Showing posts with label Indonesiangibbon. Show all posts
Showing posts with label Indonesiangibbon. Show all posts

Tuesday, July 21, 2020

Owa Jawa : Kopi dan Konservasi Primata

Oleh : A.Setiawan (a.setiawan@swaraowa.org)

Owa jawa (Hylobates moloch)

Kabar terbaru dari habitat owa jawa, minggu ini kami melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda karena pandemi Covid_19. Progam Kopi dan Konservasi Primata yang telah di mulai sejak tahun 2012, untuk mendukung pelestarian owa jawa di wilayah Jawa Tengah. Kopi yang menjadi pilihan komoditas yang dapat menggerakkan roda ekonomi di sekitar hutan habitat Owa memberikan harapan positif, dengan munculnya unit-unit kelompok usaha kopi di sekitar hutan Owa. Perubahan yang Nampak terlihat ketika panen kopi dibanding awal kita mulai project ini, kalau dulu jalan di dusun-dusun di Petungkriyono ini banyak kopi yang di jemur di jalan dengan kondisi kopi yang di jemur campur, sekarang sudah sebagian sudah ada  menjemur biji kopi lebih bersih, setidaknya sekarang sudah ada perbedaan dan peningkatan dalam mengelola kopi. Untuk melihat dan komunikasi lasung dan mendapatkan produk-produk ini dapat berkunjung langsung ke dusun Sokokembang, di Petungkriyono, Pekalongan,  swaraowa headquarter di Yogyakarta atau melalui sosial media owa coffee. 


Proses penjemuran kopi di Sokokembang

Selain peningkatan pengetahuan tentang pengolahan kopi, melalui proyek ini kami juga mencoba melihat kemungkinan pengembangan unit usaha kopi di sektor hulu, melalui penyediaan bibit kopi, selain mengantisipasi produksi di masa mendatang, kegiatan ini juga memberikan dampak positif untuk pengembangan pengetahuan, pengalaman, dan sebagai alternatif pendapatan ekonomi dari produksi kopi itu sendiri. Adanya unit-unit kelola kopi yang tersebar di beberapa dusun di Petungkriyono, saat ini sudah ada alat sangrai kopi yang banyak di gunakan warga sekitar untuk menyangrai kopi untuk dikonsumsi sendiri atau pun di jual kembali. Apresiasi terhadap kopi itu sendiri juga sudah mulai terlihat, bahwa warga juga sudah menghargai kopi mereka sendiri, kemudian mengajak oranglain untuk menghargai kopi mereka yang mereka produksi.

Pembibitan Kopi di Sokokembang yang dimulai tahun 2018

Bibit bibit kopi ini kami kembangkan dari varietas yang sudah ada saat ini, jenis Kopi Arabica  varietas typica, atau di kenal dengan nama kopi jawa dan kopi Robusta. Yang sudah ada sejak jaman Belanda di kawasan ini. Pemilihan jenis ini lebih karena adaptasi yang sudah sejak lama, di kawasan pegunungan Jawa bagian Tengah. Pendekatan yang kami lakukan karena kegiatan ini dalam rangka mendukung kegiatan pelestarian Owa Jawa dan habitat aslinya, kami berkomunikasi dengan para pemburu-pemburu satwaliar di Petungkriyono, mencoba menyampaikan bahwa aktifitas perburuan yang dilakukan tidak akan mendatangkan uang yang membawa kebaikan  dan sudah pasti  juga merusak hutan.


Pembibitan kopi ini selain kami buat di dusun Sokokembang, juga kami buat di dusun Candi, dan tahun ini berhasil memproduksi bibit kopi kurang lebih 1500 bibit kopi yang sudah siap tanam, dan ada kuranglebih 20,000 bibit yang sedang dalam prooses. Bibit ini kami distribusikan ke petani di sekitar habitat Owa Jawa, di wilayah Jawa Tengah dan juga kami gunakan untuk fundrising, di jual untuk umum, dana yang terkumpul dari penjualan ini akan di gunakan kembali untuk kegiatan lapangan. Untuk taham pertama kami mengirim bibit kopi ke Dusun Gunung Malang di Purbalingga, Jawa Tengah. Hutan Gunung Slamet adalah habitat dari primata endemik dan mamalia Jawa 1, 2, 3.  Ada salah satu warga yang dulu juga terlibat dalam kegiatan survey Owa1, dan kebetulan juga mantan pemburu yang mau mengelola dan menanam kopi di lahannya.  Kami juga sempat melihat langsung habitat Owa di Gunung slamet ini, dan lokasi dimana kopi akan ditanam. Ancaman pembukaan hutan untuk perkebunan sepertinya masih ada, meningkatnya industri tanaman sayur di kawasan ini sudah tentu akan memberi tekanan tinggi terhadap tegakan hutan alam yang ada. Aktifitas kawasan penyangga hutan alam, kopi yang di bawa ke dusun Gunung Malang ini harapannya dapat memberikan alternative komoditas yang dapat di kelola bersamaan dengan tanaman pangan lainnya. Sistem budidaya wana tani yang mencampurkan berbagai macam komoditas akan memberikan nilai ekonomi sekaligus mendukung praktik terbaik dari pertanian di kawasan sekitar hutan.

