Thursday, January 26, 2017

Let it Bee : when the pollinators become mainstream

Stingless bee visiting flower of crop

Buzzzz…zzzzz  no we can’t hear the bee flying, this is tiny bee, size as flies, no sting, role as pollinators and producing honey too, Stingless bee!!. We have done shared our knowledge and gain new experience on meliponiculture in the habitat of critically endangered primates. Located in Kemuning village, Temanggung regency, Central Java, this site is recognized as habitat of Javan slow loris, first time we discover in this area in 2013 (read here for the report). After we found the javan slow loris existed, students continue to do research in this area. And now a conservation organization (Javan Wildlife Institute) initiated by Wildlife Lab of  Forestry Faculty, Gadjah Mada University continue the fieldwork, not only academic research but also assist people of Kemuning to protect and generate alternative income.

Shadegrown coffee habitat of Javan slow loris
Javan Slow loris

As we know wildlife hunting is the main threats for the biodiversity in Kemuning forest, we try to develop solution to increase their knowledge and capacity to maintain sustainable forest product. We have been working since last year to manage stingless bee honey from the Javan gibbon habitat, and now we try to introduce this scheme in the kukang habitat. Mainstreaming conservation of pollinators and introducing management of the stingless bee honey production.
Stingless bee honey 
On Saturday and Sunday (21/22 January 2017) organized by JAWI we conduct training for villagers in Kemuning, and there are 10 participants from the Kemuning village to join in the two days training. Our team give an introduction and share experience on stingless bee, honeys and their relationship with crops and forest habitat. Introductory about native bees and it’s role in our environment were emphasized in the discussion with the participants. Moreover, this bee is producing honey that very healthy and economically viable.
knowledge sharing about stingless bee
This training is intended to bring some long-term solution to conserve forest as habitat of endangered animals but also give real example for sustainable forest product who provide sustainable income. Next activities is we will active to encourage participants to manage bees colonies and give direct assistant on marketing strategy for the  stingless bee honey.
field practice, how to manage stingless bee colony



Thursday, January 19, 2017

Tabungan Ekologi : Mengelola Lebah dan Kopi


Selamat Tahun Baru 2017 !! tulisan pertama untuk mengawali semangat baru pelestarian Owa di Indonesia. Alam menyediakan hal baru bagi yang berpikir untuk di pelajari dan dikembangkan untuk kemajuan kehidupan sosioekologis kita. Hal baru  yang coba kita pelajari saat ini adalah tentang serangga-serangga yang yang membantu penyerbukan kopi hutan di habitat Owa. Salah satu focus taxa kita kali ini adalah jenis lebah tanpa sengat. Warga sekitar habitat menyebut klanceng, sejenis tawon seukuran lalat yang sering bersarang di dalam batang pohon menghasilkan madu. Madu lebah ini mempunyai nilai ekonomi tinggi, namun karena masih memanen secara alami dari hutan produksi madu ini juga sangat terbatas, pada musim musim tertentu saja dan juga dengan jumlah yang sedikit.
lebah tanpa sengat di bunga kopi robusta
Sudah kita ketahui, adanya buah kopi, adalah karena adanya proses penyerbukan (bertemunya serbuk sari dengan putik), silahkan baca artikel di bawah. Proses penyerbukan ini ada yang terjadi dengan sendirinya juga ada yang dibantu  faktor dari luar, misal angin, serangga dan juga buatan (manusia). Serangga penyerbukan telah membuktikan peningkatan produksi kopi di beberapa daerah penghasil kopi. Jasa penyerbukan ini ada yang menghitung nilai nya hingga 350 miliar $US.  Namun kita pada umumnya tidak begitu menaruh perhatian kepada lebah atau serangga-serangga yang membantu pembuahan bunga kopi, jenis apa saja, kapan waktunya, dan bagaimana keberhasilannya dan tentunya masih banyak pertanyaan lain yang bisa kita pikirkan selanjutnya.

