Wednesday, May 20, 2026

Survey Populasi Bilou ( Hylobates klossii) di Taman Nasional Siberut

Bilou sedang makan buah pohon tumu (Buchanania arborescens

oleh : Aloysius Yoyok

Melanjutkan program konservasi Bilou swaraowa , yang telah melakuan survey populasi di 9 hutan adat di Siberut Selatan di tahun 2025, kali ini survey dilaksanakan di Bekemen yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Siberut, tepatnya di wilayah SPTN 2 Siberut Utara. Bekemen sebenarnya adalah nama salah satu anak sungai hulu DAS sungai Sikabaluan. Di kawasan ini paket kegiatan kali ini diselenggarakan, selain untuk mendapatkan data populasi bilou dan primata sekaligus juga untuk pelaksanaan training ( untuk peningkatan kapasitas staff TN dan masyarakat sekitar kawasan)  pengambilan data populasi bilou dengan metode vokalisasi point count. Training ini terutama ditujukan untuk beberapa anggota tim survei yang baru, mereka adalah 5 orang anggota masyarakat setempat; 2 orang dari wilayah Siberut Utara, 1 orang dari wilayah Siberut Selatan, 1 orang dari wilayah Sipora, 1 orang dari wilayah Pagai Utara-Selatan serta 2 orang staf BTNS dari STPN 2 Sikabaluan.

diskusi dengan staff TN Siberut dan
pengenalan metode vocal count untuk survey populasi Bilou

Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, tentu saja koordinasi dilaksanakan terlebih dahulu dengan membangun komunikasi ke pihak BTNS (Balai Taman Nasional Siberut) melalui Kepala SPTN wilayah 2 Siberut Utara. Sesuai prosedur standar, karena kegiatan ini akan dilaksanakan di dalam kawasan TN Siberut maka diperlukan Simaksi (surat ijin masuk kawasan konservasi). Pemilihan lokasi di dalam kawasan ini adalah sekaligus untuk pengambilan data populasi di kawasan yang diperkirakan memiliki potensi kepadatan dan kelimpahan populasi bilou tinggi. Kondisi ini diharapkan akan mendukung untuk tempat praktik pengamatan dan pengambilan data bagi peserta yang baru.

Jam 15.00 WIB pada Selasa 5/4/2026 tim yang akan melaksanakan kegiatan sudah lengkap terkumpul di kompleks perkantoran BTNS STPN 2 Sikabaluan. Atas ijin dari pihak BTNS melalui Kepala STPN 2, tempat ini menjadi piihan untuk penyelenggaraan pertemuan tim. Sore itu kegiatan pendahuluan training sekaligus pengambilan data populasi dimulai dengan penyampaian metode. Tidak terlalu rinci, hanya pada prinsip-prinsip utama saja untuk selanjutnyna peserta baru akan langsung belajar bersama sekaligus melakukan praktik pengambilan data di kawasan yang dipandang memiliki kelimpahan populasi tinggi di dalam kawasan TN Siberut.

Diskusi sore itu termasuk penentuan lokasi pengambilan titik pengamatan suara sekaligus pembagian peserta menjadi menjadi 3 tim. 3 titik lokasi pengamatan berhasil ditentukan berdasarkan pertimbangan jarak dari garis batas kawasan BTNS, jarak antar titik pengamatan dan juga berdasarkan peta kesesuaian untuk habitat bilou. Tim 1 adalah Yoyok, Kusmiadi (staf BTNS), Aolia dan Lily (staf BTNS), tim 2 adalah Erkanus, Iman, Adek dan Ilarius sementara tim 3 adalah Vincen, Matheus, Adin dan Ari. Tim 1 akan melakukan praktik pengambilan data populasi bilou dan primata melalui metode vokalisasi di Bekemen, Tim 2 di Balingken Bojakan sementara tim 3 akan di Tinaba, Bojakan.

tim survey di bersiap menuju lokasi

menyusuri sungai menuju Bojakan

Rabu menjelang siang 3 unit pompong sudah berderet di salah satu sudut epian muara Sungai Sikabaluan. P. Kusmiadi, seorang staf senior BTNS STPN 2 sejak kemarin sore sudah sibuk menghubungi pemilik pompong sekaligus merangkap operator yang akan mengangkut kami menuju sasaran tujuan masing-masing. Alih-alih dikemudikan oleh warga masyarakat lokal seperti 2 pompong yang lain, pompong tim 1 rupanya langsung dikemudikan oleh P. Kusmiadi, salah seorang staf BTNS yang rupanya sekaligus adalah penduduk desa Monganpoula.

