Showing posts with label Titian Lestari. Show all posts
Showing posts with label Titian Lestari. Show all posts

Monday, February 16, 2026

Pembibitan Pohon Koridor: Konektivitas Ekologis dengan Ekonomi Inklusif di Habitat Owa Jawa

tunas Kepayang/Pucung (Pangium edule)

Oleh : Sidiq Harjanto

Awal tahun 2026 kami isi dengan program pembibitan untuk koridor habitat Owa Jawa (Hylobates moloch) di wilayah Petungkriyono dan Lebakbarang. Program ini telah diinisiasi tiga tahun lalu di Desa Mendolo, Lebakbarang dan terus berjalan hingga saat ini. Penanaman pohon merupakan upaya mendesak untuk mengatasi fragmentasi habitat sebagai ancaman senyap yang mempercepat kepunahan berbagai spesies.

Bagi Owa Jawa, konektivitas habitat adalah jembatan kehidupan yang vital untuk keberlangsungan spesies. Terbukanya area hutan dapat memutus akses antar-blok hutan, mengisolasi kelompok keluarga owa dalam "pulau-pulau" kecil yang terfragmentasi. Isolasi kelompok-kelompok kecil dari populasi utama memicu hanyutan genetik (genetic drift), kondisi melemahnya keturunan suatu spesies akibat perkawinan sedarah. Dampaknya bisa sangat fatal: penurunan derajat kesehatan, melemahnya kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim, hingga risiko kepunahan yang meningkat.

Infrastruktur pembibitan pohon hutan di Sokokembang

Melalui program Titian Lestari, penanaman pohon diharapkan memperbaiki kualitas habitat di beberapa area yang terbuka, membangun kembali konektivitas kanopi hutan sebagai jembatan mobilitas kelompok-kelompok Owa Jawa maupun berbagai spesies satwa liar lainnya. Kami menargetkan 10.000 bibit diproduksi di dua unit pembibitan, satu di Sokokembang dan satu lagi di Mendolo. Kedua unit pembibitan ini dikelola secara kolaboratif bersama masyarakat.

Jenis-jenis pohon yang dibibitkan merupakan spesies-spesies asli setempat dan memiliki nilai penting bagi konservasi area sempadan sungai dan pohon-pohon pakan bagi Owa Jawa. Jenis-jenis itu antara lain: gintung, sentul, rau, pucung/kepayang, jengkol, klepu, putat, serta berbagai spesies asli lainnya.

Lanskap Kerja melalui Kopi Naungan

Kami tidak hanya menanam pohon sebagai penyediaan koridor habitat dan potensi pakan owa di masa depan, tetapi juga mengintegrasikannya dengan skema kopi naungan. Upaya mengarusutamakan pengelolaan kopi di bawah naungan (shade grown coffee) di habitat Owa Jawa telah dirintis sejak 2012. Skema ini melahirkan Owa Coffee, sebuah produk yang bukan sekadar komoditas melainkan ada atribut konservasi di dalamnya. 

Kopi di bawah naungan hutan

Kopi di bawah naungan menjadi solusi untuk menemukan ekuilibrium antara kepentingan ekonomi dan konservasi. Ini adalah tentang lanskap kerja (working landscape) yang produktif, tetapi tetap mampu mendukung kelestarian keanekaragaman hayati. Dalam model ini, kopi tumbuh di bawah naungan pepohonan hutan, memastikan hutan tetap berfungsi sebagai pelindung satwa liar sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat. 

Ada beberapa prinsip yang mendasarinya. Lanskap produktif lestari dikembangkan dalam perspektif ekosistem yang holistik. Pertama, polikultur strategis: mengombinasikan berbagai komoditas dalam satu lahan. Tanaman-tanaman bernilai ekonomi dikembangkan dalam satu lahan berdampingan dengan pepohonan hutan. Kopi bukan menjadi tanaman tunggal dalam satu petak lahan, melainkan menjadi bagian dari strata hutan itu sendiri. 

Metode ini menjamin fungsi ekologis hutan sebagai penyedia relung habitat bagi berbagai spesies, termasuk Owa Jawa, satwa arboreal penghuni lapisan tajuk. Di sisi lain, petani memiliki lebih banyak alternatif sumber pemasukan, memberi ketahanan (resiliensi) terhadap ketidakpastian pasar, dan memberi lebih banyak “laboratorium” untuk mengembangkan keterampilan.

Kedua, optimalisasi jasa lingkungan: pengembangan budidaya lebah, dan pelestarian burung. Lebah madu tidak hanya memberi manfaat ekonomi berupa madu yang bisa dijual, tetapi sekaligus membantu penyerbukan bagi berbagai tanaman, termasuk kopi. Budidaya lebah klanceng telah diinisiasi sejak 2017 dan telah memberikan tambahan ekonomi bagi petani. Peran penyerbukan belum bisa dikuantifikasi, namun kami meyakini bahwa budidaya berkelanjutan telah berkontribusi dalam pelestarian populasi serangga penyerbuk ini.

