Monday, December 22, 2025

Dari Tuapejat ke Beriulou: Catatan Perjalanan Pengamatan Satwa di Pulau Sipora

 

hutan di Beriulou

oleh : Ismael Saumanuk

Kegiatan kali ini berupa pengamatan satwa ke Hutan Beriulou dan jalur logging Betumonga, berlangsung pada 11–13 Desember 2025. Tujuan utama perjalanan adalah melakukan pengamatan terhadap potensi keberadaan primata Mentawai serta jenis-jenis burung di kawasan tersebut.

Akses dan Rute

Hutan Beriulou berbatasan dengan Betumonga, Sagitcik, Marah, dan Taraet. Di sepanjang punggung perbukitan sudah terdapat jalan lintas yang dibangun oleh perusahaan lama pada tahun 2019. Jalur ini masih bisa dilalui sepeda motor hingga ke kawasan hutan. Sementara itu, jalan logging menuju Betumonga kini tertutup rapat oleh semak paku ransam (osap), sehingga tidak lagi bisa dilewati masyarakat.

Untuk mencapai lokasi pengamatan, kami menempuh perjalanan darat dengan sepeda motor dari Tuapejat, pusat Kabupaten Kepulauan Mentawai di Pulau Sipora. Waktu tempuh sekitar tiga jam. Bersama Mateus Sakaliau dan Erwin, saya berangkat dari Café Bilou di Goisoinan pukul 13.00 WIB, tiba di Sioban pukul 14.00 WIB untuk makan siang, lalu melanjutkan perjalanan pukul 15.00 WIB dan sampai di lokasi survei pukul 16.30 WIB. Kami mendirikan tenda sebagai pos pengamatan, kemudian berjalan di sekitar lokasi hingga menjelang malam. Pada pukul 17.45 WIB, kami melihat seekor joja di atas pohon, sedang mencari tempat tidur, hanya berjarak sekitar 20 meter dari posisi kami.

Kondisi Hutan

Hutan Beriulou dan jalur logging Betumonga masih didominasi pohon-pohon besar. Namun, di sepanjang jalan utama Beriulou terlihat aktivitas penebangan kayu dengan chainsaw, baik untuk kebutuhan rumah pribadi maupun dijual ke resort. Selama berada di hutan, kami mendengar lima kali suara chainsaw, bahkan ada satu yang beroperasi hingga tengah malam (pukul 20.00–00.00 WIB).

Berbeda dengan jalur logging Betumonga, kawasan ini relatif lebih aman karena akses mobil belum memungkinkan akibat jalan yang belum diperkeras.

Hasil Pengamatan Primata

Simias concolor ( Masepsep)

Brachypodius melanocephalos- (Taktak)


Macaca pagensis -Siteut

Walaupun cuaca kurang baik, kami berhasil mencatat empat kelompok bilou yang bersuara di beberapa titik:

Kelompok 1: Bagian selatan, mulai pukul 04.31–05.10 WIB, jarak ±1,5 km.

Kelompok 2: Mulai pukul 04.49–05.45 WIB, jarak ±1,5 km.

Kelompok 3: Mulai pukul 05.07–05.37 WIB, jarak ±1 km.

Kelompok 4: Hari ketiga, bagian barat jalan Beriulou, pukul 04.22–04.35 WIB, jarak ±1 km.

Keempat kelompok bilou tersebut tidak melakukan great call.

Selain itu, kami juga menjumpai langsung beberapa primata:

Seekor bokkoi menyeberangi jalan utama Beriulou.

Seekor joja di tepian jalan, sedang mencari tempat tidur.

Hari kedua di jalur logging Betumonga: tiga kelompok bokkoi dan dua kelompok joja.

Hari ketiga di jalur Beriulou: satu kelompok joja dan satu kelompok masepsep (simakobuk / Simias concolor).

Total perjumpaan primata: 9 kelompok, terdiri dari 4 kelompok bokkoi, 4 kelompok joja, dan 1 kelompok simakobuk.

Catatan Umum

Meski vegetasi hutan di jalur Beriulou mulai berkurang akibat pembangunan resort di Bosua dan Katiet serta kebutuhan kayu masyarakat, kawasan ini masih memiliki vegetasi yang bagus dan strategis. Kelimpahan satwa, khususnya primata, masih mudah dijumpai. Akses pengamatan pun relatif mudah karena bisa ditempuh langsung dengan sepeda motor hingga ke lokasi.


Saturday, December 20, 2025

Membangun Gerakan Imuwan Warga : Monitoring Primata di Desa Mendolo , Desa Kayupuring dan Desa Pacet.

Oleh : Kurnia Ahmaddin

Kegiatan ini merupakan kontribusi swaraOwa sebagai anggota forum Kolaborasi Pengelolaan Hutan Petungkriyono yang telah mendapatkan SK Gubernur Jawa Tengah no 660.1/26 Tahun 2020. Dengan melibatkan warga, kegiatan monitoring keanekaragaman hayati tahun 2025 berfokus di 3 Desa yaitu Desa Mendolo dan Kayupuring di Kabupaten Pekalongan serta Desa Pacet di Kabupaten Batang. Secara rutin kami melakukan survei selama minimal 7 hari dalam 1 bulan yang dilakukan oleh 14 pemuda lokal. Kegiatan ini juga sebagai upaya pendampingan 5 pemburu aktif agar mendapatkan alternatif penghasilan dengan melibatkan mereka dalam kegiatan monitoring ataupun patrol hutan. Kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kapasitas, dan mendorong kesadaran konservasi untuk warga sekitar hutan, yang dapat mengubah kegiatan exploitasi sumberdaya hutan menjadi kegiatan ekonomi produktif. Mengumpulkan informasi keanekaragaman hayati yang sangat potensial untuk di kembangkan sebagai asset daerah dan pelestarian alam berbasis komunitas. Seluruh data keragaman primata, geospasial dan catatan lain di lapangan diinput melalui aplikasi ‘KOBOTOOLBOX’. Perolehan data dari aplikasi ini belum sepenuhnya terukur menggunakan metode yang konsisten. Beberapa laporan merupakan sumbangan dari tim monitoring ketika sedang melintas dan bertemu dengan primata sehingga dapat dikatan perolehan data ini adalah data ‘citizen science’.

