Showing posts with label jawa tengah. Show all posts
Showing posts with label jawa tengah. Show all posts

Friday, April 15, 2022

Solusi berkelanjutan, infrastruktur jaringan listrik ramah satwa, di Petungkriyono, Pekalongan

 UPDATE _15 April 2022

Oleh : Arif Setiawan

Rekrekan (Presbytis fredericae) dari hutan Petungkriyono

Pembangunan ekonomi dan infrastruktur yang cepat dalam tiga tahun terakhir membawa korban  tewasnya satwa-satwa asli Petungkriyono, termasuk primata-primata yang memang sudah teracam punah, tersengat listrik dari kabel listrik yang tidak berinsulasi ,yang masuk kedesa-desa di tengah hutan.

Petungkriyono adalah   kecamatan bagian dari Kabupaten Pekalongan sudah terkenal karena keberadaan hutan  dan satwaliarnya. Kawasan hutan dengan tipe hutan dataran rendah hingga penggunungan, merupakan yang tersisa saat ini di bagian tengah Pulau Jawa. Sudah seharusnya daerah ini menjadikan ini asset yang lestari , tidak semua daerah memiliki potensi seperti kecamatan Petungkriyono.

Dari 5 jenis primata Jawa dapat di temukan di Kawasan hutan di dua kecamatan ini, yaitu  Lutung jawa ( Trachypithecus auratus), Rekrekan ( Presbytis fredericae), Owa Jawa ( Hylobates moloch), Monyet ekor panjang ( Macaca fascicularis) dan Kukang jawa ( Nyctecebus javanicus). Kawasan hutan yang membentang dari ketinggian 200 meter di atas permukaan laut hingga hutan pegungungan dengan ketinggian 1900 meter, saat ini merupakan kantung hidupan liar endemik, tidak dijumpai di daerah  lain.

Jaringan listrik di antara kanopi hutan Petungkriyono

Pembangunan infrastruktur  terumata jaringan listrik sudah tentu di tunggu-tunggu oleh warga di sekitar hutan yang sudah sejak dahulu memang dalam posisi geografis yang kurang menguntungkan untuk mendapatakan aliran listrik dari pemerintah. Dua dusun yang paling merasakan dampak dari masuknya jaringan listrik ini adalah dusun Sokokembang dan Tinalum, yang sejak dahulu menggunakan listrik mandiri,  sejak tahun 2006 sudah ada tenaga surya yang digunakan masing-masing rumah, namun karena kondisi cuaca dan topografi khas pegunungan, panel-panel surya ini tidak dapat mengumpulkan energi matahari yang cukup, ditambah kemampuan aki untuk menyimpan juga semakin lama semakin singkat, sepertinya sudah tidak ada lagi yang menggunakan tenaga surya.

PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro), tahun 2009 pemerintah provinsi jawa tengah memberikan bantuan pembangkit listrik tenaga air untuk dua dusun tersebut, hingga tahun 2016, listrik tenaga air ini menggunakan turbin pembangkit yang ada di Sungai Welo, di dekat dusun Tinalum. Listrik ini juga melewati Kawasan hutan sepanjang dusun Tinalum dan Sokokembang, kabel yang di gunakan jaringan ini berinsulasi, kabel kawat yang di bungkus lapisan karet yang tidak membahayakan, meskipun melewati rimbunnya tajuk pohon tidak mebahayakan primata yang lewat disekitarnya. PLTMH ini berhenti total beroperasi  tidak menghasilkan listrik tahun 2017 akhir, karena kendala teknis dan lainsebagainya. Kemudian tahun 2019, bersamaan dengan masuknya jaringan listrik negara kedua dusun ini, Dusun Sokokembang mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk PLTMH, yang digunakan untuk di Dusun Sokokembang saja. Menjadi bermanfaat juga untuk warga 2 dusun ini, keberadaan jaringan listrik ini, dapat menggerakan kegiatan ekonomi khususnya konveksi dan usaha kopi yang menggunakan aliran listrik. Baca laporan disini tentang manfaat pembankit listrik tenaga air yang ada di Sokokembang : https://jateng.idntimes.com/news/jateng/dhana-kencana-1/peduli-konservasi-dari-pemanfaatan-energi-di-hutan-petungkriyono

Lutung Jawa  mati tersengat listrik di hutan Petungkriyono

Lintasan satwa primata, dilalui jaringan listrik terbuka bertegangan tinggi
 

Mulai masukknya jaringan listrik negara inilah, bencana untuk primata-primata ini mulai terjadi, mati tersengat, menggelantung di kabel listrik jaringan terbuka. Kami mencatat kematian-kematian primata karena tersengat listrik ini di tabel berikut , sejak jaringan listrik  masuk,  sejak tahun 2019 sudah ada 6 primata mati tersengat listrik, dari kabel yang tanpa isolasi tersebut. Laporan-laporan tentang matinya primata karena jaringan listrik ini dapat di baca di berita ini : https://radarpekalongan.co.id/119342/gegara-kesetrum-primata-langka-ini-mati/ hingga yang terbaru minggu ini ( 2 Agustus 2021) satu lagi primata mati, Rekrekan (Presbytis comata) yang juga dilindungi dan terancam punah statusnya. Dan catatan kami berdasarkan pengamatan di lapangan dan laporan warga ada di tabel berikut ini :

Tabel (data kematian primata di Petungkriyono karena tersengat listrik )

no

Bulan/Tahun

Jenis Primata

1

Juni/ 2019

Rekrekan  (Presbytis comata)

2

Desember/2019

Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)

3

Januari/2020

Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)

4.

