Monday, September 14, 2026

Memanen Pembelajaran dari Kunjungan Belajar KWT Brayan Urip

 

masak bersama, dengan bahan pangan dari hutan Mendolo di Pasar Sehat Kepayang Yogyakarta

oleh : Sri Windriyah (Ketua KWT Brayan Urip Desa Mendolo)

Kegiatan Kunjungan Belajar KWT Brayan Urip dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 29 – 30 Agustus 2026. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menambah wawasan, pengetahuan, keterampilan, serta memperoleh inspirasi dalam pengembangan potensi desa, produk olahan, pengelolaan wisata, dan tata kelola kelembagaan.

Destinasi yang dikunjungi pertama pada hari Sabtu (29/8) adalah Pasar Sehat Kepayang. Lokasinya di Animalika Social Space, Jalan Kaliurang km 9, Sardonoharjo, Ngangklik, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan diawali dengan perkenalan kedua komunitas. Selanjutnya kami berbagi pengalaman, khususnya bagaimana memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar untuk dikembangkan menjadi produk maupun kegiatan yang memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi.

Di pasar sehat, kami mendapatkan berbagai pembelajaran yang bersifat teknis, antara lain: cara memanfaatkan potensi yang tersedia di desa dan lingkungan sekitar sebagai ciri khas desa, dan bagaimana mengenalkan produk yang dikembangkan oleh masing-masing komunitas.

penyambutan di pasar sehat kepayang

Produk yang ada di Pasar Sehat Kepayang sangat beragam, antara lain: kombucha, tepache, es krim sehat, jus aneka sayur, es dawet, dan aneka sayur organik. Sementara itu, kami dari KWT Brayan Urip membawa aneka produk hasil bumi Mendolo, seperti: nasi gadung, tepung gadung, kerupuk gadung rasa udang, brownis gadung, sambel kluwek, dan aneka sayur hutan.

Kami juga mendapatkan ilmu baru lewat pengenalan bahan pengganti bumbu penyedap kimia buatan, alternatif bumbu sehat, obat herbal, dan olahan keripik dari tumbuhan alam sekitar. Kami diperkenalkan dengan beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun obat herbal, antara lain: tumbuhan walang sangit dan wedusan sebagai alternatif pengganti micin, bunga bakso sebagai pengganti bawang putih, kemadu dan kenikir/cokra-cakri sebagai sayuran dan obat herbal, serta klateng yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan keripik dan obat herbal.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pengetahuan baru mengenai cara penyimpanan sayuran, khususnya sayur rebung. Agar tahan lama, rebung bisa disimpan dengan cara difermentasi. Hal ini bisa meningkatkan kualitas dan daya simpan produk.

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan memasak bersama dan dilanjutkan makan bersama. Kami saling bertukar sajian: peserta dari Mendolo menikmati sajian makanan yang disajikan Komunitas Pasar Sehat Kepayang, di antaranya: nasi sayur brongkos, es dawet, es krim manggga-kweni, tepache, kombucha, dan jus sayur.  Sebaliknya, KWT Brayan Urip Mendolo menghidangkan nasi gadung, sambel cepokak campur klanting, tumis blibar pucung, urap kecombrang campur kremo, botok keji, sambel kluwek, kerupuk gadung udang, dan brownis gadung. 

Setelah kegiatan di hari itu selesai, dilanjutkan dengan penutupan dan foto bersama. Selanjutnya, kami menuju penginapan. Kali ini kami mendapatkan pengalaman menginap di Hotel Java Village Resort. Lokasinya tidak jauh dari Animalika, tepatnya di Jalan Griya Taman Asri, Sleman.

mencicip sajian berbagai jamu produk Kebon Pasinaon,Magelang

Kunjungan hari ke dua (30/8) di Kebon Pasinaon Living Museum yang lokasinya ada di Jl. Wirodigdo Km. 3, Sirahan, Salam, Magelang. Kegiatan diawali dengan perkenalan dan penjelasan mengenai latar belakang serta konsep pembelajaran yang diterapkan di Kebon Pasinaon Living Museum. Kami mendapatkan berbagai pengalaman dan pengetahuan tentang kehidupan masyarakat, pertanian, budaya, dan tradisi masyarakat desa yang bertahan sejak zaman dahulu.

Pengelola memberikan presentasi singkat mengenai latar belakang pendirian dan gambaran kegiatan pembelajaran di Kebon Pasinaon Living Museum. Selanjutnya, kami mengikuti program trip dengan berbagai tema. Kami mulai dengan mengenal tata cara pemilihan lurah pada zaman dulu. Alat-alat yang digunakan untuk pemilihan yaitu menggunakan biting dan juga simbolis dari hasil bumi seperti padi, jagung, dan kelapa.

Kami kemudian diajak mengenal berbagai alat pertanian tradisional. Ada wluku, ani-ani, kepang, tedo, irig, pacul, lesung, dan alu. Mengenal berbagai tradisi pertanian seperti nggaru (membajak sawah menggunakan sapi), gengsot, napeni, tandur, nginter, ngencek, dan nutu. Di sesi ini, kami juga dikenalkan mengenai cara membuat jamur dari limbah janggel jagung.

Kami lalu berjalan berkeliing menuju pos-pos yang disediakan, mengikuti sepuluh tema Kebon, seperti Kebon Tandur, Kebon Empon, Kebon Dolan, Kebon Tonton, hingga Kebon Ciblon. Di pos berikutnya, kami mengenal berbagai empon-empon dan cara membuat jamu tradisional, khususnya jamu beras kencur. 

mencoba permainan tradisional

Selanjutnya, kami mencoba permainan tradisional seperti egrang, congklak, bekel, lompat tali dari karet, jamuran, dan balap perahu. Pos ini berada di Kebon Dolan. 

Karena kental dengan muatan budaya, Kebon Pasinaon menyajikan pengalaman langsung berupa praktik kesenian tradisional berupa tari dan kami pun mengikuti praktik menari. Kami juga mendapat kesempatan untuk menyimak seni geguritan dan puisi karya salah satu tokoh Kebon Pasinaon Living Museum.

Di pos Kebon Pawon, kami memasuki replika pawon tradisional dan mengenal berbagai alat dapur tradisional seperti luweng, dandang, kendi, kuali, teko, ceret, kenceng, centhong, irus, siwur, cething, kalo, parutan, ntik, tedo, irig, cobek, munthu, layah, cangkir, muk, dan masih banyak lagi.

Selanjutnya, kami berjalan menuju bagian belakang kampung untuk mengunjungi tempat mandi masyarakat zaman dulu yaitu belik dan sungai. Kami juga diperkenalkan mata air bertuah yang sumber airnya berasal langsung dari Gunung Merapi. Masyarakat setempat memiliki kepercayaan bahwa air tersebut dapat dimanfaatkan berbagai keperluan dan penyembuhan berbagai macam penyakit. Cara penggunaan air tersebut bisa diminum atau untuk cuci muka.

Di pos terakhir, kami belajar mengenai sejarah Desa Sirahan dengan mengunjungi bekas bangunan rumah tua yang merupakan peninggalan pemerintahan lurah pertama desa tersebut.

