Thursday, March 12, 2026

Sadar Akar Kenal Diri: Edukasi Generasi Lestari

anak-anak di ajak mengenal pawon, dapur tradisional

 oleh : Sidiq Harjanto

Alam dan kehidupan di desa tepi hutan menyediakan segenap pembelajaran dan media pengembangan diri bagi tiap-tiap generasi. Berangkat dari pemahaman itu, kami merintis model pendidikan lingkungan “Generasi Lestari” di Desa Mendolo. Program pendidikan lingkungan ini bertujuan untuk membangun kesadaran akan keterhubungan antara manusia dan alam melalui berbagai aspek kehidupan, seperti: sosial, budaya, ekonomi, hingga proses mental. Membuka program edukasi di 2026, kami melaksanakan dua rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperkuat "akar" anak-anak terhadap desa tempat tinggal, dan membangun "jangkar" emosional di dalam diri mereka sendiri.

Simulasi bertamu, kenal pawon, dan belajar komoditas

Pada tanggal 15 Februari 2026, anak-anak diajak untuk mengenal identitas lokal. Desa bukan sekadar tempat tinggal secara fisik, melainkan sebuah ekosistem sosial dan ekologis yang kompleks dan saling berkaitan. Melalui pemahaman itu, tak ada salahnya memulai pendidikan lingkungan dari pembelajaran etika. Pada sesi pertama, anak-anak diajak melakukan simulasi bertamu dalam rangka belajar unggah-ungguh (tata krama). Anak-anak berlatih bagaimana mengetok pintu rumah orang, menyapa, memosisikan diri, dan menghargai ruang hidup orang lain. Dalam perspektif konservasi, tata krama adalah "perekat sosial" yang menjaga keharmonisan antar-warga. Hal ini menjadi modal penting dalam membangun upaya kolaboratif menjaga hutan dan lingkungan di masa depan.

Belajar tatakrama bertamu

Selanjutnya, kami mengajak anak-anak memasuki pawon (dapur tradisional). Di sini, mereka belajar bahwa dapur bukan sekadar bangunan fisik yang berfungsi untuk memasak. Sebuah pawon adalah titik temu berbagai aspek. Termasuk antara hutan dan manusia. Di sanalah pusat pemrosesan energi yang mengoneksikan pangan dari alam dengan tubuh kita. Di dalamnya terdapat arsitektur unik yang penuh kearifan budaya, dan memenuhi aspek keberlanjutan dari kacamata ilmu pengetahuan modern. Misalnya, para-para di atas tungku untuk penyimpanan bahan pangan dan kayu bakar merupakan bentuk kaskade energi. Melalui teknologi vernakular, leluhur kita secara intuitif telah memahami prinsip termodinamika canggih melampaui zamannya. Tidak hanya berhenti pada teknologi, dapur tradisional juga sarat akan etika, seperti: pantangan menyisakan makanan. 

Sebagai salah satu bentuk pembelajaran kontekstual, anak-anak mengikuti proses pengolahan kluwek (Pangium edule) bersama para ibu dari KWT Brayanurip. Dengan melihat, memegang, dan mempraktikkan pengolahan secara langsung, mereka mengenal kluwek sebagai salah satu komoditas unggulan Desa Mendolo. Mengenal keunikan proses pengolahan dari biji yang mengandung racun asam sianida hingga menjadi bahan pangan yang gurih setelah difermentasi. Anak-anak belajar tentang kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam yang kompleks, menjadi produk bernilai ekonomi. 

Permainan Charades untuk pembelajaran emosi

Memasuki bulan Maret yang bertepatan dengan bulan Ramadan, fokus kegiatan bergeser ke arah "ekosistem internal" manusia, yaitu emosi. Momentum puasa menjadi laboratorium untuk mempraktikkan pengenalan emosi. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi sebuah latihan mengelola emosi dan melatih kesabaran. Bertajuk “Detektif Rasa: Menjelajahi Peta Emosi”, pada 10 Maret 2026, anak-anak diajak menjelajahi belantara emosi sebagai sisi penting kepribadian seorang manusia. 

