| Burung cekakak -batu di kebun Pak Baiduri |
Oleh : Sidiq Harjanto & Muhammad Kuswoto
Perjalanan kali ini terasa lengkap bagi kami: melintasi puluhan kilo jalan berliku nan terjal, mencicipi kopi, mengamati burung, mendengar cerita tentang luwak, hingga berbagi keresahan dengan petani. Ini cerita kami keliling ke desa-desa penyangga habitat Owa Jawa di Lanskap Petungkriyono. Kami bertemu para petani mitra yang tergabung dalam program “Owa Coffee: the guardian of the gibbon” untuk memantau perkembangan mereka.
Program yang dikelola SwaraOwa dan didukung AirAsia Foundation ini berupaya meningkatkan ekonomi para petani kopi dengan tetap menjamin kelestarian habitat bagi aneka hidupan liar. Selama empat hari berkeliling, kami mengunjungi sepuluh lokasi dan bertemu dua puluh lima petani—memanen tak terhitung banyaknya pengalaman baru. Namun, tetap membawa pertanyaan yang sama: bisakah kopi menjadi penyelamat Owa Jawa?
Ruang hidup non-linear
Suara burung yang cukup keras menyambut kami di kebun Baiduri (44) di Desa Jalatiga, Kecamatan Talun. Suaranya terdengar khas, meskipun kami belum bisa memastikan spesies burung sumber suara itu. Ternyata, ia tepat di atas kami. Saya arahkan kamera untuk mengambil beberapa gambar. Di ranting sebuah pohon, bertengger seekor burung yang teridentifikasi sebagai burung cekakak batu (Lacedo pulchella). Burung ini termasuk kelompok kingfisher, dari suku Halcyonidae.
Menurut laporan Imam Taufiqurrahman dan Kurnia Ahmadin dalam buku “Burung-burung Petungkriyono & Lebakbarang: Keragaman, Ancaman, dan Upaya Konservasinya” yang diterbitkan SwaraOwa tahun lalu, spesies ini menghuni habitat dengan vegetasi rapat dan ternaung. Meskipun sebarannya cukup umum di lanskap kajian, burung cekakak batu membutuhkan habitat yang spesifik.
Tak lebih seratus meter dari kampung, lahan milik Baiduri yang luasnya kurang dari 1.000 meter persegi terasa teduh oleh naungan pohon-pohon besar seperti mahoni. Model kelola seperti ini bisa disebut sebagai agroforestri kompleks–tersusun atas belasan jenis tanaman komoditas mulai rempah-rempah, buah-buahan, hingga tanaman pangan. Kopi, kakao (cokelat), alpukat, petai, pisang, kapulaga, hingga singkong dan talas berjejal saling mengisi ruang. Bagi petani paruh baya ini, aneka komoditas menjanjikan sumbangan ekonomi secara bergantian, memberikan resiliensi ekonomi di tengah ketidakpastian seperti sekarang ini.
| pengecekan kebun agroforestry-kopi |
Serupa dengan kebun Baiduri, di kebun Rait (41)—petani lain di Jalatiga—kami melihat sistem serupa. Agroforestri mengombinasikan berbagai tanaman, meliputi kayu keras, komoditas komersial (seperti kopi dan kakao), pangan, dan obat-obatan. Kebun agroforestri tak terpisahkan dari kehidupan multidimensi masyarakat. Fungsi kebun terkadang sulit dianalisis secara linear. Sering kali kita perlu berpikir secara lateral untuk melihat realitas praktiknya agar bisa memahami lebih objektif.
Motivasi menanam tidak melulu urusan ekonomi dalam arti sempit. Sebatang pohon tidak hanya dinilai dari berapa harga kayunya, tetapi juga apa manfaat praktis dari daun, ranting, atau akarnya. Hal ini dipraktikkan oleh para petani di Jalatiga. Misalnya, mereka sengaja menanam pohon tutup di kebun dekat rumah karena daunnya bisa dipakai sebagai bungkus nasi. Jika daun-daun itu sudah terlalu rimbun, mereka memangkasnya untuk pakan ternak.
Memperkaya spesies tumbuhan di kebun memberi manfaat ekonomi maupun kegunaan praktis bagi petani dan tanpa disadari memberi ruang hidup bagi kehidupan lain. Strata vegetasi yang kompleks memberikan ruang hidup bagi aneka satwa. Keberadaan satwa liar di kebun-kebun masyarakat menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu berlawanan dengan lanskap produksi. Justru dari ruang hidup yang beririsan inilah berbagai peluang ekonomi masyarakat tumbuh.
