Tuesday, June 28, 2022

Gerakan sains warga dalam pencarian raja-udang kalung-biru

 Oleh : Imam Taufiqurrahman

Raja-udang kalung-biru oleh Siswanto_2022

Lebih dari 50 orang terlibat sebagai tim survei raja-udang kalung-biru (Alcedo euryzona). Terbagi dalam beberapa tim, mereka menyusuri lima sungai di wilayah Pekalongan guna mencari burung berstatus kritis  tersebut, mengamati habitatnya, dan mencatat perjumpaan berbagai jenis burung lain. Kegiatan SwaraOwa yang didukung oleh Asian Species Action Partnership (ASAP) dan OrientalBird Club (OBC) ini jadi wujud nyata gerakan sains warga atau citizen science.

Sebelum survei berjalan, warga asal tujuh desa sekitar hutan Petungkriyono, Doro, dan Lebakbarang mengikuti pelatihan identifikasi burung dan teknik survei. Pelatihan tersebut dilaksanakan di Desa Mendolo pada 11-12 Maret, dilanjutkan di Desa Pungangan (25 April), Desa Kayupuring (27 April), dan Desa Sidoharjo (26 Mei).

Pelatihan Pungangan, 25 April 2022

Peserta pelatihan Kayupuring, 27 April 2022

Sesi ruang pelatihan di Sidoharjo, 26 Mei 2022

Dalam pelatihan, warga dibekali pengetahuan tentang pengenalan jenis raja-udang kalung-biru, identifikasi, dan ciri-ciri yang membedakannya dari jenis raja-udang lain. Terkait teknik survei, para warga diperkenalkan dengan aplikasi Google Earth yang jadi panduan dalam penyusuran menuju titik-titik pengamatan. Sebagai gambaran, survei dijalankan dengan membagi sungai dalam ruas-ruas pengamatan berjarak 1 kilometer. Dalam tiap ruas, terdapat lima titik pantau yang masing-masing berjarak 200 meter. Dua pengamat akan ditempatkan di tiap titik pantau dan melakukan pengamatan secara serentak selama satu jam.

Selain memastikan keberadaan raja-udang kalung-biru, pengamat diminta untuk mencatat kondisi habitat, jenis burung lain yang terpantau, serta aktivitas manusia yang dijumpai. Semua informasi ini dituliskan dalam sebuah lembar data.

Simulasi survei di Mendolo, 11-12 Maret 2022

Situasi survei di Welo, Juni 2022


Hingga awal Juni, 29 kilometer dari total sekitar 37 kilometer ruas sungai telah dikunjungi. Terdiri dari 10 kilometer di Sungai Welo, 6 kilometer di Sungai Pakuluran, 5 kilometer di Sungai Blimbing (termasuk Sungai Siranda), 2 kilometer di Sungai Sengkarang (termasuk Sungai Kumenyep), dan 6 kilometer di Sungai Wisnu.

Hasil sementara survei terbilang sangat memuaskan. Raja-udang kalung-biru sebagai target berhasil dijumpai di dua sungai, yakni Welo dan Wisnu. Perjumpaan di Sungai Welo terentang dari elevasi 308-715 meter. Sementara perjumpaan di Sungai Wisnu tercatat pada rentang elevasi antara 638-776 meter menjadi catatan baru sebaran raja-udang kalung-biru.

Perjumpaan di Sungai Wisnu yang berada paling barat ini cukup mengesankan. Sebelumnya, tim Wisnu yang terdiri dari warga Desa Mendolo telah menyusuri 4 kilometer ruas sungai dalam tiga kunjungan. Namun, warga yang tergabung dalam Paguyuban Petani Muda Mendolo tersebut tidak menjumpai satu pun raja-udang kalung biru. Baru pada 24 April, tim berhasil mencatat kehadiran dua individu, terdiri dari satu jantan dan satu betina.

Siswanto dari Desa Mendolo

Situasi lokasi survei di Sungai Wisnu, April 2022

Hal yang membanggakan, betina yang teramati berhasil terdokumentasi dengan sangat baik oleh Siswanto Abimanyu, warga Dusun Mendolo Kulon. Sis, begitu ia biasa disapa, berada di titik pantau bersama rekannya M. Risqi Ridholah. Lebih dari setengah jam mereka di lokasi, saat tiba-tiba seekor betina datang dari arah hilir. Burung tersebut bertengger tepat di hadapan mereka, dalam jarak hanya sekitar 3 meter. Hanya beberapa detik saja hingga kemudian betina tersebut terbang ke arah hulu. Beruntung Siswanto sigap memotretnya dengan sangat baik.

Perjumpaan disertai bukti foto tersebut menjadi capaian besar dalam survei. Tak hanya itu, dari diskusi tiap usai pengamatan, para anggota tim saling berbagi informasi hasil temuan di titik mereka. Telah lebih dari 90 jenis burung yang tercatat, di antaranya merupakan jenis penting dan terancam punah, seperti elang jawa (Nisaetus bartelsi), julang emas (Rhyticeros undulatus) atau kacamata biasa (Zosterops melanurus). Beberapa hasil pendataan burung yang dilakukan kemudian dikirimkan ke aplikasi Burungnesia sebagai bentuk kontribusi warga Pekalongan pada sains dan konservasi burung di alam.