Kawasan penyangga hutan lindung G.Slamet, lereng timur

Aktifitas para pemburu hutan untuk aktif mengelola lahan kopi akan menjadi kesibukan tersendiri yang sudah jelas hasil yang akan di peroleh, daripada harus berburu kehutan tanpa ada hasil yang pasti. Kegiatan berburu yang sifatnya mengeksplotasi sumberdaya alam di gantikan dengan kegiatan ekonomi produktif yang melestarikan hutan.


Daftar pustaka :
1. Setiawan, A., Wibisono, Y., Nugroho, T.S., Agustin, I.Y., Imron, M.A. and Pudyatmoko, S., 2010. Javan Surili: A Survey Population and Distribution in Mt. Slamet Central Java, Indonesia. Jurnal Primatologi Indonesia, 7(2).
2. Setiawan, A., Nugroho, T.S., Wibisono, Y., Ikawati, V. and SUGARDJITO, J., 2012. Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 13(1).
3. Maharadatunkamsi, M., 2017. Profil Mamalia Kecil Gunung Slamet Jawa Tengah. Jurnal Biologi Indonesia, 7(1).

Sunday, December 9, 2018

SwaraOwa (Voice of the Gibbon): A Coffee Adventure


by Adeline Chang

The Coffee and Primate Conservation Project was started in 2012, by the SwaraOwa team, building upon an earlier project by Arif Setiawan in 2008. The main object is to conserve the endangered Javanese Gibbon and its natural habitat. The spends its time swinging through the rainforests on the Indonesian island of Java. Villages are scattered throughout the rainforest, and community investment is essential! To increase interest in conserving the rainforest, SwaraOwa supports the villagers to (sustainably) scale up production of the coffee that already grows naturally in the forest, learn about proper cultivation and sorting techniques, and obtain better access to the coffee markets.
֍
Meeting
It was sweltering the day I met Arif Setiawan (he prefers Wawan) at the Singapore Botanic Gardens. We were cocooned in an air-conditioned room, where three different speakers shared their primate conservation projects in Indonesia. When it was Wawan’s turn, he stood up with a big smile and a relaxed nature that bespoke a deep inner peace. Speaking animatedly, he told us about his team’s work with village communities to conserve gibbons and their rainforest habitats. Out in the lush isolation, they had formed connections that were improving the financial security of villagers, and slowly transforming the way villagers saw the rainforest. A truly beautiful long-term project.
What most piqued my interest that day, however, was their leveraging of shade-grown coffee. With the project’s support, the coffee plant already growing naturally under the steady shade and protection of the rainforest canopy became a source of income for the villagers – a clever, economic and biodynamic way of encouraging them to value and live in harmony with the rainforest and its other animal inhabitants.
Coffee! The ex-barista in me was wide awake and at attention.  
After the talk, I made a beeline for Wawan, where I asked him curiously about how much income the coffee planting brought villagers (a supplementary amount, as it turns out), and about the sales avenues for the coffee. I was flying to Indonesia the following month for a meditation stay and short holiday, and when I said I’d be in Yogyakarta and would love to visit the forest, this beast of a gentleman immediately invited me to visit their office and roasting facility.
Fast forward a month, and after my first visit to the office, Wawan messaged me to say they were visiting the field site, 7 hours from Yogyakarta. There was a seat for me in the jeep – did I want to come along?
Of course, I said yes!
֍
The Journey
I arrive late at the building, heart racing. My usually unkempt short hair lies flat, plastered to my head with sweat, as I nudge the helmet off my head and hand it to the ojek driver. “Makasih, pak.” It’s 40 minutes past when I was meant to arrive.
But I’ve forgotten about Indonesia’s jam karet – what they call rubber time, a pointer to that incredible flexibility with which people treat the hours of the day.
As I walk into the office-warehouse-discussion centre rolled in one, apologising profusely, everyone tells me to relax. Wawan is hard at work on his computer, Yoshi immediately starts brewing me a coffee, and our bee expert Sidiq has yet to arrive. The aroma of roasting coffee wafts over from the next room as I sit contentedly.
It’s nearly 12 when we begin our drive in the muggy heat. The windows of the Jeep are rolled down, but only when it begins pouring does the cooling air bring blessed respite. We pass out of the jam-packed city and through smaller towns and streaks of empty surrounded by hulking trees, stopping every couple of hours so Yoshi can take a break. By the time we enter the Sokokembang forest, night has fallen – it’s eerie winding along the road in the dark, car lights at full beam, our eyes peeled for snakes, civets, even Javan leopards. But no luck tonight.
In the village, we are hosted by the Sokokembang village chief and his wife, Pak E and Mak E. Beside the chief’s front porch sits a little Swara Owa office – about 5 by 3 metres, lit up by hydro-powered lights, just like everything else in the village, which doesn’t have access to the electric grid. My room, in contrast, is constantly lit by a light with no off-switch, and permanently damp and cool. 
Exhausted by the journey, I quickly fall asleep.
֍
The Field
The next day, the jungle swallows us into its wild arms. We walk for an hour, eyes fixed on the green canopies. Wawan is an expert at spotting the groups of primates, scanning the tree canopies and pointing them out to me.
The first time I catch sight of a leaf monkey is magical. In the gentle morning light, the heart-shaped silver of its face gleams, while its body shines black and glossy. Through my binoculars its eyes seem to gaze straight into mine.

