Tuesday, July 21, 2020

Owa Jawa : Kopi dan Konservasi Primata

Oleh : A.Setiawan (a.setiawan@swaraowa.org)

Owa jawa (Hylobates moloch)

Kabar terbaru dari habitat owa jawa, minggu ini kami melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda karena pandemi Covid_19. Progam Kopi dan Konservasi Primata yang telah di mulai sejak tahun 2012, untuk mendukung pelestarian owa jawa di wilayah Jawa Tengah. Kopi yang menjadi pilihan komoditas yang dapat menggerakkan roda ekonomi di sekitar hutan habitat Owa memberikan harapan positif, dengan munculnya unit-unit kelompok usaha kopi di sekitar hutan Owa. Perubahan yang Nampak terlihat ketika panen kopi dibanding awal kita mulai project ini, kalau dulu jalan di dusun-dusun di Petungkriyono ini banyak kopi yang di jemur di jalan dengan kondisi kopi yang di jemur campur, sekarang sudah sebagian sudah ada  menjemur biji kopi lebih bersih, setidaknya sekarang sudah ada perbedaan dan peningkatan dalam mengelola kopi. Untuk melihat dan komunikasi lasung dan mendapatkan produk-produk ini dapat berkunjung langsung ke dusun Sokokembang, di Petungkriyono, Pekalongan,  swaraowa headquarter di Yogyakarta atau melalui sosial media owa coffee. 


Proses penjemuran kopi di Sokokembang

Selain peningkatan pengetahuan tentang pengolahan kopi, melalui proyek ini kami juga mencoba melihat kemungkinan pengembangan unit usaha kopi di sektor hulu, melalui penyediaan bibit kopi, selain mengantisipasi produksi di masa mendatang, kegiatan ini juga memberikan dampak positif untuk pengembangan pengetahuan, pengalaman, dan sebagai alternatif pendapatan ekonomi dari produksi kopi itu sendiri. Adanya unit-unit kelola kopi yang tersebar di beberapa dusun di Petungkriyono, saat ini sudah ada alat sangrai kopi yang banyak di gunakan warga sekitar untuk menyangrai kopi untuk dikonsumsi sendiri atau pun di jual kembali. Apresiasi terhadap kopi itu sendiri juga sudah mulai terlihat, bahwa warga juga sudah menghargai kopi mereka sendiri, kemudian mengajak oranglain untuk menghargai kopi mereka yang mereka produksi.

Pembibitan Kopi di Sokokembang yang dimulai tahun 2018

Bibit bibit kopi ini kami kembangkan dari varietas yang sudah ada saat ini, jenis Kopi Arabica  varietas typica, atau di kenal dengan nama kopi jawa dan kopi Robusta. Yang sudah ada sejak jaman Belanda di kawasan ini. Pemilihan jenis ini lebih karena adaptasi yang sudah sejak lama, di kawasan pegunungan Jawa bagian Tengah. Pendekatan yang kami lakukan karena kegiatan ini dalam rangka mendukung kegiatan pelestarian Owa Jawa dan habitat aslinya, kami berkomunikasi dengan para pemburu-pemburu satwaliar di Petungkriyono, mencoba menyampaikan bahwa aktifitas perburuan yang dilakukan tidak akan mendatangkan uang yang membawa kebaikan  dan sudah pasti  juga merusak hutan.


Pembibitan kopi ini selain kami buat di dusun Sokokembang, juga kami buat di dusun Candi, dan tahun ini berhasil memproduksi bibit kopi kurang lebih 1500 bibit kopi yang sudah siap tanam, dan ada kuranglebih 20,000 bibit yang sedang dalam prooses. Bibit ini kami distribusikan ke petani di sekitar habitat Owa Jawa, di wilayah Jawa Tengah dan juga kami gunakan untuk fundrising, di jual untuk umum, dana yang terkumpul dari penjualan ini akan di gunakan kembali untuk kegiatan lapangan. Untuk taham pertama kami mengirim bibit kopi ke Dusun Gunung Malang di Purbalingga, Jawa Tengah. Hutan Gunung Slamet adalah habitat dari primata endemik dan mamalia Jawa 1, 2, 3.  Ada salah satu warga yang dulu juga terlibat dalam kegiatan survey Owa1, dan kebetulan juga mantan pemburu yang mau mengelola dan menanam kopi di lahannya.  Kami juga sempat melihat langsung habitat Owa di Gunung slamet ini, dan lokasi dimana kopi akan ditanam. Ancaman pembukaan hutan untuk perkebunan sepertinya masih ada, meningkatnya industri tanaman sayur di kawasan ini sudah tentu akan memberi tekanan tinggi terhadap tegakan hutan alam yang ada. Aktifitas kawasan penyangga hutan alam, kopi yang di bawa ke dusun Gunung Malang ini harapannya dapat memberikan alternative komoditas yang dapat di kelola bersamaan dengan tanaman pangan lainnya. Sistem budidaya wana tani yang mencampurkan berbagai macam komoditas akan memberikan nilai ekonomi sekaligus mendukung praktik terbaik dari pertanian di kawasan sekitar hutan.

