Showing posts with label siripokbilou. Show all posts
Showing posts with label siripokbilou. Show all posts

Monday, May 25, 2026

Menyebar pengetahuan : Buku Primata dan Burung di Siberut Utara

 oleh : Arif Setiawan dan Aloysius Yoyok

penyerahan buku di SMA 1 Siberut Utara

Pada bulan April dan Mei 2026 lalu, berkaitan dengan survey populasi bilou di Siberut Utara, tim siripokbilou juga berkesempatan membagikan buku-buku yang telah kita susun dari kegiatan sebelumnya di Mentawai tentang Primata Mentawai dan Burung-Burung kepulauan Mentawai.

Buku keanekaragaman hayati yang menyoroti primata dan burung Mentawai memiliki peran strategis sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan, masyarakat, dan kebijakan konservasi. Ia bukan sekadar katalog spesies, melainkan sebuah narasi yang menghidupkan kekayaan alam Mentawai. Melalui dokumentasi ilmiah yang sistematis, buku ini menyediakan informasi dasar tentang distribusi, perilaku, dan status ancaman satwa endemik, sehingga menjadi rujukan penting bagi siapapun yang tertarik tentang keanekargaman hayati Mentawai, siswa, peneliti, dan sudah seharusnya  pengambil kebijakan. Di sisi lain, bagi masyarakat lokal, buku ini menumbuhkan kesadaran akan identitas ekologis mereka, memperlihatkan bahwa primata dan burung bukan hanya bagian dari hutan, tetapi juga bagian dari budaya dan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, buku ini memperkuat advokasi konservasi, membuka peluang ekowisata berbasis satwa endemik, serta membangun citra positif Mentawai di mata dunia sebagai pulau keanekaragaman hayati. 

cover buku primata Mentawai

cover buku burung Mentawai

Singkatnya, buku tersebut adalah alat yang menyatukan ilmu, budaya, dan ekonomi lokal dalam satu visi pelestarian.Pembagian buku -buku ini  merupakan upaya penyebar luasan informasi khususnya untuk anak-anak sekolah dan pengajar di Kepulauan Mentawai. 

Buku primata dan Burung Mentawai ini, disusun oleh tim swaraOwa dan tim Siripokbilou, yang telah mengumpulkan foto-foto jenis-jenis yang dijumpai selama berkegiatan di Mentawai. Buku primata Mentawai telah mengalami tiga kali revisi cetak, untuk memperbaharui informasi yang disampaikan. 

Pembagian buku, dilakukan dengan mengunjungi langsung sekolah-sekolah di wilayah kecamatan Siberut utara dari Tingkat Sekolah Dasar, SMP dan SMA baik negeri maupun swasata dan juga perpustakaan Desa. Pada periode kunjungan siberut utara ini ada 12 Sekolah dan 1 desa yang mendapatkan buku. 

Dalam arus digital yang serba cepat saat ini, urgensi buku keanekaragaman hayati di Mentawai justru harusnya semakin kuat, terutama karena kondisi pedalaman yang masih terbatas akses internet dan teknologi. Buku fisik menjadi media pengetahuan yang paling dapat diandalkan bagi masyarakat lokal, sekolah, dan komunitas adat yang belum sepenuhnya terhubung dengan dunia digital. Ia berfungsi sebagai arsip permanen yang tidak tergantung pada jaringan, sekaligus sebagai sumber belajar langsung yang bisa dibawa ke hutan, ke rumah, atau ke balai desa. Namun juga masih ada tantangan lain di Mentawai pada umumnya yaitu minat baca terhadap buku yang rendah. Penyebaran pengetahuan tentang  Mentawai dalam bentuk buku primata dan burung ini akan dilakukan terus di seluruh sekolahan di Kepulauan Mentawai. Harapannya setiap sekolah mempunyai 2 buku ini, tersedia di perpustakaan sekolah dan dapat dibaca oleh para siswa. 



Thursday, April 30, 2026

Dari Sikabaluan hingga Sirilanggai : Catatan pengamatan alam dan komunitas desa di Siberut Utara

Oleh : Aoysius Yoyok

Lokasi yang di kunjungi, di Siberut Utara

Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui lokasi-lokasi  di luar kawasan Taman Nasional Siberut (TNS) di wilayah Siberut Utara yang masih memiliki potensi kelimpahan primata terutama Bilou, Owa Mentawai, survey awal  sebelum dilakukan survey populasi dengan menggunakan metode vocal count.Kegiatan ini dilakukan pada bulan Maret 2026. 

Persiapan

Sebelum kami melakukan perjalanan, terlebih dahulu informasi tentang keberadaan bilou dari masyarakat yang merupakan penduduk Sikabaluan dikumpulkan. Kegiatan ini dilakukan dengan melakukan komunikasi melalui telepon seluler. Informasi awal dari penduduk setempat ini dirasa penting karena sudah sejak 2013 tim belum melakukan perjalanan ke kawasan-kawasan hutan di daerah Siberut Utara ini. Selama satu dekade terakhir kawasan yang berada di luar zona inti TNS diduga kuat sudah banyak terdapat perubahan vegetasi hutan dan perubahan fungsi lahan. Proyek-proyek pembangunan infrastruktur oleh pemerintah berupa akses jalan, aktifitas perusahaan logging dan aktifitas pemanfaatan lahan oleh penduduk pasti akan memberi pengaruh yang besar dalam distribusi dan keberadaan primata di kawasan itu. 

melintasi jembatan roboh jl Monganpoula - Sotboyak

Perjalanan

Sesuai dengan informasi awal yang kami dapatkan, kami memutuskan untuk melakukan kunjungan, yang kami piih pertama adalah di dusun Puran. Di wilayah dusun ini dikabarkan masih memiliki sebaran populasi primata yang relatif mudah untuk ditemui. Dusun ini merupakan bagian dari Desa Muara Sikabaluan, Siberut Utara. Jika dari arah pusat kecamatan di Muara Sikabaluan dusun ini terletak di seberang sungai Sikabaluan, untuk menuju dusun ini jika kita tidak membawa barang yang berat, kita bisa menempuh perjalanan berjalan kaki sekitar 1 jam dengan menyusuri pantai saat pasang sedang surut. Atau jika laut sedang pasang naik kita bisa menggunakan moda transportasi berupa perahu pompong ataupun bermesin tempel. 

