Showing posts with label owa coffee. Show all posts
Showing posts with label owa coffee. Show all posts

Wednesday, July 1, 2026

Upaya Swaraowa Naikkan Kelas Kopi Pekalongan lewat Pasca-Panen Modern

 

foto bersama di Sentra Specialty Coffee Arabica-mas Iyan Bondowoso

Oleh : Vika Bayu Iriyanto Putro

Sejak dimulainya proyek kopi dan konservasi tahun 2012, di Petungkriyono, kopi hingga saat ini telah menjadi salah satu komoditas unggulan dari habitat Owa , memberikan warna perekonomian di Petungkriyono. Keterlibatan petani-petani sebagai komponen utama rantai pasok kopi ini, membuat Kopi Owa yang saat ini menjadi branding sekaligus gerakan pelestarian Owa, juga terus  berkembang, mengikuti pola pasar dan menambah pengetahuan tentang ceruk-ceruk peluang yang bisa di perbaiki dalam proses produksi sekaligus nilau jual kopi.

Pengolahan tradisional

Pengolahan pasca-panen telah menjadi titik tolak untuk mengangkat nilai kopi di Petungkriyono,  secara umum didominasi oleh dua metode konvensional, yaitu proses alami (natural/dry process) dan proses basah (washed process) . Di pasar global, ada satu lagi metode yang populer yaitu wet hulled/giling basah,  namun sangat jarang dilakukan di prosesor-prosesor di Petungkriyono, ketiga metode ini telah lama menjadi acuan utama bagi sebagian besar petani dalam menjaga standar mutu produk, dengan pertimbangan ketersediaan prasarana, cuaca dan kecepatan perputaran cash di tingkat petani.

Namun, kondisi berbeda ditemukan pada komunitas petani kopi di wilayah Kecamatan Petungkriyono, Lebakbarang, dan Talun, Kabupaten Pekalongan. Di kawasan tersebut, aktivitas pasca-panen masih sangat bergantung pada metode tradisional proses alami/dry process ( petik  kemudian langsung di jemur sampai kering) , dan kami menyebut proses ini giling-alami (kopi di panen kemudian di giling kulitnya kemudian di jemur sampai kering) yang diwariskan secara turun-temurun, dengan tingkat adopsi pengetahuan teknologi pasca-panen yang relatif masih minim.

Seiring dengan melonjaknya perkembangan industri kopi di Indonesia sejak kita mulai proyek kopi dan konservasi di tahun 2012, dinamika pasar mengalami pergeseran yang signifikan. Sejak awal melalui skema Kopi Owa, prosesor atau pengolah kopi dibentuk untuk menampung atau membeli kopi-kopi dari Petani, kemudian di prosesor inilah kopi kemudian di proses sesuai standart baku dan mutu. Kami mengenalkan proses rendam (washed), natural dan honey.  Dalam hal ini kopi owa, mengikuti pasar specialty coffee dan nilai tambah konservasi owa sebagai storry telling narasi konservas Owa Jawa. Dan saat ini dari sisi proses produksi kopi ini ( di level prosessor) pasar ini telah berkembang pesat, menciptakan trend baru yang kadang tidak realistis untuk  dilaksanakan di level petani ataupun prosessor di level petani. 

Para prosessor kopi kini dituntut untuk terus beradaptasi dengan tren pengolahan pasca-panen modern demi memenuhi spesifikasi dan standar kualitas yang diminta oleh pasar nasional maupun internasional. Oleh karena itu, terdapat kesenjangan (gap) yang nyata antara praktik tradisional di Kabupaten Pekalongan dengan tuntutan pasar modern yang berbasis pada standardisasi mutu dan cita rasa.

Pengolahan kopi modern

Dalam industri kopi modern, pasca-panen tidak lagi sekadar proses mengeringkan buah kopi agar tidak busuk. Hari ini, pasca-panen telah bertransformasi menjadi *proses manipulasi rasa (flavor pembuatan) melalui kontrol biokimiawi yang presisi.

