Wednesday, June 17, 2026

Laporan Perjalanan Survei Bilou di Jantung Siberut, Matotonan

Oleh : Aloysius Yoyok

pondok menginap tim siripokbilou 

Kamis 21 Mei 2026 tim Siripokbilou berangkat dari kediaman kami di pesisir timur Siberut bagian selatan menuju ke arah pedalaman Siberut. Di tahun 80 an, Norman Edwin, petualang legendaris yang pernah mengunjungi kawasan ini menyebutnya sebagai jantung Siberut. Tidak salah karena memang kawasan ini terletak di bagian paling tengah di Siberut bagian selatan. Kawasan ini juga menjadi kawasan perbatasan lembah Rereiket di tengah pulau Siberut dan Sagulubek di bagian barat Siberut.  Kawasan ini memiliki banyak kisah interaksi antar uma di masa lalu, kisah yang di masa kini masih dikenang dan diwariskan oleh generasi-generasi tua di Siberut. Di kawasan itu kita juga masih bisa menemukan kelompok-kelompok penduduk yang mempraktikkan kehidupan sehari-hari dengan warisan masa lalu mereka; sikerei, tato tradisional,uma, pusainakat (peternakan babi tradisional) dan cara interaksi penduduk di kawasan itu yang masih memperlihatkan warisan neolitik. Di sebalik perbukitan Teitei Bake ini juga terletak sungai Kuddei, tempat uma Sakudddei bermukim. Kelompok penduduk Siberut yang dikenal sebagai pewaris budaya Siberut.

Kawasan perbatasan 3 lembah itu adalah perbukitan Teitei Bake. Jika dari arah barat, kawasan ini adalah hulu dari beberapa anak sungai yang mengalir ke arah barat pulau Siberut dan terkumpul menjadi sungai Sagulubek. Di masa kini, penduduk dari Sagulubek yang terjebak cuaca laut yang terkadang memburuk di pertengahan tahun saat anak-anak mereka yang bersekolah di pesisir timur Siberut mendapatkan liburan kenaikan kelas dan mereka tidak bisa menempuh perjalanan laut, atau penduduk yang ingin berhemat karena ongkos perjalanan laut yang mahal bisa mereka pergunakan untuk membeli bahan makanan, maka jalur jalan setapak yang melintasi bentang alam perbukitan ini kemudian akan lebih sering dilintasi oleh para penyintas itu.

Perjalanan

Perjalanan dimulai dari lembah Sabirut, pesisir timur Siberut tempat tinggal kami. Dimulai dengan memanfaatkan jalur jalan darat yang sejak 2016 dibuka oleh pemerintah daerah yang disebut sebagai jalur Trans Siberut ruas Puro-Rereiket. Jalur jalan darat itu kini berupa jalanan berlumpur tetapi masih bisa dilalui oleh beberapa mobil milik beberapa penduduk pendatang yang selalu mengeluhkan beratnya menempuh perjalanan darat dan mahalnya ongkos perbaikan mobil mereka itu. Perjalanan di ruas pertama ini hanya sampai di pemukiman di Rokdog, tepatnya di tepian jembatan sungai Rokdog. Sudah beberapa bulan jembatan kayu penghubung itu gelagar kayunya patah akibat lapuk dimakan usia. Beberapa ruas papan kayu di jembatan itu juga masih terlihat hitam menjadi arang, hasil vandalisme kelompok-kelompok kecil masyarakat yang kecewa terhadap proses pembangunan dengan membakar jembatan itu, beberapa minggu lalu. Setiba di jembatan itu, tidak lama kemudian di seberang sana muncul mobil lain milik Aman Tegui penduduk lokal Rokdog yang sudah kami hubungi sehari lalu untuk mengantar kami sampai di Ugai, sebuah dusun bagian dari desa Madobag. Perjalanan yang bisa ditempuh dengan memanfaatkan jalur jalan darat dengan kendaraan beroda 4 hanya sampai di situ saja. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 2,5 jam itu hampir membuat seorang penumpang yang tidak terbiasa menumpang mobil bisa mabuk.

