Saturday, December 6, 2025

Titian Lestari: Koridor Kehidupan Untuk Owa Jawa

 oleh : Sidiq Harjanto

tari kreasi baru dari Mendolo " Jingkrak Sundhang" di pentaskan dalam acara peresmian program  "Titian Lestari"

Pada Sabtu, 29 November 2025 telah dilaksanakan Kick Off Program Konservasi Fauna "Titian Lestari: Koridor Kehidupan Untuk Owa Jawa". Program ini merupakan kolaborasi antara SwaraOwa dengan Yayasan Astra Honda Motor (AHM) dan Affiliated Company AHM. Program “Titian Lestari” dihadirkan sebagai upaya komprehensif dan multidimensinal untuk merajut kembali keterhubungan hutan, hati, pikiran, dan harapan keharmonisan manusia dan alam. Target utama program ini adalah pelestarian owa jawa di Kawasan Hutan Petungkriyono-Lebakbarang.

Program ini didesain dengan mengintegrasikan berbagai aspek –konektivitas hutan, kesadaran masyarakat, dan partisipasi parapihak; dengan kesadaran bahwa upaya mewujudkan kelestarian alam membutuhkan pendekatan yang holistik. Program berbasis “Tiga Titian” –tiga jembatan penghubung strategis. Titian Alam, berupa aksi nyata merawat konektivitas fisik hutan melalui penanaman pohon. Titian Pengetahuan, membangun koneksi antara manusia dengan alam, dalam hal ini owa jawa dan hutan habitatnya melalui edukasi dan penyadaran. Titian Peran, membangun jembatan peran dan partisipasi masyarakat, khususnya bagi kaum perempuan.

Acara Kick Off yang digelar di Dusun Sawahan, Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang ditandai dengan serah terima pohon secara simbolis dari Ketua Yayasan AHM, Bapak Ahmad Muhibbuddin kepada Yayasan SwaraOwa, yang diwakili Sidiq Harjanto selaku koordinaror program Titian Lestari. Turut hadir menyaksikan, antara lain: Ibu Sri Handayani selaku Camat Lebakbarang beserta Muspika Lebakbarang, Bapak Kaliri selaku Kepala Desa beserta perangkat Desa Mendolo, Bapak Catur mewakili Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur, utusan dari kantor CDK IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, dan segenap tamu undangan.

peluncuran program Tititan Lestari, penamanan untuk koridor kehidupan

Dalam Kick Off ini juga dilakukan simbolis penanaman berbagai jenis pohon, antara lain: Kayu Sapi (Pometia sp.) Kayu Babi (Crypteronia sp.), Kepayang/kluwek (Pangium edule), Aren (Arenga pinnata), Rau (Dracontomelon dao), dan Sentul (Sandoricum koetjape). Jenis-jenis pohon ini yang nantinya akan dibibitkan dan ditanam di area-area habitat penting owa jawa. Sebagian jenis pohon adalah potensial pakan bagi owa jawa, sebagian lainnya memiliki nilai penting dalam konservasi air, dan sebagian lagi memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Titian Lestari diharapkan membawa dampak positif sebagai berikut: Pertama, terpeliharanya koridor habitat yang mendukung pergerakan dan regenerasi owa jawa. Sebagai satwa arboreal, owa jawa bergantung pada tajuk pohon yang saling terhubung untuk aktivitas bergerak, mencari makan, dan berkembang biak. Alih fungsi lahan, seperti pertanian monokultur, berisiko menyebabkan fragmentasi habitat bagi owa jawa. Berdasarkan penelitian Widyastuti et al. (2023) menyebutkan ancaman populasi owa jawa muncul karena indikasi fragmentasi di habitat seluas 8,341 ha, di wilayah Petungkriyono-Lebakbarang.

 Melalui program “Titian Alam”, bibit-bibit pohon rencananya ditanam pada sempadan dan daerah aliran sungai (DAS) Wisnu & Sengkarang untuk menjadi koridor hutan di masa depan, sekaligus untuk konservasi air dan tanah. Dengan model agroforestri yang diperkaya, aneka bibit buah hutan juga ditanam di lahan-lahan garapan guna meningkatkan ketersediaan pohon pakan bagi owa jawa.

simbolis acara penanaman bersama

 Kedua, meningkatnya kesadaran dan partisipasi masyarakat umum dalam konservasi. Owa jawa dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita, karena bersifat monogami atau setia pada satu pasangan, dan protektif terhadap keluarga. Aspek-aspek kehidupan owa jawa ini selaras dengan nilai-nilai masyarakat yang kita pegang, dan perilaku bersuaranya mengajarkan bentuk komunikasi yang efektif.

 Dibingkai dalam “Titian Pengetahuan”, edukasi dan kampanye konservasi, terutama kepada generasi muda di sekitar habitat owa jawa akan dilakukan menggunakan metode-metode kreatif dan menyentuh sisi emosi. Salah satunya melalui media seni, seperti tari Jingkrak Sundang karya Bapak Sujono seniman multitalenta dari Keron, Magelang. Tari ini menggambarkan kemarahan dan keputusasaan satwa liar yang kehilangan habitat, diharapkan membangkitkan empati para penari maupun audiensnya.

 Ketiga, tersedia ruang partisipasi bagi kaum perempuan pada konservasi. Skema pelestarian hutan perlu membumi dan menjangkau berbagai kalangan. Salah satu kelompok yang perlu diberi ruang adalah kaum perempuan. Kepentingan mereka terhadap hutan bisa dilihat dari akses kepada pangan lokal dan obat-obatan alami. Perempuan umumnya juga pembuat keputusan dalam hal konsumsi rumah tangga, terutama pangan, yang secara langsung atau tidak langsung memengaruhi hutan.

 “Titian Peran” mengajak partisipasi kaum perempuan untuk memperkaya perspektif konservasi dalam keputusan-keputusan sehari-hari (misalnya, memilih produk yang ramah lingkungan atau bijak dalam penggunaan kayu bakar) sehingga dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi tekanan pada habitat Owa Jawa. Membuka peluang ekonomi berkelanjutan seperti pengembangan produk hasil hutan bukan kayu juga akan menjadi fokus utama program ini.

