Sunday, March 10, 2019

Pelatihan Konservasi Owa Kalimantan dan Habitatnya.


di tulis oleh :  Kasih Putri Handayani 
e-mail : kasihputri288@gmail.com

Kalimantan Tengah, 26-28 Februari 2019, SwaraOwa bekerjasama dengan Goodhope Asia Holding, Ltd., Borneo Nature Foundation, IUCN Primate-Section on Small Apes, , Tropenbos Indonesia Program, dan ELTI.

Foto bersama peserta pelatihan

Kegiatan pelatihan ini merupakan follow up dari pelatihan sebelumnya yang dilaksanakan bulan Agustus 2018, masih dalam upaya konservasi Owa di areal perkebunan kelapa sawit. Mengapa owa?

"Begini Gaeeesss"Owa dan siamang, atau yang secara luas disebut dengan gibbon, mungkin memang tidak setenar orang utan ataupun harimau. Namun sesungguhnya, selain memiliki berbagai keunikan, gibbon juga memiliki peran yang tak kalah penting di dalam ekosistem sebagai agen penyebar biji.



Dari 20 spesies gibbon, Indonesia memiliki 9 spesies yang tersebar pada sisa-sisa hutan di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, serta Kepulauan Mentawai, baik pada kawasan yang dilindungi ataupun tidak. Keberadaan owa di luar kawasan konservasi, dalam hal ini area konsesi perkebunan kelapa sawit, terkadang luput dari perhatian atau tidak menjadi prioritas pengelola kawasan. Oleh karena itu, melalui rangkaian kegiatan ini, kami ingin mengarusutamakan konservasi owa dan habitatnya di kalangan pengelola perkebunan kelapa sawit.

Pelatihan  kali ini berpusat di PT AWL-KMS di Kecamatan Bukit Santuai, Kotawaringin Timur. Selain perwakilan dari tuan rumah, pelatihan ini diikuti oleh perwakilan PT Agro Indomas dan PT Agro Bukit dari Group Goodhope; PT KKP dari Wilmar Group; Musim Mas Group; serta PT Sawit Nabati Agro, IOI Group. Yang istimewa dalam pelatihan kali ini adalah materi yang bersifat multidisiplin karena selain belajar tentang owa, kami semua juga belajar tentang pentingnya identifikasi tumbuhan dan  pelibatan masyarakat dalam upaya konservasi.

Hari ke-1. Materi ruang

Materi pertama disampaikan oleh Arif Setiawan dari, SwaraOwa. Wawan menyampaikan materi tentang Owa secara umum, sebagai primata penyebar biji, hidup berpasangan, dan punya nilai sebagai identitas daerah, karena tidak smua daerah mempunyai Owa. Ancaman kelestarian dan habitatnya,  serta berbagi pengalaman tentang program konservasi owa di Pekalongan yang diangkat melalui kopi owa, dan di Kepulauan Mentawai.
Materi kelas, bersama peserta  pelatihan

Materi kedua oleh Eka Cahyaningrum dari ,BNF.   Eka berbagi pengalaman tentang penelitian dan upaya konservasi owa-owa di Sebangau, Kalimantan Tengah. Eka kembali menekankan peran penting owa-owa bagi ekosistem hutan. Kenyataan bahwa owa masih dapat dijumpai pada hutan yang tidak ditempati orang utan, membuatnya menjadi tumpuan utama dalam persebaran biji di hutan.
Eka (BNF) menyampaikan cerita tentang Owa kalimatan

Materi ketiga adalah tentang pelibatan masyarakat dalam konservasi hutan dan program restorasi, yang disampaikan oleh Evi Indraswati dari  PILI Pusat Informasi Lingkungan Indonesia. Terdapat 3 pokok bahasan yang beliau sampaikan yakni  pelibatan/pemberdayaan dan teknik sosial; strategi mendorong perubahan sosial; serta pengalaman tentang restorasi hutan berbasis masyarakat. Evi yang akrab dipanggil Epoy ini menekankan pentingnya empati yang menjadi lantai dasar dalam teknis fasilitasi yang merupakan kunci dalam proses kolaborasi. Diskusi pada sesi ini berlangsung tak kalah seru mengingat sebagian peserta pelatihan berhadapan langsung dengan masyarakat sekitar perkebunan yang memiliki beragam kepentingan dan kebutuhan.
Dr. Insya menjelaskan teknik identifikasi flora di habitat Owa

Materi terakhir di hari pertama pelatihan ini disampaikan oleh Dr. Arbainsyah dari ELTI. Beliau menyampaikan materi tentang identifikasi tumbuhan. Materi ini sangat penting dalam upaya konservasi owa, mengingat owa adalah primata arboreal yang sangat tergantung pada keberadaan pohon. Dr. Insya demikian lebih akrab di panggil, menyampaikan materi identifikasi tumbuhan yang dulu terkesan rumit dan cenderung hafalan, menjadi lebih menarik. Karena kami diajak untuk mengenali jenis tumbuhan melalui karakter utamanya.