Sesuai dengan jadwal pelayaran kapal Mentawai Fast antar pulau, dari Siberut Selatan kami berlayar menuju Pelabuhan Pokai Siberut Utara, pada jam 11.00 WIB kami sudah tiba di tujuan kami. Perjalanan kemudian kami lanjutkan dengan menggunakan ojek sepeda motor menuju Muara Sikabaluan. Di situ kami akan bertemu dengan Bastian Sikaraja, seorang pemuda dari dusun Puran yang beberapa hari sebelumnya sudah kami hubungi. Secara adat wilayah dusun Puran adalah milik dari kelompok Sikaraja, kebetulan salah seorang dari anggota Sikaraja itu yang akan menjadi pemandu kami untuk melihat situasi hutan di sekitar dusun Puran. Perjalanan laut dengan perahu bermesin tempel 15 PK hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit saja, kami sudah tiba di rumah Bastian Sikaraja. Sebuah rumah di permukiman yang baru 2 tahun lalu dibangun. Permukiman yang mereka huni ini adalah sebuah permukiman baru, pemerintah melaksanakan program relokasi penduduk dari permukiman lama yang terletak di tepi pantai sebagai bagian ari program mitigasi dari ancaman tsunami. 

Sesudah beristirahat sejenak, sore itu kami kemudian berangkat untuk melakukan observasi di hutan sekitar perumahan penduduk itu dengan ditemani oleh 3 orang penduduk Puran. Dan benar saja, seperti penyampaian mereka, kami segera melihat sosok bayangan primata yang bertengger di dahan pohon pulai. Pohon pulai itu berada di dekat rumah yang berderet paling dekat dengan kawasan hutan rawa yang mengelilingi sebagian permukiman itu, mungkin sekitar 50 meter saja. Kami kemudian berjalan menuju ke arah pohon itu. Seekor simakobu terlihat sedang beristirahat di dahan pohon itu. Dia kemudian terlihat bergerak mengambil tunas pulai itu dan memakannya. Namun sayang sekali, karena tidak terdapat jalur jalan menuju ke arah pohon pulai itu, suara berisik dari langkah-langkah kaki kami yang menginjak ranting-ranting kering membuat simakobu agak terganggu dan kemudian turun dari pohon, kemudian menghilang dari pandangan mata kami. 

simakobu ( Simias concolor)

Kami kemudian bergerak memasuki hutan rawa yang saat itu sedang cukup kering untuk kami masuki. Dari rumah terakhir di permukiman itu kami hanya masuk sekitar 200 meter saja melalui jalan setapak. Namun karena hari sudah mulai gelap kami tidak bisa mengambil foto primata yang kami lihat petang itu. 3 individu joja dan 1 individu simakobu terlihat dari jarak yang cukup dekat. 

Malam itu kami beristirahat di rumah Bastian Sikaraja. Pagi masih gelap, jam 04.00 WIB kami sudah terjaga dan kemudian duduk di teras, mendengarkan suara-suara satwa malam dan primata dari hutan dan perbukitan di sekitar permukiman itu. Morning call dari bilou terdengar dari 4 arah yang berbeda. Sementara suara jenis-jenis primata Siberut yang lain yaitu joja, bokkoi dan simakobu terdengar jelas sahut-menyahut di jarak yang cukup dekat, yang terdekat ada beberapa sumber suara yang bahkan kami perkirakan hanya berjarak kisaran puluhan meter saja di sekitar perumahan di Puran. 

Keesokan harinya jam masih menunjukkan pukul 05.30 WIB saat kami kemudian bergerak menuju perbukitan yang berada di arah barat permukiman ke arah kami mendengar salah satu suara morning call bilou. Menurut beberapa orang penduduk Puran, dari arah situ memang sering terdengar suara great call. Punggungan perbukitan itu oleh warga Puran dikenal sebagai Leleu Munduk. 

Namun setibanya kami di badan jalan Trans Siberut yang sudah bersemak tebal, kami tidak segera menemukan jalur jalan setapak menuju puncak bukit itu. Hari semakin siang, plan B kemudian diambil, kawatir kami akan kesiangan saat mencapai punggungan perbukitan kami pindah arah menuju ke puncak bukit yang bisa kemi temukan jalur jalannya. Kami menyusuri jalur jalan Trans Siberut dimana kelompok keluarga Sikaraja membuka perladangan di sepanjang kiri-kanan jalur jalan Trans Siberut yang menghubungkan Puran-Sirilogui itu. Jalur jalan itu sudah ditumbuhi semak belukar dan rerumputan yang cukup tebal dan tinggi membuat badan kami kemudian basah oleh embun yang menempel di belukar dan rerumputan itu. 

