Friday, November 3, 2023

Perayaan Hari Pangan Sedunia 2023: Kebun brayan urip dan Pentas kethoprak sayur

Oleh: Cashudi (Koordinator Paguyuban Petani Muda Mendolo)

Pentas Kethoprak " Suara Sayur"
Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo pada tahun ini, untuk kedua kalinya, mengorganisir perayaan Hari Pangan Sedunia. Perayaan ini bertujuan untuk mengenalkan pangan lokal yang ada di sekitar hutan Desa Mendolo terutama bagi generasi muda. Untuk pelaksanaannya, kami memilih tanggal 28-29 Oktober 2023. Perayaan kali ini memang tidak bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2023 dengan berbagai pertimbangan, seperti mengakomodir hari libur bagi adik-adik yang masih bersekolah agar mereka bisa berpartisipasi.

Desa kami kaya akan potensi pangan lokal. Sampai saat ini, kami sudah berhasil mendata lebih dari 85 jenis pangan lokal yang terdiri dari jamur, buah hutan, umbi-umbian, dan sayuran hutan. Kami dibantu Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam Biolaska UIN Sunan Kalijaga, Indonesia Dragonfly Society, dan Yayasan Swaraowa telah memproduksi booklet katalog pangan lokal. Booklet ini meskipun belum mencakup semua jenis, harapannya bisa dibaca semua kalangan, terutama generasi muda di desa kami sendiri yang mungkin pengetahuan tentang pangan lokal masih kurang.

Kebetulan, tahun ini tema Hari Pangan Sedunia adalah “air adalah pangan, air adalah kehidupan”. Kami sekalian mengisi perayaan tahun ini dengan acara launching “Kebun Brayan Urip”. Kebun ini nantinya difungsikan sebagai fasilitas pembibitan tanaman hutan untuk konservasi air dan satwa liar, serta sebagai pusat belajar masyarakat mengenai pertanian dan kehutanan. Brayan Urip sendiri adalah sebuah bentuk kearifan lokal dalam penghargaan kepada semua makhluk. Kami ingin menggali lebih dalam lagi pesan-pesan yang terkandung dalam kearifan Brayan Urip ini.

meramban sayur liar di hutan Mendolo

Beberapa rangkaian acara mengisi perayaan hari pangan sedunia tahun ini. Pada hari pertama (28 Oktober 2023), kami mengajak segenap warga Mendolo, mahasiswa dari Biolaska UIN Sunan Kalijaga, teman-teman mahasiswa KKN UIN Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan beberapa tamu yang ikut trip untuk “meramban” bersama. Istilah meramban ini maksudnya adalah mencari dan mengumpulkan sayur dan makanan yang biasa dikonsumsi warga dukuh Sawahan yang tumbuh liar di hutan, kebun, maupun area persawahan.

Peserta meramban dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing menuju arah yang berbeda. Kelompok pertama dipimpin oleh saya sendiri, sedangkan kelompok kedua dipimpin oleh mas Diran. Selesai kegiatan, kami mengumpulkan hasil meramban di rumah Bapak Kasdani. Sayur, jamur, dan buah-buahan dipilih sesuai jenisnya masing-masing. Kami juga mendokumentasikan jenis-jenis tumbuhan yang tahun kemarin belum masuk dalam data kami.

salah satu adegan kethoprak suara sayur


Di sore harinya, kami mengisi acara dengan workshop daun pisang sebagai kemasan pangan. Kami mengumpulkan ibu-ibu dan anak-anak beserta teman-teman mahasiswa untuk pelatihan atau belajar membuat takir atau wadah makanan yang terbuat dari daun pisang. Dengan adanya workshop ini kami berharap agar warga mau kembali menggunakan kemasan dari daun yang jelas ramah lingkungan, sehingga bisa mengurangi produksi sampah plastik.

penonton ketoprak suara sayur


Pada malam harinya, kami memberi kesempatan para peserta dan mahasiswa untuk ikut pengamatan satwa nokturnal. Hewan target yang kami cari pada malam itu antara lain: kukang jawa, landak, burung celepuk, dan burung paruh kodok. Alhamdulillah, pada malam itu kami berhasil menjumpai burung paruh kodok dalam jarak yang sangat dekat.