Kegiatan ditutup dengan makan bersama, penyampaian pesan dan kesan serta di lanjut foto bersama. Selesai sudah kunjungan kami, lalu rombongan dari Mendolo bersiap untuk perjalanan pulang.

Memanen banyak pembelajaran

Dari kegiatan kunjungan belajar di Pasar Sehat Kepayang, KWT Brayan Urip Mendolo memperoleh banyak ilmu dan inspirasi, khususnya dalam hal pengembangan produk dengan memanfaatkan tumbuhan dan potensi alam sekitar. Kami para peserta mendapatkan pengetahuan mengenai alternatif pengganti bahan penyedap, bumbu, pembuatan minuman, obat herbal tradisional, bahan pangan dari tumbuhan alam sekitar, serta cara penyimpanan sayuran rebung agar lebih tahan lama. Selain pengembangan produk, kami juga mendapatkan wawasan mengenai pengembangan wisata berbasis potensi lokal serta strategi pemasaran produk dan desa wisata.

Sementara itu, dari kunjungan ke Kebon Pasinaon Living Museum, kami mendapatkan pengetahuan mengenai pelestarian budaya, pertanian tradisional, kesenian, makanan dan jamu tradisional, serta pemanfaatan potensi desa sebagai daya tarik wisata. Yang tidak kalah penting, kegiatan tersebut memberikan motivasi dan kepercayaan diri kelompok untuk terus maju. Penjelasan mengenai potensi desa, berbagai kendala yang dihadapi, struktur kelembagaan, serta tata kelola kegiatan juga memberikan gambaran yang sangat bermanfaat bagi KWT Brayan Urip Mendolo. Berbagai potensi dan kegiatan yang telah dikembangkan di Kebon Pasinaon Living Museum ternyata memiliki banyak kesamaan dengan potensi yang ada di desa kami.

Selain manfaat dari kunjungan pada dua destinasi utama, ada juga pembelajaran bagi kami selama di hotel. Kami mendapatkan pengalaman mengenai bagaimana tata cara check-in dan check-out, menggunakan fasilitas yang disediakan hotel berbintang, serta merasakan standar keramah-tamahan dan pelayanan hotel.

Kegiatan kunjungan belajar selama dua hari memberikan pengalaman dan wawasan yang sangat berharga bagi KWT Brayan Urip Mendolo. Kegiatan ini membuka pemikiran bahwa potensi alam, pertanian, budaya dan sumber daya yang ada di desa dapat dikembangkan menjadi produk unggulan maupun daya tarik wisata apabila dikelola dengan baik, kreatif, dan berkelanjutan.

Melalui kunjungan belajar ini, KWT Brayan Urip Mendolo semakin termotivasi untuk melakukan pembenahan tata kelola kelompok, pengembangan produk, pemanfaatan potensi alam sekitar, pelestarian budaya, pengelolaan wisata, dan strategi pemasaran produk.

Ilmu, pengalaman dan inspirasi yang diperoleh selama kunjungan belajar dapat diterapkan dan dikembangkan di desa sendiri, sehingga KWT Brayan Urip Mendolo menjadi kelompok yang semakin aktif, kreatif, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Pada akhirnya, kami bisa turut serta dalam mendorong kemajuan desa.


Dari Produk dan Jasa Hutan ke Pasar Beretika: Kunjungan Belajar Masyarakat Mendolo ke Sleman dan Magelang

Ds. Sawahan, Mendolo, Lebakbarang

oleh : Sidiq Harjanto

Desa Mendolo merupakan salah satu area kerja prioritas SwaraOwa dalam upaya pelestarian hutan sebagai habitat penting primata Jawa. Lanskap hutan desa ini menjadi rumah bagi lima jenis primata sekaligus, yaitu: Owa Jawa, Lutung Jawa, Rekrekan, Monyet Ekor-Panjang, dan Kukang Jawa. Kehadiran primata-primata ini menandakan ekosistem hutan yang masih terjaga, di mana keberlangsungannya sangat bergantung pada harmoni antara tutupan kanopi hutan dan pola aktivitas masyarakat di sekitarnya.

Bagi masyarakat setempat, hutan merupakan ruang hidup yang menyimpan potensi ekonomi untuk menunjang kesejahteraan di masa depan. Selama ini, kopi dan durian telah menjadi dua komoditas utama yang menjadi tumpuan hidup sebagian besar warga desa. Pengelolaan lahan garapan berbasis agroforestri untuk kedua komoditas tersebut bisa dimaknai secara positif sebagai upaya menjaga keselarasan antara pemenuhan ekonomi masyarakat dengan kelestarian hutan habitat primata.

Mengangkat Nilai Tambah Pangan Lokal Berbasis Hutan

Di luar dua komoditas tersebut, Desa Mendolo menyimpan potensi hasil hutan yang sangat berharga jika dikembangkan melalui peningkatan nilai tambah (added value). Produk-produk seperti madu klanceng, umbi gadung, hingga puluhan jenis pangan lokal lainnya memiliki peluang pasar yang menjanjikan. Dengan sentuhan inovasi olahan dan pengemasan yang tepat, hasil alam yang dulunya dipandang sebelah mata ini dapat bertransformasi menjadi sumber pendapatan baru yang memperkuat resiliensi ekonomi warga.

Menangkap peluang tersebut, Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip telah mengambil langkah konkret melalui inisiatif olahan pangan lokal berbasis sumber daya hutan. Sebagai contoh, para ibu anggota KWT mengolah umbi gadung beracun melalui proses yang presisi hingga menjadi tepung gadung yang aman dan tahan lama. Bentuk tepung juga menjamin fleksibilitas bahan pangan ini untuk dijadikan aneka olahan seperti kue maupun kerupuk.

Selain gadung, mereka juga mengreasikan aneka sambal hutan khas berbasis kluwek (biji kepayang) dan berbagai tumbuhan liar. Inisiatif ini tidak hanya mendongkrak nilai jual produk lokal, tetapi juga menempatkan kaum perempuan sebagai penggerak utama ekonomi kreatif berbasis konservasi.

mengenalkan produk hasil olahan pangan dari hutan Mendolo

Konsep Wisata Imersif: Menjual Pengalaman dan Narasi Hutan

Selain komoditas fisik, potensi ekonomi Desa Mendolo juga terletak pada potensi jasa lingkungan dan pengetahuan lokal yang dapat ditawarkan kepada publik. Jasa ekowisata menjadi peluang besar yang sangat ideal dikembangkan di desa ini, khususnya model wisata minat khusus yang menekankan pada aspek pengalaman (experience). Para pengunjung tidak sekadar menikmati keasrian alam, tetapi juga diajak berinteraksi langsung dengan kehidupan desa, mempelajari cara pengolahan pangan hutan tradisional, hingga mengamati primata di habitat aslinya secara bertanggung jawab.

