Showing posts with label presbytis. Show all posts
Showing posts with label presbytis. Show all posts

Monday, December 5, 2022

Kekah Watching : Wisata minat khusus untuk melestarikan Primata endemik Natuna

 Oleh : Arif Setiawan

Presbytis natunae- Kekah Natuna

Perjalan primate watching  bulan September 2022 menuju pulau di ujung utara nusantara, Pulau Natuna. Informasi tentang Natuna ini di awali dari expedisi ke natuna pada bulan November 2020. Kami berangkat ke Natuna, dari Pontianak, karena kebetulan ada kegiatan di Ketapang, Kalimantan Barat, kemudian ke Batam. Kurang lebih 1.45 menit penerbangan dari Batam menuju Natuna, tanggal 8 September 2022, pukul 16.20 saya menginjakkan kaki  dan menghirup udara segar bumi Natuna, sebuah pulau yang menjadi impian sejak lama untuk di kunjungi karena keberadaan jenis primata pemakan daun Kekah ( Presbytis natunae). Tujuan kami adalah Desa Mekar Jaya, di Kecamatan Bunguran Barat.  Bang Ahdiani , sudah menunggu kami, beliau adalah lokal hero, yang banyak membantu menyuarakan pelestarian primata asli natuna

Bang Ahdiani langsung mengajak kami ke salah satu lokasi istimewa yang menjadi land mark alami di Kepulauan Natuna, sejarah alam yang terbentuk dari era dinasaurus ada disini,  singkapan batuan granit dengan ukuran yang luar biasa dengan kombinasi bentang alam pantai, pemandangan yang tidak cukup diceritakan dengan kata-kata.

singkapan geologis kala jurasik di Natuna, dengan latar G.Ranai

Menurut penelitian geologi, Kepulauan Natuna terletak pada tumbukan antara kerak Samudera Hindia dan  paparan sunda  (Sundaland- dimana pada saat itu sebagian besar asia tenggara masih jadi satu daratan)  pada zaman Jurassic kira kira 200 juta tahun yang silam, yang nampak sekarang  adalah  singkapan batuan  granit  yang kokoh dan spektakuler di pantai-pantai di Pulau Natuna. Potensi geoheritage dan keanekargaman hayati yang ada didalamnya merupakan sejarah alam yang harus di lestarikan untuk ilmu pengetahuan dan warisan kekayaan alam generasi selanjutnya.

Terkait dengan Kekah Natuna ( Presbytis natunae) mari kita coba runut sejak kira-kira dari 6000  hingga 20.000 tahun yang silam, ketika sebagian besar  wilayah asia tenggara ini masih berupa daratan, bernama Sundaland .  Kemudian kalau kita melihat jaringan sungai purba saat itu, Natuna berada pada sekitaran sungai purba  Molengraff, sesuai dengan nama peneliti geologi dan penjelajah alam Gustaf Frederic Molengraff dari Belanda yang mempelajari sungai-sungai purba di dataran sudanland pada tahun 1800an. Sudah tentu kawasan ini adalah salah satu  pusat keanekargaman hayati bumi waktu itu. Perubahan iklim global dan vegetasi yang terjadi dalam ratusan kali siklus tentu membuat yang tidak dapat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan menjadi mati atau punah. Bukti-bukti sejarah alam tersebut yang kini kita coba rangkai  untuk merekonstruksi peristiwa yang terjadi.

Untuk melihat perubahan daratan menjadi lautan pada saat itu dapat dilihat disini:

Sundalan dan perode glasiasinya

https://atlantisjavasea.files.wordpress.com/2015/09/sundaland-in-the-last-glacial-period.gif

Ketika itulah diperkirakan ketika jaman dinosourus punah mamalia termasuk jenis-jenis monyet pemakan daun seperti Kekah menyebar dari daratan utama benua Asia  hingga menghuni dataran luas Sundaland. Hingga ke jawa, Kalimantan, dan Sumatra. Proses naik turunnya muka airlaut di kawasan ini diperkirakan terjadi dalam waktu berulang-ulang , merubah vegetasi dan iklim dari hutan dan padang rumput juga dalam periode waktu hingga 2 juta tahun. Speciasi atau penyesuaian dengan kondisi lingkungan yang ada, evolusi membentuk ciri khas berbeda dari masing-masing jenis-jenis primata khususnya Presbytis di kawasan sunda yang sudah terpisah-pisah menjadi Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Perbedaan  ciri-ciri morfologi dari warna rambut, ukuran tubuh, tengkorak dan suara, hingga saat ini yang digunakan sebagai dasar penentuan taxonomi kekah, dengan jenis Presbytis lainnya di pulau lainnya, Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil sekitarnya seperti Bintan, Singapura, dan semenanjung Malaysia.

