Monday, September 19, 2022

Pencarian Burung Raja Udang, Menyusuri Jeram-jeram Sengkarang

 Oleh : Imam Taufiqurrahman


Pengamatan di penyusuran pertama. Foto oleh tim Lolong Adventure


Pencarian raja-udang kalung-biru di Kecamatan Petungkriyono hingga Lebakbarang tuntas merampungkan lima sungai target. Banyak hal yang sepertinya menarik untuk dibagi. Penyusuran jeram-jeram Kali Sengkarang dengan berperahu, misalnya.

Sebagai gambaran, ruas-ruas sungai lain disusuri jalan kaki. Total 30 kilometer lebih, dikali dua karena tiap survei mensyaratkan pengulangan. Pergerakan sebagian besar dengan mengarah ke hulu, melawan arus. Kalau berperahu kebalikannya; tim tinggal “duduk manis”, bergerak mengikuti arus.

Memang, dari lima sungai target, lebar dan kedalaman Sengkarang terbilang yang paling ideal dilintasi perahu. Pilihannya bisa dengan berarung jeram dalam tim maupun berkayak sendirian. Sementara empat sungai lain punya karakteristik berbeda.

Ambil contoh Welo. Mungkin dapat dilalui perahu, namun tidak dengan model perahu arung jeram. Lebar sungai Welo, terutama di ruas atas, hanya memungkinkan untuk perahu kayak. Namun, badan sungainya yang sempit terbilang ekstrem dan berisiko tinggi. Buat orang yang tidak berpengalaman, seperti seluruh anggota tim survei raja-udang kalung-biru, berkayak di sana bukan pilihan. Terlalu berbahaya. Sementara Kali Pakuluran, Blimbing, dan Wisnu, terlalu dangkal untuk bisa dilintasi perahu.

Di Sengkarang, ruas yang disurvei dengan berperahu masuk area Desa Lolong dan Bantarkulon. Terdapat operator wisata arung jeram Lolong Adventure di sana. Mereka menyambut rencana tim survei dengan terbuka dan bersedia memfasilitasi penyusuran sesuai kebutuhan tim.

Maklum saja, penyusuran dalam rangka mencari Alcedo euryzona agak berbeda dan memerlukan beberapa penyesuaian. Tujuannya saja mencari burung, bukan sekadar wisata basah-basahan. Butuh banyak berhenti di titik-titik tertentu agar tim bisa mengamati burung serta kondisi habitat di sekeliling. Tim juga membawa teropong dan kamera, sehingga pengarungan perlu sangat hati-hati. Toleransi basah-basahannya, kalau bisa, sesedikit mungkin.

Gayung pun bersambut. Crew Lolong Adventurebersedia untuk pengarungan santai bertujuan khusus macam itu. Dalam brosur paket arung jeram yang disediakan, ruas sungai target survei dinamakan Trip Atas Mijahan. Panjang rute tertera 14 kilometer, ditempuh dalam empat jam pengarungan. Titik mula masuk dalam Desa Bantarkulon, berada di atas batas Kecamatan Karanganyar dan Lebakbarang. Akhir rute persis di Lolong Adventure.

Melewati jeram Sengkarang. Foto oleh tim Lolong Adventure

Namun, pengarungan tidak bisa dilakukan sewaktu-waktu. Apalagi untuk Trip Atas Mijahan yang tingkat kesulitannya paling tinggi. Pada peta plot survei kami, ruas itu terentang sekitar 4 kilometer. Rutenya melintasi perbukitan dengan hutan lindung yang rapat dan luas, pada rentang elevasi 200-300 meter di atas permukaan laut.

Meski berada di perbukitan dataran rendah, kontur kawasannya sangat terjal. Berjalan kaki akan terlalu sulit dan menghabiskan banyak waktu. Bila dirata-rata, tim biasanya dapat mencapai titik pengamatan setelah 30-45 menit berjalan menembus hutan. Mencapai titik-titik survei di ruas Sengkarang sangat mungkin jauh lebih lama. Itu pun tidak semua jalur akan tepat mengarah ke titik yang ditentukan.

Di awal obrolan dengan Mas Orik, salah satu pengelola Lolong Adventure, rencana penyusuran akan dilakukan pada Mei. Namun, kenyataannya pengarungan baru terlaksana pada awal dan akhir Agustus. Beberapa kali harus tertunda karena faktor cuaca. Curah hujan tahun ini terbilang tinggi dan tak menentu.

Kondisi Kali Sengkarang di rute pengarungan. Dokumentasi SwaraOwa


Terbukti di awal 2022, Pekalongan mengalami banjir bandang. Seluruh sungai target survei menggelontorkan bebatuan besar dan pohon-pohon tumbang. Longsor terjadi di mana-mana. Saat itu, hujan berlangsung selama dua hari berturut-turut. Sebuah peringatan untuk siapa pun agar waspada dan berhati-hati ketika akan berkegiatan di sana. Buat kami sama saja, berperahu ataupun berjalan kaki, pencarian raja-udang kalung-biru memang harus dalam kondisi aman dan berhati-hati.

Pengarungan

Ratusan, atau mungkin ribuan, kalong besar berterbangan di atas tajuk. Tidur paginya harus terganggu dengan kedatangan kami. Apalagi kehadiran dua perahu karet yang harus dibawa dengan berbagai cara itu: dijunjung, diseret, ditarik—untuk terakhir didorong terjun ke sungai.

Menjumpai kalong sebanyak itu jadi penanda baik; bagi wilayah Lebakbarang dan sekitarnya, bagi pemilik durian dan penikmatnya. Atas jasa si kalong besarlah, pohon-pohon durian kelak akan menghasilkan buah yang lezat.

