Monday, March 13, 2017

Penunggu rimba Bukit Bulan : Siamang dan Ungko


(perjalanan menuju Bukit Bulan, mengamati Ungko dan Siamang)

Ada 3 jenis Owa di daratan Sumatra, namun juga tidak banyak yang menaruh perhatian khusus kepadanya, yaitu Siamang (Sympalangus syndactilus) dan Ungko (Hylobates agilis), dan owa tangan putih (Hylobates lar)

Kebetulan sekali bulan ini saya mewakili , SwaraOwa di undang oleh Taman Nasional Bukit Dua Belas untuk berbagi pengalaman untuk monitoring jenis-jenis Owa, dan karena di wilayah Taman Nasional Bukit Dua Belas juga menjadi habitat dari Siamang dan Ungko.
staff TN BD sedang mencoba merekam panggilan Ungko
Setelah acara selesai, saya segera mencari tahu dimana bisa melihat Siamang dan Ungko selain di kawasan TNBD, kebetulan sekali  ada kolega  yang tinggal di Sorulangun, dan merekomendasikan untuk ke hulu sungai Batanghari, yaitu Batang Asai, katanya masih ada hutan bagus disana, ada siamang dan ungko.

Untuk mencapai lokasi ini harus menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda (4wd), karena cukup curam topografi dan juga hujan sepanjang hari membuat jalanan berlumpur. Sejak awal sudah beberapa kali saya cek di peta hulu Batang asai, tepatnya masuk di wilayah sungai limun.

Wilayah ini sudah di kenal oleh warga jambi sebagai daerah penghasil emas, dan memang setelah melihat langsung sepanjang jalan di kanan dan kiri terlihat aktifitas penambangan emas. Sawit dan karet menjadi pemandangan di satu setengah jam pertama perjalanan.

Tujuan kami adalah desa Meribung masuk dalam wilayah kecamatan Limun. Desa ini mempunyai hutan yang masih bagus, yang di kelola oleh adat, dan menurut informasi warga masih terapat satwa-satwa asli sumatera, seperti tapir, kambing gunung, beruang, Harimau dan tentunya Ungko dan Siamang.
Pulang dari mendulang emas (caping yang di gunakan adalah dulang, alat untuk mencari emas)

Setelah melewati jalanan yang berlumpur dan naik turun kami sampai di rumah pak Ansor, mantan kepala desa yang pernah mendapatkan penghargaan nominasi penerima kalpataru tahun 2009 sebagai penyelamat lingkungan.

Langsung saja saya ngobrol-ngobrol dengan warga sekitar, dimana masih terdengar suara siamang dan ungko? Apakaha masih sering melihat dan jauh tidak dari dusun kalau untuk melihat atau mendengar Siamang dan ungko. Beberapa warga sangat jelas membedakan apakah itu siamang dan ungko, Siamang lebih besar dan hitam, sementara ungko lebih kecil ukurannya, dan ada putih di alisnya. Beberapa warga juga nampak masih ragu-ragu menjelaskan ciri-ciri ungko dan siamang. Ada juga warga yang menjelaskan kalau ungko biasanya bersuara pagi-pagi hari, sebelum matahari terbit, dan Siamang biasanya siang hari setelah matahari terbit. 
Sempur hujan-sungai

Pelatuk Merah
Mendengar cerita warga tersebut saya semakin penasaran dan ingin melihat langsung atau mendengar siamang dan ungko. Saya kemudian di antar oleh pak ashari ke hutan siang itu, untuk melihat langsung kondisi hutan dan kalaupun beruntung bisa bertemu dengan penunggu rimba bukit bulan, sempur hujan, dan pelatuk merah diantaranya burung-burung yang saya jumpai.
Topografi yang bergunung juga sepertinya menyelamatkan kawasan hutan adat ini sementara waktu.Namun  5 tahun terakhir ini warga di sekitar bukit bulan, telah beralih pekerjaan menjadi penambang emas, ada pohon yang memang bagus untuk membuat alat pendulang emas. Kami menemukan banir pohon besar, yang bekasnya di potong-potong, dan ternyata pohon inilah yang digunakan untuk membuat dulang emas, karena meskipun di buat tipis kayu ini tidak pecah, begitu kata pak Ashari yang menjelaskan. Hampir 3 jam kami menyusuri hutan ini, namu hujan membuat kami terus mengambil arah balik, dan juga sempat menemukan cakaran beruang di batang pohon.

