Sunday, February 22, 2015

Kopi, burung dan mamalia kecil di habitat Owa


Apakah secangkir kopi yang anda minum ramah terhadap hidupan liar?? Video berikut ini adalah salah satu hasil video trap yang kami pasang di hutan Sokokembang, habitat Owa jawa (Hylobates moloch)  dan juga kopi robusta (silahkan baca tulisan sebelumnya disini).
Burung Paok  (Pitta guajana)- Javan banded Pitta sangat susah menjumpainya, karena sering bersembunyi dibalik semak-semak, Namun suaranya lebih mudah dikenali ( suara burung paok disini). Kisah di sarang burung Paok ini setidaknya menggambarkan  sebagian kecil keragaman hayati dan kehidupan yang ada di habitat hutan kopi.


Selamat minum kopi!!.

Wednesday, February 18, 2015

Kopi Owa

dibalik layar "Kopi Owa"
Pesan pelestarian alam yang dibuat oleh tim Coffee Story, kompas TV telah memberikan kontribusi nyata bagi upaya konservasi primata dan hutan Petungkriono pada umumnya. Tahun lalu bulan agustus 2014 tim liputan ini berkunjung ke site penelitian owajawa di Sokokembang, Petungkriyono Pekalongan, atas dasar informasi sampel kopi yang di bawa seorang kawan pecinta kopi yang waktu itu kita ajak ke sokokembang untuk lihat kopi dan owa di habitat alamnya.Ceritanya bagaimana sampel kopi itu bisa sampai ke tim coffee story, hingga akhir nya mereka jauh-jauh dari belantara Jakarta mau berkunjung ke belantara owa, kami juga tidak tahu

Owa tentu tidak setenar Orangutan atau Harimau, Owa bukanlah selebriti yang tiap hari tampil di layar kaca infotainment, bukan juga publik figur yang tiap hari mengisi acara-acara talkshow di TV. Namun keberadaannya di hutan sangatlah penting, tidak hanya menjadi fauna identitas suatu wilayah, namun hutan sebagai tempat hidupnya memberikan manfaat yang tidak ternilai bagi kita. Owa dan kopi disini  adalah sebagai duta bagi pelestarian alam disekitar kita. Mudah-mudahan sedikit ruang di layar kaca  kita ,akan lebih sering  diisi oleh satwa-satwa liar kebanggaan indonesia dengan pesan pelestarian habitatnya.

Tidak hanya owa saja yang hampir punah, karena rumah hutannya yang hilang, banyak satwa dan hutan di sekitar kita yang juga musnah tapa ada cerita, dan begitu  saja juga hilang  nilai penting hutan dan segala isinya. Hutan tidak hanya hunian bagi satwaliar tapi juga sumber kehidupan, geliat ekonomi masyarakat sekitar hutan adalah sangat penting untuk kelestarian hutan itu sendiri. 


Cerita kopi dan owa ini telah tayang di Kompas TV tanggal 17 Januari 2015, bagi anda yang belum sempat menonton acara ini bisa di lihat di sini :


Tuesday, January 20, 2015

Camera trap di habitat Kopi Hutan

Sangat senang rasanya mempelajari hidupan liar, yang susah di jumpai karena memang sangat takut dengan kehadiran manusia. Sebagai bagian kegiatan" Konservasi owa dan Kopi" kami telah menggunakan camera trap di hutan habitat Owa, Sokokembang, dan semakin menambah rasa ingin tahu tentang apa saja yang ada di hutan namun sangat jarang  kita lihat. Camera trap sangat membantu mempelajari hal ini, jenis-jenis satwaliar susah di jumpai tidak lagi takut di depan camera.

Penggunaan camera trap ini bertujuan untuk melihat keanekaragaman hayati di lahan kopi-hutan yang juga habitat Owa jawa. Burung, tikus, mamalia dan aktifitas manusia dapat terekam oleh kamera yang di pasang di tengah hutan.