grafik perjumpaan primata 

Berdasarakan survei populasi owa pada tahun 2021 desa Kayupuring merupakan kawasan high suitable habitat untuk Owa Jawa. Sehingga patroli yang dilakukan adalah dengan menelusuri jalur-jalur rawan perburuan di desa tersebut. Metode patroli serupa juga kami lakukan di desa Pacet yang merupakan titik sebaran Owa jawa paling Timur di pegunungan Dieng. Mengingat banyak hutan yang telah beralih fungsi menjadi kebun durian dan kebun kopi non-shadeground di Mendolo, patroli dilakukan sebisa mungkin dilakukan dengan mengikuti pergerakan Owa jawa untuk mengetahui jalur pergerakan, preferensi pakan dan perilaku di low suitable habitat. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan program penanaman pohon. Sehingga titik penanaman pohon yang bertujuan agar Owa jawa dengan indikasi terisolasi di Mendolo memiliki koridor penyeberangan alami dikemudian hari.

Selama 10 bulan berjalan, hasil monitoring yang telah terinput oleh tim monitoring adalah 242 catatan perjumpaan dengan 5 spesies primata Jawa. Seluruh data Geospasial yang tercatat memiliki rata-rata akurasi GPS sebesar 7.327892 m dari gawai yang digunakan tim monitoring. Dengan mengeliminasi catatan mengenai Owa jawa yang berusaha untuk diikuti di Mendolo, karena kami anggap sebagai 1 grup. Hasil dari pengamatan dengan catatan perjumpaan terbanyak adalah Lutung jawa (Trachypithecus auratus). Spesies tersebut tercatat sebanyak 75 kali perjumpaan, dengan 15 individu terbanyak dalam 1 kelompok dan rata-rata jumlah individu dalam sekali pengamatan adalah 5 individu. Sedangkan Kukang jawa (Nycticebus javanicus) merupakan jenis yang paling jarang tercatat, hanya 3 kali perjumpaan dengan 1 individu teramati pada tiap kali teramati.

Monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis) menempati rangking ke 2 terendah dalam hal catatan perjumpaan dengan 31 kali perjumpaan. Meskipun demikian, spesies ini menempati peringkat pertama dalam hal jumlah individu terbanyak dalam 1 kelompok yaitu 18 individu dengan rata-rata 8,13 individu. Catatan perjumpaan dengan Rekrekan (Presbytis comata fredericae) adalah 34 kali perjumpaan, dengan jumlah individu tertinggi adalah 16 individu dan rata-rata 5,059 individu.

Perjumpaan dengan Owa jawa (Hylobates moloch) diluar wilayah jelajah kelompok yang diikuti di Mendolo adalah 57 kali laporan perjumpaan dengan rata-rata jumlah individu Owa yang terhitung adalah 2,54 jumlah individu dan 8 individu terbanyak dalam satukali pengamatan di desa Kayupuring. Seluruh perhitungan rata-rata dan jumlah individu ini adalah catatan perjumpaan dengan primata yang mengikutsertakan laporan dari suara terdengar tanpa terlihat yang kami hitung sebagai 1 individu.

Persebaran primata

sebaran perjumpaan Owa Jawa

Area hutan desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan merupakan wilayah hutan dengan catatan primata paling Barat di Kawasan hutan pegunungan Dieng pada monitoring periode ini. Area hutan tersebut hanya absen jenis Kukang jawa (Nyticebus javanicus) karena tim tidak melakukan monitoring pada malam hari ketika mengunjungi desa tersebut. Meski tidak dijupai secara langsung namun berdasarkan wawancara dengan masyarakat lokal, mereka dapat menyebutkan ciri fisik dengan baik hingga waktu terbaik untuk bertemu dengan satwa ini pada puncak musim bunga kopi. Di luar kawasan tersebut,  Kukang jawa (Nyticebus javanicus) selama periode monitoring hanya di jumpai di desa Mendolo. Hanya 3 catatan perjumpaan di area hutan dengan shadeground kopi di bawahnya dan rata-rata altitude di ketinggian 624 mdpl.