Pohon Bulian ((Eusideroxylon zwageri ) , banirnya di manfaatkan untuk membuat "Dulang" emas
Esok harinya, jam 4.30 saya di bangunkan oleh suara teriakan khas Ungko, tidak jauh dari desa dan saya pun segera keluar rumah mencari arah datangnya suara tersebut. Kurang lebih 500 meter dari rumah pak ansor, adan sebuah bukit kapur yang masih rapat dan disitulah suara itu berasal, hari masih gelap namun suara tersebut sangat jelas, Ungko jantan yang sedang melakukan panggilan territorial dan komunikasi dengan anggota keluarga lainnya. Ketika hari mulai terang nampaklah meskipun tertutup ta\juk pohon, 3 ungko salah satunya masih remaja, bergerak berayun memakan buah dari pohon sejenis Ficus sp. (lihat video di atas)

Hingga jam 8.30 saya masih mengikuti pergerakan ungko ini, dan ternyata tidak jauh dari tempat ini ada Simpai (Presbytis melalophos) yang sedang mencari makan juga, lebih dari 7 individu, dan simpai ini adalah monyet pemakan daun, kadan terlihat di bawah semak semak, dan juga di perkebunan karet yang ada disekitar hutan.
Simpai (Presbytis melalophos)

Melihat lebih luas hutan disekitar dusun ini, ternyata di sebelah timur dusun ini adalah gunung kapur, kawasan pegunungan karst yang cukup unik, karena vegetasi pohon di atas gunung kapur ini juga cukup rapat, dan dari tempat tersebut memang terdengan cukup banyak suara Siamang dan Ungko. Mungkin satu-satunya habitat karst yang di huni oleh 2 species primata yang berbeda (sympatric) yang ada di Sumatra bagian tengah.
pegunungan karst Bukit Bulan yang menjadi habitat Siamang dan Ungko

Untuk mendapat gambar siamang dan ungko sepertinya tidak mudah, karena mereka berada di tajuk atas dan rapat, namun dari suara yang terdengar jelas, kira-kira lebih dari 10 kelompok Siamang yang berada di sekitar dusun. Siamang ini mulai terdengar ramai bersuara antara jam 10.15-11.00,termasuk dari arah bukit-bukit kapur tersebut.

Hingga jam 2 siang, saya kemudian meninggalkan dusun ini, dengan segenap pertanyaan dan harapan akan kelestarian habitat siamang dan ungko. Kilau emas dan rencana pembukaan pabrik semen yang menambang gunung karst bukit bulan,   tentu lebih menjanjikan  dan sudah tentu juga akan menghilangkan cerita dan nyanyian dari Bukit Bulan  yang merupakan kawasan limestone karst sebagai daerah tangkapan air untuk wilayah Suroloangun hingga Jambi.

bacaan lebih lanjut :
Brockelman, W. & Geissmann, T. 2008. Hylobates lar. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T10548A3199623. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T10548A3199623.enDownloaded on 13 March 2017.
Geissmann, T. & Nijman, V. 2008. Hylobates agilis. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T10543A3198943. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T10543A3198943.enDownloaded on 13 March 2017.

Nijman, V. & Geissman, T. 2008. Symphalangus syndactylus. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T39779A10266335. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T39779A10266335.enDownloaded on 13 March 2017.