Charades emosi

Melalui permainan “Charades” yang interaktif, anak-anak diajak untuk mengenali spektrum perasaan mereka. Satu orang peserta memperagakan ekspresi emosi dasar, seperti: senang, sedih, marah, takut, dan jijik. Para peserta yang lain menebak jenis emosi yang sedang diperagakan. Secara bergantian, mereka berlatih memahami diri sendiri dengan cara yang asyik. Pada sesi refleksi, anak-anak bebas menceritakan perasaan mereka tanpa dihakimi. Setiap emosi adalah valid, namun respon terhadapnya perlu dikelola.

Menurut Daniel Goleman, kemampuan mengenali perasaan sendiri adalah keterampilan paling dasar dari kecerdasan emosional (emotional intelligence)1. Kita perlu membangun skema konservasi yang tidak hanya bertumpu pada kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional. Anak yang mengenal emosinya akan lebih mampu berempati terhadap sesama, termasuk kepada satwa liar di alam, seperti Owa Jawa yang “bertetangga” dengan mereka. 

Dalam konteks program konservasi kolaboratif antara SwaraOwa - PPM Mendolo - KWT Brayanurip, rangkaian kegiatan ini merupakan upaya kami untuk memastikan bahwa inklusivitas habitat dimulai dari inklusivitas pendidikan. Dengan membekali anak-anak keterampilan tata krama, pemahaman tentang komoditas, dan kecerdasan emosional, kita sedang membangun fondasi bagi generasi penjaga hutan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beradab, dan tangguh secara mental. Salam Lestari!


Ref: Goleman, Daniel. Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosional. Cet. 20 Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2020.


Wednesday, March 11, 2026

Beasiswa SwaraOwa: Bahasa Inggris sebagai Jembatan Konservasi dan Pariwisata

 oleh : Imam Taufiqurrahman

Dari kiri ke kanan: Alek, Lukni , dan Iyan, di halaman Briliant English Course, 

Kampung Inggris, Pare.

Dewasa ini, bahasa asing—utamanya Inggris—menjadi hal penting untuk dipelajari. Penguasaan bahasa tersebut amat dibutuhkan bagi seseorang dalam interaksinya dengan masyarakat global. Kecakapan berbahasa Inggris menjadi prasyarat di banyak bidang, terlebih di pariwisata. 

Sektor kepariwisataan, dalam bentuk ekowisata satwa liar, yang dikembangkan Swaraowa di Desa Kayupuring dan Mendolo, tak luput dari kebutuhan itu. Sebagai desa yang memiliki potensi satwa liar dan telah banyak mendapat kunjungan wisatawan asing, pengembangan kapasitas masyarakat desa dalam bahasa Inggris menjadi penting dan sangat diperlukan. 

Itulah yang melatarbelakangi Swaraowa untuk memfasilitasi tiga pemuda, Lukni Al Khabib dan Feri Fitriyanto dari Desa Kayupuring, Kec. Petungkriyono dan Alek Ripa’i dari Desa Mendolo, Kec. Lebakbarang, untuk belajar berbahasa Inggris. Ketiganya adalah sudah ikut serta dalam pengembangan wisata minat khusus pengamatan owa "gibbon watching" di Kayupuring dan Mendolo, yang setidaknya 3 tahun terakhir mendapat kunjunga wisatawan mancanegara. Ketiganya juga tim monitoring keanekargaman hayati, yang setiap 2 bulan sekali melakukan kegiatan pengamatan satwaliar khususnya Owajawa secara partisipatif di desa mereka.  

Mereka menjadi yang pertama  ditahun 2026 sebagai penerima beasiswa belajar bahasa Inggris dari Swaraowa. Selama satu bulan, di rentang 12 Januari-8 Februari 2026, ketiganya berkesempatan belajar di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur. Ketiganya mendapat pembelajaran secara intensif, tidak hanya di ruang kelas, namun juga yang berlangsung di keseharian mereka selama tinggal di asrama.

Secara praktis, para pemuda ini mengikuti program kelas percakapan yang bertujuan menyiapkan pesertanya untuk mampu aktif berbahasa Inggris. Program ini menempa kepercayaan diri dalam berkomunikasi agar mampu bercakap-cakap dengan lancar dan penguasaan berbagai macam kosakata, termasuk tata bahasa.