July/2020

Rekrekan (Presbytis comata)

5.

Oktober/2020

Owa jawa ( Hylobates moloch)

6.

Agustus/2021

Rekrekan ( Presbytis comata)

 

update
7.            21 September 2022                      Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
8.            19 November 2022                        Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
9.            6 Februari 2022                            Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
10.          13 April 2022                                Rekrekan  ( Presbytis comata)

Berdasar laporan sebelumnya, PLN pada taggal 4 Februari 2022, kabel listrik sudah di ganti dengan kabel yang berisolasi, di segmen kalibedug-sokokembang, dan welo asri. Kejadian terakhir tanggal 14 April 2022, terjadi di segmen yang belum di ganti kabel berisolasi.


Rekrekan yang mati tanggal 13 April 2022


Solusi Pembangunan Infrastruktur Jaringan Listrik ramah hutan dan satwa.

Kasus-kasus seperti ini sudah banyak terjadi di negara-negara berkembang, di berbagai negara, dan merupakan bentuk fragmentasi habitat, yang menimbulkan ancaman serius untuk kepunahan satwa-satwa arboreal, seperti jenis-jenis primata.Jaringan listrik murah dipilih untuk  dapat menjakau jauh kedalam pelosok-pelosok wilayah dengan topografi yang sulit di jangkau. Konsekwensinya harus mengorbankan satwaliar, dan pertimbangan ekologis sepertinya juga belum menjadi hal yang penting untuk pembangunan.

1.       Menggunakan kabel berinsulasi

Tentu hal ini setidaknya menjadi pilihan yang ramah bagi hutan dan hidupan liar, karena salah satu bentuk fragmentasi habitat melalui jaringan listrik dan jalan ini menjadi penyebab dan mempercepat kepunahan. Tentu butuh investasi lebih untuk infrastruktur ini, namun harus di pertimbangkan di lokasi-lokasi yang mempunyai keanekargaman tinggi seperti di Petungkriyono.

Contoh yang di terapkan untuk melindungi Sloth di Amerika Selatan. https://slothconservation.org/what-we-do/power-line-insulation/

 2.       Mengoptimalka PLTMH, salah satu sumber listrik yang terbarukan dan layak disebut “clean energy” sudah terbukti sangat membantu warga dan ramah satwaliar, tidak ada korban satwaliar sejak masukknya di Sokokembang dan Tinalum, hanya saja butuh perawatan dan dukungan kapasitas kelembagaan pengelolaanya, 2 pembangkit yang ada sekarang tidak berjalan lagi karena masalah tersebut. Sebenarnya nilai penting sungai, hutan dan aliran airnya dapat dioptimalkan dari penggunaan yang berkelanjutan ini. Baca laporan tentang PLTMH ini akhir tahun lalu masih berfungsi optimal di Sokokembang ( https://jateng.idntimes.com/news/jateng/dhana-kencana-1/peduli-konservasi-dari-pemanfaatan-energi-di-hutan-petungkriyono

 3.       Membuat Jembatan Kanopi

Membuat jalur penyeberangan satawaliar yang melintas kabel-kabel listrik terbuka tanpa insulasi. Metode ini sudah terbukti berhasil diterapkan di habitat primata satwaliar terancam punah lainnya.  Beberapa lokasi  dengan kanopi yang masih rapat dapat dibuatkan jembatan artifisial untuk menghubungkan kanopi-kanopi pohon supaya satwa-satwa penhuni pohon ini dapat berjalan melitas. Cotoh yang sudah berhasil di amerika selatan  https://www.ballenatales.com/new-bridge-monkey-capuchin-community/

4.       Menggunakan kabel berselubung pelindung kontak satwaliar

 Kabel-kabel bertegangan listrik tinggi, yang berada di wilayah pergerakan satwliar di beri pelindung berbahan silicon, sehingga listrik tidak dapat merambatkan energinya. Contohnya ada si marketplace ini : https://indonesian.alibaba.com/product-detail/22kv-spiral-silicone-tubing-to-protect-energized-system-from-wildlife-contact-60820300752.html

 Kasus-kasus ini kemungkinan akan dapat terus terjadi lagi apabila tidak ada perhatian dari pihak-pihak terkait, wilayah-wilayah dengan keanekargaman tinggi sudah seharusnya mendapatkan prioritas pengelolaan untuk dapat mempertahankan dan menjaga nilai hidupan liar yang juga menjadi asset daerah. Pembangunan berwawasan konservasi dan berkelanjutan diharapkan dapat di terapkan sekaligus memperkuat nilai tambah untuk produk-produk yang dihasilkan dari daerah-daerah dengan keanekaragaman tinggi.

5. Membuat jaringan listrik dalam tanah

Membuat jaringan ini tentu sangat mahal dan perencanaan yang matang, sudah ada kajian tentang hal ini. Secara estetika tentu tidak mengganggu keindahan bentang lahan dan tidak menyebabkan satwa arboreal kesetrum. 

