Showing posts with label malinggai uma. Show all posts
Showing posts with label malinggai uma. Show all posts

Monday, April 22, 2024

Bokkoi, primata endemik Mentawai mencoba selfie dengan camera trap

 oleh Arif Setiawan

Bokkoi ( Macaca siberu)

Primata mentawai dengan segala keunikannya sudah seharusnya menjadi perhatian banyak pihak, 6  jenis primate endemik hanya ada di temui di Kepulauan Mentawai, Bilou – (Hylobates klossii), Bokkoi (Macaca siberu),Siteut ( Macaca pagensis), Atapaipai ( Presbytis potenziani), Joja ( Presbytis siberu), dan Simakobu ( Simias concolor), yang terakhir ini bahkan endemic di level genus- monotypic genus.  

Status konservasi ke-6 primata ini,terancam punah semuanya bahkan simakobu sudah masuk kategori kritis, artinya apabila tidak ada internvensi  konservasi sangat mungkin primata-primata asli kepulauan Mentawai ini akan punah.

Malinggai Uma Mentawai, sebagai salah satu organisasi sosial Masyarakat telah dan sedang menginisiasi pelestarian primata Mentawai dengan melakukan monitoring rutin dengan menggunakan camera jebak.

Pemasangan camera jebak oleh tim Malinggai Uma

Sejak bulan awal tahun ini, swaraowa berkolaborasi dengan tim malinggai uma mentawai di siberut untuk memantau jenis-jenis primata Mentawai, khususnya untuk jenis yang sering turun ketanah. Bokkoi  atau beruk Mentawai meskipun hidup dalam kelompok yang relative besar namun perjumpaan langsung melalui kegiatan survey sangat rendah sekali  encounter rate-nya, karena mereka telah mengalami tekanan yang tinggi dari perburuan, sehingga ketika mendeteksi keberadaan manusia langsung secepatnya lari dan bersembunyi. Namun mereka  biasanya kadang bisa kita deteksi dari jejak-jejak sisa-sisa makanan, dan suara  dan  pergerakannya. 

Kelompok Bokkoi sedang makan di depan camera

Tim Malingai Uma Mentawai di Siberut, telah mencoba memasang camera trap untuk mendeteksi keberadaan Bokkoi, camera ini di pasang di hutan di siberut Selatan, selama dua minggu, tujuannya adalah mencoba melihat ukuran kelompok dari Bokkoi, ada berapa jumlah individu bokkoi dalam satu kelompok.

Pemasangan di bulan Maret 2024 oleh tim Malinggai menggunakan umpan yang di letakkan di depan camera trap, berupa batang sagu dan buah cempedak hutan, sebelum pemasangan lokasi terlebih dahulu di survey, dan keberadaan Bokkoi telah terdeteksi dari suara , jejak dan sisa sisa makannya yang ditinggalkan.

Kamera dipasang selama kurang lebih dua minggu, dan menggunakan mode video dan berhasil mendapatkan video 2 jenis primata yaitu Joja dan Bokkoi.

 Joja ( Presbytis siberu)


Monday, April 10, 2023

Pelatihan Guru dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai ke-3: Hasil Pengamatan dan Kesan-Pesan

 Oleh : Imam Taufiqurrahman


Tim peserta saat mengamati keberadaan satwa hutan Toloulaggo


Pada hari kedua dan ketiga pelatihan, para peserta diajak melakukan pengamatan di hutan sekitar Dusun Toloulaggo. Peserta terbagi dalam tiga tim yang masing-masing dibekali dengan berbagai peralatan dan perlengkapan, seperti lembar data pengamatan dan teropong.

Di hari pertama, tiap tim mencatat perjumpaan dengan berbagai jenis burung. Beberapa di antaranya, yaitu mainong atau tiong emas, limendeu atau punai gading, dan rotdot atau merbah belukar. Meskipun tidak ada tim yang menjumpai primata secara langsung, mereka dengan antusias mengamati berbagai keanekaragaman hayati lain yang dijumpai. Ragam jenis anggrek, jamur, serta tanaman obat, tak luput dari pengamatan.

Sepasang mainong (Gracula religiosa )yang teramati di hari pertama pengamatan. Foto oleh Kurnia Ahmadin.


Para peserta juga mampu merekam aktivitas yang dijumpai di hutan. Sebagai bagian dari penugasan materi jurnalisme warga, tim mendapati adanya penebangan pohon. Temuan didapat, baik dari temuan lokasi bekas-bekas penebangan maupun suara gergaji mesin (chainsaw) yang keras terdengar saat sesi pengamatan berlangsung.

Seluruh temuan dan hasil pengamatan tersebut menjadi fokus pemaparan tiap kelompok. Sesi pemaparan ini berlangsung di malam hari dan cukup hidup dengan tanya-jawab di antara para peserta.

 Salah satu presentasi dari tim peserta


Di hari kedua, panitia mengarahkan tim ke area berbeda. Sayangnya pengamatan hanya bisa berjalan singkat karena hujan yang cukup deras. Namun demikian, keberuntungan berpihak pada tim 2. Dalam pengamatan yang singkat itu, mereka dapat menjumpai satu kelompok joja.

Dalam dunia sains, joja dikenal dengan nama Presbytis siberu. Keberadaannya hanya terdapat di Pulau Siberut. Secara taksonomi, ia berbeda dengan kerabat dekatnya di tiga pulau Mentawai lainnya, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Di tiga pulau tersebut, terdapat Presbytis potenziani, yang dikenal dengan sebutan atapaipai.

Satu dari sekelompok joja (Presbytis siberu) yang terdokumentasi di hari ke-2 pengamatan. Foto oleh Kurnia Ahmadin.


Kedua spesies ini tergolong spesies yang terancam punah. Joja masuk dalam kategori Endangered atau Genting, sementara ataipaipai memiliki status keterancaman lebih serius lagi, yakni Critically Endangered atau Kritis.