 Atas terlaksananya Kick Off Program Konservasi Titian Lestari ini, kami ucapkan terima kasih kepada mitra/kolaborator: Yayasan Astra Honda Motor, PT Musashi Auto Parts Indonesia, PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Yutaka Manufacturing Indonesia, PT Suryaraya Rubberindo Industries. Juga kepada para pihak yang telah turut mendukung kesuksesan acara, antara lain: Muspika Lebakbarang, Pemerintah Desa Mendolo, Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur, CDK IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, Dinas Pertanian Kab Pekalongan, Paguyuban Petani Muda Mendolo, Kelompok Wanita Tani Brayanurip Mendolo, dan segenap masyarakat Desa Mendolo.

Friday, December 5, 2025

Pelatihan Metode Survey Owa ke-12 tahun 2025

 Oleh: Nur Choiriyah Merdekawati

Para peserta Pelatihan Metode Survey Owa 2025 di Sokokembang.

Pada tanggal 3–7 November 2025, udara sejuk Hutan Sokokembang, yang terletak di jantung habitat Owa Jawa, Pekalongan, Jawa Tengah, bergema bukan hanya dengan suara Owa Jawa tetapi juga dengan tawa dan percakapan sekelompok peserta didik yang bersemangat. SwaraOwa, sebagai inisiatif konservasi lokal yang berkomitmen untuk melindungi primata dan habitatnya, menyelenggarakan Pelatihan Metode Survey Owa ke-12 tahun 2025, pelatihan berbasis lapangan selama lima hari empat malam yang dirancang untuk memperkuat keterampilan peserta dalam penelitian Owa dan metode survei populasi.

Program ini mempertemukan beragam mahasiswa, peneliti, dan praktisi konservasi. Sebanyak 21 peserta terdiri dari tim Mentawai, Taman Nasional Siberut, KSP Macaca UNJ, FSP “Lutung” Universitas Nasional, KPP Tarsius UIN Jakarta, Yayasan Konservasi Hutan Harimau, Green Community Universitas Negeri Semarang, Yayasan Palung, The Biodiversity Society, Sanggabuana Wildlife Ranger, KP3 Primata UGM, Yayasan KIARA, Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu, BOSF Nyaru Menteng, Balai KSDA Jawa Tengah. Para peserta disatukan oleh rasa ingin tahu dan dedikasi mereka untuk memahami siamang, salah satu primata paling ikonik namun rentan di Indonesia. Tujuan utamanya adalah untuk membangun kapasitas peserta dalam teknik pemantauan owa sambil menumbuhkan semangat kolaborasi dan pembelajaran bersama di antara mereka yang berupaya melestarikan keanekaragaman hayati.

Pada sore hari tanggal 3 November 2025, para peserta tiba di stasiun lapangan SwaraOwa, sebuah pusat kecil namun dinamis yang dikelilingi oleh hutan pohon kopi dan nyanyian burung-burung hutan. Stasiun lapangan yang baru saja dilengkapi fasilitas ini, terletak di tepi Hutan Sokokembang, Kecamatan Petungkriyono, bukan hanya pos penelitian tetapi juga ruang sosial tempat konservasi berbasis komunitas bertemu dengan kehidupan sehari-hari. Sebuah pusat konservasi, pendidikan, dan tempat peristirahatan kopi yang terletak di habitat Owa Jawa.

Hari pertama didedikasikan untuk perkenalan baik antar peserta maupun dengan tim SwaraOwa. Sesi-sesi ini melampaui sekadar pertukaran nama; semua orang berbagi latar belakang, motivasi, dan keterkaitan mereka dengan pelatihan ini serta konservasi. Pada sesi terakhir, SwaraOwa sebagai fasilitator mempresentasikan perjalanan organisasi mereka, dari penelitian awal tentang  Owa Jawa ( Hylobates moloch ) hingga proyek-proyek yang sedang berjalan yang menghubungkan sains, ekowisata, dan pemberdayaan masyarakat.

Suasananya hangat dan inklusif. Banyak peserta mengaku bahwa ini adalah pelatihan primata pertama mereka. “Ini baru permulaan, tapi sangat menarik,” kata seorang siswa, “Tunggu, besok pasti lebih menarik,” timpal yang lain.

peserta dalam pelatihan pengenalan lapangan untuk perangkat bioakustik untuk pemantauan Owa

Hari kedua menandai pembukaan resmi pelatihan. Upacara dimulai dengan pidato sambutan oleh Kepala Unit Pengelolaan Hutan Pekalongan Timur (Perhutani KPH Pekalongan Timur), yang menyoroti pentingnya upaya konservasi kolaboratif antara peneliti, masyarakat setempat, dan instansi pengelolaan hutan. Sambutannya menggarisbawahi pesan utama: kelangsungan hidup Owa dan hutan bergantung pada kemitraan yang dibangun atas dasar kepercayaan dan tujuan bersama. Dilanjutkan dengan beberapa saran dari Forum Kepemimpinan Kecamatan Petungkriyono.

Hari itu dilanjutkan dengan kuliah teknis oleh Arif Setiawan, yang memperkenalkan peserta pada metode Triangulasi -Penghitungan Vokal (VCT), teknik dasar yang digunakan untuk memperkirakan populasi Owa melalui panggilan teritorial mereka. Sesi ini menggabungkan teori dengan kejadian di lapangan, membantu peserta memvisualisasikan bagaimana titik data dari panggilan Owa dapat diubah menjadi perkiraan kepadatan populasi.

Celia Felicity menyampaikan presentasi tentang bagaimana
Kelompok Spesialis Spesies  Indonesia (IUCN IdSSG)
berkontribusi pada upaya konservasi spesies.