Untuk menjembatani potensi melimpah yang dimiliki Desa Mendolo dengan langkah pengelolaan konkret di lapangan, diperlukan penguatan kapasitas bagi para penggerak lokal agar mampu mengelola serta mengemas potensi tersebut secara optimal. Desa Mendolo tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati dan tradisi pangan hutan yang unik, tetapi juga memiliki peluang besar dalam pengembangan produk bernilai tambah serta skema wisata edukasi berbasis pengalaman. Namun, proses transformasi dari potensi menjadi dampak ekonomi dan konservasi yang nyata membutuhkan perspektif baru, wawasan pasar, serta keterampilan teknis dalam menyampaikan narasi produk maupun kawasan di mana produk itu berasal.

Mengenalkan Produk-produk desa Mendolo, Oleh Sri Windriyah, oleh Ketua  KWT Brayan Urip ( https://youtube.com/shorts/79yvEAF2Sys?si=iS2EGliNXCvd8bct

Kunjungan Belajar: Membawa Produk dan Narasi Hutan Mendolo ke Pasar Beretika

Merespons kebutuhan tersebut, pada tanggal 29-30 Agustus 2026 kami telah mengadakan kegiatan kunjungan belajar dan penjajagan pasar ke dua destinasi strategis di Sleman dan Magelang. Inisiatif ini secara khusus melibatkan pengurus dan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip sebagai penggerak ekonomi pangan lokal, perwakilan dari Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo sebagai motor penggerak generasi muda, dan perwakilan perangkat desa. Total 20 orang peserta terlibat dalam kunjungan yang berfokus pada tiga agenda utama: pengembangan produk, penjajagan akses pasar ‘beretika’, dan formulasi konsep wisata edukasi berbasis pengalaman.

Kunjungan ke pasar Sehat Kepayang di Yogyakarta
Ada dua destinasi yang dikunjungi, masing-masing telah berhasil memperkaya wawasan bagi peserta: Pasar Sehat Kepayang di Sleman, dan Kebon Pasinaon Living Museum di Magelang. Di Pasar Sehat Kepayang, para peserta mendapatkan kesempatan berdiskusi dan praktik langsung mengenai penyajian produk pangan agar semakin menarik dan memberikan narasi yang lengkap bagi produk-produk yang dihasilkan sebagai nilai tambah. Dengan tambahan wawasan dan keterampilan dalam storytelling dan penyajian, diharapkan produk-produk yang telah diinisiasi oleh masyarakat di Desa Mendolo bisa menemukan pasar yang tepat.

foto bersama di Kebon Pasinaon Living museum
Bagi para peserta, kunjungan ke Kebon Pasinaon Living Museum telah memberikan perspektif baru mengenai bentuk wisata yang berbasis narasi dan pengalaman langsung yang relevan dengan potensi yang dimiliki Mendolo. Kelompok juga mendapatkan gambaran bagaimana pengelolaan dan pemasaran yang melibatkan warga desa sebagai aktor utama. Model wisata seperti ini bisa memberikan kontribusi nyata ke banyak pihak, baik secara ekonomi maupun dalam bentuk lain seperti peningkatan wawasan dan keterampilan.

Konservasi Berbasis Masyarakat melalui Titian Lestari

Melalui kunjungan belajar ini, KWT Brayanurip, para pemuda perwakilan PPM Mendolo, dan perwakilan perangkat desa tidak hanya membawa pulang wawasan dan keterampilan baru, tetapi juga kepercayaan diri untuk mengelola potensi Desa Mendolo secara mandiri. Sinergi antara inovasi produk pangan lokal, narasi etnobotani yang kuat, dan konsep wisata edukasi yang imersif bisa menjadi motor penggerak baru yang memperkuat resiliensi ekonomi warga sekaligus menjaga kelestarian habitat Owa Jawa secara berkelanjutan.

Menjadi bagian dari Program Titian Lestari, upaya penguatan kelembagaan lokal, inovasi produk dan jasa, serta penetrasi pasar beretika selanjutnya bisa dipahami sebagai langkah konkret dalam mengarusutamakan skema konservasi berbasis masyarakat. Dalam skema ini, konservasi tidak lagi berhenti pada perlindungan flora-fauna dan hutan sebagai habitat, melainkan bekerja melalui upaya sistemik untuk menjaga keseimbangan antara ekonomi dan ekologi. Masyarakat secara mandiri menjadi agen konservasi aktif bagi lingkungan mereka sendiri.

(Baca Selengkapnya kunjungan KWT Brayan Urip di Pasar Sehat Kepayang Yogyakarta dan Living Museum, Kebon Pasinaon Magelang)

Tuesday, August 25, 2026

Motif Batik “ Wanara": Harmoni Filosofi Sido Luhur, Mitologi, dan Observasi Primata dalam Selembar Kain

 


oleh : Arif Setiawan

Ketika membuat design  motif batik Owa tahun lalu dengan sahabat saya Faiz Alymy sebenarnya muncul pilihan-pilihan untuk mengangkat tema jenis-jenis primata Indonesia. Kombinasi visualisasi alam terutama hutan dan konsep pola motif klasik.

Motif  batik kedua ini, kemudian kami  beri nama “ Wanara”,

Menghidupkan Kembali Monyet Pemakan Daun khas Nusantara

Inspirasi visual karya ini berakar dari karakteristik keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya genera Presbytis—kelompok primata pemakan daun (folivore) kalau di jawa tengah ada ( Presbytis fredericae) Rekrekan, di Sumatera ada Simpai( Presbytis melalophos), di Kalimantan ada Kelasi ( Presbytis rubicunda) dan Bekantan ( Nasalis larvatus), , dan masih banyak lagi yang mempunyai karakther yang khas, dan sebaran alaminya mewakili keanekaragaman hayati di bagian barat kepulauan Nusantara Jawa-Kalimantan-Sumatera . Bahkan ada endemik di pulau-pulau kecil seperti di Mentawai ada Simakobu ( Simias concolor) dan Joja ( Presbytis poteziani), Kekah ( Presbytis natunae) di Natuna, (Presbytis siamensis) di Bintan.

Berbeda dengan pendekatan ilustrasi modern yang serba realistis, wujud sang Presbytis digubah ke dalam stilasi seni rupa klasik Solo (Surakarta).Garis-garis lekuk tubuhnya dibuat lincah dan bergelombang, memperlihatkan sifat arboreal mereka yang aktif berpindah di antara kanopi hutan, dan ciri khas morphologinya adalah rambut jambulnya. Isen-isen ( isian dalam )  dedaunan yang membalur anatomi  monyet secara eksplisit menegaskan hubungan simbiotik antara fauna ini dengan alam habitatnya.

Berpijak pada Pakem Sido Luhur

Secara struktur visual, desain ini dibangun di atas fondasi pola Sido Luhur—salah satu motif batik klasik keraton yang sarat makna. Kata sido berarti jadi atau terus-menerus, sementara luhur menyimbolkan keluhuran budi, kemuliaan, serta kehormatan hidup.

Bingkai geometris bersudut belah ketupat yang berpadu dengan ornamen utama di tengah menciptakan keseimbangan ruang yang agung. Garis-garis bergelombang yang membingkai pola ini mempertegas karakteristik estetika klasik Surakarta yang anggun, tertib, dan sarat makna transendental.

