Tuesday, March 25, 2025

Mengenalkan salah satu burung paling terancam punah di dunia untuk siswa di Mendolo

 Oleh : Imam Taufiqurrahman

Siswa SD Negeri Mendolo unit Lokal Sawahan memamerkan hasil mewarnai raja-udang kalung-biru
 didampingi Kepala Sekolah dan anggota PPM Mendolo, 19 Maret 2025.


Selama dua hari, pada 19-20 Maret 2025, Yayasan SwaraOwa bersama Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo melakukan kunjungan (school visit) ke Sekolah Dasar Negeri Mendolo. Kegiatan yang menjadi bagian dari program konservasi raja-udang kalung-biru (Alcedo euryzona) ini berupaya untuk mengenalkan burung berstatus Kritis , salah satu burung yang paling terancam punah di dunia, tersebut untuk  para siswa setempat.

Di hari pertama, kegiatan berlangsung di SD Negeri Mendolo Lokal Sawahan, Dusun Sawahan. Terdapat 18 murid di unit tempat siswa Kelas 2, 4, dan 6 itu bersekolah. Hari berikutnya giliran SD Negeri Mendolo Induk, berlokasi di Dusun Mendolo Wetan, yang dikunjungi. Terdapat total 58 siswa jenjang Kelas 1, 3, dan 5 yang bersekolah di sana. Namun, kunjungan di hari kedua tersebut hanya diikuti oleh siswa Kelas 3 dan 5 yang berjumlah 26 murid. Sehingga, total terdapat 44 siswa yang mengikuti kegiatan pengenalan raja-udang kalung-biru ini.

Kegiatan berlangsung pada dua hari terakhir aktivitas belajar mengajar sebelum memasuki libur lebaran. Para siswa menyambut hangat dan tampak antusias mengikti rangkaian kegiatan. Ajang ini sekaligus menjadi sarana berbagi cerita serta pengalaman para anggota PPM Mendolo kepada siswa-siswa yang notabene merupakan anak, adik, maupun kerabat dekat mereka sendiri.

Pemaparan pengenalan raja-udang kalung biru oleh Alex Rifa’i
pada siswa Kelas 3 dan 5 SD Negeri Mendolo, 20 Maret 2025.

Alex Rifa’i, Koordinator Konservasi PPM Mendolo, memberi paparan tentang seluk-beluk raja-udang kalung-biru. Ia menjelaskan bahwa endemik Jawa nan langka tersebut hanya dapat ditemukan di beberapa lokasi saja, dan Kali Wisnu yang melintasi desa mereka menjadi salah satunya. Suatu keistimewaan yang patut dibanggakan, menandakan sungai, hutan, dan lingkungan di sekitar desa masih terjaga baik.

Paparan dilanjutkan oleh Cashudi, Ketua PPM Mendolo. Ia menjelaskan butir-butir hasil kesepakatan warga Dusun Sawahan dalam melindungi ikan, burung, dan primata yang ada di desa, termasuk juga sungai, hutan, dan pepohonan.

Usai pemaparan, para siswa diajak untuk menyalurkan kreativitas mereka dalam kegiatan mewarnai raja-udang kalung-biru. Mereka dibebaskan untuk membubuhi warna yang mereka suka pada lembar gambar yang tersedia. Cerminan kreasi terlihat pada hasil gambar yang sangat beragam.

 

Siswa Kelas 3 dan 5 memamerkan hasil mewarnai raja-udang kalung-biru, 20 Maret 2025.

Kepala Sekolah SD Negeri Mendolo, Bapak Untung Prasetyo
 saat menerima kenang-kenangan, 19 Maret 2025.


Kepala Sekolah SD Negeri Mendolo, Bapak Untung Prasetyo, mengapresiasi kreasi anak-anak didiknya dengan meminta mereka menempelkan karya di ruang kelas masing-masing. Kegiatan yang mendapat dukungan dari ASAP dan OBC ini lantas ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan berupa foto jantan dan betina raja-udang kalung-biru oleh Ketua PPM Mendolo pada kepala sekolah.

 

 

  

Monday, March 17, 2025

Perlindungan ikan, burung, dan primata di Dusun Sawahan: tonggak baru upaya pelestarian satwa liar Desa Mendolo

 Oleh : Imam Taufiqurrahman


Musyawarah warga Dukuh Sawahan yang dihadiri segenap warga, 15 Maret 2025

Sebuah tonggak baru dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati Desa Mendolo, Lebakbarang, dihasilkan lewat musyawarah warga Dukuh Sawahan, Sabtu, 15 Maret 2025. Berlangsung di kediaman Pak Kaliri, kepala desa Mendolo, musyawarah berhasil menyepakati aturan mengenai perlindungan ikan, burung, dan primata wilayah mereka.

Musyawarah dihadiri oleh total 31 orang, 22 di antaranya warga setempat. Terdapat kepala dusun, RT, RW, dan tokoh masyarakat, termasuk perwakilan dari pedukuhan lain. Dalam sambutannya, kepala desa menyambut baik dan mendukung upaya perlindungan yang lahir dari warga Dusun Sawahan tersebut. Hasil kesepakatan diharapkan dapat menjadi contoh dan diikuti oleh dusun-dusun lain, sehingga cita-cita perlindungan yang lebih luas di lingkup desa dapat terwujud.

