Mulai bulan maret 2017, swaraOwa juga ada kegiatan di Kepulauan Mentawai, khususnya Siberut, tentunya untuk menambah pengalaman lapangan,membangun jaringan untuk memberikan kontribusi dalam upaya pelestarian jenis Owa endemik Kep.Mentawai. Owa
di kep.Mentawai berwarna hitam gelap, dikenal dengan nama, Bilou nama ilimiahnya (Hylobates
klossii), silahkan cek di daftar merah IUCN untuk informasi tentang species ini.
Bilou dan anaknya
Awal kegiatan ini bermula tahun 2010-2012, cerita lapangan waktu itu bisa di baca di blog http://monyetdaun.blogspot.co.id/ , dengan kata kunci " bilou ". Kemudian di akhir tahun 2016, bersama tim lapangan
dari Siberut Selatan yang di motori oleh Damianus Tateburuk dan Ismael Saumanuk
(Aman Andei) melalui Uma Malinggai Tradisional Mentawai, kami mencoba berkolaborasi lagi melakukan
hal kecil untuk kontribusi menyebarkan pesan positif pelestarian primata asli Mentawai khususnya di
Pulau Siberut.
Menyusuri sungai Siberut
Bulan Maret 2017, kami mulai dengan menggunakan peralatan fotografi dan audio untuk dokumentasi keanekaragaman hayati di Pulau Siberut. dengan foto inilah kita dapat bercerita tanpa banyak kata-kata, Aman Andei dengan "panah" barunya untuk berburu yaitu sebuah camera NIKON P900
dan Dami juga telah menggunakan kamera untuk dokumentasi. Tujuannya
adalah untuk merekam keanekaragaman hayati, budaya dan peristiwa yang sehari
hari terjadi di sekitar mereka.
Berburu foto
Kami langsung menuju lokasi berburu, di sekitar Siberut
selatan, target kami adalah burung-burung di sekitar muara siberut. Sangat
beruntung karena bulan-bulan ini adalah bulan dimana musim migrasi, jadi ada
tamu-tamu istimewa dari belahan bumi utara yang singgah di Siberut. Beberapa
foto yang kami dapatkan di antaranya ini. Selama beberapa hari berturut-turut kami
menyambangi muara sungai siberut (dibelakang pasar siberut selatan), Kesempatan
yang langka dan juga beruntung kami dapat menyaksikan langsung tamu-tamu jauh
burung-burung migran yang singgah di Pulau Siberut.
Menyusuri sungai Siberut
Trinil kaki merah ( 2 individu kiri) dan Cerek kernyut ( kanan)
Banyak hal terjadi terkait dengan keanekaragaman hayati di
tempat-tempat yang sulit di jangkau, kita tidak pernah tahu dan tidak kenal, karena
tidak ada dokumentasi apapun tentang hal itu. Oleh karena itu peran warga
sekitar habitat keanekargaman hayati
berperan penting dalam mengarus utamakan pentingnya pelestarian alam. Lebih penting lagi foto-foto dan rekaman audio yang kami dapatkan dari alam mentawai juga menjadi semangat tersendiri bagi kami untuk terus berbuat sesuatu menyuarakan keindahan dan kelestarian alam.
Piligi nama lokal siberut untuk burung elang ular bido
Pantau terus lini masa kami @swaraOwa dan tim
dari lapangan dengan harapan suara alam Mentawai terus bergema menebarkan pesan
positif nilai keanekaragaman hayati dari
pulau-pulau di Samudera hindia, ucapan terimakasih juga untuk IUCN Gibbon specialist group dan Wildlife reserve Singapore yang telah mendukung kegiatan
ini
Mengabarkan dari habitat Owa jawa, di hutan Sokokembang,
Petungkriyono, Pekalongan bahwa telah dan sedang terbit buku cerita untuk anak
berjudul “Dongeng Asoka” Anak Owa Hutan Sokokembang, Buku ini ditulis oleh Regina Stella dan illustrator
Djatmiko Widhi Wicaksono, buku ini di tulis di tujukan untuk khususnya remaja
dan orang tua, untuk mengenalkan Owa jawa dan perlunya pelestarian hutan pada
umumnya.