Wednesday, June 22, 2022

Yang Muda yang Berkarya, Melestarikan dan Mengembangkan Potensi Desa

 oleh : Sidiq Harjanto

Durian, salah satu potensi wana-tani Desa Mendolo

Generasi muda memegang peran penting dalam membuat inovasi dan perubahan dalam banyak hal, termasuk dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA). Generasi muda memiliki energi yang besar dan didukung kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo telah mencoba mengambil peran dalam pengelolaan SDA di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan.

PPM Mendolo sendiri merupakan sebuah komunitas yang mewadahi para pemuda-pemudi di Desa Mendolo yang memiliki perhatian dalam pengelolaan hutan dengan core bussiness wanatani (agroforestri). Komunitas ini telah didirikan sejak 18 Agustus 2019 dan telah menjalankan berbagai kegiatan, antara lain: rintisan usaha kopi dengan merek ‘Kopi Batir’, unit persemaian aneka tanaman komoditas wanatani, dan pendataan flora-fauna.

Kegiatan Pengamatan Burung di Mendolo

Pada tanggal 14 Juni 2022, Swaraowa memfasilitasi PPM Mendolo untuk membentuk kepengurusan baru dan merancang program yang akan dijalankan selama tiga tahun ke depan. Swaraowa berkepentingan untuk mendukung kegiatan PPM Mendolo agar bisa berkolaborasi dalam membangun skema pengelolaan SDA secara berkelanjutan di kawasan penyangga habitat owa jawa.

Cashudi (31) terpilih secara aklamasi untuk memimpin PPM Mendolo periode 2022-2025. Sebagai koordinator utama, Hudi –panggilan akrabnya- bertanggung jawab atas jalannya program-program komunitas ini. Ada dua tema besar dalam visi-misinya, yaitu: inovasi wanatani dan konservasi. Untuk membantu kinerja kepengurusan, telah dibentuk pula perangkat-perangkat kelembagaan meliputi: sekretaris, bendahara, sie konservasi, sie pertanian peternakan, sie produksi, sie promosi publikasi, dan sie humas.

Melalui musyawarah anggota kali ini juga terungkap bahwa tantangan kedepan bagi PPM Mendolo masih cukup berat. Mulai dari menata usaha-usaha yang telah berjalan sampai dengan memunculkan inovasi-inovasi baru dalam rangka mengoptimalkan potensi desa.

Pertemuan  PPM Mendolo


Usaha kopi yang telah dijalankan selama tiga tahun masih terhambat kendala minimnya modal, infrastruktur pengolahan, dan peralatan-peralatan produksi. Pada pertemuan ini, dihasilkan rumusan tata kelola produksi yang diharapkan bisa mempermudah kinerja tim produksi. M. Ridho (29 th) selaku koordinator produksi kopi, memastikan bahwa usaha kopi yang dijalankan cukup menguntungkan, tetapi skalanya perlu terus ditingkatkan. “Diharapkan peran aktif anggota untuk membantu proses produksi dan pemasarannya,” katanya saat memaparkan rencana kelanjutan usaha Kopi Batir.

Bisnis kopi yang telah dijalankan Ridho dan teman-temannya di PPM Mendolo ini ternyata berdampak signifikan. Dengan peralatan dan modal yang serba terbatas, mereka mampu mengubah tradisi minum kopi di kalangan masyarakat Mendolo. Kini, para warga yang nota bene merupakan petani kopi, tidak lagi mengonsumsi kopi kemasan pabrik. Mereka memilih untuk menyangrai kopi dari kebun mereka sendiri menggunakan mesin rakitan yang dibuat Ridho. Hal ini membuktikan bahwa usaha inovatif sekecil apapun dengan segala keterbatasannya mampu memberikan efek yang melebihi ekspektasi.

Bunga Kayu Babi, penyedia nektar di hutan Desa Mendolo


Akhir Januari lalu, PPM Mendolo telah membuat inovasi dalam mempromosikan durian sebagai salah satu potensi unggulan desa. Melalui program trip wisata grup kecil, komunitas ini mengundang para durian enthusiast untuk datang ke Mendolo dan merasakan langsung atmosfer musim puncak panen durian. Tentu saja, para peserta trip bisa menikmati aneka cita rasa buah tropis itu sepuasnya. Dikombinasikan dengan aktivitas fotografi burung, trip ini diapresiasi dengan sangat baik oleh para peserta. Trip durian ini nantinya diupayakan bisa dilakukan rutin setiap tahun, tentunya dengan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.

Budi Santoso (31) yang memiliki minat besar dalam pengembangan birdwatching (pengamatan burung) sebagai atraksi wisata minat khusus menuturkan bahwa mulai banyak peminat wisata ini, tetapi PPM selaku pengelola mesti memastikan kesiapan pemandu dan paket-paket yang ditawarkan. Dari sisi potensi jenis-jenis burung yang diincar pengamat dan fotografer, Mendolo menyimpan banyak jenis potensial. Hanya saja, perlu dipastikan titik-titik di mana burung-burung itu mudah dijumpai.

