seberapa populer #Owa Indonesia #IndonesiaGibbon dibicarakan di twitter, analisis menggunakan #droneemprit , primata kera kecil ini ada 20 jenis Owa di dunia, dan 9 jenis owa ada di Indonesia dengan status terancam punah ENDANGERED
— SwaraOwa (@swaraOwa) October 10, 2021
cc @ismailfahmi pic.twitter.com/xB8fiZx8da
Showing posts with label #internationalgibbonday. Show all posts
Showing posts with label #internationalgibbonday. Show all posts
Sunday, October 10, 2021
Seberapa populer Owa di Twitter ?
Thursday, October 24, 2019
Pelatihan Metode Survey Primata untuk Hari Owa Sedunia
Untuk ke 7 kalinya tahun ini, proyek kopi dan konservasi
primata menyelenggarakan acara tahunan untuk mengarus utamakan konservasi Owa
di Indonesia. Seperti acara-acara sebelumnya acara ini di laksanakan bekerjasama
dengan Kelompok Pemerhati dan Peneliti Primata (KP3 Primata) dari Fakultas
Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sebagai panitia teknis acara.
Tanggal 11-13 Oktober 2019, sebanyak 25 peserta dari berbagai universitas , organisasi
komunitas, BKSDA, Perhutani, juga turut hadir dalam acara ini.
Acara tahun ini juga dilaksanakan untuk merayakan hari Owa
internasional, yang di peringati setiap tanggal 24 Oktober 2019. Acara
International Gibbon day sendiri juga di promosikan oleh IUCN gibbon
specialist group, dan biasanya di adakan secara global di berbagai negara
habitat asli owa owa, dan para peneliti dan pemerhati Owa di dunia. Acara ini
dapat di ikuti di sosial media dengan hashtagh #IGD2019 atau
#InternationalGibbonDay.
Tanggal 11 Oktober 2019, para peserta yang di organize oleh
panitia yang di ketuai Giot Simanulang, sudah mulai berdatangan ke sokokembang,
tercatat ada perwakilan dari Jakarta (UIN), Bandung ( Unpad), Yogyakarta (UGM),
Semarang (Undip), kelompok pecinta alam, kelompok pegiat wisata di kabupaten Pekalongan,
dan beberapa peserta yang merupakan warga di sekitar habitat Owa di Kecamatan
Petungkriyono . Peserta tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kalau
sebelumnya kita mengirim undangan untuk lembaga, atau kelompok studi untuk
mengirimkan perwakilan peserta, namun kali ini peserta tahun ini di buat
terbuka tidak dengan undangan namun dengan mengirimkan surat motivasi,
menyebutkan alasan kenapa ingin bergabung ikut acara ini dan menceritakan
sedikit latar belakang kegiatan yang sudah dilakukan. Yang menarik dari sebaran peserta tahun ini
ada dari sekitar habitat Owa sendiri dan yang terjauh dari Sumatera Utara,
mahasiswa Universitas Padjajaran Bandung.
Acara dibuka langsung oleh perwakilan pemerintah desa Kayupuring, yang di wakili oleh Bapak Markuat kepala dusun Sokokembang, pak kadus memperkenalkan kepada peserta bahwa Sokokembang ini terkenal sebagai tempat wisata pendidikan, yang datang kesini biasanya untuk belajar tentang hutan dan segala isiniya. Panitia acara dari KP3 Primata juga memberikan sambutan selamat datang kepada peserta dan menjelaskan acara akan dimulai malam ini dengan materi pengantar oleh tim swarowa tentang metode line transect untuk survey primata.
Hari ke dua 12 Oktober 2019, jam 6.30 smua peserta sudah
bersiap untuk menuju hutan untuk praktek lapangan metode line transek, ada 3
jalur yang sudah disiapkan oleh tim swaraowa,dengan peserta juga di damping oleh
pemandu dari warga setempat. Beberapa peserta yang baru pertama kali masuk
hutan dan merasakan langsung susahnya topography di hutan sokokembang ini. Pengalaman
ini juga di ungkapkan beberapa peserta langsung dan berikut komentar salah satu
peserta dari Sumatera Utara.
Acara sore hari tanggal 12 oktober adalah sesi sharing dari
pembicara tamu, yaitu mas Anton Nurcahyo dari BOS foundation, dan Mbak
Salmah Widyastuti mahasiswa pascasarjana
Institute Pertanian Bogor. Mas Anton menceritakan pengalamannya sejak mahasiswa
S1 hingga saat ini. Pengalaman organisasi di kampus dan aktif dalam kegiatan
Pengamat burung di Yogyakarta, menjadi motivasi awal mas Anton untuk terus
berkegiatan terkait dengan konservasi alam, kemudian bergabung dengan WCS
Indonesia di sumatera selatan untuk penelitian siamang dan ungko. Setelah dengan
WCS mas anton sempat bergabung dengan TNC dan BOS Foundation untuk konservasi
Orangutan.Penelitian terbaru dari mas Anton adalah tentang Orangutan
Tapanuli (Pongo tapanuliensis) dimana
beliau salah satu yang terlibat langsung untuk meneliti sampel sampel tengkorak
orangutan di seluruh dunia yang ada terutama yang ada di museum-museum sejarah
alam.
