Showing posts with label pelatihan. Show all posts
Showing posts with label pelatihan. Show all posts

Monday, July 9, 2018

Pelatihan Jurnalistik : Melatih kemampuan menyampaikan berita konservasi


Ketika mendapat email berisi undangan tentang pelatihan Jurnalistik dari Borneo Nature Foundation (BNF) merasa sangat beruntung sekali, karena inilah dari beberapa skill khusus yang di saat ini sangat di butuhkan di dalam sebuah tim konservasi, dan sudah lama menantikan pelatihan semacam ini terkait dengan konservasi atau pelestarian alam. Jurnalism, kalau di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia Jurnalistik berarti kewartawanan, berasal dari suku kata warta, atau berita. Wartawan atau journalist  orang yang menyampaikan berita, berdasarkan KKBI online wartawan/ juru warta : orang yang pekerjaanya mencari dan menyusun berita untuk dibuat dalam surat kabar, majalah radio televesi,  atau media massa lainya video documenter, juga melalui internet, dan media sosial .
Mas Een dari Infis, peran video dokumenter penting bagi konservasi

Tanggal 23-26 Juni, bertempat di kota habitat  7 jenis primata Kalimantan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menjadi motivasi tersendiri untuk memenuhi undangan pelatihan ini, melihat langsung primata di habitat aslinya. Orangutan, owa, lutung merah, adalah beberapa primata Kalimantan yang masuk dalam daftar harus dilihat kalau ke Kalimantan. Selain itu motivasi untuk ikut bergabung dengan acara ini adalah untuk mengasah ketrampilan menyuarakan mereka yang “tidak bisa bersuara”, menyuarakan pelestarian hidupan liar dan keberlanjutan lingkungan sekitar kita.
Tira dan Sue memandu acara pelatihan 

Ada 2 jurnalist internasional yang di undang memandu acara ini yaitu,  Tira Subbart dan Sue Phillips, keduanya adalah journalist pemenang berbagai penghargaan internasional yang kini selain bekerja sebagai jurnalist, kedua sahabat ini juga  beraktifitas untuk konservasi Badak di Afrika. Tira Subbart bisa di baca profilnya disini http://www.tirashubart.com/index.html, dan Sue Philiphs adalah Network Director Aljazeera baca disini : https://www.independent.co.uk/news/media/my-life-in-media-sue-phillips-837999.html.

Hari pertama pelatihan Tira dan Sue , menekankan bahwa informasi tentang konservasi ini harus dengan mudah di sampaikan kepada audience, oleh karena itu target audience juga perlu pertimbangan, pemilihan bahasa untuk komunikasi. Misalnya bahasa untuk warga sekitar hutan, tentu sangat berbeda dengan menulis berita untuk para pembuat kebijakan, untuk publik, juga untuk target donor atau pihak-pihak yang telah mendukung program konservasi yang sedang kita jalankan.
Sue philiphs, menekankan pentingnya International audience, karena biasanya public  international lebih tertarik dengan berita-berita tentang hidupan liar dan konservasi. Contohnya tentang berita kematian Badak putih beberapa waktu lalu, menjadi headline hampir semua media mainstream. Sue juga menekankan kita sebagai feeder  untuk para jurnalist, karena kita punya keterbatasan menulis dan bahasa yang kadang terlalu akademis. Cotohnya kita memberikan informasi kepada jurnalist dan jurnalist akan menulis dan menyebarkan ke seluruh dunia melalui jaringan penyiarannya.

Budaya jurnalisme di Indonesia mungkin juga ada bedanya dengan jurnalisme di beberapa negara maju, hal ini juga menjadi topik diskusi bersama bahwa kondisi di daerah, dimana merupakan habitat asli keanekaragaman hayati belum mempunyai porsi yang cukup, di koran misalnya berita lingkungan ini sangat sedikit sekali di tampilkan. Dan juga seringkali untuk di banyak daerah di Indonesia untuk menampilkan berita juga harus mengeluarkan biaya tidak sedikit, untuk sebuah event yang dimuat di harian surat kabar. Kadang meskipun sudah ada biaya untuk mengundang jurnalist datang beritanya juga tidak dimuat. Membangun budya jurnalisme yang sehat masih menjadi tantangan tersendiri untuk berita-berita konservasi dan keanekaraman hayati.

Teknik-teknik penyampaian informasi juga menjadi kunci dari sebuah berita, profiling sebuah isu, berita positif seperti temuan keanekargaman hayati, atau keberhasilan sebuah upaya konservasi bisa menarik perhatian publik, selain berita negatif yang menyajikan kerusakan-kerusakan dan kehilangan keanekargaman hayati. Dan pemilihan kata-kata yang sesuai mudah di pahami oleh masyarakat luas akan mempermudah menyampaian pesan-pesan konservasi. Contohnya orang dengan mudah memahami bahwa laju kerusakan hutan di Indonesia ini seluas lapangan sepak bola per bulan, daripada ukuran 1 hektar per bulan.