Secara beriringan pompong yang telah sarat penumpang dan logistik untuk pelaksanaan survei bergerak menuju bagian hulu sungai Sikabaluan. Tujuan ke 3 tim ini adalah tim 2 dan 3 mengarah ke hulu bagian kiri yaitu melewati desa terakhir yang berbatas dengan kawasan TNS yaitu desa Bojakan. Sementara tim 1 bergerak menuju hulu sungai Sikabaluan di arah kanan yaitu kawasan Bekemen.

Pada awalnya kegiatan ini direncanakan akan terbagi ke 6 titik pengamatan yang berbeda. 3 titik pengamatan berada di sekitar hulu desa Bojakan dan 3 titik pengamatan berada di kawasan sekitar Bekemen. Namun sesudah tim terkumpul dan dilakukan diskusi berdasar metodologi yang mempertimbangkan jarak antar titik pengamatan, jarak terhadap garis batas kawasan TNS dan resiko ketersediaan akses maka titik pengamatan yang paling memungkinkan hanyalah 3 titik pengamatan saja, 1 titik pengamatan di Bekemen dan 2 pengamatan di Bojakan.

Survey lokasi ke 1. di Bekemen

pondok menginap di Bekemen

Saat tengah hari iringan ke 3 pompong sudah hampir mencapai persimpangan sungai yang terbelah menuju Bojakan dan Bekemen. Tim yang sudah membekali diri dengan menu makan siang kemudian beristirahat di tepian sungai itu untuk menikmati makan siang. Ke 3 pompong kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Sekitar 10 menit sesudah melewati muara sungai Bekemen, tim 1 secara mengejutkan bertemu dengan kelompok bokkoi yang sedang berkeliaran di sekitar pondok perladangan baru milik penduduk. Kelompok bokkoi itu kemungkinan sedang mengincar tanaman pisang ataupun potongan-potongan sagu persediaan untuk ternak babi yang ada di tepian sungai itu. Saya yang duduk di posisi terdepan di atas pompong itu sibuk, fokus memperhatikan jalur sungai untuk menghindari kayu-kayu yang sering membahayakan jalur perjalanan tidak menduga sama sekali jika akan bertemu dengan rombongan bokkoi itu, sekitar 6 ekor. Bergegas saya membuka tas tempat menyimpan kamera, sialnya karena saya belum menyiapkan kamera, kesempatan emas untuk mengambil foto-foto yang bagus itu tidak termanfaatkan dengan baik. Pemandangan kelompok bokkoi yang berada di tepian sungai semacam itu sangat sulit didapatkan di kawasan lain di pulau ini.

Perjalanan kali ini cukup beruntung karena tidak terlalu banyak kayu melintang. Kayu-kayu dari pepohonan yang tumbang dari lereng-lereng di tepian sungai seringkali masih ditemukan melintang mengahalangi jalur perjalanan pompong karena dihanyutkan oleh banjir besar sejak 2 bulan lalu. Sesudah sempat mendorong pompong selama 3 kali saja saat jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, akhirnya kami tiba di bangunan yang dibangun oleh BTNS untuk semacam posko saat petugas BTNS berkunjung ke kawasan ini.

Sore itu kami bisa beristirahat dengan nyaman di bangunan milik BTNS itu. Titik pengamatan yang akan dituju sudah ditentukan yaitu di pertengahan jalur pengamatan 1, jalur terpanjang yang sering ditempuh oleh para petugas BTNS saat melakukan kunjungan ke kawasan ini.

