dengan mudah. 

Kampung-kampung nampak sudah maju, dengan bangungan-bangunan permanen, adajuga rumah asli, rumah seribu tiang, rumah adat asli suku pegunungan Arfak. Rumah kayu dengan tiang-tiang kecil yang banyak dan dinding dari kulit kayu. Perjalanan sangat menyenangkan karena kanan kiri hutan lebat, dan vegetasi pegunungan yang khas.

Kuranglebih jam 10 pagi, kami sampai dai desa Kwau, kami langsung dibagi menjadi beberapa group ke lokasi pengamatan burung cendrawasih papua, salah satu yang menarik disini adalah Vogelkop bowerbird ( Amblyornis inornate), si burung pintar. Pintar karena perilaku kawinnya yang unik, kecerdasannya  membangun sarang yang besar hingga 1 meter diametrnya untuk kawin, di permukaan tanah dan menyusun warna dan struktur material sarang berdasarakan warna dan ukuran, ditata sangat rapi untuk menarik betina datang. 

sarang burung pintar

Namun pagi itu, karena rombongan cukup banyak dan sudah siang, kita tidak dapat menyaksikan burung ini beraksi, hanya menyaksikan sarang yang sudah jadi, burung jantan, membangun sarang dengan sangat menarik, arsitektur yang kompleks, ranting disusun menyerupai pondok, tinggi antara 40-1 meter, membersihkan area pintu pondok/sarang, melakukan kurasi benda, estites dan kurasi warna material,  termasuk sampah plastik dan tutup botol yang di kelompokkan berdasarkan warna, dengan tujuan untuk menarik perhatian burung betina. Menurut penelitian burung ini memang memiliki volume otak yang lebih besar dibanding burung lainnya, dan menunjukkan evolusi kecerdasan untuk menutup penampilan yang kurang menarik. Burung ini sempat terlihat di sekitar sarang, namun tidak terdokumentasikan dengan baik, warna gelap dan pencahayaan yang kurang pas untuk mengabadikannya, namun dengan mata kepala sendiri menyaksikan burung ini langsung adalah keberuntungan “lifer”.

Di hutan Kwau ini, kami juga bisa menyaksikan pohon pisang raksasa endemik Papua  ( Musa ingens), species herba paling besar di dunia, tumbuh di antara lebatnya hutan pegunungan Arfak,batang menjulang tinggi  3 kali pohon pisang pada umumnya, dan diameter yang lebih dari 80 cm. Batang pisang ini nampak lebih putih dibanding warna batang pisang pada umumnya, dan buah ukuran kecil-kecil, menurut inforamasi buahnnya tidak bisa di konsumsi. Pisang raksasa pertama kali di identifikasi oleh botanist dari Inggris, di tahun 1954, oleh Norman Willison Simmonds. 

pisang raksasa, di hutan pegunungan Arfak


landscape hutan pegunungan Arfak

Kampung Undohotma, Anggi-Danau Giji

Perjalanan selanjutnya, naik lagi ke puncak pegunungan Arfak, ke kampung Undohotma, di sekitar danau Anggi, danau pegunungan di ketinggian 1800-2000 mdpl. Disini kami mengunjungi pusat penelitian , konservasi dan pengembangan ekonomi,  yang di kelola oleh Bentara Papua dan Universitas Papua, yang melakukan penelitian keanekaragaman hayati serta mendorong tata kelola berkelanjutan dan kegiatan ekonomi untuk warga sekitar. Ada pusat produksi kopi Anggi disini, kopi arabica dan koleksi flora khas pegunungan arfak ada disini. 

Landskap pegunungan dengan dua danau yang terpisah berdkatan Danau Giji dan Danau Gida, sangat memanjakan mata, vegetasi berlumut khas pegunungan sperti rododendron dan kantung semar mudah di amati di sekitar danau. Kunjungan di danau Anggi ini menjadi penutup acara di Papu. Semoga bisa berkunjung kesini lagi di lain waktu.



Monday, March 2, 2026

Memperkuat Akar Konservasi: Workshop Masterplan Wisata Satwa Liar di Toloulaggo

 

Foto bersama peserta workshop

Oleh :Aloysius Yoyok

Desa Toloulaggok, di Siberut Barat Daya memiliki potensi keanekaragaman hayati yang sangat kaya, khususnya satwa liar endemik Mentawai. Kawasan ini dapat berfungsi sebagai laboratorium alam yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, serta penelitian. 

Keanekaragaman hayati bukan hanya aset ekologis, tetapi juga modal ekonomi berkelanjutan apabila dikelola dengan baik melalui pendekatan wisata minat khusus. Dengan pengelolaan yang tepat, desa dapat memperoleh manfaat ekonomi, sosial, dan budaya, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Wisata pengamatan hidupan liar di Siberut khususnya Toloulaggo, yang di inisiasi sejak tahun 2016, setidaknya telah membuktikan bahwa keberadaan keanekaragaman hayati endemic siberut telah mengundang pegiat satwaliar untuk datang dan menikmati di habitat aslinya. Dinamika wisata minat khusus dan proses kegiatan dari awal hingga saat ini mengalami pasang surut, namun tantangan untuk membuat siberut menjadi salah satu destinasi wisata pengamatan primata di Indonesia terus berjalan.