Kesan dan pesan

Julianus, guru Biologi di SMA Lentera, Siberut Selatan, mengaku tidak puas dengan jalannya pelatihan. Ketidakpuasannya terutama karena tidak satu pun primata yang berhasil ia lihat. Julianus berharap, ke depannya ada jalur pengamatan yang lebih terarah dan memiliki peluang tinggi untuk bisa menjumpai primata.

Namun, kesan berbeda disampaikan Theresia Yuni. “Saya cukup puas karena bisa melihat secara langsung keberadaan primata di habitatnya,” aku kepala sekolah SDN 05 Toloulaggo itu. Ia dan empat anggota timnyalah yang berhasil menjumpai joja.

Wajar Yuni merasa cukup puas. Ia sungguh beruntung, mengingat pengamatan jadi pengalaman pertamanya. “Sepuluh tahun saya tinggal di sini, dan ini kali pertama saya ke hutan Toloulaggo,” akunya.

Sementara Fransiskus Yanuarius Mendrofa dari Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai, memberi pandangan akan sulitnya para peserta menjumpai primata. Menurutnya, hal itu menjadi bentuk nyata dari adanya keterancaman pada primata Mentawai. Ia pun berharap pada para peserta agar dapat menjadi duta primata, yang membawa pengalaman dan pengetahuan selama mengikuti pelatihan pada komunitas di sekolah, terutama ke para murid atau peserta didik.

Dalam sesi penutupan tersebut, Jeremias Saleuru, tokoh masyarakat yang hadir, turut pula berbagi pengalaman. Ia mengisahkan saat dirinya masih berburu primata. Menurut Jeremias, memang tidak setiap waktu ia berhasil mendapatkan hewan buruan. Banyak faktor yang bisa jadi penyebabnya. “Mungkin cuaca yang kurang bagus atau adanya gangguan,” terangnya. Salah satu gangguan itu, berupa suara gergaji mesin, yang didengar para peserta saat pengamatan berlangsung.

Terlepas dari ketidakpuasan sebagian besar peserta karena tidak berhasil menjumpai primata, pelatihan tiga hari di Toloulaggo itu tentu memberi pengalaman langsung pada para peserta akan kegiatan pengamatan satwa. Kegiatan mampu berjalan sesuai sebagaimana tema, Masih arepi sabbat masih pa' ugai mateikeccat, uma', sibabara kabagat leleu Toloulaggo. Kalimat tersebut berarti, “Mendengarkan dan memperkenalkan keberadaan primata dan burung wilayah Toloulaggo”.

 

Pelatihan Guru dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai ke-3: Pembukaan dan Materi Ruang

 Oleh : Imam Taufiqurrahman

Foto bersama para peserta dan panitia Pelatihan Guru dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai ke-3


Pelatihan Guru dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai ke-3 telah terlaksana sesuai agenda. Berlangsung pada 28-30 Maret 2023, ajang pengenalan primata dan burung ini diadakan di Dusun Toloulaggo, Desa Katurai, Kecamatan Siberut Baratdaya, sebagaimana penyelenggaraan tahun sebelumnya.

Sebanyak 16 orang peserta mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Malinggai Uma dan Siripok Bilou ini. Para peserta tersebut merupakan perwakilan guru Biologi dan Budaya Mentawai (Bumen), baik tingkat SD, SMP, serta SMA, di Siberut Selatan dan Siberut Baratdaya.

Selain guru, pelatihan juga diikuti oleh fasilitator Malinggai Uma. Terdapat pula perwakilan dua lembaga di Siberut Selatan, yakni Yayasan Pendidikan Kebudayaan Mentawai dan Tourism Information Center.

Kepala Desa Katurai, Karlo Saumanuk, hadir dan membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya,  Karlo berterima kasih atas penyelenggaraan kegiatan di desanya. Ia pun berpesan, “Semoga pelatihan ini dapat menjadi momentum untuk menambah kapasitas dan ilmu para guru,” ungkapnya, “untuk nantinya disampaikan kepada murid di sekolah.”

Kepada penyelenggara, Karlo berpesan agar kegiatan dapat lebih berdampak pada masyarakat. “Mungkin ke depannya tidak hanya terfokus kepada guru-guru saja, tetapi mungkin pada orang tua atau pihak-pihak yang beraktivitas ke hutan,” pintanya. “Jadi, perlu ada keseimbangan.”

Pembukaan yang berlangsung di balai desa tersebut mengundang wakil dari unsur-unsur pemerintahan setempat dan instansi terkait. Beberapa yang hadir, misalnya Kepala Dusun Toloulaggo, Dinas Pendidikan, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan Dinas Pariwisata. Para undangan turut pula memberikan pidato sambutan.

Acara pembukaan dimeriahkan oleh turuk laggai. Tarian khas Mentawai ini menggambarkan perilaku satwa di hutan. Hentakan kaki para penari disertai iringan tabuhan alat musik terdengar begitu rampak. Tarian yang dipertunjukkan dalam dua sesi itu mampu menyedot perhatian banyak anak-anak dan masyarakat sekitar.

Turuk  uliat Bilou yang dipentaskan dalam acara pembukaan pelatihan.


Sesi materi ruang

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi materi ruang. Terdapat tiga pematerian, dengan dua materi pertama terkait satwa. Kedua materi disampaikan oleh perwakilan Yayasan SwaraOwa.

Materi pertama, yakni nilai konservasi dan budaya burung di Kepulauan Mentawai dipaparkan oleh Imam Taufiqurrahman. Selanjutnya, Kurnia Ahmadin memberikan pengantar teknik pengamatan primata. Materi terakhir berupa seluk-beluk jurnalisme warga (citizen journalism) yang disampaikan oleh jurnalis Tempo Febriyanti.

 Sesi materi jurnalisme warga yang dibawakan oleh jurnalis Tempo, Febriyanti.


