Thursday, February 2, 2023

Kekayaan rasa durian dan perspektif keanekaragaman hayati Desa Mendolo

 Oleh: Sidiq Harjanto & Kurnia Ahmadin

Varian Durian lokal  Mendolo (foto Ikmal, Biolaska)

Tekanan terhadap hutan habitat owa jawa bisa dikurangi dengan mengembangkan ekonomi berkelanjutan. Setidaknya, begitulah yang kami yakini. Pengembangan kopi hutan (kopi yang tumbuh di bawah naungan alami hutan), gula aren, dan budidaya lebah madu telah menjadi “amunisi” bagi Swaraowa dalam mendorong tumbuhnya ekonomi lestari bagi masyarakat sekitar hutan habitat owa jawa. Bentuk-bentuk usaha tersebut dianggap berkelanjutan sehingga selaras dengan upaya konservasi hutan. Ketika kesejahteraan masyarakat bisa terwujud melalui usaha berkelanjutan, maka eksploitasi berlebihan terhadap hutan bisa berkurang.

Di Desa Mendolo, kami mendampingi Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo untuk menjadi motor penggerak pelestarian alam di desanya. Kelompok ini turut berpartisipasi dalam mengarusutamakan upaya pelestarian keanekaragaman hayati (kehati). Pengembangan alternatif ekonomi diwujudkan dalam usaha prosesing pasca panen kopi, pengembangan produk turunan lilin lebah, dan inisiasi wisata minat khusus.

PPM Mendolo secara mandiri telah aktif merintis pendataan potensi avifauna di lingkungan desa, dan pemantauan primata seperti: owa jawa, lutung jawa, dan kukang jawa. Ada satu peluang besar untuk mengembangkan wisata pengamatan hidupan liar (wildlife watching) di Mendolo. Belakangan, jenis wisata ini telah berkembang dengan pesat di dunia. Tak ketinggalan pula, di negara kita.

Kedatangan tim peneliti dari Mahasiswa Pecinta Alam Biologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Biolaska) dan Indonesia Dragonfly Society (IDS) pada medio Januari kemarin menjadi momen istimewa. Kegiatan  utama dua lembaga ini adalah eksplorasi keanekaragaman jenis anggrek, capung, kupu-kupu, herpetofauna, burung,dan primata. Sebuah program yang selaras dengan semangat anak-anak muda yang tergabung dalam PPM. Gayung bersambut, mereka dilibatkan penuh dalam kegiatan selama dua minggu ini.

Eksplorasi kekayaan cita rasa durian Mendolo

Durian telah menjadi komoditi unggulan yang diupayakan oleh warga Desa Mendolo sejak lama, setidaknya di dua pedukuhan. Bisa dikatakan, durian adalah salah satu penopang utama perekonomian warga. Durian Mendolo juga memiliki cita rasa yang unggul. Namun, karena akses jalan menuju desa ini yang belum mendukung, namanya kurang begitu dikenal oleh kalangan pecinta si buah khas tropis ini.

Muncul gagasan dari kaum muda untuk menyusun paket wisata yang menawarkan pengalaman menikmati durian lokal langsung di tempat di mana buah berduri ini dihasilkan. Mendatangkan wisatawan dalam grup-grup kecil menjadi strategi yang dipilih untuk mengakali kendala akses jalan. Wisata minat khusus ini menjadi harapan baru untuk mendongkrak nama Mendolo sebagai salah satu desa penghasil durian berkualitas.

Di sela kegiatan eksplorasi, PPM Mendolo mengajak Biolaska, IDS, dan Swaraowa untuk mendata potensi durian lokal di desa mereka. Hari itu, 15 Januari 2023, kami bersama-sama membedah karakter dan cita rasa buah durian lokal hasil budidaya para petani setempat. Aneka varian durian tersebut didokumentasi dan dicatat karakteristik cita rasanya. Pendokumentasian dan karakterisasi buah ini nantinya menghasilkan sebuah katalog yang bisa memandu para durian enthusiast untuk mengeksplorasi cita rasa durian lokal asli Mendolo.

Pada 24 varian durian yang dijadikan sampel, dijumpai bermacam-macam karakter, baik fisik maupun rasa. Bentuk buah bervariasi, seperti: bulat sempurna, bulat telur, bulat bergelombang, lonjong, hingga bentuk serupa tetes air. Warna kulit buah bervariasi dari warna hijau, kuning, hingga cokelat. Warna buah juga menunjukkan variasi warna seperti: putih, semlasih (putih kekuningan), hingga kuning. Dari sisi rasa buah, bisa ditemukan rasa manis creamy, alcoholic, agak pahit, hingga ketan. Ketebalan daging buah bisa dinilai dari yang tipis hingga yang tebal.

Kami meyakini bahwa eksplorasi cita rasa durian lokal bisa menjadi tawaran menarik bagi para pecintanya sehingga layak dibungkus dalam kemasan wisata. Belajar pada perkembangan komoditi kopi yang menawarkan eksplorasi pengalaman rasa dengan detail-detail yang mengagumkan, maka durian pun punya peluang yang sama. Apalagi jika dikaitkan dengan isu mengenai kehati.

Kehati sendiri dibagi dalam tiga tingkat, yakni: spesies, genetik, dan ekosistem. Sependek pemahaman kami, kekayaan varian durian di Mendolo kiranya bisa menjadi contoh keanekaragaman tingkat genetik. Lantas, bukankah mengapresiasi keanekaragaman varian tersebut bisa menjadi sebentuk upaya mengarusutamakan kesadaran akan kehati?

Keanekaragaman hayati dalam praktik pangan

proses pembuatan katalog tanaman pangan liar (Foto Ikmal, Biolaska


Apresiasi komunitas masyarakat terhadap keanekaragaman hayati bisa tercermin dari praktik pangan mereka. Isu mengenai potensi pangan lokal di Desa Mendolo sudah digaungkan sejak tahun kemarin, tepatnya pada Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober. Masyarakat Mendolo sendiri, mengenali dan memanfaatkan setidaknya 80 jenis tumbuhan dan jamur liar sebagai bahan pangan. Namun, pengetahuan ini bisa hilang jika tidak terdokumentasi dengan baik.

Masih dalam rangkaian kegiatan yang sama, para peserta diajak untuk ngramban, sebuah istilah untuk aktivitas mengumpulkan tetumbuhan pangan yang tumbuh liar di hutan. Setiap jenis tumbuhan diambil sampelnya. Tim Biolaska dan IDS membantu mendokumentasi dan mengidentifikasi tiap spesies.  Hari itu ditutup dengan makan malam istimewa dengan menu-menu yang diolah dari hasil ngramban pagi hingga siang tadi.

proses pengumpulan sampel pangan liar ( foto Ikmal ,Biolaska)


Menikmati olahan pangan liar ( foto Ikmal, Biolaska)

Kehati pangan menjadi isu strategis karena menjadi kunci ketahanan masyarakat desa dalam menghadapi krisis pangan yang masih menjadi ancaman di masa depan. Di sisi lain, diversitas pangan juga membuka peluang munculnya produk bernilai ekonomi. Siapa tahu, di antara belasan jenis jamur hutan ada yang bisa dikembangkan sebagai komoditi baru. Bukan mustahil pula suatu saat blibar pucung/kepayang bisa dijual ke restoran-restoran mahal.

