| Bilou sedang makan buah pohon tumu (Buchanania arborescens) |
oleh : Aloysius Yoyok
Melanjutkan program konservasi Bilou swaraowa , yang telah melakuan survey populasi di 9 hutan adat di Siberut Selatan di tahun 2025, kali ini survey dilaksanakan di
Bekemen yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Siberut, tepatnya di wilayah SPTN
2 Siberut Utara. Bekemen sebenarnya adalah nama salah satu anak sungai hulu DAS
sungai Sikabaluan. Di kawasan ini paket kegiatan kali ini diselenggarakan,
selain untuk mendapatkan data populasi bilou dan primata sekaligus juga untuk
pelaksanaan training ( untuk peningkatan kapasitas staff TN dan masyarakat sekitar kawasan) pengambilan data populasi bilou dengan metode vokalisasi
point count. Training ini terutama ditujukan untuk beberapa anggota tim survei
yang baru, mereka adalah 5 orang anggota masyarakat setempat; 2 orang dari
wilayah Siberut Utara, 1 orang dari wilayah Siberut Selatan, 1 orang dari
wilayah Sipora, 1 orang dari wilayah Pagai Utara-Selatan serta 2 orang staf
BTNS dari STPN 2 Sikabaluan.
| diskusi dengan staff TN Siberut dan pengenalan metode vocal count untuk survey populasi Bilou |
Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, tentu saja
koordinasi dilaksanakan terlebih dahulu dengan membangun komunikasi ke pihak
BTNS (Balai Taman Nasional Siberut) melalui Kepala SPTN wilayah 2 Siberut
Utara. Sesuai prosedur standar, karena kegiatan ini akan dilaksanakan di dalam
kawasan TN Siberut maka diperlukan Simaksi (surat ijin masuk kawasan
konservasi). Pemilihan lokasi di dalam kawasan ini adalah sekaligus untuk
pengambilan data populasi di kawasan yang diperkirakan memiliki potensi
kepadatan dan kelimpahan populasi bilou tinggi. Kondisi ini diharapkan akan
mendukung untuk tempat praktik pengamatan dan pengambilan data bagi peserta
yang baru.
Jam 15.00 WIB pada Selasa 5/4/2026 tim yang
akan melaksanakan kegiatan sudah lengkap terkumpul di kompleks perkantoran BTNS
STPN 2 Sikabaluan. Atas ijin dari pihak BTNS melalui Kepala STPN 2, tempat ini
menjadi piihan untuk penyelenggaraan pertemuan tim. Sore itu kegiatan
pendahuluan training sekaligus pengambilan data populasi dimulai dengan
penyampaian metode. Tidak terlalu rinci, hanya pada prinsip-prinsip utama saja
untuk selanjutnyna peserta baru akan langsung belajar bersama sekaligus
melakukan praktik pengambilan data di kawasan yang dipandang memiliki
kelimpahan populasi tinggi di dalam kawasan TN Siberut.
Diskusi sore itu termasuk penentuan lokasi
pengambilan titik pengamatan suara sekaligus pembagian peserta menjadi menjadi
3 tim. 3 titik lokasi pengamatan berhasil ditentukan berdasarkan pertimbangan
jarak dari garis batas kawasan BTNS, jarak antar titik pengamatan dan juga
berdasarkan peta kesesuaian untuk habitat bilou. Tim 1 adalah Yoyok, Kusmiadi
(staf BTNS), Aolia dan Lily (staf BTNS), tim 2 adalah Erkanus, Iman, Adek dan
Ilarius sementara tim 3 adalah Vincen, Matheus, Adin dan Ari. Tim 1 akan melakukan
praktik pengambilan data populasi bilou dan primata melalui metode vokalisasi
di Bekemen, Tim 2 di Balingken Bojakan sementara tim 3 akan di Tinaba, Bojakan.
| tim survey di bersiap menuju lokasi |
| menyusuri sungai menuju Bojakan |
Rabu menjelang siang 3 unit pompong sudah berderet di salah satu sudut epian muara Sungai Sikabaluan. P. Kusmiadi, seorang staf senior BTNS STPN 2 sejak kemarin sore sudah sibuk menghubungi pemilik pompong sekaligus merangkap operator yang akan mengangkut kami menuju sasaran tujuan masing-masing. Alih-alih dikemudikan oleh warga masyarakat lokal seperti 2 pompong yang lain, pompong tim 1 rupanya langsung dikemudikan oleh P. Kusmiadi, salah seorang staf BTNS yang rupanya sekaligus adalah penduduk desa Monganpoula.