Burung, kelompok satwa yang paling banyak diburu, memiliki peran penting dalam pengendalian hama. Melestarikan burung berarti menjaga pertanian kita dari kerugian. Upaya kami dalam pelestarian burung meliputi: edukasi kepada masyarakat umum, dukungan inisiasi dan implementasi aturan lokal, serta pengembangan ekowisata sebagai alternative pemanfaatan lestari.

Ketiga, pengarus-utamaan konsep “hutan warung hidup”: menjaga hutan sebagai penyedia pangan liar dan obat tradisional bagi komunitas. Hutan menyediakan berbagai potensi pangan, meliputi: umbi-umbian, buah-buahan, sayur-sayuran, maupun jamur-jamur liar. Berbagai tumbuhan obat (biofarmaka) juga tersimpan di dalamnya. Kekayaan ini bisa menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya jika dikelola dengan baik.

Hutan tidak sekadar simpanan kekayaan berupa objek konkret (pangan dan obat), tetapi juga penyimpan database pengetahuan yang dikumpulkan nenek moyang. Sifatnya akumulatif dan terus berkembang, melekat pada tradisi dan budaya kita. Artinya, melestarikan fungsi hutan sebagai warung hidup adalah merawat identitas kita sendiri.

Perawatan bibit

Inklusivitas program untuk inklusivitas habitat

Hutan bukanlah anugerah yang secara eksklusif diberikan kepada umat manusia, melainkan habitat inklusif untuk beragam kehidupan liar. Ekosistem di dalamnya merupakan jaring-jaring rumit yang menjaga resiliensi alam. Namun, gangguan pada satu mata rantai bisa memicu dampak sistemik, merusak jaringan secara lebih luas dan pada akhirnya menurunkan fungsinya secara keseluruhan.

Kami menyadari bahwa inklusivitas menjadi kunci keberlanjutan program ini. Pada pelaksanaannya, program ini berbasis warga; mulai dari penyediaan bibit, kerelaan penggarap lahan untuk lokasi penanaman, pemantauan (monitoring) biodiversitas, hingga komitmen pemeliharaan jangka panjang. Kami juga berkomitmen dalam penyediaan ruang bagi kaum perempuan sebagai bentuk pengakuan atas peran strategis mereka dalam konservasi.

Program Konservasi Titian Lestari ini didukung oleh: Yayasan Astra Honda Motor dan affiliated group: PT Musashi Auto Parts Indonesia, PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Yutaka Manufacturing Indonesia, PT Suryaraya Rubberindo Industries.


Saturday, December 6, 2025

Titian Lestari: Koridor Kehidupan Untuk Owa Jawa

 oleh : Sidiq Harjanto

tari kreasi baru dari Mendolo " Jingkrak Sundhang" di pentaskan dalam acara peresmian program  "Titian Lestari"

Pada Sabtu, 29 November 2025 telah dilaksanakan Kick Off Program Konservasi Fauna "Titian Lestari: Koridor Kehidupan Untuk Owa Jawa". Program ini merupakan kolaborasi antara SwaraOwa dengan Yayasan Astra Honda Motor (AHM) dan Affiliated Company AHM. Program “Titian Lestari” dihadirkan sebagai upaya komprehensif dan multidimensinal untuk merajut kembali keterhubungan hutan, hati, pikiran, dan harapan keharmonisan manusia dan alam. Target utama program ini adalah pelestarian owa jawa di Kawasan Hutan Petungkriyono-Lebakbarang.

Program ini didesain dengan mengintegrasikan berbagai aspek –konektivitas hutan, kesadaran masyarakat, dan partisipasi parapihak; dengan kesadaran bahwa upaya mewujudkan kelestarian alam membutuhkan pendekatan yang holistik. Program berbasis “Tiga Titian” –tiga jembatan penghubung strategis. Titian Alam, berupa aksi nyata merawat konektivitas fisik hutan melalui penanaman pohon. Titian Pengetahuan, membangun koneksi antara manusia dengan alam, dalam hal ini owa jawa dan hutan habitatnya melalui edukasi dan penyadaran. Titian Peran, membangun jembatan peran dan partisipasi masyarakat, khususnya bagi kaum perempuan.

