Sunday, May 2, 2021

Semangat baru dari Sipora, Menjaga alam dan Budaya

 Oleh : Damianus Tateburuk ( Malinggai Uma Mentawai)

 



Kebudayaan dan keanekaragaman hayati daerah di Indonesia terwujud dalam beragam bentuk kegiatan dan aktivitas dalam kelompok masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, dan ini ditandai dengan beragam hasil karya dari berbagai kelompok masyarakat budaya yang menunjukkan ciri khas kebudayaanya masing-masing, sebagai contohnya antara lain jenis rumah adat, tarian, musik, seni ukir, pakaian adat, dan bersamaan dengan keanekaragam hayati contohnya antra lain jenis alam, hutan, primata, burung, herpetofouna dan sebagainya, dan secara keseluruhannya kekayaan alamnya masih asli dan bahasa dan lain-lainnya. Seperti yang ada di Mentawai ini, bahwa kebudayaan hidup didalam  jiwa masyarakat bangsa Indonesia dan perlu dilihat sebagai suatu aset negara melalui pemahaman dan lingkungan, tradisi serta potensi-potensi kebudayaan yang dimiliki untuk dapat diberdayakan untuk dapat mencapai tujuan pembangunan nasional.

 

Seni Kebudayaan Dan Konservasi Keanekaragam Hayati yang merupakan salah satu bentuk kearifan lokal di Sumatra Barat, khususnya di Kepulauan Mentawai dikembangakan dalam satu wadah atau perkumpulan dengan menejemen yang sederhana, Wadah atau tempat berkumpulnya pelaku seni kebudayaan dan konservasi keanekaragam hayati biasanya dinamakan perkumpulan, Dari sekian banyaknya organisasi, yayasan, lembaga, pemerintahan dan organisasi ini yang berada di Sumatra Barat, salah satunya adalah Malinggai Uma Tradisional Mentawai.

 


Malinggai Uma Tradisional Mentawai pusat bersekretariat di Dusun Puro II Desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai–Sumatra Barat. Malinggai Uma Tradisional Mentawai ini merupakan sarana bagi berkembangnya  dan pelestarian kebudayaan dan konservasi keanekaragam hayati khususnya, Malinggai Uma Tradisional Mentawai dibentuk pada tanggal  05 September 2014 dan untuk memberikan fasilitasi kepada masyarakat umum dalam hal di bidang seni kebudayaan  Konservasi keanekaragam hayati dan satwa liar dan primata mentawai, Adat Istiadat Mentawai, semoga Malinggai Uma Tradisional Mentawai dapat menjadi tempat / wadah untuk menggali tentang Kebudayaan dan keanekaragam hayati, yang mulai memudar khususnya dikalangan remaja dikarenakan ketidak pedulian masyarakat itu sendiri untuk memperkenalkan kebudayaan dan keanekaragam hayati mentawai tersebut kepada generasi penerus mereka dan pengaruh budaya asing serta kurangnya wadah bagi mereka untuk mengetahui budaya asli mereka sendiri dan ini sangat memprihatinkan sekali, bagi kami sehingga organisasi atas nama Malinggai Uma Tradisional Mentawai sangat berharap dan berkeinginan penuh dengan berdirinya organisasi ini dapat membantu masyarakat untuk mengetahui, menggali serta memahami tentang nilai-nilai seni dan kebudayaan dan serta keanekaragam hayati mentawai dan serta perlindungan satwa dari jenis-jenis primata (Bilou, Simakobu, Simakubu simabulau, Joja, Bokkoi, herpetofouna dan burung-burung mentawai dan sebagainya) yang sekarang ini sudah mulai dilupakan. Malinggai Uma Tradisional Mentawai juga tidak menutup bagi masyarakat diluar mentawai ataupun dari mancanegara untuk mendapatkan informasi tentang kebudayaan dan keanekaragam hayati yang ada di mentawai. Selain itu Malinggai Uma Tradisional Mentawai juga akan terus mengadakan kegiatan seminar-seminar dan pelatihan tentang Kebudayaan dan keanekaragam hayati kedepannya, kegiatan yang telah kami lakukan sebelumnya yaitu “Seminar Pangureijat” (Pernikahan Adat Mentawai), (Pergelaran Seni Budaya Mentawai) (dan Turuk Laggai di Padang), (Pelatihan Guru Dan Fasilitator Sekolah Budaya Mentawai).

Bulan April tanggal 7-8, 2021 yang lalu kami juga telah berhasil melaksanakan sebuah acara pelatihan untuk anak-anak sekolah usia sekolah menengah atas di Dusun Goisooinan, Sipora. Berjudul “ Pelatihan Pengamatan Satwaliar dan Penggunaan Smartphone untuk Promosi Konservasi”.  Kegiatan yang didukung oleh SWARAOWA dari Yogyakarta dan Fortwayne Children’s Zoo dari Indiana Amerika Serikat. Latar belakang acara ini adalah semakin susahnya kita menjumpai satwa-satwa asli mentawai dan generasi muda semakin jauh dari rasa memiliki kekayaan alam mentawai, beberapa daerah khususnya di Mentawai juga sudah bagus sinyal telekomunikasi, dan anak-anak ini hampir setiap hari menggunakan gawai. Oleh karena itu potensi generasi muda mentawai ini perlu di dorong dengan pengalaman-pengalaman lapangan yang memang tidak dapat di sekolah, bagaimana mendokumentasikan alam sekitar mereka dan membuat cerita untuk oranglain supaya lebih tertarik, ataupun mengenalkan diri mereka dan budaya mentawai.