Friday, February 17, 2017

Cinta Lebah Indonesia

ditulis Oleh:
Sidiq Harjanto
email : sidiqharjanto@gmail.com

Berternak lebah menghasilkan madu juga membatu produksi tanaman pangan
Selain menghasilkan produk madu yang bernilai ekonomi, lebah memiliki peran yang sangat penting dalam membantu penyerbukan berbagai jenis tanaman tropis, dalam hal ini hutan pada umumnya. Lebah penghasil madu di Indonesia didominasi oleh 3 jenis yaitu Apis dorsata, A mellifera, dan A cerana. Lebah madu A. mellifera sendiri bukan merupakan jenis asli Indonesia, dan sengaja didatangkan ke dalam negeri sebagai lebah penghasil madu. Sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia memiliki banyak jenis lebah asli (native bee) yang menghasilkan madu.  Dari marga Apis tercatat ada A. andreniformis, A. cerana, Apis dorsata, A. koschevnikovi, dan A. nigrocincta.
 Lebah hutan (Apis dorsata) hidup di habitat hutan yang relatif masih baik, membangun sarang terutama pada dahan-dahan pohon. Menghasilkan madu lebih dari 5 liter perkoloni, lebah ini masih menjadi salah satu pemasok kebutuhan madu nasional. Jenis lebah lokal asli Indonesia lainnya, Apis cerana, cukup banyak dipelihara oleh para peternak skala kecil di pedesaan. Produksi madu dari jenis ini tidak terlalu melimpah namun banyak diburu karena kualitasnya dianggap lebih bagus dibandingkan madu dari lebah impor.
Apis cerana, salah satu lebah asli Indonesia
Barangkali sedikit dari kita yang mengetahui bahwa selain lebah-lebah dari marga Apis, kita memiliki kelompok lebah lain yang potensial untuk menghasilkan produk-produk lebah (madu, polen, propolis). Lebah-lebah tersebut menghuni hutan-hutan yang kita miliki, beberapa jenis bahkan telah beradaptasi hidup di sekitar pemukiman. Uniknya, mereka tidak mempunyai sengat. Lebah tanpa sengat dikenal dengan berbagai nama lokal. Sebutan-sebutan tersebut antara lain kelulut (Melayu), klanceng (Jawa), teuweul (Sunda), gala-gala (Sulawesi), dll. Jenis lebah tanpa bersengat di Indonesia berdasarkan catalog Indomalayan Stingless Bee (Rasmussen, 2008) setidaknya ada 35 jenis. Lebah tanpa sengat dalam satu suku dengan Apis, termasuk dalam suku Apidae, tribus Meliponini.
Taksonomi
Kindom
Filum
Kelas
Bangsa
Suku
Tribus
Marga
: Animalia
: Arthropoda
: Insecta
: Hymenoptera
: Apidae
: Meliponini
: Geniotrigona, Heterotrigona, Lepidotrigona, Sundatrigona, Tetrigona, Tetragonula, dll.
 
lebah tanpa sengat Heterotrigona itama (yang besar) dan Tetragonula cf laeviceps

Lebah tanpa sengat hidup dalam koloni dengan pembagian tugas yang jelas (eusosial). Dalam satu koloni terdiri dari satu atau lebih ratu, ratusan lebah jantan, dan ribuan lebah betina steril. Tugas ratu adalah bertelur untuk menghasilkan keturunan baru. Tugas lebah jantan hanya kawin. Sedangkan lebah betina steril memiliki berbagai tugas seperti mengumpulkan pakan; menjaga sarang; dan merawat ratu, lebah jantan, dan lebah-lebah muda.
Semua jenis lebah tanpa sengat diketahui bersarang pada lubang, dengan satu pintu masuk yang dilengkapi dengan sistem keamanan. Karena tidak dilengkapi dengan organ penyengat sebagai pertahanan diri, mereka membangun sarangnya dengan suatu sistem keamanan yang unik guna menjaga sarang dari ancaman penyusup maupun penyakit. Pemilihan sarang pada lebah tak bersengat cenderung menunjukkan adanya variasi. Misalnya jenis Heterotrigona itama cenderung memilih lubang-lubang pohon sebagai tempat membangun sarang. Heterotrigona thoracica cenderung memilih lubang-lubang batuan atau pohon dengan diameter batang yang besar. Sedangkan jenis Tetragonula laeviceps, sebagai jenis yang cukup umum, cenderung lebih pragmatis dalam memilih media sarang. Mereka bisa menghuni ruas bambu, lubang pada cacat bangunan, pipa, dll.
sarang lebah tanpa sengat