Selanjutnya, Kurnia Ahmadin mempresentasikan sesi tentang pengumpulan data lapangan, yang berfokus pada keterampilan observasi, navigasi, dan konsistensi. Termasuk elemen-elemen kunci untuk hasil survei yang andal. Kemudian di malam hari, Celia Nova Felicity yang mewakili Kelompok Spesialis Spesies Indonesia (IdSSG), memperkenalkan peserta pada manajemen data kolaboratif dan pentingnya standardisasi status terancam punah spesies di Indonesia. Pada akhir hari, peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk mempersiapkan latihan lapangan pertama mereka pada hari berikutnya.

Hari ketiga dan keempat membawa para peserta jauh ke dalam Hutan Sokokembang, rumah bagi salah satu dari sedikit populasi Owa Jawa yang tersisa di Jawa Tengah. Setiap pagi dimulai saat fajar, ketika tim-tim mendaki ke titik pengamatan yang telah ditentukan. Hutan perlahan terbangun di sekitar mereka dan duet Owa yang sangat indah mulai bergema dari kanopi.

Berbekal perangkat GPS, ponsel pintar, dan lembar data, para peserta memasang perekam suara pasif di pepohonan, kemudian melanjutkan dengan mempraktikkan metode Triangulasi Hitungan Vokal (VCT), mencatat waktu panggilan dan arah kompas untuk memperkirakan lokasi kelompok. Jam-jam awal ini dipenuhi dengan fokus dan kekaguman yang tenang hingga pukul 10 pagi, kombinasi sempurna antara ketelitian ilmiah dan koneksi spiritual dengan alam.

Aoliya-SwaraOwa memperkenalkan cara menganalisis populasiOwa
 berdasarkan metode triangulasi penghitungan vokal.

Setelah kembali ke ruang kelas, hari itu dilanjutkan dengan kuliah tentang pemantauan bioakustik yang dipimpin oleh Nur Aoliya. Sesi tersebut memperkenalkan peserta pada dasar-dasar analisis suara, termasuk cara menggunakan perangkat lunak seperti RavenPro untuk memvisualisasikan dan menafsirkan suara hewan. Bagi banyak peserta, ini adalah pertama kalinya mereka melihat nyanyian Owa diubah menjadi spektrogram berwarna-warni—sidik jari vokal visual dari suara-suara tersembunyi di hutan.

Pembelajaran tidak berhenti sampai di situ. Sesi sore diisi dengan diskusi dan analisis data, termasuk cara menggunakan Google Earth Pro untuk memetakan titik panggilan dan melakukan triangulasi lokasi Owa. Setiap kelompok bekerja dengan data mereka sendiri, menguji berbagai pendekatan analitis dan membandingkan hasilnya.

Dr. Long Tha Ha memperkenalkan
primata Vietnam dan upaya konservasinya.

Untuk menambah perspektif global, dua pembicara tamu dari Vietnam, Dr. Long Tha Ha, seorang ahli biologi dan konservasionis Vietnam yang memenangkan Penghargaan Konservasi Frankfurt 2025, yang kini memimpin program Frankfurt Zoological Society Vietnam, bergabung dalam pelatihan di malam hari, dan Bapak Tuan Van Bui, seorang primata yang menjalankan bisnis tur pengamatan primata di seluruh Vietnam. Dr. Long berbagi pengalamannya dalam penelitian primata di seluruh Asia Tenggara, menyoroti persamaan dan perbedaan antara spesies Owa, kondisi penelitian, dan latar belakang komunitas di Vietnam dan Indonesia. Sementara itu, Bapak Tuan Van Bui berbicara tentang potensi ekowisata yang berfokus pada primata sebagai alat konservasi, menginspirasi peserta untuk berpikir melampaui sains dan mempertimbangkan model mata pencaharian berkelanjutan yang terkait dengan konservasi melalui programnya yang dikenal sebagai HIVOOC, Vietnam Wildlife Adventure Tours.

Tuan Van Bui memperkenalkan HIVOOC,
proyeknya yang berfokus pada pengembangan
Tour Petualangan Satwa Liar Vietnam.

Setelah kembali dari observasi lapangan, hari keempat menggabungkan kerja analitis intensif dengan momen relaksasi. Para peserta menyempurnakan analisis data VCT dan bioakustik mereka, dibantu oleh mentor dan sesama peserta pelatihan. Beberapa kelompok membandingkan perhitungan manual mereka dengan peta digital, sementara yang lain berdebat tentang kemungkinan kesalahan atau pola menarik yang ditemukan dalam data lapangan.

Saat matahari terbenam di balik punggung bukit hutan, diskusi akademis berganti dengan tawa dan percakapan ringan. "Sesi bebas" malam itu berubah menjadi malam memanggang jagung secara spontan, di mana para peserta berkumpul di sekitar api unggun kecil, berbagi cerita, lagu-lagu lokal, dan refleksi dari waktu mereka di hutan.

“Ini bukan sekadar pelatihan; rasanya seperti keluarga kecil pelestarian lingkungan,” ujar salah satu peserta, dan memang, pada titik ini, kelompok tersebut telah membentuk ikatan yang kuat yang dibangun atas dasar tujuan bersama, tantangan di lapangan, dan kegembiraan belajar di alam terbuka.

Pengamatan Primata - Owa Jawa  di Hutan Sokokembang

Pagi terakhir dimulai dengan sesi pengamatan primata yang santai namun menginspirasi di sepanjang tepi hutan. Para peserta menggunakan teropong dan keterampilan fotografi mereka untuk menemukan Owa, monyet daun, langur, dan burung. Itu adalah kegiatan reflektif, momen untuk terhubung kembali dengan alasan mengapa mereka datang ke tempat ini sejak awal.

Kemudian, setiap kelompok mempresentasikan temuan mereka, menampilkan peta, hasil analisis, dan refleksi tentang apa yang telah mereka pelajari. Presentasi tersebut bukan hanya laporan teknis tetapi juga narasi tentang pertumbuhan, bagaimana teori bertemu praktik, dan bagaimana kerja tim mengubah ketidakpastian menjadi pemahaman.