(Photo by Arif) A lutung and her young, pausing on a branch.

The silvery gibbon (owa, in Indonesian) – the namesake of this conservation project – is, in contrast, far less delicate in appearance. Warm grey, it fills out its curves and swings with easy agility from branch to branch.

(Photo by Arif) A Javan gibbon, its strong, endlessly long arm stretched high for support.

Visiting Gondang Village
It takes us half an hour to curve northwards, hugging the cliff, as the paddy fields fall away into sparse forest. The last stretch of our journey can barely be called a road, and I feel myself slip-sliding as our black four-wheeler bumps its way, snail-like, along the rocky track.


As we move inwards from the cliff edges, the view is stunning – grey puffs caressing the lush, verdant fields. 


On this last stretch of road, the drive becomes extremely slow going.

I feel a sense of relief when we arrive; my bum is beginning to hurt.
Inside the Gondang village chief’s house, darkness reigns. Sparse daylight filters into a space that’s both living room and kitchen. For chairs, we arrange tiny wooden blocks around the low table: I imitate Yoshi, who stacks two together to make a more comfortable seat.
Pak Untung, the chief, is dressed neatly in a blue polo, with a kind, handsome face and crow lines that crease every time he smiles or laughs. Everyone shakes hands with him before bringing them, gently, towards their chests. He grins when Wawan gives him a box of bak pia, a pastry filled with crumbly green bean, and passes it to his wife.
After we settle down, they begin a long chat. Their words are interspersed with easy silences, funny stories, and dramatic jokes which leave everyone roaring with laughter. Pak Untung tells them about the most recent harvest (“bad”, he says, but the men needle him and everyone laughs). Another man enters the house, an unplanned and unannounced visit – he joins us at the table. The men smile and tell me that in the village, you can talk to anyone you bump into. Everyone knows everyone else, and everyone is welcome, always. Already feeling the fatigue of so much interaction, I remain nevertheless charmed by the tightness of their social circles, and the warmth with which they treat each other. 
I am the only woman at the table. On the floortop fireplace two metres away, his wife cooks for us, spicy onion leaves, slices of omelette, fried fish, and souped up vegetables with corn rice. Soon the table is heaped with dishes, and we pile in. “No corn rice here means no rice at all,” Wawan remarks matter-of-factedly.

Pak Untung eating a banana from the huge stalk that Wawan has brought, earlier, Wawan received the banana fruits from the swaraOwa nursery plot in Sokokembang.




How Appropriate is Direct Trade?
Interpersonal ties are absolutely key in these sequestered mountain villages. Here, direct trade (which involves farmers trading directly with roasters, in small quantities and for higher  buying prices) seems like it should have potential. But as we sit on the bamboo gazebo out front (Pak E built it on his own from the bamboo trees that are abundant all around us), Wawan explains how some farmers, buoyed up by the high prices fetched by their first mini batch of beans sold via direct trade, shift their land to farm far more coffee, not realizing that the amount the direct trader can purchase from them is limited. And what about fellow villagers, drawn by monetary promise into an enterprise that then blasts away at ecological stability and biodiversity in the area?
Everything is interlinked in a web of cause and effect, and the best overall outcome from direct trade may be effected only if we recognize that its ripple effects extend beyond just the two parties who engage in the sale, and far beyond the money – with implications for both community ties as well as environmental sustainability.
Robusta coffee in the shaded canopies of Hutan Sokokembang
Coffee naturally grows under shaded tree canopies, and traditionally this has allowed coffee cultivation to be a key part of sustainable agro-foresty systems combining tree species, coffee, and other agricultural commodities[5]. Due to the forces of capital supply and demand, however, monoculture and sun-grown coffee are now de rigour.
Should this transition from shade- to sun-grown take place here, in the villages of the Sokokembang Rainforest, the future of the primates who dwell in the canopies will be hit, hard. This is part of a trajectory that SwaraOwa hopes to prevent.




