Monday, April 19, 2021

Mengamati Owa Jawa, Sebuah Kisah di Hutan Tombo dan Kalitengah

 Oleh : Devi Candra Lestari 

 

Perkenalkan nama saya Devi Candra Lestari, mahasiswi jurusan akhir yang sedang berusaha meraih gelar untuk membanggakan kedua orang tua di salah satu universitas terbaik di Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan mengambil jurusan S1 Kehutanan. Pandemi COVID-19 yang tiba-tiba saja merebak di seluruh dunia memberikan pengaruh yang cukup besar dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya akademik. Ya, semua mulai dilakukan secara daring, bahkan untuk mahasiswa akhir yang harus melakukan penelitian untuk memperoleh gelar sarjana pun harus benar-benar mempertimbangkan banyak hal, karena saya yakin kesehatan menjadi prioritas utama di masa seperti sekarang ini. Dengan melakukan beberapa konsultasi bersama dosen pembimbing skripsi, akhirnya saya mengambil topik penelitian yang dapat dilakukan secara daring. Hal ini memang memudahkan saya dalam menyelasaikan tugas akhir saya, akan tetapi hal ini membuat saya membuang kesempatan melihat dunia lebih luas dengan alasan “ke lapangan untuk ambil data skripsi”. Hampir setahun saya hanya “menganggur” di rumah hingga akhirnya seorang kakak tingkat memberikan tawaran sebagai relawan di Swaraowa, sebuah lembanga swadaya masayarkat yang bergerak di bidang pelestarian hutan untuk jenis-jenis Owa di Indonesia . Kesempatan relawan ini untuk membantu seorang mahasiswi S2 Institute Pertanian Bogor (IPB) yang mendapat beasiswa dari Swaraowa, yang sedang mengambil data thesis bertemakan bioacoustic Owa Jawa. Setelah banyak menimbang dengan keyakinan bahwa belum tentu kesempatan seperti ini akan datang lagi, saya akhirnya mendaftarkan diri sebagai relawan di SwaraOwa.

Nur Aoliya (Kiri) dan Saya ( kanan)

Namanya Nur Aoliya, saya memanggilnya Mbak Lia, ketertarikannya terhadap primata membuatnya memilih Owa Jawa sebagai obyek penelitian untuk tugas akhirnya, baik saat sedang berusaha memperoleh gelar sarjana saat S1, dan juga untuk saat ini. Pengetahuan yang luas tentang primata dan pengalamannya dalam hal konservasi dan rehabilitasi primata membuatnya memiliki banyak cerita yang menarik untuk didengarkan. Penelitiannya kali ini dimaksudkan untuk mengetahui variasi greatcall suara Owa Jawa di daerah pegunungan dieng. Greatcall disini adalah lengkingan suara keras yang dihasilkan oleh owa betina dewasa, Suara ini menunjukkan bahwa lokasi tersebut merupakan teritori suatu kelompok Owa Jawa yang harus mereka pertahankan dari kelompok lainnya. Variasi akan terbentuk dari berbagai kondisi yang berbeda di tiap titik pengambilan data.

recorder dan shotgun mic

Apabila fotografer memerlukan kamera untuk mendapatkan targetnya, kami memerlukan sebuah senjata yaitu perekam suara, Linear Pulse Code Modulation- PCM dengan device tambahan  shotgun microphone yang khusus untuk digunakan merekam suara satwaliar (baca disini tentang shotgun mic). Alat ini mampu merekam suara Owa Jawa yang terdengar bahkan hingga radius ratusan meter. Nantinya hasil rekaman dari alat ini akan di analisis kembali, divisualisasikan sehingga dapat diketahui sonogram greatcall Owa Jawa di tiap titik pengambilan data-Listening Posts (LPs). Alat ini cukup mudah digunakan, hanya saja dalam menggunakannya perlu menghindari kebisingan seperti suara kendaraan bermotor, suara sumber air yang cukup deras, dan hal lain yang mampu mengganggu kualitas suara dari Owa Jawa itu sendiri. Selain rekaman suara, estimasi jarak dan sudut sumber suara Owa Jawa juga diperlukan untuk mengidentifikasi jumlah kelompok Owa Jawa yang ada. Biasanya, satu kelompok berisi 4 hingga 6 ekor owa yang terdiri dari owa jantan, owa betina, dan anak-anak mereka.


Lutron digital Anemometer,Hygrometer, Termometer and lightmeter

Garmin GPS Handheld

measuring tape

Pengambilan data juga dilakukan untuk data-data lain, seperti data kondisi lingkungan dan juga data vegetasi. Data kondisi lingkungan diambil tiap jam, mulai dari pengamatan dimulai hingga berakhir sekitar pukul 12.00 siang. Data yang diambil berupa data suhu, kelembaban, kecepatan angin, intensitas cahaya, dan kondisi cuaca. Data vegetasi diambil satu kali di tiap lokasi dengan data-data yang diperlukan dalam pembuatan diagram profil pohon. Data-data tersebut akan menunjukkan kondisi yang berbeda di tiap lokasi pengambilan data yang nantinya dapat digunakan sebagai faktor penentu variasi greatcall suara Owa Jawa.

mbak Lia sedang mengambil data vegetasi

Saya berkesampatan untuk membantu Mbak Lia mengambil data di 2 lokasi, karena lokasi lain telah selesai dilakukan pengambilan data. Lokasi pertama berada di Desa Tombo, Kec. Bandar, Kab. Batang. Selama di Desa Tombo, kami menginap di rumah Pak Saatu. Beliau merupakan kepala dusun yang juga bekerja sebagai petani padi. Beliau tinggal bersama istri, anak, dan juga 2 cucunya.

 Salah satu hal menarik yang saya dapatkan dari tinggal di rumah Pak Saatu adalah hangatnya kasih sayang di lingkup keluarga telah membentuk tata karma yang baik untuk anaknya. Apa yang terlintas dalam pikiran anda apabila mendengar tingkah laku anak kecil “jaman now”? Mungkin beberapa akan mengatakan hilang unggah-ungguhnya, atau bahkan beberapa akan mengatakan hilang Jawa-nya (karena saya berasal dari Jawa). Hal ini membuat saya akhirnya memutuskan untuk memulai memperkenalkan diri menggunakan Bahasa Indonesia, bahasa nasional kita, kepada kedua cucu Pak Saatu. Mendengar jawaban mereka, saya menjadi malu. Tata bahasa mereka, jauh lebih baik dibandingkan dengan saya. Bahkan sering kali saya dibuat kebingungan ketika menjawab pertanyaan mereka. Dalam benak saya, saya berfikir, “ setidaknya, Bahasa Krama saya harus sama halusnya lah dengan merek,” tapi eksekusinya, saya hanya bisa menambal beberapa kosakatamenggunakan Bahasa Nasional karena sayapun bingung harus berbicara apa. Sebenarnya, mereka juga telah mengetahui teknologi seperti halnya kita, akan tetapi lingkungan yang terus menjaga tradisi membuat mereka secara sukarela akhirnya juga ikut mengamalkan tradisi tersebut.