Seekor Owa  terlihat selama pelatihan.

Para fasilitator memberikan umpan balik yang konstruktif dan memberikan apresiasi kepada tim berkinerja terbaik, yang data lapangan dan analisisnya menonjol karena akurasi dan kreativitasnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi penutup, yang dipenuhi dengan ucapan terima kasih dari para penyelenggara dan peserta.

Saat upacara pemberian sertifikat berakhir, para peserta mengemasi tas mereka, bertukar informasi kontak, dan mengambil foto grup terakhir di bawah kanopi hutan. Suasana dipenuhi rasa syukur, atas pengetahuan yang diperoleh, persahabatan yang terjalin, dan rasa tujuan yang diperbarui.

Kursus lapangan Sokokembang ke-12 tahun 2025 lebih dari sekadar lokakarya teknis; ini adalah ruang kelas hidup tempat sains, alam, dan komunitas berinteraksi. Kursus ini menyediakan ruang langka bagi para peneliti muda untuk belajar langsung dari para praktisi yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk konservasi primata. Dengan mengintegrasikan metode lapangan, analisis data, dan pertukaran lintas budaya, pelatihan ini mewujudkan pendekatan holistik SwaraOwa yang menggabungkan penelitian, pendidikan, dan konservasi berbasis komunitas.

Saat jip terakhir meninggalkan pusat Swaraowa, hutan perlahan kembali tenang. Namun, bagi para peserta, gema nyanyian Owa akan tetap terngiang sebagai pengingat abadi bahwa setiap suara di hutan membawa cerita yang layak dipelajari, dilindungi, dan dibagikan.


Sunday, November 30, 2025

Owa Jawa di Tengah Perubahan Lahan: Catatan Monitoring dari Pekalongan dan Batang

lokasi pengamatan Owa Jawa

oleh : Kurnia Ahmaddin

Pada bulan Juli kami mengunjungi desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan yang merupakan perwakilan area paling Barat pegunungan Dieng selama 4 hari. Kunjungan tersebut merupakan agenda kami untuk monitoring populasi Owa jawa (Hylobates moloch) dengan metode Triangulation vocal count. Lokasi lain yang kami untuk kunjungan serupa adalah dusun Sawanganronggo desa Tlogopakis, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan dan desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang. Kami menempatkan 3 Listening Post (LPs) pada masing-masing desa dengan jarak antar LPs adalah 300 m. Tim yang terlibat monitoring tidak berganti personil pada tiap LPsnya dengan menambahkan 1 warga lokal pada tiap desa. Bersamaan dengan pengambilan data suara, kami juga menempatkan 3 perekam pasif dengan jarak 150-200 m untuk tiap perekam. 

 Hasil dari monitoring di Kutorojo kami mengonfirmasi 7 kelompok Owa bersuara dari minimal 2 LPs yang mendengar Greatcall. Sedangkan di Sawanganronggo kami mengonfirmasi 15 titik suara dan di Tombo 9 titik. Dari seluruh area yang di survei jarak maksimal yang terdengar oleh tim adalah 1 Km. Di Kutorojo dan Sawangganronggo lokasi LPs kami merupakan punggungan bukit dengan kopi lokal yang sebagian besar sudah di hilangkan pohon hutannya. Arah datang suara Owa dari kedua lokasi tersebut cenderung datang dari hutan alam tanpa tanaman kopi. Akibatnya banyak suara yang terdengar tumpang tindih dari kedua lokasi tersebut. Namun demikian di Sawanganronggo kami masih menjumpai Owa jawa yang berpindah dengan menggunakan pohon kopi dengan tinggi 7-9 meter. Kami juga mendapat laporan dari warga bahwa Owa jawa di Sawangganronggo sempat terlihat sekali mencicipi buah kopi matang. 

Hasil konfirmasi pada ketiga titik tersebut belum dianalisis, kami hanya mendeskripsikan hasil data dari lapangan. Pada bulan Juni Tim Monitoring juga melakukan Triangulasi di desa Mendolo, namun dari 7 kelompok yang kami hitung tidak satupun melakukan Greatcall selama periode pengambilan data.

Selama periode monitoring kami tidak menentukan tujuan spesifik terutama untuk penelitian ilmiah. Dikemudian hari kami harap dapat menentukan tujuan riset sehingga kami dapat menggunakan metode yang terukur dan SOP dalam pengambilan data dapat ditentukan. Sehingga data yang telah diperoleh dapat di analisis menggunakan tools yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penggunaan aplikasi lain juga dapat di terapkan jika SOP sudah ditentukan mengingat ‘Kobotoolbox’ tidak dapat menggunakan fitur ‘tracking’ dan hanya memiliki 1 Gb untuk cadangan data. 

Perubahan lahan hutan agaknya perlu disikapi lebih serius mengingat tren kopi sambung untuk memperbanyak produksi. Hal ini cenderung membuat petani lokal memangkas pohon hutan untuk memberi cahaya matahari pada tanaman kopi mereka. Kedepan mungkin diperlukan klasterisasi lahan kopi sehingga deskripsi kesesuaian habitat dapat lebih dideskripsikan spesifik dan petani hutan dapat diapresiasi dari kelimpahan spesies di lahan garapan mereka. Selain ancaman perubahan habitat, perburuan primata tidak ditemukan selama periode monitoring namun, perburuan burung semakin masif bahkan di lapangan saat ini seluruh burung menjadi target tangkapan tidak terbatas pada  jenis burung kicau.  


Monday, November 10, 2025

Gibbon Camp: Menyusuri Hutan Tombo, Menyalakan Semangat Konservasi Owa Jawa

 Oleh : Kp3 Primata


gibbon camp 2025, KP3 Primata x SwaraOwa x Sutaregga

Setiap tanggal 24 Oktober, dunia memperingati Hari Owa Sedunia sebagai pengingat akan pentingnya keberadaan primata unik ini. Owa Jawa, dengan peran ekologisnya yang besar, menjadi simbol keseimbangan hutan tropis yang harus dijaga keberlanjutannya. Berangkat dari semangat itu, KP3 Primata UGM bersama SwaraOwa menyelenggarakan Gibbon Camp di Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada 31 Oktober–2 November 2025.

