Showing posts with label siripok Bilou. Show all posts
Showing posts with label siripok Bilou. Show all posts

Monday, March 2, 2026

Memperkuat Akar Konservasi: Workshop Masterplan Wisata Satwa Liar di Toloulaggo

 

Foto bersama peserta workshop

Oleh :Aloysius Yoyok

Desa Toloulaggok, di Siberut Barat Daya memiliki potensi keanekaragaman hayati yang sangat kaya, khususnya satwa liar endemik Mentawai. Kawasan ini dapat berfungsi sebagai laboratorium alam yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, serta penelitian. 

Keanekaragaman hayati bukan hanya aset ekologis, tetapi juga modal ekonomi berkelanjutan apabila dikelola dengan baik melalui pendekatan wisata minat khusus. Dengan pengelolaan yang tepat, desa dapat memperoleh manfaat ekonomi, sosial, dan budaya, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Wisata pengamatan hidupan liar di Siberut khususnya Toloulaggo, yang di inisiasi sejak tahun 2016, setidaknya telah membuktikan bahwa keberadaan keanekaragaman hayati endemic siberut telah mengundang pegiat satwaliar untuk datang dan menikmati di habitat aslinya. Dinamika wisata minat khusus dan proses kegiatan dari awal hingga saat ini mengalami pasang surut, namun tantangan untuk membuat siberut menjadi salah satu destinasi wisata pengamatan primata di Indonesia terus berjalan.

Mempertemukan pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan wisata satwaliar di Toloulago kemudian menjadi salah satu agenda di awal tahun 2026 ini. swaraOwa mengambil peran untuk memfasilitasi pertemuan ini, dalam tajuk workshop penyusunan masterplan Wisata Satwaliar di Toloulaggo.  Workshop ini diselenggarakan bertujuan untuk menyatukan pemahaman, menyusun rencana strategis, serta membangun kesepakatan bersama dalam pengembangan wisata minat khusus pengamatan satwaliar di Desa Toloulaggo.

Tanggal 10-12 Februari 2026, acara yang direncanakan di mulai, di koordinasi oleh panitia lokal dan generasi muda Toloulaggo, acara ini mengundang setidaknya 31 orang, pihak-pihak atau perwakilan warga, suku, pemerintah desa dan warga Toloulaggo. Acara ini juga mendapat dukungan langsung dari Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai, Bp, Aban Barnabas, dan dua narasumber yang dihadirkan oleh tim swaraOwa yaitu Imam Taufiqurrahman dan Heru, yang merupkan tour operator dan pemandu wisata minat khusus di Jawa Tengah dan dari Banyuwangi, Jawa Timur. Kehadiran mereka memberi contoh langsung wisata minat khusus pengamatan hidupan liar di beberapa lokasi di Jawa.

suasan pertemuan

Hari pertama, bersama perserta setelah acara pembukaan dan sharing pengalaman dari pembicara undangan, perserta dengan fasilitator membuka diskusi terbuka untuk pengelolaan wisata desa Toloulago. Beberapa peserta diskusi terlihat aktif memberikan input, komentar dan pandangan yang kemudian berhasil disepakati bersama:

A. Pembentukan Kepengurusan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang akan menjadi pengelola usaha wisata minat khusus pengamatan satwa liar di Toloulaggo.

B. Diskusi di sesi ke 2 sore itu juga berhasil membuahkan beberapa rekomendasi yang di sepakati bersama, yaitu tentang  :

1. Penyelenggaraan wisata minat khusus pengamatan satwa liar di wilayah hutan Toloulaggo agar bisa melibatkan dan menjangkau lebih banyak lagi elemen masyarakat yang lain, tidak terbatas pada pemilik hutan dan kerabatnya saja.

2. Perlunya menata pengelolaan wisata minat khusus pengamatan satwa liar di Toloulaggo ini dengan penyusunan prosedur operasional standar (SOP) yang merangkum sistem pelaporan kunjungan wisatawan, koordinasi, sistem pelayanan kepada wisatawan, jadwal gilir penyedia jasa layanan akomodasi, penyediaan petugas pelayan wisatawan dan hal-hal lain yang dibutuhkan. 

SOP ini akan menjadi pedoman dalam penyelenggaraan usaha pengembangan wisata minat khusus pengamatan satwa liar ini.

3. Susunan kepengurusan Pokdarwis ini masih semacam embrio yang diharapkan oleh Kepala Desa menjadi pengurus Pokdarwis di tingkat desa, karena Desa Katurei  belum memiliki organisasi pengelola usaha wisata. 