![]() |
| Persiapan sebelum ke hutan |
Pembicara kedua acara ini adalah mbak Salmah Widyastuti yang
mempresentasikan tentang penelitiannya di Pegunungan Dieng untuk kesesuaian
habitat Owa jawa. Penelitian ini sedang berjalan dan hasil awal penelitian ini
menyebutkan bahwa sebaran owa jawa ini meliputi di 4 kabupaten, yaitu Batang,
Pekalongan, Banjarnegara, dan Wonosobo, dan wilayah hutan di kabupaten
Pekalongan merupakan wilayah dengan kesesuaian habitat tertinggi untuk Owa
Jawa.
Hari ketiga, 13 oktober 2019, acara pelatihan untuk metode
vocal count, khusus untuk Owa Jawa, metode ini menggunakan suara Owa sebagai
dasar untuk estimasi populasi dan distribusi Owa, dengan menyiapkan titik-titik
pengamatan sebagai Listening Post, peserta sudah mulai di lokasi sejak pukul
06.00 pagi, mencatat setiap suara yang terdengar, mencatat arahnya dan
mengestimasi jaraknya. Mengenali suara owa juga menjadi pengalaman berbeda bagi
para peserta, ada 2 lokasi yang mana perta menggunakan sebagai titik pengamatan
(LPS), pengambilan data dilakukan hingga jam 8.30, dimana setelah jam ini sudah
tidak terdengar ada owa yang bersuara lagi. Kemudian peserta kembali dari
lapangan untuk menganalisis data yang diperoleh selama pengamatan suara dan
mempresentasikan hasil pengamatan yang dilakukan.
Acara pelatihan MSP ini menjadi acara tahunan di
Sokokembang bekerjasama dengan teman-teman dari KP3 Primata dan Forestation Fakultas Kehutanan UGM, dan acara yang ke-7 kali ini merupakan bagian dari kegiatan ProyekKopi dan Konservasi Primata yang didukung oleh Wildlife Reserve Singapore,
Ostrava Zoo, dan Fortwayne Children’s Zoo.
Wednesday, October 31, 2018
Sorak Sorai Anak-anak Bukit Santuai: Harapan Bagi Konservasi Owa
Liputan Hari Owa Sedunia
2018 di Bukit Santuai
oleh :
Salmah W (salmah.widyastuti@gmail.com) dan Ika Y Agustin (ikayuni.agustin@gmail.com)
![]() |
| SD Tunas Agro 2 |
Siang itu, sungguh takjub kami
melihat antusias siswa-siswi SD Tunas Agro menyambut kegiatan esok pagi. Ya,
tanggal 24/23 Oktober 2018 lalu kami memperingati Hari Owa Sedunia 2018 bersama
siswa-siswi SD untuk mengenalkan owa dan satwa primata lainnya di area HCV PT.
Agro Wana Lestari (AWL). Kegiatan ini adalah hasil kolaborasi SwaraOwa dengan
Goodhope Asia Holdings melalui PT. AWL, unit perusahaannya yang beroperasi di Kalimantan Tengah. Satu hari sebelum kegiatan, kami berkunjung ke SD Tunas Agro
untuk mendapatkan gambaran acara esok hari. Setelah mendapat penjelasan Pak
Kepala Sekolah mengenai rencana teknis acara, kami diantar Pak Guru berkeliling
sekolah dan bertatap dengan siswa kelas 4 dan 5 yang akan menjadi peserta
edukasi konservasi owa. Selama kami berkeliling, kami menjadi pusat perhatian
siswa-siswi dari dalam kelas, wajah mereka seperti sudah tak sabar diajak
bermain ke hutan esok hari bersama kami.
Betul ternyata, Ibu Guru bercerita
kalau siswa-siswi setiap hari selalu menanyakan tentang acara Hari Owa, nanti
apa yang akan mereka lakukan, apakah akan masuk hutan, apakah mereka akan
melihat owa dan sebagainya. Bukan hanya itu, mereka menghitung mundur hari
sejak beberapa minggu sebelum hari H. “Ibu acara Hari Owa tinggal 6 hari lagi
ya”.. “Wah tinggal 5 hari lagi ya Bu”..”Yeay tinggal 3 hari lagi”.. Kami
menyaksikan langsung dan merekam (video) rasa penasaran mereka ketika Pak
Kepala Sekolah memberi pengumuman di dalam kelas. Wah.. kami semakin semangat.