 Dari 31 catatan perjumpaan dengan Monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis), 13 kali tercatat di desa Mendolo dan 10 kali di Kayupuring dengan rata-rata sering teramati pada ketinggian 542.2954 mdpl. Hanya terdapat 1 catatan di ketinggian 1007,64 mdpl di Sawanganronggo dan tidak laporan perjumpaan di desa Pacet dan kawasan lain dengan ketinggian lebih dari 1000 mdpl selain di Sawanganronggo. Meski catatan perjumpaan menunjukkan habitat spesies ini cukup moderat mulai dari perkebunan pinus, karet, dan durian namun, perjumpaan di kawasan hutan tergolong minim. Catatan di Kayupuring misalnya, meskipun habitat pada umumnya adalah hutan, namun catatan perjumpaan dengan spesies ini terkonsentrasi di sepanjang jalan utama. Hal ini dimungkinkan karena setidaknya 4 grup telah terhabituasi dengan kehadiran manusia. Kami masih mendapat laporan bahwa masyarakat dan wisatawan lokal sering memberi pakan Monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis) di sepanjang jalan utama menuju Petungkriyono. Beberapa laporan lain menginformasikan bahwa grup di pintu masuk hutan sudah mulai mengejar manusia yang membawa kantong plastik.

Lutung jawa (Trachypithecus auratus) tercatat pada ketinggian dan habitat yang lebih moderat jika dibandingkan dengan jenis lain di lansekap ini. Tercatat mulai dari ketiggian 404.651 mdpl di kayupuring hingga 1770.83 mdpl di Pacet, dengan habitat mulai dari perkebunan hingga hutan alami. Sedangkan catatan Rekrekan (Presbytis comata fredericae) di sisi Barat tercatat pada ketinggian 393.76 mdpl di Kutorojo. Sedangkan di sisi Timur yaitu desa Pacet tercatat pada 1637.3 mdpl sehingga rata-rata ketinggian 658.2403 mdpl dari 34 catatan perjumpaan di seluruh wilayah monitoring. Habitat perjumpaan spesies ini mirip dengan Lutung jawa (Trachypithecus auratus), bahkan 2 catatan perjumpaan berada di perkebunan teh yang memiliki pohon Afrika (Maesopsis eminii) sebagai tanaman penaung teh.

 Selama periode monitoring, Owa jawa (Hylobates moloch) hanya tercatat pada habitat hutan alam dengan toleransi tanaman kopi shadeground di bawah naungan hutan. Dilaporkan kera jenis ini dijumpai pada ketinggian rata-rata 596.516 mdpl. Catatan ketinggian terendah berada di 320.58 mdpl di Kutorojo dan tertinggi 1566.71 mdpl di Pacet. Keduanya mewakili catatan sebaran paling Barat dan paling Timur selama periode monitoring. Di Pacet teramati 3 individu teramati di curug Silawe  meski hanya 1 kali tercatat. Sedangkan di Kutorojo  teramati 5 individu dalam 1 kelompok.

Kopi Katering: Edukasi dan Konservasi Lewat Secangkir Kopi

 


Oleh : Vika Bayu Irianto dan Arif Setiawan

Kopi owa yang menjadi produk konservasi dari SwaraOwa selain telah menjual di pasar global, melalui export kopi di Singapura, pasar lokal juga sedang kita kembangkan. Berbeda dengan di singapura, saat ini untuk pasar lokal karena kita juga bertujuan untuk mengedukasi konsumen kopi terkait pelestarian owajawa, maka dari itu penjualan langsung melalui event-event menjadi prioritas, kami menyebutnya “Kopi Katering”. Melalui event-event ini tim kopi Owa biasanya menyajikan kopi tidak hanya untuk di minum, tapi berikut juga media edukasi yang menjelaskan asal usul kopi, dan bagaimana kopi Owa merupakan bagian dari program konservasi Owa, kegiatan sosial dan ekonomi di sekitar habitat Owa Jawa.

Inisiatif ini berawal dari acara IUCN Song Bird Crisis confrence  di Universitas Atmajaya, Yogyakarta tanggal 10-14 Juni 2024, selama 4 hari berturut-turut Kopi owa menyajikan seduhan kopi segar di acara , coffee break, pada 4 hari pertemuan para peneliti dan pegiat konservasi Burung. Acara inilah yang kemudian menginspirasi kita, dengan adanya kopi katering , kesempatan untuk menyampaikan pesan konservasi lebih intens dilakukan, karena kita berinteraksi langsung dengan peminum kopi. Peserta seminar, yang sudah teredukasi,  peneliti dan pegiat konservasi alam sebagai peserta memberikan apresiasi lebih  untuk produk-produk yang kita bawa, sehingga ini juga sangat membantu dari sisi penggalangan dana untuk program-program konservasi Owa selanjutnya.

salah satu event pameran di 3 dekade konservasi Owa,
tim Kopi Owa bertemu dengan Wakil Menteri Kehutanan RI, 

Beberapa event kopi katering dan pameran kopi yang kita lakukan di sepanjang tahun 2025 diantaranya :

1. Bulan Juni 2025, biolaska pameran festival keanekarangaman hayati Universitas Sunan Kalijogo Yogyakarta.

2. September 2025, reuni 98 universitas atmajaya

3. October 2025, 6, Gunung Kidul, festival literasi gunung kidul, Yogyakarta

4. October 2025, 25. Gembiraloka zoo , Gibbon day.

5. October 2025, 28-29 Festival Kopi Klaten, Jawa Tengah

6. 11-13 November 2025, kopi catering dan pameran, di acara  BISA-LEAFA bioacoustics

7. 11-12 Desember 2025, acara symposium 3 Dekade konservasi elang jawa, Bogor

Tahun 2026, kopi owa Swaraowa akan terus melakukan strategi promosi konservasi melalui event-event pameran, seminar dan festival. apabila anda tertarik untuk mengundang Kopi Owa sebagai sajian dalam acara-acara coffee break, silahkan hubungi kami di swaraowa at gmail.com




