Friday, April 22, 2016

Pengamatan Primata di Kalipaingan Linggo Asri, Pekalongan

ditulis Oleh:
Kasih Putri Handayani
e-mail :kasihputri288@gmail.com 



Rekrekan (Presbytis comata) Kalipaingan, Linggoasri

Awal bulan April ini, tim SwaraOwa bergerak menuju fragmen hutan yang lain di Kabupaten Pekalongan, yakni di Desa Linggoasri. Mengawali hari, kami menuju ke Hutan alam yang masih tersisa di kawasan ini, yang berbatasan dengan sawah milik warga, dan bercampur dengan kebun kopi pada beberapa lokasi.
Warga dusun ini cukup akrab dengan Owa Jawa atau yang biasa mereka sebut dengan uwek-uwek atau weweg atau owak-owak. Dan pagi itu tim Swara Owa sangat beruntung karena bisa bertemu dengan kelompok tersebut. Satu kelompok dengan 4 individu dewasa serta 1 juvenile. Pada perjumpaan sebelumnya, kurang-lebih 2 tahun yang lalu, kelompok tersebut terdiri dari 4 individu, yang berarti terdapat pertambahan jumlah individu dalam 2 tahun terakhir.

Kelompok tersebut pun berlalu. Tidak lama berselang, nampak oleh kami kelompok owa yang lain. Dua kelompok owa dengan jarak yang tidak terlalu jauh, tidak sampai 500 meter. Satu hal yang menarik bagi saya secara pribadi, karena saya pikir akan ada perilaku agonostic ketika dua kelompok primata berdekatan, terlebih pada satu spesies yang sama. Namun hal tersebut tidak terjadi. Dalam kondisi habitat yang tidak cukup luas, kemungkinan homerange kelompok owa saling tumpang tindih.

Owa Jawa (Hylobates moloch)

Dari lokasi ini, kami  kembali ke Obyek Wisata Kali Paingan dimana kami menginap. Tempat wisata satu ini berbasis pada potensi sumber daya alam terutama Sungai Kali Paingan yang di kelola oleh LMDH Kali Paingan dan hutan lindung yang dibawah pengelolaan Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur. Fun rafting, river tubing, jungle tracking serta outbound menjadi andalan obyek daya tarik wisata di kawasan ini. Melalui media wisata tersebut, pengelola Kali Paingan juga ingin memperkenalkan keanekaragaman hayati di sekitar Kali Paingan sekaligus upaya konservasinya. Saat ini, rekan-rekan pengelola Kali Paingan bersama organisasi setempat tengah dalam tahap pembangunan “mini arboretum” untuk konservasi jenis tumbuhan lokal. Dan di akhir pekan itu, SwaraOwa bersama tim pemandu Kali Paingan menyusuri dua jalur yang berbeda untuk mempelajari keberadaan primata di sekitar kawasan.
Hutan habitat Primata endemik Jawa di Linggo Asri


Menyusuri jalan setapak yang biasa dilalui masyarakat setempat, terlihat berbagai bentuk penggunaan lahan. Permukiman baru, bekas permukiman yang harus direlokasi karena bahaya longsor lahan, kebun kopi, sawah, sungai, hutan pinus serta tegakan hutan alam saling berinteraksi lengkap dengan aktivitas manusia di dalamnya. Dalam perjalanan tersebut, akhirnya kami berjumpa dengan Rekrekan yang menjadi target utama survei, juga Owa Jawa. Dua kelompok Rekrekan yang kami temui berada sangat dekat dengan lahan yang dikelola oleh warga. Satu kelompok bahkan turun ke sawah bera yang belum sempat digarap pemiliknya. Dalam kondisi hutan yang terfragmentasi, cara itulah yang mereka tempuh untuk menyikapi perubahan lingkungan yang terjadi.

"Wawa dan Lulu" sendang mengamati Owa jawa. "Primatewatching"

Memang waktu itu terlalu singkat untuk mengenal dan mempelajari biodiversitas kawasan Kali Paingan. Meskipun demikian kami cukup beruntung karena dalam waktu singkat kami sudah dipertemukan dengan dua spesies primata endemik Jawa. Dua primata dalam status konservasi Endangered yang masih bertahan pada kantong-kantong habitat hutan pegunungan di Jawa. Kami juga beruntung karena pada survei ini kami mendapatkan sahabat dan pegiat konservasi di habitat asli primata endemi Jawa. Mereka dengan semangat belajar  dan berupaya melestarikan alam sekitar, dan menambah semangat kami untuk terus mengarusutamakan upaya pelestarian  primata dan hutan sebagai habitat alaminya. Mereka adalah tim pemandu LMDH Kali Paingan, terimakasih “Wawa, Lulu, Rekkan, dan Monyi”.