Hari ke-2. Praktik lapangan

Pada saat praktik lapangan ini, peserta dibagi ke dalam 3 kelompok untuk melakukan praktik survey owa dengan metode vocal count, identifikasi minimal 3 sampel tumbuhan, dan survey social. Pagi pukul 05.30 tim sudah berangkat menuju Pos Keramat, Bukit Santuai untuk praktik survey owa sekaligus identifikasi tumbuhan. Sayangnya, hingga pukul 08.00 cuaca mendung dan tak satupun suara owa yang terdengar. Akhirnya ketika hujan mulai turun, tim ditarik kembali ke pos untuk sarapan. Kurang lebih pukul 08.40 tiba-tiba terdengar suara owa dari arah bukit. Perwakilan kelompok langsung memulai mengambil data.

Pukul 09.30 tim bergerak menuju Desa Tanah Haluan untuk praktik survey sosial. Masing-masing kelompok sudah memiliki tugas berupa informasi yang harus diambil. Tiba di desa, beberapa warga sudah menunggu untuk mengikuti praktik FGD yang kemudian dilanjutkan dengan wawancara.
Malam harinya, setelah beristirahat sejenak, masing-masing kelompok mempersiapkan laporan hasil praktik yang akan disampaikan esok harinya.
Praktek lapangan di HCV Bukit Santuai

Hari ke-3. Penanaman, presentasi peserta, kesimpulan dan penutupan

Hari terakhir pelatihan di awali dengan kegiatan penanaman di sekitar Sungai Egang yang termasuk kedalam areal HCV. Area ini juga merupakan habitat owa Kalimantan serta lutung merah. Terdapat ± 20 bibit yang ditanam beriring harapan agar pohon-pohon tersebut dapat tumbuh dengan baik. Selepas penanaman, kami kembali menuju GMO untuk presentasi hasil praktik.
Pada praktik survey owa, masing-masing tim memberikan hasil perhitungan kepadatan kelompok owa di masing-masing listening post serta kendala yang dihadapi. Untuk praktik identifikasi tumbuhan, masing-masing kelompok menampilkan foto sample beserta karakteristik dan nama ilmiahnya. Untuk survey sosial, menyesuaikan dengan tugas masing-masing kelompok. Terdapat beberapa catatan menarik dari survey sosial ini yakni terkait dengan keberadaan owa dan orang utan sebagai hewan yang dianggap keramat, serta beberapa jenis tumbuhan yang penting dalam upacara adat. Dengan demikian maka terlihat interaksi antara hidupan liar baik hewan maupun tumbuhan, serta manusia.

Selepas presentasi, masing-masing narasumber memberikan ulasan singkat dan rangkuman kegiatan. Sebaliknya, peserta juga memberikan tanggapan baik harapan maupun evaluasi untuk kegiatan ini. Secara umum, peserta menyambut baik inisiatif konservasi owa ini. Mereka juga berharap untuk bisa menerapkan dan menyebarluaskan pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka peroleh, di lingkungan kerja masing-masing. Menjelang pukul 12.00 kegiatan ditutup oleh GM PT AWL. Beliau juga berpesan kepada kami semua untuk menerapkan apa yang telah kami peroleh selama pelatihan karena upaya konservasi memang sangat penting dilakukan demi menjaga keseimbangan ekosistem, lingkungan tempat tinggal kita,manusia.

"Semangat Pagi dan Salam Owa"

Testimoni peserta:
saya sangat senang dengan adanya pelatihan konservasi owa dan habitatnya dikarenakan pelatihan sudah cukup menyeluruh, mulai dari cara monitoring atau survey populasi, identifikasi tanaman untuk menjadi panduan dalam preferensi makanan owa dan juga mempelajari sosialnya yang tidak bisa lepas dari suatu keberhasilan program konservasi. Ditambah lagi dengan pemberi materi beserta asistennya yang super komunikatif
Harapan saya, kedepannya perlu ada studi yang komprehensif mengenai preferensi makanan owa terutama di daerah Kalimantan. Hal ini juga bisa menjadi pedoman dalam melakukan revegetasi lahan sesuai dengan jenis alami habitat dan ketercukupan sumber makanan owa -- Fery -Musim Mas Group

Kesan saya ikut pelatihan senang sekali bertemu orang-orang yang memang ahli di bidangnya..
Pesan saya mungkin nanti lebih ditekankan untuk sampai mengetahui jumlah individu nya, agar tidak rancu -- Vivi-IOI Group

Tuesday, February 19, 2019

Seri Diskusi Konservasi #2 : Bekantan dan Orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay

Foto bersama peserta dan pembicara seri diskusi Bekantan dan Orangutan 

Sokokembang, 14 Februari 2019, pendopo kopi Owa mendapat kunjungan istimewa dari The Nature Conservansi Indonesia. Kunjungan ini berawal dari interest yang sama terhadap jenis-jenis Owa (Hylobatidae) yang ada di site TNC namun belum mendapatkan prioritas untuk upaya pelestariannya. Kemudian dibawah koordinasi Arif Rifqi, membawa tim lapangan mereka untuk melihat langsung bagaimana kegiatan monitoring Owa jawa yang di lakukan di Sokokembang.  Kedatangan tim ini juga mengajak serta 2 staff dari BALITEK KSDA yang aktif melakukan penelitian dan konservasi Bekatan, sementara Arif Rifqi saat ini juga sebagai coordinator untuk penelitian Orangutan di areal kerja TNC di Kalimantan Timur.

Anjar Prasojo presentasi tentang satwaliar di hutan Lindung Petungkriyono

Kedatangan tamu-tamu istemewa dengan pengalaman berbeda, sangat berharga sekali mau berbagi cerita lapangan dan inisiasi yang di lakukan. Acara seri diskusi yang telah di Inisiasi sejak tahun lalu oleh swaraOwa di gelar terbuka untuk umum, tercatat sebanyak 26 orang, telah mendaftar dan hadir hari ini tanggal 14 Februari 2019. Acara di buka oleh swaraowa dan perkenalan masing-masing peserta, selain 5 orang staff TNC dan 2 staff Balitek, ada mahasiswa, kelompok pecinta alam, komunitas fotografi,  wirausahawan batik, berasal dari Pekalongan, Semarang, dan Yogyakarta.
Untuk pembukaan acara diskusi, Anjar Prasojo dari komitas fotografi alam liar pekalongan mempresentasikan foto-foto satwaliar yang diperoleh di hutan Sokokembang untuk mengenalkan keragaman fauna di wilayah Pegunungan Pekalongan, Anjar juga menceritakan latar belakang kenapa beliau yang awalnya pelaku jual-beli satwa eksotik yang beralih menekuni fotografi alam liar, dan  berkarya melalui foto satwaliar daripada mengekang satwa dalam kandang.

Setelah pengenalan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Wawan dari SwaraOwa, Triatmoko dari Balitek KSDA Kalimantan Timur menceritakan tentang salah satu primata endemik Kalimantan, yaitu Bekantan (Nasalis larvatus). Menurut  Triatmoko,  Bekantan merupakan monyet pemakan daun (colobine) yang memiliki sitem pencernaan mirip dengan Sapi ( ruminansia), lambung bersekat-sekat dan bakteri pencernaan membantu mencerna daun-daun (Regurgitate-remastication). Secara morphology jantan dan betina dapat di bedakan dengan jelas dari bentuk hidungnya, Bekantan Jantan mempunya hidung lebih besar dan lebih panjang dari betina.Triatmoko menceritakan kalau bekatan ini mempunyai sistem sosial unik, membentuk kelompok int, dan di dalam kelompok inti ini mempunyai sub-sub kelompok yang lain yang mempunyai strata, ada kelompok non-breeding, all male group, one-male group dan soliter.
Triatmoko (Balitek KSDA/Primatlogi IPB), menjelaskan tentang Bekantan

Habitat bekatan banyak di jumpai di tep-tepi sungai, hutan rawa, dan  hutan mangrove. Kondisi terkini habitat bekantan di Kalimantan, kini juga telah dan sedang mengalami tekanan yang tinggi, karena koversi habitat menjadi pemukiman, tambak , tambang dan kelapa sawit. Hilangnya habitat asli bekantan  ini di khawatirkan akan semakin memperparah laju kepunahan bekantan, inisiasi-inisiasi di tingkat site, mempromosikan bekantan dengan kegiatan wisata yang ramah lingkungan juga telah dilakukan. Menyambungkan secara ekologis hutan-hutan yang terfragmentasi dengan hutan-hutan yang ada disekitarnya menjadi tantantang berbeda di antara banyaknya kepentingan.
Arif Rifqi (TNC) memaparkan tentang konservasi orangutan Bentang alam Wehea-Kelai

Presentasi kedua di sampaikan oleh Arif Rifqi dari TNC Indonesia, bercerita tentang Orangutan (Pongo pygmaeus), di awal pemaparan Rifqi menyampaikan fakta-fakta orangutan di Indonesia, di antaranya kini ada 3 jenis orangutan yaitu 1 jenis orangutan kalimantan, dan 2 jenis orangutan di Sumatera ( Pongo abelii, dan Pongo tapanuliensis). Jumlah populasi orangutan liar untuk di Kalimantan lebih dari 50.000 individu, dan 12.000 individu di Sumatera, untuk orangutan tapanuli populasinya ada sekitar 760 individu. Orangutan dengan hanya 3 % genetika berbeda dengan manusia, merupakan identitas global, berperan dalam regenerasi hutan, karena menyebarkan biji-bijian, lebih dari 1400 jenis yang disebarkan oleh Orangutan, menjadikan kerabesar ini species payung untuk perlindungan ekosistem, ucap Rifqi.