Saturday, December 6, 2025

Titian Lestari: Koridor Kehidupan Untuk Owa Jawa

 oleh : Sidiq Harjanto

tari kreasi baru dari Mendolo " Jingkrak Sundhang" di pentaskan dalam acara peresmian program  "Titian Lestari"

Pada Sabtu, 29 November 2025 telah dilaksanakan Kick Off Program Konservasi Fauna "Titian Lestari: Koridor Kehidupan Untuk Owa Jawa". Program ini merupakan kolaborasi antara SwaraOwa dengan Yayasan Astra Honda Motor (AHM) dan Affiliated Company AHM. Program “Titian Lestari” dihadirkan sebagai upaya komprehensif dan multidimensinal untuk merajut kembali keterhubungan hutan, hati, pikiran, dan harapan keharmonisan manusia dan alam. Target utama program ini adalah pelestarian owa jawa di Kawasan Hutan Petungkriyono-Lebakbarang.

Program ini didesain dengan mengintegrasikan berbagai aspek –konektivitas hutan, kesadaran masyarakat, dan partisipasi parapihak; dengan kesadaran bahwa upaya mewujudkan kelestarian alam membutuhkan pendekatan yang holistik. Program berbasis “Tiga Titian” –tiga jembatan penghubung strategis. Titian Alam, berupa aksi nyata merawat konektivitas fisik hutan melalui penanaman pohon. Titian Pengetahuan, membangun koneksi antara manusia dengan alam, dalam hal ini owa jawa dan hutan habitatnya melalui edukasi dan penyadaran. Titian Peran, membangun jembatan peran dan partisipasi masyarakat, khususnya bagi kaum perempuan.

Acara Kick Off yang digelar di Dusun Sawahan, Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang ditandai dengan serah terima pohon secara simbolis dari Ketua Yayasan AHM, Bapak Ahmad Muhibbuddin kepada Yayasan SwaraOwa, yang diwakili Sidiq Harjanto selaku koordinaror program Titian Lestari. Turut hadir menyaksikan, antara lain: Ibu Sri Handayani selaku Camat Lebakbarang beserta Muspika Lebakbarang, Bapak Kaliri selaku Kepala Desa beserta perangkat Desa Mendolo, Bapak Catur mewakili Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur, utusan dari kantor CDK IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, dan segenap tamu undangan.

peluncuran program Tititan Lestari, penamanan untuk koridor kehidupan

Dalam Kick Off ini juga dilakukan simbolis penanaman berbagai jenis pohon, antara lain: Kayu Sapi (Pometia sp.) Kayu Babi (Crypteronia sp.), Kepayang/kluwek (Pangium edule), Aren (Arenga pinnata), Rau (Dracontomelon dao), dan Sentul (Sandoricum koetjape). Jenis-jenis pohon ini yang nantinya akan dibibitkan dan ditanam di area-area habitat penting owa jawa. Sebagian jenis pohon adalah potensial pakan bagi owa jawa, sebagian lainnya memiliki nilai penting dalam konservasi air, dan sebagian lagi memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Titian Lestari diharapkan membawa dampak positif sebagai berikut: Pertama, terpeliharanya koridor habitat yang mendukung pergerakan dan regenerasi owa jawa. Sebagai satwa arboreal, owa jawa bergantung pada tajuk pohon yang saling terhubung untuk aktivitas bergerak, mencari makan, dan berkembang biak. Alih fungsi lahan, seperti pertanian monokultur, berisiko menyebabkan fragmentasi habitat bagi owa jawa. Berdasarkan penelitian Widyastuti et al. (2023) menyebutkan ancaman populasi owa jawa muncul karena indikasi fragmentasi di habitat seluas 8,341 ha, di wilayah Petungkriyono-Lebakbarang.

 Melalui program “Titian Alam”, bibit-bibit pohon rencananya ditanam pada sempadan dan daerah aliran sungai (DAS) Wisnu & Sengkarang untuk menjadi koridor hutan di masa depan, sekaligus untuk konservasi air dan tanah. Dengan model agroforestri yang diperkaya, aneka bibit buah hutan juga ditanam di lahan-lahan garapan guna meningkatkan ketersediaan pohon pakan bagi owa jawa.

simbolis acara penanaman bersama

 Kedua, meningkatnya kesadaran dan partisipasi masyarakat umum dalam konservasi. Owa jawa dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita, karena bersifat monogami atau setia pada satu pasangan, dan protektif terhadap keluarga. Aspek-aspek kehidupan owa jawa ini selaras dengan nilai-nilai masyarakat yang kita pegang, dan perilaku bersuaranya mengajarkan bentuk komunikasi yang efektif.

 Dibingkai dalam “Titian Pengetahuan”, edukasi dan kampanye konservasi, terutama kepada generasi muda di sekitar habitat owa jawa akan dilakukan menggunakan metode-metode kreatif dan menyentuh sisi emosi. Salah satunya melalui media seni, seperti tari Jingkrak Sundang karya Bapak Sujono seniman multitalenta dari Keron, Magelang. Tari ini menggambarkan kemarahan dan keputusasaan satwa liar yang kehilangan habitat, diharapkan membangkitkan empati para penari maupun audiensnya.

 Ketiga, tersedia ruang partisipasi bagi kaum perempuan pada konservasi. Skema pelestarian hutan perlu membumi dan menjangkau berbagai kalangan. Salah satu kelompok yang perlu diberi ruang adalah kaum perempuan. Kepentingan mereka terhadap hutan bisa dilihat dari akses kepada pangan lokal dan obat-obatan alami. Perempuan umumnya juga pembuat keputusan dalam hal konsumsi rumah tangga, terutama pangan, yang secara langsung atau tidak langsung memengaruhi hutan.