Saturday, March 26, 2016

Mencari Rekrekan di Gunung Ungaran

ditulis oleh : Asman Adi Purwanto

Curug Lawe dan Perkebunan Teh Medini, Ungaran

Google Maps di Smartphone saya sudah susah untuk menunjukan arah jalan menuju Curug Lawe yang berada di kaki Gunung Ungaran, Kendal, Jawa Tengah 10 Maret lalu. Sinyal untuk internet mulai menghilang. Beruntunglah ada yang bisa kami tanya sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan kami ke curug lawe untuk mencari keberadaan Rekrekan  (Presbytis comata fredericae) dan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus).
Jalanan beraspal telah habis berganti dengan jalan makadam (berbatu) dan jalanan hanya bisa untuk satu mobil. Sampai akhirnya kami menemukan tanda-tanda perkampungan dan papan penunjuk jalan menuju Medino – Promasan. Tapi tidak untuk Curug Lawe. Nah lho?
Ternyata curug lawe yang kami tuju memang belum tenar seperti Curug Sewu Tawangmangu Kabupaten Karanganyar. Tempatnya nyelempit, dari kampung terakhir masih satu kilometer jarak tempuh jalan kaki. Dikarenakan waktu yang sudah menunjukan pukul 16:30 dan cuaca mendung akhirnya kamiputuskan untuk menginap di rumah salah seorang warga dan perjalanan ke curug lawe mencari kawanan Lutung Jawa keesokan harinya.
Dan, setelah kami tanya – tanya ke warga akhirnya kami menginap di Medini, di kediaman Pak Min yang menjadi Base Camp pendakian gunung ungaran.

********
 Jumat (11/03) pagi cuaca di medini terlihat kurang begitu bersahabat. Diluar rumah kabut terlihat cukup tebal disertai dengan gerimis.
“ Kalau sudah gerimis pasti turun kabut, Mas. Dan itu bisa sampai satu hari” terang pak Min kepada kami. “ Tidak apa-apa, Pak. Semoga saja nanti ada matahari” jawab saya.
Pak Min menyibukan diri membersihkan sampah dedaunan yang ada di halaman rumahnya. Beberapa kolam ikan Nila terisi sebagai cadangan sumber makanan keluarga. Beberapa warga terlihat bersiap memetik teh. Mereka diangkut menggunakan kendaraan Truk menuju lokasi perkebunan.
Waktu terus beranjak tapi kabut tak kunjung menghilang. Tapi ada tanda-tanda akan menghilang. Setelah makan pagi, kami berpamitan ke Pak Min dan keluarga untuk naik ke arah promasan. Menurut pak min, Lutung Jawa biasanya akan terlihat di hutan yang berada di atas perkebunan teh. Nah, kami coba mengamati lokasi yang disebutkan pak min. Menurut beliau kelompok lutung di jalur antara medini – promasan itu bisa diamati dari jalan.

Sepanjang perjalanan tampak para pemetik teh sedang memetik daun-daun teh yang masih terlihat segar. Beberapa sudah ada yang disimpan dipinggir jalan, dimasukan ke dalam karung angkut. Mereka terlihat tetap menggunakan jas hujan plastik. Siap-siap jika sewaktu-waktu turun hujan. Saya dan mas Wawan pun sesekali turun dari mobil dan mengamati kondisi hutan disekitar perkebunan teh. Hasilnya nihil, tidak ada penampakan lutung dan rekrekan.
Dilihat dari pencitraan satelit, kondisi hutan di sekitaran medini dan promasan itu terpetak – petak di punggungan yang berada diatas perkebunan teh medini. Sedangkan dari penampakan secara langsung kondisinya pun demikian. Hutan yang masih terlihat bagus terbagi – bagi di punggungan yang tidak dibuka sebagi perkebunan. Burung Cica koreng Jawa (Megalurus palustris) dan Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) menjadi pelipur lara saya karena belum ada penampakan lutung jawa seperti yang disebutkan Pak Min.
Cica Koreng Jawa

Dalam perjalanan turun, di seberang jalan terlihat tanda-tanda adanya sekelompok Lutung Jawa sedang mencari makan. Jarak dari posisi kami berdiri sekitar 270 meter, jika difoto hanya terlihat titik gumpalan hitam-hitam di pepohonan. Total lutung jawa yang teramati 6 ekor terdiri dari remaja dan dewasa. Pengamatan kami  lakukan sekitar 5 – 10 menit dan berhenti karena gerimis kembali turun. Para lutung tetap tenang memetik pucuk daun dan memasukannya ke mulut. Tak peduli gerimis kembali turun.