Semburat jingga, pagi di Desa Tombo. Foto Nur Aoliya


LPs  (Listening post ) di desa tombo, dihadapkan pada Gunung Kendalisodo. Foto Nur Aoliya


        Selama pengambilan data, kami ditemani oleh Mbah Dasto, yang kebetulan lokasi kebun kopinya cukup dekat dengan lokasi pengambilan data kami. Jarak dari desa menuju lokasi pengambilan data kami cukup jauh, terlebih lagi kami juga masih harus berjalan sekitar 30 menit lamanya. Kenyataan itu menuntut kami untuk berangkat pagi-pagi sekali untuk bisa mencapai titik sebelum pukul 06.00, waktu awal pengambilan data. Berangkat pagi ternyata tidak sepenuhnya memberatkan. Kami selalu disambut semburat jingga pagi Desa Tombo yang hangat dan juga sekelompok ibu-ibu pemetik teh yang tersenyum ramah, bergegas menuju  kebun teh dengan tas dan caping mereka. Penduduk desa ini mayoritas merupakan pemetik teh, petani kopi dan juga petani padi, karena menurut Pak Saatu, desa ini sangat tidak cocok digunakan sebagai lahan perkebunan karena masalah hama yang cukup merepotkan.

sedang merekam suara owa di lokasi LPs

            Suara Owa Jawa beberapa kali terdengar di lokasi ini. Akan tetapi, saya, yang sama sekali belum pernah melihat Owa Jawa secara langsung sangat ingin melihatnya. Satu hari, dua hari, harapan saya pupus dan ini berlanjut hingga hari terakhir. Tak satupun terlihat Owa Jawa yang terlihat, Suara-suara yang terdengar memang berasal dari lokasi yang cukup jauh dari lokasi pengambilan data kami. Pengambilan data akhirnya diakhiri, dan kami akhirnya berpindah ke lokasi selanjutnya yaitu di Desa Kalitengah, Kec. Blado, Kab. Batang.

ikut memetik teh, di perkebunan di sekitar lokasi pengamatan



    Kami akhirnya bertemu keluarga baru di Desa Kalitengah ini. Desa Kalitengah merupakan daerah wisata yang cukup ramai dikunjungi pelancong yang ingin menikmati keindahan kebun teh dan juga menikmati secangkir kopi khas daerah ini. Kami menginap di rumah Pak Sis selama di desa ini. Karena lokasi ini lokasi baru, kami melakukan observasi lapangan selama 2 hari untuk menentukan lokasi pengambilan data. Kami membuka telinga lebar-lebar untuk dapat menemukan suara Owa Jawa sebagai target baru untuk bisa direkam suaranya. Setelah melakukan pencarian, akhirnya kami mendapatkan lokasi pengamatan yang baru, yaitu di sebuah punggungan dekat desa yang berhadapan langsung dengan bukit-bukit dan lembah yang masih sangat rimbun hutannya. Data yang kami peroleh di desa ini tidak jauh berbeda dengan Desa Tombo. Suara Owa Jawa beberapa kali terdengar, tapi tidak satupun Owa Jawa yang terlihat. Akan tetapi, dibandingkan dengan Desa Tombo, suara Owa Jawa di lokasi ini lebih jarang terdengar.

bentang hutan di LPs Kalitengah. Foto Arif Setiawan

Akhirnya setelah 8 hari di lapangan, pengamatan pun selesai. Kami kembali ke Kec. Doro, menuju kontrakan salah satu rekan kami yang juga bekerja di Yayasan SwaraOwa, saya memanggilnya Mbak Alif. Kami menginap untuk satu malam, dan besoknya, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Petungkriyono, melihat-lihat kalau-kalau saya beruntung bisa berjumpa dengan Owa Jawa yang sampai hari terakhir pengamatan belum pernah secara langsung melihatnya. 

Owa jawa yang kami jumpai di Petungkriyono



Perjalanan menuju Petungkriyono sangat menyenangkan. Udara yang masih terasa segar dan pemandangan yang indah cukup menghibur saya. Hingga akhirnya, kami berhenti di sebuah spot wisata yang memang sudah tidak beroperasi lagi. Beruntungnya, setelah kami memarkirkan motor, terlihat Owa Jawa sedang bergelantungan tepat di atas kami. Selain itu, kami juga bertemu sekelompok lutung yang sedang “bersantai” di sebuah pohon. Di lokasi ini, juga terdapat banyak burung yang berterbangan dan berkicauan. Atraksi utama dari spot wisata ini yaitu air terjun. Setelah dirasa cukup puas melihat satwa-satwa yang ada, akhirnya kami memutuskan tracking menuju air terjun tersebut. Setelah sampai, semburan air yang sangat dingin, bebatuan sungai, dan air yang tumpah dari ketinggian, telah menyambut kami. Pemandangan yang cukup menakjubkan. Kami mengabadikan beberapa momen di lokasi ini untuk memnandakan bahwa kami pernah mengunjungi lokasi ini. Rasa penasaran akan bentuk Owa Jawa secara langsung dan rasa lelah yang ditimbun selama pengamatan akhirnya terbayarkan dengan apa yang kami dapatkan di sini. Semoga, kedepannya lokasi ini dapat kembali dibuka sebagai salah satu destinasi spot forest healing yang tidak hanya mengunggulkan air terjunnya, tetapi juga keindahan alam dan satwanya.

air terjun di Petungkriyono. Foto Alfah Dina

Banyak hal yang saya dapatkan selama perjalanan kali ini. Jiwa sosialisasi saya dituntut untuk terbangun kembali setelah sempat “mati” selama “menganggur” di masa Pandemi COVID-19 ini. Unggah-ungguh dan tata karma kembali diasah karena saya juga harus bisa berbaur dengan masyarakat setempat agar kami sama-sama nyaman untuk dapat tinggal bersama. Pengalaman baru juga didapatkan, karena saya baru benar-benar mempraktikan di lapangan bagaimana sebenarnya mengamati primate, terkhusus Owa Jawa. Ilmu-ilmu yang hanya bisa didapatkan selama kita berada di lapangan, bukan saat kita hanya duduk dan mendengarkan ketika di kelas. Kapasitas diri menjadi lebih meningkat dan juga kesempatan ini membuka kesempatan saya untuk membuka jejaring konservasi lebih lebar lagi.

Sunday, March 7, 2021

Penyelamatan Hulu Sungai Kupang, Aksi konservasi Forum Kolaborasi Pengelolaan Hutan Petungkriyono

 oleh : Arif Setiawan @swaraowa

Dusun Lindon, desa Tlogohendro, menjadi lokasi yang menjembatani komunikasi antar pihak dalam wadah forum komunikasi pengelolaan hutan petungkriyono, untuk bertemu dan memulai  aksi bersama di lapangan. Kegiatan lapangan ini menjadi yang pertama kali sejak surat keputusan di keluaran oleh Gubernur jawa tengah, untuk forum kolaborasi pengelolaan hutan Petungkriyono.



Acara yang di inisiasi oleh Perhutani KPH Pekalongan Timur,  Cabang Dinas Kehutanan 4, Jawa Tengah dan SwaraOWA, telah berhasil mengundang  dan mempertemukan pihak-pihak terkait yang peduli akan pembangunan dan kelestarian hutan Petungkriyono.

Untuk sampai ke dusun Lindon, niat saja tidak cukup, namun perlu upaya yang tidak biasa-biasa saja, karena geografis yang bergunung, dan jalan berliku yang kanan-kirinya jurang dan tebing batu. Menjadi semangat  semua perserta yang  belum pernah berkunjung ke desa di pelosok pegunungan Kabupaten Pekalongan.






Acara penanaman pohon di hulu sungai Kupang,  mempertemukan anggota forum dan warga desa Tlogohendro, setidaknya untuk mengenalkan personal dan juga selanjutnya dapat  mengkomunikasikan kebijakan masing-masing Lembaga dalam mensinergikan tata Kelola  hutan yang menjadi habitat Owa Jawa, dan satwa-satwa endemik Jawa lainnya.  


Acara penanaman pohon hari kamis tanggal 4 Maret 2021 di hadiri oleh setidaknya 120 orang, yang Sebagian besar adalah warga desa Tlogohendro, dan tamu undangan dari anggota forum kolaborasi pengelolaan hutan Petungkriyono. Dibuka oleh Bapak Kaslam, selaku kepala Desa Tlogohendro, membuka dengan mengajak warga Tlogohendro khususnya untuk terus menjaga alam, karena alam juga sudah memberikan manfaatnya untuk kita sehari-hari,sperti udara bersih, menjaga dari bencana, dan tidak menebang  pohon-pohon yang ada di hutan. “Kegiatan seperti ini harusnya dapat di teruskan atau dapat di lakukan secara berkelanjutan, agar hutan juga terus lestari dan aman”, harapan pak Kaslam.

