Wednesday, February 24, 2016

Jalak Lawu, nyanyian syahdu di hutan bisu

Di tulis oleh : Asman Adi Purwanto


suara burung Ceret Gunung

Hawa dingin langsung menyeruak menyerang kami yang datang dari dataran rendah, ketika kami datang di Cemoro Kandang. Suhu 13 – 14 derajat celcius saja sudah cukup membuat kami seperti kucing takut dengan air. "Tim monyet "SwaraOwa datang ke Cemoro Kandang di Lereng Selatan Gunung Lawu untuk melakukan pendataan kemungkinan adanya Surili Jawa atau yang biasa kami sebut dengan nama Rekrekan (Presbitys comata)

Saya mungkin satu-satunya anggota tim yang lebih fokus pada kegiatan pengamatan dan konservasi burung. Menjejakan kaki di Lawu adalah yang pertama kali buat saya. Berharap bisa mendapatkan banyak catatan baru yang tidak saya temukan di gunung – gunung lain di Pulau Jawa. Ceret Jawa (Locustella montis ) dan tentu saja sang legenda Jalak Gading atau Anis Gunung (Turdus poliocephalus stresemanni) mejadi target saya disela-sela mencari keberadaan primata endemik Jawa.

Suara-suara burung sudah mulai terdengar dari basecamp cemoro kandang tempat kami nge-pos. Beberapa jenis merupakan suara dari jenis burung yang sudah pernah kami jumpai sebelumnya sehingga bagi kami suara tersebut sudah tidak asing. Dan, kami bisa langsung mengenali suara tersebut. Begitu juga sepanjang jalur pendakian dan jalan setapak yang kami telusuri suara-suara burung dari yang kami kenal sampai dengan suara yang menurut kami masih asing menjadi penyemangat kami mencari keberadaan rekrekan (Presbytis comata) dan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus). Beberapa suara burung yang belum kami kenali, kami mencoba untuk merekam untuk kepentingan identifikasi.

Ceret Gunung (Cettia vulcania)merupakan burung yang paling umum. Di semua jalur yang kami masuki, kami selalu menemukan jenis tersebut. Awalnya saya pikir itu Ceret Jawa (Locustella montis) ternyata setelah yang punya suara keluar dari semak belukar langsung ketahuan. Dan,  ceret jawa yang menjadi target saya, saya hanya mendengarkan suaranya saja tanpa melihat langsung wujud aslinya.

Di jalur cemoro kandang hal menarik lainnya selain melimpahnya jenis ceret gunung, kami juga menemikan aktifitas Ciu Besar (Pteruthius flaviscapis) yang membawa mangsa di paruhnya dan selalu mengeluarkan suara peringatan. Jantan dan Betina ciu besar selalu bersamaan mengeluarkan suara ketika ada kami dilokasi dimana kami juga menemukan suara Lutung Jawa dihari pertama. Asumsi kami sepasang burung tersebut sedang dalam masa berbiak dan posisi sarang bisa jadi ada di lokasi itu.
Jalak Lawu


Tidak kami cari, keberuntungan datang, si Jalak gading,  atau Jalak Lawu pun akhirnya, menampakan diri dan langsung beraksi di depan camera. Burung ini adalah salah satu ras burung kicau dari marga Turdidae,  yang hanya ada  di G.lawu tidak di jumpai  di tempat lain.

Sekitar 20 jenis burung yang kami jumpai dalam waktu 4 hari, dengan jumlah jenis burung yang kami temukan justru  menjadi keheranan bagi kami. Mengapa demikian?

Hutan lereng selatan gunung lawu memiliki tipe habitat hutan hujan tropis dengan vegetasi yang masih sangat bagus. Bahkan lebih bagus dari Merbabu. Dengan kondisi demikian, ekspektasi kami pada saat berangkat kami dapat menjumpai jenis satwa yang cukup melimpah, mulai dari aves sampai mamalia. Akan tetapi dugaan kami meleset, hutan begitu sepi dari suara burung, jejak mamalia baik jejak kaki dan kotoran, yang ada hanya jejak roda sepeda motor.
Mungkin hal ini terjadi akibat dari dampak penangkapan burung yang cukup tinggi di kawasan tersebut. Pak Kholil, mantri perhutani wilayah magetan dalam obrolan santai mengatakan masih saja ada orang-orang tak bertanggung jawab masuk ke kawasan lawu untuk menangkap burung.
“Yang masuk menangkap burung ya ada saja, mas. Mereka masuk melalui jalan-jalan setapak yang jauh dari pantauan kami”. Jelas pak Kholil, dan keterbatasan personel untuk mengamankan kawasan yang luas.

