Showing posts with label bukit santuai. Show all posts
Showing posts with label bukit santuai. Show all posts

Tuesday, April 9, 2019

Lutung Dahi Putih : Catatan Baru di Kalimantan Tengah

Presbytis frontata Lutung dahi Putih


Catatan perjumpaan terbaru untuk salah satu jenis primata endemik Kalimantan di laporkan oleh tim swaraowa, dari kegiatan pengamatan primata bulan Oktober tahun 2018.
Temuan ini menambah pengetahuan tentang sebaran dan populasi primata ini di Kalimantan Tengah, dan sudah di publikasikan melalui jurnal  Southeast Asia Vertebrate Record, dan bisa download melaui link berikut.   Lutung dahi putih (Presbytis frontata) adalah jenis monyet pemakan daun endemik Kalimantan. Dengan ciri hitam di seluruh tubuh dan warna putih di bagian kepala depan, Lutung ini sangat berbeda dengan jenis surili  dari genus presbytis lainnya yang ada di Kalimantan. Menurut IUCN Red list, primata ini masuk dalam kategori vulnerable (VU) 1 dan masuk dalam kategori satwa dilindungi ( NOMOR P.92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018)

Beruk (Macaca nemestrina)
(Presbytis rubicunda) Lutung merah

Perjumpaan dengan primata ini berada di kawasan HCV Bukit Santuai, yang terletak konsesi perkebunan Kelapa Sawit Agro Wana Lestari, Kota Waringing Timur, Kalimantan Tengah. Menurut Ika Yuni Agustin, di hutan alam di Bukit Santuai ini juga menjadi habitat Owa (Hylobates albibarbis), Lutung merah ( Presbytis rubicunda) juga ada Beruk (Macaca nemestrina), dan Monyet Ekor panjang ( Macaca facicularis).


1. Meijaard, E. & Nijman, V. 2008. Presbytis frontataThe IUCN Red List of Threatened Species 2008:e.T18127A7665520. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T18127A7665520.enDownloaded on 08 April 2019.

Wednesday, October 31, 2018

Sorak Sorai Anak-anak Bukit Santuai: Harapan Bagi Konservasi Owa


Liputan Hari Owa Sedunia 2018 di Bukit Santuai
oleh : 
Salmah W (salmah.widyastuti@gmail.com) dan Ika Y Agustin (ikayuni.agustin@gmail.com)

SD Tunas Agro 2 
 Siang itu, sungguh takjub kami melihat antusias siswa-siswi SD Tunas Agro menyambut kegiatan esok pagi. Ya, tanggal 24/23 Oktober 2018 lalu kami memperingati Hari Owa Sedunia 2018 bersama siswa-siswi SD untuk mengenalkan owa dan satwa primata lainnya di area HCV PT. Agro Wana Lestari (AWL). Kegiatan ini adalah hasil kolaborasi SwaraOwa dengan Goodhope Asia Holdings melalui PT. AWL, unit perusahaannya yang beroperasi di Kalimantan Tengah. Satu hari sebelum kegiatan, kami berkunjung ke SD Tunas Agro untuk mendapatkan gambaran acara esok hari. Setelah mendapat penjelasan Pak Kepala Sekolah mengenai rencana teknis acara, kami diantar Pak Guru berkeliling sekolah dan bertatap dengan siswa kelas 4 dan 5 yang akan menjadi peserta edukasi konservasi owa. Selama kami berkeliling, kami menjadi pusat perhatian siswa-siswi dari dalam kelas, wajah mereka seperti sudah tak sabar diajak bermain ke hutan esok hari bersama kami. 

Betul ternyata, Ibu Guru bercerita kalau siswa-siswi setiap hari selalu menanyakan tentang acara Hari Owa, nanti apa yang akan mereka lakukan, apakah akan masuk hutan, apakah mereka akan melihat owa dan sebagainya. Bukan hanya itu, mereka menghitung mundur hari sejak beberapa minggu sebelum hari H. “Ibu acara Hari Owa tinggal 6 hari lagi ya”.. “Wah tinggal 5 hari lagi ya Bu”..”Yeay tinggal 3 hari lagi”.. Kami menyaksikan langsung dan merekam (video) rasa penasaran mereka ketika Pak Kepala Sekolah memberi pengumuman di dalam kelas. Wah.. kami semakin semangat.