Kawasan penyangga hutan lindung G.Slamet, lereng timur

Aktifitas para pemburu hutan untuk aktif mengelola lahan kopi akan menjadi kesibukan tersendiri yang sudah jelas hasil yang akan di peroleh, daripada harus berburu kehutan tanpa ada hasil yang pasti. Kegiatan berburu yang sifatnya mengeksplotasi sumberdaya alam di gantikan dengan kegiatan ekonomi produktif yang melestarikan hutan.


Daftar pustaka :
1. Setiawan, A., Wibisono, Y., Nugroho, T.S., Agustin, I.Y., Imron, M.A. and Pudyatmoko, S., 2010. Javan Surili: A Survey Population and Distribution in Mt. Slamet Central Java, Indonesia. Jurnal Primatologi Indonesia, 7(2).
2. Setiawan, A., Nugroho, T.S., Wibisono, Y., Ikawati, V. and SUGARDJITO, J., 2012. Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 13(1).
3. Maharadatunkamsi, M., 2017. Profil Mamalia Kecil Gunung Slamet Jawa Tengah. Jurnal Biologi Indonesia, 7(1).

Friday, July 3, 2020

Nyanyian Owa Jawa : diva di tengah rimba

Oleh : Nur Aoliya , email :  nuraoliya@apps.ipb.ac.id

 

Sepasang Owa Jawa

“Emang ada Owa Jawa di Pekalongan?” itu pertanyaan pertama saya saat mendengar program konservasi owa jawa oleh Coffee and Primate Conservation Project atau sekarang lebih dikenal SwaraOwa  di desa sukokembang, kecamatan petungkriyono kabupaten pekalongan tahun 2014. Sampai sekarang tahun 2020 masih ada orang yang mempertanyakan akan hal itu, bahkan orang pekalongan sendiri ada yang tidak tahu kalo ada Owa Jawa di Pekalongan.

Salah satu yang unik dari owa adalah suara atau nyanyiannya, bak sebuah lagu. Baik owa betina maupun jantan dapat bersuara, namun waktu dan tipe suaranya berbeda. Owa jantan cenderung bersuara sebelum fajar sedangkan Owa betina cenderung bersuara setelah terang dan kadang siang hari. Jenis-jenis owa menghasilkan  nyanyian lagu yang keras dan panjang yang sebagian besar dipamerkan oleh pasangan yang telah kawin. Biasanya, pasangan menggabungkan nyanyian ini  (repertoire) dalam interaksi vokal, tepat waktu, dan kompleks untuk menghasilkan  pola duet yang baik.1

Perbedaan waktu bersuara Owa Jawa ini, kenapa seperti itu juga belum banyak yang meneliti. Di dunia hanya Owa dari Jawa dan Owa dari Mentawai dimana antara jantan dan betina tidak menyanyi bersama.

Lebih menarik lagi suara yang dinyanyikan owa betina pada pagi hari yang disebut great call, karena suaranya sangat khas. Suaranya dimulai dengan suara “waa” dengan interval lambat yang semakin cepat sampai ke lengkingan panjang dan diakkhiri dengan interval yang semakin melambat.  Mungkin karena itulah satwa ini lebih dikenal sebagai owa-owa/ uwek-uwek karena suarnya terdengar melafalkan kata tersebut. Suara betina selain khas juga memiliki peranan sangat penting, yaitu sebagai tanda daerah teritorinya. Setiap kelompok owa memiliki area yang digunakan sebagai tempat mencari makan, istirahat, reproduksi, dan segala aktifitasnya. Area tersebut akan dijaga dan tidak akan mengijinkan owa dari kelompok lain untuk memasuki area mereka. Tugas owa betina ini menyiarkan batas-batas areanya melalui suaranya tiap pagi.

Lantas bagaimana owa tau bahwa ini suara betina yang mana? Dan dari kelompok mana? ini menjadi daya tarik saya untuk mepelajari variasi great call owa di sokokembang sebagai skripsi yang didukung oleh Swaraowa. Ternyata setelah saya mempelajari lebih lanjut baik secara literature maupun penelitian langsung setiap suara betina ini memiliki perbedaan. Perbedaanya dapat kita lihat dengan cara memvisualisasikan suara nyanyiannya, dan perbedaan yang utama  dari nadanya, durasinya dan frekuensinya (lihat gambar dan video). Seperti suara manusia yang berbeda-beda sehingga kita bisa membedakan manusia hanya dari suaranya tanpa melihat wujudnya kan? owa jawa juga begitu.

Visualisasi suara 3 individu Owa jawa

Saat ada satu betina yang bersuara maka akan memancing betina lain akan bersuara.  Antar betina yang beda kelompok tidak akan bersuara bersamaan alias bergantian, agar pesan  masing-masing kelompok tersampaikan. Biasanya betina remaja akan belajar bersuara bersama induk betinanya, tapi kadang suaranya masih nanggung atau tidak seharmoni induknya. Owa tidak akan bersuara saat hujan atau malam harinya hujan. Soalnya suaranya akan lebih sulit terdengar oleh kelompok lain dan butuh energi lebih saat hujan.  Jadi dari pada energi terbuang sia-sia untuk bersuara lebih baik digunakan untuk menghangatkan badan. Sama seperti kita kalo hujan juga penginya rebahan ajah, tidak  buang-buang energi.

