Friday, May 5, 2017

Asoka : Anak Owa Hutan Sokokembang

halaman depan

Mengabarkan dari habitat Owa jawa, di hutan Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan bahwa telah  dan sedang terbit buku cerita untuk anak berjudul “Dongeng Asoka” Anak Owa Hutan Sokokembang, Buku ini  ditulis oleh Regina Stella dan illustrator Djatmiko Widhi Wicaksono, buku ini di tulis di tujukan untuk khususnya remaja dan orang tua, untuk mengenalkan Owa jawa dan perlunya pelestarian hutan pada umumnya.

Penulisan buku ini, berawal ketika penulis bersama keluarga dan anak-anak dari komunitas home schooling Yogyakarta, berkunjung ke hutan Sokokembang tahun 2013. Mereka menginap di Sokokembang dan melihat langsung primata di habitat aslinya. Dari kegiatan inilah ide membuat buku ini muncul. 
tahun 2013 kunjugan anak-anak ke Sokokembang

Dengan banyak diskusi langsung di lapangan, dan melihat langsung bagaimana perilaku owa, penulis  (Mbak Regina) dengan mudahnya memahami bahasa scientific behavior  Owa, yang tidak sama atau tidak dimiliki jenis satwa lainnya, kemudian dengan mudah merangkainya dalam sebuah tulisan sederhana dan mudah di pahami. Kemudian kami bertemu dengan mas Djatmiko, yang dengan keahlian yang sebagai illustrator, memvisualisasikan cerita Asoka.

Primatewatching, mbak Regina sedang menunjuk Owa untuk anaknya 

Untuk awal penerbitan buku ini kami telah mencetak 100 exemplar buku, dan di distribusikan secara gratis di beberapa wilayah habitat Owa di Jawa Tengah.  kami terus ingin menyebar luaskan buku ini untuk khalayak umum, dan sedikit revisi untuk text, sehingga lebih mudah di baca untuk anak-anak, dengan menampilkan banyak gambar dari pada tulisan. Penerbitan pertama buku ini merupakan bagian dari kegiatan "Kopi dan Konservasi Primata" yang di dukung oleh Wildlife Reserve Singapore, Ostrava Zoo, dan Fortwayne Chidren's Zoo



Bagi anda yang ingin mendapatkan buku “Dongeng Asoka” atau membantu mendanai penerbitan, distribusi dan turut berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian Owa jawa melalui buku ini bisa menghubungi kami di sokokembang.channel@gmail.com atau inbox di akun sosial media kami Instragram, FB dan twitter @swaraOwa.
cuplikan bagian buku
halaman belakang


Thursday, April 27, 2017

Pelatihan Monitoring Owa Jawa di Gunung Papandayan


Tgl 17-20 April atas nama SwaraOwa Proyek Kopi dan Konservasi Primata, mendapat kesempatan untuk melihat langsung habitat Owa di bagian barat pulau Jawa. Berlokasi di Gunung Papandayan Garut. Acara yang di gagas oleh Javan Gibbon Center (JGC) dan Conservation International Indonesia ini bertujuan memperkenalkan metode survey and monitoring untuk Owa Jawa. Peserta yang di undang adalah staff BKSDA, Perhutani Jawa Barat, Lembaga Swadaya Masyarakat sekitar Jawa Barat, Mahasiswa dan Pegiat konservasi alam di sekitar Gunung Papandayan.

Acara mencakup teori di kelas tentang teknik dasar survey menggunakan line transek dan metode tidak langsung untuk owa menggunakan Vocal count-triangulasi. Berlokasi di sari papandayan resort untuk materi kelasnya dan untuk praktek kita menuju blok hutan di lereng selatan Papandayan. Meskipun acara lapangan tidak bertemu langsung dengan Owa jawa, acara ini menjadi kegiatan berbagi pengalaman dan  pengetahuan teknis untuk pengambilan data dan analisis data untuk hasil monitoring/survey.