Mempertemukan pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan wisata satwaliar di Toloulago kemudian menjadi salah satu agenda di awal tahun 2026 ini. swaraOwa mengambil peran untuk memfasilitasi pertemuan ini, dalam tajuk workshop penyusunan masterplan Wisata Satwaliar di Toloulaggo.  Workshop ini diselenggarakan bertujuan untuk menyatukan pemahaman, menyusun rencana strategis, serta membangun kesepakatan bersama dalam pengembangan wisata minat khusus pengamatan satwaliar di Desa Toloulaggo.

Tanggal 10-12 Februari 2026, acara yang direncanakan di mulai, di koordinasi oleh panitia lokal dan generasi muda Toloulaggo, acara ini mengundang setidaknya 31 orang, pihak-pihak atau perwakilan warga, suku, pemerintah desa dan warga Toloulaggo. Acara ini juga mendapat dukungan langsung dari Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai, Bp, Aban Barnabas, dan dua narasumber yang dihadirkan oleh tim swaraOwa yaitu Imam Taufiqurrahman dan Heru, yang merupkan tour operator dan pemandu wisata minat khusus di Jawa Tengah dan dari Banyuwangi, Jawa Timur. Kehadiran mereka memberi contoh langsung wisata minat khusus pengamatan hidupan liar di beberapa lokasi di Jawa.

suasan pertemuan

Hari pertama, bersama perserta setelah acara pembukaan dan sharing pengalaman dari pembicara undangan, perserta dengan fasilitator membuka diskusi terbuka untuk pengelolaan wisata desa Toloulago. Beberapa peserta diskusi terlihat aktif memberikan input, komentar dan pandangan yang kemudian berhasil disepakati bersama:

A. Pembentukan Kepengurusan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang akan menjadi pengelola usaha wisata minat khusus pengamatan satwa liar di Toloulaggo.

B. Diskusi di sesi ke 2 sore itu juga berhasil membuahkan beberapa rekomendasi yang di sepakati bersama, yaitu tentang  :

1. Penyelenggaraan wisata minat khusus pengamatan satwa liar di wilayah hutan Toloulaggo agar bisa melibatkan dan menjangkau lebih banyak lagi elemen masyarakat yang lain, tidak terbatas pada pemilik hutan dan kerabatnya saja.

2. Perlunya menata pengelolaan wisata minat khusus pengamatan satwa liar di Toloulaggo ini dengan penyusunan prosedur operasional standar (SOP) yang merangkum sistem pelaporan kunjungan wisatawan, koordinasi, sistem pelayanan kepada wisatawan, jadwal gilir penyedia jasa layanan akomodasi, penyediaan petugas pelayan wisatawan dan hal-hal lain yang dibutuhkan. 

SOP ini akan menjadi pedoman dalam penyelenggaraan usaha pengembangan wisata minat khusus pengamatan satwa liar ini.

3. Susunan kepengurusan Pokdarwis ini masih semacam embrio yang diharapkan oleh Kepala Desa menjadi pengurus Pokdarwis di tingkat desa, karena Desa Katurei  belum memiliki organisasi pengelola usaha wisata. 

4. Pokdarwis ini diberi nama Simatoro yang memiliki arti bersinar.

5. Kepengurusan Pokdarwis ini belum selesai dibentuk karena menimbang peserta yang hadir belum mereprentasikan warga se-desa, mengingat Pokdarwis ini akan diarahkan menjadi Pokdarwis tingkat desa.

6. Ke 4 orang yang sudah terpilih itu akan bertugas :

Di 6 bulan pertama sejak ke 4 orang pengurus pertama itu terpilih :

a) Dikoordinir oleh Ketua Pokdarwis akan menyelenggarakan rapat bersama Kepala Desa dan elemen masyarakat lain yang dibutuhkan untuk melengkapi susunan kepengurusan, kelengkapan organisasi (AD/ART dll yang dibutuhkan) dan SK Kepala Desa di 6 bulan pertama semenjak mereka terpilih sebagai pengurus pertama Pokdarwis  

b) Visi dan misi Pokdarwis adalah konservasi dan kesejahteraan masyarakat.

c) Menyusun destinasi dan paket-paket wisata 

d) Bersama pemangku kepentingan wisata minat khusus di Toloulaggo menyusun prosedur operasional standar untuk pengelolaan wisata pengamatan satwa liar di Toloulaggo.

e) Distribusi prosedur operasional standar ke pihak-pihak yang berkepentingan dengan penyelenggaraan wisata  minat khusus pengamatan satwa liar.

f) Melengkapi legalitas yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan organisasi, misalnya Surat Keterangan Terdaftar di Kesbanglinmas, perpajakan, surat ijin usaha dan lain-lain yang dibutuhkan

6 bulan ke dua :

a) Menyelesaikan pembuatan Akta notaris sampai ke tingkat Kemenkumham

b) Mengidentifikasi dan mengusahakan penyediaan kebutuhan sarana-pra sarana pendukung untuk penyelenggaraan wisata minat khusus pengamaatan satwa liar di Toloulaggo

c) Menyiapkan sarana akomodasi untuk tamu yang datang berkunjung.

Poin Penting dari Kegiatan workshop:

Kolaborasi Multipihak: Melibatkan Pemerintah Desa Katurei, tokoh masyarakat adat Uma Saumanuk, praktisi pariwisata, hingga komunitas lokal (Siripok Bilou).

Restorasi Fasilitas: Persiapan mencakup pembersihan kembali pondok pengamatan yang sempat tertutup semak belukar guna menyambut wisatawan minat khusus.