Secara beriringan pompong yang telah sarat
penumpang dan logistik untuk pelaksanaan survei bergerak menuju bagian hulu
sungai Sikabaluan. Tujuan ke 3 tim ini adalah tim 2 dan 3 mengarah ke hulu
bagian kiri yaitu melewati desa terakhir yang berbatas dengan kawasan TNS yaitu
desa Bojakan. Sementara tim 1 bergerak menuju hulu sungai Sikabaluan di arah
kanan yaitu kawasan Bekemen.
Pada awalnya kegiatan ini direncanakan akan
terbagi ke 6 titik pengamatan yang berbeda. 3 titik pengamatan berada di
sekitar hulu desa Bojakan dan 3 titik pengamatan berada di kawasan sekitar
Bekemen. Namun sesudah tim terkumpul dan dilakukan diskusi berdasar metodologi
yang mempertimbangkan jarak antar titik pengamatan, jarak terhadap garis batas
kawasan TNS dan resiko ketersediaan akses maka titik pengamatan yang paling
memungkinkan hanyalah 3 titik pengamatan saja, 1 titik pengamatan di Bekemen
dan 2 pengamatan di Bojakan.
Survey lokasi ke 1. di Bekemen
Saat tengah hari iringan ke 3 pompong sudah
hampir mencapai persimpangan sungai yang terbelah menuju Bojakan dan Bekemen.
Tim yang sudah membekali diri dengan menu makan siang kemudian beristirahat di
tepian sungai itu untuk menikmati makan siang. Ke 3 pompong kemudian
melanjutkan perjalanan kembali. Sekitar 10 menit sesudah melewati muara sungai
Bekemen, tim 1 secara mengejutkan bertemu dengan kelompok bokkoi yang sedang
berkeliaran di sekitar pondok perladangan baru milik penduduk. Kelompok bokkoi
itu kemungkinan sedang mengincar tanaman pisang ataupun potongan-potongan sagu
persediaan untuk ternak babi yang ada di tepian sungai itu. Saya yang duduk di
posisi terdepan di atas pompong itu sibuk, fokus memperhatikan jalur sungai
untuk menghindari kayu-kayu yang sering membahayakan jalur perjalanan tidak
menduga sama sekali jika akan bertemu dengan rombongan bokkoi itu, sekitar 6
ekor. Bergegas saya membuka tas tempat menyimpan kamera, sialnya karena saya
belum menyiapkan kamera, kesempatan emas untuk mengambil foto-foto yang bagus
itu tidak termanfaatkan dengan baik. Pemandangan kelompok bokkoi yang berada di
tepian sungai semacam itu sangat sulit didapatkan di kawasan lain di pulau ini.
Perjalanan kali ini cukup beruntung karena
tidak terlalu banyak kayu melintang. Kayu-kayu dari pepohonan yang tumbang dari
lereng-lereng di tepian sungai seringkali masih ditemukan melintang
mengahalangi jalur perjalanan pompong karena dihanyutkan oleh banjir besar
sejak 2 bulan lalu. Sesudah sempat mendorong pompong selama 3 kali saja saat
jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, akhirnya kami tiba di bangunan yang dibangun
oleh BTNS untuk semacam posko saat petugas BTNS berkunjung ke kawasan ini.
Sore itu kami bisa beristirahat dengan nyaman
di bangunan milik BTNS itu. Titik pengamatan yang akan dituju sudah ditentukan
yaitu di pertengahan jalur pengamatan 1, jalur terpanjang yang sering ditempuh
oleh para petugas BTNS saat melakukan kunjungan ke kawasan ini.
