Wednesday, October 31, 2018

Sorak Sorai Anak-anak Bukit Santuai: Harapan Bagi Konservasi Owa


Liputan Hari Owa Sedunia 2018 di Bukit Santuai
oleh : 
Salmah W (salmah.widyastuti@gmail.com) dan Ika Y Agustin (ikayuni.agustin@gmail.com)

SD Tunas Agro 2 
 Siang itu, sungguh takjub kami melihat antusias siswa-siswi SD Tunas Agro menyambut kegiatan esok pagi. Ya, tanggal 24/23 Oktober 2018 lalu kami memperingati Hari Owa Sedunia 2018 bersama siswa-siswi SD untuk mengenalkan owa dan satwa primata lainnya di area HCV PT. Agro Wana Lestari (AWL). Kegiatan ini adalah hasil kolaborasi SwaraOwa dengan Goodhope Asia Holdings melalui PT. AWL, unit perusahaannya yang beroperasi di Kalimantan Tengah. Satu hari sebelum kegiatan, kami berkunjung ke SD Tunas Agro untuk mendapatkan gambaran acara esok hari. Setelah mendapat penjelasan Pak Kepala Sekolah mengenai rencana teknis acara, kami diantar Pak Guru berkeliling sekolah dan bertatap dengan siswa kelas 4 dan 5 yang akan menjadi peserta edukasi konservasi owa. Selama kami berkeliling, kami menjadi pusat perhatian siswa-siswi dari dalam kelas, wajah mereka seperti sudah tak sabar diajak bermain ke hutan esok hari bersama kami. 

Betul ternyata, Ibu Guru bercerita kalau siswa-siswi setiap hari selalu menanyakan tentang acara Hari Owa, nanti apa yang akan mereka lakukan, apakah akan masuk hutan, apakah mereka akan melihat owa dan sebagainya. Bukan hanya itu, mereka menghitung mundur hari sejak beberapa minggu sebelum hari H. “Ibu acara Hari Owa tinggal 6 hari lagi ya”.. “Wah tinggal 5 hari lagi ya Bu”..”Yeay tinggal 3 hari lagi”.. Kami menyaksikan langsung dan merekam (video) rasa penasaran mereka ketika Pak Kepala Sekolah memberi pengumuman di dalam kelas. Wah.. kami semakin semangat.

Tiba lah pagi hari, ternyata siswa-siswa sudah lebih dulu datang! Baiklah, kami tak meragukan sedikit pun kalau mereka betul-betul menghitung mundur hari menuju Hari Owa Sedunia ini. 13 Siswa-siswi siap, tim pemandu siap, langsung saja kami gandeng siswa-siswi melihat isi hutan Santuai.
Perjalanan ke lokasi Pengamatan Hutan Bukit Santuai
13 Siswa dibagi menjadi 2 kelompok, kemudian dipandu berjalan perlahan mengamati sekitar hutan. Sambil berjalan pemandu mengenalkan tanda-tanda keberadaan Owa dan jenis primata lainnya. Walaupun cuaca mendung, burung-burung cantik berterbangan dan hinggap menggoda di dekat kami. Beruntungnya siswa-siswi ini, sekelompok owa tertangkap mata telanjang kami meski hanya selama hitungan detik dan kelompok lainnya dari kejauhan menyanyikan morning call nya. Tak hanya itu, di akhir perjalanan sekelompok lutung terdeteksi dari warna dan gerakannya. Dengan bantuan perbesaran binocular (teropong) dan kamera, teridentifikasi kelompok lutung merah sedang menikmati sarapan pagi di satu pohon dengan “lutung hitam berdahi putih”. Tak mau ketinggalan, 1 ekor beruk mengecoh kami dari kejauhan yang terlihat seperti  owa.
Anak-Anak melihat langsung owa kalimantan
salah satu spot pengamatan primata Bukit Santuai

Owa Kalimantan ( Hylobates albibarbis)
Kelasi ( Presbytis rubicunda)
Lutung dahi putih (Presbytis frontata)

Sambil melangkah kembali ke titik awal, pertanyaan-pertanyaan unik dan polos mengenai owa menghujam kami “Kak, kenapa owa tinggal di hutan?” “Apakah owa binatang buas atau jinak?”. Mereka juga mengungkapkan kesan mereka untu pengalaman pertama kalinya mengamati satwa di Hutan. “Ternyata masuk ke hutan itu seru ya Kak, kirain capek dan bosen kak.” Serta ada pertanyaan yang menandakan mereka ingin mengamati satwa di hutan secara rutin. “Hari Owa Sedunia adanya setiap berapa tahun sekali Kak?” Jawab kami. “Setahun sekali”. “Berarti tahun depan ada lagi ya Kak? Yeaaay” dengan wajah penuh harap. Hmm.. bahagia rasanya melihat tunas-tunas muda ini antusias mengamati langsung owa dan jenis primata lainnya beraktivitas bebas di hutan Santuai. Berharap pesan dari kami mengajak mereka masuk hutan tersampaikan.
 