Owa jawa di hutan Mendolo

Pada tema konservasi, PPM Mendolo masih akan fokus pada pendataan potensi flora-fauna dan pemetaan serta pemeliharaan mata air di wilayah desa. Rohim (37) selaku Koordinator Sie Konservasi akan mengupayakan agar PPM Mendolo bisa menjadi penggerak kesadaran masyarakat dalam isu-isu konservasi seperti perburuan satwa, kelestarian mata air, dan permasalahan sampah. “Kita mulai dengan memberikan contoh yang baik kepada masyarakat,” katanya.

PPM Mendolo berupaya menyelesaikan permasalahan-permasalahan lingkungan dengan memberikan alternatif pemecahannya. Misalnya dalam hal limbah ternak. Selama ini, limbah ternak yang dihasilkan para peternak sapi nyaris tak termanfaatkan dan dikhawatirkan malah mencemari sungai-sungai yang masih bersih. Sebagai inovasi dalam pengelolaan limbah ini, Sholeh Widiantoro (22) mengusulkan usaha pengolahan kotoran ternak untuk dijadikan pupuk. Tak hanya sekadar usul, dia menawarkan diri untuk memimpin jalannya usaha ini. “Berdasarkan uji coba yang pernah dilakukan, saya menyimpulkan bahwa potensi pasar pupuk ini cukup besar. Bahkan, dari kalangan petani di dalam wilayah desa sendiri banyak yang berminat,” katanya.

Elang jawa, fauna langka hutan Mendolo

Mendolo sebagai desa penghasil madu mulai merasakan dampak lingkungan dari pembalakan liar yang pernah terjadi sekira dua dasawarsa yang lalu. Semakin langkanya kayu babi (Crypteronia sp) dikeluhkan oleh para pemanen maupun peternak lebah madu. Jenis pohon hutan tersebut merupakan sumber pakan utama bagi lebah-lebah Apis dorsata maupun lebah nirsengat (Heterotrigona itama) di Mendolo. Semakin langka kayu babi berimplikasi pada semakin berkurangnya hasil panen madu dan semakin menjauhnya sebaran koloni lebah liar dari kawasan permukiman sehingga semakin menyulitkan pemanenan. “Selain tanaman-tanaman produksi, kami juga akan membibitkan pohon pucung untuk konservasi mata air, dan kayu babi untuk pengayaan pakan lebah,” papar Restu (28) yang memimpin divisi pembibitan.

Selama tiga tahun berkiprah, kegiatan PPM Mendolo masih didominasi kalangan pemuda. Menjadi tantangan lain untuk menarik minat para pemudi untuk ikut terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan komunitas ini. “Para pemudi masih mengalami kendala karena rata-rata kegiatan rapat-rapat PPM dilakukan pada malam hari sedangkan jarak antar dusun cukup jauh dan aksesnya sulit. Hal ini menjadi kesulitan bagi mereka,” kata Hudi yang masih memikirkan solusi untuk memecahkan permasalahan itu.

Tiga tahun ke depan akan menjadi pembuktian bagi Hudi dan kawan-kawannya di Mendolo untuk memberikan alternatif baru nan segar bagi pengelolaan SDA desa secara berkelanjutan. Selamat berkarya, PPM Mendolo! Salam Lestari!


Friday, May 20, 2022

World Bee Day 2022: dari Anton Jansa sampai konservasi hutan habitat owa jawa

 Oleh : Sidiq Harjanto



Pada tahun 2017, Slovenia mengajukan sebuah proposal usulan untuk memperingati Hari Lebah Dunia (World Bee Day) setiap tanggal 20 Mei. Tanggal tersebut merupakan hari kelahiran tokoh bernama Anton Jansa (1734-1773), seorang peternak lebah legendaris asal negeri balkan tersebut. Jansa telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya bagi pengembangan budidaya lebah. Beberapa prinsip penting budidaya lebah dan sistem pengelolaan apiari modern lahir dari tangan dinginnya.

Pada akhir 2017, PBB menerima usulan tersebut sehingga mulai 20 Mei 2018, masyarakat dunia memperingati Hari Lebah Dunia. Hari ini merupakan tahun kelima perayaan tersebut, mengambil tema “Bee Engaged: Celebrating the diversity of bees and beekeeping systems.” Momen ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya keanekaragaman jenis lebah dan variasi sistem budidayanya. Juga mengingatkan kita semua mengenai ancaman dan tantangan yang dihadapi lebah seperti: hilangnya habitat, perubahan iklim, dan pencemaran lingkungan.

Harus diakui, peran Slovenia bukan saja dalam mewujudkan peringatan Hari Lebah Dunia, tetapi juga dalam upaya pengembangan praktik-praktik budidaya lebah yang berkelanjutan. Slovenia sendiri, sejak abad ke-7 hingga saat ini memiliki reputasi yang sangat baik dalam bidang perlebahan. Di sanalah berbagai teknik budidaya lebah madu berkembang. Keuletan para peternak membuat lebah Apis melifera carnica (lebah karniola) sebagai subspesies asli Slovenia menjelma menjadi salah satu lebah madu paling unggul.

Ada beberapa prinsip mendasar dalam praktik budidaya lebah oleh masyarakat Slovenia: berdampingan erat dengan lebah, gaya hidup berkelanjutan, dan produksi pangan lokal. Prinsip-prinsip itu mengantarkan negara berpenduduk 2,1 juta itu menjadi leader dalam budidaya lebah. Slovenia adalah negara dengan jumlah peternak lebah dengan jumlah fantastis dihitung secara perkapita. Kantor Statistik Slovenia mencatat bahwa nyaris lima di antara seribu orang warganya adalah peternak lebah!