Peserta acara ini adalah 15 orang  anak-anak usia SMA, 10 Orang darai Sipora dan 5 orang dari Siberut, terdiri dari 7 anak perempuan dan 8 anak laki-laki. Acara dilaksanakan 2 hari, dengan susunan acara 1 hari materi kelas dan 1 hari ke hutan. Pemateri yang di undang dalam acara ini adalah dari Birdpacker indonesia, organisasi konservasi burung dari Malang Jawa timur, ada mas Waskito Kukuh dan mbak Devi Ayumandasari, yang akan menyampaikan materi tentang pengamatan burung dan penggunaan smarphone untuk fotografi dan promosi konservasi melalui sosial media. dan tentang primata disampaikan oleh mbak Eka Cahayningrum dari SwaraOwa organisasi konservasi primata dari Yogyakarta yang berkerja untuk konservasi Owa Indonesia.

Hari pertama acara kelas di buka oleh Ketua Malinggai atau  yang mewakili ( Bapak Vincent) dan sambutan-sambutan dari dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab.KepMentawai, dari dinas Pariwisata,  dan dari Desa Goisooinan.

Acara hari pertama setelah pembukaan oleh tarian-tarian adat dari sanggar malinggai Uma dari Siberut Selatan, dilanjutkan dengan  pengenalan dasar-dasar teknik pengamatan alam khususnya untuk satwaliar burung dan primata, dan menggunakan nya sebagai bahan publikasi di media sosial, sperti instagram, facebook, dan whatsapp.

Hari kedua acara dilakukan di hutan yang di bagi menjadi 3 kelompok, pengamatan-pengamatan di dokumentasikan di selesai pengamatan di lalukan presentasi hasil dari masing-masing kelompok.  Dalam menyampaikan presentasi ini peserta juga di perkenalkan oleh para pemateri tetang bagaimana menyajikan data dalam presentasi menggunakan power point yang sederhana dan menarik.

Antusias  peserta yang juga di dampingi para pendamping dari Malinggai Uma, telah berhasil mendokumentasikan foto-foto yang di jumpai selama pengamatan dan beberapa diantaranya juga sudah di upload di sosial media.

Harapannya kegiatan ini dapat memberikan wawasan baru dan pengalaman untuk generasi muda mentawai untuk lebih mengenal apa yang ada di sekitar mereka dan melestarikan identitas budaya asli mentawai.

 

 

 

 

Monday, April 19, 2021

Mengamati Owa Jawa, Sebuah Kisah di Hutan Tombo dan Kalitengah

 Oleh : Devi Candra Lestari 

 

Perkenalkan nama saya Devi Candra Lestari, mahasiswi jurusan akhir yang sedang berusaha meraih gelar untuk membanggakan kedua orang tua di salah satu universitas terbaik di Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan mengambil jurusan S1 Kehutanan. Pandemi COVID-19 yang tiba-tiba saja merebak di seluruh dunia memberikan pengaruh yang cukup besar dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya akademik. Ya, semua mulai dilakukan secara daring, bahkan untuk mahasiswa akhir yang harus melakukan penelitian untuk memperoleh gelar sarjana pun harus benar-benar mempertimbangkan banyak hal, karena saya yakin kesehatan menjadi prioritas utama di masa seperti sekarang ini. Dengan melakukan beberapa konsultasi bersama dosen pembimbing skripsi, akhirnya saya mengambil topik penelitian yang dapat dilakukan secara daring. Hal ini memang memudahkan saya dalam menyelasaikan tugas akhir saya, akan tetapi hal ini membuat saya membuang kesempatan melihat dunia lebih luas dengan alasan “ke lapangan untuk ambil data skripsi”. Hampir setahun saya hanya “menganggur” di rumah hingga akhirnya seorang kakak tingkat memberikan tawaran sebagai relawan di Swaraowa, sebuah lembanga swadaya masayarkat yang bergerak di bidang pelestarian hutan untuk jenis-jenis Owa di Indonesia . Kesempatan relawan ini untuk membantu seorang mahasiswi S2 Institute Pertanian Bogor (IPB) yang mendapat beasiswa dari Swaraowa, yang sedang mengambil data thesis bertemakan bioacoustic Owa Jawa. Setelah banyak menimbang dengan keyakinan bahwa belum tentu kesempatan seperti ini akan datang lagi, saya akhirnya mendaftarkan diri sebagai relawan di SwaraOwa.

Nur Aoliya (Kiri) dan Saya ( kanan)

Namanya Nur Aoliya, saya memanggilnya Mbak Lia, ketertarikannya terhadap primata membuatnya memilih Owa Jawa sebagai obyek penelitian untuk tugas akhirnya, baik saat sedang berusaha memperoleh gelar sarjana saat S1, dan juga untuk saat ini. Pengetahuan yang luas tentang primata dan pengalamannya dalam hal konservasi dan rehabilitasi primata membuatnya memiliki banyak cerita yang menarik untuk didengarkan. Penelitiannya kali ini dimaksudkan untuk mengetahui variasi greatcall suara Owa Jawa di daerah pegunungan dieng. Greatcall disini adalah lengkingan suara keras yang dihasilkan oleh owa betina dewasa, Suara ini menunjukkan bahwa lokasi tersebut merupakan teritori suatu kelompok Owa Jawa yang harus mereka pertahankan dari kelompok lainnya. Variasi akan terbentuk dari berbagai kondisi yang berbeda di tiap titik pengambilan data.