The vibrant rainforest is key to preserving the endangered Javanese gibbons and leaf monkeys in the region.

Slow Change
Kula boten mangertos – I don’t understand. This is the extent of my Javanese, so in the villages, where most people speak only Javanese, what I gather from the conversations comes from my fragments of Bahasa, and Wawan, Yoshi and Sidiq translating interesting bits into English for me.
In Sokokembang village, where we spend three nights, the camaraderie between Pak E, Mak E and the Swara Owa team is palpable. We spend the afternoons on the front porch, chatting, sipping tea and coffee while sitting on lesehan (floor mats prevalent throughout Central Java). The coffee is thick and heavy with grounds, and on the second day I opt for tea. Once, the sole village midwife – an elderly lady who’s at least 70 years old, and hobbles swiftly on bare feet – stops by, sits down for a chat, and asks me if I’m a man or woman, a question I’ve become used to by then; my short hair perturbs people. And sometimes, we simply sit in silence, listening to the birds calling from the trees. 
During our trip to Gondang village, we spend two hours in the chief’s house. For most of that time, the conversation covers everything except coffee and the forest. We eat lunch, laugh uproariously, and smoke countless cigarettes, tossing the finished butts into the low wood fire. Once, Sidiq heads out and when he comes back, tells us: “There was a minor earthquake!”
The biggest element in this conservation project is trust-building. It is the iffiest element, impossible to copy and paste wholesale, and the fruits that I witness are thanks to years of trial and error by Wawan and his team. “Each village is different. For example, in Gondang Pak Untung is very well-loved by all the people, so we began circulating our posters through him. When he needs help at the house, everyone shows up, even when he doesn’t ask. But Sokokembang is totally different; most of the houses here are families [blood-related in some way], and so everything we do is a little trickier, more complicated. People are more difficult to convince. But over the years we build trust with the people.”
All this requires endless patience and commitment, and in this environment one begins to appreciate that one of the ingredients for success is the passage of time.

What’s a coffee drinker to do?
1.       Ethics and Sustainability: This is a toughie. Fair Trade coffee beans are not equal – their sale doesn’t benefit all member farmers equally; this depends on the cooperative the farmers belong to. Rainforest Alliance certification is far more holistic in its concern for both financial and environmental sustainability, but only requires that 30% of the beans in certified bags satisfy these conditions. There’s also another certification that’s a radical breakaway from these – called the Small Producers’ Symbol, it’s owned and run by producers in the South (instead of the North), and is meant to ensure that administrative fees are far lower (one-fourth) and that more of these (a third) go back into the cooperatives[6]. Still, for now it remains carried by just a handful of roasters in the USA, Canada, and France[7]. Ultimately, your choices will depend on what’s available around you and on the kind of information you can get about the specific farms or beans you’re purchasing. 
2.       Taste: What about us coffee snobs? Those who look out for acidity, body and sweetness in their cuppa? Those sneaky ones who know the difference between an Ethiopia Yirgacheffe Kochere and a Panama Geisha? Despite its limitations, buying direct trade coffee can offer a good balance between coffee quality, monetary fairness for the farmer, and sustained biodiversity in the coffee-growing region. Generations will feel the impact of our choices today - it's a small world that we share with wildlife and nature!
3.       Everything: We can start by genuinely caring about our neighbours near and far, and acknowledging the implications of the coffee we buy without allowing uncomfortable knowledge to paralyze us. Instead, turn that into a positive emotion! The most impactful people I know are always fighting for change whilst staying grateful for what they have access to.
Ultimately, that hardest bit might be recognizing the issue for how complicated it is, and reigning in the temptation to simplify things and magic up silver bullets to make ourselves feel better. Using that knowledge to move in small ways closer towards fairer trade is perhaps the best that any of us as consumers can do.










About Adeline Chang

Adeline is a restless ex-barista who's fallen in love with growing food sustainably, breathing in the splendour of wilderness, and dancing through the thick and thin of life.
https://tropicalgardeninglife.wordpress.com/

Thursday, November 15, 2018

Tabungan ekologi : Serangga pollinasi



Akhir tahun 2017, kita pertamakali mencoba mengenalkan teknik budidaya lebah kepada warga sekitar hutan habitat Owa di Pekalongan (baca disini liputannya). Berawal dari pengamatan sehari-hari ketika musim kemarau memang banyak sekali pemburu lebah madu, ada beberapa warga yang sudah mencoba membudidayakan dengan metode tradisional.  Artinya pengetahuan dan praktik budidaya sudah ada hanya perlu di tingkatkan pengetahuan dan prakteknya.