Untuk saat ini, hampir semua wilayah di Indonesia lebah ini yang dimanfaatkan adalah madunya, itupun juga masih banyak yang sifatnya exploitasi dari alam, madu hutan yang diambil dengan tanpa mempertimbangkan kelestarian lebah itu sendiri. Madu di ambil dengan mengambil habis sarang dan anak-anaknya. Bahkan dengan batuan api yang beberapa kasus di lapangan juga menimbulkan kebakaran hutan. Karena api yang di tinggalkan oleh pemburu madu hutan hidup membesar dan menyebar luas membakar hutan. Banyak cerita juga di hutan-hutan penghasil lebah para pemetik madu liar ini meninggal karena mengabaikan keselamatan ketika memetik madu.

Pemetik madu hutan, mengambil resiko tinggi tapi tidak lestari

Peran lebah sebagai pollinator, inilah yang menjadi hal baru yang sedang kita arusutamakan untuk pelestarian hutan dan juga meningkatkan produksi kopi juga tanaman pertanian perkebunan lainnya . Bagaimana kaitannya dengan Owa?? Owa  jawa adalah primata pemakan buah, buah-buah hutan ini juga terbentuk dari proses penyerbukan alami, dan salah satu faktornya adalah oleh pollinator. Lebah tanpa sengat tentu lebih ramah dari pada lebah-lebah lainnya karena setidaknya mereka tidak menyengat. Berdasar pengamatan lapangan juga nampak selalu hinggap di pohon-pohon pakan Owa.
Menjamin keberadaan lebah berarti menyediakan buah pakan Owa dan regenerasi hutan terus terjadi.

hutan sebagai tabungan ekologi
Selain itu untuk mengurangi tekanan terhadap habitat primata terancam punah, madu mempunyai nilai ekonomi yang tinggi,  budidaya lebah yang di kembangkan di sekitar hutan bisa menjadi tambungan ekologis jangka panjang yang tidak hanya sumber pangan yang sehat namun juga berperan penting untuk melestarikan lingkungan sekitar kita secara berkelanjutan.



Monday, December 19, 2016

Peran penting Jlarang si Bajing

Ketika anda di hutan atau di suatu tempat apa yang ada pikirkan kalau adan melihat mamalia kecil? Ya mamalia yang bobotnya relative ringan kurang dari 5 kg. Lucu, ingin membawa pulang, atau mengambil gambarnya saja, atau teringat cerita waktu masih kecil tentang tupai dan kelinci? Bajing, tupai, jlarang, landak, trenggiling itu beberapa di antaranya dalam bahasa jawa yang sering juga di temukan di habitat hutan yang masih alami.
Bajing jlarang

Karena ukurannya kecil, pemalu, sebagian besar aktif malam hari, kamuflase yang sempurna, tidak banyak juga yang concern dan peduli dengan peran mereka di alam. Menurut sejarah alam, jenis-jenis mamalia kecil ini sudah ada sejak 30-40 juta tahun yang lalu, jadi mereka sudah berasosiasi dengan hutan jauh sebelum manusia ada. Proses evolusi morphologinya juga tidak jauh berbeda hingga sekarang meskipun sudah puluhan juta tahun. Tentu ada hubungan yang erat antara mamalia kecil ini dengan hutan sebagai habitatnya.

Beberapa mamalia kecil ini di hutan berperan sebagai pollinator (penyerbuk bunga), pemakan buah dan pemencar biji-bijian di hutan. Artinya salah satu peran ekologisnya adalah membantu regenerasi hutan secara alami. Beberapa mamalia kecil juga menjadi mangsa dari jenis-jenis predator hutan, seperti burung elang. Dan sebagai fungsi estetis, ada kesenangan tersendiri bagi kita (manusia) untuk melihatnya di alam (namun hal ini juga belum banyak yang melakukan).

Jenis-jenis mamalia kecil ini adalah pemakan jamur pohon, tidak semua jamur itu jahat,banyak mikroorganisme yang tak kasat mata namun penting dalam alam ini. Apa kaitannya jamur-mamalia kecil dan pohon hutan??