Foto bersama setelah pengamatan
Selepas dari hutan, tim swaraowa mengenalkan jenis-jenis dan ciri-ciri khas primata di Kalimantan Tengah, khususnya owa Kalimantan, ancaman di habitat aslinya, serta menyampaikan bagaimana cara ikut serta melindungi satwa-satwa liar di hutan, terkhusus hutan Santuai dan sekitarnya. Selanjutnya siswa-siswi diajak mengekspresikan imajenasi mereka mengenai Owa, Primata, dan Hutan melalui lomba menggambar. Melalui menggambar mereka memperlihatkan pesan-pesan yang kami sisipkan dalam kegiatan ini.

acara dalam kelas, lomba menggambar



Pemenang lomba menggambar



Setelah membagikan hadiah untuk 3 pemilik gambar terbaik acara ditutup dengan bersama-sama menggunakan topeng owa dan menirukan suara great call owa. Semua terlihat cinta dan bangga terhadap owa, siswa-siswa, Bapak Ibu Guru, maupun tim PT. AWL-Goodhope. Merupakan kesempatan yang luar biasa bisa merayakan Hari Owa Sedunia dengan berbagi pengetahuan pada anak-anak yang luar biasa semangatnya mengenali satwa unik yang tinggal di sekitar mereka, Owa.

Selamat Hari Owa Sedunia! Mari ikut melindungi owa dari perburuan liar dan kehilangan habitatnya.





Monday, October 29, 2018

"Mereka adalah Miliki Kita" Pameran Foto dari Habitat Owa

Acara International Gibbon Day inisiasi global yang mulai dari IUCN Gibbon Specialist Group di Kota Pekalongan  dilakukan dengan Pameran Foto, bekerjasama dengan komunitas PEKAOWA yang di bentuk berdasarkan keinginan tulus sekelompok anak muda di Kota Pekalongan berkontribusi melestarikan Owa jawa di habitat aslinya. Tanggal 27 Oktober 2018 mulai jam 6 Sore sampai selesai, di Taman Hortikultura Yosorejo Pekalongan, bergabung dengan komunitas-komunitas lainnya di Pekalongan dalam rangka malam Budaya dan Parade Juang, 90 tahun hari sumpah pemuda.

grafis yang di buat oleh Komunitas Peduli Kelestarian Owa Jawa Pekalongan-PekaOwa

Acara ini juga muncul secara sepontan saja, dari awalnya, Mas Ubaidillah adalah peserta pelatihan Metode Survey Primata (MSP), tahun 2016 dan Mas dan Anjar Prasojo perta MSP 2018,  yang hobi berkegiatan fotografi alam liar, mempunyai foto-foto keanekaragaman hayati yang di dapat di hutan Petungkriyono. Diskusi singkat akhirnya kita merencanakan pameran foto untuk tujuan mengenalkan kepada publik tentang species dan perlindungan habitat aslinya.
Anjar  Prasojo (kiri) dan Foto-foto yang di pamerkan.

Pameran ini bertema “ Mereka adalah milik kita”. Mencoba mengenalkan kepada masyarakatluas, bahwa Pekalongan, di tengah Pulau Jawa sebagai kesatuan bentang alam memiliki perwakilan tipe habitat yang lengkap, mulai dari laut, pantai,dataran rendah hingga ke pegunungan dataran tinggi. Masing-masing tipe habitat ini dihuni oleh species-species unik, yang istimewa. Primata adalah salah satunya, berada di Pekalongan sisi Selantan-Timur, hutan alam dari ketinggian 250 – 1900 mdpl. Owa, Lutung, Rekrekan dan Monyet Ekorpanjang, mewakili taxa yang  hidup dan berkembang di antara tingginya aktifitas manusia di wilayah ini. Mereka bertahan dan bertahan,juga mengalami ancaman.


antusias pengunjung dalam acara pameran foto " Mereka adalah Milik Kita"

Species-species istimewa ini juga punya peran penting, membantu regenerasi hutan alam, penyebar biji, sumber ilmu pengetahuan, sebagai identitas daerah diantara pergaulan global. Foto-foto ini adalah sebagian yang ada di hutan Pekalongan, hutan sebagai habitat,  mutlak  harus ada untuk mereka, para primata-bukan manusia. mereka butuh kanopi pohon untuk berayun, mereka butuh tempat bernaung dan ruang.Hutan tempat mereka hidup adalah sumber segala sumber kehidupan, air, udara, pemandangan indah,  sudah setiap hari kita nikmati, mereka para primata adalah milik kita, menjaga mereka tetap hidup di belantara adalah kewajiban kita.

Kegiatan pameran foto ini juga bertujuan mendorong pegiat-pegiat fotografi khususnya generasi muda dari wilayah sekitar habitat Owa agar supaya tampil didepan menyuarakan mereka hidupan liar dan habitat aslinya yang harus di perhatikan. Seperti mas Anjar Prasojo  yang berjuang untuk melestarikan Owa dan habitat aslinya dengan hasil-hasil fotonya. Beberapa foto yang di pamerkan adalah berikut ini, yang merupakan primata-primata asli Jawa dari Pekalongan:

Owa Jawa
Lutung jawa
Rekrekan

Ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah menyiapkan acara pameran foto ini yang juga merupakan bagian dari kegiatan Kopi dan Konservasi 2018. 