Bapak Sugiharto, dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah memberi sambutan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk melestarikan fungsi penting DAS Kupang, mengajak warga sekitar  menjadi bagian penting dalam menjaga Kawasan penting di Petungkriyono.  Jenis-jenis yang di tanam dan dibagikan ke warga di Tlogohendro kuranglebih 1250 batang, terdiri dari Bambu petung, dan Aren, yang secara ekologis penting untuk pelestarian tanah dan air, namun juga dari sisi ekonomi sangat berarti bagi warga Petungkriyono. Jenis yang lain adalah tanman buah Nangka, Sirsak, dan Petai dan Jengkol.




Pemilihan jenis pohon yang di tanam sudah melalui survey awal terhadap lokasi tanam, berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut, kondisi tegakan yang masih hidup,  keinginan warga dan fungsi ekologis tanaman itu sendiri. Bambu Petung ( Dendrocalamus asper) merupakan tanaman pencegah longsor yang baik, Bambu petung ini biasanya tumbuh di tepi-tepi sungai kecil yang berkontur curam. Bambu petung juga merupakan komoditas bahan pangan yang memanfaatkan rebungnya. Untuk bahan konstruksi dan kebutuhan penanaman sayuran ( ajir), juga sudah banyak di manfaatkan oleh petani-petani di bagian atas Petungkriyono, khususnya Tlogohendro.


Nangka ( Arthocarpus heterophyllus), merupakan komoditas bahan pangan yang utama untuk di Pekalongan, karena nasi megono , kuliner khas Pekalongan ini menggunakan Nangka muda sebagai bahan bakunya, meskipun belum ada data mengenai kebutuhan Nangka untuk megono, namun produsen Nangka untuk megono ini salah satunya berasal dari Kecamatan Petungkriyono. Jenis-jenis tanaman buah yang di tanam juga merupakan komoditas tanaman pangan sekaligus untuk fungsi ekologis tutupan hutan dan perbaikan habitat satwaliar.

Kopi Arabica Jawa, varian typica dan pohon Aren ( Arenga pinnata) menjadi salah satu komoditas unggulan warga di Tlogohendro dan umumnya warga di Petungkriyono, dan menjadi keinginan warga untuk memperbanyak tegakan kopi muda yang di tanam di lahan-lahan milik warga. Pohon aren selain berfungsi untuk mencegah longsor dan vegetasi penahan air hujan, aren ini menjadi sumber bahan baku untuk Gula aren dan Kolang-kaling yang sudah sejak dahulu di kelola warga di Petungkriyono. Pak Tasbin, Ketua LMDH Tlogohendro, mengungkapkan kalau potensi kopi di Desa Tloghendro ini sangat besar, namun masih belum dikelola dengan baik, tanaman-tanaman kopi sudah banyak yang tua dan kurang produktif. Dengan adanya regenerasi tanaman kopi ini, diharapkan dapat menyediakan kopi-kopi istimewa dalam waktu 4 tahun mendatang, ungkap pak Tasbin. 


Salah satu program pemberdayaan yang dilakukan oleh tim Swaraowa juga telah membuat semai kopi dan Aren ini di dusun Sokokembang. Bersama warga khusunya ibu-ibu di Sokokembang, tahun ini telah berhasil memproduksi kuranglebih 15000 batang bibit kopi Arabica dan 500 batang bibit Aren. Bibit siap tanam dari kebun bibit  di dusun, Sokokembang ini yang digunakan untuk penanaman di hulu Sungai Kupang.





Acara penanaman pohon di hulu Sungai Kupang, bertema “Penyelamatan hulu Sungai Kupang, untuk Pencegahan Banjir dan Longsor” juga merupakan bentuk kampanye penyadar tahuan tentang pentingnya Kawasan hulu sungai petungkriyono sebagai Kawasan tankapan air untuk wilayah dibawah, dan sarana edukasi untuk mengajak siapapun untuk menanam dan merestorasi Kawasan hutan. Pohon-pohon penting secara ekologis untuk melindungi tanah dan air, menyediaka pilihan-pilihan  komoditas ekonomi, dan juga tempat berlindung bagi berbagai hidupan liar.


Friday, February 26, 2021

Rimba Sokokembang ,rumah Lutung jawa berkembang

 berita foto Oleh : Arif Setiawan ( a.setiawan@swaraowa.org)

1.  Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), IUCN mengkategorikan status keterancamannya rentan ( Vulnerable), artinya 3 tingkat lagi menuju kepunahan, merupakan  jenis monyet pemakan daun, yang tersebar di Pulau Jawa di hutan Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tenah. Mereka   hidup berkelompok 2- 15 individu, dalam satu kelompok  terdapat 1 jantan dewasa dengan  beberapa  beberapa betina (polyginous). 

 


2.       Lutung jawa sering di jumpai di pohon-pohon tepi jalan di hutan menuju Petungkriyono. Meskipun penelitian populasi belum pernah dilakukan, menurut pengamatan tim swaraowa di sepanjang jalan menuju Petungkriyono ini di jumpai kurang lebih ada 6 kelompok Lutung yang sering muncul.

 


3.       Lutung jawa mempunyai anak yang bewarna orange , kemudian berubah menjadi hitam dalam waktu rata-rata 2,9 bulan (Trisilo et al, 2021). Warna orange ini memberi merupakan bentuk adaptasi dan evolusi dimana semua anggota Lutung jawa dalam kelompok akan mudah mengawasi dan melindungi bayi Lutung Jawa dari ancaman predator atau gangguan lainnya.

 


4.       Lutung Jawa bergerak dengan ke empat alat geraknya ( quadrupedal), dan memanfaatkan waktu hidupnya di atas pohon, dan sesekali turun ke tanah untuk mencari serangga dan sumbermakanan di strata bawah atau lantai hutan.

 


5.       Lutung jawa, termasuk primata dilindungi, berdasarkan UU no 5 Tahun 1990, tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan Permenhut no P.106 /MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. 


6.       Aktifitas harian lutung jawa, biasanya lebih banyak istirahat , karena mereka memerlukan waktu dan energy  untuk mencerna daun-daun yang susah di cerna. Pencernaan lutung jawa hampir menyerupai ruminant, lambung bersekat-sekat dengan bantuan bakteri pencernaan untuk mencerna daun-daun. Meskipun terlihat tidur rebahan di cabang pohon, Lutung -lutung ini sebenarnya sedang mencerna makanannya.

 


7.       Pengamatan bulan Februari 2021, kelompok lutung jawa hutan di hutan Sokokembang mencatat ada 6 betina menggendong bayi lutung, ada yang masih berwarna orange ada yang sudah berwarna hitam seperti induknya.

 




8.       Teramati 2 individu Lutung Jawa sedang grooming ,aktivitas sosial untuk membersihkan badan, memperkuat ikatan kelompok dan juga melepas ketegangan atau stress.

 


9.       Hutan petungkriyono, dengan kondisi yang relatif rapat merupakan kondisi yang diperlukan oleh lutung jawa untuk terus berkembang. Keberadaan lutung yang mudah di amati di pinggir jalan, tanpa merasa terganggu bisa menjadi atraksi wisata alam yang natural. Namun dengan tetap menjaga jarak tidak terlalu dekat, tidak memberi makan, dan juga tidak membuang sampah sembarangan.