Sinergi Kelembagaan: Keterlibatan Dinas Pariwisata dan narasumber ahli diharapkan dapat menyinkronkan kearifan lokal dengan standar pengelolaan wisata profesional.

Fokus Masterplan: Diskusi difokuskan pada keterlibatan pemilik lahan hutan (pumonean) agar konservasi primata berjalan selaras dengan kesejahteraan ekonomi warga.

Kegiatan ini bukan sekadar diskusi teknis, melainkan upaya memperkokoh kerja sama antar-pemangku kepentingan demi menjaga kelestarian hutan Siberut.

simakobu ( Simias concolor) yang dijumpai di Toloulaggo

Hari kedua,  sesuai dengan jadwal acara yang sudah disusun adalah kunjungan ke pos pengamatan satwa liar di kawasan hutan Toloulaggo. Pagi itu jam 06.30 WIB peserta dan sebagian panitia bersama-sama berangkat melintasi jalur-jalur pengamatan yang biasa dilalui oleh pelaku wisata yang sudah terlebih dahulu terlibat. 

Dalam perjalanan menyusuri jalan setapak di hutan itu, kelompok 1 peserta berhasil berjumpa dengan 1 kelompok simakobu, mereka berhasil mengambil beberapa foto primata itu. Titik ketemu rombongan peserta yang terbagai menjadi 2 tim itu adalah di Pos pengamatan. Sesudah beristirahat sejenak dan mengambil foto bersama peserta dan panitia kemudian bergerak meninggalkan hutan Toloulaggo itu. Kegiatan hari ke 2 itupun ditutup dengan makan siang bersama di rumah salah seorang anggota panitia.



Monday, February 16, 2026

Pembibitan Pohon Koridor: Konektivitas Ekologis dengan Ekonomi Inklusif di Habitat Owa Jawa

tunas Kepayang/Pucung (Pangium edule)

Oleh : Sidiq Harjanto

Awal tahun 2026 kami isi dengan program pembibitan untuk koridor habitat Owa Jawa (Hylobates moloch) di wilayah Petungkriyono dan Lebakbarang. Program ini telah diinisiasi tiga tahun lalu di Desa Mendolo, Lebakbarang dan terus berjalan hingga saat ini. Penanaman pohon merupakan upaya mendesak untuk mengatasi fragmentasi habitat sebagai ancaman senyap yang mempercepat kepunahan berbagai spesies.

Bagi Owa Jawa, konektivitas habitat adalah jembatan kehidupan yang vital untuk keberlangsungan spesies. Terbukanya area hutan dapat memutus akses antar-blok hutan, mengisolasi kelompok keluarga owa dalam "pulau-pulau" kecil yang terfragmentasi. Isolasi kelompok-kelompok kecil dari populasi utama memicu hanyutan genetik (genetic drift), kondisi melemahnya keturunan suatu spesies akibat perkawinan sedarah. Dampaknya bisa sangat fatal: penurunan derajat kesehatan, melemahnya kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim, hingga risiko kepunahan yang meningkat.

Infrastruktur pembibitan pohon hutan di Sokokembang

Melalui program Titian Lestari, penanaman pohon diharapkan memperbaiki kualitas habitat di beberapa area yang terbuka, membangun kembali konektivitas kanopi hutan sebagai jembatan mobilitas kelompok-kelompok Owa Jawa maupun berbagai spesies satwa liar lainnya. Kami menargetkan 10.000 bibit diproduksi di dua unit pembibitan, satu di Sokokembang dan satu lagi di Mendolo. Kedua unit pembibitan ini dikelola secara kolaboratif bersama masyarakat.

Jenis-jenis pohon yang dibibitkan merupakan spesies-spesies asli setempat dan memiliki nilai penting bagi konservasi area sempadan sungai dan pohon-pohon pakan bagi Owa Jawa. Jenis-jenis itu antara lain: gintung, sentul, rau, pucung/kepayang, jengkol, klepu, putat, serta berbagai spesies asli lainnya.

Lanskap Kerja melalui Kopi Naungan

Kami tidak hanya menanam pohon sebagai penyediaan koridor habitat dan potensi pakan owa di masa depan, tetapi juga mengintegrasikannya dengan skema kopi naungan. Upaya mengarusutamakan pengelolaan kopi di bawah naungan (shade grown coffee) di habitat Owa Jawa telah dirintis sejak 2012. Skema ini melahirkan Owa Coffee, sebuah produk yang bukan sekadar komoditas melainkan ada atribut konservasi di dalamnya. 

Kopi di bawah naungan hutan

Kopi di bawah naungan menjadi solusi untuk menemukan ekuilibrium antara kepentingan ekonomi dan konservasi. Ini adalah tentang lanskap kerja (working landscape) yang produktif, tetapi tetap mampu mendukung kelestarian keanekaragaman hayati. Dalam model ini, kopi tumbuh di bawah naungan pepohonan hutan, memastikan hutan tetap berfungsi sebagai pelindung satwa liar sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat. 

Ada beberapa prinsip yang mendasarinya. Lanskap produktif lestari dikembangkan dalam perspektif ekosistem yang holistik. Pertama, polikultur strategis: mengombinasikan berbagai komoditas dalam satu lahan. Tanaman-tanaman bernilai ekonomi dikembangkan dalam satu lahan berdampingan dengan pepohonan hutan. Kopi bukan menjadi tanaman tunggal dalam satu petak lahan, melainkan menjadi bagian dari strata hutan itu sendiri. 