Demikianlah sebagian fakta unik tentang owa jawa. Mudah-mudahan owa jawa dimanapun khususnya di Petungkriyono akan tetap lestari,  owa membantu regenerasi alami pohon-pohon alam, kita butuh hutan  dan owa jawa sebegai satu kesatuan, menikmati udara segar, air sungai yang deras dan jernih, sumber ekonomi dan  ilmu pengetahuan  yang harus kita rawat dan kelola dengan bijaksana. Menikmati nyanyiannya di hutan setidaknya akan memberikan rasa kedamaian diantara riuhnya suara-suara gemuruh pembangungan anthroposentris , nyanyian Owa seperti diva di tengah belatara, yang menunjukkan bahwa hutan tempat hidupnya masih terjaga. Melestarikan owa jawa dan hutan sama sajah menjamin kehidupan untuk manusia generasi selanjutnya.

 

Daftar Pustaka

1. Geissmann, T. dan V. Nijman. 2001. Calling Behaviour of Wild Javan Gibbons Hylobates moloch In Java, Indonesia dalam Forest (and) Primates. Conservation and ecology of the endemic primates of Java and Borneo. Tropenbos Kalimantan Series


Sunday, June 28, 2020

Beasiswa SWARAOWA : Kopi dan Konservasi Primata

Hutan Sokokembang

Regenerasi peneliti dan pegiat konservasi menjadi salah satu program sebagai bagian dari kegiatan Kopi dan Konservasi primata. Generasi muda dari perguruan tinggi menjadi target peningkatan kapasitas dan mendorong kegiatan ilmiah di habitat Owa Jawa, di Pekalongan. Harapannya informasi ilmiah ini dapat digunakan oleh siapapun untuk belajar, dan menjadi informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengeloaan kawasan hutan habitat owa jawa dan umumnya pengelolaan berdasarkan bentang lahan di Jawa Tengah. Meskipun fokus kegiatan ada di Hutan Sokokembang, namun penelitian-penelitian yang dilakukan juga meluas di habitat Owa Jawa yang ada di wilayah Jawa Tengah lainnya.

kegiatan pengamatan primata, di acara tahunan MSP


Kegiatan penelitian flora dan fauna ini, melengkapi kegiatan pengumpulan informasi ilmiah yang terkait keanekargaman hayati yang ada di habitat Owa Jawa, harapannya dapat memberikan pengetahuan baru dan pengalaman penelitian khususnya bagi para mahasiswa di Jawa Tengah. Acara setiap tahun Pelatihan Metode Survey Primata yang diadakan setiap bulan Oktober, juga menjadi forum pembelajaran, peningkatan kapasitas dan berjejaring untuk regenerasi peneliti primata dan pegiat konservasi.   Tahun ini ada beberapa laporan mahasiswa yang sudah menyelesaikan penelitian di Sokokembang, beberapa diantaranya mendapat dukungan langsung melalui program beasiswa. Yang berikan kepada peneliti-peneliti muda ini untuk melakukan penelitian yang sesuai dengan bidang minat yang diarahkan dari kampus masing-masing.

Berikut ini penelitian-penelitian yang mendapat dukungan langsung melalui program beasiswa SWARAOWA di tahun 2019.

1. A. Kurniawan, K. Baskoro, and J. Jumari, "Komposisi Vegetasi Habitat Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) di Kawasan Wana Wisata Kalipaingan Kabupaten Pekalongan," Bioma : Berkala Ilmiah Biologi, vol. 21, no. 2, pp. 132-138, Dec. 2019. https://doi.org/10.14710/bioma.21.2.132-138

2. I. Herdiansyah, and B. Setiyono, "Pemberdayaan dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan: Studi Kasus Strategi Pemberdayaan Masyarakat Hutan Sokokembang LSM swaraOwa di Kabupaten Pekalongan," Journal of Politic and Government Studies, vol. 8, no. 03, pp. 301-310, Jul. 2019

3. M. F. R. Putra, K. Baskoro, and M. Hadi, "Studi Populasi dan Habitat Owa Jawa (Hylobates moloch Audebert 1797) di Kawasan Wana Wisata Kali Paingan Linggo Asri, Pekalongan, Jawa Tengah," Bioma : Berkala Ilmiah Biologi, vol. 20, no. 2, pp. 154-164, Jan. 2018. https://doi.org/10.14710/bioma.20.2.154-164

4. Widyastuti, S., Perwitasari-Farajallah, D., Prasetyo, L. B., Iskandar, E., & Setiawan, A. (2020). Maxent modelling of habitat suitability for the endangered javan gibbon (Hylobates moloch) in less-protected Dieng Mountains, Central Java. E&ES, 457(1), 012014.

Beberapa laporan ilmiah terbaru yang juga dilakukan di habitat Owa di Petungkriyono namun tidak melalui program beasiswa,kita melakukan pendampingan lapangan dan menyediakan fasilitas alat-alat penelitian camera dan GPS yang kami sediakan untuk bagi siapa saja untuk membantu penelitian dan pelestarian hutan dan habitat aslinya.

1. M. Mardiyana, M. Murningsih, and S. Utami, "Inventarisasi Anggrek (Orchidaceae) Epifit di Kawasan Hutan Petungkriyono Pekalongan Jawa Tengah," Jurnal Akademika Biologi, vol. 8, no. 2, pp. 1-7, Jul. 2019

2.  I. Lestari, M. Murningsih, and S. Utami, "Keanekaragaman jenis tumbuhan paku epifit di Hutan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah," NICHE Journal of Tropical Biology, vol. 2, no. 2, pp. 14-21, Dec. 2019.