Bilou ( Hylobates klosii)

Sekitar jam 06.15 WIB, kami tiba di punggungan perbukitan yang sudah terbuka akibat pembukaan jalur jalan itu. Baru saja kami berhenti, kami langsung melihat bayangan kelompok primata di kerimbunan pepohonan di tepi jalur jalan itu. Kami kemudian bergerak perlahan mendekat. Tetapi semak yang rapat dengan jenis-jenis rotan kecil yang berduri menghambat langkah kami. Kelompok primata itu tidak terlihat dengan jelas, tetapi kami memperkirakan adalah 2 spesies yang berbeda, kemungkinan besar adalah simakobu dan joja. Saat kami merasa primata-primata itu sudah bergerak menjauh, tiba-tiba kami melihat satu individu bilou yang bergerak cepat, mungkin karena terkejut dengan kehadiran kami yang tidak menyangka jika di situ masih ada primata yang bersembunyi. Kami tepat berada di bawah pohon tempat 2 individu bilou itu bertengger. Awalnya kami sempat ragu jika yang kami lihat terakhir itu adalah kelompok bilou. Keduanya segera menghilang dibalik rimbunnya dedaunan pepohonan itu. Kami mengendap-endap, memperhatikan dengan hati-hati. Namun yang terlihat sedang memanjat batang pohon tidak jauh dari titik menghilangnya bilou itu adalah seekor simakobu muda. Dia terlihat sedang menikmati pucuk daun muda dari pohon itu. 

kailaba ( Antracoceros albirostris)

Sampai jam menunjukkan pukul 10.00 WIB kami tidak berhasil mendengar suara great call dari kelompok-kelompok bilou di sekitar permukiman Puran. Kami kemudian bergerak meninggalkan tempat kami melakukan pengamatan. Beberapa jenis burung berhasil kami lihat di pagi itu, beberapa tempat di sekitar kami juga terdengar suara dari simakobu, joja dan bokkoi yang sesekali mengejutkan kami karena terdengar cukup keras karena berada tidak jauh dari tempat kami melakukan pengamatan

Perjalanan pulang kami tempuh melalui jalur yang berbeda, kali ini kami melewati tepian hutan rawa melalui jalur jalan setapak. Menjelang tiba di permukiman, kami melintasi keluarga yang sedang bekerja membuka petak sawah baru di tepian hutan rawa itu. Menurut cerita mereka, sekelompok bilou berjumlah 3 individu beberapa hari lalu terlihat tidak jauh dari punggungan perbukitan tempat kami melakukan pengamatan. Kebetulan dia sedang membawa senapan angin, dia dengan jujur menceritakan jika seekor bilou dewasa dia tembak dengan senapan angin itu dan mengenai bagian pingganggnya. Kelompok bilou itu kemudian kabur namun orang itu meyakini jika bilou itu tidak mati karena senapan angin yang dipakai hanya berukuran standar dan tidak mempergunakan racun.

hutan di belakang pantai puran, habitat primata mentawai

Susur pantai sore hari

Sore harinya kami kemudian memutuskan untuk melakukan pengamatan di bagian pantai. Sepanjang pantai yang mengarah ke Muara Sikabaluan adalah pantai pasir yang berbatas dengan hutan rawa pasang-surut. Menurut cerita dari penduduk Puran kawasan itu adalah habitat dari  ke 3 primata selain bilou. Perjalanan kami sore itu kami tempuh dengan berjalan kaki santai, sambil mengamati kemungkinan perjumpaan dengan primata-primata itu. Benar saja, tidak jauh dari muara sungai Puran kami sudah berhasil melihat sekelompok simakobu, tetapi karena sore hari, sinar matahari sore membuat kami silau sehingga agak sulit untuk melakukan pengamatan. Namun sepanjang garis pantai, di sore itu kami berhasil melihat 3 kelompok simakobu dan 1 kelompok joja. Beberapa jenis burung yang juga kami lihat sore itu adalah dari jenis laitumuan atau kepodang hutan, kirik-kirik laut, pergam gading dan pergam abu-abu.

Pengamatan suara dari permukiman

Karena pemandu kami rupanya ada kegiatan yang mengharuskan dia berangkat ke Padang pada esok harinya, kami kemudian memutuskan untuk ikut berangkat ke Muara Sikabaluan bersama-sama.

Jam 04.00 WIB kami sudah terbangun dari tidur dan kemudian duduk di teras rumah, melakukan pengamatan suara. Kami tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pengamtan suara dari ketinggian punggunan bukit karena jam 09.00 WIB pemandu kami akan berangkat ke Muara Sikabaluan untuk kemudian berangkat ke Padang. Tidak lama berselang, suara-suara primata endemik Siberut itu sudah mulai bersahut-sahutan di sekitar rumah, sama dengan pagi hari saat hari pertama kami bermalam kemarin. Namun selain suara joja, simakobu dan bokkoi kali ini kami lebih fokus terhadap suara bilou. Sampai matahari sudah bersinar dan jam sudah menunjukkan pukul 06.00 saat aktifitas penduduk semakin ramai, kami berhasil mendengar 4 sumber suara morning call dari bilou, tetapi tidak ada yang bersuara great call, sampai para primata itu kemudian semakin jarang terdengar suaranya. 

Menurut beberapa penduduk, ada 2-3 kelompok bilou yang sering memperdengarkan suara great call, terutama dari arah perbukitan Munduk. Di kawasan itu biasanya terdengar 2 greatcall. Tetapi 2 hari kami berada di Puran kami belum berhasil mendengar suara great call dari Biloudi sekitar hutan  Puran.