Mengapa "Wanara"?

Secara harfiah dalam bahasa Sanskerta, Wanara  merujuk pada ras kera atau monyet karena berekor. Namun dalam semesta Ramayana—wiracarita yang menjadi ruh berbagai pementasan wayang —Wanara melambangkan ketangkasan, kesetiaan, serta kecerdasan alami yang menjaga keseimbangan jagat.

Melalui penamaan ini, batik Motif Wanara hadir bukan sekadar sebagai ornamen fauna, melainkan sebagai bentuk penghormatan pada nilai-nilai kebijaksanaan lokal dan perlindungan alam liar yang berpadu dengan doa keluhuran hidup.

Merayakan Colobine Day 2026

Batik selalu menjadi media tutur yang ampuh. Lewat Batik Motif Wanara, saya berharap Colobine Day 2026 , 25 agustus ini, tidak hanya dirayakan sebagai momentum kepedulian lingkungan global, tetapi juga dirayakan dari dalam akar budaya kita sendiri. Memberi semangat khususnya kepada pegiat konservasi alam untuk melestarikan jenis-jenis monyet asli Indonesia, Bahwa penghormatan terhadap alam, keluhuran budi, dan habitat primata sesungguhnya telah lama terpahat seirama dalam filosofi busana Nusantara.


Monday, August 17, 2026

Konservasi Cawan Madu: Pendekatan Regeneratif untuk Resiliensi Habitat Owa Jawa

 

Interaksi lebah dan bunga kopi meningkatkan peluang terjadinya penyerbukan

Oleh: Sidiq Harjanto

Pada kotak-kotak kayu kecil di sudut kebun petani, lebah-lebah klanceng bekerja dengan tekun. Tidak seperti lebah sengat yang membangun sarang berbentuk segi enam simetris dari lilin murni, lebah nirsengat ini membangun wadah-wadah yang unik. Mereka mengumpulkan resin dari berbagai pepohonan hutan, lalu membentuk cawan-cawan cokelat kehitaman untuk menyimpan cadangan madu maupun polen yang mereka kumpulkan.

Dari cawan-cawan kecil itulah lahir sebuah cerita besar tentang keterhubungan. Setiap tetes madu yang kita minum terkoneksi langsung dengan keanekaragaman flora dan kelestarian hutan. Ketika petani merawat habitat klanceng dan menjaga tutupan pohon, mereka tak cuma mengisi cawan-cawan madu, tetapi sedang mempertahankan jalinan kehidupan.

Berangkat dari pemahaman itu, SwaraOwa memaknai pengembangan ekonomi berbasis hutan bukan sekadar memberikan keterampilan atau mengenalkan teknologi terapan kepada petani melainkan juga menumbuhkan 'ekosistem' yang regeneratif. Di dalamnya perlu ada koherensi antarpihak, kolaborasi, dan inovasi. Pembelajaran ini kami dapatkan dari pengalaman lebih dari delapan tahun introduksi pembudidayaan lebah klanceng di desa habitat Owa Jawa.

Darso dan Suroyo sedang memanen madu menggunakan pompa sedot

Lebah sebagai agen konservasi

Nektar adalah cairan manis yang dihasilkan berbagai jenis tumbuhan. Dengan kekayaan spesies penyusun vegetasi hutan, nektar dihasilkan dalam jumlah besar. Kita susah mengestimasinya karena sifatnya yang tersebar. Meskipun tersedia dalam jumlah melimpah, nektar tidak bernilai ekonomi. Namun, keajaiban terjadi ketika lebah telah mengubahnya menjadi madu, ia menjelma komoditas bernilai tinggi dan telah diperdagangkan selama ribuan tahun.

Lebah mengambil nektar dan serbuk sari dari tumbuhan sebagai sumber energi dan protein. Bagi mereka, itu adalah mekanisme mempertahankan eksistensi spesies. Akan tetapi, dilihat dari sudut pandang berbeda, kerja lebah juga meningkatkan kemungkinan keberlanjutan berbagai spesies lain. Interaksi antara lebah dengan bunga dapat berkontribusi meningkatkan keberhasilan penyerbukan, yang kemudian memicu pembuahan dan menghasilkan biji sebagai bakal generasi baru spesies tumbuhan yang didatanginya.

Regenerasi tumbuh-tumbuhan penyusun hutan adalah salah satu fondasi regenerasi hutan itu sendiri. Dengan hutan yang terus tumbuh, aneka spesies yang bergantung kepadanya otomatis juga lestari.

Logika ini yang kami pakai saat pertama kali belajar bersama mengenai pembudidayaan lebah bersama masyarakat di desa-desa sekitar habitat Owa Jawa. Konservasi spesies primata endemik dan terancam punah ini tidak hanya ditempuh dengan jalan linear seperti perlindungan dari perburuan, tetapi juga melalui jaring-jaring kompleksitas hutan itu sendiri.

Jika regenerasi hutan sebagai habitat Owa Jawa adalah isu jangka panjang, ketersediaan pakan baginya bisa diamati dalam skala waktu yang lebih singkat. Kelompok kera kecil ini merupakan satwa pemakan buah. Di sisi lain, lebah merupakan kelompok serangga penyerbuk dominan di hutan-hutan tropis. Di titik inilah kita menemukan korelasi beberapa aspek yang bertautan. Jejak jasa lebah mungkin terekam pada sebagian pakan yang menopang kehidupan Owa.

Melalui budidaya lebah, konservasi Owa Jawa tidak hanya berlangsung di dalam hutan, tetapi juga diperluas ke lanskap sosial-ekologis yang mengelilinginya. Cawan madu menjadi titik masuk untuk memulainya, dengan argumen dasar: nilai ekonomi diperoleh bukan dengan menghabiskan sumber daya, tetapi dengan mempertahankan kemampuan lanskap untuk terus menghasilkan manfaat.


Dengan hati-hati, Yukni mengangkat brood cells - tempat untuk menetaskan telur dan larva lebah
 
untuk dibagi menjadi dua bagian


Posisi lebah dalam kompleksitas sistem sosial-ekologi

Menggunakan paradigma sistemik, kita menyadari bahwa hutan bukanlah entitas yang terisolir. Ekosistem hutan tropis secara tidak langsung dipengaruhi oleh bagaimana dinamika global berjalan. Dalam skala yang lebih kecil, dinamika ekosistem hutan berhubungan dengan bagaimana masyarakat di sekitarnya mendapatkan manfaat langsung. Cerita para petani hutan di Dusun Sawahan, Desa Mendolo, bisa memberikan gambaran yang mempermudah kita memahaminya.

Sebagai petani, Rohim (41) menggantungkan ekonomi dari tiga komoditas utama, meliputi durian, kopi, dan madu. Di luar itu, ada sumbangan dalam porsi yang lebih kecil dari kapulaga, jengkol, dan biji kepayang. Berangkat sebagai pemanen madu hutan (Apis dorsata), lima tahun terakhir ia membudidaya klanceng dari jenis Heterotrigona itama. Kini, mayoritas madu yang dijualnya berasal dari kotak-kotak budidaya di kebun, sementara sebagian kecil lainnya dari panen alam. Madu telah menyumbang sekitar 20% pemasukannya.

