Monday, September 19, 2022

Pencarian Burung Raja Udang, Menyusuri Jeram-jeram Sengkarang

 Oleh : Imam Taufiqurrahman


Pengamatan di penyusuran pertama. Foto oleh tim Lolong Adventure


Pencarian raja-udang kalung-biru di Kecamatan Petungkriyono hingga Lebakbarang tuntas merampungkan lima sungai target. Banyak hal yang sepertinya menarik untuk dibagi. Penyusuran jeram-jeram Kali Sengkarang dengan berperahu, misalnya.

Sebagai gambaran, ruas-ruas sungai lain disusuri jalan kaki. Total 30 kilometer lebih, dikali dua karena tiap survei mensyaratkan pengulangan. Pergerakan sebagian besar dengan mengarah ke hulu, melawan arus. Kalau berperahu kebalikannya; tim tinggal “duduk manis”, bergerak mengikuti arus.

Memang, dari lima sungai target, lebar dan kedalaman Sengkarang terbilang yang paling ideal dilintasi perahu. Pilihannya bisa dengan berarung jeram dalam tim maupun berkayak sendirian. Sementara empat sungai lain punya karakteristik berbeda.

Ambil contoh Welo. Mungkin dapat dilalui perahu, namun tidak dengan model perahu arung jeram. Lebar sungai Welo, terutama di ruas atas, hanya memungkinkan untuk perahu kayak. Namun, badan sungainya yang sempit terbilang ekstrem dan berisiko tinggi. Buat orang yang tidak berpengalaman, seperti seluruh anggota tim survei raja-udang kalung-biru, berkayak di sana bukan pilihan. Terlalu berbahaya. Sementara Kali Pakuluran, Blimbing, dan Wisnu, terlalu dangkal untuk bisa dilintasi perahu.

Di Sengkarang, ruas yang disurvei dengan berperahu masuk area Desa Lolong dan Bantarkulon. Terdapat operator wisata arung jeram Lolong Adventure di sana. Mereka menyambut rencana tim survei dengan terbuka dan bersedia memfasilitasi penyusuran sesuai kebutuhan tim.

Maklum saja, penyusuran dalam rangka mencari Alcedo euryzona agak berbeda dan memerlukan beberapa penyesuaian. Tujuannya saja mencari burung, bukan sekadar wisata basah-basahan. Butuh banyak berhenti di titik-titik tertentu agar tim bisa mengamati burung serta kondisi habitat di sekeliling. Tim juga membawa teropong dan kamera, sehingga pengarungan perlu sangat hati-hati. Toleransi basah-basahannya, kalau bisa, sesedikit mungkin.

Gayung pun bersambut. Crew Lolong Adventurebersedia untuk pengarungan santai bertujuan khusus macam itu. Dalam brosur paket arung jeram yang disediakan, ruas sungai target survei dinamakan Trip Atas Mijahan. Panjang rute tertera 14 kilometer, ditempuh dalam empat jam pengarungan. Titik mula masuk dalam Desa Bantarkulon, berada di atas batas Kecamatan Karanganyar dan Lebakbarang. Akhir rute persis di Lolong Adventure.

Melewati jeram Sengkarang. Foto oleh tim Lolong Adventure

Namun, pengarungan tidak bisa dilakukan sewaktu-waktu. Apalagi untuk Trip Atas Mijahan yang tingkat kesulitannya paling tinggi. Pada peta plot survei kami, ruas itu terentang sekitar 4 kilometer. Rutenya melintasi perbukitan dengan hutan lindung yang rapat dan luas, pada rentang elevasi 200-300 meter di atas permukaan laut.

Meski berada di perbukitan dataran rendah, kontur kawasannya sangat terjal. Berjalan kaki akan terlalu sulit dan menghabiskan banyak waktu. Bila dirata-rata, tim biasanya dapat mencapai titik pengamatan setelah 30-45 menit berjalan menembus hutan. Mencapai titik-titik survei di ruas Sengkarang sangat mungkin jauh lebih lama. Itu pun tidak semua jalur akan tepat mengarah ke titik yang ditentukan.

Di awal obrolan dengan Mas Orik, salah satu pengelola Lolong Adventure, rencana penyusuran akan dilakukan pada Mei. Namun, kenyataannya pengarungan baru terlaksana pada awal dan akhir Agustus. Beberapa kali harus tertunda karena faktor cuaca. Curah hujan tahun ini terbilang tinggi dan tak menentu.