Alek dan teman sekelasnya foto bersama dengan gaya Owajawa

Kegiatan kursus bahasa Inggris di lingkungan seperti di kampung Inggris ini, juga memupuk rasa percaya diri, dari Lukni, Alek dan Iyan, yang sehari-sehari memang di tinggal di hutan, bertemu dengan teman-teman kursus dari berbagai daerah di Indonesia, bertukar pengalaman dan terntu saja ikut mempromosikan owa jawa di antara teman-teman mereka. 

Ketiganya benar-benar memanfaatkan kesempatan belajar di Kampung Pare sebagai sarana pengembangan diri. Selama masa tinggal, mereka berinteraksi dan menggali pengalaman bersama para peserta lain dari berbagai wilayah di Indonesia.

suasana pembelajaran di kampung Inggris

Di tiap akhir pekan, masing-masing mereka ditugasi menulis cerita serta pengalaman mingguan. Isinya berupa kegiatan belajar di kelas maupun aktivitas keseharian mereka di Kampung Inggris Pare. Tentu banyak kisah, suka dan duka, yang mereka rasakan (catatan tersedia pada tautan di ujung tulisan ini). Di penghujung catatan mereka, masing-masing membagikan kesan dan refleksi atas berbagai hal yang telah dilalui. Kami cuplik di sini:

Lukni Al Khabib:

After one month of studying at Brilliant Kampung Inggris, I felt a significant improvement in my English skills, especially in speaking and vocabulary mastery. Daily practice, supportive tutors, and a friendly environment made the learning process effective and enjoyable. This program provided valuable experience and motivation for me to continue improving my English skills in the future. I would like to express my deepest gratitude to SwaraOwa and my colleagues at Swaraowa. Thank you for providing a scholarship to study English in Pare.

Feri Fitriyanto (Iyan):

I say a big thank you to Swaraowa, with this scholarship from Swaraowa I can learn English because this opportunity is not available to everyone. And I have a desire to continue my English lessons in Kampung Inggris for maximum results.

Alek Ripa’i:

It's really fun and exciting to studying here. Thanks to Swaraowa for giving me this opportunity! And last but not least! Thanks to all my tutors, my classmates, campmates, and everyone in Kampung Inggris. Thank you, for all the good memories, and i will see you when i see you!

Mereka, generasi muda dari desa-desa yang menjadi habitat owa jawa, telah menumbuhkan harapan di masa depan. Merekalah yang akan mewakili masyarakatnya memperkenalkan potensi desa mereka masing-masing. Ke depan, menjadi tugas mereka sebagai duta dalam menyambut, berinteraksi, dan berkomunikasi dengan masyarakat global yang datang berkunjung ke desa mereka.



Friday, March 6, 2026

Dari Owa Jawa ke Burung Cendrawasih: Jejak SwaraOwa di Papua


pembukaan symposium FM12-NBCS Confrence

oleh : Arif Setiawan

Konferensi internasional pertama di tahun 2026, ketika mengetahui acara ini di pertengahan tahun 2025, akan di gelar di Papua, saya langsung menyiapkan abstract dan mendaftar. Pertemuan botanist Flora Malesiana ke 12 ini akan di gabung dengan konfrensi nature based climate solution yang pertama, kesempatan ke pulau Impian Tanah Papua. 

Sebagai pengantar , dalam konteks botani, ilmu tumbuhan dan biogeografi, istilah Malesiana merujuk sebuah region floristic yang  memiliki kesamaan ciri khas tumbuhan, tidak merujuk pada nama sebuah negara Malaysia atau Melanistic.

Flora Malesiana, adalah proyek flora internasional yang bertujuan untuk menamai, mendeskripsikan, dan menginventarisasi flora tumbuhan berpembuluh lengkap di Malesia, wilayah yang meliputi Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei Darussalam, Filipina, Timor-Leste, dan Papua Nugini. Kawasan keanekaragaman hayati Malesia ini menyimpan keanekaragaman tumbuhan berpembuluh yang luar biasa dengan lebih dari 41.500 spesies yang saat ini diakui dan dilaporkan dari wilayah tersebut (Plants of the World Online). Singkatnya, "Malesiana" adalah identitas biologi yang menyatukan kepulauan di Asia Tenggara hingga Papua berdasarkan kekayaan alamnya, terlepas dari batas politik negara masing-masing.