Penulisan buku ini, berawal ketika penulis bersama keluarga dan anak-anak dari komunitas home schooling Yogyakarta, berkunjung ke hutan Sokokembang tahun 2013. Mereka menginap di Sokokembang dan melihat langsung primata di habitat aslinya. Dari kegiatan inilah ide membuat buku ini muncul.
tahun 2013 kunjugan anak-anak ke Sokokembang
Dengan banyak diskusi langsung di lapangan, dan melihat langsung bagaimana perilaku owa, penulis (Mbak Regina) dengan mudahnya memahami bahasa scientific behavior Owa, yang tidak sama atau tidak dimiliki jenis satwa lainnya, kemudian dengan mudah merangkainya dalam sebuah tulisan sederhana dan mudah di pahami. Kemudian kami bertemu dengan mas Djatmiko, yang dengan keahlian yang sebagai illustrator, memvisualisasikan cerita Asoka.
Primatewatching, mbak Regina sedang menunjuk Owa untuk anaknya
Untuk awal penerbitan buku ini kami telah mencetak 100 exemplar buku, dan di distribusikan secara gratis di beberapa wilayah habitat Owa di Jawa Tengah. kami terus ingin menyebar luaskan buku ini untuk khalayak umum, dan sedikit revisi untuk text, sehingga lebih mudah di baca untuk anak-anak, dengan menampilkan banyak gambar dari pada tulisan. Penerbitan pertama buku ini merupakan bagian dari kegiatan "Kopi dan Konservasi Primata" yang di dukung oleh Wildlife Reserve Singapore, Ostrava Zoo, dan Fortwayne Chidren's Zoo
Bagi anda yang ingin mendapatkan buku “Dongeng Asoka” atau membantu
mendanai penerbitan, distribusi dan turut berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian
Owa jawa melalui buku ini bisa menghubungi kami di sokokembang.channel@gmail.com atau
inbox di akun sosial media kami Instragram, FB dan twitter @swaraOwa.
Tgl 17-20 April atas nama SwaraOwa Proyek Kopi dan
Konservasi Primata, mendapat kesempatan untuk melihat langsung habitat Owa di
bagian barat pulau Jawa. Berlokasi di Gunung Papandayan Garut. Acara yang di
gagas oleh Javan Gibbon Center (JGC) dan Conservation International Indonesia
ini bertujuan memperkenalkan metode survey and monitoring untuk Owa Jawa. Peserta
yang di undang adalah staff BKSDA, Perhutani Jawa Barat, Lembaga Swadaya
Masyarakat sekitar Jawa Barat, Mahasiswa dan Pegiat konservasi alam di sekitar
Gunung Papandayan.
Acara mencakup teori di kelas tentang teknik dasar survey
menggunakan line transek dan metode tidak langsung untuk owa menggunakan Vocal
count-triangulasi. Berlokasi di sari papandayan resort untuk materi kelasnya
dan untuk praktek kita menuju blok hutan di lereng selatan Papandayan. Meskipun
acara lapangan tidak bertemu langsung dengan Owa jawa, acara ini menjadi
kegiatan berbagi pengalaman dan pengetahuan teknis untuk pengambilan data dan
analisis data untuk hasil monitoring/survey.
Hampir semua
orang pernah mencicipi manisnya madu, cairan kental berwarna keemasan atau
terkadang warna lain seperti putih atau hitam. Madu diproduksi oleh lebah. Namun
tidak semua lebah menghasilkan madu, dan tidak banyak jenis lebah yang
menghasilkan madu dalam jumlah yang layak untuk dipanen oleh manusia. Faktanya,
madu yang beredar di pasaran dan bisa kita nikmati sehari-hari berasal dari
beberapa jenis lebah marga Apis, dan sebagian kecil dihasilkan lebah tak
bersengat (meliponin). Di Indonesia, madu umumnya berasal dari lebah hutan (Apis dorsata), dan lebah ternak (Apis mellifera). Lebah hutan (A. dorsata) membangun sarang terbuka,
menggantung pada dahan pohon-pohon tinggi atau terkadang di tebing. Jenis ini
cenderung membutuhkan habitat berupa hutan yang masih baik. Lebah ini juga
dikenal agresif, akan menyerang pengganggu dengan cara memberikan sengatan
menyakitkan secara berkelompok. Pada beberapa kasus, dampak serangan dorsata
bisa fatal. Karena perilaku hidup seperti itu, maka lupakan untuk
membudidayakan jenis ini. Hanya para pemburu yang terlatih yang mampu memanen
madunya dari alam. Sebenarnya ada satu lagi jenis lebah yang menghasilkan madu
dengan kualitas sangat baik, dan dapat dibudidaya, dialah Apis cerana. Namun cukup sulit menemukan produk madu lebah jenis
ini di pasaran.