Hari ke `1

Pagi-pagi benar saat jam masih menunjukkan pukul 04.30 WIB kami sudah terjaga dari tidur. Tidak ada yang perlu dibangunkan, kami segera bersiap untuk memulai kegiatan hari ini. Jam sudah menunjukkan pukul 05.15 WIB saat kami bergerak beriringan menembus pagi yang gelap lembab, berkabut dan gelap. Suara morning call dari bilou jantan sudah mengisi suasana pagi itu saat kami bahkan belum melangkah keluar dari dalam bangunan itu. Perjalanan melalui jalur pengamatan 1 BTNS di wilayah STPN 2 ini adalah dengan menyusuri punggungan bukit. Kami bergerak mendaki lereng bukit yang sudah tersedia, jalan setapak yang biasa ditempuh oleh para petugas BTNS saat melakukan kegiatan survei. Sesudah setengah jam perjalanan, sesudah kami melewati lereng bukit yang cukup terjal, kami akhirnya memutuskan tempat untuk kami akan melakukan pengamatan suara bilou di kawasan itu.

bilou yang terlihat di lokasi Bekemen
Saat perlahan sinar matahari mulai menerobos ranting-ranting dan dedaunan di hutan Bekemen itu, kami mulai menyadari jika di sekitar kami merupakan pohon tidur dari beberapa kelompok primata. Ada sekelompok keluarga bilou kira-kira 50 meter saja di lereng arah barat kami, lalu ada kelompok bilou lain di sekitar 70 meter di arah Utara, dan ada sekelompok simakobu di sekitar 50 meter di arah barat laut. Pagi itu kami mendapatkan suguhan alam khas Siberut yang memukau. Kami berhasil mencatatkan 9 great call suara bilou dan 2 alarm call dari kelompok bilou yang berada di dekat kami, dengan indera mereka yang tajam, mereka segera menyadari keberadaan kami di dekatnya.

Sepulang dari pengamatan suara, kami sedikit dikejutkan oleh kedatangan tamu, operator pompong dari Mongan Poula yang kemarin berangkat mengantarkan 2 tim yang lain ke arah Bojakan. 2 orang operator pompong itu pun bercerita. Menjelang sore mereka sudah tiba di Bojakan. Mereka kemudian langsung menuju ke rumah Ilarius, seorang penduduk Bojakan yang juga adalah petugas lapangan BTNS. Sesuai arahan dari rekan-rekan staf BTNS mereka kemudian melakukan koordinasi ke pemerintahan setempat yaitu Kepala Dusun dan Kepala Desa. Dari pembicaraan itu diputuskan jika ke dua operator pompong dari Monganpoula disuruh untuk pulang dan tanggung jawab untuk menyediakan sarana transportasi maupun tenaga pemandu akan di sediakan oleh warga Bojakan. Ke dua operator pompong dari Monganpoula itu tidak berangka pulang kembali ke Mongan Poula tetapi kemudian malah memutuskan untuk bergabung dengan tim 1 yang melakukan survei di Bekemen. Tim 1 survei populasi bilou yang di Bekemen akhirnya kemudian berjumlah total menjadi 6 orang.

Namun kejutan lain di sore itu adalah tamu lain yang mengunjungi kami, 1 individu bilou jantan  jantan dewasa sedang mencari pohon tidurnya. Saat kami sedang berada di teras bangunan pos itu, tiba-tiba saya melihat bayangan primata yang melompat di pepohonan yang berada di seberang anak sungai di sebelah rumah pos BTNS Bekemen. Kami segera bergerak, mengambil posisi untuk menikmati pemandangan langka itu. Namun karena bilou itu menyadari keberadaan kami di bangunan pos itu, bilou itu kemudian bergerak menjauh ke arah lereng perbukitan, mencari pepohonan lain yang lebih nyaman untuk menghabiskan malam.

Hari ke 2

Pagi itu cuaca cukup cerah, terlihat bintang-bintang bertaburan di langit muncul dari sela-sela dedunan di halaman posko saat saya melangkah ke halaman bangunan tempat kami bermalam itu. Seperti biasa, saat jam menunjuk pukul 05.00 WIB, kami sudah bersiap untuk berangkat menuju lokasi pengamatan, tetapi kali ini bahkan saat menjelang kami tiba di lokasi pengamatan, kami sudah kehilangan suara morning call dari beberapa bilou di kawasan itu. Kami tetap melakukan pengamatan dengan sabar, sampai jam 10.00 WIB saat kami kemudian bergerak kembali menuju pos BTNS STPN wilayah 2, kami tetap tidak mendengar suara great call dari kelompok-kelompok bilou di kawasan itu. Namun saat dalam perjalanan kembali, kami bisa melihat kelompok-kelompok kecil simakobu di 2 titik di jalur perjalanan, mereka segera bergerak menjauh karena mendengar kedatangan kami yang kali ini berjumlah 6 orang akibat 2 orang operator pompong yang mengantarkan tim ke Bojakan datang bergabung dengan kami.