recorder dan shotgun mic

Apabila fotografer memerlukan kamera untuk mendapatkan targetnya, kami memerlukan sebuah senjata yaitu perekam suara, Linear Pulse Code Modulation- PCM dengan device tambahan  shotgun microphone yang khusus untuk digunakan merekam suara satwaliar (baca disini tentang shotgun mic). Alat ini mampu merekam suara Owa Jawa yang terdengar bahkan hingga radius ratusan meter. Nantinya hasil rekaman dari alat ini akan di analisis kembali, divisualisasikan sehingga dapat diketahui sonogram greatcall Owa Jawa di tiap titik pengambilan data-Listening Posts (LPs). Alat ini cukup mudah digunakan, hanya saja dalam menggunakannya perlu menghindari kebisingan seperti suara kendaraan bermotor, suara sumber air yang cukup deras, dan hal lain yang mampu mengganggu kualitas suara dari Owa Jawa itu sendiri. Selain rekaman suara, estimasi jarak dan sudut sumber suara Owa Jawa juga diperlukan untuk mengidentifikasi jumlah kelompok Owa Jawa yang ada. Biasanya, satu kelompok berisi 4 hingga 6 ekor owa yang terdiri dari owa jantan, owa betina, dan anak-anak mereka.


Lutron digital Anemometer,Hygrometer, Termometer and lightmeter

Garmin GPS Handheld

measuring tape

Pengambilan data juga dilakukan untuk data-data lain, seperti data kondisi lingkungan dan juga data vegetasi. Data kondisi lingkungan diambil tiap jam, mulai dari pengamatan dimulai hingga berakhir sekitar pukul 12.00 siang. Data yang diambil berupa data suhu, kelembaban, kecepatan angin, intensitas cahaya, dan kondisi cuaca. Data vegetasi diambil satu kali di tiap lokasi dengan data-data yang diperlukan dalam pembuatan diagram profil pohon. Data-data tersebut akan menunjukkan kondisi yang berbeda di tiap lokasi pengambilan data yang nantinya dapat digunakan sebagai faktor penentu variasi greatcall suara Owa Jawa.

mbak Lia sedang mengambil data vegetasi

Saya berkesampatan untuk membantu Mbak Lia mengambil data di 2 lokasi, karena lokasi lain telah selesai dilakukan pengambilan data. Lokasi pertama berada di Desa Tombo, Kec. Bandar, Kab. Batang. Selama di Desa Tombo, kami menginap di rumah Pak Saatu. Beliau merupakan kepala dusun yang juga bekerja sebagai petani padi. Beliau tinggal bersama istri, anak, dan juga 2 cucunya.

 Salah satu hal menarik yang saya dapatkan dari tinggal di rumah Pak Saatu adalah hangatnya kasih sayang di lingkup keluarga telah membentuk tata karma yang baik untuk anaknya. Apa yang terlintas dalam pikiran anda apabila mendengar tingkah laku anak kecil “jaman now”? Mungkin beberapa akan mengatakan hilang unggah-ungguhnya, atau bahkan beberapa akan mengatakan hilang Jawa-nya (karena saya berasal dari Jawa). Hal ini membuat saya akhirnya memutuskan untuk memulai memperkenalkan diri menggunakan Bahasa Indonesia, bahasa nasional kita, kepada kedua cucu Pak Saatu. Mendengar jawaban mereka, saya menjadi malu. Tata bahasa mereka, jauh lebih baik dibandingkan dengan saya. Bahkan sering kali saya dibuat kebingungan ketika menjawab pertanyaan mereka. Dalam benak saya, saya berfikir, “ setidaknya, Bahasa Krama saya harus sama halusnya lah dengan merek,” tapi eksekusinya, saya hanya bisa menambal beberapa kosakatamenggunakan Bahasa Nasional karena sayapun bingung harus berbicara apa. Sebenarnya, mereka juga telah mengetahui teknologi seperti halnya kita, akan tetapi lingkungan yang terus menjaga tradisi membuat mereka secara sukarela akhirnya juga ikut mengamalkan tradisi tersebut.

Semburat jingga, pagi di Desa Tombo. Foto Nur Aoliya


LPs  (Listening post ) di desa tombo, dihadapkan pada Gunung Kendalisodo. Foto Nur Aoliya


        Selama pengambilan data, kami ditemani oleh Mbah Dasto, yang kebetulan lokasi kebun kopinya cukup dekat dengan lokasi pengambilan data kami. Jarak dari desa menuju lokasi pengambilan data kami cukup jauh, terlebih lagi kami juga masih harus berjalan sekitar 30 menit lamanya. Kenyataan itu menuntut kami untuk berangkat pagi-pagi sekali untuk bisa mencapai titik sebelum pukul 06.00, waktu awal pengambilan data. Berangkat pagi ternyata tidak sepenuhnya memberatkan. Kami selalu disambut semburat jingga pagi Desa Tombo yang hangat dan juga sekelompok ibu-ibu pemetik teh yang tersenyum ramah, bergegas menuju  kebun teh dengan tas dan caping mereka. Penduduk desa ini mayoritas merupakan pemetik teh, petani kopi dan juga petani padi, karena menurut Pak Saatu, desa ini sangat tidak cocok digunakan sebagai lahan perkebunan karena masalah hama yang cukup merepotkan.

sedang merekam suara owa di lokasi LPs

            Suara Owa Jawa beberapa kali terdengar di lokasi ini. Akan tetapi, saya, yang sama sekali belum pernah melihat Owa Jawa secara langsung sangat ingin melihatnya. Satu hari, dua hari, harapan saya pupus dan ini berlanjut hingga hari terakhir. Tak satupun terlihat Owa Jawa yang terlihat, Suara-suara yang terdengar memang berasal dari lokasi yang cukup jauh dari lokasi pengambilan data kami. Pengambilan data akhirnya diakhiri, dan kami akhirnya berpindah ke lokasi selanjutnya yaitu di Desa Kalitengah, Kec. Blado, Kab. Batang.