Pengamatan di Bagan Bajuman, Sotboyak dan Sirilanggai

Dari beberapa informasi yang kami dapatkan, besok harinya dengan dipandu oleh P. Kusmiyadi staf BTNS yang kami kenal, kami berangkat untuk melakukan pengamatan suara, mengambil titik tidak jauh dari perladangan milik P. Kusmiyadi yaitu di Bagan Bajuman. Wilayah ini secara administatif masuk dalam wilayah desa Sotboyak. Dengan mempergunakan sepeda motor kami berangkat menyusuri jalan trans Siberut yang menghubungkan Muara Sikabaluan-Sotboyak. Seperti yang sudah kami perkirakan, selama 1 dekade terakhirsudah banyak sekali perubahan fungsi lahan. Lahan yang dahuulnya adalah hutan habitat dari satwa dan primata endemik Siberut itu kini sudah berubah menjadi jalur jalan yang lebar. Sepanjang kanan dan kiri jalur jalan itu kini adalah perladangan milik masyarakat setempat. 

Tiba di dekat jalur jalan setapak yang mengarah ke ladang P. Kusmiyadi kami kemudian menghentikan sepeda motor dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kami memilih pondok kecil di perbukitan itu untuk melakukan pengamatan. Jam menunjukkan pukul 08.30 WIB saat kami berhasil mendengar suara great call yang terdengar cukup jauh. Kami memperkirakan berada di sekitar jarak 1 km dari tempat kami melakukan pengamatan. Suara great call pertama belum berhenti, kami segera mendengar suara greatcall ke dua dan ke tiga dari jarak yang relatif dekat, sekitar 300-400 meter saja dari tempat kami melakukan pengamatan. Pagi itu total kami berhasil mendengar suara great call bilou sebanyak 3 kali. Dari tempat kami melakukan pengamatan itu, kami juga berhasil mendengar suara joja dan bokkoi. 

Kawasan tempat kami melakukan pengamatan yang ke dua ini adalah termasuk dalam hutan yang dikuasai oleh uma SIrirui. Namun sejak pembukaan jalur jalan Trans Siberut Muara Sikabaluan-Sotboyak, kawasan hutan ini sebagian besar sudah beralih fungsi menjadi kawasan perladangan penduduk. Sumber suara great call dari kelompok bilou itu terlihat masih merupakan hutan yang memiliki tegakan-tegakan pohon-pohon alam yang berukuran besar. 

Siang itu kami kemudian pulang kembali ke penginapan kami di Muara Sikabaluan. 

Sore harinya kami kemudian berangkat untuk melakukan pengamatan primata di tepian jalur jalan Muara Sikabaluan-Mongan Poula. Di tempat itu menurut informasi yang kami peroleh penduduk sering melihat kelompok-kelompok bokkoi. Benar saja. Kami berhasil melihat setidaknya 3-4 ekor bokkoi muda yang sedang berkejar-kejaran. Namun sayangnya kami tidak berhasil mengambil foto yang bagus, kelompok bokkoi itu menyadari kedatangan kami dan kemudian bergerak di lantai hutan rawa itu. Namun gagal mengamati serombongan bokkoi itu kami malah berhasil melihat serombongan burung langka, merpati hutan perak. Beberapa ekor burung itu terlihat sedang sibuk mengerumuni pohon yang tumbuh tidak jauh dari jalan yang menghubungkan antara Muara Sikabaluan-Monganpoula. Belum puas kami menikmati pemandangan langka itu tiba-tiba pemilik kebun nenas di dekat situ datang. Di dekat kebun orang itu pohon yang menghasilkan buahan hutan yang menjadi makanan burung-burung itu tumbuh. Burung-burung itu kemudian bubar, pindah ke bagian lain dari hamparan lahan yang dahulunya adalah rawa-rawa itu. Kawanan burung itu terlihat hinggap bergerombol di dahandahan pohon tumu yang tinggi menjulang. 

merpati hutan perak, Columba argentina

Galig ( Psitinus cyanurus)

Esok paginya mengisi waktu sebelum kami harus berangkat dengan kapal terakhir sebelum jadwal pelayaran diliburkan untuk memberi kesempatan awak kapal merayakan hari raya Idul Fitri, kami menyempatkan diri untuk melakukan pengamatan di punggungan perbukitan di dekat Sirilanggai. Menurut informasi awal yang kami peroleh, dari arah perbukitan Sigoibong. Di punggungan bukit tepian jalan menuju Sirilanggai kami kemudian melakukan pengamatan. Punggunan bukit ini merupakan perladangan yang belum lama dibuka. Terlihat dari vegetasi tanaman yang masih kecil dan pokok-pokok rumpun pisang yang sudah terserang penyakit yang mendominasi hamparan lahan itu. Jam menunjukkan pukul )7.30 WIB saat kami mendengar suara morning call dari seberang jalan. Jarak sumber suara itu kami perkirakan sekitar 400 meter saja. Sumber suara itu terlihat dari pepohonan pulai yang tumbuh di hutan rawa dekat perbukitan. Namun tidak lama kemudian suara morning call itu kemudian menghilang. Pagi itu kami tidak berhasil mendengar suara great call dari perbukitan Sigoibong, Sirilanggai.

