Showing posts with label OwaIndonesia. Show all posts
Showing posts with label OwaIndonesia. Show all posts

Sunday, October 10, 2021

Seberapa populer Owa di Twitter ?

Friday, July 3, 2020

Nyanyian Owa Jawa : diva di tengah rimba

Oleh : Nur Aoliya , email :  nuraoliya@apps.ipb.ac.id

 

Sepasang Owa Jawa

“Emang ada Owa Jawa di Pekalongan?” itu pertanyaan pertama saya saat mendengar program konservasi owa jawa oleh Coffee and Primate Conservation Project atau sekarang lebih dikenal SwaraOwa  di desa sukokembang, kecamatan petungkriyono kabupaten pekalongan tahun 2014. Sampai sekarang tahun 2020 masih ada orang yang mempertanyakan akan hal itu, bahkan orang pekalongan sendiri ada yang tidak tahu kalo ada Owa Jawa di Pekalongan.

Salah satu yang unik dari owa adalah suara atau nyanyiannya, bak sebuah lagu. Baik owa betina maupun jantan dapat bersuara, namun waktu dan tipe suaranya berbeda. Owa jantan cenderung bersuara sebelum fajar sedangkan Owa betina cenderung bersuara setelah terang dan kadang siang hari. Jenis-jenis owa menghasilkan  nyanyian lagu yang keras dan panjang yang sebagian besar dipamerkan oleh pasangan yang telah kawin. Biasanya, pasangan menggabungkan nyanyian ini  (repertoire) dalam interaksi vokal, tepat waktu, dan kompleks untuk menghasilkan  pola duet yang baik.1

Perbedaan waktu bersuara Owa Jawa ini, kenapa seperti itu juga belum banyak yang meneliti. Di dunia hanya Owa dari Jawa dan Owa dari Mentawai dimana antara jantan dan betina tidak menyanyi bersama.

Lebih menarik lagi suara yang dinyanyikan owa betina pada pagi hari yang disebut great call, karena suaranya sangat khas. Suaranya dimulai dengan suara “waa” dengan interval lambat yang semakin cepat sampai ke lengkingan panjang dan diakkhiri dengan interval yang semakin melambat.  Mungkin karena itulah satwa ini lebih dikenal sebagai owa-owa/ uwek-uwek karena suarnya terdengar melafalkan kata tersebut. Suara betina selain khas juga memiliki peranan sangat penting, yaitu sebagai tanda daerah teritorinya. Setiap kelompok owa memiliki area yang digunakan sebagai tempat mencari makan, istirahat, reproduksi, dan segala aktifitasnya. Area tersebut akan dijaga dan tidak akan mengijinkan owa dari kelompok lain untuk memasuki area mereka. Tugas owa betina ini menyiarkan batas-batas areanya melalui suaranya tiap pagi.

Lantas bagaimana owa tau bahwa ini suara betina yang mana? Dan dari kelompok mana? ini menjadi daya tarik saya untuk mepelajari variasi great call owa di sokokembang sebagai skripsi yang didukung oleh Swaraowa. Ternyata setelah saya mempelajari lebih lanjut baik secara literature maupun penelitian langsung setiap suara betina ini memiliki perbedaan. Perbedaanya dapat kita lihat dengan cara memvisualisasikan suara nyanyiannya, dan perbedaan yang utama  dari nadanya, durasinya dan frekuensinya (lihat gambar dan video). Seperti suara manusia yang berbeda-beda sehingga kita bisa membedakan manusia hanya dari suaranya tanpa melihat wujudnya kan? owa jawa juga begitu.

Visualisasi suara 3 individu Owa jawa

Saat ada satu betina yang bersuara maka akan memancing betina lain akan bersuara.  Antar betina yang beda kelompok tidak akan bersuara bersamaan alias bergantian, agar pesan  masing-masing kelompok tersampaikan. Biasanya betina remaja akan belajar bersuara bersama induk betinanya, tapi kadang suaranya masih nanggung atau tidak seharmoni induknya. Owa tidak akan bersuara saat hujan atau malam harinya hujan. Soalnya suaranya akan lebih sulit terdengar oleh kelompok lain dan butuh energi lebih saat hujan.  Jadi dari pada energi terbuang sia-sia untuk bersuara lebih baik digunakan untuk menghangatkan badan. Sama seperti kita kalo hujan juga penginya rebahan ajah, tidak  buang-buang energi.

Demikianlah sebagian fakta unik tentang owa jawa. Mudah-mudahan owa jawa dimanapun khususnya di Petungkriyono akan tetap lestari,  owa membantu regenerasi alami pohon-pohon alam, kita butuh hutan  dan owa jawa sebegai satu kesatuan, menikmati udara segar, air sungai yang deras dan jernih, sumber ekonomi dan  ilmu pengetahuan  yang harus kita rawat dan kelola dengan bijaksana. Menikmati nyanyiannya di hutan setidaknya akan memberikan rasa kedamaian diantara riuhnya suara-suara gemuruh pembangungan anthroposentris , nyanyian Owa seperti diva di tengah belatara, yang menunjukkan bahwa hutan tempat hidupnya masih terjaga. Melestarikan owa jawa dan hutan sama sajah menjamin kehidupan untuk manusia generasi selanjutnya.