Berikut foto-foto dari lapangan :
mencoba merekam panggilan suara Owa

habitat Owa di blok Tumaritis Papandayan

praktek pengambilan data populasi

Thursday, April 13, 2017

Lebah pembawa berkah

di tulis oleh :
Sidiq Harjanto
sidiqharjanto@gmail.com

Hampir semua orang pernah mencicipi manisnya madu, cairan kental berwarna keemasan atau terkadang warna lain seperti putih atau hitam. Madu diproduksi oleh lebah. Namun tidak semua lebah menghasilkan madu, dan tidak banyak jenis lebah yang menghasilkan madu dalam jumlah yang layak untuk dipanen oleh manusia. Faktanya, madu yang beredar di pasaran dan bisa kita nikmati sehari-hari berasal dari beberapa jenis lebah marga Apis, dan sebagian kecil dihasilkan lebah tak bersengat (meliponin). Di Indonesia, madu umumnya berasal dari lebah hutan (Apis dorsata), dan lebah ternak (Apis mellifera). Lebah hutan (A. dorsata) membangun sarang terbuka, menggantung pada dahan pohon-pohon tinggi atau terkadang di tebing. Jenis ini cenderung membutuhkan habitat berupa hutan yang masih baik. Lebah ini juga dikenal agresif, akan menyerang pengganggu dengan cara memberikan sengatan menyakitkan secara berkelompok. Pada beberapa kasus, dampak serangan dorsata bisa fatal. Karena perilaku hidup seperti itu, maka lupakan untuk membudidayakan jenis ini. Hanya para pemburu yang terlatih yang mampu memanen madunya dari alam. Sebenarnya ada satu lagi jenis lebah yang menghasilkan madu dengan kualitas sangat baik, dan dapat dibudidaya, dialah Apis cerana. Namun cukup sulit menemukan produk madu lebah jenis ini di pasaran.
 
Koloni lebah Apis cerana
 Lebah Apis cerana adalah sepupu dari lebah ternak Apis mellifera. Secara umum kedua jenis memiliki banyak kemiripan; baik dari morfologi tubuh, maupun perilakunya. Yang sangat membedakan kedua jenis ini adalah distribusi alaminya. Lebah A. cerana menghuni kawasan Asia, paling barat lebah ini ditemukan di suatu tempat di Iran, paling timur di kawasan tengah Indonesia, paling utara di Cina, dan paling selatan masih di Indonesia. Karena sebaran alami lebah jenis ini di Asia, maka biasa disebut sebagai lebah madu asia (Asiatic/eastern honey bee). Sedangkan sebaran alami A. mellifera adalah di Eropa dan Afrika, ke timur hanya sampai Asia barat. Lebah jenis ini biasa disebut sebagai lebah madu eropa (European/western honey bee). Uniknya kedua jenis lebah ini hanya terpisahkan oleh sabuk gurun berjarak ratusan kilometer di Iran. Campur tangan manusia menjadikan jenis-jenis lebah dapat dijumpai di luar sebaran alaminya. Jenis A. melifera kini dapat dijumpai di semua benua kecuali Antartika. Jenis ini paling banyak dibudidaya dan merupakan penyuplai utama madu di dunia, karena produktivitasnya yang tinggi.
A.cerana