Pada acara puncak atau pada hari kedua, kami isi dengan acara launching kebun Brayan Urip. Kami mengundang berbagai pihak untuk ikut menjadi saksi launching kebun Raya Urip ini. Pada acara ini, kami menampilkan hiburan ketoprak sayur dengan lakon “suara sayur”. Setelah persiapan yang cukup panjang, kurang lebih dua bulan, pertunjukkan yang dimainkan para anggota PPM Mendolo dibantu mas Adin dari Swaraowa berhasil memeriahkan perayaan hari pangan tahun ini. Tentu saja tidak hanya kemeriahan yang kami harapkan, namun juga pesan atau kampanye pangan lokal dan konservasi hutan yang hendak disampaikan melalui pertunjukan tersebut semoga bisa diterima dengan baik.

foto bersama seluruh pemain, warga mendolo dan perwakilan pemerintah desa dan dinas terkait


Selesai acara launching, semua peserta dan tamu undangan serta warga Dusun Sawahan diarahkan ke kampung untuk makan bersama dengan menu hasil meramban pada hari pertama. Menunya cukup banyak, ada urap daun pakis, sayur bening daun ketupuk, lodeh lompong, oseng daun slempat, dan aneka sambal seperti kecombrang, klanting, kluwek, dan ukel. Buah durian sumbangan warga masyarakat Sawahan menjadi hidangan penutup bagi para tamu.

Saya mewakili PPM Mendolo mengucapkan banyak terima kasih kepada segenap tamu undangan, antara lain: CDK IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Perum Perhutani yang diwakili BKPH Karanganyar, Camat beserta Muspika Lebakbarang, Kepala Desa Mendolo berikut perangkatnya. Tak lupa kepada Yayasan Swaraowa, Indonesia Dragonfly Society (IDS), Biolaska UIN Sunan Kalijaga, mahasiswa KKN UIN Gusdur unit Mendolo, serta semua warga masyarakat yang sangat antusias ikut membantu dan meramaikan acara kami ini. Ke depannya, kami berharap perayaan hari pangan bisa menjadi agenda rutin di Desa Mendolo, dan bisa mengundang para wisatawan datang ke desa kami. 

Salam.

Wednesday, November 1, 2023

Hari Owa 2023 : Camping Owa di Siregol, Kramat, Purbalingga

oleh : Arif Setiawan
camping ground Ds. Kramat

Tanggal 24 October setiap tahun diperingati sebagai hari owa internasional, sebagai bentuk campanye untuk pelestarian Owa di Indonesia. Swaraowa sejak 3 tahun yang lalu menggunakan momentum hari owa sedunia ini untuk mempromosikan kegiatan yang fun untuk mengenal owa, dan habitat aslinya melalui  pengamatan owa “gibbon watching” atau “gibbonning”.

Seperti kegiatan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2023 ini SwaraOwa berkolaborasi dengan KP3 Primata, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada mengadakan perayaan Hari owa ini dengan tema “gibbon camp”. Kamping untuk Owa, kurang lebih seperti itu tujuan acara ini. Konsep acara yang di kemas secara santai namun juga untuk mengumpulkan informasi terkait owa dan habitat aslinya, dan Masyarakat yang terlibat langsung dalam upaya pelestariannya. Tujuan kami Gibbon camp 2023 ini adalah Desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga. Lokasi ini pernah kami survey pertamakali ke wilayah ini pada expedisi owa jawa tahun  2013. Waktu itu kami mengidentifikasi populasi di pegunungan Siregol -Kramat-Ardilawet ini sup populasi yang terpisah dari 2 populasi owa jawa di jawa Tengah yaitu, Gunung Slamet dan landskap pegunungan Dieng.

foto bersama KP3 Primata, Sigotak dan SwaraOwa

Owa jawa siregol Kramat

Kemudian pada tahun 2016-2017, mas Faiz  ada salah satu warga dari desa Kramat ini, entah darimana bisa nyambung dengan kegiatan swaraowa waktu itu, yaitu ikut acara Pelatihan Metode Survey Primata di Sokokembang, darisinilah terus berkomunikasi dengan mas Faiz dan teman-teman nya di Kramat untuk konservasi owa Jawa, sampai saat ini Sigotak Narasi Konservasi menjadi nama sekaligus branding konservasi untuk desa Kramat.