 

Daftar Pustaka :

Al-Razi, H., Maria, M. and Muzaffar, S.B., 2019. Mortality of primates due to roads and power lines in two forest patches in Bangladesh. Zoologia (Curitiba)36.

Katsis, L., Cunneyworth, P.M., Turner, K.M. and Presotto, A., 2018. Spatial patterns of primate electrocutions in Diani, Kenya. International journal of primatology39(4), pp.493-510.

Pereira, A.A., Dias, B., Castro, S.I., Landi, M.F., Melo, C.B., Wilson, T.M., Costa, G.R., Passos, P.H., Romano, A.P., Szabó, M.P. and Castro, M.B., 2020. Electrocutions in free-living black-tufted marmosets (Callithrix penicillata) in anthropogenic environments in the Federal District and surrounding areas, Brazil. Primates61(2), pp.321-329.

Dittus, W.P., 2020. Shields on Electric Posts Prevent Primate Deaths: A Case Study at Polonnaruwa, Sri Lanka. Folia Primatologica91(6), pp.643-653





Friday, March 22, 2019

Menggagas Pengelolaan Kolaboratif Hutan Petungkriyono

  Oleh : Ahmad A Fahmi, Arif Setiawan, 22 Maret 2019

  •   Hutan Petungkriyono termasuk dalam BKPH Doro, KPH Pekalongan Timur memiliki luas 5189,507  ha, terdiri atas hutan Produksi Terbatas dengan Tanaman Pokok Pinus dan Hutan Alam Kayu Lain atau hutan alam yang berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas (HLT) untuk fungsi Lindung Hidrologis 
  • Habitat satwa-satwa dan flora endemik Jawa, seperti : Owa, Macan tutul, Elang Jawa
  • Atraksi wisata yang ditawarkan sebagian besar berupa air terjun, wisata sungai, dan pemandangan alam. Jenis wisata yang dikembangkan masih berupa mass tourism dimana pengembangan infrastruktur buatan seperti tempat selfie yang instagrammable menjadi obyek favorit wisatawan
  • ·Berkembangnya kegiatan wisata alam di kawasan ini dapat dijadikan bukti bahwa hutan mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa harus menebang ataupun mengubahnya.
  • Kelestarian  hutan merupakan kepentingan dan kebutuhan berbagai lapisan masyarakat, baik yang tinggal di sekitar hutan maupun masyarakat yang tinggal di daerah hilir, rusaknya Hutan Petungkriyono  akan memberikan dampak negatif  bagi keanekargaman hayati dan potensi ekonominya dan resiko bencana alam bagi masyarakat yang tinggal di daerah hilir,



Petungkriyono merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian antara 600-2100 meter di atas permukaan air laut (mdpl) dimana sebagian wilayah merupakan daerah dataran tinggi Pegunungan Serayu Utara. Sebelah Selatan merupakan Kawasan Dataran Tinggi Dieng dengan rangkaian gunung seperti Gunung Rogojembangan, Gunung Kendalisodo, Gunung Sikeru, Gunung Perbata, Gunung Geni, dan Gunung Kukusan.


Kecamatan Petungkriyono berada di wilayah Kabupaten Pekalongan bagian Selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara di bagian Selatan. Luas wilayah Kecamatan Petungkriono adalah 7.358,523 ha yang sebagian besar adalah hutan negara seluas 5.189,507 Ha. Luas pemukiman hanyalah 119,652 ha (16 %) dari luas wilayah. Kawasan hutan di Kecamantan Petungkriyono merupakan salah satu kawasan hutan tropis yang masih tersisa di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sebagian kawasannya yang masih utuh, rangkaian pegunungan Dieng di tengah Pulau jawa, mampu mendukung kehidupan beberapa satwa langka yang terancam punah seperti Elang jawa, monyet daun (Lutung dan Rekrekan, Macan tutul dan juga juga satwa endemik jawa yang sangat penting yaitu owa jawa (1; 2). 


Hutan Petungkriyono termasuk dalam BKPH Doro, KPH Pekalongan Timur memiliki luas 5189,507  ha, terdiri atas hutan Produksi Terbatas dengan Tanaman Pokok Pinus dan Hutan Alam Kayu Lain atau hutan alam yang berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas (HLT) untuk fungsi Lindung Hidrologis . Hutan lindung memiliki luas 1931,90 ha (SK Menhut Nomor: 359/Menhut.II/2004 tanggal 1 Oktober 2004) (3). Hutan lindung Petungkriyono berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas, Hutan lindung Petungkriyono masih merupakan hutan primer yang relatif terjaga, dengan tipe vegetasi hutan hujan tropis. Hutan primer merupakan hutan yang belum pernah dilakukan tebang habis (4).
Owa Jawa (Hylobates moloch)

Potensi dan Ancaman
Kondisi hutan yang masih utuh memberikan dampak sangat positif terhadap lingkungan sekitarnya, dimana banyak sungai dan air terjun yang masih dialiri air jernih sepanjang tahun. Dengan kondisinya yang masih alami, Kawasan Hutan Petungkriyono mempunyai potensi wisata alam yang sangat besar. Pada saat ini terdapat sekitar  8 obyek wisata alam yang terdapat di kawasan tersebut yang dikelola oleh masyarakat bekerjasama dengan Perhutani.

