Friday, January 1, 2016
Tuesday, December 22, 2015
2015 : Owa dan Kopi, aroma belantara dari tanah Jawa
Setiap akhir tahun menceritakan yang sudah kita lakukan dan harapan akan tahun baru yang akan datang tentu akan menjadi motivasi tersendiri bagi kita. Tahun 2015 ini untuk project "Kopi dan Konservasi Primata" telah dan sedang berjalan 2 tahun.Inisiasi kegiatan pelestarian primata endemik Jawa yang awalnya melihat kopi sebagai ancaman kelestarian primata, namun kini berubah menjadi bagian penting dari kegiatan ini sendiri mulai membuat mata team swaraOwa selalu terbuka lebar, mendapat banyak teman baru dari obrolan tentang kopi, menambah pengetahuan, memunculkan ide-ide penerapan hasil-hasil penelitian untuk konservasi, dan setidaknya kopi Owa telah menjadi media promosi atau duta konservasi bagi upaya pelestarian owa dari tanah Jawa.
Tahun 2015 ini di awali dengan optimisme bahwa kegiatan
penelitian di hutan sokokembang dan pada umumnya di habitat Owa jawa di Jawa
Tengah ini akan menjadi landasan untuk semua kegiatan pelestarian Owa dan habitatnya.Penelitian-penelitian
telah di mulai untuk melihat
keanekaragaman hidupan liar di habitat kopi hutan atau shade grown coffee di Sokokembang. Pemasangan camera trap dan
inventarisasi vegetasi telah dilakukan di habitat kopi hutan. Jenis-jenis yang
tertangkap camera ini dapat di baca di postingan ini : http://swaraowa.blogspot.co.id/2015/01/hidupan-liar-di-habitat-hutan-kopi.html
Beberapa
penelitian juga telah dan sedang di inisiasi untuk memperoleh gambaran secara umum kondisi
keragaman burung dan jenis-jenis serangga yang membatu penyerbukan tanaman kopi
dan kupu-kupu.
Owa yang setiap
hari bersuara di pagi hari, ternyata kalau di perhatikan secara lebih dalam,
suara ini dapat di bedakan antara satu dan yang lainnya. Dimana perbedaannya,
penelitian Sity Maida dari Universitas Negeri Jakarta mencoba menjawab ini,
bagaimana variasi struktur vokalisasi Owa di hutan Sokokembang. Tulisan singkat
tentang penelitian ini bisa di baca di blog ini : http://swaraowa.blogspot.co.id/2015/10/owa-si-penyanyi-rimba-bagian-2.html
| bajing Jlarang di habitat kopi hutan |
Sampai tulisan
ini turun, analsis data tentang suara owa ini masih dan terus sedang
dilakukan,kita tunggu bagaiman sebenarnya suara ini dapat di gunakan sebagai
identitas tiap idividu (vocal fingger
print).
![]() |
| sedang merekam suara Owa |
Sepanjang tahun
2015, habitat Owajawa di Petungkriyono juga mengalami tekanan cukup tinggi,
salah satunya dari aktifitas manusia yang berkunjung melewati hutan
Sokokembang, kegiatan wisata alam massal yang sedang berkembag di bagian atas
Petungkriyono, mengundang banyak pengunjung datang melewati hutan Sokokembang,
dimana ada akses jalan menuju obyek wisata tersebut. Pengamatan dan monitoring
untuk dampak kegiatan wisata massal ini juga sedang dalam kajian. Sebaran
primata yang selama ini di sekitar jalan antara Kroyakan hingga Sokokembang,
merupakan daerah lintasan primata yang sering menyeberang atau mencari sumber
pakan di sekitar jalan.Geliat perekonomian warga sekitar hutan mulai nampak dari
kegiatan wisata ini, mudah-mudahan juga ada regulasi yang berpihak jauh kedepan
untuk melestarikan potensi wisata yang tidak terbarukan, seperti alam,
satwaliar dan habitatnya.