 

Kami terus membuka kesempatan untuk mahasiswa, pelajar atau siapapun yang tertarik untuk meneliti, survey ataupun kegiatan terkait pelestarian Owa Jawa, primata, satwaliar , hutan dan pengembangan ekonomi dan konservasi berkelanjutan di wilayah sebaran populasi Owa Jawa di Jawa Tengah, untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi lewat email swaraowa at gmail dot com.


Saturday, May 23, 2020

Merawat Lebah: Matapencaharian berkelanjutan dan Pelestarian Hutan di Mendolo

Oleh : Sidiq Harjanto
Desa Mendolo, Lebak Barang,Kab. Pekalongan


Selain di Petungkriyono, Swaraowa telah memperlebar sayap ke Kecamatan Lebakbarang, dengan fokus kegiatan di Desa Mendolo. Desa ini dikelilingi hutan. Masih ada owa jawa dan jenis-jenis primata lain, termasuk kukang. Swaraowa mulai membuat kegiatan di Mendolo pertama kali di tahun 2015, ketika itu bersama dengan Dinas Kehutanan, Kabupaten Pekalongan, melakukan inventarisasi flora dan fauna dilindungi di Kabupaten Pekalongan,  dan setelah itu mulai sering berkunjung kesana, dan mengembangkan kegiatan bersama warga di Mendolo sejak tahun 2017 dan berjalan hingga sekarang. Desa ini memiliki 4 pedukuhan, sebagian besar warganya hidup dari mengelola lahan hutan dan memanen madu hutan. Karakter masyarakatnya yang sangat dekat dengan hutan menjadi alasan kuat bagi kami untuk menjadikan Mendolo sebagai site kegiatan.
Owa jawa di hutan Mendolo

Pada 2017 kami melakukan penggalian informasi mengenai jenis-jenis lebah madu yang ada di kawasan Mendolo, beserta pemanfaatannya. Dari hasil penggalian informasi tersebut ditemukan 5 jenis lebah madu, terdiri dari 2 jenis lebah bersengat, dan 3 jenis lebah tanpa sengat atau lazim disebut klanceng. Sebagian jenis lebah madu telah dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemanenan madu hutan Apis dorsata dan lebah klanceng (Trigona spp.) dilakukan turun-temurun dan menjadi tradisi yang telah melekat pada masyarakat Mendolo. Hasil riset ini telah dipaparkan pada Seminar Nasional Perlebahan Tropik di Fak Peternakan, September 2019.


Koloni lebah klanceng yang sedang di kembangkan di Mendolo

Dengan informasi tersebut, bisa dikatakan bahwa perlebahan merupakan salah satu potensi besar dari Desa Mendolo. Maka strategi kami selanjutnya adalah melakukan uji coba budidaya khususnya untuk jenis-jenis lebah klanceng. Tahapannya meliputi menentukan lokasi uji coba, menentukan jenis yang ideal, membuat desain kotak budidaya (stup lebah). Langkah selanjutnya memperoleh koloni dari alam, memelihara koloni-koloni dengan  Kriteria jenis yang dipilih antara lain jumlahnya melimpah, produksi madu ekonomis, dan mudah dipelihara. Selama satu tahun uji coba, koloni-koloni lebah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan dan dianggap layak untuk ditingkatkan skalanya.
Hasil uji coba budidaya yang dilakukan di tahun sebelumnya menunjukkan hasil yang cukup baik. Maka pada 2019 kami memutuskan untuk membuat demplot budidaya sebagai pusat pembelajaran bagi masyarakat. Ini menjadi lompatan untuk scalling up meliponikultur di Mendolo. Harapannya dengan adanya pusat informasi perlebahan ini, maka masyarakat akan tertarik dan tergerak untuk melakukan budidaya. Ini akan menjadi langkah awal untuk mengangkat Mendolo sebagai sentra budidaya klanceng. Pada 2019 pula kami fokus pada penggalian informasi mengenai pakan lebah. Ketersediaan pakan lebah menjadi kunci penting dalam budidaya. Ada sekitar 44 jenis tumbuhan hutan yang menjadi pakan bagi lebah. Tumbuhan berbunga menyediakan sumber pakan, baik berupa nektar maupun serbuk sari.
Paguyuban Petani Muda Mendolo sedang belajar menyangrai kopi

Kami menyadari bahwa peran aktor lokal menjadi kunci kesuksesan program SwaraOwa di Mendolo. Antusiasme masyarakat lokal ditunjukkan dengan terbentuknya sebuah komunitas pemuda, yang kemudian menamakan diri sebagai Paguyuban Petani Muda Mendolo. Berdiri pada 18 Agustus 2019, dalam suasana hari kemerdekaan, sekelompok pemuda sepakat untuk mendedikasikan diri bagi pengembangan potensi desa mereka. Melalui diskusi bulanan mereka membangun persepsi dan menumbuhkan cita-cita. Program yang telah mereka jalankan meliputi penguatan kapasitas, partsisipasi dalam berbagai kegiatan, sampai kegiatan produksi. Kini mereka telah memiliki produk kopi dengan brand Kopi Batir. Mereka juga mulai merintis kebun pembibitan guna memenuhi kebutuhan bibit aneka tanaman budidaya bagi kebun-kebun mereka sendiri.
demplot lebah klanceng ds. Mendolo
demplot lebah klanceng ds.Mendolo