Menuju desa sadar kehati

Dalam perkembangannya, program-program yang berjalan di Mendolo bukan semata-mata ditujukan sebagai tawaran alternatif ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga digadang sebagai katalisator pembangunan desa. Undang-undang No 6 Tahun 2014 Tentang Desa berimplikasi pada perubahan paradigma dari “membangun desa” menjadi “desa membangun”. Artinya, aktor utama pembangunan desa mestinya adalah warga desa itu sendiri. Dalam perspektif kelestarian alam, kesadaran ruang hidup dan kesadaran mengenai sejarah desa perlu dimiliki masyarakat sebagai prasyarat kesuksesan praktik pembangunannya.

Pemahaman bahwa alam merupakan sebuah sistem yang bekerja terus-menerus, saling berinteraksi, sehingga manusia mesti mengenal faktor-faktor biotik dan abiotik beserta interaksi antarfaktor-faktor tersebut. Sebagai contoh sederhana, kita bisa mencermati praktik budidaya durian para petani di Mendolo. Sebagian besar petani di desa ini menggantungkan produktivitas tanamannya pada alam. Hal ini menegaskan pentingnya pengetahuan keseimbangan ekosistem yang akan berefek pada hasil panen yang bisa mereka dapatkan.

Ternyata, untuk menghasilkan hasil panen yang bagus, petani tidak cukup sekadar memberikan pupuk dan melakukan perawatan tanaman. Jangan lupa bahwa petani juga membutuhkan jasa pengendalian hama melalui burung-burung liar yang memangsa serangga, dan juga penyerbukan bunga dari jenis-jenis kelelawar pemakan nektar. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga kehati agar fungsi-fungsi ekosistem tetap terjaga.

Kehadiran tim Biolaska dan IDS membantu kami dalam transfer pengetahuan mengenai dasar dari komponen penyusun ekosistem yaitu keanekaragaman hayati. Untuk menjangkau rentang usia yang lebih luas mengenai transfer informasi ini, pada akhir kegiatan di Mendolo, Tim Biolaska dan IDS melakukan pengamatan kehati bersama dengan anak-anak dan remaja di desa Mendolo. Anggaplah ini sebagai ikhtiar konservasi agar generasi mendatang terus memiliki kesadaran mengenai pentingnya kehati dan keseimbangan ekosistem.

Apresiasi sebesar-besarnya kepada Biolaska UIN Sunan Kalijaga, Indonesia Dragonfly Society, PPM Mendolo, pemerintah desa dan segenap masyarakat Mendolo.

 

Saturday, December 24, 2022

Owa jawa : Mempererat jejaring konservasi tingkat dunia


Bulan November-Desember 2022 SwaraOwa mendapat kunjugan pihak-pihak yang selama ini mendukung penuh pengembangan program konservasi Owa jawa di Jawa Tengah khususnya Kabupaten Pekalongan.

Perwakilan Mandai Nature dari Singapore, berkunjung ke habitat Owa tanggal 18- 22 November 2022, Mandai Nature adalah nama baru dari Lembaga yang sebelumnya membantu swaraowa yaitu Wildlife reserve Singapore yang mendukung program swaraowa sejak tahun 2014, melalui proyek Kopi dan Konservasi Primata.  Tahun 2022 ini swaraowa juga berkolaborasi dengan Chance for Nature dari Jerman yang juga mendukung program-program yang telah berjalan melalui proyek kopi owa dan memberikan input baru untuk monitoring owa jawa dan menjadi pemateri tamu di acara tahunan pelatihan metode survey primata tanggal 12-15 Desember 2022.

menikmati kopi di swaraowa headquarter bersama tim Mandai Nature


Tamu tamu istimewa dari kedua lembaga tersebut berkunjung melihat langsung program yang telah di kembangkan selama ini. Di rumah produksi owa coffee di Yogyakarta, yang menjadi headquartered organisasi tim kopi owa mengenalkan komodities yang di produksi melalui proyek, terutama kopi yang telah di kirim ke Singapura setiap tahun sejak tahun 2016. Mengengalkan tim dan mengenalkan karkter kopi dari beberapa lokasi sekaligus mendiskripsikan rasa dari masing-masing kopi tersebut menjadi kegiatan utama di Yogyakarta.

Darmawan dari ds. Tembelan memjelaskan tentang Lebah madu ( Apis cerana)
 kepada tim Mandai Nature



Tim Mandai Nature dirumah Bp Kepala Desa Tlogohendro


Beralih ke lapangan, di Sokokembang kami menginap di field station swaraowa, yang telah di bangun dan disiapkan untuk mendukung kegiatan lapangan, ditempat ini dapat melihat langsung tempat produksi kopi owa robusta alas, yang di kelola bersama dengan warga.  Produksi gula aren juga sebagian dapat disaksikan lansung di field station swaraowa.

Mengamati primata yang ada di sokokembang sudah tentu menjadi istimewa, karena primata-primata inilah yang menghubungkan swaraowa dan mereka selama ini. Semua primata yang ada diwilayah ini dapat di jumpai lansung, lutung jawa, Owa, Rekrekan dan Monyet ekor panjang semuanya dapat dijumpai langsung oleh tamu-tamu istimewa ini tanpa harus jalan masuk ke hutan melainan pengamatan di sepanjang jalan dari Kroyakan hingga Sokokembang.

tim Mandai Nature melihat lokasi budidaya lebah di desa Mendolo

Christian dari Chance for Nature bersama perangkat Desa Mendolo

Dirk Meyer dari Chance for Nature bersama peserta MSP2022


Berinteraksi langsung dengan orang-orang  dari Petungkriyono dan Lebakbarang yang selama ini terlibat langsung dalam pengembangan kegiatan komoditas hutan dan konservasi. Berkunjung ke Tlogohendro melihat produksi kopi Arabica dan lokasi pembibitan, dan juga melihat budidaya lebah di desa Kayupuring Setipis, dimana pengembangan lebah asli ( Apis cerana) dikembangkan untuk madu lebah yang bernilai ekonomi.

Di Desa Mendolo, bertemu dengan perangkat desa dan melihat kegiatan budidaya lebah klaceng yang sudah sejak tahun 2017 di kembang dan didukung dengan pendanaan dari Mandai Nature.