Bulan November
2015, bisa jadi merupakan titik kritis dari dampak kekeringan di habitat Owa Jawa, khususnya Sokokembang. Hutan yang
terlalu kering, dan suhu yang tinggi menyebabkan sebagian kawasan hutan habitat
Owa juga mengalami kebakaran. Angin yang berhembus kuat juga menyebabkan api
yang kecil dapat dengan cepat menyebar ke hutan.
| Kebakaran habitat Owa bulan november 2015 |
Perburuan satwa
terutama jenis burung, masih terus saja terjadi dengan intensitas yang semakin
tinggi ketika awal musim penguhujan
tahun 2015 ini. Sudah ada kesadaran dari warga sekitar hutan bahwa
burung-burung kini sangat sepi, tidak adalagi yang memakan ulat-ulat di sawah
atau tanaman perkebunan mereka. Secara langsung beberapa warga ini melakukan
konfrontasi dengan para pemburu, memperingatkan sampai meneror kendaraan para
pemburu yang biasanya datang dari luar dusun mereka. Upaya bersama dengan pihak
terkait yang mempunyai wewenang secara hukum hendaknya dapat lebih tegas di
laksanakan di lapangan, mengingat nilai penting sosial, ekonomi dan ekologi
dari burung-burung yang ada di hutan.
Harapan akan
munculnya peneliti-peneliti muda dan pegiat konservasi primata dari sekitar
habitat primata endemik jawa muncul bersamaan dengan acara tahunan yang sudah
kita laksanakan di bulan September (http://swaraowa.blogspot.co.id/2015/10/pelatihan-metode-survey-primata-jalur.html). Kurang lebih 25 peserta dari perwakilan
universitas, lsm, BKSDA, dan Perhutani ikut dalam acara pelatihan metode survey
primata. Kali ini kita bekerjasama dengan teman-teman dari fakultas kehutanan
UGM sebagai panitia acara.
Menyebarluaskan
informasi kepada masyarakat luas tentang pelestarian owa jawa terus dilakukan,
acara gibbon school day, tahun 2015
di habitat owa petungkriyono, menjadi special karena dapat melibatkan guru-guru
biologi SMA/SMK sekabupaten pekalongan. silahkan baca ulasannya di blog ini :
http://swaraowa.blogspot.co.id/2015/10/gibbon-school-day-saatnya-owa-pergi-ke.html
Kopi Owa, menjadi media yang mudah di terima masyarakat lebih luas di luar habitat Owa, produk asli habitat Owa jawa ini menjadi penyemangat untuk melakukan pelestarian Owa dan habitatnya. Selain menjadi matapencaharian warga sekitar hutan, kopi setidaknya menjadi harapan baru bagi perekonomian warga sekitar hutan. Masih banyak pekerjaan yang tidak dapat di lakukan semata oleh tim saat ini, keberlanjutan dan bagaimana produk ini yang selain ramah hutan juga menjadi media promosi konservasi adalah pekerjaan rumah yang juga harus di pecahkan. Dampak langsung maupun tidak langsung dari kegiatan kopi di habitat owa ini dapat dilihat langsung dengan munculnya kedai-kedai kopi yang ada di sekitar Petungkriyono. Hingga saat ini kita ada dua dusun yang terlibat langsung dalam kegiatan kopi dan konservasi primata, untuk yang mengolah kopi Robusta dan kopi Arabica.
![]() |
| Kunjungan guru Biologi SMA/SMK kab Pekalongan |
http://swaraowa.blogspot.co.id/2015/10/gibbon-school-day-saatnya-owa-pergi-ke.html
Kopi Owa, menjadi media yang mudah di terima masyarakat lebih luas di luar habitat Owa, produk asli habitat Owa jawa ini menjadi penyemangat untuk melakukan pelestarian Owa dan habitatnya. Selain menjadi matapencaharian warga sekitar hutan, kopi setidaknya menjadi harapan baru bagi perekonomian warga sekitar hutan. Masih banyak pekerjaan yang tidak dapat di lakukan semata oleh tim saat ini, keberlanjutan dan bagaimana produk ini yang selain ramah hutan juga menjadi media promosi konservasi adalah pekerjaan rumah yang juga harus di pecahkan. Dampak langsung maupun tidak langsung dari kegiatan kopi di habitat owa ini dapat dilihat langsung dengan munculnya kedai-kedai kopi yang ada di sekitar Petungkriyono. Hingga saat ini kita ada dua dusun yang terlibat langsung dalam kegiatan kopi dan konservasi primata, untuk yang mengolah kopi Robusta dan kopi Arabica.