Kegiatan perburuan satwa mempunya dampak yang sangat besar terhadap populasi satwa di alam khususnya burung. Hilangnya burung burung ini juga mengakibatkan peran penting dari burung tersebut juga hilang. Sudah nyata, menikmati kicauan burung di hutan tidak lagi terdengar, fungsi burung sebagai pengendali hama, sudah dirasakan petani, dan fungsinya digantikan dengan pestisida kimia. 
Dari beberapa pengalaman kami mengunjungi beberapa kawasan hutan yang memiliki intensias penangkapan burungnya tinggi, hutan – hutan menjadi sunyi sekan bisu, " Empty forest syndrome” .

Melalui kegiatan survey surili jawa ini, kami berharap dan mengajak semua pihak untuk berpartisipasi aktif menjaga ekosistem Gunung Lawu. Hal itu disambut baik oleh Komunitas Anak Gunung Lawu  (AGL)  yang mengharapkan hasil dari kegiatan ini dapat menjadi rujukan mereka dalam berkontribusi nyata melestarikan kawasan lawu khususnya di kawasan cemoro kandang hingga ke Puncak Lawu. 

Tuesday, February 23, 2016

Lutung Kelabu dari G.Lawu

Di tulis oleh : Kasih Putri Handayani
e-mail :kasihputri288@gmail.com 
 
Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)


Disambut kabut tebal dan gerimis, Rabu, 10 Februari 2016, akhirnya tim SwaraOwa sampai di Basecamp Pendakian Cemoro Kandang, lereng selatan Gunung Lawu. Misi kami kali ini adalah untuk memperbarui informasi mengenai primata Jawa. Gunung Lawu ini merupakan lokasi pertama yang kami survei terkait potensinya sebagai area distribusi primata, terutama jenis Rekrekan atau Surili (Presbytis comata).

Secara administratif, lereng selatan Gunung Lawu ini merupakan perbatasan antara Kabupaten Karanganyar (Provinsi Jawa Tengah) dengan Kabupaten Magetan (Provinsi Jawa Timur). Kawasan ini juga berkembang menjadi tempat wisata yang cukup ramai, mulai dari Telaga Sarangan, Cemoro Sewu hingga Cemoro Kandang. Jalur pendakian Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu juga merupakan jalur favorit para pendaki gunung untuk mencapai puncak Lawu yang dikenal dengan nama Hargo Dumilah (3.265 mdpl). Selain dari kalangan pecinta alam, beberapa orang mendaki Gunung ini untuk kepentingan ritual.

Sepintas, penutupan lahan sebagian besar kawasan lereng selatan Gunung Lawu ini berupa hutan (hutan tanaman dan hutan alam), yang berbatasan dengan permukiman dan lahan pertanian warga. Nampak pula bekas kebakaran hebat tahun lalu, yang menyisakan tegakan-tegakan batang pinus yang kering. Dilihat dari citra di Google Earth, nampak jelas kebakaran tersebut turut memisah-misahkan kawasan hutan yang ada.

Hutan tanaman di kawasan ini umumnya disusun oleh jenis tanaman pinus, puspa, bintamin dan eucalyptus. Disamping hutan tanaman, lereng selatan Gunung Lawu masih memiliki ekosistem hutan hujan tropis yang sangat menawan. Pohon pasang (Lithocarpus sp., famili Fagaceae) atau pohon oak, tumbuh kokoh dengan batang dan dahan yang menjadi habitat bagi berbagai jenis lumut, paku-pakuan dan anggrek epifit. Cahaya matahari menerobos di sela-sela kanopi hutan yang terbuka, menjadikan lantai hutan terasa lembab terlebih pada musim hujan. Kami pun berulang kali hanya berdecak kagum melihat hutan yang sangat idah ini.
 