Kesimpulan

Dari hasil kunjungan singkat itu, kami melihat jika dalam 12 tahun terakhir kawasan Siberut Utara di bagian luar zona inti TNS telah mengalami perubahan fungsi kelola lahan yang cukup signifikan. Aktifitas dari pembangunan infrasruktur berupa jalan yang ditujukan untuk akses antar kecamatan melalui skema Trans Siberut dan pembukaan permukiman baru di Puran untuk program mitigasi kebencanaan ancaman tsunami di sisi lain telah memberikan tekanan yang tinggi kepada hutan dan keanekaragaman hayati sekitar dusun Puran. Di sepanjang kanan-kiri jalur jalan itu kini telah berubah menjadi kawasan perladangan masyarakat. Jalur jalan yang mengambil jalur di kaki perbukitan dan memotong kontur perbukitan ke arah desa Sirilogui telah membuat vegetasi hutan di sekitar Puran berubah menjadi lahan terbuka. Kawasan yang dahulunya adalah habitat dari bilou. Kini jenis-jenis primata selain bilou banyak ditemukan di kawasan hutan rawa yang berada di sekeliling permukiman dusun Puran. Ke 3 jenis primata selain bilou itu relatif mudah untuk dijumpai. Namun selama 2 hari di Puran, kami masih berhasil mendengar 4 sumber suara morning call, 3 dari arah punggungan perbukitan dan 1 sumber suara dari arah hutan rawa tidak jauh dari kawasan pesisir. Menurut informasi dari penduduk setempat, suara great call sering mereka dengar dari arah perbukitan yang mereka kenal sebagai Leleu Munduk.

Sementara itu di kawasan yang lain yaitu di sekitar Muara Sikabaluan, Mongan Poula, Sotboyak,Pokai dan Sirilanggai, kami mendapat informasi keberadaan bilou di hutan milik uma Sirirui yaitu di Bagan Bajuman yang secara administratif masuk dalam wilayah desa Sotboyak. Kawasan ini dalam 12 tahun terakhir telah banyak mengalami perubahan fungsi lahan. Tempat yang dahulunya adalah hutan kini di banyak tempat penduduk telah membuka perladangan. Terdapat 2 jalur jalan yang telah dibangun dalam 15 tahun terakhir, yang pertama adalah jalur jalan yang dikelola dengan skema swa-kelola oleh masyarakat melalui keproyekan yang dikelola oleh kelompok masyarakat. Jalur jalan ini biasanya dibangun untuk penghubung antar dusun dan antar desa. Jalur jalan yang ke dua adalah jalan besar yang dikelola kontraktor sebagai bagian dari proyek pembangunan Trans Siberut. Di Siberut Utara, sebagian kawasan hutan di luar kawasan TNS juga telah menjadi konsesi kelola perusahaan logging yang baru di awal tahun ini berhenti beroperasi. Selama 2 hari kami melakukan observasi dan pengamatan, kami hanya mendapatkan 3 greatcall bilou di kawasan hutan Bagan Bajuman di wilayah desa Sotboyak dan 1 morning call di Hutan Sigoibong, dusun Sirilanggai.

Di sepanjang jalur jalan Muara Sikabaluan-Mongan poula kami menemukan beberapa spot yang menyediakan vegetasi tumbuhan kayu di daerah rawa-rawa yang menghasilkan buahan hutan sumber pakan yang disukai oleh beberapa jenis burung. Di antara beberapajenis burung itu yang menarik adalah serombongan burung merati hutan perak (Columba argentina). menurut beberapa orang penduduk jenis burung langka itu memang sering terlihat di kawasan itu saat musim-musim tertentu, saat pepohonan penghasil makanannya berbuah. Kunjungan kami itu adalah di bulan Maret 2026, pengujung musim buah pepohonan hutan itu.



Sunday, December 28, 2025

Mengapa Penting Menghitung Populasi Bilou Mentawai?

 

bilou yang di jumpai di hutan adat Saguruju, Siberut Selatan

Oleh : Arif Setiawan, Aloysius Yoyok, Nur Aoliya, Kurnia Latifiana, Kurnia Ahmaddin, 

Bilou, Owa endemik Kepulauan Mentawai ( Hylobates klosii) tidaklah seperti satwaliar biasa. Ia adalah bagian dari cerita hidup orang Mentawai. Suaranya di pagi hari menandakan hutan masih hidup. Ada kepercayaan di Mentawai, kalau ada bilou bersuara di kala dinihari, sebuah pertanda buruk akan terjadi, misalnya ada orang yang meninggal atau pun becana akan datang.  Jika tidak ada lagi suara kemana lagi pertanda-pertana alam ini akan kita pelajari?  Jika kita tahu berapa banyak bilou yang tersisa, kita bisa memastikan hutan tetap sehat, karena bilou membantu menyebarkan biji pohon dan menjaga keseimbangan alam.  

Kalau kita tidak menghitung populasinya, kita tidak tahu apakah bilou semakin sedikit atau masih aman. Populasi adalah jumlah individu yang menggunakan luasan habitat tertentu. Seperti kita menghitung jumlah anak di kampung: kalau makin sedikit, kita khawatir masa depan kampung akan sepi. Begitu juga dengan bilou—kalau populasinya menurun, itu tanda hutan kita sedang sakit.  

 Apa Manfaat bagi kita:

- Mengetahui kondisi hutan: banyak bilou = hutan sehat.  

- Menjaga warisan budaya: bilou adalah bagian dari identitas Mentawai.  

- Menarik perhatian dunia: data populasi bisa membantu mendapatkan dukungan untuk menjaga hutan.  

- Menjamin masa depan: anak cucu kita masih bisa mendengar suara bilou di hutan.  

Jadi, menghitung populasi bilou bukan sekadar angka. Itu adalah cara kita menjaga rumah bersama, memastikan hutan tetap hidup, dan menjaga cerita Mentawai agar tidak hilang. 

 Peta lokasi set triangulasi survey bilou dihutan adat 
dan luasan area ektrapolasi 
perhitungan estimasi populasi di hutan adat

Tim siripok bilou yang di bentuk di awal tahun 2025 ini,telah berhasil melakukan survey untuk mengestimasi ada berapa bilou di kawasan terpilih, di Siberut. Ada 9 kawasan hutan adat yang kita survey berdasarkan rekomendasi dari Lembaga lokal Yayasan Citra Mandiri. Dengan metode survey vocal count-triangulasi, survey dilakukan berdasarkan suara bilou, pengamat melakukannya dalam system triangulasi ( tiga titik pengamatan di lokasi yang berbeda, dengan jarak 300-500 antar titik). Ke tiga titik ini kemudian di ulang selama 4 hari berturut-turut. Untuk mendengarkan dan memperkirakan jaraknya. Asumsinya adalah kelompok yang sama akan bersuara di lokasi yang sama selama empat hari berturut-turut.

