| Foto bersama peserta workshop |
Oleh :Aloysius Yoyok
Desa Toloulaggok, di Siberut Barat Daya memiliki potensi keanekaragaman hayati yang sangat kaya, khususnya satwa liar endemik Mentawai. Kawasan ini dapat berfungsi sebagai laboratorium alam yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, serta penelitian.
Keanekaragaman hayati bukan hanya aset ekologis, tetapi juga modal ekonomi berkelanjutan apabila dikelola dengan baik melalui pendekatan wisata minat khusus. Dengan pengelolaan yang tepat, desa dapat memperoleh manfaat ekonomi, sosial, dan budaya, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Wisata pengamatan hidupan liar di Siberut khususnya Toloulaggo, yang di inisiasi sejak tahun 2016, setidaknya telah membuktikan bahwa keberadaan keanekaragaman hayati endemic siberut telah mengundang pegiat satwaliar untuk datang dan menikmati di habitat aslinya. Dinamika wisata minat khusus dan proses kegiatan dari awal hingga saat ini mengalami pasang surut, namun tantangan untuk membuat siberut menjadi salah satu destinasi wisata pengamatan primata di Indonesia terus berjalan.
Mempertemukan pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan wisata satwaliar di Toloulago kemudian menjadi salah satu agenda di awal tahun 2026 ini. swaraOwa mengambil peran untuk memfasilitasi pertemuan ini, dalam tajuk workshop penyusunan masterplan Wisata Satwaliar di Toloulaggo. Workshop ini diselenggarakan bertujuan untuk menyatukan pemahaman, menyusun rencana strategis, serta membangun kesepakatan bersama dalam pengembangan wisata minat khusus pengamatan satwaliar di Desa Toloulaggo.
Tanggal 10-12 Februari 2026, acara yang direncanakan di mulai, di koordinasi oleh panitia lokal dan generasi muda Toloulaggo, acara ini mengundang setidaknya 31 orang, pihak-pihak atau perwakilan warga, suku, pemerintah desa dan warga Toloulaggo. Acara ini juga mendapat dukungan langsung dari Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai, Bp, Aban Barnabas, dan dua narasumber yang dihadirkan oleh tim swaraOwa yaitu Imam Taufiqurrahman dan Heru, yang merupkan tour operator dan pemandu wisata minat khusus di Jawa Tengah dan dari Banyuwangi, Jawa Timur. Kehadiran mereka memberi contoh langsung wisata minat khusus pengamatan hidupan liar di beberapa lokasi di Jawa.
| suasan pertemuan |
Hari pertama, bersama perserta setelah acara pembukaan dan sharing pengalaman dari pembicara undangan, perserta dengan fasilitator membuka diskusi terbuka untuk pengelolaan wisata desa Toloulago. Beberapa peserta diskusi terlihat aktif memberikan input, komentar dan pandangan yang kemudian berhasil disepakati bersama:
A. Pembentukan Kepengurusan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang akan menjadi pengelola usaha wisata minat khusus pengamatan satwa liar di Toloulaggo.
B. Diskusi di sesi ke 2 sore itu juga berhasil membuahkan beberapa rekomendasi yang di sepakati bersama, yaitu tentang :
1. Penyelenggaraan wisata minat khusus pengamatan satwa liar di wilayah hutan Toloulaggo agar bisa melibatkan dan menjangkau lebih banyak lagi elemen masyarakat yang lain, tidak terbatas pada pemilik hutan dan kerabatnya saja.
2. Perlunya menata pengelolaan wisata minat khusus pengamatan satwa liar di Toloulaggo ini dengan penyusunan prosedur operasional standar (SOP) yang merangkum sistem pelaporan kunjungan wisatawan, koordinasi, sistem pelayanan kepada wisatawan, jadwal gilir penyedia jasa layanan akomodasi, penyediaan petugas pelayan wisatawan dan hal-hal lain yang dibutuhkan.
SOP ini akan menjadi pedoman dalam penyelenggaraan usaha pengembangan wisata minat khusus pengamatan satwa liar ini.
3. Susunan kepengurusan Pokdarwis ini masih semacam embrio yang diharapkan oleh Kepala Desa menjadi pengurus Pokdarwis di tingkat desa, karena Desa Katurei belum memiliki organisasi pengelola usaha wisata.