Bagi para pembudidaya klanceng di Sawahan, madu menjadi bantalan yang cukup kuat dalam hal ekonomi. Jika dihitung dari hasil panenan maupun potensi nilai ekonomi, madu relatif lebih stabil ketimbang komoditas lain. Bandingkan dengan kopi yang disparitas hasil panennya menunjukkan kontras yang lebar, angka tertinggi pada musim raya mencapai sekira tiga kali lipat dibandingkan angka terendah pada musim paceklik seperti sekarang ini.

Pada durian, kontras itu bisa jauh lebih besar lagi. Meskipun tertolong dengan harga pasar, namun tampaknya durian memiliki ambang optimal tertentu. Ketika panen raya, pasar bisa mencapai titik jenuh sehingga pengepul lokal kesulitan memasarkan lebih banyak durian yang disetor petani. Akibatnya, harga langsung jatuh.

Kombinasi beberapa sumber pendapatan seperti yang dimiliki Rohim dan banyak petani di desanya merupakan strategi untuk menjaga daya tahan menghadapi ketidakpastian pasar. Melalui agroforestri, petani bisa memperoleh pendapatan dari sumber yang beragam. Agroforestri adalah mengombinasi berbagai spesies tanaman pada satu lahan. Dalam satu kebun, kita bisa menemukan durian, kopi, kapulaga, pisang, dan berbagai tanaman pangan. Tak hanya tanaman budidaya, spesies liar masih diberi ruang untuk tumbuh.

praktik pemecahan koloni dengan warga Sawahan ( 8 agustus 2026)

Praktik ini tidak hanya menjaga resiliensi ekonomi bagi petani, tetapi juga memberi berbagai keuntungan lain.

Alih-alih menjual semua madu hasil panen, Rohim selalu menyisihkan setidaknya satu liter madu klanceng untuk mencukupi kebutuhan keluarga setiap bulannya. Baginya dan banyak keluarga pembudidaya lebah di dusun Sawahan, madu adalah suplemen kesehatan yang murah meriah, diramu oleh proses alami di hutan yang melingkupi desa. Pada cawan-cawan kecil di dalam kotak lebah klanceng itulah, para petani bisa mengaksesnya.

Demikian pula yang dilakukan Darso (34). Pekerjaan di kebun dan hutan membuatnya butuh stamina prima. Menurutnya, mengonsumsi madu secara rutin menjaga tubuh tetap bugar. Bagi masyarakat sekitar hutan, kebugaran adalah salah satu aset ekonomi. Ketika masyarakat merasakan langsung bahwa madu dari hutan yang terjaga menjadi "suplemen alami" dan benteng imunitas keluarga, itu memberi peluang terciptanya sistem umpan balik.

Madu sebagai komoditas ekonomi, maupun madu sebagai suplemen kesehatan bisa dimaknai sebagai bentuk-bentuk insentif yang diberikan hutan kepada masyarakat. Namun, insentif hanya bisa dipertahankan melalui resiprositas. Artinya, jika para petani ingin mendapatkan manfaat yang terus-menerus, mereka perlu secara sadar memelihara keutuhan hutan agar fungsi itu terus berjalan.

hasil pemecahan koloni

Merawat 'ekosistem' budidaya lebah

Inisiasi budidaya lebah klanceng yang kami jalankan berawal dari penyelamatan koloni liar yang dipanen dari alam. Semula, para pemanen madu sekadar mengambil madu dari sarang di pohon dan meninggalkan begitu saja koloni lebah dalam keadaan rusak. Pada akhirnya, jarang koloni yang selamat. Praktik semacam itu dikhawatirkan bisa mengancam populasi lebah liar di hutan.

Para pemanen madu lalu belajar memindahkan sarang klanceng ke dalam kotak budidaya untuk dipelihara. Tidak mudah untuk melakukan itu. Permasalahannya bukan pada hal teknis, melainkan pada aspek psikologis. Seorang pemanen madu alam biasa pergi ke hutan lalu membawa pulang hasil panen pada hari itu juga. Sementara itu, seorang pembudidaya perlu menghadapi delayed gratification. Memulai budidaya hari ini berarti baru bisa memanen beberapa bulan lagi.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, mereka pada akhirnya berhasil melewati titik kritis itu. Di Sawahan sendiri, sudah lebih dari sepuluh orang pembudidaya klanceng yang kini memetik manfaat nyata. Mereka bisa rutin memanen madu setiap bulan, mulai Juni hingga menjelang puncak musim hujan di bulan Desember.

Perkembangan ini membawa beberapa implikasi menarik, termasuk dalam hal bagaimana mendapatkan koloni untuk dipelihara. Suroyo (35), seorang petani lain yang baru dua tahun terakhir menekuni klanceng, menuturkan bahwa ia mendapatkan koloni dengan cara memasang kotak jebak. Dibandingkan rekan-rekan sesama pembudidaya, tingkat keberhasilan yang didapatnya jauh lebih tinggi. Didukung pengalaman panjang dengan lebah madu lokal (Apis cerana), ia memahami bagaimana menentukan lokasi pemasangan yang ideal.

Banyak warga ingin memulai budidaya, tetapi kesulitan mendapatkan koloni lebah adalah tantangan tersendiri. Keahlian yang dimiliki Suroyo sangat berharga untuk menjawabnya. Hanya saja, seringkali keahlian semacam ini sulit ditularkan karena variabelnya kompleks dan kalkulasi terjadi secara intuitif. Padahal, teknik jebak merupakan metode yang lestari karena tidak perlu membongkar sarang koloni liar yang risiko kegagalannya lebih tinggi sehingga berpotensi mengganggu keberlanjutan populasi di alam.

Menjawab tantangan kebutuhan koloni budidaya, awal Agustus ini kami mengadakan workshop. Berbeda dari workshop pada umumnya, tidak ada status narasumber ataupun peserta karena semua mengambil posisi setara—punya kesempatan yang sama dalam berbagi pengalaman masing-masing. Kegiatan ini hendak meningkatkan keterampilan para pembudidaya dalam metode pemecahan koloni (colony splitting). Pemecahan koloni adalah proses membagi satu koloni lebah klanceng yang sudah kuat menjadi dua atau lebih koloni baru. Ini merupakan alternatif di saat metode jebak belum efektif.

Yukni Buhan (32) tampak sangat telaten mengamati sarang yang sudah terbuka. Menurut pengalamannya, tingkat keberhasilan pemecahan koloni terletak pada pengamanan ratu dan pupa ratu. Pada teknik splitting manual, prinsipnya adalah: satu koloni dipertahankan dengan ratu aktif, sedangkan koloni pecahan diberikan pupa ratu sebagai calon ratu baru. Jika pemecahan koloni dilakukan dengan grasa-grusu, seringkali ratu hilang atau terluka sementara sel calon ratu (queen cell) yang rawan pecah menjadi rusak.