Sejatinya 2020 akan menjadi momentum untuk semakin meningkatkan skala kegiatan, namun pandemi Covid-19 telah memaksa semuanya berhenti. Yang bisa kami lakukan saat ini adalah melakukan refleksi terhadap apa-apa yang telah dikerjakan, menjadikannya bahan untuk memulai langkah baru. Situasi ini tentunya memaksa kami memutar otak untuk menyesuaikan diri. Akan banyak modifikasi pada program-program yang telah kami rancang, atau bisa saja akan ada ide segar yang benar-benar baru. Aapapun itu, semangat kami tetap akan menyala untuk terus berkarya bersama masyarakat Mendolo. Semoga pandemi segera berlalu, dan keadaan akan menjadi normal kembali.

Saturday, May 9, 2020

Laporan Terbaru : Sebaran Populasi Bilou ( Hylobates klossii) di Kepulauan Mentawai



Mentawai masih menjadi sesuatu yang berbeda di antara keunikan Sumatera, terutama dari sisi primatanya.  Dan juga tulisan ini saya tujukan untuk mengenang almarhum Dr.Tony Whitten, yang menjadi inisiator di awal pekerjaan ini. Perjalanan pertama ke Kepulauan Mentawai yang masih sangat saya ingat setiap langkahnya, ketika buku “Gibbon of Siberut” menjadi inspirasi untuk berangkat ke Mentawai di akhir tahun 2010.

tahun 2011, tim penulis bersama salah satu Sikeri di ds.Matotonan

Bulan Mei 2020 ini, secara resmi publikasi dari kegiatan saya dan teman-teman di Metawai secara resmi di terbitkan. Menjadi salah satu tulisan ilmiah terbaru di antara jurnal-jurnal ilmiah tentang keanekargaman hayati di Kepulauan yang jaraknya 157 km dari Padang itu.
Publikasi tersebut dapat di akses di journal Biodiversitas,volume 21 No 5 , Bulan Mei 2020. Publikasi berjudul “Distribution survey ofKloss’s Gibbon (Hylobates klossii) in Mentawai Island, Indonesia, merupakan hasil kegiatan penelitian survey di tahun 2010-2012, dan tahun 2017. Tujuan kegiatan tersebut adalah untuk menilai kerapatan, distribusi, habitat dan ancaman untuk Bilou di Kepulauan Mentawai. Kawasan diluar kawasan konservasi , menjadi target lokasi survey, dengan pertimbangan kerentanan, pusat aktifitas manusia namun  memiliki potensi keanekargaman yang tinggi.
salah satu lokasi survey di Siberut

Survey di lakukan dengan kombinasi metode vocal count (berdasarkan panggilan suara bilou)  karena bilou dan jenis-jenis Owa dapat dengan mudah kita ketahui keberadaannya dengan mendengarkan suaranya, dan line transek (perjumpaan langsung) untuk dapat mengetahui komposisi kelompok Bilou dan habitatnya. Tercatat 113 panggilan suara bilou (Morning call) yang terdengar dari 13 lokasi titik pengamatan (Listening Post) dengan kerapata 1.04-4.16 kelompok/km2. 75 data dari total yang tercatat tersebut kita gunakan untuk analisis kerapatanan populasi, kenapa hanya 75 karena ada minimum kriteria jarak yang terdengar untuk metode ini. Total panjang transek yang telah kita lalui dengan berjalan kaki adalah sepanjang 67 km dan berhasil mencatat perjumpaan dengan 35 individu Bilou. Sayangnya survey di Pulau Sipora dan Pagai Selatan tidak mencatat perjumpaan dengan Bilou,suarapun tidak terdengar.
tengkorak primata di Uma Matotonan

Tim dari Uma Malinggai menjadi ujung tombak dalam survey ini, dengan kemampuan lapangan yang tidak diragukan lagi menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini, selain memiliki motivasi yang tinggi untuk pelestarian primata dan budaya Mentawai. Pengalaman survey hingga mempublikasikan tulisan ini adalah pengalaman yang sangat berharga dan bisa di pertimbangkan untuk di terapkan di lokasi lain dengan target species yang berbeda dan latar belakang permasalahan yang berbeda juga. Artinya memberi kesempatan penduduk setempat untuk terlibat langsung dalam upaya pelestarian dan promosi konservasi primata.



Daftar Pustaka :
Setiawan A, Simanjuntak C, Saumanuk I, Tateburuk D,Dinata Y, Liswanto D, Rafiastanto A. 2020. Distribution survey ofKloss’s Gibbons (Hylobates klosii) in Mentawai Islands,Indonesia. Biodiversitas 21:2224-2232