Rekrekan (Presbytis comata)
Untuk mencari keberadaan primata, tim swaraOwa bergerak menyusuri jalur pendakian dan jalan-jalan setapak di dalam kawasan hutan, dari sekitar jalur Cemoro Kandang hingga Mojosemi. Dihari pertama survey, belum terlalu jauh kami berjalan dari basecamp Cemoro Kandang, terdengar loudcall Lutung Budeng yang sangat khas. “kekok kekok, kekok kekok”, kurang lebih demikian vokalisasinya. Mendengar panggilan tersebut, kami segera bergerak menaiki punggungan menuju arah datang suara. Akhirnya terlihat oleh kami dua individu lutung yang tengah bergerak di pohon. Namun nampaknya mereka tidak hanya berdua. Terdengar suara berisik individu lain dan juga gerakan dahan-dahan pohon di belakang mereka. Terlihat satu individu lutung yang nampak lebih “gendut” dari individu lainnya, dengan rambut bagian ventral yang berwarna abu-abu keputihan. Rambut di bagian wajah juga nampak keputihan. Mungkin ini yang dimaksud oleh masyarakat setempat, tentang Lutung kelabu. Ketika kami mengumpulkan informasi dari masyarakat, mereka menyatakan belum pernah melihat monyet berjambul dan berbibir merah yang kami cari (Rrekrekan). Namun mereka meyakini ada monyet yang rambut muka dan dadanya berwarna keputihan seperti halnya Rekrekan dalam satu kelompok lutung budeng yang dominan hitam. Dalam satu perjumpaan lain dengan kelompok lutung budeng, variasi warna rambut juga terlihat. Kali ini kami bisa melihat lebih dekat dan jelas, bahwa memang beberapa individu lutung memiliki warna rambut yang keputihan di bagian ventral (dada dan perut), tangan dan bagian dalam kaki. Warna keputihan juga menghiasi bagian luar kaki, tangan dan juga bagian muka.


Satu kelompok lagi kami jumpai di tepi jalan raya pada lereng yang cukup curam. Terlihat satu individu muda (infant) digendong induknya. Bagian kepala dan punggung infant tersebut telah berwarna hitam, sementara bagian depan (dada dan perut) masih berwarna putih kekuningan. Mengetahui keberadaan kami, dengan segera mereka bergerak menjauh dari jalan. Nampak bekas semak di tepi jalan yang mereka lalui. Mereka harus mengambil resiko, keluar dari hutan dan menyeberang jalan raya yang cukup lebar dan ramai untuk mencari makan di hutan seberang jalan. Mungkin seperti inilah cikal-bakal terjadinya fragmentasi hutan.


Habitat Lutung di G.Lawu

Satu hal yang menarik perhatian kami. Kawasan lereng selatan Gunung Lawu ini masih memiliki hutan alam yang vegetasinya masih sangat bagus. Dengan kondisi demikian, kami berharap dapat menjumpai biodiversitas satwa yang tinggi. Namun dugaan kami meleset. Hutan alam yang indah tersebut sangat sepi. Tidak banyak jenis burung yang kami jumpai, yang sebagian besar merupakan jenis burung semak. Apakah ini dampak aktivitas perburuan yang hingga kini masih saja terjadi? Atau memang kami datang diwaktu yang kurang tepat, saat satwa-satwa tersebut tengah bersembunyi. Entahlah. Dan melalui kegiatan serta tulisan ini, kami ingin mengajak sahabat-sahabat semua untuk turut menjaga keseimbangan ekosistem Gunung Lawu, sebagai kawasan pegunungan yang penting secara ekologi , ekonomi, ilmu pengetahuan,wisata dan juga budaya.

Tuesday, February 9, 2016

Survey Rekrekan Jawa Tengah


Tahun monyet 2016, ini kami akan memulai kegiatan konservasi primata Jawa dengan mereview kembali beberapa species primata Jawa yang kurang mendapat perhatian dan perlu informasi terbaru terkait dengan distribusi, populasi, ancaman dan kondisi habitatnya. Salah satu primata jawa yang menjadi prioritas untuk kita perbaharui informasinya adalah “Rekrekan” (Presbytis fredericae).

Penelitian tentang populasi dan distribusi, perilaku dan habitat di antaranya telah dilakukan di Gunung Slamet, Hutan Sokokembang , dan Gunung Merbabu. Saat ini primata ini termasuk kategori endangered dalam IUCN redlistdan mengenai distribusinya hingga saat ini sebaran paling timur yang sudah tercatat secara ilmiah adalah di Gunung Merbabu. Namun beberapa laporan sebelumnya memberi catatan tentang keberadaan monyet pemakan daun ini, terdapat di Gunung Lawu, namun hanya menyebutkan bahwa catatan tersebut berdasarkan informasi warga yang medengar suaranya saja.

Olehkarena itu, tim SwaraOwa bulan februari ini mulai bergerak dari bagian timur propinsi Jawa Tengah, untuk mencari keberadaan Rekrekan, survey ini juga menjadi bagian promosi konservasi primata endemic jawa ke beberapa pihak terkait dan mempromosikan pelestarian monyet ini, untuk memeperkuat nilai fungsinya sebagai jenis endemik Jawa.
Ikuti kabar lapangan dari kegiatan survey Rekrekan di blog ini, akun sosial media kami : twitter, IG, FB @swaraOwa.