Berpijak pada perlindungan ikan

Gagasan perlindungan satwa liar ini lahir dari para pemuda Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo. Yayasan Swaraowa mendukung inisiatif tersebut, yang menjadi bentuk dari keresahan atas mulai menghilangnya satwa-satwa di lingkungan mereka, adanya perburuan dari orang-orang luar yang dengan leluasa membawa senapan mencari satwa.

Sebenarnya bagi masyarakat pedukuhan Sawahan, upaya perlindungan satwa liar bukan hal baru. Mereka telah lama memiliki aturan bersama, berupa larangan mengambil ikan di Kedung Kali Bengang, Kali Wisnu. Lokasi tersebut berada persis di bawah jembatan masuk ke Dusun Sawahan.

papan larangan menangkap ikan di Kali Wisnu

Larangan yang dibuat oleh pemuda dusun tersebut mampu berjalan dengan efektif. Tidak ada forum kesepakatan tertulis yang disusun. Baru setidaknya semenjak 2017, mereka secara swadaya memasang papan larangan berbunyi ‘dilarang menangkap ikan dengan cara apa pun di Kali Wisnu’. Berkat itu, tidak ada pengambilan ikan di sungai yang menjadi habitat raja-udang kalung-biru tersebut. Padahal, memancing menjadi hobi atau kesenangan hampir semua orang.

Bagaimana praktik baik ini bisa berjalan dengan efektif?

Semua bermula dari keresahan yang timbul akibat hilangnya ikan-ikan di Kali Wisnu. Hilangnya ikan bahkan mungkin sudah terasa semenjak era 1980-an. Tidak ada lagi ikan, hanya cerita dari orang-orang tua, macam keberadaan ikan tombro sebesar meja. Pengambilan berlebihan, dengan segala cara, membuat ikan-ikan tersebut menghilang.

Inisiatif lahir untuk mulai membibit ikan-ikan lokal pada 2012. Adalah dua pemuda Sawahan, Rohim dan Siswoyo, yang mengawali menabur ikan di sungai. Bibit ikan mereka ambil dari kali di sekitar, seperti Kali Sengkarang.

Hasilnya menggembirakan. Ikan-ikan mulai terlihat lagi dan berkembang biak.

Ikan tombro di sungai Wisnu Sawahan

Awalnya hanya ragalan atau tombro yang dilepas. Setelah banyak orang mengetahui, praktik ini mendapat sambutan dari pihak luar. Dinas Pertanian setempat, misalnya, yang memberi sekitar 20 ribu bibit mélem pada sekitar 2021. Terdapat pula jenis lain yang pernah dilepas, macam ikan mas dan lele.

Alih-alih berhasil, praktik pengambilan ikan kembali terjadi. Bahkan mulai meresahkan karena ikan kembali menghilang, memicu para pemuda yang berpikir bahwa ancaman kehilangan ikan di sungai mereka dapat terulang kembali.

Pada 2017, muncul kesadaran dan inisiatif dari para pemuda untuk membuat larangan. Meskipun larangan tersebut tidak tertulis, namun setidaknya ada dua butir larangan yang berlaku ke siapa pun. Saat itu, semua orang, baik warga pedukuhan Sawahan maupun orang luar Sawahan, tidak diperbolehkan untuk memancing atau mengambil ikan dengan cara apa pun di Kedung Kali Bengang dan menyetrum (nyentér) atau meracun semua jenis ikan di sungai.

Kesepakatan yang hanya dihasilkan dari obrolan-obrolan keresahan tersebut menyebar dari mulut ke mulut. Getuk tular di antara warga, di antara para pemancing yang biasa datang ke Kali Wisnu. Ditambah sebuah plang hasil swadaya berdiri di jembatan, upaya-upaya tersebut berhasil membuat siapa pun tidak lagi memancing ikan di Kedung Kali Bengang, yang menjadi pusat pembibitan ikan di Kali Wisnu.

Kesepakatan larangan itu sebenarnya tidak disertai dengan sanksi. Namun, satu kejadian di sekitar 2021, para pemuda mendatangi orang yang dicurigai akan menyetrum ikan di sungai. Meskipun tidak terbukti, orang tersebut diberi arahan untuk tidak memancing di sungai.

Kesadaran bersama ini mendapat dukungan dari semua lapisan warga. Dari keresahan dan aksi para pemuda, para orang tua mengikuti, mengamini inisiatif perlindungan tersebut. Hingga saat ini, setidaknya terdapat tujuh jenis ikan yang ada di Kali Wisnu. Terdapat gabus atau kutuk, wader atau unjar, sili, kékél, ragalan, uceng, dan mélem. Hanya sejenis udang lobster air tawar, dikenal warga sebagai urang sempu, yang benar-benar menghilang dari Kali Wisnu.