Wednesday, December 30, 2020

Kilasbalik 2020 : gita karya di tengah pandemi.

 oleh : Arif Setiawan. E-mail : a.setiawan@swaraowa.org


bentangalam kawasan hutan Petungkriyono


Bulan januari 2020, rencana untuk kegiatan-kegiatan pelestarian primata khususnya jenis-jenis owa  sudah sedemikian rupa telah  disusun,  tanpa menaruh perhatian pada gemuruh badai global yang sudah begerak. 2 kegiatan utama yaitu  untuk konservasi Owa di Jawa Tengah dan Owa bilou di Kep.Metawai telah menjadi motivasi kuat untuk memperkuat kerja konservasi di tingkat tapak.

Kegiatan bersama dengan tim malinggai Uma Mentawai disiberut selatan, dilakukan dengan tujuan untuk  meningkatkan kapasitas anggota Malinggai Uma, dengan mengenalkan fotografi satwa untuk tujuan pelestarian budaya dan keanekargaman hayati. 2 anggota malinggai uma telah di persenjatai dengan 2 kamera yang akan digunakan untuk berburu satwa, merekam sejarah alam, dan meninggalkan kebiasaan berburu yang tidak lagi menggunakan adat.

Program ini telah sedikit banyak memberikan dampak langsung, dengan terbitnya buku burung Mentawai dan buku primata Mentawai. Kerja kolaboratif dengan mendorong warga sekitar sebagai actor utama “paraconservationist” .  Tidak hanya primata, namun mengenalkan keanekargaman hayati lainnya yang ada di mentawai sekaligus memperkuat nilai budaya asli.

Bilou (Hylobates klossii)

Kegiatan Mentawai di bulan januari tersebut, sebenarnya juga akan mengawali kegiatan promosi konservasi primata Mentawai melalui wisata pengamatan primata, promosi melalui  website https://wildgibbonindonesia.com/  juga sudah di mulai dan perjalanan ini sebenarnya sudah di lakukan untuk ujicoba sebuah trip wisata pengamatan primata endemik Mentawai, dengan kombinasi wisata budaya. Baca trip reportnya di sini. Namun hal ini juga tertuda untuk pengembangannya, kalau sejak bulan Maret sampai saat ini wisata ke Mentawai juga masih tertunda untuk wisatawan target primatewatching ini yang kebanyak dari luar negeri. Beberapa kelompok wisatawan sudah memesan perjalanan ini sejak promosi kami di akhir tahun 2019, namun harus di batalkan karena situasi pandemi global.

Bulan februari, menjadi bulan terakhir sebelum tatanan global berubah karena pandemi virus covid 19, kesempatan mengupgrade pengetahuan, dan pengalaman tentang primate-primata sumatera datang Ketika Noel Rowe PCI mengajak untuk melakukan  primate watching trip ke sumatera bagian tengah, dan yang menjadi target species adalah jenis-jenis Presbytis sp.

Konsep primate watching trip ini lebih mirip perjalanan overland, dengan kendaraan 4x4, yang melintas hutan-hutan yang dapat di lalui kendaraan roda 4, namun masih memungkinkan melihat primate-primata. Perjalanan dimulai dari Padang sumatera barat, Jambi, Riau, hingga ke Sumatera Utara, dan Kembali lagi ke Padang. Total panjang perjalanan ini adalah kurang lebih 3500 km, selama 24 hari. Selain melihat langsung dan mendokumentasikan species-species simpai sumatera bagian tengah, juga melihat langsung ancaman kelestarian habitat dan populasi monyet daun endemik Sumatera. Taksonomi jenis-jenis simpai Sumatra ini memang masih sangat membingungkan dan di perdebatkan, selain kurang di perhatikan di kalangan peneliti dan konservasionist.  Primate watching ini sebenarnya baru di inisiasi dan akan menjadi salah satu sumberpendaan kegiatan swaraowa, pengalaman merencanakan, handling tamu dan juga kondisi lapangan menjadi sarana latihan untuk tur primata. Cerita perjalanan ini dapat di ikuti di Instagram swaraowa mulai tanggal 5 februari sampai 25 Februari 2020. Beberapa spot lokasi untuk pengamatan Ungko dan siamang terdata dengan kemungkinan akan di kunjungi lagi  di waktu mendatang. Hari-hari terakhir primatewatching trip Sumatra, kabar mengenai virus corona 19 sudah menyebar, di berbagai negara, namun sepertinya di Indonesia masih belum mendapat perhatian serius.

Tim kopi owa ds.Tlogohendro

Bulan Maret 2020, kegiatan proyek kopi dan konservasi primata 2020, akan ada kunjugan resmi dari Ostrava zoo, yang di wakili staf kebun binatang dan wakil duta besar dari Ceko untuk Indonesia. Kegiatan yang di rencakan mengunjungi Sokokembang dan desa mendolo untuk melihat demplot budidaya Lebah, namun bersamaan dengan acara ini, kami mendapat surat edaran dari Bupati kabupaten Pekalongan kalau tidak boleh mengadakan acara yang sifatnya mengumpulkan orang dan berkerumun untuk mencegah penularan virus. Sangat kecewa tentusaja, tapi ini juga mengikuti aturan pemerintah, apalagi untuk menjaga situasi tetap kondusif di desa tempat kegiatan. Acara di batalkan dan kami hanya bertemu dengan perwakilan staff kebun binatang Ostrava Zoo di Kota Pekalongan, dan langsung balik ke Jakarta.

Bulan  Maret awal adan juga tim swaraowa yang ikut pameran di Indofest awal bulan maret juga harus kembali ke habitat asal, karena acara festival produk-produk outdoor dan wisata alam itu juga di tutup sebelum acara selesai. Acara ini sebenarnya juga menjadi media promosi wisata minat khusus, di habitat owa jawa, namun sepertinya juga banyak hal yang harus dipersiapkan dan tertunda untuk pengembangan wisata ini. Sepertinya kegiatan wisata juga yang paling terkena dampak dari pandemi covid19.

Dari semua kegiatan proyek kopi dan konservasi primata tahun 2020, yang paling terasa dampaknya adalah ketika rantai penjualan komoditas kopi ramah hutan yang bekerjasama dengan Singapore zoo, terhenti, karena café shop  utama yang menjual kopi owa di Singapore tutup karena covid19. Stok kopi menumpuk di gundang kopi owa di Jogja, dan di rumah warga sekitar hutan habitat owa di Petungkriyono. Rencana kunjungan tim Wildlife Reserve Singapore dan journalist dari Singapore yang telah disusun pertengahan tahun 2019 juga harus di batalkan karena pandemi ini

Kuncitara terjadi dimana-mana, membatasi gerak manusia dan ekonomi , namun yang terjadi di habitat owa tidaklah sepenuhnya terkuncitara, dari pengamatan bulan Maret-Juni 2020, orang-orang sudah mulai jenuh dengan kondisi di rumah saja, dampaknya terhadap habitat owa apa ? hal ini juga masih menjadi tanda tanya. 2 bulan pertama lockdown saja jalan-jalan hutan sepi, setelah itu sepertinya hutan menjadi tempat hiburan di kala pandemi, wisatawan lokal setiap hari datang, entah hanya sekedar jalan-jalan, melihat hutan, dan beberapa spot  wisata  sungai juga menjadi tempat mengisi waktu. Kegiatan monitoring owa di sepanjang jalan dilakukan oleh warga di sokokembang, mencatat perjumpaan primate di sepanjang jalan antara Kroyakan hingga Sokokembang, kurang lebih 6 km.

Kegiatan panen madu klanceng di Ds. Mendolo

Kegiatan budidaya klanceng, yang telah berkembang di Dusun Mendolo,  kecamatan Lebakbarang, kabupaten Pekalongan, terus dipantau dari jarak jauh selama pandemic, meskipun tidak melihat langsung namun laporan-laporan perkembangan kegiatan terus di update tim di Mendolo.