Atraksi wisata yang ditawarkan sebagian besar berupa air terjun, wisata sungai, dan pemandangan alam. Jenis wisata yang dikembangkan masih berupa mass tourism dimana pengembangan infrastruktur buatan seperti tempat selfie yang instagrammable menjadi obyek favorit wisatawan. Ekowisata meskipun sudah menjadi wacana di tingkat pemerintah daerah semenjak tahun 2005 namun masih belum dikembangkan secara serius meskipun potensi yang ada sangat besar.Masyarakat di sekitar Kawasan Hutan Petungkriyono saat ini tengah mengembangkan banyak inisiatif dan membangun berbagai obyek wisata di sekitar kawasan hutan ini. Berbagai atraksi coba dikembangkan oleh masyarakat seperti, melihat air terjun, wisata sungai ( river tubing, river tracking), pengamatan satwa di alam dan umumny pemandangan bentang lahan dan topografi bergunung dengan kehidupan pedesaan yang asri.

Pengembangan potensi wisata ini masih bersifat sporadis dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat atau individu secara mandiri. Pihak pemerintah daerah sendiri sangat mendukung dengan pengembangan wisata alam ini. Sejak tahun 2018 dilakukan penyempurnaan akses ke dalam kawasan dengan memperbaiki jalan. Saat ini akses jalan ke dalam kawasan sangat lancar karena jalan sudah berupa aspal hotmix dengan lebar 4 m. Dengan semakin terbukanya akses ini maka kegiatan wisata di kawasan ini semakin marak.

Berkembangnya wisata alam di kawasan ini merupakan berkah tersendiri bagi masyarakat. Kunjungan semakin meningkat pada hari-hari libur. Namun disisi lain kegiatan wisata ini berpotensi untuk meningkatkan gangguan terhadap kehidupan satwa liar yang ada di kawasan, jika tidak terkendali kegiatan wisata yang berlebihan justru dapat berefek negatif terhadap satwa liar seperti Owa Jawa yang merupakan ikon kawasan ini.

"primatewatching" salah satu kegiatan wisata minat khusus

Di sisi yang lain ternyata kawasan ini juga masih mengalami tekanan dan juga gangguan. Kegiatan-kegiatan pelanggaran hukum seperti perburuan liar dan juga pembalakan liar masih terjadi di kawasan hutan ini. Perburuan liar yang terjadi saat ini dilakukan oleh pendatang dari luar dan sebagian juga masyarakat setempat. Jenis satwa yang diburu adalah terutama jenis-jenis burung, kijang , Ayam hutan, babi hutan, luwak, trenggiling, landak, dan berbagai macam satwa lainnya. Bisa dikatakan tidak ada jenis satwa spesifik yang dijadikan target dimana satwa yang dijumpai itulah yang akan diburu.

Meskipun tidak dalam jumlah besar dan masif, disinyalir masih terdapat praktek illegal logging yang dilakukan oleh oknum masyarakat. Meskipun skala penebangan tersebut kecil namun jika dilakukan secara terus-menerus maka dikhawatirkan hal ini akan menimbulkan dampak kerusakan pada ekosistem hutan. Terdapat beberapa jenis kayu yang sering dijadikan target favorit para penebang yaitu kayu wuru dan kayu babi. Fenomena perburuan liar dan juga illegal logging yang terjadi di kawasan hutan ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan yang saat ini ada masih belum mampu memberikan jaminan keamanan bagi kawasan hutan ini.

Kebutuhan Dukungan Parapihak dan Nilai Penting Kolaborasi

Hutan dengan segala potensi dan fungsinya, sejatinya berhubungan dengan kepentingan banyak pihak. Kelestarian hutan bukanlah kepentingan pihak pengelola (dalam hal ini Perhutani, misalnya). Kelestarian  hutan merupakan kepentingan dan kebutuhan berbagai lapisan masyarakat, baik yang tinggal di sekitar hutan maupun masyarakat yang tinggal di daerah hilir, rusaknya Hutan Petungkriyono  akan memberikan dampak negatif dan resiko bencana alam bagi masyarakat yang tinggal di daerah hilir. Kerusakan hutan juga akan memicu hilangnya keanekaragaman hayati dan juga potensi ekonomi masyarakat seperti potensi wisata alam.

Berkembangnya kegiatan wisata alam di kawasan ini dapat dijadikan bukti bahwa hutan mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa harus menebang ataupun mengubahnya. Pengelolaan wisata alam yang baik dan berkelanjutan ke depan tentunya juga membutuhkan peran banyak pihak. Dengan demikian pengelolaan Hutan Petungkriyono sejatinya juga membutuhkan dukungan dari banyak pihak selain institusi utama yaitu Perhutani. Masyarakat dan pemerintah desa perlu ditingkatkan kepeduliannya dalam hal ini. Instansi pemerintah daerah baik di kabupaten maupun provinsi juga seharusnya memberikan kontribusi positif bagi pengelolaan Hutan Petungkriyono yang lestari dan mensejahterakan masyarakat. Beberapa pihak yang terkait dengan kawasan ini adalah:

Table. Para pihak dan Fungsi Utamanya
Para Pihak
Fungsi/Peran Utama Yang diharapkan dalam pengembangan manajemen kolaboratif