Berikut beberapa hasil camera trap selama bulan Desember  2014-Januari 2015 :
uji coba posisi camera trap


jenis tupai tanah (ID??)

burung Paok pancawarna


Monday, January 19, 2015

Sokokembang, Primata, dan Kopi

ditulis oleh : Sity Maida
Twitter :@meeda_yameda

Gambar 1. Salah satu pemandangan pegunungan dilihat dari sawah di desa Sokokembang. ©maida

Sudah lama, saya tak bertualang lagi. Terakhir kali bertualang, ke daerah Curug nangka-Bogor, bersama beberapa teman, “sekalian” kuliah lapangan salah satu matakuliah yang saya ikuti, yaitu primatologi. Petualangan kali ini, cukup jauh memang dan “tak berteman”. Ya... saya berangkat sendiri ke  Sokokembang, yaitu sebuah desa didaerah pekalongan, Jawa Tengah. Kenapa ke daerah sana? Memang ada apa?. Baru-baru ini, saya mendapat kesempatan untuk ikut dalam pengamatan primata yang diadakan oleh Kelompok Study dan Pemerhati Primata Yogyakarta yang dipimpin oleh Mas Arif Setiawan (Mas wawan) dalam sebuah project mengenai “Konservasi Owa Jawa dan Kopi”. Saat mendengar kata tersebut, saya masih belum terbayang. “Bagaimana melestarikan habitat primata jika habitat tersebut beralih fungsi menjadi kebun kopi ?.” Ternyata pertanyaan saya terjawab setelah ikut menjadi Volunteer project tersebut bulan November 2014 lalu.
Gambar 2. Pengamatan kehadiran salah satu primata, yaitu Rekrekan (Presbytis fredericae).
Hutan Sokokembang merupakan hutan sekunder yang menjadi habitat dari primata Owa jawa. Tidak hanya Owa jawa (Hylobates moloch), juga terdapat primata lain yang hidup ditengah rimba Sokokembang yaitu Lutung budeng (Trachypithecus auratus), monyet ekor panjang atau kethek (Macaca fascicularis), dan Rekrekan (Presbytis fredericae). Mereka berperan menjadi penyebar biji dan penyeimbang ekosistem disana. Adanya keberadaan mereka sangatlah penting, mengingat fungsi ekologis mereka dalam suatu ekosistem. Hutan yang mereka tempati, bersandingan dengan desa Sokokembang yang mayoritas penduduknya menjadikan kopi sebagai komoditas utama dalam mengangkat perekonomian keluarga. Beberapa warga memiliki beberapa hektar lahan kopi liar dihutan. Kopi tersebut tumbuh liar dihutan dan diolah secara tradisional untuk kemudian dipasarkan. Pentingnya pengetahuan mengenai teknik dalam produksi kopi liar dengan memanfaatkan pohon alam sebagai peneduh menjadi sangat bernilai dalam upaya konservasi  Owa jawa dan primata lainnya.
 

Gambar 3. Saya (maida) sedang ikut membantu dalam menempel stiker kemasan kopi Owa untuk dipasarkan.
Sebelumnya saya tidak begitu memahami mengenai salah satu tumbuhan ini (kopi), yang saya tahu, tinggal saya “seduh-aduk-minum”, tanpa pernah saya peduli bagaimana kopi ini ditumbuhkan, dipanen, diolah, lalu dipasarkan. Cukup menarik setelah saya ikut kegiatan tersebut. Ternyata terdapat sisi dimana kita bisa “campur tangan” berkontribusi dalam konservasi primata melalui  kopi. Disamping saya sangat tertarik dengan penelitian-penelitian primata, mungkin ini menjadi salah satu tantangan bagi saya untuk turut berkontribusi dalam konservasi primata melalui penelitian-penelitian yang mungkin bisa saya lakukan.


Gambar 4. Perbedaan kopi lanang (kiri) dan kopi yang normal (kanan).


Gambar 5. Biji kopi yang telah dijemur menunggu untuk disortir.

