Wednesday, September 14, 2016

Owa Jawa di Amerika

Gibbon Conservation Center, Santa Clarita, California

Salah satu tujuan yang paling ingin saya kunjungi setelah mengikuti Kongress IPS adalah Gibbon Conservaiton Center, di Santa Clarita, California. Tahun 2008 yang silam, saya pernah bertemu dengan Alan Mootnick di Bogor waktu itu sedang ada, symposium Owa nasional. Sejak saat itulah saya tahu bahwa ada pusat penangkaran Owa di luar Indonesia, yang telah lama berdiri dan berhasil membiakkan Owa. Yang saya tahu Owa jawa dari hasil penangkaran di tempat ini telah tersebar di beberapa kebun binatang di Amerika dan Eropa. Waktu itu ketika bertemu dengan Alan Mootnick ingin sekali melihat pusat penangkaran Owa ini, karena tidak hanya owa dari Jawa ada beberapa jenis yang ada di penangkaran  ini, dan termasuk salah satu penangkaran yang sukses membiakkan jenis-jenis Owa di luar habitat aslinya. Alan mootnick telah meninggal beberapa tahun lalu, silahkan baca disini obituary Alan mootnick http://www.latimes.com/local/obituaries/la-me-alan-mootnick-20111108-story.html

Waktu menyusun itinerary trip, ternyata untuk ke Santa Clarita, harus naik pesawat lagi kurang lebih 5 Jam, dengan perbedaan waktu antara Chicago dan Los Angles sekitar 2 jam, dan sepertinya kendaraan umum seperti bus atau kereta agak susah, karena jarak antara bandara los angles dan Gibbon center sekitar 2 jam. Saya sebelumnya sudah menghubungi kolega yang bekerja disana, kebetulan juga ada salah satu staff dari gibbon center yang ikut acara kongres, jadi banyak membantu untuk perjalanan ke Santa Clarita.

Singkat cerita, sampai di Los Angles kira-kira jam 1 malam, dan Gabby dan Tiffany membantu saya memesankan tiket taxy ke Gibbon Center, yang kuran lebih satu setengah jam perjalanan. Sampailah saya di Gibbon center tepat jam 3 pagi, hari masih gelap, dan ternyata tidak ada rumah atau pemukiman di sekitar pusat owa ini, berada di padang gurun California, yang kering , dingin di waktu malam dan panas kering di siang hari. Bagaimana Owa bisa bertahan di tempat seperti ini??
Habitat owa di Gibbon Conservation Center
Gabby yang sebelumnya telah menunggu kedatangan saya, menyambut saya dan membukakan pintu gerbang pusat primata, dan saya langsung di tunjukkan tempat tidur saya, yang berada di sebuat caravan. Kira-kira jam 5 pagi, suara gaduh di luar, semua owa telah bangun,dan bersuara, terdengar berbeda saya coba mengenali mana suara Owa jawa, dan saya mendengar dada beberapa individu owa jawa yang bersuara pagi itu. 


Owa jawa di Gibbon Conservation Center, dan suaranya di antara jenis-jenis owa yang lain

Setelah ngobrol tetang Owa kesempatan saya disini adalah belajar tentang bagaimana mengelola pusat primata ini, merawat Owa, dan memberikan pengetahuan kepada pengunjung.  Owa- owa di sini ada kurang lebih 40 individu, ada dari Thailand, China, dan Sumatra, dan Jawa. Dalam sehari owa -owa ini di beri makan 8 kali, terdiri dari buah-buahan daun  dan sejenis makanan buatan seperti pellet.

