Wednesday, September 2, 2026

Apakah masih ada Bilou di Sipora? catatan perjalanan survey

Oleh : Aloysius Yoyok


Sipora merupakan pulau di mana ibu kota kabupaten ini terletak. Pulau ini pernah menjadi kawasan konsesi perusahaan logging selama bertahun-tahun sehingga hutan di pulau ini pada umumnya adalah hutan sekunder yang tumbuh sesudah tegakan hutan-hutan asli nyaris dihabiskan oleh perusahaan-perusahaan logging itu. Kali ini tim survei akan melaksanakan kegiatan survei populasi owa bilou di pulau itu.

Dari diskusi dengan tim, 2 (dua) titik koordinat kemudian dipilih berdasarkan tingkat kesesuaian kawasan sebagai habitat owa bilou (Hylobates klossii). Titik yang pertama berada di kawasan hutan di perbukitan yang menjadi hulu dari sungai Saureinuk, sedangkan titik yang ke dua berada di kawasan perbukitan yang menjadi hulu DAS sungai Sagitci.

Kegiatan survei populasi owa bilou kali ini dilakukan serentak di 2 (dua) pulau, selain di Sipora 2 (dua) tim yang lain juga sedang melakukan perjalanan untuk kegiatan yang sama di pulau Pagai Selatan. 

Perjalanan

Saya dan Lauren sebagai bagian dari tim survei yang berdomisili di Maileppet, Siberut Selatan berangkat menuju Sipora dengan kapal Mentawai Fast antar pulau pada hari Kamis 2 Juli 2026. Hari itu adalah jadwal reguler pelayaran kapal Mentawai Fast Sorake dari dermaga Maileppet menuju Tuapejat yang terletak di Sipora. Saya menempuh perjalanan laut hanya sampai di dermaga Tuapejat saja, di pulau itu saya akan bersama-sama dengan Matius seorang penduduk Goiso Oinan, Sipora akan melakukan survei populasi owa bilou di hulu sungai Saureinuk. Sementara itu kawan seperjalanan saya di kapal yaitu Lauren esok harinya akan melanjutkan perjalanan lautnya dengan Kapal Mentawai Fast yang terjadwal akan melakukan pelayaran menuju Sikakap di Pagai Utara-Selatan. 

Kami tiba di dermaga Tuapejat sekitar pukul 16.00 WIB, sesudah menempuh perjalanan laut sekitar 3 jam saja. Malam itu saya dan Lauren bermalam di sebuah penginapan yang terletak di tepian hutan bakau. Malam menjelang saat Matius dan Ismael Saumanuk tiba di penginapan dimana kami bermalam. Malam itu kami berdiskusi untuk merancang persiapan pelaksanaan survei populasi bilou di pulau Sipora. 

Menurut Matius, ke dua wilayah di mana titik koordinat pengamatan suara bilou ditentukan merupakan areal hutan yang sudah biasa dijelajahi oleh Matius. Matius merupakan seorang penduduk yang berasal dari kawasan Rereiket di Siberut Selatan. Dia mewarisi dengan baik skill seorang Rereiket yang dekat dengan kehidupan tradisional Siberut di hutan. Matius memiliki pekerjaan sampingan sebagai pemandu wisata. Saat masih tinggal di Siberut dia adalah seorang pemandu wisata budaya, namun semenjak tinggal di pulau Sipora yang tidak lagi memiliki budaya tradisional seperti di Siberut, dia adalah seorang pemandu pengamatan burung di alam liar di hutan-hutan Sipora. 

Dari diskusi malam itu kami membagi timsurvei di pulau Sipora ini menjadi 2, saya bersama Matius akan melakukan pengambilan data vokalisasi owa bilou di Hulu Saureinuk dan Ismael akan membentuk tim kecil untuk melakukan survei di hulu Sungai Sagitci. 

Matahari belum terbit saat Lauren sudah berkemas untuk kembali melanjutkan perjalannya menuju Sikakap di Pagai Utara-Selatan. Pagi itu kapal antar Pulau Sorake terjadwal akan melakukan pelayaran dari pelabuhan Tuapejat menuju Sikakap pada pukul 07.00 WIB. Lauren mengantisipasi panjangnya antrean pembelian tiket kapal sehingga dia memutuskan untuk berangkat ke dermaga saat jam belum menunjukkan pukul 06.00 WIB.