Bulan Mei 2020, menjadi bulan baik untuk Owa Bilou, publikasi survey salah satu primata endemik Mentawai ini terbit di jurnal biodiversitas, yang di dukung penerbitannya oleh PERHAPPI melalui kongres primata Indonesia bulan September 2019.

Seri diskusi konservasi, menjadi kegiatan yang di tiadakan di tahun 2020, karena tidak memungkinkan untuk membuat acara mengumpulkan banyak orang di masa pandemi, kegiatan seri diskusi konservasi ini bertujuan untuk mengarus utamakan kegiatan pelestarian alam di habitat owa jawa, tidak hanya terkait dengan owa saja, tapi keanekaragaman hayati secara umum dan bagaimana memperkuat nilai tambahnya, sebagai bagian dari ekosistem, dan potensi sosial ekonominya. Sempat membuat acara pengganti seri diskusi konservasi ini dengan podcast swaraowa, yang kebetulan sempat menginterview Dr. Bas van Balen ketika berkunjung ke Petungkriyono. Podcastpun juga tidak dapat di lakukan secara berseri dengan kendala teknis.

Memasuki bulan juni 2020, ada 2 kegiatan penelitian di Sokokembang, perempuan-perempuan tangguh yang sangat tertarik untuk tidak terpaku diam di rumah, namun lebih memilih hutan dan membaur bersama warga sekitar hutan, yang pertama Nur Aoliya dari IPB yang meneliti perilaku bersuara owa jawa di wilayah pegunungan Dieng, yang mencakup 2 kabupaten, Batang dan Pekalongan. Baca cerita lapangan Aoliya disini  yang mengisahakan Owa seperti Diva di tengah rimba.  Yenni Rachmawati dari UNAIR tertarik meneliti keberadaan salah satu burung yang sangat terancam punah, Raja Udang Kalung Biru, yang ditemukan oleh tim swaraowa tahun 2018.  Kedua penelitian ini merupakan bagian dari program beasiswa Kopi Owa yang setiap tahun di adakan oleh proyek kopi dan konseravasi primata di Jawa Tengah.  Penelitian-penelitian ini masih terus berjalan hingga awal tahun 2021.

Bulan Agustus 2020, swaraowa menerima salah salah satu mahasiswa magang dari sebuah sekolah di Inggris, kegiatan magang ini juga bertujuan untuk memperluas jejaring konservasi owa dan meningkatkan kapasitas generasi muda untuk ikut dalam kegiatan lapangan konservasi owa secara langsung.

Memasuki akhir tahun 2020, kegiatan terkait budidaya lebah di desa Mendolo selain monitoring rutin setiap bulan, di bulan Oktober kami mengadakan kegiatan pelatihan pengolahan produk-produk turunan dari kegiatan perlebahaan ( beekeeping). Beeswax yang di hasilkan dari kegiatan pemanenan madu hutan di olah menjadi lilin dan pomade perawatan rambut. Produk-produk ini masih dalam taraf ujicoba dan memberikan contoh kepada warga sekitar hutan bahwa ada produk lain yang bisa di kembangkan dari kegiatan budidaya lebah . Bulan oktober juga menjadi hari Owa Internasional, tidak seperti biasanya kegiatan Pelatihan Metode Survey Primata ( MSP) yang dilakukan setiap tahun sejak tahun 2013 harus di tiadakan, tahun ini seharunya menjadi acara yang ke-8.

Kegiatan konservasi Bilou di Kep.Mentawai, bulan November 2020 aktif kembali, dengan melaksanakan kegiatan yang sempat tertunda  karena pandemi. Pelatihan guru-guru untuk meningkatkan pengalaman dan pengetahuan, serta metode mengajar yang menggunakan materi terkait dengan konservasi alam dan budaya Mentawai. Kegiatan ini didasari dari semakin terkikisnya budaya  asli Mentawai, yang juga semakin susahnya melihat primata-primata Mentawai , karena hilangnya hutan dan perburuan.

Salah satu kegiatan baru yang juga di inisiasi oleh tim swaraowa di masa  pandemi , adalah survey Monyet endemic pulau Natuna, Presbytis natunae. Bertujuan untuk mengupdate status dari jenis primata pemakan daun yang hanya ada di Pulau Natuna. Survey berhasil menemukan populasi Kekah Natuna di Pulau Bunguran. Hasil survey ini diharapkan juga dapat mengarusutamakan pelestarian primate di Pulau Natuna, dengan melibatkan pihak-pihak terkait .

Webinar Owa Indonesia menjadi salah satu kolaborasi aksi dengan pegiat konservasi primata Indonesia khususnya, jenis-jenis Owa dan hal ini terlaksana dengan adanya 3 seri diskusi online, seri Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Beberapa kegiatan tidak sempat terdokumentasikan di website atau blog swaraowa, karena keterbatasan waktu untuk menulis. Salah satu capaian penting namun juga tantanganbaru  untuk konservasi Owa di Kabupaten Pekalongan adalah , pengelolaan kolaboratif yang diinisiasi di tahun 2019, mendapatkan perhatian dari permerintah provinsi dengan adanya surat keputusan forum kolaboratif pengelolaan Kawasan hutan Petungkriyono, yang dalam hal ini forum bersama multipihak di wilayah kecamatan petungkriyono mengusulkan kurang lebih 5,173.80  ha, untuk dikelola secara kolaboratif, dalam usulan Kawasan Ekosistem Esensial.

Satu hal penting , pandemic global ini telah membatasi gerak  manusia, dimana kita juga berbagi ruang dengan alam dan segala isi dan permasalah sosial ekonominya. Praktik budaya konsumsi dan produksi yang berkelanjutan harus tempatkan di daftar prioritas, meskipun dalam sekala kecil, dan komunitas yang terbatas, karena ini  adalah pilihan yang harus kita ambil demi setiap gerak berdampak untuk alam.  

Kopi Owa Bilou


Akhir tahun 2020, kami tutup dengan meluncurkan Kopi Owa Bilou, yang bertujuan untuk mempromosikan kegiatan konservasi primata khususnya Bilou ( Hylobates klosii), owa endemik Mentawai.   Penjualan kopi ini di prioritaskan di wilayah sumatera barat khususnya Padang, dan Kepulauan Mentawai, bekerjasama dengan Malinggai Uma di Siberut Selatan.

Selamat tahun baru 2021.

 







Monday, November 30, 2020

Pelatihan Guru Budaya Mentawai : Memperkuat Nilai Budaya dan Pelestarian Primata

peserta pelatihan guru budaya mentawai di Uma Malinggai. (Foto. Mateus Sakaliou )


Pelatihan guru dan fasilitator budaya mentawai, telah sukses dilaksanakan tanggal 25-27 November 2020, berlokasi di Malinggai Uma Tradisional Mentawai, dusun Puro 2, Desa Mailepet, Siberut Selatan. Acara ini dilatarbelakangi oleh semakin terkikisnya nilai-nilai budaya dan nilai penting konservasi alam yang ada di Kepulauan Mentawai. Degradasi hutan dan perburuan yang tidak lagi menggunakan aturan adat menyebabkan primata-primata mentawai semakin susah di temukan, bahkan sudah ada yang sangat kritis dan terancam punah,generasi muda mentawai sendiri juga semakin sulit menjumpai primata-primata ini di hutan-hutan sekitar mereka. 

Tujuan kegiatan pelatihan untuk guru-guru ini adalah 1. untuk memperkenalkan kepada guru dan fasilitator budaya mentawai mengenai primata dan keanekaragaman hayati. 2 Meningkatkan kapasitas guru-guru sekolah dan pengajar budaya mentawai, melalui metode pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan terkait dengan primata dan hutan. Peserta yang ikut kegiatan ini ada 9 guru dari sekolah-sekolah di kecamatan siberut selatan dan siberut barat daya, 4 orang fasilitator sekolah budaya Mentawai, dan 7 orang dari malinggai Uma Mentawai. 