![]() |
| kopi owa Sokokembang, yang di produksi di Ds. Sokokembang |
![]() |
| Kopi Owa yang di produksi oleh tim SwaraOwa |
Kesempatan promosi konservasi owa jawa melalui produk kopi owa ini juga datang di tahun 2016 dengan di terimanya abstract dan terdaftar sebagai perserta di acara kongres primata dunia di Chicago,Amerika.
![]() |
| bersama tim dari wildlife reserve singapore di ds.Tlogohendro |
![]() |
| pelatihan "coffee cupping test " di Gayo, Aceh |
![]() |
| bersama Owner Mari_ngopi (paling kanan) |
kami atas nama segenap keluarga monyet "SwaraOwa" mengucapkan
Selamat Tahun Baru 2016
Semoga tahun
depan harapan harapan kita dapat terlaksana untuk berkontribusi melestarikan alam sekitar kita,
dan terimakasih untuk para pihak yang terlibat langsung maupun tidak dalam
kegiatan “Kopi dan Konservasi Primata tahun 2015”, terimakasih atas kerjasama dan support oleh :
Monday, November 2, 2015
Owa jawa : Identitas Global Kabupaten Pekalongan
![]() |
| foto bersama di kedai kopi Owa |
Tulisan berjudul
What Does Coffee Have to Do With Gibbons? di blog Wildlife Reserve Singapore, menjadi awal dari pertemuan kita dengan mereka, yang telah memberikan dukungan untuk kegiatan pelestarian Owa Jawa di habitat alamnya, dan tulisan ini mengulas kegiatan kunjungan WRS ke habitat owa terkait kegiatan "kopi dan konservasi Primata" Pada tanggal 16 October sampai 19 october
2015, perwakilan WRS memberikan dukungan langsung dengan berkunjung ke lapangan untuk melihat melihat langsung permasalahan dan
kegiatan yang telah dan sedang di lakukan melestarikan owajawa dan juga
peningkatan ekonomi warga sekitar hutan melalui kopi hutan.
Owa dan kopi lah
yang sebernarnya mempertemukan tim swaraOwa dan WRS, sehingga mereka
tertarik untuk datang ke lapangan langsung melihat langsung upaya pelestarian
owajawa wilayah hutan Petungkriyono, Kabupaten Pekalonngan.
Hari pertama tanggal 16 October pagi hari kita mengamati primata di sekitaran
hutan Sokokembang, dan mengenalkan tanaman kopi jenis jenis kopi yang
ada di sekitaran habitat Owa. Menyusuri jalan antara Sokokembang hingga
Kroyakan menjadi menu wajib untuk pengamatan primata di hutan sokokembang.
Kemungkinan bertemu dengan jenis-jenis primata Jawa yang ada di hutan ini juga
sangat tinggi karena kelompok yang di tepi jalan ini relatif mudah
terhabituasi.
Dalam waktu kurang lebih 3 jam menyusuri jalan ini,
setidaknya semua jenis primata di hutan Sokokembang sudah terwakili, Rekrekan (Presbytis fredericae) menjadi primata
yang pertama di jumpai. Owa jawa (Hylobates
moloch) yang semenjak pagi terdengar suaranya,akhirnya juga dijumpai,
meskipun jaraknya yang relatif jauh, namun setidaknya 2 kali perjumpaan dengan
Owa juga sangat meyakinkan bahwa hutan Sokokembang ini juga menjadi tempat
hidup bagi populasi owa yang bagus. Lutung jawa (Trachypithecus auratus) menjadi favorit dalam primate watching ini,
karena kita menjumpai lebih dari 2 kelompok dan masing masing kelompok ternyata
juga tidak terlalu takut dengan kehadiran kita yang mengamati. Ada satu jenis
lagi yang kita amati di hutan sokokembang yaitu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) kelompok monyet ini
di jumpai sedang mencari makan bersama dengan kelompok lutung, dan dengan mudah
juga dapat dikenali dari pola perilakunya yang banyak aktifitas di atas tanah,
dan suaranya yang gaduh.