Bacaan : 
http://www.iucnredlist.org/details/18125/0
https://www.researchgate.net/publication/275516529_Population_and_distribution_of_Rekrekan_Presbytis_fredericae_in_the_southern_slope_of_Mt_Slamet_Central_Java
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78018

Wednesday, January 13, 2016

Kunjungan Universitas Missouri ke Habitat Owa

Tahun 2016 kegiatan pelestarian Owa Jawa di awali dengan kegiatan mengenalkan pada dunia luar bahwa kita mempunyai kekayaan alam yang unik dan kita juga turut aktif menjaga melestarikan keanekaragaman hayati yang ada di sekitar kita. Tamu kita kali ini adalah mahasiswa dari UniversitasMissouri Amerika, yang segaja datang mengunjungi kegiatan project “Kopi dan Konservasi Primata” yang telah dan sedang berjalan di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.

foto bersama Kepala Desa Kayu Puring

Awal kunjungan ini ketika bulan November 2015 pihak kampus Missouri, menghubungi kita setelah menemukan laporan dan kegiatan pelestarian Owa jawa ini lewat website swaraOwa. Mereka waktu itu sedang menyusun kegiatan kunjungan ke Indonesia yang tujuannya adalah untuk mengenal budaya alam dan kegiatan budidaya  pertanian dan kehutanan di Indonesia.

Singkat cerita, tanggal 9 Januari ke 9 mahasiswa dan 2 pengelola trip dari universitas  Missouri datang, dan untuk mengawali kegaitan field trip, kami awali dengan  presentasi tentang Project Kopi dan Konservasi Primata. Bertempat di project kafe patner, kafe @mariNgopi menjadi tempat mengenalkan cerita  kopi hutan dan  Owa Jawa sebagai primata endemik Jawa.

acara presentasi di kafe maringopi (foto Dani)

Kunjungan ke habitat Owa terlaksana tanggal 10 Januari 2015, pagi hari yang kita tentukan tim swaraowa bertemu dengan mahasiswa ini terminal bus  Doro, Kabupten Pekalongan, hal ini dikarenakan untuk masuk ke sokokembang tidak memungkinkan menggunakan kendaraan bis besar, dan kami juga mempertimbangkan warga sokokembang untuk terlibat langsung dalam trip ini, jadi kami membawa tamu-tamu ini menuju Sokokembang menggunakan Doplak, kendaraan pick up angkutan warga dan barang di Petungkriyono.
Sengaja menggunakan kendaraan bak terbuka karena alasan untuk mengamati primata ( Primate-watching)  di jalur hutan sokokembang dari Kroyakan sampai Sokokembang, kendaraan ini pas sekali, dan kita bisa sambil berdiri di belakang mengamati hutan di sekitar jalan  dan primata yang kebetulan berada di pinggir jalan dalam hutan .
Pengamatan Primata
Turun di gerbang ekowisata Petungkriyono, kami langsung di sambut kelompok monyet ekor panjang, dan Rekrekan, dan mulai dari sini obrolan tentang primata dan hutan dimulai. Setidaknya membedakan monyet dan kera juga menjadi hal yang paling sederhana untuk di kenalkan kepada mahasiswa asing ini. Ciri-ciri fisik adalah yang paling mudah di kenali, Owa yang tidak berekor dan monyet dengan ekornya.Namun ada dua jenis monyet berbulu hitam di hutan Sokokembang, yaitu Rekrekan dan Lutung Jawa. Keduanya dapat di bedakan dari warna bulu di dadanya, rekrekan lebih banyak warna putih, dan lutung cenderung gelap semuanya.
Selanjutnya acara di dusun Sokokembang kita sudah di sambut oleh bapak kepala desa Kayupuring, yang mengucapkan selamat datang kepada tamu jauh ini, dan memberikan gambaran sekilas tentang Sokokembang, Primata , potensi-potensi yang ada di habitat Owa jawa ini.
Acara mengenal kopi dan system budidaya selanjutnya menjadi agenda kunjugan sehari di habitat Owa, ke sebelas peserta ini kemudian kami ajak melihat menyusuri tegakan kopi hutan (shade grown coffee) Sokokembang yang menjadi habitat primata jawa dan satwa unik lainnya.
Melihat langsung habitat Owa dan kopi hutan 
Setelah menyusuri hutan dan melihat langsung tanaman kopi hutan, perserta kami ajak berpetualang menikmati cita rasa kopi habitat owa, dengan peralatan seduh manual kopi Arabica, kopi robusta yang sudah kami siapkan kami seduh dan semua peserta kami ajak memberikan komentar tentang kopi yang mereka minum tentu saja sambil menikmati pemandangan hutan disekitar Sokokembang.
coffee cupping  kopi habitat Owa
peserta field trip "Nature, Culture, and Agriculture"
Acara yang menutup rangkaian kegiatan ini adalah River tubbing, di dusun Kayupuring. River tubing  menyusuri sungai Welo, juga menjadi media mengenalkan habitat Owa Jawa dari sungai yang membelah hutan Petungkriyono. Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian kunjugan  nature, culture dan agriculture .
r
River tubing Kali Welo ds.Kayupuring (foto :Purwo)