Acara Kick Off yang digelar di Dusun Sawahan, Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang ditandai dengan serah terima pohon secara simbolis dari Ketua Yayasan AHM, Bapak Ahmad Muhibbuddin kepada Yayasan SwaraOwa, yang diwakili Sidiq Harjanto selaku koordinaror program Titian Lestari. Turut hadir menyaksikan, antara lain: Ibu Sri Handayani selaku Camat Lebakbarang beserta Muspika Lebakbarang, Bapak Kaliri selaku Kepala Desa beserta perangkat Desa Mendolo, Bapak Catur mewakili Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur, utusan dari kantor CDK IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, dan segenap tamu undangan.

peluncuran program Tititan Lestari, penamanan untuk koridor kehidupan

Dalam Kick Off ini juga dilakukan simbolis penanaman berbagai jenis pohon, antara lain: Kayu Sapi (Pometia sp.) Kayu Babi (Crypteronia sp.), Kepayang/kluwek (Pangium edule), Aren (Arenga pinnata), Rau (Dracontomelon dao), dan Sentul (Sandoricum koetjape). Jenis-jenis pohon ini yang nantinya akan dibibitkan dan ditanam di area-area habitat penting owa jawa. Sebagian jenis pohon adalah potensial pakan bagi owa jawa, sebagian lainnya memiliki nilai penting dalam konservasi air, dan sebagian lagi memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Titian Lestari diharapkan membawa dampak positif sebagai berikut: Pertama, terpeliharanya koridor habitat yang mendukung pergerakan dan regenerasi owa jawa. Sebagai satwa arboreal, owa jawa bergantung pada tajuk pohon yang saling terhubung untuk aktivitas bergerak, mencari makan, dan berkembang biak. Alih fungsi lahan, seperti pertanian monokultur, berisiko menyebabkan fragmentasi habitat bagi owa jawa. Berdasarkan penelitian Widyastuti et al. (2023) menyebutkan ancaman populasi owa jawa muncul karena indikasi fragmentasi di habitat seluas 8,341 ha, di wilayah Petungkriyono-Lebakbarang.

 Melalui program “Titian Alam”, bibit-bibit pohon rencananya ditanam pada sempadan dan daerah aliran sungai (DAS) Wisnu & Sengkarang untuk menjadi koridor hutan di masa depan, sekaligus untuk konservasi air dan tanah. Dengan model agroforestri yang diperkaya, aneka bibit buah hutan juga ditanam di lahan-lahan garapan guna meningkatkan ketersediaan pohon pakan bagi owa jawa.

simbolis acara penanaman bersama

 Kedua, meningkatnya kesadaran dan partisipasi masyarakat umum dalam konservasi. Owa jawa dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita, karena bersifat monogami atau setia pada satu pasangan, dan protektif terhadap keluarga. Aspek-aspek kehidupan owa jawa ini selaras dengan nilai-nilai masyarakat yang kita pegang, dan perilaku bersuaranya mengajarkan bentuk komunikasi yang efektif.

 Dibingkai dalam “Titian Pengetahuan”, edukasi dan kampanye konservasi, terutama kepada generasi muda di sekitar habitat owa jawa akan dilakukan menggunakan metode-metode kreatif dan menyentuh sisi emosi. Salah satunya melalui media seni, seperti tari Jingkrak Sundang karya Bapak Sujono seniman multitalenta dari Keron, Magelang. Tari ini menggambarkan kemarahan dan keputusasaan satwa liar yang kehilangan habitat, diharapkan membangkitkan empati para penari maupun audiensnya.

 Ketiga, tersedia ruang partisipasi bagi kaum perempuan pada konservasi. Skema pelestarian hutan perlu membumi dan menjangkau berbagai kalangan. Salah satu kelompok yang perlu diberi ruang adalah kaum perempuan. Kepentingan mereka terhadap hutan bisa dilihat dari akses kepada pangan lokal dan obat-obatan alami. Perempuan umumnya juga pembuat keputusan dalam hal konsumsi rumah tangga, terutama pangan, yang secara langsung atau tidak langsung memengaruhi hutan.

 “Titian Peran” mengajak partisipasi kaum perempuan untuk memperkaya perspektif konservasi dalam keputusan-keputusan sehari-hari (misalnya, memilih produk yang ramah lingkungan atau bijak dalam penggunaan kayu bakar) sehingga dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi tekanan pada habitat Owa Jawa. Membuka peluang ekonomi berkelanjutan seperti pengembangan produk hasil hutan bukan kayu juga akan menjadi fokus utama program ini.

 Atas terlaksananya Kick Off Program Konservasi Titian Lestari ini, kami ucapkan terima kasih kepada mitra/kolaborator: Yayasan Astra Honda Motor, PT Musashi Auto Parts Indonesia, PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Yutaka Manufacturing Indonesia, PT Suryaraya Rubberindo Industries. Juga kepada para pihak yang telah turut mendukung kesuksesan acara, antara lain: Muspika Lebakbarang, Pemerintah Desa Mendolo, Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur, CDK IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, Dinas Pertanian Kab Pekalongan, Paguyuban Petani Muda Mendolo, Kelompok Wanita Tani Brayanurip Mendolo, dan segenap masyarakat Desa Mendolo.