Pakan Owa di Gibbon Conservation Center


Pusat konservasi Owa bukanlah kebun binatang seperti umumnya, pengunjung disini di batasi dan di atur sangat ketat ketika masuk kedalam kawasan, tidak boleh memberi pakan dari luar, dan yang sedang kena flu atau sakit tidak boleh masuk ke dalam, di sekitar kandang Owa. Gibbon Center hanya membuka untuk umum berkunjung di hari Sabtu dan Minggu antara jam 9.30- 12.00 pagi. Kesempatan ini juga saya turut berbagi pengalaman dengan pengunjung meceritakan tentang Owa jawa dan kondisi lapangan saat ini. Inilah salah satu peran yang di berikan pusat owa ini, memeberikan edukasi tentang Owa itu sendiri, dan juga menyebarluaskan pesan pelestarian owa dan habitat aslinya.
Gabby menjelaskan kepada pengunjung tentang Owa dan konservasinya

Lebih lanjut tentang Gibbon Conservation Center bisa baca di websitenya http://www.gibboncenter.org/

Saturday, September 10, 2016

Kisah Owa Jawa di Amerika

logo kongres IPS

Acara kongres IPS (International Primatological Society)di Chicago menjadi kesempatan kita dari project “Kopi dan konservasi primata” untuk membawa pesan pelestarian Owa jawa ke komunitas internasional (baca disini tulisan sebelumnya). Presentasi di hadapan peserta kongres telah di sampaikan pada tanggal 23 Agustus 2016, dalam symposium Community Conservation of Primate. Baca disini abstract presentasi kami, yang berjudul "Caffeinated Conservation :  an outlook for gibbon of Java"

Kongres yang berlangsung 6 hari mulai tanggal 21-26 Agustus, salah satu pesan pelestarian primata yang kami ikuti adalah dengan turut berpartisipasi dalam silent auction, acara lelang produk-produk dari habitat primata atau pun dari proyek kegiatan penelitian primata untuk di donasikan kepada konservasi primata yang di kelola oleh IPS. Kami membawa produk special yang kami kemas untuk menyampaikan pesan pelestarian Owa jawa, kopi Arabica dan Robusta dari habitat Owa di petungkriyono Pekalongan, dan juga t-shirt official project kopi dan konservasi primata.
Bert Covert, pemenang lelang kopi owa

Hingga hari kelima ternyata smua produk kita mendapat apresiasi yang banyak, lelang kita mulai dengan harga 10USD, hingga hari kelima ternyata sampai 25 USD.
suasana lelang untuk donasi konservasi


Kongress primata tahun 2016, ada banyak presentasi dari Indonesia tentang penelitian dan kegiatan konservasi, namun masih banyak di dominasi peneliti asing, dan perwakilan dari Indonesia dalam acara ini ada 5 orang, yaitu Bapak Jamartin Sihite mewakili project orangutan Kalimantan, Bapak Made Wedana dari proyek rehabilitisi primata Jawa, mbak Yeni Saraswati dari Orangutan Sumatra, mbak Dwi Yandhi dari proyek Macaca Nigra dan saya sendiri mewakili SwaraOwa.
Perwakilan Indonesia di IPS kongress

Mendengar pengalaman lapangan dari berbabagi negara yang mempunyai primata sudah tentu memberikan tambahan informasi dan berbagi solusi yang di hadapi untuk pelestarian primata dan habitatnya. Kongres primata ini menjadi acara 2 tahunan para pegiat dan peneliti primata untuk berbagi kisah lapangan, dan kegiatan konservasi primata. Beberapa di antaranya yang sangat menarik adalah kisah dari cina dan madagaskar yang memodifikasi camera trap yang bisa bertahan hingga 1 setengah tahun, tanpa mengganti batrey. Kisah pejuang primata dari Nepal,yang tanpa henti berkunjung ke sekolah-sekolah untuk mengenalkan primata endemik Nepal, dan masih banyak lagi kisah keberhasilan penelitian dan kegiatan konservasi primata dari berbagai habitat primata di dunia. (bersambung).
bersama pegiat primata dari Jepang, Benin, dan Nepal




Sunday, August 21, 2016

Konservasi Terkafeinasi : Masa depan Owa di Tanah Jawa

Jungle bean di habitat aslinya

Jungle bean, menjadi produk konservasi kita tahun 2016 ini, dengan tujuan untuk mengenalkan kepada khalayak umum, inilah  Owa dari pulau Jawa. Kegiatan pelestarian primata melalaui “Coffee and Primate Conservation Project” ini telah menambah hormon dopamine, atau gembira ketika melakukan kegiatan dimanapun, yang terkait dengan kopi, hutan dan khususnya primata yang terancam punah. Caffeinated conservation, itulah kata-kata yang mungkin pas.