Metode ini menjamin fungsi ekologis hutan sebagai penyedia relung habitat bagi berbagai spesies, termasuk Owa Jawa, satwa arboreal penghuni lapisan tajuk. Di sisi lain, petani memiliki lebih banyak alternatif sumber pemasukan, memberi ketahanan (resiliensi) terhadap ketidakpastian pasar, dan memberi lebih banyak “laboratorium” untuk mengembangkan keterampilan.

Kedua, optimalisasi jasa lingkungan: pengembangan budidaya lebah, dan pelestarian burung. Lebah madu tidak hanya memberi manfaat ekonomi berupa madu yang bisa dijual, tetapi sekaligus membantu penyerbukan bagi berbagai tanaman, termasuk kopi. Budidaya lebah klanceng telah diinisiasi sejak 2017 dan telah memberikan tambahan ekonomi bagi petani. Peran penyerbukan belum bisa dikuantifikasi, namun kami meyakini bahwa budidaya berkelanjutan telah berkontribusi dalam pelestarian populasi serangga penyerbuk ini.

Burung, kelompok satwa yang paling banyak diburu, memiliki peran penting dalam pengendalian hama. Melestarikan burung berarti menjaga pertanian kita dari kerugian. Upaya kami dalam pelestarian burung meliputi: edukasi kepada masyarakat umum, dukungan inisiasi dan implementasi aturan lokal, serta pengembangan ekowisata sebagai alternative pemanfaatan lestari.

Ketiga, pengarus-utamaan konsep “hutan warung hidup”: menjaga hutan sebagai penyedia pangan liar dan obat tradisional bagi komunitas. Hutan menyediakan berbagai potensi pangan, meliputi: umbi-umbian, buah-buahan, sayur-sayuran, maupun jamur-jamur liar. Berbagai tumbuhan obat (biofarmaka) juga tersimpan di dalamnya. Kekayaan ini bisa menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya jika dikelola dengan baik.

Hutan tidak sekadar simpanan kekayaan berupa objek konkret (pangan dan obat), tetapi juga penyimpan database pengetahuan yang dikumpulkan nenek moyang. Sifatnya akumulatif dan terus berkembang, melekat pada tradisi dan budaya kita. Artinya, melestarikan fungsi hutan sebagai warung hidup adalah merawat identitas kita sendiri.

Perawatan bibit

Inklusivitas program untuk inklusivitas habitat

Hutan bukanlah anugerah yang secara eksklusif diberikan kepada umat manusia, melainkan habitat inklusif untuk beragam kehidupan liar. Ekosistem di dalamnya merupakan jaring-jaring rumit yang menjaga resiliensi alam. Namun, gangguan pada satu mata rantai bisa memicu dampak sistemik, merusak jaringan secara lebih luas dan pada akhirnya menurunkan fungsinya secara keseluruhan.

Kami menyadari bahwa inklusivitas menjadi kunci keberlanjutan program ini. Pada pelaksanaannya, program ini berbasis warga; mulai dari penyediaan bibit, kerelaan penggarap lahan untuk lokasi penanaman, pemantauan (monitoring) biodiversitas, hingga komitmen pemeliharaan jangka panjang. Kami juga berkomitmen dalam penyediaan ruang bagi kaum perempuan sebagai bentuk pengakuan atas peran strategis mereka dalam konservasi.

Program Konservasi Titian Lestari ini didukung oleh: Yayasan Astra Honda Motor dan affiliated group: PT Musashi Auto Parts Indonesia, PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Yutaka Manufacturing Indonesia, PT Suryaraya Rubberindo Industries.


Wednesday, December 31, 2025

Pusat Edukasi Konservasi Owajawa Sokokembang, Simbol Kolaborasi, Pengetahuan, dan Pemberdayaan Masyarakat

 

bangunan pusat edukasi konservasi Owajawa -swaraowa, Sokokembang

Oleh Arif Setiawan

Di jantung hutan Sokokembang, Petungkriyono,  melengkapi fasilitas edukasi yang telah  berdiri sebelumnya, sebuah bangunan baru yang menjadi simbol harapan bagi tim swaraowa khususnya, untuk terus menybarluaskan suara-suara pelestarian alam di kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi di Petungkriyono dan sekitarnya. 

Pusat Edukasi Konservasi Owa ini dibangun pada bulan Juni hingga Desember 2025, dirancang dengan penuh kearifan oleh arsitek lokal dari Yogyakarta mbak Puspita Agus dan suami mas Faiz Rizka Alimy yang memahami konteks budaya dan ekologi kawasan untuk dapat di terapkan di bangunan. Yang menerjemahkan gambar bangungan juga tidak kalah penting, ahli bangunan-ahli bangungan ( tukan batu dan tukang kayu)  dari sekitar habitat owa, inovasi-inovasi seperti dinding lapisan bata merah di gambar rencananya, di ganti dengan genteng merah yang di potong sesuai ukuran, lebih hemat biaya namun estetis. Lantai menggunakan potongan batu alam yang disusun acak namun ada bingkainya, menambah kesan natural. Dibagian atas plafon juga menggunakan material anyaman bambu,yang menambah Kesan tradisional.

pengamatan Owa dari teras depan Omah Owa-Sokokembang

Bangunan ini tidak sekadar ruang fisik, melainkan wadah untuk:  

Edukasi konservasi: memperkenalkan masyarakat dan pengunjung pada pentingnya menjaga kelestarian owa jawa  dan ekosistem hutan.  