Thursday, April 2, 2020

Dukungan Ostrava Zoo dan Warga Ceko untuk Konservasi Owa Jawa


swaraowa mobile unit

Kopi dan konservai primata adalah proyek yang di inisiasi oleh SWARAOWA yang bertujuan untuk melestarikan Owa jawa melalui kegiatan ekonomi berkelanjutan di sekitar habitat Owa. Kegiatan ini dimulai tahun 2012, dengan dasar penelitian survey populasi dan distribusi Owa Jawa di Jawa Tengah. Salah satu hasil penelitian tersebut adalah mencatat populasi terbesar untuk Owa di Jawa Tengah terdapat di Hutan Petungkriyono, Pekalongan. Prioritas upaya pelestarian dengan peningkatan ekonomi warga sekitar hutan habitat Owa jawa terus di kembangkan hingga saat ini.
Pengembangan pengolahan komoditas hutan, peningkatan kapasitas kelompok-kelompok masyarakat sekitar hutan dan pemasaran menjadi kegiatan utama untuk mendorong keberlanjutan pelestarian Owa Jawa dan habitat aslinya. Sejak tahun 2012 dengan bantuan Ostrava Zoo dan beberapa donor lain sudah memberikan hasil nyata dengan munculnya usaha kopi untuk konservasi Kopi Owa di tingkat lokal hingga pasar internasional.

Tahun 2019 tepatnya bulan September, bekerjasama dengan Ostrava Zoo,  telah digelar charity run, lari untuk tujuan menggalang dana untuk konservasi Owa Jawa. Tujuan penggalangan dana ini adalah untuk mendukung tim lapangan dengan kendaraan operasional yang dapat digunakan untuk kegiatan kampanye edukasi konservasi dan pemasaran produk-produk komoditas dari habitat Owa Jawa.
Acara lari yang digelar tersebut berlangsung sukses,berhasil mengumpulkan dana CZK 200.00 liputan acara lari ini dapat dilihat disini.

Dana ini kemudian secara langsung deserahkan tim swaraowa untuk kendaraan operasional seperti yang dimaksud di awal rencana. Dalam waktu sekitar 3 bulan, kami dapat mewujudkan kendaraan tersebut, dan saat ini sudah digunakan tim  sebagai kendaraan operasional. lihat di youtube https://youtu.be/vAjHCaTEKCg


untuk mendukung kegiatan ekonomi di habitat Owa Jawa

mendukung kegiatan edukasi konservasi 


Acara simbolis penyerahaan bantuan ini dilakukan beberapawa waktu yang lalu oleh perwakilan dari Ostrava Zoo yang di wakili oleh Frantisek Pibirsky dan Bapak Jacub Cerny Deputi Duta Besar Republik Ceko  untuk Indonesia. Namun acara ini tidak bisa mengajak langsung ke lapangan karena dampak wabah COVID_19 ini juga melanda habitat Owa Jawa. Dengan kondisi yang mendadak berubah acara yang sudah direncanakan sebelumnya akhirnya di batalkan dan mudah mudahan akan ada kesempatan lain waktu yang lebih baik.
Perwakilan dari Kedutaan Rep.Ceko dan Ostrava Zoo
Ostrava zoo juga mengirimkan 2000 gelas yang dapat di gunakan untuk perlengkapan minum sehari-hari, gelas ini dapat diperoleh kalau anda berkunjung ke Kopi Owa di Sokokembang  atau belanja produk-produk SWARAOWA seharga minimal Rp 100,000.

Kopi Owa Sokokembang

Jungle bean - Owa Coffee


Atas nama tim SWARAOWA kami mengucapkan terimakasih kepada Ostrava Zoo dan warga Ceko pada umumnya yang ikut acara charity run untuk mendukung pelestarian Owa Jawa . 

" Ahoj Ostravo, dekujeme" !!

Monday, March 9, 2020

Primata dan Durian : Fauna Endemik dan Cita Rasa Asli Mentawai

Oleh A.Setiawan (A.Setiawan@swaraowa.org)

·         Pohon durian juga sangat erat kaitannya dengan budaya Mentawai, sebagai pohon  “Kirekat” dimana kalau orang yang sudah  meninggal  akan di pahatkan gambar tangan dan kakinya di batang durian yang masih hidup dan sebagai tanda, dan biasanya pohon durian dipilih yang paling baik, besar, berbuah lebat, dan tidak boleh di tebang
·         Ada 5 jenis primata yang ada hanya di kepulauan Mentawai yaitu  Joja ( Presbytis potenziani), Bokoi ( Macaca siberu), Siteut ( Macaca pagensis), Bilou ( Hylobates klossii) dan Simakobu (Simias concolor)




Kalau anda penikmat durian, sekaligus hobi jalan-jalan di alam liar, anda harus masukkan Mentawai untuk tujuan wisata minat khusus ini. Kepulauan yang terletak kurang lebih 157 km dari Padang di Samudra Hindia ini menjadi sejarah alam yang harus di pertahankan untuk kita pelajari dan wariskan ke generasi selanjutnya. Ada 5 jenis primata yang ada hanya Kep.Mentawai  yaitu, Joja ( Presbytis potenziani), Bokoi ( Macaca siberu), Siteut ( Macaca pagensis), Bilou ( Hylobates klossii) dan Simakobu (Simias concolor) 1

Ke lima jenis primata ini mengalami ancaman kepunahan yang tinggi, dimana IUCN telah mengkategorikan sebagai primata di kepulauan Mentawai dengan status Edangered, dan simakobu yang paling terancam punah dengan status Kritis ( Critically endangered), dan termasuk salah satu dari 25 primata yang paling terancam punah di dunia.