Melihat tempat lain sebagai referensi juga sangat membantu pengetahuan budidaya lebah ini, terutama membangun sesama pegiat lebah saling tukar pengalaman dan pengetahuan. Sisi ekonomi juga sudah mulai muncul, karena madu juga di banyak di jual belikan di dusun-dusun sekitar hutan.
Seperti tulisan terdahulu, lebah klanceng sangat potensial untuk dikembangkan untuk mendukung pelestarian hutan habitat owa, pengelolaan yang berkelanjutan menjadi tantangan ke depan, karena selain ada nilai ekonomi, budidaya lebah juga sangat erat kaitannya dengan sistem budidaya pertanian yang ramah lingkungan. Dan sangat sesuai apabila di terapkan dalam sistem agroforest, sebagai kawasan penyangga hutan habitat Owa.
Sedang memeriksa kotak lebah di Ds.Sokokembang

Di Sokokembang kini ada salah satu alumni pelatihan tahun lalu yang terus mencoba pengembangan budidaya Klanceng ini, pengalaman setahun ini dimulai dari koloni liar yang coba di domestikasi dan di kembangkan di sekitar rumah. Sudah ada sekitar 20 kotak, lebah yang terus di pantau perkembangannya. Ada yang pergi, ada yang mati, ada yang di serang kelompok lebah lain, menyesuaikan ukuran kotak lebah, dan produksi madu dapat di pantau selama setahun ini, dan sepertinya untuk melangkah ke sisi bisnis, juga masih perlu waktu dan ketekunan.
Budah durian di dusun Mendolo, setelah 1 minggu usai berbunga
Di Dusun Mendolo, kita juga mempunya tempat belajar tentang lebah ini, hampir semua warga dusun sudah mengenal lebah klanceng, berburu madu hutan menjadi pekerjaan sampingan yang utama ketika musim kemarau. Bukan hal baru tentang lebah madu, tapi selalu ada yang baru untuk dipelajari dari kegiatan ini. Salah satu warga di dusun ini saat ini juga mempunyai kurang lebih 30 kotak lebah, dan melihat hal ini beberapa tetangga juga sudah mulai ada yang memelihara 1-3 kotak di sekitar rumah. Pengalaman yang berbeda dengan di Sokokembang juga memunculkan hal-hal yang tidak di perkirakan sebelumnya, misalnya, kondisi sekitar tempat budidaya adalah banyak sumber bunga, produksi madu juga sangat melimpah.
kotak-kotak lebah di sela-sela tanaman kebun sekitar rumah
Lebah, T. itama di hutan habitat Owa Jawa

Catatan publikasi terbaru tentang populasi serangga termasuk di dalamnya lebah dan kumbang, di bebebrapa negara tropis mengalami penurunan yang cukup drastic. Tahun 2014 para ahli serangga dunia telah memperingatkan bahwa telah terjadi penurunan hingga 45%. Dan tahun 2017 publikasi terbaru ini telah mengalami penurunan hingga 75 %. Tentu saja hal ini di peroleh dari data yang informasi tentang serangga ini sudah cukup tersedia dengan baik.  Dari tulisan tersebut sangat sederhana indikatornya, dan mungkin bisa kita coba juga di tempat kita. Kalau berkendara malam hari dalam jarak tertentu berapa banyak serangga yang menabrak kaca mobil kita, atau lampu depan kita? Karena serangga bisanya mencari arah datang sumber cahaya kalau malam hari.  Bisa anda ingat waktu kecil anda kalau sering naik motor atau mobil malam hari sering nggak nabrak serangga terbang malam hari? dan kalau anda ingat, bandingkan dengan sekarang apakah serangga yang menabrak anda ketika jalan malam hari lebih banyak sekarang atau jauh lebih sedikit?