Mulai pertemuan Konservasi Asia 2016 di Singapore beberapa bulan yang lalu, kami mewakili project kopi dan koservasi primata, membawa produk produk hutan berkelanjutan di hadapan komunitas internasional. Kopi, gula aren dan madu menjadi pembawa pesan konservasi primata di Jawa Tengah, khususnya dari habitat Owa jawa.

Bulan Agustus ini, ada pertemuan terbesar pegiat primata, yang di adakan di Chicago, kongres primata dunia, kesempatan ini juga menjadi semangat kami untuk memperkenalkan kegiatan pelestarian Owa jawa ini dan juga menjadi tempat berbagi pengalaman dan membangun jaringan di tingkat global untuk pelestarian primata. 

Jungle bean di kota Chicago


Perjalanan lebih dari 20 jam, telah di tempuh mulai dari habitat Owajawa -Kuala lumpur-London-Chicago, banyak pengalaman dan hal baru selama perjalanan ini, dan tentunya dalam satu minggu ke depan (sejak tulisan ini terbit) akan banyak hal baru dan teman baru yang membuat cerita konservasi primata ini semakin menarik…(bersambung)

Friday, August 5, 2016

Kelana si Kembang Asem : Macan Tutul Jawa

di tulis oleh: Sundah Bagus Wicaksono
e-mail : sbw_genetiq@yahoo.com

Macan Tutul yang tertangkap camera jebak

Sebagai seorang pengagum felids atau kucing-kucingan saya sangat antusias untuk mempelajari lebih jauh akan makhluk cantik nan eksotis ini. Jika dilihat dari persebaran subspesiesnya terbersit pertanyaan di benak saya, mengapa mereka bisa melanglangbuana sampai ke pulau Jawa, padahal mereka tidak ditemukan di pulau-pulau Indonesia yang lain bahkan Sumatera dan Bali atau Kalimantan sekalipun? Tidak seperti tiga kerabat besarnya yang lain (singa, harimau, dan jaguar) yang memiliki persebaran linear serta beraturan di tiap benua. Apakah ini salah satu contoh hasil survival dari mereka?
Perlu lagi kita ketahui bahwasannya negara kita dikaruniai satu dari beberapa subspesies mereka, namun perhatian kita selalu luput darinya dan melihat kepada spesies lain yang kita anggap jauh lebih penting untuk dipedulikan. Mungkin sebagian orang tidak mengetahui bahwa mereka termasuk satwa yang tergolong langka dan hampir hilang eksistensinya di bumi. Organisasi Konservasi Flora-Fauna Dunia; IUCN (International Union for Conservation of Nature) menyatakan bahwa status mereka sangat kritis saat ini, sama seperti sepupu lorengnya di Sumatera. Jumlahnya di alam tidak lebih dari 400 ekor yang tersebar di seluruh pulau Jawa.
Hampir sama seperti kasus di India, mereka sering terlibat konflik dengan manusia karena berbagai faktor. Banyak sekali informasi yang didapat tentang masuknya mereka ke kampung dan memangsa ternak lalu berakhir dengan kematian karena dibantai. Kita telah kehilangan dua subspesies kucing besar sekarang, apakah iya kita harus kehilangan satu lagi? Seyogyanya perhatian kita kepada mereka tidak kalah dibanding satwa langka yang lain dan selalu menjaga kelestariannya untuk masa depan. Menurut saya, sang raja hutan celingus dari Jawa ini adalah subspesies yang sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut.