Koloni lebah Apis cerana
Lebah Apis cerana adalah sepupu dari lebah
ternak Apis mellifera. Secara umum
kedua jenis memiliki banyak kemiripan; baik dari morfologi tubuh, maupun
perilakunya. Yang sangat membedakan kedua jenis ini adalah distribusi alaminya.
Lebah A. cerana menghuni kawasan
Asia, paling barat lebah ini ditemukan di suatu tempat di Iran, paling timur di
kawasan tengah Indonesia, paling utara di Cina, dan paling selatan masih di
Indonesia. Karena sebaran alami lebah jenis ini di Asia, maka biasa disebut
sebagai lebah madu asia (Asiatic/eastern
honey bee). Sedangkan sebaran alami A.
mellifera adalah di Eropa dan Afrika, ke timur hanya sampai Asia barat.
Lebah jenis ini biasa disebut sebagai lebah madu eropa (European/western honey bee).
Uniknya kedua jenis lebah ini hanya terpisahkan oleh sabuk gurun berjarak ratusan
kilometer di Iran. Campur tangan manusia menjadikan jenis-jenis lebah dapat dijumpai
di luar sebaran alaminya. Jenis A.
melifera kini dapat dijumpai di semua benua kecuali Antartika. Jenis ini paling
banyak dibudidaya dan merupakan penyuplai utama madu di dunia, karena produktivitasnya
yang tinggi.
A.cerana
Lebah madu asia (A.
cerana) merupakan jenis lebah asli Indonesia, berdampingan dengan berbagai
jenis Apis lainnya meliputi A.
andreniformis, A. dorsata, A. koschevnikovi, dan A. nigrocincta. Dapat dikatakan negeri
kita memiliki kekayaan jenis Apis terbanyak di dunia. Meskipun demikian, di
kalangan peternak lebah Indonesia, lebah lokal kurang dikelola dengan baik
karena produksi madunya yang kalah dengan jenis A. mellifera yang dijuluki lebah unggul. Sebagian besar peternakan
lebah besar di Indonesia menggunakan jenis lebah introduksi sebagai penghasil
madu maupun produk lebah lainnya seperti bee
pollen, propolis, dan royal jelly. Jauh sebelum lebah eropa
didatangkan, masyarakat Indonesia sudah sangat akrab dengan pemeliharaan lebah
lokal secara tradisional. Saat ini, lebah lokal masih dipelihara dalam skala
kecil oleh masyarakat di pedesaan terutama yang berdekatan dengan hutan.
Berbeda dengan lebah unggul yang dipelihara dalam peti-peti yang didesain
khusus untuk produksi, dan dengan sistem penggembalaan mengikuti ketersediaan sumber
pakan; lebah lokal umumnya masih dipelihara dalam gelodok (batang kayu yang bagian dalamnya berongga) atau dalam peti
sederhana, dan tidak digembala.
Budidaya lebah hutan
Dewasa ini, dunia perlebahan sedang mengalami berbagai
permasalahan global. Salah satu yang mengkhawatirkan adalah hilangnya sebagian
koloni lebah secara misterius. Fenomena ini dikenal sebagai colony collapse disorder (CCD). Kehilangan
koloni lebah telah menjadi momok serius bagi peternakan lebah di Eropa dan
Amerika. Hilangnya ribuan koloni lebah tiap tahun bukan saja mengancam persediaan
madu dunia, namun juga mengancam produksi berbagai jenis komoditas pertanian.
