Tuesday, February 23, 2016

Lutung Kelabu dari G.Lawu

Di tulis oleh : Kasih Putri Handayani
e-mail :kasihputri288@gmail.com 
 
Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)


Disambut kabut tebal dan gerimis, Rabu, 10 Februari 2016, akhirnya tim SwaraOwa sampai di Basecamp Pendakian Cemoro Kandang, lereng selatan Gunung Lawu. Misi kami kali ini adalah untuk memperbarui informasi mengenai primata Jawa. Gunung Lawu ini merupakan lokasi pertama yang kami survei terkait potensinya sebagai area distribusi primata, terutama jenis Rekrekan atau Surili (Presbytis comata).

Secara administratif, lereng selatan Gunung Lawu ini merupakan perbatasan antara Kabupaten Karanganyar (Provinsi Jawa Tengah) dengan Kabupaten Magetan (Provinsi Jawa Timur). Kawasan ini juga berkembang menjadi tempat wisata yang cukup ramai, mulai dari Telaga Sarangan, Cemoro Sewu hingga Cemoro Kandang. Jalur pendakian Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu juga merupakan jalur favorit para pendaki gunung untuk mencapai puncak Lawu yang dikenal dengan nama Hargo Dumilah (3.265 mdpl). Selain dari kalangan pecinta alam, beberapa orang mendaki Gunung ini untuk kepentingan ritual.

Sepintas, penutupan lahan sebagian besar kawasan lereng selatan Gunung Lawu ini berupa hutan (hutan tanaman dan hutan alam), yang berbatasan dengan permukiman dan lahan pertanian warga. Nampak pula bekas kebakaran hebat tahun lalu, yang menyisakan tegakan-tegakan batang pinus yang kering. Dilihat dari citra di Google Earth, nampak jelas kebakaran tersebut turut memisah-misahkan kawasan hutan yang ada.

Hutan tanaman di kawasan ini umumnya disusun oleh jenis tanaman pinus, puspa, bintamin dan eucalyptus. Disamping hutan tanaman, lereng selatan Gunung Lawu masih memiliki ekosistem hutan hujan tropis yang sangat menawan. Pohon pasang (Lithocarpus sp., famili Fagaceae) atau pohon oak, tumbuh kokoh dengan batang dan dahan yang menjadi habitat bagi berbagai jenis lumut, paku-pakuan dan anggrek epifit. Cahaya matahari menerobos di sela-sela kanopi hutan yang terbuka, menjadikan lantai hutan terasa lembab terlebih pada musim hujan. Kami pun berulang kali hanya berdecak kagum melihat hutan yang sangat idah ini.
 
Rekrekan (Presbytis comata)
Untuk mencari keberadaan primata, tim swaraOwa bergerak menyusuri jalur pendakian dan jalan-jalan setapak di dalam kawasan hutan, dari sekitar jalur Cemoro Kandang hingga Mojosemi. Dihari pertama survey, belum terlalu jauh kami berjalan dari basecamp Cemoro Kandang, terdengar loudcall Lutung Budeng yang sangat khas. “kekok kekok, kekok kekok”, kurang lebih demikian vokalisasinya. Mendengar panggilan tersebut, kami segera bergerak menaiki punggungan menuju arah datang suara. Akhirnya terlihat oleh kami dua individu lutung yang tengah bergerak di pohon. Namun nampaknya mereka tidak hanya berdua. Terdengar suara berisik individu lain dan juga gerakan dahan-dahan pohon di belakang mereka. Terlihat satu individu lutung yang nampak lebih “gendut” dari individu lainnya, dengan rambut bagian ventral yang berwarna abu-abu keputihan. Rambut di bagian wajah juga nampak keputihan. Mungkin ini yang dimaksud oleh masyarakat setempat, tentang Lutung kelabu. Ketika kami mengumpulkan informasi dari masyarakat, mereka menyatakan belum pernah melihat monyet berjambul dan berbibir merah yang kami cari (Rrekrekan). Namun mereka meyakini ada monyet yang rambut muka dan dadanya berwarna keputihan seperti halnya Rekrekan dalam satu kelompok lutung budeng yang dominan hitam. Dalam satu perjumpaan lain dengan kelompok lutung budeng, variasi warna rambut juga terlihat. Kali ini kami bisa melihat lebih dekat dan jelas, bahwa memang beberapa individu lutung memiliki warna rambut yang keputihan di bagian ventral (dada dan perut), tangan dan bagian dalam kaki. Warna keputihan juga menghiasi bagian luar kaki, tangan dan juga bagian muka.


Satu kelompok lagi kami jumpai di tepi jalan raya pada lereng yang cukup curam. Terlihat satu individu muda (infant) digendong induknya. Bagian kepala dan punggung infant tersebut telah berwarna hitam, sementara bagian depan (dada dan perut) masih berwarna putih kekuningan. Mengetahui keberadaan kami, dengan segera mereka bergerak menjauh dari jalan. Nampak bekas semak di tepi jalan yang mereka lalui. Mereka harus mengambil resiko, keluar dari hutan dan menyeberang jalan raya yang cukup lebar dan ramai untuk mencari makan di hutan seberang jalan. Mungkin seperti inilah cikal-bakal terjadinya fragmentasi hutan.


Habitat Lutung di G.Lawu

Satu hal yang menarik perhatian kami. Kawasan lereng selatan Gunung Lawu ini masih memiliki hutan alam yang vegetasinya masih sangat bagus. Dengan kondisi demikian, kami berharap dapat menjumpai biodiversitas satwa yang tinggi. Namun dugaan kami meleset. Hutan alam yang indah tersebut sangat sepi. Tidak banyak jenis burung yang kami jumpai, yang sebagian besar merupakan jenis burung semak. Apakah ini dampak aktivitas perburuan yang hingga kini masih saja terjadi? Atau memang kami datang diwaktu yang kurang tepat, saat satwa-satwa tersebut tengah bersembunyi. Entahlah. Dan melalui kegiatan serta tulisan ini, kami ingin mengajak sahabat-sahabat semua untuk turut menjaga keseimbangan ekosistem Gunung Lawu, sebagai kawasan pegunungan yang penting secara ekologi , ekonomi, ilmu pengetahuan,wisata dan juga budaya.

No comments:

Post a Comment