Seperti lebah Apis, lebah tanpa sengat juga mengumpulkan nektar dan polen sebagai makanan. Nektar diproses menjadi madu, sedangkan serbuk sari digunakan untuk makanan ratu lebah dan larva lebah. Baik madu maupun serbuk sari (roti lebah) disimpan dalam kantong-kantong yang terbuat dari campuran resin tanaman dan lilin lebah, sebagai cadangan makanan.
Di sisi lain, lebah berukuran kecil –tidak lebih besar dari lalat- ini juga menghadapi ancaman serius oleh semakin terdesaknya habitat mereka. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia merupakan salah satu negara dengan laju kehilangan hutan yang tinggi di dunia. Hilangnya hutan sebagai habitat utama lebah tanpa sengat menyebabkan hilangnya banyak populasi lebah dari kelompok ini di berbagai tempat. Beberapa jenis tertentu masih mampu bertahan di habitat yang kurang bersahabat, namun mereka juga menghadapi masalah dalam menemukan tempat untuk bersarang. Tak heran jika lebah-lebah mungil tersebut terkadang dijumpai bersarang di tempat yang kurang layak.
Besarnya keanekaragaman jenis lebah tanpa bersengat; dengan variasi dalam ukuran tubuh, perilaku, dan relung habitatnya; menjadikan mereka memiliki peran dominan dalam penyerbukan. Penyerbukan bunga pada beberapa jenis tanaman diduga sangat tergantung dengan keberadaan lebah. Dengan manfaat yang sedemikian besar, kiranya diperlukan upaya serius guna menjaga kelestarian lebah tak bersengat di Indonesia

 Save our native bees!


Rasmussen, C. 2008. Catalog of Indomalayan / Australasian stingless bee (Hymenoptera: Apidae: Meliponini. Zootaxa, 1935, 3-80.

Tuesday, January 31, 2017

"Owa Jawa, si Pemanjat Cadas Kramat "

oleh
Salmah Widyastuti
salmah.widyastuti@gmail.com


Catatan baru mengenai keberadaan owa jawa di Jawa Tengah, membawa kami untuk menginisiasi kegiatan konservasi primata di kawasan ini. Beberapa bagian hutan di gugusan perbukitan yang melintang di utara Kabupaten Purbalingga menjadi salah satu habitat alami yang tersisa bagi kera kecil endemik Jawa. Lokasi ini kami sebut "Cadas Kramat", terletak di desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga, Jawa Tengah. Karena kondisi geografis yang sulit, terdapat potongan hutan alami yang dibentengi jurang sungai yang dalam dan terhampar di lereng gunung kapur yang terjal.  Mungkin satu-satunya tipe habitat Owa, di Jawa yang berada di tebing batu kapur.

Selain perburuan yang berpotensi mengancam kelangsungan populasi owa jawa, di seluruh wilayah sebaran Owa, kebutuhan manusia yang sifatnya ekstraktif juga meningkatkan deforestasi sehingga mendesak habitat alami owa jawa.
Cadas Keramat "Siregol", lingkaran kuning dimana Owa teramati

Kunjungan kedua tim swaraOwa di Desa Kramat disambut hangat dengan pemuda karangtaruna Desa Kramat yang ramah, dan langsung menemani kami menyusuri tebing kapur cadas Kramat, tebing Siregol. Dalam pengamatan kali ini dari jarak sekitar 100 meter kami menjumpai satu kelompok owa jawa yang sedang melakukan pergerakan di pepohonan di bawah tebing. Sesaat setelah itu, kami melihat 2 individu owa dari kelompok tersebut melakukan pergerakan berpinah, cara mereka bergerak sungguh mengejutkan kami yang sedang serius mengamatinya.