Tiba lah pagi hari, ternyata siswa-siswa sudah
lebih dulu datang! Baiklah, kami tak meragukan sedikit pun kalau mereka
betul-betul menghitung mundur hari menuju Hari Owa Sedunia ini. 13 Siswa-siswi
siap, tim pemandu siap, langsung saja kami gandeng siswa-siswi melihat isi
hutan Santuai.
![]() |
| Perjalanan ke lokasi Pengamatan Hutan Bukit Santuai |
13 Siswa dibagi menjadi 2 kelompok, kemudian
dipandu berjalan perlahan mengamati sekitar hutan. Sambil berjalan pemandu
mengenalkan tanda-tanda keberadaan Owa dan jenis primata lainnya. Walaupun
cuaca mendung, burung-burung cantik berterbangan dan hinggap menggoda di dekat
kami. Beruntungnya siswa-siswi ini, sekelompok owa tertangkap mata telanjang
kami meski hanya selama hitungan detik dan kelompok lainnya dari kejauhan
menyanyikan morning call nya. Tak
hanya itu, di akhir perjalanan sekelompok lutung terdeteksi dari warna dan
gerakannya. Dengan bantuan perbesaran binocular
(teropong) dan kamera, teridentifikasi kelompok lutung merah sedang menikmati
sarapan pagi di satu pohon dengan “lutung hitam berdahi putih”. Tak mau
ketinggalan, 1 ekor beruk mengecoh kami dari kejauhan yang terlihat seperti owa.
![]() |
| Anak-Anak melihat langsung owa kalimantan |
![]() |
| salah satu spot pengamatan primata Bukit Santuai |
| Owa Kalimantan ( Hylobates albibarbis) |
![]() |
| Kelasi ( Presbytis rubicunda) |
![]() |
| Lutung dahi putih (Presbytis frontata) |
Sambil melangkah kembali ke titik awal, pertanyaan-pertanyaan unik dan polos mengenai owa menghujam kami “Kak, kenapa owa tinggal di hutan?” “Apakah owa binatang buas atau jinak?”. Mereka juga mengungkapkan kesan mereka untu pengalaman pertama kalinya mengamati satwa di Hutan. “Ternyata masuk ke hutan itu seru ya Kak, kirain capek dan bosen kak.” Serta ada pertanyaan yang menandakan mereka ingin mengamati satwa di hutan secara rutin. “Hari Owa Sedunia adanya setiap berapa tahun sekali Kak?” Jawab kami. “Setahun sekali”. “Berarti tahun depan ada lagi ya Kak? Yeaaay” dengan wajah penuh harap. Hmm.. bahagia rasanya melihat tunas-tunas muda ini antusias mengamati langsung owa dan jenis primata lainnya beraktivitas bebas di hutan Santuai. Berharap pesan dari kami mengajak mereka masuk hutan tersampaikan.
Selepas dari hutan, tim swaraowa mengenalkan
jenis-jenis dan ciri-ciri khas primata di Kalimantan Tengah, khususnya owa
Kalimantan, ancaman di habitat aslinya, serta menyampaikan bagaimana cara ikut
serta melindungi satwa-satwa liar di hutan, terkhusus hutan Santuai dan
sekitarnya. Selanjutnya siswa-siswi diajak mengekspresikan imajenasi mereka
mengenai Owa, Primata, dan Hutan melalui lomba menggambar. Melalui menggambar
mereka memperlihatkan pesan-pesan yang kami sisipkan dalam kegiatan ini.
![]() |
| acara dalam kelas, lomba menggambar |
![]() |
| Pemenang lomba menggambar |
Setelah membagikan hadiah untuk 3 pemilik gambar terbaik acara ditutup dengan bersama-sama menggunakan topeng owa dan menirukan suara great call owa. Semua terlihat cinta dan bangga terhadap owa, siswa-siswa, Bapak Ibu Guru, maupun tim PT. AWL-Goodhope. Merupakan kesempatan yang luar biasa bisa merayakan Hari Owa Sedunia dengan berbagi pengetahuan pada anak-anak yang luar biasa semangatnya mengenali satwa unik yang tinggal di sekitar mereka, Owa.
Selamat Hari Owa Sedunia! Mari ikut melindungi
owa dari perburuan liar dan kehilangan habitatnya.