Tiba di Ugai kami segera bergegas untuk mengangkut barang-barang kami menuju sosoroat, bagian tepian sungai yang biasa dipergunakan oleh penduduk untuk menambatkan pompong, perahu bermesin modifikasi  Aman Maryati Samoan Muntei, seorang penduduk Matotonan yang juga sudah kami hubungi 2 hari lalu sudah menunggu kami. Langit terlihat gelap membuat kami bergegas menyusun tas dan perbekalan untuk kegiatan survei yang diperkirakan akan memakan waktu sekitar 5- 6 hari itu di dalam perahu. Barang-barang itu segera ditutup dengan plastik. Hujan segera turun dengan lebat, sementara kami kemudian berteduh di pondok milik penduduk Ugai yang terletak tidak jauh dari sosoroat itu untuk menumpang berteduh. 

perjalanan menuju LPS (listening post) 1

Pondok itu adalah garasi perahu. Selewat tengah hari hujan masih turun, maka sambil menunggu hujan reda kami menikmati makan siang dengan bekal yang sudah kami siapkan dari rumah kami. Sore itu sekitar pukul 17.00 WIB kami sudah berada di rumah Aman Maryati. Anak Aman Maryati yaitu Jasmardi yang kebetulan adalah seorang Kepala Dusun sudah beberapa waktu lalu mengatakan kesediaannya untuk terlibat dalam kegiatan survei populasi owa bilou di kawasan desa Matotonan kali ini. Sore itu kami kemudian berdiskusi tentang ke 3 titik pengamatan yang berada di 3 kawasan yang berbeda. Diskusi kami adalah tentang strategi untuk menempuh perjalanan mencapai ke 3 titik itu, mencari pemandu yang tepat; memiliki pemahaman kawasan, bagian dari pemilik kawasan secara tradisional, memiliki fisik yang memungkinkan untuk menempuh perjalanan dan hal-hal lain yang bersifat teknis. Malam itu juga atas bantuan dari Jasmardi ke 3 tim kecil yang akan berangkat untuk melakukan survei sudah terbentuk. Bagian dari tim kecil ini adalah juga seorang petugas dari BTNS (Balai Taman Nasional Siberut) yaitu Afdal, seorang penduduk setempat yang memang direkomendasikan oleh petugas senior dari BTNS saat kami melakukan koordinasi perjalanan dan pengurusan Simaksi (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi)

Sebelumnya kami juga sudah menyempatkan diri untuk melakukan koordinasi kepada pemerintahan setempat yaitu Kepala Desa Matotonan. Karena hari sudah di luar jam kerja, malam itu kami menjumpai Kepala Desa Matotonan di kediamannya. Karena kami sudah saling mengenal, obrolan saat kunjungan ke rumahnya malam itu menjadi lebih cair dan banyak diisi dengan beberapa perencanaan Pemdes Matotonan yang berkaitan dengan pemanfaatan kawasan hutan konservasi di wilayah desa Matotonan untuk mendukung rencana pengembangan destinasi wisata alam.

Hari 1 perjalanan menuju lokasi survei

Pagi hari, Jumat 22 Mei 2026 kami disambut dengan cuaca yang cerah. Pagi itu kami dijamu oleh istri Jasmardi dengan hidangan sarapan berupa lopis ketan, sebuah kuliner ala Minangkabau. Istri Jasmardi adalah seorang Matotonan yang pernah mengenyam pendidikan di bangku kuliah di Padang. Pagi itu kami segera mengemasi barang dan perbekalan masing-masing sesuai tim. Semalam kami sudah membentuk 3 tim dengan 3 tujuan titik pengamatan yang berbeda. Tim LPS 1 adalah saya, Jasmardi dan Oruk Manai Satoutou lokasi tujuan perjalanan kami adalah di Tirik Marepet yaitu punggung perbukitan yang bersebelahan dengan Teitei Bake. Tim LPS 2 adalah Vincen, Aman Maryati dan Jaidin dengan titik tujuan perjalanan mereka adalah menuju ke kawasan Teitei Kuddei di hulusungai Rereiket, dan yangterakhir adalah Tim LPS 3 yaitu Lauren, Tekoi dan Afdal, mereka akan menuju titik terjauh yaitu Teitei SImakeru yang merupakan kawasan perbatasan Matotonan dan Silaoinan dan Saibi Hulu. Jam menunjukkan pukul 09.00 WIB saat kami bersama-sama berangkat. Tim LPS 2 menggunakan pompong menyusuri sungai Rereiket ke arah hulu untuk kemudian akan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Tim LPS 2 juga dengan pola yang sama tetapi mereka kemudian berpisah. Tim LPS 3 terus melanjutkan arah perahu pompong mereka ke arah hulu sungai Rereiket untuk selanjutnya perjalanan akan ditempuh dengan berjalan kaki.