Dua setengah jam dari Jalatiga, di Dusun Sawangan Ronggo, Kecamatan Petungkriyono, kopi lebih banyak ditanam di kawasan hutan. Di lahan kopi yang dikelola Bambang (36), Owa Jawa masih sering berkunjung. Tanaman-tanaman kopi terselip di antara pohon-pohon raksasa. Kopi benar-benar menjadi bagian dari hutan itu sendiri. Inilah bentuk ideal yang kami impikan—saat kebun kopi masih menyediakan ruang bagi satwa liar.
Menurut cerita para petani di dusun ini, para lansia (kebanyakan perempuan) lazim memungut kopi-kopi yang berjatuhan di tanah sebagai sisa pemanenan, dan termasuk kopi dari kotoran musang luwak. Satwa yang di banyak tempat dipandang sebagai hama, ternyata justru membawa berkah bagi kelompok masyarakat yang rentan. Alam menyediakan berbagai peluang bagi penghidupan masyarakat yang mau menjaga kelestariannya.
Di Sawangan, petani tidak mengandalkan kopi sebagai satu-satunya komoditas. Aren yang banyak tumbuh di hutan memberikan kontribusi ekonomi signifikan bagi petani. Mayoritas warga berprofesi sebagai petani gula aren. Uniknya, keterbatasan akses jalan ke dusun justru memunculkan adaptasi unik: gula disimpan dalam bentuk cair dan bisa disimpan berbulan-bulan. Stok gula cair baru dicetak untuk dijual saat ada kebutuhan mendesak, atau saat mendapatkan momentum harga yang tinggi.
Ada benang merah menarik dari beberapa komponen tadi: kopi, aren, dan luwak. Ketiganya membentuk umpan balik sistemik yang patut dicermati. Keberadaan kopi luwak membawa peluang pengembangan produk premium. Di sisi lain, ada ketergantungan ekonomi aren terhadap kelestarian luwak: hewan inilah agen pemencaran biji bagi tanaman tropis yang berabad-abad telah menjadi sumber bahan pemanis alami bagi masyarakat Nusantara. Melindungi luwak bukan sekadar sentimen emosional terhadap satwa berpenampilan menggemaskan ini, tetapi juga cara kita memastikan agar sistem umpan balik yang turut dibangunnya tidak runtuh.
Pola-pola non-linear seperti di Jalatiga dan Sawangan Ronggo umum dijumpai di desa-desa lain, menunjukkan bahwa petani agroforestri menyumbang kontribusi ekologis yang lebih luas, termasuk dalam penyediaan habitat. Karena itu, sudah selayaknya praktik-praktik semacam ini memperoleh insentif yang memadai, baik melalui apresiasi harga bagi produk yang dihasilkan, akses pasar premium, maupun bentuk penghargaan lainnya yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan demikian, menjaga keanekaragaman hayati dan kelestarian lanskap tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai investasi yang memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.
![]() |
| pertemuan di desa Gumelem |
Ironi yang membuka peluang
Jika lanskap agroforestri menyediakan fondasi ekologis, maka tantangan berikutnya adalah memastikan manfaat ekonominya dapat dinikmati masyarakat secara inklusif. Di Karanggondang, Tutur (52) menyampaikan kegelisahannya. Sebagai petani sekaligus kepala dusun—tokoh yang dituakan di komunitasnya, ia menyimpan harapan agar kopi bisa menggerakkan ekonomi kreatif bagi pemuda di desanya.
Ia melihat peluang itu ada, tetapi belum menemukan peta jalannya. Selama ini, warga dusun cenderung menjual semua kopi hasil panennya, sedangkan untuk konsumsi sehari-hari mereka terpaksa membeli kopi pabrikan. Padahal, dahulu para warga menyangrai kopi mereka sendiri menggunakan wajan. Keahlian tradisional yang kini sudah nyaris punah.
Situasi ini sebenarnya bisa berubah menjadi peluang: memunculkan bentuk kewirausahaan berupa produksi kopi bubuk siap seduh. Pemuda menjadi kelompok yang paling potensial untuk mengambilnya. Munculnya bisnis di bagian hilir bahkan bisa membawa dampak sistemik yang signifikan, membuka lapangan pekerjaan sekaligus memutar ekonomi di tingkat lokal.
Pemuda biasanya lebih terbuka terhadap akses informasi sebagai bahan bakar kreativitas. Pada gilirannya, inovasi sederhana bisa mengubah banyak hal. Hal ini dibuktikan oleh Muhammad Ridholah (33), seorang penyangrai kopi di Desa Mendolo, Lebakbarang. Kegigihannya untuk berkreasi membuahkan sebuah alat roasting sederhana, lalu membuatnya memberanikan diri membuka jasa sangrai. Gayung bersambut, para tetangga mengapresiasi dengan menjadi pelanggan tetap.