Pemberdayaan masyarakat: menyediakan ruang pertemuan, pelatihan, dan kegiatan ekonomi kreatif berbasis konservasi.  

-Penelitian: mendukung para peneliti khususnya generasi muda dan mahasiswa perguruan tinggi dalam negeri, untuk mengkaji ekologi, keanekaragaman hayati, hutan,sosial dan strategi pelestarian.  

Awalnya rumah ini merupakan dapur dan tempat makan untuk para tamu ataupun peserta pelatihan yang datang ke sokokembang. Namun kondisinya saat itu sudah tidak layak dan kemudian kita rancang ulang untuk di perbaiki untuk kenyamanan dan lebih leluasa untuk mendukung kegiatan-kegiatan selanjutnya. 

Ukuran bangunan 12 x 9 meter, konsepnya ada dapur dan ruang makan sebagai tempat bertemu, ruang sosialisasi ruang berinteraksi. Ada dua dapur dapur dengan kayu bakar ( seperti suasana petungkriyono ) dan dapur yang lebih modern. Ada mesin sangrai kopi dilengkapi dengan etalase kemasan kopi Owa. Konsep ini terinspirasi dari budaya warga pegunungan khsusnya di Petungkriyono, dimana menggunakan dapur untuk tempat berkumpul keluarga, tetangga (ngendong- main berkunjung) dan fungsi tempat makan. Apapun, siapapun akan nampak lebih akrab apabila di ruang makan. Ide-ide cemerlang kadang muncul dengan seketika kita ngobrol bebas dan menyaksikan kanan-kiri hutan yang lebat.

ruangan dalam dengan mural visual primata jawa, latar belakang foto group tim swaraowa

Edukasi visual yang dimuculkan adalah karya mural , lukisan di permukaan tembok ruangan, tentang jenis-jenis satwa asli Petungkriyono, Owa jawa sebagai icon, lutung jawa, burung raja udang kalung biru, lebah, babi hutan macan tutul dan lain sebagainya. Karya seniman mural dari desa di sekitar habitat Owa jawa mas Agil dari desa Mesoyi, Kecamatan Talun.

Beberapa acara di akhir 2025, telah memanfaatkan fasilitas ini. 21 perserta pelatihan metode survey Owa, menyediakan ruang makan dan ruang berinteraksi bebas untuk peserta, bahkan tempat pengamatan owa jawa. Beberapa acara yang secara langsung kita dukung yang di adakan oleh organisasi lainnya juga telah menggunakan fasilitas ini. Pusat edukasi ini juga menganut konsep tumbuh,nantinya dapat di kembangkan lagi sesuai kebutuhan. Saat ini ruang kelas dan multimedia untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, pematerian dalam ruang  menggunakan rumah limasan kayu di bagian utara, kami menyebut Omah Owa Lor, sudah tersedia 2 kamar kapasitas 5 orang untuk menginap tamu-tamu pembicara, dan 2 kamar mandi. 

Area berkebun juga tersedia dilokasi ini, digunakan untuk koleksi flora asli petungkriyono, pembibitan tanaman pohon penting dan juga menannam tanaman pangan untuk kebutuhan sehari hari, seperti cabe, sayuran, singkong dan sumber protein kolam ikan yang memelihara jeni-jenis ikan sungai lokal dari sungai di sekitar sokokembang.

Pusat Edukasi Konservasi Owa Jawa Sokokembang adalah jembatan antara ilmu pengetahuan, budaya, dan aksi nyata. Ia menjadi ruang di mana masyarakat lokal, peneliti, dan pengunjung dapat bertemu, belajar, dan berkolaborasi demi masa depan hutan Petungkriyono yang lestari.  

Ucapan terimakasih untuk dukungan fasilitas ini kepada Fortwayne Zoo yang telah membiayai pendirian bangunan edukasi konservasi swaraowa sokokembang.


Monday, December 29, 2025

Karakteristik Iklim Harian Hutan Sokokembang 2025: Implikasi Hidrologis dan Ekologis

 Oleh : Arif Setiawan

grafik dari data pemantauan iklim harian di Sokokembang

Catatan berdasar alat pemantuan cuaca yang di pasang di pusat edukasi dan konservasi Owajawa SwaraOwa-Sokokembang, tanggal 1 Januari 2025-29 Desember 2025.

[disclaimer ada hari-hari alat tidak mencatat data karena matinya sumber Listrik dari alat]

Sepanjang tahun 2025, hutan Sokokembang mengalami dinamika cuaca yang khas wilayah tropis lembab. Suhu udara berkisar antara 21°C hingga 31°C, dengan indeks panas (heat index) yang sering kali lebih tinggi dari suhu sebenarnya, menandakan kelembaban udara yang tinggi. Kondisi ini membuat udara terasa lebih gerah, terutama saat kelembaban memperlambat penguapan keringat. Bagi satwa dan tumbuhan hutan, kelembaban ini perlu di teliti lebih lanjut untuk mengetahui dampaknya. Yang pernah tim swaraowa lakukan dalam penelitian Owa ada korelasi antara kelembaban udara dan perilaku Owa jawa bersuara.

