Showing posts with label avitourism. Show all posts
Showing posts with label avitourism. Show all posts

Wednesday, May 15, 2024

Pelatihan wisata pengamatan burung (Avitourism) Desa Mendolo

Oleh : Imam Taufiqurrahman

Foto bersama peserta avitorism workshop

Keragaman burung di kawasan lanskap pegunungan Dieng bagian utara-barat memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai ekowisata pengamatan burung atau aviturisme. Beberapa penyelenggaraan telah diinisiasi oleh Yayasan SwaraOwa sebagai upaya memperkenalkan dan mengekspos potensi burung yang ada, seperti Petungkriyono Bird Race, trip durian danburung, hingga Pertemuan Pengamat Burung Indonesia.

Dua kegiatan terakhir di atas terlaksana di Desa Mendolo dengan Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo sebagai organisasi penyelenggara. Kegiatan-kegiatan tersebut terbukti mampu menarik minat banyak orang untuk datang dan berdampak positif dalam konservasi serta perekonomian masyarakat desa.

Terkait hal itu, guna mengasah kemampuan para anggota PPM Mendolo dalam menata, mengelola dan melaksanakan trip aviturisme, Yayasan SwaraOwa mengadakan Workshop Aviturisme bertema “Pengelolaan Ekowisata Kukila Berbasis Masyarakat Desa”. Kegiatan ini mengawali upaya konservasi raja-udang kalung-biru Alcedo euryzona yang jadi bagian dari program dalam proyek yang didanai oleh ASAP Species Conservation Fund.

Acara berlangsung pada 1-3 Mei 2024, menghadirkan dua narasumber, yakni Waskito Kukuh Wibowo dari Birdikari Birding Tour dan Kelik Suparno dari Kelompok Tani Hutan Wanapaksi. Dalam sesi di hari pertama, Waskito mengawali pematerian dengan berbagi mengenai seluk-beluk aviturisme dan kepemanduan. Pematerian dihadiri oleh 27 peserta, mewakili tiga pedukuhan, yakni Sawahan, Mendolo Wetan, dan Mendolo Kulon.

Penyampaian materi oleh narasumber

Waskito berbagi pengalamannya berkecimpung dalam avitursime yang berawal dari hobinya dalam bird watching. Hobi tersebut memiliki banyak sisi manfaat, mencakup rekreasi, seni, olahraga, ilmu pengetahuan, dan konservasi. Hobi yang ditekuninya semenjak perkuliahan itu kemudian berlanjut hingga mampu ia kembangkan dan kelola sebagai bisnis profesional, tanpa meninggalkan aspek konservasi dan pemberdayaan masyarakat.

Di sela pematerian, Rohim, salah satu peserta, bertanya, “Sistemnya seperti apa, sehingga burung bisa dijual bukan dalam bentuk ditangkap atau diambil?”

Waskito memberi penjelasan, yakni dengan menjaga burung tetap di alam, tidak dieksploitasi atau diburu habis-habisan. Agar kalau burungnya ada dan menarik, orang yang punya hobi bird watching akan datang, baik dari dalam negeri maupun luar negeri karena pasar yang semakin berkembang dengan kemudahan informasi dari media sosial.

“Berburu memang mendatangkan nilai ekonomi, tapi akan sampai kapan?,” sebut Waskito. Burung bisa cepat habis, apalagi burung-burung kicau. Terlebih lagi, semua burung sekarang laku. “Jadi,” ungkap Kukuh, “mung bakale payu sepisan”.

Sementara, aviturisme memberikan pilihan atau profesi untuk burung bisa hidup secara berkelanjutan. Sebagai bagian dari ekowisata, aviturisme akan mengutamakan konservasi, pemberdayaan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat lokal, serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Dalam pengelolaan aviturisme berbasis masyarakat desa, kerja-kerja yang ada dilakukan dalam tim atau kelompok. Mulai dari menyiapkan burung sebagai atraksi yang harus dilakukan pemantauan bersama hingga bagaimana mendatangkan tamu atau klien. Sehingga, ketika dikelola dengan baik akan dapat memberikan manfaat dan nilai ekonomi langsung ke banyak pihak di masyarakat, seperti guide atau pemandu, penyediaan penginapan, juga makanan dan oleh-oleh.

diskusi pembuatan jalur interpretasi

Sebagai pemandu, terdapat prinsip dan skill yang harus dikuasai. Itu mencakup pengetahuan area wisata, kemampuan komunikasi, empati dan pengertian, tidak membosankan, improvisasi dan adaptasi, fokus membangun hubungan, pendongeng dan aktor yang menarik, luwes, tepat waktu dan disiplin, profesional, serta keinginan untuk selalu belajar dan berbagi. Penguasaan-penguasaan di bidang itulah yang akan menjadi salah satu kunci bagi pemandu dalam aviturisme. Pemandu yang baik akan menguntungkan bagi keberlangsungan bisnis yang menjadi salah satu alternatif untuk menekan dampak eksploitasi burung di alam liar tersebut.

