Showing posts with label primate watching. Show all posts
Showing posts with label primate watching. Show all posts

Monday, December 5, 2022

Kekah Watching : Wisata minat khusus untuk melestarikan Primata endemik Natuna

 Oleh : Arif Setiawan

Presbytis natunae- Kekah Natuna

Perjalan primate watching  bulan September 2022 menuju pulau di ujung utara nusantara, Pulau Natuna. Informasi tentang Natuna ini di awali dari expedisi ke natuna pada bulan November 2020. Kami berangkat ke Natuna, dari Pontianak, karena kebetulan ada kegiatan di Ketapang, Kalimantan Barat, kemudian ke Batam. Kurang lebih 1.45 menit penerbangan dari Batam menuju Natuna, tanggal 8 September 2022, pukul 16.20 saya menginjakkan kaki  dan menghirup udara segar bumi Natuna, sebuah pulau yang menjadi impian sejak lama untuk di kunjungi karena keberadaan jenis primata pemakan daun Kekah ( Presbytis natunae). Tujuan kami adalah Desa Mekar Jaya, di Kecamatan Bunguran Barat.  Bang Ahdiani , sudah menunggu kami, beliau adalah lokal hero, yang banyak membantu menyuarakan pelestarian primata asli natuna

Bang Ahdiani langsung mengajak kami ke salah satu lokasi istimewa yang menjadi land mark alami di Kepulauan Natuna, sejarah alam yang terbentuk dari era dinasaurus ada disini,  singkapan batuan granit dengan ukuran yang luar biasa dengan kombinasi bentang alam pantai, pemandangan yang tidak cukup diceritakan dengan kata-kata.

singkapan geologis kala jurasik di Natuna, dengan latar G.Ranai

Menurut penelitian geologi, Kepulauan Natuna terletak pada tumbukan antara kerak Samudera Hindia dan  paparan sunda  (Sundaland- dimana pada saat itu sebagian besar asia tenggara masih jadi satu daratan)  pada zaman Jurassic kira kira 200 juta tahun yang silam, yang nampak sekarang  adalah  singkapan batuan  granit  yang kokoh dan spektakuler di pantai-pantai di Pulau Natuna. Potensi geoheritage dan keanekargaman hayati yang ada didalamnya merupakan sejarah alam yang harus di lestarikan untuk ilmu pengetahuan dan warisan kekayaan alam generasi selanjutnya.

Terkait dengan Kekah Natuna ( Presbytis natunae) mari kita coba runut sejak kira-kira dari 6000  hingga 20.000 tahun yang silam, ketika sebagian besar  wilayah asia tenggara ini masih berupa daratan, bernama Sundaland .  Kemudian kalau kita melihat jaringan sungai purba saat itu, Natuna berada pada sekitaran sungai purba  Molengraff, sesuai dengan nama peneliti geologi dan penjelajah alam Gustaf Frederic Molengraff dari Belanda yang mempelajari sungai-sungai purba di dataran sudanland pada tahun 1800an. Sudah tentu kawasan ini adalah salah satu  pusat keanekargaman hayati bumi waktu itu. Perubahan iklim global dan vegetasi yang terjadi dalam ratusan kali siklus tentu membuat yang tidak dapat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan menjadi mati atau punah. Bukti-bukti sejarah alam tersebut yang kini kita coba rangkai  untuk merekonstruksi peristiwa yang terjadi.

Untuk melihat perubahan daratan menjadi lautan pada saat itu dapat dilihat disini:

Sundalan dan perode glasiasinya

https://atlantisjavasea.files.wordpress.com/2015/09/sundaland-in-the-last-glacial-period.gif

Ketika itulah diperkirakan ketika jaman dinosourus punah mamalia termasuk jenis-jenis monyet pemakan daun seperti Kekah menyebar dari daratan utama benua Asia  hingga menghuni dataran luas Sundaland. Hingga ke jawa, Kalimantan, dan Sumatra. Proses naik turunnya muka airlaut di kawasan ini diperkirakan terjadi dalam waktu berulang-ulang , merubah vegetasi dan iklim dari hutan dan padang rumput juga dalam periode waktu hingga 2 juta tahun. Speciasi atau penyesuaian dengan kondisi lingkungan yang ada, evolusi membentuk ciri khas berbeda dari masing-masing jenis-jenis primata khususnya Presbytis di kawasan sunda yang sudah terpisah-pisah menjadi Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Perbedaan  ciri-ciri morfologi dari warna rambut, ukuran tubuh, tengkorak dan suara, hingga saat ini yang digunakan sebagai dasar penentuan taxonomi kekah, dengan jenis Presbytis lainnya di pulau lainnya, Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil sekitarnya seperti Bintan, Singapura, dan semenanjung Malaysia.