Perhutani KPH Pekalongan Timur
Pengelolaan kawasan Hutan Petungkriyono secara umum.
Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah
Berwenang dalam pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah Provinsi Jawa Tengah
Mengkoordinasikan peran parapihak di tingkat provinsi maupun nasional
Bappeda Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
Mengembangkan perencanaan pembangunan dan tata ruang wilayah
Balai Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Jawa Tengah
Pelestarian sumberdaya hayati terutama spesies langka di wilayah Provinsi Jawa Tengah, khususnya di kawasan Hutan Petungkriyono dan sekitarnya
Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
-         Mengembangkan program-program yang bertujuan menjaga kualitas lingkungan hidup
          Melaksanakan pemantauan terhadap kualitas lingungan hidup
Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
Mengembangkan destinasi dan obyek wisata yang ramah lingkungan dan berkeadilan sosial
Dinas PU
Meningkatkan kualitas infrastruktur
Kepolisian
Penegakan dan pembinaan hokum hokum
Pemerintah Desa
          Mengembangkan dan menjalankan kebijakan pembangunan desa yang ramah lingkungan  sesuai kewenangannya
        Mengembangkan program-program kesejahteraan berbasis dana desa
Masyarakat Desa  
Mengembangkan potensi hutan secara berkelanjutan,

      Berpartisipasi aktif dalam pengembangan kebijakan dan program pembangunan
Organisasi masyarakat / LSM
Pengembangan kapasitas, advokasi, networking, dll
Pihak Swasta/Perusahaan
            Mengembangkan  investasi berdasarkan prinsip keberlanjutan
            Pengembangan program-program Tanggung Jawab Sosial  Perusahaan (CSR)

Keterlibatan dan kontribusi dari berbagai pihak ini seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri namun juga ditopang oleh semangat mengembangkan sinergi atau keterpaduan sehingga terjadi hubungan yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya sehingga pengelolaan kawasan ini dapat berjalan secara optimal. Jika peran parapihak ini  tanpa didasari oleh semangat menjalin sinergi maka hal ini dapat menyebabkan berbagai persoalan ke depan berupa konflik kepentingan antar pihak.(5) Oleh karena itu perlu dikembangkan sebuah proses kolaborasi parapihak yang berkepentingan dengan pengelolaan Hutan Petungkriyono.

Tujuan dari pengembangan Pengelolaan Kolaboratif di Kawasan Hutan Petungkriyono adalahMengembangkan kesepakatan-kesepakatan  parapihak yang terkait dengan Hutan Petungkriyono yang dapat menjamin kelestarian sumberdaya hutan dan keberlanjutan pengelolaan potensinya. Mengembangkan keterpaduan dan sinergi parapihak yang mempunyai kepentingan terhadap pengelolaan Hutan Petungkriyono. Mengembangkan dukungan yang lebih luas terhadap pengelolaan potensi dan pelestarian Hutan Petungkriyono

Dalam jangka pendek kegiatan pengembangan co-manajemen ini akan menghasilkan sebuah dokumen Rencana Induk Kolaboratif yang berisi gagasan mendasar dan umum parapihak dalam memanfaatkan sekaligus melestarikan kawasan Hutan Petungkriyono

Beberapa dampak yang diharapkan dari kegiatan penyusunan Rencana Kolaborasi Pengelolaan dan Pelestarian Kawasan Hutan Petungkriyono  adalah sebagai berikut: Munculnya keterpaduan dan sinergi yang konstruktif diantara parapihak yang terkait dengan pengelolaan dan pelestarian Kawasan Hutan Petungkriyono ke depan. Terkoleksinya data sebagai basis analisis untuk pengembangan Kawasan Hutan Petungkriyono ke depan. Terbukanya jalinan komunikasi antar pihak yang berkepentingan dengan Kawasan Hutan Petungkriyono sehingga mengurangi dan mencegah resiko konflik di masa yang akan datang. Meningkatnya kemampuan parapihak terutama masyarakat desa dalam menyusun langkah-langkah pengembangan Kawasan Hutan Petungkriyono yang menjamin kelestarian sumberdaya dan lingkungan.

Daftar Pustaka:

1 . Nijman, V. and Van Balen, S.B., 1998. A faunal survey of the Dieng Mountains, Central Java, Indonesia: distribution and conservation of endemic primate taxa. Oryx, 32(2), pp.145-156.
2. Setiawan, A., Nugroho, T.S., Wibisono, Y., Ikawati, V. and SUGARDJITO, J., 2012. Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 13(1).
3. SK Menhut Nomor: 359/Menhut.II/2004 tanggal 1 Oktober 2004
4. Fisher, R.J., 1995. Collaborative management of forests for conservation and development (p. 65). Gland, Switzerland: Iucn.



Saturday, August 11, 2018

Kunjungan Fortwayne Children’s Zoo ke habitat Owa Jawa

Bulan Juli 2018, swaraowa kedatangan tamu special yang sudah sejak tahun 2010 mendukung kegiatan lapangan kita untuk melestarikan primata jawa, khususnya Owa jawa. Dr. Joe Smith dan Amber dari Fortwayne Children's Zoo, mewakili Kebun binatang yang berbasis di Indiana Amerika berkunjung untuk melihat langsung habitat  Owa Jawa.

kegiatan pengamatan primata

Kegiatan kunjungan ini di awali dengan mengunjungi swaraowa di Yogyakarta, melihat rumah produksi kopi owa, beramah tamah dengan tim dan juga sedikit berbagi update tentang kegiatan yang sudah berjalan hingga saat ini. Kami mengajak 2 tamu special ini ke habitat Owa di Sokokembang dan juga berkunjung ke Desa Tlogohendro, dan Mendolo di Kecamatan Lebakbarang.