Pada tahun  sebelumnya swaraowa juga pernah mendukung kegiatan Siregol Primate Watching, dan antusiasme warga terutama pegiat lingkungan di Purbalingga waktu itu cukup positif. Mas Faiz juga mereplikasi keberhasilan kopi owa di Kramat, untuk mempromosikan konservasi owa dan juga kegiatan ekonomi, dengan kopi sigotaknya, tentu saja karakter owa brakiasi ada di kemasannya.

Kopi  Owa Sigotak

Acara gibbon day 2023 tanggal 24-25 October  kembali swaraowa mengunjungi Kramat Siregol untuk setidaknya menguatkan saling mendukung dan mempromosikan konservasi Owa. Teman-teman KP3 primata sebanyak 16 orang ikut bersama memeriahkan acara ini, dan camping 1 malam dan pengamatan ke esokan harinya menjadi acara inti dari gibbon day kali ini. Didampingi oleh tim Sigotak, camping ground yang tersedia di halaman taman Bumdes sKramat sangat nyaman, dengan latar belakang pegununganBeser- Siregol-Kramat-cupu-simembut-ardilawet. Camping ground ini sudah lengkap fasilitasnya, listrik air, masjid, toilet dan ada kantor penjaganya, yang bawa mobil camper/ camper van bisa langsung parkir dan mendirikan tenda. Teman-teman KP3 primata juga membawa tenda masing-masing, makan bisa sekaligus di pesan atau mau masak sendiri juga bisa.

Malam hari tanggal 24 kita sampai di Kramat, langsung kami di sambut oleh mas Faiz di kafe nya, dan dilanjuktan mendirikan tenda saat itu juga kemudian makan malam dan disaambung dengan diskusi tentang persiapan pengamatan besok paginya.

Jam 4.30, suara adzan dari masjid di camping ground membangunkan kami semua, pas sekali sekaligus persiapan pengamatan , dan jam 5.30 oleh teman-teman sigotak, “Coak” mobil pick up sudah stanby membawa kami ke lokasi pengamatan.

Jarak camping ground dan lokasi pengamatan kurang lebih 10 menit naik mobil, ada tanjakan yang cukup curam dan sempit menuju lokasi pengamatan, sangat disarankan menggunakan kendaraan dan driver setempat untuk naik ke lokasi pengamatan Owa, yang berada di tepi tebing curam Sungai Tambra. Jalan ini juga jalan utama menuju desa Sirau, dan kita pernah menyusuri jalan ini hingga ke Watukumpul, dimana ada sub-populasi owa juga di hutan-hutan yang sudah terfragmentasi di pegunungan Tengah antara gunung slamet dan pekalongan ini.

Tebing batu curam dan rapatnya vegetasi di bagian bawah jurang menjadi habitat istimewa pagi owa dan primata lainnya di siregol Kramat, karena tidak ada kemungkinan akses manusia masuk dan mengganggu atau merusak hutan disini. Untuk menemukan Owa atau me motret owa disini disarankan menggunakan alat bantu binokuler atau monokuler, karena jaraknya yang cukup jauh, dan camera dengan tele setidaaknya 600-900 mm, akan sangat membantu mengabadikan gerakan primata atau owa.

Kelompok lutung teramati yang pertama kali, kemudian kelompok Owa. Jarak yang jauh dari pengamat, menjadikan pengamatan disini tidak membuat owa menjadi takut, atau pergi, jadi kalau kita menyiapkan alat pantau jarak jauh sepert camera dengan tele dan tripod sangat menyenangkan melihat perilaku owa disini.