Mantau Kekah, inisiasi dari Mekarjaya, Bunguran Barat Natuna


Melihatnya langsung hidup di habitat alam, “lifer” menjadi sebuah prestis tersendiri untuk pengamat primata, dan Kekah pada hari itu adalah lifer bagi saya. Melihat pertama kali di habitat kebun karet campur yang dekat dengan kawasan rawa mangrove. Pada jarak kurang lebih 65 meter. Terlihat jelas warna hitam tegas di kepala membentuk seperti mahkota, puggung hitam sampai di bagian tangan dan kaki,  sementara warna rambut putih bersih di bagian dada dan samping dada hinggak ke perut  bagian dalam dan paha bagian bawah , dan lingkar mata putihnya dan bagian hidung dan mulut , terlihat seperti memakai kacamata dan masker.

Kami berjalan menyusuri tepi desa, jalan yang sudah diperkeras, mempermudah pengamatan dan sepertinya Kekah di Mekar jaya aini sudah relatif terhabituasi, artinya tidak terlalu takut dengan keberadaan manusia. Kelompok pertama yang kita jumpai ada sekitar 3 individu. Beberapa meter kemudian kami menjumpai lagi, masih di kebun campur karet dan pohon kayu alam.



Landscape hutan di Natuna









Dalam satu hari itu kami terus menyusuri kebun hutan di sekitar Mekar jaya, melihat landscape yang lebih luas kondisi habitat dan perjumpaan-perjumpaan dengan kekah selanjutnya semakin mudah dan dekat. Biji pohon karet ternyata menjadi kesukaan kekah di Mekarjaya.

Pada pertemuan kongres primata di Equador tahun lalu, Kekah Natuna ini masuk dalam salah satu yang di pertimbangkan dalam 25 primata paling terancam punah di dunia, karena tidak ada informasi update apapun dari sejak pertama kali specimen ditemukan 86 tahun lalu, hanya ada 3 penelitian tentang Kekah Natuna,(bacalaporan lengkapnya di sini). Baru-baru ini ada satu publikasi  penelitian terbaru untuk Kekah di Mekarjaya  yang menyebutkan estimasi Kekah di 3 tipe habitat di sekitar dusun dengan luasan 1.236, 17 ha ini ada sekitar 928,2 individu Kekah. Penelitian ini dapat di baca selengkapnya disini : https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jmfkh/article/view/52427

 Kami juga melakukan pengamatan malam di Mekarjaya, dan sangat senang melihat Kubung (Galeopterus variegatus) dapat dengan mudah di jumpai. Target kami Kukang sayangnya dalam 2 malam tidak beruntung menemukannya. Yang sangat berkesan di mekarjaya ini adalah masakan lautnya, dan bang Ahdiani Mengajak kami berperahu melihat pulau-pulau kecil disekitar Mekarjaya. Melihat lokasi sea-ranch, pembiakan ikan napoleon di pulau Sedanau merupakan salah satu komoditas ekonomi utama yang sudah di ekspor dari Natuna, dan menikmati sajian kuliner khas natuna kepiting lada hitam.

Sajian kuliner natuna di sela sela kegiatan Kekah watching









Kegiatan Kekah Watching , mantau kekah  merupakan salah satu turunan dari produk penelitian primata, dengan keterbatasan untuk melakukan penelitian yang lebih jauh lagi tentang Kekah Natuna, menyelamatkan specimen hidup di habitat aslinya, merupakan langkah yang nyata. Pengamatan kekah dapat mendorong munculnya kesadaran nilai penting keanekaragaman hayati untuk mempertahankannya di antara gelombang pembangunan infrastruktur dan aktifitas manusia. Pengamatan kekah sudah tentu akan mendorong juga kegiatan ekonomi lokal, kebutuhan penginapan sajian kuliner dan pemandu pengamatan memanfaatkan dan bekerjasama sumberdaya yang ada di sekitar. Untuk jenis-jenis yang tidak banyak orang tahu seperti kekah, kunjungan kunjungan seperti ini akan memotivasi warga sekitar untuk lebih menghargai dan merasa memiliki keberadaan primata. Menguatkan mereka melakukan kegiatan yang meskipun kecil dan sederhana tapi berarti besar buat kelestarian Kekah.

Kekah di balik batang pohon karet

Anak kekah yang masih bayi berwarna putih

Pengamatan kekah juga mendorong peranserta masyarakat umum ( citizen science) dalam ilmu pengetahuan, primate life-listing kegiatan pengamatan dapat digunakan untuk informasi  sebagai dasar dalam pengelolaan populasi  dan habitat Kekah. Harapannya nilai tambah keberadaan kekah di Natuna dapat di optimalkan dalam berbagai hal termasuk ekologi, ekonomi, sosial dan budaya. Kekah natuna, dapat menjadi identitas yang dapat di gunakan secara global.  Kegiatan mengamati Kekah, dapat menjadi pilihan wisata minat khusus di Natuna, diantara pilihan-pilihan wisata yang sudah ada dan berkembang saat ini. Tidak menangkap, tidak memelihara dan tidak mengganggu Kekah dan menjaga habitatnya tetap ada, dapat dilakukan oleh siapa saja secara partisipatif dengan peran di bidang masing-masing.