Wednesday, October 24, 2018

Pengalaman, pengetahuan baru untuk penelitian Primata

Pelatihan Metode Survei Primata
Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan
12-14 Oktober 2018
di tulis oleh :
Farhan Adyn, e-mail : farhan.adyn15@gmail.com


Apa yang terlintas di benak saat mendengar kata “Pekalongan”? Hampir kebanyakan akan langsung mengingat tentang Batik dan kainnya nan indah itu. Akan tetapi, bukan maksud ku mengunjungi kota ini untuk berbelanja, menambah koleksi batik yang siap dipakai saat menghadiri undangan acara-acara besar dan formal, melainkan memenuhi undangan Pelatihan Metode Survei Primata yang diselenggarakan oleh KP3 Primata UGM dan Swaraowa. Aku hadir sebagai partisipan representatif KSP Macaca UNJ bersama dua teman, Arief dan Rachmat, dari Jakarta yang keduanya merupakan perwakilan FSP Lutung UNAS. Kami tiba di Pekalongan dan dijemput oleh panitia menuju lokasi pelatihan. Sesaat setelah melewati perkebunan pinus PERHUTANI dan Perkebunan Karet ,  gapura dan tugu “Petungkriyono” telah menanti. Hal ini menandakan bahwa kami akan memasuki kawasan Hutan Lindung Sokokembang.
pintu masuk hutan Petungkriyono
Kesan tempat pelatihan ini, menurut kakak tingkat yang pernah mengikuti kegiatan serupa tahun lalu, tidak akan pernah terlupakan dalam hidup. Hutan Lindung Sokokembang termasuk hutan hujan dataran rendah tersisa di pulau Jawa yang benar-benar masih asri. Benar saja, saat pertama aku terkagum-kagum serta takjub kala mata memandangi tiap sudut bentang vegetasi dan kabut embun bergerak di atas rapatnya kanopi. O..iya, satu hal lagi yang ku tahu sebelum mengunjungi tempat ini, yakni kopi Owa. Berbeda dengan perkebunan kopi (yang cenderung disengaja & terkesan monokultur), kopi ini terkenal dengan sebutannya kopi Owa karena tanaman kopi (yang merupakan peninggalan sistem Tanam Paksa di Pekalongan dengan komoditi utama ialah kopi) hidup di dalam habitat nya Owa Jawa (Hylobates moloch Audebert, 1798) yang endemik di pulau ini.
praktek metode line transek
transek di persiapkan terlebih dahulu sebelum pengamatan dan diberi tanda

Hari pertama, Jum’at malam (12/10), diawali dengan pembukaan acara. Sambutan-sambutan diberikan kepada para peserta yang berjumlah 20 orang dari berbagai profil dan latar belakang. Ada peserta dari kalangan mahasiswa, pecinta alam, fotografer alam liar bahkan hingga advokat, berkumpul dan belajar bersama tentang survei populasi primata Jawa. Setelah dihangatkan oleh berbagai sambutan dari ketua pelaksana acara, Kepala KPH Pekalongan Timur,  serta perkenalan dengan peserta lainnya. Kemudian langsung dilanjutkan oleh pematerian pertama, pengantar tentang primata yang disampaikan oleh kak Salmah. Setelah itu, kami briefing untuk persiapan esoknya, dengan materi Survei Populasi dengan Teknik Line-Transect Sampling.

Penggunaan teknik tetap berdasarkan prinsip pengacakan (random) dan pengulangan (replication). Kegunaan teknik ini ialah untuk mencari dugaan/estimasi kepadatan (density) suatu objek (primata) per satuan luas/waktu. Adapun cara pengambilan datanya dengan berjalan lurus pada lintasan/jalur yang telah ditetapkan panjangnya (L), kemudian mencatat perjumpaan langsung dengan objek (N), lalu menembakkan sudut jalur & sudut objek dengan kompas (kemudian diselisihkan, α) serta mengestimasikan jarak langsung pengamat-objek (x). Tiga data terakhir dibutuhkan untuk mengetahui jarak antara objek yang tegak lurus dengan jalur (perpendicular distance/ppd/w) dengan prinsip trigonometri , (rumus sinus, cosinus atau tangen) digunakan untuk menghitung jarak tegak lurus antara primata dan transek, yang di tentukan dari dari sudut apit antara arah transek (pengamat) dan primata yang terlihat.

Jarak (ppd) ini digunakan sebagai preferensi lebar area sampling, atau telah disepakati sejak awal menggunakan jarak pandang optimum mata manusia (~50 meter), sehingga area sampling diproyeksikan berbentuk persegi panjang. Adapun persamaan matematis dari perumusan kepadatan/density (D) ini adalah:

D = N/A = n/2Lw

Hari itu (12/10), kami pun mengaplikasikan teori semalam di lapangan. Sebelumya, semua peserta dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok melalui jalur/transek: 1. Iger Menyan; 2. Rambut Putih; dan 3. Rumah pohon. Aku kebagian kelompok satu, transek 1. Iger Menyan. Menurut mas Wawan, panjang trek ini mencapai 700 meter yang berujung pada tumbuhan endemik Indonesia, damar-mata kucing (Shorea javanica Koord. & Valeton). Namun sayangnya, sepanjang perjalanan kami tidak menemukan/berjumpa langsung dengan objek (primata), hanya terdengar morning call/great call Owa Jawa di sisi tebing seberang. Dan lagi-lagi, kami kurang beruntung sebab terdapat pohon tumbang di titik 300 meter-an yang menghalangi jalan dan tidak memungkinkan untuk dilewati. Meskipun belum berkesempatan berjumpa langsung, kami tetap mengsimulasikan cara pengambilan data yang baik dan benar oleh pendamping jalur.
owa yang terfoto oleh peserta lain, mas Anjar dari Pekalongan
Sesampainya kami kembali ke basecamp, kami berisitirahat dan menyempatkan diri untuk mandi di sungai kolong jembatan. Air nya sangat bersih & jernih, sesuatu yang jarang bahkan tidak dapat ditemui di ibukota. Penyegaran ini guna persiapan untuk mengerahkan fikiran untuk mengolah data berikutnya. Rupanya teman kami di transek lain, ada yang menemukan sedikit individu, bahkan ada yang “panen” berjumpa dengan banyak individu dari beragam jenis primata, mulai dari Owa Jawa, Lutung Budeng, Rekrekan hingga Monyet Ekor panjang. Kemudian sesi tanya-jawab dan diskusi pun berjalan seru, berbagi pengalaman di lapang dan menambah wawasan dari tiap jawaban yang diberikan oleh pemateri dari Swaraowa, mas Wawan.
metode vocal-triangulasi untuk survey Owa