Pengarungan ke-2. Foto oleh tim Lolong Adventure


Sungai tampak jernih dengan bebatuan aneka ukuran terserak di sepanjang aliran. Di kiri dan kanan, tebing cadas tegak berdiri serupa pagar. Ketinggiannya bervariasi, sekira 3-7 meter dari permukaan air. Arus terbilang bersahabat, ideal untuk pengarungan.

Dua ekor meninting kecil melintas cepat ke arah hulu sambil mengeluarkan lengkingan khasnya. Nyaris tak terlihat karena ternaungi tajuk hutan yang rapat. Kondisi lingkungan yang cukup sesuai untuk raja-udang kalung-biru.

Dua perahu kombinasi biru, putih, dan hitam telah menunggu. Di penyusuran pertama, 3 Agustus, itu, perahu tim survei diisi lima pengamat dan satu juru mudi. Dari SwaraOwa ada Kang Wawan, Adin, dan saya. Kami mengajak Iman dan Budi, anggota Paguyuban Petani Muda Mendolo.

Kru Lolong Adventure sebagai tim penyelamat dan dokumentasi menaiki perahu depan. Sementara perahu kami mengiringi di belakangnya.

Baru saja perahu melaju beberapa meter, juru mudi meneriakkan ‘boom!’. Kata itu menjadi peringatan buat kami untuk bersiap memasuki jeram. Sesuai pengarahan sebelumnya, kami lantas bergeser dari posisi duduk. Tak lagi di pinggir, tetapi duduk di bawah, di bagian dalam perahu. Dalam posisi itu, kaki harus menjejak dengan punggung bersandar agar tubuh tetap stabil menahan goncangan. Dayung harus diangkat tegak lurus.

Perahu pun deras meluncur. Byurrrrrr!

Basah sudah, termasuk binokuler yang kami bawa. Tapi itu tak soal, karena ada jaminan waterproof—yang perlu diuji. Pengamatan baru bisa dilakukan saat perahu melaju lambat atau berhenti. Entah berapa kali kami meminta menepi dan turun dari perahu untuk melihat sekeliling.

Walet linci, cabai bunga-api, dan tepekong jambul jadi jenis yang paling umum dijumpai. Berikutnya ciung-batu siul, merbah corok-corok, takur tenggeret, dan kadalan birah. Jenis yang agak jarang kami jumpai saat survei, misalnya delimukan zamrud dan raja-udang meninting. Si raja-udang teramati saat peyusuran hampir mencapai titik akhir.

Pada pengarungan kedua, 30 Agustus, giliran Ridho, Siswanto, dan Apen yang menemani saya dan Adin. Kala itu, sensasi berarung jeram benar-benar terasa saat perahu kami terbalik di satu jeram sempit. Alhasil, hp, buku catatan, dan sebungkus kretek yang saya kantongi basah, meski sudah dibungkus plastik.

Di pengarungan kedua itu, kami menjumpai jenis lain, macam uncal buau, udang api, dan meninting besar. Menariknya, beberapa ekor kicuit batu juga terlihat, menjadi penanda bahwa musim migrasi telah tiba.

Sementara raja-udang kalung-biru yang jadi target pencarian, tak dijumpai sama sekali dalam dua penyusuran. Namun, tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Kondisi sungai dan hutan yang ada di ruas itu terbilang ideal sebagai habitatnya.

Kami tak ingin terburu-buru menyimpulkan. Apalagi Mas Orik menawarkan untuk melakukan penyusuran lagi sewaktu-waktu. Ya, tentu, di lain waktu.

Friday, September 2, 2022

Peternak lebah perempuan : Inisiasi dari Sawahan untuk Keluarga dan Hutan

 Oleh : Sidiq Harjanto

Mengenalkan lebah klanceng untuk kelompok perempuan di Mendolo

Telah banyak artikel ilmiah maupun populer yang membahas mengenai manfaat budidaya lebah. Dua manfaat utama meliputi: manfaat ekonomi melalui penjualan produk-produk lebah, dan manfaat ekologi lewat jasa penyerbukan lebah. Mengenai jasa penyerbukan, dipercaya bahwa terdapat jasa lebah pada satu di antara tiga jenis makanan yang sehari-hari kita konsumsi.

Di Desa Mendolo, euforia meliponikultur sudah sedemikian terasa di kalangan kaum laki-laki. Mereka yang rata-rata merupakan pemanen madu hutan, merasa menemukan peluang baru lewat kegiatan budidaya. Tak heran, kini mereka berlomba-lomba untuk membudidayakan koloni-koloni lebah di kebun mereka masing-masing. Dengan membudidaya, keberlanjutan bisnis madu bisa lebih terjamin.

Lebah klanceng ( Heterotrigona itama)


Bergulirnya kegiatan budidaya lebah klanceng –atau kami menyebutnya meliponikultur- di desa penyangga habitat owa jawa, membuat kami tertantang untuk menggali lebih dalam manfaat aktivitas ini bagi kalangan masyarakat yang lebih luas. Maka pada 19 Agustus 2022, dibantu Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo, kami mengajak kaum perempuan di Mendolo untuk ikut terlibat dalam hiruk-pikuk aktivitas perlebahan ini. Tidak ada bahaya sengatan dari lebah mungil tersebut memungkinkan siapa saja untuk memeliharanya, termasuk kaum perempuan.

Kami meyakini bahwa kaum perempuan menjadi kelompok strategis dalam memasyarakatkan budidaya lebah klanceng. Setidaknya jika dikaitkan dengan peran perempuan dalam unit keluarganya. Dalam keluarga petani, sosok ibu biasanya masih ikut bekerja di ladang atau kebun bersama suaminya, meskipun dalam porsi yang lebih ringan. Dalam pengasuhan anak, sosok ibu biasanya memiliki intensitas yang lebih besar dalam interaksi dengan putra-putrinya.