Mantau Kekah, inisiasi dari Mekarjaya, Bunguran Barat Natuna


Melihatnya langsung hidup di habitat alam, “lifer” menjadi sebuah prestis tersendiri untuk pengamat primata, dan Kekah pada hari itu adalah lifer bagi saya. Melihat pertama kali di habitat kebun karet campur yang dekat dengan kawasan rawa mangrove. Pada jarak kurang lebih 65 meter. Terlihat jelas warna hitam tegas di kepala membentuk seperti mahkota, puggung hitam sampai di bagian tangan dan kaki,  sementara warna rambut putih bersih di bagian dada dan samping dada hinggak ke perut  bagian dalam dan paha bagian bawah , dan lingkar mata putihnya dan bagian hidung dan mulut , terlihat seperti memakai kacamata dan masker.

Kami berjalan menyusuri tepi desa, jalan yang sudah diperkeras, mempermudah pengamatan dan sepertinya Kekah di Mekar jaya aini sudah relatif terhabituasi, artinya tidak terlalu takut dengan keberadaan manusia. Kelompok pertama yang kita jumpai ada sekitar 3 individu. Beberapa meter kemudian kami menjumpai lagi, masih di kebun campur karet dan pohon kayu alam.



Landscape hutan di Natuna









Dalam satu hari itu kami terus menyusuri kebun hutan di sekitar Mekar jaya, melihat landscape yang lebih luas kondisi habitat dan perjumpaan-perjumpaan dengan kekah selanjutnya semakin mudah dan dekat. Biji pohon karet ternyata menjadi kesukaan kekah di Mekarjaya.

Pada pertemuan kongres primata di Equador tahun lalu, Kekah Natuna ini masuk dalam salah satu yang di pertimbangkan dalam 25 primata paling terancam punah di dunia, karena tidak ada informasi update apapun dari sejak pertama kali specimen ditemukan 86 tahun lalu, hanya ada 3 penelitian tentang Kekah Natuna,(bacalaporan lengkapnya di sini). Baru-baru ini ada satu publikasi  penelitian terbaru untuk Kekah di Mekarjaya  yang menyebutkan estimasi Kekah di 3 tipe habitat di sekitar dusun dengan luasan 1.236, 17 ha ini ada sekitar 928,2 individu Kekah. Penelitian ini dapat di baca selengkapnya disini : https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jmfkh/article/view/52427

 Kami juga melakukan pengamatan malam di Mekarjaya, dan sangat senang melihat Kubung (Galeopterus variegatus) dapat dengan mudah di jumpai. Target kami Kukang sayangnya dalam 2 malam tidak beruntung menemukannya. Yang sangat berkesan di mekarjaya ini adalah masakan lautnya, dan bang Ahdiani Mengajak kami berperahu melihat pulau-pulau kecil disekitar Mekarjaya. Melihat lokasi sea-ranch, pembiakan ikan napoleon di pulau Sedanau merupakan salah satu komoditas ekonomi utama yang sudah di ekspor dari Natuna, dan menikmati sajian kuliner khas natuna kepiting lada hitam.

Sajian kuliner natuna di sela sela kegiatan Kekah watching









Kegiatan Kekah Watching , mantau kekah  merupakan salah satu turunan dari produk penelitian primata, dengan keterbatasan untuk melakukan penelitian yang lebih jauh lagi tentang Kekah Natuna, menyelamatkan specimen hidup di habitat aslinya, merupakan langkah yang nyata. Pengamatan kekah dapat mendorong munculnya kesadaran nilai penting keanekaragaman hayati untuk mempertahankannya di antara gelombang pembangunan infrastruktur dan aktifitas manusia. Pengamatan kekah sudah tentu akan mendorong juga kegiatan ekonomi lokal, kebutuhan penginapan sajian kuliner dan pemandu pengamatan memanfaatkan dan bekerjasama sumberdaya yang ada di sekitar. Untuk jenis-jenis yang tidak banyak orang tahu seperti kekah, kunjungan kunjungan seperti ini akan memotivasi warga sekitar untuk lebih menghargai dan merasa memiliki keberadaan primata. Menguatkan mereka melakukan kegiatan yang meskipun kecil dan sederhana tapi berarti besar buat kelestarian Kekah.