Monday, October 29, 2018
"Mereka adalah Miliki Kita" Pameran Foto dari Habitat Owa
Acara International Gibbon Day inisiasi global yang mulai dari IUCN Gibbon Specialist Group di Kota Pekalongan dilakukan dengan Pameran Foto, bekerjasama
dengan komunitas PEKAOWA yang di bentuk berdasarkan keinginan tulus sekelompok
anak muda di Kota Pekalongan berkontribusi melestarikan Owa jawa di habitat
aslinya. Tanggal 27 Oktober 2018 mulai jam 6 Sore sampai selesai, di Taman Hortikultura Yosorejo Pekalongan, bergabung
dengan komunitas-komunitas lainnya di Pekalongan dalam rangka malam Budaya dan
Parade Juang, 90 tahun hari sumpah pemuda.
![]() |
| grafis yang di buat oleh Komunitas Peduli Kelestarian Owa Jawa Pekalongan-PekaOwa |
Acara ini juga muncul
secara sepontan saja, dari awalnya, Mas Ubaidillah adalah peserta pelatihan Metode Survey Primata (MSP), tahun 2016 dan Mas dan Anjar Prasojo perta MSP 2018, yang hobi berkegiatan fotografi alam liar,
mempunyai foto-foto keanekaragaman hayati yang di dapat di hutan Petungkriyono.
Diskusi singkat akhirnya kita merencanakan pameran foto untuk tujuan mengenalkan
kepada publik tentang species dan perlindungan habitat aslinya.
![]() |
| Anjar Prasojo (kiri) dan Foto-foto yang di pamerkan. |
Pameran ini bertema “ Mereka adalah milik kita”. Mencoba mengenalkan
kepada masyarakatluas, bahwa Pekalongan, di tengah Pulau Jawa sebagai kesatuan
bentang alam memiliki perwakilan tipe habitat yang lengkap, mulai dari laut,
pantai,dataran rendah hingga ke pegunungan dataran tinggi. Masing-masing tipe
habitat ini dihuni oleh species-species unik, yang istimewa. Primata adalah
salah satunya, berada di Pekalongan sisi Selantan-Timur, hutan alam dari ketinggian
250 – 1900 mdpl. Owa, Lutung, Rekrekan dan Monyet Ekorpanjang, mewakili taxa
yang hidup dan berkembang di antara
tingginya aktifitas manusia di wilayah ini. Mereka bertahan dan bertahan,juga
mengalami ancaman.
![]() |
![]() |
| antusias pengunjung dalam acara pameran foto " Mereka adalah Milik Kita" |
Species-species istimewa ini juga punya peran penting,
membantu regenerasi hutan alam, penyebar biji, sumber ilmu pengetahuan, sebagai
identitas daerah diantara pergaulan global. Foto-foto ini adalah sebagian yang
ada di hutan Pekalongan, hutan sebagai habitat, mutlak harus ada untuk mereka, para primata-bukan
manusia. mereka butuh kanopi pohon untuk berayun, mereka butuh tempat bernaung
dan ruang.Hutan tempat mereka hidup adalah sumber segala sumber
kehidupan, air, udara, pemandangan indah,
sudah setiap hari kita nikmati, mereka para primata adalah milik kita,
menjaga mereka tetap hidup di belantara adalah kewajiban kita.
Kegiatan pameran foto ini juga bertujuan mendorong
pegiat-pegiat fotografi khususnya generasi muda dari wilayah sekitar habitat
Owa agar supaya tampil didepan menyuarakan mereka hidupan liar dan habitat
aslinya yang harus di perhatikan. Seperti mas Anjar Prasojo yang berjuang untuk melestarikan Owa dan
habitat aslinya dengan hasil-hasil fotonya. Beberapa foto yang di pamerkan
adalah berikut ini, yang merupakan primata-primata asli Jawa dari Pekalongan:
![]() |
| Owa Jawa |
![]() |
| Lutung jawa |
![]() |
| Rekrekan |
Wednesday, October 24, 2018
Pengalaman, pengetahuan baru untuk penelitian Primata
Pelatihan Metode Survei Primata
Sokokembang, Petungkriyono,
Pekalongan
12-14 Oktober 2018
Farhan Adyn, e-mail : farhan.adyn15@gmail.com
Apa yang terlintas di benak saat mendengar kata “Pekalongan”? Hampir kebanyakan akan langsung mengingat tentang Batik dan kainnya nan indah itu. Akan tetapi, bukan maksud ku mengunjungi kota ini untuk berbelanja, menambah koleksi batik yang siap dipakai saat menghadiri undangan acara-acara besar dan formal, melainkan memenuhi undangan Pelatihan Metode Survei Primata yang diselenggarakan oleh KP3 Primata UGM dan Swaraowa. Aku hadir sebagai partisipan representatif KSP Macaca UNJ bersama dua teman, Arief dan Rachmat, dari Jakarta yang keduanya merupakan perwakilan FSP Lutung UNAS. Kami tiba di Pekalongan dan dijemput oleh panitia menuju lokasi pelatihan. Sesaat setelah melewati perkebunan pinus PERHUTANI dan Perkebunan Karet , gapura dan tugu “Petungkriyono” telah menanti. Hal ini menandakan bahwa kami akan memasuki kawasan Hutan Lindung Sokokembang.