perjalanan menuju LPS 3

Sementara itu kami di Tim LPS 1 tidak ada perjalanan yang ditempuh dengan perjalanan menggunakan moda transportasi tetapi langsung menempuh perjalanan darat melalui jalur jalan kampung dan jalan setapak dengan berjalan kaki. Beban perjalanan berupa peralatan pribadi, peralatan survei dan perbekalan untuk 5 hari kami bagi. Saya dan Jasmardi memuat barang-barang itu tas carrier di punggung kami, sementara Oruk Manai dengan keranjangnya dia memuat barang-barang itu sesudah sebelumnya membungkusnya dengan kantong plastik untuk mengantisipasi kemungkinan turun hujan saat menempuh perjalanan. 

Selepas rumah terakhir di ujung pemukiman Matotonan, kami kemudian segera diharuskan untuk menyusuri anak sungai yang mengarah ke perbukitan Teitei Paleku Teiteiket, salah satu perbukitan yang harus kami lintasi. Anak sungai itu memiliki kedalaman air setinggi sekitar 10-20 cm saja dengan dasar anak sungai berupa bebatuan sejenis batu napal, mirip dengan batu padas yang rata-rata licin karena berlumut. Jalur anak sungai yang membelah perladangan penduduk itu mengalir berkelok-kelok sampai kami menemukan tangga kecil dari kayu yang terbuat dari kayu bulat untuk membantu mendaki lereng yang terlihat cukup curam untuk didaki. Itu adalah titik awal pendakian lereng bukit Paleku Teteiket.

viper coklat beralis (Trimeresurus brongersmai)

Tetapi pagi itu kami mendapatkan sebuah kejutan. Saat kami berhenti sejenak untuk merapikan beberapa peralatan kecil sebelum pendakian kami mulai, kami menemukan seekor ular kumok (Trimeresurus brongersmai) atau ular viper coklat beralis. Ular itu nampaknya ular betina yang berusia dewasa, melingkar tenang di tangga kayu itu tanpa terlihat oleh Jasmardi yang beberapa menit sudah berdiri sangat dekat dengan ular itu. Sebuah kamuflase yang sempurna. Jenis reptil itu cukup sulit ditemukan, biasanya dia bersembunyi di serasah dedaunan di tempat yang agak lembab. 

Jalur pendakian pertama ini melalui jalan setapak yang cukup terjal, sinar matahari pagi yang cukup menyengat membuat peluh segera bercucuran. Tiba di puncak bukit, tas diturunkan dari bahu, sejenak menenangkan nafas yang memburu, sambil melihat-lihat pemandangan di sekitar situ. Lereng bukit ini sudah diisi oleh variasi beberapa tanaman tradisional terutama jenis durian yang bercampur dengan tumbuhan-tumbuhan kayu alam. Tetapi di jalur pendakian ini karena letaknya yang relatif dekat dengan pemukiman, pepohonan yang berukuran besar tidak lagi terlihat di sekitar situ. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menuruni lereng bukit itu, namun kali ini kanopi pepohonan yang bercampur tanaman tua milik penduduk setempat itu cukup membuat jalur jalan setapak yang kami lewati itu rindang dan sejuk. 

Jalur perjalanan kemudian menjadi relatif landai, kemudian sedikit menanjak ketika bertemu dengan ujung kaki perbukitan Teitei Bake, menurun kembali dan kemudian akhirnya jalur jalan setapak itu habis ketika kami bertemu dengan anak sungai kecil yang mereka sebut sebagai sungai Pakaleuruat. Di situ kami beruntung, kami menemukan 3 buah durian yang jatuh, durian sisa tupai yang masih mengkal. Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri anak sungai Pakaleuruat yang berliku-liku itu. Sesekali kali memotong jalur perjalanan susur sungai itu saat bertemu dengan ujung daratan yang agak landai. Jalur jalan yang berupa anak sungai itu juga merupakan habitat pacet, sejenis binatang penghisap darah yangs seolah sudah menanti kedatangan kami melintas. Kami cukup disibukanoleh binatang itu, sesekali kami harus berhenti untuk mengambilnya dari lengan atau baju kami, atau di kaki Jasmardi dan Oruk Manai yang hanya mengenakan celana pendek saja.