Para prosesor kopi modern kini bertindak atau esperimen terkait pasca panen modern , dengan tidak hanya mengandalkan proses alami dari fermentasi,namun juga telah menambahakan mikroba spesifik, pengendalian suhu, keasaman ( ph) dan oksigen, hingga muncul teknik inovatif dalam pasca panen kopi terutama dari petik hingga biji siap roasting,  seperti Anaerobic Fermentation, Carbonic Maceration dan infused fermentation.

Mengapa Tren Ini Penting untuk Prosessor kopi 

Melonjaknya tren ini didorong oleh pasar Specialty Coffee yang berani membayar harga berkali-kali lipat lebih mahal untuk kopi yang memiliki profil rasa unik dan skor uji cita rasa (cupping score) di atas 85 poin. 

Permintaan pasar dunia

Permintaan pasar internasional terhadap kopi yang diproses secara modern (experimental processing) kini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah industri kopi specialty. Negara-negara importir besar seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, negara- negara timur tengah serta negara-negara di Eropa Barat tidak lagi sekadar mencari pasokan kopi dalam jumlah besar, melainkan mencari keunikan rasa dan konsistensi mutu yang tinggi.

Para pemangku kepentingan (buyers dan roasters) internasional tidak sekadar membeli produk jadi, mereka membeli cerita di balik prosesnya (storytelling). Petani yang menjual kopi proses modern ke pasar global wajib menyertakan log data yang detail (Suhu tangki saat fermentasi, Nilai keasaman (pH) selama proses pembongkaran gula buah, Durasi penjemuran ) Keterbukaan informasi ini krusial karena para penyangrai (roasters) luar negeri membutuhkan konsistensi rasa yang sama untuk dibeli kembali pada musim panen berikutnya.

kunjungan ke kebun kopi di Puslit Kopi

Perkaya Ilmu Pasca-Panen: Kunjungan ke Jember dan Bondowoso

Oleh karena berdasarkan dinamika kopi Owa, tersebut diatas , Dalam upaya mendongkrak kualitas dan nilai jual kopi lokal, tim Swaraowa menggelar kegiatan studi banding pada 18–21 Juni 2026. Kegiatan ini mengajak para petani dan prosesor kopi dari Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya untuk berkunjung ke pusat-pusat riset serta pengolahan kopi modern di Jawa Timur, yaitu di Kabupaten Jember dan Bondowoso. Kegiatan studi banding ini didukung oleh Mandai Nature melalui Proyek Kopi Owa 2025-2028. 

Sebanyak 10 petani terpilih menjadi perwakilan dalam kegiatan ini, yang berasal dari beberapa wilayah:

Kecamatan Petungkriyono: Desa Yosorejo (2 orang), Desa Tlogohendro (2 orang), Desa Tlogopakis (1 orang), dan Desa Kayupuring (2 orang).

Kecamatan Lebakbarang: Desa Mendolo (1 orang).

Kecamatan Talun: 1 orang perwakilan.

Kecamatan Lemahabang: 1 orang perwakilan.

Kunjugan di lab pembuatan pupuk organik di Puslit Kopi dan Kakao

Hari Pertama: Belajar Budidaya hingga Hilirisasi di Puslitkoka Jember

Pada 19 Juni 2026, perjalanan dimulai dengan mendatangi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) di Kabupaten Jember. Pusat penelelitian ini adalah pusat riset hulu hingga hilir kopi terlengkap di Indonesia. Ini menjadi tempat strategis untuk mempelajari teknik budidaya modern, pengendalian hama, hingga inovasi pengolahan pascapanen berstandar tinggi. Di sini, para peserta dibimbing langsung oleh para narasumber yang kompeten dan spesialis di bidangnya masing-masing.

Materi Kelas & Praktik Kebun: Petani belajar teori perawatan tanaman kopi, mulai dari persiapan tanam, perawatan tahun pertama, hingga tahun-tahun berikutnya. Peserta kemudian diajak langsung ke kebun kopi robusta untuk mempraktikkan pemeliharaan pohon serta teknik pemilihan bibit robusta unggul.