Kunjungan-kunjungan mitra pendukung ini juga selain memperkuat komunikasi antara swaraowa dan pihak sponsor, juga menambah rasa percaya diri dan bangga terhadap apa yang dimiliki oleh  warga sekitar hutan bahwa apa yang dilakukan selama ini juga diapresiasi oleh orang-orang  dari luar negri. Terlebih lagi kunjunga ini juga setidaknya akan memperkuat narasi konservasi yang selama ini dibangun, mengamplifikasi kegiatan-kegiatan dari habitat asli primata Indonesia, ke dunia luar.

 

Wednesday, December 7, 2022

Symposium Primata Asia ke-8, laporan dari Vietnam

Oleh : Arif Setiawan

Setelah pandemic covid19, inilah konfrence  international pertama untuk yang terkait primata-primata di Asia. Symsposium Asian primate ini untuk ke 8 kallinya di adakan di  fakultas Kehutanan Universitas Vietnam, Hanoi.

Pada kesempatan ini selain saya , dari tim SWARAOWA ada Aoliya yang akan presentasi di symposium ini , dan saya  juga  menjadi salah satu anggota komite scientific,mewakili Indonesia. Sebuah kebanggaan juga dapat berktontribusi untuk komunitas global dari Indonesia. Sejak bulan agustus 2022, informasi tentang symposium ini mulai disebarluaskan, termasuk melaui sosial media. Harapan nya banyak perwakilan dari Indonesia, sendiri sebagai negara di Asia  terbanyak  yang memiliki spesies primata.

Vietnam memiliki 24 jenis primata,mulai dari jenis Kukang ( Lorisiidae), jenis owa ada 6 dan semuanya dari genus nomascus yang berarti berjambul ( crested), dan dari famili Cercopitecidae monyet dan lutung (colobinae), jenis-jenis lutung di Vietnam memiliki warna yang sangat mencolok dan indah. Namun sayangnya hampir semua primata di Vietnam di 90 % dambang kepunahanan, 10 species diantaranya sudah critically endangered.

Seperti kita tahu sejarah kelam perang Vietnam dengan Jepang, Prancis , Cina dan Amerika telah membentuk kultur dan geopolitik yang mempengaruhi keanekaragaman hayati Vietnam sendiri. Vietnam adalah salah episentrum biodiversity hot spot di asia tenggara, namun juga menjadi pusat perdagangan satwaliar dunia. Pekerjaan yang tidak mudah untuk para pegiat pelestari alam di Vietnam. Dan berkunjung ke Vietnam adalah kesempatan melihat langsung situasi dilapangan bagaimana upaya-upaya pelestarian alam, khususnya primata ini dikembangkan.

Ketika pertama kali mendapat undangan ke Vietnam, tentu saja langsung menyambut hangat dan membuat rencana perjalanan untuk primate watching, meskipun kondisi di lapangan tentu akan berbeda . Cat Tien National park, menjadi target field trip sebelum acara inti symposium. Terletak di bagian selatan Vietnam, Taman Nasional ini menjadi target pengamatan kita adalah Nomascus gabrielle ( Yellow cheeked gibbon) dan Black Shanked Douc Langur ( Pygathrix nigripes). Dari bandara Ho Chi Min, perjalanan ke Cat Tien National Park kami tempuh dengan menggunakan taxi, dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam.

di depan pintu gerbang Cat Tien National Park

Yang menarik dari Cat Tien National park, mempunyai logo badak Jawa. Ya subspecies badak jawa  ( (Rhinocero sondaicus annamiticus )pernah hidup di Vietnam, dan tahun 2010 badak terakhir yang hidup di temukan mati, dibunuh oleh pemburu. Oleh pihak berwenang badak ini di temukan telah tertembak dan culanya sudah hilang, cula badak adalah salah satu bahan untuk pengobatan tradisional cina.

jalur pengamatan di Cat Tien National Park

Masuk kawasan TN, hanya membeli tiket 60,000 VND, sekitar Rp 38,000 cukup murah untuk ukuran taman nasional di Indonesia, Karena di kelilingi sungai TN Cat Tien juga merupakan wetland area, penyeberangan sungai menggunakan perahu yang stanby dari jam 7 pagi hingga jam 7 malam. Untuk pengamatan owa, di TN Cat Tien ada biaya tersendiri 200,000 VND, di damping oleh staff TN dan harus menginap, karena harus berangkat pagi hari jam 4.30, dimana biasanya owa bersuara  ( morning call),  kemudian setelah mendengar arah owa bersuara, pemandu akan melokalisir lokasi dimana arah nya, dan berjalan menuju lokasi tersebut. Sangat susah untuk menemukan kelompok Owa ketika sudah hari terang, karena biasanya mereka berada di kanopi teratas dari pohon-pohon dan tidak ada lokasi spotting yang ideal untuk mengamati pohon atau kanopi yang rapat..

Namun kami, tidak memilih opsi ini, kami putuskan untuk trekking sendiri tanpa pemandu di hari pertama, dan jalan di taman nasional ini sudahsangat bagus, karena bisa di lalui mobil dan kendaraan, tapi khusus untuk wisatawan saja.


Black Shanked Douc Langur, jantan dewasa

Black Shanked Douc Langur, remaja


Macaca fascicularis


Perjumpaan primata Vietnam yang pertama kali  adalah dengan Black Shanked Douc lagur ( Pygathrix nigripes), sejenis lutung yang seukuran bekatan kalau di Indonesia, berwarna kombinasi hitam dan putih, dan bagian pahanya hitam mengkilap.  Jenis ini sudah critically endangered statusnya. Seperti lutung pada umumnya yang pemakan daun, jam-jam perjumpaan kita adalah jam istirahat, dimana lutung mecerna daun-daun yang dimakannya. Ada 2 kelompok yang kita jumpai pagi itu, dan sepertiya sudah cukup terhabituasi dengan pengunjung.

Hari ke-dua kami mencoba pengamatan lagi, kali ini menggunakan sepeda yang di sewa di kantor TN. Jalur sepeda sebenarnya cukup nyaman, tapi sepedanya kadang tidak dalam kondisi yang prima untuk dikendarai, mengingat rute yang cukup panjang hingga 9 km lebih. Pengamatan dengan naik sepeda ini juga tidak seperti jalan kaki yang bisa mendengarkan setiap pergerakan di pohon. Namun jarak yang jauh bisa melihat berbagai tipe habitat yang ada di dalam kawasan Cat Tien. 1 kelompok  Monyet ekor panjang ( Macaca fasciularis), 1 kelompok beruk ( Macaca leonina) dan 1 kelompok duc langur, berhasil kita jumpai di pengamatan hari ke-dua.

Acara Symposium

Kultur ilmuwan primata dan konservasionist di Vietnam secara umum sudah cukup maju, terlihat dari banyakknya para ahli primata dari Vietnam yang menjadi panitia acara, dan juga Lembaga-lembaga konservasi internasional, yang turut mendukung kegiatan ini. Acara pembukaan  symposium pada tanggal 14 November 2022, pagi hari waktu Hanoi berlokasi di auditorium  Vietnam university of forestry faculty di buka plenary talk oleh Cristian Roos tentang genomic Asian primates. Menyampaikan keragaman dan sejarah genetic dari jenis-jenis primata asia.