Mengapa repot-repot mengamati primata? Pertama  kegiatan ini menyenangkan dan menawarkan pengalaman yang berbeda, mendekatkan anda ke alam, beriteraksi dengan warga setempat  disekitar habitat primata yang memiliki budaya dan latar belakang  yang bermacam-macam  yang mungkin tidak akan pernah Anda lihat sebelumnya,  ini akan menyehatkan mental anda ! Terlebih lagi, dengan membagikan penampakan Anda kepada orang lain, Anda dapat memperluas pemahaman ilmiah tentang makhluk unik ini,dan bisa jadi anda laporan anda akan sangat penting bagi ilmu pengetahuan.


Daftar pustaka :

Harrison, T., Krigbaum, J. and Manser, J., 2006. Primate biogeography and ecology on the Sunda Shelf islands: a paleontological and zooarchaeological perspective. In Primate biogeography (pp. 331-372). Springer, Boston, MA.

Wednesday, November 29, 2017

Siregol Primate Watching


Kegiatan yang fun namun ada tambahan pengetahuan dan pengalaman konservasi menjadi salah satu strategi untuk melestarikan primata Indonesia. Siregol primate watching, tanggal 25-26 November 2017, sebuah event yang di gagas oleh warga sekitar habitat Owa Desa Kramat, Kecamatan.Karang moncol  dan Perhimpunan Pegiat Alam Ganesha Muda Purbalingga, telah berhasil mengundang setidanya 38 peserta dari berbagai institusi, seperti mahasiswa, kelompok pecinta alam, LSM, dan staff pemerintah.  Tujuan kegiatan ini adalah mengenal primata dan melihat langsung habitat primata di sekitar desa Kramat. Kegiatan ini juga inisiasi awal untuk mengarusutamakan pelestarian primata dan habitatnya untuk melibatkan masyarakat umum.  
Habitat Owa, Siregol


Swaraowa berpartisipasi untuk mendukung kegiatan ini, sebagai  bagian dari salah satu tujuan untuk  melestarikan primata dan habitat aslinya, khususnya Owa jawa dan juga memfasilitasi diskusi dan memandu kegiatan pengamatan primata di bukit Siregol, desa Keramat.  Menjelang malam tanggal 25 November, para peserta mulai berdatangan, sebagai pengantar kegiatan Siregol primate watching ini, Bapak kepala desa Keramat dan wakil dari Perhutani membeirkan sambutan selamat datang kepada para peserta. ( video diskusi siregol primate watching https://www.youtube.com/watch?v=R8A9eYvnvlc) 
foto bersama peserta Siregol Primate Watching. foto oleh : M.Faiz

Selanjutnya, diskusi tentang upaya pelestarian primata di wilayah Jawa Tengah di sampaikan oleh mas Apris dari Biodiversity Society Purwokerto dan mas Agus dari BKSDA Jawa Tengah. Mas apris menceritakan pengalamannya membangun upaya pelestarian satwa langka di sekitar desa Melung lereng selatan Gunung Slamet dan mas Agus dari BKSDA Jawa Tengah, turut berbagi pengalaman tentang peran pemerintah dalam melindungi satwa langka .
Diskusi kelompok Setelah pengamatan. Foto Oleh : M.Faiz

Esok harinya tanggal 26 November, acara pengamatan di mulai pukul 5.30 pagi, langsung menuju lokasi pengamatan di tepi jalan antara dusun Kramat dan dusun Sirau. Bukit Siregol, sangat unik dengan landscape pegunungan karst dan vegetasi alami hutan hujan tropis jawa yang tidak dapat di jangkau namun dapat di nikmati pemandangannya dari jarak tidak terlalu jauh.  Peserta yang berjumlah 38 ditambah dengan panitia di bagi menjadi 3 kelompok, yang berjalan dengan jeda 10 menit menyusuri jalan tepi tebing bukit siregol sejauh kurang lebih 3 km.  Tercatat langsung pagi itu 1 kelompok Owa (Hylobates moloch )yang terdiri dari 3 individu, dan 2 kelompok Lutung ( Trachypithecus auratus) teramati. Binokuler, Monokuler dan kamera tele sangat di butuhkan untuk pengamatan di Siregol, karena jarak yang cukup jauh untuk mata telanjang mengidentifikasi primata yang teramati.

Salah satu kegiatan penutup di acara ini adalah pemberian sertifikat, untuk mengapresiasi peserta yang turut berpartisipasi.  Hal yang sederhana namun sangat berarti bagi mungkin sebagian peserta bahwa pengalaman pengamatan primata ini menjadi hal yang berbeda dan sangat mungkin untuk melakukan lagi kegiatan serupa di tempat lain.

salah satu peserta dengan sertifikat siregol primate watching
Siregol primate watching setidaknya telah memotivasi warga sekitar habitat primata , bahwa wilayah mereka masih mempunyai keunikan yang tidak dimiliki daerah lain, harus dilestarikan,  dan membangun jaringan pegiat konservasi khususnya di wilayah Jawa Tengah. Kelestarian hutan dan nilai penting flora fauna ini juga merupakan identitas daerah yang sangat penting dalam pergaulan global.  Potensi keanekargaman hayati, dengan ke unikannya sudah selayaknya menjadi prioritas dalam pembangunan yang berkelanjutan.