| Swayambunath, Kathmandu |
Oleh : Arif Setiawan
Namaste !!. Bulan juni ini atas nama swaraowa saya berpartisipasi dalam pertemuan global, Society Conservation Biodiversity Asia yang ke 6 ( CAC2026) , di Kathmandu Nepal. Motivatsi utama saya untuk datanga adalah karena 10 tahun yang silam saya juga menghadiri acara ini di Singapura, waktu itu saya menyampaikan presentasi tentang inisiasi awal proyek kopi dan konservasi primata, dan kali ini saya akan membawakan presentasi dengan topik yang sama dengan update keberlanjutan dari apa yang saya presentasikan di tahun 2016.
| pasar di kota Kathmandu |
Kathmandu
Ketika baru tiba di Kathmandu, dan mengurus visa on arrival dan membayar 31 usd, agak kaget juga karena uang 100 USD yang saya bawa tidak diterima, karena katanya uang ini kotor. Kemudian saya coba kartu atm visa debit bni, ternyata juga tidak bisa dipakai di mesin atm di area kedatangan, setelah petugas tahu bahwa kartu saya tidak bisa di pake, akhirnya uang 100 usd yang berjamur itu diterima juga, dan saya dapat stamp 15 hari di Nepal.
Saya book hotel di jantung kota kathmandu, district Thamel, mempertimbangkan jarak ke venue, dan beberapa pusat sejarah, hindu budha ada disektiar Thamel. Dahulu kawasan ini adalah pemukiman orang asli Kathmandu, Newari, menjadi lokasi transit pedagang-pedagang Tibet-Kathamndu. Perkembangan Kathmandu dan Nepal secara umum, adalah adanya jalur perdagangan kuno dari pegunungan Tibet ke Lembah Kathmandu, dan juga dimulai dari kedatangan para pelancong, ada yang menyebut kaum Hippie ( para penentang kapitalisme) , yang melakukan overland perjalanan darat yang murah di tahun 60an, dari eropa atau amerika ke asia, mereka melihat Nepal seperti Nirwana dari timur, menawarkan kebebasan mutlak, pengalaman spiritual, dan kedamaian.( http://www.ponty.dk/hippietr.htm)
District Thamel berkembang setelah era hippies di tahun 70an, terjadi pergerseran wisata budaya pop ke petualangan mendaki. Darisinilah perubahan banyak terjadi, orang-orang dari seluruh dunia melihat Nepal untuk trekking dan mountaineering, untuk ke Everest ataupun trekking di Anapurna, kemudian, ekonomi Kathmandhu sampai sekarang terbentuk, kombinasi praktik budaya hindu budha klasik, penginggalan kerajaann Nepal (seperti dhurbar square, dan ribuan kuil hindu dan stupa budha), dan wisata trekking. Sebenarnya ada satu lagi wisata satwaliar,yang membentuk tourism industri seperti sekarang ini. Melihat mamalia besar !!sebelum wisata ini ramai ke Afrika, Nepal adalah tujuan utama melihat mamalia besar, seperti Gajah, Badak, dan Harimau.
Pre-conference workshop
Tanggal 1 Juni 2026, rangkaian congress ,di mulai, ada beberapa pre-congress workshop yang disediakan oleh panitia untuk peserta ikuti, dan saya mendaftar untuk workshop mengenai, Experiencing the Most Significant Change (MSC) Technique to Capture Social Impact in Conservation.
Ada workshop ke dua, yang saya ikuti adalah, ethical community engagement in conservation, workshop ini di pimpin oleh Cloe Lucas dari snow leopard conservation trust yang tergabung dalam aliansi konservasi etis ( ethical conservation Alliance). Dalam workshop ini ada setidaknya 15 peserta dari india,uk, Indonesia, Nepal. Beberapa prinsip yang harus di bangun adalah :Presence, Aptness, Respect, Transparancy, Negotiation, Empathy, Responsiveness, dan Strategic support. Semua tentang ini dapat di baca selengkapnya di website Etchical conservation Alliance).