  Baru kali ini kami melihat owa jawa memanjat tebing. Tebing vertikal dengan ketinggian sekitar 5-10 meter dipanjat dengan lengannya yang panjang meraih sulur-sulur tanaman dan kakinya menapaki tebing. Melompat dan meraih batang kayu kecil untuk bergerak, dengan teknik yang sempurna. Sungguh fenomena perilaku yang amat jarang teramati dilakukan oleh jenis kera kecil ini. Secara normal owa jawa melakukan pergerakan secara brakhiasi (berayun) antar dahan pohon dengan efisiensi energi. Kelompok ini harus mencapai bagian bawah tebing untuk menuju pohon pakannya, melewati tebing batu yang licin dan sangat extrem. Masih banyak hal yang bisa diteliti untuk tujuan konservasi terkait Owa dan habitat Cadas Keramat.
habitat Owa di bagian bawah tebing cadas keramat 
Tak jauh dari posisi owa jawa terlihat, kami juga melihat sekelompok lutung jawa  (Trachypithecus auratus) yang sedang memakan pucuk-pucuk daun, sekitar 4 individu yang terlihat. Selain itu menurut warga juga terdapat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).
Minimal 2 dari 5 jenis primata Jawa dipastikan berhabitat di kawasan hutan ini. Masih ada kemungkinan juga terdapat rek-rekan (Presbytis comata) dan kukang jawa (Nycticebus javanicus). Hal ini menjadi tantang kedepan untuk berkolaborasi bersama pihak terkait, dan warga sekitar habitat Owa dalam upaya pelestarian primata dilindungi dan habitat uniknya ini.

Thursday, January 26, 2017

Let it Bee : when the pollinators become mainstream

Stingless bee visiting flower of crop

Buzzzz…zzzzz  no we can’t hear the bee flying, this is tiny bee, size as flies, no sting, role as pollinators and producing honey too, Stingless bee!!. We have done shared our knowledge and gain new experience on meliponiculture in the habitat of critically endangered primates. Located in Kemuning village, Temanggung regency, Central Java, this site is recognized as habitat of Javan slow loris, first time we discover in this area in 2013 (read here for the report). After we found the javan slow loris existed, students continue to do research in this area. And now a conservation organization (Javan Wildlife Institute) initiated by Wildlife Lab of  Forestry Faculty, Gadjah Mada University continue the fieldwork, not only academic research but also assist people of Kemuning to protect and generate alternative income.

Shadegrown coffee habitat of Javan slow loris
Javan Slow loris

As we know wildlife hunting is the main threats for the biodiversity in Kemuning forest, we try to develop solution to increase their knowledge and capacity to maintain sustainable forest product. We have been working since last year to manage stingless bee honey from the Javan gibbon habitat, and now we try to introduce this scheme in the kukang habitat. Mainstreaming conservation of pollinators and introducing management of the stingless bee honey production.
Stingless bee honey 
On Saturday and Sunday (21/22 January 2017) organized by JAWI we conduct training for villagers in Kemuning, and there are 10 participants from the Kemuning village to join in the two days training. Our team give an introduction and share experience on stingless bee, honeys and their relationship with crops and forest habitat. Introductory about native bees and it’s role in our environment were emphasized in the discussion with the participants. Moreover, this bee is producing honey that very healthy and economically viable.
knowledge sharing about stingless bee
This training is intended to bring some long-term solution to conserve forest as habitat of endangered animals but also give real example for sustainable forest product who provide sustainable income. Next activities is we will active to encourage participants to manage bees colonies and give direct assistant on marketing strategy for the  stingless bee honey.
field practice, how to manage stingless bee colony



