![]() |
| mengamati ikan di Kali Wisnu |
Oleh : Imam Taufiqurrahman
Ada pemandangan tak biasa di Kedung Kali Bengang, Kali Wisnu, pada 23-24 Mei 2026. Sekelompok pemuda dan anak-anak Dusun Sawahan, Desa Mendolo, memenuhi area kedung. Sebagian yang berkacamata selam dan snorkel, tampak membenamkan diri di beningnya aliran sungai. Mereka tengah asyik mencoba ber-fish watching.
Segerombolan
ragalan menjadi incaran mereka. Sang
penghuni kedung berukuran sedang hingga besar itu berenang dengan lincah di
beningnya air, terus menghindar dari anak-anak yang coba menghampiri.
“Jangan
dikejar, biarkan,” cegah Pak Irwanjasmoro, narasumber sekaligus instruktur
kegiatan. “Ditunggu saja,” lanjutnya, “biar ikannya datang sendiri.”
Sebegitu
antusias anak-anak itu berkecipakan mencoba mendekati. Lantas, tersadar kalau
mengejarnya percuma.
Mereka
terlalu bersemangat. Pun, saking belum terbiasanya ber-fish watching. Baru pertama mereka mencoba melakukan pengamatan
ikan dari bawah sungai. Naluri yang timbul jadinya mengejar, seperti ingin menangkap.
Padahal, justru dengan berdiam, ikan-ikan akan menghampiri.
Layaknya
snorkeling di perairan laut, fish
watching di sungai rupanya tak kalah seru. Dan kita sama tau, sekadar berenang atau bermain air
saja sudah cukup menyenangkan.
Sementara,
fish watching lebih lagi dalam menyuguhkan
sensasi yang berbeda. Membenamkan wajah, lalu bernapas dengan snorkel dan
mendengarkan hembusan napas yang berderu telah cukup jadi pengalaman baru yang unik.
Belum
lagi dari yang biasanya melihat ikan sebatas dari atas permukaan sungai.
Lazimnya, ragalan atau Tor tambra hanya dilihat dari jalan atau
jembatan, menyambut siapa pun yang hendak masuk ke Dusun Sawahan. Fish watching memungkinkan kita berenang
bersama mereka, mengikuti pergerakannya di kedalaman air, sesekali mendapati
mereka sejajar pandang mata.
![]() |
| peserta pengamatan ikan anak-anak remaja dan dewasa |
Seiring waktu, anak-anak pun terlihat lebih tenang. Mereka rela bergantian menggunakan snorkel, antre dengan sabar di pinggir sungai. Ada yang hanya memperhatikan, ada pula yang ikut turun mencarikan ikan untuk temannya.
Aliran
sungai terasa sangat sejuk. Bagi yang tak terbiasa, mungkin akan cepat merasa
kedinginan. Namun, anak-anak itu terlihat biasa saja. Mereka menyebar mencari
titik pengamatan masing-masing.
Para
pemuda yang telah mendapat pembekalan dan mencoba ber-fish watching di hari pertama, terus mendampingi dan ikut
membimbing adik-adik mereka itu, 17 anak usia SD-SMP. Mulai dari membantu
anak-anak cara mengenakan snorkel, menemani mencari ikan, sembari mengawasi
yang lain.
![]() |
| Anak-anak dipandu menggunakan kacamata selam dan snorkel |
Semakin
lama, mereka semakin terlihat menikmati. Berbagai gaya ditunjukkan: tengkurap
di atas bebatuan, berjongkok di kedalaman air atau berjalan merunduk. Memasuki
kemarau seperti sekarang, kedalaman dan arus Kali Wisnu memang terbilang aman
dan ideal. Alirannya dangkal dan tak seberapa dalam, berkecepatan arus sedang.
Sedikit
ke hilir, di pinggiran sungai yang penuh bebatuan dan kolam dangkal, Pak Irwan
mendapati ikan lain.
“Ini,
ada sili,” ujarnya.
Ikan
pipih panjang mirip belut itu bersembunyi di bawah bebatuan. Kepalanya
menyembul, memperlihatkan mulutnya yang bermoncong. Sementara bagian belakang
hingga ekornya menjuntai di bebatuan dasar sungai. Bila tak jeli, ikan dengan
corak unik bernama ilmiah Macrognathus
maculatus itu tak akan terlihat.