 “Titian Peran” mengajak partisipasi kaum perempuan untuk memperkaya perspektif konservasi dalam keputusan-keputusan sehari-hari (misalnya, memilih produk yang ramah lingkungan atau bijak dalam penggunaan kayu bakar) sehingga dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi tekanan pada habitat Owa Jawa. Membuka peluang ekonomi berkelanjutan seperti pengembangan produk hasil hutan bukan kayu juga akan menjadi fokus utama program ini.

 Atas terlaksananya Kick Off Program Konservasi Titian Lestari ini, kami ucapkan terima kasih kepada mitra/kolaborator: Yayasan Astra Honda Motor, PT Musashi Auto Parts Indonesia, PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Yutaka Manufacturing Indonesia, PT Suryaraya Rubberindo Industries. Juga kepada para pihak yang telah turut mendukung kesuksesan acara, antara lain: Muspika Lebakbarang, Pemerintah Desa Mendolo, Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur, CDK IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, Dinas Pertanian Kab Pekalongan, Paguyuban Petani Muda Mendolo, Kelompok Wanita Tani Brayanurip Mendolo, dan segenap masyarakat Desa Mendolo.

Friday, December 5, 2025

Pelatihan Metode Survey Owa ke-12 tahun 2025

 Oleh: Nur Choiriyah Merdekawati

Para peserta Pelatihan Metode Survey Owa 2025 di Sokokembang.

Pada tanggal 3–7 November 2025, udara sejuk Hutan Sokokembang, yang terletak di jantung habitat Owa Jawa, Pekalongan, Jawa Tengah, bergema bukan hanya dengan suara Owa Jawa tetapi juga dengan tawa dan percakapan sekelompok peserta didik yang bersemangat. SwaraOwa, sebagai inisiatif konservasi lokal yang berkomitmen untuk melindungi primata dan habitatnya, menyelenggarakan Pelatihan Metode Survey Owa ke-12 tahun 2025, pelatihan berbasis lapangan selama lima hari empat malam yang dirancang untuk memperkuat keterampilan peserta dalam penelitian Owa dan metode survei populasi.

Program ini mempertemukan beragam mahasiswa, peneliti, dan praktisi konservasi. Sebanyak 21 peserta terdiri dari tim Mentawai, Taman Nasional Siberut, KSP Macaca UNJ, FSP “Lutung” Universitas Nasional, KPP Tarsius UIN Jakarta, Yayasan Konservasi Hutan Harimau, Green Community Universitas Negeri Semarang, Yayasan Palung, The Biodiversity Society, Sanggabuana Wildlife Ranger, KP3 Primata UGM, Yayasan KIARA, Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu, BOSF Nyaru Menteng, Balai KSDA Jawa Tengah. Para peserta disatukan oleh rasa ingin tahu dan dedikasi mereka untuk memahami siamang, salah satu primata paling ikonik namun rentan di Indonesia. Tujuan utamanya adalah untuk membangun kapasitas peserta dalam teknik pemantauan owa sambil menumbuhkan semangat kolaborasi dan pembelajaran bersama di antara mereka yang berupaya melestarikan keanekaragaman hayati.

Pada sore hari tanggal 3 November 2025, para peserta tiba di stasiun lapangan SwaraOwa, sebuah pusat kecil namun dinamis yang dikelilingi oleh hutan pohon kopi dan nyanyian burung-burung hutan. Stasiun lapangan yang baru saja dilengkapi fasilitas ini, terletak di tepi Hutan Sokokembang, Kecamatan Petungkriyono, bukan hanya pos penelitian tetapi juga ruang sosial tempat konservasi berbasis komunitas bertemu dengan kehidupan sehari-hari. Sebuah pusat konservasi, pendidikan, dan tempat peristirahatan kopi yang terletak di habitat Owa Jawa.

Hari pertama didedikasikan untuk perkenalan baik antar peserta maupun dengan tim SwaraOwa. Sesi-sesi ini melampaui sekadar pertukaran nama; semua orang berbagi latar belakang, motivasi, dan keterkaitan mereka dengan pelatihan ini serta konservasi. Pada sesi terakhir, SwaraOwa sebagai fasilitator mempresentasikan perjalanan organisasi mereka, dari penelitian awal tentang  Owa Jawa ( Hylobates moloch ) hingga proyek-proyek yang sedang berjalan yang menghubungkan sains, ekowisata, dan pemberdayaan masyarakat.

Suasananya hangat dan inklusif. Banyak peserta mengaku bahwa ini adalah pelatihan primata pertama mereka. “Ini baru permulaan, tapi sangat menarik,” kata seorang siswa, “Tunggu, besok pasti lebih menarik,” timpal yang lain.

peserta dalam pelatihan pengenalan lapangan untuk perangkat bioakustik untuk pemantauan Owa

Hari kedua menandai pembukaan resmi pelatihan. Upacara dimulai dengan pidato sambutan oleh Kepala Unit Pengelolaan Hutan Pekalongan Timur (Perhutani KPH Pekalongan Timur), yang menyoroti pentingnya upaya konservasi kolaboratif antara peneliti, masyarakat setempat, dan instansi pengelolaan hutan. Sambutannya menggarisbawahi pesan utama: kelangsungan hidup Owa dan hutan bergantung pada kemitraan yang dibangun atas dasar kepercayaan dan tujuan bersama. Dilanjutkan dengan beberapa saran dari Forum Kepemimpinan Kecamatan Petungkriyono.

