Showing posts with label sipora. Show all posts
Showing posts with label sipora. Show all posts

Monday, December 22, 2025

Dari Tuapejat ke Beriulou: Catatan Perjalanan Pengamatan Satwa di Pulau Sipora

 

hutan di Beriulou

oleh : Ismael Saumanuk

Kegiatan kali ini berupa pengamatan satwa ke Hutan Beriulou dan jalur logging Betumonga, berlangsung pada 11–13 Desember 2025. Tujuan utama perjalanan adalah melakukan pengamatan terhadap potensi keberadaan primata Mentawai serta jenis-jenis burung di kawasan tersebut.

Akses dan Rute

Hutan Beriulou berbatasan dengan Betumonga, Sagitcik, Marah, dan Taraet. Di sepanjang punggung perbukitan sudah terdapat jalan lintas yang dibangun oleh perusahaan lama pada tahun 2019. Jalur ini masih bisa dilalui sepeda motor hingga ke kawasan hutan. Sementara itu, jalan logging menuju Betumonga kini tertutup rapat oleh semak paku ransam (osap), sehingga tidak lagi bisa dilewati masyarakat.

Untuk mencapai lokasi pengamatan, kami menempuh perjalanan darat dengan sepeda motor dari Tuapejat, pusat Kabupaten Kepulauan Mentawai di Pulau Sipora. Waktu tempuh sekitar tiga jam. Bersama Mateus Sakaliau dan Erwin, saya berangkat dari Café Bilou di Goisoinan pukul 13.00 WIB, tiba di Sioban pukul 14.00 WIB untuk makan siang, lalu melanjutkan perjalanan pukul 15.00 WIB dan sampai di lokasi survei pukul 16.30 WIB. Kami mendirikan tenda sebagai pos pengamatan, kemudian berjalan di sekitar lokasi hingga menjelang malam. Pada pukul 17.45 WIB, kami melihat seekor joja di atas pohon, sedang mencari tempat tidur, hanya berjarak sekitar 20 meter dari posisi kami.

Kondisi Hutan

Hutan Beriulou dan jalur logging Betumonga masih didominasi pohon-pohon besar. Namun, di sepanjang jalan utama Beriulou terlihat aktivitas penebangan kayu dengan chainsaw, baik untuk kebutuhan rumah pribadi maupun dijual ke resort. Selama berada di hutan, kami mendengar lima kali suara chainsaw, bahkan ada satu yang beroperasi hingga tengah malam (pukul 20.00–00.00 WIB).

Berbeda dengan jalur logging Betumonga, kawasan ini relatif lebih aman karena akses mobil belum memungkinkan akibat jalan yang belum diperkeras.

Hasil Pengamatan Primata

Simias concolor ( Masepsep)

Brachypodius melanocephalos- (Taktak)


Macaca pagensis -Siteut

Walaupun cuaca kurang baik, kami berhasil mencatat empat kelompok bilou yang bersuara di beberapa titik:

Kelompok 1: Bagian selatan, mulai pukul 04.31–05.10 WIB, jarak ±1,5 km.

Kelompok 2: Mulai pukul 04.49–05.45 WIB, jarak ±1,5 km.

Kelompok 3: Mulai pukul 05.07–05.37 WIB, jarak ±1 km.

Kelompok 4: Hari ketiga, bagian barat jalan Beriulou, pukul 04.22–04.35 WIB, jarak ±1 km.

Keempat kelompok bilou tersebut tidak melakukan great call.

Selain itu, kami juga menjumpai langsung beberapa primata:

Seekor bokkoi menyeberangi jalan utama Beriulou.

Seekor joja di tepian jalan, sedang mencari tempat tidur.

Hari kedua di jalur logging Betumonga: tiga kelompok bokkoi dan dua kelompok joja.

Hari ketiga di jalur Beriulou: satu kelompok joja dan satu kelompok masepsep (simakobuk / Simias concolor).

Total perjumpaan primata: 9 kelompok, terdiri dari 4 kelompok bokkoi, 4 kelompok joja, dan 1 kelompok simakobuk.

Catatan Umum

Meski vegetasi hutan di jalur Beriulou mulai berkurang akibat pembangunan resort di Bosua dan Katiet serta kebutuhan kayu masyarakat, kawasan ini masih memiliki vegetasi yang bagus dan strategis. Kelimpahan satwa, khususnya primata, masih mudah dijumpai. Akses pengamatan pun relatif mudah karena bisa ditempuh langsung dengan sepeda motor hingga ke lokasi.