Owa jawa terekam sedang istirahat

Primatewatching menjadi tujuan utama di Sokokembang, untuk melihat langsung primata-primata Jawa yang ada di hutan sekitar dusun Sokokembang. Meskipun tidak masuk kedalam hutan, pengamatan di jalur yang biasa kita gunakan untuk monitoring, kita sangat beruntung pagi itu melihat langsung ke-4 primata Jawa, kecuali si Kukang yang memang aktif malam hari.
Dusun Mendolo, kurang lebih 1 jam perjalanan dari Sokokembang ke kecamatan Lebakbarang, dan kegiatan kita disini sudah kita inisiasi kurang lebih 2 tahun,untuk pendampingan budidaya lebah klanceng dan juga pengolahan kopi hutan. Kami sempat melakukan night walk di jalan tengah hutan yang menghubungkan desa Mendolo dan Kutorembet, dan hasilnya kami melihat kucing hutan (Prionailurus bengalensis)  yang termasuk salah satu carnivor malam dan  juga kucing di lindungi yang berhabitat di hutan-hutan dataran rendah di Jawa.
mengenalkan berbagai macam karakter cita rasa kopi 

Cupping test, menjadi penutup rangkaian kunjungan ini, bersamaan dengan kegiatan panen raya kopi tahun ini, kami mencoba mengenalkan beberapa jenis kopi dengan beberapa proses pengolahan. Kopi-kopi ini bersal dari lokas-lokasi yang merupakan habitat primata Jawa, mulai dari Gunung Papandayan di Jawa Barat, Gunung slamet, Purbalingga, Pekalongan dan di bagian paling timur kita mendapatkan kopi dari Temanggung.  Beberapa daerah ini merupakan lokasi penting untuk pelestarian primata jawa, dan melihat potensi kopi saat ini, mengolahnya sebagai produk yang bekelanjutan tanpa merusak hutan menjadi tantangan untuk waktu-waktu mendatang, mengingat potensi terus meningkatnya konsumsi kopi.


foto bersama keluarga kopi owa di Sokokembang

Monday, June 25, 2018

Pengamatan primata : Kelas imajinasi untuk pemula


Menginspirasi generasi selanjutnya untuk mengenal alam dan lingkungan sekitarnya adalah penting untuk sebagai bagian upaya untuk melestarikan alam. Apa yang kita rasakan di sekitar kita 10-30 tahun yang lalu tentu sangat berbeda dengan apa yang anak-anak sekarang rasakan, terutama terkait dengan interaksi dengan lingkungannya. Gadget dan Internet lebih dekat dengan generasi sekarang, dan bermain di sungai, di sawah, mencari serangga tanah, tidak lebih menarik daripada main game atau di aktif di sosial media melihat, tokoh idola atau permainan yang sedang trending.
pengamat primata cilik dari Sokokembang


Sepertinya hal ini juga terjadi dimanapun, di kota, di kampong-kampung, desa, pinggiran kota, bahkan di desa-desa tengah hutan, meskipun dengan intensitas yang berbeda tentunya. Sebagi contoh di Sokokembang sebagai dusun di Tengah hutan hingga sejak beberapa tahun silam warga disini sangat intense berinteraksi dengan pendatang dari luar terutama yang terkait dengan hutan dan primata.  Interaksi secara fisik anak-anak dengan hutan sepertinya juga sudah mengalami perubahan, karena beberapa orangutan mereka juga berubah mata pencaharian dan apalagi orangtua baru yang mempunyai mata pencaharian yang tidak terkait langsung dengan hutan. Sepertinya juga butuh analisis yang lebih dalam tentang perubahan pola-pola interaksi ini.
 anak-anak sedang mengamati Lutung

Suatu hari anak-anak yang awal awal tahun kita berada di Sokokembang masih dalam gendongan atau baru lahir, kini anak-anak ini sudah berumur 5-8 tahun, mereka sering berkumpul di pedopo kopi Owa, sekedar main-main, dan sering juga mereka penasaran dengan apa yang kita lakukan. Mencoba camera, mencoba binokuler, dan bertanya apapun tentang apa yang mereka ingin tahu.
Kemudian kita singkatnya bersepakat dengan anak-anak ini, untuk mengajak mereka pengamatan primata, terlebih dahulu kita minta anak-anak ini untuk minta ijin orangtuanya. Hari yang di tentukan mereka datang lengkap, pakai sepatu, celana panjang, topi, bekal minum dan makanan kecil, dan tidak lupa alat tulis.

Mendampingi anak-anak pengamatan tentu sangat berbeda dengan mendampingi orang dewasa, seakan kelebihan energy, selalu muncul pertanyaan pertanyaan yang kadang tidak kita duga sama sekali. Mengamati pohon, owa, lutung, serangga secara langsung dan mendiskusikan secara sederhana dengan mereka tidak semudah menjelaskan kepada orang dewasa.


