![]() |
| masak bersama, dengan bahan pangan dari hutan Mendolo di Pasar Sehat Kepayang Yogyakarta |
oleh : Sri Windriyah (Ketua KWT Brayan Urip Desa Mendolo)
Kegiatan Kunjungan Belajar KWT Brayan Urip dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 29 – 30 Agustus 2026. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menambah wawasan, pengetahuan, keterampilan, serta memperoleh inspirasi dalam pengembangan potensi desa, produk olahan, pengelolaan wisata, dan tata kelola kelembagaan.
Destinasi yang dikunjungi pertama pada hari Sabtu (29/8) adalah Pasar Sehat Kepayang. Lokasinya di Animalika Social Space, Jalan Kaliurang km 9, Sardonoharjo, Ngangklik, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan diawali dengan perkenalan kedua komunitas. Selanjutnya kami berbagi pengalaman, khususnya bagaimana memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar untuk dikembangkan menjadi produk maupun kegiatan yang memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi.
Di pasar sehat, kami mendapatkan berbagai pembelajaran yang bersifat teknis, antara lain: cara memanfaatkan potensi yang tersedia di desa dan lingkungan sekitar sebagai ciri khas desa, dan bagaimana mengenalkan produk yang dikembangkan oleh masing-masing komunitas.
![]() |
| penyambutan di pasar sehat kepayang |
Produk yang ada di Pasar Sehat Kepayang sangat beragam, antara lain: kombucha, tepache, es krim sehat, jus aneka sayur, es dawet, dan aneka sayur organik. Sementara itu, kami dari KWT Brayan Urip membawa aneka produk hasil bumi Mendolo, seperti: nasi gadung, tepung gadung, kerupuk gadung rasa udang, brownis gadung, sambel kluwek, dan aneka sayur hutan.
Kami juga mendapatkan ilmu baru lewat pengenalan bahan pengganti bumbu penyedap kimia buatan, alternatif bumbu sehat, obat herbal, dan olahan keripik dari tumbuhan alam sekitar. Kami diperkenalkan dengan beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun obat herbal, antara lain: tumbuhan walang sangit dan wedusan sebagai alternatif pengganti micin, bunga bakso sebagai pengganti bawang putih, kemadu dan kenikir/cokra-cakri sebagai sayuran dan obat herbal, serta klateng yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan keripik dan obat herbal.
Selain itu, peserta juga mendapatkan pengetahuan baru mengenai cara penyimpanan sayuran, khususnya sayur rebung. Agar tahan lama, rebung bisa disimpan dengan cara difermentasi. Hal ini bisa meningkatkan kualitas dan daya simpan produk.
Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan memasak bersama dan dilanjutkan makan bersama. Kami saling bertukar sajian: peserta dari Mendolo menikmati sajian makanan yang disajikan Komunitas Pasar Sehat Kepayang, di antaranya: nasi sayur brongkos, es dawet, es krim manggga-kweni, tepache, kombucha, dan jus sayur. Sebaliknya, KWT Brayan Urip Mendolo menghidangkan nasi gadung, sambel cepokak campur klanting, tumis blibar pucung, urap kecombrang campur kremo, botok keji, sambel kluwek, kerupuk gadung udang, dan brownis gadung.
Setelah kegiatan di hari itu selesai, dilanjutkan dengan penutupan dan foto bersama. Selanjutnya, kami menuju penginapan. Kali ini kami mendapatkan pengalaman menginap di Hotel Java Village Resort. Lokasinya tidak jauh dari Animalika, tepatnya di Jalan Griya Taman Asri, Sleman.
| mencicip sajian berbagai jamu produk Kebon Pasinaon,Magelang |
Kunjungan hari ke dua (30/8) di Kebon Pasinaon Living Museum yang lokasinya ada di Jl. Wirodigdo Km. 3, Sirahan, Salam, Magelang. Kegiatan diawali dengan perkenalan dan penjelasan mengenai latar belakang serta konsep pembelajaran yang diterapkan di Kebon Pasinaon Living Museum. Kami mendapatkan berbagai pengalaman dan pengetahuan tentang kehidupan masyarakat, pertanian, budaya, dan tradisi masyarakat desa yang bertahan sejak zaman dahulu.
Pengelola memberikan presentasi singkat mengenai latar belakang pendirian dan gambaran kegiatan pembelajaran di Kebon Pasinaon Living Museum. Selanjutnya, kami mengikuti program trip dengan berbagai tema. Kami mulai dengan mengenal tata cara pemilihan lurah pada zaman dulu. Alat-alat yang digunakan untuk pemilihan yaitu menggunakan biting dan juga simbolis dari hasil bumi seperti padi, jagung, dan kelapa.
Kami kemudian diajak mengenal berbagai alat pertanian tradisional. Ada wluku, ani-ani, kepang, tedo, irig, pacul, lesung, dan alu. Mengenal berbagai tradisi pertanian seperti nggaru (membajak sawah menggunakan sapi), gengsot, napeni, tandur, nginter, ngencek, dan nutu. Di sesi ini, kami juga dikenalkan mengenai cara membuat jamur dari limbah janggel jagung.