Simakobu ( Simias concolor) teramati di hari ke-2 di Bekemen

Hari ke 3

Pengamatan hari ke 3 berlangsung cukup seru. Di lokasi pengamatan kami bisa bertemu dengan kelompok simakobu yang berada di begitu dekat. Bagian dari kelompok itu ada 4 individu simakobu yang berwarna keemasan atau yang biasa disebut oleh penduduk setempat sebagai sulabei. 2 individu dewasa, 1 individu juvenile dan 1 individu anak. Saat matahari mulai bersinar mereka berloncatan mencari, mencari tempat yang nyaman untuk mencari makan, nampaknya kehadiran kami cukup mengganggu mereka. Di 10 meter arah barat laut, kami juga disuguhi pemandangan 1 individu simakobu jantan yang sedang bertengger di dahan kayu shorea, sementara di jarak sekitar 50 meter di arah barat, kelompok bilou berjumlah 4 individu terlihat sedang sibuk menikmati makanan mereka berupa buah tumu (Buchanania arborescens) yang saat itu terlihat di beberapa tempat sedang menghasilkan buah. Kami sibuk mengamati tingkah laku kelompok bilou itu sampai kemudian kelompok itu kemudian pergi dari pohon tumu itu, cukup lama, sekitar hampir 1 jam kami disuguhi tontonan langka itu.

Menjelang siang saat kami kemudian menyelesaikan proses pengamatan suara bilou hari itu, kami kemudian bergerak kembali meninggalkan lokasi pengamatan menuju pos. Namun kali ini saya ditemani pemandu mengambil jalur lain. Kami berdua bergerak menyusuri sambungan jalur pengamatan 1 BTNS Bekemen, belum sampai ke ujung jalur pengamatan, kami memotong jalur dan kami kemudian menemukan jalur pengamatan 2.

Jalur jalan setapak itu semakin menanjak, sambil mengamati sekeliling mencari kesempatan untuk medapatkan foto satwa atau primata. Kami lalu berjalan menuruni lereng bukit itu, menyeberangi anak sungai yang dari atas bukit terdengar bergemuruh akibat aliran air sungai itu terjun memalui bebatuan Sesudah kembali mendaki lereng yang cukup terjal kami kemudian beristirahat, peluh membasahi pakaian kami. Tiba-tiba kami mendengar benda yang terlihat berjatuhan dari atas kanopi pepohonan yang berada di dekat kami duduk. Ternyata seekor Mentawai civet atau musang Mentawai (Paradoxurus lignicolor)  yang berwarna coklat terlihat bergerak mencari tempat untuk bersembunyi. Mungkin dia terganggu akibat keberadaan kami di bawah pohon tempatnya beristirahat sirang itu. Tidak jauh dia bergerak, hanya berpindah pohon ke pohon sebelah, lalu mendekam di dahan kecil di ketinggian sekitar 7 meter saja.

Musang mentawai 

Puas mengamati satwa endemik dan mengambil bebeapa foto satawa itu kami kemudian melanjutkan perjalanan. Sayangnya baterai kamera kami sudah tidak ada lagi daya. Sepanjang perjalanan di jalur 2 itu kami kemudian bertemu dengan seekor simakobu jantan besar yang bahkan suara lompatan-lompatannya di atas pohon yang berdiri miring itu bahkan sampai terdengar berderap. Lalu kami juga bertemu dengan serombongan besar bokkoi yang sedang sibuk mencari makanan, ada yang bertenggar di pelepah bunga nibung, ada yang sedang mengais-ngais tanah, ada yang sedang berkejaran berebut makanan. Menjelang tiba di pos kami masih sempat melihat 2 individu simakobu yang sedang bertengger di dahan pohon di dekat jalan setapak yang kami lewati. Keduanya segera melompat, bergerak menjauh dari kami.

Tiba di rumah kami kemudian mendengar cerita dari teman-teman satu tim yang lain, dalam perjalanan pulang menuju pos, mereka bertemu sekelompok bilou. Namun mereka juga tidak bisa mengambil foto ataupun video karena teman yang membawa kamera masih tertinggal di belakang. Mereka bercerita jika kelompok bilou itu cukup lama bergelantungan memperhatikan mereka sebelum kemudia bergerak menjauh dari tim survei itu.