Lebah madu asia (A. cerana) merupakan jenis lebah asli Indonesia, berdampingan dengan berbagai jenis Apis lainnya meliputi A. andreniformis, A. dorsata, A. koschevnikovi, dan A. nigrocincta. Dapat dikatakan negeri kita memiliki kekayaan jenis Apis terbanyak di dunia. Meskipun demikian, di kalangan peternak lebah Indonesia, lebah lokal kurang dikelola dengan baik karena produksi madunya yang kalah dengan jenis A. mellifera yang dijuluki lebah unggul. Sebagian besar peternakan lebah besar di Indonesia menggunakan jenis lebah introduksi sebagai penghasil madu maupun produk lebah lainnya seperti bee pollen, propolis, dan royal jelly. Jauh sebelum lebah eropa didatangkan, masyarakat Indonesia sudah sangat akrab dengan pemeliharaan lebah lokal secara tradisional. Saat ini, lebah lokal masih dipelihara dalam skala kecil oleh masyarakat di pedesaan terutama yang berdekatan dengan hutan. Berbeda dengan lebah unggul yang dipelihara dalam peti-peti yang didesain khusus untuk produksi, dan dengan sistem penggembalaan mengikuti ketersediaan sumber pakan; lebah lokal umumnya masih dipelihara dalam gelodok (batang kayu yang bagian dalamnya berongga) atau dalam peti sederhana, dan tidak digembala.
Budidaya lebah hutan 
Dewasa ini, dunia perlebahan sedang mengalami berbagai permasalahan global. Salah satu yang mengkhawatirkan adalah hilangnya sebagian koloni lebah secara misterius. Fenomena ini dikenal sebagai colony collapse disorder (CCD). Kehilangan koloni lebah telah menjadi momok serius bagi peternakan lebah di Eropa dan Amerika. Hilangnya ribuan koloni lebah tiap tahun bukan saja mengancam persediaan madu dunia, namun juga mengancam produksi berbagai jenis komoditas pertanian. Hal ini karena lebah terbukti merupakan agen pembantu penyerbukan berbagai jenis tanaman. Dunia bahkan mempercayai bahwa ada peran lebah pada satu di antara tiga jenis makanan yang kita gigit sehari-hari. Selain berupaya untuk mengatasi CCD, dunia kini mencari alternatif jenis-jenis lebah selain mellifera untuk dibudidayakan, baik sebagai penghasil madu maupun agen penyerbuk bunga. Tak heran jika geliat pengembangan peternakan lebah non-mellifera kini mulai terasa. India dengan pengembangan Apis cerana-nya. Negara-negara di kawasan Amerika latin, Afrika, dan negara tetangga kita - Australia juga melaju cepat dalam mengembangkan lebah meliponin (stingless bee).

Bagaimana dengan Indonesia? Dengan adanya ancaman CCD dan berbagai hama musuh lebah eropa seperti Varroa dan Nosema; maka negara kita yang kaya akan jenis lebah perlu berbenah. Kita memiliki Apis cerana dan jenis-jenis lebah potensial lainnya yang kiranya layak untuk dikembangkan sebagai pengasil madu khususnya untuk mendukung kebutuhan nasional yang saat ini masih defisit. Berhadapan dengan parasit seperti Varroa, jenis lebah native yang kita miliki jauh lebih tangguh. Terlebih, jenis lebah lokal tentunya lebih cocok dengan kondisi alam di Indonesia. Diperlukan komitmen untuk pengembangan teknik pemeliharaan jenis lebah lokal, mulai dari desain peti lebah, teknik perbanyakan koloni, teknik pemanenan produk, hingga manajemen hama-penyakit. Perlu disadari pula bahwa pengembangan perlebahan seringkali berhadapan dengan permasalahan umum seperti penggunaan pestisida. Dengan begitu, kegiatan perlebahan sangat perlu didukung dengan konsep pertanian yang ramah lingkungan.
Penyerbukan bunga kopi Robusta oleh lebah

SwaraOwa, melalui kegiatan "Kopi dan Konservasi Primata" berupaya untuk memberikan kontribusi kecil bagi pengembangan perlebahan bersama masyarakat sekitar hutan di Kecamatan Petungkriyono, Kab. Pekalongan.  kegiatan pelestarian Owa jawa yang menjadi awal progam, telah dan sedang berkembang dengan hal baru yang sebenarnya juga sangat terkait dengan kelestarian hutan dan kegiatan ekonomi lokal yang bersumber dari sumbedaya hutan. Ternak lebah merupakan salah satu kegiatan ekonomi terbaik bagi masyarakat di sekitar hutan. Di satu sisi kegiatan ekonomi ini tidak membutuhkan modal yang besar, dan tidak terbatas kepemilikan lahan. Di sisi lain dengan terpeliharanya populasi lebah, maka peran mereka dalam membantu penyerbukan sebagian besar tanaman hutan akan terus terjaga. Hutanpun akan terus lestari. Masyarakat di Petungkriyono sendiri telah memiliki pengalaman cukup panjang dalam pemeliharaan lebah lokal Apis cerana. Mereka membuat gelodok dari batang tanaman paku tiang, atau peti papan dengan desain yang sederhana.