Kegiatan meliputi materi ruang yang disampaikan oleh pemateri undangan dan kegiatan pengamatan lapangan ke hutan Tololago, di Siberut Barat Daya. Guru-guru lokal ini terpilih karena mereka adalah aset konservasi primata dalam jangka panjang, yang selalu beinteraksi dengan siswa setiap hari sehingga dapat menyampaikan pesan-pesan pelestarian alam, dengan dukungan program pemerintah. Guru-guru peserta ini adalah warga yang menetap di Mentawai, jadi mereka dapat memahami situasi lebih baik terhadap anak didik sebagai generasi mendatang yang akan melajutkan tongkat estafet pelestarian alam dan budaya mentawai. 

Peserta di acara pembukaan pelatihan (Foto. Mateus Sakaliou)

foto bersama perwakilan pemeritah daerah Kab.Kep.Mentawai (Foto. Mateus Sakaliou)



Acara pembukaan dimulai tanggal 26 November 2020, dibuka oleh Camat siberut selatan, dan turut serta dalam memberikan sambutan acara ini adalah Sekertaris dinas Pariwisata Kab.Kepulauan Mentawai Bpk. Aban Barnabas dan perwakilan dari dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kep.Mentawai . Tokoh-tokoh adat dari siberut selatan juga turut hadir dalam pembukaan acara ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan materi oleh pembicara utama Bpk. Nur Hidayat guru SMA 1 Petungkriyono, yang berbagi pengalaman tentang metode pembelajaran konservasi melalui permainan kartu dan boardgame owa. Pak Nur Hidayat yang sehari-hari mengajar biologi di sekolah habitat di sekitar habitat Owa jawa di Pekalongan Jawa Tengah, bersama rekan-rekan di sekolahan telah mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif menggunakan kartu dan boardgame untuk mengenalkan Owa Jawa. 

Pemateri ke dua adalah pegiat konservasi primata dan burung dari Siberut dan Sipora, Ismael Saumanuk dan Mateus Sakaliou yang menceritakan pengalamanya mengamati primata mentawai di hutan dan burung-burung di Kep.Sipora, melalui foto-foto dan video dokumentasi yang mereka buat sendiri. Ika Cahya Ningrum dan Arif Setiawan mewakili swaraowa juga memberikan presentasi tentang dasar-dasar pengetahuan primata terutama terkait dengan primata asli mentawai yang dapat digunakan untuk penunjang muatan lokal pelajaran budaya mentawai. 
Perjalanan ke Tololago ( Foto. Mateus Sakaliou)


Foto Group 1. di hutan Tololago (Foto. Mateus Sakaliou)

Dalam acara ini peserta juga mendapatkan materi buku panduan lapangan primata Mentawai, burung-burung Mentawai, poster kupu-kupu dan capung dan poster tentang reptil dan amphibi, yang kesemua foto-foto nya diperoleh di habitat asli di Kep.Mentawai dari hasil survey visual hidupan liar tim Swaraowa dan Malinggai Uma. 

Acara kunjungan lapangan atau pengamatan primata semua peserta dibawa menuju ke hutan Tololago, yang berada di desa Teluk Katurai, Kecamatan Siberut Barat Daya, Lokasi ini merupakan salah satu kawasan hutan diluar kawasan konservasi Taman nasional siberut yang berdasarkan penelitian tim swaraowa dan malinggai uma, masih di huni oleh ke5 primata asli mentawai, dengan lokasi akses yang relatif lebih mudah, kurang lebih 1 jam melalui teluk Katurai. Pengamatan lapangan peserta dibagi menjadi 4 kelompok dengan masing masing kelompok ada 5-7 orang, yang berjalan di jalur-jalur pengamatan yang sudah disiapkan terlebih dahulu oleh tim Malinggai Uma. 

Foto bersama peserta di Tololago (Foto. Mateus Sakaliou)
 


Bilou ( Hylobates klosii) yang dijumpai group 1. (Foto. Mateus Sakaliou)

Pengamatan primata dan satwaliar ini bertujuan untuk mengenalkan kondisi hutan dan metode pembelajaran di alam untuk mengamati, mencatat, dan menganalisis hasil pengamatan dan presentasi hasil pengamatan kepada peserta lainnya, setelah kegiatan selesai. Pengamatan ini harapannya juga dapat menginspirasi para guru untuk mengajak anak didiknya tentang alam dan biodiversitas yang sangat terkait dengan nilai-nilai budaya yang ada di sekitar sekolahan atau suatu saat dapat mengembangkan muatan edukasi konservasi untuk kegiatan pembelajaran disekolah masing-masing.
Kelompok 1 sangat beruntung sekali dalam kegiatan ini yang dapat melihat langsung Bilou dan Bokkoi dijalur pengamatan mereka. Sementara itu kelompok 2 juga melaporkan menjumpai Bajing terbang siberut yang termasuk juga dalam satwa endemic siberut.

Rangkaian acara ini di fasitasi oleh tim swaraowa dan panitia lokal dari Malinggai Uma Mentawai yang telah menginisiasi kegiatan ini bekerjasama dengan malinggai uma mentawai sejak tahun 2017, khususnya untuk pelestarian owa mentawai, Bilou. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan simposium dan kongres primata 2019 PERHAPPI ( Perhimpunan Ahli dan Pemerhati Primata Indonesia yang didukung oleh Arcus foundation, dan Fortwayne Children’s Zoo yang mendukung konservsi Owa Mentawai melalui swaraowa.


Thursday, November 19, 2020

Kekah Natuna, Kesan Pertama Pengamatan Primata di Habitatnya

 ditulis oleh: Kurnia Latifiana − k.latifiana@gmail.com

Kekah Natuna (Presbytis natunae) di habitat aslinya.

Pertama kali pengamatan primata, pertama kali ke Natuna, pertama kali terjun ke lapangan dengan dua wanita hebat, tangguh, dan mandiri. Serba pertama kali yang dikemas secara epic. Semesta merestui kami − Mbak Kasih, Mbak Ika, dan aku − untuk melakukan survei primata endemik kekah Natuna (Presbytis natunae) di habitat aslinya. Kekah, biasa masyarakat lokal Natuna menyebutnya, salah satu jenis primata yang hanya ada di Pulau Natuna. Kekah Natuna dilindungi oleh Pemerintah Indonesia melalui P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Status konservasi secara global, terklasifikasi sebagai satwa yang rentan terhadap kepunahan atau vulnerable (VU) (IUCN SSC Primate Specialist Group, 2020) dan status perdagangan termasuk Appendix II CITES yaitu berpotensi terancam punah bila perdagangan dilakukan terus-menerus tanpa adanya hukum yang mengaturnya (CITES, 2016).

Hampir menuju penghujung September 2020, kami bertiga bergerak ke utara membelah khatulistiwa, dari Pulau Jawa menuju Pulau Natuna. Pulau kecil ini seluas 1.605 km2 dan di kelilingi lautan lepas. Jika kalian membuka Peta Indonesia, maka Pulau Natuna berada di paling utara Selat Karimata, di antara Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sering disebut Pulau Natuna Besar atau Pulau Bunguran, pulau utama terbesar di Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Sesampainya di Natuna, kami langsung menuju Kantor KPHP Unit V Natuna, di Ranai. Berbekal informasi dari rekan-rekan KPHP Natuna yang lebih mengetahui persis lokasi kekah berada saat ini, kami berdiskusi untuk menentukan lokasi survei yang dapat kami jangkau. Beberapa lokasi target sudah kami tentukan, pun dengan pembagian siapa meluncur ke lokasi mana. Kami bersepakat untuk membagi tim menjadi tiga. Kami berpencar. Saatnya eksekusi.