Sebagai pembudidaya yang paling berpengalaman dalam teknik pemecahan, Yukni memandu proses ini sembari membagi banyak tips untuk meningkatkan keberhasilan. Metode ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi agar jangan sampai melukai lebah-lebah atau merusak kumpulan telur – pupa – larva (brood cell). Ia juga mewanti-wanti untuk secara rutin memeriksa perkembangan koloni pasca-pemecahan agar terhindar dari binatang pengganggu seperti semut.

Praktik pemecahan koloni kali ini berjalan lancar, meskipun keberhasilannya baru bisa dilihat beberapa minggu ke depan. Namun, pertemuan ini bukan sekadar meningkatkan pengalaman teknis melainkan sebentuk upaya merawat ‘ekosistem’ budidaya lebah yang telah dibangun para praktisinya. Ekosistem yang dimaksud adalah interaksi antar-aktor yang membentuk jaring-jaring kerja sama dalam skema pengembangan budidaya klanceng.

Melalui praktik bersama, keahlian dan keterampilan tidak lagi bersifat eksklusif. Dalam hal ini, karakter regeneratif itu kembali dimunculkan pada konteks lain, yaitu ekosistem pengetahuan. Dalam momen yang terbilang singkat, pembicaraan tidak berhenti pada bagaimana memperbanyak koloni, tetapi berkembang ke berbagai hal termasuk bagaimana meningkatkan ketersediaan pakan alami lebah, perkembangan alat penyedot madu, hingga pengalaman-pengalaman sederhana namun tetap berguna.

Bertambahnya koloni bisa berimplikasi pada kemungkinan peningkatan hasil panen yang artinya perlu memikirkan akses pasar yang lebih luas. Hal itu mungkin bisa dipecahkan bersama melalui perjumpaan-perjumpaan semacam ini. Membangun ekosistem ekonomi-ekologi berkelanjutan membutuhkan kolaborasi, alih-alih kompetisi.

Cawan madu bukan sekadar tempat di mana para pembudidaya mengarahkan ujung selang mesin sedotnyamengumpulkan tetes demi tetes cairan manis yang membawa manisnya ekonomi lestari. Karena di dalamnya, simpul keterhubungan itu terlihat: Owa Jawa – hutan – pohon – lebah – manusia. Pendekatan regeneratif bukan sekadar tentang membiarkan hutan bertahan, melainkan tentang mendesain interaksi manusia di dalamnya menjadi tindakan memulihkan dan menjaga resiliensi. Hutan yang regeneratif adalah hutan di mana keberadaan manusia tidak dianggap sebagai beban ekologis, melainkan sebagai pemelihara.

Monday, August 10, 2026

Sensasi seru fish watching di Kali Wisnu

mengamati ikan di Kali Wisnu

Oleh : Imam Taufiqurrahman

Ada pemandangan tak biasa di Kedung Kali Bengang, Kali Wisnu, pada 23-24 Mei 2026. Sekelompok pemuda dan anak-anak Dusun Sawahan, Desa Mendolo, memenuhi area kedung. Sebagian yang berkacamata selam dan snorkel, tampak membenamkan diri di beningnya aliran sungai. Mereka tengah asyik mencoba ber-fish watching.

Segerombolan ragalan menjadi incaran mereka. Sang penghuni kedung berukuran sedang hingga besar itu berenang dengan lincah di beningnya air, terus menghindar dari anak-anak yang coba menghampiri.

“Jangan dikejar, biarkan,” cegah Pak Irwanjasmoro, narasumber sekaligus instruktur kegiatan. “Ditunggu saja,” lanjutnya, “biar ikannya datang sendiri.”

Sebegitu antusias anak-anak itu berkecipakan mencoba mendekati. Lantas, tersadar kalau mengejarnya percuma.

Mereka terlalu bersemangat. Pun, saking belum terbiasanya ber-fish watching. Baru pertama mereka mencoba melakukan pengamatan ikan dari bawah sungai. Naluri yang timbul jadinya mengejar, seperti ingin menangkap. Padahal, justru dengan berdiam, ikan-ikan akan menghampiri.

Layaknya snorkeling di perairan laut, fish watching di sungai rupanya tak kalah seru. Dan kita sama tau, sekadar berenang atau bermain air saja sudah cukup menyenangkan.

Sementara, fish watching lebih lagi dalam menyuguhkan sensasi yang berbeda. Membenamkan wajah, lalu bernapas dengan snorkel dan mendengarkan hembusan napas yang berderu telah cukup jadi pengalaman baru yang unik.

Belum lagi dari yang biasanya melihat ikan sebatas dari atas permukaan sungai. Lazimnya, ragalan atau Tor tambra hanya dilihat dari jalan atau jembatan, menyambut siapa pun yang hendak masuk ke Dusun Sawahan. Fish watching memungkinkan kita berenang bersama mereka, mengikuti pergerakannya di kedalaman air, sesekali mendapati mereka sejajar pandang mata.

peserta pengamatan ikan anak-anak remaja dan dewasa

Seiring waktu, anak-anak pun terlihat lebih tenang. Mereka rela bergantian menggunakan snorkel, antre dengan sabar di pinggir sungai. Ada yang hanya memperhatikan, ada pula yang ikut turun mencarikan ikan untuk temannya.

Aliran sungai terasa sangat sejuk. Bagi yang tak terbiasa, mungkin akan cepat merasa kedinginan. Namun, anak-anak itu terlihat biasa saja. Mereka menyebar mencari titik pengamatan masing-masing.  

Para pemuda yang telah mendapat pembekalan dan mencoba ber-fish watching di hari pertama, terus mendampingi dan ikut membimbing adik-adik mereka itu, 17 anak usia SD-SMP. Mulai dari membantu anak-anak cara mengenakan snorkel, menemani mencari ikan, sembari mengawasi yang lain.

Anak-anak dipandu menggunakan kacamata selam dan snorkel

Semakin lama, mereka semakin terlihat menikmati. Berbagai gaya ditunjukkan: tengkurap di atas bebatuan, berjongkok di kedalaman air atau berjalan merunduk. Memasuki kemarau seperti sekarang, kedalaman dan arus Kali Wisnu memang terbilang aman dan ideal. Alirannya dangkal dan tak seberapa dalam, berkecepatan arus sedang.

Sedikit ke hilir, di pinggiran sungai yang penuh bebatuan dan kolam dangkal, Pak Irwan mendapati ikan lain.

“Ini, ada sili,” ujarnya.

Ikan pipih panjang mirip belut itu bersembunyi di bawah bebatuan. Kepalanya menyembul, memperlihatkan mulutnya yang bermoncong. Sementara bagian belakang hingga ekornya menjuntai di bebatuan dasar sungai. Bila tak jeli, ikan dengan corak unik bernama ilmiah Macrognathus maculatus itu tak akan terlihat.

Sili yang teramati bersembunyi di bebatuan

Biasanya, sili mendiami kedung beraliran deras yang permukaannya tertutup riak dan buih air. Kalau tidak tertangkap pancing, sulit sekali ditemukan. Beruntung kali ini ia berdiam di bebatuan dangkal.