Analisis populasi dilakukan dengan menggunan rumus point count yang sama telah digunakan dalam estimasi populasi Bilou sebelumnya ( Setiawan et al 2020; Whittaker et al 1995). Untuk menentukan luasan area, kami menggunakan analisis habitat suitability, yang telah dilakukan, bisa di baca disini : https://swaraowa.blogspot.com/2025/12/dimana-bilou-bersuara-pemetaan-habitat.html

tabel penghitungan populasi bilou Mentawai di tahun 2025

Dari analisis populasi yang kita lakukan, perkiraan populasi bilou di wilayah hutan adat di siberut selatan ( 11 lokasi ) dengan luasan kurang lebih  208.64 km 2 ada kurange lebih 396 individu yang terdiri dari 146 (96-186) kelompok. 

Hasil ini merupakan hasil sementara dari hasil survey yang akan di lakukan di seluruh mentawai,dan dapat berubah berdasarkan informasi terbaru yang di peroleh dari tim lapangan yang telah, sedang dan akan melalukan survey ke lokasi-lokasi yang lain di Kepulauan Mentawai. Untuk diskusi terkait dengan hasil analisis ini silahkan hubungi swaraowa @ gmail.com. 


Tuesday, December 23, 2025

Siapa yang Menjaga Bilou Siberut Saat Hutan Berpindah Tangan?

Oleh : Aloysius Yoyok

Survei populasi bilou, Owa mentawai -Hylobates klossii ini dilakukan di kawasan hutan yang secara administratif masuk ke dalam wilayah desa Maileppet. Sebagian besar kawasan hutan di wilayah desa ini sudah beralih kepemilikan secara adat. Dari kelompok-kelompok uma (suku) yang menguasai lahan hutan itu secara turun-temurun, belakangan ini terutama ketika pembangunan infrastruktur berupa akses jalan secara masif dilakukan oleh pemerintah, pada umumnya lahan-lahan itu sudah dikapling-kapling dengan ukuran yang bervariasi dan kini sudah dikuasai oleh kelompok-kelompok penduduk migran. 

Di Kawasan desa Maileppet yang terletak di pesisir timur pulau ini carut-marut klaim kepemilikan lahan dan hutan yang berlarut-larut telah turut memberikan efek negatif terhadap isu-isu konservasi alam. Sebagian besar lahan hutan ini adalah lahan yang secara adat masih menjadi sengketa antara kelompok uma Sarubei yang tinggal di Maileppet dengan kelompok uma Sarereake yang tinggal di Saliguma dan kelompok uma Samalinggai yang tinggal di Muara Siberut. Penjualan lahan yang dilakukan oleh beberapa oknum anggota uma itu adalah salah satu strategi untuk menguasai dan mendapatkan keuntungan tunai cepat dari lahan dan hutan itu. 

Hutan alam yang tersisa di desa Maileppet ini terletak di sekitar perbatasan Desa Maileppet dengan desa Saliguma. Di era 70-80 an kawasan ini pernah menjadi wilayah konsesi HPH yang dikuasai oleh PT. CPPS. Setelah beberapa tahun berlalu, ketika alam berlahan memulihkan diri, ketika kayu-kayu pioner mulai mengisi celah-celah kosong di sepanjang jalur jalan logging, pada tahun 2000 an penduduk Siberut seolah berlomba-lomba membuka hutan kembali secara masif terutama di daerah dataran yang memiliki lapisan tanah subur yang cocok untuk bertanam nilam. Komoditi penghasil minyak atsiri ekspor ini pernah mengalami masa keemasannya di wilayah ini pada tahun-tahun itu. 

Kini sesudah pemerintah kabupaten memutuskan untuk membuka akses penghubung antar kecamatan, di ruas jalur jalan yang menghubungkan Desa Maileppet- Desa Saliguma itu jalur jalan yangdisebut sebagai jalur Trans  Siberut ruas Maileppet-Saliguma itu dibangun  dengan memanfaatkan bekas jalur jalan logging yang pernah dibangun oleh PT. CPPS itu. Namun pembukaan jalur jalan itu telah mendorong terjadinya peralihan kepemilikan lahan dari kelompok-kelompok adat ke tangan kelompok-kelompok penduduk migran. 

Kondisi habitat bilou di hutan Mailepet

Lokasi 

Survei populasi bilou ini dilaksanakan di kawasan hutan di sekitar bantaran sungai Panasalat yang mengalir dari lereng perbukitan Simaelu-elu dan bermuara di Teluk Sadabak. Di kawasan ini masih terdapat beberapa fragmen hutan yang telah tersekat-sekat oleh perladangan tradisional dengan vegetasi utama berupa tanaman pohon durian, cempedak, kelapa dan jenis-jenis tanaman tradisional lainnya dan sebagian lahan yang lain kini adalah lahan-lahan kosong, hutan alam itu telah dibabat dan ditebang. Karena pemilik lahan itu sebagian besar adalah etnis pendatang, nampaknya sebagian kawasan itu akan dikelola dengan teknik dan cara yang tidak lagi seperti dahulu. Kelompok-kelompok penduduk penduduk itu dari etnis pendatang (Batak, Nias, Minangkabau). 