Apa yang dapat kami lakukan saat ini adalah mendorong masyarakat untuk membangkitkan kembali semangat memelihara lebah lokal, mengembangkan teknik pemeliharaan yang ‘modern’, dan tentu saja membangun pasar yang mau memberikan apresiasi terhadap produk yang dihasilkan lebah lokal. Kami meyakini bahwa dengan pengelolaan yang tepat, maka lebah lokal akan mampu ‘memberikan perlawanan’ terhadap lebah import dalam hal produktivitas madu maupun produk-produk lebah lainnya. Dan yang lebih penting lagi, peran penting lebah lokal bagi kelestarian hutan selama ribuan tahun atau bahkan jauh lebih lama lagi, akan tetap terjaga.


Monday, March 13, 2017

Penunggu rimba Bukit Bulan : Siamang dan Ungko


(perjalanan menuju Bukit Bulan, mengamati Ungko dan Siamang)

Ada 3 jenis Owa di daratan Sumatra, namun juga tidak banyak yang menaruh perhatian khusus kepadanya, yaitu Siamang (Sympalangus syndactilus) dan Ungko (Hylobates agilis), dan owa tangan putih (Hylobates lar)

Kebetulan sekali bulan ini saya mewakili , SwaraOwa di undang oleh Taman Nasional Bukit Dua Belas untuk berbagi pengalaman untuk monitoring jenis-jenis Owa, dan karena di wilayah Taman Nasional Bukit Dua Belas juga menjadi habitat dari Siamang dan Ungko.
staff TN BD sedang mencoba merekam panggilan Ungko
Setelah acara selesai, saya segera mencari tahu dimana bisa melihat Siamang dan Ungko selain di kawasan TNBD, kebetulan sekali  ada kolega  yang tinggal di Sorulangun, dan merekomendasikan untuk ke hulu sungai Batanghari, yaitu Batang Asai, katanya masih ada hutan bagus disana, ada siamang dan ungko.

Untuk mencapai lokasi ini harus menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda (4wd), karena cukup curam topografi dan juga hujan sepanjang hari membuat jalanan berlumpur. Sejak awal sudah beberapa kali saya cek di peta hulu Batang asai, tepatnya masuk di wilayah sungai limun.

Wilayah ini sudah di kenal oleh warga jambi sebagai daerah penghasil emas, dan memang setelah melihat langsung sepanjang jalan di kanan dan kiri terlihat aktifitas penambangan emas. Sawit dan karet menjadi pemandangan di satu setengah jam pertama perjalanan.

Tujuan kami adalah desa Meribung masuk dalam wilayah kecamatan Limun. Desa ini mempunyai hutan yang masih bagus, yang di kelola oleh adat, dan menurut informasi warga masih terapat satwa-satwa asli sumatera, seperti tapir, kambing gunung, beruang, Harimau dan tentunya Ungko dan Siamang.
Pulang dari mendulang emas (caping yang di gunakan adalah dulang, alat untuk mencari emas)

Setelah melewati jalanan yang berlumpur dan naik turun kami sampai di rumah pak Ansor, mantan kepala desa yang pernah mendapatkan penghargaan nominasi penerima kalpataru tahun 2009 sebagai penyelamat lingkungan.

Langsung saja saya ngobrol-ngobrol dengan warga sekitar, dimana masih terdengar suara siamang dan ungko? Apakaha masih sering melihat dan jauh tidak dari dusun kalau untuk melihat atau mendengar Siamang dan ungko. Beberapa warga sangat jelas membedakan apakah itu siamang dan ungko, Siamang lebih besar dan hitam, sementara ungko lebih kecil ukurannya, dan ada putih di alisnya. Beberapa warga juga nampak masih ragu-ragu menjelaskan ciri-ciri ungko dan siamang. Ada juga warga yang menjelaskan kalau ungko biasanya bersuara pagi-pagi hari, sebelum matahari terbit, dan Siamang biasanya siang hari setelah matahari terbit. 
Sempur hujan-sungai

