Oleh: Nur Choiriyah Merdekawati
| Para peserta Pelatihan Metode Survey Owa 2025 di Sokokembang. |
Pada tanggal 3–7 November 2025, udara sejuk Hutan Sokokembang, yang terletak di jantung habitat Owa Jawa, Pekalongan, Jawa Tengah, bergema bukan hanya dengan suara Owa Jawa tetapi juga dengan tawa dan percakapan sekelompok peserta didik yang bersemangat. SwaraOwa, sebagai inisiatif konservasi lokal yang berkomitmen untuk melindungi primata dan habitatnya, menyelenggarakan Pelatihan Metode Survey Owa ke-12 tahun 2025, pelatihan berbasis lapangan selama lima hari empat malam yang dirancang untuk memperkuat keterampilan peserta dalam penelitian Owa dan metode survei populasi.
Program ini mempertemukan beragam mahasiswa, peneliti, dan praktisi konservasi. Sebanyak 21 peserta terdiri dari tim Mentawai, Taman Nasional Siberut, KSP Macaca UNJ, FSP “Lutung” Universitas Nasional, KPP Tarsius UIN Jakarta, Yayasan Konservasi Hutan Harimau, Green Community Universitas Negeri Semarang, Yayasan Palung, The Biodiversity Society, Sanggabuana Wildlife Ranger, KP3 Primata UGM, Yayasan KIARA, Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu, BOSF Nyaru Menteng, Balai KSDA Jawa Tengah. Para peserta disatukan oleh rasa ingin tahu dan dedikasi mereka untuk memahami siamang, salah satu primata paling ikonik namun rentan di Indonesia. Tujuan utamanya adalah untuk membangun kapasitas peserta dalam teknik pemantauan owa sambil menumbuhkan semangat kolaborasi dan pembelajaran bersama di antara mereka yang berupaya melestarikan keanekaragaman hayati.
Pada sore hari tanggal 3 November 2025, para peserta tiba di stasiun lapangan SwaraOwa, sebuah pusat kecil namun dinamis yang dikelilingi oleh hutan pohon kopi dan nyanyian burung-burung hutan. Stasiun lapangan yang baru saja dilengkapi fasilitas ini, terletak di tepi Hutan Sokokembang, Kecamatan Petungkriyono, bukan hanya pos penelitian tetapi juga ruang sosial tempat konservasi berbasis komunitas bertemu dengan kehidupan sehari-hari. Sebuah pusat konservasi, pendidikan, dan tempat peristirahatan kopi yang terletak di habitat Owa Jawa.
Hari pertama didedikasikan untuk perkenalan baik antar peserta maupun dengan tim SwaraOwa. Sesi-sesi ini melampaui sekadar pertukaran nama; semua orang berbagi latar belakang, motivasi, dan keterkaitan mereka dengan pelatihan ini serta konservasi. Pada sesi terakhir, SwaraOwa sebagai fasilitator mempresentasikan perjalanan organisasi mereka, dari penelitian awal tentang Owa Jawa ( Hylobates moloch ) hingga proyek-proyek yang sedang berjalan yang menghubungkan sains, ekowisata, dan pemberdayaan masyarakat.
Suasananya hangat dan inklusif. Banyak peserta mengaku bahwa ini adalah pelatihan primata pertama mereka. “Ini baru permulaan, tapi sangat menarik,” kata seorang siswa, “Tunggu, besok pasti lebih menarik,” timpal yang lain.
| peserta dalam pelatihan pengenalan lapangan untuk perangkat bioakustik untuk pemantauan Owa |
Hari kedua menandai pembukaan resmi pelatihan. Upacara dimulai dengan pidato sambutan oleh Kepala Unit Pengelolaan Hutan Pekalongan Timur (Perhutani KPH Pekalongan Timur), yang menyoroti pentingnya upaya konservasi kolaboratif antara peneliti, masyarakat setempat, dan instansi pengelolaan hutan. Sambutannya menggarisbawahi pesan utama: kelangsungan hidup Owa dan hutan bergantung pada kemitraan yang dibangun atas dasar kepercayaan dan tujuan bersama. Dilanjutkan dengan beberapa saran dari Forum Kepemimpinan Kecamatan Petungkriyono.