Hari menjelang sore saat hujan turun sangat deras selama sekitar 2 jam. Kami kemudian memutuskan untuk istirahat, namun salah seorang pemandu kemudian mengetahui jika air sungai sudah meninggi secara tiba-tiba, akibat hujan deras itu. Perahu-perahu dan mesin pompong hampir saja dihantam banjir jika kami tidak segera memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi. Sore itu banjir di sungai Bekemen sudah hampir mencapai halaman rumah pos BTNS itu.

Hari ke 4

Hari ke 4 survei kami hanya berhasil mencatat 2 greatcall yang berasal dari jarak yang cukup jauh. Pagi itu cuaca berawan, hari semakin siang tetapi sinar matahari tidak bisa menembus pekatnya mendung dan kabut yang bergerak menyelimuti lingkungan perbukitan tempat kami melakukan pengamatan. Udara menjadi terasa lembab dan dingin, suara-suara bilou jantan yang mengisi pagi itu sudah terdiam, kami tidak mendengar suara great call lagi.

Namun pagi itu kami kembali disuguhi pemandangan sekelompok bilou yang berjumlah 4 individu itu kembali. Mereka terlihat asyik menikmati menu makan pagi mereka berupa buah tumu di tempat yang kemarin itu lagi. Kami kembali disibukkan dengan pemandangan yang hanya berjarak sekitar 30 meter di lereng bukit di sebelah kami berkumpul. Di sela-sela gerumbul dedaunan perdu, kami mengintip aktifitas primata ikon Siberut itu.

Survei lokasi ke 2 di Lakomonga

Perjalanan survei yang ke dua ini kami mengambil tempat di kawasan yang berjarak sekitar 5 km dari batas kawasan hutan BTN Siberut. Hutan Lakomonga ini memiliki hamparan hutan yang masih bagus dan bersambung dengan hutan di dalam kawasan BTN Siberut di Bekemen. Kali ini kami menumpang di pondok milik penduduk yang berasal dari Mongan Poula, Siberut Utara. Pondok itu adalah tempat beraktifitas keluarga Tou Laiteng Siribatek untuk beternak babi tradisional (pusainakat) dan juga tempat untuk bertani secara tradisional. Petak-petak tanaman keladi terlihat di sekitar bantaran sungai terlihat subur akibat tanah gembur yang sering terbawa banjir di sepanjang bantaran sungai itu. Petak-petak tanaman keladi itu dipagar dengan sejenis batang perdu yang diikat membanjar membentuk pagar untuk membatasi aktifitas ternak babi yang akan merusakkan tanaman. Selain itu keluarga ini juga biasa bertanam padi yang mereka budidayakan di tidak jauh dari lokasi pondok itu, tetapi saat kami berkunjung di pondok itu pertanian padi mereka sudah selesai mereka panen. 

Di sekitar pondok itu kami juga melihat tegakan pohon-pohon pinang yang sudah produktif, jumlah yang cukup untuk menambah penghasilan rumah tangga keluarga ini. Tidak jauh dari sekitar rumah mereka itu mereka juga memiliki beberapa rumpun kebun sagu di beberapa ceruk yang terdapat aliran anak sungai. Rumpun-rumpun batang sagu yang tidak terlalu banyak itu selain menjadi sumber pakan ternak babi dan ayam juga mereka olah menjadi tepung sagu basah untuk sumber pangan mereka sendiri. Menurut Tou Laiteng, hutan di kawasan Lakomonga sampai Bekemen secara tradisional adalah milik dari uma Siribatek. Di beberapa tempat di kawasan ini beberapa anggota penduduk dari Mongan Poula dan Bojakan memanfaatkannya untuk beternak babi maupun membuka lahan pertanian di sepanjang bantaran sungai.

Kamis 23/04/2026 perjalanan di mulai dari Muara Sikabaluan tempat kami menginap di penginapan milik BTNS SPTN 2 dengan perjalanan darat menuju Mongan Poula dengan sepeda motor. Perjalanan ini memungkinkan untuk ditempuh karena anggota tim yang kali ini berangkat hanya 3 orang saja.  Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB, matahari bersinar terik menyengat saat kami berangkat menuju Lakomonga dengan mempergunakan pompong. Namun karena kami berangkat dari Mongan Poula, perjalanan menyusuri sungai dengan pompong sudah terpangkas hampir sepertiga perjalanan. Jam masih menunjukkan pukul 17.00 WIB saat kami sudah tiba di tujuan kami, pondok milik Tou Laiteng Siribatek. Bangunan kecil beratapkan anyaman daun sagu yang terletak di bantaran sungai Bekemen. Pemilik pondok itu ramah menyambut kami.