| lutung jawa |
Selain mengamati
primata, kami juga mengenalkan proses produksi gula aren yang menjadi salah
satu sumber penghasilan warga sekitar hutan habitat Owa, Sokokembang. Siang itu
setelah mengamati primata kita melihat proses pembuatan gula semut aren oleh
salah satu warga Sokokembang. Mulai dari nira sampai menjadi kemasan gula aren
yang siap kita jual ke pasar.
| mak Damuri sedang menjelaskan proses pembuatan gula aren jahe |
Sore harinya,
masih di dusun Sokokembang kita mengadakan acara bersama warga, khususnya
ibu-ibu untuk saling tukar pengalaman bagaimana menyangrai kopi. Acara ini kita
kemas secara fun namun juga ada kompetisinya, yaitu lomba menyangrai kopi.
menyangrai kopi adalah pekerjaan sehari-hari oleh ibu-ibu warga dusun
sokokembang, dan kali ini kita kebetulan ada tamu dari singapore zoo juga yang
tertarik dengan kopi dari habitat owa. Lomba sangrai kopi ini dilakukan secara
tradisional dan hasil sangrainya kemudian kita nilai bersama mana yang terbaik. Kopi yang di sangrai adalah jenis kopi robusta hutan.
![]() |
| suasana lombang sangrai kopi |
Acara lomba
sangrai kopi ini di ikuti oleh 6 orang ibu-ibu perwakilan dari warga
sokokembang, menggunakan kuwali tanah dan kayu bakar yang seperti biasa
dilakukan oleh ibu-ibu Sokokembang.
Di akhir acara
cukup membuat tim peniliai kebingungan juga menentukan mana yang hasil sangrai
yang bagus, dan akhirnya ada salah satu pemenang yang muncul di antara hasil
sangrai tersebut. Menurut tim penilai hasil sangrai dengan disaksikan oleh
ibu-ibu di jelaskan bahwa sangrai kopi dengan peralatan tradisional ini juga
cukup unik, dan hasilnya akan sangat tergantung dengan konsistensi api dan cara
mengaduk kopinya, kadang api dari kayu yang
terlalu besar membuat kopi terlalu hangus di permukaan luar
namun di biji bagian dalam belum terlalu matang.
![]() |
| penilaian hasil sangrai kopi |
Kesokan harinya
kita ajak tamu-tamu dari Singapore Zoo ini menuju dusun Gondang, Desa
Tlogohendro, dusun ini juga telah menjadi bagian kegiatan konservasi owa, melalui produksi kopi Arabica
nya. Perjalanan ke dusun Gondang kita tempuh kurang lebih 1 jam menggunakan
angkutan doplak, yang sehari-hari
juga di gunakan warga untuk transportasi. Di dusun Gondang langsung di sambut
oleh pak Bau (kepala dusun) dan di jamu dengan hangat dengan sajian khas dusun
Gondang yaitu nasi jagung dan sambel krangean.
Di dusun ini kita
melihat bagaimana proses pengolahan kopi arabica mulai dari petik sampai
penjemuran kopi, acara ngobrol dengan warga juga berlangsung dengan penuh canda
karena masing-masing tidak mengerti bahasa yang digunakan.