Diskusi dan tanya jawab berjalan dengan menarik. Kebanyakan peserta mengaku belum banyak mengetahui keragaman hayati yang ada di Kepulauan Mentawai. Keberadaan satwa, khususnya primata dan burung, tidak disinggung secara khusus dalam mata pelajaran Budaya Mentawai. Lebih-lebih keterkaitan erat serta nilai filosofi antara satwa dan budaya Mentawai.

Benediktus Satoleuru, guru Budaya Mentawai SDN 19 Katurai, Siberut Baratdaya, menyebut beberapa materi yang disampaikan dalam mata pelajaran Budaya Mentawai. Ada pengenalan tentang panganan lokal gete sagu, rumah adat uma, titi atau tato, juga alat-alat musik.

Materi-materi tersebut memungkinkan untuk dapat disisipkan dengan pengenalan tentang satwa. Pada materi mengenai uma, misalnya. Boneka kayu kailaba sebagai omat simagre atau mainan para roh, sebenarnya memiliki wujud hidup, yakni kangkareng perut-putih. Satu-satunya jenis burung rangkong di Kepulauan Mentawai tersebut memiliki tempat khusus dalam kepercayaan Suku Mentawai.

Demikian pula tengkorak-tengkorak primata atau satwa lain hasil buruan yang dipajang di uma. Keberadaannya dapat menjadi pengantar untuk memperkenalkan keanekaragaman primata di Mentawai yang seluruhnya endemik.

Pada materi seluk-beluk jurnalisme warga, para peserta diperkenalkan dengan kerja-kerja jurnalistik. Peserta didorong untuk bisa menuangkan pengamatan mereka dalam tulisan dan mengemasnya sebagai berita atau informasi menarik. Tulisan nantinya dapat dibagikan tanpa harus mengirim ke surat kabar, namun cukup lewat akun sosial media pribadi.

Tulisan tersebut tentu mensyaratkan adanya unsur berita, juga informasi dan pengetahuan. Tujuannya terutama untuk mempromosikan kekayaan budaya dan keanekaragaman hayati di Kepulauan Mentawai. Selain itu, tulisan dari para peserta pelatihan sebagai bagian dari warga Mentawai juga dapat berfungsi sebagai suara, baik bagi budaya maupun satwa Mentawai, yang keberadaannya kian terpinggirkan.


Wednesday, March 1, 2023

Siripok Bilou : Sahabat Owa Mentawai

 oleh : Arif Setiawan

Bilou (Hylobates klossii)  dan kepulauan Mentawai semenjak pertama kali menginjakkan kaki di bumi sikerei tahun 2010, memiliki daya tarik tersendiri untuk selalu di kunjungi, bukan sekedar melihat saja namun terus berupaya berkontribusi  untuk turut bergabung upaya pelestariannya,  dalam arus modern yang bergulung-gulung menempa pulau-pulau di tepi Samudra hindia ini.

Sejak pertama kali kegiatan penelitian Bilou di Mentawai, seakan sudah menjadi indentitas, saya dan teman-teman di Siberut Selatan terutama tim Malinggai Uma Mentawai setidaknya telah dikenal dengan kegiatan pelestarian Bilou, hingga banyak juga orang-orang di  desa-desa di Mentawai yang kami jumpai memanggil kami dengan nama si Bilou. Julukan ini saat ini telah melekat dan juga akhirnya membuat bangga apa yang telah kita lakukan.

Dalam budaya Mentawai apabila ada orang dari luar suku yang kemudian dapat di terima dan menjadi bagian dari anggota suku tersebut ada istilah “siripok”, artinya kurang lebih seperit sahabat, kawan dekat. Saya, pak Ismail, dan Dami seakan telah melalui berbagai dinamika semenjak saat pertama kali berjumpa dengan mereka lebih dari 13 tahun yang silam. Berawal dari kegiatan penelitian dan survey di Kepulauan Mentawai, merekalah ujung tombaknya, tidak hanya sekedar menjadi pemandu, sopir pompong, dan penerjemah Bahasa saja, tanpa mereka kegiatan-kegiatan saat ini tidak akan jadi seperti sekarang.

Siripok bilou ini kemudian menjadi semangat baru bagi kami yang saling melengkapi upaya pelestarian alam Mentawai khsusunya jenis-jenis primata di tingkat grassroots. Panggilan si bilou itu kemudian menjadi sebuah kebanggaan bahwa kita telah melakukan sesuatu untuk Bilou si owa Mentawai.

Kami mencoba visualisasikan siripok bilou ini, berdasarkan gambar-gambar di Uma Malinggai dimana ada 1 pasang bilou yang bergandengan tangan. Membaca gambar ini sudah nampak sekali bahwa Bilou ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari di Siberut, hasil-hasil penelitian sudah banyak menyebutkan bahwa owa adalah primata yang hidup selalu berpasangan, ukurang tangan yang lebih panjang dari badannya juga sudah jelas digambarkan dalam ornament di Uma tersebut.

Ikuti terus kegiatan kegiatan swaraowa dan malinggai Uma Mentawai, dengan #siripokbilou di sosial media,  Selain terus mendorong peningkatan kapasitas tim malinggai Uma, logo siripok bilou ini menjadi media untuk mengenalkan bilou,alam dan budaya asli Mentawai semoga terus lestari.

Untuk mendukung kegiatan di Mentawai kami membuat kalender Siripok Bilou yang dijual dengan harga 100 ribu, mendapatkan 1 bungkus kopi Owa bilou. Untuk pemesanan silahkan hubungi IG @swaraowa atau  owacoffee atau untuk yang di Mentawai bisa menghubungi Malinggai Uma di dusun Puro2, desa Muntai, Siberut Selatan.