Tuesday, December 22, 2015

2015 : Owa dan Kopi, aroma belantara dari tanah Jawa


Setiap akhir tahun menceritakan yang sudah kita lakukan dan harapan akan tahun baru yang akan datang tentu akan menjadi motivasi tersendiri bagi kita. Tahun 2015 ini untuk project "Kopi dan Konservasi Primata" telah dan sedang berjalan 2 tahun.Inisiasi kegiatan pelestarian primata endemik Jawa yang awalnya melihat kopi sebagai ancaman  kelestarian primata, namun kini berubah menjadi bagian penting dari kegiatan ini sendiri mulai membuat mata team swaraOwa selalu terbuka lebar, mendapat banyak teman baru dari obrolan tentang kopi, menambah pengetahuan, memunculkan ide-ide penerapan hasil-hasil penelitian untuk konservasi, dan setidaknya kopi Owa telah menjadi media promosi atau duta konservasi bagi upaya pelestarian owa dari tanah Jawa.

Tahun 2015  ini di awali dengan optimisme bahwa kegiatan penelitian di hutan sokokembang dan pada umumnya di habitat Owa jawa di Jawa Tengah ini akan menjadi landasan untuk semua kegiatan pelestarian Owa dan habitatnya.Penelitian-penelitian  telah di mulai untuk melihat keanekaragaman hidupan liar di habitat kopi hutan atau shade grown coffee di Sokokembang. Pemasangan camera trap dan inventarisasi vegetasi telah dilakukan di habitat kopi hutan. Jenis-jenis yang tertangkap camera ini dapat di baca di postingan ini : http://swaraowa.blogspot.co.id/2015/01/hidupan-liar-di-habitat-hutan-kopi.html
Beberapa penelitian juga telah dan sedang di inisiasi untuk  memperoleh gambaran secara umum kondisi keragaman burung dan jenis-jenis serangga yang membatu penyerbukan tanaman kopi dan kupu-kupu.
bajing Jlarang di habitat kopi hutan
Owa yang setiap hari bersuara di pagi hari, ternyata kalau di perhatikan secara lebih dalam, suara ini dapat di bedakan antara satu dan yang lainnya. Dimana perbedaannya, penelitian Sity Maida dari Universitas Negeri Jakarta mencoba menjawab ini, bagaimana variasi struktur vokalisasi Owa di hutan Sokokembang. Tulisan singkat tentang penelitian ini bisa di baca di blog ini : http://swaraowa.blogspot.co.id/2015/10/owa-si-penyanyi-rimba-bagian-2.html
Sampai tulisan ini turun, analsis data tentang suara owa ini masih dan terus sedang dilakukan,kita tunggu bagaiman sebenarnya suara ini dapat di gunakan sebagai identitas tiap idividu (vocal fingger print).
sedang merekam suara Owa

Sepanjang tahun 2015, habitat Owajawa di Petungkriyono juga mengalami tekanan cukup tinggi, salah satunya dari aktifitas manusia yang berkunjung melewati hutan Sokokembang, kegiatan wisata alam massal yang sedang berkembag di bagian atas Petungkriyono, mengundang banyak pengunjung datang melewati hutan Sokokembang, dimana ada akses jalan menuju obyek wisata tersebut. Pengamatan dan monitoring untuk dampak kegiatan wisata massal ini juga sedang dalam kajian. Sebaran primata yang selama ini di sekitar jalan antara Kroyakan hingga Sokokembang, merupakan daerah lintasan primata yang sering menyeberang atau mencari sumber pakan di sekitar jalan.Geliat perekonomian warga sekitar hutan mulai nampak dari kegiatan wisata ini, mudah-mudahan juga ada regulasi yang berpihak jauh kedepan untuk melestarikan potensi wisata yang tidak terbarukan, seperti alam, satwaliar dan habitatnya.

