Showing posts with label festival pangan. Show all posts
Showing posts with label festival pangan. Show all posts

Thursday, July 16, 2026

Rahasia di Balik Racun Gadung dan Pucung: Tanaman Hutan yang Menghidupi Warga Sekitar Hutan dan Menjaga Habitat Owa Jawa

 

Owa Jawa ( Hylobates moloch) menggunakan cabang pohon pucung sebagai perlintasan (Dok Alex Rifa'i)

Oleh : Sidiq Harjanto

Dua spesies tumbuhan hutan ini turut menjaga kelestarian Owa Jawa. Mereka tidak melakukan pemantauan populasi atau patroli pengamanan hutan seperti yang biasa kita lakukan. Namun, keduanya membentuk rangkaian hubungan antara manusia, pengetahuan, hutan, air, dan ekonomi yang membuat konservasi bisa berjalan dengan sendirinya. Dalam ilmu konservasi, hubungan seperti ini dikenal sebagai social-ecological system (SES). Ini adalah kisah umbi gadung dan biji pucung. 

Umbi gadung sekepalan tangan atau beberapa biji pucung bisa membawa akibat fatal jika dikonsumsi tanpa pengolahan. Keduanya sama-sama mengandung racun dosis tinggi. Namun, di tangan masyarakat Sawahan, racun bisa dijinakkan dan diubah menjadi pangan yang lezat dan terus mewarnai dinamika desa dari masa ke masa. 

Sawahan adalah dusun kecil di tepian habitat lima jenis primata Jawa, berada dalam wilayah administratif Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang. Di dusun ini, pangan lokal dan pengetahuan mengolahnya masih terus dirawat hingga sekarang, menjadi bagian integral dari relasi manusia dengan hutan. Ada lebih dari 80 jenis tumbuhan dan jamur liar yang bisa dikonsumsi. Empat tahun terakhir, agenda Pekan Pangan Mendolo rutin digelar, menjadi medium perayaan kedaulatan pangan dan bentuk upaya merawat kepedulian masyarakat terhadap isu pangan dan konservasi alam secara lebih luas.

Produk olahan gadung dan pucung produksi KWT di Sawahan
Pangan lokal dalam pusaran sejarah desa

Gadung adalah jenis umbi khas tropis dengan nama latin Dioscorea hispida. Umbi ini mengandung dioscorin dan sianida yang sangat beracun sehingga berbahaya jika dikonsumsi tanpa melalui proses pengolahan. Pucung atau kepayang adalah jenis pohon hutan yang biasanya tumbuh subur di area sempadan sungai. Memiliki nama latin Pangium edule, kadar racun tertinggi ada pada bijinya. Mengonsumsi biji yang tidak diolah dengan benar bisa menimbulkan efek memabukkan. Dari sanalah istilah “mabuk kepayang” lahir.

Kecerdasan para leluhur kita telah menemukan metode pengolahan yang membuat kedua tumbuhan beracun bisa diubah menjadi bahan pangan yang lezat. Gadung menjadi alternatif sumber karbohidrat ataupun sebagai bahan pangan tambahan seperti keripik. Sedangkan biji pucung diolah menjadi aneka bahan pangan, salah satunya kluwek, bumbu penyedap utama pada makanan legendaris seperti brongkos dan rawon. Di Pekalongan sendiri, ada sup tradisional khas yang menggunakan kluwek sebagai bahan utama kuahnya, dikenal sebagai pindang tetel.

Mengapa masyarakat Sawahan mengolah tumbuhan beracun menjadi bahan pangan? Jawabannya tidak berhenti pada kecerdasan dan keterampilan para leluhur–justru di sinilah terletak keunikannya. Situasi ini membutuhkan interaksi banyak aspek yang saling berkelindan: pengetahuan tradisional turun-temurun, daya dukung lingkungan, hingga insentif yang diberikan oleh sistem ekonomi.