Hal ini karena lebah terbukti merupakan agen pembantu penyerbukan berbagai
jenis tanaman. Dunia bahkan mempercayai bahwa ada peran lebah pada satu di
antara tiga jenis makanan yang kita gigit sehari-hari. Selain berupaya untuk
mengatasi CCD, dunia kini mencari alternatif jenis-jenis lebah selain mellifera
untuk dibudidayakan, baik sebagai penghasil madu maupun agen penyerbuk bunga.
Tak heran jika geliat pengembangan peternakan lebah non-mellifera kini mulai
terasa. India dengan pengembangan Apis
cerana-nya. Negara-negara di kawasan Amerika latin, Afrika, dan negara
tetangga kita - Australia juga melaju cepat dalam mengembangkan lebah meliponin
(stingless bee).
Bagaimana dengan Indonesia? Dengan adanya ancaman CCD dan
berbagai hama musuh lebah eropa seperti Varroa
dan Nosema; maka negara kita yang
kaya akan jenis lebah perlu berbenah. Kita memiliki Apis cerana dan jenis-jenis lebah potensial lainnya yang kiranya layak
untuk dikembangkan sebagai pengasil madu khususnya untuk mendukung kebutuhan
nasional yang saat ini masih defisit. Berhadapan dengan parasit seperti Varroa,
jenis lebah native yang kita miliki
jauh lebih tangguh. Terlebih, jenis lebah lokal tentunya lebih cocok dengan
kondisi alam di Indonesia. Diperlukan komitmen untuk pengembangan teknik
pemeliharaan jenis lebah lokal, mulai dari desain peti lebah, teknik
perbanyakan koloni, teknik pemanenan produk, hingga manajemen hama-penyakit.
Perlu disadari pula bahwa pengembangan perlebahan seringkali berhadapan dengan
permasalahan umum seperti penggunaan pestisida. Dengan begitu, kegiatan perlebahan
sangat perlu didukung dengan konsep pertanian yang ramah lingkungan.
Penyerbukan bunga kopi Robusta oleh lebah
SwaraOwa, melalui kegiatan "Kopi dan Konservasi Primata" berupaya untuk memberikan kontribusi kecil bagi
pengembangan perlebahan bersama masyarakat sekitar hutan di Kecamatan
Petungkriyono, Kab. Pekalongan. kegiatan pelestarian Owa jawa yang menjadi awal progam, telah dan sedang berkembang dengan hal baru yang sebenarnya juga sangat terkait dengan kelestarian hutan dan kegiatan ekonomi lokal yang bersumber dari sumbedaya hutan. Ternak lebah merupakan salah satu kegiatan
ekonomi terbaik bagi masyarakat di sekitar hutan. Di satu sisi kegiatan ekonomi
ini tidak membutuhkan modal yang besar, dan tidak terbatas kepemilikan lahan.
Di sisi lain dengan terpeliharanya populasi lebah, maka peran mereka dalam
membantu penyerbukan sebagian besar tanaman hutan akan terus terjaga. Hutanpun
akan terus lestari. Masyarakat di Petungkriyono sendiri telah memiliki
pengalaman cukup panjang dalam pemeliharaan lebah lokal Apis cerana. Mereka membuat gelodok dari batang tanaman paku tiang,
atau peti papan dengan desain yang sederhana.
Apa yang dapat kami lakukan saat ini adalah mendorong
masyarakat untuk membangkitkan kembali semangat memelihara lebah lokal,
mengembangkan teknik pemeliharaan yang ‘modern’, dan tentu saja membangun pasar
yang mau memberikan apresiasi terhadap produk yang dihasilkan lebah lokal. Kami
meyakini bahwa dengan pengelolaan yang tepat, maka lebah lokal akan mampu
‘memberikan perlawanan’ terhadap lebah import dalam hal produktivitas madu
maupun produk-produk lebah lainnya. Dan yang lebih penting lagi, peran penting
lebah lokal bagi kelestarian hutan selama ribuan tahun atau bahkan jauh lebih
lama lagi, akan tetap terjaga.