Kesepakatan baru

Sejarah panjang itulah yang kemudian menjadi pijakan dalam musyawarah. Terkait ikan, bila sebelumnya bentuk perlindungan hanya berupa pelarangan, dalam musyawarah terdapat penambahan beberapa poin kesepakatan. Dari delapan poin yang dilahirkan, terdapat kesepakatan berupa tidak diperbolehkannya melepaskan jenis-jenis ikan asing serta komitmen untuk menjaga hutan di sepanjang hingga hulu sungai.

Berita Acara kesepakatan musyawarah tentang
 perlindungan ikan,
 burung, dan primata

Dalam musyawarah, aturan perlindungan satwa liar menghasilkan kesepakatan baru berupa perlindungan burung dan primata. Setiap jenis burung maupun primata, misalnya, dilarang untuk diambil. Praktik yang memang sudah dijalankan oleh warga, namun belum tertuang dan terdokumentasikan dalam kesepakatan bersama.

Aturan itu berlaku bagi semua orang, siapa pun, baik warga Sawahan maupun bukan. Adapun emprit dan monyet ekor-panjang yang dianggap sebagai gangguan, hasil musyawarah dengan bijak hanya memberlakukan pengusiran.

Guna mencegah hilangnya berbagai jenis pohon pakan primata, musyawarah menyepakati adanya larangan untuk menebang atau merusak pohon-pohon pakan alami primata. Adapun guna mencegah perubahan perilaku primata, dihasilkan kesepakatan untuk melarang adanya pemberian pakan secara langsung.

Hasil kesepakatan musyawarah ini sejalan dengan program konservasi raja-udang kalung-biru yang tengah dijalankan SwaraOwa. Keberadaan burung berstatus Kritis itu amat bergantung pada sungai berhutan sebagaimana Kali Wisnu. Kesepakatan yang dihasilkan lewat program yang didanai oleh ASAP dan OBC ini tidak hanya menjamin perlindungannya, namun juga sungai sebagai habitatnya. Termasuk pula ikan-ikan yang berpotensi sebagai sumber pakan burung yang populasi globalnya hanya kurang dari 250 ekor itu.

Friday, February 28, 2025

Seni untuk semua: memasyarakatkan seni untuk konservasi

 Sidiq Harjanto & Kurnia Ahmadin

Pentas Seni untuk Konservasi Ds. Mendolo. Foto IDS

Para pembaca tentu sudah sangat akrab dengan istilah “seni”. Secara sederhana, kita bisa mendefinisikan seni sebagai segala buah karya manusia dalam bentuk visual, audio, ataupun pertunjukkan yang mengungkapkan gagasan dan imajinasi. Seni digunakan sebagai hiburan, ekspresi diri, media penyampaian informasi, pendidikan-pembelajaran, hingga alat untuk mempengaruhi khalayak. Seni mempunyai kemampuan unik untuk membangkitkan minat, merangsang imajinasi, dan menggerakkan atensi individu kepada isu tertentu.

Swaraowa melihat potensi seni dalam mewarnai ruang diskursus mengenai konservasi alam yang terus berkembang dewasa ini. Untuk itu, pada bulan Januari kemarin kami membantu memfasilitasi masyarakat di dukuh Sawahan Desa Mendolo untuk mengarusutamakan seni dalam isu konservasi. Berkolaborasi dengan Indonesia Dragonfly Society-IDS, Green Community, dan masyarakat lokal; sebuah pertunjukan seni dipersiapkan untuk mengisi puncak acara Jambore Capung Indonesia, 24-26 Januari 2025 di Mendolo.

Kami dibantu Sujono dan Yuwono, dua seniman dan praktisi seni dari Sanggar Saujana, Desa Keron, Kecamatan Sawangan, Kab Magelang. Sujono, atau akrab dipanggil Pak Jono Keron, dikenal sebagai seniman multitalenta. Beliau  adalah kreator wayang serangga. Juga menghasilkan karya lukis, topeng, patung, hingga kreasi tari. Sedangkan Yuwono, kami memanggilnya Pak No, telah akrab dengan seni tari sejak belia.

Dalam kesempatan kali ini, secara khusus Pak Jono Keron dan Pak No mengenalkan dan melatih dua tarian untuk para pemuda dan anak-anak, juga merancang dan mempersiapkan panggung pertunjukan. Waktu yang hanya tersedia sekira satu minggu dioptimalkan untuk melatih tari “Jingkrak Sundang” kepada para pemuda. Tarian ini merupakan kreasi Pak Jono sendiri pada awal 2000-an, diilhami oleh kegelisahannya akan nasib binatang-binatang yang habitatnya kian rusak. Sedangkan untuk anak-anak usia sekolah dasar, dikenalkan tari “Geculan Bocah”.

 

Tata panggung  menggunakan bahan ramah lingkungan. foto IDS

Tata panggung ramah lingkungan

Panggung menjadi elemen penting dalam sebuah pertunjukan seni. Sebagai tempat pementasan, panggung perlu dibuat semenarik mungkin agar membangkitkan minat para penontonnya. Panitia kesenian tak jarang harus menginvestasikan banyak uang untuk mengadakan panggung yang megah dengan ornamen atau dekorasi yang indah dan mahal.

Namun, kepiawaian Pak Jon dan Pak No mampu menyuguhkan sebuah panggung ciamik tanpa harus mahal. Bahkan, tak hanya murah, ini adalah sebuah panggung yang ramah lingkungan. Rahasianya terletak pada ornamen-ornamen panggung yang sebagian besar menggunakan limbah dan sampah.