“Satwa ini dianggap setan karena menjadi makhluk yang jarang dan sulit untuk dijumpai secara langsung.”

Sedikit cerita saya mengenai satu kejadian dimana macan tutul Jawa masuk kampung dekat hutan Petungkriyono dan membuat heboh seisi kampung. Kisah ini saya dapat dari penuturan salah seorang warga kampung tersebut. Macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) atau orang dusun tesebut biasa menyebutnya macan kembang asem merupakan satu-satunya spesies kucing besar yang hingga saat ini masih hidup di tanah Jawa dan diisukan pernah berkeliaran di sekitar hutan Petungkriyono. Menurut Pak Kliwon, salah seorang warga Dusun Tinalum, satwa ini dianggap setan karena menjadi makhluk yang jarang dan sangat sulit dijumpai secara langsung, namun segelintir orang mengaku pernah berpapasan dengannya.
Di awal tahun 2000 dikabarkan bahwa ada kembang asem turun gunung lalu masuk ke pemukiman dan memangsa ternak milik warga. Adalah Dusun Sokokembang, sebuah dusun yang berada di Desa Kayupuring, Kec. Petungkriyono, Kab. Pekalongan, Jawa Tengah yang menjadi sasaran si kembang asem. Dusun ini adalah tetangga sebelah dari Dusun Tinalum. Selain menyerang ternak milik warga, kembang asem yang keluar dari persembunyiannya ini juga membuat resah warga kampung sehingga warga menjadi takut untuk melakukan aktivitas keseharian mereka apalagi di malam hari. Setelah beberapa hari kembang asem meneror, maka tekad warga untuk menangkapnya semakin bulat.
Petang menjelang. Setelah hewan peliharaan milik warga diamankan ke kandang, segeralah para bapak dan remaja lelaki bersiap diri di rumah masing-masing dengan beberapa alat pertahanan diri dan penangkap. Beberapa rumah menjadi sukarelawan penyedia umpan seekor ayam untuk memancing si kembang asem keluar. Benar saja setelah beberapa saat ditunggu, seekor ayam salah seorang warga mulai mengeok, layaknya di terkam sesuatu. Aba-aba inilah yang dinantikan oleh warga kampung untuk segera melakukan penggerebekan. Pertama-tama pemilik rumah yang mendapati umpannya diterkam memberitahukan ke tetangganya yang tidak terlalu jauh untuk memberi kabar ke semua warga kampung agar keluar rumah untuk bersiap melakukan eksekusi.
Satu persatu warga berdatangan menuju rumah yang mendapati umpannya telah dimangsa. Dengan langkah pelan mereka berjalan mendekati rumah tersebut dengan tujuan agar kehadiran mereka tidak terdeteksi si kembang asem. Setelah bersiap di posisi masing-masing, salah seorang warga memberanikan diri untuk mendekati kandang ayam yang di duga menjadi tempat kembang asem menyantap hidangannya. Berhasil. Seorang warga tadi berhasil melakukan penyerangan kepada kembang asem tepat dibadannya menggunakan sebilah kayu. Brukkk! Di bagian samping perut lah sebilah kayu tersebut mengenai. Sontak saja, si kembang asem langsung berlari menuju ke luar kandang. Karena menemukan jalan buntu akibat dihadang warga dan tidak bisa kabur kembali ke hutan, akhirnya kembang asem ini memilih masuk ke salah satu rumah warga yang aksesnya masih terbuka. Untung saja sudah tidak ada orang di dalamnya. Sorak riuh suara warga menambah ketegangan Dusun Sokokembang malam itu. Seperti sedang ada peristiwa pencurian atau pembunuhan.

“Dikarenakan tubuh sudah tidak bisa bergerak maupun meronta oleh jepitan bambu, maka dengan sekali ayunan tepat mengarah ke kepala lah kembang asem malang ini tumbang.”