ikut memetik teh, di perkebunan di sekitar lokasi pengamatan



    Kami akhirnya bertemu keluarga baru di Desa Kalitengah ini. Desa Kalitengah merupakan daerah wisata yang cukup ramai dikunjungi pelancong yang ingin menikmati keindahan kebun teh dan juga menikmati secangkir kopi khas daerah ini. Kami menginap di rumah Pak Sis selama di desa ini. Karena lokasi ini lokasi baru, kami melakukan observasi lapangan selama 2 hari untuk menentukan lokasi pengambilan data. Kami membuka telinga lebar-lebar untuk dapat menemukan suara Owa Jawa sebagai target baru untuk bisa direkam suaranya. Setelah melakukan pencarian, akhirnya kami mendapatkan lokasi pengamatan yang baru, yaitu di sebuah punggungan dekat desa yang berhadapan langsung dengan bukit-bukit dan lembah yang masih sangat rimbun hutannya. Data yang kami peroleh di desa ini tidak jauh berbeda dengan Desa Tombo. Suara Owa Jawa beberapa kali terdengar, tapi tidak satupun Owa Jawa yang terlihat. Akan tetapi, dibandingkan dengan Desa Tombo, suara Owa Jawa di lokasi ini lebih jarang terdengar.

bentang hutan di LPs Kalitengah. Foto Arif Setiawan

Akhirnya setelah 8 hari di lapangan, pengamatan pun selesai. Kami kembali ke Kec. Doro, menuju kontrakan salah satu rekan kami yang juga bekerja di Yayasan SwaraOwa, saya memanggilnya Mbak Alif. Kami menginap untuk satu malam, dan besoknya, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Petungkriyono, melihat-lihat kalau-kalau saya beruntung bisa berjumpa dengan Owa Jawa yang sampai hari terakhir pengamatan belum pernah secara langsung melihatnya. 

Owa jawa yang kami jumpai di Petungkriyono



Perjalanan menuju Petungkriyono sangat menyenangkan. Udara yang masih terasa segar dan pemandangan yang indah cukup menghibur saya. Hingga akhirnya, kami berhenti di sebuah spot wisata yang memang sudah tidak beroperasi lagi. Beruntungnya, setelah kami memarkirkan motor, terlihat Owa Jawa sedang bergelantungan tepat di atas kami. Selain itu, kami juga bertemu sekelompok lutung yang sedang “bersantai” di sebuah pohon. Di lokasi ini, juga terdapat banyak burung yang berterbangan dan berkicauan. Atraksi utama dari spot wisata ini yaitu air terjun. Setelah dirasa cukup puas melihat satwa-satwa yang ada, akhirnya kami memutuskan tracking menuju air terjun tersebut. Setelah sampai, semburan air yang sangat dingin, bebatuan sungai, dan air yang tumpah dari ketinggian, telah menyambut kami. Pemandangan yang cukup menakjubkan. Kami mengabadikan beberapa momen di lokasi ini untuk memnandakan bahwa kami pernah mengunjungi lokasi ini. Rasa penasaran akan bentuk Owa Jawa secara langsung dan rasa lelah yang ditimbun selama pengamatan akhirnya terbayarkan dengan apa yang kami dapatkan di sini. Semoga, kedepannya lokasi ini dapat kembali dibuka sebagai salah satu destinasi spot forest healing yang tidak hanya mengunggulkan air terjunnya, tetapi juga keindahan alam dan satwanya.

air terjun di Petungkriyono. Foto Alfah Dina

Banyak hal yang saya dapatkan selama perjalanan kali ini. Jiwa sosialisasi saya dituntut untuk terbangun kembali setelah sempat “mati” selama “menganggur” di masa Pandemi COVID-19 ini. Unggah-ungguh dan tata karma kembali diasah karena saya juga harus bisa berbaur dengan masyarakat setempat agar kami sama-sama nyaman untuk dapat tinggal bersama. Pengalaman baru juga didapatkan, karena saya baru benar-benar mempraktikan di lapangan bagaimana sebenarnya mengamati primate, terkhusus Owa Jawa. Ilmu-ilmu yang hanya bisa didapatkan selama kita berada di lapangan, bukan saat kita hanya duduk dan mendengarkan ketika di kelas. Kapasitas diri menjadi lebih meningkat dan juga kesempatan ini membuka kesempatan saya untuk membuka jejaring konservasi lebih lebar lagi.

Sunday, March 7, 2021

Penyelamatan Hulu Sungai Kupang, Aksi konservasi Forum Kolaborasi Pengelolaan Hutan Petungkriyono

 oleh : Arif Setiawan @swaraowa

Dusun Lindon, desa Tlogohendro, menjadi lokasi yang menjembatani komunikasi antar pihak dalam wadah forum komunikasi pengelolaan hutan petungkriyono, untuk bertemu dan memulai  aksi bersama di lapangan. Kegiatan lapangan ini menjadi yang pertama kali sejak surat keputusan di keluaran oleh Gubernur jawa tengah, untuk forum kolaborasi pengelolaan hutan Petungkriyono.



Acara yang di inisiasi oleh Perhutani KPH Pekalongan Timur,  Cabang Dinas Kehutanan 4, Jawa Tengah dan SwaraOWA, telah berhasil mengundang  dan mempertemukan pihak-pihak terkait yang peduli akan pembangunan dan kelestarian hutan Petungkriyono.

Untuk sampai ke dusun Lindon, niat saja tidak cukup, namun perlu upaya yang tidak biasa-biasa saja, karena geografis yang bergunung, dan jalan berliku yang kanan-kirinya jurang dan tebing batu. Menjadi semangat  semua perserta yang  belum pernah berkunjung ke desa di pelosok pegunungan Kabupaten Pekalongan.