Curah hujan menunjukkan pola yang tidak merata. Sebagian besar hari dalam setahun tercatat tanpa hujan, menandakan periode kering yang panjang. Namun, hujan deras datang dalam lonjakan singkat dan intens. Puncak curah hujan tertinggi terjadi pada tanggal 2 Desember, mencapai 63 mm dalam satu hari—sebuah momen penting yang membasahi tanah, mengisi sungai, dan menyegarkan seluruh lapisan hutan. Di bulan Januari, hujan mulai muncul perlahan setelah dua puluh hari kering, dengan intensitas ringan hingga sedang, lalu mencapai puncak sekitar 14.4 mm sebelum kembali reda.

Catatan Curah hujan  pada saat bencana longsor Petungkriyono 20 Januari 2025
Beberapa hari sebelum dan sesudah terjadinya longsor dan pada saat longsor, Listrik di Sokokembang sering mati, sehingga alat tidak dapat mencatat data iklim harian di Sokokembang

Implikasi Hidrologis

Runoff meningkat: Tanah yang kering dan keras sulit menyerap air dengan cepat. Hujan deras dalam waktu singkat cenderung langsung mengalir di permukaan, meningkatkan risiko banjir lokal atau erosi.  

Infiltrasi terbatas: Air hujan tidak sempat meresap ke dalam tanah, sehingga cadangan air tanah tidak bertambah optimal.  

Fluktuasi debit sungai: Sungai bisa tiba-tiba meluap saat hujan deras, lalu kembali surut cepat setelah hujan berhenti. karakter sungai di pegunungan petungkriyono, hujan deras di hulu sungai, sementara di bagian tengah dan bawah/hilir sungai tidak hujan, dapat mengakibatkan banjir yang tidak di perkirakan di bagian hilir.

Implikasi Ekologis

Stres pada vegetasi: Periode kering panjang membuat tanaman mengalami defisit air. Hujan deras mendadak tidak selalu langsung mengembalikan kondisi karena akar butuh waktu untuk menyerap air.  

Habitat satwa : Satwa arboreal (misalnya owa) mungkin mengalami perubahan pola aktivitas 
Produktivitas hutan: Lonjakan hujan bisa memicu pertumbuhan jamur, lumut, dan tumbuhan bawah, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit tanaman akibat kelembaban mendadak.

Implikasi Sosial & Konservasi
Risiko longsor: Lereng yang kering lalu tiba-tiba jenuh air lebih rentan longsor.  
Ketersediaan air masyarakat: Periode kering panjang bisa menurunkan pasokan air bersih, sementara hujan deras singkat tidak cukup menambah cadangan. 
Peringatan banjir dan hujan lebat di hulu sungai ( disekitar kecamatan petungkriyono). yang di diteruskan ke desa-desa di sepanjang sungai dan hilir sungai yang berhulu di Petungkriyono,
Perencanaan konservasi: Data ini penting untuk mengatur kegiatan lapangan, misalnya menghindari survei saat potensi hujan ekstrem, atau menyiapkan strategi adaptasi masyarakat terhadap pola iklim yang tidak merata.


👉 Singkatnya: periode kering panjang melemahkan daya serap tanah dan ekosistem, sehingga hujan deras mendadak lebih banyak menimbulkan limpasan permukaan daripada menyuburkan tanah. Dampaknya bisa berupa banjir lokal, erosi, hingga gangguan pada siklus ekologi hutan.

Pekan Pangan Mendolo 2025: Merajut Pangan, Seni, dan Konservasi

 

Ibu-ibu anggota KWT menyiapkan sajian hutan Mendolo

Oleh : Sidiq Harjanto

Kamis pagi, 27 November 2025, kesibukan mulai menyeruak di Dusun Sawahan, Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang. Para ibu sibuk memetik berbagai sayur di hutan seperti aneka pakis, gorang, kecombrang, lengko, dan berbagai jenis jamur liar. Warga dusun jamak menyebut aktivitas ini “meramban”. Beberapa pemuda membantu mengambil daun pisang dan kayu bakar. Sebagian lainnya disibukkan dengan agenda menghias panggung pertunjukan di lapangan dusun. Batang-batang tanaman jagung yang habis dipanen dan daun-daun kelapa disulap menjadi karya seni yang estetik dan ramah lingkungan.

Ini bukanlah awal. Jauh-jauh hari sebelumnya, para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip juga telah mengolah beberapa karung biji pucung/kepayang untuk dijadikan keluwek, salah satu bahan pangan hasil hutan unggulan Desa Mendolo. Demikian juga para pemuda yang tergabung dalam Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo, nyaris tiap malam disibukkan dengan gladi tari. Tak hanya melatih diri sendiri, mereka sekaligus melatih adik-adik mereka. 

hasil olahan pangan dari hutan Mendolo

Serangkaian kesibukan ini adalah persiapan menuju puncak acara Pekan Pangan Mendolo 2025 yang digelar pada 29 November 2025. Pekan Pangan merupakan hasil evolusi dari Perayaan Hari Pangan yang telah dirintis warga Mendolo bersama SwaraOwa sejak 2022. Tak salah kiranya menggunakan nama “Pekan Pangan” karena pada kenyataannya selama sepekan, warga telah sibuk dengan berbagai aktivitas seperti meramban bahan pangan dari hutan, persiapan venue, hingga latihan pentas seni bagi para penampil.