Pelatuk Merah
Mendengar cerita warga tersebut saya semakin penasaran dan ingin melihat langsung atau mendengar siamang dan ungko. Saya kemudian di antar oleh pak ashari ke hutan siang itu, untuk melihat langsung kondisi hutan dan kalaupun beruntung bisa bertemu dengan penunggu rimba bukit bulan, sempur hujan, dan pelatuk merah diantaranya burung-burung yang saya jumpai.
Topografi yang bergunung juga sepertinya menyelamatkan kawasan hutan adat ini sementara waktu.Namun  5 tahun terakhir ini warga di sekitar bukit bulan, telah beralih pekerjaan menjadi penambang emas, ada pohon yang memang bagus untuk membuat alat pendulang emas. Kami menemukan banir pohon besar, yang bekasnya di potong-potong, dan ternyata pohon inilah yang digunakan untuk membuat dulang emas, karena meskipun di buat tipis kayu ini tidak pecah, begitu kata pak Ashari yang menjelaskan. Hampir 3 jam kami menyusuri hutan ini, namu hujan membuat kami terus mengambil arah balik, dan juga sempat menemukan cakaran beruang di batang pohon.

Pohon Bulian ((Eusideroxylon zwageri ) , banirnya di manfaatkan untuk membuat "Dulang" emas
Esok harinya, jam 4.30 saya di bangunkan oleh suara teriakan khas Ungko, tidak jauh dari desa dan saya pun segera keluar rumah mencari arah datangnya suara tersebut. Kurang lebih 500 meter dari rumah pak ansor, adan sebuah bukit kapur yang masih rapat dan disitulah suara itu berasal, hari masih gelap namun suara tersebut sangat jelas, Ungko jantan yang sedang melakukan panggilan territorial dan komunikasi dengan anggota keluarga lainnya. Ketika hari mulai terang nampaklah meskipun tertutup ta\juk pohon, 3 ungko salah satunya masih remaja, bergerak berayun memakan buah dari pohon sejenis Ficus sp. (lihat video di atas)

Hingga jam 8.30 saya masih mengikuti pergerakan ungko ini, dan ternyata tidak jauh dari tempat ini ada Simpai (Presbytis melalophos) yang sedang mencari makan juga, lebih dari 7 individu, dan simpai ini adalah monyet pemakan daun, kadan terlihat di bawah semak semak, dan juga di perkebunan karet yang ada disekitar hutan.
Simpai (Presbytis melalophos)

Melihat lebih luas hutan disekitar dusun ini, ternyata di sebelah timur dusun ini adalah gunung kapur, kawasan pegunungan karst yang cukup unik, karena vegetasi pohon di atas gunung kapur ini juga cukup rapat, dan dari tempat tersebut memang terdengan cukup banyak suara Siamang dan Ungko. Mungkin satu-satunya habitat karst yang di huni oleh 2 species primata yang berbeda (sympatric) yang ada di Sumatra bagian tengah.
pegunungan karst Bukit Bulan yang menjadi habitat Siamang dan Ungko

Untuk mendapat gambar siamang dan ungko sepertinya tidak mudah, karena mereka berada di tajuk atas dan rapat, namun dari suara yang terdengar jelas, kira-kira lebih dari 10 kelompok Siamang yang berada di sekitar dusun. Siamang ini mulai terdengar ramai bersuara antara jam 10.15-11.00,termasuk dari arah bukit-bukit kapur tersebut.

Hingga jam 2 siang, saya kemudian meninggalkan dusun ini, dengan segenap pertanyaan dan harapan akan kelestarian habitat siamang dan ungko. Kilau emas dan rencana pembukaan pabrik semen yang menambang gunung karst bukit bulan,   tentu lebih menjanjikan  dan sudah tentu juga akan menghilangkan cerita dan nyanyian dari Bukit Bulan  yang merupakan kawasan limestone karst sebagai daerah tangkapan air untuk wilayah Suroloangun hingga Jambi.

bacaan lebih lanjut :
Brockelman, W. & Geissmann, T. 2008. Hylobates lar. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T10548A3199623. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T10548A3199623.enDownloaded on 13 March 2017.
Geissmann, T. & Nijman, V. 2008. Hylobates agilis. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T10543A3198943. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T10543A3198943.enDownloaded on 13 March 2017.