Bulan November 2015, bisa jadi merupakan titik kritis dari dampak kekeringan di habitat Owa Jawa, khususnya Sokokembang. Hutan yang terlalu kering, dan suhu yang tinggi menyebabkan sebagian kawasan hutan habitat Owa juga mengalami kebakaran. Angin yang berhembus kuat juga menyebabkan api yang kecil dapat dengan cepat menyebar ke hutan.
Kebakaran habitat Owa bulan november 2015

Perburuan satwa terutama jenis burung, masih terus saja terjadi dengan intensitas yang semakin tinggi ketika  awal musim penguhujan tahun 2015 ini. Sudah ada kesadaran dari warga sekitar hutan bahwa burung-burung kini sangat sepi, tidak adalagi yang memakan ulat-ulat di sawah atau tanaman perkebunan mereka. Secara langsung beberapa warga ini melakukan konfrontasi dengan para pemburu, memperingatkan sampai meneror kendaraan para pemburu yang biasanya datang dari luar dusun mereka. Upaya bersama dengan pihak terkait yang mempunyai wewenang secara hukum hendaknya dapat lebih tegas di laksanakan di lapangan, mengingat nilai penting sosial, ekonomi dan ekologi dari burung-burung yang ada di hutan.

Harapan akan munculnya peneliti-peneliti muda dan pegiat konservasi primata dari sekitar habitat primata endemik jawa muncul bersamaan dengan acara tahunan yang sudah kita laksanakan di bulan September (http://swaraowa.blogspot.co.id/2015/10/pelatihan-metode-survey-primata-jalur.html). Kurang lebih 25 peserta dari perwakilan universitas, lsm, BKSDA, dan Perhutani ikut dalam acara pelatihan metode survey primata. Kali ini kita bekerjasama dengan teman-teman dari fakultas kehutanan UGM sebagai panitia acara.
Kunjungan guru Biologi SMA/SMK kab Pekalongan
Menyebarluaskan informasi kepada masyarakat luas tentang pelestarian owa jawa terus dilakukan, acara gibbon school day, tahun 2015 di habitat owa petungkriyono, menjadi special karena dapat melibatkan guru-guru biologi SMA/SMK sekabupaten pekalongan. silahkan baca ulasannya di blog ini :
http://swaraowa.blogspot.co.id/2015/10/gibbon-school-day-saatnya-owa-pergi-ke.html

Kopi Owa, menjadi media yang mudah di terima masyarakat lebih luas di luar habitat Owa, produk asli habitat Owa jawa ini menjadi penyemangat untuk melakukan pelestarian Owa dan habitatnya. Selain menjadi matapencaharian warga sekitar hutan, kopi setidaknya menjadi harapan baru bagi perekonomian warga sekitar hutan. Masih banyak pekerjaan yang tidak dapat di lakukan semata oleh tim saat ini, keberlanjutan dan bagaimana produk ini yang  selain ramah hutan juga menjadi media promosi konservasi adalah pekerjaan rumah yang juga harus di pecahkan. Dampak langsung maupun tidak langsung dari kegiatan kopi di habitat owa ini dapat dilihat langsung dengan munculnya kedai-kedai kopi yang ada di sekitar Petungkriyono. Hingga saat ini kita ada dua dusun yang terlibat langsung dalam kegiatan kopi dan konservasi primata, untuk yang mengolah kopi  Robusta  dan kopi  Arabica.

kopi owa Sokokembang, yang di produksi di Ds. Sokokembang

Kopi Owa yang di produksi oleh tim SwaraOwa
Owa Jawa sebagai identitas pergaulan di dunia global mejadi sebuah kebanggaan karena kita sebagai warga asli dari sekitar habitat primata langka ini juga berkontribusi aktif dalam melestarikannya. Kegiatan presentasi di komunitas internasional juga telah dilakukan selama tahun 2015, lewat kunjungan-kunjungan kolega darinegara lain ke habitat owajawa dan melihat langsung situasi di lapangankegiatan konservasi Owa Jawa dan presentasi di acara pertemuan internasional diSingapura beberapa waktu yang lalu.

Kesempatan promosi  konservasi  owa jawa melalui produk kopi owa ini juga datang di tahun 2016 dengan di terimanya abstract dan terdaftar sebagai perserta di acara kongres primata dunia di Chicago,Amerika.

bersama tim dari wildlife reserve singapore di ds.Tlogohendro
Meningkatkan kapastias, menambah pengetahuan tentang kopi Indonesia, promosi kopi dari habitat Owa dan memperluas jaringan "perkopian" telah dan sedang kita lakukan juga, pada tanggal 22-24 Agustus salah satu anggota tim swaraOwa mengikuti pelatihan Cupping test di Gayo, Aceh.