(perjalanan menuju Bukit Bulan, mengamati Ungko dan Siamang)
Ada 3 jenis Owa di daratan Sumatra, namun juga tidak banyak
yang menaruh perhatian khusus kepadanya, yaitu Siamang (Sympalangus syndactilus) dan Ungko (Hylobates agilis), dan owa tangan putih (Hylobates lar)
Kebetulan sekali
bulan ini saya mewakili , SwaraOwa di undang oleh Taman Nasional Bukit Dua
Belas untuk berbagi pengalaman untuk monitoring jenis-jenis Owa, dan karena di wilayah Taman Nasional Bukit Dua
Belas juga menjadi habitat dari Siamang dan Ungko.
staff TN BD sedang mencoba merekam panggilan Ungko
Setelah acara selesai, saya segera mencari tahu dimana bisa
melihat Siamang dan Ungko selain di kawasan TNBD, kebetulan sekali ada kolega
yang tinggal di Sorulangun, dan merekomendasikan untuk ke hulu sungai Batanghari,
yaitu Batang Asai, katanya masih ada hutan bagus disana, ada siamang dan ungko.
Untuk mencapai lokasi ini harus menggunakan kendaraan
berpenggerak empat roda (4wd), karena cukup curam topografi dan juga hujan sepanjang
hari membuat jalanan berlumpur. Sejak awal sudah beberapa kali saya cek di peta
hulu Batang asai, tepatnya masuk di wilayah sungai limun.
Wilayah ini sudah di kenal oleh warga jambi sebagai daerah
penghasil emas, dan memang setelah melihat langsung sepanjang jalan di kanan
dan kiri terlihat aktifitas penambangan emas. Sawit dan karet menjadi pemandangan di satu setengah jam
pertama perjalanan.
Tujuan kami adalah desa Meribung masuk dalam wilayah
kecamatan Limun. Desa ini mempunyai hutan yang masih bagus, yang di kelola oleh adat, dan menurut
informasi warga masih terapat satwa-satwa asli sumatera, seperti tapir, kambing
gunung, beruang, Harimau dan tentunya Ungko dan Siamang.
Pulang dari mendulang emas (caping yang di gunakan adalah dulang, alat untuk mencari emas)
Setelah melewati jalanan yang berlumpur dan naik turun kami
sampai di rumah pak Ansor, mantan kepala desa yang pernah mendapatkan
penghargaan nominasi penerima kalpataru tahun 2009 sebagai penyelamat
lingkungan.
Langsung saja saya ngobrol-ngobrol dengan warga sekitar,
dimana masih terdengar suara siamang dan ungko? Apakaha masih sering melihat
dan jauh tidak dari dusun kalau untuk melihat atau mendengar Siamang dan ungko.
Beberapa warga sangat jelas membedakan apakah itu siamang dan ungko, Siamang
lebih besar dan hitam, sementara ungko lebih kecil ukurannya, dan ada putih di
alisnya. Beberapa warga juga nampak masih ragu-ragu menjelaskan ciri-ciri ungko
dan siamang. Ada juga warga yang menjelaskan kalau ungko biasanya bersuara
pagi-pagi hari, sebelum matahari terbit, dan Siamang biasanya siang hari
setelah matahari terbit.
Sempur hujan-sungai
Pelatuk Merah
Mendengar cerita warga tersebut saya semakin penasaran dan
ingin melihat langsung atau mendengar siamang dan ungko. Saya kemudian di antar
oleh pak ashari ke hutan siang itu, untuk melihat langsung kondisi hutan dan
kalaupun beruntung bisa bertemu dengan penunggu rimba bukit bulan, sempur hujan, dan pelatuk merah diantaranya burung-burung yang saya jumpai.
Topografi yang bergunung juga sepertinya menyelamatkan
kawasan hutan adat ini sementara waktu.Namun 5 tahun terakhir ini warga di sekitar bukit
bulan, telah beralih pekerjaan menjadi penambang emas, ada pohon yang memang bagus
untuk membuat alat pendulang emas. Kami menemukan banir pohon besar, yang
bekasnya di potong-potong, dan ternyata pohon inilah yang digunakan untuk
membuat dulang emas, karena meskipun di buat tipis kayu ini tidak pecah, begitu
kata pak Ashari yang menjelaskan. Hampir 3 jam kami menyusuri hutan ini, namu
hujan membuat kami terus mengambil arah balik, dan juga sempat menemukan
cakaran beruang di batang pohon.