Tidak ada dokumentasi komprehensif bagaimana masyarakat Sawahan memperoleh pengetahuan pengolahan bahan-bahan pangan beracun tersebut. Pengolahan gadung paling jauh bisa ditarik sekitar lima puluh tahun lalu, saat warga dusun ini meniru metode pengolahan gadung menjadi keripik dari warga desa lain. Namun, pengolahan yang lebih sederhana seperti peretan–sejenis nasi dari umbi yang dicacah–telah umum dilakukan sebelumnya. Untuk pengolahan pucung, informasinya malah lebih terbatas. Meskipun demikian, bisa dipastikan tradisinya tidak kalah tua.

Uji coba ekstraksi minyak kepayang

Pengetahuan dan keterampilan saja tidak cukup untuk membuat tradisi ini lestari. Ada faktor daya dukung lingkungan. Alam di Sawahan menyediakan habitat ideal bagi kedua spesies tumbuhan liar itu. Gadung tumbuh subur pada area hutan dengan tanah gembur dan kaya material organik. Pohon-pohon tinggi menyediakan media tumbuh. Dengan batang berdurinya, ia merambat melingkari pohon-pohon raksasa hingga bagian atas untuk mendapatkan paparan cahaya matahari. Putarannya selalu searah jarum jam. 

Wilayah di sekitar kampung dilalui sungai-sungai dengan area sempadan yang lembab, ideal sebagai tempat tumbuh pohon-pohon pucung. Spesies ini paling sering dijumpai pada habitat dataran rendah yang relatif basah, dan pohonnya dipercaya sebagai penjaga mata air. Di Sawahan, pohon pucung raksasa hampir selalu dijumpai di sekitar mata air. Monitoring satwa liar yang dilakukan Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo memberikan informasi empiris yang menarik mengenai peran pohon pucung bagi satwa liar, antara lain daun muda yang dimakan monyet rek-rekan, dan cabang-cabangnya yang memberi fungsi perlintasan bagi owa jawa (Alex Rifa’i, kom.pri.)

Kondisi lingkungan tidak hanya mendukung pertumbuhan spesies, tetapi juga menyediakan “fasilitas produksi” gratis bagi petani. Sungai mengalir sepanjang tahun, menyediakan air sebagai elemen penting dalam penetralan racun, baik pada gadung ataupun pucung. Proses ini membutuhkan perendaman dan pencucian menggunakan air mengalir selama beberapa hari. Tanpa sumber daya air yang melimpah, pemrosesan menjadi tidak efisien. Namun, di sisi lain tanpa merawat hutan–termasuk pohon-pohon pucung–air bisa surut hingga titik kritis. Inilah contoh nyata umpan balik sistemik menggunakan cara pandang SES.

Akses pangan lokal mewakili kepentingan kaum perempuan terhadap hutan

Faktor lain yang penting dalam lestarinya pengolahan pangan lokal adalah adanya insentif ekonomi. Meskipun pemanfaatan secara subsisten juga terus dilakukan, pertimbangan ekonomi kemungkinan besar memiliki porsi tersendiri terutama ketika ketersediaan bahan melimpah. Gadung telah lama diperdagangkan dalam bentuk keripik. Pembelinya sebagian besar adalah tetangga sendiri, membentuk ekonomi mikro yang stabil dan berkelanjutan di lingkup dusun sendiri. 

Menurut cerita sesepuh, dahulu pucung lebih banyak diperdagangkan dalam bentuk blibar–daging biji (endosperma) yang telah dihilangkan racunnya, tetapi tidak difermentasi seperti pada kluwek. Blibar adalah bahan sayur yang bisa ditumis, digulai, atau dibikin rendang. Produk olahan ini konon dijajakan keliling dari desa ke desa. Hari ini, pucung lebih banyak dijual mentah ke pengepul. Blibar sendiri masih bertahan, tetapi lebih banyak dimanfaatkan secara subsisten.