Opening Ceremony
Tanggal 3 Juni 2025, di Yak and Yeti Hotel, salah satu hotel tertua di Kathmandu, dan juga tempat bersejarah untuk komunitas global ini, karena yang sama SCB conference pertamakali di lakukan juga di tempat ini. dengan tema “Harmonizing biodiversity and human wellbeing in Asia” . Kegiatan pembukaan oleh pantia, di sampaikan bahwa ada kurang lebih dari 500 orang peserta dari 42 negara hadir di acara ini dan 160 peserta mendapat support travel grant, ini saya salah satunya.
Pertemuan ini, juga mempertemukan saya pribadi dengan peserta-peserta yang lebih dari 10 tahun yang lalu berjumpa di SCB Asia Singapore. Meskipun banyak peserta-peserta yang lebih muda dan baru bertemu kali ini di Nepal. Menunjukkan optimism masa depan konservasi akan terus berkembang di asia. Peserta dari Indonesia ada kuranglebih ada 18 orang, mewakili universitas, NGO,Indegenius community dan proyek-proyek konservasi. Meskipun sama-sama dari Indonesia, diantaranya juga baru bertemu di Nepal ini.
Tarian tradisional Nepal yang di mainkan oleh penari dari berbagai usia, disajikan dengan iringan perkusi khas Newari, suku asli Lembah Kathmandu, symbol kegembiraan menyabut tamu-tamu yang datang.Menandai pembukaan acara CAC Nepal 2026.
![]() |
| presentasi swaraowa di CAC2026 Nepal |
Hari pertama ( Rabu 3 Juni, 2026 Jam 3.35 pm) sesuai jadwal, saya mendapat sesi presentasi di symposium bertema “ Human-Wildlife Conflict and Coexistence, and Local Communities. Di hall utama, ruangan dengan screen lebar dan panggung tinggi, menyampaikan presentasi dari proyek swaraOwa berjudul “ Bridging Biodiversity and Livelihood : the Javan gibbon conservation Model”. Presentasi ini dapat di unduh di link ini. Presentasi ini merupakan ringkasan kegiatan konservasi owa di Pekalongan, Petungkriyono melalui proyek Kopi dan Konservasi Primata, dari tahun 2012 hingga sekarang.
Belajar dari Presentasi-presentasi lainnya
Saya sempat menandai di confrence apps untuk presentasi-presentasi yang menarik, salah satu di antaranya adalah ada salah satu symposium tentang Pangolin, dua jenis trenggiling ,menurut salah satu presenter di India saja ada 370 ton sisik tringgiling di sita dari jual beli illegal, lebih dari 100.000 sampai 1 juta ekor trenggiling. Sangat mengerikan. Metode forensic genetik digunakan untuk melacak sisik-sisik ini, dan ditemukan ternyata trenggiling inidia telah terpisah dari soudaranya di cina sejak 3-4 juta tahun yang lalu. Salah satu presenter yang mempresentasikan 60 tahun penelitian trenggiling menyebutkan saat ini penelitian-penelitian masih terbatas pada temuan-temuan habitat trenggiling. Untuk solusi illegal wildlife trade saat ini belum dapat di jelaskan dengan keberhasilan, tapi upaya-upaya di tingkat site, seperti di penelitian ekologi, dan inisiasi komunty based conservation trenggiling mejadi contoh contoh di site specifik untuk trenggiling.
Satu presentasi yang saya ikuti di hari kedua di symposium “Community engagement and women in Conservation” berjudul Conservatio Nature via Tourism : Exploring pathways to protected area Ambashadorship, dari presentasinya sangat cocok denga apa yang sedang swaraOwa kembangkan saat ini untuk wisata minat khusus gibbon watching, mendesign pengalaman untuk pengunjung yang mempertimbangkan untuk transformasi wisata yang dari passive apresiasi ke aktif ambassadorship yang menjadi duta wisata konservasi. Presenter mengatakan, wisatawan, adalah asset untuk konservasi, kurang lebih ini juga menekakan bagaimana kita sebagai penyedia jasa wisata, sudah seharusnya menyediakan pengalaman dan pengetahuan kepada pengunjung sekaligus merawat keberlanjutan kunjungan untuk konservasi.
Selain melalui presentasi, berinteraksi dengan peserta lain dan saling mengenalkan apa yang sedang kita lakukan menjadi hal yang membuka kesempatan untuk berjejaring. Acara makan siang dan coffee break menjadi medium untul lebih berinteraksi dengan peserta lainnya.