Hari ke `1
Pagi-pagi benar saat jam masih menunjukkan
pukul 04.30 WIB kami sudah terjaga dari tidur. Tidak ada yang perlu
dibangunkan, kami segera bersiap untuk memulai kegiatan hari ini. Jam sudah
menunjukkan pukul 05.15 WIB saat kami bergerak beriringan menembus pagi yang
gelap lembab, berkabut dan gelap. Suara morning call dari bilou jantan sudah
mengisi suasana pagi itu saat kami bahkan belum melangkah keluar dari dalam
bangunan itu. Perjalanan melalui jalur pengamatan 1 BTNS di wilayah STPN 2 ini
adalah dengan menyusuri punggungan bukit. Kami bergerak mendaki lereng bukit
yang sudah tersedia, jalan setapak yang biasa ditempuh oleh para petugas BTNS
saat melakukan kegiatan survei. Sesudah setengah jam perjalanan, sesudah kami
melewati lereng bukit yang cukup terjal, kami akhirnya memutuskan tempat untuk
kami akan melakukan pengamatan suara bilou di kawasan itu.
| bilou yang terlihat di lokasi Bekemen |
Sepulang dari pengamatan suara, kami sedikit
dikejutkan oleh kedatangan tamu, operator pompong dari Mongan Poula yang
kemarin berangkat mengantarkan 2 tim yang lain ke arah Bojakan. 2 orang
operator pompong itu pun bercerita. Menjelang sore mereka sudah tiba di
Bojakan. Mereka kemudian langsung menuju ke rumah Ilarius, seorang penduduk
Bojakan yang juga adalah petugas lapangan BTNS. Sesuai arahan dari rekan-rekan
staf BTNS mereka kemudian melakukan koordinasi ke pemerintahan setempat yaitu
Kepala Dusun dan Kepala Desa. Dari pembicaraan itu diputuskan jika ke dua
operator pompong dari Monganpoula disuruh untuk pulang dan tanggung jawab untuk
menyediakan sarana transportasi maupun tenaga pemandu akan di sediakan oleh
warga Bojakan. Ke dua operator pompong dari Monganpoula itu tidak berangka
pulang kembali ke Mongan Poula tetapi kemudian malah memutuskan untuk bergabung
dengan tim 1 yang melakukan survei di Bekemen. Tim 1 survei populasi bilou yang
di Bekemen akhirnya kemudian berjumlah total menjadi 6 orang.
Namun kejutan lain di sore itu adalah tamu
lain yang mengunjungi kami, 1 individu bilou jantan jantan dewasa sedang mencari pohon tidurnya.
Saat kami sedang berada di teras bangunan pos itu, tiba-tiba saya melihat bayangan
primata yang melompat di pepohonan yang berada di seberang anak sungai di
sebelah rumah pos BTNS Bekemen. Kami segera bergerak, mengambil posisi untuk
menikmati pemandangan langka itu. Namun karena bilou itu menyadari keberadaan
kami di bangunan pos itu, bilou itu kemudian bergerak menjauh ke arah lereng
perbukitan, mencari pepohonan lain yang lebih nyaman untuk menghabiskan malam.
Hari ke 2
Pagi itu cuaca cukup cerah, terlihat
bintang-bintang bertaburan di langit muncul dari sela-sela dedunan di halaman
posko saat saya melangkah ke halaman bangunan tempat kami bermalam itu. Seperti
biasa, saat jam menunjuk pukul 05.00 WIB, kami sudah bersiap untuk berangkat
menuju lokasi pengamatan, tetapi kali ini bahkan saat menjelang kami tiba di
lokasi pengamatan, kami sudah kehilangan suara morning call dari beberapa bilou
di kawasan itu. Kami tetap melakukan pengamatan dengan sabar, sampai jam 10.00 WIB
saat kami kemudian bergerak kembali menuju pos BTNS STPN wilayah 2, kami tetap
tidak mendengar suara great call dari kelompok-kelompok bilou di kawasan itu.
Namun saat dalam perjalanan kembali, kami bisa melihat kelompok-kelompok kecil
simakobu di 2 titik di jalur perjalanan, mereka segera bergerak menjauh karena
mendengar kedatangan kami yang kali ini berjumlah 6 orang akibat 2 orang
operator pompong yang mengantarkan tim ke Bojakan datang bergabung dengan
kami.
| Simakobu ( Simias concolor) teramati di hari ke-2 di Bekemen |
Hari ke 3
Pengamatan hari ke 3 berlangsung cukup seru.
Di lokasi pengamatan kami bisa bertemu dengan kelompok simakobu yang berada di
begitu dekat. Bagian dari kelompok itu ada 4 individu simakobu yang berwarna
keemasan atau yang biasa disebut oleh penduduk setempat sebagai sulabei.