Pohon Bulian ((Eusideroxylon
zwageri ) , banirnya di manfaatkan untuk membuat "Dulang" emas
Esok harinya, jam 4.30 saya di bangunkan oleh suara teriakan
khas Ungko, tidak jauh dari desa dan saya pun segera keluar rumah mencari arah
datangnya suara tersebut. Kurang lebih 500 meter dari rumah pak ansor, adan
sebuah bukit kapur yang masih rapat dan disitulah suara itu berasal, hari masih
gelap namun suara tersebut sangat jelas, Ungko jantan yang sedang
melakukan panggilan territorial dan komunikasi dengan anggota keluarga lainnya.
Ketika hari mulai terang nampaklah meskipun tertutup ta\juk pohon, 3 ungko
salah satunya masih remaja, bergerak berayun memakan buah dari pohon sejenis Ficus sp. (lihat video di atas)
Hingga jam 8.30 saya masih mengikuti pergerakan ungko ini,
dan ternyata tidak jauh dari tempat ini ada Simpai (Presbytis melalophos) yang sedang mencari makan juga, lebih dari 7
individu, dan simpai ini adalah monyet pemakan daun, kadan terlihat di bawah
semak semak, dan juga di perkebunan karet yang ada disekitar hutan.
Simpai (Presbytis melalophos)
Melihat lebih luas hutan disekitar dusun ini, ternyata di
sebelah timur dusun ini adalah gunung kapur, kawasan pegunungan karst yang
cukup unik, karena vegetasi pohon di atas gunung kapur ini juga cukup rapat,
dan dari tempat tersebut memang terdengan cukup banyak suara Siamang dan Ungko.
Mungkin satu-satunya habitat karst yang di huni oleh 2 species primata yang
berbeda (sympatric) yang ada di
Sumatra bagian tengah.
pegunungan karst Bukit Bulan yang menjadi habitat Siamang dan Ungko
Untuk mendapat gambar siamang dan ungko sepertinya tidak
mudah, karena mereka berada di tajuk atas dan rapat, namun dari suara yang
terdengar jelas, kira-kira lebih dari 10 kelompok Siamang yang berada di
sekitar dusun. Siamang ini mulai terdengar ramai bersuara antara jam
10.15-11.00,termasuk dari arah bukit-bukit kapur tersebut.
Hingga jam 2 siang, saya kemudian meninggalkan dusun ini,
dengan segenap pertanyaan dan harapan akan kelestarian habitat siamang dan
ungko. Kilau emas dan rencana pembukaan pabrik semen yang menambang gunung
karst bukit bulan, tentu lebih menjanjikan dan sudah tentu juga
akan menghilangkan cerita dan nyanyian dari Bukit Bulan yang merupakan kawasan limestone karst
sebagai daerah tangkapan air untuk wilayah Suroloangun hingga Jambi.
Berternak lebah menghasilkan madu juga membatu produksi tanaman pangan
Selain
menghasilkan produk madu yang bernilai ekonomi, lebah memiliki peran yang
sangat penting dalam membantu penyerbukan berbagai jenis tanaman tropis, dalam hal ini hutan pada umumnya. Lebah
penghasil madu di Indonesia didominasi oleh 3 jenis yaitu Apis dorsata, A mellifera,
dan A cerana. Lebah madu A. mellifera sendiri bukan merupakan
jenis asli Indonesia, dan sengaja didatangkan ke dalam negeri sebagai lebah
penghasil madu. Sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia
memiliki banyak jenis lebah asli (native
bee) yang menghasilkan madu. Dari
marga Apis tercatat ada A. andreniformis, A. cerana, Apis dorsata, A. koschevnikovi, dan A.
nigrocincta.
Lebah hutan (Apis dorsata) hidup di habitat hutan yang relatif masih baik,
membangun sarang terutama pada dahan-dahan pohon. Menghasilkan madu lebih dari
5 liter perkoloni, lebah ini masih menjadi salah satu pemasok kebutuhan madu nasional.