Birdwatching at Ranibari Community Forest
![]() |
| pintu masuk Ranibari community forest |
Luas kawasan ini kurang lebih 7 hektar, untuk pengunjung di buka jam 8 pagi hingga jam 5 sore, tiket masuknya 20 NPR, murah sekali, sekitar Rp 2300, waktu bebas dan tanpa guide. Di pintu masuk, sudah terpampang infografis jenis-jenis burung yang ada taman ini, atau bisa saya bilang hutan kota. Saya sendirian menyusuri jalur-jalur yang sudah di sediakan, jenis burung paruh bengkok-Alexandrine parakeet dan gagak rumah adalah burung yang pertama terlihat disini. Mulai masuk ke bagian dalam jenis barbet dan robin. Di batang kayu yang lapuk nampak lubang-lubang, ternyat untuk bersarang burung barbet itu.
![]() |
| Alexandrine parakeet |
Ketika hampir 3 jam menyusuri jalur trekking di Ranibari, saya kemudian singgah di warung kopi masih di dalam kawasan hutan ini, dan ternyata yang punya adalah sekaligus penjaga hutan ini, dan yang menyenangkan lagi, namanya Arun Sakya, beliau adalah guide pengamat burung. Berkenalan dengan beliau dengan keterbatasan fisiknya, hanya satu tangan yang bisa digunakan dapat mendokumentasikan burung-burung yang ada di Ranibari, silahkan liat ke instagram dan fb nya, foto-fotor burung itu adalah hasil jepretannya dengan satu tangan.
![]() |
| Blue throated barbet |
Kami akhirnya saling bercerita, dan Arun menceritakan sejarah Ranibari ini, yang awalnya merupakan sebuah taman tempat keluarga kerajaan menyepi, karena ada kuil di dalam taman, dan Rani berarti ratu, dan bari berarti taman, taman ratu. Dan karena di dalam hutan ini ada kuil Ranidevi, secara adat dilarang menebang pohon atau merusak hutan ini, dan pada saat itu memang ini taman milik kerajaan. Karena perubahan politik di Nepal dan meningkatnya urbanisasi, Sejak tahun 2000, kawasan ini kemudian di rubah status menjadi komunity forest, ada sekitar 39 rumahtangga di yang ada di sekitar hutan inilah yang mengelola kawasan seluas 7 ha ini. Dan kini hutan Ranibari ini berperan sebagai pusat pembelajaran keanekaragaman hayati, bekerjasama dengan Bird Conservation Nepal, telah mendokumentasikan 67 jenis ada disini, termasuk burung-burung migran. Selain itu hutan ini juga menjadi tempat jogging trek untuk warga Kathmandu.
![]() |
| Black kite-juvenile |
![]() |
| indian white eye |
Jenis-jenis yang saya berhasil foto diantaranya Blue throated barbet, Asian Koel (Eudynamys scolopaceus), Black kite (Milvus migrans) , Blue-throated Barbet (Psilopogon asiaticus), Alexandrine Parakeet (Psittacula eupatria), Black Drongo (Dicrurus macrocercus), House Crow (Corvus splendens), Gray-headed Canary-Flycatcher (Culicicapa ceylonensis), Indian White-eye (Zosterops palpebrosus), Oriental Magpie-Robin (Copsychus saularis), Spotted Dove (Spilopelia chinensis).
![]() |
| spotted owlet |
Dengan bantuan Arun Sakya menunjukkan Spotted owlet (Athene brama) , salah satu burung malam yang bisa teramati di Ranibari di sianghari , dan benar saja, dua individu sedang bersembunyi di balik rindangnya pohon. Saya di ajak ke bukit di tengah untuk mencari golden asiatic Jackal, namun tidakberuntung menjumpainya. Seekor elang hitam muda, menjadi penutup perjalanan saya di Ranibari.