Acara penanaman pohon di hulu sungai Kupang,  mempertemukan anggota forum dan warga desa Tlogohendro, setidaknya untuk mengenalkan personal dan juga selanjutnya dapat  mengkomunikasikan kebijakan masing-masing Lembaga dalam mensinergikan tata Kelola  hutan yang menjadi habitat Owa Jawa, dan satwa-satwa endemik Jawa lainnya.  


Acara penanaman pohon hari kamis tanggal 4 Maret 2021 di hadiri oleh setidaknya 120 orang, yang Sebagian besar adalah warga desa Tlogohendro, dan tamu undangan dari anggota forum kolaborasi pengelolaan hutan Petungkriyono. Dibuka oleh Bapak Kaslam, selaku kepala Desa Tlogohendro, membuka dengan mengajak warga Tlogohendro khususnya untuk terus menjaga alam, karena alam juga sudah memberikan manfaatnya untuk kita sehari-hari,sperti udara bersih, menjaga dari bencana, dan tidak menebang  pohon-pohon yang ada di hutan. “Kegiatan seperti ini harusnya dapat di teruskan atau dapat di lakukan secara berkelanjutan, agar hutan juga terus lestari dan aman”, harapan pak Kaslam.

Bapak Sugiharto, dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah memberi sambutan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk melestarikan fungsi penting DAS Kupang, mengajak warga sekitar  menjadi bagian penting dalam menjaga Kawasan penting di Petungkriyono.  Jenis-jenis yang di tanam dan dibagikan ke warga di Tlogohendro kuranglebih 1250 batang, terdiri dari Bambu petung, dan Aren, yang secara ekologis penting untuk pelestarian tanah dan air, namun juga dari sisi ekonomi sangat berarti bagi warga Petungkriyono. Jenis yang lain adalah tanman buah Nangka, Sirsak, dan Petai dan Jengkol.




Pemilihan jenis pohon yang di tanam sudah melalui survey awal terhadap lokasi tanam, berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut, kondisi tegakan yang masih hidup,  keinginan warga dan fungsi ekologis tanaman itu sendiri. Bambu Petung ( Dendrocalamus asper) merupakan tanaman pencegah longsor yang baik, Bambu petung ini biasanya tumbuh di tepi-tepi sungai kecil yang berkontur curam. Bambu petung juga merupakan komoditas bahan pangan yang memanfaatkan rebungnya. Untuk bahan konstruksi dan kebutuhan penanaman sayuran ( ajir), juga sudah banyak di manfaatkan oleh petani-petani di bagian atas Petungkriyono, khususnya Tlogohendro.


Nangka ( Arthocarpus heterophyllus), merupakan komoditas bahan pangan yang utama untuk di Pekalongan, karena nasi megono , kuliner khas Pekalongan ini menggunakan Nangka muda sebagai bahan bakunya, meskipun belum ada data mengenai kebutuhan Nangka untuk megono, namun produsen Nangka untuk megono ini salah satunya berasal dari Kecamatan Petungkriyono. Jenis-jenis tanaman buah yang di tanam juga merupakan komoditas tanaman pangan sekaligus untuk fungsi ekologis tutupan hutan dan perbaikan habitat satwaliar.

Kopi Arabica Jawa, varian typica dan pohon Aren ( Arenga pinnata) menjadi salah satu komoditas unggulan warga di Tlogohendro dan umumnya warga di Petungkriyono, dan menjadi keinginan warga untuk memperbanyak tegakan kopi muda yang di tanam di lahan-lahan milik warga. Pohon aren selain berfungsi untuk mencegah longsor dan vegetasi penahan air hujan, aren ini menjadi sumber bahan baku untuk Gula aren dan Kolang-kaling yang sudah sejak dahulu di kelola warga di Petungkriyono. Pak Tasbin, Ketua LMDH Tlogohendro, mengungkapkan kalau potensi kopi di Desa Tloghendro ini sangat besar, namun masih belum dikelola dengan baik, tanaman-tanaman kopi sudah banyak yang tua dan kurang produktif. Dengan adanya regenerasi tanaman kopi ini, diharapkan dapat menyediakan kopi-kopi istimewa dalam waktu 4 tahun mendatang, ungkap pak Tasbin. 


Salah satu program pemberdayaan yang dilakukan oleh tim Swaraowa juga telah membuat semai kopi dan Aren ini di dusun Sokokembang. Bersama warga khusunya ibu-ibu di Sokokembang, tahun ini telah berhasil memproduksi kuranglebih 15000 batang bibit kopi Arabica dan 500 batang bibit Aren. Bibit siap tanam dari kebun bibit  di dusun, Sokokembang ini yang digunakan untuk penanaman di hulu Sungai Kupang.





Acara penanaman pohon di hulu Sungai Kupang, bertema “Penyelamatan hulu Sungai Kupang, untuk Pencegahan Banjir dan Longsor” juga merupakan bentuk kampanye penyadar tahuan tentang pentingnya Kawasan hulu sungai petungkriyono sebagai Kawasan tankapan air untuk wilayah dibawah, dan sarana edukasi untuk mengajak siapapun untuk menanam dan merestorasi Kawasan hutan. Pohon-pohon penting secara ekologis untuk melindungi tanah dan air, menyediaka pilihan-pilihan  komoditas ekonomi, dan juga tempat berlindung bagi berbagai hidupan liar.


Friday, February 26, 2021

Rimba Sokokembang ,rumah Lutung jawa berkembang

 berita foto Oleh : Arif Setiawan ( a.setiawan@swaraowa.org)

1.  Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), IUCN mengkategorikan status keterancamannya rentan ( Vulnerable), artinya 3 tingkat lagi menuju kepunahan, merupakan  jenis monyet pemakan daun, yang tersebar di Pulau Jawa di hutan Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tenah. Mereka   hidup berkelompok 2- 15 individu, dalam satu kelompok  terdapat 1 jantan dewasa dengan  beberapa  beberapa betina (polyginous). 