Kekah di balik batang pohon karet

Anak kekah yang masih bayi berwarna putih

Pengamatan kekah juga mendorong peranserta masyarakat umum ( citizen science) dalam ilmu pengetahuan, primate life-listing kegiatan pengamatan dapat digunakan untuk informasi  sebagai dasar dalam pengelolaan populasi  dan habitat Kekah. Harapannya nilai tambah keberadaan kekah di Natuna dapat di optimalkan dalam berbagai hal termasuk ekologi, ekonomi, sosial dan budaya. Kekah natuna, dapat menjadi identitas yang dapat di gunakan secara global.  Kegiatan mengamati Kekah, dapat menjadi pilihan wisata minat khusus di Natuna, diantara pilihan-pilihan wisata yang sudah ada dan berkembang saat ini. Tidak menangkap, tidak memelihara dan tidak mengganggu Kekah dan menjaga habitatnya tetap ada, dapat dilakukan oleh siapa saja secara partisipatif dengan peran di bidang masing-masing.

Mengapa repot-repot mengamati primata? Pertama  kegiatan ini menyenangkan dan menawarkan pengalaman yang berbeda, mendekatkan anda ke alam, beriteraksi dengan warga setempat  disekitar habitat primata yang memiliki budaya dan latar belakang  yang bermacam-macam  yang mungkin tidak akan pernah Anda lihat sebelumnya,  ini akan menyehatkan mental anda ! Terlebih lagi, dengan membagikan penampakan Anda kepada orang lain, Anda dapat memperluas pemahaman ilmiah tentang makhluk unik ini,dan bisa jadi anda laporan anda akan sangat penting bagi ilmu pengetahuan.


Daftar pustaka :

Harrison, T., Krigbaum, J. and Manser, J., 2006. Primate biogeography and ecology on the Sunda Shelf islands: a paleontological and zooarchaeological perspective. In Primate biogeography (pp. 331-372). Springer, Boston, MA.

Friday, December 15, 2017

Joja Atapaipai : pesona dari Mentawai

Sipora, salah satu rangkaian 4 pulau besar di Kepulauan mentawai, menjadi tujuan primatewatching bulan lalu. Catatan penelitian primata di pulau ini sudah sejak tahun 70 an sudah ada kegiatan penelitian primata endemik mentawai. sudah tentu tempat ini menjadi populer di kalangan pegiat alam, yang sekedar melihat langsung  hidupan liar.

Meskipun sebagai pusat pemerintahan, tentunya prioritas pembangunan infrastruktur juga berdampak pada luasan hutan sebagai habitat hidupan liar yang hanya ada di pulau ini. Catatan-catatan perjumpaan hidupan liar di kepulauan mentawai, banyak di laporkan melalui penelitian-penelitian akademis, dan kadang bahasanya juga tidak selalu mudah di mengerti oleh masyarakat luas.  Pengambil kebijakan untuk pembangunan juga tidak sempat untuk membaca-baca laporan penelitian tersebut, sehingga  untuk referensi pembangunan juga tidak tersedia.

Tulisan ini bertujuan mempopulerkan dan mengarusutamakan pesona asli kepulauan mentawai, primata-primata endemik, berdasar  pengamatan lapangan di habitat asli dan menyampaikan kepada masyarakat luas agar mudah dipahami, dan di kenal oleh siapapun.

Joja dari Pulau Siberut

Hidupan liar di alam, juga memiliki nilai ekonomi yang bekelanjutan, dan sangat memungkinkan menjadi sebuah upaya perlindungan yang lestari bila di kembangkan dalam konteks pembangunan. Budaya global dengan nilai ke unikan hidupan liar tentu menjadi identitas tersendiri yang membedakan dengan tempat lain.


Salah satu yang menjadi daftar primata yang bisa kita jumpai di Sipora adalah Presbyts potenziani, jenis surili endemik mentawai, pemakan daun, warga sekitar mengenal dengan nama Atapaipai, yang berarti berekor panjang,  lebih umum dikenal dengan nama Joja di Siberut.