2 individu dewasa, 1 individu juvenile dan 1 individu anak. Saat matahari mulai
bersinar mereka berloncatan mencari, mencari tempat yang nyaman untuk mencari
makan, nampaknya kehadiran kami cukup mengganggu mereka. Di 10 meter arah barat
laut, kami juga disuguhi pemandangan 1 individu simakobu jantan yang sedang
bertengger di dahan kayu shorea, sementara di jarak sekitar 50 meter di arah
barat, kelompok bilou berjumlah 4 individu terlihat sedang sibuk menikmati
makanan mereka berupa buah tumu (Buchanania arborescens) yang saat itu
terlihat di beberapa tempat sedang menghasilkan buah. Kami sibuk mengamati
tingkah laku kelompok bilou itu sampai kemudian kelompok itu kemudian pergi
dari pohon tumu itu, cukup lama, sekitar hampir 1 jam kami disuguhi tontonan
langka itu.
Menjelang siang saat kami kemudian
menyelesaikan proses pengamatan suara bilou hari itu, kami kemudian bergerak
kembali meninggalkan lokasi pengamatan menuju pos. Namun kali ini saya ditemani
pemandu mengambil jalur lain. Kami berdua bergerak menyusuri sambungan jalur
pengamatan 1 BTNS Bekemen, belum sampai ke ujung jalur pengamatan, kami
memotong jalur dan kami kemudian menemukan jalur pengamatan 2.
Jalur jalan setapak itu semakin menanjak, sambil mengamati sekeliling mencari kesempatan untuk medapatkan foto satwa atau primata. Kami lalu berjalan menuruni lereng bukit itu, menyeberangi anak sungai yang dari atas bukit terdengar bergemuruh akibat aliran air sungai itu terjun memalui bebatuan Sesudah kembali mendaki lereng yang cukup terjal kami kemudian beristirahat, peluh membasahi pakaian kami. Tiba-tiba kami mendengar benda yang terlihat berjatuhan dari atas kanopi pepohonan yang berada di dekat kami duduk. Ternyata seekor Mentawai civet atau musang Mentawai (Paradoxurus lignicolor) yang berwarna coklat terlihat bergerak mencari tempat untuk bersembunyi. Mungkin dia terganggu akibat keberadaan kami di bawah pohon tempatnya beristirahat sirang itu. Tidak jauh dia bergerak, hanya berpindah pohon ke pohon sebelah, lalu mendekam di dahan kecil di ketinggian sekitar 7 meter saja.
| Musang mentawai |
Puas mengamati satwa endemik
dan mengambil bebeapa foto satawa itu kami kemudian melanjutkan perjalanan.
Sayangnya baterai kamera kami sudah tidak ada lagi daya. Sepanjang perjalanan di
jalur 2 itu kami kemudian bertemu dengan seekor simakobu jantan besar yang
bahkan suara lompatan-lompatannya di atas pohon yang berdiri miring itu bahkan
sampai terdengar berderap. Lalu kami juga bertemu dengan serombongan besar
bokkoi yang sedang sibuk mencari makanan, ada yang bertenggar di pelepah bunga
nibung, ada yang sedang mengais-ngais tanah, ada yang sedang berkejaran berebut
makanan. Menjelang tiba di pos kami masih sempat melihat 2 individu simakobu
yang sedang bertengger di dahan pohon di dekat jalan setapak yang kami lewati.
Keduanya segera melompat, bergerak menjauh dari kami.
Tiba di rumah kami kemudian mendengar cerita
dari teman-teman satu tim yang lain, dalam perjalanan pulang menuju pos, mereka
bertemu sekelompok bilou. Namun mereka juga tidak bisa mengambil foto ataupun
video karena teman yang membawa kamera masih tertinggal di belakang. Mereka
bercerita jika kelompok bilou itu cukup lama bergelantungan memperhatikan
mereka sebelum kemudia bergerak menjauh dari tim survei itu.
Hari menjelang sore saat hujan turun sangat
deras selama sekitar 2 jam. Kami kemudian memutuskan untuk istirahat, namun
salah seorang pemandu kemudian mengetahui jika air sungai sudah meninggi secara
tiba-tiba, akibat hujan deras itu. Perahu-perahu dan mesin pompong hampir saja
dihantam banjir jika kami tidak segera memindahkannya ke tempat yang lebih
tinggi. Sore itu banjir di sungai Bekemen sudah hampir mencapai halaman rumah
pos BTNS itu.