Rek-rekan ( Presbytis fredericae) terpantau memakan daun muda pohon pucung (Dok Alex R)

Sistem pangan sebagai leverage konservasi 

Hubungan kompleks antara pangan – hutan – dan konservasi menjadi titik masuk bagi SwaraOwa. Kami berupaya tidak ada satu program yang berdiri sendiri. Setiap isu terjalin dengan isu-isu lain karena konservasi pada dasarnya menyentuh sesuatu yang bersifat sistemik. Karenanya, program koridor habitat Owa Jawa di Desa Mendolo yang dirintis bersama PPM Mendolo sejak 2023 tidak berhenti pada menanam pohon, tetapi juga membuka aneka peluang lain, termasuk penguatan sistem pangan lokal bagi masyarakat. 

Berawal dari penanaman pohon, berlanjut ke pengembangan produk berbasis pangan lokal oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip. Sistem pangan lokal bisa menjadi medium partisipasi bagi kaum perempuan dalam diskursus tata kelola pemanfaatan hutan. Di Sawahan, ruang partisipasi itu diwujudkan dalam upaya inovatif: mendongkrak gadung dan pucung naik kelas menjadi komoditas ekonomi sekaligus penjaga resiliensi pangan.

Kedua komoditas ini dipilih karena nilai historis yang panjang, tersedia melimpah, dan memiliki narasi yang kuat untuk menjelaskan SES. Interaksi panjang masyarakat dengan komoditas-komoditas pangan hutan membangun perpustakaan pengetahuan yang sangat berharga yang sayang jika hilang begitu saja. Kumpulan pengetahuan itu justru menjadi bahan utama untuk meningkatkan nilai tambah pada produk-produk yang selama ini termarginalkan. 

Tiga tahun terakhir, kelompok yang dipimpin Sri Windriyah (Diyah) ini telah melakukan riset pengembangan produk untuk kedua komoditas. Hasilnya adalah tepung gadung dan aneka sambal berbasis kluwek. Harus diakui, memang upaya ini belum mengejawantahkan produk yang dihasilkan secara massal. Namun, capaian tidak selalu tentang berapa banyak produk yang telah dihasilkan. Ia bisa berupa pengetahuan baru–ini tentang data-data teknis, formulasi produk, hingga desain rantai pasok yang akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan ke depannya.

Di titik inilah kami sekarang. Datangnya musim kemarau menjadi penanda musim gadung yang akan berlangsung sampai kira-kira bulan September. Tidak lama setelah itu, musim buah pucung menyusul di belakangnya. Bulan-bulan ke depan terus menuntut produktivitas. Seiring dengan selesainya musim panen kopi pada bulan Juli ini, KWT Brayanurip bersiap memulai produksinya. 

Mengapa bentuk tepung dipilih pada gadung dan bentuk olahan kluwek pada pucung? Keduanya memiliki alasan yang mirip: memperpanjang umur simpan, lebih mudah dipasarkan, lebih fleksibel (misalnya tepung menjadi kue atau kerupuk), serta berpeluang membuka pasar baru. Pada aspek pasar, Diyah dan kawan-kawannya menemukan bahwa generasi muda tidak lagi antusias dengan keripik gadung atau blibar pucung. Karenanya, formulasi olahan baru menjadi keniscayaan. 

Gadung dan pucung tidak dipersiapkan untuk sumber ekonomi utama bagi masyarakat. Keduanya menambah nilai ekonomi hutan, melengkapi komoditas-komoditas yang lebih dulu eksis seperti kopi, durian, kapulaga, dan madu. Skema ini membentuk bantalan ekonomi yang lebih kuat sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati pada lahan-lahan produktif yang dikelola.

Pada konteks resiliensi pangan terhadap perubahan iklim, kiranya gadung bisa menjadi studi kasus menarik. Ia memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan komoditas pangan lain, baik yang berbasis umbi maupun serealia. Salah satu keunggulan yang patut dicatat adalah kemudahan tumbuh dan ketahanan. Gadung cenderung tumbuh liar di hutan dan dipelihara oleh sistem alam itu sendiri. 