Booth Kopi Owa di Manokwari City Mall

Symposium di adakan setiap 3 tahuan sekali, dan untuk yang ke 12 kalinya diselenggarakan di Papua pada tahun ini, tanggal 9- 14 Februari 2026. Pertemuan (Flora Malesiana ke12( FM12), adalah pertemuan para ahli tanaman untuk mengupdate proyek flora dari perwakilan masing-masing wilayah ataupun taxa. dan tahun ini bersamaan dilaksanakan dengan konferensi Solusi iklim berbasis alam ( NCBS), menurut penyelenggara karena didasari keterkaitan antara kekayaan tanaman dan ketahanan iklim. Sinergi Riset dan Kebijakan: FM12 berfokus pada dokumentasi dan pelestarian keanekaragaman tumbuhan, sementara NBCS berfokus pada pemanfaatan alam tersebut untuk mengatasi perubahan iklim. Penggabungan ini bertujuan agar data ilmiah tentang flora dapat langsung menjadi dasar kebijakan solusi iklim

Kenapa swaraOwa bisa hadir di acara ini? Nature Based Climate Solution-Solusi Iklim berbasis alam, dalam tema inilah swaraOwa bisa hadir, karena kegiatan swaraOwa yang dilakukan di Jawa Tengah untuk konservasi Owa Jawa merupakan bentuk kegiatan solusi iklim berbasis alam. Lebih Istimewa lagi oleh panitia, selain terpilih menjadi salah satu keynote speaker dalam konferensi, swaraOwa juga menampilkan booth pameran Kopi Owa dari tanggal 9 hingga tanggal 13 Februari bertempat di Mall City Manokwari.

Pembukaan acara symposium berada di kantor gubernur Papua Barat, menurut laporan ketua panitia Prof Charlie D Heatubun, acara ini di hadiri oleh sekitar 300 orang, dari 15 negara. Dalam sambutannya Gubernur Papua Barat , Dominggus Mandacan, sebagai gubernur dan ketu suku besar Arfak, menyampaikan bahwa Provinsi Papua barat dengan tutupan hutan lebih dari 70 % luas wilayahnya hutan tumbuh di atas lapisan tanah yang tipis, ketika rusak perlu waktu lama untuk pulih, Gubernur yang pernah mendapat penghargaan Pahlawan konservasi global tahun 2019 menyampaikan filosifi bahwa hutan hutan papua adalah mama, Ungkapan ini bermakna hutan adalah sumber kehidupan, kekuatan, perlindungan, dan kasih sayang yang wajib dijaga keberlanjutannya bagi masyarakat Papua.

Hari ke-dua tanggal 10 Februari hingga hari ke 4, acara symposium bertempat di Hotel Swissbell Manokwari, Swaraowa bergabung sebagai salah satu pembicara dalam Solusi Iklim berbasis Alam, dengan presentasi berjudul “ Bridging Biodiversity and Livelihoods: The Javan Gibbon Conservation Model”. 

presentasi swaraowa di FM12-NBCS Manokwari

Di sesi pameran, swaraOwa mempresentasikan produk-produk dari program community development dan livelihood konservasi Owa jawa. Apresiasi peserta dan Masyarakat umum dari kota manokwari singgah di booth swaraOwa, menjadi tempat untuk lebih banyak diskusi, bertukar pengalaman dan membuat jejaring konservasi baru, peserta yang datang juga bisa sekaligus bica mencoba kopi owa yang menjadi duta konservasi owa di tanah papua waktu ini.

Acara hari terakhir, tanggal 13 Februari adalah field trip, kunjungan lapangan, ini yang ditunggu-tunggu, karena panitia menawarkan kunjungan ke pegunungan Arfak, habitat asli burung-burung endemik papua. Jam 6 pagi kami semua ada sekitar 70 orang, menggunakan lebih dari 20 mobil konvoi bergerak bersama menuju tujuan pertama yaitu desa Kwau, desa Wisata pengamatan burung. Perjalanan ke lokasi, sudah sangat bagus jalan,meskipun jalan naik turun begitu curam, namun semua bisa di lalui dengan mudah. 