Thursday, January 19, 2017

Tabungan Ekologi : Mengelola Lebah dan Kopi


Selamat Tahun Baru 2017 !! tulisan pertama untuk mengawali semangat baru pelestarian Owa di Indonesia. Alam menyediakan hal baru bagi yang berpikir untuk di pelajari dan dikembangkan untuk kemajuan kehidupan sosioekologis kita. Hal baru  yang coba kita pelajari saat ini adalah tentang serangga-serangga yang yang membantu penyerbukan kopi hutan di habitat Owa. Salah satu focus taxa kita kali ini adalah jenis lebah tanpa sengat. Warga sekitar habitat menyebut klanceng, sejenis tawon seukuran lalat yang sering bersarang di dalam batang pohon menghasilkan madu. Madu lebah ini mempunyai nilai ekonomi tinggi, namun karena masih memanen secara alami dari hutan produksi madu ini juga sangat terbatas, pada musim musim tertentu saja dan juga dengan jumlah yang sedikit.
lebah tanpa sengat di bunga kopi robusta
Sudah kita ketahui, adanya buah kopi, adalah karena adanya proses penyerbukan (bertemunya serbuk sari dengan putik), silahkan baca artikel di bawah. Proses penyerbukan ini ada yang terjadi dengan sendirinya juga ada yang dibantu  faktor dari luar, misal angin, serangga dan juga buatan (manusia). Serangga penyerbukan telah membuktikan peningkatan produksi kopi di beberapa daerah penghasil kopi. Jasa penyerbukan ini ada yang menghitung nilai nya hingga 350 miliar $US.  Namun kita pada umumnya tidak begitu menaruh perhatian kepada lebah atau serangga-serangga yang membantu pembuahan bunga kopi, jenis apa saja, kapan waktunya, dan bagaimana keberhasilannya dan tentunya masih banyak pertanyaan lain yang bisa kita pikirkan selanjutnya.

Untuk saat ini, hampir semua wilayah di Indonesia lebah ini yang dimanfaatkan adalah madunya, itupun juga masih banyak yang sifatnya exploitasi dari alam, madu hutan yang diambil dengan tanpa mempertimbangkan kelestarian lebah itu sendiri. Madu di ambil dengan mengambil habis sarang dan anak-anaknya. Bahkan dengan batuan api yang beberapa kasus di lapangan juga menimbulkan kebakaran hutan. Karena api yang di tinggalkan oleh pemburu madu hutan hidup membesar dan menyebar luas membakar hutan. Banyak cerita juga di hutan-hutan penghasil lebah para pemetik madu liar ini meninggal karena mengabaikan keselamatan ketika memetik madu.

Pemetik madu hutan, mengambil resiko tinggi tapi tidak lestari

Peran lebah sebagai pollinator, inilah yang menjadi hal baru yang sedang kita arusutamakan untuk pelestarian hutan dan juga meningkatkan produksi kopi juga tanaman pertanian perkebunan lainnya . Bagaimana kaitannya dengan Owa?? Owa  jawa adalah primata pemakan buah, buah-buah hutan ini juga terbentuk dari proses penyerbukan alami, dan salah satu faktornya adalah oleh pollinator. Lebah tanpa sengat tentu lebih ramah dari pada lebah-lebah lainnya karena setidaknya mereka tidak menyengat. Berdasar pengamatan lapangan juga nampak selalu hinggap di pohon-pohon pakan Owa.
Menjamin keberadaan lebah berarti menyediakan buah pakan Owa dan regenerasi hutan terus terjadi.

hutan sebagai tabungan ekologi
Selain itu untuk mengurangi tekanan terhadap habitat primata terancam punah, madu mempunyai nilai ekonomi yang tinggi,  budidaya lebah yang di kembangkan di sekitar hutan bisa menjadi tambungan ekologis jangka panjang yang tidak hanya sumber pangan yang sehat namun juga berperan penting untuk melestarikan lingkungan sekitar kita secara berkelanjutan.