Friday, April 1, 2022

Pelatihan Guru dan Fasilitator Budaya Mentawai

 oleh Damianus Tateburuk

Foto bersama peserta di acara pembukaan pelatihan


Malinggai Uma Tradisional Mentawai bersekretariat di Dusun Puro II Desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai – Sumatra Barat. Malinggai Uma Tradisional Mentawai dibentuk pada tanggal  05 September 2014 dan untuk memberikan fasilitasi kepada masyarakat umum dalam hal di bidang seni kebudaya, dan  Konservasi keanekaragam hayati asli Pulau Mentawai.

Salah satu kegiatan tahunan yang di kolaborasikan adalah Fasilitasi Pelatihan Guru-guru Dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai, dan kali ini yang ke dua kalinya di selenggarakan, bekerjasama dengan SWARAOWA, yang didukung oleh Mandai Nature dan Fortwayne Children's Zoo.  Sasaran peserta dari acara tersebut adalah, lembaga sekolah dan lembaga bidang kebudayaan, serta Guru BUMEN (Budaya Mentawai).

Tujuan dari Pelatihan tersebut adalah untuk

1.    Memperkenalkan kepada generasi guru-guru lokal budaya Mentawai terhadap keanekaragam hayati hidupan liar yang ada di Mentawai

2.    Memperkenalkan guru-guru lokal budaya mentawai mengenai keanekaragaman primata di pulau Mentawai

3.    Meningkatkan kapasitas guru-guru sekolah budaya mentawai dan tentang nilai penting primata Mentawai dan upaya pelestariannya.

4.    menerapkan hasil pelatihan yang sudah di terima dan mempraktikannya kepada murid-murid sekolah dan murid sekolah budaya mentawai

5.    Revitalisasi jejaring pegiat konservasi keanekaragaman hayati dan kebudayaan Mentawai.


Penampilan tim penari tradisional dari Malinggai Uma

Pemberian sertifikat kepada semua peserta di akhir acara


Acara pelatihan dilaksanakan pada tanggal 1-4 Maret 2022, berlokasi di dusun Tololago Siburut Barat Daya, yang melibatkan total 29 orang, peserta, narasumber, dan panitia. Adapun peserta yang terlibat diambil dari perawakilan guru-guru sekolah budaya mentawai SMP SD, TK , dan Yayasan dan Lembaga, Organisasi masyarakat setempat.

Lokasi kegiatan diselengarakan di Dusun Toloulaggo Desa Kauturei Kecamatan Siberut Barat Daya Kabupaten Kepulauan Mentawai–Sumatra Barat dan Lokasi Pengamatan Survei Lapangan di Kawasan (Resort Malinggai Uma) Toloulaggo Desa Katurei Kacamatan Siberut Barat Daya Kabupaten Kepulauan Mentawai–Sumatra Barat.

foto bersama peserta di hutan, lokasi pengamatan

peserta mencatat jenis satwaliar yang dijumpai

mengenali jenis pohon di hutan Tololago


 Kegiatan acara pelatihan di ketuai oleh Ismael Saumanuk, dan  dimulai pada tanggal 2 Maret 2022, dan dibuka secara resmi oleh pemerintah desa Katurai, Bapak Karlo Saumanuk, diikuti sambutan-sambutan dari Malinggai Uma Oleh Damianus Tateburuk, dari SwaraOwa oleh Nur Aoliya. Selanjutnya presentasi dari 2 narasumber yang kita undang adalah 1. Bp.Antonius Vevbri, S.Si, M.Sc dari Taman Nasional siberut, menyampaikan tentang n keanekargaman hayati dan upaya pelestariannya di Pulau Siberut, dan upaya . Pembicara kedua adalan Bapak Fransiskus Yanuarius M, dari Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai yang menyampaikan pentingnya  budaya/adat dan pelestarian alam mentawai, dan kegiatan-kegiatan Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai.

Dalam hari pertama pelatihan, selain itu di perkenalkan juga oleh tim swaraowa, kartu permainan Alam dan Budaya mentawai, merupakan kartu permainan ingatan, yang dapat  di mainkan oleh usia anak-anak hingga orang dewasa, berisi tentang keanekaragaman hayati dan budaya Mentawai, yang disusun dalam foto dicetak dalam bentuk kartu. Kartu permainan ini merupakan produk dari kegiatan pelatihan sebelumnya. Dimana salah metode penyampaian pesan dan ilmu pengetahuan dari guru ke anak didik adalah melalui kegiatan permainan interaktif.

Peserta pelatihan juga diberikan buku panduan pengamatan primata dan burung, yang telah disusun dan di publikasikan oleh swaraOwa dan malinggai uma mentawai.

 

foto di depan papan larangan berburu Hutan Tololago


Presentasi  hasil pengamatan peserta kepada peserta lainnya 

Foto bersamaa pengamatan di hutan Tololago


Hari ke 2 dan ke 3 dilakukan pengamatan langsung ke hutan di Tololago, peserta di bagi menjadi 3 kelompok yang bernama (Tim Bilou, Tim Simakobu dan Tim Bilou), masing-masing kelompok mengambil jalur pengamatan yang berbeda. Pengamatan dilakukan dari jam 6.30 pagi hingga jam 11.30 , dan kemudian sesi diskusi dan presentasi dari masing-masing kelompok, mempresentasikan jenis-jenis primata dan burung yang dijumpai, serta menceritakan nilai adat atau budaya terkait jenis satwaliar yang di jumpai, misalnya cerita adat atau fabel terkait satwa tersebut.

Yang di jumpai selam 2 hari pengamatan dan yang dapat terdokumentasikan diantaranya dalam foto-foto dibawah ini.