Hari ke 4
Hari ke 4 survei kami hanya berhasil mencatat
2 greatcall yang berasal dari jarak yang cukup jauh. Pagi itu cuaca berawan,
hari semakin siang tetapi sinar matahari tidak bisa menembus pekatnya mendung
dan kabut yang bergerak menyelimuti lingkungan perbukitan tempat kami melakukan
pengamatan. Udara menjadi terasa lembab dan dingin, suara-suara bilou jantan
yang mengisi pagi itu sudah terdiam, kami tidak mendengar suara great call
lagi.
Namun pagi itu kami kembali disuguhi
pemandangan sekelompok bilou yang berjumlah 4 individu itu kembali. Mereka
terlihat asyik menikmati menu makan pagi mereka berupa buah tumu di tempat yang
kemarin itu lagi. Kami kembali disibukkan dengan pemandangan yang hanya
berjarak sekitar 30 meter di lereng bukit di sebelah kami berkumpul. Di
sela-sela gerumbul dedaunan perdu, kami mengintip aktifitas primata ikon
Siberut itu.
Survei lokasi ke 2 di Lakomonga
Perjalanan survei yang ke dua ini kami mengambil tempat di kawasan yang berjarak sekitar 5 km dari batas kawasan hutan BTN Siberut. Hutan Lakomonga ini memiliki hamparan hutan yang masih bagus dan bersambung dengan hutan di dalam kawasan BTN Siberut di Bekemen. Kali ini kami menumpang di pondok milik penduduk yang berasal dari Mongan Poula, Siberut Utara. Pondok itu adalah tempat beraktifitas keluarga Tou Laiteng Siribatek untuk beternak babi tradisional (pusainakat) dan juga tempat untuk bertani secara tradisional. Petak-petak tanaman keladi terlihat di sekitar bantaran sungai terlihat subur akibat tanah gembur yang sering terbawa banjir di sepanjang bantaran sungai itu. Petak-petak tanaman keladi itu dipagar dengan sejenis batang perdu yang diikat membanjar membentuk pagar untuk membatasi aktifitas ternak babi yang akan merusakkan tanaman. Selain itu keluarga ini juga biasa bertanam padi yang mereka budidayakan di tidak jauh dari lokasi pondok itu, tetapi saat kami berkunjung di pondok itu pertanian padi mereka sudah selesai mereka panen.
Di sekitar pondok itu kami juga melihat tegakan
pohon-pohon pinang yang sudah produktif, jumlah yang cukup untuk menambah
penghasilan rumah tangga keluarga ini. Tidak jauh dari sekitar rumah mereka itu
mereka juga memiliki beberapa rumpun kebun sagu di beberapa ceruk yang
terdapat aliran anak sungai. Rumpun-rumpun batang sagu yang tidak terlalu
banyak itu selain menjadi sumber pakan ternak babi dan ayam juga mereka olah
menjadi tepung sagu basah untuk sumber pangan mereka sendiri. Menurut Tou
Laiteng, hutan di kawasan Lakomonga sampai Bekemen secara tradisional adalah
milik dari uma Siribatek. Di beberapa tempat di kawasan ini beberapa anggota
penduduk dari Mongan Poula dan Bojakan memanfaatkannya untuk beternak babi
maupun membuka lahan pertanian di sepanjang bantaran sungai.
Kamis 23/04/2026 perjalanan di mulai dari
Muara Sikabaluan tempat kami menginap di penginapan milik BTNS SPTN 2 dengan
perjalanan darat menuju Mongan Poula dengan sepeda motor. Perjalanan ini
memungkinkan untuk ditempuh karena anggota tim yang kali ini berangkat hanya 3
orang saja. Jam menunjukkan pukul 13.00
WIB, matahari bersinar terik menyengat saat kami berangkat menuju Lakomonga
dengan mempergunakan pompong. Namun karena kami berangkat dari Mongan Poula,
perjalanan menyusuri sungai dengan pompong sudah terpangkas hampir sepertiga
perjalanan. Jam masih menunjukkan pukul 17.00 WIB saat kami sudah tiba di
tujuan kami, pondok milik Tou Laiteng Siribatek. Bangunan kecil beratapkan
anyaman daun sagu yang terletak di bantaran sungai Bekemen. Pemilik pondok itu
ramah menyambut kami.