 
Peta Pulau Natuna

***

Sebelumnya, aku sama sekali belum pernah melakukan pengamatan primata. Hanya sekedar field trip sebagai tourist, itu pun baru sekali. Survei ini adalah pengalaman pertamaku, dan langsung ke Natuna. What a surprise! Karena sesungguhnya aku yang dulu cukup lama menjadi teman setia dalam kegelapan bersama satwa nokturnal, herpetofauna. Ketika pengamatan sering nunduk dan hanya sesekali lihat ke atas. Namun, kali ini semua itu berkebalikan. Aku harus jalan pagi dan sore, mengamati atas tajuk. Seperti merubah algoritma default di otakku.

My first trial and error. Sebenarnya cukup khawatir njomplang (tidak seimbang) dengan kemampuan dua mbak senior yang sudah lihai kesana-kemari pengamatan primata. Njomplang dalam arti peluangku mendeteksi primata belum cukup terlatih, belum peka dengan keberadaannya. Mbak Kasih berkali-kali berpesan padaku, “Jalannya santai saja, kalem, slow. Ada area terbuka, berhenti dulu, amati sekitar. Kalau jumpa kekah, catat hal-hal prioritas. Jangan terlalu lama di titik itu, nanti kehilangan jejak untuk kelompok di depannya.” Aku ingat-ingat betul pesannya dan aku praktekkan sebisaku.

***

Rangkaian survei pertama kami di sekitar Ranai, yang merupakan pusat pemerintahan di Kabupaten Natuna, terletak di bagian timur pulau ini. Kami menyebar ke tiga lokasi survei sesuai rencana. Hari pertamaku pengamatan primata. Surprise! Sekelompok kekah menampakkan raut imutnya, sekitar 30 meter di depanku, berlokasi di kebun campur yang menyerupai hutan sekunder di sekitar permukiman warga. “Oh, ini toh dia (kekah) kalau di alam. Oh, begini wujudnya,” decak kagumku tak terhenti. Pertama kali dalam sejarah hidupku melihat Presbytis di alam. Mereka (kekah) auto sibuk berpindah dari pohon satu ke pohon lain untuk waspada sambil mengawasiku. Tak mau kalah sibuk, aku pun mengintip mereka melalui jendela kamera untuk mengabadikannya melalui foto. Beberapa frame sudah ku dapat, tapi belum puas, hasil gambar masih kabur karena terlalu bahagia sampai gemetaran pegang kamera. Hehehe. Ketika sampai penginapan, kami bertiga bertukar cerita. Hari pertama pengamatan, dua senior sekaligus guru dan sahabatku ini belum bertemu langsung dengan kekah. “Ini nih yang dinamakan keberuntungan pemula. Langsung ketemu di hari pertama pengamatan. Selamat ya!” tuturnya.

Hari berikut, masih di Ranai dan sekitarnya. Aku menuju jalur pendakian Gunung Ranai, gunung tertinggi di pulau ini. Gunung ini merupakan kawasan hutan lindung KPHP Natuna, dengan tutupan hutan lahan kering sekunder yang berbatasan dengan kebun masyarakat. Sambil mendaki lereng curam, aku melihat pergerakan daun tak wajar sekaligus mendengar riuh suara kekah, sangat nyaring. Tanpa pikir panjang, aku merekam suaranya menggunakan ponsel pintarku. Iqbal, staff KPHP Natuna yang menemaniku, melihat kekah itu, “Ada (kekah), Kak. Ada 3 ekor,” ucapnya. Aku pun meneruskan jalur pendakian dengan lereng yang sangat tajam, diiringi latar suara kekah menemaniku terengah-engah mendaki Gunung Ranai.

Selepas seharian berpencar ke transek masing-masing, setibanya di penginapan, kami selalu bertukar cerita sekaligus berdiskusi merencanakan menuju target lokasi berikutnya. Hari itu Mbak Ika sangat beruntung jumpa kekah sekaligus mendapatkan fotonya, begitupun Mbak Kasih. Lengkap sudah, kami semua sudah bertemu dan mendapatkan foto kekah di alam. Tak lama, dua mbak senior ini sangat seru membicarakan kekah dan membandingkan dengan spesies Presbytis yang lain. Kira-kira begini, “Dia (kekah) di sisi luar tuh ada putihnya ya ternyata. Dia kalau pindah kalem banget, lebih slow daripada spesies ini loh... bla bla bla...” dan seterusnya. Hemm, aku cuma bisa diam dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan, mencoba mengekstrak tapi tetap saja nggak terbayang juga. Hahaha.

Selanjutnya pada trip kedua, kami berpindah berpencar untuk menjelajahi sisi Natuna bagian tengah-barat. Aku menuju Gunung Semala, yang hampir dua dekade silam dilaporkan ada kekah di sana (Lammertink et al., 2003). Di kaki gunung ini juga dimanfaatkan oleh para penambang batu untuk bertahan hidup. Menurut warga setempat, “Dulu memang banyak kekah, di sepanjang jalan menuju Gunung Semala juga ada. Namun, sekarang tak banyak, kalau di gunungnya justru tidak ada.” Pengamatanku kali ini nihil. Tak satupun primata teramati di Gunung Semala. Sunyi, tak terdengar suara satwa. Hanya sekali aku jumpa burung srigunting (nama lokal: sawe), terkadang teramati bajing kelapa.

Beberapa jenis satwa teramati ketika pengamatan kekah: srigunting/sawe, bajing kelapa, kangkareng perut putih/jungkak, elang ular bido/elang darat


Survei berikutnya menuju Natuna bagian selatan. Meminjam istilah Mbak Ika yaitu “kerajaan kekah”, karena baru jalan sebentar saja sudah jumpa kekah. Sangat memanjakan mata. Perbedaan yang sangat drastis dari lokasi pengamatanku sebelumnya. Dari informasi warga setempat, di jalur kebun buah memang sering dijumpai kekah. Aku segera menelusuri jalur yang dimaksud. Di jalur ini juga kerap mondar-mandir burung kangkareng perut putih (nama lokal: jungkak) dan sesekali teramati burung elang ular bido (nama lokal: elang darat). Tak membutuhkan waktu lama, setelah terdengar gemercik aliran sungai, terpantau olehku tujuh ekor kekah di atas pohon, lantas mereka bersuara. Aku mengira suara itu pasti ketua kelompok kekah yang memberikan “aba-aba” kepada kawanannya. Namun, kali ini lain, suaranya berbeda jika dibandingkan ketika aku merekamnya di Gunung Ranai. Entah itu tipe suara yang mana, yang penting aku rekam saja dulu. Di lokasi ini merupakan perkebunan campur yang berbatasan dengan hutan rawa sekunder. Aku coba mendatangi lokasi pohon di mana kekah tadi berkumpul. Pantas saja, ternyata ada pohon buah di situ. Kami masih mencoba untuk mengidentifikasi buah ini. Menurut warga setempat, kekah suka mengonsumsi bijinya saja. Selain itu, makanan favoritnya adalah biji buah karet, daun muda karet, biji rambutan, dan daun ubi.

Peluang perjumpaan kekah cukup tinggi di bagian selatan Natuna. Senang, namun sekaligus sedih, karena cukup mudah pula untuk diburu. Kami sempat menemui beberapa warga yang masih memelihara kekah di rumahnya. Berkaca-kaca ketika melihat sepasang kekah yang diikat dalam kandang seolah mereka berteriak ingin bebas, sedangkan aku belum bisa apa-apa. Pilu.

Kami berharap, melalui rangkaian kegiatan ini sebagai awalan baik untuk memicu aksi konservasi kekah Natuna yang saat ini populasinya semakin menurun. Sekaligus sebagai usaha untuk menghambat laju penurunan populasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap konservasi kekah sehingga dapat berdampingan berbagi ruang hidup (coexistence). Semoga ada kesempatan untuk berkunjung kembali ke Natuna, kediaman “kerajaan kekah”, dan tentunya saat musim buah. Tak hanya bagi kami, tetapi bagi siapapun yang berniat baik ke sana.