Kalau anda sering melihat kayu yang ada bercak-bercak putih itu adalah beberapa jenis jamur yang berasosiasi dengan pohon hutan, jamur ini membatu pohon menangkap nutrisi yang tidak dapat di perolehnya dari yang sudah ada,sementara pohon menyediakan karbon dioksida dari fotosintesis untuk jamur. Ada korelasi positif hubungan pohon dan jenis-jenis jamur pohon ini.
jamur pohon (bercak putih) di habitat Owa jawa


Video berikut ini adalah yang kami dapatkan dari hutan Sokokembang, habitat Owa jawa di Petungkriyono, kabupaten Pekalongan. Terlihat seekor bajing Jlarang (Ratufa bicolor) yang memakan kulit batang pohon. Mycopaghy  adalah istilah untuk mamalia pemakan jamur, dan ini sedikit menjelaskan peran di atas bahwa, simbiosis antara jamur dan tumbuhan tinggkat tinggi inilah yang disebut micoriza, dan micoriza inilah di atarnya yang membatu pertumbuhan dan kesehatan pohon-pohon di hutan. 


Dengan di makannya jamur oleh bajing, makan spora jamur juga akan terbawa dan tersebar melalui kotoran Bajing. Hubungan yang cukup kompleks namun bisa kita pahami bahwa setiap binatang di hutan mempunyai peran yang tidak bisa di gantikan oleh yang lain, bahkan oleh manusia sekalipun. Oleh karena itu membiarkan binatang tetap di habitat aslinya, tidak memburunya,tidak mengambilnya sudah menjadi kewajiban  kita bahwa kita juga berperan dalam system ekologis ini.

Bajing jlarang/ Giant Squirrel



Friday, December 2, 2016

Catatan baru sebaran Owa Jawa

oleh : Arif Setiawan

Gunung Kapur Siregol, Ds.Kramat Karang Moncol Purbalingga

Berawal dari informasi yang kami terima, survey dan monitoring sebaran primata Jawa di wilayah jawa tengah membawa kami mengunjungi lokasi baru, yang belum tercatat dalam survey-survey sebelumnya. Silahkan baca-baca tentang kegiatan ini yang dimulai sejak awal tahun 2016.  Sebelumnya data mengenai sebaran Owajawa juga telah di publikasi di jurnal ini.

rangkaian pegunungan di Kec.Karang moncol dan Rembang Purbalingga (survey 2013)

Informasi yang kami terima beberapa waktu lalu menyebutkan, bahwa ada kelompok owa yang teramati di wilayah kabupaten Purbalingga. Sebagaimana yang kita tahu wilayah ini telah kita survey tahun 2010-2013, dan lokasi nya berada di pegunungan antara G.slamet dan pegunungan Dieng. Survey tahun 2013 kami mengunjungi gunung Ardi lawet, dan mencatat perjumpaan tidak langsung keberadaan Owajawa. Kami mendengar suara morning call dari arah sebelah barat gunung lawet, dengan radius kurang lebih 800 meter-1400 meter.  Lokasi yang di informasikan kepada kami apabila di lihat di peta, tepatnya berada di sebelah barat dari gunung lawet, dan nampak disana memang topografi yang sangat curam dan sepertinya tidak mungkin di akses.

habitat Owa di gunung Siregol, Karangmoncol

Tanggal 21 November 2016 , bersama tim swaraowa, meluncur ke lokasi yang di informasikan tersebut, dan kami di pertemukan dengan mas Sa’ad seorang guru SD yang aktif dengan kegiatan pelestarian di Desa kramat, Karang moncol. Setelah meperkenalkan diri, kami langsung menuju ke lokasi yang dituju, ada jalan yang sudah bagus menyusuri tebing sungai yang dalam, di sebelah kiri gunung batu kapur (limestone) yang sangat tinggi dan di bagian bawah vegetasi kanan-kiri sungai yang lumayan rapat.
Owa jawa yang teramati di Siregol, Karangmoncol

Belum berhenti dari kendaraan, kami sudah melihat adanya pergerakan di pohon-pohon di bawah tebing jurang ini, dan yang terlihat pada saat itu adalah Owa Jawa, setelah di amati lebih teliti, ternyata ada juga Binturong yang sedang mencari makan di pohon yang sama dengan kelompok Owa ini. Beberapa saat kami mengamati pergerakan owa ini, dan binturong. Catatan kami juga melihat ada julang emas melintas di atas gunung batu kapur ini. Elang jawa juga terdengar bersuara, namun tidak terlihat karena rapatnya tajuk.
Arctictis binturong


Limestone forest, istilah untuk hutan yang di pegunungan kapur, tidak banyak catatan yang menjelaskan tetang sebaran owa di tipe hutan ini, dengan karakter yang unik,  tebing berbentuk kerucut, tanah yang tipis,namun memiliki vegetasi yang rapat di dasarnya. Habitat unik yang perlu dilestarikan tidak hanya untuk keanekaragaman hayati namun sudah tentu menjadi landscape yang menarik dan indah untuk sekedar di kunjungi.