Sore itu kami berbincang-bincang membahas
rencana perjalanan untuk pengamatan suara bilou di kawasan itu. Tou Laiteng
menunjukkan jika titik tertinggi perbukitan yang akan kami tuju adalah di
seberang sungai Bekemen, tepatnya di bukit Lakomonga dimana sungai Lakomonga
mengalir dari lereng perbukitan itu dan bermuara di sungai Bekemen. Malam itu
kami tidur di atas tikar yang dipinjamkan oleh tuan rumah, tikar dari anyaman
semacam perdu yang diproduksi oleh penduduk Cimpungan, Siberut Utara. Alas
tidur yang bagi saya sangat nyaman. Karena pondok itu hanya memiliki 1 kamar
saja, kami mengambil tempat di ruangan terbuka.
| Bokkoi ( Macaca siberu) |
Dini hari, hujan turun cukup deras. Namun kami
beruntung karena saat jam menunjukkan pukul 05.30 WIB, hujan sudah reda. Kami
berangkat menuju lokasi survei dengan menyeberangi sungai Bekemen menggunakan
perahu yang biasanya dipasangi mesin pompong, namun kali ini tidak perlu
mempergunakan mesin karena kami cukup menggunakan galah saja. Begitu tiba di
seberang sungai, jalur menanjak di lereng bukit yang cukup terjal itu sudah
menunggu kami. Posisi tepian sungai itu adalah titik dimana saat kami lewat seminggu
lalu ketika menempuh perjalanan menuju hulu sungai ini, kami melihat
serombongan bokkoi yang sedang berada tepian sungai itu.
Sekitar setengah jam kami berjalan beriring
seperti merayap, menyusuri jalur jalan setapak terjal yang jarang diewati ini.
Peluh bercucuran dari muka kami, pakaian kami juga segera menjadi basah meski
pagi itu masih dingin dan gelap. Kami harus menerangi jalur jalan kami dengan
senter. Di posisi paling depan Ondy, anak lelaki Tou Laiteng yang menjadi
pemandu perjalanan kali ini. Sesekali dia sibuk membuka jalur jalan dengan
menebas semak-berduri yang sering menghalangi jalur jalan. Tetapi kawasan ini
sudah dikenalnya denan baik sehingga meski jalur bersemak dan masih gelap
gulita, kami terus melangkah ke depan tanpa keraguan. Sampai di titik yang agak
landai terlihat Ilarius sibuk, bagian kakinya terlihat berdarah, 3 ekor pacet
terlihat menempel, menghisap darah di bagian kakinya. Pagi itu dia kehabisan
persediaan celana panjang sehingga terpaksa harus memakai celana pendek saja,
tanpa penangkal serangga, pacet sangat menyukai itu.
| Joja ( Presbytis siberu) |
Pagi itu di suasana yang cukup sepi, kicauan burung-burung hutan juga hanya sesekali terdengar. Hujan gerimis kembali turun, tidak lama tetapi mendung tetap menggantung di semua penjuru langit. Suara morning call bilou jantan belum terdengar sampai kami sudah mencapai titik tertinggi di perbukitan itu. Sampai jam sudah menunjukkan pukul 08.12 WIB saat gerimis sudah mereda, kami kemudian mendengar 2 morning call, suara dari bilou jantan. Keduanya tidak jauh dari tempat kami melakukan pengamatan.
Hari pertama pengamatan itu, kami tidak
berhasil mendengar suara great call bilou. Namun sepanjang pagi itu kami bisa
mendengar beberapa suara primata lain di sekitar tempat kami melakukan
pengamatan dari jarak yang relatif dekat. Saya meyakini jika meski pagi itu
tidak terdengar suara great call bilou, hanya karena bilou-bilou itu memang
sedang tidak bersuara saja. Melihat kondisi vegetasi hutan ini seharusnya
kawasan ini merupakan habitat yang bagus untuk menjadi rumah bagi
primata-primata itu. Begitupun cerita dari Tou Laiteng, biasanya bilou-bilou
itu terdengar bersuara di kawasan hutan ini.
