![]() |
| tunas Kepayang/Pucung (Pangium edule) |
Oleh : Sidiq Harjanto
Awal tahun 2026 kami isi dengan program pembibitan untuk koridor habitat Owa Jawa (Hylobates moloch) di wilayah Petungkriyono dan Lebakbarang. Program ini telah diinisiasi tiga tahun lalu di Desa Mendolo, Lebakbarang dan terus berjalan hingga saat ini. Penanaman pohon merupakan upaya mendesak untuk mengatasi fragmentasi habitat sebagai ancaman senyap yang mempercepat kepunahan berbagai spesies.
Bagi Owa Jawa, konektivitas habitat adalah jembatan kehidupan yang vital untuk keberlangsungan spesies. Terbukanya area hutan dapat memutus akses antar-blok hutan, mengisolasi kelompok keluarga owa dalam "pulau-pulau" kecil yang terfragmentasi. Isolasi kelompok-kelompok kecil dari populasi utama memicu hanyutan genetik (genetic drift), kondisi melemahnya keturunan suatu spesies akibat perkawinan sedarah. Dampaknya bisa sangat fatal: penurunan derajat kesehatan, melemahnya kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim, hingga risiko kepunahan yang meningkat.
![]() |
| Infrastruktur pembibitan pohon hutan di Sokokembang |
Melalui program Titian Lestari, penanaman pohon diharapkan memperbaiki kualitas habitat di beberapa area yang terbuka, membangun kembali konektivitas kanopi hutan sebagai jembatan mobilitas kelompok-kelompok Owa Jawa maupun berbagai spesies satwa liar lainnya. Kami menargetkan 10.000 bibit diproduksi di dua unit pembibitan, satu di Sokokembang dan satu lagi di Mendolo. Kedua unit pembibitan ini dikelola secara kolaboratif bersama masyarakat.
Jenis-jenis pohon yang dibibitkan merupakan spesies-spesies asli setempat dan memiliki nilai penting bagi konservasi area sempadan sungai dan pohon-pohon pakan bagi Owa Jawa. Jenis-jenis itu antara lain: gintung, sentul, rau, pucung/kepayang, jengkol, klepu, putat, serta berbagai spesies asli lainnya.
Lanskap Kerja melalui Kopi Naungan
Kami tidak hanya menanam pohon sebagai penyediaan koridor habitat dan potensi pakan owa di masa depan, tetapi juga mengintegrasikannya dengan skema kopi naungan. Upaya mengarusutamakan pengelolaan kopi di bawah naungan (shade grown coffee) di habitat Owa Jawa telah dirintis sejak 2012. Skema ini melahirkan Owa Coffee, sebuah produk yang bukan sekadar komoditas melainkan ada atribut konservasi di dalamnya.
![]() |
| Kopi di bawah naungan hutan |
Kopi di bawah naungan menjadi solusi untuk menemukan ekuilibrium antara kepentingan ekonomi dan konservasi. Ini adalah tentang lanskap kerja (working landscape) yang produktif, tetapi tetap mampu mendukung kelestarian keanekaragaman hayati. Dalam model ini, kopi tumbuh di bawah naungan pepohonan hutan, memastikan hutan tetap berfungsi sebagai pelindung satwa liar sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Ada beberapa prinsip yang mendasarinya. Lanskap produktif lestari dikembangkan dalam perspektif ekosistem yang holistik. Pertama, polikultur strategis: mengombinasikan berbagai komoditas dalam satu lahan. Tanaman-tanaman bernilai ekonomi dikembangkan dalam satu lahan berdampingan dengan pepohonan hutan. Kopi bukan menjadi tanaman tunggal dalam satu petak lahan, melainkan menjadi bagian dari strata hutan itu sendiri.
Metode ini menjamin fungsi ekologis hutan sebagai penyedia relung habitat bagi berbagai spesies, termasuk Owa Jawa, satwa arboreal penghuni lapisan tajuk. Di sisi lain, petani memiliki lebih banyak alternatif sumber pemasukan, memberi ketahanan (resiliensi) terhadap ketidakpastian pasar, dan memberi lebih banyak “laboratorium” untuk mengembangkan keterampilan.
Kedua, optimalisasi jasa lingkungan: pengembangan budidaya lebah, dan pelestarian burung. Lebah madu tidak hanya memberi manfaat ekonomi berupa madu yang bisa dijual, tetapi sekaligus membantu penyerbukan bagi berbagai tanaman, termasuk kopi. Budidaya lebah klanceng telah diinisiasi sejak 2017 dan telah memberikan tambahan ekonomi bagi petani. Peran penyerbukan belum bisa dikuantifikasi, namun kami meyakini bahwa budidaya berkelanjutan telah berkontribusi dalam pelestarian populasi serangga penyerbuk ini.
Burung, kelompok satwa yang paling banyak diburu, memiliki peran penting dalam pengendalian hama. Melestarikan burung berarti menjaga pertanian kita dari kerugian. Upaya kami dalam pelestarian burung meliputi: edukasi kepada masyarakat umum, dukungan inisiasi dan implementasi aturan lokal, serta pengembangan ekowisata sebagai alternative pemanfaatan lestari.
Ketiga, pengarus-utamaan konsep “hutan warung hidup”: menjaga hutan sebagai penyedia pangan liar dan obat tradisional bagi komunitas. Hutan menyediakan berbagai potensi pangan, meliputi: umbi-umbian, buah-buahan, sayur-sayuran, maupun jamur-jamur liar. Berbagai tumbuhan obat (biofarmaka) juga tersimpan di dalamnya. Kekayaan ini bisa menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya jika dikelola dengan baik.
Hutan tidak sekadar simpanan kekayaan berupa objek konkret (pangan dan obat), tetapi juga penyimpan database pengetahuan yang dikumpulkan nenek moyang. Sifatnya akumulatif dan terus berkembang, melekat pada tradisi dan budaya kita. Artinya, melestarikan fungsi hutan sebagai warung hidup adalah merawat identitas kita sendiri.
![]() |
| Perawatan bibit |
Inklusivitas program untuk inklusivitas habitat
Hutan bukanlah anugerah yang secara eksklusif diberikan kepada umat manusia, melainkan habitat inklusif untuk beragam kehidupan liar. Ekosistem di dalamnya merupakan jaring-jaring rumit yang menjaga resiliensi alam. Namun, gangguan pada satu mata rantai bisa memicu dampak sistemik, merusak jaringan secara lebih luas dan pada akhirnya menurunkan fungsinya secara keseluruhan.
Kami menyadari bahwa inklusivitas menjadi kunci keberlanjutan program ini. Pada pelaksanaannya, program ini berbasis warga; mulai dari penyediaan bibit, kerelaan penggarap lahan untuk lokasi penanaman, pemantauan (monitoring) biodiversitas, hingga komitmen pemeliharaan jangka panjang. Kami juga berkomitmen dalam penyediaan ruang bagi kaum perempuan sebagai bentuk pengakuan atas peran strategis mereka dalam konservasi.
Program Konservasi Titian Lestari ini didukung oleh: Yayasan Astra Honda Motor dan affiliated group: PT Musashi Auto Parts Indonesia, PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Yutaka Manufacturing Indonesia, PT Suryaraya Rubberindo Industries.


