Malamnya dilanjutkan dengan briefing kembali, persiapan pengaplikasian dengan teknik yang berbeda. Kali ini kami mencoba menggunakan teknik triangulasi-Vocal Count. Tujuan metode ini menyerupai dengan teknik sebelumnya, yakni untuk mengetahui estimasi kepadatan populasi berdasarkan jumlah kelompok yang terdeteksi. Akan tetapi, survei populasi dengan teknik ini termasuk indirect survey/survei tidak langsung, sebab kita hanya menduga kepadatan berdasarkan asumsi keberadaan kelompok primata yang diwakili oleh vokalisasi satu individunya (biasanya betina, terkadang pula jantan, namun Owa Jawa tidak seperti owa lainnya yang melakukan duet, kecuali dia dan Siamang Kerdil/Hylobates klossii. Perlu dicatat pula, metode ini hanya berlaku pada objek yang telah diketahui pola perilaku bersuaranya. Bila proyeksi line-transect berbentuk persegi panjang, namun dalam triangulasi-vocal count diproyeksikan menjadi lingkaran.

Sebelum melakukan pengambilan data, hal yang perlu dicari ialah pos pendengaran/Listening-Post (Lps). Minimal pos yang dibutuhkan sebanyak 3 pos, dengan jarak antar masing-masing pos sekitar 0,3 km  >1 km. Adapun penentuan pos ini mempertimbangkan faktor topografi, potensi gangguan pendengaran, informasi awal spesies objek dan pengamat/pendengar itu sendiri.

Cara pengambilan datanya dengan para pengamat telah menempati masing-masing pos dengan waktu awal yang telah diseragamkan dan mencatat seluruh suara yang terdengar dari objek (primata, Owa). Ketika terdengar suara Owa, pengamat menembakkan sudut arah sumber suara, kemudian mengestimasikan jarak antara sumber ke pos pendengarannya, lalu mengkonfirmasikan kepada pos lain (dengan menggunakan komunikasi jarak jauh, ponsel, handy talky dsb.). Data yang benar-benar dipakai saat pengolahan data ialah data yang telah dikonfirmasi dari pos lain dan menunjukkan ke titik arah yang sama, sehingga diketahui lah titik temu/koordinat dari objek tersebut. Maka densitas adalah jumlah grup yang terdengar (n) per luas area/lingkaran yang telah dikalikan terlebih dahulu dengan konstanta probability calling (pm). Pm diperoleh dari survei awal, menghitung kemungkinan bersuara owa dalam periode waktu tertentu,  dimana nilainya 0 < pm < 1. Adapun persamaan matematisnya ialah:

D = n/(A (pm))
pm = n/H × 100%; dan 0 <; < 1,
nilai pm yang kita gunakan disini adalah 0.85

Sabtunya ,kami memparaktikan teknik ini. Kini, kami bergiliran menempati titik di jalur Rumah Pohon sebagai pos pendengaran kelompok kami. Pengamatan serentak dimulai di masing-masing pos pada jam 6 pagi dan berakhir bersamaan pada jam 9 pagi. Saat masih awal-awal terdegara banyak sekali suara dari berbagai sumber arah, akan tetapi semakin siang suasananya semakin sepi. Hanya saja kendala terjadi karena kebingungan menentukan sudut arah sumber suara, mengestimasikannya dan gangguan dari suara lain (seperti suara tonggeret, burung, bahkan mobil ambulans yang hampir membuat kami keliru.

Bagi orang yang biasa jalan jauh, mungkin teknik ini adalah tantangan tersendiri, karena kita harus dituntut diam dan menyimak dengan seksama pada titik yang telah ditentukan. Namun rupanya keunggulan dari teknik ini ialah mampu memberikan gambaran sebaran kelompok dalam waktu yang singkat. Namun kelemahannya kurang mampu memberikan informasi yang lebih detail terkait ukuran dan komposisi suatu populasi, dan perlu peninjauan kembali (validasi dengan teknik line-transect).

Setelah kami melaksanakan dan kembali ke rumah, kami langsung mendiskusikannya. Banyak ilmu baru dan wawasan menarik dari hasil sesi diskusi & sharing. Selanjutnya ada pemaparan materi & berbagi pengalaman dari dua pemateri undangan pelatihan kali ini, yakni ada Dr. Bosco Chan dari LSM yang berbasis di China Kadoorie Farm Botany Garden,dan ada Mbak Dwi Yandhi yang berasal dari Sulawesi, Macaca Nigra Project.
Dr.Bosco presentasi tentang upaya pelestarian Owa di P.Hainan Hongkong, China

Dr. Boscho mempresentasikan kerjanya, terutama kini menangani primata sekaligus mamalia terlangka di dunia, yakni Owa Hainan (Nomascus hainanus) yang endemic di satu lokasi Pulau Hainan. Beliau mencertitakan pengalamannya, upayanya hingga kendala-kendalanya saat itu kala mengetahui owa ini hanya tersisa beberapa indiviu, bahkan jumlah populasi global pernah mencapai hitungan jari saja! Setelah riset & observasi intensif, rupanya populasi ini menunjukkan tren kenaikkan ukuran populasinya.
mbak Yandhi presentasi tentang Macaca Nigra

Sedangkan mbak Yandhi, berbagi pengalaman selama 5 tahun terakhir hingga sekarang di Macaca Nigra Project (MNP). Pengalaman unik & menegangkannys, menghadapi tekanan masyarakat yg amat kuat hingga pemekaran ranah, yang tadinya hanya berfokus pada penelitian, kini MNP pun merambah ke dunia konservasi dan edukasi lingkungan dan juga pemberian wawasan dari segi edukasi.