Yang menarik lagi dari kerja konservasi orangutan di Kalimantan Timur ini, adalah inisiasi TNC Indonesia dalam membingkai upaya pelestarian orangutan ini melalui pendekatan mulit fungsi bentang alam, Landscape . Bagaimana mengintegrasikan upaya konservasi orangutan yang melibatkan banyak pihak, kedalam rencana tata ruang provinsi, sekaligus penguatan tatakelola para pihak di habitat Orangutan.  Pendekatan TNC Indonesia ini selain melibatkan masyarakat setempat juga pengelola kawasan tersebut, dan level bentang alam Wehea-Kelay seluas lebih dari 500.000 hektar, proses dari awal hingga terbentuk forum dan SK Gubernur menunjuk sebagai Kawasan Ekosistem Esesial, sebuah terobosan inovatif untuk pelestarian orangutan secara kolaboratif. Tidak hanya untuk orangutan fungsi penting kawasan ini diharapkan dapat terus dapat di kelola secara bijaksana dan berkelanjutan demikian tutup Rifqi.

(sampai jumpa di seri diskusi selanjutnya)



Wednesday, January 30, 2019

Belajar dari Para Burung : Kongress Peneliti dan Pemerhati Burung

tim Uma malinggai yang ikut dalam acara kongress burung 

Acara Kongress Peneliti dan Pemerhati Burung Indonesia yang ke-5 menjadi kesempatan SwaraOwa mengajak tim dari Uma Malinggai Tradisional  Mentawai belajar tentang burung-burung di Indonesia, permasalahan dan potensinya pemanfaatannya. Acara yang di selenggarakan di Padang tanggal 26-29 Januari 2019 ini di laksanakan di Universitas Negeri Padang dan juga di Universitas Andalas.
Kesempatan untuk mempromosikan keanekaragaman jenis burung di Kep.Mentawai juga menjadi pengalaman tersendiri untuk tim kali ini. Acara  di mulai di hari minggu, di UNP dan kita ikut dalam 2 workhsop yaitu  ada yang masuk di kelas “ekowisata burung” dan ada yang masuk di kelas “Pengawasan dan Perdagangan Burung”.

Ridwan Tulus, dari SumatraandBeyond berbagi pengalaman bagaimana beliau membangun usaha ekowisata di wilayah Sumatra, dengan konsep  “Protect The Culture, Protect The Nature, Empower & Bring Benefit for Local People, and Support Conservation”.  Sesi ini menjadi diskusi menarik dengan teman-teman dari Mentawai, karena tim yang kita ajak ini juga merupakan bagian dari pelaku wisata yang ada di Kep.Mentawai.

Giyanto dari WCS Indonesia Program, menyampaikan cerita bagaimana beliau mendorong para penegak hukum di Indonesia terkait dengan perdangangan satwaliar, dengan metode “undercover” yang terbentuk dari naluri sepertinya ini menjadi metode pengumpulan data di level grassroots yang sangat penuh resiko. Namun dari kegiatan mas Giyanto ini memberikan banyak kemajuan untuk penegakan hukum khususnya terkait kejahatan satwaliar di Indonesia. Apalagi burung, yang kini berjumlah 1771 jenis ini hampir 15% di antaranya adalah terancam punah. Modus jual beli burung ini sudah sedemikian canggih seperti dalam sindikat narkoba, perdagangan illegal yang di lakukan secara sistematis, terorganisir, canggih, dalam skala nasional dan internasional, Indonesia sebagai sumber keanekargaman hayati tinggi sekaligus sebagai pasarnya. Menurut mas Giyanto, jenis-jenis burung yang di perdaganggankan di Indonesia  80% merupakan tangkapan dari alam liar, di tahun 2016-2018 dari 3 lokasi pasar burung saja tercatat 412 jenis dan 712866 individu yang di jual belikan.

Hari kedua  menjadi kesempatan kita untuk menampilkan hasil pengamatan tentang burung-burung Pantai di Kep.Mentawai, hasil pengamatan ini juga menjadi hasil karya ilmiah pertama untuk tim Mentawai ini tentang burung-burung pantai, dan dapat di download disini untuk 2 publikasi penelitian dari kegiatan di Kep.mentawai. Meskipun tujuan utama di kepulauan Mentawai adalah untuk pelestarian Bilou, namun pengalaman tentang burung ini menjadi hal baru dan juga kemungkinan yang dapat di kembangkan sebagai bagian upaya pelestarian keanekargaman hayati kep.mentawai yang berkelanjutan. 

