Friday, March 6, 2026

Dari Owa Jawa ke Burung Cendrawasih: Jejak SwaraOwa di Papua


pembukaan symposium FM12-NBCS Confrence

oleh : Arif Setiawan

Konferensi internasional pertama di tahun 2026, ketika mengetahui acara ini di pertengahan tahun 2025, akan di gelar di Papua, saya langsung menyiapkan abstract dan mendaftar. Pertemuan botanist Flora Malesiana ke 12 ini akan di gabung dengan konfrensi nature based climate solution yang pertama, kesempatan ke pulau Impian Tanah Papua. 

Sebagai pengantar , dalam konteks botani, ilmu tumbuhan dan biogeografi, istilah Malesiana merujuk sebuah region floristic yang  memiliki kesamaan ciri khas tumbuhan, tidak merujuk pada nama sebuah negara Malaysia atau Melanistic.

Flora Malesiana, adalah proyek flora internasional yang bertujuan untuk menamai, mendeskripsikan, dan menginventarisasi flora tumbuhan berpembuluh lengkap di Malesia, wilayah yang meliputi Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei Darussalam, Filipina, Timor-Leste, dan Papua Nugini. Kawasan keanekaragaman hayati Malesia ini menyimpan keanekaragaman tumbuhan berpembuluh yang luar biasa dengan lebih dari 41.500 spesies yang saat ini diakui dan dilaporkan dari wilayah tersebut (Plants of the World Online). Singkatnya, "Malesiana" adalah identitas biologi yang menyatukan kepulauan di Asia Tenggara hingga Papua berdasarkan kekayaan alamnya, terlepas dari batas politik negara masing-masing.

Booth Kopi Owa di Manokwari City Mall

Symposium di adakan setiap 3 tahuan sekali, dan untuk yang ke 12 kalinya diselenggarakan di Papua pada tahun ini, tanggal 9- 14 Februari 2026. Pertemuan (Flora Malesiana ke12( FM12), adalah pertemuan para ahli tanaman untuk mengupdate proyek flora dari perwakilan masing-masing wilayah ataupun taxa. dan tahun ini bersamaan dilaksanakan dengan konferensi Solusi iklim berbasis alam ( NCBS), menurut penyelenggara karena didasari keterkaitan antara kekayaan tanaman dan ketahanan iklim. Sinergi Riset dan Kebijakan: FM12 berfokus pada dokumentasi dan pelestarian keanekaragaman tumbuhan, sementara NBCS berfokus pada pemanfaatan alam tersebut untuk mengatasi perubahan iklim. Penggabungan ini bertujuan agar data ilmiah tentang flora dapat langsung menjadi dasar kebijakan solusi iklim

Kenapa swaraOwa bisa hadir di acara ini? Nature Based Climate Solution-Solusi Iklim berbasis alam, dalam tema inilah swaraOwa bisa hadir, karena kegiatan swaraOwa yang dilakukan di Jawa Tengah untuk konservasi Owa Jawa merupakan bentuk kegiatan solusi iklim berbasis alam. Lebih Istimewa lagi oleh panitia, selain terpilih menjadi salah satu keynote speaker dalam konferensi, swaraOwa juga menampilkan booth pameran Kopi Owa dari tanggal 9 hingga tanggal 13 Februari bertempat di Mall City Manokwari.

Pembukaan acara symposium berada di kantor gubernur Papua Barat, menurut laporan ketua panitia Prof Charlie D Heatubun, acara ini di hadiri oleh sekitar 300 orang, dari 15 negara. Dalam sambutannya Gubernur Papua Barat , Dominggus Mandacan, sebagai gubernur dan ketu suku besar Arfak, menyampaikan bahwa Provinsi Papua barat dengan tutupan hutan lebih dari 70 % luas wilayahnya hutan tumbuh di atas lapisan tanah yang tipis, ketika rusak perlu waktu lama untuk pulih, Gubernur yang pernah mendapat penghargaan Pahlawan konservasi global tahun 2019 menyampaikan filosifi bahwa hutan hutan papua adalah mama, Ungkapan ini bermakna hutan adalah sumber kehidupan, kekuatan, perlindungan, dan kasih sayang yang wajib dijaga keberlanjutannya bagi masyarakat Papua.

Hari ke-dua tanggal 10 Februari hingga hari ke 4, acara symposium bertempat di Hotel Swissbell Manokwari, Swaraowa bergabung sebagai salah satu pembicara dalam Solusi Iklim berbasis Alam, dengan presentasi berjudul “ Bridging Biodiversity and Livelihoods: The Javan Gibbon Conservation Model”. 

presentasi swaraowa di FM12-NBCS Manokwari

Di sesi pameran, swaraOwa mempresentasikan produk-produk dari program community development dan livelihood konservasi Owa jawa. Apresiasi peserta dan Masyarakat umum dari kota manokwari singgah di booth swaraOwa, menjadi tempat untuk lebih banyak diskusi, bertukar pengalaman dan membuat jejaring konservasi baru, peserta yang datang juga bisa sekaligus bica mencoba kopi owa yang menjadi duta konservasi owa di tanah papua waktu ini.