 


2.       Lutung jawa sering di jumpai di pohon-pohon tepi jalan di hutan menuju Petungkriyono. Meskipun penelitian populasi belum pernah dilakukan, menurut pengamatan tim swaraowa di sepanjang jalan menuju Petungkriyono ini di jumpai kurang lebih ada 6 kelompok Lutung yang sering muncul.

 


3.       Lutung jawa mempunyai anak yang bewarna orange , kemudian berubah menjadi hitam dalam waktu rata-rata 2,9 bulan (Trisilo et al, 2021). Warna orange ini memberi merupakan bentuk adaptasi dan evolusi dimana semua anggota Lutung jawa dalam kelompok akan mudah mengawasi dan melindungi bayi Lutung Jawa dari ancaman predator atau gangguan lainnya.

 


4.       Lutung Jawa bergerak dengan ke empat alat geraknya ( quadrupedal), dan memanfaatkan waktu hidupnya di atas pohon, dan sesekali turun ke tanah untuk mencari serangga dan sumbermakanan di strata bawah atau lantai hutan.

 


5.       Lutung jawa, termasuk primata dilindungi, berdasarkan UU no 5 Tahun 1990, tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan Permenhut no P.106 /MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. 


6.       Aktifitas harian lutung jawa, biasanya lebih banyak istirahat , karena mereka memerlukan waktu dan energy  untuk mencerna daun-daun yang susah di cerna. Pencernaan lutung jawa hampir menyerupai ruminant, lambung bersekat-sekat dengan bantuan bakteri pencernaan untuk mencerna daun-daun. Meskipun terlihat tidur rebahan di cabang pohon, Lutung -lutung ini sebenarnya sedang mencerna makanannya.

 


7.       Pengamatan bulan Februari 2021, kelompok lutung jawa hutan di hutan Sokokembang mencatat ada 6 betina menggendong bayi lutung, ada yang masih berwarna orange ada yang sudah berwarna hitam seperti induknya.

 




8.       Teramati 2 individu Lutung Jawa sedang grooming ,aktivitas sosial untuk membersihkan badan, memperkuat ikatan kelompok dan juga melepas ketegangan atau stress.

 


9.       Hutan petungkriyono, dengan kondisi yang relatif rapat merupakan kondisi yang diperlukan oleh lutung jawa untuk terus berkembang. Keberadaan lutung yang mudah di amati di pinggir jalan, tanpa merasa terganggu bisa menjadi atraksi wisata alam yang natural. Namun dengan tetap menjaga jarak tidak terlalu dekat, tidak memberi makan, dan juga tidak membuang sampah sembarangan.




Wednesday, December 30, 2020

Kilasbalik 2020 : gita karya di tengah pandemi.

 oleh : Arif Setiawan. E-mail : a.setiawan@swaraowa.org


bentangalam kawasan hutan Petungkriyono


Bulan januari 2020, rencana untuk kegiatan-kegiatan pelestarian primata khususnya jenis-jenis owa  sudah sedemikian rupa telah  disusun,  tanpa menaruh perhatian pada gemuruh badai global yang sudah begerak. 2 kegiatan utama yaitu  untuk konservasi Owa di Jawa Tengah dan Owa bilou di Kep.Metawai telah menjadi motivasi kuat untuk memperkuat kerja konservasi di tingkat tapak.

Kegiatan bersama dengan tim malinggai Uma Mentawai disiberut selatan, dilakukan dengan tujuan untuk  meningkatkan kapasitas anggota Malinggai Uma, dengan mengenalkan fotografi satwa untuk tujuan pelestarian budaya dan keanekargaman hayati. 2 anggota malinggai uma telah di persenjatai dengan 2 kamera yang akan digunakan untuk berburu satwa, merekam sejarah alam, dan meninggalkan kebiasaan berburu yang tidak lagi menggunakan adat.

Program ini telah sedikit banyak memberikan dampak langsung, dengan terbitnya buku burung Mentawai dan buku primata Mentawai. Kerja kolaboratif dengan mendorong warga sekitar sebagai actor utama “paraconservationist” .  Tidak hanya primata, namun mengenalkan keanekargaman hayati lainnya yang ada di mentawai sekaligus memperkuat nilai budaya asli.

Bilou (Hylobates klossii)

Kegiatan Mentawai di bulan januari tersebut, sebenarnya juga akan mengawali kegiatan promosi konservasi primata Mentawai melalui wisata pengamatan primata, promosi melalui  website https://wildgibbonindonesia.com/  juga sudah di mulai dan perjalanan ini sebenarnya sudah di lakukan untuk ujicoba sebuah trip wisata pengamatan primata endemik Mentawai, dengan kombinasi wisata budaya. Baca trip reportnya di sini. Namun hal ini juga tertuda untuk pengembangannya, kalau sejak bulan Maret sampai saat ini wisata ke Mentawai juga masih tertunda untuk wisatawan target primatewatching ini yang kebanyak dari luar negeri. Beberapa kelompok wisatawan sudah memesan perjalanan ini sejak promosi kami di akhir tahun 2019, namun harus di batalkan karena situasi pandemi global.

Bulan februari, menjadi bulan terakhir sebelum tatanan global berubah karena pandemi virus covid 19, kesempatan mengupgrade pengetahuan, dan pengalaman tentang primate-primata sumatera datang Ketika Noel Rowe PCI mengajak untuk melakukan  primate watching trip ke sumatera bagian tengah, dan yang menjadi target species adalah jenis-jenis Presbytis sp.