Tebon atau batang tanaman jagung, biji dan kulit durian, serta daun kering paku-pakuan disulap menjadi dekorasi panggung yang sangat cantik. Banyak limbah pertanian ataupun bahan-bahan lokal seperti dedaunan yang bisa dimanfaatkan untuk dekorasi panggung, murah dan ramah lingkungan, menurut dua seniman yang telah lama aktif dalam Komunitas Lima Gunung, sebuah komunitas seniman yang memotori even budaya rutin “Festival Lima Gunung” di lingkup kawasan Merapi-Merbabu-Andong-Sumbing-Menoreh.

 

Gunungan Duren membuka acara pentas seni ds. Sawahan

Semua berkesenian, kesenian untuk semua

Pentas seni digelar pada 25 Januari 2025 bertepatan dengan malam keakraban Jambore Capung 2025. Seni instalasi, seni tari, seni musik, dan seni lukis melalui body painting berpadu menyemarakkan malam itu. Atas inisiatif dari warga Sawahan, acara dibuka dengan “Slametan Duren” berupa arak-arakan dua gunungan durian dan doa bersama. Slametan duren menjadi media bagi kaum tani untuk memanjatkan rasa syukur atas limpahan hasil bumi, sekaligus doa untuk keselamatan kampung.

Tari Geculan Bocah, anak-anak desa Sawahan. Foto IDS

Empat penampil seni susul-menyusul menyuguhkan pertunjukan yang menarik. Penampil pertama dari kelompok seni hadroh ibu-ibu Sawahan. Tari Geculan Bocah menampilkan delapan orang anak dukuh Sawahan dengan make-up eksentrik. Tari ini menceritakan tentang kegembiraan anak-anak perdesaan bermain dengan dunianya. Kelompok kerawitan yang dipimpin langsung oleh Kades Mendolo mengisi jeda antar-penampil.

Pada puncaknya, ditampilkan tari Jingkrak Sundang. Kurnia Ahmadin membuka dengan penampilan tarian owa jawa. Panggung langsung bergemuruh oleh riuh sambutan penonton. Adin sukses mempersonakan sesosok owa jawa dengan mempertontonkan perilakunya yang khas seperti memanjat, bergantungan, hingga menyambar lalu memakan buah-buahan yang tersaji di meja.

Disusul delapan orang penari bertopeng yang menampilkan gerakan rampak. Tarian ini menceritakan binatang-binatang berkaki empat yang habitatnya dirusak oleh perilaku manusia. Gerakan-gerakannya menggambarkan kemarahan hingga kesedihan atau keputusasaan para binatang itu.

Tari Jingkrak Sundang ini diharapkan membangkitkan rasa empati para audience terhadap binatang-binatang yang kehilangan habitat. Ke depan, Pak Jono berharap agar Jingkrak Sundang bisa diadaptasi di Mendolo dengan satwa-satwa lokal yang ada di sana. Desa Mendolo sendiri memiliki banyak satwa liar seperti lima jenis primata jawa, macan tutul, kijang, landak, dll.

 

salah satu karakter dalam tari Jingkrak Sundhang. Foto IDS

Seni yang membuat nyawiji

Nilai keberhasilan suatu pertunjukan bukan saja terletak pada unsur artistiknya yang mampu menghibur, tapi juga pemaknaan bagi pelakunya. Dalam membawakan tari Jingkrak misalnya, para pemuda perlu menjiwai setiap gerakan. Berusaha membayangkan bagaimana hewan-hewan yang putus asa karena habitatnya yang rusak, lalu mengekspresikan dalam bentuk gerakan. Hal ini pada gilirannya bisa menjadi sarana untuk melatih rasa empati dan welas asih bagi semua makhluk.

Tak kalah penting ialah tersampaikannya pesan yang hendak dicapai. Tentu saja tidak mudah mengukurnya. Namun, melihat dari antusiasme dan partisipasi masyarakat maupun audience, barangkali bisa disimpulkan bahwa seni mampu menggerakkan banyak orang saling bekerja sama untuk satu tujuan bersama.

Tak kurang dari lima puluh orang warga terlibat dalam penciptaan karya seni kali ini, mulai dari penari dewasa, penari anak-anak, kelompok seni hadroh, kelompok seni kerawitan, hingga para warga yang membantu pada setiap proses produksi, seperti penyediaan bahan dekorasi hingga penataan panggung pertunjukan. Kolektivitas ini tak kalah indahnya dengan karya seni yang ditampilkan itu sendiri.

Kami ucapkan terima kasih kepada para fasilitator (Sujono dan Yuwono dari Keron), Indonesia Dragonfly Society, Green Community, Pemdes Mendolo, Kelompok Kerawitan, Kelompok Hadroh, PPM Mendolo, Kelompok Brayan Urip, segenap peserta Jambore Capung 2025, seluruh warga Desa Mendolo, penata panggung, penata lampu, penata suara, dan semua pihak yang telah membantu acara ini.