Tiba lah pagi hari, ternyata siswa-siswa sudah lebih dulu datang! Baiklah, kami tak meragukan sedikit pun kalau mereka betul-betul menghitung mundur hari menuju Hari Owa Sedunia ini. 13 Siswa-siswi siap, tim pemandu siap, langsung saja kami gandeng siswa-siswi melihat isi hutan Santuai.
Perjalanan ke lokasi Pengamatan Hutan Bukit Santuai
13 Siswa dibagi menjadi 2 kelompok, kemudian dipandu berjalan perlahan mengamati sekitar hutan. Sambil berjalan pemandu mengenalkan tanda-tanda keberadaan Owa dan jenis primata lainnya. Walaupun cuaca mendung, burung-burung cantik berterbangan dan hinggap menggoda di dekat kami. Beruntungnya siswa-siswi ini, sekelompok owa tertangkap mata telanjang kami meski hanya selama hitungan detik dan kelompok lainnya dari kejauhan menyanyikan morning call nya. Tak hanya itu, di akhir perjalanan sekelompok lutung terdeteksi dari warna dan gerakannya. Dengan bantuan perbesaran binocular (teropong) dan kamera, teridentifikasi kelompok lutung merah sedang menikmati sarapan pagi di satu pohon dengan “lutung hitam berdahi putih”. Tak mau ketinggalan, 1 ekor beruk mengecoh kami dari kejauhan yang terlihat seperti  owa.
Anak-Anak melihat langsung owa kalimantan
salah satu spot pengamatan primata Bukit Santuai

Owa Kalimantan ( Hylobates albibarbis)
Kelasi ( Presbytis rubicunda)
Lutung dahi putih (Presbytis frontata)

Sambil melangkah kembali ke titik awal, pertanyaan-pertanyaan unik dan polos mengenai owa menghujam kami “Kak, kenapa owa tinggal di hutan?” “Apakah owa binatang buas atau jinak?”. Mereka juga mengungkapkan kesan mereka untu pengalaman pertama kalinya mengamati satwa di Hutan. “Ternyata masuk ke hutan itu seru ya Kak, kirain capek dan bosen kak.” Serta ada pertanyaan yang menandakan mereka ingin mengamati satwa di hutan secara rutin. “Hari Owa Sedunia adanya setiap berapa tahun sekali Kak?” Jawab kami. “Setahun sekali”. “Berarti tahun depan ada lagi ya Kak? Yeaaay” dengan wajah penuh harap. Hmm.. bahagia rasanya melihat tunas-tunas muda ini antusias mengamati langsung owa dan jenis primata lainnya beraktivitas bebas di hutan Santuai. Berharap pesan dari kami mengajak mereka masuk hutan tersampaikan.
 
Foto bersama setelah pengamatan
Selepas dari hutan, tim swaraowa mengenalkan jenis-jenis dan ciri-ciri khas primata di Kalimantan Tengah, khususnya owa Kalimantan, ancaman di habitat aslinya, serta menyampaikan bagaimana cara ikut serta melindungi satwa-satwa liar di hutan, terkhusus hutan Santuai dan sekitarnya. Selanjutnya siswa-siswi diajak mengekspresikan imajenasi mereka mengenai Owa, Primata, dan Hutan melalui lomba menggambar. Melalui menggambar mereka memperlihatkan pesan-pesan yang kami sisipkan dalam kegiatan ini.

acara dalam kelas, lomba menggambar



Pemenang lomba menggambar



Setelah membagikan hadiah untuk 3 pemilik gambar terbaik acara ditutup dengan bersama-sama menggunakan topeng owa dan menirukan suara great call owa. Semua terlihat cinta dan bangga terhadap owa, siswa-siswa, Bapak Ibu Guru, maupun tim PT. AWL-Goodhope. Merupakan kesempatan yang luar biasa bisa merayakan Hari Owa Sedunia dengan berbagi pengetahuan pada anak-anak yang luar biasa semangatnya mengenali satwa unik yang tinggal di sekitar mereka, Owa.

Selamat Hari Owa Sedunia! Mari ikut melindungi owa dari perburuan liar dan kehilangan habitatnya.





Tuesday, September 25, 2018

Konservasi Owa di Perkebunan Kelapa Sawit, Mungkinkah?

Hylobates albibarbis, Owa di  Kalimantan Tengah

Mengawali bulan September 2018, SwaraOwa mendapatkan kesempatan untuk belajar, bertualang dan berbagi kisah seputar owa dan primata lainnya. Kegiatan kali ini terbilang istimewa. Jika biasanya SwaraOwa berkegiatan bersama rekan-rekan mahasiswa, peneliti, atau pegiat lingkungan lainnya, kali ini SwaraOwa berkumpul bersama perwakilan dari berbagai perusahaan perkebunan kelapa sawit. Kok bisa? Bukankah perkebunan kelapa sawit merupakan tersangka utama dalam deforestasi hutan di Indonesia? Bukankan gara-gara perkebunan sawit ini juga keberadaan berbagai kehidupan liar turut terancam? Belum lagi berbagai permasalah sosial yang timbul karenanya.