Setelah sesi sharing berakhir, rupanya itu pun sesi terakhir, penutup agenda Pelatihan Metode Survei Primata. Tentunya diakhiri dengan sesi dokumentasi penutup acara. Pengabadian momen bersama, berfoto & bercanda setelah itu. Oh sungguh indah suasana ini, pengalaman yang tak terlupakan dan mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat. Tentunya, teman baru & relasi baru pun terjalin setelah pelatihan ini usai .
Foto bersama peserta, pemateri dan panitia MSP 2018

Terima Kasih banyak kepada KP3 Primata UGM sebagai penyelenggara acara, mas Wawan Swaraowa sebagai tuan rumah, dan pemateri undangan Mr. Bosco & mbak Yandhi yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi pengalaman & semangatnya kepada para peserta.

Salam Lestari, Salam Konservasi.

Saturday, October 20, 2018

MSP 2018: Regenerasi Peneliti dan Pegiat Konservasi Primata

foto bersama seluruh peserta #MSP2018

Acara pelatihan metode survey tahun 2018, kali ini mengundang tamu perwakilan primata Indonesia dan primata asia daratan, Dwi Yandhi Febriyanti dari Macaca Nigra Project, dan Dr. Bosco Chan dari Hongkong. Dilaksanakan tanggal 12-14 Oktober 2018, di Hutan Sokokembang, Desa Kayupuring, Petungkriyono, Pekalongan.

Seperti acara-acara tahun sebelumnya, acara ini di buka oleh Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan , Pekalongan Timur, Bapak Joko  Santoso mewakili Perhutani sebagai pengelola hutan lindung di  Petungkriyono, Swaraowa di wakili oleh Salmah Widyastuti memberikan pengantar tentang sekilas keanekaragaman hayati dan primata di hutan Sokokembang, dan kedua pembicara yang kita undang menyampaikan pengalaman lapangan, penelitian dan upaya pelestarian yang di lakukan dengan harapan dapat memberikan pengetahuan dan informasi yang berbeda dari yang ada di Jawa, khususnya Owa jawa.
Pendopo Kopi Owa tempat diskusi dan teori Metode survey primata

Dr.Bosco Chan sebagai direktur konservasi dari NGO yang berbasis di China Kadoorie Farm Botany Garden, sangat antusiast sekali ketika di awal bahwa bisa datang ke hutan Sokokembang, yang awalnya agak ragu bahwa hutan Jawa ini sudah habis. Namun setelah melihat sendiri pengamatan dan merasakan langsung, inilah hutan hujan dataran rendah yang tersisa di Jawa.
Konservasi Hainan Gibbon, di ceritakan Oleh Dr. Bosco Chan

Bercerita tentang owa di Pulau Hainan,sebuah pulau di selatan China, menjadi tambahan pengalaman berbeda di sajikan untuk peserta pelatihan metode survey 2018. Dr.Bosco bercerita dari 4 Jenis Owa yang ada di Cina, yang menjadi concern Kadoorie farm Bontany Garden, yaitu jenis owa yang ada d China daratan, provinsi Yunan, owa ini baru di pisahkan menjadi species baru tahun 2017, dari species Eastern Hoolock Gibbon (Hoolock leuconedys), bernama Gaoligong Gibbon ( Hoolock tianxing).

Survey terbaru tahun 2017, Dr Bosco menceritakan hanya di temukan sekitar 200 individu saja. Jenis kedua yang menjadi prioritas lembaga di bawah koordinasi Dr Bosco yaitu Hainan Gibbon (Nomascus hainanus), kedua jenis owa ini mempunyai penampilan yang berbeda jantan dan betina ( sexual dimorphism) Jantan berwarna rambut hitam dan Betina berwarna rambut kuning, hingga saat ini owa dari Pulau Hainan, tercatat sebagai Owa yang paling langka di dunia, dan hanya terdapat di satu lokasi di Bawangling Nature Reserve.  Tahun 1950an tercatat 2000 individu tersebar di seluruh Pulau Hainan, namun karenan perburuan, dan hilangnya habitat berhutan populasinya turun drastic hingga tercatat 30an di tahun 80an. Hingga tahun 2003, populasinya terus menurun dan tercatat tersisa 13 individu saja!!

lihat vedeo Hanian Gibbon berikut salah satu kegiatan monitoring team Dr.Bosco Chan di KFBG :


Upaya yang dilakukan Dr Bosco dan tim di Kadoorie Farm bertujuan untuk melestarikan Owa ini, meningkatkan populasi dan juga memperluas dan memperkaya habitatnya yang tersisa, program penelitian, peningkatan pengetahuan dan edukasi masyarakat sekitar dan juga pengembanan ekonomi sekitar habitat juga menjadi focus kegiatan. Setelah 14 tahun upaya yang dilakukan survey terakhir di Bawangling Nature Reserve populasi Owa Hainan ini meningkat menjadi 27 individu. Penanman pohon-pohon penting untuk Owa juga di lakukan di antara hutan pinus yang juga menjadi habitatnya. Merekrut orang-orang yang dulu berburu di hutan menjadi ranger owa, patut menjadi contoh di sini, pekerjaan baru yang membuat orang-orang yang memang paham sekali tentang hutan di jalan konservasi, bukan menghabisi keanekargaman hayati.