Perburuan Burung
Lokasi berikutnya adalah kawasan hutan di aliran sungai air terjun “curug” lawe. Menurut informasi dari KP3 Primata Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada yang sebelumnya berkegiatan dilokasi tersebut, ditemukan beberapa Lutung.
Mobil kami parkir di pinggir jalan dekat rumah warga. Menurut informasi warga sekitar, jarak dari tempat parkir ke curug lawe sekitar 1 kilometer. Hutan diatas aliran sungai tampak bagus dan rimbun. Tepat kalau dibilang sebagai habitat primata jawa. Hutannya masih terlihat alami dengan pohon-pohon besar mendominasi. Suara burung saling bersahutan. Minus suara burung elang yang selalu menjadi favorit saya. Mungkin karena cuaca siang itu baru saja selesai gerimis dan matahari tak kunjung keluar.
Sepah kecil, sebagai burung pemikat

Tak kurang seratus meter dari lokasi air terjun kami menemukan kegiatan perburuan burung. Terdapat dua sangkar burung yang di isi Sepah Kecil , Burungmadu Pengantin dan Gelatik Batu Kelabu sebagai burung pemikat. Metode yang digunakan adalah menggunakan getah pohon Artocarpus sp. yang dililitkan pada ranting dan sangkar burung diletakan di bawah ranting dengan perekat tersebut. Tidak lama kami berada di lokasi itu dua orang pemburu yang berasal dari daerah sekitar curug lawe itu muncul. Ternyata tidak hanya menggunakan getah sebagai perekat, mereka juga menggunakan jaring kabut dan burung pemikat lainnya yakni Beluk Ketupa (Ketupa ketupu).
Kegiatan penangkapan burung di curug lawe menurut keterangan dua orang pemburu tersebut memang kerap terjadi. Sasarannya adalah burung- burung kicau seperti Burungmadu, Sikatan, Kacamata, Cica daun dan burung kicau lainnya.

“ Sampeyan Cuma cari burung apa semua jenis satwa yang bisa ditangkap juga sampeyan ambil, Mas?”. Tanya saya kepada kedua pemburu tersebut. “Misal ada lutung juga sampeyan tangkap”. Saya menambahkan.“ndak, Mas. Kami Cuma cari burung saja kok, Mas. Itu saja susah, burungnya makin sedikit”. Jawab salah satu dari mereka.
“Biasanya sampeyan jual sendiri ke pasar apa ada pengepul yang datang ke rumah sampeyan? Atau sampeyan jual kemana?” “Dikumpulin dulu di rumah, kalau sudah kumpul dan burung sudah bisa makan pur (pelet) baru kami bawa ke pasar, Mas. Biasanya kami jual ke Wajo”

Curug Lawe

Kawasan Curug Lawe, Medini dan Ungaran pada khususnya merupakan kawasan diluar kawasan konservasi/lindung yang lemah segi penegakan hukumnya sehingga aktifitas perburuan burung dan satwaliar lainnya luput dari pengawasan pihak/instansi terkait. Yang kami khawatirkan para pemburu burung juga akan menangkap semua jenis satwa yang mereka temukan. Misal Lutung Jawa yang berada di kawasan curug lawe hingga ke ungaran.

Melalui kegiatan survey ini selain kami mencari data keberadaan Rekrekan dan Lutung Jawa di Ungaran juga sembari berbagi informasi kepada warga mengenai keberadaan dua jenis satwa tersebut. Hal itu kami harap bisa menjadi jembatan saling tukar informasi dengan warga. Meskipun target utama pencarian kami tidak tercapai, berbagi informasi kepada warga sekitar habitat rekrekan dan lutung jawa juga sangat penting. 