Owa Jawa ( Hylobates moloch) individu yang teramati di siregol

Kemudian kami berjalan mendaki menyusuri jalan siregol ini, kelompo owa yang terlihat sangat jauh, hingga teman-teman yang kurang biasa dengan pengamatan jarak jauh agak kesulitan menemukan owa yang bergerak, ayunan cabang pohon menjadi pemandu untuk menemukan Owa. Satu kelompok yang kami temui terdiri 4 individu dan terlihat menggendong bayi. Agak susah melihat detail apa yang dimakan oleh owa ini, namun setidaknya kami mengidentifikasi jenis-jenis ficus atau beringin buahnya yang dimakan.

Sambil pengamatan tentusaja mendiskusikan apa yang kita lihat bersama,penelitian atau apapun terkait owa disini sangat mungkin di kaji untuk penelitian tugas akhir atau skripsi. Membangun hipotesis-hipotesis pertanyaan-pertanyaan ilimiah, akan lebih mudah jika kita melihat langsung kondisi dilapangan daripada hanya berdasarkan teori-teori di kelas.

Gibbon watching atau gibboning ini juga menjadi sarana promosi wisata minat khusus, dari antusiasme di sosial media story di IG swaraowa mendapatkan impression 5.024, dimana 44% merupakan non followers. Mengenalkan daerah dan juga memperkuat branding konservasi yang sudah di inisiasi oleh Sigotak Narasi Konservasi bahwa kawasan ini merupakan kawasan penting untuk konservasi Owa di Jawa Tengah.






Tuesday, October 17, 2023

LUTUNG JAWA, PRIMATA ENDEMIK DI RIMBA SOKOKEMBANG

oleh : Intan Rachmadanti Al-Huda













Saya mahasiswi  program studi  Kehutanan, Unversitas Sebelas Maret Surakarta, salah satu penerima beasiswa swaraowa, untuk tujuan penelitian Lutung Jawa. Pengamatan  lapangan telah dilakukan pada Bulan Mei hingga Bulan Juni 2023, Kami mengamati populasi dan persebaran lutung jawa di hutan Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan. Lutung jawa (Trachypithecus auratus) merupakan satwa endemik Pulau Jawa dan Bali yang populasinya semakin menurun dalam 36 tahun terakhir. 

Lutung jawa termasuk dalam primata dilindungi yang hidup secara berkelompok. Berdasarkan International Unioun for Corservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List 2021 lutung jawa termasuk dalam kategori Vulnerable atau rentan. Sedangkan menurut CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), lutung jawa termasuk kategori Appendix II. 













Kami melakukan pengamatan pada pagi dan sore hari pada jam aktif lutung jawa. Selama pengamatan, kami mengamati sebanyak 11 kelompok lutung jawa dengan jumlah individu sebanyak kurang lebih 100 individu lutung jawa yang tersebar di hutan Sokokembang. Tidak hanya lutung jawa, kami juga bertemu berbagai jenis satwa lainnya selama pengamatan. Surili (Presbitys fredericae), owa jawa (Hylobates moloch), dan Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah jenis primata selain lutung jawa yang kami temukan di hutan Sokokembang. Selain primata terdapat pula beberapa jenis satwa lain yang seperti elang jawa (Nisaetus bartelsi), julang emas (Rhyticros undulatus), babi hutan (Sus scrofa), dan kijang (Muntiacus muntjak). Pada saat pengamatan lutung jawa, kami juga menemukan jejak kaki mamalia yang diduga merupakan macan tutul jawa (Panthera pardus melas). 