Tanggal 19
October 2015, perjalanan kunjugan “ Kopi dan Konservasi Owa” ini juga sampai ke pusat
pemerintahan Kabupaten Pekalongan, hari itu juga kita sudah di siapkan acara
oleh kabupaten Pekalongan dalam hal ini
adalah BAPPEDA untuk menghadiri acara pemaparan hasil penelitian oleh tim
peneliti dan capaian keberhasilan konservasi Owa di wilayah kabupaten Pekalongan. Acara ini juga menjadi sangat menarik dan antusias
di ikuti oleh peserta undangan, yang terdiri dari perwakilan kecamatan di kabupaten
pekalongan dan pihak terkait kehutanan di wilayah Kab.Pekalongan, yaitu Dinas kehutanan , perhutani dan BKSDA dan
juga dari anggota DPRD kabupaten pekalongan. Acara diskusi ini sekaligus
menjadi pertemuan awal untuk mendorong kegiatan pelestarian Owa jawa khususnya di Kabupaten Pekalongan agar menjadi agenda
prioritas pemerintah daerah, karena dengan Owa jawa tidak hanya menjadi aset daerah namun juga
dapat menjadi salah satu potensi peningkatan
ekonomi warga sekitar habitat Owa dari kopi yang di kelola dengan ramah untuk
tujuan pemanfaatan hasil hutan yang lestari.
| acara presentasi kegiatan "coffee and primate cnservation" di BAPPEDA Kab.Pekalongan |
Tuesday, October 27, 2015
Pelatihan Metode survey Primata : Jalur khusus melestarikan Primata Indonesia
Di tulis oleh :
Novia
Rachmawati (email : srikandinovia@gmail.com) dan Tungga Dewi H.P (tdhp25@gmail.com)
![]() |
| Peserta Pelatihan Survey Primata 2015 |
Perkenalkan
kami Novia dan Tungga. Kali ini kami di berikesempatan untuk menulis di blog
SwaraOwa, dan berkontribusi dalam kegiatan “Coffee and Primate Conservation
Project 2015”-(CPCP 2015).
Kuranglebih
bulan Mei 2015, dari CPCP mengontak kami sebagai kelompok studi primata yang
aktif di Fakultas Kehutanan UGM, untuk belajar bersama tentang primata
Indonesia khususnya Owa Jawa, dan menceritakan bahwa ada kegiatan
tahunan yang tahun ini akan di lakukan terkait proyek konservasi owa di Jawa
Tengah. Kami dan teman-teman menyambut baik ide ini dan akhirnya bersama
teman-teman di KP3 Primata berdiskusi panjang tentang teknis pelaksanaan
kegiatan ini.
Tujuan kegiatan ini
adalah untuk melestarikan habitat Owa Jawa yang ada di
bagian barat Pegunungan Dieng hususnya yang masuk di wilayah Kabupaten Pekalongan, Kecamatan Petungkriyono melalui penelitian, dan keterlibatan komunitas lokal.
Kami akan mendorong peneliti-peneliti muda dan pegiat konservasi melalui
pelatihan dan praktek lapangan. Diharapkan, kegiatan ini dapat mendorong
munculnya peneliti-peneliti muda di wilayah habitat primata dan sekaligus
membangun jaringan pegiat pelestari primata di Indonesia pada umumnya.
Kegiatan
pelatihan metode survey primata dilaksanakan pada tanggal 14-16 September 2015
yang diikuti oleh 23 peserta. Peserta yang datang berasal dari UNS, UNY, UGM,
AMIKOM Purwokerto, UNNAS, UNSOED, IAR, BKSDA dan Perhutani. Pembicara yang
datang berasal dari IAR (mbak Winar), dari PERHAPPI (Mbak Ike). Mayoritas peserta
berasal dari Fakultas Biologi. Para peserta dan panitia menginap di rumah Pak
Tasuri, dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono
![]() |
| hutan habitat Primata di Sokokembang |
Kegiatan pada hari pertama dimulai pada malam
hari dengan pematerian tentang metode line
transect dan pengamatan satwa nocturnal. Keesokan harinya, peserta dibagi
menjadi tiga kelompok untuk mempraktikkan metode line transect. Saat sore hari, data yang telah di dapat oleh para
peserta di analisis yang dipandu langsung oleh mas wawan. Selain analisis data
juga dilakukan evaluasi mengenai kegiatan pengamatan line transect. Tiap kelompok menceritakan hasil dari pengamatan
dengan metode line transect dan
dilanjutkan dengan pemberian materi dari Mbak Ike. Setelah Ishoma dilanjutkan
dengan pemberian materi vocal count oleh
Mas Wawan lalu dilanjutkan dengan pengamatan satwa nocturnal disekitar jalan
Desa Sokokembang.