pelatihan "coffee cupping test " di Gayo, Aceh
Mengajak anda untuk berkontribusi bagi kelestarian owa dan habitatnya, kini kopi owa ini dapat anda nikmati di beberapa tempat yang telah menjadi jaringan penjualan dan promosi konservasi Owajawa. Di petungkriyono anda dapat berkunjung langsung ke "Kedai Kopi Owa" milik pak Tasuri yang berada di dusun Sokokembang. Untuk yang berada di Jogja dan sekitarnya, seduhan kopi owa ini dapat anda nikmati di cafe @Mari_ngopi, jalan ngadisuryan 12, sebelah barat alun-alun selatan Jogja.

bersama Owner Mari_ngopi (paling kanan)
Untuk anda yang senang minum kopi dan juga kegiatan pelestarian alam , silahkan berkunjung langsung di markas SwaraOwa, yang berada di jalan Plosokuning 4 no 86, Yogyakarta. Mulai pertengahan tahun 2015 seperangkat alat roasting sekala kecil telah siap mendorong proses produksi kopi dan sekaligus promosi konservasi Owa jawa. Kerjasama penjualan juga telah di iniasiasi untuk tujuan keberlanjutan kegiatan konservasi Owa jawa, bagi anda yang jauh dari outlet-outlet di atas anda dapat berkontribusi  lewat akun twitter  @ndesopetualang, (WA : 0877-3791-0679) juga website kami disini :http://swaraowa.com/sustainable-products/

kami atas nama segenap keluarga monyet "SwaraOwa" mengucapkan

Selamat Tahun Baru 2016

Semoga tahun depan harapan harapan kita dapat terlaksana untuk berkontribusi melestarikan alam sekitar kita, dan terimakasih untuk para pihak yang terlibat langsung maupun tidak dalam kegiatan “Kopi dan Konservasi Primata tahun 2015”, terimakasih atas kerjasama dan support oleh :  







Monday, November 2, 2015

Owa jawa : Identitas Global Kabupaten Pekalongan

foto bersama di kedai kopi Owa
Tulisan berjudul What Does Coffee Have to Do With Gibbons? di blog Wildlife Reserve Singapore, menjadi awal dari pertemuan kita  dengan mereka, yang telah memberikan dukungan untuk kegiatan pelestarian Owa Jawa di habitat alamnya, dan tulisan ini mengulas kegiatan kunjungan WRS ke habitat owa terkait kegiatan "kopi dan konservasi Primata" Pada tanggal 16 October sampai 19 october 2015, perwakilan WRS memberikan dukungan langsung dengan  berkunjung ke  lapangan untuk melihat melihat langsung permasalahan dan kegiatan yang telah dan sedang di lakukan melestarikan owajawa dan juga peningkatan ekonomi warga sekitar hutan melalui kopi hutan.

Owa dan kopi lah yang sebernarnya mempertemukan tim swaraOwa dan WRS, sehingga mereka tertarik untuk datang ke lapangan langsung melihat langsung upaya pelestarian owajawa  wilayah hutan Petungkriyono, Kabupaten Pekalonngan. Hari pertama tanggal 16 October pagi hari kita mengamati primata di sekitaran hutan Sokokembang, dan mengenalkan tanaman kopi jenis jenis kopi yang ada di sekitaran habitat Owa. Menyusuri jalan antara Sokokembang hingga Kroyakan menjadi menu wajib untuk pengamatan primata di hutan sokokembang. Kemungkinan bertemu dengan jenis-jenis primata Jawa yang ada di hutan ini juga sangat tinggi karena kelompok yang di tepi jalan ini relatif mudah terhabituasi.

 
Vvinita, Xavier dan Drew sedang mengamati kelompok lutung di hutan sokokembang
  

Dalam  waktu kurang lebih 3 jam menyusuri jalan ini, setidaknya semua jenis primata di hutan Sokokembang sudah terwakili, Rekrekan (Presbytis fredericae) menjadi primata yang pertama di jumpai. Owa jawa (Hylobates moloch) yang semenjak pagi terdengar suaranya,akhirnya juga dijumpai, meskipun jaraknya yang relatif jauh, namun setidaknya 2 kali perjumpaan dengan Owa juga sangat meyakinkan bahwa hutan Sokokembang ini juga menjadi tempat hidup bagi populasi owa yang bagus. Lutung jawa (Trachypithecus auratus) menjadi favorit dalam primate watching ini, karena kita menjumpai lebih dari 2 kelompok dan masing masing kelompok ternyata juga tidak terlalu takut dengan kehadiran kita yang mengamati. Ada satu jenis lagi yang kita amati di hutan sokokembang yaitu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) kelompok monyet ini di jumpai sedang mencari makan bersama dengan kelompok lutung, dan dengan mudah juga dapat dikenali dari pola perilakunya yang banyak aktifitas di atas tanah, dan suaranya yang gaduh.
lutung jawa 