Saya sendiri mempunya jadwal presentasi di salah satu symposium bertema : “ Non human primate interaction and conflict” dengan  empat presenter lainnya, dengan judul presentasi "..." abstract semua presentasi dapat dibaca disini.

Ada satu symposium yang menarik tentang penggunaan drone thermal untuk survey dan monitoring populasi primata di Cat Tien National park, menggunakan komersial drone yang ada di pasaran, teknik pengambilannya malam hari, dengan pertimbangan pergerakan primata yang cenderung diam, dan suhu dimalam hari lebih dingin, disbanding siang hari, sehingga suhu primata dengan mudah terdeteksi lebih panas di sensor camera.

Saya juga menjadi moderator di salah satu symposium, bertema “human  non-human interaction and conflict” dengan 4 presenter.  Kebetulan sekali presentasinya berasal dari Indonesia semua. Yang pertama dari Center for Orangutan Protection, Octaviana Sawitri yang mempresentasikan kasus konflik orangutan di Kalimantan Timur, kemudian Nur Aoliya  yang mewakili swaraowa mempresentasikan Solusi dari kematian primata yang ada di Petungkriyono yang tersengat jaringan listrik. Presentasi ke tiga adalah Jochen Menner, meskipun dari Jerman namun beliau aktif di Prigen Conservation Breeding Ark,Taman Safari yang mempresentasikan perdagangan online primata Indonesia.  Dan yang terakhir adalah Indira Nurul Qomariah dari COP yang juga mempresentasikan illegal primate trade in Indonesia.

Hari Kedua, 15 November 2022, adalah field trip ke Chuc Puong National Park, yang di tempuh kuranglebih 4 jam perjalanan menggunakan bus. Di ikuti oleh semua peserta, dan ini kali ke-2 sya mengunjungi Chuc Puong National Park dan melihat lagi pusat rehabilitasi primata yang ada disini dan juga jenis-jenis satwa terancam punah lainnya. Pusat rehabilitasi primata  EPRC ( Endangered Primate Rescue Center) ini didirikan tahun 1993 dengan tujuan untuk merehabilitasi primata hasil sitaan perdaganggan illegal dan juga mendukung program pelestarian melalui captive breeding, apabila prasyarat pelepasan liar kembali ke habitatnya telah dipenuhi, akan di lepaskan kembali. Jenis-jenis Duc  dan lutung sangat attractive dan warna yang mencolok, bisa membayangkan apabila di alam habitat aslinya, yan beberapa di antaranya berada di kawasan ekstrim sepert karst. Sayangnya kondisi di alam sangat terancam karena perburuan.

Golden Headed langur di EPRC

Ada pusat rehabiltasi dan konservasi reptile, jenis kura-kura dan mamalia lain seperti trenggiling dan carnivor kecil lainnya. Semua fasilitas ini sebagian di antaranya digunakan untuk kegiatan edukasi kepada pengunjung, dimana staff dan keeper yang ada disini dapat menjelaskan kegiatan yang dilakukannya untuk menyelamatkan hidup dari satwa-satwa asli Vietnam ini. Namun seperti di awal saya ceritakan kalau Vietnam ini merupakan episentrum dari perdagangan satwa dunia, merilis satwa-satwa liar ini bisa jadi kepunahan mereka, karena akan di tangkap lagi dan dimakan atau di jual belikan.

Nomascus gabrielle

Nomascus siki

sepasang owa pipi kuning ( Nomascus gabrielle)

Ada dua jenis Owa yang saya jumpai berada di kawasan semi liar di dekat rehabilitasi, karena berada di luar kendang, terlihat seperti di habitat aslinya. Nomascus Gabriele dan Nomascus siki. Berbeda dengan owa di Indonesia, dua jenis owa berjambul ini sexual dicromatism, artinya jantan dan betina berbeda warna bulu rambut, jantan dewasa berwarna hitam dan betina orange. Waktu owa baru lahir owa lahir berwarna orange, kemudian ketika tumbuh dewasa, jantan akan berubah warna menjadi hitam dan betina tetap berwarna orange. 

Kunjungan kedua setelah Chuc Puong National Park ini adalah ke kawasan Van Long Nature Reserve, untuk primate watching di  kawasan wetland karst yang ikonik sekaligus melihat jenis lutung. Sayangnya setiba di lokasi ini hujan sangat deras dan akhirnya acara di batalkan. Sayang sekali, konon katanya inilah tempat primate watching paling  banyak di kunjungi di Vietnam sebelum pandemic. Silahkan googling sendiri foto-foto van long nature reserve ini ya. Dan sekaligus ini menjadi akhir dari kunjungan symposium di Vietnam, karena saya harus balik ke Indonesia esok paginya.

Apresiasi untuk panitia symposium, terutama Three monkeywildlife sanctuary dan mengucapkan terimakasih kepada IUCN SSA  dan Fortwayne Children's Zoo yang mendukung keberangkatan saya dan Aoliya ke Vietnam, sampai jumpa lagi di symposium Asian primate tahun 2024 yang kemungkinan akan dilaksanakan di Indonesia.

 

 



Monday, December 5, 2022

Kekah Watching : Wisata minat khusus untuk melestarikan Primata endemik Natuna

 Oleh : Arif Setiawan

Presbytis natunae- Kekah Natuna

Perjalan primate watching  bulan September 2022 menuju pulau di ujung utara nusantara, Pulau Natuna. Informasi tentang Natuna ini di awali dari expedisi ke natuna pada bulan November 2020. Kami berangkat ke Natuna, dari Pontianak, karena kebetulan ada kegiatan di Ketapang, Kalimantan Barat, kemudian ke Batam. Kurang lebih 1.45 menit penerbangan dari Batam menuju Natuna, tanggal 8 September 2022, pukul 16.20 saya menginjakkan kaki  dan menghirup udara segar bumi Natuna, sebuah pulau yang menjadi impian sejak lama untuk di kunjungi karena keberadaan jenis primata pemakan daun Kekah ( Presbytis natunae). Tujuan kami adalah Desa Mekar Jaya, di Kecamatan Bunguran Barat.  Bang Ahdiani , sudah menunggu kami, beliau adalah lokal hero, yang banyak membantu menyuarakan pelestarian primata asli natuna

Bang Ahdiani langsung mengajak kami ke salah satu lokasi istimewa yang menjadi land mark alami di Kepulauan Natuna, sejarah alam yang terbentuk dari era dinasaurus ada disini,  singkapan batuan granit dengan ukuran yang luar biasa dengan kombinasi bentang alam pantai, pemandangan yang tidak cukup diceritakan dengan kata-kata.

singkapan geologis kala jurasik di Natuna, dengan latar G.Ranai

Menurut penelitian geologi, Kepulauan Natuna terletak pada tumbukan antara kerak Samudera Hindia dan  paparan sunda  (Sundaland- dimana pada saat itu sebagian besar asia tenggara masih jadi satu daratan)  pada zaman Jurassic kira kira 200 juta tahun yang silam, yang nampak sekarang  adalah  singkapan batuan  granit  yang kokoh dan spektakuler di pantai-pantai di Pulau Natuna. Potensi geoheritage dan keanekargaman hayati yang ada didalamnya merupakan sejarah alam yang harus di lestarikan untuk ilmu pengetahuan dan warisan kekayaan alam generasi selanjutnya.