Kampung-kampung nampak sudah maju, dengan bangungan-bangunan permanen, adajuga rumah asli, rumah seribu tiang, rumah adat asli suku pegunungan Arfak. Rumah kayu dengan tiang-tiang kecil yang banyak dan dinding dari kulit kayu. Perjalanan sangat menyenangkan karena kanan kiri hutan lebat, dan vegetasi pegunungan yang khas.

Kuranglebih jam 10 pagi, kami sampai dai desa Kwau, kami langsung dibagi menjadi beberapa group ke lokasi pengamatan burung cendrawasih papua, salah satu yang menarik disini adalah Vogelkop bowerbird ( Amblyornis inornate), si burung pintar. Pintar karena perilaku kawinnya yang unik, kecerdasannya  membangun sarang yang besar hingga 1 meter diametrnya untuk kawin, di permukaan tanah dan menyusun warna dan struktur material sarang berdasarakan warna dan ukuran, ditata sangat rapi untuk menarik betina datang. 

sarang burung pintar

Namun pagi itu, karena rombongan cukup banyak dan sudah siang, kita tidak dapat menyaksikan burung ini beraksi, hanya menyaksikan sarang yang sudah jadi, burung jantan, membangun sarang dengan sangat menarik, arsitektur yang kompleks, ranting disusun menyerupai pondok, tinggi antara 40-1 meter, membersihkan area pintu pondok/sarang, melakukan kurasi benda, estites dan kurasi warna material,  termasuk sampah plastik dan tutup botol yang di kelompokkan berdasarkan warna, dengan tujuan untuk menarik perhatian burung betina. Menurut penelitian burung ini memang memiliki volume otak yang lebih besar dibanding burung lainnya, dan menunjukkan evolusi kecerdasan untuk menutup penampilan yang kurang menarik. Burung ini sempat terlihat di sekitar sarang, namun tidak terdokumentasikan dengan baik, warna gelap dan pencahayaan yang kurang pas untuk mengabadikannya, namun dengan mata kepala sendiri menyaksikan burung ini langsung adalah keberuntungan “lifer”.

Di hutan Kwau ini, kami juga bisa menyaksikan pohon pisang raksasa endemik Papua  ( Musa ingens), species herba paling besar di dunia, tumbuh di antara lebatnya hutan pegunungan Arfak,batang menjulang tinggi  3 kali pohon pisang pada umumnya, dan diameter yang lebih dari 80 cm. Batang pisang ini nampak lebih putih dibanding warna batang pisang pada umumnya, dan buah ukuran kecil-kecil, menurut inforamasi buahnnya tidak bisa di konsumsi. Pisang raksasa pertama kali di identifikasi oleh botanist dari Inggris, di tahun 1954, oleh Norman Willison Simmonds. 

pisang raksasa, di hutan pegunungan Arfak


landscape hutan pegunungan Arfak

Kampung Undohotma, Anggi-Danau Giji

Perjalanan selanjutnya, naik lagi ke puncak pegunungan Arfak, ke kampung Undohotma, di sekitar danau Anggi, danau pegunungan di ketinggian 1800-2000 mdpl. Disini kami mengunjungi pusat penelitian , konservasi dan pengembangan ekonomi,  yang di kelola oleh Bentara Papua dan Universitas Papua, yang melakukan penelitian keanekaragaman hayati serta mendorong tata kelola berkelanjutan dan kegiatan ekonomi untuk warga sekitar. Ada pusat produksi kopi Anggi disini, kopi arabica dan koleksi flora khas pegunungan arfak ada disini. 

Landskap pegunungan dengan dua danau yang terpisah berdkatan Danau Giji dan Danau Gida, sangat memanjakan mata, vegetasi berlumut khas pegunungan sperti rododendron dan kantung semar mudah di amati di sekitar danau. Kunjungan di danau Anggi ini menjadi penutup acara di Papu. Semoga bisa berkunjung kesini lagi di lain waktu.