Jansa, selain mewariskan teknik budidaya modern juga memberi contoh sebuah relasi indah antara manusia dengan lebah. Ia yang memiliki talenta melukis menggunakan kotak-kotak lebah sebagai media berkreasi, menjadikannya media untuk lukisan indah berwarna-warni. Hingga sekarang, kotak-kotak berhias lukisan itu masih menjadi tradisi bagi peternak lebah di sana. Sebuah praktik yang unik dan menggembirakan ketika budidaya lebah tidak saja berhenti pada tataran teknis, tetapi merentang ke spektrum yang lebih luas.

Lalu apa yang bisa kita ambil dari kisah Anton Jansa, Slovenia, dan Hari Lebah Dunia? 

Bagi Swaraowa, ada kesan emosional tersendiri bahwa pekerjaan kami dalam pengembangan perlebahan memiliki rentang waktu yang beriringan dengan sejarah Hari Lebah Dunia. Baru sekira lima atau enam tahun kami berpartisipasi dalam pengembangan teknik budidaya lebah bagi masyarakat di sekitar habitat owa jawa di Petungkriyono dan Lebakbarang. Memang usia yang masih sangat muda dalam konteks tradisi budidaya, sangat jauh bila dibandingkan dengan apa yang diwariskan Jansa dan Slovenia. Namun, bukankah setiap perjalanan selalu dimulai dengan satu langkah pertama?

Kegiatan pelatihan lebah di tahun 2017


Kita di Indonesia tidak memiliki lebah karniola, si lebah unggul dari Slovenia. Namun jangan lupa, kita adalah negara yang memiliki keanekaragaman jenis lebah madu (Marga Apis) tertinggi di dunia, salah satunya A. cerana yang telah lama dibudidayakan secara tradisional oleh masyarakat perdesaan di Indonesia. Kita juga memiliki lebih dari 40 jenis lebah tanpa sengat (Meliponini). Itulah ladang besar yang mesti kita garap. Upaya memasyarakatkan budidaya lebah perlu terus digalakkan. Pengembangan teknik pemeliharaan jenis-jenis lebah asli atau native menjadi kunci kesuksesan mewujudkan tradisi, persis seperti yang dilakukan oleh rakyat Slovenia dengan karniolanya.

Budidaya lebah di antara tanaman kopi-hutan


panen madu dari kotak lebah klanceng 


Kami percaya bahwa budidaya lebah bukan saja menjanjikan manfaat ekonomi berupa produk lebah bernilai ekonomi tinggi: madu, beepollen, propolis, lilin; dan juga jasa besar bagi ekosistem: penyerbukan. Lebih dari itu, budidaya lebah bisa merekatkan kembali relasi manusia dengan alam yang kian hari kian merenggang tergerus oleh zaman. Sejak awal, kami telah memiliki keyakinan bahwa tradisi budidaya lebah bisa menjadi media dalam membumikan isu-isu konservasi hutan, termasuk mempromosikan perlindungan dan pelestarian owa jawa.

 Kegiatan bididaya lebah untuk mendukung upaya pelestarian Owa Jawa


Hari ini juga (20 Mei)  tatkala Hari Lebah Dunia bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Jika pada 1908 berdirinya Boedi Oetomo menandai bangkitnya kesadaran untuk memerdekaan bangsa melalui nasionalisme dan persatuan, maka pada saat-saat ini kita bisa pula mengambil momentum peringatan itu untuk membangkitkan semangat mengelola sumber daya alam kita dengan lebih baik. Salah satunya melalui budidaya lebah.

Selamat Hari Lebah Dunia!

Friday, April 15, 2022

Solusi berkelanjutan, infrastruktur jaringan listrik ramah satwa, di Petungkriyono, Pekalongan

 UPDATE _15 April 2022

Oleh : Arif Setiawan

Rekrekan (Presbytis fredericae) dari hutan Petungkriyono

Pembangunan ekonomi dan infrastruktur yang cepat dalam tiga tahun terakhir membawa korban  tewasnya satwa-satwa asli Petungkriyono, termasuk primata-primata yang memang sudah teracam punah, tersengat listrik dari kabel listrik yang tidak berinsulasi ,yang masuk kedesa-desa di tengah hutan.

Petungkriyono adalah   kecamatan bagian dari Kabupaten Pekalongan sudah terkenal karena keberadaan hutan  dan satwaliarnya. Kawasan hutan dengan tipe hutan dataran rendah hingga penggunungan, merupakan yang tersisa saat ini di bagian tengah Pulau Jawa. Sudah seharusnya daerah ini menjadikan ini asset yang lestari , tidak semua daerah memiliki potensi seperti kecamatan Petungkriyono.

Dari 5 jenis primata Jawa dapat di temukan di Kawasan hutan di dua kecamatan ini, yaitu  Lutung jawa ( Trachypithecus auratus), Rekrekan ( Presbytis fredericae), Owa Jawa ( Hylobates moloch), Monyet ekor panjang ( Macaca fascicularis) dan Kukang jawa ( Nyctecebus javanicus). Kawasan hutan yang membentang dari ketinggian 200 meter di atas permukaan laut hingga hutan pegungungan dengan ketinggian 1900 meter, saat ini merupakan kantung hidupan liar endemik, tidak dijumpai di daerah  lain.