Apa nilai pentingnya serangga? Lebih dari 70% species binatang adalah serangga. Mungkin bisa saja kita katakan sekedar serangga, tapi merekalah yang membuat sistem ekologi di bumi berputar. Serangga menyerbuki tanaman pangan yang kita makan (sayuran, durian, mangga, pisang, pohon buah di hutan), serangga merupakan pengendali alami hama tanaman pangan, ada juga serangga-serangga yang khusus menguraikan sampah-sampah kita. 
Ya mereka sangat penting untuk kehidupan kita. Kehilangan para serangga bisa terjadi bencana ekologis !!
Owa jawa primata pemakan buah
Sentul, atau kecapi  (Sandoricum sp) salah satu buah kesukaan Owa

Kegiatan-kegiatan di sekitar hutan, sebagai pendukung untuk menjaga hutan tetap ada seperti hutan berdasarkan hubungan saling ketergantungan inilah menjadi salah satu yang coba terus di arus utamakan dalam bingkai  konservasi Owa jawa. Prinsip ekologis yang saling terkait,  peran penting hidupan  liar untuk kehidupan , dalah hal yang mudah di baca atau di ucapkan, namun pelaksanaan dari ide atau gagasan itu tidaklah semudah yang ada dalam tulisan, karena madu memang tidak selalu “manis”.

Sumber bacaan :




Wednesday, October 24, 2018

Pengalaman, pengetahuan baru untuk penelitian Primata

Pelatihan Metode Survei Primata
Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan
12-14 Oktober 2018
di tulis oleh :
Farhan Adyn, e-mail : farhan.adyn15@gmail.com


Apa yang terlintas di benak saat mendengar kata “Pekalongan”? Hampir kebanyakan akan langsung mengingat tentang Batik dan kainnya nan indah itu. Akan tetapi, bukan maksud ku mengunjungi kota ini untuk berbelanja, menambah koleksi batik yang siap dipakai saat menghadiri undangan acara-acara besar dan formal, melainkan memenuhi undangan Pelatihan Metode Survei Primata yang diselenggarakan oleh KP3 Primata UGM dan Swaraowa. Aku hadir sebagai partisipan representatif KSP Macaca UNJ bersama dua teman, Arief dan Rachmat, dari Jakarta yang keduanya merupakan perwakilan FSP Lutung UNAS. Kami tiba di Pekalongan dan dijemput oleh panitia menuju lokasi pelatihan. Sesaat setelah melewati perkebunan pinus PERHUTANI dan Perkebunan Karet ,  gapura dan tugu “Petungkriyono” telah menanti. Hal ini menandakan bahwa kami akan memasuki kawasan Hutan Lindung Sokokembang.
pintu masuk hutan Petungkriyono
Kesan tempat pelatihan ini, menurut kakak tingkat yang pernah mengikuti kegiatan serupa tahun lalu, tidak akan pernah terlupakan dalam hidup. Hutan Lindung Sokokembang termasuk hutan hujan dataran rendah tersisa di pulau Jawa yang benar-benar masih asri. Benar saja, saat pertama aku terkagum-kagum serta takjub kala mata memandangi tiap sudut bentang vegetasi dan kabut embun bergerak di atas rapatnya kanopi. O..iya, satu hal lagi yang ku tahu sebelum mengunjungi tempat ini, yakni kopi Owa. Berbeda dengan perkebunan kopi (yang cenderung disengaja & terkesan monokultur), kopi ini terkenal dengan sebutannya kopi Owa karena tanaman kopi (yang merupakan peninggalan sistem Tanam Paksa di Pekalongan dengan komoditi utama ialah kopi) hidup di dalam habitat nya Owa Jawa (Hylobates moloch Audebert, 1798) yang endemik di pulau ini.
praktek metode line transek
transek di persiapkan terlebih dahulu sebelum pengamatan dan diberi tanda

Hari pertama, Jum’at malam (12/10), diawali dengan pembukaan acara. Sambutan-sambutan diberikan kepada para peserta yang berjumlah 20 orang dari berbagai profil dan latar belakang. Ada peserta dari kalangan mahasiswa, pecinta alam, fotografer alam liar bahkan hingga advokat, berkumpul dan belajar bersama tentang survei populasi primata Jawa. Setelah dihangatkan oleh berbagai sambutan dari ketua pelaksana acara, Kepala KPH Pekalongan Timur,  serta perkenalan dengan peserta lainnya. Kemudian langsung dilanjutkan oleh pematerian pertama, pengantar tentang primata yang disampaikan oleh kak Salmah. Setelah itu, kami briefing untuk persiapan esoknya, dengan materi Survei Populasi dengan Teknik Line-Transect Sampling.

Penggunaan teknik tetap berdasarkan prinsip pengacakan (random) dan pengulangan (replication). Kegunaan teknik ini ialah untuk mencari dugaan/estimasi kepadatan (density) suatu objek (primata) per satuan luas/waktu. Adapun cara pengambilan datanya dengan berjalan lurus pada lintasan/jalur yang telah ditetapkan panjangnya (L), kemudian mencatat perjumpaan langsung dengan objek (N), lalu menembakkan sudut jalur & sudut objek dengan kompas (kemudian diselisihkan, α) serta mengestimasikan jarak langsung pengamat-objek (x). Tiga data terakhir dibutuhkan untuk mengetahui jarak antara objek yang tegak lurus dengan jalur (perpendicular distance/ppd/w) dengan prinsip trigonometri , (rumus sinus, cosinus atau tangen) digunakan untuk menghitung jarak tegak lurus antara primata dan transek, yang di tentukan dari dari sudut apit antara arah transek (pengamat) dan primata yang terlihat.