Monday, March 2, 2026

Memperkuat Akar Konservasi: Workshop Masterplan Wisata Satwa Liar di Toloulaggo

 

Foto bersama peserta workshop

Oleh :Aloysius Yoyok

Desa Toloulaggok, di Siberut Barat Daya memiliki potensi keanekaragaman hayati yang sangat kaya, khususnya satwa liar endemik Mentawai. Kawasan ini dapat berfungsi sebagai laboratorium alam yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, serta penelitian. 

Keanekaragaman hayati bukan hanya aset ekologis, tetapi juga modal ekonomi berkelanjutan apabila dikelola dengan baik melalui pendekatan wisata minat khusus. Dengan pengelolaan yang tepat, desa dapat memperoleh manfaat ekonomi, sosial, dan budaya, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Wisata pengamatan hidupan liar di Siberut khususnya Toloulaggo, yang di inisiasi sejak tahun 2016, setidaknya telah membuktikan bahwa keberadaan keanekaragaman hayati endemic siberut telah mengundang pegiat satwaliar untuk datang dan menikmati di habitat aslinya. Dinamika wisata minat khusus dan proses kegiatan dari awal hingga saat ini mengalami pasang surut, namun tantangan untuk membuat siberut menjadi salah satu destinasi wisata pengamatan primata di Indonesia terus berjalan.

Mempertemukan pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan wisata satwaliar di Toloulago kemudian menjadi salah satu agenda di awal tahun 2026 ini. swaraOwa mengambil peran untuk memfasilitasi pertemuan ini, dalam tajuk workshop penyusunan masterplan Wisata Satwaliar di Toloulaggo.  Workshop ini diselenggarakan bertujuan untuk menyatukan pemahaman, menyusun rencana strategis, serta membangun kesepakatan bersama dalam pengembangan wisata minat khusus pengamatan satwaliar di Desa Toloulaggo.

Tanggal 10-12 Februari 2026, acara yang direncanakan di mulai, di koordinasi oleh panitia lokal dan generasi muda Toloulaggo, acara ini mengundang setidaknya 31 orang, pihak-pihak atau perwakilan warga, suku, pemerintah desa dan warga Toloulaggo. Acara ini juga mendapat dukungan langsung dari Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai, Bp, Aban Barnabas, dan dua narasumber yang dihadirkan oleh tim swaraOwa yaitu Imam Taufiqurrahman dan Heru, yang merupkan tour operator dan pemandu wisata minat khusus di Jawa Tengah dan dari Banyuwangi, Jawa Timur. Kehadiran mereka memberi contoh langsung wisata minat khusus pengamatan hidupan liar di beberapa lokasi di Jawa.

suasan pertemuan

Hari pertama, bersama perserta setelah acara pembukaan dan sharing pengalaman dari pembicara undangan, perserta dengan fasilitator membuka diskusi terbuka untuk pengelolaan wisata desa Toloulago. Beberapa peserta diskusi terlihat aktif memberikan input, komentar dan pandangan yang kemudian berhasil disepakati bersama:

A. Pembentukan Kepengurusan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang akan menjadi pengelola usaha wisata minat khusus pengamatan satwa liar di Toloulaggo.

B. Diskusi di sesi ke 2 sore itu juga berhasil membuahkan beberapa rekomendasi yang di sepakati bersama, yaitu tentang  :

1. Penyelenggaraan wisata minat khusus pengamatan satwa liar di wilayah hutan Toloulaggo agar bisa melibatkan dan menjangkau lebih banyak lagi elemen masyarakat yang lain, tidak terbatas pada pemilik hutan dan kerabatnya saja.

2. Perlunya menata pengelolaan wisata minat khusus pengamatan satwa liar di Toloulaggo ini dengan penyusunan prosedur operasional standar (SOP) yang merangkum sistem pelaporan kunjungan wisatawan, koordinasi, sistem pelayanan kepada wisatawan, jadwal gilir penyedia jasa layanan akomodasi, penyediaan petugas pelayan wisatawan dan hal-hal lain yang dibutuhkan. 

SOP ini akan menjadi pedoman dalam penyelenggaraan usaha pengembangan wisata minat khusus pengamatan satwa liar ini.

3. Susunan kepengurusan Pokdarwis ini masih semacam embrio yang diharapkan oleh Kepala Desa menjadi pengurus Pokdarwis di tingkat desa, karena Desa Katurei  belum memiliki organisasi pengelola usaha wisata. 