![]() |
| praktek pengambilan data Linetransect |
Vocal count
digunakan untuk mengetahui jumlah kelompok Owa Jawa yang ada di Hutan Lindung
Petungkriyono. Pengambilan data vocal
count harus dilakukan pagi-pagi yaitu pada pukul 5-9 pagi saja, karena Owa
Jawa paling aktif bersuara pada waktu tersebut. Semua peserta dan pemateri ikut
mengamati Owa Jawa dan dipandu oleh Mbak Maida ( Mahasiswa UNJ yang sedang
mengambil data skripsi tentang perbedaan suara tiap kelompok Owa Jawa), mbak
Lia yang dulu juga mengambil data skripsi owa jawa dengan metode vocal count.
Setelah
pengambilan data, semua peserta dan pemateri kembali ke rumah Pak Tasuri untuk
sarapan dan packing. Setelah sarapan,
dilakukan analisis dan evaluasi mengenai pengamatan Owa Jawa dengan metode
Vocal count. Pada pukul 12.00 WIB dilakukan penutupan acara dan setelah itu semua
peserta diantarkan pulang oleh panitia.
![]() |
| group diskusi, analisis data line transect |
Banyak
hal yang berkesan selama mengikuti acara ini, mulai dari perjalanan menuju
petungkriyono yang cukup panjang, bertemu teman-teman dari berbagai
universitas, berbagi cerita tentang kegiatan apa saja yang ada di fakultas
mereka, ingin skripsi dengan tema apa dan kebersamaan selama acara berlangsung,
menikmati hidup tanpa adanya listrik dan susahnya mencari sinyal serta melihat
kondisi ekosistem hutan lindung yang masih sangat bagus. Banyak ilmu yang kami
dapat dari acara ini, mulai dari metode apa saja yang digunakan untuk
pengamatan satwa khususnya primata, pengalaman para peserta dan pemateri dan juga cara membuat kopi yang enak.
![]() |
| nyeduh kopi Owa menjadi acara tambahan |
Oh ya, kegiatan ini selain jadi agenda tahunan pelestarian Owa Jawa di Jawa Tengah, juga telah di dukung oleh beberapa lembaga konservasi internasional, diantarana Fortwayne Children's Zoo, Wildlife Reserve Singapore dan Ostrava Zoo. Terimakasih untuk semua yang telah terlibat.
Sunday, October 25, 2015
Owa si Penyanyi Rimba (bagian 2)
oleh : Maida @meeda_yameda
Owa
jawa (Hylobates moloch) merupakan
salah satu primata endemik Jawa yang menggunakan sinyal suara sebagai penanda
daerah kekuasaannya (teritorial). Sinyal suara yang berupa “nyanyian”
dikeluarkan setiap pagi oleh betina dewasa Owa jawa yang berperan sebagai
perwakilan kelompok. Dalam hal ini, Jantan dewasa Owa jawa tidak ikut
berkontribusi, sehingga tidak terjadi duet
call seperti halnya pada jenis gibbon yang lainnya. Jantan dewasa Owa jawa akan
menjadi perwakilan kelompok jika terjadi konflik batas wilayah atau gangguan
yang lainnya dengan melakukan tindakan agresif. Hal tersebut merupakan salah
satu cara untuk mengurangi jumlah energi yang dikeluarkan oleh kelompok dalam
mempertahankan teritorialnya.