4. Pokdarwis ini diberi nama Simatoro yang memiliki arti bersinar.

5. Kepengurusan Pokdarwis ini belum selesai dibentuk karena menimbang peserta yang hadir belum mereprentasikan warga se-desa, mengingat Pokdarwis ini akan diarahkan menjadi Pokdarwis tingkat desa.

6. Ke 4 orang yang sudah terpilih itu akan bertugas :

Di 6 bulan pertama sejak ke 4 orang pengurus pertama itu terpilih :

a) Dikoordinir oleh Ketua Pokdarwis akan menyelenggarakan rapat bersama Kepala Desa dan elemen masyarakat lain yang dibutuhkan untuk melengkapi susunan kepengurusan, kelengkapan organisasi (AD/ART dll yang dibutuhkan) dan SK Kepala Desa di 6 bulan pertama semenjak mereka terpilih sebagai pengurus pertama Pokdarwis  

b) Visi dan misi Pokdarwis adalah konservasi dan kesejahteraan masyarakat.

c) Menyusun destinasi dan paket-paket wisata 

d) Bersama pemangku kepentingan wisata minat khusus di Toloulaggo menyusun prosedur operasional standar untuk pengelolaan wisata pengamatan satwa liar di Toloulaggo.

e) Distribusi prosedur operasional standar ke pihak-pihak yang berkepentingan dengan penyelenggaraan wisata  minat khusus pengamatan satwa liar.

f) Melengkapi legalitas yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan organisasi, misalnya Surat Keterangan Terdaftar di Kesbanglinmas, perpajakan, surat ijin usaha dan lain-lain yang dibutuhkan

6 bulan ke dua :

a) Menyelesaikan pembuatan Akta notaris sampai ke tingkat Kemenkumham

b) Mengidentifikasi dan mengusahakan penyediaan kebutuhan sarana-pra sarana pendukung untuk penyelenggaraan wisata minat khusus pengamaatan satwa liar di Toloulaggo

c) Menyiapkan sarana akomodasi untuk tamu yang datang berkunjung.

Poin Penting dari Kegiatan workshop:

Kolaborasi Multipihak: Melibatkan Pemerintah Desa Katurei, tokoh masyarakat adat Uma Saumanuk, praktisi pariwisata, hingga komunitas lokal (Siripok Bilou).

Restorasi Fasilitas: Persiapan mencakup pembersihan kembali pondok pengamatan yang sempat tertutup semak belukar guna menyambut wisatawan minat khusus.

Sinergi Kelembagaan: Keterlibatan Dinas Pariwisata dan narasumber ahli diharapkan dapat menyinkronkan kearifan lokal dengan standar pengelolaan wisata profesional.

Fokus Masterplan: Diskusi difokuskan pada keterlibatan pemilik lahan hutan (pumonean) agar konservasi primata berjalan selaras dengan kesejahteraan ekonomi warga.

Kegiatan ini bukan sekadar diskusi teknis, melainkan upaya memperkokoh kerja sama antar-pemangku kepentingan demi menjaga kelestarian hutan Siberut.

simakobu ( Simias concolor) yang dijumpai di Toloulaggo

Hari kedua,  sesuai dengan jadwal acara yang sudah disusun adalah kunjungan ke pos pengamatan satwa liar di kawasan hutan Toloulaggo. Pagi itu jam 06.30 WIB peserta dan sebagian panitia bersama-sama berangkat melintasi jalur-jalur pengamatan yang biasa dilalui oleh pelaku wisata yang sudah terlebih dahulu terlibat. 

Dalam perjalanan menyusuri jalan setapak di hutan itu, kelompok 1 peserta berhasil berjumpa dengan 1 kelompok simakobu, mereka berhasil mengambil beberapa foto primata itu. Titik ketemu rombongan peserta yang terbagai menjadi 2 tim itu adalah di Pos pengamatan. Sesudah beristirahat sejenak dan mengambil foto bersama peserta dan panitia kemudian bergerak meninggalkan hutan Toloulaggo itu. Kegiatan hari ke 2 itupun ditutup dengan makan siang bersama di rumah salah seorang anggota panitia.



Friday, December 26, 2025

Dimana Bilou Bersuara? Pemetaan Habitat Owa Mentawai

 

Oleh Kurnia Latifiana

Pembaruan informasi tutupan lahan dan penilaian kesesuaian habitat memberikan dasar untuk mengidentifikasi area prioritas untuk perlindungan, restorasi, dan pengelolaan yang lebih baik. Peta yang dihasilkan melalui penilaian ini dapat mendukung pengambilan keputusan konservasi di seluruh Kepulauan Mentawai. Dengan memberikan wawasan dan perspektif spasial yang komprehensif sebagai upaya untuk memperkuat strategi konservasi primata dan berkontribusi pada tindakan berbasis science yang melindungi Owa mentawai- Bilou ( Hylobates klosii) dan habitat hutan mereka yang tersisa.