Jarak (ppd) ini digunakan sebagai preferensi lebar area sampling, atau telah disepakati sejak awal menggunakan jarak pandang optimum mata manusia (~50 meter), sehingga area sampling diproyeksikan berbentuk persegi panjang. Adapun persamaan matematis dari perumusan kepadatan/density (D) ini adalah:

D = N/A = n/2Lw

Hari itu (12/10), kami pun mengaplikasikan teori semalam di lapangan. Sebelumya, semua peserta dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok melalui jalur/transek: 1. Iger Menyan; 2. Rambut Putih; dan 3. Rumah pohon. Aku kebagian kelompok satu, transek 1. Iger Menyan. Menurut mas Wawan, panjang trek ini mencapai 700 meter yang berujung pada tumbuhan endemik Indonesia, damar-mata kucing (Shorea javanica Koord. & Valeton). Namun sayangnya, sepanjang perjalanan kami tidak menemukan/berjumpa langsung dengan objek (primata), hanya terdengar morning call/great call Owa Jawa di sisi tebing seberang. Dan lagi-lagi, kami kurang beruntung sebab terdapat pohon tumbang di titik 300 meter-an yang menghalangi jalan dan tidak memungkinkan untuk dilewati. Meskipun belum berkesempatan berjumpa langsung, kami tetap mengsimulasikan cara pengambilan data yang baik dan benar oleh pendamping jalur.
owa yang terfoto oleh peserta lain, mas Anjar dari Pekalongan
Sesampainya kami kembali ke basecamp, kami berisitirahat dan menyempatkan diri untuk mandi di sungai kolong jembatan. Air nya sangat bersih & jernih, sesuatu yang jarang bahkan tidak dapat ditemui di ibukota. Penyegaran ini guna persiapan untuk mengerahkan fikiran untuk mengolah data berikutnya. Rupanya teman kami di transek lain, ada yang menemukan sedikit individu, bahkan ada yang “panen” berjumpa dengan banyak individu dari beragam jenis primata, mulai dari Owa Jawa, Lutung Budeng, Rekrekan hingga Monyet Ekor panjang. Kemudian sesi tanya-jawab dan diskusi pun berjalan seru, berbagi pengalaman di lapang dan menambah wawasan dari tiap jawaban yang diberikan oleh pemateri dari Swaraowa, mas Wawan.
metode vocal-triangulasi untuk survey Owa

Malamnya dilanjutkan dengan briefing kembali, persiapan pengaplikasian dengan teknik yang berbeda. Kali ini kami mencoba menggunakan teknik triangulasi-Vocal Count. Tujuan metode ini menyerupai dengan teknik sebelumnya, yakni untuk mengetahui estimasi kepadatan populasi berdasarkan jumlah kelompok yang terdeteksi. Akan tetapi, survei populasi dengan teknik ini termasuk indirect survey/survei tidak langsung, sebab kita hanya menduga kepadatan berdasarkan asumsi keberadaan kelompok primata yang diwakili oleh vokalisasi satu individunya (biasanya betina, terkadang pula jantan, namun Owa Jawa tidak seperti owa lainnya yang melakukan duet, kecuali dia dan Siamang Kerdil/Hylobates klossii. Perlu dicatat pula, metode ini hanya berlaku pada objek yang telah diketahui pola perilaku bersuaranya. Bila proyeksi line-transect berbentuk persegi panjang, namun dalam triangulasi-vocal count diproyeksikan menjadi lingkaran.

Sebelum melakukan pengambilan data, hal yang perlu dicari ialah pos pendengaran/Listening-Post (Lps). Minimal pos yang dibutuhkan sebanyak 3 pos, dengan jarak antar masing-masing pos sekitar 0,3 km  >1 km. Adapun penentuan pos ini mempertimbangkan faktor topografi, potensi gangguan pendengaran, informasi awal spesies objek dan pengamat/pendengar itu sendiri.