Jaringan listrik di antara kanopi hutan Petungkriyono

Pembangunan infrastruktur  terumata jaringan listrik sudah tentu di tunggu-tunggu oleh warga di sekitar hutan yang sudah sejak dahulu memang dalam posisi geografis yang kurang menguntungkan untuk mendapatakan aliran listrik dari pemerintah. Dua dusun yang paling merasakan dampak dari masuknya jaringan listrik ini adalah dusun Sokokembang dan Tinalum, yang sejak dahulu menggunakan listrik mandiri,  sejak tahun 2006 sudah ada tenaga surya yang digunakan masing-masing rumah, namun karena kondisi cuaca dan topografi khas pegunungan, panel-panel surya ini tidak dapat mengumpulkan energi matahari yang cukup, ditambah kemampuan aki untuk menyimpan juga semakin lama semakin singkat, sepertinya sudah tidak ada lagi yang menggunakan tenaga surya.

PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro), tahun 2009 pemerintah provinsi jawa tengah memberikan bantuan pembangkit listrik tenaga air untuk dua dusun tersebut, hingga tahun 2016, listrik tenaga air ini menggunakan turbin pembangkit yang ada di Sungai Welo, di dekat dusun Tinalum. Listrik ini juga melewati Kawasan hutan sepanjang dusun Tinalum dan Sokokembang, kabel yang di gunakan jaringan ini berinsulasi, kabel kawat yang di bungkus lapisan karet yang tidak membahayakan, meskipun melewati rimbunnya tajuk pohon tidak mebahayakan primata yang lewat disekitarnya. PLTMH ini berhenti total beroperasi  tidak menghasilkan listrik tahun 2017 akhir, karena kendala teknis dan lainsebagainya. Kemudian tahun 2019, bersamaan dengan masuknya jaringan listrik negara kedua dusun ini, Dusun Sokokembang mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk PLTMH, yang digunakan untuk di Dusun Sokokembang saja. Menjadi bermanfaat juga untuk warga 2 dusun ini, keberadaan jaringan listrik ini, dapat menggerakan kegiatan ekonomi khususnya konveksi dan usaha kopi yang menggunakan aliran listrik. Baca laporan disini tentang manfaat pembankit listrik tenaga air yang ada di Sokokembang : https://jateng.idntimes.com/news/jateng/dhana-kencana-1/peduli-konservasi-dari-pemanfaatan-energi-di-hutan-petungkriyono

Lutung Jawa  mati tersengat listrik di hutan Petungkriyono

Lintasan satwa primata, dilalui jaringan listrik terbuka bertegangan tinggi
 

Mulai masukknya jaringan listrik negara inilah, bencana untuk primata-primata ini mulai terjadi, mati tersengat, menggelantung di kabel listrik jaringan terbuka. Kami mencatat kematian-kematian primata karena tersengat listrik ini di tabel berikut , sejak jaringan listrik  masuk,  sejak tahun 2019 sudah ada 6 primata mati tersengat listrik, dari kabel yang tanpa isolasi tersebut. Laporan-laporan tentang matinya primata karena jaringan listrik ini dapat di baca di berita ini : https://radarpekalongan.co.id/119342/gegara-kesetrum-primata-langka-ini-mati/ hingga yang terbaru minggu ini ( 2 Agustus 2021) satu lagi primata mati, Rekrekan (Presbytis comata) yang juga dilindungi dan terancam punah statusnya. Dan catatan kami berdasarkan pengamatan di lapangan dan laporan warga ada di tabel berikut ini :

Tabel (data kematian primata di Petungkriyono karena tersengat listrik )

no

Bulan/Tahun

Jenis Primata

1

Juni/ 2019

Rekrekan  (Presbytis comata)

2

Desember/2019

Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)

3

Januari/2020

Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)

4.

July/2020

Rekrekan (Presbytis comata)

5.

Oktober/2020

Owa jawa ( Hylobates moloch)

6.

Agustus/2021

Rekrekan ( Presbytis comata)

 

update
7.            21 September 2022                      Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
8.            19 November 2022                        Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
9.            6 Februari 2022                            Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
10.          13 April 2022                                Rekrekan  ( Presbytis comata)

Berdasar laporan sebelumnya, PLN pada taggal 4 Februari 2022, kabel listrik sudah di ganti dengan kabel yang berisolasi, di segmen kalibedug-sokokembang, dan welo asri. Kejadian terakhir tanggal 14 April 2022, terjadi di segmen yang belum di ganti kabel berisolasi.


Rekrekan yang mati tanggal 13 April 2022


Solusi Pembangunan Infrastruktur Jaringan Listrik ramah hutan dan satwa.

Kasus-kasus seperti ini sudah banyak terjadi di negara-negara berkembang, di berbagai negara, dan merupakan bentuk fragmentasi habitat, yang menimbulkan ancaman serius untuk kepunahan satwa-satwa arboreal, seperti jenis-jenis primata.Jaringan listrik murah dipilih untuk  dapat menjakau jauh kedalam pelosok-pelosok wilayah dengan topografi yang sulit di jangkau. Konsekwensinya harus mengorbankan satwaliar, dan pertimbangan ekologis sepertinya juga belum menjadi hal yang penting untuk pembangunan.