Dalam bisnis aviturisme, paling tidak ada tiga tipe atau kategori atau karakter wisatawan, yakni bird watcher, twitcher, dan bird photographer. Terkait hal tersebut, Kelik Suparno kemudian melanjutkan dalam materi ke-2 dengan memberikan gambaran mengenai dunia kepemanduan dan pengelolaan hide. Ia berbagi pengalaman dari yang dijalankannya bersama KTH Wanapaksi dalam memandu dan mengelola lokasi untuk menjadi area pengamatan.

Bagi peminat fotografi burung, keberadaan hide atau bilik persembunyian menjadi penting. Kelik memaparkan kebutuhan untuk membuat hide, baik untuk burung yang bersarang maupun untuk feeding. Hide harus terjamin keamanannya, baik untuk burung maupun untuk tamu. Dapat membuat orang tersembunyi dengan baik dan tidak terlihat oleh burung

Kelik pun memberi saran dalam pembuatan harus memperhitungkan waktu yang tepat. Dalam hide untuk burung bersarang, baru dibuka ketika burung sudah memasuki masa pengasuhan. Jangan di masa awal bersarang atau pengeraman yang menjadi periode sensitif.

Usai pemaparan dari Waskito dan Kelik, di sesi ke-3, Sidiq Harjanto mewakili Swaraowa memberikan pengantar simulasi pendataan sarang lewat aplikasi KoboCollect. Aplikasi yang dikelola secara internal tersebut cukup mudah dan sederhana. Namun demikian, mampu untuk melakukan pengumpulan data sarang dengan cepat sehingga kelak PPM Mendolo dapat mengetahui kecenderungan atau tren musim burung bersarang di desanya. Terpenting, mereka dapat dengan cepat mengidentifikasi penemu sarang dan pemilik lahan, yang nantinya akan menjadi pihak penerima manfaat ekonomi langsung dari aviturisme di Desa Mendolo.

Simulasi dan Praktik

simulasi dan praktik kepemanduan pengamatan burung

Hari ke-2 dilanjutkan dengan simulasi dan praktik. Terdapat empat materi yang dilaksanakan, yakni simulasi pembuatan jalur birding, pendataan sarang, praktik teknik guiding, dan hide. Para peserta dibagi dalam dua kelompok.

Dari simulasi pembuatan jalur pengamatan burung, para peserta diarahkan untuk mengidentifikasi potensi yang ada pada jalur, mengevaluasi kelebihan dan kekurangan, serta memberikan rekomendasi untuk perbaikan jalur. Hasil dari simulasi tersebut dituangkan dalam peta interpretasi yang dipresentasikan masing-masing tim. Saat presentasi, para peserta juga mengidentifkasi dan mengevaluasi hide yang telah ada.

burung Caladi tikotok jawa (Hemicircus concretus) di Ds.Mendolo


Dalam diskusi mengenai praktik kepemanduan, para peserta mendapati beberapa kesulitan yang ditemui. Terutama dalam mengidentifikasi jenis, mengarahkan orang lain untuk melihat burung, serta mengidentifikasi sarang aktif atau tidak aktif. Seperti yang terjadi beberapa hari sebelum acara ini, ada temuan burung pelatuk, dikiranya itu pelatuk yang umum terlihat di sekitar hutan Mendolo, ternyata adalah salah satu jenis burung pelatuk endemik Jawa.

Para narasumber yang mendampingi memberi masukan bahwa kemampuan mengenali jenis burung menjadi dasar yang harus terus dilatih atau diasah. Hal tersebut merupakan keterampilan akan semakin baik ketika terus dilakukan atau seiring tingginya jam keker peserta. Termasuk penguasaan alat, seperti binokuler dan monokuler. Mengetahui nama-nama jenis burung dalam bahasa Indonesia juga diperlukan, mengingat para peserta yang terbiasa menyebutkan nama burung dalam bahasa setempat.