Mendapatkan kesempatan berjumpa dengan beberapa kelompok Owa jawa, lutung, monyet ekor panjang dan rekrekan, menjadi pengalaman luar biasa. Setiap pagi berkesempatan untuk mendengarkan morning call Owa jawa, menjadi nyanyian pagi dalam menyambut hari yang semangat untuk ambil data :D
Selain itu, mata dimanjakan dengan pemandangan alam yang masih asri dan udara yang masih sangat segar di desa Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah.


Gambar 6. Salah satu kopi Owa kemasan.


Tuesday, December 30, 2014

SwaraOwa, menyuarakan pelestarian Owa Jawa dan habitatnya

spectogram suara  Owa Jawa

Hutan Sokokembang, Petungkriono, Pekalongan. Salah satu yang menarik dari mempelajari hidupan liar  adalah perilakunya. Bersuara pada waktu-waktu tertentu, dengan suara yang khas dan intonasi tertentu dan waktu tertentu dan juga kemudian di respon oleh individu atau kelompok lain dengan suara yang khas juga. Inilah yang dalam ilmu pengetahuan di sebut “bioacustic” sinyal suara  yang dikeluarkan oleh hidupan liar oleh untuk tujuan komunikasi dan orientasi, atau pun untuk tujuan tertentu ataupun menunjukkan keberadaan hidupan liar itu sendiri.

Sebagai contoh Owajawa sangat unik perilakunya, untuk melihatnya pun susah, namun hampir setiap pagi primata ini bersuara dan  suara owa yang keras dapat di dengar hinga lebih dari 1.5 km. Dengan topografi habitatnya yang bergunung semakin sulit untuk dapat melihat langsung keberadaan Owa Perilaku bersuara ini juga menjadi identitas individu yang membedakan individu satu dengan yang lain.

Applikasi penelitian ini sementara dapat digunakan untuk tujuan edukasi dan peningkatan kepedulian pelestarian alam. Para pembaca blog yang tinggal jauh dari hutan juga dapat mulai mengenal bahwa hutan , binatang, serangga,kodok,burung,  angin, air dan segala hidupan liar juga mempunyai cara unik untuk berkomunikasi. Selamat mendengarkan suara-suara dari hutan habitat Owa jawa di link berikut ini https://soundcloud.com/sokokembang-petungkriono

Wednesday, December 17, 2014

Sokokembang Primatewatching (Desember 2014)

Mr. Yamato Tsuji sedang melihat Lutung

Tanggal 13 dan 14 Desember 2014, jauh-jauh dari jepang datang ke Sokokembang untuk melihat primata jawa. Mr. Yamato Tsuji  dari PRI Kyoto University meluangkan waktu bersama kami menikmati sajian kopi hutan dan juga melihat langsung bagaimana primata-primata unik pulau jawa ini masih bisa di jumpai di hutan Sokokembang, Pekalongan, Jawa Tengah. Kami baru saja masuk ke wilayah hutan dengan kendaraan, sangat beruntung kami berjumpa dengan rekrekan dalam jarak yang cukup dekat, kira-kira 15 meter, dengan tetap di dalam kendaraan kami terus mengamati kelompok monyet pemakan daun ini. Sampai di Sokokembang kebetulan sekali saat ini generator air (microhydro) kami sedang bermasalah jadi lengkap sudah suasana dusun yang gelap-gulita, dengan minimnya aktifitas dengan alat elektronik. Mr. Tsuji adalah peneliti Lutung jawa, dan sudah beberapa tahun di melakukan penelitian di Pangandaran Jawa Barat, tapi untuk melihat lutung di wilayah jawa Tengah katanya ini yang pertama kalinya. Tanggal 14 Desember pagi kami bersama menyusuri jalan dari Ds. Sokokembang sampai Kroyakan, dan bukan kebetulan juga karena Mr. Tsuji yang peneliti Lutung sepanjang jalan hampir 3 km ini kami menjumpai 4 kelompok lutung dengan jumlah kelompok antara 4-13 individu. Ini populasi yang padat katanya. Obrolan-obrolan tentang rencana penelitian primata bersama dan bagaimana meneruskan kegiatan konserasi di Sokokembang semakin hangat dengan sajian kopi hutan yang di sajikan oleh “barista” warga dusun Sokokembang. Menjadi kebanggaan kami juga dan warga di Sokokembang mendapat tamu yang seneng dengan Lutung dan penikmat kopi.

