Tuesday, September 7, 2021
Saturday, August 28, 2021
Limbah Konfeksi untuk Konservasi
oleh : Elna Novitasari Br.Ginting dan Arif Setiawan
Salah satu yang menggerakkan ekonomi warga di Pekalongan
adalah konfeksi (industri pakaian), dan hal ini hampir merata di semua wilayah, dari kota hingga ke
pelosok desa-desa sekitar hutan pun juga ada rantai ekonomi usaha konfeksi ini.
Mulai dari memotong bahan baku kain, menjahit, memasang kancing,resleteing,
sablon, mewarnai, dan juga yang sudah turun temurun dilakukan adalah membatik.
Kami melihat rantai ekonomi konfeksi ini di Sokokembang, salah
satu dusun paling dekat dengan habitat Owa Jawa (Hylobates moloch) di Pekalongan, primata langka yang hampir punah dan sudah ada sejak
pertama kali kami singgah di dusun di Tengah hutan habitat Owa ini, tahun 2006.
Beberapa warga terlibat langsung dan mendapatkan penghasilan utama dari
kegiatan konveksi, menjahit bagian dari pakaian yang merupakan bagian kecil
dari sbuah rangkaian proses produksi pakaian jadi. Warga yang bekerja di sektor
ini bisa di bilang 45% dari total keluarga yang ada di Sokokembang, yang
bekerja di sektor lain seperti bertani, beternak, di kebun dan hutan. Tahun-tahun awal kami memulai
kegiatan di sokokembang hingga tahun 2014, warga yang bekerja menjahit,
melakukan pekerjaannya ini di tempat bos atau juragan yang mempunyai
mesin-mesin jahit dan bahan kain, tidak melakukan pekerjaan ini di rumah.
Setiap hari dari Senin-Kamis, Sabtu, Minggu, dan libur di hari Jumat.
Sudah tentu pekerja-pekerja konfeksi ini relasi dengan hutan sebagai habitat Owa Jawa tidak sedekat warga yang bekerja dirumah, bertani, kehutan, mengolah kopi dan lain sebagainya. Namun mereka mempunyai peran penting juga dalam memutar roda ekonomi pada umumnya kehidupan di sekitar hutan. Nama-nama pohon hutan, pengetahuan tentang binatang-binatang hutan, tentu berbeda dengan warga yang sering masuk hutan. Menceritakan dan menggambarkan Owa saja kadang masih salah dengan menyebut ekor ada di Owa, karena sanggat jarang sekali melihat Owa. Yang sudah benar mereka ceritakan adalah mengenai suaranya, karena suara-suara owa terdengar cukup jelas di pagi hari.
Tim Wildgibbon Indonesia- Swaraowa beberapa waktu lalu dalam suasana pandemi, mencoba mencari solusi untuk menyambungkan permasalahan owa ini ke bidang yang menjadi mayoritas pekerjaan dan yang ada di Pekalongan, konfeksi. Melihat kain-kain perca sisa potongan, ada dimana-mana, meskipun juga sudah ada yang memanfaatkan, namun tim mencoba membuat berbeda dengan tujuan untuk mengenalkan dusun Sokokembang .
Tas kain 'tote bag' menjadi pilihan, memanfaatkan limbah kain potongan,
bagi warga yang pekerjaannya memang menjahit, mulai membuat pola, menyambung kain-kain dan membentuk sebuah tas yang siap dan
layak pakai adalah hal mudah yang dapat di kerjakan di sela-sela menjahit menyelesaikan
pekerjaan harian. Namun, hal ini juga coba diperkenalkan kepada generasi muda
yang aktif di Sokokembang. Pelatihan singkat diberikan oleh warga yang sudah
mahir dalam menjahit, dan tim Wildgibbon memberikan sentuhan tambahan untuk kain
perca yang di manfaatkan ulan untuk tas. Hasil akhir dari kain perca tersebut jadi sebuah "tote bag", dengan logo utama Owa Coffee dan Sokokembang.
Dari program ini, salah satu hal lagi yang menjadi contoh dan sekaligus tantangan adalah memunculkan kegiatan konservasi sekaligus memupuk jiwa entrepreneur atau wirausaha. Keberadaan tim konservasi sudah seharusnya dapat menambah nilai dari apapun yang terkait langsung atau tidak langsung dengan misi konservasi yang di angkatnya. Menjual produk dengan strategi pemasaran, tidak akan jadi apabila hanya dalam tataran rencana dan wacana, namun hal ini sudah menjadi bagian dari kegiatan wirausaha itu sendiri, yang juga dapat mendatangkan keuntungan ekonomi, dan harapnnya memang mendorong kegiatan konservasi selanjutnya.
Friday, August 20, 2021
Wednesday, August 18, 2021
Wednesday, July 7, 2021
Wednesday, June 30, 2021
Inisiasi pelestarian Hutan Tololago, Siberut
oleh : Damianus Tateburuk, Arif Setiawan
Hutan di sekitar
dusun Tololago Siberut Daya, Kabupaten Kepulauan Mentawai, menjadi bagian penting dari upaya pelestarian budaya dan alam pada umumya di Kep.Mentawai. Kegiatan yang di motori oleh tim Malinggai Uma, Mentawai Di Siberut
Selatan, telah menambah motivasi semangat untuk membangun inisiasi pelestarian alam dan
budaya dari tingkat bawah. Meskipun terkendala jarak dan situasi pandemic,
hasil diskusi secara daring dapat merumuskan kegiatan-kegiatan yang sepenuhnya
dilaksankan oleh Tim Malinggai Uma.

![]() |
| Penandatanganan kesepakatan bersama untuk melestarikan hutan Tololago dengan suku pemilik lahan disaksikan pemerintah Desa Tololago. |
![]() |
| Otus mentawi |
![]() |
| Pernis ptilorhynchus |
![]() |
| Simias concolor |
![]() |
| Presbytis potenziani siberu |
Survey juga dilakukan di beberapa jalur hutan Tololago dan menjumpai langsung primata endemik Mentawai , Simakobu ( Simias concolor) dimana IUCN telah mengkategorikan dalam status kritis ( Critically endangered), Bilou ( Hylobates klossii), Joja ( Presbytis potenziani siberu) burung pemangsa Sikemadu asia ( Pernis ptilorhynchus), burung hantu mentawai ( Otus mentawi). Jenis-jenis tersebut merupakan diantara sekian jenis-jenis asli Mentawai yang mempunyai potensi untuk mengundang orang ingin melihat lansung dan meluangkan biaya untuk rangkaian kegiatan pengamatan di hutan. Apabilah hal ini juga dapat dikelola dengan baik juga berpotensi untuk mendukung ekonomi untuk warga sekitar hutan dan mendukung kegiatan pelestarian jenis-jenis terancam punah dengan kegiatan wisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Oleh karena itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah daerah untuk mendorong upaya pelestarian hutan dan satwaliar termasuk memperkuat nilai budaya asli, dari sisi kebijakan daerah, yang juga menjaga keanekargaman tinggi diluar kawasan konservasi yang sudah ada.
Kegiatan di Tololago ini juga merupakan pembinaan generasi muda yang berada di wilayah kerja Mallinggai Uma, dengan melibatkan anak-anak muda untuk terlibat langsung dalam kegiatan pengenalan pengamatan satwaliar, dengan harapan dapat memotivasi kegiatan kegiatan pelestarian alam dan budaya selanjutnya.