Konsep primate watching trip ini lebih mirip perjalanan overland, dengan kendaraan 4x4, yang melintas hutan-hutan yang dapat di lalui kendaraan roda 4, namun masih memungkinkan melihat primate-primata. Perjalanan dimulai dari Padang sumatera barat, Jambi, Riau, hingga ke Sumatera Utara, dan Kembali lagi ke Padang. Total panjang perjalanan ini adalah kurang lebih 3500 km, selama 24 hari. Selain melihat langsung dan mendokumentasikan species-species simpai sumatera bagian tengah, juga melihat langsung ancaman kelestarian habitat dan populasi monyet daun endemik Sumatera. Taksonomi jenis-jenis simpai Sumatra ini memang masih sangat membingungkan dan di perdebatkan, selain kurang di perhatikan di kalangan peneliti dan konservasionist.  Primate watching ini sebenarnya baru di inisiasi dan akan menjadi salah satu sumberpendaan kegiatan swaraowa, pengalaman merencanakan, handling tamu dan juga kondisi lapangan menjadi sarana latihan untuk tur primata. Cerita perjalanan ini dapat di ikuti di Instagram swaraowa mulai tanggal 5 februari sampai 25 Februari 2020. Beberapa spot lokasi untuk pengamatan Ungko dan siamang terdata dengan kemungkinan akan di kunjungi lagi  di waktu mendatang. Hari-hari terakhir primatewatching trip Sumatra, kabar mengenai virus corona 19 sudah menyebar, di berbagai negara, namun sepertinya di Indonesia masih belum mendapat perhatian serius.

Tim kopi owa ds.Tlogohendro

Bulan Maret 2020, kegiatan proyek kopi dan konservasi primata 2020, akan ada kunjugan resmi dari Ostrava zoo, yang di wakili staf kebun binatang dan wakil duta besar dari Ceko untuk Indonesia. Kegiatan yang di rencakan mengunjungi Sokokembang dan desa mendolo untuk melihat demplot budidaya Lebah, namun bersamaan dengan acara ini, kami mendapat surat edaran dari Bupati kabupaten Pekalongan kalau tidak boleh mengadakan acara yang sifatnya mengumpulkan orang dan berkerumun untuk mencegah penularan virus. Sangat kecewa tentusaja, tapi ini juga mengikuti aturan pemerintah, apalagi untuk menjaga situasi tetap kondusif di desa tempat kegiatan. Acara di batalkan dan kami hanya bertemu dengan perwakilan staff kebun binatang Ostrava Zoo di Kota Pekalongan, dan langsung balik ke Jakarta.

Bulan  Maret awal adan juga tim swaraowa yang ikut pameran di Indofest awal bulan maret juga harus kembali ke habitat asal, karena acara festival produk-produk outdoor dan wisata alam itu juga di tutup sebelum acara selesai. Acara ini sebenarnya juga menjadi media promosi wisata minat khusus, di habitat owa jawa, namun sepertinya juga banyak hal yang harus dipersiapkan dan tertunda untuk pengembangan wisata ini. Sepertinya kegiatan wisata juga yang paling terkena dampak dari pandemi covid19.

Dari semua kegiatan proyek kopi dan konservasi primata tahun 2020, yang paling terasa dampaknya adalah ketika rantai penjualan komoditas kopi ramah hutan yang bekerjasama dengan Singapore zoo, terhenti, karena café shop  utama yang menjual kopi owa di Singapore tutup karena covid19. Stok kopi menumpuk di gundang kopi owa di Jogja, dan di rumah warga sekitar hutan habitat owa di Petungkriyono. Rencana kunjungan tim Wildlife Reserve Singapore dan journalist dari Singapore yang telah disusun pertengahan tahun 2019 juga harus di batalkan karena pandemi ini

Kuncitara terjadi dimana-mana, membatasi gerak manusia dan ekonomi , namun yang terjadi di habitat owa tidaklah sepenuhnya terkuncitara, dari pengamatan bulan Maret-Juni 2020, orang-orang sudah mulai jenuh dengan kondisi di rumah saja, dampaknya terhadap habitat owa apa ? hal ini juga masih menjadi tanda tanya. 2 bulan pertama lockdown saja jalan-jalan hutan sepi, setelah itu sepertinya hutan menjadi tempat hiburan di kala pandemi, wisatawan lokal setiap hari datang, entah hanya sekedar jalan-jalan, melihat hutan, dan beberapa spot  wisata  sungai juga menjadi tempat mengisi waktu. Kegiatan monitoring owa di sepanjang jalan dilakukan oleh warga di sokokembang, mencatat perjumpaan primate di sepanjang jalan antara Kroyakan hingga Sokokembang, kurang lebih 6 km.

Kegiatan panen madu klanceng di Ds. Mendolo

Kegiatan budidaya klanceng, yang telah berkembang di Dusun Mendolo,  kecamatan Lebakbarang, kabupaten Pekalongan, terus dipantau dari jarak jauh selama pandemic, meskipun tidak melihat langsung namun laporan-laporan perkembangan kegiatan terus di update tim di Mendolo.

Bulan Mei 2020, menjadi bulan baik untuk Owa Bilou, publikasi survey salah satu primata endemik Mentawai ini terbit di jurnal biodiversitas, yang di dukung penerbitannya oleh PERHAPPI melalui kongres primata Indonesia bulan September 2019.