Tur Pasca-Panen & Pengolahan: Selama kurang lebih 2,5 jam, rombongan berkeliling melihat proses penjemuran buah kopi, mengamati alat-alat pasca-panen klasik, hingga mengintip proses penyangraian (roasting) kopi sebelum dikemas untuk didistribusikan ke berbagai jaringan ritel.

melihat proses pasca panen di Farmer Arabica Ijen ,Bondowoso

Pemanfaatan Limbah kopi di Tory Javanese Cafe

Petani kopi juga berkesempatan mengunjungi ketempat Mas Andik Irawan, seorang akademisi sekaligus pemilik Tory Javanese Cafe. Dari Mas Andik, para petani belajar proses pasca-panen modern, salah satunya adalah teknik infusi (infused process) pada kopi robusta. Tidak hanya soal rasa kopi, kunjungan ini membuka wawasan baru tentang konsep zero waste (tanpa limbah). Peserta diajak ke laboratorium untuk melihat pembuatan pupuk organik dari limbah kopi, serta belajar mengolah kulit luar kopi menjadi bubur kertas yang kemudian disulap menjadi produk kerajinan unik bernilai ekonomi seperti tas dan dompet.

Hari Kedua: Mengintip Rahasia Kopi Eksperimental di Bondowoso

Perjalanan berlanjut ke Kabupaten Bondowoso untuk menemui salah satu prosesor kopi ternama di Indonesia, Iyan, pemilik Farmer Arabika Ijen.

Kunjungan ini menjadi pengalaman pertama yang sangat berharga bagi para petani dan prosesor dari Pekalongan. Mereka diperkenalkan secara langsung pada metode pengolahan modern yang sedang menjadi tren global, seperti: Carbonic Maceration (Maserasi Karbonat), Infused Process (Proses Infusi)

 dan Anaerobic Process (Proses Anaerob) Ketiga proses eksperimental tersebut terbukti mampu memanipulasi dan menciptakan profil rasa kopi yang unik, bersih, dan sangat digemari oleh pencinta kopi nasional maupun internasional.

instalasi fermentasi kopi di mas Iyan Arabica coffee farmer-Bondowoso

Pasca-Panen Modern sebagai jalan pilihan untuk menambah nilai Kopi

Studi banding ini membuka mata para peserta mengenai potensi keuntungan ekonomi yang nyata. Pengolahan kopi modern mampu mendongkrak harga jual komoditas secara signifikan dibandingkan dengan proses klasik (tradisional).

Sebagai gambaran perbandingan harga di pasaran:

Proses Klasik/Tradisional: Rp140.000 – Rp150.000 per kg.

Proses Anaerob (Natural/Honey): Mencapai Rp190.000 per kg.

Proses Carbonic Maceration: Bisa menembus harga Rp250.000- Rp450.000 per kg.

Perbedaan harga yang cukup tinggi ini menjadi motivasi dan bahan evaluasi besar bagi para petani dan prosesor kopi  di Pekalongan. Sekembalinya dari Jawa Timur, ilmu-ilmu baru ini diharapkan dapat segera diterapkan secara bertahap demi memajukan industri kopi di desa mereka masing-masing.


Saturday, December 20, 2025

Kopi Katering: Edukasi dan Konservasi Lewat Secangkir Kopi

 


Oleh : Vika Bayu Irianto dan Arif Setiawan

Kopi owa yang menjadi produk konservasi dari SwaraOwa selain telah menjual di pasar global, melalui export kopi di Singapura, pasar lokal juga sedang kita kembangkan. Berbeda dengan di singapura, saat ini untuk pasar lokal karena kita juga bertujuan untuk mengedukasi konsumen kopi terkait pelestarian owajawa, maka dari itu penjualan langsung melalui event-event menjadi prioritas, kami menyebutnya “Kopi Katering”. Melalui event-event ini tim kopi Owa biasanya menyajikan kopi tidak hanya untuk di minum, tapi berikut juga media edukasi yang menjelaskan asal usul kopi, dan bagaimana kopi Owa merupakan bagian dari program konservasi Owa, kegiatan sosial dan ekonomi di sekitar habitat Owa Jawa.