Sosial media juga sangat penting saat ini digunakan, oleh karena itu juga harus di gunakan secara serius, untuk menyampaikan pesan-pesan konservasi. Tira menceritakan kenapa dia lebih memilih twitter untuk bersosial media, karena twitter ada faktor human intelligent disbanding facebook atau yang lainnya yang menggunakan  algoritma.
Peserta pelatihan, sedang mendengarkan pemaparan peneliti BNF

Rahmadi Rahmad dari Mongabay Indonesia juga turut berbagi pengalaman di acara ini, menceritakan kisah-kisah peliputan sebuah kasus konservasi yang terjadi di Indonesia. Yang terbaru adalah tentang gajah Bunta yang di racun dan di ambil gadingnya, foto-foto ketika Bunta masih hidup ketika bekerja digunakan untuk mengusir serangan gajah-gajah liar di tampilkan dan sangat sadis ketika gajah ini mati di racun dengan rahang mengaga lebar di potong gadingnya  (baca disini : https://www.mongabay.co.id/2018/06/10/tangkap-pembunuh-gajah-patroli-di-cru-aceh-timur/ ) Mas Rahmadi Rahamad, menjelaskan bahwa untuk berita-berita itu tidak perlu menunggu moment, tapi harus bisa menciptakan moment.

Een Erawan Putra, dari INFIS (Indonesian Nature Film Society) memberikan cerita di acara ini dengan pengalaman-pengalama memvisualisasikan informasi lingkungan dan dampaknyat terhadap pengambil kebijakan. Salah satunya adalah tentang tambang batu sinabar sebagai penghasil merkuri atau air raksa di Banten dan Maluku, dari liputan ini data-data penelitian pendukung sangat penting, dan ternyata saat ini Indonesia adalah penghasil merkuri terbesar di dunia, melebihi jumlah produksi merkuri yang pernah membuat penduduk di teluk Minamata, Jepang yang menderita cacat syaraf seumur hidup( baca :Minamata desease) . Visualisasi berita yang berdasarkan data-data ilmiah dan disajikan dalam grafis yang menarik akan membantu mengkomunikasikan isu penting di tingkat pengambil kebijakan. lihat di sini tentang liputan-liputan INFIS .

Fieldtrip dalam rangkaian pelatihan ini berkunjung  ke lokasi penelitian BNF di areal  rehabilitasi lahan gambut yang sejak tahun 90 an di Kelola melelaui proyek CIMTROP Universitas Palangkaraya. Melihat hutan gambut secara langsung , manfaat dan permasalahnnya sangat menarik di jelaskan oleh para peneliti dan staff BNF yang merupakan warga sekitar Sebagau, merekalah ujung tombak penelitian-penelitian yang dilakukan saat ini.
rel lori, yang digunakan menuju lokasi camp penelitian BNF

Kelasi (Presbytis rubicunda) teramati sedang istirahat

Di akhir acara, yang saya cari-cari akhirnya ketemu juga, Lutung Merah (Presbytis rubicunda) salah satu penghuni hutan rawa gambut Sebagau, Kelasi  nama lokal jenis monyet pemakan daun ini,  yang tersebar hampir di seluruh Kalimantan. Warna bulu yang coklat kemerahan dan wajahnya sangat khas berwana agak kebiruan  ada bantalan pipinya. Salah satu primata identitas Kalimantan, yang saat ini juga semakin susah di jumpai karena hutan sebagai habitat aslinya semakin hilang. Kami menjumpai kelasi ini sedang duduk tertidur di cabang di atas pohon yang tingginya kurang lebih 20 Meter. Jenis-jenis monyet pemakan daun ini mempunyai sistem pencernaan yang istimewa dengan ruang-ruang di lambung dan juga bakter fermentasi untuk mencerna daun-daun yang dicerna. Seringkali terlihat diam istirahat, namun sebenarnya monyet ini sedang bekerja untuk mencerna daun-daunan, hampir seperti sapi yang mempunyai kebiasaan diam, namun sebenarnya sedang mencerna makanannya. Hal yang menarik tentang sebagau ternyata Kelasi ini lebih dari 70 % makanannya adalah biji-bijian, dan konsumsi daun-danan ternyata di bawah dari yang di perkirakan untuk jenis-jenis monyet pemakan daun. Nah…kenapa seperti itu ya? Masih banyak yang menarik untuk dipelajari lagi…dan lagi…