Di akhir presentasi Dr. Bosco mengapresiasi yang di lakukan disini, dimana kegiatan pelatihan ini adalah sangat penting mengenalkan dan membuat generasi muda lebih tahu akan species kebanggaanya. Mendorong munculnya conservationist muda dan peneliti-peneliti baru yang akan terus berpacu melawan dengan laju kepunahan species-species unik ini.

Sesi kedua, Mbak Dwi Yandi yang dari Tangkoko Sulawesi Utara, menceritakan bahwa Macaca Nigra Project merupakan sebuah kegiatan penelitian bersama antara Institut pertanian Bogor, Universitas Samratulangi, Departemen Kehutanan dan Liverpool John Mores University. Dengan tiga pilar utama kegiatan Penelitian, Konservasi dan Edukasi. Menurut mbak Yandi, di dunia ada 23 jenis Macaca, dan 7 jenis ada di Sulawesi , Dari tahun 2006, penelitian Yaki (Macaca nigra) dimulai, demografi populasi kelompok ini yang awalnya hanya 3 kelompok, telah berkembang menjadi 8 kelompok, di lokasi seluas 87 km2, populasi sekitar 2000 individu. Yaki hanya tersebar di Sulawesi utara, dari pantai hingga pegunungan sebagai habitatnya. Nama internasional untuk Yaki adalah Sulawesi Black Crested Macaque, dengan cirikhas warna hitam dan jambul di kepala. Seperti macaca umumnya, hidup berkelompok banyak jantan dan banyak betina, 15-100 individu, biasanya betina lebih banyak 2-3x jumlah jantan. Ketika dewasa jantan akan memisah dari kelompoknya, sementara Betina tetap bertahan dalam kelompok.
Dwi Yandhi menyampaikan presentasi tentang Macaca Nigra Project di Tangkoko

Penelitian yang di lakukan juga menemukan bahwa yaki adaalah salah satu penyebar biji yang efektif di hutan Tangkoko, ada 20 jenis buah yang penting bagi Yaki. Dan yang paling sering dimakan dan tentu saja bijinya juga disebarkan adalah Mengkudu ( Morinda citrifolia ). Aspek konservasi, yang di lakukan di antaranya memetakan konflik Yaki dengan masyarakat, dan salah satu ancaman serius dari populasi Yaki adalah perburuan, perburuan banyak di lakukan menggunakan jerat khusunya untuk menangkap babi hutan dan unggas, namu sering sekali menemukan yaki yang terkena jerat ini.
salah satu slide presentasi mbak Yandhi, Yaki banyak yang kena jerat pemburu

Jerat-jerat ini banyak membuat yaki terluka, mati ataupun cacat, karena sebenarnya sasaran jerat ini untuk satwa yang lain. Melihat hal ini, upaya untuk menyelamatkan yaki yang kena jerat juga dilakukan dengan melepaskan jerat-jerat yang kadang masih terus terikat di tangan, kaki, ataupun di badan, tentu saja tidak mudah menangkap dan melepas kembali monyet yang kena jerat ini, peralatan biodmedis dan stantar operasional prosedur yang sesuai aturan penanganan primata.  Upaya meningkatakan pengetahuan dan edukasi tentang monyet Yaki juga di lakukan dengan mengadakan kegiatan edukatif bersama anak-anak sekolah di lingkungan Cagar Alam Tangkoko.

Acara Pelatihan Metode Survey Primata 2018 (MSP2018), ini terselenggara sebagai bagian dari Kegiatan Proyek Kopi dan Konservasi Primata 2018, yang didukung oleh Fortwayne Children’s Zoo, Ostrava Zoo, dan Wildlife Reserve Singapore, bekerjasama dengan KP3 Primata, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini juga dalam rangka kampanye global hari owa sedunia, International Gibbon Day yang jatuh pada tanggal 24 Oktober 2018.

Tuesday, September 25, 2018

Konservasi Owa di Perkebunan Kelapa Sawit, Mungkinkah?

Hylobates albibarbis, Owa di  Kalimantan Tengah

Mengawali bulan September 2018, SwaraOwa mendapatkan kesempatan untuk belajar, bertualang dan berbagi kisah seputar owa dan primata lainnya. Kegiatan kali ini terbilang istimewa. Jika biasanya SwaraOwa berkegiatan bersama rekan-rekan mahasiswa, peneliti, atau pegiat lingkungan lainnya, kali ini SwaraOwa berkumpul bersama perwakilan dari berbagai perusahaan perkebunan kelapa sawit. Kok bisa? Bukankah perkebunan kelapa sawit merupakan tersangka utama dalam deforestasi hutan di Indonesia? Bukankan gara-gara perkebunan sawit ini juga keberadaan berbagai kehidupan liar turut terancam? Belum lagi berbagai permasalah sosial yang timbul karenanya.


