Showing posts with label biodiversity. Show all posts
Showing posts with label biodiversity. Show all posts

Wednesday, December 27, 2023

Biodiversity Monitoring : Forum Kolaboratif Pengelolaan Hutan Petungkriyono

 Oleh : Kurnia Ahmaddin

Pemasangan plang larangan berburu

Salah satu kegiatan dalam rangka memperkuat perlindungan kawasan hutan Petungkriyono, melalui sekema pengelolaan kolaboratif,  kegiatan monitoring keanekaragaman hayati ini telah dilakukan sepanjang tahun 2023.  Kegiatan ini  melibatkan pihak-pihak terkait pengelola, dinas terkait dan perwakilan warga sekitar di wilayah Kecamatan petungkriyono. ( baca disini laporan bulan april 2023) Forum Kolaboratif ini merupakan amanat dari SK Gubernur Jawa Tengah untuk pengelolaan kawasan ekosistem essensial di Petungkriyono. Meskipun usulan KEEnya sepertinya mengalami perubahan dasar hukum, swarowa mengambil peran penting untuk terus mengaktifkan forum kolaborasi yang telah ada untuk memperkuat perlindungan dan komunikasi aktif dengan anggota forum lainnya.

Pemasangan alat rekam pasif untuk monitoring Owa Jawa

Kegiatan monitoring keanekaragaman hayati dilakukan dengan survey jalur hutan dan mengundang pihak terkait untuk bersama-sama melakukan survey, patroli hutan. Kegiatan ini bertujuan selain untuk peningkatan kapasitas juga untuk menginventarisasi keanekaragaman hayati penggunaan camera trap dan alat rekam pasif

Tim monitoring terdiri dari BKSDA, Perhutani dan Warga desa Kayupuring,di dukung oleh tim teknis dan peralatan yang disediakan oleh swaraowa. Kegiatan ini dilakukan setiap bulan dilakukan selama empat hari berturut-turut. Monitoring Owa jawa dilakukan dengan menggunakan metode vocal-count triangulasi, dengan menempatkan 3 kelompok pengamat di tiga titik yang berbeda di hutan Sokokembang. 

Hasil monitoring selama tahun 2023 di sajikan dalam tabel berikut ini: 

Keterangan : Status IUCN Redlis ( NT= near threatened; VU = Vulnerable; EN = Endangered; CR = Critically Endangered.

 Pemasangan papan larangan berburu juga dilakukan sebagai bagian di beberapa lokasi yang masih ada rawan perburuan satwa, terutama jenis burung, namun kegiatan patroli untuk pengamanan  hutan. Pantauan tim swaraowa, kawasan ini masih perlu ditingkatkan karena pada masa-masa tertentu kegiatan perburuan ini dilakukan pada malam hari. 

Pemetaan lokasi perjumpaan dengan satwa khususnya mammalia, menggunakan GPS dan dipetakan dalam peta google maps berikut ini. 

Monday, July 15, 2019

Seri Diskusi Konservasi 3 #Avitourism

foto bersama peserta dan pembicara seri diskusi 


Sokokembang, 6 Juli 2019. Menghadirkan 2 pembicara yang merupakan pelaku dalam industri wisata minat khusus pengamatan burung di Indonesia, Seri diskusi konservasi yang ke-3 telah sukses dilaksanakan. Peserta yang hadir juga tidak hanya dari sekitar Pekalongan juga dari ada beberapa peserta dari luar kota pekalongan, mahasiswa, masyarakat umum, Perhutani, dan perwakilan dari LMDH, Perangkat Desa Mesoyi , Desa Kayupuring dan Desa Tlogohendro.