 

Daftar Pustaka

1. Geissmann, T. dan V. Nijman. 2001. Calling Behaviour of Wild Javan Gibbons Hylobates moloch In Java, Indonesia dalam Forest (and) Primates. Conservation and ecology of the endemic primates of Java and Borneo. Tropenbos Kalimantan Series


Thursday, October 24, 2019

Pelatihan Metode Survey Primata untuk Hari Owa Sedunia



Untuk ke 7 kalinya tahun ini, proyek kopi dan konservasi primata menyelenggarakan acara tahunan untuk mengarus utamakan konservasi Owa di Indonesia. Seperti acara-acara sebelumnya acara ini di laksanakan bekerjasama dengan Kelompok Pemerhati dan Peneliti Primata (KP3 Primata) dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sebagai panitia teknis acara. Tanggal 11-13 Oktober 2019,  sebanyak 25 peserta dari berbagai universitas , organisasi komunitas, BKSDA, Perhutani,  juga turut hadir dalam acara ini.

Acara tahun ini juga dilaksanakan untuk merayakan hari Owa internasional, yang di peringati setiap tanggal 24 Oktober 2019. Acara International Gibbon day sendiri juga di promosikan oleh IUCN gibbon specialist group, dan biasanya di adakan secara global di berbagai negara habitat asli owa owa, dan para peneliti dan pemerhati Owa di dunia. Acara ini dapat di ikuti di sosial media dengan hashtagh #IGD2019 atau #InternationalGibbonDay.
Foto bersama peserta MSP 2019

Tanggal 11 Oktober 2019, para peserta yang di organize oleh panitia yang di ketuai Giot Simanulang, sudah mulai berdatangan ke sokokembang, tercatat ada perwakilan dari Jakarta (UIN), Bandung ( Unpad), Yogyakarta (UGM), Semarang (Undip), kelompok pecinta alam, kelompok pegiat wisata di kabupaten Pekalongan, dan beberapa peserta yang merupakan warga di sekitar habitat Owa di Kecamatan Petungkriyono . Peserta tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kalau sebelumnya kita mengirim undangan untuk lembaga, atau kelompok studi untuk mengirimkan perwakilan peserta, namun kali ini peserta tahun ini di buat terbuka tidak dengan undangan namun dengan mengirimkan surat motivasi, menyebutkan alasan kenapa ingin bergabung ikut acara ini dan menceritakan sedikit latar belakang kegiatan yang sudah dilakukan.  Yang menarik dari sebaran peserta tahun ini ada dari sekitar habitat Owa sendiri dan yang terjauh dari Sumatera Utara, mahasiswa Universitas Padjajaran Bandung.


Acara dibuka langsung oleh perwakilan pemerintah desa Kayupuring, yang di wakili oleh Bapak Markuat kepala dusun Sokokembang, pak kadus memperkenalkan kepada peserta bahwa Sokokembang ini terkenal sebagai tempat wisata pendidikan, yang datang kesini biasanya untuk belajar tentang hutan dan segala isiniya. Panitia acara dari KP3 Primata juga memberikan sambutan selamat datang kepada peserta dan menjelaskan acara akan dimulai malam ini dengan materi pengantar oleh tim swarowa tentang metode line transect untuk survey primata.
Hari ke dua 12 Oktober 2019, jam 6.30 smua peserta sudah bersiap untuk menuju hutan untuk praktek lapangan metode line transek, ada 3 jalur yang sudah disiapkan oleh tim swaraowa,dengan peserta juga di damping oleh pemandu dari warga setempat. Beberapa peserta yang baru pertama kali masuk hutan dan merasakan langsung susahnya topography di hutan sokokembang ini. Pengalaman ini juga di ungkapkan beberapa peserta langsung dan berikut komentar salah satu peserta dari Sumatera Utara.
Mas Anton bercerita tentang pengalaman lapangannya

Acara sore hari tanggal 12 oktober adalah sesi sharing dari pembicara tamu, yaitu mas Anton Nurcahyo dari BOS foundation, dan Mbak Salmah  Widyastuti mahasiswa pascasarjana Institute Pertanian Bogor. Mas Anton menceritakan pengalamannya sejak mahasiswa S1 hingga saat ini. Pengalaman organisasi di kampus dan aktif dalam kegiatan Pengamat burung di Yogyakarta, menjadi motivasi awal mas Anton untuk terus berkegiatan terkait dengan konservasi alam, kemudian bergabung dengan WCS Indonesia di sumatera selatan untuk penelitian siamang dan ungko. Setelah dengan WCS mas anton sempat bergabung dengan TNC dan BOS Foundation untuk konservasi Orangutan.Penelitian terbaru dari mas Anton adalah tentang Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) dimana beliau salah satu yang terlibat langsung untuk meneliti sampel sampel tengkorak orangutan di seluruh dunia yang ada terutama yang ada di museum-museum sejarah alam.
Persiapan sebelum ke hutan

Pembicara kedua acara ini adalah mbak Salmah Widyastuti yang mempresentasikan tentang penelitiannya di Pegunungan Dieng untuk kesesuaian habitat Owa jawa. Penelitian ini sedang berjalan dan hasil awal penelitian ini menyebutkan bahwa sebaran owa jawa ini meliputi di 4 kabupaten, yaitu Batang, Pekalongan, Banjarnegara, dan Wonosobo, dan wilayah hutan di kabupaten Pekalongan merupakan wilayah dengan kesesuaian habitat tertinggi untuk Owa Jawa.