Monday, December 19, 2016

Peran penting Jlarang si Bajing

Ketika anda di hutan atau di suatu tempat apa yang ada pikirkan kalau adan melihat mamalia kecil? Ya mamalia yang bobotnya relative ringan kurang dari 5 kg. Lucu, ingin membawa pulang, atau mengambil gambarnya saja, atau teringat cerita waktu masih kecil tentang tupai dan kelinci? Bajing, tupai, jlarang, landak, trenggiling itu beberapa di antaranya dalam bahasa jawa yang sering juga di temukan di habitat hutan yang masih alami.
Bajing jlarang

Karena ukurannya kecil, pemalu, sebagian besar aktif malam hari, kamuflase yang sempurna, tidak banyak juga yang concern dan peduli dengan peran mereka di alam. Menurut sejarah alam, jenis-jenis mamalia kecil ini sudah ada sejak 30-40 juta tahun yang lalu, jadi mereka sudah berasosiasi dengan hutan jauh sebelum manusia ada. Proses evolusi morphologinya juga tidak jauh berbeda hingga sekarang meskipun sudah puluhan juta tahun. Tentu ada hubungan yang erat antara mamalia kecil ini dengan hutan sebagai habitatnya.

Beberapa mamalia kecil ini di hutan berperan sebagai pollinator (penyerbuk bunga), pemakan buah dan pemencar biji-bijian di hutan. Artinya salah satu peran ekologisnya adalah membantu regenerasi hutan secara alami. Beberapa mamalia kecil juga menjadi mangsa dari jenis-jenis predator hutan, seperti burung elang. Dan sebagai fungsi estetis, ada kesenangan tersendiri bagi kita (manusia) untuk melihatnya di alam (namun hal ini juga belum banyak yang melakukan).

Jenis-jenis mamalia kecil ini adalah pemakan jamur pohon, tidak semua jamur itu jahat,banyak mikroorganisme yang tak kasat mata namun penting dalam alam ini. Apa kaitannya jamur-mamalia kecil dan pohon hutan??

Kalau anda sering melihat kayu yang ada bercak-bercak putih itu adalah beberapa jenis jamur yang berasosiasi dengan pohon hutan, jamur ini membatu pohon menangkap nutrisi yang tidak dapat di perolehnya dari yang sudah ada,sementara pohon menyediakan karbon dioksida dari fotosintesis untuk jamur. Ada korelasi positif hubungan pohon dan jenis-jenis jamur pohon ini.
jamur pohon (bercak putih) di habitat Owa jawa


Video berikut ini adalah yang kami dapatkan dari hutan Sokokembang, habitat Owa jawa di Petungkriyono, kabupaten Pekalongan. Terlihat seekor bajing Jlarang (Ratufa bicolor) yang memakan kulit batang pohon. Mycopaghy  adalah istilah untuk mamalia pemakan jamur, dan ini sedikit menjelaskan peran di atas bahwa, simbiosis antara jamur dan tumbuhan tinggkat tinggi inilah yang disebut micoriza, dan micoriza inilah di atarnya yang membatu pertumbuhan dan kesehatan pohon-pohon di hutan. 


Dengan di makannya jamur oleh bajing, makan spora jamur juga akan terbawa dan tersebar melalui kotoran Bajing. Hubungan yang cukup kompleks namun bisa kita pahami bahwa setiap binatang di hutan mempunyai peran yang tidak bisa di gantikan oleh yang lain, bahkan oleh manusia sekalipun. Oleh karena itu membiarkan binatang tetap di habitat aslinya, tidak memburunya,tidak mengambilnya sudah menjadi kewajiban  kita bahwa kita juga berperan dalam system ekologis ini.

Bajing jlarang/ Giant Squirrel



Friday, December 2, 2016

Catatan baru sebaran Owa Jawa

oleh : Arif Setiawan

Gunung Kapur Siregol, Ds.Kramat Karang Moncol Purbalingga

Berawal dari informasi yang kami terima, survey dan monitoring sebaran primata Jawa di wilayah jawa tengah membawa kami mengunjungi lokasi baru, yang belum tercatat dalam survey-survey sebelumnya. Silahkan baca-baca tentang kegiatan ini yang dimulai sejak awal tahun 2016.  Sebelumnya data mengenai sebaran Owajawa juga telah di publikasi di jurnal ini.

rangkaian pegunungan di Kec.Karang moncol dan Rembang Purbalingga (survey 2013)