Kegiatan survei populasi bilou di kawasan ini dilakukan karena adanya pengalaman tim survei yang masih mendengar suara-suara dari kelompok-kelompok bilou yang masih menempati kawasan itu saat kebetulan melintasi kawasan itu. 

Pelaksanaan kegiatan 

Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode triangulasi, metode survei dengan pengambilan data suara di 3 titik pengamatan yang dilaksanakan selama 4 hari, terhitung dari tanggal 12-15/12/2025. Penentuan ke 3 titik triangulasi sempat mengalami sedikit kendala. Generasi muda yang berasal dari Maileppet kurang begitu mengenali lekuk-liku lingkungan alam yang pernah menjadi milik mereka itu. Ke 3 titik pengamatan suara mengambil titik masing-masing 2 titik pengamatan di dekat hulu sungai Panasalat dan 1 titik pengamatan di dekat hulu sungai Simanggeak.

Hari pertama, 12/12/2025

Sesudah sempat tertunda selama 3 hari akibat cuaca yang terus-menerus hujan di akhir tahun ini, tim akhirnya berangkat menuju kawasan yang sudah direncanakan. Jam menunjukkan pukul 05.15 saat hujan sudah mereda 1 jam sebelum tim berangkat. Namun meski cuaca agak mendung di pagi itu pada pengamatan suara di hari pertama ke 2 tim yang mengamati di titik LPS 1 dan 2 berhasil mendengar 4 suara bilou, 1 sumber suara terdengar cukup dekat, hanya berjarak sekitar 200 meter saja dari titik LPS 1, sementara 1 kelompok bilou dari arah dekat sungai Panasalat memperdengarkan suara great call-nya. 2 sumber suara bilou yang lain tidak memperdengarkan great call, hanya morning call saja. Sesudah jam pengamatan suara berlalu di pukul 10.00 WIB, tim dari LPS 1 kemudian bergerak perlahan-lahan menuju arah suara bilou yang berjarak sekitar 200 meter saja dari titik LPS. Namun sayangnya tim belum berhasil melihat langsung kelompok kecil bilou itu karena hujan kemudian turun dengan intensitas cukup deras. Namun meski demikian kelompok kecil ini kemungkinan besar terdiri dari 2 individu saja, ditilik dari suara yang dihasilkan oleh kelompok kecil itu, ada 2 variasi suara morning call, 1 individu dewasa dan 1 individu remaja.

Hari ke dua, 13/12/2025

Pada survei yang dilaksanakan pada hari ke 2, cuaca kembali cenderung berawan, matahari hanya sedikit memunculkan sinarnya dan kembali hujan gerimis turun. Pada survei hari ke dua itu tim dari LPS 1 berhasil mendengar suara morning call dari kelompok bilou,hanya berjarak sekitar 300 meter dari titik pengamatan. Sesudah jam pengamatan suara berlalu, tim kembali bergerak untuk melihat langsung kelompok bilou itu. Kali ini tim berhasil melihat langsung kelompok bilou itu yang terdiri dari 2 individu dewasa dan 1 individu remaja. 

Demikian juga tim yang melakukan pengamatan di titik LPS 3 rupanya juga bertemu dengan kelompok bilou yang sedang bergerak aktif di kanopi pepohonan, tidak jauh dari titik LPS 3. Kelompok bilou itu terdiri dari 2 individu dewasa, 1 individu remaja menjelang dewasa, 2 individu remaja dan 1 individu anak-anak.

Kondisi hutan di tempat pengamatan LPs 2

Hari ke 3, 14/12/2025

Pada hari ke 3 pengamatan cuaca cenderung cerah namun pagi itu angin berhembus cukup kencang. Sampai jam pengamatan berakhir ke 3 tim tidak berhasil mendengar suara bilou. 

Hari ke 4, 15/12/2025

Pengamatan yang dilakukan pada hari ke 4 juga gagal mendeteksi suara bilou. Pagi itu cuaca cenderung berawan namun tidak lagi ditingkahi hembusan angin kencang seperti pada pengamatan yang dilakukan pada hari ke 3. Namun meski cuaca cenderung lebih baik, pengamatan suara pada hari ke 3 itu hanya berhasil mendengar suara dari kelompok simakobu (Simias concolor) saja yang bersuara saat mendengar bunyi pesawat terbang melintas di udara.

Potensi dan peluang 

Kawasan di mana kegiatan survei populasi bilou ini dilakukan merupakan kawasan yang cukup terjangkau dari pemukiman di Maileppet. Maileppet sendiri merupakan gerbang masuk di Siberut bagian selatan karena di desa ini terletak dermaga utama untuk bersandar kapal yang tiba dari Padang. Selama 4 hari kegiatan survei populasi bilouini dilakukan, tim berhasil melihat langsung keberadaan 2 kelompok bilou yang masing-masing terdiri dari 3 individu dan 5 individu. Sementara 1 kelompok yang terdengar bersuara great call serta 1 kelompok yang terdengar bersuara morning call belum berhasil diidentifikasi ukuran kelompok itu. Kegiatan survei populasi primata ini berhasil membuktikan jika di kawasan hutan yang relatif kurang bagus (siutable) itu ternyata masih terdapat kelompok-kelompok bilou. 

Di waktu dan tempat yang berbeda tim juga berhasil berdiskusi dengan Kepala Desa Maileppet dan melakukan share informasi terkait hasil kegiatan survei populasi bilou itu. Secara umum Kepala Desa Maileppet mendukung kegiatan konservasi bilou di wilayah administratifnya dan berencana untuk turut mengembangkan potensi desa itu sebagai destinasi wisata minat khusus pengamatan satwa liar.