Pulau siberut adalah pulau terbesar, pulau Sipora menjadi pusat pemerintahan dan dua pulau besar yang lain adalah Pulau Pagai utara dan Pulau Pagai selatan. Kepulauan Mentawai sangat terkenal akan ombak besarnya di kalangan olahraga sport extreme, yaitu berselancar.  Untuk ke Mentawai dapat melalui pelabuhan Muara Padang, dengan kapal cepat “Mentawai fast’ dapat menepuh kurang lebih 4-6 jam. Tujuan primate watching trip ini ke pulau siberut, dengan Malinggai Uma Tradisional Mentawai sebagai salah satu organisasi adat yang aktif di Pulau Siberut yang akan mendampingi perjalanan melihat primata-primata asli Mentawai.

Tujuan utama kami selain untuk primate watching sebenarnya adalah memberikan pelatihan khusus kepada anggota Uma untuk mengenal hidupan liar, khususnya dari jenis amphibi dan reptile, juga tentang serangga dari jenis-jenis capung. Acara pelatihan ini dapat di baca di laporan berikut ini.


Lokasi primatewatching kami adalah di dusun Tololago, desa Katurai, Kecamatan Siberut Barat Daya, hutan di kawasan ini diluar kawasan Taman Nasional Siberut, namun berdasar hasil survey tim Malinggai Uma kawasan hutan ini relatif baik kondisinya dan 5 jenis primata endemik Mentawai ada hutan Tololago ini. Untuk menuju hutan Tololago dari Muara siberut, melewati kawasan hutan mangrove tua yang sepertinya paling luas di Kep.Mentawai. Melalui  terusan dari Sungai Siberut ke Teluk Katurai, yang dikenal dengan nama Bandar Monaci, yang menurut cerita  dibuat oleh pastor Vatikan yang membuat terusan ini tahun 80an, terusan yang menghubungkan Teluk Katurai dan Sungai Siberut ini menjadi nadi ekonomi, yang menhubungkan kawasan penting di Siberut barat yang banyak wisatawan surfing dan penduduk siberut di sekitar Teluk Katurai, transportasi hasil bumi, perikanan, wisatawan melalui lebih dekat lewat terusan ini, dibanding menyusuri bagian luar pulau siberut yang tentunya ombak dan ongkos bahan bakar tidak mesti bersahabat. 

Hutan di Dusun Tololago saat ini menjadi tujuan wisata minat khusus yang sedang di kembangkan oleh Malinggai Uma  dan warga sekitar untuk Pengamatan Primata Mentawai. Terletak di luar kawasan konservasi, Taman Nasional Siberut hutan di belakang dusun ini masih relatif lengkap primatanya. Sayangnya kegiatan penebangan pohon untuk kegiatan pembangunan dan pengadaan rumah rakyat terlihat saat kami datang sedang mengolah kayu-kayu besar dari hutan.

Jalur pengamatan kami melewati kebun durian yang sudah terlihat hampir siap panen, ada 3 varietas durian yang ada di Mentawai, yang pertama adalah Durio zibetinus, yang seperti durian pada umumnya, buah berduri keras dan tajam, warna daging buah putih ke kuningan.  Dua lagi dikenal dengan nama Toktuk dan Kinoso, berduri panjang dan tidak tajam. Tidak seperti daerah lain, penduduk asli Mentawai lebih suka makan durian yang belum sepenuhnya masak, dagingnya masih keras dan mengkal. Katanya yang durian terlalu masak bisa membuat demam badan.
Kirekat di pohon durian
pohon durian terpilih untuk kirekat

Melihat langsung habitat asli durian Mentawai tumbuh, dan mencicip rasanya tentu merupakan pengalaman berbeda, pohon durian ini tumbuh di hutan, yang bisa dikatakan penanda untuk lahan hutan ini dimiliki oleh suku keluarga atau suku tertentu. Pohon durian juga sangat erat kaitannya dengan leluhur asli Mentawai, sebagai pohon  “Kirekat” dimana kalau orang yang sudah  meninggal  akan di pahatkan di batang durian yang masih hidup dan sebagai tanda, dan biasanya pohon durian dipilih yang paling baik, besar,dan berbuah lebat, dan tidak boleh di tebang. Salah satu pohon penting dalam upacara adat Mentawai. Cara makan durian di Mentawai juga berbeda, biasanya orang Mentawai lebih suka yang masih keras, atau mengkal dan membelahnya juga langsung di tebas pakai parang, jadi dua, di rasain sedikit, kalau tidak enak langsung di buang.


Pengamatan hari sore hari itu, kami lanjutkan esok paginya, jam 5.30 kami sudah bersiap dan berangkat ke hutan, kami mencata suara Bilou terdengar jelas dari belakan sebelah kanan dusun tololago, berjarak kira-kira 1 km.  kira-kira 1 jam perjalan sampai di bukit di belakan hutan kami berhenti, dan sangat beruntung sekali ketika sedang istirahat ini kami berjumpa dengan Simakobu ( Simias concolor), salah satu primata paling terancam punah di dunia. Morphologi simakobu  yang khas adalah ekornya yang pendek seperti ekor beruk, meskipun termasuk monyet pemakan daun, tubuh berwarna hitam dan muka juga hitam, ada sedikit bulu-bulu warna putih di sekililng kanan kiri pipi. Rambut di kepala agak membentuk jambul di depan dengan bagian samping rambut jambang lebih panjang. Secara taxonomy simakobu jenis monotypic, 1 genus dan 1 species saja, tidak ada subjenis lainnya, namun secara evolusi kekerabatan simakobu lebih dekat dengan Bekantan (Nasalis larvatus) yang ada di Kalimantan.
Simakobu 