Inisiatif ini berawal dari acara IUCN Song Bird Crisis confrence  di Universitas Atmajaya, Yogyakarta tanggal 10-14 Juni 2024, selama 4 hari berturut-turut Kopi owa menyajikan seduhan kopi segar di acara , coffee break, pada 4 hari pertemuan para peneliti dan pegiat konservasi Burung. Acara inilah yang kemudian menginspirasi kita, dengan adanya kopi katering , kesempatan untuk menyampaikan pesan konservasi lebih intens dilakukan, karena kita berinteraksi langsung dengan peminum kopi. Peserta seminar, yang sudah teredukasi,  peneliti dan pegiat konservasi alam sebagai peserta memberikan apresiasi lebih  untuk produk-produk yang kita bawa, sehingga ini juga sangat membantu dari sisi penggalangan dana untuk program-program konservasi Owa selanjutnya.

salah satu event pameran di 3 dekade konservasi Owa,
tim Kopi Owa bertemu dengan Wakil Menteri Kehutanan RI, 

Beberapa event kopi katering dan pameran kopi yang kita lakukan di sepanjang tahun 2025 diantaranya :

1. Bulan Juni 2025, biolaska pameran festival keanekarangaman hayati Universitas Sunan Kalijogo Yogyakarta.

2. September 2025, reuni 98 universitas atmajaya

3. October 2025, 6, Gunung Kidul, festival literasi gunung kidul, Yogyakarta

4. October 2025, 25. Gembiraloka zoo , Gibbon day.

5. October 2025, 28-29 Festival Kopi Klaten, Jawa Tengah

6. 11-13 November 2025, kopi catering dan pameran, di acara  BISA-LEAFA bioacoustics

7. 11-12 Desember 2025, acara symposium 3 Dekade konservasi elang jawa, Bogor

Tahun 2026, kopi owa Swaraowa akan terus melakukan strategi promosi konservasi melalui event-event pameran, seminar dan festival. apabila anda tertarik untuk mengundang Kopi Owa sebagai sajian dalam acara-acara coffee break, silahkan hubungi kami di swaraowa at gmail.com




Friday, October 20, 2017

Gibbon Watching, an alternative eco-tour in Java

Javan Silvery Gibbon 

This week our team receiving special guest who want to see wild primates in Sokokembang forest. The guest is coming from WorldWideWeb  to find us, and interested to watch gibbon in the wild. They found our website and contact us by email, soon we arrange dates for them to do primate watching.

From the email they introduce them self from Finland, and have been back packing to Southeast Asia and want to see some Indonesian wildlife, Komodo and Javan gibbon are their list priorities. Jussi and Outi both from Finland have done asking through the emails how to do primate watching in Sokokembang. In this trip we also give an introduction that this trip is a part of conservation activities in Central Java, to promote Javan gibbon (Hylobates moloch) as endangered and endemic primates. And the date come, on 11 October 2017 their visit our base in Yogyakarta, see our coffee house and drinking coffee from our shade grown habitat.
Javan gibbon habitat

Departing from Yogyakarta at afternoon, we head to Sokokembang ride our 4wd vehicle off course with many stops. Along the way chats inside the vehicle made us feel happy to know these guest. And we reach Sokokembang at 9 pm. Soon we reach Sokokembang we introduce to our Pa’e  Tasuri (Owa coffee house owner), and we ask him to guide tomorrow morning for primate watching.
Next morning, soon after coffee ritual about 6.30 we are ready to the field, boot and raincoat is provided, binocular also will help to see the primates. We have already give an introduction about primates in sokokembang, there are Javan gibbon (Hylobates moloch), Javan Langur (Trachypithecus auratus), Javan surili (Presbytis comata) and Longtailed macaques (Macaca fascicularis).
Pa'e Tasuri is guiding to watch the gibbon