Informasi yang kami terima beberapa waktu lalu menyebutkan, bahwa ada kelompok owa yang teramati di wilayah kabupaten Purbalingga. Sebagaimana yang kita tahu wilayah ini telah kita survey tahun 2010-2013, dan lokasi nya berada di pegunungan antara G.slamet dan pegunungan Dieng. Survey tahun 2013 kami mengunjungi gunung Ardi lawet, dan mencatat perjumpaan tidak langsung keberadaan Owajawa. Kami mendengar suara morning call dari arah sebelah barat gunung lawet, dengan radius kurang lebih 800 meter-1400 meter.  Lokasi yang di informasikan kepada kami apabila di lihat di peta, tepatnya berada di sebelah barat dari gunung lawet, dan nampak disana memang topografi yang sangat curam dan sepertinya tidak mungkin di akses.

habitat Owa di gunung Siregol, Karangmoncol

Tanggal 21 November 2016 , bersama tim swaraowa, meluncur ke lokasi yang di informasikan tersebut, dan kami di pertemukan dengan mas Sa’ad seorang guru SD yang aktif dengan kegiatan pelestarian di Desa kramat, Karang moncol. Setelah meperkenalkan diri, kami langsung menuju ke lokasi yang dituju, ada jalan yang sudah bagus menyusuri tebing sungai yang dalam, di sebelah kiri gunung batu kapur (limestone) yang sangat tinggi dan di bagian bawah vegetasi kanan-kiri sungai yang lumayan rapat.
Owa jawa yang teramati di Siregol, Karangmoncol

Belum berhenti dari kendaraan, kami sudah melihat adanya pergerakan di pohon-pohon di bawah tebing jurang ini, dan yang terlihat pada saat itu adalah Owa Jawa, setelah di amati lebih teliti, ternyata ada juga Binturong yang sedang mencari makan di pohon yang sama dengan kelompok Owa ini. Beberapa saat kami mengamati pergerakan owa ini, dan binturong. Catatan kami juga melihat ada julang emas melintas di atas gunung batu kapur ini. Elang jawa juga terdengar bersuara, namun tidak terlihat karena rapatnya tajuk.
Arctictis binturong


Limestone forest, istilah untuk hutan yang di pegunungan kapur, tidak banyak catatan yang menjelaskan tetang sebaran owa di tipe hutan ini, dengan karakter yang unik,  tebing berbentuk kerucut, tanah yang tipis,namun memiliki vegetasi yang rapat di dasarnya. Habitat unik yang perlu dilestarikan tidak hanya untuk keanekaragaman hayati namun sudah tentu menjadi landscape yang menarik dan indah untuk sekedar di kunjungi.

Beberapa daerah gunung kapur, juga mengalami ancaman serius karena kegiatan penambangan, sudah tentu manfaat secara fungsi ekologis juga hilang, semua kakayaan hayatinya hilang sebelum sempat di telilti lebih jelas manfaatnya. Perburuan juga mengakibatkan hutan-hutan menjadi "kosong" dan sepi, menghilangkan peran satwaliar dalam sistem ekologi.

Berbicara mengenai upaya pelestarian, akan menjadi pekerjaan bersama untuk kedepan bagi siapa saja yang peduli , beberapa potongan hutan di jawa tengah, juga masih menyimpan keanekaragaman yang tinggi, yang juga menjadi asset bagi daerah setempat. Upaya pelestarian dengan dasar ilmiah bisa menjadi inisiasi awal untuk Owa jawa di habitat limestone ini. Mengarus utamakan kegiatan wisata minat khusus juga bisa menjadi sarana untuk membangun ekonomi di tingkat site dari adanya primata endemik.

Bacaan lebih lanjut :

Setiawan, A., T. S. Nugroho , Y. Wibisono, V. Ikawati, J. Sugarjito, (2012), Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia, Biodiversitas, Vol.13. No.1,p 23-27

 Whitten, T., Soeriaatmadja, R. E., Afiff, S. A., Widyantoro, A., Kartikasari, S. N., & Utami, T. B. (1999). Ekologi jawa dan bali. Prenhallindo