Tak seberapa jauh, giliran bokol yang terlihat. Jenis umum di Kali Wisnu dan di perairan air tawar Jawa itu berenang di sekitar tepian sungai. Nama ilmiahnya Barbodes binotatus. Adapula lunjar, sejenis wader dengan garis sisi biru. Menurut Pak Irwan, jenis dalam genus Rasbora sp ini masih memerlukan studi mendalam karena kemiripannya satu sama lain.

Riki, yang sedari tadi mengamati di area bawah jembatan, muncul ke permukaan.

“Ada kékél,” sebutnya.

Beberapa anak-anak lantas menghampiri bebatuan yang Riki tunjuk. Segera mereka membenamkan diri, mencari si endemik Jawa yang sepintas menyerupai lele itu. Bedanya, ikan bernama ilmiah Glypthotorax platypogon tersebut memiliki organ perekat di dada yang membuatnya mampu menempel di bebatuan dalam aliran arus deras.

Fish watching sebagai ekowisata

Tanpa terasa, telah hampir dua jam anak-anak berendam di sungai. Meski tampak tak puas, kegiatan harus dihentikan. Empat dari tujuh jenis ikan di Kali Wisnu berhasil teramati. Kalau mau lebih gigih, mungkin akan bisa menjumpai jenis lain, macam uceng.

Memang, aktivitas fish watching yang dilakukan di perairan tawar semacam ini jauh dari populer, bahkan mungkin nyaris tidak dikenal. Berbeda dengan aktivitas serupa di bawah laut, sampai-sampai sebutan snorkeling seakan identik dengannya.

Namun, mengamati ikan air tawar di habitat alaminya dapat dikemas untuk rekreasi, bahkan ekowisata. Sebuah cara yang berbeda dalam upaya mengenalkan keragaman jenis ikan lokal, sekaligus mengajak orang untuk lebih peduli terhadap kelestarian sungai dan jenis ikan yang hidup di dalamnya.

Fish watching menjadi bentuk pemanfaatan lebih jauh dari melindungi dan melestarikan ikan perairan tawar. Kegiatan di Kali Wisnu ini terwacanakan dalam sarasehan dan workshop sungai di Dusun Sawahan pada 2025 silam. Pak Irwan yang hadir kala itu, memperkenalkan aktivitas yang pernah diujicobakannya di Yogyakarta.

Diskusi dan sharing bersama para pemuda sebelum aktivitas fish watching pertama, 23 Mei 2026

Mengembangkan fish watching sebagai ekowisata sangat mungkin dilakukan di Kali Wisnu. Masyarakat Dusun Sawahan telah lama meninggalkan praktik-praktik tak lestari dalam pemanfaatan sungai dan ikan. Dulu, saat kemarau adalah waktu terbaik bagi masyarakat Dusun Sawahan melakukan ‘tradisi’ meracun, alias ngobat. Kemarau kini, fish watching yang dilakukan. Kedung Kali Bengang telah menjadi suaka bagi ragalan dan ikan lain. Sebuah lubuk larangan yang patut dikembangkan ke depannya. Ragalan yang hadir kembali itu menjadi bukti keberhasilan upaya perlindungan bertahun, yang telah tertuang dalam kesepakatan bersama. Perencanaan yang matang memang sangat diperlukan dan harus menjadi perhatian utama dalam mengembangkan ekowisata minat khusus fish watching.

Hulu terlihat mendung. Beberapa pemuda yang bertugas mengawasi aktivitas di sungai memberi peringatan agar aktivitas di sungai berhenti. Dan benar saja, tak seberapa lama hujan pun turun.

Anak-anak pulang berganti pakaian. Mereka kembali berkumpul untuk mendiskusikan hasil kegiatan sembari menyantap makan siang. Tahapan awal dalam memperkenalkan fish watching pada pemuda dan anak-anak Dusun Sawahan telah selesai. Dan mereka bersepakat untuk melakukan fish watching­ lagi di lain waktu. Anda tertarik ikut mencoba?

Tuesday, July 28, 2026

Wildland Studies Pertama di Indonesia: Petungkriyono Jadi Kelas Alam Dunia

 


Oleh : Arif Setiawan

Bulan Juli, 8-13  2026 swaraowa mendapat tamu Istimewa dari Amerika, 20 orang yang tergabung dalam Wildland Studies. Sebuah international program akademik, yang berafiliasi dengan University West Washington. Program ini merupakan kursus lapangan internasional untuk mahasiswa sarjana yang berfokus pada ekologi, botani, praktik penelitian satwa liar, metode survei lapangan, dan hubungan antara budaya dan lingkungan sekitarnya. Program tersebut mengajak mahasiswa berinteraksi langsung dengan beragam ekosistem dan komunitas lokal untuk mengatasi isu-isu lingkungan yang mendesak saat ini, di lokasi-lokasi penting di seluruh dunia,

Swaraowa tentusaja menyambut baik kesempatan menjadi host acara ini, menyambut hangat kehadiran Wildland Studies di hutan tempat owa hidup. Bagi kami, owa bukan sekadar primata endemik, tetapi simbol keterhubungan antara manusia, budaya, dan ekosistem tropis, Owajawa adalah indentitas global, program ini sampai di Petungkriyono, juga salah satunya karena keberadaan owajawa.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa internasional dapat menyaksikan langsung bagaimana keseimbangan hutan ini terjadi di Petungkriyono, sekaligus belajar dari masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan mereka. Konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan satwa, tetapi juga tentang merawat tradisi, ilmu pengetahuan, dan solidaritas lintas generasi.

Wildland Studies menjadi jembatan: mempertemukan ilmu pengetahuan dengan pengalaman lapangan, memperkuat narasi bahwa menjaga Owajawa  berarti menjaga hutan, budaya, dan masa depan bersama. Dengan menyambut acara ini, SwaraOwa menegaskan komitmen untuk terus membangun jejaring global yang berpijak pada akar lokal, agar suara owa dan hutan tropis Petungkriyono tetap bergema di dunia.


Melihat program wildland studies,program ini telah berjalan  47 tahun, dan selama ini kunjungan atau kegiatan berpindah-pindah antar negara dengan beragam landscape dan ecosystem dari afrika, amerika  Australia, dan Indonesia di tahun 2026 adalah yang pertama kalinya. Peserta dari berbagai universitas di Amerika, dan melalui program wildland studies  kunjungan ke Indonesia, ini mereka mendapatkan nilai akademik yang menjadi prasarat program studi mereka. Tidak hanya  berkunjung ke Petungkriyono saja, rangkaian studi tour ini, dimulai dari Sumatera, ke Taman Nasional Waykambas, ke Carita , Krakatau, dan setelah ke Petungkriyono mereka ke Merapi di Yogyakarta, Bromo dan Lombok.selama total 45 hari perjalanan.