Membawa anak-anak ke alam, menjadi fenomena baru di beberapa kota besar, dan apakah ini hanya ikut-ikutan saja atau memang menjadi keresahan para penyelenggara pendidikan? 15-20 tahun mendatang anak-anak ini akan menjadi pelaku penting dalam pelestarian alam, organisasi dan pegiat konservasi di berbagai negara haibitat primata  juga melakukan strategi ini untuk anak-anak, meskipun juga banyak keterbatasan, namun pendidikan konservasi adalah pekerjaan bersama. Mendekatkan mereka kepada alam harusnya menjadi bagian dari strategi untuk melestarikan bumi dan isinya. Bisa kita mulai dari halaman depan rumah kita, hal kecil kehidupan yang sering kita lihat, dengar dan rasakan.


Bacaan :
Uhl, C., 1998. Conservation biology in your own front yard. Conservation Biology12(6), pp.1175-1177.

Friday, October 20, 2017

Gibbon Watching, an alternative eco-tour in Java

Javan Silvery Gibbon 

This week our team receiving special guest who want to see wild primates in Sokokembang forest. The guest is coming from WorldWideWeb  to find us, and interested to watch gibbon in the wild. They found our website and contact us by email, soon we arrange dates for them to do primate watching.

From the email they introduce them self from Finland, and have been back packing to Southeast Asia and want to see some Indonesian wildlife, Komodo and Javan gibbon are their list priorities. Jussi and Outi both from Finland have done asking through the emails how to do primate watching in Sokokembang. In this trip we also give an introduction that this trip is a part of conservation activities in Central Java, to promote Javan gibbon (Hylobates moloch) as endangered and endemic primates. And the date come, on 11 October 2017 their visit our base in Yogyakarta, see our coffee house and drinking coffee from our shade grown habitat.
Javan gibbon habitat

Departing from Yogyakarta at afternoon, we head to Sokokembang ride our 4wd vehicle off course with many stops. Along the way chats inside the vehicle made us feel happy to know these guest. And we reach Sokokembang at 9 pm. Soon we reach Sokokembang we introduce to our Pa’e  Tasuri (Owa coffee house owner), and we ask him to guide tomorrow morning for primate watching.
Next morning, soon after coffee ritual about 6.30 we are ready to the field, boot and raincoat is provided, binocular also will help to see the primates. We have already give an introduction about primates in sokokembang, there are Javan gibbon (Hylobates moloch), Javan Langur (Trachypithecus auratus), Javan surili (Presbytis comata) and Longtailed macaques (Macaca fascicularis).
Pa'e Tasuri is guiding to watch the gibbon


There are primate watching route established in Sokokembang, using public road. From this road we can see the primates, however we have been monitor groups distribution along this route. Less than 1 hour walk first primate was detected is Javan langur. The langur is leaf eating monkeys and they living in 2-15 individuals in Sokokembang forest.  Then we are so lucky not so far from the langurs there were Gibbon hanging on the fruiting trees. The gibbon is lesser ape, doesn’t have  any tail and frugivore, their living pair with stable homerange. There are about 21 to 28 groups of gibbon found in Sokokembang forest.
meet and greet due to Javan gibbon
It was fun when we watching the gibbon, a local resident come to us and want to take photo with Jussi and Outi. We explain to the locals that these guests are wanted to see javan gibbon in the wild, far from their home, this is their motivation to visit the rainforest of Java.
drink shade grown help save the forest

Coffee-ing is another following activities, we introduce that our project is grass root level acvtivities,  to promote Javan gibbon also  to engage local community to preserve their natural resources, Owa coffee is sustainable products that meets ecology and economy problems in the Javan gibbon habitat, through this coffee we explain that shade grown coffee of Sokokembang is important for the gibbon habitat and source of income for people nearby the forest. Visiting shade grown coffee and see how the coffee is produced for local market in the Javan gibbon habitat are activities that we share to our special guest.

Thank you for your contribution Jussi and Outi.


PS: feel free, do email us at : swaraowa at gmail.com for further info about this gibbon watching trip.