Hari itu dilanjutkan dengan kuliah teknis oleh Arif Setiawan, yang memperkenalkan peserta pada metode Triangulasi -Penghitungan Vokal (VCT), teknik dasar yang digunakan untuk memperkirakan populasi Owa melalui panggilan teritorial mereka. Sesi ini menggabungkan teori dengan kejadian di lapangan, membantu peserta memvisualisasikan bagaimana titik data dari panggilan Owa dapat diubah menjadi perkiraan kepadatan populasi.

Celia Felicity menyampaikan presentasi tentang bagaimana
Kelompok Spesialis Spesies  Indonesia (IUCN IdSSG)
berkontribusi pada upaya konservasi spesies.

Selanjutnya, Kurnia Ahmadin mempresentasikan sesi tentang pengumpulan data lapangan, yang berfokus pada keterampilan observasi, navigasi, dan konsistensi. Termasuk elemen-elemen kunci untuk hasil survei yang andal. Kemudian di malam hari, Celia Nova Felicity yang mewakili Kelompok Spesialis Spesies Indonesia (IdSSG), memperkenalkan peserta pada manajemen data kolaboratif dan pentingnya standardisasi status terancam punah spesies di Indonesia. Pada akhir hari, peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk mempersiapkan latihan lapangan pertama mereka pada hari berikutnya.

Hari ketiga dan keempat membawa para peserta jauh ke dalam Hutan Sokokembang, rumah bagi salah satu dari sedikit populasi Owa Jawa yang tersisa di Jawa Tengah. Setiap pagi dimulai saat fajar, ketika tim-tim mendaki ke titik pengamatan yang telah ditentukan. Hutan perlahan terbangun di sekitar mereka dan duet Owa yang sangat indah mulai bergema dari kanopi.

Berbekal perangkat GPS, ponsel pintar, dan lembar data, para peserta memasang perekam suara pasif di pepohonan, kemudian melanjutkan dengan mempraktikkan metode Triangulasi Hitungan Vokal (VCT), mencatat waktu panggilan dan arah kompas untuk memperkirakan lokasi kelompok. Jam-jam awal ini dipenuhi dengan fokus dan kekaguman yang tenang hingga pukul 10 pagi, kombinasi sempurna antara ketelitian ilmiah dan koneksi spiritual dengan alam.

Aoliya-SwaraOwa memperkenalkan cara menganalisis populasiOwa
 berdasarkan metode triangulasi penghitungan vokal.

Setelah kembali ke ruang kelas, hari itu dilanjutkan dengan kuliah tentang pemantauan bioakustik yang dipimpin oleh Nur Aoliya. Sesi tersebut memperkenalkan peserta pada dasar-dasar analisis suara, termasuk cara menggunakan perangkat lunak seperti RavenPro untuk memvisualisasikan dan menafsirkan suara hewan. Bagi banyak peserta, ini adalah pertama kalinya mereka melihat nyanyian Owa diubah menjadi spektrogram berwarna-warni—sidik jari vokal visual dari suara-suara tersembunyi di hutan.

Pembelajaran tidak berhenti sampai di situ. Sesi sore diisi dengan diskusi dan analisis data, termasuk cara menggunakan Google Earth Pro untuk memetakan titik panggilan dan melakukan triangulasi lokasi Owa. Setiap kelompok bekerja dengan data mereka sendiri, menguji berbagai pendekatan analitis dan membandingkan hasilnya.

Dr. Long Tha Ha memperkenalkan
primata Vietnam dan upaya konservasinya.

Untuk menambah perspektif global, dua pembicara tamu dari Vietnam, Dr. Long Tha Ha, seorang ahli biologi dan konservasionis Vietnam yang memenangkan Penghargaan Konservasi Frankfurt 2025, yang kini memimpin program Frankfurt Zoological Society Vietnam, bergabung dalam pelatihan di malam hari, dan Bapak Tuan Van Bui, seorang primata yang menjalankan bisnis tur pengamatan primata di seluruh Vietnam. Dr. Long berbagi pengalamannya dalam penelitian primata di seluruh Asia Tenggara, menyoroti persamaan dan perbedaan antara spesies Owa, kondisi penelitian, dan latar belakang komunitas di Vietnam dan Indonesia. Sementara itu, Bapak Tuan Van Bui berbicara tentang potensi ekowisata yang berfokus pada primata sebagai alat konservasi, menginspirasi peserta untuk berpikir melampaui sains dan mempertimbangkan model mata pencaharian berkelanjutan yang terkait dengan konservasi melalui programnya yang dikenal sebagai HIVOOC, Vietnam Wildlife Adventure Tours.

Tuan Van Bui memperkenalkan HIVOOC,
proyeknya yang berfokus pada pengembangan
Tour Petualangan Satwa Liar Vietnam.

Setelah kembali dari observasi lapangan, hari keempat menggabungkan kerja analitis intensif dengan momen relaksasi. Para peserta menyempurnakan analisis data VCT dan bioakustik mereka, dibantu oleh mentor dan sesama peserta pelatihan. Beberapa kelompok membandingkan perhitungan manual mereka dengan peta digital, sementara yang lain berdebat tentang kemungkinan kesalahan atau pola menarik yang ditemukan dalam data lapangan.