Sunday, May 2, 2021

Semangat baru dari Sipora, Menjaga alam dan Budaya

 Oleh : Damianus Tateburuk ( Malinggai Uma Mentawai)

 



Kebudayaan dan keanekaragaman hayati daerah di Indonesia terwujud dalam beragam bentuk kegiatan dan aktivitas dalam kelompok masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, dan ini ditandai dengan beragam hasil karya dari berbagai kelompok masyarakat budaya yang menunjukkan ciri khas kebudayaanya masing-masing, sebagai contohnya antara lain jenis rumah adat, tarian, musik, seni ukir, pakaian adat, dan bersamaan dengan keanekaragam hayati contohnya antra lain jenis alam, hutan, primata, burung, herpetofouna dan sebagainya, dan secara keseluruhannya kekayaan alamnya masih asli dan bahasa dan lain-lainnya. Seperti yang ada di Mentawai ini, bahwa kebudayaan hidup didalam  jiwa masyarakat bangsa Indonesia dan perlu dilihat sebagai suatu aset negara melalui pemahaman dan lingkungan, tradisi serta potensi-potensi kebudayaan yang dimiliki untuk dapat diberdayakan untuk dapat mencapai tujuan pembangunan nasional.

 

Seni Kebudayaan Dan Konservasi Keanekaragam Hayati yang merupakan salah satu bentuk kearifan lokal di Sumatra Barat, khususnya di Kepulauan Mentawai dikembangakan dalam satu wadah atau perkumpulan dengan menejemen yang sederhana, Wadah atau tempat berkumpulnya pelaku seni kebudayaan dan konservasi keanekaragam hayati biasanya dinamakan perkumpulan, Dari sekian banyaknya organisasi, yayasan, lembaga, pemerintahan dan organisasi ini yang berada di Sumatra Barat, salah satunya adalah Malinggai Uma Tradisional Mentawai.

 


Malinggai Uma Tradisional Mentawai pusat bersekretariat di Dusun Puro II Desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai–Sumatra Barat. Malinggai Uma Tradisional Mentawai ini merupakan sarana bagi berkembangnya  dan pelestarian kebudayaan dan konservasi keanekaragam hayati khususnya, Malinggai Uma Tradisional Mentawai dibentuk pada tanggal  05 September 2014 dan untuk memberikan fasilitasi kepada masyarakat umum dalam hal di bidang seni kebudayaan  Konservasi keanekaragam hayati dan satwa liar dan primata mentawai, Adat Istiadat Mentawai, semoga Malinggai Uma Tradisional Mentawai dapat menjadi tempat / wadah untuk menggali tentang Kebudayaan dan keanekaragam hayati, yang mulai memudar khususnya dikalangan remaja dikarenakan ketidak pedulian masyarakat itu sendiri untuk memperkenalkan kebudayaan dan keanekaragam hayati mentawai tersebut kepada generasi penerus mereka dan pengaruh budaya asing serta kurangnya wadah bagi mereka untuk mengetahui budaya asli mereka sendiri dan ini sangat memprihatinkan sekali, bagi kami sehingga organisasi atas nama Malinggai Uma Tradisional Mentawai sangat berharap dan berkeinginan penuh dengan berdirinya organisasi ini dapat membantu masyarakat untuk mengetahui, menggali serta memahami tentang nilai-nilai seni dan kebudayaan dan serta keanekaragam hayati mentawai dan serta perlindungan satwa dari jenis-jenis primata (Bilou, Simakobu, Simakubu simabulau, Joja, Bokkoi, herpetofouna dan burung-burung mentawai dan sebagainya) yang sekarang ini sudah mulai dilupakan. Malinggai Uma Tradisional Mentawai juga tidak menutup bagi masyarakat diluar mentawai ataupun dari mancanegara untuk mendapatkan informasi tentang kebudayaan dan keanekaragam hayati yang ada di mentawai. Selain itu Malinggai Uma Tradisional Mentawai juga akan terus mengadakan kegiatan seminar-seminar dan pelatihan tentang Kebudayaan dan keanekaragam hayati kedepannya, kegiatan yang telah kami lakukan sebelumnya yaitu “Seminar Pangureijat” (Pernikahan Adat Mentawai), (Pergelaran Seni Budaya Mentawai) (dan Turuk Laggai di Padang), (Pelatihan Guru Dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai).