Bagi tim Uma Malinggai acara ini menjadi penting untuk melatih kemampuan, meningkatkan kapasitas dan juga menambah jejaring pegiat konservasi alam, dan motivasi juga untuk tampil di acara tahun depan dengan membawakan sendiri hasil pengamatannya, sampai jumpa di KPPBI VI, di Jawa Timur.



Thursday, January 24, 2019

Seri Diskusi Konservasi #2 : Orangutan dan Bekantan

Bulan Februari 2019 acara seri diskusi konservasi yang ke dua kalinya di gelar, kali ini bertepatan dengan kunjungan lapangan dari kawan-kawan pegiat konservasi primata di Kalimantan Timur. Bekatan dan Orangtuan kalimatan keduanya merupakan primata endemik Kalimantan. untuk profil kedua pembicara ini dapat di baca di link berikut ini https://id.linkedin.com/in/arifqbio dan https://triatmokonature.wordpress.com

Acara ini gratis, namun silahkan menghubungi Contact Person yang tercantum untuk mendaftar. Terimakasih.


Sunday, December 9, 2018

SwaraOwa (Voice of the Gibbon): A Coffee Adventure


by Adeline Chang

The Coffee and Primate Conservation Project was started in 2012, by the SwaraOwa team, building upon an earlier project by Arif Setiawan in 2008. The main object is to conserve the endangered Javanese Gibbon and its natural habitat. The spends its time swinging through the rainforests on the Indonesian island of Java. Villages are scattered throughout the rainforest, and community investment is essential! To increase interest in conserving the rainforest, SwaraOwa supports the villagers to (sustainably) scale up production of the coffee that already grows naturally in the forest, learn about proper cultivation and sorting techniques, and obtain better access to the coffee markets.
֍
Meeting
It was sweltering the day I met Arif Setiawan (he prefers Wawan) at the Singapore Botanic Gardens. We were cocooned in an air-conditioned room, where three different speakers shared their primate conservation projects in Indonesia. When it was Wawan’s turn, he stood up with a big smile and a relaxed nature that bespoke a deep inner peace. Speaking animatedly, he told us about his team’s work with village communities to conserve gibbons and their rainforest habitats. Out in the lush isolation, they had formed connections that were improving the financial security of villagers, and slowly transforming the way villagers saw the rainforest. A truly beautiful long-term project.
What most piqued my interest that day, however, was their leveraging of shade-grown coffee. With the project’s support, the coffee plant already growing naturally under the steady shade and protection of the rainforest canopy became a source of income for the villagers – a clever, economic and biodynamic way of encouraging them to value and live in harmony with the rainforest and its other animal inhabitants.
Coffee! The ex-barista in me was wide awake and at attention.  
After the talk, I made a beeline for Wawan, where I asked him curiously about how much income the coffee planting brought villagers (a supplementary amount, as it turns out), and about the sales avenues for the coffee. I was flying to Indonesia the following month for a meditation stay and short holiday, and when I said I’d be in Yogyakarta and would love to visit the forest, this beast of a gentleman immediately invited me to visit their office and roasting facility.
Fast forward a month, and after my first visit to the office, Wawan messaged me to say they were visiting the field site, 7 hours from Yogyakarta. There was a seat for me in the jeep – did I want to come along?
Of course, I said yes!
֍
The Journey
I arrive late at the building, heart racing. My usually unkempt short hair lies flat, plastered to my head with sweat, as I nudge the helmet off my head and hand it to the ojek driver. “Makasih, pak.” It’s 40 minutes past when I was meant to arrive.
But I’ve forgotten about Indonesia’s jam karet – what they call rubber time, a pointer to that incredible flexibility with which people treat the hours of the day.
As I walk into the office-warehouse-discussion centre rolled in one, apologising profusely, everyone tells me to relax. Wawan is hard at work on his computer, Yoshi immediately starts brewing me a coffee, and our bee expert Sidiq has yet to arrive. The aroma of roasting coffee wafts over from the next room as I sit contentedly.
It’s nearly 12 when we begin our drive in the muggy heat. The windows of the Jeep are rolled down, but only when it begins pouring does the cooling air bring blessed respite. We pass out of the jam-packed city and through smaller towns and streaks of empty surrounded by hulking trees, stopping every couple of hours so Yoshi can take a break. By the time we enter the Sokokembang forest, night has fallen – it’s eerie winding along the road in the dark, car lights at full beam, our eyes peeled for snakes, civets, even Javan leopards. But no luck tonight.
In the village, we are hosted by the Sokokembang village chief and his wife, Pak E and Mak E. Beside the chief’s front porch sits a little Swara Owa office – about 5 by 3 metres, lit up by hydro-powered lights, just like everything else in the village, which doesn’t have access to the electric grid. My room, in contrast, is constantly lit by a light with no off-switch, and permanently damp and cool. 
Exhausted by the journey, I quickly fall asleep.
֍
The Field
The next day, the jungle swallows us into its wild arms. We walk for an hour, eyes fixed on the green canopies. Wawan is an expert at spotting the groups of primates, scanning the tree canopies and pointing them out to me.
The first time I catch sight of a leaf monkey is magical. In the gentle morning light, the heart-shaped silver of its face gleams, while its body shines black and glossy. Through my binoculars its eyes seem to gaze straight into mine.