Sungai Pakaleuruat itu kemudian bertemu dengan sungai Marepet, jalur aliran sungai itu kemudian menjadi semakin lebar dan dalam. Perjalanan tetap ditempuh dengan menyusuri aliran sungai Merepet itu ke arah hilir. Jalur aliran sungai yang berliku-liku, sesekali kami harus ekstra berhati-hati saat melintasi bebatuan besar yang berlumut dan licin, pacet juga banyak kami dtemukan di pakaian saat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di salah satu titik di tepian sungai Marepet itu. Sepanjang jalur aliran sungai ini banyak ditemukan pepohonan besar dengan vegetasi yang cukup rapat di dasar hutan membuat sepanjang aliran sungai ini teduh dan dingin. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB saat kami menemukan pondok kecil di dekat tepian sungai. Pondok milik penduduk Matotonan yang segera mereka kenali. Sekitar 30 menit kami beristirahat menikmati makan bekal makan siang yang kami bawa dari Matotonan. Di belakang pondok itu terlihat bantaran sungai yang agak datar seluas sekitar 3 lapangan volley yang ditumbuhi nilam, singkong, keladi dan beberapa tanaman lain. Kebun kecil ini terletak lokasi bagian dari kaki perbukitan Teitei Bake, tetapi kami belum berhenti di sini karena dari pondok ini tidak terdapat jalur pendakian menuju ke arah punggung perbukitan, belakang pondok itu merupakan lerengan perbukitan yang curam. 

Kami kemudan melanjutkan perjalanan kembali dengan menyusuri aliran sungai Marepet yang semakin dalam dengan variasi dinding bebatuan yang cukup padat di beberapa spot. Setelah diakhiri dengan menyeberangi bagian aliran sungai yang sedalam dada, kami akhirnya mengakhiri perjalanan siang itu di bantaran sungai yang ditumbuhi beberapa rumpung bambu. Daratan datar sempit di bantaran sungai berpasir yang di kanan dan kiri terdapat dua rumpun bambu jenis obbuk yang biasa dipergunakan oleh penduduk di Siberut untuk memasak. Kami tiba di tempat itu sekitar pukul 15.00 WIB. Kami segera bekerja membersihkan lokasi yang masih terlihat reruntuhan bekas pondok sederhana berukuran kecil yang terdiri dari 4 tiang bambu. Pondok itu bekas bangunan sederhana tempat menginap penduduk Matotonan yang berkunjung kesitu untuk mencari ikan di sungai Marepet. Sekitar 1 jam saja kami sudah berhasil membangun pondok sederhana yang akan kami tempati sampai 4 malam ke depan.

Lokasi pondok itu tepat di tepian bagian tikungan sungai yang dalam. Air telihat mengalir pelan dan berwarna hijau bening. Mengisi waktu di sore itu Jasmardi langsung mengeluarkan tali pancing yang sudah dia siapkan dari rumah. Saat senja tiba beberapa ekor ikan mutuk utek dan udang sungai berukuran besar menjadi menu makan malam kami.

Survei hari 1

Jam 04.00 WIB kami sudah terbangun dari tidur. Sejak 1 jam lalu kami sudah mendengar suara morning call bilou tidak jauh dari pondok tempat kami bermalam. Suara-suara dari frogmouth owl turut menghiasi pagi yang masih gelap gulita itu. Kami keluar melihat cuaca, bintang yang bertaburan di langit menandakan cuaca yang cerah saat itu. Lingkungan sekitar pondok kami itu ditumbuhi belukar dan pepohonan yang rapat. Oruk Manai memimpin di depan dengan parang tajam di tangan, menebas onak berduri dengan hati-hati. Dari lokasi pondok ini tidak terdapat jalur jalan setapak untuk mencapai punggungan perbukitan Teitei Bake. Kami harus mencari dan membuka jalur jalan kami sendiri. Tiba-tiba, belum terlalu jauh dari pondok, di kegelapan pagi itu kami sudah disuguhi pemandangan yang mengesankan, lereng terjal dengan ujung-ujung akar yang bertonjolan dengan ketinggian sekitar 10 meter akibat longsor sudah menghadang kami. Dengan sigap Oruk Manai memanjat lereng terjal itu, memanfaatkan akar-akar pepohonan yang menyembul dari balik tanah lereng itu dia bergelantungan sampai kakinya menapak mendorong tubuhnya naik ke atas. Saya menyusul kemudian. Jalur yang kami tempuh ini adalah punggung kaki perbukitan Teitei Bake yang menjorok ke arah sungai Marepet di apit 2 anak sungai, sungai Simapelekak dan sungai Simapelekak Boirok Baga. Pergerakan kami cukup lambat karena gelap dan belukar rapat yang di beberapa bagian berupa rotan-rotan yang berduri, beberapa kali kami harus membalik arah karena jalur yang kami pilih kemudian berakhir di jurang curam, membuat perjalanan menuju punggung perbukitan ini bertambah lama. 