Setelah hampir satu jam si kembang asem bersembunyi, warga pun beraksi lagi. Sekarang banyak dari warga yang memberanikan diri menjadi relawan untuk melakukan penyergapan langsung, karena mereka tahu bahwa si kembang asem saat ini telah terluka. Eksekusi dimulai kembali. Rumah yang dimasuki kembang asem dikunci dan ditutup rapat dari luar sehingga kembang asem tidak bisa lagi kabur. Warga memasukkan bambu-bambu panjang yang telah dipersiapkan untuk mengantisipasi tubuh kembang asem meronta melalui beberapa celah rumah yang memang bolong dan tidak tertutup. Tidak mudah, namun dengan masuknya kembang asem di bagian dalam rumah yang sempit menjadikan warga lebih mudah melakukan penggencetan badan. Sekali-dua kali kembang asem meronta, mungkin karena rasa takut dan luka memar yang menimpanya. Si kembang asem ini seperti kehilangan tenaga dan jarang sekali melawan. Dengan nafas terengah-engah dan sedikit merinding, seorang warga bersiap memukul dengan tongkat kayu yang lumayan keras tepat ke arah kepala. Dikarenakan tubuh sudah tidak bisa bergerak oleh jepitan bambu, maka dengan sekali ayunan tepat mengarah ke kepala lah kembang asem malang ini tumbang. Ya, macan tutul tersebut mati seketika dengan cedera parah di bagian belakang kepalanya.
Penggerebekan kasus pencurian telah usai dengan akhir kematian si kembang asem. Seakan teror yang dilakukan oleh kembang asem di Dusun Sokokembang lenyap seketika malam itu. Warga memastikan macan tutul tersebut telah mati. Satu per satu warga masuk ke dalam rumah eksekusi, menyeret, dan mengarak tubuh lemas si kembang asem keliling kampung, menandakan mereka berhasil menang mengalahkankan lawannya. Gembira, takut, lega, dan tentu saja rasa geram warga kampung menyulut aksi mereka untuk mulai menyembelih, menguliti, hingga beberapa ada yang memasak dagingnya untuk dimakan. Entah kenapa euphoria kemenangan warga kampung menjadikan mereka melakukan hal tersebut. Dengan adanya peristiwa malam itu menjadikan Dusun Sokokembang kembali aman dan tidak ada lagi cerita heboh oleh ulah kembang asem lain yang dapat meresahkan warga. Selama beberapa tahun warga tidak menjumpai lagi keberadaannya di sekitar hutan dan juga sangat jarang ada cerita warga bertemu langsung dengannya. Sekali lagi kembang asem menjadi setan.

“Selama beberapa tahun warga tidak menjumpai lagi keberadaan macan tutul di sekitar hutan dan juga sangat jarang ada cerita warga bertemu langsung dengan macan tutul. Sekali lagi kembang asem menjadi setan.”

Pada pertengahan tahun 2015 kemarin, tepatnya bulan Mei-Juni, kami tim peneliti dari UGM melakukan penelitian tentang Mamalia Kecil di Hutan Petungkriyono. Kami memulai survei dengan menulusuri habitat hutan kopi  di sekitar Dusun Tinalum dan Dusun Sokokembang, dusun yang telah dan sedang dikenal melalui kegiatan pelestarian Owa Jawa melalui Proyek Kopi dan Konservasi Primata. Di hutan di sekitar dusun ini kami, kemudian kami memasang jebakan kamera (Camera trap), di titik-titik yang telah kami survey sebelumnya.Untuk meminimalisir kesalahan dalam identifikasi maka camera trap kami setting menjadi mode video.
Lama menunggu, hasil video dari rekaman camera trap yang di dapat tidak tanggung-tanggung. Banyak sekali ternyata jenis fauna yang mendiami hutan Petungkriyono. Sebagian besar dari mereka bersifat nokturnal (aktif dalam melakukan aktivitas di malam hari) dan beberapa ada yang diurnal (aktif di siang hari).