4. Pokdarwis ini diberi nama Simatoro yang memiliki arti bersinar.

5. Kepengurusan Pokdarwis ini belum selesai dibentuk karena menimbang peserta yang hadir belum mereprentasikan warga se-desa, mengingat Pokdarwis ini akan diarahkan menjadi Pokdarwis tingkat desa.

6. Ke 4 orang yang sudah terpilih itu akan bertugas :

Di 6 bulan pertama sejak ke 4 orang pengurus pertama itu terpilih :

a) Dikoordinir oleh Ketua Pokdarwis akan menyelenggarakan rapat bersama Kepala Desa dan elemen masyarakat lain yang dibutuhkan untuk melengkapi susunan kepengurusan, kelengkapan organisasi (AD/ART dll yang dibutuhkan) dan SK Kepala Desa di 6 bulan pertama semenjak mereka terpilih sebagai pengurus pertama Pokdarwis  

b) Visi dan misi Pokdarwis adalah konservasi dan kesejahteraan masyarakat.

c) Menyusun destinasi dan paket-paket wisata 

d) Bersama pemangku kepentingan wisata minat khusus di Toloulaggo menyusun prosedur operasional standar untuk pengelolaan wisata pengamatan satwa liar di Toloulaggo.

e) Distribusi prosedur operasional standar ke pihak-pihak yang berkepentingan dengan penyelenggaraan wisata  minat khusus pengamatan satwa liar.

f) Melengkapi legalitas yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan organisasi, misalnya Surat Keterangan Terdaftar di Kesbanglinmas, perpajakan, surat ijin usaha dan lain-lain yang dibutuhkan

6 bulan ke dua :

a) Menyelesaikan pembuatan Akta notaris sampai ke tingkat Kemenkumham

b) Mengidentifikasi dan mengusahakan penyediaan kebutuhan sarana-pra sarana pendukung untuk penyelenggaraan wisata minat khusus pengamaatan satwa liar di Toloulaggo

c) Menyiapkan sarana akomodasi untuk tamu yang datang berkunjung.

Poin Penting dari Kegiatan workshop:

Kolaborasi Multipihak: Melibatkan Pemerintah Desa Katurei, tokoh masyarakat adat Uma Saumanuk, praktisi pariwisata, hingga komunitas lokal (Siripok Bilou).

Restorasi Fasilitas: Persiapan mencakup pembersihan kembali pondok pengamatan yang sempat tertutup semak belukar guna menyambut wisatawan minat khusus.

Sinergi Kelembagaan: Keterlibatan Dinas Pariwisata dan narasumber ahli diharapkan dapat menyinkronkan kearifan lokal dengan standar pengelolaan wisata profesional.

Fokus Masterplan: Diskusi difokuskan pada keterlibatan pemilik lahan hutan (pumonean) agar konservasi primata berjalan selaras dengan kesejahteraan ekonomi warga.

Kegiatan ini bukan sekadar diskusi teknis, melainkan upaya memperkokoh kerja sama antar-pemangku kepentingan demi menjaga kelestarian hutan Siberut.

simakobu ( Simias concolor) yang dijumpai di Toloulaggo

Hari kedua,  sesuai dengan jadwal acara yang sudah disusun adalah kunjungan ke pos pengamatan satwa liar di kawasan hutan Toloulaggo. Pagi itu jam 06.30 WIB peserta dan sebagian panitia bersama-sama berangkat melintasi jalur-jalur pengamatan yang biasa dilalui oleh pelaku wisata yang sudah terlebih dahulu terlibat. 

Dalam perjalanan menyusuri jalan setapak di hutan itu, kelompok 1 peserta berhasil berjumpa dengan 1 kelompok simakobu, mereka berhasil mengambil beberapa foto primata itu. Titik ketemu rombongan peserta yang terbagai menjadi 2 tim itu adalah di Pos pengamatan. Sesudah beristirahat sejenak dan mengambil foto bersama peserta dan panitia kemudian bergerak meninggalkan hutan Toloulaggo itu. Kegiatan hari ke 2 itupun ditutup dengan makan siang bersama di rumah salah seorang anggota panitia.