Saturday, March 12, 2016

Perilaku Owa Jawa Ketika Gerhana Matahari


Gerhana matahari kemaren menjadi moment yang langka sekaligus kesempatan yang kemungkinan terulangnya lama, dan hal ini juga sudah cukup menarik perhatian apabila mengamati perilaku binatang ketika gerhana matahari. Tanggal 9 maret 2016, saya dan teman tim swaraOwa sudah stanby di salah satu habitat Owa di kabupaten pekalongan, namun kali ini lokasi yang kita gunakan untuk monitoring adalah dusun Mendolo, desa Lebakbarang, kecamatan Karanganyar.

Tempat ini kami pilih karena kami ingin membangun komunikasi yang lebih dekat dengan warga di sekitar hutan untuk memberikan perhatian pada fauna-fauna langka yang ada di sekitar mereka, dan penelitian kami tahun 2010 dan kegiatan bersama dengan Pemerintah kabupaten Pekalongan (dinas kehutanan) mencatat perjumpaan Owa di wilayah ini.

Kami sampai di dusun mendolo, sore hari tanggal 8 Maret, dan langsung mempersiapkan peralatan untuk esok paginya mencoba mencatat perilaku bersuara owa pada hari terjadinya gerhana matahari. tanggal 9 Maret kami sudah bersiap mulai jam 5 pagi, mengambil posisi yang tinggi sebagai Listerning post, dan siap-siap mencatat suara Owa jawa.

Kami sempat mengambil gambar untuk melihat situasi disekitar mendolo menjelang gerhana matahari.
Hutan di sekitar dusun Mendolo


Catatan kami sebelumnya terdengar dua kelompok Owa bersuara dari sekitar dusun Mendolo ini, dan jarak yang cukup dekat dengan pemukiman warga. Hingga jam 7.30, kami terus memantau situasi namun tidak juga terdengar Owa bersuara, hingga puncak gerhana sekitar pukul 8.00,  memang cahaya matahari terlihat meredup dengan warna kekuningan. Tidak juga terdengar suara Owa. Sampai jam 9.30 kami sudahi pengamatan kami, dan tidak mendengar suara Owa pagi hari itu.

Perlu di ketahui bahwa, Owa jawa adalah jenis kera kecil yang mempunyai perilaku bersuara di pagi hari, jantan dewasa biasanya bersuara sebelum matahari terbit, dan betina dewasa bersuara setelah matahari terbit. Dengarkan disini untuk suara owa jantan dan disini untuk suara betina dewasa. Perilaku bersuara ini salah satu fungsinya adalah untuk komunikasi antar individu, dan juga bersifat territorial.


Peristiwa gerhana matahari adalah anomali bagi satwaliar, dan tercatat beberapa perilaku yang tidak biasanya dari beberapa binatang, sebagai respons terhadap perubahan kondisi alam sekitarnya. 

baca juga disini :

Monday, March 7, 2016

Owa Jawa : Sinden Gunung dari Negeri di Atas Awan

di tulis oleh : Salmah Widyastuti
Email: salmah.w@mail.ugm.ac.id
dusun Tlogohendro yang di kelilingi gunung-gunung

Owa Jawa (Hylobates moloch). Keberadaan populasi Owa Jawa dan  kopi owa nya mulai banyak dikenal eksistensinya di dusun Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan, melalui berjalannya program Kopi dan Konservasi Primata di dusun tersebut. Bila menelusuri jalan menanjak menuju dusun Sokokembang, beberapa kali hewan berrambut abu-abu keperakan ini terlihat beraksi dengan tungkai kuatnya, berayun dari pohon ke pohon di hutan dataran rendah sepanjang jalan tersebut. Bagi warga Dusun Sokokembang, nyanyian melengking nan merdu hewan bernama lain Uwa-uwa ini sudah menjadi backsound hampir di setiap pagi. Menurut survei yang telah dilakukan, hutan Sokokembang tercatat sebagai lokasi dengan keberadaan kelompok owa Jawa terbanyak diantara hutan lainnya di Pegunungan Dieng, yaitu mencapai sekitar 20 kelompok.
Dari Dusun Sokokembang, kita menyusuri jalan menanjak dan berkelok ke arah Timur selama kurang lebih 1 jam, hingga tiba di Desa bernama Tlogohendro. Pegunungan ini di sekitar dusun Tlogohendro ini sudah masuk dalam rangkaian pegunungan Dieng. Desa Tlogohendro sendiri sudah termasuk dalam dengan ketinggian sekitar 1200–1600  mdpl, dan karena posisi geografis yang curam dan terjal masih terdapat hutan yang relative baik dan  masih berpotensi sebagai habitat berbagai jenis satwa liar endemic jawa.
view habitat Owa di Gunung Sikacir  ds.Tlogohendro