Namun meski kawasan ini adalah wilayah konservasi dari BKSDA Sumatra Barat namun kawasan hutan ini memiliki kerumitan yang sangat khas. BKSDA sebagai pemangku kepentingan utama sebagai wakil dari pemerintah seolah tidak berdaya mengelola kawasan yang menjadi tanggung jawabnya ini. Penduduk setempat selama ini terus saja melakukan jual-beli kapling-kapling lahan hutan di kawasan itu. Penebangan kayu-kayu besar untuk kebutuhan konstruksi penduduk setempat sebagian besar berasal dari wilayah itu, demikian pula pembukaan hutan untuk pengambangan perladangan penduduk terus saja berlangsung. Demikian pula perburuan liar yang kini dilakukan oleh generasi muda dengan menggunakan senapan angin yang lebih modern; dilengkapi dengan teleskop dan peredam suara juga semakin masif dan belum ada kontrol dari pihak manapun. Hal ini tentu saja merupakan tantangan besar untuk konservasi hutan dan keanekeragamanhayati di wilayah hutan ini, terutama mengingat sebagian kawasan hutan itu kini secara tradisional sudah berpindahtangan dari penduduk setempat ke tangan penduduk dari etnis pendatang meskipun belum memiliki legalitas sah dari pihak yang berwenang.


Monday, December 22, 2025

Dari Tuapejat ke Beriulou: Catatan Perjalanan Pengamatan Satwa di Pulau Sipora

 

hutan di Beriulou

oleh : Ismael Saumanuk

Kegiatan kali ini berupa pengamatan satwa ke Hutan Beriulou dan jalur logging Betumonga, berlangsung pada 11–13 Desember 2025. Tujuan utama perjalanan adalah melakukan pengamatan terhadap potensi keberadaan primata Mentawai serta jenis-jenis burung di kawasan tersebut.

Akses dan Rute

Hutan Beriulou berbatasan dengan Betumonga, Sagitcik, Marah, dan Taraet. Di sepanjang punggung perbukitan sudah terdapat jalan lintas yang dibangun oleh perusahaan lama pada tahun 2019. Jalur ini masih bisa dilalui sepeda motor hingga ke kawasan hutan. Sementara itu, jalan logging menuju Betumonga kini tertutup rapat oleh semak paku ransam (osap), sehingga tidak lagi bisa dilewati masyarakat.

Untuk mencapai lokasi pengamatan, kami menempuh perjalanan darat dengan sepeda motor dari Tuapejat, pusat Kabupaten Kepulauan Mentawai di Pulau Sipora. Waktu tempuh sekitar tiga jam. Bersama Mateus Sakaliau dan Erwin, saya berangkat dari Café Bilou di Goisoinan pukul 13.00 WIB, tiba di Sioban pukul 14.00 WIB untuk makan siang, lalu melanjutkan perjalanan pukul 15.00 WIB dan sampai di lokasi survei pukul 16.30 WIB. Kami mendirikan tenda sebagai pos pengamatan, kemudian berjalan di sekitar lokasi hingga menjelang malam. Pada pukul 17.45 WIB, kami melihat seekor joja di atas pohon, sedang mencari tempat tidur, hanya berjarak sekitar 20 meter dari posisi kami.

Kondisi Hutan

Hutan Beriulou dan jalur logging Betumonga masih didominasi pohon-pohon besar. Namun, di sepanjang jalan utama Beriulou terlihat aktivitas penebangan kayu dengan chainsaw, baik untuk kebutuhan rumah pribadi maupun dijual ke resort. Selama berada di hutan, kami mendengar lima kali suara chainsaw, bahkan ada satu yang beroperasi hingga tengah malam (pukul 20.00–00.00 WIB).

Berbeda dengan jalur logging Betumonga, kawasan ini relatif lebih aman karena akses mobil belum memungkinkan akibat jalan yang belum diperkeras.

Hasil Pengamatan Primata

Simias concolor ( Masepsep)

Brachypodius melanocephalos- (Taktak)


Macaca pagensis -Siteut

Walaupun cuaca kurang baik, kami berhasil mencatat empat kelompok bilou yang bersuara di beberapa titik:

Kelompok 1: Bagian selatan, mulai pukul 04.31–05.10 WIB, jarak ±1,5 km.

Kelompok 2: Mulai pukul 04.49–05.45 WIB, jarak ±1,5 km.

Kelompok 3: Mulai pukul 05.07–05.37 WIB, jarak ±1 km.

Kelompok 4: Hari ketiga, bagian barat jalan Beriulou, pukul 04.22–04.35 WIB, jarak ±1 km.

Keempat kelompok bilou tersebut tidak melakukan great call.

Selain itu, kami juga menjumpai langsung beberapa primata:

Seekor bokkoi menyeberangi jalan utama Beriulou.

Seekor joja di tepian jalan, sedang mencari tempat tidur.

Hari kedua di jalur logging Betumonga: tiga kelompok bokkoi dan dua kelompok joja.

Hari ketiga di jalur Beriulou: satu kelompok joja dan satu kelompok masepsep (simakobuk / Simias concolor).

Total perjumpaan primata: 9 kelompok, terdiri dari 4 kelompok bokkoi, 4 kelompok joja, dan 1 kelompok simakobuk.

Catatan Umum

Meski vegetasi hutan di jalur Beriulou mulai berkurang akibat pembangunan resort di Bosua dan Katiet serta kebutuhan kayu masyarakat, kawasan ini masih memiliki vegetasi yang bagus dan strategis. Kelimpahan satwa, khususnya primata, masih mudah dijumpai. Akses pengamatan pun relatif mudah karena bisa ditempuh langsung dengan sepeda motor hingga ke lokasi.