Kondisi Kali Sengkarang di rute pengarungan. Dokumentasi SwaraOwa


Terbukti di awal 2022, Pekalongan mengalami banjir bandang. Seluruh sungai target survei menggelontorkan bebatuan besar dan pohon-pohon tumbang. Longsor terjadi di mana-mana. Saat itu, hujan berlangsung selama dua hari berturut-turut. Sebuah peringatan untuk siapa pun agar waspada dan berhati-hati ketika akan berkegiatan di sana. Buat kami sama saja, berperahu ataupun berjalan kaki, pencarian raja-udang kalung-biru memang harus dalam kondisi aman dan berhati-hati.

Pengarungan

Ratusan, atau mungkin ribuan, kalong besar berterbangan di atas tajuk. Tidur paginya harus terganggu dengan kedatangan kami. Apalagi kehadiran dua perahu karet yang harus dibawa dengan berbagai cara itu: dijunjung, diseret, ditarik—untuk terakhir didorong terjun ke sungai.

Menjumpai kalong sebanyak itu jadi penanda baik; bagi wilayah Lebakbarang dan sekitarnya, bagi pemilik durian dan penikmatnya. Atas jasa si kalong besarlah, pohon-pohon durian kelak akan menghasilkan buah yang lezat.

Pengarungan ke-2. Foto oleh tim Lolong Adventure


Sungai tampak jernih dengan bebatuan aneka ukuran terserak di sepanjang aliran. Di kiri dan kanan, tebing cadas tegak berdiri serupa pagar. Ketinggiannya bervariasi, sekira 3-7 meter dari permukaan air. Arus terbilang bersahabat, ideal untuk pengarungan.

Dua ekor meninting kecil melintas cepat ke arah hulu sambil mengeluarkan lengkingan khasnya. Nyaris tak terlihat karena ternaungi tajuk hutan yang rapat. Kondisi lingkungan yang cukup sesuai untuk raja-udang kalung-biru.

Dua perahu kombinasi biru, putih, dan hitam telah menunggu. Di penyusuran pertama, 3 Agustus, itu, perahu tim survei diisi lima pengamat dan satu juru mudi. Dari SwaraOwa ada Kang Wawan, Adin, dan saya. Kami mengajak Iman dan Budi, anggota Paguyuban Petani Muda Mendolo.

Kru Lolong Adventure sebagai tim penyelamat dan dokumentasi menaiki perahu depan. Sementara perahu kami mengiringi di belakangnya.

Baru saja perahu melaju beberapa meter, juru mudi meneriakkan ‘boom!’. Kata itu menjadi peringatan buat kami untuk bersiap memasuki jeram. Sesuai pengarahan sebelumnya, kami lantas bergeser dari posisi duduk. Tak lagi di pinggir, tetapi duduk di bawah, di bagian dalam perahu. Dalam posisi itu, kaki harus menjejak dengan punggung bersandar agar tubuh tetap stabil menahan goncangan. Dayung harus diangkat tegak lurus.

Perahu pun deras meluncur. Byurrrrrr!

Basah sudah, termasuk binokuler yang kami bawa. Tapi itu tak soal, karena ada jaminan waterproof—yang perlu diuji. Pengamatan baru bisa dilakukan saat perahu melaju lambat atau berhenti. Entah berapa kali kami meminta menepi dan turun dari perahu untuk melihat sekeliling.

Walet linci, cabai bunga-api, dan tepekong jambul jadi jenis yang paling umum dijumpai. Berikutnya ciung-batu siul, merbah corok-corok, takur tenggeret, dan kadalan birah. Jenis yang agak jarang kami jumpai saat survei, misalnya delimukan zamrud dan raja-udang meninting. Si raja-udang teramati saat peyusuran hampir mencapai titik akhir.

Pada pengarungan kedua, 30 Agustus, giliran Ridho, Siswanto, dan Apen yang menemani saya dan Adin. Kala itu, sensasi berarung jeram benar-benar terasa saat perahu kami terbalik di satu jeram sempit. Alhasil, hp, buku catatan, dan sebungkus kretek yang saya kantongi basah, meski sudah dibungkus plastik.

Di pengarungan kedua itu, kami menjumpai jenis lain, macam uncal buau, udang api, dan meninting besar. Menariknya, beberapa ekor kicuit batu juga terlihat, menjadi penanda bahwa musim migrasi telah tiba.

Sementara raja-udang kalung-biru yang jadi target pencarian, tak dijumpai sama sekali dalam dua penyusuran. Namun, tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Kondisi sungai dan hutan yang ada di ruas itu terbilang ideal sebagai habitatnya.

Kami tak ingin terburu-buru menyimpulkan. Apalagi Mas Orik menawarkan untuk melakukan penyusuran lagi sewaktu-waktu. Ya, tentu, di lain waktu.

No comments:

Post a Comment