Kuil Monyet-Swayambunath
Ketika berada di taxi,saya sering bertanya kepada driver, karena Kathmandu adalah kota spiritual tua, kuil mana yang rekomended untuk dikunjungi, dan hampir smua driver menunjuk, Swayambunath, atau mokey temple. Karena katanya itu kuil paling besar dan suci, dan banyak monyetnya. Kelakar saya karena saya bekerja untuk pelestarian monyet-monyet di Indonesia, maka saya harus ke kuil ini untuk menemui dewa monyet. Dan benar saja, di hari ke 3 sore hari, setelah konfrence, saya sempatkan berkunjung ke kuil ini, terletak diatas bukit,di bangun pada abad ke 5 Masehi oleh raja Virsadeva, penganut Budha Newari. Untuk masuk ke sini, membayar 200 NPR, Kemegahan kuil ini kalau saya amati, hampir mirip seperti di Borobudur, dibangun di atas bukit, yang dulunya di kelilingi danau, Lembah Kathmandu. Kreasi logam tembaga dan kuningan, batu pahat dan ukiran kayu yang menghiasi stupa menunjukkan seni Tingkat tinggi penduduk asli Kathmandu, Newar. Tidak hanya umat budha yang berdoa disini, tapi ada juga umat hindhu, dan kuilnya nampak berbeda dengan sudut-sudut atap yang bertumpuk, terletak di bagian atas bersebelahan dengan stupa.
![]() |
| Rhesus macaque di kuil swayanambunath |
Dari bagian bawah tangga menuju puncak, monyet-monyet berkeliaran, ada yang di antaranya terlihat minum atau makan sesajen yang ada di stupa-stupa kecil. Inilah Resus macaque, Macaca mulata. Tahun 1937 jenis protein rhesus, yang penting bagi ilmu kedokteran modern di temukan dalam monyet ini. Dampak paling penting dari monyet rhesus adalah penemuan faktor Rh (positif/negatif) pada sel darah, yang membuat proses transfusi menjadi jauh lebih aman dan mencegah kematian akibat penolakan imun. Berkat penelitian pada monyet rhesus, dokter kini selalu mencocokkan tanda plus atau minus (+/-) pada golongan darah sebelum transfusi, sehingga menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia dari risiko salah terima darah. Ketika di puncak stupa, yang menarik juga puluhan raptor terbang diatas komplex kuil ini.
Field trip Ke Chitwan National Park
Hari terakhir konfrensi, tgl 5 Juni 2026, saya putuskan untuk berangkat ke Taman Nasional Chitwan, bersama 2 peserta dari Vietnam. Tiket dan guide untuk di Chitwan, sudah saya pesan, melalui peserta lain yang sudah berkunjung ke Chitwan sebelum conference. Taman Nasional ini menjadi tujuan karena akan memberikan pengalaman langsung, terkait banyak hal yang kita dapatkan selam beberapa hari sebelumnya melalui konfrensi, presentasi-presentasi peserta dari Nepal menceritakan alam, potensi keanekaragaman hayati wisata alam, dan tentunya kebijakan pengelolaan. Kathmandu yang terletak di pegunungan, di atas 1400 m dpl, dan perjalanan ke Chitwan yang berada di dataran rendah sekitar 150 mdpl, memberikan pengalaman melihat landscape Nepal secara umum, sekaligus mengenal industry wisata pengamatan satwaliar di Nepal.
Pegunungan Himalaya sekitar Kathmandu, nampak jelas terlihat ketika meninggalkan pusat kota, jalan lebar di tepi sungai Trisuli, menjadikan pemandangan sangat eksotis, khas pengunungan, konon jalan ini adalah jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Kathmandu dan Tibet. Sungai Trisuli yang di ambil dari nama sejata dewa Siwa, Trisula, adalah 3 sungai utama yang menjadi satu, dan salah satunya adalah sungai gletser dari salju yang mencair di pegunungan Himalaya. Bus istirahat 2 kali selama perjalanan, dan kami turun di kota Malpot Chowk, di jemput oleh Krisna, dari penyedia tour Chitwan “ King jungle safari “di desa Meghauli desa di sekitar Taman Nasional yang kami pesan sehari sebelumnya. Memilih tour-tour yang disediakan oleh komunitas lokal adalah pilihan yang rasional untuk biaya dan hasil yang diharapkan dari tour ini, total perjalanan dari Kathmandu sekitar 5 jam.