Terkait dengan Kekah Natuna ( Presbytis natunae) mari kita coba runut sejak kira-kira dari 6000  hingga 20.000 tahun yang silam, ketika sebagian besar  wilayah asia tenggara ini masih berupa daratan, bernama Sundaland .  Kemudian kalau kita melihat jaringan sungai purba saat itu, Natuna berada pada sekitaran sungai purba  Molengraff, sesuai dengan nama peneliti geologi dan penjelajah alam Gustaf Frederic Molengraff dari Belanda yang mempelajari sungai-sungai purba di dataran sudanland pada tahun 1800an. Sudah tentu kawasan ini adalah salah satu  pusat keanekargaman hayati bumi waktu itu. Perubahan iklim global dan vegetasi yang terjadi dalam ratusan kali siklus tentu membuat yang tidak dapat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan menjadi mati atau punah. Bukti-bukti sejarah alam tersebut yang kini kita coba rangkai  untuk merekonstruksi peristiwa yang terjadi.

Untuk melihat perubahan daratan menjadi lautan pada saat itu dapat dilihat disini:

Sundalan dan perode glasiasinya

https://atlantisjavasea.files.wordpress.com/2015/09/sundaland-in-the-last-glacial-period.gif

Ketika itulah diperkirakan ketika jaman dinosourus punah mamalia termasuk jenis-jenis monyet pemakan daun seperti Kekah menyebar dari daratan utama benua Asia  hingga menghuni dataran luas Sundaland. Hingga ke jawa, Kalimantan, dan Sumatra. Proses naik turunnya muka airlaut di kawasan ini diperkirakan terjadi dalam waktu berulang-ulang , merubah vegetasi dan iklim dari hutan dan padang rumput juga dalam periode waktu hingga 2 juta tahun. Speciasi atau penyesuaian dengan kondisi lingkungan yang ada, evolusi membentuk ciri khas berbeda dari masing-masing jenis-jenis primata khususnya Presbytis di kawasan sunda yang sudah terpisah-pisah menjadi Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Perbedaan  ciri-ciri morfologi dari warna rambut, ukuran tubuh, tengkorak dan suara, hingga saat ini yang digunakan sebagai dasar penentuan taxonomi kekah, dengan jenis Presbytis lainnya di pulau lainnya, Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil sekitarnya seperti Bintan, Singapura, dan semenanjung Malaysia.

Mantau Kekah, inisiasi dari Mekarjaya, Bunguran Barat Natuna


Melihatnya langsung hidup di habitat alam, “lifer” menjadi sebuah prestis tersendiri untuk pengamat primata, dan Kekah pada hari itu adalah lifer bagi saya. Melihat pertama kali di habitat kebun karet campur yang dekat dengan kawasan rawa mangrove. Pada jarak kurang lebih 65 meter. Terlihat jelas warna hitam tegas di kepala membentuk seperti mahkota, puggung hitam sampai di bagian tangan dan kaki,  sementara warna rambut putih bersih di bagian dada dan samping dada hinggak ke perut  bagian dalam dan paha bagian bawah , dan lingkar mata putihnya dan bagian hidung dan mulut , terlihat seperti memakai kacamata dan masker.

Kami berjalan menyusuri tepi desa, jalan yang sudah diperkeras, mempermudah pengamatan dan sepertinya Kekah di Mekar jaya aini sudah relatif terhabituasi, artinya tidak terlalu takut dengan keberadaan manusia. Kelompok pertama yang kita jumpai ada sekitar 3 individu. Beberapa meter kemudian kami menjumpai lagi, masih di kebun campur karet dan pohon kayu alam.



Landscape hutan di Natuna









Dalam satu hari itu kami terus menyusuri kebun hutan di sekitar Mekar jaya, melihat landscape yang lebih luas kondisi habitat dan perjumpaan-perjumpaan dengan kekah selanjutnya semakin mudah dan dekat. Biji pohon karet ternyata menjadi kesukaan kekah di Mekarjaya.

Pada pertemuan kongres primata di Equador tahun lalu, Kekah Natuna ini masuk dalam salah satu yang di pertimbangkan dalam 25 primata paling terancam punah di dunia, karena tidak ada informasi update apapun dari sejak pertama kali specimen ditemukan 86 tahun lalu, hanya ada 3 penelitian tentang Kekah Natuna,(bacalaporan lengkapnya di sini). Baru-baru ini ada satu publikasi  penelitian terbaru untuk Kekah di Mekarjaya  yang menyebutkan estimasi Kekah di 3 tipe habitat di sekitar dusun dengan luasan 1.236, 17 ha ini ada sekitar 928,2 individu Kekah. Penelitian ini dapat di baca selengkapnya disini : https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jmfkh/article/view/52427

 Kami juga melakukan pengamatan malam di Mekarjaya, dan sangat senang melihat Kubung (Galeopterus variegatus) dapat dengan mudah di jumpai. Target kami Kukang sayangnya dalam 2 malam tidak beruntung menemukannya. Yang sangat berkesan di mekarjaya ini adalah masakan lautnya, dan bang Ahdiani Mengajak kami berperahu melihat pulau-pulau kecil disekitar Mekarjaya. Melihat lokasi sea-ranch, pembiakan ikan napoleon di pulau Sedanau merupakan salah satu komoditas ekonomi utama yang sudah di ekspor dari Natuna, dan menikmati sajian kuliner khas natuna kepiting lada hitam.

Sajian kuliner natuna di sela sela kegiatan Kekah watching









Kegiatan Kekah Watching , mantau kekah  merupakan salah satu turunan dari produk penelitian primata, dengan keterbatasan untuk melakukan penelitian yang lebih jauh lagi tentang Kekah Natuna, menyelamatkan specimen hidup di habitat aslinya, merupakan langkah yang nyata. Pengamatan kekah dapat mendorong munculnya kesadaran nilai penting keanekaragaman hayati untuk mempertahankannya di antara gelombang pembangunan infrastruktur dan aktifitas manusia. Pengamatan kekah sudah tentu akan mendorong juga kegiatan ekonomi lokal, kebutuhan penginapan sajian kuliner dan pemandu pengamatan memanfaatkan dan bekerjasama sumberdaya yang ada di sekitar. Untuk jenis-jenis yang tidak banyak orang tahu seperti kekah, kunjungan kunjungan seperti ini akan memotivasi warga sekitar untuk lebih menghargai dan merasa memiliki keberadaan primata. Menguatkan mereka melakukan kegiatan yang meskipun kecil dan sederhana tapi berarti besar buat kelestarian Kekah.