Berkat usaha itu, Ridho tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga membantu menghidupkan kembali budaya mengonsumsi kopi lokal di desanya. Kini ia telah memiliki unit penyangraian yang melayani pelanggan dari berbagai wilayah sekitar desanya. Cerita keberhasilan Ridho bisa menjadi inspirasi bagi para pemuda di Karanggondang maupun desa-desa lainnya bahwa keterbatasan justru bisa melahirkan inovasi dengan manfaat ganda.
| penjemuran kopi terkontrol, dome pengering matahari |
Nilai tambah tanpa membuka lahan
Rame (30) tampak takjub saat mencicip kopi yang kami bawa, arabika hasil proses carbonic maceration dari Gayo. Di wajahnya tampak gurat keheranan bahwa pemrosesan tertentu bisa menghasilkan cita rasa yang ajaib. Kopi ini mengeluarkan cita rasa berry yang kuat, acidity yang seimbang, dan body yang tebal. Ini pengalaman pertama baginya ketika menemukan rasa dan aroma yang unik dari kopi experimental process.
Berbekal pelatihan yang digelar bulan kemarin, Rame bersama petani di dusun Garung telah memulai langkah awal peningkatan kualitas pemrosesan kopi di lingkungannya. Ia memilih proses natural dan tak sabar untuk segera mencicipi hasilnya. Sekira sebulan lagi keinginannya itu mungkin baru terwujud. Pemrosesan kopi tidak sederhana: pemetikan merah, pengeringan yang terkontrol, hingga grading dan sortasi ketat. Apalagi, proses natural memakan waktu lama dalam pengeringannya.
Di Desa Lemahabang, Sawal (54) merasakan kendala lain. Kopi robusta yang diolahnya banyak yang pecah karena ketiadaan alat pengupas biji (huller) yang standar. Di titik ini, baik di kasus Rame ataupun Sawal, introduksi teknologi bisa menjadi solusi yang bermakna. Infrastruktur seperti dome pengering dan alat-alat produksi seperti pengupas dan grader bisa meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan kualitas.
Teknologi saja tidak cukup untuk meningkatkan efisiensi. Yang terjadi biasanya baik petani maupun pemroses menanggung beban ganda: mengurus kebun sekaligus mengolah hasil panen. Untuk itu, perlu pembagian peran yang cukup tegas antara keduanya. Petani didorong untuk fokus pada pengelolaan kebun dengan menerapkan praktik terbaiknya hingga menghasilkan buah kopi terbaik. Hasil akhirnya adalah buah kopi atau coffee cherry yang matang sempurna.
Setelahnya, pemroses mengambil alih: mengolah cherry menjadi biji kopi terbaik. Tanpa beban pemrosesan, petani bisa punya lebih banyak waktu meningkatkan produktivitas kebun. Tanpa tuntutan waktu di kebun, pemroses bisa melakukan berbagai eksperimen pengolahan agar menghasilkan cita rasa unik seperti kopi Gayo yang dicicipi Rame–kopi yang bisa dijual dengan harga premium sekaligus mendongkrak popularitas daerah penghasilnya.
Pada titik tertentu, pembagian peran ini membutuhkan kelembagaan lokal (seperti kelompok tani atau koperasi) agar nilai tambah ekonomi dari pengelolaan pasca-panen juga mengalir kembali secara adil kepada petani. Tanpa itu, skema pembagian peran justru berpotensi menyebabkan ketimpangan insentif. Pada akhirnya, memperbaiki pasca-panen secara sistematis menjadi strategi penting agar petani memperoleh nilai tambah tanpa harus memperluas lahan yang semakin menekan kawasan hutan.
Setelah empat hari bertualang dari desa ke desa, kami menyadari bahwa kopi jelas tidak bisa menjadi penyelamat tunggal bagi Owa Jawa. Konservasi terjadi ketika kepentingan manusia dan kebutuhan ekologis bertemu dalam satu lanskap yang interaksi di dalamnya bersifat non-linear. Kopi hanyalah medium yang membuat pertemuan itu mungkin. Selebihnya adalah peran kita semua sebagai bagian dari rantai pasok: petani, pemroses, penyangrai, pemilik kedai, penyeduh, dan tentu para penikmatnya. Seteguk kopi tidak lagi tentang meningkatkan kesadaran tubuh (consciousness), tetapi juga memikul tanggung jawab (conscientiousness).

No comments:
Post a Comment