Tujuan

Untuk memberikan wawasan mengenai tindakan konservasi bagi Bilou, penilaian ini bertujuan untuk:

Perbarui peta tutupan lahan Kepulauan Mentawai untuk memberikan representasi terkini tentang kondisi hutan dan potensi ancaman di bentang alam.

Mengembangkan dan memperkirakan habitat yang sesuai untuk Bilou di seluruh kepulauan menggunakan variabel spasial dan ekologis untuk mengidentifikasi habitat prioritas dan area yang berpotensi berisiko.

Metode

Studi kami dilakukan di seluruh Kepulauan Mentawai, khususnya berfokus pada sembilan hutan adat di desa Madobag dan Matotonan. Hutan-hutan ini dirawat oleh masyarakat setempat, dan sangat penting karena menyediakan habitat bagi Bilou dan membantu menjaga konektivitas hutan. Untuk memahami seberapa baik area-area ini mendukung gibbon, kami menggabungkan pengetahuan dari studi sebelumnya dengan pengamatan baru dari lapangan. Kami mengamati di mana Bilou terlihat, dan kami juga mencatat kondisi lahan dan hutan. Dengan menggunakan citra satelit, kami membuat peta tutupan hutan yang diperbarui, yang kami periksa dan perbaiki dengan bantuan survei lokal. Terakhir, kami menggunakan model komputer untuk memprediksi area mana yang paling cocok untuk Bilou dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti tutupan hutan, kesehatan pohon, bentuk lahan, iklim, dan seberapa dekat hutan tersebut dengan sungai atau desa. Dengan cara ini, kita dapat melihat tempat mana yang paling penting untuk melindungi Bilou dan mendukung upaya masyarakat untuk menjaga kesehatan hutan.

Hasil

Pemetaan tutupan lahan

Owa Bilou sangat terkait dengan habitat hutan, khususnya hutan sekunder. Peta tutupan lahan terbaru tahun 2025 memberikan gambaran spasial terkini tentang kondisi hutan di seluruh Kepulauan Mentawai, dengan perhatian khusus pada sembilan hutan adat di desa Madobag dan Matotonan. Klasifikasi tutupan lahan memiliki keterbatasan dalam membedakan antara hutan sekunder dan vegetasi pohon campuran yang ditanam. Verifikasi lapangan membantu meningkatkan akurasi klasifikasi, terutama di daerah yang didominasi oleh zona vegetasi campuran dan petak-petak kecil hutan sekunder.

Penilaian kesesuaian habitat

Habitat yang diprediksi sesuai secara spasial tumpang tindih dengan sebagian besar catatan kemunculan gibbon dari studi sebelumnya dan survei lapangan terbaru pada tahun 2025. Terdapat 60 titik kehadiran (95%) yang berada dalam area yang diklasifikasikan sebagai habitat yang sesuai, menunjukkan kesesuaian antara prediksi model dan pengamatan lapangan.

Di seluruh Kepulauan Mentawai, habitat yang sesuai diperkirakan sekitar 399.045,24 ha dan mewakili 66,69% dari total luas wilayah (lihat Tabel), di mana 302.647,59 ha berada di Pulau Siberut. Di dalam hutan adat prioritas di Pulau Siberut, habitat yang sesuai diprediksi mencakup sekitar 78,59% dari pulau tersebut. Luas habitat yang sesuai per pulau dirangkum dalam tabel.

Kesesuaian habitat dibentuk oleh pola kombinasi struktur hutan, kondisi iklim, dan karakteristik medan. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2, tutupan lahan merupakan variabel yang paling berpengaruh, menyumbang 40% pada model, diikuti oleh curah hujan (22%), tutupan pohon (18%), dan ketinggian (14%), sedangkan semua variabel lainnya secara individual menyumbang kurang dari 10%. Variabel tekanan manusia menunjukkan kontribusi langsung yang relatif rendah, bukan karena tidak signifikan secara ekologis, tetapi karena pengaruhnya sebagian besar ditangkap secara tidak langsung melalui perubahan tutupan lahan dan kondisi hutan.