Nijman, V. & Geissman, T. 2008. Symphalangus syndactylus. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T39779A10266335. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T39779A10266335.enDownloaded on 13 March 2017.

Friday, February 17, 2017

Cinta Lebah Indonesia

ditulis Oleh:
Sidiq Harjanto
email : sidiqharjanto@gmail.com

Berternak lebah menghasilkan madu juga membatu produksi tanaman pangan
Selain menghasilkan produk madu yang bernilai ekonomi, lebah memiliki peran yang sangat penting dalam membantu penyerbukan berbagai jenis tanaman tropis, dalam hal ini hutan pada umumnya. Lebah penghasil madu di Indonesia didominasi oleh 3 jenis yaitu Apis dorsata, A mellifera, dan A cerana. Lebah madu A. mellifera sendiri bukan merupakan jenis asli Indonesia, dan sengaja didatangkan ke dalam negeri sebagai lebah penghasil madu. Sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia memiliki banyak jenis lebah asli (native bee) yang menghasilkan madu.  Dari marga Apis tercatat ada A. andreniformis, A. cerana, Apis dorsata, A. koschevnikovi, dan A. nigrocincta.
 Lebah hutan (Apis dorsata) hidup di habitat hutan yang relatif masih baik, membangun sarang terutama pada dahan-dahan pohon. Menghasilkan madu lebih dari 5 liter perkoloni, lebah ini masih menjadi salah satu pemasok kebutuhan madu nasional. Jenis lebah lokal asli Indonesia lainnya, Apis cerana, cukup banyak dipelihara oleh para peternak skala kecil di pedesaan. Produksi madu dari jenis ini tidak terlalu melimpah namun banyak diburu karena kualitasnya dianggap lebih bagus dibandingkan madu dari lebah impor.
Apis cerana, salah satu lebah asli Indonesia
Barangkali sedikit dari kita yang mengetahui bahwa selain lebah-lebah dari marga Apis, kita memiliki kelompok lebah lain yang potensial untuk menghasilkan produk-produk lebah (madu, polen, propolis). Lebah-lebah tersebut menghuni hutan-hutan yang kita miliki, beberapa jenis bahkan telah beradaptasi hidup di sekitar pemukiman. Uniknya, mereka tidak mempunyai sengat. Lebah tanpa sengat dikenal dengan berbagai nama lokal. Sebutan-sebutan tersebut antara lain kelulut (Melayu), klanceng (Jawa), teuweul (Sunda), gala-gala (Sulawesi), dll. Jenis lebah tanpa bersengat di Indonesia berdasarkan catalog Indomalayan Stingless Bee (Rasmussen, 2008) setidaknya ada 35 jenis. Lebah tanpa sengat dalam satu suku dengan Apis, termasuk dalam suku Apidae, tribus Meliponini.
Taksonomi
Kindom
Filum
Kelas
Bangsa
Suku
Tribus
Marga
: Animalia
: Arthropoda
: Insecta
: Hymenoptera
: Apidae
: Meliponini
: Geniotrigona, Heterotrigona, Lepidotrigona, Sundatrigona, Tetrigona, Tetragonula, dll.
 