Setiap kelompok lutung jawa umumnya terdiri atas individu dewasa, remaja, dan anak. Individu anak lutung jawa yang baru lahir memiliki rambut berwarna orange yang sangat berbeda dengan lutung jawa dewasa yang memiliki warna rambut hitam. Pada saat pengamatan, terdapat beberapa individu lutung jawa berwarna orange yang sedang dalam gendongan induknya. selain itu juga terdapat individu anak yang telah berubah warna menjadi hitam yang juga teramati sedang bersama induknya. Warna orange ini pada bayi lutung terkait dengan pola asuh allomothering, dimana semua individu dewasa berperan sebagai induk pengasuh dan penjaga untuk bayi yang masih rentan, warna yang mencolok akan menarik perhatian individu lutung dewasa lainnya dalam satu kelompok untuk menaruh perhatian kepada bayi lutung. Pada pengamatan kali ini diketahui bahwa jumlah individu dewasa mendominasi struktur umur lutung jawa di hutan Sokokembang.













Kelompok lutung jawa bersifat uni-grup (one male and multi female) yaitu hanya terdapat satu individu jantan dewasa yang mendominasi dan memiliki tugas sebagai pemimpin kelompok dimana harus mengawasi, melindungi, dan memastikan anggota kelompoknya dalam keadaan aman. Oleh karena itu, lutung jawa termasuk satwa poligami karena jumlah betina lebih banyak dibandingkan dengan jumlah jantan dalam satu kelompok. Berdasarkan hasil pengamatan kami, lutung jawa di hutan Sokokembang terdiri atas 3 hingga 23 individu dalam setiap kelompok. Hal itu terjadi karena perbedaan kemampuan regenerasi setiap individu dan keberadaan predator yang berbeda pada setiap wilayah jelajah lutung jawa di hutan Sokokembang. 

Lutung jawa merupakan primata arboreal yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya dengan beraktivitas diatas pohon. Mulai dari aktivitas makan hingga aktivitas istirahat juga dilakukan diatas pohon.. Kami juga mengamati lutung jawa sedang melakukan aktivitas grooming diatas pohon. Grooming merupakan kegiatan mencari dan mengambil kotoran atau parasit dari permukaan kulit dan rambut.

Sunday, October 15, 2023

Gibbon goes to school : kegiatan edukasi konservasi untuk anak-anak sekolah disekitar habitat Owa

 oleh : Kurnia Ahmaddin

camping dan pengamatan bersama kelompok pecinta alam  SMA 1 Batang 

Rangkaian kegiatan kunjungan ke sekolah dan desa-desa sekitar habitat owa, telah dilakukan tim swaraowa, selama periode bulan Mei hingga Oktober 2023, yaitu :

SMA 1 Maarif Doro

Tanggal 30 Mei 2023, swaraowa berkunjung ke SMA 1 Maarif Kecamatan Doro, bersama guru pembimbing dan kurang lebih 50 an siswa, kami mengenalkan primata dan satwaliar lainnya khususnya burung-burung liar, di hutan Sokokembang yang hanya berjarak kurang lebih 25 km dari sekolah ini.  Kegiatan ini di kemas dalam suasana kelas dan praktek lapangan untuk pengamtan jenis-jenis burung di sekitar sekolah.

Anak-Anak ds. Sokokembang

Pada tanggal 27 Agustus 2023, SwaraOwa bersama mahasiswi Biologi pascasarjana Universitas Gadjah Mada mengadakan sebuah kegiatan eksplorasi yang bertajuk “Belajar lebih dekat dengan alam”. Kegiatan ini ditujukan untuk adik-adik sekolah dasar yang ada di Dusun Sokokembang, Desa  Kayupuring, Sokokembang, Petungkriyono. Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan kepedulian adik-adik terhadap hutan dan lingkungan sekitar. Ada tiga objek utama yang menjadi tujuan eksplorasi yaitu burung, kupu-kupu, dan capung.

Laporan lengkap kegiatan ini dapat di baca di sini : https://swaraowa.blogspot.com/2023/09/sekolah-eksplorasi-ke-1.html

mendampingi anak-anak pengamatan burung di sekitar kampung

SMA 1 Batang

Tanggal 30 September dan 1 Oktober, tim swaraOwa melakukan kegiatan edukasi konservasi untuk kelompok pecinta alam Gasmapala SMA 1 Batang. Berlokasi di Welo Asri, desa Kayupuring ada 33 siswa yang didampingi oleh 4 guru. Tujuan kegiatan ini adalah mengenalkan satwaliar dan memberikan dasar-dasar Teknik pengamatan satwaliar khususnya primate dan burung.