Model tersebut mengkonfirmasi bahwa hutan sekunder merupakan prediktor paling penting dari distribusi Bilou di Kepulauan Mentawai. Area dengan tutupan pohon yang lebih tinggi dikaitkan dengan probabilitas kemunculan gibbon yang lebih tinggi. Kondisi ini juga mengkonfirmasi bahwa gibbon sangat bergantung pada kanopi hutan yang utuh secara struktural.Biloubergantung pada lapisan kanopi atas untuk perilaku-perilaku penting, termasuk pergerakan, makan, istirahat, dan vokalisasi, yang membutuhkan struktur hutan yang berkelanjutan dan berkembang dengan baik.

Disclaimer : Informasi yang ditampilkan di sini hanyalah sebagian dari analisis kesesuaian habitat untuk Program Konservasi Owa Bilou Mentawai. Silakan hubungi swaraOwa at gmail.com untuk diskusi lebih lanjut mengenai analisis tersebut.


Monday, October 27, 2025

"Menelusuri Bat Kailolot: Survei Sehari di Hutan Adat Salaisek"

 Oleh :Aloysius Yoyok

Bilou ( Hylobates klossii)

Kegiatan kali ini hanya survey singkat ke hutan milik uma Salaisek, pada tangga 13 Oktober 2025. Kawasan hutan Bat Kailolot ini adalah milik uma Salaisek yang berbatas sepadan dengan hutan milik uma Salimu. Perbatasan hutan yang secara adat menjadi kekuasaan mereka itu terletak di sepanjang punggung perbukitan yang kebetulan menjadi lintasan jalan setapak Gotab-Salapak. 

Lahan milik uma Salaisek ini di beberapa spot sejak beberapa dekade lalu sudah dikelola sebagai areal perladangan tradisional; sebagian lahan rawa-rawa dikelola sebagai kebun sagu sementara lahan dataran kering dikelola sebagai tempat pengembangan perladangan tradisional (pumonean) yang berisi tanaman tua (jenis-jenis tanaman buah-buahan lokal). Lahan ini juga pernah dimanfaatkan oleh beberapa penduduk setempat untuk areal pengembangan peternakan babi tradisional (pusainakat) tetapi semenjak generasi tua pemilik pusainakat itu sudah tidak ada lagi dan generasi sekarang sekarang ini tidak lagi melanjutkan usaha itu, maka areal itu kini kembali ditumbuhi oleh vegetasi yang cukup rapat dengan jalur-jalur jalan setapak yang sudah tidak terlihat lagi, tertutup oleh tumbuhan hutan dan semak. Melakukan survei di kawasan ini harus dipandu oleh orang yang memang memahami kawasan karena jalur-jalur jalan setapak lama yang sudah hilang.

jalur berlumpur di rawa-rawa 

Kawasan lahan hutan Bat Kailolot ini selain berbatas sepadan dengan hutan milik Salimu di sepanjang punggung perbukitan di sebelah selatan, di sebelah timur dan utara lahan mereka ini berbatas dengan punggung perbukitan dimana jalan trans Siberut ruas Maileppet-Saliguma yang dibuka dengan memanfaatkan bekas jalan perusahaan kayu log di tahun 80 an. Sampai beberapa tahun lalu sebelum jalan trans Siberut itu dibuka pada tahun 2017 lalu, kelimpahan satwa dan primata di kawasan itu masih terlihat bagus. Jika berkunjung di kawasan itu, jika di pagi hari buta maka nyanyian morning call dari kelompok-kelompok bilou akan terdengar di sekitar pondok, demikian juga dengan ke 3 jenis primata yang lain termasuk juga ragam satwanya. 

Rute Perjalanan

Rute yang dipilih untuk mencapai lokasi survei itu adalah dengan menempuh jalur laut dari Maileppet-Gotab, kemudian dari Gotab menuju Bat Kailolot dengan jalan kaki, bisa juga dengan menempuh dengan perjalanan jalur darati melalui jalur jalan sekunder yang menghubungkan permukiman Gotab-Jalan Trans, tetapi kami memilih melalui jalur jalan setapak yang menghubungkan permukiman Gotab-Pondok Dami  ( Dami ini sahabat saya dari Gotab) di Bat Kailolot tepi jalur jalan trans ruas Maileppet-Saliguma juga.

Perjalanan laut dari Maileppet-Gotab kami tempuh dengan pompong sekitar 1 jam dan perjalanan darat yang kami tempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalur jalan setapak kami tempuh juga selama kira-kira 1 jam. 

Kebetulan perjalanan kami tempuh di sore hari, di tengah hujan yang turun semenjak pagi. Sesudah beristirahat sejenak di Gotab, saat matahari tenggelam kami berangkat dengan berjalan kaki menuju pondok ladang Dami yang terletak di Bat Kailolot. 