Saat matahari terbenam di balik punggung bukit hutan, diskusi akademis berganti dengan tawa dan percakapan ringan. "Sesi bebas" malam itu berubah menjadi malam memanggang jagung secara spontan, di mana para peserta berkumpul di sekitar api unggun kecil, berbagi cerita, lagu-lagu lokal, dan refleksi dari waktu mereka di hutan.

“Ini bukan sekadar pelatihan; rasanya seperti keluarga kecil pelestarian lingkungan,” ujar salah satu peserta, dan memang, pada titik ini, kelompok tersebut telah membentuk ikatan yang kuat yang dibangun atas dasar tujuan bersama, tantangan di lapangan, dan kegembiraan belajar di alam terbuka.

Pengamatan Primata - Owa Jawa  di Hutan Sokokembang

Pagi terakhir dimulai dengan sesi pengamatan primata yang santai namun menginspirasi di sepanjang tepi hutan. Para peserta menggunakan teropong dan keterampilan fotografi mereka untuk menemukan Owa, monyet daun, langur, dan burung. Itu adalah kegiatan reflektif, momen untuk terhubung kembali dengan alasan mengapa mereka datang ke tempat ini sejak awal.

Kemudian, setiap kelompok mempresentasikan temuan mereka, menampilkan peta, hasil analisis, dan refleksi tentang apa yang telah mereka pelajari. Presentasi tersebut bukan hanya laporan teknis tetapi juga narasi tentang pertumbuhan, bagaimana teori bertemu praktik, dan bagaimana kerja tim mengubah ketidakpastian menjadi pemahaman.

Seekor Owa  terlihat selama pelatihan.

Para fasilitator memberikan umpan balik yang konstruktif dan memberikan apresiasi kepada tim berkinerja terbaik, yang data lapangan dan analisisnya menonjol karena akurasi dan kreativitasnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi penutup, yang dipenuhi dengan ucapan terima kasih dari para penyelenggara dan peserta.

Saat upacara pemberian sertifikat berakhir, para peserta mengemasi tas mereka, bertukar informasi kontak, dan mengambil foto grup terakhir di bawah kanopi hutan. Suasana dipenuhi rasa syukur, atas pengetahuan yang diperoleh, persahabatan yang terjalin, dan rasa tujuan yang diperbarui.

Kursus lapangan Sokokembang ke-12 tahun 2025 lebih dari sekadar lokakarya teknis; ini adalah ruang kelas hidup tempat sains, alam, dan komunitas berinteraksi. Kursus ini menyediakan ruang langka bagi para peneliti muda untuk belajar langsung dari para praktisi yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk konservasi primata. Dengan mengintegrasikan metode lapangan, analisis data, dan pertukaran lintas budaya, pelatihan ini mewujudkan pendekatan holistik SwaraOwa yang menggabungkan penelitian, pendidikan, dan konservasi berbasis komunitas.

Saat jip terakhir meninggalkan pusat Swaraowa, hutan perlahan kembali tenang. Namun, bagi para peserta, gema nyanyian Owa akan tetap terngiang sebagai pengingat abadi bahwa setiap suara di hutan membawa cerita yang layak dipelajari, dilindungi, dan dibagikan.


Sunday, November 30, 2025

Owa Jawa di Tengah Perubahan Lahan: Catatan Monitoring dari Pekalongan dan Batang

lokasi pengamatan Owa Jawa

oleh : Kurnia Ahmaddin

Pada bulan Juli kami mengunjungi desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan yang merupakan perwakilan area paling Barat pegunungan Dieng selama 4 hari. Kunjungan tersebut merupakan agenda kami untuk monitoring populasi Owa jawa (Hylobates moloch) dengan metode Triangulation vocal count. Lokasi lain yang kami untuk kunjungan serupa adalah dusun Sawanganronggo desa Tlogopakis, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan dan desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang. Kami menempatkan 3 Listening Post (LPs) pada masing-masing desa dengan jarak antar LPs adalah 300 m. Tim yang terlibat monitoring tidak berganti personil pada tiap LPsnya dengan menambahkan 1 warga lokal pada tiap desa. Bersamaan dengan pengambilan data suara, kami juga menempatkan 3 perekam pasif dengan jarak 150-200 m untuk tiap perekam. 

 Hasil dari monitoring di Kutorojo kami mengonfirmasi 7 kelompok Owa bersuara dari minimal 2 LPs yang mendengar Greatcall. Sedangkan di Sawanganronggo kami mengonfirmasi 15 titik suara dan di Tombo 9 titik. Dari seluruh area yang di survei jarak maksimal yang terdengar oleh tim adalah 1 Km. Di Kutorojo dan Sawangganronggo lokasi LPs kami merupakan punggungan bukit dengan kopi lokal yang sebagian besar sudah di hilangkan pohon hutannya. Arah datang suara Owa dari kedua lokasi tersebut cenderung datang dari hutan alam tanpa tanaman kopi. Akibatnya banyak suara yang terdengar tumpang tindih dari kedua lokasi tersebut. Namun demikian di Sawanganronggo kami masih menjumpai Owa jawa yang berpindah dengan menggunakan pohon kopi dengan tinggi 7-9 meter. Kami juga mendapat laporan dari warga bahwa Owa jawa di Sawangganronggo sempat terlihat sekali mencicipi buah kopi matang. 