1.       Menggunakan kabel berinsulasi

Tentu hal ini setidaknya menjadi pilihan yang ramah bagi hutan dan hidupan liar, karena salah satu bentuk fragmentasi habitat melalui jaringan listrik dan jalan ini menjadi penyebab dan mempercepat kepunahan. Tentu butuh investasi lebih untuk infrastruktur ini, namun harus di pertimbangkan di lokasi-lokasi yang mempunyai keanekargaman tinggi seperti di Petungkriyono.

Contoh yang di terapkan untuk melindungi Sloth di Amerika Selatan. https://slothconservation.org/what-we-do/power-line-insulation/

 2.       Mengoptimalka PLTMH, salah satu sumber listrik yang terbarukan dan layak disebut “clean energy” sudah terbukti sangat membantu warga dan ramah satwaliar, tidak ada korban satwaliar sejak masukknya di Sokokembang dan Tinalum, hanya saja butuh perawatan dan dukungan kapasitas kelembagaan pengelolaanya, 2 pembangkit yang ada sekarang tidak berjalan lagi karena masalah tersebut. Sebenarnya nilai penting sungai, hutan dan aliran airnya dapat dioptimalkan dari penggunaan yang berkelanjutan ini. Baca laporan tentang PLTMH ini akhir tahun lalu masih berfungsi optimal di Sokokembang ( https://jateng.idntimes.com/news/jateng/dhana-kencana-1/peduli-konservasi-dari-pemanfaatan-energi-di-hutan-petungkriyono

 3.       Membuat Jembatan Kanopi

Membuat jalur penyeberangan satawaliar yang melintas kabel-kabel listrik terbuka tanpa insulasi. Metode ini sudah terbukti berhasil diterapkan di habitat primata satwaliar terancam punah lainnya.  Beberapa lokasi  dengan kanopi yang masih rapat dapat dibuatkan jembatan artifisial untuk menghubungkan kanopi-kanopi pohon supaya satwa-satwa penhuni pohon ini dapat berjalan melitas. Cotoh yang sudah berhasil di amerika selatan  https://www.ballenatales.com/new-bridge-monkey-capuchin-community/

4.       Menggunakan kabel berselubung pelindung kontak satwaliar

 Kabel-kabel bertegangan listrik tinggi, yang berada di wilayah pergerakan satwliar di beri pelindung berbahan silicon, sehingga listrik tidak dapat merambatkan energinya. Contohnya ada si marketplace ini : https://indonesian.alibaba.com/product-detail/22kv-spiral-silicone-tubing-to-protect-energized-system-from-wildlife-contact-60820300752.html

 Kasus-kasus ini kemungkinan akan dapat terus terjadi lagi apabila tidak ada perhatian dari pihak-pihak terkait, wilayah-wilayah dengan keanekargaman tinggi sudah seharusnya mendapatkan prioritas pengelolaan untuk dapat mempertahankan dan menjaga nilai hidupan liar yang juga menjadi asset daerah. Pembangunan berwawasan konservasi dan berkelanjutan diharapkan dapat di terapkan sekaligus memperkuat nilai tambah untuk produk-produk yang dihasilkan dari daerah-daerah dengan keanekaragaman tinggi.

5. Membuat jaringan listrik dalam tanah

Membuat jaringan ini tentu sangat mahal dan perencanaan yang matang, sudah ada kajian tentang hal ini. Secara estetika tentu tidak mengganggu keindahan bentang lahan dan tidak menyebabkan satwa arboreal kesetrum. 

 

Daftar Pustaka :

Al-Razi, H., Maria, M. and Muzaffar, S.B., 2019. Mortality of primates due to roads and power lines in two forest patches in Bangladesh. Zoologia (Curitiba)36.

Katsis, L., Cunneyworth, P.M., Turner, K.M. and Presotto, A., 2018. Spatial patterns of primate electrocutions in Diani, Kenya. International journal of primatology39(4), pp.493-510.

Pereira, A.A., Dias, B., Castro, S.I., Landi, M.F., Melo, C.B., Wilson, T.M., Costa, G.R., Passos, P.H., Romano, A.P., Szab√≥, M.P. and Castro, M.B., 2020. Electrocutions in free-living black-tufted marmosets (Callithrix penicillata) in anthropogenic environments in the Federal District and surrounding areas, Brazil. Primates61(2), pp.321-329.

Dittus, W.P., 2020. Shields on Electric Posts Prevent Primate Deaths: A Case Study at Polonnaruwa, Sri Lanka. Folia Primatologica91(6), pp.643-653





Friday, April 1, 2022

Pelatihan Guru dan Fasilitator Budaya Mentawai

 oleh Damianus Tateburuk

Foto bersama peserta di acara pembukaan pelatihan


Malinggai Uma Tradisional Mentawai bersekretariat di Dusun Puro II Desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai – Sumatra Barat. Malinggai Uma Tradisional Mentawai dibentuk pada tanggal  05 September 2014 dan untuk memberikan fasilitasi kepada masyarakat umum dalam hal di bidang seni kebudaya, dan  Konservasi keanekaragam hayati asli Pulau Mentawai.