Tulisan ini tidak akan membahas berbagai pro-kontra terkait perkebunan kelapa sawit, namun lebih pada salah satu upaya yang dilakukan pengelola perkebunan kelapa sawit untuk menuju perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Apa yang dimaksud dengan minyak sawit berkelanjutan? Silahkan langsung cek prinsip dan kriteria minyak sawit berkelanjutan di website RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) atau ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang kemudian dikenal dengan Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia.
 
Materi kelas, teori dan analisis data hasil survey 
Pada tanggal 4-6 September 2018, SwaraOwa bekerjasama dengan Goodhope Asia Holding mengadakan pelatihan Program Konservasi Primata di Areal HCV (High Conservation Value) atau NKT (Nilai Konservasi Tinggi) Perkebunan Kelapa Sawit. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai nilai penting primata dan upaya konservasinya, serta pengenalan metode survey primata dengan metode vocal count/ fixed point count-triangulation. Peserta pelatihan merupakan perwakilan dari perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah yakni Wilmar, KMA (KLK Group), Minamas Plantation,  Sawit Nabati Agro di Ketapang (IOI Group), serta Goodhope Asia Holdings yang bertindak sebagai tuan rumah. Narasumber dalam pelatihan ini adalah perwakilan dari RSPO, PT. SMART, tokoh adat Desa Tumbang Penyahuan, serta 3 orang dari SwaraOwa.
Aolia (swaraowa) memberikan pengantar tentang jenis primata di Kalimatan Tengah

Hari pertama pelatihan berpusat di training centre PT AICK. Acara dibuka dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh General Manager PT AICK, yang dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh perwakilan dari RSPO, Bapak Djaka Riksanto. Beberapa point penting dalam materi dan diskusi pada sesi ini adalah prinsip dan kriteria sustainable palm oil yang terkait dengan konservasi primata, serta pentingnya pedoman pengelolaan dan pemantauan HCV yang hingga saat ini belum final. Berikutnya, perwakilan dari PT. SMART berbagi pengalaman mengenai praktik pengelolaan KBKT (Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi) dengan optimalisasi jasa lingkungan serta monitoring keanekaragaman hayati. Diskusipun berkembang, mencakup pengalaman restorasi/rehabilitasi riparian, potensi konflik dengan masyarakat berikut upaya pengelolaannya, serta kesulitan para pengelola perusahaan ketika harus menjelaskan payung hukum HCV kepada masyarakat.
Presentasi berikutnya disampaikan oleh Bapak Dante, tokoh adat dari Desa Penyahuan, yang menceritakan tentang inisiatif konservasi Bukit Santuai sebagai kawasan konservasi berbasis Adat dan Spiritual. Bukit Santuai merupakan salah satu areal HCV PT AWL. Bagi masyarakat setempat, Bukit Santuai dianggap keramat dan memiliki kisah tersendiri terait dengan nenek moyang mereka. Selain itu, untuk keperluan ritual adat, masyarakat memerlukan beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh di Bukit Santuai ini.

Praktek lapangan di HCV Bukit Santuai

Selepas makan siang, giliran SwaraOwa menyampaikan kisahnya tentang program konservasi primata berbasis masyarakat di Petungkriyono, Pekalongan dan di kep.Mentawai. Antusiasme peserta sangat terlihat pada saat sesi diskusi. Mereka berharap program yang sejenis bisa dilakukan di site mereka masing-masing, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan potensi dan karakter daerah masing-masing. Sebelum lanjut ke pengenalan metode survey primata, Aolia membawakan materi tentang jenis-jenis primata di Kalimantang Tengah lengkap beserta ciri dan status konservasinya. Materi mengenai metode survey primata menjadi penutup materi ruang, dilanjutkan dengan briefing dan pembagian kelompok praktik, yakni menjadi 3 kelompok.
Lokasi praktek HCV Bukit Santuai

Hari kedua pelatihan berpusat di PT AWL, dengan agenda utama praktik lapangan metode vocal count untuk mengestimasi densitas owa-owa atau klempiau (Hylobates allbibarbis) di Bukit Santuai. Pagi hari menjelang subuh, suara owa-owa membangunkan kami. Tepat pukul 05.00 seluruh tim sudah siap berkumpul untuk selanjutnya bergerak menuju Pos Keramat. Setiap kelompok segera menuju listening post (LPS) masing-masing. Pukul 06.00 setiap kelompok telah tiba di LPS, langsung disambut great call owa-owa yang sahut-menyahut antar kelompok. Masing-masing tim segera bejibaku untuk pengambilan data, hingga pukul 07.30, kemudian dilanjutkan praktik analisis data untuk mendapatkan estimasi densitas owa-owa. Triangulasi untuk memperkirakan distribusi kelompok owa yang terdeteksi, dilakukan bersama-sama di guest house PT AWL. Menjelang sore, rombongan kembali ke training centre PT AICK untuk persiapan presentasi kelompok esok harinya.
foto bersama peserta dan pembicara