Jumat 3 Juli 2026 tengah hari Matius sudah tiba kembali dari rumahnya di Goisok Oinan. Siang itu juga kami kemudian berbelanja untuk memenuhi kebutuhan logistik kegiatan survei di hutan. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB saat kami berangkat. Kami juga ditemani oleh Ruizak, anak laki-laki Matius. Seorang lelaki yang sudah beranjak dewasa. Ruizak banyak menghabiskan masa remajanya dengan bekerja di Padang. Baru sekitar sebulan ini dia pulang kembali ke Sipora. Kini dia sudah menyandang status sebagai seorang suami, Matius kemudian merasa perlu untuk mengajarkan keterampilan untuk menjelajah hutan di pulau ini dengan mengajaknya dalam kegiatan survei kami kali ini.

Kami berangkat agak terburu-buru sore itu karena sebenarnya Matius tiba dari Goiso Oinan agak terlambat, mestinya kami sudah melakukan persiapan keberangkatan kami ke hutan hulu Saureinuk sejak pagi. Kami selesai melakukan persiapan saat hari sudah beranjak sore, tetapi Matius mengatakan jika perjalanan jalan kaki ke loaksi survei itu bisa tertempuh dibawah 2 jam jalan kaki dengan kecepatan normal.  Akhirnya kami memutuskan berangkat di sore itu.

Dengan diantar ojek sepeda motor kami berangkat beriringan menuju pemukiman di SP 3. SP 3 adalah Satuan Pemukiman 3. pemukiman itu dahulu dibangun untuk pemukiman penduduk yang didatangkan dalam program transmigrasi. Kini penduduk di SP 3 sudah beragam, bercampur dengan penduduk setempat. Ojek sepeda motor itu hanya sampai di ujung jalan semen di SP 3. di ujung jalan itu sedang dilakukan pembangunan jembatan yang cukup panjang. Kami kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Jalanan yang kami tempuh adalah bekas jalan yang dibangun dengan alat berat untuk oleh perusahaan logging untuk mengeluarkan kayu-kayu dari pedalaman hutan di pulau itu. Jalanan itu sudah ditumbuhi semak belukar tebal dan tinggi, melebihi tinggi badan kami. Kami menempuh perjalanan darat dengan berjalan kaki ini sesudah hujan yang cukup deras mengguyur kawasan itu. Tanah lempungan berwarna kekuningan itu kemudian menjadi basah dan lengket. Semak belukar juga masih basah sehingga ikut memnasahi pakaian dan badan kami. Jalur jalan itu tinggal menyisakan jalur jalan setapak sangat sempit, Matius yang berjalan paling depan selalu sibuk menyibakkan rerumputan tinggi itu dengan kakinya yang bersepatu boot. Rerumputan itu tidak bisa disibakkan dengan tangan karena cukup tajam dan sangat mungkin melukai kulit tangan. Namun sore itu cuaca masih mendung sehingga udara sejuk lembab sore itu membuat kami bisa menempuh perjalanan dengan nyaman, tidak segera didera kelelahan akibat panas. Sepanjang jalur jalan itu didominasi dengan semak belukar dan rerumputan saja sehingga jika cuaca cerah, tidak ada lagi pepohonan yang menaungi jalur jalan yang kami tempuh itu. 

Sesudah sekitar 1 jam perjalanan, Matius bertanya, “ Sebelah mana titik koordinat itu ?”.. saya kemudian melihat aplikasi Avenza dari ponsel Android inventaris yang saya simpan dalam saku tas, takut basah oleh sisa-sisa air hujan. Titik koordinat di aplikasi androiid itu menunjukkan tujuan kami masih sekitar 2 km ke arah kiri kami. Matius mengatakan jika tujuan kita ke arah itu, di sudah beberapa tahun sering memandu tamu untuk pengamatan jenis burung-burung saja, atau primata jenis Macaqa pagensis, Simias concolor atau Presbytis potenziani  saja, tetapi dia tidak pernah mendengar suara owa bilou, apalagi melihatnya. 

Saya jadi ragu, jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB, hari menjelang gelap tetapi kami masih merasa ragu dengan arah tujuan perjalanan kali ini. Beberapa menit kemudian saat saya merasa arah perjalanan mulai menjauh dari titik sasaran, saya memutuskan untuk beristirahat sebentar sambil mempertimbangkan pemilihan arah tujuan kami. Menurut Matius, titik tujuan kami itu terletak di kontur lahan yang datar, tidak jauh dari situ adalah kawasan perladangan milik penduduk,sementara perbukitan tidak jauh dari titik tujuan itu adalah punggung perbukitan yang sudah beberapa tahun lalu dibangun jalan jalur penghubung antara Tuapejat-Goiso Oinan. 

Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil titik bukit tertinggi yang terletak di sekitar 700 meter dari lokasi kami beristirahat untuk lokasi pengamatan suara owa bilou. Kami kemudian melanjutkan perjalanan lagi, mencari lokasi untuk membangun pondok untuk tempat kami bermalam. Matius memimpin kami berjalan menembus belukar bercampur rerumputan tebal yang tinggi. Kami rupanya menuju ke tempat yang beberapa bulan lalu pernah dia kunjungi saat dia memandu tamunya untuk melakukan pengamatan burung-burung, di tempat itu mereka pernah membangun tenda untuk tempat mereka bermalam. Tempat itu di tepian bukit di sebelah anak sungai. Cukup strategis, namun sedikit berisik oleh suara air yang tertahan oleh kayu melintang dan membentuk semacam air terjun kecil.

Dengan tangkas Matius kemudian mengumpulkan kayu-kayu kecil, urusan itu kami tidak bisa banyak membantu karena parang hanya satu saja. Kami kemudian membangun naungan sederhana dengan atap dari selembar plastik hitam yang biasa dipergunakan untuk alas cor semen jalan. Kami memilih material itu karena lebih ringkas dan ringan. Di kerimbunan kanopi pepohonan sisa-sisa perusahaan logging yang sudah mulai gelap karena hari sudah petang, kami membangun naungan itu dengan tergesa-gesa. Membuat kerangka pondok, memasang naungan plastik, mengumpulkan dedaunan palem butan untuk alas lantai pondok, membuat tungku perapian, akhirnya pondok sederhana tempat kami akan bermalam selama 4 hari ke depan selesai saat hari sudah gelap. Namun pekerjaan yang sangat membutuhkan keterampilan adalah membuat perapian dan menyalakan api. 

Lingkungan ini baru saja diguyur hujan yang cukup lebat. Dedaunan, ranting-ranting pohon dan kayu-kayu di hutan itu semua basah, sementara kami tidak menyiapkan peralatan masak buatan pabrik. Namun Matius sangat bisa diandalkan untuk survival di dalam hutan Mentawai, dengan parang kecilnya di menumbang batang pohon nibung yang memiliki batang berserat keras namun mudah terbakar. Potongan batang nibung tua yang sudah berukuran kecil-kecil itu kemudian dia cincang kecil-kecil sehingga mudah terbakar. Akhirnya perapian itu selesai dibuat dan api kemudian menyala-nyala. Kami kemudian bisa memasak. 

Malam belum begitu larut, namun karena rasa lelah yang mendera, sesudah selesai makan malam, tidak lama kemudian kami sudah mulai terlelap. Namun saat tengah malam saya terjaga karena suara-suara berisik dari arah perapian di mana peralatan makan malam yang belum dicuci kami kumpulkan. Saya segera mengambil senter. Rupanya biang keributan itu adalah seekor tikus yang berukuran cukup besar, lebih besar dibandingkan ukuran rata-rata tikus rumah, mungkin seukuran tikus got kalau di kota-kota besar. Tetapi yang ini berbulu halus berwarna keabu-abuan, bersih dan memiliki ekor yang cukup panjang, melebihi ukuran ekor tikus pada umumnya. Saya memutuskan mengambil kamera dari dalam tas dan mengambil beberapa foto. Peralatan makan yang kotor bekas makan malam kami itu kemudian ku letakkan di atas para-para di atas perapian. Aku beranjak tidur lagi, namun tidak lama kemudian tikus besar jantan itu datang lagi di tengah kegelapan malam itu, kali ini dia berusaha merobek kantong plastik tempat kami menyimpan beberapa bungkus biskuit, kembali saya terpaksa bangun dan menyimpan kantong plastik itu dengan menggantung-nya di atas kayu kerangka tenda. Pagi harinya saat kami sudah di lokasi pengamatan suara owa bilou, Matius menceritakan jika jenis tikus tadi malam itu oleh penduduk setempat disebut sebagai teira, jenis tikus berukuran besar yang biasa dikonsumsi sebagai salah satu sumber protein bagi mereka.

Karena beberapa gangguan itu saat jam 04.00 WIB saya sudah tidak bisa tertidur lagi dan memutuskan untuk melakukan persiapan perjalanan menuju ke atas perbukitan untuk melakukan pengamatan suara owa bilou. Jam masih menunjukkan angka 04.30 WIB, Matius sudah keluar dari tenda dan segera ikut berkemas-kemas, mempersiapkan diri untuk perjalanan.