![]() |
| pintu masuk hutan Petungkriyono |
![]() |
| praktek metode line transek |
![]() |
| transek di persiapkan terlebih dahulu sebelum pengamatan dan diberi tanda |
Hari pertama, Jum’at malam (12/10), diawali dengan pembukaan acara. Sambutan-sambutan diberikan kepada para peserta yang berjumlah 20 orang dari berbagai profil dan latar belakang. Ada peserta dari kalangan mahasiswa, pecinta alam, fotografer alam liar bahkan hingga advokat, berkumpul dan belajar bersama tentang survei populasi primata Jawa. Setelah dihangatkan oleh berbagai sambutan dari ketua pelaksana acara, Kepala KPH Pekalongan Timur, serta perkenalan dengan peserta lainnya. Kemudian langsung dilanjutkan oleh pematerian pertama, pengantar tentang primata yang disampaikan oleh kak Salmah. Setelah itu, kami briefing untuk persiapan esoknya, dengan materi Survei Populasi dengan Teknik Line-Transect Sampling.
Penggunaan teknik tetap berdasarkan prinsip pengacakan (random) dan pengulangan (replication). Kegunaan teknik ini ialah untuk mencari dugaan/estimasi kepadatan (density) suatu objek (primata) per satuan luas/waktu. Adapun cara pengambilan datanya dengan berjalan lurus pada lintasan/jalur yang telah ditetapkan panjangnya (L), kemudian mencatat perjumpaan langsung dengan objek (N), lalu menembakkan sudut jalur & sudut objek dengan kompas (kemudian diselisihkan, α) serta mengestimasikan jarak langsung pengamat-objek (x). Tiga data terakhir dibutuhkan untuk mengetahui jarak antara objek yang tegak lurus dengan jalur (perpendicular distance/ppd/w) dengan prinsip trigonometri , (rumus sinus, cosinus atau tangen) digunakan untuk menghitung jarak tegak lurus antara primata dan transek, yang di tentukan dari dari sudut apit antara arah transek (pengamat) dan primata yang terlihat.
Jarak (ppd) ini digunakan sebagai preferensi lebar area sampling, atau telah disepakati sejak awal menggunakan jarak pandang optimum mata manusia (~50 meter), sehingga area sampling diproyeksikan berbentuk persegi panjang. Adapun persamaan matematis dari perumusan kepadatan/density (D) ini adalah:
D = N/A = n/2Lw
Hari itu (12/10), kami pun mengaplikasikan teori semalam di lapangan. Sebelumya, semua peserta dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok melalui jalur/transek: 1. Iger Menyan; 2. Rambut Putih; dan 3. Rumah pohon. Aku kebagian kelompok satu, transek 1. Iger Menyan. Menurut mas Wawan, panjang trek ini mencapai 700 meter yang berujung pada tumbuhan endemik Indonesia, damar-mata kucing (Shorea javanica Koord. & Valeton). Namun sayangnya, sepanjang perjalanan kami tidak menemukan/berjumpa langsung dengan objek (primata), hanya terdengar morning call/great call Owa Jawa di sisi tebing seberang. Dan lagi-lagi, kami kurang beruntung sebab terdapat pohon tumbang di titik 300 meter-an yang menghalangi jalan dan tidak memungkinkan untuk dilewati. Meskipun belum berkesempatan berjumpa langsung, kami tetap mengsimulasikan cara pengambilan data yang baik dan benar oleh pendamping jalur.
![]() |
| owa yang terfoto oleh peserta lain, mas Anjar dari Pekalongan |
![]() |
| metode vocal-triangulasi untuk survey Owa |
Malamnya dilanjutkan dengan briefing kembali, persiapan pengaplikasian dengan teknik yang berbeda. Kali ini kami mencoba menggunakan teknik triangulasi-Vocal Count. Tujuan metode ini menyerupai dengan teknik sebelumnya, yakni untuk mengetahui estimasi kepadatan populasi berdasarkan jumlah kelompok yang terdeteksi. Akan tetapi, survei populasi dengan teknik ini termasuk indirect survey/survei tidak langsung, sebab kita hanya menduga kepadatan berdasarkan asumsi keberadaan kelompok primata yang diwakili oleh vokalisasi satu individunya (biasanya betina, terkadang pula jantan, namun Owa Jawa tidak seperti owa lainnya yang melakukan duet, kecuali dia dan Siamang Kerdil/Hylobates klossii. Perlu dicatat pula, metode ini hanya berlaku pada objek yang telah diketahui pola perilaku bersuaranya. Bila proyeksi line-transect berbentuk persegi panjang, namun dalam triangulasi-vocal count diproyeksikan menjadi lingkaran.