Sampai di Meghauli, Manoj yang lead tour ini sudah menunggu kami, di penginapan di belakan rumahnya, sudah ada tamu lainnya dan sore ini kita akan ikut safari tour, berkeliling hutan penyangga taman nasional naik mobil. Kita akan di gabung dengan tamu lainnya, ada 5 orang yang akan ikut, smuanya anak-anak muda dari Prancis. Mobil pickup yang sudah di setting sedemikian rupa tempat duduknya untuk pengamatan satwa, sangat nyaman. Introduksi Manoj sebagai guide, menekankan bahwa selama safari tidak boleh turun dari mobil, karena ini kawasan harimau dan badak, harap mengikuti instruksi guide. Manoj mengenalkan sejarah taman nasional yang di bentuk pengelolaannya tahun 1973 dan tahun 1984 kawasan seluas 952.63 km2 ditetetapkan sebagai world heritage site oleh UNESCO sebagai perlindungan dan habitat untuk Badak bercula satu ( Rhinocerso unicornis) dan harimau benggala ( Panthera tigris).
| diatas mobil safari |
Kesan pertama di penginapan tengah sawah milik Manoj , kicau burung-burung masih banyak terdengar, dan jenis-jenis pemakan nectar sangat mudah di jumpai di depan rumah. Kita kemudian di ajak menuju lokasi safari, target kita adalah melihat Badak besar bercula satu, kata Manoj ini kita akan masuk kawasan penyangga taman nasional atau community forest area, hingga ke batas taman nasional yang di kelilingi sungai Rapti. Burung-burung menjelang sore ini di antaranya yang kita jumpai adalah kirik-kirik, merak biru, dan di sekitar sungai kita menjumpai open bill, bulbul, dan tripee.
![]() |
| Badak ( Rhinocerus unicornis) di habitat padang rumput Chitwan |
Badak yang pertama kali terlihat sedang makan di padang rumput ada 2 ekor, agak jauh, tapi melihat pertama kali mamalia seberat hampir 1 ton itu, sangat luar biasa. Manoon mengingatkan untuk tidak brisik, tetap tenang, karena di tengah padang rumput setinggi 2 meter ini, kadang ada juga badak atau rusa yang tiba-tiba berlari. Tetap harus waspada.Vegetasi yang dominan di kawasan ini adalah pohon kapok, bombac, sepertinya juga regenerasi alami, karena kawasan ini merupakann hutan tepi sungai dengan tanah aluvialnya.
Kami ketemu badak, dalam jarak yang cukup dekat, kira-kiran 15 meter, dan itu tidak terlihat badak merasa takut, dalam waktu beberapa menit, badak itu masih menikmati kubangan lumpurnya, kita diminta tetap tenang mengamati memfoto, dan mesin mobil juga di matikan. Badak terlihat sangat terhabituasi dengan kehadiran manusia. Kami sempat berpapasan dengan rombongan safari lainnya. Kata Manoj, community forest ini mendapatkan langsung pemasukan dari kunjungan-kunjungan yang tujuannya ke dalam taman nasional, komunity forest berperan sebagai benteng perlindungan satwa ada anti poaching unit yang berpatroli setiap waktu, community forest juga menyediak koridor bagi pergerakan satwa mempeluas pergerakan satwa tidak hanya di zona inti di dalam taman nasional.
![]() |
| patroli gajah Taman Nasional Chitwan |
![]() |
| Indian Roller (Coracias benghalensis) |
![]() |
| Yellow napped woodpecker |
![]() |
| lesser adjutant (Leptoptilos javanicus) |
Hari kedua, kami di beritahu malam sebelumnya bawhwa kita akan melakukan perjalanan ke dalam kawasan Taman Nasional Chitwan, lebih mudah untuk melihat satwa satwa,terutama jenis-jenis burung. Setelah sarapan kami semua di jemput menggunakan mobil safari, dan langsung menuju ke sungai rapti, menggunakan kano dari hulu ke hilir untuk masuk ke dalam kawasan taman nasional. Manoj bilang kita akan lihat 2 jenis buaya disungai ini, Gharial (Gavialis gangeticus) dan buaya rawa (Crocodylus palustris). Sungai rapti meskipun di beberapa bagian cukup dalam, tapi jernih, teknik kanoing yang turun mengikuti arus, dan design kano sangat sesuai dengan arus yang tidakkuat dan sungai yang lebar sangat pas, untuk pengamatan dan sekaligus menggunakan kamera berlensa panjang seperti yang saya bawa.
