Monday, April 10, 2023

Pelatihan Guru dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai ke-3: Hasil Pengamatan dan Kesan-Pesan

 Oleh : Imam Taufiqurrahman


Tim peserta saat mengamati keberadaan satwa hutan Toloulaggo


Pada hari kedua dan ketiga pelatihan, para peserta diajak melakukan pengamatan di hutan sekitar Dusun Toloulaggo. Peserta terbagi dalam tiga tim yang masing-masing dibekali dengan berbagai peralatan dan perlengkapan, seperti lembar data pengamatan dan teropong.

Di hari pertama, tiap tim mencatat perjumpaan dengan berbagai jenis burung. Beberapa di antaranya, yaitu mainong atau tiong emas, limendeu atau punai gading, dan rotdot atau merbah belukar. Meskipun tidak ada tim yang menjumpai primata secara langsung, mereka dengan antusias mengamati berbagai keanekaragaman hayati lain yang dijumpai. Ragam jenis anggrek, jamur, serta tanaman obat, tak luput dari pengamatan.

Sepasang mainong (Gracula religiosa )yang teramati di hari pertama pengamatan. Foto oleh Kurnia Ahmadin.


Para peserta juga mampu merekam aktivitas yang dijumpai di hutan. Sebagai bagian dari penugasan materi jurnalisme warga, tim mendapati adanya penebangan pohon. Temuan didapat, baik dari temuan lokasi bekas-bekas penebangan maupun suara gergaji mesin (chainsaw) yang keras terdengar saat sesi pengamatan berlangsung.

Seluruh temuan dan hasil pengamatan tersebut menjadi fokus pemaparan tiap kelompok. Sesi pemaparan ini berlangsung di malam hari dan cukup hidup dengan tanya-jawab di antara para peserta.

 Salah satu presentasi dari tim peserta


Di hari kedua, panitia mengarahkan tim ke area berbeda. Sayangnya pengamatan hanya bisa berjalan singkat karena hujan yang cukup deras. Namun demikian, keberuntungan berpihak pada tim 2. Dalam pengamatan yang singkat itu, mereka dapat menjumpai satu kelompok joja.

Dalam dunia sains, joja dikenal dengan nama Presbytis siberu. Keberadaannya hanya terdapat di Pulau Siberut. Secara taksonomi, ia berbeda dengan kerabat dekatnya di tiga pulau Mentawai lainnya, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Di tiga pulau tersebut, terdapat Presbytis potenziani, yang dikenal dengan sebutan atapaipai.

Satu dari sekelompok joja (Presbytis siberu) yang terdokumentasi di hari ke-2 pengamatan. Foto oleh Kurnia Ahmadin.


Kedua spesies ini tergolong spesies yang terancam punah. Joja masuk dalam kategori Endangered atau Genting, sementara ataipaipai memiliki status keterancaman lebih serius lagi, yakni Critically Endangered atau Kritis.

Kesan dan pesan

Julianus, guru Biologi di SMA Lentera, Siberut Selatan, mengaku tidak puas dengan jalannya pelatihan. Ketidakpuasannya terutama karena tidak satu pun primata yang berhasil ia lihat. Julianus berharap, ke depannya ada jalur pengamatan yang lebih terarah dan memiliki peluang tinggi untuk bisa menjumpai primata.

Namun, kesan berbeda disampaikan Theresia Yuni. “Saya cukup puas karena bisa melihat secara langsung keberadaan primata di habitatnya,” aku kepala sekolah SDN 05 Toloulaggo itu. Ia dan empat anggota timnyalah yang berhasil menjumpai joja.

Wajar Yuni merasa cukup puas. Ia sungguh beruntung, mengingat pengamatan jadi pengalaman pertamanya. “Sepuluh tahun saya tinggal di sini, dan ini kali pertama saya ke hutan Toloulaggo,” akunya.

Sementara Fransiskus Yanuarius Mendrofa dari Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai, memberi pandangan akan sulitnya para peserta menjumpai primata. Menurutnya, hal itu menjadi bentuk nyata dari adanya keterancaman pada primata Mentawai. Ia pun berharap pada para peserta agar dapat menjadi duta primata, yang membawa pengalaman dan pengetahuan selama mengikuti pelatihan pada komunitas di sekolah, terutama ke para murid atau peserta didik.

Dalam sesi penutupan tersebut, Jeremias Saleuru, tokoh masyarakat yang hadir, turut pula berbagi pengalaman. Ia mengisahkan saat dirinya masih berburu primata. Menurut Jeremias, memang tidak setiap waktu ia berhasil mendapatkan hewan buruan. Banyak faktor yang bisa jadi penyebabnya. “Mungkin cuaca yang kurang bagus atau adanya gangguan,” terangnya. Salah satu gangguan itu, berupa suara gergaji mesin, yang didengar para peserta saat pengamatan berlangsung.

Terlepas dari ketidakpuasan sebagian besar peserta karena tidak berhasil menjumpai primata, pelatihan tiga hari di Toloulaggo itu tentu memberi pengalaman langsung pada para peserta akan kegiatan pengamatan satwa. Kegiatan mampu berjalan sesuai sebagaimana tema, Masih arepi sabbat masih pa' ugai mateikeccat, uma', sibabara kabagat leleu Toloulaggo. Kalimat tersebut berarti, “Mendengarkan dan memperkenalkan keberadaan primata dan burung wilayah Toloulaggo”.

 

No comments:

Post a Comment