Hutan yang kami jelajahi kali ini adalah hutan bekas konsesi logging yang sudah berakhir sejak 2014. Pepohonan yang di kawasan itu rata-rata masih berukuran sedang dan tumbuh di bagian lereng perbukitan dan mengisi ceruk-ceruk lahan datar di sekitar bantaran anak sungai itu. Pepohonan Buchanania arborescens banyak terlihat mendominasi kawasan itu. Jalur jalan yang kami tempuh rupanya adalah jalur jalan yang pernah ditempuh oleh Matius saat memandu para pengamat burung liar di hutan ini. Di beberapa titik di lereng yang terjal terlihat pancang-pancang kayu yang sengaja ditancapkan di lereng itu untuk memudahkan pengguna jalur jalan ini melintasi-nya. Sekitar setengah jam saja kami mencapai punggungan perbukitan itu, semua punggungan perbukitan sudah berupa bekas jalur jalan alat berat untuk jalur pengangkutan kayu-kayu gelondong pada masa itu. Kini bekas jalur jalan itu sudah didominasi dengan semak belukar saja yang tumbuh begitu lebat. 

Di titik tertinggi itu kami duduk, mengamati suara-suara primata dan satwa hutan di sekitar situ. ada suara Presbytis potenziani di dua titik berjarak beberapa ratus meter dari posisi kami. Kemudian suara Macaqa pagensis jantan dewasa yang terdengar cukup dekat. Perlahan matahari mulai terbit dan rupanya kelompok Macaca pagensis yang biasa disebut sebagai siteut oleh penduduk lokal itu terdiri dari beberapa ekor yang didominasi oleh siteut berusia muda. Mereka terlihat lincah bergerak,berlompatan mencari makanan berupa pucuk daun muda dari pohon itu. Beberapa kali saya mencoba mengambil foto, tetapi tidak ada hasil yang cukup memuaskan karena kanopi dedaunan berukuran sedang itu cukup tebal. 

Sampai menjelang siang saat kami kemudian beranjak pulang meninggalkan tempat pengamatan itu kami sama sekali tidak mendengar suara bilou. 

Saat istirahat siang di pondok bermalam kami, kami memutuskan untuk melakukan observasi ke arah yang berlawanan dengan arah dimana kami berangkat menuju titik pengamatan kami di atas bukit. Sore sekitar jam14.30 WIB, saat matahari masih bersinar menyengat kami berangkat menyusuri bekas jalan alat berat milik perusahaan logging itu. Jalur punggungan perbukitan yang sudah terbuka ini membuat paparan sinar matahari terasa begitu menyengat. Di tepian jalur terbuka itu, di tengah perjalanan kami berjumpa dengan kelompok Simias concolor dan siteut. Namun kami kesulitan untuk mengambil foto karena jarak yang cukup jauh akibat lahan yang sudah terbuka di punggungan perbukitan itu. Saat jam menunjukkan pukul 16.00 WIB saya memutuskan untuk beristirahat di bawah gerumbul semak karena kepala terasa sakit, mungkin karena terpapar pancaran sinar matahari yang terasa begitu menyengat. Namun Matius tetap melanjutkan perjalanan, dia mengatakan jika puncak perbukitan itu sekitar setengah jam tempuh lagi. Dia masih penasaran untuk menunjukkan jika di bawah perbukitan itu dia pernah mendengar suara bilou. Sebenarnya Matius menginginkan untuk mengambil titik itu sebagai titik pengamatan kami, tetapi karena titik pengamatan sudah diputuskan kami tidak mengambil titik yang dia maksudkan itu. Sekitar jam 17.00 WIB dia sudah tiba kembali. Kami kemudian pulang kembali ke pondok .

Malam itu kami melakukan pembicaraan. Matius merasa tidak bersemangat untuk melakukan survei di titik yang sudah ditentukan itu karena dia merasa survei di kawasan itu hanya akan sia-sia karena dia selama ini tidak pernah mendengar suara bilou di kawasan hutan ini. 

Survei hari ke 2

Pagi itu karena kami sudah mengetahui jalur jalan dan waktu tempuh yang tidak terlalu lama, kami berangkat menuju titik pengamatan saat jam sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB. Tiba di lokasi pengamatan, kembali kami melihat kelompok siteut itu masih di tempat yang kemarin. Kali ini anggota kelompok siteut itu terlihat lebih banyak. Mereka menyebar saat matahari mulai meninggi, bergerak menyebar mencari makanan berupa tunas-tunas pepohonan dan buah-buahan hutan. 

Kembali di hari yang ke 2 ini kami tidak mendengar suara owa bilou. Seharian kami merasa tidak bersemangat karena suasana yang lengang tanpa suara-suara binatang liar penghuni hutan. Kembali Matius mengusulkan untuk memindahkan lokasi pengamatan suara owa bilou ini ke kawasan di mana kemarin kami pergi melakukan observasi. Akhirnya sore itu kami menyepakati jika pengamatan suara di hari ke 3 besok Matius akan berangkat sendirian untuk melakukan pengamatan suara bilou di titik yang terletak di punggung perbukitan yang menjadi hulu dari sungai Berimanua. Titik itu kira-kira berjarak 2 km dari posisi pondok bermalam kami. 