Beberapa daerah gunung kapur, juga mengalami ancaman serius karena kegiatan penambangan, sudah tentu manfaat secara fungsi ekologis juga hilang, semua kakayaan hayatinya hilang sebelum sempat di telilti lebih jelas manfaatnya. Perburuan juga mengakibatkan hutan-hutan menjadi "kosong" dan sepi, menghilangkan peran satwaliar dalam sistem ekologi.

Berbicara mengenai upaya pelestarian, akan menjadi pekerjaan bersama untuk kedepan bagi siapa saja yang peduli , beberapa potongan hutan di jawa tengah, juga masih menyimpan keanekaragaman yang tinggi, yang juga menjadi asset bagi daerah setempat. Upaya pelestarian dengan dasar ilmiah bisa menjadi inisiasi awal untuk Owa jawa di habitat limestone ini. Mengarus utamakan kegiatan wisata minat khusus juga bisa menjadi sarana untuk membangun ekonomi di tingkat site dari adanya primata endemik.

Bacaan lebih lanjut :

Setiawan, A., T. S. Nugroho , Y. Wibisono, V. Ikawati, J. Sugarjito, (2012), Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia, Biodiversitas, Vol.13. No.1,p 23-27

 Whitten, T., Soeriaatmadja, R. E., Afiff, S. A., Widyantoro, A., Kartikasari, S. N., & Utami, T. B. (1999). Ekologi jawa dan bali. Prenhallindo

Monday, October 24, 2016

Suara Owa dalam secangkir Kopi


Kurang lebih 4 tahun sudah kegiatan proyek “Kopi dan Konservasi Primata” berjalan, perjalanan yang tidak singkat dan ternyata banyak hal yang juga telah memberi pengalaman dan pelajaran berharga bagi upaya konservasi primata endemik di wilayah Jawa Tengah. Pelestarian primata yang kita arus utamakan dengan mengkombinasikan penguatan ekonomi  untuk menopang kegiatan konservasi di habitat primata terancam punah, menjadi tantangan yang serius dan sekaligus menyenangkan.

Permasalahan selalu ada dan kegiatan pelestarian primata juga mengalami dinamika yang kadang ada hal hal yang tidak bisa diatasi sendiri. Mengkomunikasikan bahasa konservasi menjadi lebih universal dan mudah diterima kadang terlalu cepat hingga substansi pesan pelestarian ini menjadi ”buzz word”, atau kata-kata marketing hijau yang memeberi dukungan kepada kegiatan yang menurunkan kualitas hutan sebagai habitat primata endemik dan fungsi sosial dan ekonominya.
kegiatan produksi kopi Owa
Namun demikian,semangat dari dalam hati membuat kita terus melalui semua hal dengan senang, menambah jaringan teman, dan memulai hal yang baru menjadi motivasi lain, menaikan hormon dopamine ketika berkaitan dengan kopi dan konservasi primata. Beberapa kunjungan internasional menjadi corong kepada dunia luar bahwa kita juga tidak diam terhadap kepunahan-kepunahan dan kerusakan yang terjadi. 

bahasa bukan kendala lagi kalau membicarakan primata dan kopi
Sejak bulan Agustus hingga Oktober ini, kegiatan kita " kopi dan konservasi" mendapat tamu-tamu istimewa,yang tertarik untuk melihat langsung kegiatan ini. Kunjungan dari  director proyek pelestarian kukang (LFP) menjadi semangat bagi tim bahwa kita tidak sendirian menahan laju kepunahan primata jawa, Profesor Anna Nekaris, dari Oxford Brookes University, secara langsung menuliskan pesan dan kesan nya ketika berkunjung ke Sokokembang dan mengujungi markas SwaraOwa di Yogyakarta.