Hari itu dilanjutkan dengan kuliah teknis oleh Arif Setiawan, yang memperkenalkan peserta pada metode Triangulasi -Penghitungan Vokal (VCT), teknik dasar yang digunakan untuk memperkirakan populasi Owa melalui panggilan teritorial mereka. Sesi ini menggabungkan teori dengan kejadian di lapangan, membantu peserta memvisualisasikan bagaimana titik data dari panggilan Owa dapat diubah menjadi perkiraan kepadatan populasi.
| Celia Felicity menyampaikan presentasi tentang bagaimana Kelompok Spesialis Spesies Indonesia (IUCN IdSSG) berkontribusi pada upaya konservasi spesies. |
Selanjutnya, Kurnia Ahmadin mempresentasikan sesi tentang pengumpulan data lapangan, yang berfokus pada keterampilan observasi, navigasi, dan konsistensi. Termasuk elemen-elemen kunci untuk hasil survei yang andal. Kemudian di malam hari, Celia Nova Felicity yang mewakili Kelompok Spesialis Spesies Indonesia (IdSSG), memperkenalkan peserta pada manajemen data kolaboratif dan pentingnya standardisasi status terancam punah spesies di Indonesia. Pada akhir hari, peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk mempersiapkan latihan lapangan pertama mereka pada hari berikutnya.
Hari ketiga dan keempat membawa para peserta jauh ke dalam Hutan Sokokembang, rumah bagi salah satu dari sedikit populasi Owa Jawa yang tersisa di Jawa Tengah. Setiap pagi dimulai saat fajar, ketika tim-tim mendaki ke titik pengamatan yang telah ditentukan. Hutan perlahan terbangun di sekitar mereka dan duet Owa yang sangat indah mulai bergema dari kanopi.
Berbekal perangkat GPS, ponsel pintar, dan lembar data, para peserta memasang perekam suara pasif di pepohonan, kemudian melanjutkan dengan mempraktikkan metode Triangulasi Hitungan Vokal (VCT), mencatat waktu panggilan dan arah kompas untuk memperkirakan lokasi kelompok. Jam-jam awal ini dipenuhi dengan fokus dan kekaguman yang tenang hingga pukul 10 pagi, kombinasi sempurna antara ketelitian ilmiah dan koneksi spiritual dengan alam.
| Aoliya-SwaraOwa memperkenalkan cara menganalisis populasiOwa berdasarkan metode triangulasi penghitungan vokal. |
Setelah kembali ke ruang kelas, hari itu dilanjutkan dengan kuliah tentang pemantauan bioakustik yang dipimpin oleh Nur Aoliya. Sesi tersebut memperkenalkan peserta pada dasar-dasar analisis suara, termasuk cara menggunakan perangkat lunak seperti RavenPro untuk memvisualisasikan dan menafsirkan suara hewan. Bagi banyak peserta, ini adalah pertama kalinya mereka melihat nyanyian Owa diubah menjadi spektrogram berwarna-warni—sidik jari vokal visual dari suara-suara tersembunyi di hutan.
Pembelajaran tidak berhenti sampai di situ. Sesi sore diisi dengan diskusi dan analisis data, termasuk cara menggunakan Google Earth Pro untuk memetakan titik panggilan dan melakukan triangulasi lokasi Owa. Setiap kelompok bekerja dengan data mereka sendiri, menguji berbagai pendekatan analitis dan membandingkan hasilnya.
| Dr. Long Tha Ha memperkenalkan primata Vietnam dan upaya konservasinya. |
Untuk menambah perspektif global, dua pembicara tamu dari Vietnam, Dr. Long Tha Ha, seorang ahli biologi dan konservasionis Vietnam yang memenangkan Penghargaan Konservasi Frankfurt 2025, yang kini memimpin program Frankfurt Zoological Society Vietnam, bergabung dalam pelatihan di malam hari, dan Bapak Tuan Van Bui, seorang primata yang menjalankan bisnis tur pengamatan primata di seluruh Vietnam. Dr. Long berbagi pengalamannya dalam penelitian primata di seluruh Asia Tenggara, menyoroti persamaan dan perbedaan antara spesies Owa, kondisi penelitian, dan latar belakang komunitas di Vietnam dan Indonesia. Sementara itu, Bapak Tuan Van Bui berbicara tentang potensi ekowisata yang berfokus pada primata sebagai alat konservasi, menginspirasi peserta untuk berpikir melampaui sains dan mempertimbangkan model mata pencaharian berkelanjutan yang terkait dengan konservasi melalui programnya yang dikenal sebagai HIVOOC, Vietnam Wildlife Adventure Tours.