Wednesday, February 26, 2025

Seni Pertunjukan untuk Konservasi Owa

 Oleh Arif Setiawan

pertunjukan tari  Jingkrak Sundhang dan Owajawa

Dalam budaya jawa banyak sekali praktik-praktik tradisi yang erat yang sangat selaras dengan kelestarian alam. Dari makanan, pakaian, hingga arsitektur bangunan memberikan contoh nyata praktek ramah lingkungan dan pesan positif pelestarian alam. Besek bambu dan bungkus makanan dari daun Jati atau daun pisang sudah sejak jaman dahulu digunakan untuk acara-acara besar seperti pesta pernikahan. Motif-motif batik dari jawa tengah banyak sekali bercorak alam, seperti burung, dan untaian liana dan kuncup bunga. Rumah jawa tidak hanya sebagai ruang berterduh namun dibangun berdasarkan filosofi alam, arah angin, arah datang sinar matahari, air dan lain sebagainya.

Keragaman seni budaya terutama pertunjukan jawa sangat melimpah, di berbagai daerah mempunyai ke khasan masing-masing, berbeda satu sama lainnya, merupakan asset bangsa yang tak ternilai. Seni pertunjukan seperti tari Tari Jawa adalah bentuk tari tradisional dari Jawa, Indonesia, yang dikenal karena keanggunan, kerapian, dan kedalaman spiritualnya. Pertunjukan tersebut seringkali menceritakan kisah-kisah, mitos, dan legenda dari budaya Jawa, menampilkan warisan budaya dan tradisi pulau tersebut. Iringan gamelan membuat dinamika pertunjukan menambah suasana sekaligus emosional, baik penari ataupun penontonya. Pesan-pesan di balik Gerakan, tarian, ataupun ucapan dari dalang membawa pesan-pesan untuk kehidupan, kritik ekologi, sosial.

pentas wayang serangga oleh dalang Sih Agung Prasetya 

Pementasan wayang Owa jawa 
Swaraowa telah menginisiasi seni dan budaya dalam menyampaikan pesan-pesan pelesarian alam, dimulai dengan pentas wayang owa di tahun 2020. Sebagai pegiat konservasi atau bahkan peneliti hidupan liar, sintesis hasil pengamatan alam atau penelitian kita kadang sangat susah di mengerti oleh Masyarakat luas, bahasa akademis yang tekstual menjadi kendala belum lagi untuk mengakses hasil-hasil penelitian kadang tidaklah mudah. Disisi lain seniman atau pegiat seni pertunjukan khususnya mempunyai keahlian dibidang ini, yaitu menyampaikan pesan-pesan kehidupan dalam bentuk gerak tari, ataupun olah vocal  dalang dan permainan.Cerita-cerita legenda pewayangan menjadi panduan alur cerita.

Mengkomunikasikan hasil penelitian dan pengamatan alam, sudah seharusnya kita sampaikan dengan para seniman. Saya bertemu dengan Ki Sujono keron dan Ki dalang Sih Agung Prasetya di Muntilan Magelang waktu itu menjadi awal mula kolaborasi seni dan konservasi yang swaraOwa lakukan saat ini. Menceritakan owa seperti apa perilakunya dan kondisi keterancamannya, bagaimana dia hidup saya sampaikan ke pak Jono sebagai creator seni pertujukan  wayang.  Saya Mengajak beliau sebelum melalukan pentas untuk pengamatan langsung melihat Owa itu seperti apa di hutan. Melihat langsung dan merasakan suasana di hutan tempat hidup owa di Sokokembang, Petungkriyono.

Wayang Owa pertama kali di pentaskan tahun 2020 di Desa Tlogopakis Petungkriyono, bersamaan dengan jamboree Capung ( silahkan saksikan disini), dan untuk kedua kalinya pentas wayang owa di pentaskan di acara hari owa sedunia yang di inisiasi oleh Gibbonesia, tanggal 10 November 2024.


Salah satu karakter Jingkrak Sundhang. Foto doc Indonesia Drangonfly Society

Bulan januari 2025, kembali swaraowa berkolaborasi dengan sanggar seni Saujana yang di pimpin oleh Ki Sujono dari desa Keron Muntilan magelang. Membentuk kreasi seni tari pertunjukan dengan iringan gamelan. “Jingkrak Sundhang “  akhirnya muncul sebagai bentuk ekspresi para satwa di hutan dalam kondisi yang habitatnya yang rusak, satwa-satwa ini bermunculan dalam berbagai bentuk, menimbulkan kegembiraan, kegelisahan dan bahkan kepedihan. Pentas seni ini juga menampilkan sosok Owa jawa sebagai penghuni hutan yang sangat unik, berayun dari pohon kepohon, berjalan dengan dua kaki yang kurang sempurna. Iringan rancak musik gamelan dan kentongan melibatkan penonton dalam sinergi emosi , gerak  dan suara dinamis. Tata rias penari juga memberi pesan moral dan emosional. 