Cara pengambilan datanya dengan para pengamat telah menempati masing-masing pos dengan waktu awal yang telah diseragamkan dan mencatat seluruh suara yang terdengar dari objek (primata, Owa). Ketika terdengar suara Owa, pengamat menembakkan sudut arah sumber suara, kemudian mengestimasikan jarak antara sumber ke pos pendengarannya, lalu mengkonfirmasikan kepada pos lain (dengan menggunakan komunikasi jarak jauh, ponsel, handy talky dsb.). Data yang benar-benar dipakai saat pengolahan data ialah data yang telah dikonfirmasi dari pos lain dan menunjukkan ke titik arah yang sama, sehingga diketahui lah titik temu/koordinat dari objek tersebut. Maka densitas adalah jumlah grup yang terdengar (n) per luas area/lingkaran yang telah dikalikan terlebih dahulu dengan konstanta probability calling (pm). Pm diperoleh dari survei awal, menghitung kemungkinan bersuara owa dalam periode waktu tertentu,  dimana nilainya 0 < pm < 1. Adapun persamaan matematisnya ialah:

D = n/(A (pm))
pm = n/H × 100%; dan 0 <; < 1,
nilai pm yang kita gunakan disini adalah 0.85

Sabtunya ,kami memparaktikan teknik ini. Kini, kami bergiliran menempati titik di jalur Rumah Pohon sebagai pos pendengaran kelompok kami. Pengamatan serentak dimulai di masing-masing pos pada jam 6 pagi dan berakhir bersamaan pada jam 9 pagi. Saat masih awal-awal terdegara banyak sekali suara dari berbagai sumber arah, akan tetapi semakin siang suasananya semakin sepi. Hanya saja kendala terjadi karena kebingungan menentukan sudut arah sumber suara, mengestimasikannya dan gangguan dari suara lain (seperti suara tonggeret, burung, bahkan mobil ambulans yang hampir membuat kami keliru.

Bagi orang yang biasa jalan jauh, mungkin teknik ini adalah tantangan tersendiri, karena kita harus dituntut diam dan menyimak dengan seksama pada titik yang telah ditentukan. Namun rupanya keunggulan dari teknik ini ialah mampu memberikan gambaran sebaran kelompok dalam waktu yang singkat. Namun kelemahannya kurang mampu memberikan informasi yang lebih detail terkait ukuran dan komposisi suatu populasi, dan perlu peninjauan kembali (validasi dengan teknik line-transect).

Setelah kami melaksanakan dan kembali ke rumah, kami langsung mendiskusikannya. Banyak ilmu baru dan wawasan menarik dari hasil sesi diskusi & sharing. Selanjutnya ada pemaparan materi & berbagi pengalaman dari dua pemateri undangan pelatihan kali ini, yakni ada Dr. Bosco Chan dari LSM yang berbasis di China Kadoorie Farm Botany Garden,dan ada Mbak Dwi Yandhi yang berasal dari Sulawesi, Macaca Nigra Project.
Dr.Bosco presentasi tentang upaya pelestarian Owa di P.Hainan Hongkong, China

Dr. Boscho mempresentasikan kerjanya, terutama kini menangani primata sekaligus mamalia terlangka di dunia, yakni Owa Hainan (Nomascus hainanus) yang endemic di satu lokasi Pulau Hainan. Beliau mencertitakan pengalamannya, upayanya hingga kendala-kendalanya saat itu kala mengetahui owa ini hanya tersisa beberapa indiviu, bahkan jumlah populasi global pernah mencapai hitungan jari saja! Setelah riset & observasi intensif, rupanya populasi ini menunjukkan tren kenaikkan ukuran populasinya.
mbak Yandhi presentasi tentang Macaca Nigra

Sedangkan mbak Yandhi, berbagi pengalaman selama 5 tahun terakhir hingga sekarang di Macaca Nigra Project (MNP). Pengalaman unik & menegangkannys, menghadapi tekanan masyarakat yg amat kuat hingga pemekaran ranah, yang tadinya hanya berfokus pada penelitian, kini MNP pun merambah ke dunia konservasi dan edukasi lingkungan dan juga pemberian wawasan dari segi edukasi.

Setelah sesi sharing berakhir, rupanya itu pun sesi terakhir, penutup agenda Pelatihan Metode Survei Primata. Tentunya diakhiri dengan sesi dokumentasi penutup acara. Pengabadian momen bersama, berfoto & bercanda setelah itu. Oh sungguh indah suasana ini, pengalaman yang tak terlupakan dan mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat. Tentunya, teman baru & relasi baru pun terjalin setelah pelatihan ini usai .
Foto bersama peserta, pemateri dan panitia MSP 2018

Terima Kasih banyak kepada KP3 Primata UGM sebagai penyelenggara acara, mas Wawan Swaraowa sebagai tuan rumah, dan pemateri undangan Mr. Bosco & mbak Yandhi yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi pengalaman & semangatnya kepada para peserta.

Salam Lestari, Salam Konservasi.