Joja Atapaipai dari Pulau Sipora

IUCN redlist mengkategorikan jenis primata ini menjadi 2 sub species, yang ada di Pulau Siberut,adalah Sombre bellied Mentawai Langur  (Presbytis potenziani ssp siberu) dan yang ada di 3 pulau lainnya (Pagai Utara, Pagai Selatan dan Sipora) sebagai Golden bellied Mentawai Langur (Presbytis potenziani ssp potenziani)  Secara morfologi memang terlihat bebeda, dan kami menjumpai di siberut dan, pagai dan juga di sipora. Joja Siberut mempunyai wana bagian dada ke perut agak gelap, smentara di Atapaipai yang di jumpai di Sipora dan Pagai mempunyai warana bulu bagian dada karah perut berwarna putih ke emasan.  Beberapa foto dari siberut juga mendapati warna putih di sekitar kemaluan.
Joja dari Pulau Siberut
Referensi :


Whittaker, D. & Mittermeier, R.A. 2008. Presbytis potenziani. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T18130A7667072. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T18130A7667072.en. 
Downloaded on 15 December 2017.

Fuentes, A., 1996. Feeding and ranging in the Mentawai Island langur (Presbytis potenziani). International Journal of Primatology, 17(4), pp.525-548.

Saturday, March 26, 2016

Mencari Rekrekan di Gunung Ungaran

ditulis oleh : Asman Adi Purwanto

Curug Lawe dan Perkebunan Teh Medini, Ungaran

Google Maps di Smartphone saya sudah susah untuk menunjukan arah jalan menuju Curug Lawe yang berada di kaki Gunung Ungaran, Kendal, Jawa Tengah 10 Maret lalu. Sinyal untuk internet mulai menghilang. Beruntunglah ada yang bisa kami tanya sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan kami ke curug lawe untuk mencari keberadaan Rekrekan  (Presbytis comata fredericae) dan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus).
Jalanan beraspal telah habis berganti dengan jalan makadam (berbatu) dan jalanan hanya bisa untuk satu mobil. Sampai akhirnya kami menemukan tanda-tanda perkampungan dan papan penunjuk jalan menuju Medino – Promasan. Tapi tidak untuk Curug Lawe. Nah lho?
Ternyata curug lawe yang kami tuju memang belum tenar seperti Curug Sewu Tawangmangu Kabupaten Karanganyar. Tempatnya nyelempit, dari kampung terakhir masih satu kilometer jarak tempuh jalan kaki. Dikarenakan waktu yang sudah menunjukan pukul 16:30 dan cuaca mendung akhirnya kamiputuskan untuk menginap di rumah salah seorang warga dan perjalanan ke curug lawe mencari kawanan Lutung Jawa keesokan harinya.
Dan, setelah kami tanya – tanya ke warga akhirnya kami menginap di Medini, di kediaman Pak Min yang menjadi Base Camp pendakian gunung ungaran.

********
 Jumat (11/03) pagi cuaca di medini terlihat kurang begitu bersahabat. Diluar rumah kabut terlihat cukup tebal disertai dengan gerimis.
“ Kalau sudah gerimis pasti turun kabut, Mas. Dan itu bisa sampai satu hari” terang pak Min kepada kami. “ Tidak apa-apa, Pak. Semoga saja nanti ada matahari” jawab saya.
Pak Min menyibukan diri membersihkan sampah dedaunan yang ada di halaman rumahnya. Beberapa kolam ikan Nila terisi sebagai cadangan sumber makanan keluarga. Beberapa warga terlihat bersiap memetik teh. Mereka diangkut menggunakan kendaraan Truk menuju lokasi perkebunan.
Waktu terus beranjak tapi kabut tak kunjung menghilang. Tapi ada tanda-tanda akan menghilang. Setelah makan pagi, kami berpamitan ke Pak Min dan keluarga untuk naik ke arah promasan. Menurut pak min, Lutung Jawa biasanya akan terlihat di hutan yang berada di atas perkebunan teh. Nah, kami coba mengamati lokasi yang disebutkan pak min. Menurut beliau kelompok lutung di jalur antara medini – promasan itu bisa diamati dari jalan.