 







Sunday, May 2, 2021

Semangat baru dari Sipora, Menjaga alam dan Budaya

 Oleh : Damianus Tateburuk ( Malinggai Uma Mentawai)

 



Kebudayaan dan keanekaragaman hayati daerah di Indonesia terwujud dalam beragam bentuk kegiatan dan aktivitas dalam kelompok masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, dan ini ditandai dengan beragam hasil karya dari berbagai kelompok masyarakat budaya yang menunjukkan ciri khas kebudayaanya masing-masing, sebagai contohnya antara lain jenis rumah adat, tarian, musik, seni ukir, pakaian adat, dan bersamaan dengan keanekaragam hayati contohnya antra lain jenis alam, hutan, primata, burung, herpetofouna dan sebagainya, dan secara keseluruhannya kekayaan alamnya masih asli dan bahasa dan lain-lainnya. Seperti yang ada di Mentawai ini, bahwa kebudayaan hidup didalam  jiwa masyarakat bangsa Indonesia dan perlu dilihat sebagai suatu aset negara melalui pemahaman dan lingkungan, tradisi serta potensi-potensi kebudayaan yang dimiliki untuk dapat diberdayakan untuk dapat mencapai tujuan pembangunan nasional.

 

Seni Kebudayaan Dan Konservasi Keanekaragam Hayati yang merupakan salah satu bentuk kearifan lokal di Sumatra Barat, khususnya di Kepulauan Mentawai dikembangakan dalam satu wadah atau perkumpulan dengan menejemen yang sederhana, Wadah atau tempat berkumpulnya pelaku seni kebudayaan dan konservasi keanekaragam hayati biasanya dinamakan perkumpulan, Dari sekian banyaknya organisasi, yayasan, lembaga, pemerintahan dan organisasi ini yang berada di Sumatra Barat, salah satunya adalah Malinggai Uma Tradisional Mentawai.

 


Malinggai Uma Tradisional Mentawai pusat bersekretariat di Dusun Puro II Desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai–Sumatra Barat. Malinggai Uma Tradisional Mentawai ini merupakan sarana bagi berkembangnya  dan pelestarian kebudayaan dan konservasi keanekaragam hayati khususnya, Malinggai Uma Tradisional Mentawai dibentuk pada tanggal  05 September 2014 dan untuk memberikan fasilitasi kepada masyarakat umum dalam hal di bidang seni kebudayaan  Konservasi keanekaragam hayati dan satwa liar dan primata mentawai, Adat Istiadat Mentawai, semoga Malinggai Uma Tradisional Mentawai dapat menjadi tempat / wadah untuk menggali tentang Kebudayaan dan keanekaragam hayati, yang mulai memudar khususnya dikalangan remaja dikarenakan ketidak pedulian masyarakat itu sendiri untuk memperkenalkan kebudayaan dan keanekaragam hayati mentawai tersebut kepada generasi penerus mereka dan pengaruh budaya asing serta kurangnya wadah bagi mereka untuk mengetahui budaya asli mereka sendiri dan ini sangat memprihatinkan sekali, bagi kami sehingga organisasi atas nama Malinggai Uma Tradisional Mentawai sangat berharap dan berkeinginan penuh dengan berdirinya organisasi ini dapat membantu masyarakat untuk mengetahui, menggali serta memahami tentang nilai-nilai seni dan kebudayaan dan serta keanekaragam hayati mentawai dan serta perlindungan satwa dari jenis-jenis primata (Bilou, Simakobu, Simakubu simabulau, Joja, Bokkoi, herpetofouna dan burung-burung mentawai dan sebagainya) yang sekarang ini sudah mulai dilupakan. Malinggai Uma Tradisional Mentawai juga tidak menutup bagi masyarakat diluar mentawai ataupun dari mancanegara untuk mendapatkan informasi tentang kebudayaan dan keanekaragam hayati yang ada di mentawai. Selain itu Malinggai Uma Tradisional Mentawai juga akan terus mengadakan kegiatan seminar-seminar dan pelatihan tentang Kebudayaan dan keanekaragam hayati kedepannya, kegiatan yang telah kami lakukan sebelumnya yaitu “Seminar Pangureijat” (Pernikahan Adat Mentawai), (Pergelaran Seni Budaya Mentawai) (dan Turuk Laggai di Padang), (Pelatihan Guru Dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai).

Bulan April tanggal 7-8, 2021 yang lalu kami juga telah berhasil melaksanakan sebuah acara pelatihan untuk anak-anak sekolah usia sekolah menengah atas di Dusun Goisooinan, Sipora. Berjudul “ Pelatihan Pengamatan Satwaliar dan Penggunaan Smartphone untuk Promosi Konservasi”.  Kegiatan yang didukung oleh SWARAOWA dari Yogyakarta dan Fortwayne Children’s Zoo dari Indiana Amerika Serikat. Latar belakang acara ini adalah semakin susahnya kita menjumpai satwa-satwa asli mentawai dan generasi muda semakin jauh dari rasa memiliki kekayaan alam mentawai, beberapa daerah khususnya di Mentawai juga sudah bagus sinyal telekomunikasi, dan anak-anak ini hampir setiap hari menggunakan gawai. Oleh karena itu potensi generasi muda mentawai ini perlu di dorong dengan pengalaman-pengalaman lapangan yang memang tidak dapat di sekolah, bagaimana mendokumentasikan alam sekitar mereka dan membuat cerita untuk oranglain supaya lebih tertarik, ataupun mengenalkan diri mereka dan budaya mentawai.


Peserta acara ini adalah 15 orang  anak-anak usia SMA, 10 Orang darai Sipora dan 5 orang dari Siberut, terdiri dari 7 anak perempuan dan 8 anak laki-laki. Acara dilaksanakan 2 hari, dengan susunan acara 1 hari materi kelas dan 1 hari ke hutan. Pemateri yang di undang dalam acara ini adalah dari Birdpacker indonesia, organisasi konservasi burung dari Malang Jawa timur, ada mas Waskito Kukuh dan mbak Devi Ayumandasari, yang akan menyampaikan materi tentang pengamatan burung dan penggunaan smarphone untuk fotografi dan promosi konservasi melalui sosial media. dan tentang primata disampaikan oleh mbak Eka Cahayningrum dari SwaraOwa organisasi konservasi primata dari Yogyakarta yang berkerja untuk konservasi Owa Indonesia.