kesulitan untuk menuju titik pengamatan

Sesudah 1 jam perjalanan akhirnya kami menelukan jalur jalan setapak yang biasa dilalui penduduk setempat saat mereka hendak melintas memotong kontur pulau ini dari arah Sagulubek ke Matotonan atau sebaliknya. Bergegas kami melanjutkan langkah, tetapi jalur itu adalah lereng perbukitan yang menanjak dengan drastis di beberapa titik membuat nafastersengal-sengal dan keringat menetes-netes dari wajah kami bertiga. Akhirnya kami di bagian tertinggi dari jalur itu. Jamsudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Kami memutuskan tempat itu sebagai lokasi pengamatan suara bilou. 

Tiba di lokasi itu suara morning call bilou sudah lama hilang dari pendengaran kami. Tiba-tiba saat Oruk Manai menoleh ke belakang dia melihat 1 individu bilou yang sedang memperhatikan kami. Dengan gugup saya segera membuka tas untuk mengambil kamera. Karena rute perjalanan yang cukup ekstrem, kamera saya masukkan ke dalam tas punggung. Beberapa kali saya mencoba membidik bilou jantan itu, tidak cukup menghasilkan foto yang bagus tetapi pemandangan itu cukup mengesankan. Saat pertama kali kami melihatnya bilou itu sedang bertengger di dahan pohon yang hanya sekitar 20 meter saja dari tempat kami duduk untuk melakukan pengamatan suara bilou. Bilou jantan itu bergerak tidak terlalu cepat, tidak bersuara dan sesekali berhenti di kerimbunan dedaunan mengamati kami, dia bergerak meninggalkan kelompok kecilnya, kemungkinan adalah pasangan dan anaknya yang masih kecil. Keduanya bergerak ke arah yang berlawanan menuju lereng perbukitan, sementara si bilou jantan bergerak ke arah lereng di sisi bukit sebaliknya. Mereka tidak seperti kelompok bilou lainnya yang akan segera mengeluarkan suara alarm, kelompok kecil ini bahkan tidak mengeluarkan suara apapun dan bergerak dengan cara yang seolah-olah tidak terburu-buru.

Bilou teramati langsung di LPS1

Pagi itu kami membagi tugas, Jasmardi melakukan pencatatan data, Oruk Manai membantu mengamati arah suara, perkiraan jarak dan penghitungan suara great call. Saya sendiri bertugas mengamati jam bersuara dan kompas. Sebelum kami pulang saat menjelang pukul 09.00 WIB kami berhasil mendengar suara great call dari 3 kelompok bilou.

Sore harinya saya memutuskan untuk beristirahat di pondok saja. Perjalanan hari kemarin menuju lokasi ini cukup membuat otot-otot kaki saya terasa kaku dan agak pegal. Kondisi vegetasi hutan di lingkungan sekitar pondok yang berupa pepohonan dengan belukar lebat tanpa jalur jalan setapak membuat saya cukup enggan untuk meng-eksplorasi sekitar lokasi itu. Apalagi bantaran tepian sungai ini banyak sekali terdapat pacet yang sudah siap menyambut kedatangan kami. Begitu pula jika kami ingin mencapai daratan seberang sungai yang juga masih berupa hutan lebat, kami harus merelakan badan kami basah karena sungai di sekitar kami membangun pondok sederhana ini yang paling dangkal adalah sedalam pinggang orang dewasa. 

Seperti hari pertama kemarin, sore ini Jasmardi kembali ke pondok dengan kantong yang sudah terisi dengan jenis-jenis ikan dan udang. Hasil pancingannya itu kembali menjadi menu makan malam kami.