Pekan Pangan sebagai simpul konservasi

Tahun ini bisa dikatakan menjadi babak baru dalam skema “community conservation” yang diusung sebagai kolaborasi SwaraOwa, Pemerintah Desa Mendolo, beserta warga masyarakat yang tergabung dalam PPM Mendolo dan KWT Brayanurip. Skema ini telah menggulirkan program pengembangan ekonomi berkelanjutan seperti pengelolaan kopi robusta di bawah naungan, produksi madu klanceng, dan inovasi produk berupa tepung gadung. Ekonomi berkelanjutan menjamin inklusivitas, sehingga melibatkan berbagai kalangan, termasuk kaum perempuan.

para penari KWT Brayan Urip 

Sebagai upaya melestarikan desa dengan keanekaragaman hayati tinggi, termasuk lima jenis primata dan berbagai jenis burung terancam punah seperti elang jawa dan raja-udang kalung-biru, kolaborasi ini telah menginisasi berbagai program konservasi. Salah satunya adalah program koridor hutan melalui penanaman berbagai jenis pohon hutan. Tujuannya untuk menjaga konektivitas habitat bagi berbagai spesies langka dan terancam punah seperti owa jawa dan raja-udang kalung-biru yang mendiami kawasan hutan di desa ini.

Pekan Pangan Mendolo 2025 menjadi simpul untuk merangkum berbagai program konservasi yang telah dijalankan. Selaras dengan skema yang dijalankan, pada tahun ini mengusung tema “Pangan dan Konektivitas Ekosistem”. Perhelatan ini berupaya membangkitkan kesadaran kita semua bahwa kunci keberhasilan program konservasi adalah merawat konektivitas ekosistem. Pangan sendiri adalah koneksi antara manusia dengan alam. Seyogyanya kita memilih bahan pangan yang seimbang dan menyehatkan tubuh, serta disediakan dengan cara-cara yang berkelanjutan tanpa merusak keseimbangan ekosistem. Pada konteks lokal Mendolo, tradisi pangan masyarakat dan kelestarian hutan owa jawa adalah satu nafas yang tak terpisahkan.

Tari geculan bocah

Merajut asa untuk masa depan hutan owa

Edukasi menjadi langkah strategis dalam membangun skema konservasi berbasis masyarakat, khususnya dalam menyiapkan generasi penerus yang cinta lingkungan dan menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Di Mendolo, langkah strategis itu telah diejawantahkan dalam kegiatan nyata. Melalui momen Pekan Pangan Mendolo ini, panitia menyelipkan agenda peluncuran Generasi Lestari.

Beranggotakan 20 orang anak di lingkup Desa Mendolo, Generasi Lestari adalah platform komunitas belajar bagi generasi muda yang dilahirkan atas kolaborasi KWT Brayanurip, PPM Mendolo, dan SwaraOwa untuk mewujudkan skema pembelajaran yang holistik. Komunitas ini mengedepankan inklusivitas, dan menyentuh sisi kecerdasan emosional yang dirangkum dalam aktivitas bermain dan belajar. Pembiasaan-pembiasaan kecil seperti bertutur kata yang sopan, konsumsi makanan sehat, dan pembelajaran empati (termasuk kepada satwa liar) menjadi agenda utama Generasi Lestari.

Peluncuran ditandai dengan simbolis penyematan atribut berupa topi dan tas lapangan oleh Bapak Kaliri selaku Kepala Desa Mendolo kepada dua anak sebagai perwakilan, dilanjutkan pembacaan doa dan pemotongan tumpeng. Kiprah Generasi Lestari langsung dibuktikan dengan pertunjukan dua tarian, meliputi tari “Gaculan Bocah” yang menampilkan enam anak perempuan dengan riasan eksentrik menarikan tarian penuh kegembiraan. Tari kedua menampilkan tujuh anak laki-laki memainkan tari “Jingkrak Sundang” yang rancak.

Tarian Jingkrak Sundang

Jam makan siang tiba. Segenap warga desa dan para tamu berkumpul di rumah salah satu warga. Pada meja yang ditata memanjang telah tersaji 31 jenis menu yang dihasilkan dari berbagai bahan berbasis hutan seperti aneka sayur hutan, jejamuran liar, aneka sambal: sambal kecombrang, sambal keluwak, sambal klanthing, dll. Setiap sajian telah diberikan informasi yang bisa dibaca oleh para tamu sembari menikmati hidangan. Amelia Nugrahaningrum dari Genau Indonesia dan Nur Choiriyah dari Indonesia Dragonfly Society membantu memfasilitasi para ibu dari KWT Brayanurip untuk melakukan kurasi dan intepretasi menu.

Seni: jembatan integral antara hati, pangan, dan hutan

Sejak pertama kali digelar pada tahun 2022 bertajuk Perayaan Hari Pangan Sedunia, ada satu elemen yang terus melekat dalam Pekan Pangan, ialah seni. Berawal dari seni-dolanan “uwi-uwinan” dan musikalisasi puisi oleh Tohir Susilo dan Yurizal Rahman pada 2022, diikuti Pentas Seni “Ketoprak Sayur” yang menampilkan lebih banyak talenta lokal pada 2023, dan Pentas Karawitan dan Ronggeng pada 2024. Puncaknya di tahun ini, ada lebih banyak penampil seni yang berpartisipasi. Mulai dari tari Gaculan, tari kontemporer yang dikreasi KWT, karawitan, ronggeng, dan tari Jingkrak Sundang (anak&dewasa). 