Hari pertama acara kelas di buka oleh Ketua Malinggai atau  yang mewakili ( Bapak Vincent) dan sambutan-sambutan dari dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab.KepMentawai, dari dinas Pariwisata,  dan dari Desa Goisooinan.

Acara hari pertama setelah pembukaan oleh tarian-tarian adat dari sanggar malinggai Uma dari Siberut Selatan, dilanjutkan dengan  pengenalan dasar-dasar teknik pengamatan alam khususnya untuk satwaliar burung dan primata, dan menggunakan nya sebagai bahan publikasi di media sosial, sperti instagram, facebook, dan whatsapp.

Hari kedua acara dilakukan di hutan yang di bagi menjadi 3 kelompok, pengamatan-pengamatan di dokumentasikan di selesai pengamatan di lalukan presentasi hasil dari masing-masing kelompok.  Dalam menyampaikan presentasi ini peserta juga di perkenalkan oleh para pemateri tetang bagaimana menyajikan data dalam presentasi menggunakan power point yang sederhana dan menarik.

Antusias  peserta yang juga di dampingi para pendamping dari Malinggai Uma, telah berhasil mendokumentasikan foto-foto yang di jumpai selama pengamatan dan beberapa diantaranya juga sudah di upload di sosial media.

Harapannya kegiatan ini dapat memberikan wawasan baru dan pengalaman untuk generasi muda mentawai untuk lebih mengenal apa yang ada di sekitar mereka dan melestarikan identitas budaya asli mentawai.

 

 

 

 

Monday, March 9, 2020

Primata dan Durian : Fauna Endemik dan Cita Rasa Asli Mentawai

Oleh A.Setiawan (A.Setiawan@swaraowa.org)

·         Pohon durian juga sangat erat kaitannya dengan budaya Mentawai, sebagai pohon  “Kirekat” dimana kalau orang yang sudah  meninggal  akan di pahatkan gambar tangan dan kakinya di batang durian yang masih hidup dan sebagai tanda, dan biasanya pohon durian dipilih yang paling baik, besar, berbuah lebat, dan tidak boleh di tebang
·         Ada 5 jenis primata yang ada hanya di kepulauan Mentawai yaitu  Joja ( Presbytis potenziani), Bokoi ( Macaca siberu), Siteut ( Macaca pagensis), Bilou ( Hylobates klossii) dan Simakobu (Simias concolor)




Kalau anda penikmat durian, sekaligus hobi jalan-jalan di alam liar, anda harus masukkan Mentawai untuk tujuan wisata minat khusus ini. Kepulauan yang terletak kurang lebih 157 km dari Padang di Samudra Hindia ini menjadi sejarah alam yang harus di pertahankan untuk kita pelajari dan wariskan ke generasi selanjutnya. Ada 5 jenis primata yang ada hanya Kep.Mentawai  yaitu, Joja ( Presbytis potenziani), Bokoi ( Macaca siberu), Siteut ( Macaca pagensis), Bilou ( Hylobates klossii) dan Simakobu (Simias concolor) 1

Ke lima jenis primata ini mengalami ancaman kepunahan yang tinggi, dimana IUCN telah mengkategorikan sebagai primata di kepulauan Mentawai dengan status Edangered, dan simakobu yang paling terancam punah dengan status Kritis ( Critically endangered), dan termasuk salah satu dari 25 primata yang paling terancam punah di dunia.

Pulau siberut adalah pulau terbesar, pulau Sipora menjadi pusat pemerintahan dan dua pulau besar yang lain adalah Pulau Pagai utara dan Pulau Pagai selatan. Kepulauan Mentawai sangat terkenal akan ombak besarnya di kalangan olahraga sport extreme, yaitu berselancar.  Untuk ke Mentawai dapat melalui pelabuhan Muara Padang, dengan kapal cepat “Mentawai fast’ dapat menepuh kurang lebih 4-6 jam. Tujuan primate watching trip ini ke pulau siberut, dengan Malinggai Uma Tradisional Mentawai sebagai salah satu organisasi adat yang aktif di Pulau Siberut yang akan mendampingi perjalanan melihat primata-primata asli Mentawai.

Tujuan utama kami selain untuk primate watching sebenarnya adalah memberikan pelatihan khusus kepada anggota Uma untuk mengenal hidupan liar, khususnya dari jenis amphibi dan reptile, juga tentang serangga dari jenis-jenis capung. Acara pelatihan ini dapat di baca di laporan berikut ini.


Lokasi primatewatching kami adalah di dusun Tololago, desa Katurai, Kecamatan Siberut Barat Daya, hutan di kawasan ini diluar kawasan Taman Nasional Siberut, namun berdasar hasil survey tim Malinggai Uma kawasan hutan ini relatif baik kondisinya dan 5 jenis primata endemik Mentawai ada hutan Tololago ini. Untuk menuju hutan Tololago dari Muara siberut, melewati kawasan hutan mangrove tua yang sepertinya paling luas di Kep.Mentawai. Melalui  terusan dari Sungai Siberut ke Teluk Katurai, yang dikenal dengan nama Bandar Monaci, yang menurut cerita  dibuat oleh pastor Vatikan yang membuat terusan ini tahun 80an, terusan yang menghubungkan Teluk Katurai dan Sungai Siberut ini menjadi nadi ekonomi, yang menhubungkan kawasan penting di Siberut barat yang banyak wisatawan surfing dan penduduk siberut di sekitar Teluk Katurai, transportasi hasil bumi, perikanan, wisatawan melalui lebih dekat lewat terusan ini, dibanding menyusuri bagian luar pulau siberut yang tentunya ombak dan ongkos bahan bakar tidak mesti bersahabat. 