Karena mengandalkan alam, waktu yang perlu diinvestasikan dalam produksi tepung gadung hanya terbatas pada pemanenan dan pengolahan pasca-panen, yang kira-kira membutuhkan satu minggu. Angka ini sebenarnya sangat jauh dibandingkan dengan komoditas lain seperti singkong dan talas yang membutuhkan upaya penyiapan lahan, penanaman, perawatan berkala, bahkan pengamanan dari konflik satwa liar. 

Berdasarkan riset yang dilakukan KWT, untuk mendapatkan satu kilogram tepung, diperlukan kurang lebih 9 sampai 10 kilogram umbi segar. Dari tanaman yang sehat, angka itu bisa diperoleh dari satu rumpun saja. Berbeda dengan pangan lain seperti padi, singkong, atau talas yang sering diakses satwa liar, nyaris tidak ada satwa yang mendekati umbi gadung. Tantangan ke depan menjadi lebih bisa dikerucutkan: mengembangkan metode budidaya sederhana untuk produksi yang lebih terkontrol, dan memastikan akses pasar yang mengapresiasi produk akhir. 

Krisis iklim yang semakin nyata mengancam penyediaan pangan kita di masa depan. Gadung dan pucung berpotensi menjadi barier proteksi ketahanan pangan masyarakat desa. Hanya saja, ini bukan semata tentang melestarikan tanaman-tanaman itu, namun juga pengetahuan mengolahnya. Yang diwariskan bukan sekadar tanaman, melainkan kemampuan mengubah racun menjadi pangan. Kepunahan data dan informasi yang terkandung dalam pengetahuan tradisional sama mengerikannya dengan kepunahan spesies itu sendiri.

Konservasi tidak cukup dengan menjaga hutan agar pohon tetap berdiri. Konservasi juga menjaga hubungan antara manusia, pengetahuan, dan lanskap yang membuat hutan tetap bernilai. Gadung dan pucung menjadi bukti bahwa ketika masyarakat memperoleh manfaat dari hutan, mereka memiliki alasan untuk ikut menjaganya. Pangan adalah daya ungkit konservasi yang patut kita perhitungkan, karena ia menyentuh titik nadi kehidupan.

Kami ucapkan terima kasih kepada Yayasan Astra Honda Motor, PT Musashi Auto Parts Indonesia, PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Yutaka Manufacturing Indonesia, dan PT Suryaraya Rubberindo Industries atas dukungan terhadap program penguatan kelompok KWT Brayanurip pada tahun ini. Apresiasi juga disampaikan kepada narasumber yang membuat artikel pendek ini terwujud: Biyung Mirah, Pak Casbari, Pak Kaliri, Sri Windriyah, Rohim, Alex Rifa’i, para ibu di KWT Brayanurip dan kawan-kawan PPM Mendolo. 


Monday, December 29, 2025

Pekan Pangan Mendolo 2025: Merajut Pangan, Seni, dan Konservasi

 

Ibu-ibu anggota KWT menyiapkan sajian hutan Mendolo

Oleh : Sidiq Harjanto

Kamis pagi, 27 November 2025, kesibukan mulai menyeruak di Dusun Sawahan, Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang. Para ibu sibuk memetik berbagai sayur di hutan seperti aneka pakis, gorang, kecombrang, lengko, dan berbagai jenis jamur liar. Warga dusun jamak menyebut aktivitas ini “meramban”. Beberapa pemuda membantu mengambil daun pisang dan kayu bakar. Sebagian lainnya disibukkan dengan agenda menghias panggung pertunjukan di lapangan dusun. Batang-batang tanaman jagung yang habis dipanen dan daun-daun kelapa disulap menjadi karya seni yang estetik dan ramah lingkungan.