Survei hari ke 3

Pagi itu  saat jam masih menunjukkan pukul 04.30 WIB kami sudah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan. Suasana cukup lengang, namun ketika kami melihat ke arah atas, terlihat langit yang bertabur bintang, menandakan jika hari itu kemungkinan cuaca akan cukup cerah. Matius dengan berbekal peralatan standar survei dan sebilah parang kemudian berangkat sendirian. Lokasi yang dituju adalah punggung perbukitan hulu sungai Berimanua. Dia mengambil arah yang berlawanan dengan arah perjalanan kami. 

Pagi itu di titik pengamatan kami, suasana kembali benar-benar sepi. Kelompok siteut yang kemarin masih bergerombol di sekitar lokasi pengamatan, pagi itu sudah tidak terlihat lagi. Ketika hari sudah beranjak terang, dari suara jantan dominan, nampaknya kelompok itu sudah berada di sekitar jarak 300 meter dari titik kemarin terlihat. Hari semakin siang dan kembali kami tidak berhasil mendengar suara owa bilou lagi.

Saat kami sudah selesai makan siang, sekitar pukul 13.00 WIB Matius tiba dari lokasi pengamatan dengan wajah yang berseri-seri gembira. Dia segera menceritakan jika dia berhasil mendengar suara owa bilou. Meski dari jarak yang cukup jauh sehingga tidak memungkinkan untuk mengambil dokumentasi foto, hal ini sudah cukup menggembirakan hatinya. Menurutnya tidak sia-sia kami datang jauh-jauh kalau kita bisa mendapatkan catatan tentang keberadaan owa bilou yang sudah tidak banyak lagi itu di pulau ini. Selain berhasil mendengar suara great call dari bilou di kawasan hutan itu, Matius juga berhasil melihat Presbitis potenziani, sayang foto yang diambilnya tidak cukup bagus. Matius juga berhasil melihat Simias concolor yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Simasepsep. Sore itu kami cukup bersemangat mendengar certanya dan melihat-lihat foto di kamera kecilnya itu.

Saya juga segera memeriksa ponsel android yang memuat aplikasi Avenza untuk mendukung pengambilan data itu. Titik koordinat pengamatan suara yang dipilihnya itu memang tidak jauh lagi dari titik saat saya harus beristirahat karena sakit kepala karena sakit kepala kemarin lusa.

Survei hari ke 4

Pda hari ke 4 kami berdua kembali berpisah saat pagi hari untuk melakukan pengamatan suara di dua tempat yang berbeda. Namun kali ini kami tidak berhasil mendengar suara bilou.

Sesudah beristirahat dan makan siang,  kami kemudian melaukan persiapan untuk kembali ke Tuapejat. Pengamatan selama 4 hari di hutan hulu sungai Saureinuk ini sudah selesai. 

Menurut Matius, sebenarnya penduduk setempat di beberapa waktu terkahir ini sangat jarang bepergian ke dalam hutan. Saya sependapat dengan penyampaian Matius ini karena sepanjang jalur perjalanan selama 4 hari itu kami tidak menemukan jejak-jejak aktifitas penduduk ataupun jejak kaki penduduk yang sedang melakukan perjalanan tidak seperti di Siberut dimana penduduk setempat begitu aktif dalam melakukan aktifitas di dalam hutan. Perburuan terhadap satwa dan primata liar yang dilakukan oleh penduduk setempat di pulau ini sebenarnya cukup rendah, tetapi tantangannya berbeda. Di pulau Sipora ini hutan pada umumnya adalah bekas pengusahaan logging yang tidak memiliki tegakan pepohonan alam yang berukuran besar, rusaknya habitat satwa dan primata liar ini nampaknya menjadi penyebab utama hilangnya owa bilou dari banyak kawasan. 

Menurut Matius juga, belakangan ini aktifitas dari penduduk pendatang di hutan meningkat cukup tajam. Penduduk yang datang merantau dari pulau Siberut banyak yang memiliki aktifitas sebagai tukang sinso kayu hutan atau mengumpulkan rotan sekarang ini banyak memiliki senjata untuk berburu berupa senapan angin yang sudah modern, dilengkapi dengan teleskop dan peredam suara. Target buruan mereka selain burung-burung yang berukuran besar, terutama adalah jenis-jenis primata. 
















No comments:

Post a Comment