Mengenalkan teknik budidaya lebah klanceng

Melihat peran mereka dalam keluarga, kaum perempuan rasa-rasanya bisa mengoptimalkan manfaat lebah bagi manusia melalui meliponikultur. Pertama, keterlibatan perempuan dalam meliponikultur bisa mengoptimalkan manfaat ekonomi lebah. Produk lebah berupa madu maupun pollen punya nilai ekonomi tinggi untuk menambah pemasukan keluarga. Tentu saja, produk lebah yang dipanen ini disisihkan dahulu untuk keperluan sumber nutrisi bagi keluarga. Mengonsumsi madu dan polen menambah daya tahan tubuh sehingga menghindarkan keluarga dari sakit. Hal ini juga berarti bisa meminimalkan pengeluaran untuk biaya pengobatan.

Kedua, pemeliharaan lebah bisa dikombinasikan dengan penataan lingkungan kampung. Perempuan, yang umumnya lebih memperhatikan aspek keindahan dibandingkan laki-laki, bisa menjadi penggeraknya. Bayangkan, kampung yang dihias aneka jenis bebungaan tentu akan menarik hati siapa saja. Di sisi lain, nektar dan serbuk sari dari bebungaan merupakan sumber pakan bagi lebah. Aneka jenis tanaman sayur bisa diintegrasikan. Di satu sisi, beberapa jenis tanaman sayur seperti cabai dan terong bisa menjadi sumber pakan bagi lebah. Sementara di sisi lain, tanaman-tanaman itu mendapatkan bantuan penyerbukan dari para lebah.

Desa Sawahan, Mendolo


Ketiga, ada peluang untuk memanfaatkan lebah sebagai media pembelajaran bagi anak-anak. Banyak aspek kehidupan lebah yang bisa menginspirasi kita. Misalnya, kebiasaan lebah menyimpan madu dan roti lebah. Ini bisa diibaratkan sebagai kebiasaan menabung. Kita bisa belajar etos kerja kepada lebah sebagai serangga pekerja keras. Mereka beraktivitas sepanjang hari. Uniknya, pembagian kerja mereka juga tampak jelas. Ada ratu lebah sebagai pemimpin, lalu lebah perawat yang mengurusi lebah-lebah uda yang baru saja menetas. Ada kumpulan lebah penjaga yang memastikan keamanan sarang. Pada fase alhir, lebah-lebah yang paling senior bertugas mencari dan mengumpulkan pakan.

Harapan kami, pengenalan meliponikultur bagi kaum perempuan di Mendolo bisa menjadi pintu masuk baru dalam menggugah kesadaran kritis masyarakat di sekitar hutan dalam pengelolaan sumber daya alam secara lestari, sekaligus berwirausaha mandiri yang mendukung konservasi. Melalui pembudidayaan lebah, semua kalangan masyarakat diajak untuk mengembangkan potensi masing-masing dengan cara yang unik. 

Program pengembangan budidaya lebah untuk perempuan ini, merupakan bagian dari kegiatan konservasi Owa Jawa di Jawa Tengah, SwaraOwa tahun 2022-2023 yang di dukung oleh Mandai Nature dan Fortwayne Children's Zoo.


Tuesday, June 28, 2022

Gerakan sains warga dalam pencarian raja-udang kalung-biru

 Oleh : Imam Taufiqurrahman

Raja-udang kalung-biru oleh Siswanto_2022

Lebih dari 50 orang terlibat sebagai tim survei raja-udang kalung-biru (Alcedo euryzona). Terbagi dalam beberapa tim, mereka menyusuri lima sungai di wilayah Pekalongan guna mencari burung berstatus kritis  tersebut, mengamati habitatnya, dan mencatat perjumpaan berbagai jenis burung lain. Kegiatan SwaraOwa yang didukung oleh Asian Species Action Partnership (ASAP) dan OrientalBird Club (OBC) ini jadi wujud nyata gerakan sains warga atau citizen science.

Sebelum survei berjalan, warga asal tujuh desa sekitar hutan Petungkriyono, Doro, dan Lebakbarang mengikuti pelatihan identifikasi burung dan teknik survei. Pelatihan tersebut dilaksanakan di Desa Mendolo pada 11-12 Maret, dilanjutkan di Desa Pungangan (25 April), Desa Kayupuring (27 April), dan Desa Sidoharjo (26 Mei).

Pelatihan Pungangan, 25 April 2022

Peserta pelatihan Kayupuring, 27 April 2022

Sesi ruang pelatihan di Sidoharjo, 26 Mei 2022

Dalam pelatihan, warga dibekali pengetahuan tentang pengenalan jenis raja-udang kalung-biru, identifikasi, dan ciri-ciri yang membedakannya dari jenis raja-udang lain. Terkait teknik survei, para warga diperkenalkan dengan aplikasi Google Earth yang jadi panduan dalam penyusuran menuju titik-titik pengamatan. Sebagai gambaran, survei dijalankan dengan membagi sungai dalam ruas-ruas pengamatan berjarak 1 kilometer. Dalam tiap ruas, terdapat lima titik pantau yang masing-masing berjarak 200 meter. Dua pengamat akan ditempatkan di tiap titik pantau dan melakukan pengamatan secara serentak selama satu jam.

Selain memastikan keberadaan raja-udang kalung-biru, pengamat diminta untuk mencatat kondisi habitat, jenis burung lain yang terpantau, serta aktivitas manusia yang dijumpai. Semua informasi ini dituliskan dalam sebuah lembar data.