Sebelum melakukan pengambilan data, hal yang perlu dicari ialah pos pendengaran/Listening-Post (Lps). Minimal pos yang dibutuhkan sebanyak 3 pos, dengan jarak antar masing-masing pos sekitar 0,3 km >1 km. Adapun penentuan pos ini mempertimbangkan faktor topografi, potensi gangguan pendengaran, informasi awal spesies objek dan pengamat/pendengar itu sendiri.
Cara pengambilan datanya dengan para pengamat telah menempati masing-masing pos dengan waktu awal yang telah diseragamkan dan mencatat seluruh suara yang terdengar dari objek (primata, Owa). Ketika terdengar suara Owa, pengamat menembakkan sudut arah sumber suara, kemudian mengestimasikan jarak antara sumber ke pos pendengarannya, lalu mengkonfirmasikan kepada pos lain (dengan menggunakan komunikasi jarak jauh, ponsel, handy talky dsb.). Data yang benar-benar dipakai saat pengolahan data ialah data yang telah dikonfirmasi dari pos lain dan menunjukkan ke titik arah yang sama, sehingga diketahui lah titik temu/koordinat dari objek tersebut. Maka densitas adalah jumlah grup yang terdengar (n) per luas area/lingkaran yang telah dikalikan terlebih dahulu dengan konstanta probability calling (pm). Pm diperoleh dari survei awal, menghitung kemungkinan bersuara owa dalam periode waktu tertentu, dimana nilainya 0 < pm < 1. Adapun persamaan matematisnya ialah:
D = n/(A (pm))
pm = n/H × 100%; dan 0 <; < 1,
nilai pm yang kita gunakan disini adalah 0.85
Sabtunya ,kami memparaktikan teknik ini. Kini, kami bergiliran menempati titik di jalur Rumah Pohon sebagai pos pendengaran kelompok kami. Pengamatan serentak dimulai di masing-masing pos pada jam 6 pagi dan berakhir bersamaan pada jam 9 pagi. Saat masih awal-awal terdegara banyak sekali suara dari berbagai sumber arah, akan tetapi semakin siang suasananya semakin sepi. Hanya saja kendala terjadi karena kebingungan menentukan sudut arah sumber suara, mengestimasikannya dan gangguan dari suara lain (seperti suara tonggeret, burung, bahkan mobil ambulans yang hampir membuat kami keliru.
Bagi orang yang biasa jalan jauh, mungkin teknik ini adalah tantangan tersendiri, karena kita harus dituntut diam dan menyimak dengan seksama pada titik yang telah ditentukan. Namun rupanya keunggulan dari teknik ini ialah mampu memberikan gambaran sebaran kelompok dalam waktu yang singkat. Namun kelemahannya kurang mampu memberikan informasi yang lebih detail terkait ukuran dan komposisi suatu populasi, dan perlu peninjauan kembali (validasi dengan teknik line-transect).
Setelah kami melaksanakan dan kembali ke rumah, kami langsung mendiskusikannya. Banyak ilmu baru dan wawasan menarik dari hasil sesi diskusi & sharing. Selanjutnya ada pemaparan materi & berbagi pengalaman dari dua pemateri undangan pelatihan kali ini, yakni ada Dr. Bosco Chan dari LSM yang berbasis di China Kadoorie Farm Botany Garden,dan ada Mbak Dwi Yandhi yang berasal dari Sulawesi, Macaca Nigra Project.
![]() |
| Dr.Bosco presentasi tentang upaya pelestarian Owa di P.Hainan Hongkong, China |
Dr. Boscho mempresentasikan kerjanya, terutama kini menangani primata sekaligus mamalia terlangka di dunia, yakni Owa Hainan (Nomascus hainanus) yang endemic di satu lokasi Pulau Hainan. Beliau mencertitakan pengalamannya, upayanya hingga kendala-kendalanya saat itu kala mengetahui owa ini hanya tersisa beberapa indiviu, bahkan jumlah populasi global pernah mencapai hitungan jari saja! Setelah riset & observasi intensif, rupanya populasi ini menunjukkan tren kenaikkan ukuran populasinya.
![]() |
| mbak Yandhi presentasi tentang Macaca Nigra |
Sedangkan mbak Yandhi, berbagi pengalaman selama 5 tahun terakhir hingga sekarang di Macaca Nigra Project (MNP). Pengalaman unik & menegangkannys, menghadapi tekanan masyarakat yg amat kuat hingga pemekaran ranah, yang tadinya hanya berfokus pada penelitian, kini MNP pun merambah ke dunia konservasi dan edukasi lingkungan dan juga pemberian wawasan dari segi edukasi.