Bulan April tanggal 7-8, 2021 yang lalu kami juga telah berhasil melaksanakan sebuah acara pelatihan untuk anak-anak sekolah usia sekolah menengah atas di Dusun Goisooinan, Sipora. Berjudul “ Pelatihan Pengamatan Satwaliar dan Penggunaan Smartphone untuk Promosi Konservasi”.  Kegiatan yang didukung oleh SWARAOWA dari Yogyakarta dan Fortwayne Children’s Zoo dari Indiana Amerika Serikat. Latar belakang acara ini adalah semakin susahnya kita menjumpai satwa-satwa asli mentawai dan generasi muda semakin jauh dari rasa memiliki kekayaan alam mentawai, beberapa daerah khususnya di Mentawai juga sudah bagus sinyal telekomunikasi, dan anak-anak ini hampir setiap hari menggunakan gawai. Oleh karena itu potensi generasi muda mentawai ini perlu di dorong dengan pengalaman-pengalaman lapangan yang memang tidak dapat di sekolah, bagaimana mendokumentasikan alam sekitar mereka dan membuat cerita untuk oranglain supaya lebih tertarik, ataupun mengenalkan diri mereka dan budaya mentawai.


Peserta acara ini adalah 15 orang  anak-anak usia SMA, 10 Orang darai Sipora dan 5 orang dari Siberut, terdiri dari 7 anak perempuan dan 8 anak laki-laki. Acara dilaksanakan 2 hari, dengan susunan acara 1 hari materi kelas dan 1 hari ke hutan. Pemateri yang di undang dalam acara ini adalah dari Birdpacker indonesia, organisasi konservasi burung dari Malang Jawa timur, ada mas Waskito Kukuh dan mbak Devi Ayumandasari, yang akan menyampaikan materi tentang pengamatan burung dan penggunaan smarphone untuk fotografi dan promosi konservasi melalui sosial media. dan tentang primata disampaikan oleh mbak Eka Cahayningrum dari SwaraOwa organisasi konservasi primata dari Yogyakarta yang berkerja untuk konservasi Owa Indonesia.

Hari pertama acara kelas di buka oleh Ketua Malinggai atau  yang mewakili ( Bapak Vincent) dan sambutan-sambutan dari dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab.KepMentawai, dari dinas Pariwisata,  dan dari Desa Goisooinan.

Acara hari pertama setelah pembukaan oleh tarian-tarian adat dari sanggar malinggai Uma dari Siberut Selatan, dilanjutkan dengan  pengenalan dasar-dasar teknik pengamatan alam khususnya untuk satwaliar burung dan primata, dan menggunakan nya sebagai bahan publikasi di media sosial, sperti instagram, facebook, dan whatsapp.

Hari kedua acara dilakukan di hutan yang di bagi menjadi 3 kelompok, pengamatan-pengamatan di dokumentasikan di selesai pengamatan di lalukan presentasi hasil dari masing-masing kelompok.  Dalam menyampaikan presentasi ini peserta juga di perkenalkan oleh para pemateri tetang bagaimana menyajikan data dalam presentasi menggunakan power point yang sederhana dan menarik.

Antusias  peserta yang juga di dampingi para pendamping dari Malinggai Uma, telah berhasil mendokumentasikan foto-foto yang di jumpai selama pengamatan dan beberapa diantaranya juga sudah di upload di sosial media.

Harapannya kegiatan ini dapat memberikan wawasan baru dan pengalaman untuk generasi muda mentawai untuk lebih mengenal apa yang ada di sekitar mereka dan melestarikan identitas budaya asli mentawai.

 

 

 

 

Wednesday, January 3, 2018

Primata Kepulauan Mentawai



Di tahun 2017, yang baru saja usai, swaraowa telah dan sedang menginisiasi kegiatan  di Kepulauan Mentawai bekerjasama dengan Uma Malinggai untuk berkontribusi dalam pelestarian primata di Kepulauan Mentawai. Cerita-cerita dari lapangan dapat di telusuri dalam blog ini, dan beberapa edisi khusus terkait dengan jenis-jenis burung di kepulauan Mentawai.