Hari ke 2 survei

Hari ke 2 survei, cuaca cukup cerah tetapi mendung agak menyelimuti langit di pagi itu. Pagi ini angin juga berhembus cukup kencang. Suara morning call dari beberapa arah menghiasi perjalanan pagi menuju titik pengamatan kami. Namun begitu kami mencapai titik pengamatan itu, suara-suara morning call dari bilou-bilou jantan itu tidak lama kemudian menghilang dan suasana terasa cukup sunyi, sesekali saja suara simakobu terdengar tidak jauh dari lokasi kami itu. Tetapi saat menjelang jam 08.30 WIB kami mulai disibukkan oleh suara greatcall dari beberapa arah mata angin. Tercatat 5 great call dari 5 arah dan jarak yang berbeda menunjukkan 5 kelompok bilou yang berbeda berhasil kami catat pagi itu. Jasmardi yang kami tugaskan untuk mencatat pengambilan sejak hari pertama terlihat sibuk dengan menghapus beberapa pencatatan yang salah. Tetapi pencatatan data memang dilakukan dengan menggunakan pensil membuat kesalahan-kesalahan pencatatan kecil itu bisa diperbaiki.  Total jumlah suara morning call dan great call pagi itu adalah 5 morning call titik dari arah dan jarak yang berbeda dan 5 great call.

jenis ikan hasil tangkapan 

Saat sore menjelang, saat Jasmardi yang begitu bersemangat memancing ikan sudah meninggalkan pondok untuk memenuhi hasrat memancing ikan, menjelang jam tidur saya sering berbincang dengan Oruk Manai, seorang pemuda anggota uma Satoutou tentang cerita-cerita masa lalu kakek moyangnya, tentang perjalanan migrasi kelompok uma itu dari Simatalu, kisah-kisah penemuan kawasan-kawasan hutan yang kemudian mereka kuasai secara turun-temurun, kisah konflik masa lalu yang melibatkan kakek moyang mereka. Oruk Manai adalah tipikal seorang Siberut yang memiliki karakter khas penduduk dari pedalaman Siberut, berbeda dengan pemuda Siberut yang tinggal di kawasan pesisir yang sudah banyak terpengaruh oleh kebiasaan baru yang dibawa oleh pendatang. Oruk Manai memiliki pengetahuan yang kuat tentang sejarah tutur kakek moyang dan umanya. Dia memahami dengan baik kawasan hutan di sekitar Teitei Bake yang menjadi milik dari uma-nya itu, begitu juga dengan beberapa kawasan hutan di daerah lain yang juga menjadi milik dari uma Satoutou. Oruk Manai juga memiliki keterampilan survival di hutan Siberut dengan sangat baik. 

Malam hari sekitar pukul 21.00 WIB saat kami sudah beranjak tidur, tiba-tiba kami dikejutkan oleh sinar senter yang berasal dari arah hilir sungai. Kami kemudian mematikan lampu penerangan pondok kami yang bersinar temaram itu. Awalnya Jasmardi menduga cahaya dari lampu senter itu berasal dari pemburu yang mencari buruan malam, tetapi samar-samar suara percakapan wanita terdengar. Lama-lama terdengar dengan jelas memecah keheningan malam itu. Rupanya mereka adalah 3 orang ibu-ibu yang sedang pangisou, kegiatan mencari ikan dan udang di sungai. Mereka adalah penduduk dari Matotonan. Mereka kemudian singgah di pondok tempat kami bermalam, badan mereka basah kuyup. Mereka kemudian beristirahat di pondok kami itu. Sesudah menikmati teh manis panas untuk penghangat badan, mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Sesuatu yang menakjubkan, ibu-ibu yang sangat tangguh, berani menempuh perjalanan malam melintasi perbukitan dan sungai-sungai yang terletak jauh di tengah hutan untuk mencari ikan. 