4. Pokdarwis ini diberi nama Simatoro yang memiliki arti bersinar.
5. Kepengurusan Pokdarwis ini belum selesai dibentuk karena menimbang peserta yang hadir belum mereprentasikan warga se-desa, mengingat Pokdarwis ini akan diarahkan menjadi Pokdarwis tingkat desa.
6. Ke 4 orang yang sudah terpilih itu akan bertugas :
Di 6 bulan pertama sejak ke 4 orang pengurus pertama itu terpilih :
a) Dikoordinir oleh Ketua Pokdarwis akan menyelenggarakan rapat bersama Kepala Desa dan elemen masyarakat lain yang dibutuhkan untuk melengkapi susunan kepengurusan, kelengkapan organisasi (AD/ART dll yang dibutuhkan) dan SK Kepala Desa di 6 bulan pertama semenjak mereka terpilih sebagai pengurus pertama Pokdarwis
b) Visi dan misi Pokdarwis adalah konservasi dan kesejahteraan masyarakat.
c) Menyusun destinasi dan paket-paket wisata
d) Bersama pemangku kepentingan wisata minat khusus di Toloulaggo menyusun prosedur operasional standar untuk pengelolaan wisata pengamatan satwa liar di Toloulaggo.
e) Distribusi prosedur operasional standar ke pihak-pihak yang berkepentingan dengan penyelenggaraan wisata minat khusus pengamatan satwa liar.
f) Melengkapi legalitas yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan organisasi, misalnya Surat Keterangan Terdaftar di Kesbanglinmas, perpajakan, surat ijin usaha dan lain-lain yang dibutuhkan
6 bulan ke dua :
a) Menyelesaikan pembuatan Akta notaris sampai ke tingkat Kemenkumham
b) Mengidentifikasi dan mengusahakan penyediaan kebutuhan sarana-pra sarana pendukung untuk penyelenggaraan wisata minat khusus pengamaatan satwa liar di Toloulaggo
c) Menyiapkan sarana akomodasi untuk tamu yang datang berkunjung.
Poin Penting dari Kegiatan workshop:
Kolaborasi Multipihak: Melibatkan Pemerintah Desa Katurei, tokoh masyarakat adat Uma Saumanuk, praktisi pariwisata, hingga komunitas lokal (Siripok Bilou).
Restorasi Fasilitas: Persiapan mencakup pembersihan kembali pondok pengamatan yang sempat tertutup semak belukar guna menyambut wisatawan minat khusus.
Sinergi Kelembagaan: Keterlibatan Dinas Pariwisata dan narasumber ahli diharapkan dapat menyinkronkan kearifan lokal dengan standar pengelolaan wisata profesional.
Fokus Masterplan: Diskusi difokuskan pada keterlibatan pemilik lahan hutan (pumonean) agar konservasi primata berjalan selaras dengan kesejahteraan ekonomi warga.
Kegiatan ini bukan sekadar diskusi teknis, melainkan upaya memperkokoh kerja sama antar-pemangku kepentingan demi menjaga kelestarian hutan Siberut.
| simakobu ( Simias concolor) yang dijumpai di Toloulaggo |
Hari kedua, sesuai dengan jadwal acara yang sudah disusun adalah kunjungan ke pos pengamatan satwa liar di kawasan hutan Toloulaggo. Pagi itu jam 06.30 WIB peserta dan sebagian panitia bersama-sama berangkat melintasi jalur-jalur pengamatan yang biasa dilalui oleh pelaku wisata yang sudah terlebih dahulu terlibat.
Dalam perjalanan menyusuri jalan setapak di hutan itu, kelompok 1 peserta berhasil berjumpa dengan 1 kelompok simakobu, mereka berhasil mengambil beberapa foto primata itu. Titik ketemu rombongan peserta yang terbagai menjadi 2 tim itu adalah di Pos pengamatan. Sesudah beristirahat sejenak dan mengambil foto bersama peserta dan panitia kemudian bergerak meninggalkan hutan Toloulaggo itu. Kegiatan hari ke 2 itupun ditutup dengan makan siang bersama di rumah salah seorang anggota panitia.