![]() |
| Sili yang teramati bersembunyi di bebatuan |
Biasanya,
sili mendiami kedung beraliran deras yang
permukaannya tertutup riak dan buih air. Kalau tidak tertangkap pancing, sulit
sekali ditemukan. Beruntung kali ini ia berdiam di bebatuan dangkal.
Tak seberapa jauh, giliran bokol yang terlihat. Jenis umum di Kali Wisnu dan di perairan air tawar Jawa itu berenang di sekitar tepian sungai. Nama ilmiahnya Barbodes binotatus. Adapula lunjar, sejenis wader dengan garis sisi biru. Menurut Pak Irwan, jenis dalam genus Rasbora sp ini masih memerlukan studi mendalam karena kemiripannya satu sama lain.
Riki, yang sedari tadi mengamati di area bawah jembatan, muncul ke permukaan.
“Ada
kékél,” sebutnya.
Beberapa
anak-anak lantas menghampiri bebatuan yang Riki tunjuk. Segera mereka
membenamkan diri, mencari si endemik Jawa yang sepintas menyerupai lele itu.
Bedanya, ikan bernama ilmiah Glypthotorax
platypogon tersebut memiliki organ perekat di dada yang membuatnya mampu
menempel di bebatuan dalam aliran arus deras.
Fish watching sebagai ekowisata
Tanpa
terasa, telah hampir dua jam anak-anak berendam di sungai. Meski tampak tak
puas, kegiatan harus dihentikan. Empat dari tujuh jenis ikan di Kali Wisnu berhasil
teramati. Kalau mau lebih gigih, mungkin akan bisa menjumpai jenis lain, macam uceng.
Memang,
aktivitas fish watching yang
dilakukan di perairan tawar semacam ini jauh dari populer, bahkan mungkin
nyaris tidak dikenal. Berbeda dengan aktivitas serupa di bawah laut, sampai-sampai
sebutan snorkeling seakan identik dengannya.
Namun,
mengamati ikan air tawar di habitat alaminya dapat dikemas untuk rekreasi,
bahkan ekowisata. Sebuah cara yang berbeda dalam upaya mengenalkan keragaman
jenis ikan lokal, sekaligus mengajak orang untuk lebih peduli terhadap
kelestarian sungai dan jenis ikan yang hidup di dalamnya.
Fish watching menjadi
bentuk pemanfaatan lebih jauh dari melindungi dan melestarikan ikan perairan
tawar. Kegiatan di Kali Wisnu ini terwacanakan dalam sarasehan dan workshop
sungai di Dusun Sawahan pada 2025 silam. Pak Irwan yang hadir kala itu,
memperkenalkan aktivitas yang pernah diujicobakannya di Yogyakarta.
![]() |
| Diskusi dan sharing bersama para pemuda sebelum aktivitas fish watching pertama, 23 Mei 2026 |
Mengembangkan fish watching sebagai ekowisata sangat mungkin dilakukan di Kali Wisnu. Masyarakat Dusun Sawahan telah lama meninggalkan praktik-praktik tak lestari dalam pemanfaatan sungai dan ikan. Dulu, saat kemarau adalah waktu terbaik bagi masyarakat Dusun Sawahan melakukan ‘tradisi’ meracun, alias ngobat. Kemarau kini, fish watching yang dilakukan. Kedung Kali Bengang telah menjadi suaka bagi ragalan dan ikan lain. Sebuah lubuk larangan yang patut dikembangkan ke depannya. Ragalan yang hadir kembali itu menjadi bukti keberhasilan upaya perlindungan bertahun, yang telah tertuang dalam kesepakatan bersama. Perencanaan yang matang memang sangat diperlukan dan harus menjadi perhatian utama dalam mengembangkan ekowisata minat khusus fish watching.
Hulu
terlihat mendung. Beberapa pemuda yang bertugas mengawasi aktivitas di sungai
memberi peringatan agar aktivitas di sungai berhenti. Dan benar saja, tak
seberapa lama hujan pun turun.
Anak-anak
pulang berganti pakaian. Mereka kembali berkumpul untuk mendiskusikan hasil
kegiatan sembari menyantap makan siang. Tahapan awal dalam memperkenalkan fish watching pada pemuda dan anak-anak
Dusun Sawahan telah selesai. Dan mereka bersepakat untuk melakukan fish watching lagi di lain waktu. Anda
tertarik ikut mencoba?