There are primate watching route established in Sokokembang, using public road. From this road we can see the primates, however we have been monitor groups distribution along this route. Less than 1 hour walk first primate was detected is Javan langur. The langur is leaf eating monkeys and they living in 2-15 individuals in Sokokembang forest.  Then we are so lucky not so far from the langurs there were Gibbon hanging on the fruiting trees. The gibbon is lesser ape, doesn’t have  any tail and frugivore, their living pair with stable homerange. There are about 21 to 28 groups of gibbon found in Sokokembang forest.
meet and greet due to Javan gibbon
It was fun when we watching the gibbon, a local resident come to us and want to take photo with Jussi and Outi. We explain to the locals that these guests are wanted to see javan gibbon in the wild, far from their home, this is their motivation to visit the rainforest of Java.
drink shade grown help save the forest

Coffee-ing is another following activities, we introduce that our project is grass root level acvtivities,  to promote Javan gibbon also  to engage local community to preserve their natural resources, Owa coffee is sustainable products that meets ecology and economy problems in the Javan gibbon habitat, through this coffee we explain that shade grown coffee of Sokokembang is important for the gibbon habitat and source of income for people nearby the forest. Visiting shade grown coffee and see how the coffee is produced for local market in the Javan gibbon habitat are activities that we share to our special guest.

Thank you for your contribution Jussi and Outi.


PS: feel free, do email us at : swaraowa at gmail.com for further info about this gibbon watching trip.

Monday, July 31, 2017

Kopi untuk Owa Jawa


Inisiasi konservasi primata, Owa jawa, melalui kegiatan “Kopi dan Konservasi Primata” bulan agustus ini telah berhasil menembus komunitas global, khususnya di wilayah Asia. “Kopi dan Konservasi Primata” yang kita mulai sejak tahun 2012, di dusun Sokokembang, Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, melalui produk kopi Owa,  setidaknya telah di kenal di masyarat internasional. Meskipun presentasi kegiatan ini juga pernah di lakukan di Vietnam (2014) dan Chicago (2016), baru tahun ini kita mencoba ikut dalam forum peminat dan pecinta kopi.   Kalau acara sebelum-sebelumnya presentasi di komunitas pegiat  dan peneliti primata, kali ini kami mencoba mengarusutamakan upaya pelestarian primata Indonesia Owajawa di komunitas kopi dunia. Mengenalkan Owajawa dan kegiatan konservasinya untuk para penikmat kopi.
tim swaraOwa
Bekerjasama dengan Wildlife reserve Singapore, kami berpartisipasi dalam acara Singapore coffee festival, tanggal 4-6 Agustus 2017. Dan mulai tanggal tersebut juga kopi Owa resmi di jual di outlet di kebun binantang singapura.   

kopi Owa di acara festival kopi Singapura
Proyek Kopi dan Konservasi Primata ini setidaknya telah membawa pengalaman baru bagi tim swaraOwa untuk membangun sebuah inisiasi dari bawah untuk kegiatan upaya pelestarian primata. Tidak hanya melakukan kegiatan penelitian, namun dengan kegiatan ini kita setidaknya telah berhasil membuat sekema  ekonomi berkelanjutan untuk konservasi Owa Jawa, khususnya di wilayah sebaran Jawa Tengah.

Kopi kemasan yang di jual di Singapura
Tahun 2015 wildlifre reserve Singapore juga telah berkunjung ke habitat Owa di Sokokembang dan bertemu dengan pihak pemerintah BapedaKab.Pekalongan. karena sejak tahun 2013 WRS Singapore juga telah menjadi salah satu donor dari kegiatan ini. Mengenalkan Owa jawa di komunitas global dan mengenalkan daerah habitat asli, harapannya juga mendorong di tingkat site bahwa kita mempunyai primata yang menjadi indentitas di tingkat internasional, kontribusi apa  yang bisa kita berikan untuk primata asli Indonesia  dan habitatnya, tidak hanya menjadi kewajiban kita yang ada di sekitar hutan namun  sudah menjadi perhatian masyarakat internasional.