Ada juga kunjungan dari Secretariat land care Australia,membuat kita semakin percaya diri bahwa kopi dan produk hutan lainnya juga dapat menjadi satu-kesatuan cerita yang saling menguatkan untuk pelestarian primata dan hutan sebagai habitatnya.
Victoria Mack dari Secretariat for International Landcare Inc

Yang lebih sepesial lagi, adalah kunjungan 23 peserta pelatihan primata di Sokokembang, yang menjadi agenda tahunan proyek ini, teman baru yang mungkin di antaranya akan meneruskan upaya-upaya pelestarian serupa di  tempat lain atau di lain waktu.
Teman baru pegiat konservasi primata peserta pelatihan metode survey primata 2016 
produk-produk hasil hutan untuk konservasi
Produk-produk konservasi yang terinspirasi dari kegiatan ini telah dan sedang di kelola dan di pasarkan kepada masyarakat luas, kopi, madu dan gula aren menjadi media kita untuk menyuarakan pelestarian Owajawa dan hutan sebagai habitatnya. Penjualan -penjualan yang kita lakukan menghasilkan dana konservasi yang sustainable meskipun dalam jumlah yang masih relative kecil, namun penting untuk menyokong kegiatan selanjutnya dan juga memperluas target wilayah perlestarian primata dan semua fungsi penting hutan.  Bagi anda yang ingin berkontribusi terhadap produk-produk  dan aktif menyuarakan upaya pelestarian ini bisa langsung berkomunikasi dengan lewat media sosial kami di FB, twitter, IG @swaraOwa dan email : sokokembang.channel@gmail.com, atau melalui Buka Lapak. Terimakasih, Salam Owa!!

Thursday, October 20, 2016

Pelatihan Bagi Calon Peneliti Primata

Oleh Bagas Adhi Kumoro (kumorobagas@yahoo.co.id)
Anggota KP3 Primata Fakultas Kehutanan UGM

Pelatihan Metode Survey Primata merupakan acara tahunan yang dilaksanakan oleh Coffee and Primate Conservation Project di wilayah sebaran primata endemik di wilayah Jawa Tengah ,bekerjasama dengan KP3 Primata Forestation UGM yang ditujukan bagi calon peneliti muda khususnya peneliti primata, dan membagun jaringan pegiat dan pelestari primata pada umumnya. Sebagai seorang mahasiswa yang tertarik akan kehidupan primata. Pelatihan ini diselenggarakan pada tanggal 7 – 9 Oktober 2016 di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Petungkriyono, Pekalongan. Peserta yang hadir pada pelatihan ini berasal dari berbagai daerah, daerah terdekat berasal dari Pekalongan sendiri, ada juga yang dari Jakarta, Yogjakarta, Semarang, Purwokerto, dan yang terjauh berasal dari Pulau Siberut, Mentawai. Peserta mewakili beberapa kelompok studi di Universitas, Pecinta Alam, Staff Perhutani KPH Pekalongan Timur dan anggota LMDH di Kabupaten Pekalongan.

Materi pertama dimulai pukul 20.00 tanggal 7 Oktober 2016 dengan pokok bahasan line transect yang diberikan oleh Mas Wawan dari SwaraOwa Pada materi pertama ini disambut sangat antusias oleh peserta. Antusias peserta dibuktikan dari banyaknya pertanyaan kritis yang diajukan, diskusi pun banyak terjadi dalam ruang materi. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 22.00, diskusi harus dihentikan karena memasuki waktu istirahat. Pelaksanaan esok hari 8 Oktober 2016 akan banyak berada di lapangan dan itu akan menyita tenaga sehingga dibutuhkan waktu istirahat yang cukup.

Pengenalan metode survey primata line transect dan vocal count-triangulasi

Pagi itu pukul 6 matahari sudah menampakkan sinar tetapi ada suasana yang berbeda dari biasanya. Suasana pagi 8 Oktober 2016 lebih sunyi dari pagi-pagi biasanya. Kekhasan perilaku bersuara owa jawa yang dikenal sebagai morning call tidak terdengar pagi itu, padahal biasanya suara owa sudah mulai terdengar sejak pukul 5. Mbak Maida yang dulu pernah melakukan penelitian tentang karakteristik suara owa jawa menduga pagi itu owa belum bersuara karena semalaman hujan.