Akan tetapi dari ratusan video yang dihasilkan hanya dua video lah yang membuat tim terkesima, khususnya saya yang benar-benar terkesima. Masing-masing video tersebut merekam satu spesies satwa yang terlihat sedang melintasi jalan setapak buatan warga untuk masuk hutan. Satu video agak kurang jelas karena posisi objek yang terlalu dekat dan satunya lagi sangat jelas. Satwa tadi memiliki ciri-ciri yang familir bagi saya. Satwa tersebut jelas dari kalangan karnivora. Rambutnya berwarna dasar kuning kejinggaan dengan pola tutul roset hitamnya dan bagian ujung ekor yang menghitam. Ya, indah sekali, sangat memanjakan mata. Tidak salah lagi ini adalah penampakan macan tutul Jawa alias sang raja celingus alias kembang asem. Walaupun bagian tubuh si kembang asem yang terekam di video tersebut hanya tampak belakang dan atasnya saja akan tetapi dapat dipastikan kalau satwa ini benar-benar Panthera pardus melas. Rasa lelah saya terbayarkan. Bukan main senangnya saya bersama tim mendapatkan hasil bonus dari penelitian yang lumayan mengerakan tenaga dan pikiran ini.

“Satwa tersebut jelas dari kalangan karnivora. Rambutnya berwarna dasar kuning kejinggaan dengan pola tutul roset hitamnya dan bagian ujung ekor yang menghitam. Ya, indah sekali, sangat memanjakan mata.”

Kedua video kembang asem tadi diambil dari camera trap yang terpasang tidak jauh dari pemukiman penduduk. Dengan melihat akses pergerakannya menggunakan jalan setapak milik warga, sebenarnya kembang asem tersebut sehari-hari hidup berdampingan dengan mereka hanya saja enggan untuk menampakkan diri. Mengapa kembang asem tersebut memakai jalan setapak milik warga untuk masuk ke hutan sebagai pergerakannya? Sebab spesies-spesies satwa karnivora seperti kucing-kucingan atau musang-musangan diketahui memang sering memakai jalur lintasan yang relatif terbuka dari tetumbuhan untuk pergerakan, seperti halnya kita bila berjalan di atas rumput, terasa risih dan geli di kaki dan lebih memilih berjalan di atas tanah kosong. Selain itu memang beberapa hari sebelum kembang asem tersebut melintas camera trap merekam video kijang betina yang kelihatannya bunting sedang lewat. Kemungkinan ini yang menarik perhatian si kembang asem untuk berada disana. Menurut beberapa ahli felids dunia, spesies macan tutul dan jaguar berburu mangsanya dengan trik stalker (membuntuti) dan mulai menyerang disaat mangsanya lengah.
si Kembang asem
Adanya rekaman dari dua video ini menjadi bukti nyata bahwa kembang asem masih bernafas bebas di seputar masyarakat sekitar hutan Petungkriyono. Meski sekarang kembang asem hadir di dekat warga kampung disaat melakukan aktivitas keseharian tanpa sepengetahuan mereka namun kembang asem tersebut tidak akan mengganggu. Tidak seperti dulu. Seolah-olah mereka berdua mengerti jika hidup berdampingan dan saling memahami satu sama lain adalah tujuan hidup yang harmonis. Penuturan warga kampung yang berpapasan langsung dengan kembang asem kini mulai bermunculan. Kisah kembang asem yang telah hilang ditelan zaman hingga hampir satu dekade ini pun akhirnya kembali. Tidak menjadi raja hutan yang celingus lagi.