(Photo by Arif) A lutung and her young, pausing on a branch.

The silvery gibbon (owa, in Indonesian) – the namesake of this conservation project – is, in contrast, far less delicate in appearance. Warm grey, it fills out its curves and swings with easy agility from branch to branch.

(Photo by Arif) A Javan gibbon, its strong, endlessly long arm stretched high for support.

Visiting Gondang Village
It takes us half an hour to curve northwards, hugging the cliff, as the paddy fields fall away into sparse forest. The last stretch of our journey can barely be called a road, and I feel myself slip-sliding as our black four-wheeler bumps its way, snail-like, along the rocky track.


As we move inwards from the cliff edges, the view is stunning – grey puffs caressing the lush, verdant fields. 


On this last stretch of road, the drive becomes extremely slow going.

I feel a sense of relief when we arrive; my bum is beginning to hurt.
Inside the Gondang village chief’s house, darkness reigns. Sparse daylight filters into a space that’s both living room and kitchen. For chairs, we arrange tiny wooden blocks around the low table: I imitate Yoshi, who stacks two together to make a more comfortable seat.
Pak Untung, the chief, is dressed neatly in a blue polo, with a kind, handsome face and crow lines that crease every time he smiles or laughs. Everyone shakes hands with him before bringing them, gently, towards their chests. He grins when Wawan gives him a box of bak pia, a pastry filled with crumbly green bean, and passes it to his wife.
After we settle down, they begin a long chat. Their words are interspersed with easy silences, funny stories, and dramatic jokes which leave everyone roaring with laughter. Pak Untung tells them about the most recent harvest (“bad”, he says, but the men needle him and everyone laughs). Another man enters the house, an unplanned and unannounced visit – he joins us at the table. The men smile and tell me that in the village, you can talk to anyone you bump into. Everyone knows everyone else, and everyone is welcome, always. Already feeling the fatigue of so much interaction, I remain nevertheless charmed by the tightness of their social circles, and the warmth with which they treat each other. 
I am the only woman at the table. On the floortop fireplace two metres away, his wife cooks for us, spicy onion leaves, slices of omelette, fried fish, and souped up vegetables with corn rice. Soon the table is heaped with dishes, and we pile in. “No corn rice here means no rice at all,” Wawan remarks matter-of-factedly.

Pak Untung eating a banana from the huge stalk that Wawan has brought, earlier, Wawan received the banana fruits from the swaraOwa nursery plot in Sokokembang.




How Appropriate is Direct Trade?
Interpersonal ties are absolutely key in these sequestered mountain villages. Here, direct trade (which involves farmers trading directly with roasters, in small quantities and for higher  buying prices) seems like it should have potential. But as we sit on the bamboo gazebo out front (Pak E built it on his own from the bamboo trees that are abundant all around us), Wawan explains how some farmers, buoyed up by the high prices fetched by their first mini batch of beans sold via direct trade, shift their land to farm far more coffee, not realizing that the amount the direct trader can purchase from them is limited. And what about fellow villagers, drawn by monetary promise into an enterprise that then blasts away at ecological stability and biodiversity in the area?
Everything is interlinked in a web of cause and effect, and the best overall outcome from direct trade may be effected only if we recognize that its ripple effects extend beyond just the two parties who engage in the sale, and far beyond the money – with implications for both community ties as well as environmental sustainability.
Robusta coffee in the shaded canopies of Hutan Sokokembang
Coffee naturally grows under shaded tree canopies, and traditionally this has allowed coffee cultivation to be a key part of sustainable agro-foresty systems combining tree species, coffee, and other agricultural commodities[5]. Due to the forces of capital supply and demand, however, monoculture and sun-grown coffee are now de rigour.
Should this transition from shade- to sun-grown take place here, in the villages of the Sokokembang Rainforest, the future of the primates who dwell in the canopies will be hit, hard. This is part of a trajectory that SwaraOwa hopes to prevent.




The vibrant rainforest is key to preserving the endangered Javanese gibbons and leaf monkeys in the region.