Acara hari terakhir, tanggal 13 Februari adalah field trip, kunjungan lapangan, ini yang ditunggu-tunggu, karena panitia menawarkan kunjungan ke pegunungan Arfak, habitat asli burung-burung endemik papua. Jam 6 pagi kami semua ada sekitar 70 orang, menggunakan lebih dari 20 mobil konvoi bergerak bersama menuju tujuan pertama yaitu desa Kwau, desa Wisata pengamatan burung. Perjalanan ke lokasi, sudah sangat bagus jalan,meskipun jalan naik turun begitu curam, namun semua bisa di lalui dengan mudah. 

Kampung-kampung nampak sudah maju, dengan bangungan-bangunan permanen, adajuga rumah asli, rumah seribu tiang, rumah adat asli suku pegunungan Arfak. Rumah kayu dengan tiang-tiang kecil yang banyak dan dinding dari kulit kayu. Perjalanan sangat menyenangkan karena kanan kiri hutan lebat, dan vegetasi pegunungan yang khas.

Kuranglebih jam 10 pagi, kami sampai dai desa Kwau, kami langsung dibagi menjadi beberapa group ke lokasi pengamatan burung cendrawasih papua, salah satu yang menarik disini adalah Vogelkop bowerbird ( Amblyornis inornate), si burung pintar. Pintar karena perilaku kawinnya yang unik, kecerdasannya  membangun sarang yang besar hingga 1 meter diametrnya untuk kawin, di permukaan tanah dan menyusun warna dan struktur material sarang berdasarakan warna dan ukuran, ditata sangat rapi untuk menarik betina datang. 

sarang burung pintar

Namun pagi itu, karena rombongan cukup banyak dan sudah siang, kita tidak dapat menyaksikan burung ini beraksi, hanya menyaksikan sarang yang sudah jadi, burung jantan, membangun sarang dengan sangat menarik, arsitektur yang kompleks, ranting disusun menyerupai pondok, tinggi antara 40-1 meter, membersihkan area pintu pondok/sarang, melakukan kurasi benda, estites dan kurasi warna material,  termasuk sampah plastik dan tutup botol yang di kelompokkan berdasarkan warna, dengan tujuan untuk menarik perhatian burung betina. Menurut penelitian burung ini memang memiliki volume otak yang lebih besar dibanding burung lainnya, dan menunjukkan evolusi kecerdasan untuk menutup penampilan yang kurang menarik. Burung ini sempat terlihat di sekitar sarang, namun tidak terdokumentasikan dengan baik, warna gelap dan pencahayaan yang kurang pas untuk mengabadikannya, namun dengan mata kepala sendiri menyaksikan burung ini langsung adalah keberuntungan “lifer”.

Di hutan Kwau ini, kami juga bisa menyaksikan pohon pisang raksasa endemik Papua  ( Musa ingens), species herba paling besar di dunia, tumbuh di antara lebatnya hutan pegunungan Arfak,batang menjulang tinggi  3 kali pohon pisang pada umumnya, dan diameter yang lebih dari 80 cm. Batang pisang ini nampak lebih putih dibanding warna batang pisang pada umumnya, dan buah ukuran kecil-kecil, menurut inforamasi buahnnya tidak bisa di konsumsi. Pisang raksasa pertama kali di identifikasi oleh botanist dari Inggris, di tahun 1954, oleh Norman Willison Simmonds. 

pisang raksasa, di hutan pegunungan Arfak


landscape hutan pegunungan Arfak

Kampung Undohotma, Anggi-Danau Giji

Perjalanan selanjutnya, naik lagi ke puncak pegunungan Arfak, ke kampung Undohotma, di sekitar danau Anggi, danau pegunungan di ketinggian 1800-2000 mdpl. Disini kami mengunjungi pusat penelitian , konservasi dan pengembangan ekonomi,  yang di kelola oleh Bentara Papua dan Universitas Papua, yang melakukan penelitian keanekaragaman hayati serta mendorong tata kelola berkelanjutan dan kegiatan ekonomi untuk warga sekitar. Ada pusat produksi kopi Anggi disini, kopi arabica dan koleksi flora khas pegunungan arfak ada disini. 

Landskap pegunungan dengan dua danau yang terpisah berdkatan Danau Giji dan Danau Gida, sangat memanjakan mata, vegetasi berlumut khas pegunungan sperti rododendron dan kantung semar mudah di amati di sekitar danau. Kunjungan di danau Anggi ini menjadi penutup acara di Papu. Semoga bisa berkunjung kesini lagi di lain waktu.



No comments:

Post a Comment