Suara owa yang belum terdengar tidak mematahkan semangat kami untuk menuju ke lapangan dan mempraktikan materi semalam. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok untuk menuju ke lokasi yang telah ditentukan untuk mempraktekan metode line transect. Saat perjalanan menuju lokasi, suara owa jawa mulai terdengar. Dari praktek metode line transect yang dilakukan, mendapatkan hasil owa jawa, monyet ekor panjang, dan lutung jawa.
peserta menerapkan langsung di lapangan metode survey primata
Setelah mencoba metode line transect pelatihan dilanjutkan dengan menganalisis hasil. Analisis hasil ini merupakan akhir dari materi pertama, kegiatan selanjutnya dilanjutkan dengan materi mengenai vocal count yang diberikan oleh Mbak Salma (mahasiswa Biologi UGM yang pernah melakukan penelitian menghitung populasi owa jawa menggunakan metode vocal count) dan Mbak Maida (mahasiswa Biologi UNJ yang pernah melakukan penelitian tentang karakteristik suara owa jawa). Metode vocal count adalah metode penaksiran populasi berdasarkan suara satwa, metode ini cocok dilakukan untuk menghitung populasi satwa yang memiliki perilaku bersuara. Mbak Maida mengatakan bahwa tiap individu owa jawa memiliki karakteristik suara yang berbeda sehingga tiap kelompok dapat diidentifikasi tanpa melihat secara langsung. Materi vocal count  dipraktekan di lapangan pagi tanggal  9 Oktober 2016.
Analisis data setelah dari lapangan 
Sekitar pukul 5 sore kegiatan dilanjutkan dengan sharing penelitian mengenai rekrekan (Presbytis comata) di sekitar lereng Gunung Merbabu oleh Mbak Kasih Putri. Sharing ini berkaitan dengan primata yang berada di hutan sekitar Dusun Sokokembang, primata yang ada yaitu owa jawa, rekrekan, lutung jawa, monyet ekor panjang, dan kukang jawa. Mbak Kasih Putri mengatakan bahwa rekrekan di sekitar lereng Gunung Merbabu belum banyak diteliti.
Materi ketiga dilaksanakan malam hari bersama dengan Mbak Winar dari KukangID tentang metode pengamatan satwa nokturnal, khususnya kukang jawa. Mbak Winar menjelaskan bahwa mata satwa nokturnal akan memantulkan cahaya lampu sehingga memberikan pantulan warna yang berbeda-beda tiap satwa. Malam itu memang terasa melelahkan karena pagi tadi telah melakukan perjalanan yang cukup lama tetapi ketika peserta diajak untuk mempraktekan metode ini menjadi bersemangat kembali. Setelah pengamatan diakhiri dengan melaporkan satwa nokturnal apa saja yang ditemukan. Materi ketiga ini menjadi penutup pelatihan metode survey primata hari kedua.
Owajawa yang teramati ketika pelatihan 
Hari ketiga 9 Oktober 2016 saatnya peserta mempraktekan metode vocal count. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan menuju ke lokasi masing-masing sejak pukul 6 pagi.  Peserta berusaha tiba di lokasi sebelum owa jawa melakukan morning call. Syarat pemilihan lokasi untuk mendengarkan suara yaitu jauh dari gangguan suara lain seperti suara sungai dan kendaraan agar suara owa terdengar jelas. Selama perjalanan menuju ke lokasi yang jauh dari gangguan suara, owa jawa sudah mulai bersuara, pagi ini suara owa lebih banyak terdengar dibandingkan hari sebelumnya. Sesampainya di lokasi yang perlu dilakukan hanya fokus mendengarkan suara owa jawa kemudian memperkirakan arah datangnya suara owa dan jarak owa yang bersuara serta berkoordinasi dengan kelompok lain apakah mendengar suara yang sama. Metode ini dipraktekan sampai pukul 9.
Setelah mempraktekan metode di lapangan langkah selanjutnya menganalisis data yang telah didapatkan, analisis data ini dipandu oleh Mas Wawan dan Mbak Salma. Analisis dilakukan dengan menggabungkan semua data arah owa jawa bersuara dari 3 lokasi pengamatan berbeda dan dicari titik perpotongannya. Titik perpotongan itu diasumsikan sebagai lokasi owa jawa yang bersuara. Analisis data vocal count menjadi acara penutup kegiatan Pelatihan Metode Survey Primata. Waktu yang cukup padat untuk mempelajari 3 metode survey primata. Ucapan terimakasih untuk semua pihak yang terlibat, warga Sokokembang, LMDH desa Kayupuring, para sponsor Fortwayne Children’s Zoo, Ostrava Zoo, Wildlife Reserve Singapore , kopi Owa Sokokembang dan SwaraOwa.
Foto bersama seluruh peserta