Sebenarnya jika cuaca cenderung kering perjalanan menuju lokasi itu bisa ditempuh melalui jalur jalan trans Siberut ruas Maileppet-Saliguma mempergunakan sepeda motor, sekitar 40 menit saja. Tetapi jika cuaca cenderung hujan, pilihan jalur jalan ini bisa memiliki risiko besar karena jalur jalan ini belum ada pengerasan masih berupa tanah lempungan di sepanjang punggung perbukitan yang merupakan bekas jalan logging di masa lalu, jalanan akan menjadi lengket dan berlumpur saat hujan turun. Jika situasi menjadi seperti itu maka kendaraan bermotor biasa akan terjebak dan harus menunggu cuaca cerah untuk membuat jalur jalan tanah itu kering kembali.

Kotkot -Kadalan siberut (Phaenicophaeus curvirostris)


Situasi Hutan Bat Kailolot 

Semenjak jalur trans Siberut ruas Maileppet-Saliguma ini dibuka, maka hutan di sepanjang kanan dan kiri jalur jalan trans itu dari arah Maileppet dari Km 0 – Km 9 rata-rata sudah beralih kepemilikan menjadi milik masyarakat migran atau pendatang dari etnis di luar Mentawai. Lokasi hutan Bat Kailolot milik Salaisek ini terletak di sekitar Km 13. Pada umumnya lahan di sepanjang jalur jalan itu belum diperjualbelikan tetapi kini di tepian jalur jalan itu pengusahaan penduduk lokal adalah dengan kembali membabatnya untuk lokasi perladangan.

Dari hasil pengamatan selama sehari, dari total sebanyak 9 suara bilou yang terdengar dengan rincian 7 suara merupakan great call dan 2 suara hanya morning call saja. Dari 7 suara great call itu terdapat 4 kelompok bilou yang bersuara great call di dekat jalur jalan trans Siberut itu, 2 kelompok bersuara dari arah hutan milik Salaisek dan 2 suara great call yang lain dari arah hutan milik uma Sabbangan, di seberang jalan trans. Saat pengamatan suara sedang dilakukan dan kelompok-kelompok bilou itu sedang bersuara, kebetulan ada 3 titik sumber suara greatcall yang tiba-tiba berhenti bersuara dan berganti menjadi suara alarm call, kemungkinan besar karena di dekat tempat kelompok-kelompok bilou itu bersuara adalah memang jalur setapak yang menjadi lintasan penduduk lokal menuju ke perladangan mereka. Kebetulan pagi itu mereka melintas di bawah pohon tempat kelompok-kelompok bilou itu bersuara.

foto bersama keluarga bapak Nasril

Secara umum terlepas dari kemungkinan berkurangnya vegetasi hutan terutama di sepanjang tepian jalur jalan trans Siberut, tetapi kawasan hutan Bat Kailolot milik Salaisek ini merupakan bagian dari hamparan hutan yang masih luas. Hamparan hutan itu secara adat merupakan milik Salimu, Salaisek, Samaurau dan Satoinong. Kawasan ini terletak di antara permukiman Salappak dan Gotab-Siguluk-guluk kawasan yang masih memiliki vegetasi hutan yang bagus dan memiliki kelimpahan satwa maupun primata yang bagus juga. Di kawasan ini tidak banyak penduduk yang mengelola lahan hutan itu untuk perladangan tradisional karena lokasinya yang cukup jauh dari permukiman dan akses menuju areal itu yang sulit. Pada beberapa dekade lalu penduduk memanfaatkan beberapa spot lokasi hutan itu untuk peternakan babi tradisional tetapi kini sudah sekitar 15 tahun lalu ditinggalkan dan tidak lagi dikelola.


Monday, April 10, 2023

Pelatihan Guru dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai ke-3: Hasil Pengamatan dan Kesan-Pesan

 Oleh : Imam Taufiqurrahman


Tim peserta saat mengamati keberadaan satwa hutan Toloulaggo


Pada hari kedua dan ketiga pelatihan, para peserta diajak melakukan pengamatan di hutan sekitar Dusun Toloulaggo. Peserta terbagi dalam tiga tim yang masing-masing dibekali dengan berbagai peralatan dan perlengkapan, seperti lembar data pengamatan dan teropong.

Di hari pertama, tiap tim mencatat perjumpaan dengan berbagai jenis burung. Beberapa di antaranya, yaitu mainong atau tiong emas, limendeu atau punai gading, dan rotdot atau merbah belukar. Meskipun tidak ada tim yang menjumpai primata secara langsung, mereka dengan antusias mengamati berbagai keanekaragaman hayati lain yang dijumpai. Ragam jenis anggrek, jamur, serta tanaman obat, tak luput dari pengamatan.