Dalam perjalanan pulang kami juga bisa melihat
beberapa kelompok primata yang lain, joja dan simakobu, bokkoi meskipun belum
kami lihat bentuk fisiknya, tetapi beberapa kali kami berhasil mendengar
pekikan-pekikan khasnya. Hal itu menambah keyakinan jika kawasan ini memang
masih menjadi menjadi habitat bilou.
Setibanya kami di pondok, Tou Laiteng juga
cukup heran dengan cerita kami. Siang itu, dia juga bercerita jika di
perbukitan yang terletak di belakang pondok itu terkadang suara bilou dan ke 3
jenis primata endemik Siberut lainnya sering dia lihat di pokok-pokok pepohonan
di situ. Namun hujan rintik-rintik dan cuaca sore itu yang tidak mendukung,
membuat kami mengurungkan niat untuk menjelajahi perbukitan di belakang pondok
sore itu, meng-eksplor potensi keragamanhayati di situ.
Hari ke 2
Seperti biasa, pagi-pagi benar sebelum matahari terbit, saat hari masih gelap gulita kami kembali bergerak menuju titik pengamatan kami di puncak perbukitan itu. Pagi itu dari pondok saat kami maasih bersiap memulai perjalanan, kami sudah mendengar 2 sumber suara morning call dari jantan dewasa. Semakin kami mendekat ke arah titik tempat kami sudah menentukannya sebagai tempat pengamatan kami satu hari sebelumnya, kami menduga jika salah satu sumber suara berada di sekitar tempat itu. Benar saja. Di dekat tempat kami kemarin berkumpul untuk melakukan pengamatan, di kanopi pohon kruing yang tinggi menjulang, kami mendengar suara khas morning call bilou.
Kami bergerak dengan sangat hati-hati. Guguran dedaunan kruing yang menumpuk di
sekitar tempat itu menyulitkan kami untuk tidak berjalan tanpa suara. Di bawan
pohon kruing itu, dengan perekam dari gawai saya berhasil merekam suara morning
call bilou itu dengan cukup jelas. Kami kemudian duduk dengan berdiam diri
tanpa bersuara, meski nyamuk semakin bertambah banyak yang berdengung-dengung
berusaha menggigit kami. Namun bilou di kanopi kruing itu kemudian diam, tidak
bersuara lagi saat matahari mulai terbit. Kami berusaha mengintip ke atas dari
sela-sela rimbunnya dedaunan dari pepohonan lain yang lebih rendah. Namun
nampaknya bilou itu hanya 1 individu dewasa jantan saja, dia tidak pernah kami
lihat, nampaknya dia hanya bersembunyi di kerimbunan dedaunan pepohonan itu
sampai kami meninggalkan tempat itu saat jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB.
Di pengamatan hari ke 2 itu, kami cukup
disibukkan dengan suara-suara bilou dari beberapa arah. Ada, 4 great call dan 3
morning call. Selain itu, sekitar 50 meter dari tempat kami melakukan
pengamatan itu kami juga melihat kelompok simakobu yang menghabiskan malam di
dekat situ. Dalam perjalanan pulang kembali kami juga melihat 1 kelompok
simakobu yang berbeda dan 1 kelompok bokkoi.
Tiba di pondok tempat kami bermalam, pasangan
tuan rumah rupanya sedang dalam perjalanan menuju ke Bojakan untuk menggiling
gabah hasil panen mereka untuk persediaan makanan. Karena cuaca yang terlihat
mendung kami juga Kembali memutuskan untuk tidak melakukan perjalanan
menjelajah hutan di perbukitan belakang pondok di sore itu. Tetapi teman kami
memutuskan untuk berangkat mengisi waktu di sore itu untuk menumbang sagu
sekaligus mengangkut potongan-potongan batang sagu itu untuk persediaan pakan
ternak mereka. Tempat itu adalah tempat peternakan babi yang berada di tempat
lain yang berada tidak jauh dari tempat itu.