Sepanjang perjalanan tampak para pemetik teh sedang memetik daun-daun teh yang masih terlihat segar. Beberapa sudah ada yang disimpan dipinggir jalan, dimasukan ke dalam karung angkut. Mereka terlihat tetap menggunakan jas hujan plastik. Siap-siap jika sewaktu-waktu turun hujan. Saya dan mas Wawan pun sesekali turun dari mobil dan mengamati kondisi hutan disekitar perkebunan teh. Hasilnya nihil, tidak ada penampakan lutung dan rekrekan.
Dilihat dari pencitraan satelit, kondisi hutan di sekitaran medini dan promasan itu terpetak – petak di punggungan yang berada diatas perkebunan teh medini. Sedangkan dari penampakan secara langsung kondisinya pun demikian. Hutan yang masih terlihat bagus terbagi – bagi di punggungan yang tidak dibuka sebagi perkebunan. Burung Cica koreng Jawa (Megalurus palustris) dan Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) menjadi pelipur lara saya karena belum ada penampakan lutung jawa seperti yang disebutkan Pak Min.
Cica Koreng Jawa

Dalam perjalanan turun, di seberang jalan terlihat tanda-tanda adanya sekelompok Lutung Jawa sedang mencari makan. Jarak dari posisi kami berdiri sekitar 270 meter, jika difoto hanya terlihat titik gumpalan hitam-hitam di pepohonan. Total lutung jawa yang teramati 6 ekor terdiri dari remaja dan dewasa. Pengamatan kami  lakukan sekitar 5 – 10 menit dan berhenti karena gerimis kembali turun. Para lutung tetap tenang memetik pucuk daun dan memasukannya ke mulut. Tak peduli gerimis kembali turun.

Perburuan Burung
Lokasi berikutnya adalah kawasan hutan di aliran sungai air terjun “curug” lawe. Menurut informasi dari KP3 Primata Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada yang sebelumnya berkegiatan dilokasi tersebut, ditemukan beberapa Lutung.
Mobil kami parkir di pinggir jalan dekat rumah warga. Menurut informasi warga sekitar, jarak dari tempat parkir ke curug lawe sekitar 1 kilometer. Hutan diatas aliran sungai tampak bagus dan rimbun. Tepat kalau dibilang sebagai habitat primata jawa. Hutannya masih terlihat alami dengan pohon-pohon besar mendominasi. Suara burung saling bersahutan. Minus suara burung elang yang selalu menjadi favorit saya. Mungkin karena cuaca siang itu baru saja selesai gerimis dan matahari tak kunjung keluar.
Sepah kecil, sebagai burung pemikat

Tak kurang seratus meter dari lokasi air terjun kami menemukan kegiatan perburuan burung. Terdapat dua sangkar burung yang di isi Sepah Kecil , Burungmadu Pengantin dan Gelatik Batu Kelabu sebagai burung pemikat. Metode yang digunakan adalah menggunakan getah pohon Artocarpus sp. yang dililitkan pada ranting dan sangkar burung diletakan di bawah ranting dengan perekat tersebut. Tidak lama kami berada di lokasi itu dua orang pemburu yang berasal dari daerah sekitar curug lawe itu muncul. Ternyata tidak hanya menggunakan getah sebagai perekat, mereka juga menggunakan jaring kabut dan burung pemikat lainnya yakni Beluk Ketupa (Ketupa ketupu).
Kegiatan penangkapan burung di curug lawe menurut keterangan dua orang pemburu tersebut memang kerap terjadi. Sasarannya adalah burung- burung kicau seperti Burungmadu, Sikatan, Kacamata, Cica daun dan burung kicau lainnya.

“ Sampeyan Cuma cari burung apa semua jenis satwa yang bisa ditangkap juga sampeyan ambil, Mas?”. Tanya saya kepada kedua pemburu tersebut. “Misal ada lutung juga sampeyan tangkap”. Saya menambahkan.“ndak, Mas. Kami Cuma cari burung saja kok, Mas. Itu saja susah, burungnya makin sedikit”. Jawab salah satu dari mereka.
“Biasanya sampeyan jual sendiri ke pasar apa ada pengepul yang datang ke rumah sampeyan? Atau sampeyan jual kemana?” “Dikumpulin dulu di rumah, kalau sudah kumpul dan burung sudah bisa makan pur (pelet) baru kami bawa ke pasar, Mas. Biasanya kami jual ke Wajo”

Curug Lawe

Kawasan Curug Lawe, Medini dan Ungaran pada khususnya merupakan kawasan diluar kawasan konservasi/lindung yang lemah segi penegakan hukumnya sehingga aktifitas perburuan burung dan satwaliar lainnya luput dari pengawasan pihak/instansi terkait. Yang kami khawatirkan para pemburu burung juga akan menangkap semua jenis satwa yang mereka temukan. Misal Lutung Jawa yang berada di kawasan curug lawe hingga ke ungaran.