Kami lalu berjalan berkeliing menuju pos-pos yang disediakan, mengikuti sepuluh tema Kebon, seperti Kebon Tandur, Kebon Empon, Kebon Dolan, Kebon Tonton, hingga Kebon Ciblon. Di pos berikutnya, kami mengenal berbagai empon-empon dan cara membuat jamu tradisional, khususnya jamu beras kencur.
![]() |
| mencoba permainan tradisional |
Selanjutnya, kami mencoba permainan tradisional seperti egrang, congklak, bekel, lompat tali dari karet, jamuran, dan balap perahu. Pos ini berada di Kebon Dolan.
Karena kental dengan muatan budaya, Kebon Pasinaon menyajikan pengalaman langsung berupa praktik kesenian tradisional berupa tari dan kami pun mengikuti praktik menari. Kami juga mendapat kesempatan untuk menyimak seni geguritan dan puisi karya salah satu tokoh Kebon Pasinaon Living Museum.
Di pos Kebon Pawon, kami memasuki replika pawon tradisional dan mengenal berbagai alat dapur tradisional seperti luweng, dandang, kendi, kuali, teko, ceret, kenceng, centhong, irus, siwur, cething, kalo, parutan, ntik, tedo, irig, cobek, munthu, layah, cangkir, muk, dan masih banyak lagi.
Selanjutnya, kami berjalan menuju bagian belakang kampung untuk mengunjungi tempat mandi masyarakat zaman dulu yaitu belik dan sungai. Kami juga diperkenalkan mata air bertuah yang sumber airnya berasal langsung dari Gunung Merapi. Masyarakat setempat memiliki kepercayaan bahwa air tersebut dapat dimanfaatkan berbagai keperluan dan penyembuhan berbagai macam penyakit. Cara penggunaan air tersebut bisa diminum atau untuk cuci muka.
Di pos terakhir, kami belajar mengenai sejarah Desa Sirahan dengan mengunjungi bekas bangunan rumah tua yang merupakan peninggalan pemerintahan lurah pertama desa tersebut.
Kegiatan ditutup dengan makan bersama, penyampaian pesan dan kesan serta di lanjut foto bersama. Selesai sudah kunjungan kami, lalu rombongan dari Mendolo bersiap untuk perjalanan pulang.
Memanen banyak pembelajaran
Dari kegiatan kunjungan belajar di Pasar Sehat Kepayang, KWT Brayan Urip Mendolo memperoleh banyak ilmu dan inspirasi, khususnya dalam hal pengembangan produk dengan memanfaatkan tumbuhan dan potensi alam sekitar. Kami para peserta mendapatkan pengetahuan mengenai alternatif pengganti bahan penyedap, bumbu, pembuatan minuman, obat herbal tradisional, bahan pangan dari tumbuhan alam sekitar, serta cara penyimpanan sayuran rebung agar lebih tahan lama. Selain pengembangan produk, kami juga mendapatkan wawasan mengenai pengembangan wisata berbasis potensi lokal serta strategi pemasaran produk dan desa wisata.
Sementara itu, dari kunjungan ke Kebon Pasinaon Living Museum, kami mendapatkan pengetahuan mengenai pelestarian budaya, pertanian tradisional, kesenian, makanan dan jamu tradisional, serta pemanfaatan potensi desa sebagai daya tarik wisata. Yang tidak kalah penting, kegiatan tersebut memberikan motivasi dan kepercayaan diri kelompok untuk terus maju. Penjelasan mengenai potensi desa, berbagai kendala yang dihadapi, struktur kelembagaan, serta tata kelola kegiatan juga memberikan gambaran yang sangat bermanfaat bagi KWT Brayan Urip Mendolo. Berbagai potensi dan kegiatan yang telah dikembangkan di Kebon Pasinaon Living Museum ternyata memiliki banyak kesamaan dengan potensi yang ada di desa kami.
Selain manfaat dari kunjungan pada dua destinasi utama, ada juga pembelajaran bagi kami selama di hotel. Kami mendapatkan pengalaman mengenai bagaimana tata cara check-in dan check-out, menggunakan fasilitas yang disediakan hotel berbintang, serta merasakan standar keramah-tamahan dan pelayanan hotel.
Kegiatan kunjungan belajar selama dua hari memberikan pengalaman dan wawasan yang sangat berharga bagi KWT Brayan Urip Mendolo. Kegiatan ini membuka pemikiran bahwa potensi alam, pertanian, budaya dan sumber daya yang ada di desa dapat dikembangkan menjadi produk unggulan maupun daya tarik wisata apabila dikelola dengan baik, kreatif, dan berkelanjutan.
Melalui kunjungan belajar ini, KWT Brayan Urip Mendolo semakin termotivasi untuk melakukan pembenahan tata kelola kelompok, pengembangan produk, pemanfaatan potensi alam sekitar, pelestarian budaya, pengelolaan wisata, dan strategi pemasaran produk.
Ilmu, pengalaman dan inspirasi yang diperoleh selama kunjungan belajar dapat diterapkan dan dikembangkan di desa sendiri, sehingga KWT Brayan Urip Mendolo menjadi kelompok yang semakin aktif, kreatif, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Pada akhirnya, kami bisa turut serta dalam mendorong kemajuan desa.