Pentas tari bersamaan dengan perayaan panen durian 2025. Foto doc. Indonesia dragonfly Society

Bertempat di dusun Sawahan, desa Mendolo kecamatan Lebakbarang, bertepatan dengan panen musim durian 2025, pentas seni untuk konservasi ini berlangsung  pada tanggal dalam rangka jambore Capung, bekerjasama dengan Indonesia dragonfly society. Pentas seni selain manfaat hiburan yang diperoleh, dengan proses persiapannya melatih yang terlibat langsung yaitu warga khususnya di mendolo untuk befikir kreatif dan inovatif, hiasan panggung dan gunungan duren yang dibentuk memanfaatkan material-material alam yang ada disekitar, bertujuan untuk mengurangi sampah. Kehadiran pak Sujono dan tim yang ikut mendampingi proses persiapan kurang lebih dua minggu,  hal ini juga memupuk kebersamaan sesama warga dan berbagi pengalaman. Manfaat lain untuk peformer atau penari dan pengiring irama terutama anak-anak muda, pertunjukan ini dapat meningkatkan pengembangan kognitif, meningkatkan ketrampilan, ingatan, kerjasama dan pemecahan masalah.

 


Menggabungkan seni pertunjukan dengan upaya konservasi dapat menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan pesan lingkungan dan memotivasi aksi positif. Koreografi tarian atau komposisi musik yang terinspirasi oleh alam dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian ekosistem. Mengadakan pertunjukan seni di lokasi-lokasi konservasi seperti di Sawahan, Mendolo ini dapat menarik perhatian dan mengajak lebih banyak orang untuk peduli dan berkontribusi pada upaya pelestarian. Melalui pendekatan-pendekatan ini, seni pertunjukan dapat menjadi alat yang kuat untuk mengkomunikasikan pesan-pesan konservasi dan mendorong tindakan nyata dalam masyarakat sekaligus melestarikan budaya.





Thursday, December 19, 2024

Terbaru ! Survey Owa jawa dan Avifauna di Desa Pacet , Kabupaten Batang.

 Oleh : Alek Rifa’i dan Iman Sofiana

Pemasangan alat rekam pasif untuk Owa Jawa

Kami tiba di Desa Pacet, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang sore hari pada tanggal 17 November 2024. Desa yang menurut kami cocok untuk healing karena sepanjang mata memandang penuh dengan kebun teh milik warga desa. Berbeda dengan desa kami (Mendolo, Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan) yang pemandangannya penuh dengan pohon durian. Suasana di desa Pacet sangat dingin dan hampir sepanjang hari diselimuti oleh kabut.

Malam hari kami berjalan disekitar desa untuk mencari mamalia ataupun burung yang ada disekitar desa. Namun cuaca kabut menyulitkan kami untuk melakukan survei pada malam hari sehingga kami memutuskan untuk kembali untuk menyiapkan tenaga guna pemasangan alat rekam pasif di esok harinya. Hari pertama survei kami berjalan menuju jalur gunung Kemulan yang ada di Selatan desa. Pada pukul 09.30 kami disambut dengan suara Great call Owa jawa yang terdengar cukup jauh di sebelah barat bukit yang kami telusuri. Hari pertama survei ini, kami juga melakukan pemasangan 2 alat perekam suara pasif setelah mengikuti pelatihan di Sokokembang bulan lalu untuk setting dan cara pemasangan alat perekam suara. Kami hanya mendengar suara Owa Jawa pada hari pertama survei ini untuk pendataan jenis primata. Selain primata kami juga mecatat 17 jenis burung meski pada awalnya agak kesulitan karena jenis ketinggian berbeda dengan jenis burung di tempat kami. Beberapa jenis yang menurut kami baru adalah Sikatan bodoh (Ficedula hyperythra) dan Takur Bututut (Psilopogon corvinus) karena kedua jenis ini merupakan burung khas ketinggian di pulau Jawa. Malam harinya kami kembali melakukan penulusuran tepat sebelum hujan kami bertemu dengan burung Paruh-kodok Jawa (Batrachostomus javensis).

Ciung Mungkal Jawa -Jantan

Dua hari berikutnya kami juga melakukan penelusuran pada Kawasan desa Pacet dan mencatat perjumpaan dengan Lutung jawa (Trachypithecus auratus) serta Rekrekan (Presbytis fredericae). Namun kami belum berhasil mendapatkan foto kedua jenis primata tersebut. Hal ini karena hampir sepanjang hari kami survei, cuaca gerimis dan kabut menemani perjalanan kami sehingga cukup menghambat perjalanan kami. Beruntungnya kami mendapatkan foto burung Ciung-mungkal Jawa (Cochoa azurea) yang merupakan jenis endemik Jawa. Beberapa burung endemik Jawa lain yang kami jumpai adalah Tesia jawa (Tesia superciliaris), Wergan jawa (Alcippe pyrrhoptera), Cikrak jawa (Phylloscopus grammiceps), Tepus dada-putih (Stachyris grammiceps) dan Takur tohtor (Psilopogon armillaris). 

salah satu sudut Desa Pacet

Berdasarkan informasi dari warga,  Owa jawa hanya dijumpai di sisibarat gunung Kemulan. Perburuan terutama jenis burung masih menjadi ancaman untuk kelestarian satwa liar di hutan tersebut. Namun yang mengesankan bagi kami adalah warga desa Pacet benar-benar menjaga hutan tidak berusaha untuk mengubahnya menjadi lahan pertanian. Kami sangat senang menjadi bagian dari tim survei bertemu dengan orang-orang dengan pemikiran lain. Dan yang utama mengeksplore wilayah lain untuk melihat dan memotret jenis-jenis satwa yang tidak ada di desa kami.