Slow Change
Kula boten mangertos – I don’t understand. This is the extent of my Javanese, so in the villages, where most people speak only Javanese, what I gather from the conversations comes from my fragments of Bahasa, and Wawan, Yoshi and Sidiq translating interesting bits into English for me.
In Sokokembang village, where we spend three nights, the camaraderie between Pak E, Mak E and the Swara Owa team is palpable. We spend the afternoons on the front porch, chatting, sipping tea and coffee while sitting on lesehan (floor mats prevalent throughout Central Java). The coffee is thick and heavy with grounds, and on the second day I opt for tea. Once, the sole village midwife – an elderly lady who’s at least 70 years old, and hobbles swiftly on bare feet – stops by, sits down for a chat, and asks me if I’m a man or woman, a question I’ve become used to by then; my short hair perturbs people. And sometimes, we simply sit in silence, listening to the birds calling from the trees. 
During our trip to Gondang village, we spend two hours in the chief’s house. For most of that time, the conversation covers everything except coffee and the forest. We eat lunch, laugh uproariously, and smoke countless cigarettes, tossing the finished butts into the low wood fire. Once, Sidiq heads out and when he comes back, tells us: “There was a minor earthquake!”
The biggest element in this conservation project is trust-building. It is the iffiest element, impossible to copy and paste wholesale, and the fruits that I witness are thanks to years of trial and error by Wawan and his team. “Each village is different. For example, in Gondang Pak Untung is very well-loved by all the people, so we began circulating our posters through him. When he needs help at the house, everyone shows up, even when he doesn’t ask. But Sokokembang is totally different; most of the houses here are families [blood-related in some way], and so everything we do is a little trickier, more complicated. People are more difficult to convince. But over the years we build trust with the people.”
All this requires endless patience and commitment, and in this environment one begins to appreciate that one of the ingredients for success is the passage of time.

What’s a coffee drinker to do?
1.       Ethics and Sustainability: This is a toughie. Fair Trade coffee beans are not equal – their sale doesn’t benefit all member farmers equally; this depends on the cooperative the farmers belong to. Rainforest Alliance certification is far more holistic in its concern for both financial and environmental sustainability, but only requires that 30% of the beans in certified bags satisfy these conditions. There’s also another certification that’s a radical breakaway from these – called the Small Producers’ Symbol, it’s owned and run by producers in the South (instead of the North), and is meant to ensure that administrative fees are far lower (one-fourth) and that more of these (a third) go back into the cooperatives[6]. Still, for now it remains carried by just a handful of roasters in the USA, Canada, and France[7]. Ultimately, your choices will depend on what’s available around you and on the kind of information you can get about the specific farms or beans you’re purchasing. 
2.       Taste: What about us coffee snobs? Those who look out for acidity, body and sweetness in their cuppa? Those sneaky ones who know the difference between an Ethiopia Yirgacheffe Kochere and a Panama Geisha? Despite its limitations, buying direct trade coffee can offer a good balance between coffee quality, monetary fairness for the farmer, and sustained biodiversity in the coffee-growing region. Generations will feel the impact of our choices today - it's a small world that we share with wildlife and nature!
3.       Everything: We can start by genuinely caring about our neighbours near and far, and acknowledging the implications of the coffee we buy without allowing uncomfortable knowledge to paralyze us. Instead, turn that into a positive emotion! The most impactful people I know are always fighting for change whilst staying grateful for what they have access to.
Ultimately, that hardest bit might be recognizing the issue for how complicated it is, and reigning in the temptation to simplify things and magic up silver bullets to make ourselves feel better. Using that knowledge to move in small ways closer towards fairer trade is perhaps the best that any of us as consumers can do.










About Adeline Chang

Adeline is a restless ex-barista who's fallen in love with growing food sustainably, breathing in the splendour of wilderness, and dancing through the thick and thin of life.
https://tropicalgardeninglife.wordpress.com/

Friday, December 7, 2018

Legenda Owa Jawa : Onomatopoeia


Owa Jawa (Hylobates moloch)

Cerita asal usul tetang kera kecil ini berasal dari Pegunungan Dieng Bagian barat, masuk dalam wilayah Kabupaten Pekalongan. Rangkaian pegunungan yang saat ini menjadi benteng pertahanan terakhir untuk Owa, di Pulau Jawa. Catatan penelitian tahun 70 an  hingga 80an, mencatat sebaran owa ini mulai ketinggian hutan pantai  hingga hutan pegunungan 1500 meter di atas permukaan laut.

Melihat sejara sebaran owa, yang dari hutan dataran rendah hingga ke pegunungan, sangat mungkin bahwa Owa ini juga mempunyai hubungan cukup erat dengan manusia-manusia disekitar tempat hidupnya.