Tulisan ini tidak akan membahas berbagai pro-kontra terkait perkebunan kelapa sawit, namun lebih pada salah satu upaya yang dilakukan pengelola perkebunan kelapa sawit untuk menuju perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Apa yang dimaksud dengan minyak sawit berkelanjutan? Silahkan langsung cek prinsip dan kriteria minyak sawit berkelanjutan di website RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) atau ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang kemudian dikenal dengan Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia.
 
Materi kelas, teori dan analisis data hasil survey 
Pada tanggal 4-6 September 2018, SwaraOwa bekerjasama dengan Goodhope Asia Holding mengadakan pelatihan Program Konservasi Primata di Areal HCV (High Conservation Value) atau NKT (Nilai Konservasi Tinggi) Perkebunan Kelapa Sawit. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai nilai penting primata dan upaya konservasinya, serta pengenalan metode survey primata dengan metode vocal count/ fixed point count-triangulation. Peserta pelatihan merupakan perwakilan dari perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah yakni Wilmar, KMA (KLK Group), Minamas Plantation,  Sawit Nabati Agro di Ketapang (IOI Group), serta Goodhope Asia Holdings yang bertindak sebagai tuan rumah. Narasumber dalam pelatihan ini adalah perwakilan dari RSPO, PT. SMART, tokoh adat Desa Tumbang Penyahuan, serta 3 orang dari SwaraOwa.
Aolia (swaraowa) memberikan pengantar tentang jenis primata di Kalimatan Tengah

Hari pertama pelatihan berpusat di training centre PT AICK. Acara dibuka dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh General Manager PT AICK, yang dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh perwakilan dari RSPO, Bapak Djaka Riksanto. Beberapa point penting dalam materi dan diskusi pada sesi ini adalah prinsip dan kriteria sustainable palm oil yang terkait dengan konservasi primata, serta pentingnya pedoman pengelolaan dan pemantauan HCV yang hingga saat ini belum final. Berikutnya, perwakilan dari PT. SMART berbagi pengalaman mengenai praktik pengelolaan KBKT (Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi) dengan optimalisasi jasa lingkungan serta monitoring keanekaragaman hayati. Diskusipun berkembang, mencakup pengalaman restorasi/rehabilitasi riparian, potensi konflik dengan masyarakat berikut upaya pengelolaannya, serta kesulitan para pengelola perusahaan ketika harus menjelaskan payung hukum HCV kepada masyarakat.
Presentasi berikutnya disampaikan oleh Bapak Dante, tokoh adat dari Desa Penyahuan, yang menceritakan tentang inisiatif konservasi Bukit Santuai sebagai kawasan konservasi berbasis Adat dan Spiritual. Bukit Santuai merupakan salah satu areal HCV PT AWL. Bagi masyarakat setempat, Bukit Santuai dianggap keramat dan memiliki kisah tersendiri terait dengan nenek moyang mereka. Selain itu, untuk keperluan ritual adat, masyarakat memerlukan beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh di Bukit Santuai ini.

Praktek lapangan di HCV Bukit Santuai

Selepas makan siang, giliran SwaraOwa menyampaikan kisahnya tentang program konservasi primata berbasis masyarakat di Petungkriyono, Pekalongan dan di kep.Mentawai. Antusiasme peserta sangat terlihat pada saat sesi diskusi. Mereka berharap program yang sejenis bisa dilakukan di site mereka masing-masing, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan potensi dan karakter daerah masing-masing. Sebelum lanjut ke pengenalan metode survey primata, Aolia membawakan materi tentang jenis-jenis primata di Kalimantang Tengah lengkap beserta ciri dan status konservasinya. Materi mengenai metode survey primata menjadi penutup materi ruang, dilanjutkan dengan briefing dan pembagian kelompok praktik, yakni menjadi 3 kelompok.
Lokasi praktek HCV Bukit Santuai

Hari kedua pelatihan berpusat di PT AWL, dengan agenda utama praktik lapangan metode vocal count untuk mengestimasi densitas owa-owa atau klempiau (Hylobates allbibarbis) di Bukit Santuai. Pagi hari menjelang subuh, suara owa-owa membangunkan kami. Tepat pukul 05.00 seluruh tim sudah siap berkumpul untuk selanjutnya bergerak menuju Pos Keramat. Setiap kelompok segera menuju listening post (LPS) masing-masing. Pukul 06.00 setiap kelompok telah tiba di LPS, langsung disambut great call owa-owa yang sahut-menyahut antar kelompok. Masing-masing tim segera bejibaku untuk pengambilan data, hingga pukul 07.30, kemudian dilanjutkan praktik analisis data untuk mendapatkan estimasi densitas owa-owa. Triangulasi untuk memperkirakan distribusi kelompok owa yang terdeteksi, dilakukan bersama-sama di guest house PT AWL. Menjelang sore, rombongan kembali ke training centre PT AICK untuk persiapan presentasi kelompok esok harinya.
foto bersama peserta dan pembicara

Di hari terakhir pelatihan, masing-masing kelompok diberikan waktu untuk presentasi hasil “penelitian” mereka, mencakup estimasi densitas serta hal-hal menarik dan kendala yang ditemui selama praktik. Tanya jawab berlangsung sangat seru, termasuk munculnya pertanyaan-pertanyaan “nyeleneh” namun berarti seperti, “jika great call merupakan komunikasi antar kelompok, apakah dari suara yang terdengar, bisa diketahui adanya betina yang berpasangan atau belum? 