Wednesday, December 4, 2024

Inovasi Pangan setelah 70 Tahun, Desa Mendolo.

 Penulis: Alex Rifa’i1 & Sri Windriyah2; Penyunting: Sidiq Harjanto

1Koordinator Divisi Konservasi Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo

2Ketua Kelompok Brayan Urip, Desa Mendolo

 

Aneka olahan Umbi Gadung

"Dari hutan ke meja makan, setiap langkah punya cerita luar biasa. Ini cerita perjalanan panjang aneka bahan pangan bersama harapan semua orang yang terlibat di dalamnya". Begitulah kira-kira rangkuman rangkaian acara Hari Pangan Sedunia 2024 di Desa Mendolo pada tahun ini.

Pada tanggal 19-20 Oktober 2024 Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo berkolaborasi dengan Kelompok Petani Perempuan Brayan Urip merayakan Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Adapun tujuan perayaan ini adalah untuk mengenalkan kepada semua orang yang ikut berpartisipasi dalam acara ini tentang keanekaragaman pangan lokal yang ada di sekitar hutan Desa Mendolo.

Mengusung tema Hari Pangan Sedunia tahun 2024 ini yaitu "Hak Atas Pangan untuk Kehidupan yang Lebih Baik dan Masa Depan yang Lebih Baik", kami sekaligus melaunching produk olahan umbi gadung dan memfasilitasi kelompok Brayan Urip untuk memaparkan segala tentang produk yang dihasilkan.

Agenda Perayaan Hari Pangan tahun ini tidak sepadat dan sekompleks perayaan hari pangan tahun kemarin. Rangkaian acara yang kami selenggarakan dimulai dari kegiatan meramban (mencari dan memanen sayur, jamur, dan buah di hutan) bersama-sama dengan kawan-kawan dari Indonesia Dragonfly Society (IDS), Green Community, dan para kaum muda-mudi Desa Mendolo. Acara meramban ini berlangsung pada tanggal 19 Oktober 2024 dari pagi sampai siang.

Ibu-Ibu pahlawan di belakang layar

Setelah hasil meramban dirasa cukup, pada siang sampai sore kami menyortir semua bahan pangan lokal dari hutan yang sudah terkumpul, mulai dari jenis sayur, jamur, buah-buahan kita kelompokkan masing-masing menurut jenisnya. Sayangnya, hasil meramban tahun ini sedikit kurang maksimal dikarenakan cuaca yang ekstrem sehingga banyak bahan pangan lokal yang tidak bisa kami temukan di hutan. Sorenya, para ibu sudah memulai mengolah bahan yang sekiranya akan memakan waktu lama.

Di hari kedua, para ibu disibukkan di bagian dapur mulai dari pagi-pagi sekali mengolah semua bahan makanan yang akan kita santap bersama di siang hari nanti. Seperti tahun lalu, kali ini panitia kembali mengadakan workshop ditujukan bagi anak-anak untuk mengisi kegiatan di pagi hari. Workshop ini berupa latihan bersama membuat bungkus makanan dari daun pisang. Kami menyebutnya "takir".

Setelah acara workshop selesai, semua panitia mulai membantu semua persiapan yang masih belum sempurna. Siangnya, kami merayakan Hari Pangan Sedunia 2024 dengan makan bersama dengan menu yang berasal dari hutan sekitar desa kami. Para warga desa membaur dengan tamu dari luar desa dengan antusias luar biasa bersama-sama menikmati hasil meramban semua sajian, seperti: jenis-jenis sayuran, jamur, bunga kecombrang, dan buah-buahan hutan.

pemotongan tumpeng nasi Gadung

Setelah makan bersama selesai, kami bersama-sama menuju lapangan untuk memulai segala rangkaian acara yaitu launching produk olahan umbi gadung hasil inovasi kelompok Brayan Urip. Rangkaian acara meliputi sambutan dari ketua PPM Mendolo, sambutan Bapak Kepala Desa Mendolo, disusul acara inti yaitu Launching Produk Olahan Gadung secara simbolis melalui pemotongan tumpeng nasi gadung.

Selanjutnya, Sri Windriyah selaku koordinator kelompok brayan urip sekaligus ketua panitia acara perayaan hari pangan sedunia pada tahun ini memaparkan produk-produk inovasi gadung yang telah dihasilkan kelompok Brayan Urip.  Acara ditutup dengan pertunjukan seni musik gamelan oleh Sanggar Seni Puspita Sari dan Sanggar Seni Chandra Laras.

antusias warga ke lokasi perayaan hari pangan yang guyur hujan

Bukan hanya menjadi superhero di bagian konsumsi selama acara hari pangan berlangsung, kali ini dengan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) kelompok Ibu-ibu Kebun Brayan Urip ingin menunjukkan keterampilanya dalam perayaan hari pangan sedunia kali ini.