Daftar pustaka :

EHLERS SMITH, D.A., Husson, S.J., EHLERS SMITH, Y.C. and Harrison, M.E., 2013. Feeding Ecology of Red Langurs in Sabangau Tropical Peat‐S wamp Forest, Indonesian Borneo: Extreme Granivory in a Non‐M asting Forest. American Journal of Primatology, 75(8), pp.848-859

Thursday, April 27, 2017

Pelatihan Monitoring Owa Jawa di Gunung Papandayan


Tgl 17-20 April atas nama SwaraOwa Proyek Kopi dan Konservasi Primata, mendapat kesempatan untuk melihat langsung habitat Owa di bagian barat pulau Jawa. Berlokasi di Gunung Papandayan Garut. Acara yang di gagas oleh Javan Gibbon Center (JGC) dan Conservation International Indonesia ini bertujuan memperkenalkan metode survey and monitoring untuk Owa Jawa. Peserta yang di undang adalah staff BKSDA, Perhutani Jawa Barat, Lembaga Swadaya Masyarakat sekitar Jawa Barat, Mahasiswa dan Pegiat konservasi alam di sekitar Gunung Papandayan.

Acara mencakup teori di kelas tentang teknik dasar survey menggunakan line transek dan metode tidak langsung untuk owa menggunakan Vocal count-triangulasi. Berlokasi di sari papandayan resort untuk materi kelasnya dan untuk praktek kita menuju blok hutan di lereng selatan Papandayan. Meskipun acara lapangan tidak bertemu langsung dengan Owa jawa, acara ini menjadi kegiatan berbagi pengalaman dan  pengetahuan teknis untuk pengambilan data dan analisis data untuk hasil monitoring/survey.


Berikut foto-foto dari lapangan :
mencoba merekam panggilan suara Owa

habitat Owa di blok Tumaritis Papandayan

praktek pengambilan data populasi

Thursday, October 20, 2016

Pelatihan Bagi Calon Peneliti Primata

Oleh Bagas Adhi Kumoro (kumorobagas@yahoo.co.id)
Anggota KP3 Primata Fakultas Kehutanan UGM

Pelatihan Metode Survey Primata merupakan acara tahunan yang dilaksanakan oleh Coffee and Primate Conservation Project di wilayah sebaran primata endemik di wilayah Jawa Tengah ,bekerjasama dengan KP3 Primata Forestation UGM yang ditujukan bagi calon peneliti muda khususnya peneliti primata, dan membagun jaringan pegiat dan pelestari primata pada umumnya. Sebagai seorang mahasiswa yang tertarik akan kehidupan primata. Pelatihan ini diselenggarakan pada tanggal 7 – 9 Oktober 2016 di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Petungkriyono, Pekalongan. Peserta yang hadir pada pelatihan ini berasal dari berbagai daerah, daerah terdekat berasal dari Pekalongan sendiri, ada juga yang dari Jakarta, Yogjakarta, Semarang, Purwokerto, dan yang terjauh berasal dari Pulau Siberut, Mentawai. Peserta mewakili beberapa kelompok studi di Universitas, Pecinta Alam, Staff Perhutani KPH Pekalongan Timur dan anggota LMDH di Kabupaten Pekalongan.

Materi pertama dimulai pukul 20.00 tanggal 7 Oktober 2016 dengan pokok bahasan line transect yang diberikan oleh Mas Wawan dari SwaraOwa Pada materi pertama ini disambut sangat antusias oleh peserta. Antusias peserta dibuktikan dari banyaknya pertanyaan kritis yang diajukan, diskusi pun banyak terjadi dalam ruang materi. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 22.00, diskusi harus dihentikan karena memasuki waktu istirahat. Pelaksanaan esok hari 8 Oktober 2016 akan banyak berada di lapangan dan itu akan menyita tenaga sehingga dibutuhkan waktu istirahat yang cukup.

Pengenalan metode survey primata line transect dan vocal count-triangulasi

Pagi itu pukul 6 matahari sudah menampakkan sinar tetapi ada suasana yang berbeda dari biasanya. Suasana pagi 8 Oktober 2016 lebih sunyi dari pagi-pagi biasanya. Kekhasan perilaku bersuara owa jawa yang dikenal sebagai morning call tidak terdengar pagi itu, padahal biasanya suara owa sudah mulai terdengar sejak pukul 5. Mbak Maida yang dulu pernah melakukan penelitian tentang karakteristik suara owa jawa menduga pagi itu owa belum bersuara karena semalaman hujan.