Di hari terakhir pelatihan, masing-masing kelompok diberikan waktu untuk presentasi hasil “penelitian” mereka, mencakup estimasi densitas serta hal-hal menarik dan kendala yang ditemui selama praktik. Tanya jawab berlangsung sangat seru, termasuk munculnya pertanyaan-pertanyaan “nyeleneh” namun berarti seperti, “jika great call merupakan komunikasi antar kelompok, apakah dari suara yang terdengar, bisa diketahui adanya betina yang berpasangan atau belum? 

Tiga hari pelatihan yang penuh keakraban disertai diskusi dan sharing pengalaman akhirnya berakhir. Tiga hari pelatihan yang membuat peserta mahir menirukan great call owa-owa. Tiga hari pelatihan yang diharapkan dapat menjadi inisiasi untuk program konservasi primata di areal HCV perkebunan kelapa sawit. Perkebunan sawit, kebutuhan akan minyak nabati adalah kenyataan dan kerusakan hutan telah terjadi, mepertahankan populasi yang ada yang tersisa saat ini adalah upaya yang harus terus di arusutamakan.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
di tulis oleh : Kasih Putri Handayani , email : kasihputri288@gmail.com

Monday, April 9, 2018

Nyanyian Owa Bukit Santuai



Ditengah perkebunan sawit, Kalimantan Tengah , di antaranya masih terdapat sisa-sisa tegakan hutan alami yang masih bertahan dan kalau kita perhatikan ada nyanyian Owa di antaranya . Perjalanan tim swaraowa bulan Maret 2018 ini menuju salah satu kawasan hutan alami yang tersisa di antara bentang alam monoculture, Kelapa Sawit.

Kota tujuan yang kami tuju adalah Sampit, Kabupaten Kota Waringin Timur. Keluar dari Bandara  Sampit nampak sekali atmosfer perkebunan dan industri minyak sawit, terasa. Ratusan mungkin bisa mencapai ribuan truk pengangkut minyak hilir mudik di jalan-jalan Sampit ini. Perjalan kami kurang lebih 6 jam, dari kota sampit, Bukit Santuai adalah nama kota kecamatan, yang di wakili oleh bukit yang memang tersisa vegetasi alamnya yang terletak di antara perkebunan Sawit.

Bornean-white bearded Gibbon (Hylobates albibarbis)

Pengalaman berbeda dan menambah pengalaman lapangan terkait dengan pelestarian primata di kalimatan tengah. Yang menjadi perhatian kami adalah jenis owa, di Kalimantan, mengupdate pengetahuan dan permasalahan konservasi yang sama sekali berbedan dengan di Jawa atau di Mentawai yang telah kami kunjungi.

Menurut Cheyne, et al 2016, saat ini taxonomy jenis Owa di Kalimantan dan umumnya Borneo yang memasukkan Malaysia dan Brunai, terdapat 4 jenis Owa, yaitu Hylobates funereusHylobates MuelleriHylobates albibarbis, dan Hylobates abboti. Sebaran geografis nya di batasi sungai-sungai besar dan pegunungan di bagian tengah-utara Kalimantan.

Pengamatan singkat kami di kawasan bernilai konservasi tinggi perkebunan sawit, Agro Wana Lestari masih menjumpai kelompok Owa, bahkan beberapa di antaranya juga terdapat di kawasan riparian yang terisolasi oleh habitat Sawit.  Simak video berikut Owa dan nyanyiannya  yang kami jumpai di hutan bukit Hawuk dan Bukit Santuai.


Kunjungan singkat ke beberapa desa sekitar habitat Owa kalimantan ini, terlihat masih ada kegiatan adat yang sangat terkait dengan alam sekitar. Penganut  kaharingan , membuat tempat-tempat khusus untuk orang yang telah meninggal melalui upacara adat. Ada tiang-tiang (sapundu) bernila sakral untuk menghormati orang yang telah meninggal, berukir binatang, seperti burung, monyet, bajing,  di makam-makam orang , menunjukkan pengetahuan mereka tentang alam di sekitar mereka.
tiang-tiang bernilai sakral berukir monyet


Refferensi :

Cheyne, S.M., Gilhooly, L.J., Hamard, M.C., Höing, A., Houlihan, P.R., Loken, B., Phillips, A., Rayadin, Y., Capilla, B.R., Rowland, D. and Sastramidjaja, W.J., 2016. Population mapping of gibbons in Kalimantan, Indonesia: correlates of gibbon density and vegetation across the species’ range. Endangered Species Research30, pp.133-143.