Seperti biasanya acara yang di kemas dengan obrolan santai di pandu oleh tim SwaraOwa, yang sengaja mendatangkan narasumber untuk mewacanakan dan mengarus utamakan kegiatan wisata minat khusus di antara wisata-wisata massal yang telah dan sedang berkembang di wilayah kabupaten Pekalongan, khususnya di Petungkriyono.
Imam (Loontour

Imam Taufiqurrahman ornithologist dari kota Gudeg, dan juga sebagai  pelaku operator birding tour Lootour, mengawali dengan pengertian Avitourism itu sendiri, yaitu merupakan bagian dari kegiatan wisata alam yang fokus pada aktifitas mengamati burung liar, bentuk aktifitasnya bisa berupa  pengamatan burung ( birdwatching),  mengunjungi bird fair,(yaitu pameran tetang kegiatan biridwatching di seluruh dunia), ikut dalam kegiatan pengamatan yang di selenggarakan oleh birowisata, dan fotografi burung. Kesemua aktivitas ini dilakukan dengan prinsip bertanggunjawab, mengedepankan perlindungan lingkungan, dan meningkatkan kehidupan masyarakat setempat.
Peminat wisata minat khusus ini menurut Imam juga mempunyai karakter tersendiri,seperti ketertarikan yang tinggi terhadap burung di habitat asli, kalangan terpelajar, melakukan perjalanan dalam kelompok kecil dan mampu secara finansial.

Potensi Indonesia, sebagai negara yang memiliki keanekaragaman yang tinggi, jenis-jenis endemic dan keragaman landscape dan budaya memilik potensi untuk di terapkannya wisata minat khusus pengamatan burung. Namun ancaman wisata ini telah, dan sedang terjadi perburuan burung, kerusakan habitat, dan wisata yang tidak berwawasan lingkungan mengakibatkan burung-burung  di alam sebagai atraksi wisata juga hilang.

Sebagai tour operator yang dirintis  sejak tahun 2009, Loontour birding nya mas Imam banyak melakukan kegiatan membawa wisatawan pengamat burung di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Seperti tour operator lainnya pelayanan terhadap wisatawan ini memang harus mendapat perhatian serius, selain membantu wisatawan  mengamati burung. Wisatawan dari Amerika dan Eropa masih menjadi konsumen terbanyak dari birding tournya mas Imam.
Kukuh ( Birdpacker)

Pembicara kedua Waskito Kukuh Wibowo, yang juga sudah beberapa kali mengunjungi habitat Owa di Petungkriyono ini, tentu saya kedatangan sebelumnya juga untuk birding. Kebetulan juga mas Kukuh ini sama dengan mas Imam mengawali kegiatan birding nya juga dari almamater yang sama di Yogyakarta, kemudian dengan Birdpacker yang berbasis di Malang, Jawa Timur, mengembangkan usaha guiding pengamatan burung. Yang awalnya hanya sebatas hobi namun sekarang menjadi pekerjaan yang memberi banyak pengalaman, teman dan tentunya penghasilan.

Yang harus menjadi perhatian dan menjadi tantang dalam bisnis ekowisata ini  menurut mas Kukuh di antaranya adalah : laju kehancuran dan kepunahan burung-burung di alam, ketrampilan bahasa inggris, karena target pasarnya adalah orang luar negri, hospitality dan standar operational prosedur dari mitra/tour operator lokal, persaingan dengan tour operator dari luar negeri, penetrasi pasar, dan peralatan yang kurang memadai. 

Dengan jumlah species burung di Indonesia kurang lebih 1777 species 1 dan kurang lebih 430 nya adalah endemik, potensi yang belum tergarap optimal oleh sektor wisata saat ini, di Amerika industri wisata minat khusus ini sudah bisa menghasilkan 32 Miliar Dollar, dalam setahun, , menurut mas Kukuh. Birdwatching tours merupakan salah satu alternatif untuk menekan dampak eksploitasi burung di alam, dan menjadi solusi kompromi antara ekonomi dan ekologi yang sering kali berseteru satu sama lain.