Setelah sesi sharing berakhir, rupanya itu pun sesi terakhir, penutup agenda Pelatihan Metode Survei Primata. Tentunya diakhiri dengan sesi dokumentasi penutup acara. Pengabadian momen bersama, berfoto & bercanda setelah itu. Oh sungguh indah suasana ini, pengalaman yang tak terlupakan dan mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat. Tentunya, teman baru & relasi baru pun terjalin setelah pelatihan ini usai .
![]() |
| Foto bersama peserta, pemateri dan panitia MSP 2018 |
Terima Kasih banyak kepada KP3 Primata UGM sebagai penyelenggara acara, mas Wawan Swaraowa sebagai tuan rumah, dan pemateri undangan Mr. Bosco & mbak Yandhi yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi pengalaman & semangatnya kepada para peserta.
Salam Lestari, Salam Konservasi.
Saturday, October 20, 2018
MSP 2018: Regenerasi Peneliti dan Pegiat Konservasi Primata
![]() |
| foto bersama seluruh peserta #MSP2018 |
Acara pelatihan metode survey tahun 2018, kali ini mengundang tamu perwakilan primata Indonesia dan primata asia daratan, Dwi Yandhi Febriyanti dari Macaca Nigra Project, dan Dr. Bosco Chan dari Hongkong. Dilaksanakan tanggal 12-14 Oktober 2018, di Hutan Sokokembang, Desa Kayupuring, Petungkriyono, Pekalongan.
Seperti acara-acara tahun sebelumnya, acara ini di buka oleh Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan , Pekalongan Timur, Bapak Joko Santoso mewakili Perhutani sebagai pengelola hutan lindung di Petungkriyono, Swaraowa di wakili oleh Salmah Widyastuti memberikan pengantar tentang sekilas keanekaragaman hayati dan primata di hutan Sokokembang, dan kedua pembicara yang kita undang menyampaikan pengalaman lapangan, penelitian dan upaya pelestarian yang di lakukan dengan harapan dapat memberikan pengetahuan dan informasi yang berbeda dari yang ada di Jawa, khususnya Owa jawa.
![]() |
| Pendopo Kopi Owa tempat diskusi dan teori Metode survey primata |
Dr.Bosco Chan sebagai direktur konservasi dari NGO yang berbasis di China Kadoorie Farm Botany Garden, sangat antusiast sekali ketika di awal bahwa bisa datang ke hutan Sokokembang, yang awalnya agak ragu bahwa hutan Jawa ini sudah habis. Namun setelah melihat sendiri pengamatan dan merasakan langsung, inilah hutan hujan dataran rendah yang tersisa di Jawa.
![]() |
| Konservasi Hainan Gibbon, di ceritakan Oleh Dr. Bosco Chan |
Bercerita tentang owa di Pulau Hainan,sebuah pulau di selatan China, menjadi tambahan pengalaman berbeda di sajikan untuk peserta pelatihan metode survey 2018. Dr.Bosco bercerita dari 4 Jenis Owa yang ada di Cina, yang menjadi concern Kadoorie farm Bontany Garden, yaitu jenis owa yang ada d China daratan, provinsi Yunan, owa ini baru di pisahkan menjadi species baru tahun 2017, dari species Eastern Hoolock Gibbon (Hoolock leuconedys), bernama Gaoligong Gibbon ( Hoolock tianxing).
Survey terbaru tahun 2017, Dr Bosco menceritakan hanya di temukan sekitar 200 individu saja. Jenis kedua yang menjadi prioritas lembaga di bawah koordinasi Dr Bosco yaitu Hainan Gibbon (Nomascus hainanus), kedua jenis owa ini mempunyai penampilan yang berbeda jantan dan betina ( sexual dimorphism) Jantan berwarna rambut hitam dan Betina berwarna rambut kuning, hingga saat ini owa dari Pulau Hainan, tercatat sebagai Owa yang paling langka di dunia, dan hanya terdapat di satu lokasi di Bawangling Nature Reserve. Tahun 1950an tercatat 2000 individu tersebar di seluruh Pulau Hainan, namun karenan perburuan, dan hilangnya habitat berhutan populasinya turun drastic hingga tercatat 30an di tahun 80an. Hingga tahun 2003, populasinya terus menurun dan tercatat tersisa 13 individu saja!!