Ini bukanlah awal. Jauh-jauh hari sebelumnya, para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip juga telah mengolah beberapa karung biji pucung/kepayang untuk dijadikan keluwek, salah satu bahan pangan hasil hutan unggulan Desa Mendolo. Demikian juga para pemuda yang tergabung dalam Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo, nyaris tiap malam disibukkan dengan gladi tari. Tak hanya melatih diri sendiri, mereka sekaligus melatih adik-adik mereka. 

hasil olahan pangan dari hutan Mendolo

Serangkaian kesibukan ini adalah persiapan menuju puncak acara Pekan Pangan Mendolo 2025 yang digelar pada 29 November 2025. Pekan Pangan merupakan hasil evolusi dari Perayaan Hari Pangan yang telah dirintis warga Mendolo bersama SwaraOwa sejak 2022. Tak salah kiranya menggunakan nama “Pekan Pangan” karena pada kenyataannya selama sepekan, warga telah sibuk dengan berbagai aktivitas seperti meramban bahan pangan dari hutan, persiapan venue, hingga latihan pentas seni bagi para penampil.

Pekan Pangan sebagai simpul konservasi

Tahun ini bisa dikatakan menjadi babak baru dalam skema “community conservation” yang diusung sebagai kolaborasi SwaraOwa, Pemerintah Desa Mendolo, beserta warga masyarakat yang tergabung dalam PPM Mendolo dan KWT Brayanurip. Skema ini telah menggulirkan program pengembangan ekonomi berkelanjutan seperti pengelolaan kopi robusta di bawah naungan, produksi madu klanceng, dan inovasi produk berupa tepung gadung. Ekonomi berkelanjutan menjamin inklusivitas, sehingga melibatkan berbagai kalangan, termasuk kaum perempuan.

para penari KWT Brayan Urip 

Sebagai upaya melestarikan desa dengan keanekaragaman hayati tinggi, termasuk lima jenis primata dan berbagai jenis burung terancam punah seperti elang jawa dan raja-udang kalung-biru, kolaborasi ini telah menginisasi berbagai program konservasi. Salah satunya adalah program koridor hutan melalui penanaman berbagai jenis pohon hutan. Tujuannya untuk menjaga konektivitas habitat bagi berbagai spesies langka dan terancam punah seperti owa jawa dan raja-udang kalung-biru yang mendiami kawasan hutan di desa ini.

Pekan Pangan Mendolo 2025 menjadi simpul untuk merangkum berbagai program konservasi yang telah dijalankan. Selaras dengan skema yang dijalankan, pada tahun ini mengusung tema “Pangan dan Konektivitas Ekosistem”. Perhelatan ini berupaya membangkitkan kesadaran kita semua bahwa kunci keberhasilan program konservasi adalah merawat konektivitas ekosistem. Pangan sendiri adalah koneksi antara manusia dengan alam. Seyogyanya kita memilih bahan pangan yang seimbang dan menyehatkan tubuh, serta disediakan dengan cara-cara yang berkelanjutan tanpa merusak keseimbangan ekosistem. Pada konteks lokal Mendolo, tradisi pangan masyarakat dan kelestarian hutan owa jawa adalah satu nafas yang tak terpisahkan.

Tari geculan bocah

Merajut asa untuk masa depan hutan owa

Edukasi menjadi langkah strategis dalam membangun skema konservasi berbasis masyarakat, khususnya dalam menyiapkan generasi penerus yang cinta lingkungan dan menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Di Mendolo, langkah strategis itu telah diejawantahkan dalam kegiatan nyata. Melalui momen Pekan Pangan Mendolo ini, panitia menyelipkan agenda peluncuran Generasi Lestari.

Beranggotakan 20 orang anak di lingkup Desa Mendolo, Generasi Lestari adalah platform komunitas belajar bagi generasi muda yang dilahirkan atas kolaborasi KWT Brayanurip, PPM Mendolo, dan SwaraOwa untuk mewujudkan skema pembelajaran yang holistik. Komunitas ini mengedepankan inklusivitas, dan menyentuh sisi kecerdasan emosional yang dirangkum dalam aktivitas bermain dan belajar. Pembiasaan-pembiasaan kecil seperti bertutur kata yang sopan, konsumsi makanan sehat, dan pembelajaran empati (termasuk kepada satwa liar) menjadi agenda utama Generasi Lestari.