Sinyal
komunikasi tersebut digunakan oleh penerima (individu atau kelompok lain) untuk
mengklasifikasikan pengirim sebagai satu anggota atau dari kelas lain (Beecher,
1991 dalam Bee et.al., 2001). Hal tersebut dikarenakan hewan dapat menunjukkan
kemampuannya dalam mengenali dan membedakan individu sejenis dan lainnya pada
berbagai tingkat organisasi sosial (Colgan, 1983 dalam Bee et.al., 2001). Sehingga
dapat diperkirakan akan ada perbedaan nyanyian pada setiap betina dewasa Owa
jawa. Nyanyian tersebut terdiri dari beberapa rangkaian yaitu wa-notes, introduction note, dan great call (pre-trill phase, trill, termination phase). Adanya variasi variabel
vokalisasi seperti frekuensi, durasi, jumlah note pada struktur vokalisasi yang
membentuk nyanyian tersebut, kemungkinan digunakan oleh betina dewasa Owa jawa
sebagai suatu identitas individu.
Pengambilan data
dilakukan dengan menggunakan Listening post (LPS), ini bertujuan agar dalam
sehari bisa mendapatkan suara Owa jawa dari beberapa Individu. Suara Owa jawa
dapat terdengar hingga radius1500m. Suara yang direkam yaitu suara yang
terdengar hingga Listening Post dan
baik untuk direkam, dalam rentang jarak 300-700m dari posisi Owa bersuara. Jarak
tersebut tidak terlalu mempengaruhi frekuensi akan tetapi mempengaruhi tebal
tipisnya note. Tebal tipisnya note ditentukan berdasarkan energi yang terkumpul.
Sehingga, note akan terlihat samar jika kita rekam nyanyian Owa yang jaraknya cukup
jauh. Proses pengolahan data masih berlangsung, untuk membuktikan secara
statistik bahwa terdapat variasi struktur vokalisasi pada setiap individu Owa
jawa.
![]() |
| Sonogram female song bout 2 betina dewasa Owa jawa |
Saturday, October 10, 2015
Gibbon school day, saatnya Owa pergi ke Sekolah
![]() |
| Salah satu slide materi Gibbon School day |
Mengarusutamakan, pelestarian Owa jawa dan habitatnya sudah
seharusnya terus dilakukan. Bisa dilakukan dengan kampanye pelestarian,
penelitian ataupun pemberdayaan masyarakat sekitar hutan habitat Owa. Bulan September 2015, kegiatan penyebar
luasan informasi tentang pelestarian hutan dan Owa jawa telah kami lakukan
dengan menargetkan peserta dari kalangan pendidikan tingkat menengah, SMA, SMK
di wilayah kabupaten Pekalongan. Kegiatan ini dalam rangkaian acara tahunan kami
di habitat owa yaitu Gibbon schoodays.
Dengan melibatkan pegiat pendidikan menengah di harapkan Owa jawa juga semakin
dikenal dan di cintai oleh warga sekitar habitat sendiri, yaitu kalangan
generasi muda anak-anak usia sekolah.
Tanggal 7 September 2015, bersama dengan perhutani
Sakawanabakti Kabupaten Pekalongan, sekaligus acara perkemahan penggalang
tingkat SMA dan SMK (Raida/Raimuna Jawa Tengah) kami menyampaikan presentasi di
hadapan peserta jambore ini. Bertempat di balai kerja Perhutani di Kecamatan Kesesi,
di hadapan kuranglebih 50 peserta terpilih dari SMA dan SMK di wilayah propinsi
Jawa Tengah, penyampaian informasi tetenang Owajawa ini menjadi salah satu
rangkaian acara jambore. Bangga juga dengan kegiatan jambore ini ternyata
maskot acara ini adalah Owajawa, yang memang saat ini masih terdapat di wilayah
Jawa Tengah khsusunya di kabupaten Pekalongan
![]() |
| Presentasi tentang Owajawa untuk peserta Jambore Pramuka |
Tanggal 19 September 2015, basecamp penelitian di
dusun Sokokembang kedatangan tamu guru-guru mata pelajaran biologi di tingkat
kabupaten pekalongan (MGMP SMA/SMK Biologi), kedatangan guru-guru ini adalah
untuk mengenal lebih jauh owajawa dan habitatnya di wilayah hutan
Petungkriyono. 25 peserta yang terdiri guru-guru mata pelajaran biologi ini
kami ajak langsung untuk pengamatan primata (Primate
Watching) di hutan Sokokembang melihat langsung primata endemik Jawa yang ada di wilayah hutan Pekalongan. Pengenalan dan diskusi lebih jauh tentang
kegiatan pelestarian Owajawa ini juga di lakukan di dalam ruang, untuk
presentasi tentang primata-primata di wilayah kabupaten Pekalongan dan kegiatan
pelestariannya. Presentasi yang di bawakan oleh salah satu tim SwaraOwa ini
selanjutnya juga di bagikan kepada guru-guru untuk selanjutnya di informasikan
kepada anak didikdi sekolah masing-masing.