| burung Tiong emas |
Di tengah hujan yang kemudian turun dengan
deras sore itu anak Tou Laiteng yang lain, yang masih berada di pondok
tiba-tiba memberi tahu saya jika dia melihat seekor babi hutan jantan dewasa
yang ikut datang ke tempat pemberian pakan babi ternak mereka itu. Babi hutan
jantan yang ditunjukkannya itu rupanya bukan berwarna hitam seperti yang saya
bayangkan, melainkan berwarna putih dengan variasi belang kecoklatan. Dia
mengikuti babi ternak betina dewasa yang sedang birahi. Anak itu juga bercerita
jika kemarin sore sebenarnya dia mau memberitahu kami jika tidak jauh di
belakang pondok di melihat 1 individu simakobu yang sedang bertengger di pohon
dekat kaki perbukitan itu, tetapi niat itu dia urungkan karena bapaknya, Tou
Laiteng sedang mengamati babi hutan yang sedang datang mendekat ke pondok. Babi
hutan adalah salah satu binatang hutan sasarn perburuan yang menjadi favorit
penduduk di Siberut pada umumnya.
Hari ke 3
Di hari yang ke 3 kami menumpang di pondok itu
karena hujan deras yang mengguyur dari sore kemarin, kami sudah berangkat tidur
sejak hari masih belum terlalu malam, akibatnya saat jam masih menunjukkan
pukul 03.30 WIB kami sudah terjaga dari tidur. Namun pagi itu kemungkinan
akibat kondisi fisik yang kurang fit akibat didera hujan sepanjang sore, salah
satu teman kami terpaksa tidak bisa ikut untuk melakukan pengamatan suara
primata akibat sakit gigi.
Di sepanjang perjalanan menuju titik
pengamatan kali itu, kami mendengar 2 suara morning call bilou dari 2 arah yang
berbeda. Salah satu suara morning call itu semakin jelas saat kami semakin
mendekat ke titik pengamatan. Namun tiba-tiba di lereng bukit tidak jauh dari
tempat kami berdiri kami mendengar suara kayu tumbang yang berderak dan
berdebum keras. Suara bilou terdiam tiba-tiba, sementara suara dari ke 3
primata yang lain terdengar sahut-menyahut. Kemungkinan karena terkejut.
Sebentar kemudian kami melihat pergerakan dari 2 individu bilou yang melompat
dari pohon, berpindah tempat.
Hari ke 3 pengamatan itu cukup sepi, hanya 2
suara morning call pagi tadi saja saat kami masih dalam perjalanan menuju titik
pengamatan.
Saat perjalanan pulang pun kami hanya bertemu
dengan serombongan simakobu yang bahkan kami tidak menyadari jika kelompok itu
berada tempat itu sampai suara dahan dan ranting yang khas berbunyi,
mengejutkan kami saat mereka berlompatan menjauh dari kami.
Hari ke 4
Sesuai dengan prediksi awal tentang potensi
kelimpahan populasi bilou di kawasan ini, pada hari terakhir pengamatan
akhirnya tim survei terpuaskan oleh suara-suara great call dari
kelompok-kelompok bilou yang berada di kawasan itu. Suara great call dari 8 arah yang berbeda dan 5 morning
call. Kondisi ini sesuai juga dengan cerita dari pemilik pondok yang
menghabiskan sebagian waktu mereka dengan aktifitas harian mereka di kawasan
itu.
Potensi kawasan di jalur sungai Bekemen.
Dua kawasan hutan yang menjadi tempat kami
melakukan pengamatan suara bilou adalah kawasan hutan yang memiliki ciri-ciri
hutan yang masih sangat baik dengan kelimpahan karagamanhayati tinggi. Kedua
tempat ini berjarak sekitar 5-6 km saja dan memiliki hamparan hutan yang
bersambung. Jika titik pengamayan yang pertama adalah kawasan hulu sungai
Bekemen yang masuk dalam kawasan BTN Siberut, maka lokasi survei yang ke dua
yaitu di Lakomonga terletak tidak jauh dari sungai Bekemen yang bertemu dengan
aliran sungai dari arah desa Bojakan yang membentuk sungai Sikabaluan. Ke dua
tempat ini menyediakan bentang alam perbukitan dengan vegetasi hutan alam yang
kaya akan keragamanhayati khas Siberut yang sangat tinggi.
Situasi di kedua kawasan ini menyediakan hal
yang berbeda jika dibandingkan dengan kawasan Siberut di wilayah selatan yang
memiliki tingkat perburuan tinggi. Di kawasan hutan sepanjang aliran sungai
Bekemen ini kelimpahan satwa dan primata cukup mudah untuk ditemukan dan tidak
se-waspada primata yang berada di Siberut bagian selatan.
No comments:
Post a Comment