lebah tanpa sengat Heterotrigona itama (yang besar) dan Tetragonula cf laeviceps

Lebah tanpa sengat hidup dalam koloni dengan pembagian tugas yang jelas (eusosial). Dalam satu koloni terdiri dari satu atau lebih ratu, ratusan lebah jantan, dan ribuan lebah betina steril. Tugas ratu adalah bertelur untuk menghasilkan keturunan baru. Tugas lebah jantan hanya kawin. Sedangkan lebah betina steril memiliki berbagai tugas seperti mengumpulkan pakan; menjaga sarang; dan merawat ratu, lebah jantan, dan lebah-lebah muda.
Semua jenis lebah tanpa sengat diketahui bersarang pada lubang, dengan satu pintu masuk yang dilengkapi dengan sistem keamanan. Karena tidak dilengkapi dengan organ penyengat sebagai pertahanan diri, mereka membangun sarangnya dengan suatu sistem keamanan yang unik guna menjaga sarang dari ancaman penyusup maupun penyakit. Pemilihan sarang pada lebah tak bersengat cenderung menunjukkan adanya variasi. Misalnya jenis Heterotrigona itama cenderung memilih lubang-lubang pohon sebagai tempat membangun sarang. Heterotrigona thoracica cenderung memilih lubang-lubang batuan atau pohon dengan diameter batang yang besar. Sedangkan jenis Tetragonula laeviceps, sebagai jenis yang cukup umum, cenderung lebih pragmatis dalam memilih media sarang. Mereka bisa menghuni ruas bambu, lubang pada cacat bangunan, pipa, dll.
sarang lebah tanpa sengat

Seperti lebah Apis, lebah tanpa sengat juga mengumpulkan nektar dan polen sebagai makanan. Nektar diproses menjadi madu, sedangkan serbuk sari digunakan untuk makanan ratu lebah dan larva lebah. Baik madu maupun serbuk sari (roti lebah) disimpan dalam kantong-kantong yang terbuat dari campuran resin tanaman dan lilin lebah, sebagai cadangan makanan.
Di sisi lain, lebah berukuran kecil –tidak lebih besar dari lalat- ini juga menghadapi ancaman serius oleh semakin terdesaknya habitat mereka. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia merupakan salah satu negara dengan laju kehilangan hutan yang tinggi di dunia. Hilangnya hutan sebagai habitat utama lebah tanpa sengat menyebabkan hilangnya banyak populasi lebah dari kelompok ini di berbagai tempat. Beberapa jenis tertentu masih mampu bertahan di habitat yang kurang bersahabat, namun mereka juga menghadapi masalah dalam menemukan tempat untuk bersarang. Tak heran jika lebah-lebah mungil tersebut terkadang dijumpai bersarang di tempat yang kurang layak.
Besarnya keanekaragaman jenis lebah tanpa bersengat; dengan variasi dalam ukuran tubuh, perilaku, dan relung habitatnya; menjadikan mereka memiliki peran dominan dalam penyerbukan. Penyerbukan bunga pada beberapa jenis tanaman diduga sangat tergantung dengan keberadaan lebah. Dengan manfaat yang sedemikian besar, kiranya diperlukan upaya serius guna menjaga kelestarian lebah tak bersengat di Indonesia

 Save our native bees!


Rasmussen, C. 2008. Catalog of Indomalayan / Australasian stingless bee (Hymenoptera: Apidae: Meliponini. Zootaxa, 1935, 3-80.

Tuesday, January 31, 2017

"Owa Jawa, si Pemanjat Cadas Kramat "

oleh
Salmah Widyastuti
salmah.widyastuti@gmail.com


Catatan baru mengenai keberadaan owa jawa di Jawa Tengah, membawa kami untuk menginisiasi kegiatan konservasi primata di kawasan ini. Beberapa bagian hutan di gugusan perbukitan yang melintang di utara Kabupaten Purbalingga menjadi salah satu habitat alami yang tersisa bagi kera kecil endemik Jawa. Lokasi ini kami sebut "Cadas Kramat", terletak di desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga, Jawa Tengah. Karena kondisi geografis yang sulit, terdapat potongan hutan alami yang dibentengi jurang sungai yang dalam dan terhampar di lereng gunung kapur yang terjal.  Mungkin satu-satunya tipe habitat Owa, di Jawa yang berada di tebing batu kapur.

Selain perburuan yang berpotensi mengancam kelangsungan populasi owa jawa, di seluruh wilayah sebaran Owa, kebutuhan manusia yang sifatnya ekstraktif juga meningkatkan deforestasi sehingga mendesak habitat alami owa jawa.
Cadas Keramat "Siregol", lingkaran kuning dimana Owa teramati

Kunjungan kedua tim swaraOwa di Desa Kramat disambut hangat dengan pemuda karangtaruna Desa Kramat yang ramah, dan langsung menemani kami menyusuri tebing kapur cadas Kramat, tebing Siregol. Dalam pengamatan kali ini dari jarak sekitar 100 meter kami menjumpai satu kelompok owa jawa yang sedang melakukan pergerakan di pepohonan di bawah tebing. Sesaat setelah itu, kami melihat 2 individu owa dari kelompok tersebut melakukan pergerakan berpinah, cara mereka bergerak sungguh mengejutkan kami yang sedang serius mengamatinya.