Kegiatan ini bukan sekadar camping biasa, melainkan sebuah perjalanan belajar yang menyatukan ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, dan nilai-nilai kebersamaan. Sepuluh anggota KP3 Primata Fakultas Kehutanan UGM mengikuti serangkaian aktivitas pengamatan primata di habitat alaminya. Mereka tidak hanya berkesempatan mengamati Owa Jawa dan primata lain, tetapi juga berdialog dengan masyarakat lokal serta komunitas pegiat konservasi Sutarengga. Diskusi hangat bersama Mas Wawan, founder SwaraOwa, membuka wawasan tentang sejarah organisasi, penelitian Owa Jawa, hingga tantangan pelestarian primata di Indonesia.

Perjalanan penuh cerita dimulai dengan pengamatan di hutan Tombo. Meski hujan deras sempat menghentikan kegiatan, peserta tetap bersemangat. Mereka bertemu dengan Lutung, berjalan kaki menembus jalan licin menuju lokasi camp, lalu menutup malam dengan api unggun yang hangat. Malam itu, rasa lelah berganti dengan rasa syukur dan kebersamaan.

Hari ketiga menjadi puncak pengalaman. Peserta dibagi ke dua kelompok menuju listening post berbeda. Di sana, mereka beruntung mendengar great call Owa Jawa dari dua arah, sebuah pengalaman langka yang membuat hati bergetar meski tidak melihat langsung sosoknya. Dari metode pengamatan ini, peserta belajar memperkirakan jarak dan arah suara, sekaligus membedakan antara panggilan besar dan panggilan biasa.

Selain ilmu, Gibbon Camp juga menghadirkan keindahan alam Tombo. Sungai jernih, hutan asri, dan panorama perkebunan teh menjadi latar yang menenangkan. Peserta merasakan kekayaan fauna, dari primata hingga burung elang jawa dan herpetofauna. Semua detail kecil—dari jalan berkelok di pegunungan hingga tawa bersama di tengah hujan—menjadi bagian dari pelajaran besar: bahwa konservasi bukan hanya soal data dan penelitian, tetapi juga soal rasa, kebersamaan, dan komitmen jangka panjang.

Testimoni peserta memperkuat makna kegiatan ini. Munika mengungkapkan betapa serunya belajar langsung mengenali suara Owa Jawa dan cara menghitung populasinya, ditambah pengalaman naik mobil bak terbuka melewati hamparan teh. Najla menambahkan rasa kagum atas ilmu dan keterampilan survival yang dibagikan tim SwaraOwa, menyebutnya sebagai pengalaman yang membuatnya ingin kembali lagi.

Gibbon Camp di Desa Tombo menjadi bukti bahwa langkah kecil bisa membawa mimpi besar. Dari obrolan sederhana dengan masyarakat, dari suara lirih great call di hutan, hingga api unggun yang menyatukan hati, semua menjadi fondasi penting bagi masa depan konservasi Owa Jawa. Semoga semangat ini terus tumbuh, menginspirasi generasi muda, dan menjadikan konservasi sebagai gerakan bersama demi menjaga memelihara keindahan bumi.





Wednesday, October 29, 2025

“Rhinopithecus brelichi dan Diplomasi Primata: Catatan Perjalanan dari Guizhou”

 oleh : Arif Setiawan

foto bersama dengan peneliti peneliti dari Guizhou Academy of Science

6 Agustus 2025 Guiyang, ibukota Provinsi Guizhou—sebuah kota yang menantang stereotip tentang wilayah pegunungan China. Di sini, gedung-gedung pencakar langit menjulang seolah ingin menyentuh awan, membentuk siluet modern yang kontras dengan lanskap lembah dan bukit yang mengelilinginya. Jalanan padat oleh arus kendaraan dan manusia, denyut ekonomi terasa nyata di setiap sudut: dari pusat perbelanjaan yang gemerlap hingga warung kecil yang tak pernah sepi.

Saya berkunjung ke kota ini karena undangan dari Kefeng Niu, salah satu primatologist yang telah lama saya kenal sejak tahun 2011, dari sebuah kursus di Singapura. Kefeng adalah peneliti Guizhou Snub Nosed monkey - Rhinopithecus brelichi, monyet endemik Gunung Fanjing.

Beberapa hari sebelum saya sampai di  Guiyang, telah mengunjungi breeding center monyet Guizhou yang terletak di kaki gunung Fanjing.  Ada 3 species snub nosed monkey di China, dan Guizhou snub nosed monkey adalah yang paling sedikit, Populasinya ada sekitar 400-700 individu, bahkan IUCN redlist sudah Critically Endangered, ada 200 individu populasi dewasa . oleh karena itu saat ini sudah di bangun breeding center pusat penangkaran, untuk mascot Guizhou ini. Pusat penelitian dan  penangkaran ini didirikan pada tahun 1993, dimulai dengan tujuh individu liar yang ditangkap sebagai pendiri koloni. Langkah ini diambil karena populasi liar sangat kecil dan terfragmentasi, sehingga diperlukan strategi konservasi eks-situ untuk mencegah kepunahan. Sejak 1995, program ini mulai menunjukkan keberhasilan dengan kelahiran individu baru setiap tahun, menandai awal dari pengelolaan populasi captive yang lebih sistematis.