Sepasang mainong (Gracula religiosa )yang teramati di hari pertama pengamatan. Foto oleh Kurnia Ahmadin.


Para peserta juga mampu merekam aktivitas yang dijumpai di hutan. Sebagai bagian dari penugasan materi jurnalisme warga, tim mendapati adanya penebangan pohon. Temuan didapat, baik dari temuan lokasi bekas-bekas penebangan maupun suara gergaji mesin (chainsaw) yang keras terdengar saat sesi pengamatan berlangsung.

Seluruh temuan dan hasil pengamatan tersebut menjadi fokus pemaparan tiap kelompok. Sesi pemaparan ini berlangsung di malam hari dan cukup hidup dengan tanya-jawab di antara para peserta.

 Salah satu presentasi dari tim peserta


Di hari kedua, panitia mengarahkan tim ke area berbeda. Sayangnya pengamatan hanya bisa berjalan singkat karena hujan yang cukup deras. Namun demikian, keberuntungan berpihak pada tim 2. Dalam pengamatan yang singkat itu, mereka dapat menjumpai satu kelompok joja.

Dalam dunia sains, joja dikenal dengan nama Presbytis siberu. Keberadaannya hanya terdapat di Pulau Siberut. Secara taksonomi, ia berbeda dengan kerabat dekatnya di tiga pulau Mentawai lainnya, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Di tiga pulau tersebut, terdapat Presbytis potenziani, yang dikenal dengan sebutan atapaipai.

Satu dari sekelompok joja (Presbytis siberu) yang terdokumentasi di hari ke-2 pengamatan. Foto oleh Kurnia Ahmadin.


Kedua spesies ini tergolong spesies yang terancam punah. Joja masuk dalam kategori Endangered atau Genting, sementara ataipaipai memiliki status keterancaman lebih serius lagi, yakni Critically Endangered atau Kritis.

Kesan dan pesan

Julianus, guru Biologi di SMA Lentera, Siberut Selatan, mengaku tidak puas dengan jalannya pelatihan. Ketidakpuasannya terutama karena tidak satu pun primata yang berhasil ia lihat. Julianus berharap, ke depannya ada jalur pengamatan yang lebih terarah dan memiliki peluang tinggi untuk bisa menjumpai primata.

Namun, kesan berbeda disampaikan Theresia Yuni. “Saya cukup puas karena bisa melihat secara langsung keberadaan primata di habitatnya,” aku kepala sekolah SDN 05 Toloulaggo itu. Ia dan empat anggota timnyalah yang berhasil menjumpai joja.

Wajar Yuni merasa cukup puas. Ia sungguh beruntung, mengingat pengamatan jadi pengalaman pertamanya. “Sepuluh tahun saya tinggal di sini, dan ini kali pertama saya ke hutan Toloulaggo,” akunya.

Sementara Fransiskus Yanuarius Mendrofa dari Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai, memberi pandangan akan sulitnya para peserta menjumpai primata. Menurutnya, hal itu menjadi bentuk nyata dari adanya keterancaman pada primata Mentawai. Ia pun berharap pada para peserta agar dapat menjadi duta primata, yang membawa pengalaman dan pengetahuan selama mengikuti pelatihan pada komunitas di sekolah, terutama ke para murid atau peserta didik.

Dalam sesi penutupan tersebut, Jeremias Saleuru, tokoh masyarakat yang hadir, turut pula berbagi pengalaman. Ia mengisahkan saat dirinya masih berburu primata. Menurut Jeremias, memang tidak setiap waktu ia berhasil mendapatkan hewan buruan. Banyak faktor yang bisa jadi penyebabnya. “Mungkin cuaca yang kurang bagus atau adanya gangguan,” terangnya. Salah satu gangguan itu, berupa suara gergaji mesin, yang didengar para peserta saat pengamatan berlangsung.

Terlepas dari ketidakpuasan sebagian besar peserta karena tidak berhasil menjumpai primata, pelatihan tiga hari di Toloulaggo itu tentu memberi pengalaman langsung pada para peserta akan kegiatan pengamatan satwa. Kegiatan mampu berjalan sesuai sebagaimana tema, Masih arepi sabbat masih pa' ugai mateikeccat, uma', sibabara kabagat leleu Toloulaggo. Kalimat tersebut berarti, “Mendengarkan dan memperkenalkan keberadaan primata dan burung wilayah Toloulaggo”.