Suara owa yang belum terdengar tidak mematahkan semangat kami untuk menuju ke lapangan dan mempraktikan materi semalam. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok untuk menuju ke lokasi yang telah ditentukan untuk mempraktekan metode line transect. Saat perjalanan menuju lokasi, suara owa jawa mulai terdengar. Dari praktek metode line transect yang dilakukan, mendapatkan hasil owa jawa, monyet ekor panjang, dan lutung jawa.
peserta menerapkan langsung di lapangan metode survey primata
Setelah mencoba metode line transect pelatihan dilanjutkan dengan menganalisis hasil. Analisis hasil ini merupakan akhir dari materi pertama, kegiatan selanjutnya dilanjutkan dengan materi mengenai vocal count yang diberikan oleh Mbak Salma (mahasiswa Biologi UGM yang pernah melakukan penelitian menghitung populasi owa jawa menggunakan metode vocal count) dan Mbak Maida (mahasiswa Biologi UNJ yang pernah melakukan penelitian tentang karakteristik suara owa jawa). Metode vocal count adalah metode penaksiran populasi berdasarkan suara satwa, metode ini cocok dilakukan untuk menghitung populasi satwa yang memiliki perilaku bersuara. Mbak Maida mengatakan bahwa tiap individu owa jawa memiliki karakteristik suara yang berbeda sehingga tiap kelompok dapat diidentifikasi tanpa melihat secara langsung. Materi vocal count  dipraktekan di lapangan pagi tanggal  9 Oktober 2016.
Analisis data setelah dari lapangan 
Sekitar pukul 5 sore kegiatan dilanjutkan dengan sharing penelitian mengenai rekrekan (Presbytis comata) di sekitar lereng Gunung Merbabu oleh Mbak Kasih Putri. Sharing ini berkaitan dengan primata yang berada di hutan sekitar Dusun Sokokembang, primata yang ada yaitu owa jawa, rekrekan, lutung jawa, monyet ekor panjang, dan kukang jawa. Mbak Kasih Putri mengatakan bahwa rekrekan di sekitar lereng Gunung Merbabu belum banyak diteliti.
Materi ketiga dilaksanakan malam hari bersama dengan Mbak Winar dari KukangID tentang metode pengamatan satwa nokturnal, khususnya kukang jawa. Mbak Winar menjelaskan bahwa mata satwa nokturnal akan memantulkan cahaya lampu sehingga memberikan pantulan warna yang berbeda-beda tiap satwa. Malam itu memang terasa melelahkan karena pagi tadi telah melakukan perjalanan yang cukup lama tetapi ketika peserta diajak untuk mempraktekan metode ini menjadi bersemangat kembali. Setelah pengamatan diakhiri dengan melaporkan satwa nokturnal apa saja yang ditemukan. Materi ketiga ini menjadi penutup pelatihan metode survey primata hari kedua.
Owajawa yang teramati ketika pelatihan 
Hari ketiga 9 Oktober 2016 saatnya peserta mempraktekan metode vocal count. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan menuju ke lokasi masing-masing sejak pukul 6 pagi.  Peserta berusaha tiba di lokasi sebelum owa jawa melakukan morning call. Syarat pemilihan lokasi untuk mendengarkan suara yaitu jauh dari gangguan suara lain seperti suara sungai dan kendaraan agar suara owa terdengar jelas. Selama perjalanan menuju ke lokasi yang jauh dari gangguan suara, owa jawa sudah mulai bersuara, pagi ini suara owa lebih banyak terdengar dibandingkan hari sebelumnya. Sesampainya di lokasi yang perlu dilakukan hanya fokus mendengarkan suara owa jawa kemudian memperkirakan arah datangnya suara owa dan jarak owa yang bersuara serta berkoordinasi dengan kelompok lain apakah mendengar suara yang sama. Metode ini dipraktekan sampai pukul 9.
Setelah mempraktekan metode di lapangan langkah selanjutnya menganalisis data yang telah didapatkan, analisis data ini dipandu oleh Mas Wawan dan Mbak Salma. Analisis dilakukan dengan menggabungkan semua data arah owa jawa bersuara dari 3 lokasi pengamatan berbeda dan dicari titik perpotongannya. Titik perpotongan itu diasumsikan sebagai lokasi owa jawa yang bersuara. Analisis data vocal count menjadi acara penutup kegiatan Pelatihan Metode Survey Primata. Waktu yang cukup padat untuk mempelajari 3 metode survey primata. Ucapan terimakasih untuk semua pihak yang terlibat, warga Sokokembang, LMDH desa Kayupuring, para sponsor Fortwayne Children’s Zoo, Ostrava Zoo, Wildlife Reserve Singapore , kopi Owa Sokokembang dan SwaraOwa.
Foto bersama seluruh peserta