monyet hidung pesek Guizhou- Rhinopithecus brelichi

Perjalanan kurang lebih 1.5 jam, dari hotel di kota Jiangkou, menuju lokasi penangkaran, tepat berada di Lembah yang di kelilingi gunung, yang berhutan cukup rapat, dan mengalir air yang sangat jernih,  di pintu gerbang penangkaran sudah menunggu teman-teman Kefeng yang dulu membantu penelitiannya, dan kini menjadi staff di penangkaran ini. Kami langsung melihat ke dalam lokasi, meskipun di penangkaran karena ini pertama kali melihatnya, impressi ya sekilas nampak lebih besar dari pada lutung paling besar di jawa yang pernah saya lihat, warna wajah biru pucat dengan rona merah muda, dan hidung peseknya sangat unik. Proporsi kaki nampak lebih besar dan panjang disbanding ukuran tubuhnya, dan ekornya yang panjang dan bulat panjang menjuntai sepertinya lebih panjang daripada ukuran kakinya. ranbut putih di kedua ujung telinga dan memiliki kuncir rambut warna cream keputihan, unik sekali. !

telinga putih dan kuncir rambut monyet Guizhou
monyet guizhou remaja

 Nampak ada 1 individu jantan yang terlihat pertama kali ketika sampai di breeding ceter dengan pendamping dari staf penangkaran ,  2 betina, serta 1 anak usia remaja, menurut Kefeng ada 7 individu total di penangkaran ini. Fasilitas ini tidak terbuka untuk wisata pada umumnya, namun untuk kepentingan konservasi, dan peneliti dapat berkunjung ke lokasi penangkaran.

Snub nosed, kalau di terjemahkan hidung pesek,  monyet ini masih satu keluarga dengan lutung dan rekrekan kalau di jawa, ya itulah monyet guizhou yang nampak  terlihat lubang  tanpa batang hidung di wajah, terlihat aneh. Tentu saja ini terkait dengan evolusi adaptasi terhadap udara dingin dan kering di pegunungan. Bulu yang panjang dan tebal juga menunjukkan adaptasi terhadap suhu dingin.

Pemandangan habitat monyet Guizhou dari kereta gantung

Setelah melihat Guizhou snub nosed monkey di penangkaran, Kami menuju pintu masuk untuk trekking ke G.Fanjing. yang juga menjadi habitat alami Guizhou snub nosed monkey, kawasan ini merupakan nature reserve salah satu situs UNESCO heritage site, dan menjadi tujuan wisata paling populer di provinsi Guizhou,   dengan menggunakan Kereta Gantung. Dibangun dengan teknologi ramah lingkungan dan desain yang menyatu dengan kontur alam, infrastruktur ini membuka akses ke kawasan konservasi yang sebelumnya hanya bisa dijangkau oleh peneliti dan pendaki. Kereta gantung ini menjadi simbol harmoni antara pembangunan dan pelestarian, bagian dari strategi ekowisata Tiongkok yang menggabungkan konservasi spesies langka dengan pengalaman wisata berkelas dunia. Di stasiun akhir, pengunjung dapat mengakses pusat edukasi, jalur interpretatif, dan observatorium primata yang dirancang untuk mempertemukan sains alam,  sejarah geologi, budaya, dan rasa kagum.

dengan Kefeng di puncak gunung Fanjing di depan Mushroom rock yang melegenda
diplomasi kopi , dengan owner San Men Coffee-Guiyang

Di Kota Guiyang, sempat berkunjung ke beberapa kedai kopi, ada kurang lebih 3000 cafe shop di sini, menurut flyers yang saya temukan di salah satu cafe shop. Salah satu yang saya kunjungi adalah San Men coffee, saya temukan dari search online , dan beruntung sekali owner nya adalah baristanya. Kami ngobrol banyak tentang bisnis kopi di Guiyang, dan karakter peminum kopi disini, menurutnya, kalau cuaca panas seperti sekarang ini, sajian cold brew dan kopi susu banyak diminati, dan biasanya pesan antar atau online lebih banyak daripada yang minum di kedai. Kedai kecil ukuran 2x 5 meter, namun terlihat sangat ramai,beberapa koleksi biji kopi di pajang di depan, ada dari sumatera . Dan yang lainnya dari Amerika Selatan dan Afrika.sehari bisa mencapai 150-300 cups katanya.

pemberian buku Burung China oleh Prof. Zhonrong Wu

saya memberikan Kopi owa untuk Prof. Man Liu

Guiyang adalah kota yang sedang tumbuh, tapi tidak lupa akar. Ia membangun masa depan dengan tetap merawat warisan. Di kampus-kampus dan pusat inovasi, generasi muda merancang solusi berbasis lokal.

Di kawasan hijau yang masih luas, alam tetap menjadi guru dan pelindung. Saya mendapat undangan di salah satu pusat pengembangan ilmu pengetahuan di provinsi ini, Guiyang Academi of Science.  Kesempatan ini muncul karena Kefeng Niu, bekerja di Lembaga ini, Presentasi di Guiyang Academy Of Science, kesempatan memperkenalkan Owa jawa dan proyek konservasi ada disini, Kefeng telah mengatur semua dan kami selepas makan siang menuju Guiyang academy of Science, disana kami telah di tunggu oleh Profesor Man Liu, dan Profesor  Zhongrong beliau adalah ahli serangga, dan ahli burung. Ruangan presentasi telah disediakan dan peserta yang hadir adalah peneliti-peneliti di lembaga ini adalah sperti BRIN kalau di Indonesia. Saya mempresentasikan proyek KOPI dan Konservasi Primata dalam Bahasa inggris, dan Kefeng saya harus berterimakasih kepadanya, karena dia membantu menerjemahkan dalam Bahasa China. Presentasi berjalan lancar, dan mendapat apresiasi banyak pertanyaan dari yang hadir. Setelah presentasi saya di ajak ke ruangan Prof, Man Liu,  saya mendapat kenang kenangan awetan serangga, yang katanya ini jenis yang langka, dan mecapai kondisi dewasa sperti dalam bingkai ini dalam waktu 2 tahun, saya sempat memberikan Kopi Owa kepada beliau.

Kemudian Prof Zhongron Wu, yang peneliti burung, memberi saya buku hasil penelitiannya tentang jenis-jenis burung , buku setebal halaman itu menjadi Istimewa karena di berikan dan ditandatangani langsung oleh penulisnya.