Bagaimana dengan owa Jawa? Apakah primata arboreal ini menghuni hutan pegunungan? Berbicara mengenai populasi owa Jawa yang pernah disurvei di Pegunungan Dieng, keberadaan kelompok primata ini lebih banyak dijumpai di ketinggian di bawah 1000 mdpl karena ketersediaan sumber pakannya lebih bervariasi dan melimpah. Data ilmiah mengenai keberadaan dan populasi owa Jawa di  ketinggian diatas 1200 mdpl masih sangat terbatas. Namun berdasarkan informasi yang diperoleh dari warga lokal, nyanyian owa dari hutan dataran tinggi ini kerap terdengar. Primata “pesinden” hutan ini juga  ada di hutan Tlogohendro. Untuk mengetahui besar populasi owa Jawa di hutan dataran tinggi ini maka perlu dilakukan survei ilmiah yang nantinya akan melengkapi data penyebaran dan besar populasi owa Jawa, dan tentu saja melengkapi informasi ilmiah untuk pelestarian Owa di Indonesia.
Saya bersama tim Coffee and Primate Conservation Project-SwaraOwa, dibantu oleh teman-teman Matalabiogama Fakultas Biologi UGM dan di dampingi warga Tlogohendro, berkesempatan untuk melakukan survei mengenai Populasi owa Jawa di Hutan Tlogohendro sebagai salah satu tahap dalam upaya pelestarian owa Jawa dan habitatnya. Survei ini mulai diinisiasi pada awal tahun 2016 dan masih terus berlangsung, dan rencananya akan mencakup beberapa wilayah hutan di Pegunungan Dieng.
tim survey Owa 

       Dalam survei ini kami menggunakan metode vocal count atau triangulasi untuk mengetahui sebaran dan jumlah kelompok Owa. Untuk metode vocal count ini kami hanya perlu stand by di lokasi-lokasi yang dipilih sebagai listening posts dalam waktu bersamaan untuk mencatat bila terdengar nyanyian owa Jawa betina. Dari pencatatan waktu bersuara, arah sumber suara (diukur menggunakan kompas dalam sudut), dan jarak sumber suara dari pendengar, akan diperoleh informasi posisi dan jumlah kelompok owa di area sekitar listening posts. Dalam survei kali ini kami menggunakan tiga listening posts dengan jarak minimum antar post yaitu 300 m yang ditempatkan di area yang cukup tinggi, terbuka, dan tidak ada gangguan suara lain. Metode ini digunakan berdasarkan pola vokalisasi khas yang dimiliki oleh owa Jawa. Sinyal berupa nyanyian dengan great call yang hanya dikeluarkan oleh owa betina dewasa setiap pagi berfungsi sebagai penanda daerah teritorial kelompoknya terhadap kelompok lain. Sementara ini diperkirakan hanya ada sekitar empat kelompok owa Jawa di hutan ini. Tahap selanjutnya akan dilakukan pengamatan langsung untuk mengetahui jumlah individu rata-rata dalam satu kelompok owa Jawa di hutan ini, sehingga nantinya dapat diketahui berapa individu owa Jawa yang bertahan di hutan dataran tinggi ini.

Wednesday, February 24, 2016

Jalak Lawu, nyanyian syahdu di hutan bisu

Di tulis oleh : Asman Adi Purwanto


suara burung Ceret Gunung

Hawa dingin langsung menyeruak menyerang kami yang datang dari dataran rendah, ketika kami datang di Cemoro Kandang. Suhu 13 – 14 derajat celcius saja sudah cukup membuat kami seperti kucing takut dengan air. "Tim monyet "SwaraOwa datang ke Cemoro Kandang di Lereng Selatan Gunung Lawu untuk melakukan pendataan kemungkinan adanya Surili Jawa atau yang biasa kami sebut dengan nama Rekrekan (Presbitys comata)

Saya mungkin satu-satunya anggota tim yang lebih fokus pada kegiatan pengamatan dan konservasi burung. Menjejakan kaki di Lawu adalah yang pertama kali buat saya. Berharap bisa mendapatkan banyak catatan baru yang tidak saya temukan di gunung – gunung lain di Pulau Jawa. Ceret Jawa (Locustella montis ) dan tentu saja sang legenda Jalak Gading atau Anis Gunung (Turdus poliocephalus stresemanni) mejadi target saya disela-sela mencari keberadaan primata endemik Jawa.