![]() |
| Gharial (Gavialis gangeticus) |
Kontur yang rata sangat memudahkan trekking, meskipun rombongan besar, sbenarnya tidak pas untuk birding, tapi karena ikut tour jadi saya bisa menyesuaikan. Tidak terlalu mengejar burung untuk foto, tapi bisa menambah daftar life list dari Nepal : Indian roller, Rofouse bee eater, greater racket tail drongo, ibis, plum-headed parakeet, lesser adjutant, yellow napped woodpecker,
| kemewahan di Chitwan, makan siang sambil menunggu harimau |
Pioneer ekowisata mewah, lahir di Chitwan
Ketika trekking, kita melewati salah satu lokasi dimana tahun 60an tempat ini adalah lokasi pengamatan harimau dan badak untuk wisatawan-wisatawan kelas atas dari eropa dan amerika. Saya menanyakan ini ke guide, kenapa bangunan-banguan ini di tinggalkan? Manoj menjawab ya ini adalah Tiger top, salah satu contoh kegagalan management di Chitwan, mereka awalnya membuat ini untuk wisatawan-wisatawan kelas atas yang mau membayar mahal, melihat harimau dan badak, bangun tidur langsung terlihat badak menyeberang sugai, atau melihat harimau mengejar rusa dari dalam kamar saja.Namun kemudian banyak. Kemewahan dan uang hanya di dinikmati sebagian orang, kemudian banyak protes dari orang-orang yang tidak bisa ikut menikmati kuwe wisata ini, akhirnya wisata ini tutup. Manoj setelah wisata mewah ini tutup, wisatawan kelas atas ini memilih afrika untuk melihat badak, gajah dan singa, meninggalkan Chitwan.
| bangunan resort sisa kejayaan Tiger top, yang ditiggalkan |
Tahun 1800an sejarah Chitwan taman nasional ini, merupakan lokasi berburu keluarga kerajaan, mengundang tamu-tamu Istimewa dari Kerajaan Inggris untuk menembak badak dan harimau benggala. Tercatat raja inggris Jorge V, pernah berburu disini, dan ratu elisabeth II pada tahun 1961. Tiger top di Chitwan adalah pioneer ekowisata mewah di Chitwan, diawali oleh seorang milyarder dari Texas , kemudian karena kurang berkembang menjualnya ke petualang dari Inggris Jim Edrwards yang berkolaborasi dengan ahli ekologi dari Inggris, mulai menggantikan senjata untuk berburu dengan camera dan teropong, mendirikan pondok di tengah hutan, pelayanan premium dan safari naik gajah. ( https://www.tigertops.com/about/history/) Kedekatan pemilik tiger top dan raja Nepal akhirnya juga mendeklarasikan Chitwan sebagai taman nasional di tahun 1973. Kemudian pemerintah memberikan hak istimewa ke beberapa orang kaya ini, untuk membangun resort mewah di tengah zona inti Chitwan National park, bahkan bandara pun dibuatkan di Meghauli , desa dekat Chitwan, untuk wisata ini.
Hingga tahun 2009 terjadi konflik hukum dan lingkungn di Nepal, pemerintah tidak memperpanjang lagi ijin resort di tengah hutan tersebut, karena desakan para aktifis lingkungan dan pemerhati satwa, dan di tahun 2012 di tutup total dengan alasan hotel komersial di tengah zona inti berdampak buruk pada satwaliar dan keselamatan satwaliar,karena semakin ramai, aktifitas kendaraan semakin tinggi , limbah, dan polusi. Meskipun seperti yang Manoj katakan, mungkin juga karena kecemburuan sosial dan persaingan bisnis juga. Saat ini pemerintah memberikan regulasi tidak ada aktifitas komersil di dalam kawasan, smua hotel resort harus diluar kawasan dan mendorong community forest, warga sekitar untuk mengelola tour-tour melihat satwa, seperti yang Manoj lakukan, saat ini. Awalnya dia adalah anggota patroli hutan dari masyarkat sekitar, dan bekerja untuk perusahan besar yang menyediakan tour. Namun keahlihan dan passionnya untuk satwaliar, mendorongnya utnuk membentuk tour sendiri, menyediakan pilihan tour yang lebih terjangkau untuk wisatawan ke Chitwan.dimulai dari guiding hingga saat ini mengelola homestay, sendiri untuk tamu dan bekerjasama dengan anggota keluarganya yang lain untuk menyediakan jasa transport dan makan untuk tamu-tamunya.