Macaca mulata, monyet ekor sedang 

Monyet ekor pendek - Macaca thibetana

Setelah presentasi di Guizhou Academy of Science, Kefeng mengajak saya ke taman kota.., tapi suasana sangat penuh sesak, liburan musim panas ini membuat kota Guiyang penuh manusia !!, sebenarnya kami ingin melihat satu jenis monyet yang semi liar di sini, yaitu Rhesus Macaque ( Macaca mulata). Jenis ketiga monyet di china bagian selatan-barat. Ditengah padatnya pengunjung sangat susah mengamati sekitar, yang sbenarnya ini seperti taman, tapi sangat luas dan sperti hutan , kemudian ada kelompok monyet yang menimbulkan keributan karena mengambil makanan yang di bawa oleh pengunjung, ya itulah lifer saya juga Macaca mulata, cirinya hampir sama dengan macaca pada umumnya tapi ekornya tidak sepanjang monyet fascicularis, dan lebih panjang daripada ekornya Tibetan macaque. Itu saja foto-foto tidak banyak karena semakin banyak orang lalulalang lewat dan tidak bisa fokus untuk mengamati atau mengikuti pergerakan monyet. Kefeng mengajak kami keluar, dia bilang sebagai orang china juga baru melihat orang sebanyak ini di taman kota. 

Hari itu, bersama kefeng di akhiri dengan makan malam dengan kolega dan pejabat pemerintah , yang sendang merancang sebuah proyek penelitian dan konservasi bersama. Saya hanya ikut makan saja, tidak mengerti apa yang dibicarakan. Tapi pengalaman berbeda dengan kolega-kolega baru di china, social dinner yang menyenangkan dan mengenyangkan.

7 Agustus 2025, Petualangan di China selesai, saya berangkat kembali ke Jakarta, dan hampir saja pesawat ketinggalan, karena tiba-tiba jadwal di rubah,dibatalkan  dan mendadak saya harus ganti pesawat, dan untungnya masih ada kursi tersisa, karena saya harus transit di Sensen, jadi ada pesawat lanjutan yang harus ke jakarta, bisa juga saya ketinggalan karena perubahan ini. Sampai di Zensen pesawat sudah pas dengan jadwal peswat berikutnya, saya berlari-lari di imigrasi dan sangat terbantu di arahkan oleh petungas. Akhirnya jam saya sudah di dalam pesawat menuju Jakarta. Selamat tinggal Guizhou. Xie-Xie.





Monday, October 27, 2025

"Menelusuri Bat Kailolot: Survei Sehari di Hutan Adat Salaisek"

 Oleh :Aloysius Yoyok

Bilou ( Hylobates klossii)

Kegiatan kali ini hanya survey singkat ke hutan milik uma Salaisek, pada tangga 13 Oktober 2025. Kawasan hutan Bat Kailolot ini adalah milik uma Salaisek yang berbatas sepadan dengan hutan milik uma Salimu. Perbatasan hutan yang secara adat menjadi kekuasaan mereka itu terletak di sepanjang punggung perbukitan yang kebetulan menjadi lintasan jalan setapak Gotab-Salapak. 

Lahan milik uma Salaisek ini di beberapa spot sejak beberapa dekade lalu sudah dikelola sebagai areal perladangan tradisional; sebagian lahan rawa-rawa dikelola sebagai kebun sagu sementara lahan dataran kering dikelola sebagai tempat pengembangan perladangan tradisional (pumonean) yang berisi tanaman tua (jenis-jenis tanaman buah-buahan lokal). Lahan ini juga pernah dimanfaatkan oleh beberapa penduduk setempat untuk areal pengembangan peternakan babi tradisional (pusainakat) tetapi semenjak generasi tua pemilik pusainakat itu sudah tidak ada lagi dan generasi sekarang sekarang ini tidak lagi melanjutkan usaha itu, maka areal itu kini kembali ditumbuhi oleh vegetasi yang cukup rapat dengan jalur-jalur jalan setapak yang sudah tidak terlihat lagi, tertutup oleh tumbuhan hutan dan semak. Melakukan survei di kawasan ini harus dipandu oleh orang yang memang memahami kawasan karena jalur-jalur jalan setapak lama yang sudah hilang.

jalur berlumpur di rawa-rawa 

Kawasan lahan hutan Bat Kailolot ini selain berbatas sepadan dengan hutan milik Salimu di sepanjang punggung perbukitan di sebelah selatan, di sebelah timur dan utara lahan mereka ini berbatas dengan punggung perbukitan dimana jalan trans Siberut ruas Maileppet-Saliguma yang dibuka dengan memanfaatkan bekas jalan perusahaan kayu log di tahun 80 an. Sampai beberapa tahun lalu sebelum jalan trans Siberut itu dibuka pada tahun 2017 lalu, kelimpahan satwa dan primata di kawasan itu masih terlihat bagus. Jika berkunjung di kawasan itu, jika di pagi hari buta maka nyanyian morning call dari kelompok-kelompok bilou akan terdengar di sekitar pondok, demikian juga dengan ke 3 jenis primata yang lain termasuk juga ragam satwanya. 

Rute Perjalanan

Rute yang dipilih untuk mencapai lokasi survei itu adalah dengan menempuh jalur laut dari Maileppet-Gotab, kemudian dari Gotab menuju Bat Kailolot dengan jalan kaki, bisa juga dengan menempuh dengan perjalanan jalur darati melalui jalur jalan sekunder yang menghubungkan permukiman Gotab-Jalan Trans, tetapi kami memilih melalui jalur jalan setapak yang menghubungkan permukiman Gotab-Pondok Dami  ( Dami ini sahabat saya dari Gotab) di Bat Kailolot tepi jalur jalan trans ruas Maileppet-Saliguma juga.

Perjalanan laut dari Maileppet-Gotab kami tempuh dengan pompong sekitar 1 jam dan perjalanan darat yang kami tempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalur jalan setapak kami tempuh juga selama kira-kira 1 jam. 