Beberapa foto dari lapangan meskipun sangat sulit memperoleh gambar yang bagus, setidaknya memotivasi tim penyusun untuk terus mengarus utamakan konservasi primata Indonesia. Khusus edisi mentawai dari beberapa foto kolega dan tim Uma malinggai  yang dilapangan, kita coba kumpulkan dan kita susun menjadi sebuah poster untuk mengenalkan kepada khalayak umum kekayaaan dan keragaman primata kepulauan Mentawai. 

Bokoi dari Siberut

Mungkin yang sudah faham tentang primata mentawai, kini ada 5 species primata yang ada di Mentawai, yaitu, Joja (Presbytis potenziani), Bokoi  (Macaca pagensis), Bilou (Hylobates klossii) dan Simakobu (Simias concolor).  Dan saat ini, ada perkembangan terbaru dari taksonomi primata mentawai, dimana untuk Macaca pagensis di pisah menjadi 2 jenis yaitu untuk yang di siberut (Macaca siberu) dan yang di pulau Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan tetap (Macaca pagensis), ciri morphologi juga membedakan kedua jenis ini, seperti yang di foto ini, untuk macaca di Siberut, mempunyai ekor yang menggulung di ujung, dan  Macaca pagensis ekornya lurus.  Nama lokal, juga berbeda Bokoi adalah nama umum yang di kenal di P.Siberut, sementara Macaca pagensis di kenal dengan nama Siteut.
Atapaipai (Presbytis potenziani ssp potenizani) dari Sipora

Joja,  adalah sebutan di Siberut,  untuk primata pemakan daun dan berekor panjang (Presbytis potenziani), dari keluarga surili dan untuk taksonomi joja juga ada 2 sub species, yang sebarannya di wilayah Pulau siberut adalah Presbytis potenziani ssp siberu  dan yang ada kepulauan Sipora dan Pagai utara, Pagai Selatan surili mentawai ini di kenal dengan nama Atapaipai (Presbytis potenziani ssp potenziani).  Ciri morphology juga terlihat berbeda, dimana untuk yang di siberut cenderung gelap di bagian depan tubuhnya, sementara yang di sipora dan pagai mempunyai warna ke emasan di bagian dada.
Simakobu (Simias concolor)

Simakobu (Simias concolor) masih menjadi primata yang paling susah di jumpai, sehingga foto monyet ini juga sangat jarang. IUCN juga mengkategorikan primata ini sebagai salah satu dari 25 jenis primata di dunia yang  paling terancam punah saat ini. Dilapangan, prosentasi perjumpaan langsung dengan primata ini juga paling rendah, di banding dengan ke 4 primata yang lain, meskipun demikian ada terdengar juga suara “calling” simakobu. Perburuan dan karena hilangnya habitat menjadi penyebab susahnya Simakobu di jumpai.  

Bilou (Hylobates klossii) di Siberut, Sipora, dan Pagai sebutan untuk jenis Owa asli mentawai ini, di kempat pulau juga di kenal dengan nama yang sama. Sangat mudah di kenali dari suaranya di pagi hari, namun tidak seperti primata mentawai lainnya Bilou sangat tergantung kepada pohon untuk bertahan hidup. Dengarkan suara panggilan Bilou betina disini. 

Poster Primata kepulauan Mentawai dapat di download secara gratis disini, dan bagi anda yang ingin mencetak sendiri silahkan email kami (swaraowa at gmail dot com) untuk resolusi yang lebih besar, dan untuk komunitas, kelompok studi, sekolah yang menginginkan poster ini dalam ukuran cetak A3, silahkan hubungi kami (swaraowa at gmail dot com), atau ketika anda berkunjung ke Uma Malinggai  di Siberut selatan bisa anda dapatkan disana.

Referensi :

Roos, C., Ziegler, T., Hodges, J. K., Zischler, H., & Abegg, C. 2003. Molecular phylogeny of Mentawai macaques: taxonomic and biogeographic implications. Molecular Phylogenetics and Evolution29(1), 139-150
Whittaker, D. & Geissmann, T. 2008. Hylobates klossii. The IUCN Red List of Threatened Species2008:e.T10547A3199263. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T10547A3199263.enDownloaded on 29 November 2017