Tarian jingkrak sundang bocah

Seni tidak sekadar sebagai hiburan. Ia sarat akan makna, bisa menjadi media menyampaikan pesan, membangkitkan empati, meningkatkan kreativitas, dan melatih kerjasama. Setiap pertunjukan seni membawa misi tersendiri, seperti tari Jingkrak Sundang, tari kreasi Bapak Sujono dari Keron, Magelang ini menggambarkan kemarahan dan keputusasaan satwa liar yang kehilangan habitat. Melalui penjiwaan gerak dan musik, tari ini menjadi instrumen integral untuk membangkitkan empati—mengingatkan kita bahwa ketika hutan hilang, ada banyak kehidupan yang hancur di dalamnya.

Ucapan terima kasih

Atas terselenggaranya Pekan Pangan Mendolo 2025, SwaraOwa memberikan apresiasi sebesar-besarnya untuk para kolaborator lokal sebagai panitia penyelenggara, yaitu PPM Mendolo dan KWT Brayanurip atas kerja keras tanpa kenal lelah. Ucapan terima kasih kami haturkan kepada Pemerintah Desa Mendolo, Muspika Kecamatan Lebakbarang, Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur, Yayasan Astra Honda Motor beserta affiliated companies, CDK IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, Dinas Pertanian, Indonesia Dragonfly Society, Genau Indonesia, dan segenap warga masyarakat dan para tamu yang turut memeriahkan acara.


Sunday, December 28, 2025

Mengapa Penting Menghitung Populasi Bilou Mentawai?

 

bilou yang di jumpai di hutan adat Saguruju, Siberut Selatan

Oleh : Arif Setiawan, Aloysius Yoyok, Nur Aoliya, Kurnia Latifiana, Kurnia Ahmaddin, 

Bilou, Owa endemik Kepulauan Mentawai ( Hylobates klosii) tidaklah seperti satwaliar biasa. Ia adalah bagian dari cerita hidup orang Mentawai. Suaranya di pagi hari menandakan hutan masih hidup. Ada kepercayaan di Mentawai, kalau ada bilou bersuara di kala dinihari, sebuah pertanda buruk akan terjadi, misalnya ada orang yang meninggal atau pun becana akan datang.  Jika tidak ada lagi suara kemana lagi pertanda-pertana alam ini akan kita pelajari?  Jika kita tahu berapa banyak bilou yang tersisa, kita bisa memastikan hutan tetap sehat, karena bilou membantu menyebarkan biji pohon dan menjaga keseimbangan alam.  

Kalau kita tidak menghitung populasinya, kita tidak tahu apakah bilou semakin sedikit atau masih aman. Populasi adalah jumlah individu yang menggunakan luasan habitat tertentu. Seperti kita menghitung jumlah anak di kampung: kalau makin sedikit, kita khawatir masa depan kampung akan sepi. Begitu juga dengan bilou—kalau populasinya menurun, itu tanda hutan kita sedang sakit.  

 Apa Manfaat bagi kita:

- Mengetahui kondisi hutan: banyak bilou = hutan sehat.  

- Menjaga warisan budaya: bilou adalah bagian dari identitas Mentawai.  

- Menarik perhatian dunia: data populasi bisa membantu mendapatkan dukungan untuk menjaga hutan.  

- Menjamin masa depan: anak cucu kita masih bisa mendengar suara bilou di hutan.  

Jadi, menghitung populasi bilou bukan sekadar angka. Itu adalah cara kita menjaga rumah bersama, memastikan hutan tetap hidup, dan menjaga cerita Mentawai agar tidak hilang. 

 Peta lokasi set triangulasi survey bilou dihutan adat 
dan luasan area ektrapolasi 
perhitungan estimasi populasi di hutan adat

Tim siripok bilou yang di bentuk di awal tahun 2025 ini,telah berhasil melakukan survey untuk mengestimasi ada berapa bilou di kawasan terpilih, di Siberut. Ada 9 kawasan hutan adat yang kita survey berdasarkan rekomendasi dari Lembaga lokal Yayasan Citra Mandiri. Dengan metode survey vocal count-triangulasi, survey dilakukan berdasarkan suara bilou, pengamat melakukannya dalam system triangulasi ( tiga titik pengamatan di lokasi yang berbeda, dengan jarak 300-500 antar titik). Ke tiga titik ini kemudian di ulang selama 4 hari berturut-turut. Untuk mendengarkan dan memperkirakan jaraknya. Asumsinya adalah kelompok yang sama akan bersuara di lokasi yang sama selama empat hari berturut-turut.

Analisis populasi dilakukan dengan menggunan rumus point count yang sama telah digunakan dalam estimasi populasi Bilou sebelumnya ( Setiawan et al 2020; Whittaker et al 1995). Untuk menentukan luasan area, kami menggunakan analisis habitat suitability, yang telah dilakukan, bisa di baca disini : https://swaraowa.blogspot.com/2025/12/dimana-bilou-bersuara-pemetaan-habitat.html

tabel penghitungan populasi bilou Mentawai di tahun 2025

Dari analisis populasi yang kita lakukan, perkiraan populasi bilou di wilayah hutan adat di siberut selatan ( 11 lokasi ) dengan luasan kurang lebih  208.64 km 2 ada kurange lebih 396 individu yang terdiri dari 146 (96-186) kelompok. 

Hasil ini merupakan hasil sementara dari hasil survey yang akan di lakukan di seluruh mentawai,dan dapat berubah berdasarkan informasi terbaru yang di peroleh dari tim lapangan yang telah, sedang dan akan melalukan survey ke lokasi-lokasi yang lain di Kepulauan Mentawai. Untuk diskusi terkait dengan hasil analisis ini silahkan hubungi swaraowa @ gmail.com.