Para narasumber juga memberikan tips, misalnya selalu menghidupkan suasana saat pengamatan. Kemampuan dalam membangun komunikasi yang interaktif kepada para tamu nantinya sangat berguna. Seorang pemandu dapat bercerita soal potensi yang tidak hanya soal jenis burung, tetapi hal-hal lain yang ditemui, macam tanaman, serangga, kebiasaan, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

Monday, July 15, 2019

Seri Diskusi Konservasi 3 #Avitourism

foto bersama peserta dan pembicara seri diskusi 


Sokokembang, 6 Juli 2019. Menghadirkan 2 pembicara yang merupakan pelaku dalam industri wisata minat khusus pengamatan burung di Indonesia, Seri diskusi konservasi yang ke-3 telah sukses dilaksanakan. Peserta yang hadir juga tidak hanya dari sekitar Pekalongan juga dari ada beberapa peserta dari luar kota pekalongan, mahasiswa, masyarakat umum, Perhutani, dan perwakilan dari LMDH, Perangkat Desa Mesoyi , Desa Kayupuring dan Desa Tlogohendro.

Seperti biasanya acara yang di kemas dengan obrolan santai di pandu oleh tim SwaraOwa, yang sengaja mendatangkan narasumber untuk mewacanakan dan mengarus utamakan kegiatan wisata minat khusus di antara wisata-wisata massal yang telah dan sedang berkembang di wilayah kabupaten Pekalongan, khususnya di Petungkriyono.
Imam (Loontour) 

Imam Taufiqurrahman ornithologist dari kota Gudeg, dan juga sebagai  pelaku operator birding tour Lootour, mengawali dengan pengertian Avitourism itu sendiri, yaitu merupakan bagian dari kegiatan wisata alam yang fokus pada aktifitas mengamati burung liar, bentuk aktifitasnya bisa berupa  pengamatan burung ( birdwatching),  mengunjungi bird fair,(yaitu pameran tetang kegiatan biridwatching di seluruh dunia), ikut dalam kegiatan pengamatan yang di selenggarakan oleh birowisata, dan fotografi burung. Kesemua aktivitas ini dilakukan dengan prinsip bertanggunjawab, mengedepankan perlindungan lingkungan, dan meningkatkan kehidupan masyarakat setempat.
Peminat wisata minat khusus ini menurut Imam juga mempunyai karakter tersendiri,seperti ketertarikan yang tinggi terhadap burung di habitat asli, kalangan terpelajar, melakukan perjalanan dalam kelompok kecil dan mampu secara finansial.

Potensi Indonesia, sebagai negara yang memiliki keanekaragaman yang tinggi, jenis-jenis endemic dan keragaman landscape dan budaya memilik potensi untuk di terapkannya wisata minat khusus pengamatan burung. Namun ancaman wisata ini telah, dan sedang terjadi perburuan burung, kerusakan habitat, dan wisata yang tidak berwawasan lingkungan mengakibatkan burung-burung  di alam sebagai atraksi wisata juga hilang.

Sebagai tour operator yang dirintis  sejak tahun 2009, Loontour birding nya mas Imam banyak melakukan kegiatan membawa wisatawan pengamat burung di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Seperti tour operator lainnya pelayanan terhadap wisatawan ini memang harus mendapat perhatian serius, selain membantu wisatawan  mengamati burung. Wisatawan dari Amerika dan Eropa masih menjadi konsumen terbanyak dari birding tournya mas Imam.
Kukuh ( Birdpacker)

Pembicara kedua Waskito Kukuh Wibowo, yang juga sudah beberapa kali mengunjungi habitat Owa di Petungkriyono ini, tentu saya kedatangan sebelumnya juga untuk birding. Kebetulan juga mas Kukuh ini sama dengan mas Imam mengawali kegiatan birding nya juga dari almamater yang sama di Yogyakarta, kemudian dengan Birdpacker yang berbasis di Malang, Jawa Timur, mengembangkan usaha guiding pengamatan burung. Yang awalnya hanya sebatas hobi namun sekarang menjadi pekerjaan yang memberi banyak pengalaman, teman dan tentunya penghasilan.

Yang harus menjadi perhatian dan menjadi tantang dalam bisnis ekowisata ini  menurut mas Kukuh di antaranya adalah : laju kehancuran dan kepunahan burung-burung di alam, ketrampilan bahasa inggris, karena target pasarnya adalah orang luar negri, hospitality dan standar operational prosedur dari mitra/tour operator lokal, persaingan dengan tour operator dari luar negeri, penetrasi pasar, dan peralatan yang kurang memadai. 

Dengan jumlah species burung di Indonesia kurang lebih 1777 species 1 dan kurang lebih 430 nya adalah endemik, potensi yang belum tergarap optimal oleh sektor wisata saat ini, di Amerika industri wisata minat khusus ini sudah bisa menghasilkan 32 Miliar Dollar, dalam setahun, , menurut mas Kukuh. Birdwatching tours merupakan salah satu alternatif untuk menekan dampak eksploitasi burung di alam, dan menjadi solusi kompromi antara ekonomi dan ekologi yang sering kali berseteru satu sama lain.

Daftar pustaka :