Peluncuran ditandai dengan simbolis penyematan atribut berupa topi dan tas lapangan oleh Bapak Kaliri selaku Kepala Desa Mendolo kepada dua anak sebagai perwakilan, dilanjutkan pembacaan doa dan pemotongan tumpeng. Kiprah Generasi Lestari langsung dibuktikan dengan pertunjukan dua tarian, meliputi tari “Gaculan Bocah” yang menampilkan enam anak perempuan dengan riasan eksentrik menarikan tarian penuh kegembiraan. Tari kedua menampilkan tujuh anak laki-laki memainkan tari “Jingkrak Sundang” yang rancak.

Tarian Jingkrak Sundang

Jam makan siang tiba. Segenap warga desa dan para tamu berkumpul di rumah salah satu warga. Pada meja yang ditata memanjang telah tersaji 31 jenis menu yang dihasilkan dari berbagai bahan berbasis hutan seperti aneka sayur hutan, jejamuran liar, aneka sambal: sambal kecombrang, sambal keluwak, sambal klanthing, dll. Setiap sajian telah diberikan informasi yang bisa dibaca oleh para tamu sembari menikmati hidangan. Amelia Nugrahaningrum dari Genau Indonesia dan Nur Choiriyah dari Indonesia Dragonfly Society membantu memfasilitasi para ibu dari KWT Brayanurip untuk melakukan kurasi dan intepretasi menu.

Seni: jembatan integral antara hati, pangan, dan hutan

Sejak pertama kali digelar pada tahun 2022 bertajuk Perayaan Hari Pangan Sedunia, ada satu elemen yang terus melekat dalam Pekan Pangan, ialah seni. Berawal dari seni-dolanan “uwi-uwinan” dan musikalisasi puisi oleh Tohir Susilo dan Yurizal Rahman pada 2022, diikuti Pentas Seni “Ketoprak Sayur” yang menampilkan lebih banyak talenta lokal pada 2023, dan Pentas Karawitan dan Ronggeng pada 2024. Puncaknya di tahun ini, ada lebih banyak penampil seni yang berpartisipasi. Mulai dari tari Gaculan, tari kontemporer yang dikreasi KWT, karawitan, ronggeng, dan tari Jingkrak Sundang (anak&dewasa). 

Tarian jingkrak sundang bocah

Seni tidak sekadar sebagai hiburan. Ia sarat akan makna, bisa menjadi media menyampaikan pesan, membangkitkan empati, meningkatkan kreativitas, dan melatih kerjasama. Setiap pertunjukan seni membawa misi tersendiri, seperti tari Jingkrak Sundang, tari kreasi Bapak Sujono dari Keron, Magelang ini menggambarkan kemarahan dan keputusasaan satwa liar yang kehilangan habitat. Melalui penjiwaan gerak dan musik, tari ini menjadi instrumen integral untuk membangkitkan empati—mengingatkan kita bahwa ketika hutan hilang, ada banyak kehidupan yang hancur di dalamnya.

Ucapan terima kasih

Atas terselenggaranya Pekan Pangan Mendolo 2025, SwaraOwa memberikan apresiasi sebesar-besarnya untuk para kolaborator lokal sebagai panitia penyelenggara, yaitu PPM Mendolo dan KWT Brayanurip atas kerja keras tanpa kenal lelah. Ucapan terima kasih kami haturkan kepada Pemerintah Desa Mendolo, Muspika Kecamatan Lebakbarang, Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur, Yayasan Astra Honda Motor beserta affiliated companies, CDK IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, Dinas Pertanian, Indonesia Dragonfly Society, Genau Indonesia, dan segenap warga masyarakat dan para tamu yang turut memeriahkan acara.