Simulasi survei di Mendolo, 11-12 Maret 2022

Situasi survei di Welo, Juni 2022


Hingga awal Juni, 29 kilometer dari total sekitar 37 kilometer ruas sungai telah dikunjungi. Terdiri dari 10 kilometer di Sungai Welo, 6 kilometer di Sungai Pakuluran, 5 kilometer di Sungai Blimbing (termasuk Sungai Siranda), 2 kilometer di Sungai Sengkarang (termasuk Sungai Kumenyep), dan 6 kilometer di Sungai Wisnu.

Hasil sementara survei terbilang sangat memuaskan. Raja-udang kalung-biru sebagai target berhasil dijumpai di dua sungai, yakni Welo dan Wisnu. Perjumpaan di Sungai Welo terentang dari elevasi 308-715 meter. Sementara perjumpaan di Sungai Wisnu tercatat pada rentang elevasi antara 638-776 meter menjadi catatan baru sebaran raja-udang kalung-biru.

Perjumpaan di Sungai Wisnu yang berada paling barat ini cukup mengesankan. Sebelumnya, tim Wisnu yang terdiri dari warga Desa Mendolo telah menyusuri 4 kilometer ruas sungai dalam tiga kunjungan. Namun, warga yang tergabung dalam Paguyuban Petani Muda Mendolo tersebut tidak menjumpai satu pun raja-udang kalung biru. Baru pada 24 April, tim berhasil mencatat kehadiran dua individu, terdiri dari satu jantan dan satu betina.

Siswanto dari Desa Mendolo

Situasi lokasi survei di Sungai Wisnu, April 2022

Hal yang membanggakan, betina yang teramati berhasil terdokumentasi dengan sangat baik oleh Siswanto Abimanyu, warga Dusun Mendolo Kulon. Sis, begitu ia biasa disapa, berada di titik pantau bersama rekannya M. Risqi Ridholah. Lebih dari setengah jam mereka di lokasi, saat tiba-tiba seekor betina datang dari arah hilir. Burung tersebut bertengger tepat di hadapan mereka, dalam jarak hanya sekitar 3 meter. Hanya beberapa detik saja hingga kemudian betina tersebut terbang ke arah hulu. Beruntung Siswanto sigap memotretnya dengan sangat baik.

Perjumpaan disertai bukti foto tersebut menjadi capaian besar dalam survei. Tak hanya itu, dari diskusi tiap usai pengamatan, para anggota tim saling berbagi informasi hasil temuan di titik mereka. Telah lebih dari 90 jenis burung yang tercatat, di antaranya merupakan jenis penting dan terancam punah, seperti elang jawa (Nisaetus bartelsi), julang emas (Rhyticeros undulatus) atau kacamata biasa (Zosterops melanurus). Beberapa hasil pendataan burung yang dilakukan kemudian dikirimkan ke aplikasi Burungnesia sebagai bentuk kontribusi warga Pekalongan pada sains dan konservasi burung di alam.

Wednesday, June 22, 2022

Yang Muda yang Berkarya, Melestarikan dan Mengembangkan Potensi Desa

 oleh : Sidiq Harjanto

Durian, salah satu potensi wana-tani Desa Mendolo

Generasi muda memegang peran penting dalam membuat inovasi dan perubahan dalam banyak hal, termasuk dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA). Generasi muda memiliki energi yang besar dan didukung kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo telah mencoba mengambil peran dalam pengelolaan SDA di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan.

PPM Mendolo sendiri merupakan sebuah komunitas yang mewadahi para pemuda-pemudi di Desa Mendolo yang memiliki perhatian dalam pengelolaan hutan dengan core bussiness wanatani (agroforestri). Komunitas ini telah didirikan sejak 18 Agustus 2019 dan telah menjalankan berbagai kegiatan, antara lain: rintisan usaha kopi dengan merek ‘Kopi Batir’, unit persemaian aneka tanaman komoditas wanatani, dan pendataan flora-fauna.

Kegiatan Pengamatan Burung di Mendolo

Pada tanggal 14 Juni 2022, Swaraowa memfasilitasi PPM Mendolo untuk membentuk kepengurusan baru dan merancang program yang akan dijalankan selama tiga tahun ke depan. Swaraowa berkepentingan untuk mendukung kegiatan PPM Mendolo agar bisa berkolaborasi dalam membangun skema pengelolaan SDA secara berkelanjutan di kawasan penyangga habitat owa jawa.

Cashudi (31) terpilih secara aklamasi untuk memimpin PPM Mendolo periode 2022-2025. Sebagai koordinator utama, Hudi –panggilan akrabnya- bertanggung jawab atas jalannya program-program komunitas ini. Ada dua tema besar dalam visi-misinya, yaitu: inovasi wanatani dan konservasi. Untuk membantu kinerja kepengurusan, telah dibentuk pula perangkat-perangkat kelembagaan meliputi: sekretaris, bendahara, sie konservasi, sie pertanian peternakan, sie produksi, sie promosi publikasi, dan sie humas.

Melalui musyawarah anggota kali ini juga terungkap bahwa tantangan kedepan bagi PPM Mendolo masih cukup berat. Mulai dari menata usaha-usaha yang telah berjalan sampai dengan memunculkan inovasi-inovasi baru dalam rangka mengoptimalkan potensi desa.

Pertemuan  PPM Mendolo


Usaha kopi yang telah dijalankan selama tiga tahun masih terhambat kendala minimnya modal, infrastruktur pengolahan, dan peralatan-peralatan produksi. Pada pertemuan ini, dihasilkan rumusan tata kelola produksi yang diharapkan bisa mempermudah kinerja tim produksi. M. Ridho (29 th) selaku koordinator produksi kopi, memastikan bahwa usaha kopi yang dijalankan cukup menguntungkan, tetapi skalanya perlu terus ditingkatkan. “Diharapkan peran aktif anggota untuk membantu proses produksi dan pemasarannya,” katanya saat memaparkan rencana kelanjutan usaha Kopi Batir.