Hutan di Dusun Tololago saat ini menjadi tujuan wisata minat khusus yang sedang di kembangkan oleh Malinggai Uma  dan warga sekitar untuk Pengamatan Primata Mentawai. Terletak di luar kawasan konservasi, Taman Nasional Siberut hutan di belakang dusun ini masih relatif lengkap primatanya. Sayangnya kegiatan penebangan pohon untuk kegiatan pembangunan dan pengadaan rumah rakyat terlihat saat kami datang sedang mengolah kayu-kayu besar dari hutan.

Jalur pengamatan kami melewati kebun durian yang sudah terlihat hampir siap panen, ada 3 varietas durian yang ada di Mentawai, yang pertama adalah Durio zibetinus, yang seperti durian pada umumnya, buah berduri keras dan tajam, warna daging buah putih ke kuningan.  Dua lagi dikenal dengan nama Toktuk dan Kinoso, berduri panjang dan tidak tajam. Tidak seperti daerah lain, penduduk asli Mentawai lebih suka makan durian yang belum sepenuhnya masak, dagingnya masih keras dan mengkal. Katanya yang durian terlalu masak bisa membuat demam badan.
Kirekat di pohon durian
pohon durian terpilih untuk kirekat

Melihat langsung habitat asli durian Mentawai tumbuh, dan mencicip rasanya tentu merupakan pengalaman berbeda, pohon durian ini tumbuh di hutan, yang bisa dikatakan penanda untuk lahan hutan ini dimiliki oleh suku keluarga atau suku tertentu. Pohon durian juga sangat erat kaitannya dengan leluhur asli Mentawai, sebagai pohon  “Kirekat” dimana kalau orang yang sudah  meninggal  akan di pahatkan di batang durian yang masih hidup dan sebagai tanda, dan biasanya pohon durian dipilih yang paling baik, besar,dan berbuah lebat, dan tidak boleh di tebang. Salah satu pohon penting dalam upacara adat Mentawai. Cara makan durian di Mentawai juga berbeda, biasanya orang Mentawai lebih suka yang masih keras, atau mengkal dan membelahnya juga langsung di tebas pakai parang, jadi dua, di rasain sedikit, kalau tidak enak langsung di buang.


Pengamatan hari sore hari itu, kami lanjutkan esok paginya, jam 5.30 kami sudah bersiap dan berangkat ke hutan, kami mencata suara Bilou terdengar jelas dari belakan sebelah kanan dusun tololago, berjarak kira-kira 1 km.  kira-kira 1 jam perjalan sampai di bukit di belakan hutan kami berhenti, dan sangat beruntung sekali ketika sedang istirahat ini kami berjumpa dengan Simakobu ( Simias concolor), salah satu primata paling terancam punah di dunia. Morphologi simakobu  yang khas adalah ekornya yang pendek seperti ekor beruk, meskipun termasuk monyet pemakan daun, tubuh berwarna hitam dan muka juga hitam, ada sedikit bulu-bulu warna putih di sekililng kanan kiri pipi. Rambut di kepala agak membentuk jambul di depan dengan bagian samping rambut jambang lebih panjang. Secara taxonomy simakobu jenis monotypic, 1 genus dan 1 species saja, tidak ada subjenis lainnya, namun secara evolusi kekerabatan simakobu lebih dekat dengan Bekantan (Nasalis larvatus) yang ada di Kalimantan.
Simakobu 


Simakobu diburu, dengan alasan preferensi rasa dagingnya, selain itu alasan berburu simakobu lebih mudah, karena pergerakan simakobu ini relatif lebih lambat dibanding primata lainnya yang ada dimentawai. Ukuran tubuh dewasa yang bisa mencapai 10 kg, tidak selincah Bilou yang dapat berayun cepat dari pohon ke pohon lainnya. Dari pengamatan kami sejak kami pertama kali menjumpai simakobu, 1 individu yang kami lihat tersebut hanya diam saja, tidak bergerak sedikitpun, duduk diam dan sepertinya memang hal itu perilaku simakobu ketika bertemu manusia sebagai predator utamanya. Kondisi seperti ini sangat memudahkan para pemburu untuk menembaknya dengan senapan atau panah beracun. Pohon Dipterocarpus sp, sepertinya menjadi pohon favorit untuk bersembunyi simakobu, karakter pohon besar tinggi, daun lebar, dan biasanya banyak di tumbuhin liana, ephipit dan paku-pakuan menjadi penghalang untuk simakobu terlihat, dan karena sifatnya yang tidak bergerak sama sekali, biasanya orang akan mengira kalau simakobu yang di cari sudah tidak ada di pohon tersebut, setelah menunggu beberapa lama. Meskipun agak terlalu jauh namun cukup untuk mendapatkan foto dan melihat langsung simakobu, terlihat ada beberapa gerakan lain di cabang pohon lain, namun simakobut tidak terlihat.

Tidak berapa jauh dari kami melihat simakobu, Nampak dengan jelas sekali primata hitam dan bergerak cepat berayun dari cabang pohon ke pohon lain, ya itulah Bilou yang sejak tadi pagi  terdengar bersuara. Satu terlihat dengan jelas Jantan namun sepertinya belum sepenuhnya dewasa ,terlihat dari ukuran tubuh dan akftifitasnya yang agak jauh dari kelompok intinya, aktif berayun dari sana kemari, sesekali melihat mencari arah siapa yang ada disekitarnya, rupanya bilou ini sudah mendeteksi keberadaan kami juga. Ada 4 individu dengan 1 bayi yang masih digendong, dalam grup yang teramati. Jenis burung yang sempat termati dalam perjalanan kali ini di antaranya : Kailaba (Anthracoceros albirostris), Mainong (Gracula religiosa), Laibug (Dicrurus leucophaeus), Ngorut (Ducula aenea) dan Taktag ( Pycnonotus atriceps) 2.