Suara-suara burung sudah mulai terdengar dari basecamp cemoro kandang tempat kami nge-pos. Beberapa jenis merupakan suara dari jenis burung yang sudah pernah kami jumpai sebelumnya sehingga bagi kami suara tersebut sudah tidak asing. Dan, kami bisa langsung mengenali suara tersebut. Begitu juga sepanjang jalur pendakian dan jalan setapak yang kami telusuri suara-suara burung dari yang kami kenal sampai dengan suara yang menurut kami masih asing menjadi penyemangat kami mencari keberadaan rekrekan (Presbytis comata) dan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus). Beberapa suara burung yang belum kami kenali, kami mencoba untuk merekam untuk kepentingan identifikasi.

Ceret Gunung (Cettia vulcania)merupakan burung yang paling umum. Di semua jalur yang kami masuki, kami selalu menemukan jenis tersebut. Awalnya saya pikir itu Ceret Jawa (Locustella montis) ternyata setelah yang punya suara keluar dari semak belukar langsung ketahuan. Dan,  ceret jawa yang menjadi target saya, saya hanya mendengarkan suaranya saja tanpa melihat langsung wujud aslinya.

Di jalur cemoro kandang hal menarik lainnya selain melimpahnya jenis ceret gunung, kami juga menemikan aktifitas Ciu Besar (Pteruthius flaviscapis) yang membawa mangsa di paruhnya dan selalu mengeluarkan suara peringatan. Jantan dan Betina ciu besar selalu bersamaan mengeluarkan suara ketika ada kami dilokasi dimana kami juga menemukan suara Lutung Jawa dihari pertama. Asumsi kami sepasang burung tersebut sedang dalam masa berbiak dan posisi sarang bisa jadi ada di lokasi itu.
Jalak Lawu


Tidak kami cari, keberuntungan datang, si Jalak gading,  atau Jalak Lawu pun akhirnya, menampakan diri dan langsung beraksi di depan camera. Burung ini adalah salah satu ras burung kicau dari marga Turdidae,  yang hanya ada  di G.lawu tidak di jumpai  di tempat lain.

Sekitar 20 jenis burung yang kami jumpai dalam waktu 4 hari, dengan jumlah jenis burung yang kami temukan justru  menjadi keheranan bagi kami. Mengapa demikian?

Hutan lereng selatan gunung lawu memiliki tipe habitat hutan hujan tropis dengan vegetasi yang masih sangat bagus. Bahkan lebih bagus dari Merbabu. Dengan kondisi demikian, ekspektasi kami pada saat berangkat kami dapat menjumpai jenis satwa yang cukup melimpah, mulai dari aves sampai mamalia. Akan tetapi dugaan kami meleset, hutan begitu sepi dari suara burung, jejak mamalia baik jejak kaki dan kotoran, yang ada hanya jejak roda sepeda motor.
Mungkin hal ini terjadi akibat dari dampak penangkapan burung yang cukup tinggi di kawasan tersebut. Pak Kholil, mantri perhutani wilayah magetan dalam obrolan santai mengatakan masih saja ada orang-orang tak bertanggung jawab masuk ke kawasan lawu untuk menangkap burung.
“Yang masuk menangkap burung ya ada saja, mas. Mereka masuk melalui jalan-jalan setapak yang jauh dari pantauan kami”. Jelas pak Kholil, dan keterbatasan personel untuk mengamankan kawasan yang luas.

Kegiatan perburuan satwa mempunya dampak yang sangat besar terhadap populasi satwa di alam khususnya burung. Hilangnya burung burung ini juga mengakibatkan peran penting dari burung tersebut juga hilang. Sudah nyata, menikmati kicauan burung di hutan tidak lagi terdengar, fungsi burung sebagai pengendali hama, sudah dirasakan petani, dan fungsinya digantikan dengan pestisida kimia. 
Dari beberapa pengalaman kami mengunjungi beberapa kawasan hutan yang memiliki intensias penangkapan burungnya tinggi, hutan – hutan menjadi sunyi sekan bisu, " Empty forest syndrome” .