 

Pelatihan Guru dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai ke-3: Pembukaan dan Materi Ruang

 Oleh : Imam Taufiqurrahman

Foto bersama para peserta dan panitia Pelatihan Guru dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai ke-3


Pelatihan Guru dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai ke-3 telah terlaksana sesuai agenda. Berlangsung pada 28-30 Maret 2023, ajang pengenalan primata dan burung ini diadakan di Dusun Toloulaggo, Desa Katurai, Kecamatan Siberut Baratdaya, sebagaimana penyelenggaraan tahun sebelumnya.

Sebanyak 16 orang peserta mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Malinggai Uma dan Siripok Bilou ini. Para peserta tersebut merupakan perwakilan guru Biologi dan Budaya Mentawai (Bumen), baik tingkat SD, SMP, serta SMA, di Siberut Selatan dan Siberut Baratdaya.

Selain guru, pelatihan juga diikuti oleh fasilitator Malinggai Uma. Terdapat pula perwakilan dua lembaga di Siberut Selatan, yakni Yayasan Pendidikan Kebudayaan Mentawai dan Tourism Information Center.

Kepala Desa Katurai, Karlo Saumanuk, hadir dan membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya,  Karlo berterima kasih atas penyelenggaraan kegiatan di desanya. Ia pun berpesan, “Semoga pelatihan ini dapat menjadi momentum untuk menambah kapasitas dan ilmu para guru,” ungkapnya, “untuk nantinya disampaikan kepada murid di sekolah.”

Kepada penyelenggara, Karlo berpesan agar kegiatan dapat lebih berdampak pada masyarakat. “Mungkin ke depannya tidak hanya terfokus kepada guru-guru saja, tetapi mungkin pada orang tua atau pihak-pihak yang beraktivitas ke hutan,” pintanya. “Jadi, perlu ada keseimbangan.”

Pembukaan yang berlangsung di balai desa tersebut mengundang wakil dari unsur-unsur pemerintahan setempat dan instansi terkait. Beberapa yang hadir, misalnya Kepala Dusun Toloulaggo, Dinas Pendidikan, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan Dinas Pariwisata. Para undangan turut pula memberikan pidato sambutan.

Acara pembukaan dimeriahkan oleh turuk laggai. Tarian khas Mentawai ini menggambarkan perilaku satwa di hutan. Hentakan kaki para penari disertai iringan tabuhan alat musik terdengar begitu rampak. Tarian yang dipertunjukkan dalam dua sesi itu mampu menyedot perhatian banyak anak-anak dan masyarakat sekitar.

Turuk  uliat Bilou yang dipentaskan dalam acara pembukaan pelatihan.


Sesi materi ruang

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi materi ruang. Terdapat tiga pematerian, dengan dua materi pertama terkait satwa. Kedua materi disampaikan oleh perwakilan Yayasan SwaraOwa.

Materi pertama, yakni nilai konservasi dan budaya burung di Kepulauan Mentawai dipaparkan oleh Imam Taufiqurrahman. Selanjutnya, Kurnia Ahmadin memberikan pengantar teknik pengamatan primata. Materi terakhir berupa seluk-beluk jurnalisme warga (citizen journalism) yang disampaikan oleh jurnalis Tempo Febriyanti.

 Sesi materi jurnalisme warga yang dibawakan oleh jurnalis Tempo, Febriyanti.


Diskusi dan tanya jawab berjalan dengan menarik. Kebanyakan peserta mengaku belum banyak mengetahui keragaman hayati yang ada di Kepulauan Mentawai. Keberadaan satwa, khususnya primata dan burung, tidak disinggung secara khusus dalam mata pelajaran Budaya Mentawai. Lebih-lebih keterkaitan erat serta nilai filosofi antara satwa dan budaya Mentawai.

Benediktus Satoleuru, guru Budaya Mentawai SDN 19 Katurai, Siberut Baratdaya, menyebut beberapa materi yang disampaikan dalam mata pelajaran Budaya Mentawai. Ada pengenalan tentang panganan lokal gete sagu, rumah adat uma, titi atau tato, juga alat-alat musik.

Materi-materi tersebut memungkinkan untuk dapat disisipkan dengan pengenalan tentang satwa. Pada materi mengenai uma, misalnya. Boneka kayu kailaba sebagai omat simagre atau mainan para roh, sebenarnya memiliki wujud hidup, yakni kangkareng perut-putih. Satu-satunya jenis burung rangkong di Kepulauan Mentawai tersebut memiliki tempat khusus dalam kepercayaan Suku Mentawai.