  Baru kali ini kami melihat owa jawa memanjat tebing. Tebing vertikal dengan ketinggian sekitar 5-10 meter dipanjat dengan lengannya yang panjang meraih sulur-sulur tanaman dan kakinya menapaki tebing. Melompat dan meraih batang kayu kecil untuk bergerak, dengan teknik yang sempurna. Sungguh fenomena perilaku yang amat jarang teramati dilakukan oleh jenis kera kecil ini. Secara normal owa jawa melakukan pergerakan secara brakhiasi (berayun) antar dahan pohon dengan efisiensi energi. Kelompok ini harus mencapai bagian bawah tebing untuk menuju pohon pakannya, melewati tebing batu yang licin dan sangat extrem. Masih banyak hal yang bisa diteliti untuk tujuan konservasi terkait Owa dan habitat Cadas Keramat.
habitat Owa di bagian bawah tebing cadas keramat 
Tak jauh dari posisi owa jawa terlihat, kami juga melihat sekelompok lutung jawa  (Trachypithecus auratus) yang sedang memakan pucuk-pucuk daun, sekitar 4 individu yang terlihat. Selain itu menurut warga juga terdapat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).
Minimal 2 dari 5 jenis primata Jawa dipastikan berhabitat di kawasan hutan ini. Masih ada kemungkinan juga terdapat rek-rekan (Presbytis comata) dan kukang jawa (Nycticebus javanicus). Hal ini menjadi tantang kedepan untuk berkolaborasi bersama pihak terkait, dan warga sekitar habitat Owa dalam upaya pelestarian primata dilindungi dan habitat uniknya ini.

Thursday, January 26, 2017

Let it Bee : when the pollinators become mainstream

Stingless bee visiting flower of crop

Buzzzz…zzzzz  no we can’t hear the bee flying, this is tiny bee, size as flies, no sting, role as pollinators and producing honey too, Stingless bee!!. We have done shared our knowledge and gain new experience on meliponiculture in the habitat of critically endangered primates. Located in Kemuning village, Temanggung regency, Central Java, this site is recognized as habitat of Javan slow loris, first time we discover in this area in 2013 (read here for the report). After we found the javan slow loris existed, students continue to do research in this area. And now a conservation organization (Javan Wildlife Institute) initiated by Wildlife Lab of  Forestry Faculty, Gadjah Mada University continue the fieldwork, not only academic research but also assist people of Kemuning to protect and generate alternative income.

Shadegrown coffee habitat of Javan slow loris
Javan Slow loris

As we know wildlife hunting is the main threats for the biodiversity in Kemuning forest, we try to develop solution to increase their knowledge and capacity to maintain sustainable forest product. We have been working since last year to manage stingless bee honey from the Javan gibbon habitat, and now we try to introduce this scheme in the kukang habitat. Mainstreaming conservation of pollinators and introducing management of the stingless bee honey production.
Stingless bee honey 
On Saturday and Sunday (21/22 January 2017) organized by JAWI we conduct training for villagers in Kemuning, and there are 10 participants from the Kemuning village to join in the two days training. Our team give an introduction and share experience on stingless bee, honeys and their relationship with crops and forest habitat. Introductory about native bees and it’s role in our environment were emphasized in the discussion with the participants. Moreover, this bee is producing honey that very healthy and economically viable.
knowledge sharing about stingless bee
This training is intended to bring some long-term solution to conserve forest as habitat of endangered animals but also give real example for sustainable forest product who provide sustainable income. Next activities is we will active to encourage participants to manage bees colonies and give direct assistant on marketing strategy for the  stingless bee honey.
field practice, how to manage stingless bee colony