Kekah di balik batang pohon karet

Anak kekah yang masih bayi berwarna putih

Pengamatan kekah juga mendorong peranserta masyarakat umum ( citizen science) dalam ilmu pengetahuan, primate life-listing kegiatan pengamatan dapat digunakan untuk informasi  sebagai dasar dalam pengelolaan populasi  dan habitat Kekah. Harapannya nilai tambah keberadaan kekah di Natuna dapat di optimalkan dalam berbagai hal termasuk ekologi, ekonomi, sosial dan budaya. Kekah natuna, dapat menjadi identitas yang dapat di gunakan secara global.  Kegiatan mengamati Kekah, dapat menjadi pilihan wisata minat khusus di Natuna, diantara pilihan-pilihan wisata yang sudah ada dan berkembang saat ini. Tidak menangkap, tidak memelihara dan tidak mengganggu Kekah dan menjaga habitatnya tetap ada, dapat dilakukan oleh siapa saja secara partisipatif dengan peran di bidang masing-masing.

Mengapa repot-repot mengamati primata? Pertama  kegiatan ini menyenangkan dan menawarkan pengalaman yang berbeda, mendekatkan anda ke alam, beriteraksi dengan warga setempat  disekitar habitat primata yang memiliki budaya dan latar belakang  yang bermacam-macam  yang mungkin tidak akan pernah Anda lihat sebelumnya,  ini akan menyehatkan mental anda ! Terlebih lagi, dengan membagikan penampakan Anda kepada orang lain, Anda dapat memperluas pemahaman ilmiah tentang makhluk unik ini,dan bisa jadi anda laporan anda akan sangat penting bagi ilmu pengetahuan.


Daftar pustaka :

Harrison, T., Krigbaum, J. and Manser, J., 2006. Primate biogeography and ecology on the Sunda Shelf islands: a paleontological and zooarchaeological perspective. In Primate biogeography (pp. 331-372). Springer, Boston, MA.

Thursday, November 24, 2022

Urgensi Kanopi Hutan Bagi Primata Arboreal di Hutan Sokokembang

 oleh : M.Y . Khansa Kharismawan


Apa yang terbersit dalam benak anda ketika melihat beberapa foto diatas? Zebra cross sebagai jalur bagi pejalan kaki menyeberang atau Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang jalurnya terpisah dengan ketinggian tertentu dengan kendaraan bermotor dibawahnya. Kedua gambar tersebut mengingatkan kita akan betapa pentingnya keamanan dan keselamatan pejalan kaki dalam beraktivitas di sekitar jalan raya. Pertanyaan muncul terkait gambar ketiga berupa ranting-ranting pepohonan dan korelasinya terhadap kedua gambar pertama. Apakah gambar ketiga merupakan kondisi hutan sebelum dibangun jalan raya dan segala fasilitasnya? Tentu tidak gambar tersebut merupakan salah satu kondisi kanopi di Hutan Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah. Tepat di bawahnya melintas Jalan Raya Doro-Pekalongan yang menjadi akses menuju berbagai ekowisata di area Hutan Petungkriyono. Ketika melewati jalan tersebut kita dapat melihat berbagai satwa liar beraktivitas di diantara kanopi contohnya adalah lutung jawa (Trachypithecus auratus) dan owa jawa (Hylobates moloch).

Kotoran Lutung dan Kotoran Owa
Lutung jawa dan owa jawa merupakan jemis primata arboreal yang menghabiskan sebagian besar waktu diantara pepohonan. Apa yang akan terjadi apabila konektivitas kanopi  disekitar jalan raya tidak lagi dapat digunakan lagi bagi kedua primata tersebut? Apakah mereka harus mencari konektivitas kanopi lain, turun ke jalan untuk berpindah habitat atau bahkan terisolasi. Walaupun keberadaan jalan tidak memutus konektivitas kanopi secara seluruhnya, pelebaran jalan dan pembangunan fasilitas untuk ekowisata di sekitar area jalan yang tidak berkelanjutan bagi primata arboreal dapat mengancam keselamatan mereka. Ancamannya antara lain tertabrak kendaraan yang melintas, predasi, tersengat aliran listrik, dan rentan tertular penyakit. Penularan penyakit pada primata yang turun ke jalan dan melakukan kontak dengan tanah adalah infeksi Soil-Transmitted Helminth (STH),  cacing dari golongan nematoda  usus yang sifatnya parasit yang siklus perkembangbiakannya melalui tanah. Parasit ini bisa menginfeksi primata-primata yang turun ketanah atau mempunyai potensi bersentuhan dengan permukaan tanah.

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi infeksi STH pada lutung jawa dan owa jawa melalui sampel feses di Hutan Petungkriyono. Hasil yang diperoleh nantinya dapat digunakan digunakan sebagai data pembanding apabila konektivitas antar kanopi di sekitar area jalan semakin jauh dan kontak antara primata arboreal dengan STH semakin sering. Indikasi owa jawa menggunakan akses jalan untuk berpindah habitat belum ditemukan. Berbeda dengan lutung jawa yang memiliki kecenderungan untuk beraktivitas pada strata kanopi yang dekat dengan tanah ataupun diatas tanah. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya bangkai lutung jawa di pinggir jalan dimana tidak ditemukan aliran listrik di area yang sama. Kami menduga lutung jawa tersebut mati tertabrak kendaraan yang melintas. Hasil publikasi selengkapnya dapat dilihat di  https://smujo.id/biodiv/article/view/11023/6152

 

Thursday, October 27, 2022

Kisah dan Kesan para Juara Petungkriyono BirdRace 2022

oleh : Imam Taufiqurrahman


para juara  Petungkriyono Birdrace 2022 katergori umum dan mahasiswa

Wahyudi dan Candra Setyawan Nurwijaya tak menyangka mampu menyabet juara pertama kategori Umum Petungkriyono Bird Race 2022. Mereka datang tanpa persiapan dan bekal pengalaman.

“Teropong dan buku panduan saja dipinjami,” aku Wahyudi yang baru pertama kali mengikuti lomba pengamatan burung. Sementara, Candra punya sekali pengalaman dari mengikuti Sapa Burung Jatimulyo, lomba sejenis yang diselenggarakan pada Maret 2022.

“Lha, pas di Pos Sketsa, saya coba menggambar cekakak jawa, dijawab Candra elang jawa,” jelas Wahyudi sambil tertawa. Candra menimpali, mengatakan kalau sketsa yang digambar oleh rekannya itu memang lebih mirip elang.