Simakobu diburu, dengan alasan preferensi rasa dagingnya, selain itu alasan berburu simakobu lebih mudah, karena pergerakan simakobu ini relatif lebih lambat dibanding primata lainnya yang ada dimentawai. Ukuran tubuh dewasa yang bisa mencapai 10 kg, tidak selincah Bilou yang dapat berayun cepat dari pohon ke pohon lainnya. Dari pengamatan kami sejak kami pertama kali menjumpai simakobu, 1 individu yang kami lihat tersebut hanya diam saja, tidak bergerak sedikitpun, duduk diam dan sepertinya memang hal itu perilaku simakobu ketika bertemu manusia sebagai predator utamanya. Kondisi seperti ini sangat memudahkan para pemburu untuk menembaknya dengan senapan atau panah beracun. Pohon Dipterocarpus sp, sepertinya menjadi pohon favorit untuk bersembunyi simakobu, karakter pohon besar tinggi, daun lebar, dan biasanya banyak di tumbuhin liana, ephipit dan paku-pakuan menjadi penghalang untuk simakobu terlihat, dan karena sifatnya yang tidak bergerak sama sekali, biasanya orang akan mengira kalau simakobu yang di cari sudah tidak ada di pohon tersebut, setelah menunggu beberapa lama. Meskipun agak terlalu jauh namun cukup untuk mendapatkan foto dan melihat langsung simakobu, terlihat ada beberapa gerakan lain di cabang pohon lain, namun simakobut tidak terlihat.

Tidak berapa jauh dari kami melihat simakobu, Nampak dengan jelas sekali primata hitam dan bergerak cepat berayun dari cabang pohon ke pohon lain, ya itulah Bilou yang sejak tadi pagi  terdengar bersuara. Satu terlihat dengan jelas Jantan namun sepertinya belum sepenuhnya dewasa ,terlihat dari ukuran tubuh dan akftifitasnya yang agak jauh dari kelompok intinya, aktif berayun dari sana kemari, sesekali melihat mencari arah siapa yang ada disekitarnya, rupanya bilou ini sudah mendeteksi keberadaan kami juga. Ada 4 individu dengan 1 bayi yang masih digendong, dalam grup yang teramati. Jenis burung yang sempat termati dalam perjalanan kali ini di antaranya : Kailaba (Anthracoceros albirostris), Mainong (Gracula religiosa), Laibug (Dicrurus leucophaeus), Ngorut (Ducula aenea) dan Taktag ( Pycnonotus atriceps) 2.

Kailaba
Mainong


Perjalanan kembali ke Malinggai Uma, tim dari uma memberitahu kami kalau nanti kita akan ambil durian diladang, ladang ini terletak di tepi teluk Katurai, dibelakang hutan mangrove yang tadi kita lewati, benar saja ketika kami pulang melewati  teluk katurai yang tenang tersebut, pompong kami membelok ke kanan kea rah mangrove dan mencarai bandar untuk menepi. Setelah sampai daratan kami menunggu di tempat lokasi pompong kami berlabuh. Tim dari uma malinggai kemudian turun dan lansung masuk ke balik rapatnya pohon bakau dan Sagu. Lama kami menunggu setelah salah satu tim kembali ke pompong dengan 2 durian di tangan, kami disalahkan makan dan mereka balik lagi ke dalam rimbunnan pohon bakau dan sagu.



Hampir 15 menit kami menunggu, mereka kembali muncul dan kali ini dengan 3 pikul durian !!. “masih banyak lagi di dalam, smua durian, toktuk belum ada” kata Damian, cara membungkus durian juga sangat unik dengan daun sagu yang di anyam sedemikian rupa, ada sekitar 20 biji dalam masing-masing bungkusan ini. Kami pun sejenak tertegung dengan apa yang kami lihat, mereka menjelaskan kalau durian yang sudah jatuh ini bisa di ambil  oleh siapa saja yang mau, meskipun ini bukan ladang milik kita. Hampir setengah sampan penuh durian kita bawa pulang ke uma, setelah kita puas makan durian asli Mentawai ini. Untuk rasa durian, dalam satu ladang ini sepertinya cukup beragam, daging buah juga ada yang tebal dan tipis, ada rasa pahit, ada manis dan ada juga yang seperti tepung manis degan sedikit kesat. Cita rasa ini hanya ada di Mentawai !

Jenis-jenis primata dan keragaman cita rasa durian alam di kepulauan Mentawai, adalah dua kombinasi yang istimewa untuk penikmat primata di alam liar dan pecinta durian.

Daftar pustaka :
1. Setiawan A.,Agustin I Y,Handayani K.,Saumanuk I.,Tateburuk D.,Sakaliau M,.2019. Primata Kepulauan Mentawai, SwaraOwa-Malinggai Uma Tradisional Mentawai, Yogyakarta
2. Taufiqurahman I.,Saumanuk I.,Tateburuk D.,Sakaliau M.,Setiawan A,. 2019. Burung-Burung Kepulauan Mentawai, SwaraOwa- Malinggai Uma Tradisional Mentawai, Yogyakarta