Acara di hari pertama dengan pematerian kelas, dan  diiskusi ,kemudian siswa semakin penasaran dengan satwa liar di hutan Petungkriyono.  Menjawab rasa penarasan siswa di hari kedua mulai pukul 7.30 hingga 11.00 kami beserta siswa melakukan pengamatan satwa liar di sekitar Welo Asri. Kami membagi tim menjadi 4 dengan dibantu oleh kawan-kawan Welo Asri kami dampingi mereka selama melakukan observasi di lapangan. Pada akhir sesi seperti biasa siswa di beri tugas untuk presentasi kepada masing-masing kelompok. Hasil presentasi siswa cukup baik dalam menjelaskan ciri fisik satwa yang mereka jumpai mulai dari Lutung jawa ( Trachypithecus auratus) dan beberapa jenis burung yaitu Pentis Pelangi (Prionochilus percussus) , Cabai bunga-api (Dicaeum trigonostigma )dan Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster)

Penutup dari guru SMA 1 Batang besar harapan mereka agar tiap semester ada kegiatan bersama dengan Swaraowa.

Kegiatan kunjungan ke sekolah ini selain merupakan untuk menyebarluaskan pesan-pesan konservasi kepada anak-anak usia sekolah juga menjadi sarana peningkatan kapasitas tim dan peningkatan pengalaman mengkomunikasikan kegiatan konservasi kepada anak-anak sekolah. untuk tim kami juga melibatkan warga sekitar yang biasanya ikut dalam kegiatan penelitian atau monitoring, mereka menjadi pendamping langsung dari anak-anak yang sebagian besar juga tetangganya sendiri. mengurangi rasa sungkan anak-anak yang biasanya malu berinteraksi langsung dengan orang yang belum mereka kenal, bagi tim warga lokal setidaknya hal ini memotivasi mereka untuk berbuat sesuatu untuk desa dan orang-orang terdekat mereka di lingkungan sekolah.


Wednesday, September 20, 2023

Sekolah Eksplorasi ke 1

 Oleh Fanny Sukma Sundari


Pada tanggal 27 Agustus 2023, SwaraOwa bersama mahasiswi Biologi pascasarjana Universitas Gadjah Mada mengadakan sebuah kegiatan eksplorasi yang bertajuk “Belajar lebih dekat dengan alam”. Kegiatan ini ditujukan untuk adik-adik sekolah dasar yang ada di Dusun Sokokembang, Desa  Kayupuring, Sokokembang, Petungkriyono. Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan kepedulian adik-adik terhadap hutan dan lingkungan sekitar. Ada tiga objek utama yang menjadi tujuan eksplorasi yaitu burung, kupu-kupu, dan capung.

Kegiatan ini dimulai dengan senam bersama dan pembagian kelompok. Setiap kelompok dibimbing oleh dua orang pendamping. Adik-adik dan pendamping diberi waktu sekitar satu jam untuk menemukan ketiga objek ekplorasi dengan alat tangkap berupa sweepnet (kupu-kupu dan capung), dan binokuler (pengamatan burung). Setelah berhasil menemukan objek ekplorasi, selanjutnya digambar dan dideskripsikan. Saat adik-adik menggambar, pendamping menjelaskan fungsi dari burung, capung dan kupu-kupu di alam. Objek yang telah ditangkap dilepas kembali. Sambil menunggu kegiatan eksplorasi, kita juga mengadakan lomba mewarnai bagi adik-adik usia dini yang turut serta dalam kegiatan sekolah eksplorasi ini.



Selain bertajuk alam, sekolah ekplorasi juga diselingi dengan kegiatan pengenalan permainan tradisional dengan tujuan agar adik-adik mampu mengenal permainan tradisional dan meningkatkan bonding di antara mereka. Permainan tradisional yang dikenalkan diantaranya engkleng, dan boyi-boyian. Seluruh peserta bermain dengan antusias. Para orang tua dari adik-adik juga turut memeriahkan acara dengan memberikan semangat dan tepuk tangan.