Wahyudi (kiri) dan Candra (kanan) bersama Zulqarnain Assiddiqi yang
menjadi pendamping Karang Taruna Tlogoguwo, Purworejo


Seakan turut membenarkan, Wahyudi pun lantas mengakui kalau yang ia gambar sebenarnya tidak banyak memberi petunjuk. “Di sketsanya saya cuma kasih keterangan tulisan kalau warna burung sama seperti warna burung lainnya,” lanjut mantan ketua karang taruna Tlogoguwo itu kembali tertawa.

Namun, delegasi Karang Taruna Desa Tlogoguwo, Purworejo, itu, berhasil mengalahkan tujuh dari sedianya delapan tim lain yang terdaftar. Kunci strategi mereka rupanya dititikberatkan pada kecepatan untuk mengawali start dan merampungkan finish.

“Sing penting gasik,” (yang penting sepagi mungkin) ujar Wahyudi, “ben iso cepet turu.” (biar bisa lebih cepat untuk tidur).

Strategi itu dilakukan karena keduanya datang ke acara dengan sangat kelelahan. Di malam sebelum berangkat, mereka terlibat dalam kegiatan jathilan di desa hingga dini hari dan harus tidak tidur selama perjalanan.

Dan perjuangan terbayar. Mereka mendapat apresiasi langsung dari kepala desa yang bangga atas raihan keduanya. Termasuk apresiasi dari banyak teman dan tetangga di desa. Meskipun, itu diungkapkan dengan heran dan guyon, macam ‘Kok iso menang, kowe nyogok ya?” (Kok bisa menang, kalian menyogok ya?).

Buat Wahyudi dan Candra, keikutsertaan mereka lebih untuk sekadar meramaikan acara, menambah pengalaman dan mengenal kawasan Petungkriyono, serta bertemu dengan para peserta lain yang datang. Berasal dari Purworejo yang masih dalam satu provinsi, mereka cukup terkesan dengan hidangan lokal yang disuguhkan.

Nico (tengah) dan Rio (kanan) menerima trofi dari Direktur  SwaraOwa Arif Setiawan

Bila tim MuLia tampil sebagai juara pertama untuk kategori Umum, tim Ngalor-Ngidul yang mewakili Paguyuban Pengamat Burung Jogja merebut juara pertama di kategori Mahasiswa. Komunitas yang jadi wadah kelompok-kelompok pengamat burung berbasis kampus di Yogyakarta itu diwakili oleh Raden Nicosius Liontino Alieser dan Rio Syahrudin.

Dihubungi terpisah, Nico mengaku tidak menarget juara. “Nggak narget,” akunya, ”malah nggak narget burung, sebenarnya lebih ingin lihat owa.”

Sebagaimana banyak peserta lain, Nico merasa cukup kaget ketika mengetahui format lomba ternyata berbeda dari yang pernah mereka tahu. “Istilahnya kita nggak kosong-kosong banget lah soal bird race,” sebut Nico. Ia menjelaskan, “Selain tanya-tanya ke senior yang pernah ikut, Rio sebelumnya pernah ikut Lawu Birdwatching Competition 2019.”

Meskipun kaget, mereka telah mempersiapkan diri dengan belajar. Diawali dari mempelajari gambaran kawasan hutan Petungkriyono, mereka kemudian mengompilasi catatan jenis dari berbagai sumber dan referensi, macam buku panduan dan Atlas Burung Indonesia.

Malam usai briefing teknis lomba, mereka menyusun strategi. Keduanya mendiskusikan pilihan rute menuju pos-pos yang akan didatangi, menduga-duga tantangan-tantangan yang akan dihadapi pada tiap pos.

“Nggak kebayang sih pos-posnya, saya kira bakal disuruh buat yel-yel,” kata Nico.

Bagi Nico yang juga ketua Paguyuban, Pos Tebak Suara menjadi yang paling menarik. Sementara yang paling seru dan menantang adalah Pos Puzzle.

Saat ditanya mengenai kekurangan dari lomba, Nico menyebut kendala sinyal yang tidak stabil sehingga merasa kesulitan saat mengirim data pengamatan ke Burungnesia. Ia harus berulang kali gagal dan harus mengulang pengiriman data. Mengenai jalannya acara, ia merasa cukup terganggu saat listrik padam berjam-jam di hari pertama, meski bisa memaklumi karena itu terjadi di luar antisipasi.

Namun, Nico mengapresiasi kegiatan tersebut. Sebagaimana Wahyudi dan Candra, Nico merasa ajang lomba seperti Petungkriyono Bird Race menjadi sarana yang baik untuk bertemu dan berbagi dengan teman sesama komunitas.

Pulang dengan menggondol hadiah sebesar tiga juta rupiah, Nico menyebut hadiah itu akan dibagi-bagi. Tak hanya untuknya dan Rio, tetapi juga disisihkan untuk kas komunitasnya.

“Belum tau buat apa, tapi paling nggak bisa buat kas nanti bikin kegiatan,” jelasnya. Berharap saja kegiatan itu berupa syukuran. Makan-makan atas kemenangan yang mereka raih.

Hasil Lomba Petungkriyono Birdrace 2022

 Oleh : Imam Taufiqurrahman

foto bersama peserta dan panitia

Gelaran tiga hari lomba dan sarasehan konservasi Petungkriyono Bird Race 2022 telah usai. Berpusat di area wisata Black Canyon yang terletak di Dusun Tinalum, Desa Kayupuring, rangkaian acara ditutup dengan pengumuman pemenang, Minggu, 23 Oktober.

Di kategori Umum, tim MuLia yang beranggotakan Wahyudi dan Candra Setyawan Nurwijaya mampu merebut juara pertama. Delegasi dari Karang Taruna Desa Tlogoguwo, Purworejo, itu, berhasil mengalahkan tujuh dari sedianya delapan tim lain yang terdaftar.

Masih di kategori yang sama, juara ke-2 diraih tim Butuh Pendamping Hidup. Tim beranggotakan Muhammad Bilal Yogaswara dan Ainaya Nurfadila yang mewakili Simpul Indonesia. Juara ke-3 diraih tim Finding Burung Dulu dari Finding Orchid, terdiri dari Aditya Nurrahma Badri dan Niken Rahmawati. Kedua tim tersebut berasal dari Jakarta.

Juara-Juara Petungkriyono Birdrace


Kategori Umum diikuti beberapa organisasi sosial kemasyarakatan. Selain karang taruna, terdapat kelompok pemuda, kelompok tani hutan, juga Masyarakat Mitra Polhut. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa, meliputi Jakarta, Pekalongan, Purworejo, Klaten, dan Yogyakarta.

Sementara untuk kategori Mahasiswa, juara pertama direbut oleh tim Ngalor-Ngidul, wakil dari Paguyuban Pengamat Burung Jogja. Komunitas yang jadi wadah kelompok pengamat burung berbasis kampus di Yogyakarta itu mengirim Raden Nicosius Liontino Alieser dan Rio Syahrudin.