Bisnis kopi yang telah dijalankan Ridho dan teman-temannya di PPM Mendolo ini ternyata berdampak signifikan. Dengan peralatan dan modal yang serba terbatas, mereka mampu mengubah tradisi minum kopi di kalangan masyarakat Mendolo. Kini, para warga yang nota bene merupakan petani kopi, tidak lagi mengonsumsi kopi kemasan pabrik. Mereka memilih untuk menyangrai kopi dari kebun mereka sendiri menggunakan mesin rakitan yang dibuat Ridho. Hal ini membuktikan bahwa usaha inovatif sekecil apapun dengan segala keterbatasannya mampu memberikan efek yang melebihi ekspektasi.

Bunga Kayu Babi, penyedia nektar di hutan Desa Mendolo


Akhir Januari lalu, PPM Mendolo telah membuat inovasi dalam mempromosikan durian sebagai salah satu potensi unggulan desa. Melalui program trip wisata grup kecil, komunitas ini mengundang para durian enthusiast untuk datang ke Mendolo dan merasakan langsung atmosfer musim puncak panen durian. Tentu saja, para peserta trip bisa menikmati aneka cita rasa buah tropis itu sepuasnya. Dikombinasikan dengan aktivitas fotografi burung, trip ini diapresiasi dengan sangat baik oleh para peserta. Trip durian ini nantinya diupayakan bisa dilakukan rutin setiap tahun, tentunya dengan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.

Budi Santoso (31) yang memiliki minat besar dalam pengembangan birdwatching (pengamatan burung) sebagai atraksi wisata minat khusus menuturkan bahwa mulai banyak peminat wisata ini, tetapi PPM selaku pengelola mesti memastikan kesiapan pemandu dan paket-paket yang ditawarkan. Dari sisi potensi jenis-jenis burung yang diincar pengamat dan fotografer, Mendolo menyimpan banyak jenis potensial. Hanya saja, perlu dipastikan titik-titik di mana burung-burung itu mudah dijumpai.

Owa jawa di hutan Mendolo

Pada tema konservasi, PPM Mendolo masih akan fokus pada pendataan potensi flora-fauna dan pemetaan serta pemeliharaan mata air di wilayah desa. Rohim (37) selaku Koordinator Sie Konservasi akan mengupayakan agar PPM Mendolo bisa menjadi penggerak kesadaran masyarakat dalam isu-isu konservasi seperti perburuan satwa, kelestarian mata air, dan permasalahan sampah. “Kita mulai dengan memberikan contoh yang baik kepada masyarakat,” katanya.

PPM Mendolo berupaya menyelesaikan permasalahan-permasalahan lingkungan dengan memberikan alternatif pemecahannya. Misalnya dalam hal limbah ternak. Selama ini, limbah ternak yang dihasilkan para peternak sapi nyaris tak termanfaatkan dan dikhawatirkan malah mencemari sungai-sungai yang masih bersih. Sebagai inovasi dalam pengelolaan limbah ini, Sholeh Widiantoro (22) mengusulkan usaha pengolahan kotoran ternak untuk dijadikan pupuk. Tak hanya sekadar usul, dia menawarkan diri untuk memimpin jalannya usaha ini. “Berdasarkan uji coba yang pernah dilakukan, saya menyimpulkan bahwa potensi pasar pupuk ini cukup besar. Bahkan, dari kalangan petani di dalam wilayah desa sendiri banyak yang berminat,” katanya.

Elang jawa, fauna langka hutan Mendolo

Mendolo sebagai desa penghasil madu mulai merasakan dampak lingkungan dari pembalakan liar yang pernah terjadi sekira dua dasawarsa yang lalu. Semakin langkanya kayu babi (Crypteronia sp) dikeluhkan oleh para pemanen maupun peternak lebah madu. Jenis pohon hutan tersebut merupakan sumber pakan utama bagi lebah-lebah Apis dorsata maupun lebah nirsengat (Heterotrigona itama) di Mendolo. Semakin langka kayu babi berimplikasi pada semakin berkurangnya hasil panen madu dan semakin menjauhnya sebaran koloni lebah liar dari kawasan permukiman sehingga semakin menyulitkan pemanenan. “Selain tanaman-tanaman produksi, kami juga akan membibitkan pohon pucung untuk konservasi mata air, dan kayu babi untuk pengayaan pakan lebah,” papar Restu (28) yang memimpin divisi pembibitan.

Selama tiga tahun berkiprah, kegiatan PPM Mendolo masih didominasi kalangan pemuda. Menjadi tantangan lain untuk menarik minat para pemudi untuk ikut terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan komunitas ini. “Para pemudi masih mengalami kendala karena rata-rata kegiatan rapat-rapat PPM dilakukan pada malam hari sedangkan jarak antar dusun cukup jauh dan aksesnya sulit. Hal ini menjadi kesulitan bagi mereka,” kata Hudi yang masih memikirkan solusi untuk memecahkan permasalahan itu.

Tiga tahun ke depan akan menjadi pembuktian bagi Hudi dan kawan-kawannya di Mendolo untuk memberikan alternatif baru nan segar bagi pengelolaan SDA desa secara berkelanjutan. Selamat berkarya, PPM Mendolo! Salam Lestari!