Hari ketiga, 13 oktober 2019, acara pelatihan untuk metode vocal count, khusus untuk Owa Jawa, metode ini menggunakan suara Owa sebagai dasar untuk estimasi populasi dan distribusi Owa, dengan menyiapkan titik-titik pengamatan sebagai Listening Post, peserta sudah mulai di lokasi sejak pukul 06.00 pagi, mencatat setiap suara yang terdengar, mencatat arahnya dan mengestimasi jaraknya. Mengenali suara owa juga menjadi pengalaman berbeda bagi para peserta, ada 2 lokasi yang mana perta menggunakan sebagai titik pengamatan (LPS), pengambilan data dilakukan hingga jam 8.30, dimana setelah jam ini sudah tidak terdengar ada owa yang bersuara lagi. Kemudian peserta kembali dari lapangan untuk menganalisis data yang diperoleh selama pengamatan suara dan mempresentasikan hasil pengamatan yang dilakukan.

Acara pelatihan MSP ini menjadi acara tahunan di Sokokembang bekerjasama dengan teman-teman dari KP3 Primata dan Forestation Fakultas Kehutanan UGM, dan acara yang ke-7 kali ini merupakan bagian dari kegiatan ProyekKopi dan Konservasi Primata yang didukung oleh Wildlife Reserve Singapore, Ostrava Zoo, dan Fortwayne Children’s Zoo.

Friday, December 7, 2018

Legenda Owa Jawa : Onomatopoeia


Owa Jawa (Hylobates moloch)

Cerita asal usul tetang kera kecil ini berasal dari Pegunungan Dieng Bagian barat, masuk dalam wilayah Kabupaten Pekalongan. Rangkaian pegunungan yang saat ini menjadi benteng pertahanan terakhir untuk Owa, di Pulau Jawa. Catatan penelitian tahun 70 an  hingga 80an, mencatat sebaran owa ini mulai ketinggian hutan pantai  hingga hutan pegunungan 1500 meter di atas permukaan laut.

Melihat sejara sebaran owa, yang dari hutan dataran rendah hingga ke pegunungan, sangat mungkin bahwa Owa ini juga mempunyai hubungan cukup erat dengan manusia-manusia disekitar tempat hidupnya.

Mencoba melihat sisi lain untuk mengarusutamakan upaya pelestarian primata endemik Jawa, setiap bekunjung ke dusun-dusun tepi hutan, cerita-cerita asal usul Owa ini di pastikan ada, meskipun terbatas pada orang-orang tua, yang rata-rata berusia di atas 60 tahun.
Seorang anak yang diajak ke hutan kemudian ditinggal di hutan, dan kemudian memanggil, manggil pamannya “uwa..wa..uwa’’..dengarkan cerita versi pertama disini :



Owa adalah binatang arboreal, kera kecil tak berekor yang selalu hidup di pohon, dan biasanya warga sekitar mengenal dari suaranya, meskipun tidak melihat langsung seperti apa wujudnya. Berada di pohon,di hutan yang rapat, namun suaranya bisa terdengar keras hingga 2 km. Sebuah Onomatopoeia, menamakan binatang berdasar suaranya. Dinamakan Owa karena suaranya Uwa...wa..wau..wau...wa., kadang sering juga bertemu warga sekitar hutan mengenal owa memang dari suaranya, ketika mendiskripsikan secara ciri-ciri morphologi kurang begitu jelas kalau itu adalah owa yang dimaksud.

Simak rekaman video wawancara dengan Bapak Riyanto  (Korep) 70 tahun, warga dusun Glidigan, Tlogohendro, Pekalongan.


Memasukkan perspektif budaya sekiranya juga harusnya menjadi bagian dari pembangunan konservasi berkelanjutan, dan mungkin hal ini juga bisa menjadi masukan untuk pengambil kebijakan. cerita-cerita lama,seperti legenda menjadi metode tersendiri untuk membangkitkan semangat pelestarian owa dan hutan segala isinya, membangkitkan rasa bangga bahwa kita memiliki primata yang tidak ada belahan bumi manapun selain di Jawa.

Daftar Pustaka

Kappeler M. 1984. The gibbon in Java. In; Preuschoft H, Chivers DJ, Brockelmann WY, Creel N, eds. The lesser apes. Evolutionary and behavioural biology. Edinburgh: Edinburgh University Press, 19-31

Assaneo MF, Nichols JI, Trevisan MA. The anatomy of onomatopoeia. PLoS One. 2011;6(12):e28317.