Salah satu kegiatan tahunan yang di kolaborasikan adalah Fasilitasi Pelatihan Guru-guru Dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai, dan kali ini yang ke dua kalinya di selenggarakan, bekerjasama dengan SWARAOWA, yang didukung oleh Mandai Nature dan Fortwayne Children's Zoo.  Sasaran peserta dari acara tersebut adalah, lembaga sekolah dan lembaga bidang kebudayaan, serta Guru BUMEN (Budaya Mentawai).

Tujuan dari Pelatihan tersebut adalah untuk

1.    Memperkenalkan kepada generasi guru-guru lokal budaya Mentawai terhadap keanekaragam hayati hidupan liar yang ada di Mentawai

2.    Memperkenalkan guru-guru lokal budaya mentawai mengenai keanekaragaman primata di pulau Mentawai

3.    Meningkatkan kapasitas guru-guru sekolah budaya mentawai dan tentang nilai penting primata Mentawai dan upaya pelestariannya.

4.    menerapkan hasil pelatihan yang sudah di terima dan mempraktikannya kepada murid-murid sekolah dan murid sekolah budaya mentawai

5.    Revitalisasi jejaring pegiat konservasi keanekaragaman hayati dan kebudayaan Mentawai.


Penampilan tim penari tradisional dari Malinggai Uma

Pemberian sertifikat kepada semua peserta di akhir acara


Acara pelatihan dilaksanakan pada tanggal 1-4 Maret 2022, berlokasi di dusun Tololago Siburut Barat Daya, yang melibatkan total 29 orang, peserta, narasumber, dan panitia. Adapun peserta yang terlibat diambil dari perawakilan guru-guru sekolah budaya mentawai SMP SD, TK , dan Yayasan dan Lembaga, Organisasi masyarakat setempat.

Lokasi kegiatan diselengarakan di Dusun Toloulaggo Desa Kauturei Kecamatan Siberut Barat Daya Kabupaten Kepulauan Mentawai–Sumatra Barat dan Lokasi Pengamatan Survei Lapangan di Kawasan (Resort Malinggai Uma) Toloulaggo Desa Katurei Kacamatan Siberut Barat Daya Kabupaten Kepulauan Mentawai–Sumatra Barat.

foto bersama peserta di hutan, lokasi pengamatan

peserta mencatat jenis satwaliar yang dijumpai

mengenali jenis pohon di hutan Tololago


 Kegiatan acara pelatihan di ketuai oleh Ismael Saumanuk, dan  dimulai pada tanggal 2 Maret 2022, dan dibuka secara resmi oleh pemerintah desa Katurai, Bapak Karlo Saumanuk, diikuti sambutan-sambutan dari Malinggai Uma Oleh Damianus Tateburuk, dari SwaraOwa oleh Nur Aoliya. Selanjutnya presentasi dari 2 narasumber yang kita undang adalah 1. Bp.Antonius Vevbri, S.Si, M.Sc dari Taman Nasional siberut, menyampaikan tentang n keanekargaman hayati dan upaya pelestariannya di Pulau Siberut, dan upaya . Pembicara kedua adalan Bapak Fransiskus Yanuarius M, dari Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai yang menyampaikan pentingnya  budaya/adat dan pelestarian alam mentawai, dan kegiatan-kegiatan Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai.

Dalam hari pertama pelatihan, selain itu di perkenalkan juga oleh tim swaraowa, kartu permainan Alam dan Budaya mentawai, merupakan kartu permainan ingatan, yang dapat  di mainkan oleh usia anak-anak hingga orang dewasa, berisi tentang keanekaragaman hayati dan budaya Mentawai, yang disusun dalam foto dicetak dalam bentuk kartu. Kartu permainan ini merupakan produk dari kegiatan pelatihan sebelumnya. Dimana salah metode penyampaian pesan dan ilmu pengetahuan dari guru ke anak didik adalah melalui kegiatan permainan interaktif.

Peserta pelatihan juga diberikan buku panduan pengamatan primata dan burung, yang telah disusun dan di publikasikan oleh swaraOwa dan malinggai uma mentawai.

 

foto di depan papan larangan berburu Hutan Tololago


Presentasi  hasil pengamatan peserta kepada peserta lainnya 

Foto bersamaa pengamatan di hutan Tololago


Hari ke 2 dan ke 3 dilakukan pengamatan langsung ke hutan di Tololago, peserta di bagi menjadi 3 kelompok yang bernama (Tim Bilou, Tim Simakobu dan Tim Bilou), masing-masing kelompok mengambil jalur pengamatan yang berbeda. Pengamatan dilakukan dari jam 6.30 pagi hingga jam 11.30 , dan kemudian sesi diskusi dan presentasi dari masing-masing kelompok, mempresentasikan jenis-jenis primata dan burung yang dijumpai, serta menceritakan nilai adat atau budaya terkait jenis satwaliar yang di jumpai, misalnya cerita adat atau fabel terkait satwa tersebut.

Yang di jumpai selam 2 hari pengamatan dan yang dapat terdokumentasikan diantaranya dalam foto-foto dibawah ini.