Friday, May 20, 2022

World Bee Day 2022: dari Anton Jansa sampai konservasi hutan habitat owa jawa

 Oleh : Sidiq Harjanto



Pada tahun 2017, Slovenia mengajukan sebuah proposal usulan untuk memperingati Hari Lebah Dunia (World Bee Day) setiap tanggal 20 Mei. Tanggal tersebut merupakan hari kelahiran tokoh bernama Anton Jansa (1734-1773), seorang peternak lebah legendaris asal negeri balkan tersebut. Jansa telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya bagi pengembangan budidaya lebah. Beberapa prinsip penting budidaya lebah dan sistem pengelolaan apiari modern lahir dari tangan dinginnya.

Pada akhir 2017, PBB menerima usulan tersebut sehingga mulai 20 Mei 2018, masyarakat dunia memperingati Hari Lebah Dunia. Hari ini merupakan tahun kelima perayaan tersebut, mengambil tema “Bee Engaged: Celebrating the diversity of bees and beekeeping systems.” Momen ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya keanekaragaman jenis lebah dan variasi sistem budidayanya. Juga mengingatkan kita semua mengenai ancaman dan tantangan yang dihadapi lebah seperti: hilangnya habitat, perubahan iklim, dan pencemaran lingkungan.

Harus diakui, peran Slovenia bukan saja dalam mewujudkan peringatan Hari Lebah Dunia, tetapi juga dalam upaya pengembangan praktik-praktik budidaya lebah yang berkelanjutan. Slovenia sendiri, sejak abad ke-7 hingga saat ini memiliki reputasi yang sangat baik dalam bidang perlebahan. Di sanalah berbagai teknik budidaya lebah madu berkembang. Keuletan para peternak membuat lebah Apis melifera carnica (lebah karniola) sebagai subspesies asli Slovenia menjelma menjadi salah satu lebah madu paling unggul.

Ada beberapa prinsip mendasar dalam praktik budidaya lebah oleh masyarakat Slovenia: berdampingan erat dengan lebah, gaya hidup berkelanjutan, dan produksi pangan lokal. Prinsip-prinsip itu mengantarkan negara berpenduduk 2,1 juta itu menjadi leader dalam budidaya lebah. Slovenia adalah negara dengan jumlah peternak lebah dengan jumlah fantastis dihitung secara perkapita. Kantor Statistik Slovenia mencatat bahwa nyaris lima di antara seribu orang warganya adalah peternak lebah!

Jansa, selain mewariskan teknik budidaya modern juga memberi contoh sebuah relasi indah antara manusia dengan lebah. Ia yang memiliki talenta melukis menggunakan kotak-kotak lebah sebagai media berkreasi, menjadikannya media untuk lukisan indah berwarna-warni. Hingga sekarang, kotak-kotak berhias lukisan itu masih menjadi tradisi bagi peternak lebah di sana. Sebuah praktik yang unik dan menggembirakan ketika budidaya lebah tidak saja berhenti pada tataran teknis, tetapi merentang ke spektrum yang lebih luas.

Lalu apa yang bisa kita ambil dari kisah Anton Jansa, Slovenia, dan Hari Lebah Dunia? 

Bagi Swaraowa, ada kesan emosional tersendiri bahwa pekerjaan kami dalam pengembangan perlebahan memiliki rentang waktu yang beriringan dengan sejarah Hari Lebah Dunia. Baru sekira lima atau enam tahun kami berpartisipasi dalam pengembangan teknik budidaya lebah bagi masyarakat di sekitar habitat owa jawa di Petungkriyono dan Lebakbarang. Memang usia yang masih sangat muda dalam konteks tradisi budidaya, sangat jauh bila dibandingkan dengan apa yang diwariskan Jansa dan Slovenia. Namun, bukankah setiap perjalanan selalu dimulai dengan satu langkah pertama?

Kegiatan pelatihan lebah di tahun 2017


Kita di Indonesia tidak memiliki lebah karniola, si lebah unggul dari Slovenia. Namun jangan lupa, kita adalah negara yang memiliki keanekaragaman jenis lebah madu (Marga Apis) tertinggi di dunia, salah satunya A. cerana yang telah lama dibudidayakan secara tradisional oleh masyarakat perdesaan di Indonesia. Kita juga memiliki lebih dari 40 jenis lebah tanpa sengat (Meliponini). Itulah ladang besar yang mesti kita garap. Upaya memasyarakatkan budidaya lebah perlu terus digalakkan. Pengembangan teknik pemeliharaan jenis-jenis lebah asli atau native menjadi kunci kesuksesan mewujudkan tradisi, persis seperti yang dilakukan oleh rakyat Slovenia dengan karniolanya.

Budidaya lebah di antara tanaman kopi-hutan


panen madu dari kotak lebah klanceng 


Kami percaya bahwa budidaya lebah bukan saja menjanjikan manfaat ekonomi berupa produk lebah bernilai ekonomi tinggi: madu, beepollen, propolis, lilin; dan juga jasa besar bagi ekosistem: penyerbukan. Lebih dari itu, budidaya lebah bisa merekatkan kembali relasi manusia dengan alam yang kian hari kian merenggang tergerus oleh zaman. Sejak awal, kami telah memiliki keyakinan bahwa tradisi budidaya lebah bisa menjadi media dalam membumikan isu-isu konservasi hutan, termasuk mempromosikan perlindungan dan pelestarian owa jawa.

 Kegiatan bididaya lebah untuk mendukung upaya pelestarian Owa Jawa


Hari ini juga (20 Mei)  tatkala Hari Lebah Dunia bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Jika pada 1908 berdirinya Boedi Oetomo menandai bangkitnya kesadaran untuk memerdekaan bangsa melalui nasionalisme dan persatuan, maka pada saat-saat ini kita bisa pula mengambil momentum peringatan itu untuk membangkitkan semangat mengelola sumber daya alam kita dengan lebih baik. Salah satunya melalui budidaya lebah.