Tiga hari pelatihan yang penuh keakraban disertai diskusi dan sharing pengalaman akhirnya berakhir. Tiga hari pelatihan yang membuat peserta mahir menirukan great call owa-owa. Tiga hari pelatihan yang diharapkan dapat menjadi inisiasi untuk program konservasi primata di areal HCV perkebunan kelapa sawit. Perkebunan sawit, kebutuhan akan minyak nabati adalah kenyataan dan kerusakan hutan telah terjadi, mepertahankan populasi yang ada yang tersisa saat ini adalah upaya yang harus terus di arusutamakan.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
di tulis oleh : Kasih Putri Handayani , email : kasihputri288@gmail.com

Saturday, September 15, 2018

Kalipaingan : Cerita Hutan dari Pekalongan


Pada minggu pertama ini survey dilakukan di hutan-hutan terfragmentasi di sekitar Obyek Wisata Linggoasri dan Kali Paingan, Pekalongan. Pengamatan dilakukan di area hutan lindung. Hutan di sini juga mengalami masa sangat suram, yaitu masa illegal logging yang parah, kurang lebih 2 dekade lalu. Beredar istilah plesetan kala itu di masyarakat tentang hutan negara. Dalam bahasa Jawa istilah “hutan negara” menjadi ‘alas negoro”. Kemudian diplesetkan menjadi negor’o (silahkan me-negor), negor = nebang. Jadi artinya silahkan menebang hutan…heheheh. Istilah ini menjadi guyonan bagi kami sambil berjalan menyusuri area survey. Tapi hal itu saat ini hanya guyonan, beberapa warga telah sadar dan bertekad untuk ikut membantu dalam usaha pelestarian hutan dan Owa Jawa.
Lutung Jawa

Dalam waktu seminggu kami melakukan pra survey ini, tiada hari dalam survey kami tidak bertemu dengan primata endemik Jawa. Mereka adalah Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Rekrekan (Presbytis comata), dan Owa Jawa (Hylobates moloch). Intensitas pertemuan dengan Lutung Jawa paling tinggi diantara 2 primata lainnya. Suara “Kekok” yang menggema dari Lutung Jawa seakan menyambut kedatangan kami saat hari pertama ke lapangan. Kemudian disusul dengan suara rekrekan “krekkk…krkkk…krekkkk” dan pada akhirnya nyanyian Owa Jawa yang sangat merdu pun juga terdengar.  Suara burung di area ini juga kadang terdengar cukup ramai di pagi hari. Beberapa kali kami bertemu dengan Kadalan birah (Rhamphococcyx curvirostris), Takur Tohtor (Megalaima armillaris), Cekakak Batu (Lacedo pulchella), dll. Burung elang juga kerap kali melintas di atas kami. Bahkan suara hempasan sayap Julang juga sempat mengegetkan kami dan kelompok Owa yang sedang memakan buah benda. Hal yang kurang pada survey kali ini yaitu kami tidak bertemu sama sekali dengan monyet ekor Panjang (Macaca fascicularis). Menurut Pak Waluyo dan Kang Sidik, teman kami, monyet ekor panjang banyak terdapat di kebun karet di pinggir jalan raya.
Rekrekan 
Kadalan Birah 

Diantara hutan terfragmentasi ini juga terdapat sawah masyarakat setempat. Saat ini sebagian besar sawah tidak dikelola karena musim kemarau. Saat musim kemarau air sungai tidak mampu mencukupi kebutuhan masyarakat untuk menanam padi.
Walaupun kami belum pernah menemukan tanda-tanda keberadaannya, kukang Jawa (Nicticebus javanicus) juga diperkirakan ada di area hutan ini. Untuk kukang, masyarakat mempunyai anggapan mistis tersendiri. Kukang dianggap sebagai satwa yang bisa membawa ketidakberuntungan, apalagi jika sampai membunuhnya. Menurut beberapa orang tua di sini, kukang juga bisa digunakan sebagai alat tenung untuk memisahkan suatu rumah tangga dan untuk membuat orang jatuh cinta , layaknya jaran goyang atau semar mesem.
Hutan habitat primata disekitar Linggoasri

Sempat saya bertanya ke beberapa orang mengenai kondisi owa saat ini dibanding dahulu. Seorang Ibu yang mengatakan, sebelumnya tidak mengetahui tentang Owa jawa. Mereka mengetahui bahwa di hutan ada Owa Jawa setelah adanya penelitian di desanya. Ternyata peran peneliti cukup penting untuk penyadartahuan masyarakat tentang keberadaan satwa penting di sekitarnya dalam upaya konservasi satwa terancam punah ini.
Cekakak Batu
Biji Kopi Kotoran Musang/Luwak 

Keberadaan satwa primata, burung, dan satwa lainnya sangat penting dalam ekosistem hutan. Keberadaan primata dan burung juga membuat keindahan tersendiri bagi hutan. Hutan yang sepi tanpa nyanyian satwa menjadikan hutan tersebut kurang menarik dan serasi. Beruntunglah hutan-hutan di area ini masih cukup ramai dengan suara satwa liarnya. Jejak kotoran yang diperkirakan adalah feses keluarga kucing dan juga feses luwak juga masih bisa dijumpai. Semoga hutan-hutan di kawasan Linggoasri ini terus lestari. Dan untuk kalian, primata dan burung-burung penghuni hutan, teruslah bertahan kawan, rimbunkan dan indahkan hutan dengan kehadiran dan nyanyian kalian!!!

--------------------------------------------------------------------------------------------------------
ditulis OLeh : Ika Yuni Agustin, Pegiat Konservasi Primata, dari Malang, Jawa Timur; e-mail : ikayuni.agustin@gmail.com