Posisi juara ke-2 diraih oleh Muhammad Nafis Ufsi dan Ridza Dewananta Subagyo dari tim Haliaster, Mapala Haliaster Universitas Diponegoro, Semarang. Sementara juara ke-3 diraih David Suharjanto dan Haqqul Fata dari tim Bionic, Kelompok Pengamat Burung Bionic Universitas Negeri Yogyakarta. Di pembukaan acara, David didapuk untuk membacakan Kode Etik Pengamat Burung Indonesia yang diikuti oleh peserta yang hadir.

Pengamatan burung oleh peserta

peserta menyelesaikan tantangan di salah satu pos lomba


Persaingan di kategori Mahasiswa menjadi yang paling ketat. Para juara mampu menyisihkan belasan tim lain yang mewakili berbagai organisasi kampus, seperti kelompok pengamat burung dan satwa liar, mahasiswa pencinta alam, maupun himpunan mahasiswa. Mereka berasal dari beragam universitas, sebut saja Universitas Negeri Jakarta, Universitas Nasional, IPB University, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Institut Pertanian Malang, Universitas Negeri Malang, serta Universitas Airlangga.

Seluruh pemenang berhak atas trofi juara dan hadiah senilai total 12 juta rupiah. Selain itu, terdapat penghargaan khusus sebagai Tim Terniat diberikan kepada Rangkong Racing Club dari Mapalipma (Mahasiswa Pencinta Alam Institut Pertanian Malang) yang beranggotakan Arrayaana Artaka dan Ahmad Nizar Zulmi Yahya.

Sarasehan Konservasi



Selain lomba, rangkaian acara diisi dengan sarasehan konservasi. Agenda terbagi dalam tiga sesi.

Sesi pertama menghadirkan Untoro Tri Pamungkas, Adm Perhutani KPH Pekalongan Timur dan Direktur  SwaraOwa Arif Setiawan sebagai pembicara. Sesi ini mengusung tema terkait konservasi di kawasan hutan Petungkriyono.

Sarasehan berikutnya menghadirkan pembicara utama Waskito Kukuh Wibowo dari Birdpacker, Malang, yang memberi paparan tentang ekowisata burung di Indonesia. Kuswoto ketua Welo Asri menjadi pembicara pembuka mewakili salah satu pengelola obyek wisata di Desa Kayupuring.

Pada sarasehan ke-3, Imam Taufiqurrahman dari SwaraOwa mengawali paparan tentang keterlibatan masyarakat tujuh desa dalam survei raja-udang kalung-biru. Sarasehan terakhir yang menyuguhkan tema kontribusi warga dalam konservasi burung itu lalu menghadirkan dua pembicara utama.

Pertama, Kelik Suparno ketua Divisi Konservasi KTH Wanapaksi, Jatimulyo. Ia berbagi mengenai aktivitas kelompoknya dalam menggagas Jatimulyo sebagai Desa Ramah Burung. Per Oktober 2022, program adopsi sarang yang digulirkan kelompoknya semenjak 2017, mampu menjaga 61 sarang dari 15 jenis burung, termasuk burung-burung kicau yang semakin langka, macam sulingan atau sikatan cacing (Cyornis banyumas) dan empuloh janggut (Alophoixus bres).

Tercatat 93 anakan berhasil keluar dari sarang. Program unggulan KTH Wanapaksi tersebut melibatkan 45 pengadopsi, baik individu maupun lembaga dan berkontribusi pada 29 orang pemilik lahan. Dari program, lebih dari 45 juta rupiah dana adopsi terkumpul dan tersalurkan pada beberapa pihak, mencakup RT/RW yang menjadi lokasi sarang adopsi, pemilik lahan, serta KTH Wanapaksi sebagai pengelola.

Sarasehan dipungkasi oleh Swiss Winnasis, penggagas aplikasi Burungnesia. Berbeda dari narasumber lain, Swiss memilih untuk merangkum paparan demi paparan narasumber sebelumnya. Ia berupaya untuk memantik diskusi dengan para peserta guna merumuskan hal-hal yang bisa menjadi kontribusi para pengamat burung bagi konservasi burung.

Swiss mengungkap fakta miris mengenai silent forest, saat satwa menghilang dari habitatnya. Betapa perburuan dan perdagangan burung begitu mengeksploitasi tak terkendali, menghilangkan peran dan fungsi mereka di alam. Hutan hijau lebat Petungkriyono disebutnya sebagai contoh sempurna dari silent forest.

Pria Batu tersebut memberi bukti fenomena hutan Petungkriyono yang sunyi lewat catatan pengamatan yang dihasilkan para peserta sepanjang lomba. Terungkap tak lebih dari 32 jenis burung yang dijumpai para peserta dalam setengah hari pengamatan. Bahkan, umumnya peserta hanya mencatat kehadiran 8-10 jenis saja.

Diskusi berlanjut pada sesi perkenalan dan aktivitas yang dilakukan wakil-wakil peserta. Bahasan mengenai Pertemuan Pengamat Burung Indonesia ke-10 jadi salah satu yang mengemuka. Rencana, forum tersebut akan berlangsung di Jakarta.

Usai tertunda dua tahun akibat Covid, agenda pertemuan itu belum lagi ada kejelasan pelaksanaan. Dalam diskusi, wakil-wakil peserta dari Jakarta kemudian diminta untuk membawa bahasan agenda pertemuan agar disampaikan pada para pengamat burung Jakarta.

Secara keseluruhan, penyelenggaraan Petungkriyono Bird Race 2022 ini mendapat dukungan dan bantuan dari banyak pihak. Asian Species Action Partenrship (ASAP), Oriental Bird Club (OBC), Fort Wayne Children's Zoo, Zoo Ostrava, dan Chances for Nature hadir sebagai sponsor utama. Perhutani menjadi sponsor pendukung dengan menyediakan lokasi transit saat kedatangan dan kepulangan peserta, dana, dan doorprize.

SwaraOwa sebagai penyelenggara acara mendapat bantuan tak ternilai dari berbagai unsur masyarakat warga Desa Kayupuring yang terlibat, terutama warga Dusun Tinalum dan Sokokembang. Selain itu, bantuan dalam kepanitiaan juga diberikan oleh anggota Paguyuban Petani Muda Mendolo, perwakilan mahasiswa Universitas Pekalongan, serta warga dari desa Doro, yang lokasinya berberbatasan langsung dengan hutan Petungkriyono.

Kegiatan lomba dan sarasehan konservasi ini menjalin kerjasama obyek wisata Black Canyon dan Welo Asri yang memfasilitasi tempat penyelenggaraan. Burungnesia dan Birdpacker menyediakan aplikasi untuk digunakan dalam lomba dan juga berbagai doorprize.

Ticket to the Moon menyediakan doorprize utama untuk para peserta. Doorprize menarik lainnya disediakan oleh Owa Coffee, Perhutani serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah. Sementara, Tower Bersama Group memberi layanan kesehatan gratis selama sehari bagi para peserta dan panitia.