Selamat Hari Lebah Dunia!

Friday, April 1, 2022

Pelatihan Guru dan Fasilitator Budaya Mentawai

 oleh Damianus Tateburuk

Foto bersama peserta di acara pembukaan pelatihan


Malinggai Uma Tradisional Mentawai bersekretariat di Dusun Puro II Desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai – Sumatra Barat. Malinggai Uma Tradisional Mentawai dibentuk pada tanggal  05 September 2014 dan untuk memberikan fasilitasi kepada masyarakat umum dalam hal di bidang seni kebudaya, dan  Konservasi keanekaragam hayati asli Pulau Mentawai.

Salah satu kegiatan tahunan yang di kolaborasikan adalah Fasilitasi Pelatihan Guru-guru Dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai, dan kali ini yang ke dua kalinya di selenggarakan, bekerjasama dengan SWARAOWA, yang didukung oleh Mandai Nature dan Fortwayne Children's Zoo.  Sasaran peserta dari acara tersebut adalah, lembaga sekolah dan lembaga bidang kebudayaan, serta Guru BUMEN (Budaya Mentawai).

Tujuan dari Pelatihan tersebut adalah untuk

1.    Memperkenalkan kepada generasi guru-guru lokal budaya Mentawai terhadap keanekaragam hayati hidupan liar yang ada di Mentawai

2.    Memperkenalkan guru-guru lokal budaya mentawai mengenai keanekaragaman primata di pulau Mentawai

3.    Meningkatkan kapasitas guru-guru sekolah budaya mentawai dan tentang nilai penting primata Mentawai dan upaya pelestariannya.

4.    menerapkan hasil pelatihan yang sudah di terima dan mempraktikannya kepada murid-murid sekolah dan murid sekolah budaya mentawai

5.    Revitalisasi jejaring pegiat konservasi keanekaragaman hayati dan kebudayaan Mentawai.


Penampilan tim penari tradisional dari Malinggai Uma

Pemberian sertifikat kepada semua peserta di akhir acara


Acara pelatihan dilaksanakan pada tanggal 1-4 Maret 2022, berlokasi di dusun Tololago Siburut Barat Daya, yang melibatkan total 29 orang, peserta, narasumber, dan panitia. Adapun peserta yang terlibat diambil dari perawakilan guru-guru sekolah budaya mentawai SMP SD, TK , dan Yayasan dan Lembaga, Organisasi masyarakat setempat.

Lokasi kegiatan diselengarakan di Dusun Toloulaggo Desa Kauturei Kecamatan Siberut Barat Daya Kabupaten Kepulauan Mentawai–Sumatra Barat dan Lokasi Pengamatan Survei Lapangan di Kawasan (Resort Malinggai Uma) Toloulaggo Desa Katurei Kacamatan Siberut Barat Daya Kabupaten Kepulauan Mentawai–Sumatra Barat.

foto bersama peserta di hutan, lokasi pengamatan

peserta mencatat jenis satwaliar yang dijumpai

mengenali jenis pohon di hutan Tololago


 Kegiatan acara pelatihan di ketuai oleh Ismael Saumanuk, dan  dimulai pada tanggal 2 Maret 2022, dan dibuka secara resmi oleh pemerintah desa Katurai, Bapak Karlo Saumanuk, diikuti sambutan-sambutan dari Malinggai Uma Oleh Damianus Tateburuk, dari SwaraOwa oleh Nur Aoliya. Selanjutnya presentasi dari 2 narasumber yang kita undang adalah 1. Bp.Antonius Vevbri, S.Si, M.Sc dari Taman Nasional siberut, menyampaikan tentang n keanekargaman hayati dan upaya pelestariannya di Pulau Siberut, dan upaya . Pembicara kedua adalan Bapak Fransiskus Yanuarius M, dari Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai yang menyampaikan pentingnya  budaya/adat dan pelestarian alam mentawai, dan kegiatan-kegiatan Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai.

Dalam hari pertama pelatihan, selain itu di perkenalkan juga oleh tim swaraowa, kartu permainan Alam dan Budaya mentawai, merupakan kartu permainan ingatan, yang dapat  di mainkan oleh usia anak-anak hingga orang dewasa, berisi tentang keanekaragaman hayati dan budaya Mentawai, yang disusun dalam foto dicetak dalam bentuk kartu. Kartu permainan ini merupakan produk dari kegiatan pelatihan sebelumnya. Dimana salah metode penyampaian pesan dan ilmu pengetahuan dari guru ke anak didik adalah melalui kegiatan permainan interaktif.

Peserta pelatihan juga diberikan buku panduan pengamatan primata dan burung, yang telah disusun dan di publikasikan oleh swaraOwa dan malinggai uma mentawai.

 

foto di depan papan larangan berburu Hutan Tololago


Presentasi  hasil pengamatan peserta kepada peserta lainnya 

Foto bersamaa pengamatan di hutan Tololago


Hari ke 2 dan ke 3 dilakukan pengamatan langsung ke hutan di Tololago, peserta di bagi menjadi 3 kelompok yang bernama (Tim Bilou, Tim Simakobu dan Tim Bilou), masing-masing kelompok mengambil jalur pengamatan yang berbeda. Pengamatan dilakukan dari jam 6.30 pagi hingga jam 11.30 , dan kemudian sesi diskusi dan presentasi dari masing-masing kelompok, mempresentasikan jenis-jenis primata dan burung yang dijumpai, serta menceritakan nilai adat atau budaya terkait jenis satwaliar yang di jumpai, misalnya cerita adat atau fabel terkait satwa tersebut.