| Tuan Van Bui memperkenalkan HIVOOC, proyeknya yang berfokus pada pengembangan Tour Petualangan Satwa Liar Vietnam. |
Setelah kembali dari observasi lapangan, hari keempat menggabungkan kerja analitis intensif dengan momen relaksasi. Para peserta menyempurnakan analisis data VCT dan bioakustik mereka, dibantu oleh mentor dan sesama peserta pelatihan. Beberapa kelompok membandingkan perhitungan manual mereka dengan peta digital, sementara yang lain berdebat tentang kemungkinan kesalahan atau pola menarik yang ditemukan dalam data lapangan.
Saat matahari terbenam di balik punggung bukit hutan, diskusi akademis berganti dengan tawa dan percakapan ringan. "Sesi bebas" malam itu berubah menjadi malam memanggang jagung secara spontan, di mana para peserta berkumpul di sekitar api unggun kecil, berbagi cerita, lagu-lagu lokal, dan refleksi dari waktu mereka di hutan.
“Ini bukan sekadar pelatihan; rasanya seperti keluarga kecil pelestarian lingkungan,” ujar salah satu peserta, dan memang, pada titik ini, kelompok tersebut telah membentuk ikatan yang kuat yang dibangun atas dasar tujuan bersama, tantangan di lapangan, dan kegembiraan belajar di alam terbuka.
| Pengamatan Primata - Owa Jawa di Hutan Sokokembang |
Pagi terakhir dimulai dengan sesi pengamatan primata yang santai namun menginspirasi di sepanjang tepi hutan. Para peserta menggunakan teropong dan keterampilan fotografi mereka untuk menemukan Owa, monyet daun, langur, dan burung. Itu adalah kegiatan reflektif, momen untuk terhubung kembali dengan alasan mengapa mereka datang ke tempat ini sejak awal.
Kemudian, setiap kelompok mempresentasikan temuan mereka, menampilkan peta, hasil analisis, dan refleksi tentang apa yang telah mereka pelajari. Presentasi tersebut bukan hanya laporan teknis tetapi juga narasi tentang pertumbuhan, bagaimana teori bertemu praktik, dan bagaimana kerja tim mengubah ketidakpastian menjadi pemahaman.
| Seekor Owa terlihat selama pelatihan. |
Para fasilitator memberikan umpan balik yang konstruktif dan memberikan apresiasi kepada tim berkinerja terbaik, yang data lapangan dan analisisnya menonjol karena akurasi dan kreativitasnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi penutup, yang dipenuhi dengan ucapan terima kasih dari para penyelenggara dan peserta.
Saat upacara pemberian sertifikat berakhir, para peserta mengemasi tas mereka, bertukar informasi kontak, dan mengambil foto grup terakhir di bawah kanopi hutan. Suasana dipenuhi rasa syukur, atas pengetahuan yang diperoleh, persahabatan yang terjalin, dan rasa tujuan yang diperbarui.
Kursus lapangan Sokokembang ke-12 tahun 2025 lebih dari sekadar lokakarya teknis; ini adalah ruang kelas hidup tempat sains, alam, dan komunitas berinteraksi. Kursus ini menyediakan ruang langka bagi para peneliti muda untuk belajar langsung dari para praktisi yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk konservasi primata. Dengan mengintegrasikan metode lapangan, analisis data, dan pertukaran lintas budaya, pelatihan ini mewujudkan pendekatan holistik SwaraOwa yang menggabungkan penelitian, pendidikan, dan konservasi berbasis komunitas.
Saat jip terakhir meninggalkan pusat Swaraowa, hutan perlahan kembali tenang. Namun, bagi para peserta, gema nyanyian Owa akan tetap terngiang sebagai pengingat abadi bahwa setiap suara di hutan membawa cerita yang layak dipelajari, dilindungi, dan dibagikan.
No comments:
Post a Comment