Umbi Gadung kita bisa menyebutnya, atau dalam bahasa ilmiahnya Dioscorea hispida merupakan tanaman umbi-umbian yang tumbuh subur di sekitar hutan di Desa Mendolo. Tanaman dengan batang berduri yang merambat di pohon-pohon hutan yang lebih tinggi di sekelilingnya.

Kelompok Brayan Urip yang beranggotakan para ibu rumah tangga berupaya untuk mewarisi skill dan keterampilan dari leluhur. Salah satunya dalam pengolahan umbi gadung ini. Melalui proses yang panjang dan sangat membutuhkan ketelatenan, umbi beracun sianida bisa diubah menjadi berbagai macam makanan yang sangat lezat dan aman.

Fakta luar biasanya, tepung gadung ini menjadi terobosan baru dari kelompok ibu-ibu brayan urip,  setelah puluhan tahun lamanya umbi gadung hanya diproses sederhana untuk dijadikan makanan pengganti beras pada krisis pangan karena perang, dan di tahun 50-an ada orang dari luar desa mengajari pengolahan umbi gadung menjadi keripik.

workshop pembuatan Takir untuk anak-anak
Pada jaman dahulu, para tetua desa kami mengolah umbi gadung dengan cara direndam untuk menetralkan racun, lalu dibakar/dikukus dan langsung bisa disantap. Lazimnya metode memasak orang dulu adalah dibakar dalam bentuk gumpalan, tanpa melalui proses penjemuran lagi untuk dijadikan tepung, karena fungsi gadung kala itu adalah untuk sumber karbohidrat pengganti beras.

Kira-kira tujuh puluh tahun lamanya untuk sampai di tahun 2024, munculah ide dan inovasi-inovasi baru dari olahan umbi gadung, dan salah satu inovasi yang ditawarkan kali ini adalah pembuatan tepung dari umbi gadung.

Secara garis besar, proses pembuatan tepung menggunakan proses penetralan racun yang sama dengan apa yang telah diwariskan oleh para leluhur. Produk akhirnya saja yang berbeda. Gadung iris dilumuri abu dapur di hari pertama untuk untuk selanjutnya ke proses penjemuran. Setelah kering, umbi gadung direndam di air yang mengalir minimal selama 3 hari 2 malam, dan dicuci sehari 2 kali pagi dan sore agar sisa-sisa racun dan abu hilang.

pentas seni sanggar Seni Puspita Sari dan Sanggar Seni Chandra Laras.


Setelah proses perendaman selesai, umbi gadung masih melalui proses penjemuran kembali hingga kering. Pengeringan gadung sangat terbantu dengan adanya dome pengering yang difasilitasi Swaraowa beberapa waktu lalu. Sesudah kering pasca penjemuran ini, barulah umbi gadung bisa diproses untuk dijadikan tepung. Dengan cara ditumbuk hingga halus, lalu diayak.

Tepung gadung yang dihasilkan memiliki aroma dan rasa khas, dan teksturnya sedikit kasar. Tepung gadung bisa digunakan untuk membuat berbagai olahan berbahan dasar tepung pada umumnya, seperti: kerupuk, brownies, kue lapis, bahkan menjadi nasi tiwul gadung seperti yang kami sajikan pada saat pemotongan tumpeng sebagai penanda launching produk.

Bukan tidak mungkin akan muncul inovasi-inovasi olahan umbi gadung lain yang akan muncul di masa yang akan datang. Atau bahkan akan muncul olahan keanekaragaman hasil hutan bukan kayu (HHBK) dari hutan Desa Mendolo yang lain lagi. Hutan Mendolo kaya dengan potensi.

Selain keanekaragaman hayati pangan lokal, masih ada juga fauna yang banyak jenisnya. Satwa-satwa penghuni hutan Desa Mendolo sangat menarik untuk diperbincangkan, dan keunikan hutan Desa Mendolo adalah menjadi tempat hidup bagi lima satwa primata jawa, yaitu: Owa jawa (Hylobates moloch), Lutung jawa (Trachypithecus auratus), Monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis), Rek-rekan (Prebytis comata fredericae), Kukang jawa (Nycticebus javanicus).

Tentunya, perayaan Hari Pangan Sedunia ini bisa menjadi salah satu langkah awal bagi kami para warga Desa Mendolo untuk tetap menjaga kelestarian hutan dan hidup berdampingan dengan semua makhluk hidup yang ada di dalamnya. Harapan kami adalah tetap terjaganya kelestarian hutan Desa Mendolo yang selama ini menjadi sumber penghidupan kami serta warga desa lain yang juga ikut mendapatkan manfaatnya. Dengan terjaganya kelestarian dan keanekaragaman hayati hutan, alam akan memberikan kita banyak manfaat untuk kehidupan sekarang dan masa depan.

Ucapan terimakasih kepada Pemerintah Desa Mendolo, SwaraOwa, Indonesia Dragonfly Society, dan Green Community yang sudah ikut berkolaborasi dalam acara perayaan Hari Pangan Sedunia tahun 2024. Tak lupa kepada seluruh warga Desa Mendolo, Sanggar Seni Puspita Sari, dan Sanggar Seni Chandra Laras yang sudah ikut meramaikan acara ini.