Hari berikutnya kami ajak Mr. Tsuji melihat langsung proses pembuatan gula aren, dan katanya ini pertama kalinya beliau melihat kalau ada gula yang di proses dari pohon aren yang tumbuh di hutan. Ada obrolan yang cukup menggelitik juga waktu kami ngobrol dengan petani gula aren, salah satu warga pengrajin gula aren  bilang  “bagaimana ya? Orang jepang sudah canggih bikin mobil, motor, radio, tv, dan hp kok bikin gula aren aja tidak tau ..ha..ha..ha.” sendau gurau ini semakin hangat dan mengakrabkan kami walaupun ada kendala bahasa.
Foto bersama ibu-ibu di ds.Tembelan

Monday, December 8, 2014

Ride for Gibbon-Jelajah hutan Hutan Sokokembang

peserta Rideforgibbon

Mentari yang cerah 7 Desember 2014, menyambut para pesepeda yang ingin mengenal lebih dekat habitat Owa jawa. Jalur hutan sokokembang merupakan jalan propinsi antar kecamatan yang menghubungkan kecamatan Doro degan Kecamatan Petungkriono. Jalan ini sudah cukup bagus dan sangat nyaman dilalui.  Jalan ini melalui hutan yang masih relatif bagus dan inilah kawasan hutan yang masih di huni oleh  Owa jawa, si kera kecil kebanggaan Pekalongan.

Karena mudahnya akses ini acara fun bike “ Ride for gibbon” diksanakan menyusuri jalan  di tengah hutan. Tujuan acara kali adalah mengenalkan habitat Owa jawa dan sebagai promosi konservasi wilayah Petungkriono sebagai hutan tropis jawa yang harus di lindungi dan dijaga bersama. Tepat jam 8 pagi, kurang lebih 50 peserta di lepas bersama dari Lapangan dusun Mesoyi dan akan menyusuri rute sepanjang 8 km, dengan finish di curug Cibedug, Ds.Sokokembang. Beberapa peserta nampak antusias sekali dengan sambil mengayuh sepeda melihat rimbunya tajuk dan hijaunya pemandangan di kanan-kiri jalan. Sesekali melihat kanan-kiri menengok apakah ada Owa jawa yang sedang berayun bergerak di antara tajuk pohon.
melihat Owa jawa secara langsung 

Di tengah-tengah acara bersepeda ini, peserta juga melakukan penanam pohon hutan yang menjadi sumber pakan bagi Owa jawa. Pohon sentul atau kecapi hutan  adalah salah satu pohon buah kesukaan owa, warga sokokembang yang menyediakan bibit ini juga telah menyiapkan lokasi penanamannya. Disela-sela acara penanaman pohon ini sajian makanan khas ketela goreng dan seduhan kopi hutan menemani waktu istirahat para pesepeda. Kopi robusta hutan ini telah di olah oleh warga dusun Sokokembang dan produk kopi ini juga menjadi “duta konservasi” untuk pelestarian hutan dan peningkatan perekonomian masyarakat sekitar hutan.
 
salah satu goweser menanam pohon
Setelah acara penanaman pohon, goweser menuruskan menggenjot sepeda menuju Curug Cibedug, yang terletak antara dusun Sokokembang dan ds Tinalum. Jalan yang naik turun dari start dan garis akhir di curug ini dapat dilalui dengan mudah oleh para pesepeda. Sampai di curug cibedug, pesepeda telah di sambut dengan pameran foto-foto sebagai hasil penelitian di hutan sokokembang, yang dilakukan oleh tim SwaraOwa. 
Foto bersama peserta Rideforgibbon