Friday, February 17, 2017

Cinta Lebah Indonesia

ditulis Oleh:
Sidiq Harjanto
email : sidiqharjanto@gmail.com

Berternak lebah menghasilkan madu juga membatu produksi tanaman pangan
Selain menghasilkan produk madu yang bernilai ekonomi, lebah memiliki peran yang sangat penting dalam membantu penyerbukan berbagai jenis tanaman tropis, dalam hal ini hutan pada umumnya. Lebah penghasil madu di Indonesia didominasi oleh 3 jenis yaitu Apis dorsata, A mellifera, dan A cerana. Lebah madu A. mellifera sendiri bukan merupakan jenis asli Indonesia, dan sengaja didatangkan ke dalam negeri sebagai lebah penghasil madu. Sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia memiliki banyak jenis lebah asli (native bee) yang menghasilkan madu.  Dari marga Apis tercatat ada A. andreniformis, A. cerana, Apis dorsata, A. koschevnikovi, dan A. nigrocincta.
 Lebah hutan (Apis dorsata) hidup di habitat hutan yang relatif masih baik, membangun sarang terutama pada dahan-dahan pohon. Menghasilkan madu lebih dari 5 liter perkoloni, lebah ini masih menjadi salah satu pemasok kebutuhan madu nasional. Jenis lebah lokal asli Indonesia lainnya, Apis cerana, cukup banyak dipelihara oleh para peternak skala kecil di pedesaan. Produksi madu dari jenis ini tidak terlalu melimpah namun banyak diburu karena kualitasnya dianggap lebih bagus dibandingkan madu dari lebah impor.
Apis cerana, salah satu lebah asli Indonesia
Barangkali sedikit dari kita yang mengetahui bahwa selain lebah-lebah dari marga Apis, kita memiliki kelompok lebah lain yang potensial untuk menghasilkan produk-produk lebah (madu, polen, propolis). Lebah-lebah tersebut menghuni hutan-hutan yang kita miliki, beberapa jenis bahkan telah beradaptasi hidup di sekitar pemukiman. Uniknya, mereka tidak mempunyai sengat. Lebah tanpa sengat dikenal dengan berbagai nama lokal. Sebutan-sebutan tersebut antara lain kelulut (Melayu), klanceng (Jawa), teuweul (Sunda), gala-gala (Sulawesi), dll. Jenis lebah tanpa bersengat di Indonesia berdasarkan catalog Indomalayan Stingless Bee (Rasmussen, 2008) setidaknya ada 35 jenis. Lebah tanpa sengat dalam satu suku dengan Apis, termasuk dalam suku Apidae, tribus Meliponini.
Taksonomi
Kindom
Filum
Kelas
Bangsa
Suku
Tribus
Marga
: Animalia
: Arthropoda
: Insecta
: Hymenoptera
: Apidae
: Meliponini
: Geniotrigona, Heterotrigona, Lepidotrigona, Sundatrigona, Tetrigona, Tetragonula, dll.
 
lebah tanpa sengat Heterotrigona itama (yang besar) dan Tetragonula cf laeviceps

Lebah tanpa sengat hidup dalam koloni dengan pembagian tugas yang jelas (eusosial). Dalam satu koloni terdiri dari satu atau lebih ratu, ratusan lebah jantan, dan ribuan lebah betina steril. Tugas ratu adalah bertelur untuk menghasilkan keturunan baru. Tugas lebah jantan hanya kawin. Sedangkan lebah betina steril memiliki berbagai tugas seperti mengumpulkan pakan; menjaga sarang; dan merawat ratu, lebah jantan, dan lebah-lebah muda.
Semua jenis lebah tanpa sengat diketahui bersarang pada lubang, dengan satu pintu masuk yang dilengkapi dengan sistem keamanan. Karena tidak dilengkapi dengan organ penyengat sebagai pertahanan diri, mereka membangun sarangnya dengan suatu sistem keamanan yang unik guna menjaga sarang dari ancaman penyusup maupun penyakit. Pemilihan sarang pada lebah tak bersengat cenderung menunjukkan adanya variasi. Misalnya jenis Heterotrigona itama cenderung memilih lubang-lubang pohon sebagai tempat membangun sarang. Heterotrigona thoracica cenderung memilih lubang-lubang batuan atau pohon dengan diameter batang yang besar. Sedangkan jenis Tetragonula laeviceps, sebagai jenis yang cukup umum, cenderung lebih pragmatis dalam memilih media sarang. Mereka bisa menghuni ruas bambu, lubang pada cacat bangunan, pipa, dll.
sarang lebah tanpa sengat

Seperti lebah Apis, lebah tanpa sengat juga mengumpulkan nektar dan polen sebagai makanan. Nektar diproses menjadi madu, sedangkan serbuk sari digunakan untuk makanan ratu lebah dan larva lebah. Baik madu maupun serbuk sari (roti lebah) disimpan dalam kantong-kantong yang terbuat dari campuran resin tanaman dan lilin lebah, sebagai cadangan makanan.
Di sisi lain, lebah berukuran kecil –tidak lebih besar dari lalat- ini juga menghadapi ancaman serius oleh semakin terdesaknya habitat mereka. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia merupakan salah satu negara dengan laju kehilangan hutan yang tinggi di dunia. Hilangnya hutan sebagai habitat utama lebah tanpa sengat menyebabkan hilangnya banyak populasi lebah dari kelompok ini di berbagai tempat. Beberapa jenis tertentu masih mampu bertahan di habitat yang kurang bersahabat, namun mereka juga menghadapi masalah dalam menemukan tempat untuk bersarang. Tak heran jika lebah-lebah mungil tersebut terkadang dijumpai bersarang di tempat yang kurang layak.
Besarnya keanekaragaman jenis lebah tanpa bersengat; dengan variasi dalam ukuran tubuh, perilaku, dan relung habitatnya; menjadikan mereka memiliki peran dominan dalam penyerbukan. Penyerbukan bunga pada beberapa jenis tanaman diduga sangat tergantung dengan keberadaan lebah. Dengan manfaat yang sedemikian besar, kiranya diperlukan upaya serius guna menjaga kelestarian lebah tak bersengat di Indonesia

 Save our native bees!


Rasmussen, C. 2008. Catalog of Indomalayan / Australasian stingless bee (Hymenoptera: Apidae: Meliponini. Zootaxa, 1935, 3-80.