Melalui kegiatan survey ini selain kami mencari data keberadaan Rekrekan dan Lutung Jawa di Ungaran juga sembari berbagi informasi kepada warga mengenai keberadaan dua jenis satwa tersebut. Hal itu kami harap bisa menjadi jembatan saling tukar informasi dengan warga. Meskipun target utama pencarian kami tidak tercapai, berbagi informasi kepada warga sekitar habitat rekrekan dan lutung jawa juga sangat penting. 

Wednesday, February 24, 2016

Jalak Lawu, nyanyian syahdu di hutan bisu

Di tulis oleh : Asman Adi Purwanto


suara burung Ceret Gunung

Hawa dingin langsung menyeruak menyerang kami yang datang dari dataran rendah, ketika kami datang di Cemoro Kandang. Suhu 13 – 14 derajat celcius saja sudah cukup membuat kami seperti kucing takut dengan air. "Tim monyet "SwaraOwa datang ke Cemoro Kandang di Lereng Selatan Gunung Lawu untuk melakukan pendataan kemungkinan adanya Surili Jawa atau yang biasa kami sebut dengan nama Rekrekan (Presbitys comata)

Saya mungkin satu-satunya anggota tim yang lebih fokus pada kegiatan pengamatan dan konservasi burung. Menjejakan kaki di Lawu adalah yang pertama kali buat saya. Berharap bisa mendapatkan banyak catatan baru yang tidak saya temukan di gunung – gunung lain di Pulau Jawa. Ceret Jawa (Locustella montis ) dan tentu saja sang legenda Jalak Gading atau Anis Gunung (Turdus poliocephalus stresemanni) mejadi target saya disela-sela mencari keberadaan primata endemik Jawa.

Suara-suara burung sudah mulai terdengar dari basecamp cemoro kandang tempat kami nge-pos. Beberapa jenis merupakan suara dari jenis burung yang sudah pernah kami jumpai sebelumnya sehingga bagi kami suara tersebut sudah tidak asing. Dan, kami bisa langsung mengenali suara tersebut. Begitu juga sepanjang jalur pendakian dan jalan setapak yang kami telusuri suara-suara burung dari yang kami kenal sampai dengan suara yang menurut kami masih asing menjadi penyemangat kami mencari keberadaan rekrekan (Presbytis comata) dan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus). Beberapa suara burung yang belum kami kenali, kami mencoba untuk merekam untuk kepentingan identifikasi.

Ceret Gunung (Cettia vulcania)merupakan burung yang paling umum. Di semua jalur yang kami masuki, kami selalu menemukan jenis tersebut. Awalnya saya pikir itu Ceret Jawa (Locustella montis) ternyata setelah yang punya suara keluar dari semak belukar langsung ketahuan. Dan,  ceret jawa yang menjadi target saya, saya hanya mendengarkan suaranya saja tanpa melihat langsung wujud aslinya.

Di jalur cemoro kandang hal menarik lainnya selain melimpahnya jenis ceret gunung, kami juga menemikan aktifitas Ciu Besar (Pteruthius flaviscapis) yang membawa mangsa di paruhnya dan selalu mengeluarkan suara peringatan. Jantan dan Betina ciu besar selalu bersamaan mengeluarkan suara ketika ada kami dilokasi dimana kami juga menemukan suara Lutung Jawa dihari pertama. Asumsi kami sepasang burung tersebut sedang dalam masa berbiak dan posisi sarang bisa jadi ada di lokasi itu.
Jalak Lawu


Tidak kami cari, keberuntungan datang, si Jalak gading,  atau Jalak Lawu pun akhirnya, menampakan diri dan langsung beraksi di depan camera. Burung ini adalah salah satu ras burung kicau dari marga Turdidae,  yang hanya ada  di G.lawu tidak di jumpai  di tempat lain.