Hari ke 3 survei

Hari itu sejak dini hari sudah terdengar guruh beberapa kali, kami sudah mencemaskan hujan yang akan turun. Jam 05.15WIB kami berangkat lagi menuju titik pengamatan di punggungan perbukitan itu kami berangkat dengan tergesa-gesa. Kehujanan saat dalam perjalanan adalah hal yang tidak menyenangkan, beberapa peralatan untuk pengambilan dan pencatatan data harus tetap kering, penggunaan mantel saat perjalanan dalam hutan yang melintasi semak, perdu dan jenis-jenis rotan yang berduri juga membuat mantel kemudian robek. Badan terbungkus plastik mantel saat berada di jalur pendakian juga terasa merepotkan, pengap dan panas. Tetapi hujan turun tepat saat kami sesaat kami tiba di titik pengamatan suara bilou. Hujan segera bertambah deras. Kami segera mengeluarkan mantel dan payung dari dalam tas kami. Sesudah sekitar satu jam, Oruk Manai kemudian pergi mencari daun soggunei (pisang hutan) ke arah lereng bukit. Di sekitar tempat kami melakukan juga tidak terdapat daun rotan jenis labi yang daunnya biasa dipergunakan oleh penduduk untuk membuat naungan. Akhirnya naungan dari daun pisang hutan yang lebar itu selesai dibuat. Kami bertiga berteduh di situ. Hari itu sampai jam 10.00 WIB saat jam pengamatan suara bilou berakhir, kami tidak mendengar suara bilou satu kali pun.

Selesai berintirahat di pondok tempat kami menginap, sore itu saya memutuskan untuk pergi meng-eksplorasi lingkungan sekitar pondok. Melewati tepian sungai Marepet ke arah hulu yang dipenuhi rumpun bambu dan semak belukar saya tiba di muara sungai Simapelekak. Sungai ini mengalir dari lereng perbukitan Teitei Bake. Tidak terlihat jejak kaki para ibu yang kemarin malam singgah ke rumah, nampaknya mereka tidak melintasi anak sungai ini. Sampai sekitar 40 menit saya berjalan di sepanjang anak sungai itu tetapi suasana sore itu terasa lengang, saya kemudian kembali ke pondok tempat kami menginap, di lereng bukit dekat pondok tiba-tiba terdengar suara simakobu, Oruk kemudian pergi memeriksa, katanya dia melihat 4 ekor simakobu yang sedang bergerak mencari pohon tidurnya. 

Hari ke 4

Malam itu diskusi kami adalah perencanaan untuk hari terakhir pengamatan. Menurut Oruk Manai kami bisa kembali ke Matotonan sesudah melakukan pengamatan tanpa harus kembali ke pondok tempat kami bermalam ini dengan melewati jalur jalan setapak yang biasa ditempuh oleh penduduk yang melintas. Berangkat kembali ke Matotonan jika sesudah selesai melakukan pengamatan di hari terakhir mengharuskan kami menempuh perjalanan dengan pakaian basah sebab kami harus menyeberangi sungai yang memiliki kedalaman sekitar dada orang dewasa. 

Jam 03.00 WIB kami sudah terbangun dari tidur, Oruk Manai lalu memasak nasi, memanaskan air. Semalam kami sudah memutuskan jika saya akan berangkat duluan bersama Jasmardi ke titik pengamatan dengan membawa peralatan kami, sementara Oruk Manai akan membongkar pondok, mengemasi barang dan membawa menu makan siang kami sesudah sekitar jam 09.00 WIB. 

Simakobu ( Simias concolor)

Di tengah perjalanan saat kondisi masih gelap gulita saya yang berjalan paling depan sempat dikejutkan oleh suara khas joja (Presbytis siberu) jantan dewasa yang nampaknya terkejut oleh kehadiran kami yang melintasi pohon tidurnya. Pohon tidur joja itu dekat sekali di jalur lintasan kami. Namun keseruan selanjutnya adalah saat saya mendengar suara simakobu di arah jalur jalan menuju titik pengamatan itu. Saya yang berjalan di posisi depan sudah memberikan kode kepada Jasmardi untuk meminimalkan suara dan pergerakan karena perkiraan saya simakobu (Simias concolor) itu ada dibeberapa meter saja di depan jalur lintasan kami. Sebegitu saya melihat kelompok simakobu yang berjumlah 6 ekor itu saya segera menyelinap di balik batang pohon, bersembunyi. Jasmardi segera saya tarik untuk juga bersembunyi. Tetapi demi memenuhi tuntutan rasa penasarannya dia malah menyembulkan badannya dari balik kayu itu. Kelompok simakobu itu kemudian bubar, melarikan diri ke arah lereng bukit itu. Pejantan utama dari kelompok simakobu itu yang berukuran paling besar terlihat bergerak paling belakang. Dia malah berhenti di dahan kayu sambil memamerkan gigi-giginya yang berwarna kecoklatan ke arah kami, menyeringai. Namun posisi simakobu jantan dewasa itu cukup jauh dari jangkauan kamera di tangan saya dan posisi kami yang terhalang oleh belukar. Malah saya sempat terbentur oleh binokuler yang berada di tangan Jasmardi akibat keinginan kami untuk sama-sama melihat simakobu itu dari sudut yang sama. Pemandangan yang begitu menarik hati Jasmardi untuk mengamati simakobu itu dan minat saya untuk mengambil foto membuat kami seolah berebut sudut pengamatan.