Melalui kegiatan survey surili jawa ini, kami berharap dan mengajak semua pihak untuk berpartisipasi aktif menjaga ekosistem Gunung Lawu. Hal itu disambut baik oleh Komunitas Anak Gunung Lawu  (AGL)  yang mengharapkan hasil dari kegiatan ini dapat menjadi rujukan mereka dalam berkontribusi nyata melestarikan kawasan lawu khususnya di kawasan cemoro kandang hingga ke Puncak Lawu. 

Tuesday, February 23, 2016

Lutung Kelabu dari G.Lawu

Di tulis oleh : Kasih Putri Handayani
e-mail :kasihputri288@gmail.com 
 
Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)


Disambut kabut tebal dan gerimis, Rabu, 10 Februari 2016, akhirnya tim SwaraOwa sampai di Basecamp Pendakian Cemoro Kandang, lereng selatan Gunung Lawu. Misi kami kali ini adalah untuk memperbarui informasi mengenai primata Jawa. Gunung Lawu ini merupakan lokasi pertama yang kami survei terkait potensinya sebagai area distribusi primata, terutama jenis Rekrekan atau Surili (Presbytis comata).

Secara administratif, lereng selatan Gunung Lawu ini merupakan perbatasan antara Kabupaten Karanganyar (Provinsi Jawa Tengah) dengan Kabupaten Magetan (Provinsi Jawa Timur). Kawasan ini juga berkembang menjadi tempat wisata yang cukup ramai, mulai dari Telaga Sarangan, Cemoro Sewu hingga Cemoro Kandang. Jalur pendakian Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu juga merupakan jalur favorit para pendaki gunung untuk mencapai puncak Lawu yang dikenal dengan nama Hargo Dumilah (3.265 mdpl). Selain dari kalangan pecinta alam, beberapa orang mendaki Gunung ini untuk kepentingan ritual.

Sepintas, penutupan lahan sebagian besar kawasan lereng selatan Gunung Lawu ini berupa hutan (hutan tanaman dan hutan alam), yang berbatasan dengan permukiman dan lahan pertanian warga. Nampak pula bekas kebakaran hebat tahun lalu, yang menyisakan tegakan-tegakan batang pinus yang kering. Dilihat dari citra di Google Earth, nampak jelas kebakaran tersebut turut memisah-misahkan kawasan hutan yang ada.

Hutan tanaman di kawasan ini umumnya disusun oleh jenis tanaman pinus, puspa, bintamin dan eucalyptus. Disamping hutan tanaman, lereng selatan Gunung Lawu masih memiliki ekosistem hutan hujan tropis yang sangat menawan. Pohon pasang (Lithocarpus sp., famili Fagaceae) atau pohon oak, tumbuh kokoh dengan batang dan dahan yang menjadi habitat bagi berbagai jenis lumut, paku-pakuan dan anggrek epifit. Cahaya matahari menerobos di sela-sela kanopi hutan yang terbuka, menjadikan lantai hutan terasa lembab terlebih pada musim hujan. Kami pun berulang kali hanya berdecak kagum melihat hutan yang sangat idah ini.
 
Rekrekan (Presbytis comata)
Untuk mencari keberadaan primata, tim swaraOwa bergerak menyusuri jalur pendakian dan jalan-jalan setapak di dalam kawasan hutan, dari sekitar jalur Cemoro Kandang hingga Mojosemi. Dihari pertama survey, belum terlalu jauh kami berjalan dari basecamp Cemoro Kandang, terdengar loudcall Lutung Budeng yang sangat khas. “kekok kekok, kekok kekok”, kurang lebih demikian vokalisasinya. Mendengar panggilan tersebut, kami segera bergerak menaiki punggungan menuju arah datang suara. Akhirnya terlihat oleh kami dua individu lutung yang tengah bergerak di pohon. Namun nampaknya mereka tidak hanya berdua. Terdengar suara berisik individu lain dan juga gerakan dahan-dahan pohon di belakang mereka. Terlihat satu individu lutung yang nampak lebih “gendut” dari individu lainnya, dengan rambut bagian ventral yang berwarna abu-abu keputihan. Rambut di bagian wajah juga nampak keputihan. Mungkin ini yang dimaksud oleh masyarakat setempat, tentang Lutung kelabu. Ketika kami mengumpulkan informasi dari masyarakat, mereka menyatakan belum pernah melihat monyet berjambul dan berbibir merah yang kami cari (Rrekrekan). Namun mereka meyakini ada monyet yang rambut muka dan dadanya berwarna keputihan seperti halnya Rekrekan dalam satu kelompok lutung budeng yang dominan hitam. Dalam satu perjumpaan lain dengan kelompok lutung budeng, variasi warna rambut juga terlihat. Kali ini kami bisa melihat lebih dekat dan jelas, bahwa memang beberapa individu lutung memiliki warna rambut yang keputihan di bagian ventral (dada dan perut), tangan dan bagian dalam kaki. Warna keputihan juga menghiasi bagian luar kaki, tangan dan juga bagian muka.