Yang di jumpai selam 2 hari pengamatan dan yang dapat terdokumentasikan diantaranya dalam foto-foto dibawah ini.

 







Tuesday, March 29, 2022

Inspirasi dari Bali : RoadTrip SwaraOwa

booth swaraowa Jambore Camper Van Indonesia


Mempromosikan kegiatan pelestarian Owa jawa, dilingkungan pegiat konservasi alam dan primata khususnya sudah biasa  kita lakukan. Namun sebenarnya masih banyak komunitas atau kelompok masyarakat lainnya yang tidak atau belum tahu sama-sekali tentang Owa dan upaya pelestariannya.  

Road Trip, “owa goes to Bali’ , menjadi kesempatan yang berbeda bagi tim SWARAOWA berpartisipasi, tanggal 15-17 Maret 2022, kami berangkat 3 orang menuju jambore Camper Van Indonesia.  Camper van Indonesia ini adalah sebuah komunitas yang berkembang sejak pandemic melanda, salah satu nomadic tourism yang tengah berkembang sebagai salah satu kegiatan wisata dan traveling yang menggunakan kendaraan.


Bali, 15 Maret 2022, kami berangkat  menuju jambore Camper Van Indonesia. Tujuan kami adalah mempromosikan owa jawa dan kegiatan konservasi swaraowa kepada peserta jambore dan dukungan lansung kepada panitia jambore. Perjalan dai Pekalongan, tanggal 14 Maret 2021, yang kami persiapkan adalah produk-produk konservasi dari swara owa, poster, banner,foto-foto  tentang primata dan kegiatan swaraOwa.



Karena pembukaan acara sudah lewat, dan setiba kami disana langsung mengatur both supaya kami dapat mengundang peserta lain untuk datang melihat apa yang kami sajikan. Konsep booth yang menyatu dengan tenda dan kendaraan dengan perlengkapan kamping , menjadi media pameran untuk  menggelar produk menjadi kesempatan untuk mengenalkan owa dan kegiatan konservasi owa.

Hari ke 2 lokasi camping pindah ke gunung, di sekitar danau Buyan di pegunungan di Bedugul,  di lokasi ini kami di sediakan oleh panitia booth khusus untuk menggelar pameran produk dan di beri kesempatan untuk berbagi cerita presentasi tentang swaraOwa dan kegiatan-kegiatannya, serta mengenalkan produk-produk pendukung yang kita bawa di acara ini.


 Bali Urban primate watching, menjadi agenda tersendiri setelah acara penutupan jamboree campervan Indonesia. Ada 2 jenis primata diurnal yang dapat di jumpai di Bali, yaitu Lutung ( Trachypithecus auratus) dan Monyet ekor panjang ( Macaca fascicularis). Kami menuju sangeh untuk melihat monyet ekor panjang, kawasan ini sangat terkenal di masa sebelum pandemi, untuk wisatawan lokal maupun domestic melihat monyet yang berada di tempat suci pura puncak bukit sari, yang di bangun pada abad 17 . Tiket masuk sangeh monkey forest Rp1000 per orang dan parkir mobil Rp 5000. Kami menggunakan jasa pemandu untuk berkeliling lokasi hutan yang di dominasi oleh tegakan Dipterocarpus trinervis. Menurut pemandu ada 3  kelompok ( lebih dari 300 individu populasi monyet ekor panjang yang ada di hutan Sangeh,menurut guide,  ada dua kali pemberian pakan dalam sehari, yang diberikan adalah pisang dan makanan snack, makanan kecil yang sering juga dikonsumsi warga sekitar. Dari pengamatan yang kami lakukan selama pemberian pakan, jenis makanan buah (pisang dan nanas) menjadi porsi terbanyak, sementara makanan kecil snack, masih dalam kemasan plastik juga langsung di berikan. 

Setelah dari sangeh kami meluncur ke wilayah Ubud, ada satau site monkey forest yang cukup populer disini, namun kami tidak masuk ke dalam, yang kami lihat adalah kelompok-kelompok monyet ini sudah terlihat di pemukiman dan hotel, berada di atap rumah kebun dan kolam renang.  Kawasan wisata Ubud waktu ini tidak begitu ramai, padahal sebelum pandemi ubud juga merupakan destinasi favorit untuk wisatawan di bali. Hubungan antara monyet monyet dan manusia di kawasan ini juga menjadi obyek penelitian yang dinamis, hubungan antara manusia dan primata non-manusia ini sudah sejak ribuan tahun ada, dan di lokasi lokasi agama nilai penting monyet juga sangat di hargai sebagai bagian dari keyakinan dan kepercayaan 1.

berkunjung ke Tickettothemoon Head Quarter

Ada yang special dalam promo tour Owa ke Bali, bahwa trip ini telah membuka jejaring konservasi Owa kepada pihak yang sama sekali belum kami kenal,  kami berjumpa dengan tim dari Tickettothemoonhammock, yang memproduksi alat outdoor khususnya hammock, berkunjung ke pabrik dan mendapat cerita istimewa dari orang-orang yang bekerja sepenuh hati untuk mengembangkan sebuah produk. Berawal dari tahun 1996 hingga sekarang kurang lebih 300 orang terlibat dalam memproduksi hammock dan memasarkan di seluruh dunia.

 

Literature :

 1 Schilaci, M.A., Engel, G.A., Fuentes, A., Rompis, A., Putra, A., Wandia, I.N., Bailey, J.A., Brogdon, B.G. and Jones-Engel, L., 2010. The not-so-sacred monkeys of Bali: A radiographic study of human-primate commensalism. In Indonesian primates (pp. 249-256). Springer, New York, NY.