Kami kemudian kembali bergerak menuju titik pengamatan untuk melakukan pengamatan suara bilou hari terakhir. Tiba di lokasi pengamatan kami kembali mendengar suara joja yang terdengar begitu dekat, hanya beberapa puluh meter saja di balik rimbunnya dedaunan vegetasi hutan itu. Jasmardi kemudian memutuskan untuk mencoba kamera untuk mengambil fotonya. Sekitar 20 menit dia pergi meninggalkan saya sendirian, saat kembali rupanya dia tidak berhasil. Pagi itu kami hanya mendengar 2 suara morning call dan 1 great call dari arah Sagulubek yang terdengar samar-samar. 2 suara morning call yang saat terdengar cukup dekat dari titik pengamatan justru kembali tidak bersuara great call, malah saat kami tiba di titik pengamatan saat jam menunjukkan pukul 06.10 WIB, suara morning call itu sudah terdiam.


tim LPS 2
Perjalanan kembali ke Matotonan.

Kami kemudian meninggalkan titik pengamatan itu saat jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Kami bertiga beriring, saya dan Jasmardi menggendong tas carrier sementara Oruk Manai menggendong keranjang rotannya. Kami bergerak menyusuri jalan setapak yang terjal menuju ke arah kaki bukit. Jam menunjukkan pukul 11.30 WIB saat kami tiba di sungai Simapelekak bagian hulu. Kami beristirahat menikmati makan siang yang sudah disiapkan dari pagi oleh Oruk Manai. Perjalanan kami lanjutkan lagi dengan menyusuri sungai Simapelekak ke arah hilir. Tiba di pertengahan jalur kemudian dilanjutkan dengan mendaki kaki perbukitan itu menanjak, lalu menurun lagi dengan menyusuri anak sungai kecil yang berkelok-kelok. Anak sungai kecil ini memiliki dasar sungai berupa batuan padat yang berwarna coklat kehijauan tetapi tidak terlalu keras, mirip batu napal. Ujung anak sungai itu adalah sungai Marepet. Kami sudah sampai kembali di jalur yang kami tempuh saat kami berangkat. Menurut kedua teman tadi salah satu hal yang membuat mereka memilih jalur keberangkatan yang berbeda adalah jalur kami kembali ini jika ditempuh dari kaki bukit akan sangat menguras tenaga karena lerengnya yang terjal. 

tim survei LPS 3

Kami kemudian bergerak lagi menyusuri jalur jalan menyusuri aliran sungai Marepet ke arah hulu, mendaki kaki bukit Pelekuk Teteiket, menuruni lembahdi sebaliknya dan kembali menuruni sungai, sungai Pakaleuruat yang mengarah menuju ke bukit Paleku Teteiket.

Tiba di kaki perbukitan Paleku Teteiket itu kami kemudian beristirahat sejenak, sambil mempersiapkan diri menempuh perjalanan di bawah hujan. Langit terlihat gelap pekat dan angin dingin berhembus kencang. Semua barang segera kami kemas kedalam plastik dan kami masukkan ke dalam taas carrier. Perjalanan mendaki dan menuruni bukit Paleku Teteiket itu kami tempuh di bawah guyuran hujan yang turun dengan deras sore itu. Saat tinggal beberapa meter saja di penghabisan kaki bukit itu, tiba-tiba saya terpeleset dan badan pun tergelincir dengan posisi punggung di atas tanah lerengan perbukitan yang miring itu.  Besok paginya saat mengemasi barang-barang baru ketahuan kalau kaca lensa kamera yang ada dalam tas carrier itu telah retak. 

Sekitar pukul 17.00 WIB kami tiba kembali di rumah Jasmardi di Matotonan di tengah hujan yang mengguyur dengan deras. Terlihat kawan-kawan dari tim yang lain sudah duduk-duduk di beranda rumah itu, mereka bisa tiba di rumah lebih cepat karena sebagian perjalanan mereka tempuh dengan mempergunakan pompong.



No comments:

Post a Comment