Friday, December 26, 2025

Dimana Bilou Bersuara? Pemetaan Habitat Owa Mentawai

 

Oleh Kurnia Latifiana

Pembaruan informasi tutupan lahan dan penilaian kesesuaian habitat memberikan dasar untuk mengidentifikasi area prioritas untuk perlindungan, restorasi, dan pengelolaan yang lebih baik. Peta yang dihasilkan melalui penilaian ini dapat mendukung pengambilan keputusan konservasi di seluruh Kepulauan Mentawai. Dengan memberikan wawasan dan perspektif spasial yang komprehensif sebagai upaya untuk memperkuat strategi konservasi primata dan berkontribusi pada tindakan berbasis science yang melindungi Owa mentawai- Bilou ( Hylobates klosii) dan habitat hutan mereka yang tersisa.

Tujuan

Untuk memberikan wawasan mengenai tindakan konservasi bagi Bilou, penilaian ini bertujuan untuk:

Perbarui peta tutupan lahan Kepulauan Mentawai untuk memberikan representasi terkini tentang kondisi hutan dan potensi ancaman di bentang alam.

Mengembangkan dan memperkirakan habitat yang sesuai untuk Bilou di seluruh kepulauan menggunakan variabel spasial dan ekologis untuk mengidentifikasi habitat prioritas dan area yang berpotensi berisiko.

Metode

Studi kami dilakukan di seluruh Kepulauan Mentawai, khususnya berfokus pada sembilan hutan adat di desa Madobag dan Matotonan. Hutan-hutan ini dirawat oleh masyarakat setempat, dan sangat penting karena menyediakan habitat bagi Bilou dan membantu menjaga konektivitas hutan. Untuk memahami seberapa baik area-area ini mendukung gibbon, kami menggabungkan pengetahuan dari studi sebelumnya dengan pengamatan baru dari lapangan. Kami mengamati di mana Bilou terlihat, dan kami juga mencatat kondisi lahan dan hutan. Dengan menggunakan citra satelit, kami membuat peta tutupan hutan yang diperbarui, yang kami periksa dan perbaiki dengan bantuan survei lokal. Terakhir, kami menggunakan model komputer untuk memprediksi area mana yang paling cocok untuk Bilou dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti tutupan hutan, kesehatan pohon, bentuk lahan, iklim, dan seberapa dekat hutan tersebut dengan sungai atau desa. Dengan cara ini, kita dapat melihat tempat mana yang paling penting untuk melindungi Bilou dan mendukung upaya masyarakat untuk menjaga kesehatan hutan.

Hasil

Pemetaan tutupan lahan

Owa Bilou sangat terkait dengan habitat hutan, khususnya hutan sekunder. Peta tutupan lahan terbaru tahun 2025 memberikan gambaran spasial terkini tentang kondisi hutan di seluruh Kepulauan Mentawai, dengan perhatian khusus pada sembilan hutan adat di desa Madobag dan Matotonan. Klasifikasi tutupan lahan memiliki keterbatasan dalam membedakan antara hutan sekunder dan vegetasi pohon campuran yang ditanam. Verifikasi lapangan membantu meningkatkan akurasi klasifikasi, terutama di daerah yang didominasi oleh zona vegetasi campuran dan petak-petak kecil hutan sekunder.

Penilaian kesesuaian habitat

Habitat yang diprediksi sesuai secara spasial tumpang tindih dengan sebagian besar catatan kemunculan gibbon dari studi sebelumnya dan survei lapangan terbaru pada tahun 2025. Terdapat 60 titik kehadiran (95%) yang berada dalam area yang diklasifikasikan sebagai habitat yang sesuai, menunjukkan kesesuaian antara prediksi model dan pengamatan lapangan.

Di seluruh Kepulauan Mentawai, habitat yang sesuai diperkirakan sekitar 399.045,24 ha dan mewakili 66,69% dari total luas wilayah (lihat Tabel), di mana 302.647,59 ha berada di Pulau Siberut. Di dalam hutan adat prioritas di Pulau Siberut, habitat yang sesuai diprediksi mencakup sekitar 78,59% dari pulau tersebut. Luas habitat yang sesuai per pulau dirangkum dalam tabel.

Kesesuaian habitat dibentuk oleh pola kombinasi struktur hutan, kondisi iklim, dan karakteristik medan. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2, tutupan lahan merupakan variabel yang paling berpengaruh, menyumbang 40% pada model, diikuti oleh curah hujan (22%), tutupan pohon (18%), dan ketinggian (14%), sedangkan semua variabel lainnya secara individual menyumbang kurang dari 10%. Variabel tekanan manusia menunjukkan kontribusi langsung yang relatif rendah, bukan karena tidak signifikan secara ekologis, tetapi karena pengaruhnya sebagian besar ditangkap secara tidak langsung melalui perubahan tutupan lahan dan kondisi hutan.

Model tersebut mengkonfirmasi bahwa hutan sekunder merupakan prediktor paling penting dari distribusi Bilou di Kepulauan Mentawai. Area dengan tutupan pohon yang lebih tinggi dikaitkan dengan probabilitas kemunculan gibbon yang lebih tinggi. Kondisi ini juga mengkonfirmasi bahwa gibbon sangat bergantung pada kanopi hutan yang utuh secara struktural.Biloubergantung pada lapisan kanopi atas untuk perilaku-perilaku penting, termasuk pergerakan, makan, istirahat, dan vokalisasi, yang membutuhkan struktur hutan yang berkelanjutan dan berkembang dengan baik.

Disclaimer : Informasi yang ditampilkan di sini hanyalah sebagian dari analisis kesesuaian habitat untuk Program Konservasi Owa Bilou Mentawai. Silakan hubungi swaraOwa at gmail.com untuk diskusi lebih lanjut mengenai analisis tersebut.


No comments:

Post a Comment