Terima kasih kami ucapkan kepada Primate Conservation Inc. (PCI), SwaraOwa, keluarga besar BBKSDA Riau, KPHP Unit V Natuna, serta pihak-pihak yang telah mendukung upaya pelestarian Kekah Natuna. Terima kasih kepada warga setempat di seluruh penjuru Natuna yang berkenan kami singgahi sebagai hunian sementara selama di Pulau Natuna.

Kesan pertama memang selalu melekat di hati :)


 Bersama keluarga besar KPHP Unit V Natuna (kiri) dan BBKSDA Riau (kanan)


***

 

Referensi:

Convention on International Trade in Endangered Species (CITES). (2016). Appendices I, II, and III. http://www.cites.org 

IUCN SSC Primate Specialist Group. (2020). IUCN Red List of Threatened Species 2020: Presbytis natunae. IUCN Red List of Threatened Species. Assessed by Setiawan, A, Cheyne, S. M., & Traehold, C. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2020-2.RLTS.T136500A17955492.en 

Lammertink, M., Nijman, V., & Setiorini, U. (2003). Population size, Red List status and conservation of the Natuna leaf monkey Presbytis natunae endemic to the island of Bunguran, Indonesia. Oryx, 37(4), 472–479. https://doi.org/10.1017/S003060530300084X 

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. (2018). P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Jakarta, Indonesia.

 

Saturday, October 31, 2020

Pelatihan pemanfaatan dan pengembangan lilin lebah di Desa Mendolo, Lebakbarang, Pekalongan

Ditulis oleh : Sidiq harjanto, email : sidiqharjanto@gmail.com


produk jadi, lillin aroma terapi dan pomade rambut #wildlifefriendly

Kawasan hutan menjadi penyangga kehidupan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Hutan memberikan manfaat berupa hasil kayu, hasil hutan bukan kayu (HHBK), maupun jasa lingkungan. Hutan menjadi habitat berbagai jenis fauna, termasuk jenis-jenis lebah. Lebah penghasil madu, sangat familiar sebagai salah satu contoh potensi HHBK. Jenis lebah yang paling banyak dipanen dari kawasan hutan adalah lebah hutan (Apis dorsata). Di samping memiliki nilai penting bagi ekosistem hutan sebagai agensia penyerbukan, lebah memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat hutan. Pengembangan dan pemanfaatan produk turunan dari kegiatan perlebahan ini diharapkan dapat memberi contoh dan mendorong kegiatan ekonomi produktif dan tidak merusak hutan dari sekitar habitat Owa Jawa.

Salah satu contoh pemanfaatan HHBK madu berada di salah satu site kegiatan SwaraOwa, yaitu Desa Mendolo. Desa ini termasuk wilayah administratif Kecamatan Lebakbarang, Kab Pekalongan. Kawasannya terdiri dari hutan alam, lahan wanatani, sawah, dan pemukiman. Desa ini telah identik dengan pemanenan lebah hutan atau masyarakat menyebutnya ‘tawon nggung’. Nama ilmiahnya Apis dorsata. Memanen madu hutan menjadi keahlian mayoritas laki-laki dari desa ini.

praktek pengolahan lilin lebah


Barangkali sebagian besar masyarakat hanya mengetahui madu sebagai produk perlebahan. Madu memang dikenal sebagai komoditas paling popular, karena sebagian besar orang menyukai rasa manisnya. Madu dikonsumsi sebagai suplemen kesehatan, atau bahkan sebagai obat. Hanya sampai di situ saja pengetahuan orang terhadap lebah. Padahal, selain madu masih banyak produk yang dihasilkan oleh lebah. Komoditas-komoditas lainnya antara lain propolis, royal jelly, pollen lebah (beepollen), dan lilin lebah (beeswax).

Lilin lebah atau dikenal sebagai beeswax dihasilkan oleh kelenjar pada bagian segmen-segmen perut (abdomen) lebah. Lilin ini merupakan bahan utama penyusun sarang bagi lebah, berbentuk segi enam yang sangat khas itu. Fungsinya adalah sebagai pelindung larva dan pupa, serta penyimpanan makanan seperti madu, roti lebah (beebread), dan royal jelly.  Lilin lebah ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia. Biasanya lilin lebah diekstrak dari sisa kantong madu yang telah dipanen. Sisa-sisa kantong madu tersebut dipanaskan hingga mencair, kemudian disaring, dan dicetak. Produknya masih berupa lilin mentah yang bisa diproses lagi menjadi berbagai produk turunan.

bahan bahan untuk membuat pomade dan lilin aromaterapi
Pemanfaatan lilin lebah di beberapa peradaban kuno barangkali adalah sebagai lilin bakar untuk penerangan. Orang-orang Mesir kuno juga menggunakan lilin lebah sebagai bahan patung dan lukisan. Pada masa lalu, beeswax juga digunakan dalam kedokteran gigi, misalnya sebagai bahan terapi gigi yang berlubang seperti yang ditemukan di Slovenia. Lalu dalam perkembangannya, lilin lebah digunakan dalam pembuatan kosmetik, sabun, dll. Di Jawa, tradisi lilin lebah juga sudah relatif tua, yaitu sebagai bahan dalam pembuatan batik.

Sebagai kontribusi dalam pengembangan produk-produk HHBK berbasis lebah, SwaraOwa membuat pelatihan pengolahan lilin lebah bagi Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo pada Minggu, 18 Oktober 2020, bertempat di demplot perlebahan SwaraOwa di Desa Mendolo. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan produk-produk turunan dari lilin lebah. Sebagai langkah awal, pelatihan ini mengangkat dua produk turunan, meliputi pomade dan lilin aroma terapi. Pomade merupakan produk yang popular digunakan dalam penataan rambut, terutama di kalangan anak muda. Sedangkan lilin aroma terapi adalah lilin bakar yang telah diinput dengan aneka aroma dari essensial oil. Dua produk ini dipilih karena proses pembuatannya yang sederhana.

Selain proses pembuatan yang mudah, bahan-bahannya pun cukup mudah diperoleh. Lilin lebah merupakan produk yang dihasilkan sendiri oleh para pemanen madu lebah dorsata di Desa Mendolo, sedangkan bahan-bahan lainnya relatif mudah diperoleh di pasaran. Beberapa di antaranya bahkan bisa diproduksi sendiri. Untuk pembuatan pomade, lilin lebah menjadi salah satu bahan utama, selain beberapa bahan lain seperti microwax, vaseline, virgin coconut oil (VCO), castor oil, dan essential oil. Sedangkan bahan untuk pembuatan aroma terapi antara lain beeswax, minyak kelapa, essential oil, benang katun untuk sumbu lilin, dan gelas wadah lilin.

Dalam pelaksanaan pelatihan ini, SwaraOwa menggandeng salah satu praktisi produsen pomade di Kabupaten Pekalongan @timbankklimis sebagai narasumber. Selain mengenalkan bahan dan proses pembuatan produk, narasumber juga memberikan gambaran pemasaran produk tersebut. Antusiasme peserta nampak dari awal sampai selesainya kegiatan pelatihan ini.

Dengan adanya pelatihan ini diharapkan bisa memberikan inspirasi bagi pemuda di Desa Mendolo, terutama mereka yang tergabung dalam kelompok PPM- Mendolo, untuk bisa mengoptimalkan potensi yang ada di wilayah mereka. Lilin lebah, misalnya, yang selama ini hanya dijual dalam bentuk yang masih mentah, dapat diolah menjadi produk dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi. Dengan bekal keterampilan yang telah diberikan, semoga akan muncul produk-produk baru dari Desa Mendolo yang mencerminkan identitas desa ini sebagai desa hutan dengan segenap potensi alamnya. Salam lestari!