Mencoba melihat sisi lain untuk mengarusutamakan upaya pelestarian primata endemik Jawa, setiap bekunjung ke dusun-dusun tepi hutan, cerita-cerita asal usul Owa ini di pastikan ada, meskipun terbatas pada orang-orang tua, yang rata-rata berusia di atas 60 tahun.
Seorang anak yang diajak ke hutan kemudian ditinggal di hutan, dan kemudian memanggil, manggil pamannya “uwa..wa..uwa’’..dengarkan cerita versi pertama disini :



Owa adalah binatang arboreal, kera kecil tak berekor yang selalu hidup di pohon, dan biasanya warga sekitar mengenal dari suaranya, meskipun tidak melihat langsung seperti apa wujudnya. Berada di pohon,di hutan yang rapat, namun suaranya bisa terdengar keras hingga 2 km. Sebuah Onomatopoeia, menamakan binatang berdasar suaranya. Dinamakan Owa karena suaranya Uwa...wa..wau..wau...wa., kadang sering juga bertemu warga sekitar hutan mengenal owa memang dari suaranya, ketika mendiskripsikan secara ciri-ciri morphologi kurang begitu jelas kalau itu adalah owa yang dimaksud.

Simak rekaman video wawancara dengan Bapak Riyanto  (Korep) 70 tahun, warga dusun Glidigan, Tlogohendro, Pekalongan.


Memasukkan perspektif budaya sekiranya juga harusnya menjadi bagian dari pembangunan konservasi berkelanjutan, dan mungkin hal ini juga bisa menjadi masukan untuk pengambil kebijakan. cerita-cerita lama,seperti legenda menjadi metode tersendiri untuk membangkitkan semangat pelestarian owa dan hutan segala isinya, membangkitkan rasa bangga bahwa kita memiliki primata yang tidak ada belahan bumi manapun selain di Jawa.

Daftar Pustaka

Kappeler M. 1984. The gibbon in Java. In; Preuschoft H, Chivers DJ, Brockelmann WY, Creel N, eds. The lesser apes. Evolutionary and behavioural biology. Edinburgh: Edinburgh University Press, 19-31

Assaneo MF, Nichols JI, Trevisan MA. The anatomy of onomatopoeia. PLoS One. 2011;6(12):e28317.

Thursday, November 22, 2018

Camera trap : mengungkap hidupan liar hutan Sokokembang

camera trap dan alat perekam suara 

Baru baru ini kegiatan konservasi di hutan Sokokembang, sedang menguji coba peralatan  untuk  monitoring keanekaragaman hayati, dan hal ini merupakan bagian dari program pengenalan hidupan liar dan hutan pada umumnya, bahwa hutan adalah tempat hidup hidupan liar sebagai bagian dari kampanye penyadar tahuan untuk mengajak mengenal hutan dan melestarikan habitat asli yang tersisa di Jawa bagian Tengah.
Pemasangan camera trap

Camera trap, adalah alat untuk menangkap gambar foto atau video dari hidupan liar, alat ini berfungsi secara otomatis dengan sensor gerak atau inframerah. Keuntungan camera trap ini dapat bekerja mengumpulkan foto-foto di tempat-tempat yang susah di jangkau, dalam periode waktu tertentu dan dapat digunakan untuk mengenali perilaku hidupan liar, yang sangat sensitif dengan kehadiran manusia. Penelitian-peneltian menggunakan alat ini dapat mengetahui perilaku, populasi,mangsa- predator dan juga ancaman hidupan liar, misalnya untuk investigasi perburuan dan ancaman lainnya.

musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus)

Lutung ( Trachypithecu auratus)
Rekrekan (Presbytis comata)

Salah satu hasil camera trap yang di pasang selama kurang lebih 2 bulan, mendapatkan foto jenis-jenis primata pemakan daun yang ada di Sokokembang di dapati sedang mencari makan di atas tanah. Ada pengalaman juga ketika memasang camera trap ini lupa menyeting waktu dan tanggal, ketika sesudah mengganti battery, seperti terlihat pada foto di bawah ini, yang bertahun 2008.
Foto camera trap ini juga mencatat keberadaan satwa dilindungi seperti Kijang, Rekrekan, Lutung dan  Binturong.

belum teridentifikasi ekor siapa ini?

Babi hutan



Meskipun masih bersifat ujicoba, teknik pemasangan dan target hidupan liar, dari hasil camera trap ini diantaranya menghasilkan foto-foto dan video yang sangat jarang di temui ketika pengamatan secara langsung. Dalam uji coba ini pemasangan camera trap juga ada yang di letakkan di atas permukaan tanah dan di atas pohon. Analisis terhadap foto-foto hasil camera trap sangat penting, karena merupakan informasi penting terkait waktu,sebaran,  pola pergerakan  perilaku dan banyak kemungkinan lainnya. Tergantung tujuan pemasangan camera trap,dan sepertinya akan terus kita membuka  komunikasikan dan kemungkinan kerjasama dengan pihak terkait ataupun peneliti-peneliti yang tetarik untuk mendalami kegiatan camera traping ini. 



Rekrekan (Presbytis comata) terangkap sedang memakan buah Nangka