Jenis lebah lokal asli Indonesia lainnya, Apis
cerana, cukup banyak dipelihara oleh para peternak skala kecil di pedesaan.
Produksi madu dari jenis ini tidak terlalu melimpah namun banyak diburu karena
kualitasnya dianggap lebih bagus dibandingkan madu dari lebah impor.
Apis cerana, salah satu lebah asli Indonesia
Barangkali
sedikit dari kita yang mengetahui bahwa selain lebah-lebah dari marga Apis,
kita memiliki kelompok lebah lain yang potensial untuk menghasilkan
produk-produk lebah (madu, polen, propolis). Lebah-lebah tersebut menghuni hutan-hutan
yang kita miliki, beberapa jenis bahkan telah beradaptasi hidup di sekitar
pemukiman. Uniknya, mereka tidak mempunyai sengat. Lebah tanpa sengat dikenal
dengan berbagai nama lokal. Sebutan-sebutan tersebut antara lain kelulut (Melayu), klanceng (Jawa), teuweul
(Sunda), gala-gala (Sulawesi), dll.
Jenis lebah tanpa bersengat di Indonesia berdasarkan catalog Indomalayan Stingless Bee (Rasmussen, 2008) setidaknya ada
35 jenis. Lebah tanpa sengat dalam satu suku dengan Apis, termasuk dalam suku
Apidae, tribus Meliponini.
lebah tanpa sengat Heterotrigona itama (yang besar) dan Tetragonula cf laeviceps
Lebah
tanpa sengat hidup dalam koloni dengan pembagian tugas yang jelas (eusosial). Dalam satu koloni terdiri
dari satu atau lebih ratu, ratusan lebah jantan, dan ribuan lebah betina
steril. Tugas ratu adalah bertelur untuk menghasilkan keturunan baru. Tugas
lebah jantan hanya kawin. Sedangkan lebah betina steril memiliki berbagai tugas
seperti mengumpulkan pakan; menjaga sarang; dan merawat ratu, lebah jantan, dan
lebah-lebah muda.
Semua
jenis lebah tanpa sengat diketahui bersarang pada lubang, dengan satu pintu masuk
yang dilengkapi dengan sistem keamanan. Karena tidak dilengkapi dengan organ
penyengat sebagai pertahanan diri, mereka membangun sarangnya dengan suatu
sistem keamanan yang unik guna menjaga sarang dari ancaman penyusup maupun
penyakit. Pemilihan sarang pada lebah tak bersengat cenderung menunjukkan adanya
variasi. Misalnya jenis Heterotrigona
itama cenderung memilih lubang-lubang pohon sebagai tempat membangun
sarang. Heterotrigona thoracica
cenderung memilih lubang-lubang batuan atau pohon dengan diameter batang yang
besar. Sedangkan jenis Tetragonula
laeviceps, sebagai jenis yang cukup umum, cenderung lebih pragmatis dalam
memilih media sarang. Mereka bisa menghuni ruas bambu, lubang pada cacat
bangunan, pipa, dll.
sarang lebah tanpa sengat
Seperti lebah Apis, lebah tanpa sengat juga
mengumpulkan nektar dan polen sebagai makanan. Nektar diproses menjadi madu,
sedangkan serbuk sari digunakan untuk makanan ratu lebah dan larva lebah. Baik
madu maupun serbuk sari (roti lebah) disimpan dalam kantong-kantong yang
terbuat dari campuran resin tanaman dan lilin lebah, sebagai cadangan makanan.
Di
sisi lain, lebah berukuran kecil –tidak lebih besar dari lalat- ini juga
menghadapi ancaman serius oleh semakin terdesaknya habitat mereka. Sebagaimana
kita ketahui, Indonesia merupakan salah satu negara dengan laju kehilangan
hutan yang tinggi di dunia. Hilangnya hutan sebagai habitat utama lebah tanpa sengat
menyebabkan hilangnya banyak populasi lebah dari kelompok ini di berbagai
tempat. Beberapa jenis tertentu masih mampu bertahan di habitat yang kurang
bersahabat, namun mereka juga menghadapi masalah dalam menemukan tempat untuk
bersarang. Tak heran jika lebah-lebah mungil tersebut terkadang dijumpai
bersarang di tempat yang kurang layak.