Thursday, July 21, 2016

Kisah Owa di Konservasi Asia

 Akhir bulan juni tanggal 29 Juni -2 July 2016, adalah kesempatan kami mempromosikan kegiatan pelestarian primata endemik jawa (Owa Jawa) di forum internasional. Kali ini pertemuan 2 tahunan para  peneliti dan pegiat konservasi di wilayah Asia (ATBC dan SCB), yang berlangsung di National University of Singapore (NUS). Silahkan berkunjung ke link ini untuk acara ini Conservation Asia Pertemuan ini mejadi salah satu favorit kita untuk bergabung dengan komunitas global dalam menyuarakan upaya pelestarian primata di Indonesia dan khususnya Owa jawa. Conservation Asia 2016, kali ini tercatat 500 delegasi dari 37 negara yang hadi terdaftar sebagai peserta symposium.

Betemu dengan pegiat primata dari berbagai negara

Setelah beraktifitas dengan kegiatan lapangan kemudian menceritakan ke orang lain dalam forum resmi dari berbagai negara adalah suatu motivasi tersendiri, dan menjadi kebanggaan tersendiri dapat berbagi pengalaman kegiatan lapangan dalam berkontribusi untuk kelestarian hidupan liar yang sudah terancam punah . Tidak hanya untuk Owa jawa, tapi secara langsung presentasi ini juga mengenalkan kegiatan “Kopi dan Konservasi Primata” dari habitat aslinya Petungkriyono Pekalongan, Jawa Tengah .

Presentasi berjudul “ What Does Coffee have to Do with gibbon” adalah rangkuman cerita lapangan sejak tahun 2007 kita mulai penelitian Owa jawa di Jawa Tengah hingga 3 tahun terakhir ini kita mendorong kegiatan ekonomi untuk tujuan konservasi melalui produk hasil hutan  : kopi, gula aren dan madu sebagai media untuk mengajak melestarikan primata endemik Jawa.

Presentasi "Kopi dan Konservasi Primata" foto Oleh : H.A.Wahyudi

Forum ini juga menjadi media belajar kita, untuk upaya kegiatan serupa dari kisah sukses di negara lain.Banyak peneliti-peneliti, pegiat dan pemerhati lingkungan hadir dan mempresentasikan hasil-hasil ataupun penelitian dan kegiatan konservasi yang sudah dan sedang mereka jalani. Pilihan diskusi dan tanya jawab langsung di permudah dengan paralel symposium yang mana kita bisa memilih sesuai bidang yang kita minati.

Acara Pembukaan symposium Conservation Asia 2016

Selain mengenalkan Owajawa acara ini juga menjadi bagian dari marketing strategi untuk pelestarian primata dengan menggerakkan ekonomi dari sekitar habitat primata itu sendiri, Kopi Owa yang telah dan sedang kita kembangkan sebagai sustainable product ikut menjadi bagian dari presentasi kita. Produk-produk ini adalah hasil kerjasama kita dengan warga sekitar habitat primata yang menjadi bagian dari pengembangan Proyek Kopi dan Konservasi Primata. Lebih jauh tentang acara ini dapat di baca di link ini dan abstract presentasi kita dapat di download disini.
Mengenalkan Owa Jawa melalui produk kopi dari habitat Owa Jawa.



Tuesday, July 19, 2016

Owa Jawa : Sinden Gunung Negeri Atas Awan (bagian 2)