Sekitar 20 jenis burung yang kami jumpai dalam waktu 4 hari, dengan jumlah jenis burung yang kami temukan justru  menjadi keheranan bagi kami. Mengapa demikian?

Hutan lereng selatan gunung lawu memiliki tipe habitat hutan hujan tropis dengan vegetasi yang masih sangat bagus. Bahkan lebih bagus dari Merbabu. Dengan kondisi demikian, ekspektasi kami pada saat berangkat kami dapat menjumpai jenis satwa yang cukup melimpah, mulai dari aves sampai mamalia. Akan tetapi dugaan kami meleset, hutan begitu sepi dari suara burung, jejak mamalia baik jejak kaki dan kotoran, yang ada hanya jejak roda sepeda motor.
Mungkin hal ini terjadi akibat dari dampak penangkapan burung yang cukup tinggi di kawasan tersebut. Pak Kholil, mantri perhutani wilayah magetan dalam obrolan santai mengatakan masih saja ada orang-orang tak bertanggung jawab masuk ke kawasan lawu untuk menangkap burung.
“Yang masuk menangkap burung ya ada saja, mas. Mereka masuk melalui jalan-jalan setapak yang jauh dari pantauan kami”. Jelas pak Kholil, dan keterbatasan personel untuk mengamankan kawasan yang luas.

Kegiatan perburuan satwa mempunya dampak yang sangat besar terhadap populasi satwa di alam khususnya burung. Hilangnya burung burung ini juga mengakibatkan peran penting dari burung tersebut juga hilang. Sudah nyata, menikmati kicauan burung di hutan tidak lagi terdengar, fungsi burung sebagai pengendali hama, sudah dirasakan petani, dan fungsinya digantikan dengan pestisida kimia. 
Dari beberapa pengalaman kami mengunjungi beberapa kawasan hutan yang memiliki intensias penangkapan burungnya tinggi, hutan – hutan menjadi sunyi sekan bisu, " Empty forest syndrome” .

Melalui kegiatan survey surili jawa ini, kami berharap dan mengajak semua pihak untuk berpartisipasi aktif menjaga ekosistem Gunung Lawu. Hal itu disambut baik oleh Komunitas Anak Gunung Lawu  (AGL)  yang mengharapkan hasil dari kegiatan ini dapat menjadi rujukan mereka dalam berkontribusi nyata melestarikan kawasan lawu khususnya di kawasan cemoro kandang hingga ke Puncak Lawu. 

Tuesday, February 9, 2016

Survey Rekrekan Jawa Tengah


Tahun monyet 2016, ini kami akan memulai kegiatan konservasi primata Jawa dengan mereview kembali beberapa species primata Jawa yang kurang mendapat perhatian dan perlu informasi terbaru terkait dengan distribusi, populasi, ancaman dan kondisi habitatnya. Salah satu primata jawa yang menjadi prioritas untuk kita perbaharui informasinya adalah “Rekrekan” (Presbytis fredericae).

Penelitian tentang populasi dan distribusi, perilaku dan habitat di antaranya telah dilakukan di Gunung Slamet, Hutan Sokokembang , dan Gunung Merbabu. Saat ini primata ini termasuk kategori endangered dalam IUCN redlist, dan mengenai distribusinya hingga saat ini sebaran paling timur yang sudah tercatat secara ilmiah adalah di Gunung Merbabu. Namun beberapa laporan sebelumnya memberi catatan tentang keberadaan monyet pemakan daun ini, terdapat di Gunung Lawu, namun hanya menyebutkan bahwa catatan tersebut berdasarkan informasi warga yang medengar suaranya saja.

Olehkarena itu, tim SwaraOwa bulan februari ini mulai bergerak dari bagian timur propinsi Jawa Tengah, untuk mencari keberadaan Rekrekan, survey ini juga menjadi bagian promosi konservasi primata endemic jawa ke beberapa pihak terkait dan mempromosikan pelestarian monyet ini, untuk memeperkuat nilai fungsinya sebagai jenis endemik Jawa.
Ikuti kabar lapangan dari kegiatan survey Rekrekan di blog ini, akun sosial media kami : twitter, IG, FB @swaraOwa.

Bacaan : 
http://www.iucnredlist.org/details/18125/0
https://www.researchgate.net/publication/275516529_Population_and_distribution_of_Rekrekan_Presbytis_fredericae_in_the_southern_slope_of_Mt_Slamet_Central_Java
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78018