Thursday, September 22, 2016

Owa Jawa di Amerika (Fort Wayne Children's Zoo)

Owa Jawa di FCZ (foto www.kidszoo.org)

Masih dalam rangkaian mengikuti kongres primata di Chicago (21-26 Agustus 2016),  kali ini kesempatan berkunjung ke Fortwayne Children’s Zoo,Indiana  Tahun 2012 awal, adalah pertama kali saya berhubungan dengan FCZ, waktu itu saya mengajukan proposal kegiatan konservasi Owa Jawa di hutan Sokokembang. Sejak saat itulah kegiatan konservasi Owa Jawa di Jawa Tengah mendapat perhatian khusus dari Fortwayne Children’s Zoo. Fortwayne Children’s Zoo  (FCZ)saat ini juga mempunyai 4 individu Owajawa, dan salah satu nya katanya hasil penangkaran dari Gibbon Conservation Center yang sebelumnya saya ceritakan.  Lebih jauh tentang Fortwayne Children's Zoo bisa baca di sini : http://kidszoo.org/

Turkey, salah satu burung asli Amerika

Rusa
Tahun 2014 FCZ juga yang telah berkunjung ke habitat Owa di Sokokembang (baca disini),  dan kali ini balasan kunjungan saya ke Fortwayne adalah salah satunya mempresentasi  kegiatan konservasi Owa jawa yang telah berlangsung hingga saat ini, dan mencoba membangun kolaborasi kegiatan konservasi di tahun -tahun selanjutnya, untuk jenis-jenis Owa terancam punah di Indonesia.
Saya menginap di rumah Joe Smith, program director di kebun binatan FCZ, sangat ramah dan saya diajak untuk wildlife watching dan melihat base ball salah satu amerikan sport yang paling favorit, dan sangat beruntung juga bahwa saya menjumpai beberapa satwa endemik amerika yang saat ini masih ada di sekitar kota fortwayne, di suaka alamnya.

Ada 2 presentasi yang saya lakukan, yang pertama untuk board member FCZ  dan presentasi di depan staff kebun binatang. Dari presentasi ini salah satunya fortwayne tetap akan mensuport kegiatan lapangan kita di tahun-tahun mendatang. Berita tentang kegiatan saya di fortwayne ini juga sempat di liput oleh media televisi lokal di fortwayne dan muncul di koran sehari setelahnya. (baca beritanya disini )

Ada Owa jawa yang di kebun binatang ini, dan ada bayi yang baru umur 1 tahun ketika saya hari itu disana, Owa disini di tempatkan di enclosure yang di kombinasi dengan vegetasi alami disana, dan ada ruangan khusus yang digunakan untuk Owa ketika musim salju tiba.  Berkunjung ke kebun binatang dengan pass khusus, tentu bisa masuk ke dalam di balik layar, bagaimana satwa-satwa ini di rawat dan di pelihara,dimana habitat dan kondisinya sangat berbeda sekali dengan kodisi asal habitatnya, butuh kerja ekstra keras dan biaya tinggi untuk merawat owa jawa disini. Di kebun binatang ini juga di arustamakan kita tidak hanya sekedar cinta atau menyayangi binatang/hewan tapi juga bagaimana melestarikan bintang ini melalui contoh sepesimen hidup yang ada di kebun binatang dan juga melestarikan habitat aslinya.
Bersama Jim dan Joe Smith (FCZ)


Ucapan terimakasih untuk Fortwayne Children’s Zoo  dari kami seluruh tim lapangan atas nama SwaraOwa, proyek kopi dan koservasi primata, yang telah mendukung upaya pelestarian owa jawa di Jawa Tengah.