Daftar pustaka :

Monday, October 30, 2017

Akustik primata : Kenali primata dari suaranya

Para sound recordist bilang kalau suara bisa menjelaskan ribuan gambar. Meskipun berupa gelombang suara yang tidak terlihat, namun ada cara atau metode untuk memvisualisasikan suara ini.
Suara-suara primata terutama dari jenis-jenis primata  adalah sangat khas, dan dari suara ini juga telah muncul penelitian-penelitian yang lebih dalam untuk melihat karakter individu.  Karena suara bisa menjadi finger print untuk masing masing individu. Suara juga digunakan untuk monitoring ekologi.

Perkembangan penelitian tentang suara untuk monitoring ekologi dan konservasi juga terus berkembang. Beberapa sumber di internet sangat membantu untuk referensi tentang sound recordist  atau hidupan liar.

Swaraowa telah mengawali kegiatan perekaman suara ini sejak tahun 2014,  ada 2 judul penelitian tentang suara owa telah selesai, dan beberapa data rekaman juga dapat di dengarkan melalui soundcloud. Kami mengajak anda untuk mengenal suara primata Indonesia di habitat aslinya.

Owa jawa (Hylobates moloch) di hutan Sokokembang


Ungko (Hylobates agilis) di Bukit Bulan,Sorulangun, Jambi

Bilou (Hylobates klosii) di Siberut



Owa tangan putih (Hylobates lar) di Aceh.




Meskipun tidak sering bersuara namun jenis-jenis monyet daun juga menarik, seperti

Joja (Presbytis potenziani), Siberut Mentawai

Thomas's Leaf Monkey (Presbytis thomasi), Aceh


Javan langur (Trachypithecus auratus)


Kami membuka kesempatan untuk berkolaborasi bagi anda peneliti atau pegiat konservasi, atau bahkan musisi untuk melakukan penelitian suara, atau berkolaborasi untuk kegiatan pelestarian alam yang terkait dengan suara-suara satwaliar dari habitat aslinya, silahkan emal di : swaraowa@gmail.com

Friday, November 28, 2014

Shade Grown Coffee and Biodiversity Study in Javan Gibbon Habitat

We have selected forest coffee land, belong to farmers in Sokokembang village, to study about shade grown coffee in the Javan gibbon habitat, as based line data for further management of shadegrown coffee in Sokokembang. This year we have initial agreement with four farmers which have  3 ha approximately of forest coffee, to learn about shade grown coffee and trying to develop sustainable way of coffee production. Biodiversity study on shade grown coffee also have been started based on selected taxa. We use camera trap for small mammals  study and butterfly diversity in the shade grown coffee habitat. Study on vegetation also more intense on shade trees that frequently used by the javan gibbon and othe primates as food resources
vegetation analysis in forest coffee habitat

camera trapping in the forest coffee habitat.

Thursday, July 17, 2014

Participatory Biodiversity Mapping, at Javan gibbon’s village, Kayupuring, Central Java, Indonesia

One of the problems to raise awareness about forest and primate conservation in Javan gibbon’s habitat are very limited information even more there is no baseline species diversity, ecology, spatial location and conservation status of the protected species. All these information are useful if we use to talk with people in the village to motivate them to conserve their biodiversity actually. The specific aim of this activities are to mine information about biodiversity especially wildlife that usually found in Kayupuring village area’s based on community knowledge and their field observation, and we add more detail information on their basic ecology and its conservation status, then we present on the village biodiversity map.


This program is a part of Our Coffee and Primate Conservation Project that funded by Fortwayne Children Zoo and Singapore Zoo, cooperation with Wildlife Lab, Forest Resource Conservation Dept, Faculty of Forestry, Gadjah Mada University, of Yogyakarta. Located at Kayupuring village, on 17-19 June 2014, we have meeting series and guided by GIS expert from the university to discuss about wildlife that usually found in their village and forest, than we ask them to describe as clear as possible based on their field observation and we match this information to the field guide book as scientific clarification. And finally we use Google earth, to map wildlife encounter by the villagers.
Participants of Participatory biodiversity Mapping

GIS experts and wildlife ecologist from Gadjah Mada University giving a talk.