Sore itu kami berbincang-bincang membahas rencana perjalanan untuk pengamatan suara bilou di kawasan itu. Tou Laiteng menunjukkan jika titik tertinggi perbukitan yang akan kami tuju adalah di seberang sungai Bekemen, tepatnya di bukit Lakomonga dimana sungai Lakomonga mengalir dari lereng perbukitan itu dan bermuara di sungai Bekemen. Malam itu kami tidur di atas tikar yang dipinjamkan oleh tuan rumah, tikar dari anyaman semacam perdu yang diproduksi oleh penduduk Cimpungan, Siberut Utara. Alas tidur yang bagi saya sangat nyaman. Karena pondok itu hanya memiliki 1 kamar saja, kami mengambil tempat di ruangan terbuka.

Bokkoi ( Macaca siberu)

Dini hari, hujan turun cukup deras. Namun kami beruntung karena saat jam menunjukkan pukul 05.30 WIB, hujan sudah reda. Kami berangkat menuju lokasi survei dengan menyeberangi sungai Bekemen menggunakan perahu yang biasanya dipasangi mesin pompong, namun kali ini tidak perlu mempergunakan mesin karena kami cukup menggunakan galah saja. Begitu tiba di seberang sungai, jalur menanjak di lereng bukit yang cukup terjal itu sudah menunggu kami. Posisi tepian sungai itu adalah titik dimana saat kami lewat seminggu lalu ketika menempuh perjalanan menuju hulu sungai ini, kami melihat serombongan bokkoi yang sedang berada tepian sungai itu.

Sekitar setengah jam kami berjalan beriring seperti merayap, menyusuri jalur jalan setapak terjal yang jarang diewati ini. Peluh bercucuran dari muka kami, pakaian kami juga segera menjadi basah meski pagi itu masih dingin dan gelap. Kami harus menerangi jalur jalan kami dengan senter. Di posisi paling depan Ondy, anak lelaki Tou Laiteng yang menjadi pemandu perjalanan kali ini. Sesekali dia sibuk membuka jalur jalan dengan menebas semak-berduri yang sering menghalangi jalur jalan. Tetapi kawasan ini sudah dikenalnya denan baik sehingga meski jalur bersemak dan masih gelap gulita, kami terus melangkah ke depan tanpa keraguan. Sampai di titik yang agak landai terlihat Ilarius sibuk, bagian kakinya terlihat berdarah, 3 ekor pacet terlihat menempel, menghisap darah di bagian kakinya. Pagi itu dia kehabisan persediaan celana panjang sehingga terpaksa harus memakai celana pendek saja, tanpa penangkal serangga, pacet sangat menyukai itu.

Joja ( Presbytis siberu)

Pagi itu di suasana yang cukup sepi, kicauan burung-burung hutan juga hanya sesekali terdengar. Hujan gerimis kembali turun, tidak lama tetapi mendung tetap menggantung di semua penjuru langit. Suara morning call bilou jantan belum terdengar sampai kami sudah mencapai titik tertinggi di perbukitan itu. Sampai jam sudah menunjukkan pukul 08.12 WIB  saat gerimis sudah mereda, kami kemudian mendengar 2 morning call, suara dari bilou jantan. Keduanya tidak jauh dari tempat kami melakukan pengamatan.

Hari pertama pengamatan itu, kami tidak berhasil mendengar suara great call bilou. Namun sepanjang pagi itu kami bisa mendengar beberapa suara primata lain di sekitar tempat kami melakukan pengamatan dari jarak yang relatif dekat. Saya meyakini jika meski pagi itu tidak terdengar suara great call bilou, hanya karena bilou-bilou itu memang sedang tidak bersuara saja. Melihat kondisi vegetasi hutan ini seharusnya kawasan ini merupakan habitat yang bagus untuk menjadi rumah bagi primata-primata itu. Begitupun cerita dari Tou Laiteng, biasanya bilou-bilou itu terdengar bersuara di kawasan hutan ini.