 







Tuesday, March 29, 2022

Inspirasi dari Bali : RoadTrip SwaraOwa

booth swaraowa Jambore Camper Van Indonesia


Mempromosikan kegiatan pelestarian Owa jawa, dilingkungan pegiat konservasi alam dan primata khususnya sudah biasa  kita lakukan. Namun sebenarnya masih banyak komunitas atau kelompok masyarakat lainnya yang tidak atau belum tahu sama-sekali tentang Owa dan upaya pelestariannya.  

Road Trip, “owa goes to Bali’ , menjadi kesempatan yang berbeda bagi tim SWARAOWA berpartisipasi, tanggal 15-17 Maret 2022, kami berangkat 3 orang menuju jambore Camper Van Indonesia.  Camper van Indonesia ini adalah sebuah komunitas yang berkembang sejak pandemic melanda, salah satu nomadic tourism yang tengah berkembang sebagai salah satu kegiatan wisata dan traveling yang menggunakan kendaraan.


Bali, 15 Maret 2022, kami berangkat  menuju jambore Camper Van Indonesia. Tujuan kami adalah mempromosikan owa jawa dan kegiatan konservasi swaraowa kepada peserta jambore dan dukungan lansung kepada panitia jambore. Perjalan dai Pekalongan, tanggal 14 Maret 2021, yang kami persiapkan adalah produk-produk konservasi dari swara owa, poster, banner,foto-foto  tentang primata dan kegiatan swaraOwa.



Karena pembukaan acara sudah lewat, dan setiba kami disana langsung mengatur both supaya kami dapat mengundang peserta lain untuk datang melihat apa yang kami sajikan. Konsep booth yang menyatu dengan tenda dan kendaraan dengan perlengkapan kamping , menjadi media pameran untuk  menggelar produk menjadi kesempatan untuk mengenalkan owa dan kegiatan konservasi owa.

Hari ke 2 lokasi camping pindah ke gunung, di sekitar danau Buyan di pegunungan di Bedugul,  di lokasi ini kami di sediakan oleh panitia booth khusus untuk menggelar pameran produk dan di beri kesempatan untuk berbagi cerita presentasi tentang swaraOwa dan kegiatan-kegiatannya, serta mengenalkan produk-produk pendukung yang kita bawa di acara ini.


 Bali Urban primate watching, menjadi agenda tersendiri setelah acara penutupan jamboree campervan Indonesia. Ada 2 jenis primata diurnal yang dapat di jumpai di Bali, yaitu Lutung ( Trachypithecus auratus) dan Monyet ekor panjang ( Macaca fascicularis). Kami menuju sangeh untuk melihat monyet ekor panjang, kawasan ini sangat terkenal di masa sebelum pandemi, untuk wisatawan lokal maupun domestic melihat monyet yang berada di tempat suci pura puncak bukit sari, yang di bangun pada abad 17 . Tiket masuk sangeh monkey forest Rp1000 per orang dan parkir mobil Rp 5000. Kami menggunakan jasa pemandu untuk berkeliling lokasi hutan yang di dominasi oleh tegakan Dipterocarpus trinervis. Menurut pemandu ada 3  kelompok ( lebih dari 300 individu populasi monyet ekor panjang yang ada di hutan Sangeh,menurut guide,  ada dua kali pemberian pakan dalam sehari, yang diberikan adalah pisang dan makanan snack, makanan kecil yang sering juga dikonsumsi warga sekitar. Dari pengamatan yang kami lakukan selama pemberian pakan, jenis makanan buah (pisang dan nanas) menjadi porsi terbanyak, sementara makanan kecil snack, masih dalam kemasan plastik juga langsung di berikan. 

Setelah dari sangeh kami meluncur ke wilayah Ubud, ada satau site monkey forest yang cukup populer disini, namun kami tidak masuk ke dalam, yang kami lihat adalah kelompok-kelompok monyet ini sudah terlihat di pemukiman dan hotel, berada di atap rumah kebun dan kolam renang.  Kawasan wisata Ubud waktu ini tidak begitu ramai, padahal sebelum pandemi ubud juga merupakan destinasi favorit untuk wisatawan di bali. Hubungan antara monyet monyet dan manusia di kawasan ini juga menjadi obyek penelitian yang dinamis, hubungan antara manusia dan primata non-manusia ini sudah sejak ribuan tahun ada, dan di lokasi lokasi agama nilai penting monyet juga sangat di hargai sebagai bagian dari keyakinan dan kepercayaan 1.

berkunjung ke Tickettothemoon Head Quarter

Ada yang special dalam promo tour Owa ke Bali, bahwa trip ini telah membuka jejaring konservasi Owa kepada pihak yang sama sekali belum kami kenal,  kami berjumpa dengan tim dari Tickettothemoonhammock, yang memproduksi alat outdoor khususnya hammock, berkunjung ke pabrik dan mendapat cerita istimewa dari orang-orang yang bekerja sepenuh hati untuk mengembangkan sebuah produk. Berawal dari tahun 1996 hingga sekarang kurang lebih 300 orang terlibat dalam memproduksi hammock dan memasarkan di seluruh dunia.

 

Literature :

 1 Schilaci, M.A., Engel, G.A., Fuentes, A., Rompis, A., Putra, A., Wandia, I.N., Bailey, J.A., Brogdon, B.G. and Jones-Engel, L., 2010. The not-so-sacred monkeys of Bali: A radiographic study of human-primate commensalism. In Indonesian primates (pp. 249-256). Springer, New York, NY.