Demikian pula tengkorak-tengkorak primata atau satwa lain hasil buruan yang dipajang di uma. Keberadaannya dapat menjadi pengantar untuk memperkenalkan keanekaragaman primata di Mentawai yang seluruhnya endemik.

Pada materi seluk-beluk jurnalisme warga, para peserta diperkenalkan dengan kerja-kerja jurnalistik. Peserta didorong untuk bisa menuangkan pengamatan mereka dalam tulisan dan mengemasnya sebagai berita atau informasi menarik. Tulisan nantinya dapat dibagikan tanpa harus mengirim ke surat kabar, namun cukup lewat akun sosial media pribadi.

Tulisan tersebut tentu mensyaratkan adanya unsur berita, juga informasi dan pengetahuan. Tujuannya terutama untuk mempromosikan kekayaan budaya dan keanekaragaman hayati di Kepulauan Mentawai. Selain itu, tulisan dari para peserta pelatihan sebagai bagian dari warga Mentawai juga dapat berfungsi sebagai suara, baik bagi budaya maupun satwa Mentawai, yang keberadaannya kian terpinggirkan.


Wednesday, March 1, 2023

Siripok Bilou : Sahabat Owa Mentawai

 oleh : Arif Setiawan

Bilou (Hylobates klossii)  dan kepulauan Mentawai semenjak pertama kali menginjakkan kaki di bumi sikerei tahun 2010, memiliki daya tarik tersendiri untuk selalu di kunjungi, bukan sekedar melihat saja namun terus berupaya berkontribusi  untuk turut bergabung upaya pelestariannya,  dalam arus modern yang bergulung-gulung menempa pulau-pulau di tepi Samudra hindia ini.

Sejak pertama kali kegiatan penelitian Bilou di Mentawai, seakan sudah menjadi indentitas, saya dan teman-teman di Siberut Selatan terutama tim Malinggai Uma Mentawai setidaknya telah dikenal dengan kegiatan pelestarian Bilou, hingga banyak juga orang-orang di  desa-desa di Mentawai yang kami jumpai memanggil kami dengan nama si Bilou. Julukan ini saat ini telah melekat dan juga akhirnya membuat bangga apa yang telah kita lakukan.

Dalam budaya Mentawai apabila ada orang dari luar suku yang kemudian dapat di terima dan menjadi bagian dari anggota suku tersebut ada istilah “siripok”, artinya kurang lebih seperit sahabat, kawan dekat. Saya, pak Ismail, dan Dami seakan telah melalui berbagai dinamika semenjak saat pertama kali berjumpa dengan mereka lebih dari 13 tahun yang silam. Berawal dari kegiatan penelitian dan survey di Kepulauan Mentawai, merekalah ujung tombaknya, tidak hanya sekedar menjadi pemandu, sopir pompong, dan penerjemah Bahasa saja, tanpa mereka kegiatan-kegiatan saat ini tidak akan jadi seperti sekarang.

Siripok bilou ini kemudian menjadi semangat baru bagi kami yang saling melengkapi upaya pelestarian alam Mentawai khsusunya jenis-jenis primata di tingkat grassroots. Panggilan si bilou itu kemudian menjadi sebuah kebanggaan bahwa kita telah melakukan sesuatu untuk Bilou si owa Mentawai.

Kami mencoba visualisasikan siripok bilou ini, berdasarkan gambar-gambar di Uma Malinggai dimana ada 1 pasang bilou yang bergandengan tangan. Membaca gambar ini sudah nampak sekali bahwa Bilou ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari di Siberut, hasil-hasil penelitian sudah banyak menyebutkan bahwa owa adalah primata yang hidup selalu berpasangan, ukurang tangan yang lebih panjang dari badannya juga sudah jelas digambarkan dalam ornament di Uma tersebut.

Ikuti terus kegiatan kegiatan swaraowa dan malinggai Uma Mentawai, dengan #siripokbilou di sosial media,  Selain terus mendorong peningkatan kapasitas tim malinggai Uma, logo siripok bilou ini menjadi media untuk mengenalkan bilou,alam dan budaya asli Mentawai semoga terus lestari.

Untuk mendukung kegiatan di Mentawai kami membuat kalender Siripok Bilou yang dijual dengan harga 100 ribu, mendapatkan 1 bungkus kopi Owa bilou. Untuk pemesanan silahkan hubungi IG @swaraowa atau  owacoffee atau untuk yang di Mentawai bisa menghubungi Malinggai Uma di dusun Puro2, desa Muntai, Siberut Selatan.