Dalam perjalanan pulang kami juga bisa melihat beberapa kelompok primata yang lain, joja dan simakobu, bokkoi meskipun belum kami lihat bentuk fisiknya, tetapi beberapa kali kami berhasil mendengar pekikan-pekikan khasnya. Hal itu menambah keyakinan jika kawasan ini memang masih menjadi menjadi habitat bilou.

Setibanya kami di pondok, Tou Laiteng juga cukup heran dengan cerita kami. Siang itu, dia juga bercerita jika di perbukitan yang terletak di belakang pondok itu terkadang suara bilou dan ke 3 jenis primata endemik Siberut lainnya sering dia lihat di pokok-pokok pepohonan di situ. Namun hujan rintik-rintik dan cuaca sore itu yang tidak mendukung, membuat kami mengurungkan niat untuk menjelajahi perbukitan di belakang pondok sore itu, meng-eksplor potensi keragamanhayati di situ.

Hari ke 2

Seperti biasa, pagi-pagi benar sebelum matahari terbit, saat hari masih gelap gulita kami kembali bergerak menuju titik pengamatan kami di puncak perbukitan itu. Pagi itu dari pondok saat kami maasih bersiap memulai perjalanan, kami sudah mendengar 2 sumber suara morning call dari jantan dewasa. Semakin kami mendekat ke arah titik tempat kami sudah menentukannya sebagai tempat pengamatan kami satu hari sebelumnya, kami menduga jika salah satu sumber suara berada di sekitar tempat itu. Benar saja. Di dekat tempat kami kemarin berkumpul untuk melakukan pengamatan, di kanopi pohon kruing yang tinggi menjulang, kami mendengar suara khas morning call bilou. 

Kami bergerak dengan sangat hati-hati. Guguran dedaunan kruing yang menumpuk di sekitar tempat itu menyulitkan kami untuk tidak berjalan tanpa suara. Di bawan pohon kruing itu, dengan perekam dari gawai saya berhasil merekam suara morning call bilou itu dengan cukup jelas. Kami kemudian duduk dengan berdiam diri tanpa bersuara, meski nyamuk semakin bertambah banyak yang berdengung-dengung berusaha menggigit kami. Namun bilou di kanopi kruing itu kemudian diam, tidak bersuara lagi saat matahari mulai terbit. Kami berusaha mengintip ke atas dari sela-sela rimbunnya dedaunan dari pepohonan lain yang lebih rendah. Namun nampaknya bilou itu hanya 1 individu dewasa jantan saja, dia tidak pernah kami lihat, nampaknya dia hanya bersembunyi di kerimbunan dedaunan pepohonan itu sampai kami meninggalkan tempat itu saat jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB.

Di pengamatan hari ke 2 itu, kami cukup disibukkan dengan suara-suara bilou dari beberapa arah. Ada, 4 great call dan 3 morning call. Selain itu, sekitar 50 meter dari tempat kami melakukan pengamatan itu kami juga melihat kelompok simakobu yang menghabiskan malam di dekat situ. Dalam perjalanan pulang kembali kami juga melihat 1 kelompok simakobu yang berbeda dan 1 kelompok bokkoi.

Tiba di pondok tempat kami bermalam, pasangan tuan rumah rupanya sedang dalam perjalanan menuju ke Bojakan untuk menggiling gabah hasil panen mereka untuk persediaan makanan. Karena cuaca yang terlihat mendung kami juga Kembali memutuskan untuk tidak melakukan perjalanan menjelajah hutan di perbukitan belakang pondok di sore itu. Tetapi teman kami memutuskan untuk berangkat mengisi waktu di sore itu untuk menumbang sagu sekaligus mengangkut potongan-potongan batang sagu itu untuk persediaan pakan ternak mereka. Tempat itu adalah tempat peternakan babi yang berada di tempat lain yang berada tidak jauh dari tempat itu.