![]() |
| Pengamatan Primata (Primate Watching) |
Salah satu
kesimpulan dari kegiatan ini adalah, antusiasme guru-guru mata Pelajaran Biologi ini sehingga
akan mengadakan acara ini lebih formal untuk peserta didik mereka. Harapannya semoga satwa-satwa langka yang ada di wilayah Kabupaten Pekalongan juga semakin di cintai oleh warga dan mengajak masyarakat umum untuk menghargai hutan, habitat alami sebagai salah satu kekayaan ilmu pengetahuan yang tak ternilai.
![]() |
| Materi dalam ruang, dan diskusi tentang pelestarian Owa Jawa |
Thursday, September 17, 2015
Survey bersama fauna dan flora Kabupaten Pekalongan
![]() |
| mempelajari peta kerja sebelum ke lapangan |
SwaraOwa, September 2015. Kegiatan pelestarian flora dan fauna sudah selayaknya mendapat
perhatian yang lebih serius dari pihak yang berwenang ataupun pembuat
kebijakan, dalam hal ini khususnya pemerintah daerah. Minggu awal di bulan
September 2015 kali ini tim swaraOwa mendampingi pemerintah kabupaten
Pekalongan khususnya melalui Dinas Kehutanan
dan Perkebunan untuk mengidentifikasi flora dan fauna di wilayah
Kabupaten Pekalongan.
Kegiatan ini
sekaligus menjadi kegiatan bersama untuk monitoring dan sosialisasi pelestarian
Owa dan fauna yang dilindungi di wilayah hutan di kabupaten pekalongan.
Yang terlibat
dalam monitoring bersama kali ini adalah 2 orang dari BKSDA jawa tengah, 1orang
dari Perhutani, dan 2 orang dari dinas kehutanan kabupaten pekalongan. Beberapa
lokasi sebaran Owa telah terpetakan oleh survey sebelumnya, dan kali ini kita
memprioritaskan kunjungan kita di wilayah hutan alam di Kec.Lebakbarang (Bantar
kulon) Mendolo) dan Kec. Kajen (Linggo asri) .
Survey selama juga telah berkesempatan mencoba melakukan kegiatan malam untuk melihat
kemungkinan perjumpaan satwa malam, juga dilakukan camera trapping yang di lakukan di jalur ke
gunung Pawon di dusun Mendolo.
Kegiatan ini
menjadi langkah awal yang positif untuk melibatkan langsung smua pihak yang
berwenang untuk mengenal dan memberi masukan kepada pembuat kebijakan
konservasi di wilayah kabupaten pekalongan untuk melestarikan potensi fauna
ataupun flora yang ada di wilayah kabupaten pekalongan.
Hasil monitoring
bersama ini tercatat perjumpaan langsung dengan Owajawa (Hylobates moloch) di Bantarkulon, dan mecatat perjumpaan langsung
(vocal) satu kelompok owa di wilayah linggo asri. Hasil cameratrap yang kita
pasang di wilayah hutan mendolo mencatat hasil 1 individu luwak rase (Viverricula malaccensis).
Kegiatan survey
bersama ini menjadi langkah awal untuk kabupaten pekalongan yang mempunyai
potensi fauna dan flora endemik (hanya ada di wilayah tertentu) sehingga
menjadi prioritas pembangungan konservasi kabupaten dan juga harapannya menjadi
identitas wilayah yang menjadi kebagaan warga kabupaten Pekalongan pada
umumnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)




