Hasil konfirmasi pada ketiga titik tersebut belum dianalisis, kami hanya mendeskripsikan hasil data dari lapangan. Pada bulan Juni Tim Monitoring juga melakukan Triangulasi di desa Mendolo, namun dari 7 kelompok yang kami hitung tidak satupun melakukan Greatcall selama periode pengambilan data.

Selama periode monitoring kami tidak menentukan tujuan spesifik terutama untuk penelitian ilmiah. Dikemudian hari kami harap dapat menentukan tujuan riset sehingga kami dapat menggunakan metode yang terukur dan SOP dalam pengambilan data dapat ditentukan. Sehingga data yang telah diperoleh dapat di analisis menggunakan tools yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penggunaan aplikasi lain juga dapat di terapkan jika SOP sudah ditentukan mengingat ‘Kobotoolbox’ tidak dapat menggunakan fitur ‘tracking’ dan hanya memiliki 1 Gb untuk cadangan data. 

Perubahan lahan hutan agaknya perlu disikapi lebih serius mengingat tren kopi sambung untuk memperbanyak produksi. Hal ini cenderung membuat petani lokal memangkas pohon hutan untuk memberi cahaya matahari pada tanaman kopi mereka. Kedepan mungkin diperlukan klasterisasi lahan kopi sehingga deskripsi kesesuaian habitat dapat lebih dideskripsikan spesifik dan petani hutan dapat diapresiasi dari kelimpahan spesies di lahan garapan mereka. Selain ancaman perubahan habitat, perburuan primata tidak ditemukan selama periode monitoring namun, perburuan burung semakin masif bahkan di lapangan saat ini seluruh burung menjadi target tangkapan tidak terbatas pada  jenis burung kicau.  


Monday, November 10, 2025

Gibbon Camp: Menyusuri Hutan Tombo, Menyalakan Semangat Konservasi Owa Jawa

 Oleh : Kp3 Primata


gibbon camp 2025, KP3 Primata x SwaraOwa x Sutaregga

Setiap tanggal 24 Oktober, dunia memperingati Hari Owa Sedunia sebagai pengingat akan pentingnya keberadaan primata unik ini. Owa Jawa, dengan peran ekologisnya yang besar, menjadi simbol keseimbangan hutan tropis yang harus dijaga keberlanjutannya. Berangkat dari semangat itu, KP3 Primata UGM bersama SwaraOwa menyelenggarakan Gibbon Camp di Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada 31 Oktober–2 November 2025.

Kegiatan ini bukan sekadar camping biasa, melainkan sebuah perjalanan belajar yang menyatukan ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, dan nilai-nilai kebersamaan. Sepuluh anggota KP3 Primata Fakultas Kehutanan UGM mengikuti serangkaian aktivitas pengamatan primata di habitat alaminya. Mereka tidak hanya berkesempatan mengamati Owa Jawa dan primata lain, tetapi juga berdialog dengan masyarakat lokal serta komunitas pegiat konservasi Sutarengga. Diskusi hangat bersama Mas Wawan, founder SwaraOwa, membuka wawasan tentang sejarah organisasi, penelitian Owa Jawa, hingga tantangan pelestarian primata di Indonesia.

Perjalanan penuh cerita dimulai dengan pengamatan di hutan Tombo. Meski hujan deras sempat menghentikan kegiatan, peserta tetap bersemangat. Mereka bertemu dengan Lutung, berjalan kaki menembus jalan licin menuju lokasi camp, lalu menutup malam dengan api unggun yang hangat. Malam itu, rasa lelah berganti dengan rasa syukur dan kebersamaan.

Hari ketiga menjadi puncak pengalaman. Peserta dibagi ke dua kelompok menuju listening post berbeda. Di sana, mereka beruntung mendengar great call Owa Jawa dari dua arah, sebuah pengalaman langka yang membuat hati bergetar meski tidak melihat langsung sosoknya. Dari metode pengamatan ini, peserta belajar memperkirakan jarak dan arah suara, sekaligus membedakan antara panggilan besar dan panggilan biasa.

Selain ilmu, Gibbon Camp juga menghadirkan keindahan alam Tombo. Sungai jernih, hutan asri, dan panorama perkebunan teh menjadi latar yang menenangkan. Peserta merasakan kekayaan fauna, dari primata hingga burung elang jawa dan herpetofauna. Semua detail kecil—dari jalan berkelok di pegunungan hingga tawa bersama di tengah hujan—menjadi bagian dari pelajaran besar: bahwa konservasi bukan hanya soal data dan penelitian, tetapi juga soal rasa, kebersamaan, dan komitmen jangka panjang.

Testimoni peserta memperkuat makna kegiatan ini. Munika mengungkapkan betapa serunya belajar langsung mengenali suara Owa Jawa dan cara menghitung populasinya, ditambah pengalaman naik mobil bak terbuka melewati hamparan teh. Najla menambahkan rasa kagum atas ilmu dan keterampilan survival yang dibagikan tim SwaraOwa, menyebutnya sebagai pengalaman yang membuatnya ingin kembali lagi.

Gibbon Camp di Desa Tombo menjadi bukti bahwa langkah kecil bisa membawa mimpi besar. Dari obrolan sederhana dengan masyarakat, dari suara lirih great call di hutan, hingga api unggun yang menyatukan hati, semua menjadi fondasi penting bagi masa depan konservasi Owa Jawa. Semoga semangat ini terus tumbuh, menginspirasi generasi muda, dan menjadikan konservasi sebagai gerakan bersama demi menjaga memelihara keindahan bumi.