lihat vedeo Hanian Gibbon berikut salah satu kegiatan monitoring team Dr.Bosco Chan di KFBG :
Upaya yang dilakukan Dr Bosco dan tim di Kadoorie Farm bertujuan untuk melestarikan Owa ini, meningkatkan populasi dan juga memperluas dan memperkaya habitatnya yang tersisa, program penelitian, peningkatan pengetahuan dan edukasi masyarakat sekitar dan juga pengembanan ekonomi sekitar habitat juga menjadi focus kegiatan. Setelah 14 tahun upaya yang dilakukan survey terakhir di Bawangling Nature Reserve populasi Owa Hainan ini meningkat menjadi 27 individu. Penanman pohon-pohon penting untuk Owa juga di lakukan di antara hutan pinus yang juga menjadi habitatnya. Merekrut orang-orang yang dulu berburu di hutan menjadi ranger owa, patut menjadi contoh di sini, pekerjaan baru yang membuat orang-orang yang memang paham sekali tentang hutan di jalan konservasi, bukan menghabisi keanekargaman hayati.
Di akhir presentasi Dr. Bosco mengapresiasi yang di lakukan disini, dimana kegiatan pelatihan ini adalah sangat penting mengenalkan dan membuat generasi muda lebih tahu akan species kebanggaanya. Mendorong munculnya conservationist muda dan peneliti-peneliti baru yang akan terus berpacu melawan dengan laju kepunahan species-species unik ini.
Sesi kedua, Mbak Dwi Yandi yang dari Tangkoko Sulawesi Utara, menceritakan bahwa Macaca Nigra Project merupakan sebuah kegiatan penelitian bersama antara Institut pertanian Bogor, Universitas Samratulangi, Departemen Kehutanan dan Liverpool John Mores University. Dengan tiga pilar utama kegiatan Penelitian, Konservasi dan Edukasi. Menurut mbak Yandi, di dunia ada 23 jenis Macaca, dan 7 jenis ada di Sulawesi , Dari tahun 2006, penelitian Yaki (Macaca nigra) dimulai, demografi populasi kelompok ini yang awalnya hanya 3 kelompok, telah berkembang menjadi 8 kelompok, di lokasi seluas 87 km2, populasi sekitar 2000 individu. Yaki hanya tersebar di Sulawesi utara, dari pantai hingga pegunungan sebagai habitatnya. Nama internasional untuk Yaki adalah Sulawesi Black Crested Macaque, dengan cirikhas warna hitam dan jambul di kepala. Seperti macaca umumnya, hidup berkelompok banyak jantan dan banyak betina, 15-100 individu, biasanya betina lebih banyak 2-3x jumlah jantan. Ketika dewasa jantan akan memisah dari kelompoknya, sementara Betina tetap bertahan dalam kelompok.
| Dwi Yandhi menyampaikan presentasi tentang Macaca Nigra Project di Tangkoko |
Penelitian yang di lakukan juga menemukan bahwa yaki adaalah salah satu penyebar biji yang efektif di hutan Tangkoko, ada 20 jenis buah yang penting bagi Yaki. Dan yang paling sering dimakan dan tentu saja bijinya juga disebarkan adalah Mengkudu ( Morinda citrifolia ). Aspek konservasi, yang di lakukan di antaranya memetakan konflik Yaki dengan masyarakat, dan salah satu ancaman serius dari populasi Yaki adalah perburuan, perburuan banyak di lakukan menggunakan jerat khusunya untuk menangkap babi hutan dan unggas, namu sering sekali menemukan yaki yang terkena jerat ini.
![]() |
| salah satu slide presentasi mbak Yandhi, Yaki banyak yang kena jerat pemburu |
Jerat-jerat ini banyak membuat yaki terluka, mati ataupun cacat, karena sebenarnya sasaran jerat ini untuk satwa yang lain. Melihat hal ini, upaya untuk menyelamatkan yaki yang kena jerat juga dilakukan dengan melepaskan jerat-jerat yang kadang masih terus terikat di tangan, kaki, ataupun di badan, tentu saja tidak mudah menangkap dan melepas kembali monyet yang kena jerat ini, peralatan biodmedis dan stantar operasional prosedur yang sesuai aturan penanganan primata. Upaya meningkatakan pengetahuan dan edukasi tentang monyet Yaki juga di lakukan dengan mengadakan kegiatan edukatif bersama anak-anak sekolah di lingkungan Cagar Alam Tangkoko.
Acara Pelatihan Metode Survey Primata 2018 (MSP2018), ini terselenggara sebagai bagian dari Kegiatan Proyek Kopi dan Konservasi Primata 2018, yang didukung oleh Fortwayne Children’s Zoo, Ostrava Zoo, dan Wildlife Reserve Singapore, bekerjasama dengan KP3 Primata, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini juga dalam rangka kampanye global hari owa sedunia, International Gibbon Day yang jatuh pada tanggal 24 Oktober 2018.
Subscribe to:
Posts (Atom)


