Kebetulan perjalanan kami tempuh di sore hari, di tengah hujan yang turun semenjak pagi. Sesudah beristirahat sejenak di Gotab, saat matahari tenggelam kami berangkat dengan berjalan kaki menuju pondok ladang Dami yang terletak di Bat Kailolot. 

Sebenarnya jika cuaca cenderung kering perjalanan menuju lokasi itu bisa ditempuh melalui jalur jalan trans Siberut ruas Maileppet-Saliguma mempergunakan sepeda motor, sekitar 40 menit saja. Tetapi jika cuaca cenderung hujan, pilihan jalur jalan ini bisa memiliki risiko besar karena jalur jalan ini belum ada pengerasan masih berupa tanah lempungan di sepanjang punggung perbukitan yang merupakan bekas jalan logging di masa lalu, jalanan akan menjadi lengket dan berlumpur saat hujan turun. Jika situasi menjadi seperti itu maka kendaraan bermotor biasa akan terjebak dan harus menunggu cuaca cerah untuk membuat jalur jalan tanah itu kering kembali.

Kotkot -Kadalan siberut (Phaenicophaeus curvirostris)


Situasi Hutan Bat Kailolot 

Semenjak jalur trans Siberut ruas Maileppet-Saliguma ini dibuka, maka hutan di sepanjang kanan dan kiri jalur jalan trans itu dari arah Maileppet dari Km 0 – Km 9 rata-rata sudah beralih kepemilikan menjadi milik masyarakat migran atau pendatang dari etnis di luar Mentawai. Lokasi hutan Bat Kailolot milik Salaisek ini terletak di sekitar Km 13. Pada umumnya lahan di sepanjang jalur jalan itu belum diperjualbelikan tetapi kini di tepian jalur jalan itu pengusahaan penduduk lokal adalah dengan kembali membabatnya untuk lokasi perladangan.

Dari hasil pengamatan selama sehari, dari total sebanyak 9 suara bilou yang terdengar dengan rincian 7 suara merupakan great call dan 2 suara hanya morning call saja. Dari 7 suara great call itu terdapat 4 kelompok bilou yang bersuara great call di dekat jalur jalan trans Siberut itu, 2 kelompok bersuara dari arah hutan milik Salaisek dan 2 suara great call yang lain dari arah hutan milik uma Sabbangan, di seberang jalan trans. Saat pengamatan suara sedang dilakukan dan kelompok-kelompok bilou itu sedang bersuara, kebetulan ada 3 titik sumber suara greatcall yang tiba-tiba berhenti bersuara dan berganti menjadi suara alarm call, kemungkinan besar karena di dekat tempat kelompok-kelompok bilou itu bersuara adalah memang jalur setapak yang menjadi lintasan penduduk lokal menuju ke perladangan mereka. Kebetulan pagi itu mereka melintas di bawah pohon tempat kelompok-kelompok bilou itu bersuara.

foto bersama keluarga bapak Nasril

Secara umum terlepas dari kemungkinan berkurangnya vegetasi hutan terutama di sepanjang tepian jalur jalan trans Siberut, tetapi kawasan hutan Bat Kailolot milik Salaisek ini merupakan bagian dari hamparan hutan yang masih luas. Hamparan hutan itu secara adat merupakan milik Salimu, Salaisek, Samaurau dan Satoinong. Kawasan ini terletak di antara permukiman Salappak dan Gotab-Siguluk-guluk kawasan yang masih memiliki vegetasi hutan yang bagus dan memiliki kelimpahan satwa maupun primata yang bagus juga. Di kawasan ini tidak banyak penduduk yang mengelola lahan hutan itu untuk perladangan tradisional karena lokasinya yang cukup jauh dari permukiman dan akses menuju areal itu yang sulit. Pada beberapa dekade lalu penduduk memanfaatkan beberapa spot lokasi hutan itu untuk peternakan babi tradisional tetapi kini sudah sekitar 15 tahun lalu ditinggalkan dan tidak lagi dikelola.


Tuesday, October 21, 2025

“Dari Pekalongan untuk Hutan Jawa: Batik Owa Rayakan Oktober Istimewa”

 

motif batik Sidoluhur-Owa

Bulan October adalah bulan Istimewa dimana tanggal 2 October diperingati sebagai hari batik nasional dan tanggal 24 october sebagai hari  owa sedunia, untuk merayakan hari-hari penting ini, swaraowa meluncurkan produk konservasi baru, berupa motif batik owa , dengan nama “ sido luhur -Owa”


🧵 Narasi Motif Batik Owa: “Sido Luhur - Owa”

Motif ini lahir dari perjumpaan antara warisan batik klasik dan semangat konservasi masa kini, kegiatan pelestarian owa jawa di Pekalongan, yang sudah terkenal dengan batiknya. Terinspirasi dari batik Sido Luhur—yang secara filosofis melambangkan harapan akan kehidupan yang bermartabat dan penuh kebijaksanaan—motif ini menghadirkan wajah owa Jawa (Hylobates moloch) sebagai simbol penjaga hutan dan harmoni alam.

Wajah owa digambarkan secara simetris dan berulang, membentuk pola yang menyerupai catur gatra dalam batik klasik, menandakan keseimbangan antara manusia, alam, budaya, dan spiritualitas. Ornamen daun-daun tropis dari hutan dan pegunungan Jawa mengalir di sekelilingnya, merepresentasikan lanskap asli tempat owa hidup dan berperan sebagai penebar benih hutan, membantu regenerasi hutan secara alami.

Setiap garis dan lengkung dalam motif ini bukan sekadar estetika, melainkan narasi: tentang spesies yang terancam, tentang hutan yang menyimpan banyak nilai penting dan manusia yang diajak untuk melestarikan alam. Motif batik ini, akan digunakan dalam berbagai produk dan media untuk menyebarluaskan pesan konservasi , penghubung antara nilai luhur dan tindakan nyata untuk menjaga bumi.

 

Ikuti kami di platform social media :

🌐 website : https://swaraowa.org

📝 Blogs : https://swaraowa.blogspot.com

📱 X, Facebook, Youtube,  Instagram: @swaraowa