Setelah kegiatan ekplorasi di alam berakhir, setiap kelompok dikumpulkan dan dilanjutkan dengan kegiatan tanya-jawab dan pembagian hadiah. Peserta dibimbing untuk berani tampil ke depan dan menceritakan hasil eksplorasi kepada kelompok lain. Adik-adik yang dapat menjawab pertanyaan seputar kegiatan eksplorasi yang telah dilalui, diberi hadiah berupa buku dan alat tulis lainnya. Kegiatan eksplorasi ditutup dengan foto bersama.

Tuesday, September 19, 2023

SWARAOWA di Kongres Primata Dunia 2023

Oleh : Arif Setiawan

berbagi pengalaman dalam sesi diskusi Primate Watching

Tanggal  19-24 Agustus 2023, menjadi moment bersejarah untuk  kami tim swaraOwa,  berkumpul dengan komunitas primata dan pegiat konservasi  global untuk meng-update pengetahuan tentang  primatologi dan konservasi,   membangun jejaring , berbagi pengalaman dan diskusi terkait dengan penelitian dan kegiatan konservasi primata dalam acara kongres dan simposium primata dunia yang ke19. Bertempat di Borneo Convention Center Kuching (BCCK) , Sarawak Malaysia, acara ini dikelola oleh International Primatological Society dan Malaysian Primatological society, menurut laporan panitia terdapat 500 orang yang hadir  dari 60 negara.  Tema congress dan symposium kali ini “ Primate and People : a new horizon

foto bersama delegasi dari Indonesia di IPS 2023

SwaraOwa, memberangkatkan 3 delegasi ke acara ini  saya  , Nur Aoliya dan Sidiq Harjanto. Kongres ini yang ke-6 kalinya bagi saya, dan yang pertamakalinya untuk Aoliya dan Sidiq. Menurut panitia dalam laporannya ada sekitar 600 Abstract (oral presentasi dan poster) dan yang hadir ada kurang lebih 500 orang dari 60 negara, ini merupakan  pertemuan tiap dua tahunan,  para peneliti dan ahli primata dari seluruh dunia.  Konsep acara dibagi menjadi symposium dan roundtable diskusi, selama 5 hari peserta bebas memilih symposium mana dan roundtable diskusi yang diminati dan juga forum pertemuan ini memberikan kesempatan kita untuk bertemu dengan siapapun peneliti, donor, pegiat konservasi primata dari seluruh dunia, untuk saling kenal dan berjejaring.

Aoliya, membawakan presentasi di IPS 2023

Hari pertama presentasi saya mempresentasikan kegiatan di Mentawai yang selama ini kami laksanakan dengan Malinggai Uma Mentawai, untuk pelatihan kepada guru-guru dan menggunakan kartu permainan Quartet game sebagai media edukasi. Kartu Quartet game yang kami bawa juga mendapat appresiasi dalam lelang untuk konservasi primata, silent auction yang di organize oleh panitia.

Presentasi tentang quartet game untuk edukasi konservasi primata mentawai di IPS 2023

Tanggal 21 Agusutus, 2023, saya memimpin sebuah roundtable diskusi berjudul “ Sustainable business models that drive primate conservation: Success stories from around the world” dengan konsep presentasi dan diskusi intensive, roundtable ini mendapat atensi dari kurang lebih 45 orang, dari berbagai negara, dengan menghadirkan narasumber utama dari Peru, Singapore, dan Indonesia.  Sidiq Harjanto dari tim swaraowa juga bergabung dalam roundatable diskusi kali ini dengan presentasi tentang kegiatan budidaya lebah untuk konservasi Owa Jawa.

Sidiq, memberikan presetasi tentang Beekeeping di habitat Owa jawa


Sore hari tanggal 21 Agustus 2023, presentasi kedua, dalam symposium owa yang di organize oleh IUCN Section on Small Apes masih tentang program kegiatan di Mentawai “ berjudul Siripok Bilou” grass root initiative for Mentawai Kloss’s gibbon.