Sejak hari pertama saya datang ke Chitwan ini, saya sudah menyampaikan ke Manoj bahwa target saya adalah melihat hanoman langur. Manoj langsung menjawab "99 % kamu akan ketemu hanoman langur !!. Dan benar saja setelah makan siang di tepi sungai Rapti, sambil menunggu harimau lewat, namun sampai waktu 2 jam kita istiraht tidak nampak harimau, kami melanjutkan perjalanan menyusuri, jalur-jalut trekking yang di sediakan. Burung suara keras muarai batu yang sudah tidak ada di hutan di Sokokembang,2 individu terlihat ketika kami berjalan, namun tidak sempat terfoto.
Ketika sedang mengamati jejak badak di semak-semak rumput sekitar sungai, guide pembantu Manoj yang membawakan makan siang kita, mengetung punggung saya, dan bilang langur-langur. Saya langsung mengarahkan kamera ke dahan yang bergoyang keras, dan ya inilah pandangan pertama, lifer untuk langur hanoman dari Chitwan. Warna hitam di muka, dan rambutputih abu-abu di sekitar wajah sangat khas,ditambah siluet Cahaya, helaian putih rambut itu nampak jelas kontras dengan wajah yang hitam gelap . Kelompok besar lebih dari 10 individu teramati di hutan di tepi sungai ini. Lutun ini adalah salah satu dari 7 jenis lutung hanuman dari Asia Selatan. Semnopithecus entellus, dan karena lutung ini hanya ada di Chitwan terutama dataran rendah Tarrai, maka disebut Tarai gray langur, dan sudah di pisahkan menjadi Semopithecus hector. Yang membedakan dengan lutung di Indonesia, bayi nya berwarna coklat gelap, dan rambut juga hampir sama dengan induknya.Ekor yang panjang lebih dari panjang tubuhnya, dan warna hitam pekat di wajah sangat susah mendapatkan fotonya yang jelas,dengan gelapnya hutan Chitwan. Meskipun dalam subfamily Colobinae jenis pemakan daun yang mempunyai ruang-ruang di system pencernaannya, ukuran hanuman langur lebih besar 2-5 kg dibanding Lutung di Indonesia. Sayangya ketika saya tanya ke Manooj tentang penelitian hanuman langur ini, dia bilang tidak ada. Tidak ada angka pasti populasi di Chitwan tetang langur ini, karena fokus monitoringnya kepada mammalia besar, badak, harimau dan gajah.Hingga sore hari jam 5 sore, trekking di Chitwan hampir selesai, beberapa foto-foto ketika trekking ini dapat dilihat di sini. Di tepi sungai Rapti yang jerni itu kami menunggu perahu untuk menyebrang, dan pas sekali kitak kita sudah sampai di Seberang dan mobil penjemput datang hujan tiba. Perjalanan kurang lebih 17 km, dengan jalan kaki, dengan menggendong camera besar, saya pikir terbayar sudah dengan pengalaman melihat satwa-satwa asli Chitwan.
Kembali ke Kathmandu
| suasana upacara pembakaran jenazah di sungai Baghmati-Pasuphatinath |
Ketika kembali ke katmandhu, karena perjalanan saya kembali ke Indonesia malam,siangnya saya masih ada waktu untuk jalan-jalan. Dan kali ini saya dapat teman baru sangat baik, Tapendra, di mengajak saya melihat Pasuphatinath, salah satu kuil dengan ritual kremasi, bakar jenazah. Ini pengalaman yang sangat istimewa menurut saya karena tidak setiap orang bisa masuk ke lokasi kremasi tersebut. Melihat jenazah di antar keluarga di tepi sungai Baghmati, kedukaan keluarga dan api yang membakar, secara langsung menimbulkan suasana yang merinding sekaligus penasaran. Umat hindu Nepal meyakini, bahwa kematian bukanlah akhir kehidupan, merupakan awal dari perjalanan spiritual menuju pembebasan jiwa ( moksa). Dan melihat ini, sekan menjadi pentup perjalanan saya di Nepal, dengan nuansa spiritual klasik, dari Kathmandu. Tapendra sangat baik, ketika saya pulang di antar sampai bandara dan memberikan bendera Nepal untuk saya sebagai symbol persahabatan.
Dhanyabad !!
















No comments:
Post a Comment