Selain mengamati primata, kami juga mengenalkan proses produksi gula aren yang menjadi salah satu sumber penghasilan warga sekitar hutan habitat Owa, Sokokembang. Siang itu setelah mengamati primata kita melihat proses pembuatan gula semut aren oleh salah satu warga Sokokembang. Mulai dari nira sampai menjadi kemasan gula aren yang siap kita jual ke pasar.

mak Damuri sedang menjelaskan proses pembuatan gula aren jahe

Sore harinya, masih di dusun Sokokembang kita mengadakan acara bersama warga, khususnya ibu-ibu untuk saling tukar pengalaman bagaimana menyangrai kopi. Acara ini kita kemas secara fun namun juga ada kompetisinya, yaitu lomba menyangrai kopi. menyangrai kopi adalah pekerjaan sehari-hari oleh ibu-ibu warga dusun sokokembang, dan kali ini kita kebetulan ada tamu dari singapore zoo juga yang tertarik dengan kopi dari habitat owa. Lomba sangrai kopi ini dilakukan secara tradisional dan hasil sangrainya kemudian kita nilai bersama mana yang terbaik. Kopi yang di sangrai adalah jenis kopi robusta hutan.
suasana lombang sangrai kopi

Acara lomba sangrai kopi ini di ikuti oleh 6 orang ibu-ibu perwakilan dari warga sokokembang, menggunakan kuwali tanah dan kayu bakar yang seperti biasa dilakukan oleh ibu-ibu Sokokembang.
Di akhir acara cukup membuat tim peniliai kebingungan juga menentukan mana yang hasil sangrai yang bagus, dan akhirnya ada salah satu pemenang yang muncul di antara hasil sangrai tersebut. Menurut tim penilai hasil sangrai dengan disaksikan oleh ibu-ibu di jelaskan bahwa sangrai kopi dengan peralatan tradisional ini juga cukup unik, dan hasilnya akan sangat tergantung dengan konsistensi api dan cara mengaduk kopinya, kadang api  dari kayu yang  terlalu besar  membuat kopi terlalu hangus di permukaan luar namun di biji bagian dalam belum terlalu matang.

penilaian hasil sangrai kopi

Kesokan harinya kita ajak tamu-tamu dari Singapore Zoo ini menuju dusun Gondang, Desa Tlogohendro, dusun ini juga telah menjadi bagian kegiatan  konservasi owa, melalui produksi kopi Arabica nya. Perjalanan ke dusun Gondang kita tempuh kurang lebih 1 jam menggunakan angkutan doplak, yang sehari-hari juga di gunakan warga untuk transportasi. Di dusun Gondang langsung di sambut oleh pak Bau (kepala dusun) dan di jamu dengan hangat dengan sajian khas dusun Gondang yaitu nasi jagung dan sambel krangean.
Di dusun ini kita melihat bagaimana proses pengolahan kopi arabica mulai dari petik sampai penjemuran kopi, acara ngobrol dengan warga juga berlangsung dengan penuh canda karena masing-masing tidak mengerti bahasa yang digunakan.
 
wawancara dengan warga dusun Gondang, Tlogohendro

Tanggal 19 October 2015, perjalanan kunjugan “ Kopi  dan Konservasi Owa” ini juga sampai ke pusat pemerintahan Kabupaten Pekalongan, hari itu juga kita sudah di siapkan acara oleh  kabupaten Pekalongan dalam hal ini adalah BAPPEDA untuk menghadiri acara pemaparan hasil penelitian oleh tim peneliti dan capaian keberhasilan konservasi Owa di wilayah kabupaten Pekalongan. Acara ini juga menjadi sangat menarik dan antusias di ikuti oleh peserta undangan, yang terdiri dari perwakilan kecamatan di kabupaten pekalongan dan pihak terkait kehutanan di wilayah Kab.Pekalongan, yaitu  Dinas kehutanan , perhutani dan BKSDA dan juga dari anggota DPRD kabupaten pekalongan. Acara diskusi ini sekaligus menjadi pertemuan awal untuk mendorong kegiatan pelestarian Owa jawa khususnya di Kabupaten Pekalongan  agar  menjadi agenda prioritas pemerintah daerah, karena dengan Owa jawa tidak hanya menjadi aset daerah namun juga dapat  menjadi salah satu potensi peningkatan ekonomi warga sekitar habitat Owa dari kopi yang di kelola dengan ramah untuk tujuan pemanfaatan hasil hutan yang lestari.

acara presentasi kegiatan "coffee and primate cnservation" di BAPPEDA Kab.Pekalongan