Nur Aoliya, mewakili swaraowa mempresentasikan kegiatan pelatihan metode survey primata yang dilakukan sejak tahun 2013, bergabung dalam roundtable diskusi bertema Capacity building programs for habitat country primatologists: Gaps, challenges, and successes

Acara kongres dan symposium kali ini memberikan kesempatan kepada tim swaraowa untuk lebih percaya diri berinteraksi dalam komunitas global, mengenalkan kegiatan-kegiatan swaraowa yang telah lakukan untuk melestarikan primata Indonesia, khususnya jenis-jenis owa. 

  

 

 

Thursday, August 10, 2023

"Satu Dekade Owa Jawa di lanskap Pegunungan Dieng, Jawa Tengah"

 


Press release 

"Satu Dekade Owa Jawa di lanskap Pegunungan Dieng, Jawa Tengah"

Yogyakarta, 10 Agustus 2023. Owa jawa ( Hylobates moloch) sebagai satu-satunya kera yang ada di Pulau Jawa, dapat dikatakan sebagai indentitas global, karena negara kita Indonesia juga dikenal dari keberadaan jenis-jenis endemik seperti Owa yang tidak dapat di jumpai secara alami di negara-negara lain. Memastikan populasi dan habitat alamnya tetap ada adalah penting untuk Indonesia.

Populasi dan distribusi owa di Pulau jawa, hanya terdapat di Jawa Barat dan di Jawa Tengah. Di Jawa Tengah ada dua populasi besar saat ini yaitu di Gunung slamet dan komplek kawasan hutan yang membentang di bebera kabupaten ( Kendal, Batang, Wonosobo, Banjarnegara dan Pekalongan), yang selanjutknya disebut lanskap pegunungan Dieng.

Tahun 2012 Setiawan, dkk, (https://smujo.id/biodiv/article/view/208)  melakukan penelitian populasi dan distribusi Owa di Jawa Tengah. Metode jalur transek pengamatan langsung digunakan dalam penelitian ini, dan hasil estimasinya  saat ini kurang lebih ada 881 individu di lanskap pegunungan Dieng dan  175 individu di gunung Slamet.  Hasil penelitian ini selanjutnya juga menjadi dasar dari rangkaian kegiatan swaraOwa di jawa Tengah. Setelah penelitian ini Swaraowa memfokuskan kegiatan konservasi di salah satu lokasi yang disebutkan dalam penelitian itu memiliki kerapatan  sekaligus ancaman tertinggi di hutan Sokokembang, Kecamatan Petungkriyono, Kab.Pekalongan. Dari hutan Sokokembang inilah saat ini kegiatan-kegiatan konservasi Owa di Lanskap dieng ini di kembangkan hingga saat ini, melalui Proyek Kopi dan Konservasi Primata.

Tahun 2023, setelah  satu dekade tersebut, bagaimana populasi Owa di Jawa Tengah, khususnya di lanskap dieng ini?

Salmah Widyastuti, dan tim kemudian memimpin penelitian di tahun 2021-2022 untuk memperbaharui informasi terkait populasi dan distribusi Owa Jawa di lanskap Dieng  dan sudah di publikasi di https://bdj.pensoft.net/article/100805/ . Dengan menggunakan teknik survey berdasarkan suara ( vocal count-triangulasi) dan juga analisis kesesuaian habitat, hasil penelitian mendapatkan estimasi populasi setelah satu dekade ada 1092 individu di landscape pegunungan Dieng. Artinya ada kenaikan populasi sebesar 23% di banding 10 tahun lalu. Peningkatan populasi ini dapat mengindikasikan keberhasilan upaya konservasi dari banyak pihak di lanskap Dieng . Namun, lebih banyak upaya dan kolaborasi harus dilakukan untuk memastikan masa depan jangka panjang dari Owa di  bagian tengah Pulau Jawa.

SWARAOWA

Arif Setiawan – Direktur Proyek Kopi dan Konservasi Primata , e-mail : swaraowa@gmail.com (WA 081329061732)