Satu kelompok lagi kami jumpai di tepi jalan raya pada lereng yang cukup curam. Terlihat satu individu muda (infant) digendong induknya. Bagian kepala dan punggung infant tersebut telah berwarna hitam, sementara bagian depan (dada dan perut) masih berwarna putih kekuningan. Mengetahui keberadaan kami, dengan segera mereka bergerak menjauh dari jalan. Nampak bekas semak di tepi jalan yang mereka lalui. Mereka harus mengambil resiko, keluar dari hutan dan menyeberang jalan raya yang cukup lebar dan ramai untuk mencari makan di hutan seberang jalan. Mungkin seperti inilah cikal-bakal terjadinya fragmentasi hutan.


Habitat Lutung di G.Lawu

Satu hal yang menarik perhatian kami. Kawasan lereng selatan Gunung Lawu ini masih memiliki hutan alam yang vegetasinya masih sangat bagus. Dengan kondisi demikian, kami berharap dapat menjumpai biodiversitas satwa yang tinggi. Namun dugaan kami meleset. Hutan alam yang indah tersebut sangat sepi. Tidak banyak jenis burung yang kami jumpai, yang sebagian besar merupakan jenis burung semak. Apakah ini dampak aktivitas perburuan yang hingga kini masih saja terjadi? Atau memang kami datang diwaktu yang kurang tepat, saat satwa-satwa tersebut tengah bersembunyi. Entahlah. Dan melalui kegiatan serta tulisan ini, kami ingin mengajak sahabat-sahabat semua untuk turut menjaga keseimbangan ekosistem Gunung Lawu, sebagai kawasan pegunungan yang penting secara ekologi , ekonomi, ilmu pengetahuan,wisata dan juga budaya.

Tuesday, February 9, 2016

Survey Rekrekan Jawa Tengah


Tahun monyet 2016, ini kami akan memulai kegiatan konservasi primata Jawa dengan mereview kembali beberapa species primata Jawa yang kurang mendapat perhatian dan perlu informasi terbaru terkait dengan distribusi, populasi, ancaman dan kondisi habitatnya. Salah satu primata jawa yang menjadi prioritas untuk kita perbaharui informasinya adalah “Rekrekan” (Presbytis fredericae).

Penelitian tentang populasi dan distribusi, perilaku dan habitat di antaranya telah dilakukan di Gunung Slamet, Hutan Sokokembang , dan Gunung Merbabu. Saat ini primata ini termasuk kategori endangered dalam IUCN redlistdan mengenai distribusinya hingga saat ini sebaran paling timur yang sudah tercatat secara ilmiah adalah di Gunung Merbabu. Namun beberapa laporan sebelumnya memberi catatan tentang keberadaan monyet pemakan daun ini, terdapat di Gunung Lawu, namun hanya menyebutkan bahwa catatan tersebut berdasarkan informasi warga yang medengar suaranya saja.

Olehkarena itu, tim SwaraOwa bulan februari ini mulai bergerak dari bagian timur propinsi Jawa Tengah, untuk mencari keberadaan Rekrekan, survey ini juga menjadi bagian promosi konservasi primata endemic jawa ke beberapa pihak terkait dan mempromosikan pelestarian monyet ini, untuk memeperkuat nilai fungsinya sebagai jenis endemik Jawa.
Ikuti kabar lapangan dari kegiatan survey Rekrekan di blog ini, akun sosial media kami : twitter, IG, FB @swaraOwa.

Bacaan : 
http://www.iucnredlist.org/details/18125/0
https://www.researchgate.net/publication/275516529_Population_and_distribution_of_Rekrekan_Presbytis_fredericae_in_the_southern_slope_of_Mt_Slamet_Central_Java
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78018