Oleh : Arif Setiawan
 |
| Owa jawa, foto hasil monitoring di Mendolo, foto oleh Hudi |
Desa Mendolo terletak di kecamatan Lebakbarang Kabupaten
Pekalongan, lokasi ini masuk salah satu dari 16 lokasi prioritas untuk habitat
Owa di Jawa Tengah ( Setiawan et al, 2012). Keberadaan owa di wilayah ini juga
menjadi dasar untuk menentukan kegiatan konservasi jangka panjang untuk Owa
jawa , yang dilakukan Swaraowa. Hutan Mendolo terletak di sekitar desa Mendolo,
juga merupakan Kawasan hutan dengan status Hutan Produksi , yang masuk dalam
pengelolaan Perum Perhutani, KPH Pekalongan Timur.
Berdasarkan survey terbaru tahun 2020 (Widyastuti et al 2020),
yang memodelkan prediksi keberadaan owa,
berdasarkan tinjuaan kesesuaian habitat, kawasan ini merupakan habitat owa jawa,
dengan kesesuaian tinggi, dengan nilai kemungkinan perjumpaan owa yang tinggi. Artinya
hutan di kawasan ini sangat cocok untuk owa jawa tinggal, berdasarkan parameter
prediksi seperti kelerengan, suhu, tutupan lahan, jarak terhadap pusat
aktifitas manusia, seperti jalan, dan pemukiman.
Melihat kawasan ini
penting untuk habitat Owa jawa, skema yang sama dengan kegiatan sebelumnya di Sokokembang, untuk meningkatkan ekonomi dan
praktik pertanian wana-tani, merupakan kegiatan yang dikembangkan di dusun ini
untuk konservasi Owa. Awal mula kegiatan masuk di Desa Mendolo, pada tahunahun
2015, ketika waktu itu bersama pemerintah daerah kabupaten Pekalonganuntuk
inventarisasai flora dan fauna dilindungi , (https://swaraowa.blogspot.com/2015/09/survey-bersama-fauna-dan-flora.html
)dan salah satu lokasi surveynya adalah Hutan Desa Mendolo. Sejak saat itu, tim
swaraowa secara rutin berkunjung ke Mendolo.
Kegiatan-kegiatan kunjungan ini menjadi salah satu strategi kami membangun
komunikasi dengan warga Desa terutama, untuk memetakan prioritas komotidas yang
selanjutnya dapat di kembangkan, denga tujuan sebagai pendapatan ekonomi sekaligus mendorong pelestarian hutan.
Owa jawa di hutan Mendolo, berdasarkan survey monitoring
yang dilakukan berdasarkan suara (vocal count) terdapat kurang lebih 4
kelompok. Yang sebarannya terdapat di lokasi-lokasi bervegetasi alami dan susah
di akses manusia, namun juga berada di kawasan yang budidaya agro-forest
( wana-tani), durian dan kopi.
 |
| menikmati madu Mendolo |
Desa, Mendolo juga
dikenal dengan penghasil durian, Kawasan
wana-tani durian ini tumbuh diantara pohon kayu alam, dimana durian
merupakan komoditi yang dibudidayakan secara intensif, dan produk durian dari
Desa ini mensuplai pasar-pasar durian Pekalongan dan sekitarnya ketika musim
panen tiba. Meskipun penelitian tentang produktifitas durian dan faktor bio-ekologi
belum pernah di teliti, namun ada
indikasi kalau produktifitas durian ini, terkait dengan keberadaan pollinator
penyerbuk, seperti kelelawar, (baca
liputan IDN Times tentang kelelawar di Hutan Mendolo ) dan serangga penyerbuk,
seperti lebah-lebah. Salah satu produk komoditas yang terkait dengan wana-tani
durian ini, adalah salah satunya madu, yang melimpah ketika musim bunga durian
tiba. Hampir semua penduduk di desa ini terutama yang laki-laki adalah pemburu
madu hutan. Tradisi berburu madu hutan
ini sudah turun-temurun dilakukan, madu juga menjadi konsumsi dan juga sumber
ekonomi. Hasil survey awal untuk potensi madu hutan di des aini di tulis disini
: https://swaraowa.blogspot.com/2019/08/tradisi-pemanenan-madu-hutan-desa.html.
Berdasar kegiatan ini, akhirnya swaraowa dengan tim Beekeping , mulai memfokuskan kegiatan untuk mengangkat pengembangan
budidaya jenis lebah tanpa sengat, atau klanceng.
 |
| Sepah hutan (Pericrocotus flammeus) |
 |
| Kadal punuk (Gonocephalus chamaeleontinus) |
 |
| Gelatik batu kelabu (Lonchura oryzivora) |
Paguyuban Petani Muda Mendolo menjadi motor penggerakan pelestarian di
mendolo, memupuk semangat kebersamaan dan kebanggaan akan hutan Mendolo. Berawal
dari kegiatan pertemuan dengan di dusun Mendolo dan pelatihan di proses pasca
panen di Swaraowa Yogyakarta, rangkaian
kegiatan anak-anak muda di desa mendolo ini terus muncul. Kegiatan perbaikan
pasca panen kopi telah berhasil mendirikan “ Kopi Batir “, kewirausahaan kecil
yang menghasilkan produk lokal dari kopi robusta dusun Mendolo. Seperti
slogannya, “nepungke seduluran”, yang berarti kopi juga bertujuan mempererat
persaudaraan, kegiatan PPM Mendolo juga membangun kesadaran generasi muda
Mendolo untuk lebih peduli dan melestarikan hutan dan nilai penting keberadaan hidupan
liar, sebagai penghuni hutan dan mengoptimalkan nilai penting keberadaannya
sebagai penyedia jasa ekologi.
Kegiatan-kegiatan untuk memperkuat perlindungan Kawasan
hutan pelan namun pasti terus dipupuk, inisiasi-insiasi dari warga untuk
merawat alam.Kegiatan pengamatan primata, burung, telah dan sedang di kembangkan di
Mendolo ( foto-foto diatas adalah beberapa species yang di jumpai selama pengamatan) tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas generasi muda, mengenal hidupan liar penting disekitar desa, burung
dan flora fauna juga merupakan asset desa yang harus di jaga kelestariannya, bukan
tidak mungkin kemudian hari dapat mendatangkan keuntungan secara ekonomi yang
lebih lestari.
Beberapa produk hasil kegiatan di dusun Mendolo dapat di
peroleh melalui Kopi Batir dan Owa coffee. Meskipun masih dalam skala kecil,
kopi dan madu hutan hasil budidaya warga dapat membantu memotivasi warga
sekitar hutan dan mendukung kegiatan konservasi Owa dan pelestarian hutan di
kawasan hutan Mendolo dan sekitarnya.