 Kami kemudian menyusun acara untuk program ini, dengan komitmen pemberdayaan komunitas, koordinasi kegiatan acara ini di bawah  Desa Wisata Kayupuring, melibatkan pihak lain seperti,  Perhutani, Pemerintah Desa Kayupuring, Pemerintah Kecamatan Petungkriyono, menjamin kelancaran dan keamanan kegiatan praktek lapangan untuk mahasiswa asing. Sebagai tambahan muatan lokal, yang disusun bersama dengan menambahkan kegiatan untuk pengenalan Kopi Owa, kopi naungan di habitat owa, dan pengolahan secara tradisional untuk kopi di desa kayupuring. Dari swaraOwa memberikan pengantar untuk materi teknik survey Owa dengan vocal count dan mengenalkan pendekatan matapencaharian berkelanjutan melalui kopi owa.

Selama 4 hari  peserta menggukaan fasilitas camping ground, di Welo asri, sesuai dengan misi wildland studies ini, bahwa tidak ada dinding dalam ruang kelas pembelajaran mereka, alam kayupuring dan hutan habitat owa jawa menjadi kelas mereka. Karena ini adalah matrikulasi akademik, peserta mendapatkan nilai dari setiap rangkaian kegiatan dan nilai ini menjadi credit mereka dalam menyelesaikan studi di masing-masing universitas mereka. Membuat plot vegetasi, pengamatan identifikasi burung, dan berdiskusi menjadi agenda setiap hari.

Acara ini juga memberikan pengalaman tersendiri terutama tim yang terlibat, mendampingi tamu yang berbeda budaya dan bahasa, dan menjadikan motivasi tersendiri untuk mengapresiasi keanekargaman hayati yang ada di sekitar desa karena telah mendapat apresiasi dari tamu mancanegara.

Dokumentasi kegiatan ini bisa dilihat di youtube swaraOwa .

Thursday, July 23, 2026

Monitoring Satwaliar: Memperkuat akar konservasi dan apresiasi keanekargaman hayati

 Oleh : Kurnia Ahmaddin

bayi owa teramati di Mendolo

Kegiatan monitoring satwa liar pada periode Januari- Juni 2026 belum terdapat banyak perubahan metode dengan monitoring pada tahun lalu. Kami masih melakukan monitoring dan patroli primata yang dilakukan oleh warga lokal di Desa Mendolo, Kayupuring dan Pacet. Hanya saja pada tahun ini kami mendorong mereka untuk bergerak mandiri selama pengambilan data lapangan setelah pada tahun lalu kami masih banyak mendampingi masyarakat untuk mengambil data catatan perjumpaan.  

Hasil catatan pengamatan selama total 96 hari pengamatan di 3 desa tersebut sejauh ini terdapat 197 bar data pengamatan primata Jawa.  Dengan catatan perjumpaan dengan Owa jawa sebanyak 43 titik, Kukang jawa 10 titik, Lutung jawa 92 titik, Monyet ekor-panjang 32 titik dan 20 laporan perjumpaan dengan Rekrekan. Di Mendolo kami menemukan 2 catatan penambahan individu baru yaitu kelompok Owa kupel dan kelompok Owa perliman. Namun demikian pada bulan Mei, kelompok Owa kupel sudah tidak membawa anak lagi. Sehingga jumlah individu pada kedua kelompok tersebut saat ini sama-sama 5. Pohon pakan sejauh ini kami berjumpa dengan 32 catatan pohon pakan namun hanya 27 yang dapat kami identifikasi. 

Catatan penting lainnya dari pemantauan berbasis komunitas kami adalah dokumentasi seekor Binturong, Beruang Kucing (Arctictis binturong), penampakan yang sangat langka hanya pada musim berbuah tertentu. Binturong, dalam bahasa inggris  bearcat merupakan anggota keluarga Viverridae (musang) terbesar. Dengan tubuh bongsor berbulu hitam lebat mirip beruang, wajah yang sekilas seperti kucing, dan ekor panjang yang kuat, binturong adalah potret nyata dari keunikan evolusi alam. Namun, di balik semua keunikan fisiknya, keberadaan satwa arboreal ini sering kali luput dari pandangan kita yang hidup terpisah dari batas hutan. Di sinilah peran krusial dari aktivitas monitoring (pemantauan) keanekaragaman hayati secara berkala. Menariknya, garda terdepan dari kegiatan pemantauan ini bukan lagi sekadar peneliti dari luar, melainkan warga lokal yang tinggal di sekitar hutan. Binturong adalah mamalia yang dilindungi oleh hukum Indonesia dan hewan ini.

Memantau keberadaan binturong di alam liar bukanlah perkara mudah. Sifatnya yang nokturnal dan lebih banyak menghabiskan waktu di pucuk-pucuk pohon membuat perjumpaan langsung menjadi momen yang sangat langka. Melalui pemasangan camera trap (kamera jebak) atau survei jalur hutan yang konsisten, para warga sekitar hutan kini aktif mengumpulkan data esensial: kapan mereka aktif, pohon apa yang menjadi sumber pakan favorit mereka, hingga bagaimana peta sebaran mereka. 

Binturong ( Arctictis binturong) 
Keistimewaan Binturong

Yang istimewa dari binturong ini, biasanya mengeluarkan bau seperti jagung bakar, sebagai teritorial scent atau tanda, bau ini dihasilkan dari kelenjar dibawah ekornya. Binturong mempunyai ekor yang bisa mencengkeram seperti tangan ( prehensil) yang berfungsi membantu bergerak di pucuk kanopi pohon untuk menggapai buah. Binturong berperan sama seperti owa, sebagai petani hutan, menyebarkan biji biji pohon dari buah yang di makannya. Dan yang unik lagi, binturong betina memiliki organ sperti penis ( pseudo penis) yang merupakan salah satu bukti evolusi alam,  dimana hormon testosteron sangat kuat sampai mempengaruhi bentuk fisik betina yang berfungsi untuk bertahan di alam, atau habitat yang susah  hal ini diistilahkan sebagai  maskulinitas anatomi.

Mengapa Harus Melibatkan Warga Terdekat dengan Hutan?

Melibatkan masyarakat lokal dalam monitoring satwa liar bukan sekadar urusan efisiensi logistik lapangan. Ini adalah langkah strategis yang menyentuh akar konservasi itu sendiri. Warga sekitar adalah orang-orang yang berinteraksi langsung dengan hutan setiap hari. Merekalah yang paling pertama mengetahui jika ada perubahan di dalam hutan, dan mereka pula yang akan menerima dampak langsung jika ekosistem tersebut rusak.

Ketika warga lokal dilatih dan dilibatkan secara aktif dalam monitoring, sains tidak lagi menjadi menara gading yang jauh dari realitas. Sains dan konservasi bertransformasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Monitoring keanekaragaman hayati memiliki esensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengoleksi barisan angka statistik atau dokumentasi digital. Tujuan utama dari monitoring ini adalah untuk memperkuat apresiasi kita terhadap keanekaragaman hayati itu sendiri. Bagaimana mungkin kita bisa mengapresiasi, mencintai, dan tergerak untuk melindungi sesuatu yang keberadaannya bahkan tidak kita ketahui?