Besarnya
keanekaragaman jenis lebah tanpa bersengat; dengan variasi dalam ukuran tubuh,
perilaku, dan relung habitatnya; menjadikan mereka memiliki peran dominan dalam
penyerbukan. Penyerbukan bunga pada beberapa jenis tanaman diduga sangat
tergantung dengan keberadaan lebah. Dengan manfaat yang sedemikian besar,
kiranya diperlukan upaya serius guna menjaga kelestarian lebah tak bersengat di
Indonesia
Save our native bees!
Rasmussen, C. 2008. Catalog of Indomalayan /
Australasian stingless bee (Hymenoptera: Apidae: Meliponini. Zootaxa, 1935, 3-80.
Catatan baru mengenai keberadaan owa jawa di Jawa Tengah, membawa kami untuk menginisiasi kegiatan konservasi primata di
kawasan ini. Beberapa bagian hutan di gugusan perbukitan yang melintang di utara
Kabupaten Purbalingga menjadi salah satu habitat alami yang tersisa bagi kera
kecil endemik Jawa. Lokasi ini kami sebut "Cadas Kramat", terletak di desa
Kramat, Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga, Jawa Tengah. Karena kondisi
geografis yang sulit, terdapat potongan hutan alami yang dibentengi jurang
sungai yang dalam dan terhampar di lereng gunung kapur yang terjal. Mungkin satu-satunya tipe habitat Owa, di Jawa
yang berada di tebing batu kapur.
Selain perburuan yang berpotensi mengancam
kelangsungan populasi owa jawa, di seluruh wilayah sebaran Owa, kebutuhan
manusia yang sifatnya ekstraktif juga meningkatkan deforestasi sehingga mendesak
habitat alami owa jawa.
Cadas Keramat "Siregol", lingkaran kuning dimana Owa teramati
Kunjungan kedua tim swaraOwa di Desa Kramat
disambut hangat dengan pemuda karangtaruna Desa Kramat yang ramah, dan langsung
menemani kami menyusuri tebing kapur cadas Kramat, tebing Siregol. Dalam
pengamatan kali ini dari jarak sekitar 100 meter kami menjumpai satu kelompok
owa jawa yang sedang melakukan pergerakan di pepohonan di bawah tebing. Sesaat
setelah itu, kami melihat 2 individu owa dari kelompok tersebut melakukan
pergerakan berpinah, cara mereka bergerak sungguh mengejutkan kami yang sedang serius
mengamatinya.
Baru
kali ini kami melihat owa jawa memanjat tebing. Tebing vertikal dengan
ketinggian sekitar 5-10 meter dipanjat dengan lengannya
yang panjang meraih sulur-sulur tanaman dan kakinya menapaki tebing. Melompat dan
meraih batang kayu kecil untuk bergerak, dengan teknik yang sempurna. Sungguh
fenomena perilaku yang amat jarang teramati dilakukan oleh jenis kera kecil ini. Secara normal
owa jawa melakukan pergerakan secara brakhiasi (berayun) antar dahan pohon
dengan efisiensi energi. Kelompok ini harus mencapai bagian bawah tebing untuk
menuju pohon pakannya, melewati tebing batu yang licin dan sangat extrem. Masih
banyak hal yang bisa diteliti untuk tujuan konservasi terkait Owa dan habitat
Cadas Keramat.
habitat Owa di bagian bawah tebing cadas keramat
Tak jauh dari posisi owa jawa terlihat, kami
juga melihat sekelompok lutung jawa (Trachypithecus auratus) yang sedang memakan pucuk-pucuk daun,
sekitar 4 individu yang terlihat. Selain itu menurut warga juga
terdapat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).
Minimal 2 dari 5 jenis primata Jawa
dipastikan berhabitat di kawasan hutan ini. Masih ada kemungkinan juga terdapat
rek-rekan (Presbytis comata) dan
kukang jawa (Nycticebus javanicus).
Hal ini menjadi tantang kedepan untuk berkolaborasi bersama pihak terkait, dan warga sekitar
habitat Owa dalam upaya pelestarian primata dilindungi dan habitat uniknya ini.