Kailaba
Mainong


Perjalanan kembali ke Malinggai Uma, tim dari uma memberitahu kami kalau nanti kita akan ambil durian diladang, ladang ini terletak di tepi teluk Katurai, dibelakang hutan mangrove yang tadi kita lewati, benar saja ketika kami pulang melewati  teluk katurai yang tenang tersebut, pompong kami membelok ke kanan kea rah mangrove dan mencarai bandar untuk menepi. Setelah sampai daratan kami menunggu di tempat lokasi pompong kami berlabuh. Tim dari uma malinggai kemudian turun dan lansung masuk ke balik rapatnya pohon bakau dan Sagu. Lama kami menunggu setelah salah satu tim kembali ke pompong dengan 2 durian di tangan, kami disalahkan makan dan mereka balik lagi ke dalam rimbunnan pohon bakau dan sagu.



Hampir 15 menit kami menunggu, mereka kembali muncul dan kali ini dengan 3 pikul durian !!. “masih banyak lagi di dalam, smua durian, toktuk belum ada” kata Damian, cara membungkus durian juga sangat unik dengan daun sagu yang di anyam sedemikian rupa, ada sekitar 20 biji dalam masing-masing bungkusan ini. Kami pun sejenak tertegung dengan apa yang kami lihat, mereka menjelaskan kalau durian yang sudah jatuh ini bisa di ambil  oleh siapa saja yang mau, meskipun ini bukan ladang milik kita. Hampir setengah sampan penuh durian kita bawa pulang ke uma, setelah kita puas makan durian asli Mentawai ini. Untuk rasa durian, dalam satu ladang ini sepertinya cukup beragam, daging buah juga ada yang tebal dan tipis, ada rasa pahit, ada manis dan ada juga yang seperti tepung manis degan sedikit kesat. Cita rasa ini hanya ada di Mentawai !

Jenis-jenis primata dan keragaman cita rasa durian alam di kepulauan Mentawai, adalah dua kombinasi yang istimewa untuk penikmat primata di alam liar dan pecinta durian.

Daftar pustaka :
1. Setiawan A.,Agustin I Y,Handayani K.,Saumanuk I.,Tateburuk D.,Sakaliau M,.2019. Primata Kepulauan Mentawai, SwaraOwa-Malinggai Uma Tradisional Mentawai, Yogyakarta
2. Taufiqurahman I.,Saumanuk I.,Tateburuk D.,Sakaliau M.,Setiawan A,. 2019. Burung-Burung Kepulauan Mentawai, SwaraOwa- Malinggai Uma Tradisional Mentawai, Yogyakarta

Friday, December 15, 2017

Joja Atapaipai : pesona dari Mentawai

Sipora, salah satu rangkaian 4 pulau besar di Kepulauan mentawai, menjadi tujuan primatewatching bulan lalu. Catatan penelitian primata di pulau ini sudah sejak tahun 70 an sudah ada kegiatan penelitian primata endemik mentawai. sudah tentu tempat ini menjadi populer di kalangan pegiat alam, yang sekedar melihat langsung  hidupan liar.

Meskipun sebagai pusat pemerintahan, tentunya prioritas pembangunan infrastruktur juga berdampak pada luasan hutan sebagai habitat hidupan liar yang hanya ada di pulau ini. Catatan-catatan perjumpaan hidupan liar di kepulauan mentawai, banyak di laporkan melalui penelitian-penelitian akademis, dan kadang bahasanya juga tidak selalu mudah di mengerti oleh masyarakat luas.  Pengambil kebijakan untuk pembangunan juga tidak sempat untuk membaca-baca laporan penelitian tersebut, sehingga  untuk referensi pembangunan juga tidak tersedia.

Tulisan ini bertujuan mempopulerkan dan mengarusutamakan pesona asli kepulauan mentawai, primata-primata endemik, berdasar  pengamatan lapangan di habitat asli dan menyampaikan kepada masyarakat luas agar mudah dipahami, dan di kenal oleh siapapun.

Joja dari Pulau Siberut

Hidupan liar di alam, juga memiliki nilai ekonomi yang bekelanjutan, dan sangat memungkinkan menjadi sebuah upaya perlindungan yang lestari bila di kembangkan dalam konteks pembangunan. Budaya global dengan nilai ke unikan hidupan liar tentu menjadi identitas tersendiri yang membedakan dengan tempat lain.


Salah satu yang menjadi daftar primata yang bisa kita jumpai di Sipora adalah Presbyts potenziani, jenis surili endemik mentawai, pemakan daun, warga sekitar mengenal dengan nama Atapaipai, yang berarti berekor panjang,  lebih umum dikenal dengan nama Joja di Siberut.

Joja Atapaipai dari Pulau Sipora

IUCN redlist mengkategorikan jenis primata ini menjadi 2 sub species, yang ada di Pulau Siberut,adalah Sombre bellied Mentawai Langur  (Presbytis potenziani ssp siberu) dan yang ada di 3 pulau lainnya (Pagai Utara, Pagai Selatan dan Sipora) sebagai Golden bellied Mentawai Langur (Presbytis potenziani ssp potenziani)  Secara morfologi memang terlihat bebeda, dan kami menjumpai di siberut dan, pagai dan juga di sipora. Joja Siberut mempunyai wana bagian dada ke perut agak gelap, smentara di Atapaipai yang di jumpai di Sipora dan Pagai mempunyai warana bulu bagian dada karah perut berwarna putih ke emasan.  Beberapa foto dari siberut juga mendapati warna putih di sekitar kemaluan.
Joja dari Pulau Siberut
Referensi :


Whittaker, D. & Mittermeier, R.A. 2008. Presbytis potenziani. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T18130A7667072. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T18130A7667072.en
Downloaded on 15 December 2017.

Fuentes, A., 1996. Feeding and ranging in the Mentawai Island langur (Presbytis potenziani). International Journal of Primatology17(4), pp.525-548.