di tulis oleh : Salmah Widyastuti
e-mail: salmah.w@mail.ugm.ac.id

 Ds.Tlogohendro

Pagi itu, 4 Juni 2016, pagi-pagi sekali kami ditemani salah satu warga habitat Owa,  berangkat menuju Desa Tlogohendro, Petungkriyono, untuk kembali melakukan survei populasi owa jawa di hutan Tlogohendro.  Survei lanjutan kali ini bertujuan untuk mengetahui jumlah rata-rata individu  owa jawa dalam satu kelompok atau group size, yang menghuni hutan negri di atas awan ini. Sebelum langsung terjun ke hutan, terlebih dahulu kami konfirmasi lokasi keberadaan kelompok-kelompok owa jawa lewat arah terdengarnya suara nyanyiannya. Namun hingga pukul 09.00 tak satu pun suara nyanyian sang sinden terdengar. Hal ini memang sering terjadi, karena nilai probabilitas owa bersuara yaitu di bawah satu, yaitu berkisar 0,85-1 (Brockleman and Ali, 1987). Artinya tidak setiap hari owa bersuara. Akhirnya kami langsung bergerak menuju hutan di sebelah utara Desa Tlogohendro berdasarkan data yang diperoleh pada survei beberapa bulan lalu. Melewati medan yang sulit, menaiki bukit, kemudian turun menyebrang sungai, dan kembali naik, berjalan perlahan menyusuri hutan dengan pepohonan menjulang kami berharap menjumpai kelompok owa jawa. Namun yang muncul hanya sepasang burung rangkong dari sarangnya di ketinggian pohon yang menjulang. Tak satu pun kelompok owa jawa yang menunjukan atraksinya pada kami di hari yang cerah itu.
Mencari kelompok Owa

Medan di hutan yang terletak di dataran tinggi ini memang berbeda dengan hutan lain yang berada di bawah 1000 mdpl yang terdapat di Petungkriyono. Kemungkinan butuh berhari-hari di dalam hutan Tlogohendro bila ingin menemukan kelompok owa jawa. Peluang untuk dapat berjumpa dengan kelompok owa jawa di hutan Tlogohendro ini kecil, karena besar populasi owa jawa di hutan dataran tinggi ini memang relatif rendah. Estimasi besar populasi owa jawa di hutan ini menggunakan metode vocal count yaitu 0,51 kelompok/km2 (radius efektif pendengaran= 0,7 km). Rendahnya populasi owa jawa di hutan ini dapat disebabkan karena letak hutan yang memasuki ketinggian diatas 1000 mdpl, dimana vegetasinya sudah tidak sebagus vegetasi di dataran rendah, keanekaragaman jenis penyusun vegetasinya mulai berkurang dan potensi sumber pakan bagi owa jawa juga berkurang.
Tetaplah terus bernyanyi menemani aktivitas warga Tlogohendro di pagi hari, dan mewarnai hutan negeri di atas awan .


Owa Jawa (Hylobates moloch)

Thursday, June 2, 2016

#Rainforestlive 2016



Besok tanggal 3 Juni 2016, SwaraOwa akan bergabung dengan organisasi konservasi di berbagai negara akan menggunakan sosial media untuk berbagi pengalaman pengamatan hidupan liar dari ekosistem dan habitat asli. Kegiatan ini yang ke-3 kalinya diadakan sejak tahun 2014, yang di inisiasi oleh Matt Adam William (Orangutan Tropical Peatland Project, Outrop) dan kali ini ada 11 organisasi yang akan berpartisipasi,di antaranya Zoological Society of London, Orangutan Foundation UK, Crees Foundation, Sumatran Orangutan Society, TEAM Network, Tamandua Expeditions, Orangutan Outreach, Project Anoulak and Gunung Palung Orangutan Project.  

Dalam waktu 24 jam dengan taggar #Rainforestlive kita akan memposting foto,hasil cameratrap, rekaman-rekaman pengamatan dari peneliti,volunteer atau kegiatan lapangan lainnya untuk menunjukkan bahwa ada hidupan liar luarbiasa, tidak sering kita jumpai dan hidup di habitat aslinya, dan kita berbagi ruang dengan mereka. Foto-foto akan lebih menonjolkan pesan positif sebagai imbangan terhadap berita negatif tentang kerusakan alam dan hidupan liar dibumi.


Silahkan pantau di media sosial dengan #Rainforestlive untuk melihat keanerakaragaman hidupan liar di sekitar kita yang luarbiasa, dan ikuti rangkuman ceritanya di storify : https://storify.com/OuTrop/rainforest-live