Seri diskusi konservasi, menjadi kegiatan yang di tiadakan di tahun 2020, karena tidak memungkinkan untuk membuat acara mengumpulkan banyak orang di masa pandemi, kegiatan seri diskusi konservasi ini bertujuan untuk mengarus utamakan kegiatan pelestarian alam di habitat owa jawa, tidak hanya terkait dengan owa saja, tapi keanekaragaman hayati secara umum dan bagaimana memperkuat nilai tambahnya, sebagai bagian dari ekosistem, dan potensi sosial ekonominya. Sempat membuat acara pengganti seri diskusi konservasi ini dengan podcast swaraowa, yang kebetulan sempat menginterview Dr. Bas van Balen ketika berkunjung ke Petungkriyono. Podcastpun juga tidak dapat di lakukan secara berseri dengan kendala teknis.

Memasuki bulan juni 2020, ada 2 kegiatan penelitian di Sokokembang, perempuan-perempuan tangguh yang sangat tertarik untuk tidak terpaku diam di rumah, namun lebih memilih hutan dan membaur bersama warga sekitar hutan, yang pertama Nur Aoliya dari IPB yang meneliti perilaku bersuara owa jawa di wilayah pegunungan Dieng, yang mencakup 2 kabupaten, Batang dan Pekalongan. Baca cerita lapangan Aoliya disini  yang mengisahakan Owa seperti Diva di tengah rimba.  Yenni Rachmawati dari UNAIR tertarik meneliti keberadaan salah satu burung yang sangat terancam punah, Raja Udang Kalung Biru, yang ditemukan oleh tim swaraowa tahun 2018.  Kedua penelitian ini merupakan bagian dari program beasiswa Kopi Owa yang setiap tahun di adakan oleh proyek kopi dan konseravasi primata di Jawa Tengah.  Penelitian-penelitian ini masih terus berjalan hingga awal tahun 2021.

Bulan Agustus 2020, swaraowa menerima salah salah satu mahasiswa magang dari sebuah sekolah di Inggris, kegiatan magang ini juga bertujuan untuk memperluas jejaring konservasi owa dan meningkatkan kapasitas generasi muda untuk ikut dalam kegiatan lapangan konservasi owa secara langsung.

Memasuki akhir tahun 2020, kegiatan terkait budidaya lebah di desa Mendolo selain monitoring rutin setiap bulan, di bulan Oktober kami mengadakan kegiatan pelatihan pengolahan produk-produk turunan dari kegiatan perlebahaan ( beekeeping). Beeswax yang di hasilkan dari kegiatan pemanenan madu hutan di olah menjadi lilin dan pomade perawatan rambut. Produk-produk ini masih dalam taraf ujicoba dan memberikan contoh kepada warga sekitar hutan bahwa ada produk lain yang bisa di kembangkan dari kegiatan budidaya lebah . Bulan oktober juga menjadi hari Owa Internasional, tidak seperti biasanya kegiatan Pelatihan Metode Survey Primata ( MSP) yang dilakukan setiap tahun sejak tahun 2013 harus di tiadakan, tahun ini seharunya menjadi acara yang ke-8.

Kegiatan konservasi Bilou di Kep.Mentawai, bulan November 2020 aktif kembali, dengan melaksanakan kegiatan yang sempat tertunda  karena pandemi. Pelatihan guru-guru untuk meningkatkan pengalaman dan pengetahuan, serta metode mengajar yang menggunakan materi terkait dengan konservasi alam dan budaya Mentawai. Kegiatan ini didasari dari semakin terkikisnya budaya  asli Mentawai, yang juga semakin susahnya melihat primata-primata Mentawai , karena hilangnya hutan dan perburuan.

Salah satu kegiatan baru yang juga di inisiasi oleh tim swaraowa di masa  pandemi , adalah survey Monyet endemic pulau Natuna, Presbytis natunae. Bertujuan untuk mengupdate status dari jenis primata pemakan daun yang hanya ada di Pulau Natuna. Survey berhasil menemukan populasi Kekah Natuna di Pulau Bunguran. Hasil survey ini diharapkan juga dapat mengarusutamakan pelestarian primate di Pulau Natuna, dengan melibatkan pihak-pihak terkait .

Webinar Owa Indonesia menjadi salah satu kolaborasi aksi dengan pegiat konservasi primata Indonesia khususnya, jenis-jenis Owa dan hal ini terlaksana dengan adanya 3 seri diskusi online, seri Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Beberapa kegiatan tidak sempat terdokumentasikan di website atau blog swaraowa, karena keterbatasan waktu untuk menulis. Salah satu capaian penting namun juga tantanganbaru  untuk konservasi Owa di Kabupaten Pekalongan adalah , pengelolaan kolaboratif yang diinisiasi di tahun 2019, mendapatkan perhatian dari permerintah provinsi dengan adanya surat keputusan forum kolaboratif pengelolaan Kawasan hutan Petungkriyono, yang dalam hal ini forum bersama multipihak di wilayah kecamatan petungkriyono mengusulkan kurang lebih 5,173.80  ha, untuk dikelola secara kolaboratif, dalam usulan Kawasan Ekosistem Esensial.

Satu hal penting , pandemic global ini telah membatasi gerak  manusia, dimana kita juga berbagi ruang dengan alam dan segala isi dan permasalah sosial ekonominya. Praktik budaya konsumsi dan produksi yang berkelanjutan harus tempatkan di daftar prioritas, meskipun dalam sekala kecil, dan komunitas yang terbatas, karena ini  adalah pilihan yang harus kita ambil demi setiap gerak berdampak untuk alam.  

Kopi Owa Bilou


Akhir tahun 2020, kami tutup dengan meluncurkan Kopi Owa Bilou, yang bertujuan untuk mempromosikan kegiatan konservasi primata khususnya Bilou ( Hylobates klosii), owa endemik Mentawai.   Penjualan kopi ini di prioritaskan di wilayah sumatera barat khususnya Padang, dan Kepulauan Mentawai, bekerjasama dengan Malinggai Uma di Siberut Selatan.

Selamat tahun baru 2021.