burung Tiong emas

Di tengah hujan yang kemudian turun dengan deras sore itu anak Tou Laiteng yang lain, yang masih berada di pondok tiba-tiba memberi tahu saya jika dia melihat seekor babi hutan jantan dewasa yang ikut datang ke tempat pemberian pakan babi ternak mereka itu. Babi hutan jantan yang ditunjukkannya itu rupanya bukan berwarna hitam seperti yang saya bayangkan, melainkan berwarna putih dengan variasi belang kecoklatan. Dia mengikuti babi ternak betina dewasa yang sedang birahi. Anak itu juga bercerita jika kemarin sore sebenarnya dia mau memberitahu kami jika tidak jauh di belakang pondok di melihat 1 individu simakobu yang sedang bertengger di pohon dekat kaki perbukitan itu, tetapi niat itu dia urungkan karena bapaknya, Tou Laiteng sedang mengamati babi hutan yang sedang datang mendekat ke pondok. Babi hutan adalah salah satu binatang hutan sasarn perburuan yang menjadi favorit penduduk di Siberut pada umumnya.

Hari ke 3

Di hari yang ke 3 kami menumpang di pondok itu karena hujan deras yang mengguyur dari sore kemarin, kami sudah berangkat tidur sejak hari masih belum terlalu malam, akibatnya saat jam masih menunjukkan pukul 03.30 WIB kami sudah terjaga dari tidur. Namun pagi itu kemungkinan akibat kondisi fisik yang kurang fit akibat didera hujan sepanjang sore, salah satu teman kami terpaksa tidak bisa ikut untuk melakukan pengamatan suara primata akibat sakit gigi.

Di sepanjang perjalanan menuju titik pengamatan kali itu, kami mendengar 2 suara morning call bilou dari 2 arah yang berbeda. Salah satu suara morning call itu semakin jelas saat kami semakin mendekat ke titik pengamatan. Namun tiba-tiba di lereng bukit tidak jauh dari tempat kami berdiri kami mendengar suara kayu tumbang yang berderak dan berdebum keras. Suara bilou terdiam tiba-tiba, sementara suara dari ke 3 primata yang lain terdengar sahut-menyahut. Kemungkinan karena terkejut. Sebentar kemudian kami melihat pergerakan dari 2 individu bilou yang melompat dari pohon, berpindah tempat.

Hari ke 3 pengamatan itu cukup sepi, hanya 2 suara morning call pagi tadi saja saat kami masih dalam perjalanan menuju titik pengamatan.

Saat perjalanan pulang pun kami hanya bertemu dengan serombongan simakobu yang bahkan kami tidak menyadari jika kelompok itu berada tempat itu sampai suara dahan dan ranting yang khas berbunyi, mengejutkan kami saat mereka berlompatan menjauh dari kami.

Hari ke 4

Sesuai dengan prediksi awal tentang potensi kelimpahan populasi bilou di kawasan ini, pada hari terakhir pengamatan akhirnya tim survei terpuaskan oleh suara-suara great call dari kelompok-kelompok bilou yang berada di kawasan itu. Suara great  call dari 8 arah yang berbeda dan 5 morning call. Kondisi ini sesuai juga dengan cerita dari pemilik pondok yang menghabiskan sebagian waktu mereka dengan aktifitas harian mereka di kawasan itu.

Potensi kawasan di jalur sungai Bekemen.

Dua kawasan hutan yang menjadi tempat kami melakukan pengamatan suara bilou adalah kawasan hutan yang memiliki ciri-ciri hutan yang masih sangat baik dengan kelimpahan karagamanhayati tinggi. Kedua tempat ini berjarak sekitar 5-6 km saja dan memiliki hamparan hutan yang bersambung. Jika titik pengamayan yang pertama adalah kawasan hulu sungai Bekemen yang masuk dalam kawasan BTN Siberut, maka lokasi survei yang ke dua yaitu di Lakomonga terletak tidak jauh dari sungai Bekemen yang bertemu dengan aliran sungai dari arah desa Bojakan yang membentuk sungai Sikabaluan. Ke dua tempat ini menyediakan bentang alam perbukitan dengan vegetasi hutan alam yang kaya akan keragamanhayati khas Siberut yang sangat tinggi.

Situasi di kedua kawasan ini menyediakan hal yang berbeda jika dibandingkan dengan kawasan Siberut di wilayah selatan yang memiliki tingkat perburuan tinggi. Di kawasan hutan sepanjang aliran sungai Bekemen ini kelimpahan satwa dan primata cukup mudah untuk ditemukan dan tidak se-waspada primata yang berada di Siberut bagian selatan.

 

No comments:

Post a Comment